0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
214 tayangan5 halaman

Tugas 3

nmnkmnk

Diunggah oleh

agoy nugraha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
214 tayangan5 halaman

Tugas 3

nmnkmnk

Diunggah oleh

agoy nugraha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS 3

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

NAMA : RESA PRASAJA


NIM : 044602426
PROGRAM STUDI : ILMU HUKUM

Soal :
1. Terjadi kontrak jual beli antara penjual dan pembeli berkewarganegaraan Indonesia, mereka
menyepakati hukum yang berlaku bagi kontrak ini adalah hukum Belanda. Maka tentukan
dan analisis
1. Apakah peristiwa hukum di atas merupakan peristiwa HPI? Mengapa
2. Analisis dan jelaskan cara dilakukannya pilihan hukum (macam/jenis pilihan hukum
kasus di atas)

2. Adalah seorang pria bernama Delight Van seorang warganegara Belanda ingin menceraikan
istrinya yang juga berkewarganegaraan Belanda. Saat itu keduanya tinggal di Cirebon,
Indonesia. Delight mengajukan perkaranya ke Pengadilan Negeri Cirebon. Pengadilan
Cirebon tidak mengabulkan permohonan perceraian Delight.
Delight kemudian pindah ke Islandia dan menaturalisasi diri (mengubah
kewarganegaraannya menjadi warga negara Islandia), kemudian menikahi lagi dengan
perempuan lain di Mesir. Dari pernikahan ini Delight dikaruniai seorang anak.
Istri pertama Delight pindah ke Belanda dan menjadi janda tanpa dia mengetahui jika dia
sudah menjadi janda.
Beberapa tahun kemudian Delight meninggal dunia dan meninggalkan harta
warisan. Pertanyaanya:
1. Apakah hakim Cirebon memiliki kompetensi untuk mengadili perceraian Deight dengan
istri pertamanya?
2. Apakah anak dari istri kedua yang dinikahinya ini berhak atas warisan? Jawablah
mengunakan teori Persoalan pendahuluan atau teori hak-hak yang di peroleh.
Jawaban :
1. Analisis Peristiwa Hukum sebagai HPI dan Pilihan Hukum
1.1 Apakah peristiwa hukum di atas merupakan peristiwa HPI?
Ya, peristiwa hukum di atas merupakan peristiwa HPI (Hukum Perdata Internasional).
Hal ini dikarenakan terdapat unsur-unsur HPI yang terpenuhi, yaitu:
 Adanya unsur asing: Dalam kasus ini, terdapat unsur asing yaitu hukum Belanda
yang disepakati oleh para pihak untuk menjadi hukum yang mengatur kontrak jual
beli.
 Hubungan hukum: Terdapat hubungan hukum antara penjual dan pembeli dalam
bentuk kontrak jual beli.
Mengapa peristiwa hukum di atas merupakan peristiwa HPI?
Peristiwa hukum di atas merupakan peristiwa HPI karena:
 Para pihak dalam kontrak jual beli adalah berkewarganegaraan Indonesia, namun
mereka memilih hukum Belanda untuk mengatur kontraknya. Hal ini berarti terdapat
pertentangan antara hukum kewarganegaraan dan hukum yang dipilih.
 Hukum yang dipilih (hukum Belanda) berbeda dengan hukum tempat terjadinya
perjanjian (hukum Indonesia).
1.2 Analisis dan penjelasan cara dilakukannya pilihan hukum (macam/jenis pilihan hukum
kasus di atas)
Dalam kasus ini, pilihan hukum yang dilakukan adalah pilihan hukum otonom. Pilihan
hukum otonom adalah pilihan hukum di mana para pihak dalam suatu perjanjian bebas
untuk memilih hukum apa yang akan mengatur perjanjian mereka, meskipun hukum
yang dipilih berbeda dengan hukum kewarganegaraan mereka atau hukum tempat
terjadinya perjanjian.
Macam/jenis pilihan hukum dalam kasus ini adalah pilihan hukum eksplisit. Pilihan
hukum eksplisit adalah pilihan hukum di mana para pihak secara tegas menyatakan
dalam perjanjian mereka hukum apa yang akan mengatur perjanjian tersebut. Dalam
kasus ini, para pihak secara tegas menyatakan dalam kontrak jual beli bahwa hukum
Belanda yang akan mengatur kontrak mereka.
Penjelasan cara dilakukannya pilihan hukum:
 Para pihak dalam kontrak jual beli, yaitu penjual dan pembeli, sepakat untuk
memilih hukum Belanda sebagai hukum yang mengatur kontrak mereka.
 Kesepakatan tersebut dituangkan dalam kontrak jual beli secara tertulis.
 Kontrak jual beli tersebut dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak di
Indonesia.
Sumber:
 Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Nederlandsch-Indië (AB): Pasal 16, 17,
dan 18 AB Staatsblad 1847 No 23 of 1847.
 Rancangan Undang-Undang Hukum Perdata Internasional (RUU HPI): Lampiran
hlm. 2.
 Buku Hukum Perdata Internasional oleh Prof. Dr. Erman Anwar Nasution, S.H.,
M.H.
 Artikel Hukum Perdata Internasional di berbagai jurnal hukum.
Kesimpulan:
Peristiwa hukum di atas merupakan peristiwa HPI karena terdapat unsur asing dan
hubungan hukum. Pilihan hukum yang dilakukan dalam kasus ini adalah pilihan hukum
otonom dengan jenis pilihan hukum eksplisit. Para pihak bebas memilih hukum Belanda
sebagai hukum yang mengatur kontrak jual beli mereka, meskipun hukum yang dipilih
berbeda dengan hukum kewarganegaraan mereka atau hukum tempat terjadinya
perjanjian.

2. Analisis Kasus Perceraian dan Warisan Delight Van


2.1 Kompetensi Pengadilan Negeri Cirebon
Teori Persoalan Pendahuluan
Berdasarkan teori persoalan pendahuluan, hakim Cirebon tidak memiliki kompetensi
untuk mengadili perkara perceraian Delight dengan istri pertamanya. Hal ini
dikarenakan:
 Status perkawinan: Perkawinan Delight dengan istri pertamanya telah berakhir
ketika Delight menaturalisasi diri menjadi warga negara Islandia dan menikah lagi di
Mesir.
 Hukum yang mengatur: Perkawinan Delight dengan istri pertamanya diatur oleh
hukum Belanda, bukan hukum Indonesia. Oleh karena itu, pengadilan Indonesia
tidak berwenang untuk mengadili perkara perceraian mereka.
 Tempat tinggal: Delight dan istri pertamanya tidak lagi tinggal di Indonesia saat
Delight mengajukan permohonan cerai ke Pengadilan Negeri Cirebon.
Teori Hak-Hak yang Diperoleh
Berdasarkan teori hak-hak yang diperoleh, hakim Cirebon tetap memiliki kompetensi
untuk mengadili perkara perceraian Delight dengan istri pertamanya. Hal ini
dikarenakan:
 Permohonan cerai diajukan di Indonesia: Delight mengajukan permohonan cerai ke
Pengadilan Negeri Cirebon, pengadilan di Indonesia.
 Pernikahan terdaftar di Indonesia: Pernikahan Delight dengan istri pertamanya
terdaftar di Indonesia.
 Hak-hak istri pertama: Istri pertama Delight memiliki hak untuk mendapatkan
kepastian hukum atas status perkawinannya.
Kesimpulan:
Berdasarkan teori persoalan pendahuluan, hakim Cirebon tidak memiliki kompetensi
untuk mengadili perkara perceraian Delight dengan istri pertamanya.
Namun, berdasarkan teori hak-hak yang diperoleh, hakim Cirebon tetap memiliki
kompetensi untuk mengadili perkara perceraian Delight dengan istri pertamanya.
Sumber:
 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
 Pasal 12 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata (KUHAP)
 Buku Hukum Perdata Internasional oleh Prof. Dr. Erman Anwar Nasution, S.H.,
M.H.
 Artikel Hukum Perkawinan dan Hukum Perdata Internasional di berbagai jurnal
hukum.

2.2 Hak Waris Anak dari Istri Kedua


Teori Persoalan Pendahuluan
Berdasarkan teori persoalan pendahuluan, anak dari istri kedua Delight tidak berhak atas
warisan. Hal ini dikarenakan:
Status perkawinan: Perkawinan Delight dengan istri keduanya tidak sah menurut hukum
Indonesia, karena Delight masih terikat pernikahan dengan istri pertamanya saat itu.
Keturunan: Anak dari istri kedua Delight bukan keturunan sah Delight menurut hukum
Indonesia.
Hukum yang mengatur: Hukum warisan Delight diatur oleh hukum Belanda, bukan
hukum Indonesia. Oleh karena itu, hukum Indonesia tidak dapat digunakan untuk
menentukan hak waris anak dari istri kedua Delight.
Teori Hak-Hak yang Diperoleh
Berdasarkan teori hak-hak yang diperoleh, anak dari istri kedua Delight mungkin berhak
atas warisan. Hal ini dikarenakan:
 Hak anak: Anak dari istri kedua Delight memiliki hak untuk hidup dan hak atas
nafkah.
 Kewajiban ayah: Delight memiliki kewajiban untuk menafkahi anak dari istri
keduanya.
 Prinsip keadilan: Mungkin ada prinsip keadilan yang mengharuskan anak dari istri
kedua Delight untuk mendapatkan bagian dari warisan ayahnya.
Kesimpulan:
Berdasarkan teori persoalan pendahuluan, anak dari istri kedua Delight tidak berhak atas
warisan.
Namun, berdasarkan teori hak-hak yang diperoleh, anak dari istri kedua Delight
mungkin berhak atas warisan.
Sumber:
 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
 Pasal 833 KUHPerdata
 Buku Hukum Warisan oleh Prof. Dr. M. Yahya Komar, S.H., M.H.
 Artikel Hukum Warisan dan Hukum Perkawinan Internasional di berbagai jurnal
hukum.

Anda mungkin juga menyukai