0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan9 halaman

Per 7

Diunggah oleh

Resta Aulia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan9 halaman

Per 7

Diunggah oleh

Resta Aulia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Resta Aulia

Kelas : A Bisnis / Semester 6 Pilihan


Npm : 41151010210104
Dosen : Adv.Aep Sulaeman, S.H., M.H., Sp.1.
Mata Kuliah Hukum Jaminan Pertemuan Ke – 7

1. Jelaskan mengapa pihak kreditur atau penerima jaminan lebih menyukai benda
jaminan dari pada jaminan orang, sebutkan dasar hukumnya
Jawab :
Yang dimaksud dengan jaminan kebendaan adalah jaminan yang mempunyai hubungan
langsung dengan benda tertentu milik debitur. Kreditur pemegang jaminan ini mempunyai
hak kebendaan (zakenlijk recht) dengan ciri-ciri dapat dipertahankan dari siapapun (droit de
suite, zaakgevolg) dan senantiasa mengikuti bendanya. Jaminan yang bersifat kebendaan
dapat diperalihkan. Pemegang jaminan kebendaan
mempunyai kedudukan prioritas, artinya yang lebih dahulu terjadi diutamakan
pemenuhannya (kreditur preference). Yang termasuk dalam jenis jaminan ini adalah hak
tanggungan atas tanah, hipotik, creditverband, gadai dan fidusia. Jaminan kebendaan ini
terdiri dari jaminan kebendaan atas benda berwujud (lijchamelijke, materiele, tangible) yang
meliputi benda-benda baik bergerak atau tidak bergerak yang terlihat wujudnya secara nyata.
Sedangkan jaminan kebendaan atas benda tidak berwujud (onlichamelijke, immateriil,
intangible) tertuju pada benda-benda yang tidak terlihat wujudnya secara nyata, namun ada
dan diakui oleh undang-undang, misalnya piutang atau hak tagih, obligasi, dan surat-surat
berharga lainnya.
Selanjutnya jaminan perorangan, adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung
terhadap perorangan tertentu. Hak yang dimiliki oleh kreditur bersifat relatif yakni berupa
hak perorangan (persoonlijk recht). Jaminan ini hanya dapat dipertahankan terhadap debitur
(perorangan) tertentu dan terdapat kekayaan debitur seumumnya. Sifat dari jaminan
perorangan adalah mempunyai asas kesamaan kedudukan di antara para kreditur, sehingga
tidak dibedakan mana piutang yang lebih dulu terjadi dengan yang belakangan. Jadi,
pemenuhan piutangnya memperhatikan asas kesamaan kedudukan di antara para kreditur
(konkurensi) Jaminan perorangan ini diatur dalam pasal 1820 sampai dengan pasal 1850 kitab
undang – undang hukum perdata (KUHPerdata). Jaminan perorangan ini dirasakan
kurang memberikan rasa aman, karena masih mempunyai tingkat risiko (degree of
risk) yang tinggi, sehingga jarang digunakan dalam praktek perbankan.

2. (Soal No.6) Jelaskan 4 (empat) unsur hukum jaminan, kemudian dimanakah tempat
dan sumber hukum jaminan di Indonesia.
Jawab :
 Unsur – Unsur Hukum Jaminan
1. Adanya Kaidah Hukum
Kaidah hukum jaminan tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang terdapat dalam
peraturan perundang-undangan, traktat, dan yurisprudensi. Sedangkan kaidah hukum
jaminan tidak tertulis adalah kaidah-kaidah hukum jaminan yang tumbuh, hidup, dan
berkembang dalam masyarakat.
2. Adanya Pemberi dan Penerima Jaminan
Pemberi jaminan adalah orang-orang atau badan hukum yang menyerahkan barang
jaminan kepada penerima jaminan. Yang bertindak adalah orang atau badan hukum
yang membutuhkan fasilitas kredit. Orang ini disebut debitur. Penerima jaminan
adalah orang atau badan hukum yang menerima barang jaminan dari pemberi
jaminan. Yang bertindak adalah orang atau badan hukum. Badan hukum adalah
lembaga yang memberikan fasilitas kredit, dapat berupa lembaga perbankan dan atau
lembaga keuangan non-bank.
3. Adanya Jaminan
jaminan yang diserahkan kepada kreditur : Jaminan materiil merupakan jaminan yang
berupa hak-hak kebendaan, seperti jaminan atas benda bergerak dan benda tidak
bergerak. Jaminan imateriil merupakan jaminan non-kebendaan.
4. Adanya Fasilitas Kredit
Pembebanan jaminan yang dilakukan oleh pemberi jaminan bertujuan untuk
mendapatkan fasilitas kredit dari bank atau Lembaga keuangan non-bank. Pemberian
kredit merupakan pemberian uang berdasarkan kepercayaan, dalam arti bank atau
lembaga keuangan non-bank percaya bahwa debitur sanggup untuk mengembalikan
pokok pinjaman dan bunganya.

 Tempat dan Sumber Jaminan di Indonesia


Sumber hukum adalah tempat dimana ditemukan hukum. Dalam hal ini, hukum jaminan
bersumber dari KUHPerdata. KUHPerdata sebagai terjemahan dari Burgerlijk Wetboek
merupakan kodifikasi hukum perdata material yang diberlakukan pada tahun 1848
berdasarkan asas konkordansi.
pada prinsipnya hukum jaminan merupakan bagian dari hukum kebendaan, sebab dalam
Buku II KUHPerdata diatur mengenai pengertian, cara membedakan benda dan hak-hak
kebendaan, baik yang memberikan kenikmatan dan jaminan. Ketentuan dalam pasal-pasal
buku II KUHPerdata yang mengatur mengenai lembaga dan ketentuan hak jaminan dimulai
dari Titel Kesembilan Belas sampai dengan Titel Dua Puluh Satu, Pasal 1131 sampai dengan
Pasal 1232. Secara rinci materi kandungan ketentuan-ketentuan hukum jaminan yang termuat
dalam buku II KUHPerdata tersebut, sebagai berikut:
1. Bab XIX : Tentang Piutang-Piutang Diistimewakan (Pasal 1131 sampai dengan Pasal 1149
KUHPerdata);
Bagian Kesatu tentang Piutang-Piutang yang Diistimewakan Pada Umumnya (Pasal
1131 sampai dengan Pasal 1138 KUHPerdata);
Bagian Kedua tentang Hak-Hak Istimewa mengenai Benda-Benda Tertentu (1139
sampai dengan Pasal 1148 KUHPerdata);
Bagian ketiga atas Semua Benda Bergerak dan Benda Tidak Bergerak Pada
Umumnya (Pasal 1149 KUHPerdata);
2. Bab XX : Tentang Gadai (Pasal 1150 sampai dengan Pasal 1160, Pasal 1161 KUHPerdata
dihapuskan).
3. Bab XXI : Tentang Hipotek (Pasal 1162 sampai dengan Pasaal 1232 KUHPerdata);
Bagian Kesatu tentang Ketentuan-Ketentuan Umum (Pasal 1162 sampai dengan Pasal
1178 KUHPerdata);
Bagian Kedua tentang Pembukuan-Pembukuan Hipotek serta Bentuk Cara
Pembukuannya (Pasal 1179 sampai dengan Pasal 1194 KUHPerdata);
Bagian Ketiga tentang Pencoretan Pembukuan (Pasal 1195 sampai dengan 1197
KUHPerdata);
Bagian Keempat tentang Akibat-Akibat Hipotek Terhadap Orang Ketiga yang
menguasai benda yang Dibebani (Pasal 1198 sampai dengan Pasal 1208 KUHPerdata);
Bagian Kelima tentang hapusnya Hipotek (1209 sampai dengan Pasal 1220
KUHPerdata);
Bagian Keenam tentang Pegawai-Pegawai yang Ditugaskan Menyimpan Hipotek,
Tanggung Jawab Pegawai-Pegawai yang Ditugaskan Menyimpan Hipotek dan Hal
Diketahuinya Register-Register oleh Masyarakat (Pasal 1221 sampai dengan Pasal 1232
KUHPerdata).
Dengan keluarnya UUHT, maka pembebanan hipotek atas hak atas tanah beserta benda-
benda yang berkaitan dengan tanah tidak lagi menggunakan lembaga dan ketentuan hipotek
sebagaimana diatur dalam Pasal 1162 sampai dengan Pasal 1232 KUHPerdata. Sementara itu
pembebanan hipotek atas benda-benda tidak bergerak lainnya selain hak atas tanah beserta
benda-benda yang berkaitan dengan tanah, hipotek kapal laut.

3. (Soal No.7) Jelaskan apa yang dimaksud dengan jaminan umum dan jaminan khusus
dalam pembagian hukum jaminan, sebutkan dasar-dasar hukumnya.
Jawab :
 Jaminan Umum
Yang dimaksud dengan jaminan umum adalah jaminan yang ditentukan oleh undang-undang.
Tanpa diperjanjikan sebelumnya oleh para pihak (kreditur dan debitur), secara otomatis
kreditur sudah mempunyai hak verhaal atas benda-benda milik debitur. Jaminan umum
tertuju pada semua benda milik debitur, yaitu benda bergerak dan benda tidak bergerak, baik
benda yang sudah ada maupun benda yang baru akan ada. Terhadap jaminan umum ini, para
kreditur berkedudukan sebagai kreditur konkuren (persaingan), artinya kedudukan para
kreditur adalah sama, tidak ada yang lebih diutamakan di antara kreditur yang satu dengan
yang lain. Apabila debitur wanprestasi, maka semua benda milik debitur dijual lelang dan
dibagi di antara para kreditur seimbang dengan jumlah piutang masing-masing kreditur
(secara ponds-ponds gelijk). Jaminan umum diatur dalam Pasal 1131 dan 1132 Kitab
Undang-undang Hukum Perdata.
Pasal 1131 KUH Perdata menyatakan:
“Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang
sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala
perikatan perseorangan”.
Sedangkan Pasal 1132 menyatakan bahwa “
“Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan
padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu
menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila diantara para berpiutang itu
ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan”.
Dari ketentuan yang tertulis dalam Pasal 1131 dan Pasal 1132 Kitab Undang-undang Hukum
Perdata dapat disimpulkan bahwa meskipun tanpa diperjanjikan lebih dahulu antara kreditur
dan debitur, namun sudah ditentukan sendiri oleh undang-undang bahwa bagi pihak kreditur
atas piutang yang diberikan kepada pihak debitur akan dijamin dengan segala harta bendanya
bersama-sama dengan para kreditur yang lain.
 Jaminan Khusus
pengertian jaminan khusus ialah jaminan yang timbulnya (terjadinya) karena diperjanjikan
secara khusus oleh para pihak (kreditur dan debitur). Penyediaan jaminan khusus itu
dikehendaki oleh kreditur karena jaminan umum kurang memberikan rasa aman. Jaminan
khusus hanya tertuju pada benda-benda khusus milik debitur (asas spesialitas), dan hanya
berlaku bagi kreditur tertentu (khusus). Karena diperjanjikan secara khusus, maka kreditur
pemegang hak jaminan khusus mempunyai kedudukan preferensi (separatis). Artinya
pemenuhan hak kreditur khusus itu didahulukan dari kreditur lainnya. Jaminan khusus dapat
bersifat kebendaan (zakenlijk recht), yakni yang tertuju pada benda tertentu; dan dapat pula
bersifat perorangan (persoonlijk recht) yang tertuju pada orang tertentu. (Pasal 1820 – Pasal
1850 KUHPerdata).

4. (Soal No.9) Jelaskan 5 (lima) asas hukum jaminan, kemudian sebutkan dasar-dasar
hukumnya dari masing-masing asas hukum jaminan tersebut.
Jawab :
Ada 5 (lima) asas penting dalam hukum jaminan, asas-asas tersebut sebagai berikut:
1) Asas Publicitet
menyatakan bahwa semua hak baik hak tanggungan hak fidusia dan hipotek harus
didaftarkan. Hak tanggungan, objek benda jaminan adalah tanah berikut atau tidak berikut
dengan apa yang ada diatasnya maka aturan hukum yang mengaturnya adalah hak
tanggungan. Hak fidusia, objek jaminan adalah benda bergerak dan benda yang akan menjadi
jaminan masih tetap dikuasai, makaaturan hukum yang mengaturnya disebut lembaga
Fidusia. Benda yang akan menjadi jaminan tapi tidak dikuasainya maka aturan hukum yang
mengaturnya disebut pengadaian. Hipotek digunakan apabila benda yang sebagai jaminan
berupa kapal yang berbobot minimal 20 ton, hak-hak yang dijadikan sebagai jaminan ia wajib
didaftarkan yaitu dimasing-masing instansi yang berwenang terhadap benda tersebut.
Kegunaan didaftarkan adalah supaya pihak ketiga mengetahui bahwa benda tersebut sedang
dijaminkan untuk sebuah hutang atau dalam pembebanan hutang. Asas publicitiet ini untuk
melindungi pihak ketiga yang beritikat baik.
2) Asas Specialitet
menyatakan bahwa hak tanggungan, hak fidusia dan hipotek hanya dapat dibebankan atas
persil (satuan tanah) atau atas barang-barang yang sudah terdaftar atas nama orang tertentu.
Sesuatu benda yang akan dijaminkan harus sudah didaftarkan.
3) Asas tak dapat dibagi-bagi
Yaitu asas dapat dibaginya utang tidak dapat mengakibatkan dapat dibaginya hak
tanggungan, hak fidusia, hipotek dan hak gadai walaupun telah dilakukan pembayaran
sebagian;
4) Asas Inbezittstelling
Yaitu barang jaminan (gadai) harus berada pada penerima gadai;
5) Asas Horizontal
Yaitu bangunan dan tanah bukan merupakan satu kesatuan. Hal ini dapat dilihat dalam
penggunaan hak pakai, baik tanah negara maupun tanah hak milik. Bangunannya milik dari
yang bersangkutan atau pemberi tanggungan, tetapi tanahnya milik orang lain, berdasarkan
hak pakai.

5. (Soal No.10) Jelaskan apa yang dimaksud dengan hak tanggungan, dimana diaturnya,
dan bagaimana tata cara pendaftarannya.
Jawab :
 Yang dimaksud Hak Tanggungan Beserta Pengaturannya
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, tanggungan diartikan sebagai barang yang dijadikan
jaminan. Sedangkan jaminan itu sendiri artinya tanggungan atas pinjaman yang diterima.
Dalam penjelasan umum UU Nomor 4 Tahun 1996 butir 6 dinyatakan bahwa Hak
Tanggungan yang diatur dalam undang-undang ini pada dasarnya adalah Hak Tanggungan
yang dibebankan pada hak atas tanah. Namun pada kenyataannya seringkali terdapat benda-
benda berupa bangunan, tanaman dan hasil karya yang secara tetap merupakan satu kesatuan
dengan tanah yang dijadikan jaminan tersebut. Dari uraian di atas Hak Tanggungan
sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Hak Tanggungan ini tidak dimaksudkan untuk
memberikan pengaturan tentang Hak Tanggungan atas benda-benda tetap lain selain dari
pada tanah.
Dalam Pasal 1 UUHT disebutkan dari pengertian Hak Tanggungan. Adapun yang dimaksud
dengan Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah,
selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah:
Hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau
tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk
pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor
tertentu terhadap kreditor-kreditor yang lain. Dalam arti, bahwa jika debitur cidera janji,
kreditur pemegang hak tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang
dijadikan jaminan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan,
dengan hak mendahulu daripada kreditur-kreditur yang lain. Kedudukan diutamakan tersebut
sudah barang tentu tidak mengurangi preferensi piutang-piutang Negara menurut ketentuan-
ketentuan hukum yang berlaku.
Beranjak dari pengertian di atas, dapat ditarik unsur pokok dari Hak Tanggungan, sebagai
berikut:
1. Hak Tanggungan adalah hak jaminan untuk pelunasan utang.
2. Objek Hak Tanggungan adalah hak atas tanah sesuai UUPA
3. Hak Tanggungan dapat dibebankan atas tanahnya (hak atas tanah) saja, tetapi dapat
pula dibebankan berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan
tanah itu;
4. Utang yang dijamin adalah suatu utang tertentu;
5. Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-
kreditor lain
Sedangkan Budi Harsono dalam Salim HS memberikan pengertian hak tanggungan adalah
penguasaan hak atas tanah yang dijadikan agunan. Tetapi bukan untuk dikuasai secara fisik
dan digunakan, melainkan untuk menjualnya jika debitur cedera janji dan mengambil dari
hasilnya seluruhnya atau sebagian sebagai pembayaran lunas utang debitur kepadanya.

 Tata Cara Pendaftaran Hak Tanggungan


Tata Cara Konvensional Pendaftaran Hak Tanggungan
Tata cara pendaftaran Hak Tanggungan secara konvensional sebagaimana ketentuan
mengenai pendaftaran hak tanggungan yang diatur dalam Pasal 13 – Pasal 14 UUHT, yang
secara sistematis sebagai berikut :
1. Pendaftaran dilakukan di Kantor Pertanahan.
2. Pejabat Pembuat Akta Tanah (“PPAT”) dalam waktu 7 hari setelah ditandatanganinya
pemberian Hak Tanggungan wajib mengirimkan Akta Pemberian Hak Tanggungan
(APHT) dan warkah lainnya kepada Kantor Pertanahan beserta membawa berkas
berupa :
a. Surat Pengantar dari PPAT yang dibuat rangkap dua dan memuat daftar jenis
surat-surat yang disampaikan;
b. Surat permohonan pendaftaran Hak Tanggungan dari penerima Hak
Tanggungan;
c. Fotocopy surat identitas pemberi dan pemegang Hak Tanggungan;
d. Sertifikasi asli hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun yang
menjadi objek Hak Tanggungan;
e. Lembar kedua akta pemberian Hak Tanggungan;
f. Salinan akta pemberian Hak Tanggungan yang sudah diparaf oleh PPAT yang
bersangkutan untuk disahkan sebagai salinan oleh Kepala Kantor Pertanahan
untuk pembuatan Sertipikat Hak Tanggungan; dan
g. Bukti pelunasan biaya pendaftaran Hak Tanggungan.
3. Kantor Pertanahan membuatkan buku tanah Hak Tanggungan dan mencatatnya dalam
buku tanah hak atas tanah yang menjadi objek Hak Tanggungan serta menyalin
catatan tersebut pada Sertipikat Hak atas Tanah yang bersangkutan.
4. Tanggal buku tanah Hak Tanggungan adalah tanggal hari ketujuh setelah penerimaan
secara lengkap surat-surat yang diperlukan untuk pendaftaran. Jika hari ketujuh itu
jatuh pada hari libur, buku tanah yang bersangkutan diberi tanggal hari kerja
berikutnya.
5. Hak Tanggungan lahir pada hari tanggal buku tanah Hak Tanggungan dibuatkan.
6. Sebagai tanda bukti adanya hak tanggungan, Kantor Pertanahan menerbitkan sertifikat
Hak Tanggungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sertifikat hak tanggungan memuat irah-irah dengan kata-kata "DEMI KEADILAN
BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA". Sertifikat hak tanggungan
mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap dan berlaku sebagai pengganti grosse acte
Hypotheek sepanjang mengenai hak atas tanah. Kecuali apabila diperjanjikan lain,
sertifikat hak atas tanah yang telah dibubuhi catatan pembebanan hak tanggungan
dikembalikan kepada pemegang hak atas tanah yang bersangkutan. Sertifikat hak
tanggungan diserahkan kepada pemegang hak tanggungan.
Mekanisme Pendaftaran Hak Tanggungan Berbasis Elektronik
1. Pengguna layanan Sistem HT-el terdiri dari perseorangan/badan hukum selaku
kreditur dan Aparatur Sipil Negara Kementerian yang bertugas melayani Hak
Tanggungan ;
2. Terhadap perseorangan/badan hukum sebagaimana pengguna terdaftar pada Sistem
HT-el, dengan memenuhi persyaratan :
a. Mempunyai domisili elektronik;
b. Surat Keterangan Terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan;
c. Pernyataan pemenuhan persyaratan dan kriteria serta persetujuan Pengguna
Terdaftar
d. Syarat lainnya yang ditentukan oleh Kementerian.
3. Kementerian melakukan verifikasi dan berhak menolak pendaftaran dimaksud.
Mekanisme pendaftaran Hak Tanggungan melalui Sistem HT-el dapat dirangkum
sebagai berikut :
1. Pengguna terdaftar mengajukan permohonan layanan Hak Tanggungan secara
elektronik melalui Sistem HT-el ;
2. Selain berkas persyaratan permohonan pendaftaran dalam bentuk dokumen
elektronik, pemohon juga membuat surat pernyataan mengenai pertanggung-jawaban
keabsahan dan kebenaran data dokumen elektronik yang diajukan. Khusus
persyaratan berupa Sertipikat Hak atas Tanah atau Hak Milik atas Satuan Rumah
Susun harus atas nama debitur.
3. Permohonan layanan yang diterima oleh Sistem HT-el akan mendapatkan tanda bukti
pendaftaran permohonan yang diterbitkan oleh sistem, dengan paling sedikit memuat
nomor berkas pendaftaran permohonan, tanggal pendaftaran permohonan, nama
pemohon, dan kode pembayaran biaya layanan.
4. Layanan Hak Tanggungan ini dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada
Kementerian. Setelah mendapatkan bukti pendaftaran permohonan, pemohon
melakukan pembayaran biaya melalui bank persepsi paling lambat tiga hari setelah
tanggal pendaftaran permohonan.
5. Setelah data permohonan dan biaya pendaftaran permohonan terkonfirmasi oleh
sistem elektronik, Sistem HT-el akan memproses pencatatan Hak Tanggungan pada
buku tanah. Pencatatan pada buku tanah dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan.
Sementara kreditur dapat melakukan pencatatan Hak Tanggungan pada Sertipikat Hak
atas Tanah atau Hak Milik Satuan Rumah Susun dengan mencetak catatan yang
diterbitkan oleh Sistem HT-el dan melekatkannya pada Sertipikat Hak atas Tanah atau
Hak Milik Satuan Rumah Susun.
6. Setelah seluruh tahapan selesai, hasil layanan Hak Tanggungan yang dikeluarkan
berupa Sertipikat Hak Tanggungan dan Catatan Hak Tanggungan pada buku tanah
dan Sertipikat Hak Atas Tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun. Dokumen
ini diterbitkan pada hari ketujuh setelah pengajuan permohonan terkonfirmasi. Dalam
rangka menjaga keutuhan dan keautentikan dokumen elektronik, Sertipikat Hak
Tanggungan yang diterbitkan oleh Sistem HT-el diberikan tanda tangan elektronik.
7. Sebelum hasil layanan Hak Tanggungan diterbitkan, Kepala Kantor Pertanahan atau
Pejabat yang ditunjuk harus memeriksa konsep sertipikat HT-el dan dokumen
kelengkapan permohonan. Kepala Kantor atau Pejabat yang ditunjuk bertanggung
jawab secara administratif atas hasil layanan Hak Tanggungan. Dalam hal Kepala
Kantor atau Pejabat yang ditunjuk tidak melakukan pemeriksaan, Kepala Kantor atau
Pejabat yang ditunjuk dianggap memberikan persetujuan.
8. Sementara kebenaran materiil dokumen yang menjadi dasar hasil layanan Sistem HT-
el bukan merupakan tanggung jawab Kantor Pertanahan.

Anda mungkin juga menyukai