0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
340 tayangan17 halaman

RPL Bimbingan Individual

RPL Bimbingan Individu SMP

Diunggah oleh

sarlin latabi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
340 tayangan17 halaman

RPL Bimbingan Individual

RPL Bimbingan Individu SMP

Diunggah oleh

sarlin latabi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN (RPL)

KONSELING INDIVIDUAL
SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2024/2025

A Data konseli (identitas di samarkan)


Nama konseli : DA
Jenis kelamin : Laki - Laki
Kelas : IX (Sembilan)
Agama : Islam
B Hari/ tanggal :
C Pertemuan ke : 1 (Pertama)
D Waktu : 30 Menit
E Tempat : Ruang Konseling SMP Negeri 9 Bolaang
Mongondow Utara
F Komponen layanan : Layanan Responsif
G Bidang Bimbingan : Pribadi
H Fungsi layanan : Pengentasan
I Topik permasalahan : Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri
J Media : LKPD
K Deskripsi masalah :
L Gejala masalah : Berdasarkan agenda kegiatan Konselor,
terdapat Konseli di kelas IX dengan
inisial DS yang kurang percaya diri saat
memperkenalkan nama maupun ketika diminta
untuk menyampaikan pendapatnya. Beberapa guru
mata pelajaran, salah satunya guru mata pelajaran
bahasa indonesia menyampaikan bahwa konseli
juga kurang percaya diri saat pembelajaran
berlangsung
M Pendekatan konseling : Konseling Behavior
N Tujuan Layanan : Tahap Pengenalan
1. Konseli dapat menjelaskan keluhan-keluhan
terkait dampak buruk karena rasa tidak Percaya
diri (C4)
2. Konseli dapat mendiagnosis sebab-sebab
terjadinya rasa tidak Percaya diri (C4)
Tahap Akomodasi
3. Konseli memilih beberapa cara mengatasi rasa
tidap Percaya Diri (A2)
Tahap Tindakan
4. Konseli dapat merancang langkah – langkah
mengatasi masalah rasa tidak Percaya Diri (P2)
O Sumber Materi : 1. Edwindha Prafitra Nugraheni. (2022).
Pendalaman Materi Bimbingan dan
Konseling. Modul. Jakarta:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,
Ristek, dan Teknologi
2. Syamsu Yusuf. 2017. Bimbingan &
Konseling Perkembangan.Bandung:Refika
Aditama.
3. Yeni Karneli &Suko Budiono. 2018.
Penelitian Tindakan Bimbingan dan
Konseling. Bogor: Grha Cipta Media.

P Teknik konseling yang digunakan : Wants Direction Evaluation Planning (WDEP)

Q Tahapan Konseli
Pembukaan : 1. Guru BK menyampaikan salam pembuka
dan menerima konseli dengan sikap
terbuka, serta mengucapkan terimakasih
atas kehadiran klien pada pertemuan ke
pertama ini, dan konseli mampu
beradaptasi dengan suasana konseling
dengan memberikan respon salam dari
guru BK
2. Guru BK memperkenalkan diri dan
menjelaskan maksud dan tujuan dari
konseling, dan konseli memperkenalkan
diri dan mendengarkan penjelasan
konselor
3. Guru BK menjelaskan pengertian
konseling individu, tujuan konseling
individu, cara pelaksanaan, dan azas
konseling individu, dan konseli
menyimak dan memahami penjelasan
guru BK
4. Guru BK menjelaskan azas kerahasiaan
kesukarelaan dan azas keterbukaan yang
dijunjung tinggi selama pelaksanaan
konseling individu berlangsung, dan
konseli menyimak dan memahami
penjelasan guru BK.
5. Guru BK memberikan informasi yang
harus dipahami dan menjelaska
kepada konseli mengenai persetujuan
atas seluruh isi dari penjelasan guru BK,
dan konseli menyimak dan memahami
penjelasan guru BK.
6. Guru BK menanyakan kepada Konseli
apakah ada yang ingin disampaikan atau
ditanyakan, dan konseli menjawab
pertanyaan guru BK.

Transisi 1. Guru BK menanyakan kesiapan Konseli


untuk memulai inti dari sesi konseling
hariini, dan konseli menjawab
pertanyaan guru BK mengenai
kesiapannya untuk masuk pada inti sesi
konseling hari ini.

2.Guru BK meyakinkan konseli untuk


semangat, optimis, dan aktif dalam
menjalani sesi konseling hari ini, konseli
menyatakan semangat dan harapan
optimisnya terhadap proses konseling
hari ini.

Penutup : 1. Guru BK meminta konseli untuk


memberikan pesan dan kesan terhadap
pertemuan pertama konseling individu,
dan konseli memberikan kesan dan
pesan terhadap kegiatan konseling
individual.
2. Guru BK melakukan evaluasi terhadap
kegiatan konseling individu, dan konseli
melakukan evaluasi terhadap kegiatan
konseling individual.
3. Guru BK membahas waktu pertemuan
untuk sesi konseling individu
selanjutnya, dan konseli menyepakati
waktu untuk pertemuan konseling
individual selanjutnya.
4. Guru BK mengakhiri kegiatan sesi
konseling individu.
R Evaluasi
1. Evaluasi proses :
Mengamati keaktifan konseli dalam
mengikuti kegiatan konseling individu.
2. Evaluasi hasil : 1. Konselor melakukan refleksi dari
kegiatan konseling yang telah dilakukan
2. Konseli mengisi format penilaian
setelah mengikuti layanan konseling

S TINDAK LANJUT : Apabila proses konseling pada pertemuan


pertama belum mampu mencapai hasil
yang diharapkan. Maka dilakukan
konseling Individual lanjutan.

Lampiran:

1. LKPD
2. MEDIA
3. EVALUASI
4. MATERI
Lampiran 1: LKPD

Nama Sekolah : SMP Negeri 9 Bolaang Mongondow Utara


Kelas / Semester : IX (Sembilan)

Identitas

Kelas : ...................................................
Nama : …………………………………

Petunjuk
 Amati dan bacalah LKPD ini dengan cermat dan teliti.
 Kerjakan secara individual tugas di bawah ini

1. Pengetahuan baru apa yang anda peroleh setelah mengikuti layanan konseling individual?
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................

2. Uraikan 3 perilaku baik yang kamu miliki terkait dengan upaya mengatasi rasa tidak percaya
diri?
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
3. Uraikan 2 perilaku yang masih harus kamu perbaiki terkait dengan kepercayaan dirimu?
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
4. Tentukan 1 tindakan yang akan kamu lakukan untuk mengatasi rasa tidak percaya diri?
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
5. Bagaiamana perasaan anda setelah mengikuti layanan konseling individual?
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
Lampiran 2: Evaluasi proses dan hasil

INSTRUMEN EVALUASI
PROSES LAYANAN KONSELING INDIVIDU

Identitas :
Nama Konseli :
Kelas :
Masalah yang dialami :

Petunjuk:
Beri tanda centang (√ ) pada kolom skor sesuai dengan hasil penilaian Anda.

Skor
No. Pernyataan
1 2 3 4 5
1. Sikap terbuka dalam mengutarakan masalah yang dihadapi
konseli mengenai kurangnya rasa percaya diri
2. Kesadaran diri dengan masalah yang sedang dialami konseli
3. Perhatian terhadap Konselor disaat berjalannya proses konseling
individual
4. Konseli nampak merasa nyaman dalam melakukan konseling
individual
5. Keterlibatan dalam mendapatkan alternative jalan keluar/solusi
dalam pemecahan masalah kurang percaya diri
Jumlah

Skor Minimal yang dicapai 1 x 5 = 5


Skor maksimal yang dicapai 5 x 5 =25
Kriteria skor yang akan di capai Konseli adalah:
- Skor 5: bila dilakukan dengan sangat baik
- Skor 4:bila dilakukan dengan baik
- Skor 3:bila dilakukan dengan cukup baik
- Skor 2:bila dilakukan dengan kurang baik
- Skor 1 :bila dilakukan dengan sangat kurang baik
Kategori
Sangat Baik : 21 – 25
Baik : 17 – 20
Cukup Baik : 13 – 16
Kurang Baik : 9 -12
Sangat Kurang Baik : 5 – 8
EVALUASI HASIL
LAYANAN KONSELING
INDIVIDUAL

Nama : .......................................................................
Kelas : IX (Sembilan)
Topik layanan : Percaya Diri
Tujuan Layanan :
Petunjuk : Setelah kamu mengikuti layanan konseling kelompok individual,
jawablah pertanyaan berikut ini
1. Pemahaman baru apa yang anda dapatkan setelah mengikuti layanan konseling individual?
Jawab:……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
2. Apa dampak buruk yang terjadi karena rasa tidak percaya diri?
Jawab:……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………….
3. Bagaimana perasaan anda setelah mengikuti layanan konseling individual?
Jawab:……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
4. Bagaimana rencana anda setelah mengikuti layanan konseling individual?
Jawab:………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
LEMBAR OBSERVASI/PENILAIAN KEMAMPUAN GURU DALAM
PELAKSANAAN KONSELING INDIVIDUAL
Materi :
Sub Materi :
Nama Guru BK :
Nama Pengamat :
Tanggal :
Jam :
Petunjuk umum :
1. Diminta kepada Ibu membulati angka pada kolom skor yang sesuai dengan penilaian ibu
2. Diminta kepada Ibu untuk memberikan catatan terkait dengan pelaksanaan Konseling
Individual.

N Keterampilan Konseling Evaluasi Skor Eval uasi


O Individual + -

A ATTENDING (PERHATIAN)
.
1 MEMBANGUN Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
. HUBUNGAN:
a. Menunjukkan
empati terhadap
kebutuhan konseli
b. Mengkomunikasika
n rasa menghormati
konseli
c. Menyampaikan
kata-kata
penerimaan ketika
konseli datang
d. Mengkomunikasika
n peran konselor dan
konseli
e. Menyampaikan
tujuan konseling
kepada konseli
f. Menemukan
kebutuhan-
kebutuhan konseli
secara konkrit
2 PENAMPILAN GESTUR Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
. DAN MIMIK:
a. Mengatur posisi duduk
b. Mengatur jarak duduk
c. Melakukan kontak
mata
d. Mengatur
Gerakan tangan
dan kaki
e. Menyesuaikan mimik
wajah
3 MENGAMATI: Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
.

a. Menunjukkan
pemahaman
terhadap gerakan
tubuh konseli
b. Menunjukkan
pemahaman
terhadap
penampilan
konseli
c. Menunjukkan
pemahaman
terhadap
ekspresi wajah
konseli
d. Menunjukkan
pemahaman
terhadap
perhatian
konseli
e. Menunjukkan
pemahaman
terhadap
kesungguhan
konseli.
4 MENDENGARKAN: Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
. a. Memfokuskan
perhatian pada
pembicaraan
b. Memfokuskan
pada ungkapan
isi pembicaraan
konseli
c. Memperhatikan
konseli saat
mengungkapkan
perasaan
d. Memfokuskan
pada nada suara
pembicaraan
konseli
e. Memfokuskan pada
pengulangan kata-kata konseli
B RESPONDING
.
1 MERESPON TERHADAP ISI: Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
. a. Merespon
pernyataan konseli
berdasarkan urutan
kepentingan
b. Merespon
pernyataan konseli
berdasarkan
kronologis
c. Merespon
pernyataan konseli
berdasarkan sebab
akibat
d. Memfasilitasi
konseli untuk
mengeksplorasi
isi pembicaraan
e. Memfasilitasi konseli
untuk
mengeksplorasi konteks
pembicaraan
2 MERSPON PERASAAN: Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
. a. Merespon
perasaan konseli
berdasar pikiran
konseli
b. Merespon
perasaan konseli
berdasar
pengalaman
konseli
c. Merespon perasaan
konseli dengan
pernyataan yang
tepat
d. Merespon
perasaan konseli
pada saat yang
tepat
e. Merespon
perasaan sesuai
dengan
karakteristik
konseli
3 MERESPON MAKNA: Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
. a. Merspon
makna
pikiran
konseli
b. Merespon
makna perasan
konseli
c. Merespon
makna dengan
pernyataan
yang tepat
d. Merespon
makna pada saat
yang tepat
e. Merespon makna
sesuai dengan
karakteristik
konseli
C PERSONALIZING Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
. (MEMERSONALISASIKA N
MASALAH DAN TUJUAN)
a. Memersonalisasi
kan makna
pengalaman
konseli
b. Memersonalisasika
n masalah yang
dialami konseli
c. Memersonalisasika
n perasaan yang
dialami konseli
d. Memersonalisasi
kan tujuan yang
diinginkan
konseli
e. Memerso
nalisasika
n
kekurang
an konseli
D INIATING (MENGINISIASI Sangat baik 5 4 3 2 1 Tidak Baik
. KEGIATAN KONSELI):

a. Merumuskan
kegiatan atau
Langkah-langkah
yang akan
dilakukan konseli
b. Mengembangkan
Langkah- langkah
yang akan
dilakukan konseli
c. Menetapkan waktu
untuk memulai
melakukan
kegiatan awal
d. Bersama-sama
dengan konseli
menetapkan
waktu pertemuan
untuk memonitor
langkah-langkah
yang akan
dilakukan konseli
e. Memberikan
penguatan
terhadap
konseli untuk
melakukan
rencana
kegiatannya
TOTAL SKOR
Nilai Pelaksana (T)=(Total skor/45)
x 100
Komentar/Catatan:
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………

…………………., ……………….. 2024

Penilai,

………………………………………........
Lampiran 3: Media

Media yang digunakan dalam kegiatan konseling individual yaitu:


1. Kertas

2. Pena

3. HP
Lampiran 4: Materi
a. Latar belakang konseling realita
Pendekatan konseling realita dipelopori oleh William Glasser. Pendekatan ini
tumbuh, sebagai reaksi ketidakpuasan Glasser atas pendekatan utama dalam
konseling dan psikoterapi (psikoanalisa) yang dianggapnya kurang praktis dalam
membantu konseli. Pendakatan utama yang ada ketika itu terlalu menekankan masa
lalu dan ketidaksadaran sehingga memerlukan waktu yang lama ketika diterapkan
untuk membantu konseli. Melihat kondisi tersebut, Glasser mengembangkan
pendekatan konseling yang lebih tepat sasaran.
Pada awalnya, ide Glasser banyak menerima tentangan dari teman sejawatnya.
Saat itu, pada tahun 1956, Glasser menjadi psikiater konsultan di lembaga
rehabilitasi kenakalan remaja. Namun, lama-kelamaan teman sejawatnya
memberikan apresiasi terhadap ide Glasser tersebut karena diketahui efektivitas dari
ide Glasser tersebut. Pada tahun 1965, Glasser mengeluarkan bukunya yang berjudul
Reality Therapy yang ditulis berdasarkan pengalamannya selama mempraktikkan
pendekatan konseling realita selama menjadi konsultan psikiater di lembaga
rehabilitasi kenakalan remaja. Perkembangan saat ini, pendekatan konseling realita
sudah diterapkan dalam berbagai setting: lembagai pendidikan di berbagai tingkat,
rehabilitasi anak nakal, maupun lembaga bisnis.

b. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

Pendekatan konseling realita meyakini bahwa tindakan manusia merupakanhasil


dari pilihan yang dibuatnya. Implikasi dari pilihan adalah adannya konsekuensi.
Oleh karena itu, ketika individu membuat pilihan maka diharapkan dia mampu
membuat pilihan yang bertanggungjawab—kemampuan untuk memilih tindakan
yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghalangi orang lain
untuk memenuhi kebutuhannya (Fall, Holden & Marquis, 2004). Seseorang yang
berkeinginan untuk memenuhi kebutuhan mencintainya, misalnya, diharapkan jangan
sampai menghalangi kebutuhan orang yang dicintainya dalam memenuhi kebutuhan
pribadinya. Jika mencintai membuat dia menghalangi orang lain memenuhi
kebutuhan pribadinya maka pilihan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan
mencintainya merupakan pilihan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dalam
kondisi inilah biasanyapenyesuaian yang sehat sulit untuk dicapai.
Lebih tegasnya, jika dikaitkan identitas, maka individu memiliki kesehatan
mental yang bagus kalau mereka mengembangkan identitas berhasil. Pribadi salah
suai terjadi ketika individu tidak mampu mengarahkan perilakunya dalam memenuhi
kebutuhannya berdasarkan prinsip tanggung jawab (responsibility), kenyataan
(reality), dan norma (right) (Hansen, Stevic & Warner, 1982).
c. Tahapan Konseling
Prosedur pendekatan konseling realitas dilaksanakan dalam sistem WDEP (lihat
Corey, 2005, 2009; Seligman, 2006; Wubbolding, 2007, 1995). Setiap huruf dari
WDEP mengacu pada kumpulan strategi: W = wants and needs (keinginan-keinginan
dan kebutuhan-kebutuhan), D = direction and doing (arah dan tindakan), E = self
evaluation (evaluasi diri), dan P = planning (perencanaan). Bahasan berikut
diarahkan untuk menguraikan sistem WDEP yang dikembangkan Wubbolding (2007,
1995).
Wubbolding (Nystul, 2006, Seligman, 2006) sebagai seorang jurubicara
terkemuka konseling realitas mengemukakan prosedur konseling realitas dengan
sistem WDEP. Sistem tersebut terdiri atas empat tahap yaitu wants (keinginan),doing
(melakukan), evaluation (penilaian), dan planning (merencanakan). W berarti
keinginan, kebutuhan, dan persepsi konseli. Pada tahap W, konselor mengidentifikasi
apa yang diinginkan konseli dalam kehidupan dengan mengajukan pertanyaan seperti
‖Apa yang kamu inginkan?‖ (dari belajar, keluarga, teman-teman, dan lain-lain). D
berarti apa yang dilakukan konseli danarah yang dipilih dalam hidupnya. Pada tahap
tersebut, konselor membantu konseli mengidentifikasi apa yang dilakukannya dalam
mencapai tujuan yang diharapkan dengan mengajukan pertanyaan antara lain ‖Apa
yang kamu lakukan?‖ dan mengidentifikasi arah hidupnya dengan mengajukan
pertanyaan ‖Jika kamu terus menerus melakukan apa yang kamu lakukan sekarang,
akan ke mana kira-kira arah hidupmu?‖ E berarti melakukan evaluasi terhadap apa
yang dilakukan akhir-akhir ini. Pada tahap ini, konselor membantukonseli melakukan
penilaian diri untuk menentukan keefektivan apa yang dilakukan bagi pencapaian
kebutuhannya. Untuk itu, konselor dapat menggunkan pertanyaan antara lain
‖Apakah yang kamu lakukan akhir-akhir ini dapat membantumu memenuhi
keinginanmu? P berarti membuat rencana perubahan perilaku. Pada tahap ini,
konselor membantu konseli merencanakan pengubahan tingkah laku yang lebih
bertanggung jawab bagi pencapaian kebutuhannya. Perencanaan dibuat berdasarkan
hasil evaluasi perilaku pada tahap sebelumnya. Dalam tahap tersebut, konselor dapat
mengajukan pertanyaan misalnya, ‖Apa yang akan kamu lakukan agar dapat
memenuhi keinginanmu?‖ Agar rencana tersebut efektif maka perencanan tindakan
yang dibuat berupa rencana yang sederhana, dapat dicapai, terukur, segera, dan
terkendalikan olehkonseli.
d. Teknik Konseling
Teknik yang sering digunakan dalam pendekatan konseling realita menurut
beberapa ahli (Burns, 2005; Ramli, 1994; Seligman, 2006; Sharf, 2004) adalah:
(1) Metafora. Ungkapan konseli tidak selalu dapat diekspresikan dengan bahasa
langsung. Terkadang ungkapan-ungkapan semacam itu akan lebih terwakiliketika
konseli memanfaatkan metafora, perumpamaan, peribahasan dan analog. Teknik
metafor digunakan ketika konseli memanfaatkan kiasan dalam mengekspresikan
dirinya. Konselor, dalam implementasi teknik metafor, diharapkan mampu
berkomunikasi dengan konseli pada tataran metafor. Ketika konseli
mengungkapkan, ―Jika dia mau meninggalkan saya,maka saya benar-benar sudah
jatuh ketiban tangga…‖ misalnya, maka konselor dapat merespon dengan, ―Apa
yang Anda rasakan dengan jatuh yang Anda maksudkan?‖ Pembicaraan dalam
teknik metafor ini sebenarnya diarahkan untuk menyamakan persepsi antara apa
yang dirasakan konseli dengan apa yang dipahami konselor.
(2) Konfrontasi. Ketika konseli tidak menjalankan rencana yang telah dibuatnya,
konselor harus tidak diperkenankan untuk ‗memaafkan‘ perilakukonseli tersebut.
Pada satu sisi konselor dituntut untuk menolak alasan- alasan konseli karena
tidak menjalankan program konseling, sementara di sisi lain konselor dituntut
untuk mendorong konseli berpikir dan membuat rencana-rencana baru yang
dapat dilaksanakannya. Hansen, Stevic dan Warner (1982) menyebut kondisi ini
sebagai no excuses. Menanggapi kejadian semacam ini konselor menggunakan
teknik konfrontasi. Konselor menunjukkan kesenjangan: kesenjangan antara
tindakan konseli dengan kebutuhannya, penerimaan konselor dengan tuntutan
untuk melakukan perubahan dengan membuat rencana baru. Akhir dari
konfrontasi selalu mengarah pada hal positif, bukan untuk menyalahkan konseli.
(3) Teknik paradoksikal. Ada dua jenis teknik paradoksikal, yaitu:
(a) Reframe. Teknik reframe dilakukan untuk mendorong konseli untuk
mengubah cara berpikirnya tentang suatu topik. Mengubah sudut pandang
dari sisi negatif dari suatu peristiwa menjadi sudut pandang dari sisi positif.
Melalui pengubahan cara berpikir ini bisa jadi sesuatu yang awalnya tidak
disukai menjadi disukai, demikian pula sebaliknya.
(b) Paradoxical prescription. Teknik ini dilakukan dengan mendorong konseli
untuk membayangkan hal yang paling buruk yang mungkin bisa terjadi serta
mencari solusi untuk menghadapinya.
(4) Pengembangan keterampilan. Pengajaran merupakan bagian penting dari
konseling realita. Konselor dapat mengajarkan berbagai keterampilan yang
bermanfaat bagi kehidupan konseli, seperti keterampilan asertif, berpikir
rasional, teknik pemecahan masalah, mengembangkan kecanduan positif
(positive addiction).
(5) Renegosiasi. Dalam rangka memenuhi kebutuhannya konseli terkadang berpikir
untuk melakukan sesuatu yang selaras dengan identitas gagalnya. Menghadapi
kondisi ini, konselor dapat menegosiasikan tindakan-tindakan berbeda yang
selaras dengan prinsip-prinsip 3 R (responsibility, reality, andright).
(6) Menggunakan kata kerja. Selaras dengan prinsip dari teori pilihan, maka
konselor mendorong untuk selalu menggunakan kata kerja atas setiap apa yang
dilakukan atau dirasakan. Ketika konseli mengatakan, ―Saya tertekan‖ misalnya,
maka konselor mengajak konseli untuk mengatakan, ―Saya memilih untuk
menjadi tertekan.‖

Anda mungkin juga menyukai