Program Bimbingan Konseling SMP 75 Bandung
Program Bimbingan Konseling SMP 75 Bandung
DINAS PENDIDIKAN
SMP NEGERI 75 BANDUNG
PROGRAM KERJA
TAHUN PELAJARAN 2022 / 2023
A. Rasional
Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari diri
manusia, mulai dari kandungan sampai beranjak dewasa kemudian tua manusia
mengalami proses pendidikan yang didapatkan dari orangtua, masyarakat
maupun lingkungannya.
Siswa tingkat SMP sebagai siswa yang sedang berada dalam proses
berkembang atau menjadi (becoming), yang berkembang ke arah kematangan
dan kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, siswa memerlukan
bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan
tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah
kehidupannya. Disamping itu terdapat satu keniscayaan bahwa proses
perkembangan siswa tidak selalu berlangsung secara mulus, atau steril dari
masalah. Perkembangan siswa tidak terlepas dari pengaruh lingkungan baik
fisik, psikis maupun sosial. Sifat inhern lingkungan adalah perubahan.
Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life
style) warga masayarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi
atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan diskontinuitas
perkembangan masalah-masalah pribadi siswa atau penyimpangan perilaku.
Penyimpangan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan,
karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan,
seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No.20 Tahun 2003),
yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadapTuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak
mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan
jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6)
memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah
yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi yaitu:
bidang administrasi dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikulum
dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan
bidang administrasi dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan
dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam
aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam
aspek kepribadian.
Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penerapan program
Bimbingan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak
adanya landasan hukum (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun
yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi siswa agar mampu
mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya
(menyangkut aspek fisik, emos, intelektual, sosial dan moral spiritual).
C. Analisis S.W.O.T
a. Tenaga Konselor Sekolah di SMP Negeri 21 Bandung masih kurang
b. Ruangan BK yang belum memadai
c. Kerja sama antar personal cukup baik
d. Di masa pandemi ini, masih banyak orang tua siswa yang kurang
responsif terhadap pendidikan putra/putrinya
e. Banyak siswa yang membutuhkan edukasi tentang etika dan
kesopanan
D. Tujuan
Berdasarkan kebutuhan siswa dan hasil dari SWOT, maka Tujuan Program
Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 21 Bandung adalah :
1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam perilaku
2. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai
dan berani menghadapi resiko.
3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam
mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif
5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam berinteraksi
dengan orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar
dalam kehidupan sosial.
7. Mengambangkan potensi diri melalui berbagai aktifitas yang positif.
8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan
kehidupan yang semakin kompetitif
9. Mengembangkan dan memelihara perilaku,nilai,dan kompetensi ysng
mendukung pilihan pendidikan yang lebih tinggi.
10. Meyakini nilai-nilai yang terkandung dalam keluarga sebagai upaya untuk
menciptakan masyarakat yang bermartabat.
11. Memberi edukasi serta bimbingan pada siswa terkait dengan etika dan
kesopanan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
BAB II
PENJABARAN PROGRAM BK
A. Komponen
Kegiatan Bimbingan Konseling di SMP Negeri 21 Bandung, memiliki 4
komponen yang diantaranya :
1. Pelayanan Dasar Bimbingan
Pelayanan dasar diartokan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh
konseli melalui penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau
kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka pengembangan
perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap prngrmbangan perilaku jangka
panjang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan yang diperlukan dalam
pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam
menjalani kehidupannya. Untuk mencapai tujuan membantu konseli agar
mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya maka focus perilaku
yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, social dan karir.
Bimbingan dan Konseling secara terprogram masuk kelas belum dapat
dilaksanakan sehingga pelaksanaan klasikal penerapannya fleksibel bekerja
sama dengan wali kelas.
2. Pelayanan Responsif
Pelayanan responsive merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang
menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan
segera. Membantu konseli agar dapat memenuhi kebutuhannya dan
memecahkan masalah yang dialami atau membantu konseli yang mengalami
hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.
Masalah atau gejala masalah yang sering timbul dalam pemberian pelayanan
responsive antara lain (1) merasa cemas tentang masa depan, (2) merasa
rendah diri (3) berprilaku inpulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu
tanpa mempertimbangkannya secara matang, (4) membolos dari sekolah, (5)
malas belajar, (6) kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, (7) kurang
bias bergaul, (8) prestasi belajar endah, (9) malas beribadah, (10) masalah
pergaulan bebas, (11) masalah tawuran, (12) manajemen stress, dan (13)
masalah dalam keluarga.
3. Perencanaan Individual
Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada konseli agar
mampu merumuskan dan melakukan aktifitas yang berkaitan dengan
perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman akan peluang dan
kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pelayanan ini bertujuan untuk
membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan
lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau
pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek
pribadi, social, belajar, maupun karir dan (3) dapat melakukan kegiatan
berdasarkan pemahaman tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.
Melalui pelayanan perencanaan individual, konseli diharapkan dapat:
a. Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan kemampuan social-
pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya informasi tentang
sekolah, dunia kerja, dan masyarakat.
b. Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka mencapai
tujuannya.
c. Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya
d. Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya
Fokus pelayanan perencanaan individual berkaitan erat dengan
pengembangan aspek akademik, karir, dan social-pribadi.
4. Dukungan Sistem
Ketiga komponen di atas, merupakan pemberian bimbingan dan
konseling kepada konseli secara langsung. Sedangkan dukungan system
merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja,
infrastruktur (misalnya teknologi komunikasi) dan pengembangan
kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak
langsung memberikan dukungan kepada konselor dalam memperlancar
penyelenggaraan pelayanan di atas. Sedangkan bagi personal pendidik
lainnya adalah memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di
sekolah. Dukungan system ini diliputi aspek-aspek :
a. pengembangan jejaring (Net working) menyangkut kegiatan konselor
yang meliputi :
1. konsultasi dengan guru-guru
2. menyelenggarakan program kerja sama dengan orangtua atau
masyarakat
3. berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-
kegiatan sekolah
4. bekerja sama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka
menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan
konseli
5. melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat
dengan bimbingan dan konseling
6. melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait
dengan pelayanan bimbingan dan konseling.
B. Straregi
Strategi peluncuran bagi masing-masing komponen di atas adalah sebagai
berikut :
1. Strategi Layanan Dasar
a. Bimbingan Klasikal, layanan bimbingan diberikan kepada siswa secara
terprogram. Kegiatan ini melalui pemberian layanan orientasi dan informasi
tentang berbagai hal dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi
pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran, yang diperuntukkan bagi
siswa baru, sehingga mereka memiliki pengetahuan yang utuh tentang
sekolah yang dimasukinya. Kepada mereka diperkenalkan tentang berbagai
hal yang terkait dengan sekolah, seperti : kurikulum, personal (pimpinan,
para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan,
laboratorium, tata-tertib sekolah, kegiatan ekstrakulikuler, dan fasilitas
sekolah lainnya. Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan
yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang
dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun
tidak langsung (melalui media cetak maupun elektroik, seperti : buku, brosur,
leaflet, majalah, dan internet).
b. Bimbingan Kelompok. Konselor memberikan layanan bimbingan kepada
siswa melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini
ditujukan untuk merespon kebutuhan para siswa. Topik yang didiskusikan
dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum
(common problem) dan tidak rahasia : seperti cara-cara belajar yang efektif,
etika dalam pergaulan terutama dg teman sebaya, kiat-kiat menghadapi
ujian, dan mengelola stress.
c. Berkolaborasi dengan guru mata pelajaran atau wali kelas, konselor
berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh
informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran siswa dan
pribadinya). Membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi
aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran.
d. Berkolaborasi (bekerjasama) dengan orang tua. Dalam upaya meningkatkan
kualitas peluncuran program bimbingan konselor perlu melakukan kerja
sama dengan para orangtua siswa. Tetapi juga oleh orangtua di rumah.
1. Struktur Organisasi BK
Tata Usaha
SISWA
Keterangan :
Garis komando
Garis koordinasi
Garis konsultasi
2. Personal
a. Drs. H. Saan Ruswandi., M.M.Pd (Kepala Sekolah)
(1) Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan, yang meliputi
kegiatan pengajaran, pelatihan serta bimbingan dan konseling di
sekolah;
(2) Menyediakan dan melengkapi sarana prasarana yang diperlukan
dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah;
(3) Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program kegiatan
bimbingan konseling di sekolah;
(4) Melakukan supervise terhadap pelaksanaan bimbingan konseling di
sekolah;
(5) Menetapkan koordinator guru pembimbing yang bertanggung jawab
atas koordinasi pelaksana bimbingan konseling di sekolah berdasarkan
kesepakatan bersama guru pembimbing;
(6) Membuat surat tugas guru pembimbing dalam proses bimbingan pada
setiap awal semester;
(7) Menyiapkan surat pernyataan melakukan kegiatan bimbingan
konseling sebagai bahan usulan angka kredit bagi guru pembimbing
yang akan naik pangkat atau golongan;
(8) Mengadakan kerja sama dengan instansi lain (seperti
perusahaan/industri, Dinas kesehatan, kepolisian, atau para pakar
yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan konseling seperti
psikolog, dokter).
f. Wali Kelas
(1) Membantu guru pembimbing melaksanakan layanan bimbingan dan
konseling yang menjadi tanggungjawabnya
(2) Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa,
khususnya di kelas yang menjadi tanggungjawabnya, untuk mengikuti
layanan bimbingan konseling
(3) Memberikan informasi tentang keadaan siswa kepada guru
pembimbing untuk memperoleh layanan bimbingan konseling
(4) Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang
perlu diperhatikan secara khusus dalam belajarnya
(5) Ikut serta dalam konferensi kasus
g. Staf Administrasi
(1) Membantu guru pembimbing (konselor) dan koordinator Bk dalam
mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di
sekolah
(2) Membantu guru pembimbing dalam menyiapkan seluruh kegiatan
bimbingan dan konseling
(3) Membantu guru pembimbing dalam menyiapkan seluruh kegiatan
bimbingan dan konseling.
BAB IV
EVALUASI DAN MATRIK PROGRAM BK
A. Evaluasi
Evaluasi dapat diartikan sebagi proses pengumpulan informasi atau
data untuk mengetahui efektifitas (keterlakasanaan dan ketercapaian)
kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil
keputusan. Pengertian lain dari evaluasi ini adalah suatu usaha dalam
mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan dan
menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan sikap dan perilaku,
atau tugas-tugas perkembangan para siswa melalui progam kegiatan yang
telah dilaksanakan.
Ada dua macam kegiatan penilaian program ini, yaitu penilaian proses
dan penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai
sejauh mana efektifitas layanan bimbingan dan konseling dilihat dari
prosesnya, sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh
informasi efektifitas layanan bimbingan dilihat dari hasilnya.
Aspek yang dinilai, baik proses maupun hasilnya, antara lain:
1. Keseluruhan antara program dengan pelaksanaan
2. Keterlaksanaan program
3. Hambatan-hambatan yang dijumpai
4. Dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar
5. Respon peserta didik, personel sekolah, orang tua dan masyarakat
terhadap layanan bimbingan
6. Perubahan kemajuan peserta didik dilihat dari pencapaian tujuan
layanan bimbingan, pencapaian tugas-tugas perkembangan, hasil
belajar dan keberhasilan peserta didik setelah menamatkan sekolah
PROGRAM KERJA
TAHUN PELAJARAN 2022 / 2023
E. Rasional
Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari diri
manusia, mulai dari kandungan sampai beranjak dewasa kemudian tua manusia
mengalami proses pendidikan yang didapatkan dari orangtua, masyarakat
maupun lingkungannya.
Siswa tingkat SMP sebagai siswa yang sedang berada dalam proses
berkembang atau menjadi (becoming), yang berkembang ke arah kematangan
dan kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, siswa memerlukan
bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan
tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah
kehidupannya. Disamping itu terdapat satu keniscayaan bahwa proses
perkembangan siswa tidak selalu berlangsung secara mulus, atau steril dari
masalah. Perkembangan siswa tidak terlepas dari pengaruh lingkungan baik
fisik, psikis maupun sosial. Sifat inhern lingkungan adalah perubahan.
Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life
style) warga masayarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi
atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan diskontinuitas
perkembangan masalah-masalah pribadi siswa atau penyimpangan perilaku.
Penyimpangan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan,
karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan,
seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No.20 Tahun 2003),
yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadapTuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak
mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan
jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6)
memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah
yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi yaitu:
bidang administrasi dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikulum
dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan
bidang administrasi dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan
dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam
aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam
aspek kepribadian.
Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penerapan program
Bimbingan konseling di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak
adanya landasan hukum (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun
yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi siswa agar mampu
mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya
(menyangkut aspek fisik, emos, intelektual, sosial dan moral spiritual).
G. Analisis S.W.O.T
a. Tenaga Konselor Sekolah di SMP Negeri 75 Bandung masih kurang
b. Ruangan BK yang belum memadai
c. Kerja sama antar personal cukup baik
d. Di masa pandemi ini, masih banyak orang tua siswa yang kurang
responsif terhadap pendidikan putra/putrinya
e. Banyak siswa yang membutuhkan edukasi tentang etika dan
kesopanan
H. Tujuan
Berdasarkan kebutuhan siswa dan hasil dari SWOT, maka Tujuan Program
Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 75 Bandung adalah :
1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam perilaku
2. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai
dan berani menghadapi resiko.
3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam
mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif
5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam berinteraksi
dengan orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar
dalam kehidupan sosial.
7. Mengambangkan potensi diri melalui berbagai aktifitas yang positif.
8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan
kehidupan yang semakin kompetitif
9. Mengembangkan dan memelihara perilaku,nilai,dan kompetensi ysng
mendukung pilihan pendidikan yang lebih tinggi.
10. Meyakini nilai-nilai yang terkandung dalam keluarga sebagai upaya untuk
menciptakan masyarakat yang bermartabat.
11. Memberi edukasi serta bimbingan pada siswa terkait dengan etika dan
kesopanan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
BAB II
PENJABARAN PROGRAM BK
C. Komponen
Kegiatan Bimbingan Konseling di SMP Negeri 75 Bandung, memiliki 4
komponen yang diantaranya :
5. Pelayanan Dasar Bimbingan
Pelayanan dasar diartokan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh
konseli melalui penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau
kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka pengembangan
perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap prngrmbangan perilaku jangka
panjang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan yang diperlukan dalam
pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam
menjalani kehidupannya. Untuk mencapai tujuan membantu konseli agar
mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya maka focus perilaku
yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, social dan karir.
Bimbingan dan Konseling secara terprogram masuk kelas belum dapat
dilaksanakan sehingga pelaksanaan klasikal penerapannya fleksibel bekerja
sama dengan wali kelas.
6. Pelayanan Responsif
Pelayanan responsive merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang
menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan
segera. Membantu konseli agar dapat memenuhi kebutuhannya dan
memecahkan masalah yang dialami atau membantu konseli yang mengalami
hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.
Masalah atau gejala masalah yang sering timbul dalam pemberian pelayanan
responsive antara lain (1) merasa cemas tentang masa depan, (2) merasa
rendah diri (3) berprilaku inpulsif (kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu
tanpa mempertimbangkannya secara matang, (4) membolos dari sekolah, (5)
malas belajar, (6) kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, (7) kurang
bias bergaul, (8) prestasi belajar endah, (9) malas beribadah, (10) masalah
pergaulan bebas, (11) masalah tawuran, (12) manajemen stress, dan (13)
masalah dalam keluarga.
7. Perencanaan Individual
Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada konseli agar
mampu merumuskan dan melakukan aktifitas yang berkaitan dengan
perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman akan peluang dan
kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pelayanan ini bertujuan untuk
membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan
lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau
pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek
pribadi, social, belajar, maupun karir dan (3) dapat melakukan kegiatan
berdasarkan pemahaman tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.
Melalui pelayanan perencanaan individual, konseli diharapkan dapat:
a. Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan kemampuan social-
pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya informasi tentang
sekolah, dunia kerja, dan masyarakat.
b. Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka mencapai
tujuannya.
c. Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya
d. Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya
Fokus pelayanan perencanaan individual berkaitan erat dengan
pengembangan aspek akademik, karir, dan social-pribadi.
8. Dukungan Sistem
Ketiga komponen di atas, merupakan pemberian bimbingan dan
konseling kepada konseli secara langsung. Sedangkan dukungan system
merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja,
infrastruktur (misalnya teknologi komunikasi) dan pengembangan
kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak
langsung memberikan dukungan kepada konselor dalam memperlancar
penyelenggaraan pelayanan di atas. Sedangkan bagi personal pendidik
lainnya adalah memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di
sekolah. Dukungan system ini diliputi aspek-aspek :
a. pengembangan jejaring (Net working) menyangkut kegiatan konselor
yang meliputi :
1. konsultasi dengan guru-guru
2. menyelenggarakan program kerja sama dengan orangtua atau
masyarakat
3. berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-
kegiatan sekolah
4. bekerja sama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka
menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan
konseli
5. melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat
dengan bimbingan dan konseling
6. melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait
dengan pelayanan bimbingan dan konseling.
3. Struktur Organisasi BK
Tata Usaha
SISWA
Keterangan :
Garis komando
Garis koordinasi
Garis konsultasi
4. Personal
a. Robiarsyah, S.Pd, M.M. (Kepala Sekolah)
(1) Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan, yang meliputi
kegiatan pengajaran, pelatihan serta bimbingan dan konseling di
sekolah;
(2) Menyediakan dan melengkapi sarana prasarana yang diperlukan
dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah;
(3) Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program kegiatan
bimbingan konseling di sekolah;
(4) Melakukan supervise terhadap pelaksanaan bimbingan konseling di
sekolah;
(5) Menetapkan koordinator guru pembimbing yang bertanggung jawab
atas koordinasi pelaksana bimbingan konseling di sekolah berdasarkan
kesepakatan bersama guru pembimbing;
(6) Membuat surat tugas guru pembimbing dalam proses bimbingan pada
setiap awal semester;
(7) Menyiapkan surat pernyataan melakukan kegiatan bimbingan
konseling sebagai bahan usulan angka kredit bagi guru pembimbing
yang akan naik pangkat atau golongan;
(8) Mengadakan kerja sama dengan instansi lain (seperti
perusahaan/industri, Dinas kesehatan, kepolisian, atau para pakar
yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan konseling seperti
psikolog, dokter).
d. Insi Muthi Asfari, S.Psi (Pembimbing BK kelas VII, VIII dan IX)
(1) Memasyarakatkan kegiatan bimbingan konseling (terutama kepada
siswa)
(2) Merencanakan persiapan bimbingan konseling bersama koordinator
BK
(3) Merumuskan persiapan kegiatan bimbingan konseling
(4) Melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap siswa yang
menjadi tanggung jawabnya (melaksanakan layanan dasar, responsif,
perencanaan individual, dan dukungan sistem)
(5) Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan konseling
(6) Menganalisa hasil evaluasi
(7) Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis penilaian
(8) Mengadministrasikan kegiatan bimbingan konseling
(9) Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator BK
atau kepala sekolah.
(10)Menampilkan pribadi sebagai figur moral yang berakhlak mulia
(seperti taat beribadah, jujur, bertanggung jawab, sabar, disiplin, respek
terhadap pimpinan, kolega dan siswa).
e. Guru Mata Pelajaran
(1) Membantu memasyarakatkan layanan bimbingan konseling kepada
siswa
(2) Melakukan kerja sama dengan guru pembimbing dalam
mengidentifikasi siswa yang memerlukan bimbingan konseling
(3) Mengalihtangankan (merujuk) siswa yang memerlukan bimbingan
konseling kepada guru pembimbing
(4) Mengadakan upaya tindak lanjut layanan bimbingan konseling
(program perbaikan dan program pengayaan atau remedial teaching)
(5) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperolah layanan
bimbingan konseling guru pembimbing.
(6) Membantu mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam rangka
penilaian layanan bimbingan konseling
(7) Menerapkan nilai-nilai bimbingan dalam PBM atau berinteraksi
dengan siswa, seperti: bersikap respek terhadap semua siswa, seperti:
bersikap respek terhadap semua siswa, memberikan kesempatan
kepada siswa yang menampilkan perilaku/prestasi yang baik,
menampilkan pribadi sebagai figure moral yang berfungsi sebagai
“uswah hasanah”
f. Wali Kelas
(1) Membantu guru pembimbing melaksanakan layanan bimbingan dan
konseling yang menjadi tanggungjawabnya
(2) Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa,
khususnya di kelas yang menjadi tanggungjawabnya, untuk mengikuti
layanan bimbingan konseling
(3) Memberikan informasi tentang keadaan siswa kepada guru
pembimbing untuk memperoleh layanan bimbingan konseling
(4) Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang
perlu diperhatikan secara khusus dalam belajarnya
(5) Ikut serta dalam konferensi kasus.
g. Staf Administrasi
(1) Membantu guru pembimbing (konselor) dan koordinator Bk dalam
mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di
sekolah
(2) Membantu guru pembimbing dalam menyiapkan seluruh kegiatan
bimbingan dan konseling
(3) Membantu guru pembimbing dalam menyiapkan seluruh kegiatan
bimbingan dan konseling.
BAB IV
EVALUASI DAN MATRIK PROGRAM BK
B. Evaluasi
Evaluasi dapat diartikan sebagi proses pengumpulan informasi atau
data untuk mengetahui efektifitas (keterlakasanaan dan ketercapaian)
kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil
keputusan. Pengertian lain dari evaluasi ini adalah suatu usaha dalam
mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan dan
menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan sikap dan perilaku,
atau tugas-tugas perkembangan para siswa melalui progam kegiatan yang
telah dilaksanakan.
Ada dua macam kegiatan penilaian program ini, yaitu penilaian proses
dan penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai
sejauh mana efektifitas layanan bimbingan dan konseling dilihat dari
prosesnya, sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh
informasi efektifitas layanan bimbingan dilihat dari hasilnya.
Aspek yang dinilai, baik proses maupun hasilnya, antara lain:
7. Keseluruhan antara program dengan pelaksanaan
8. Keterlaksanaan program
9. Hambatan-hambatan yang dijumpai
10. Dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar
11. Respon peserta didik, personel sekolah, orang tua dan masyarakat
terhadap layanan bimbingan
12. Perubahan kemajuan peserta didik dilihat dari pencapaian tujuan
layanan bimbingan, pencapaian tugas-tugas perkembangan, hasil
belajar dan keberhasilan peserta didik setelah menamatkan sekolah
B. Rekomendasi
Usaha tindak lanjut yang dilakukan oleh guru BK setelah proses evaluasi
adalah:
8. Adanya perubahan- perubahan dalam program BK kalau hasil evaluasi
menunjukan kelemahan kelemahan tertentu.
9. Menentukan dalam hal apa dibutuhkan perubahan yang paling mendesak,
sesuai dengan hasil evaluasi proses dan evaluasi produk.
10. Menganalisis keseluruhan situasi dan kondisi untuk mengetahui di mana
terletak sumber sumber hambatan yang utama.
11. Menjelaskan keadaan sekarang kepada pihak pihak yang terlibat dalam
perencanaan dan pelaksanaan perubahan terhadap program BK dan
menggambarkan keadaan yang lebih ideal yang diharapkan.
12. Memperoleh dukungan dari pejabat-pejabat strruktural di lingkungan
sekolah, yang semestinya mengetahui perubahan yang direncanakan
beserta cara implementasinya.
13. Memperoleh dukungan dari staf pengajar terhadap perubahan perubahan
yang direncanakan, lebih lebih bila perubahan itu melibatkan banyak guru
atau wali kelas.
14. Memperoleh dukungan dari wakil wakil orang tua siswa salah satunya
dengan Komite Sekolah.