100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
380 tayangan3 halaman

Diskusi 6 TAP

Diunggah oleh

SEMUEL
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • karakteristik sengketa,
  • negosiasi,
  • pemeliharaan hubungan,
  • saran pihak ketiga,
  • kondisi spesifik,
  • penggunaan lahan,
  • musyawarah,
  • fleksibilitas,
  • peraturan perundang-undangan,
  • sengketa teknis
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
380 tayangan3 halaman

Diskusi 6 TAP

Diunggah oleh

SEMUEL
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • karakteristik sengketa,
  • negosiasi,
  • pemeliharaan hubungan,
  • saran pihak ketiga,
  • kondisi spesifik,
  • penggunaan lahan,
  • musyawarah,
  • fleksibilitas,
  • peraturan perundang-undangan,
  • sengketa teknis

Pertanyaannya adalah Bagaimanakah menurut Anda,

model APS/ADR seperti apakah yang dapat dipilih paling sesuai dalam
penyelesaian kasus sengketa ataupun konflik tanah ini, dibandingkan apabila
dengan proses litigasi di pengadilan. Sudah tentu penjelasan justifikasi
pemilihan model APS/ADR pilihan anda itu tidak terlepas dari berbagai
peraturan perundang-undangan yang terkait berlaku.

Jawaban anda dibatasi tidak lebih dari 1000 kata, dan meliputi indikator
sebagai berikut:

a) kesesuaian model APS/ADR yang dipilih berikut alasannya;

b) kesesuaian karakteristik peristiwa sengketa atau konflik pertanahan


dengan contoh kasusnya;

c) kesesuaian klasifikasi sederhana-kompleksnya dan berat-ringannya;

d) kesesuaian prosedur yang dapat ditempuh.

Selamat belajar.

Tutor

Jawaban

Kelebihan APS/ADR Dibandingkan dengan Litigasi

1. Efisiensi Waktu dan Biaya: APS/ADR biasanya lebih cepat dan murah
dibandingkan litigasi yang memerlukan biaya pengacara, biaya pengadilan,
dan sering kali memakan waktu bertahun-tahun.
2. Fleksibilitas: Prosedur APS/ADR lebih fleksibel dan dapat disesuaikan
dengan kebutuhan dan keinginan para pihak.
3. Kerahasiaan: Proses APS/ADR umumnya bersifat privat dan tertutup,
menjaga kerahasiaan sengketa.
4. Partisipasi Aktif: Para pihak lebih terlibat aktif dalam proses dan hasil
penyelesaian sengketa.
5. Pemeliharaan Hubungan: Proses APS/ADR yang bersifat damai dan
kolaboratif membantu mempertahankan hubungan baik antara para pihak.

Arbitrase merupakan salah satu alternatif penyelesaian sengketa di luar


pengadilan yang dipilih para pihak dengan menuliskannya sebagai klausul
dalam perjanjian khusus setelah sengketa terjadi. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam memilih alternatif arbitrase antara lain penentuan
sengketa pertanahan apa saja yang dapat diserahkan penyelesaiannya pada
arbiter, penentuan tentang siapa yang berhak menjadi arbiter, serta
penentuan sifat keputusan yang sebaiknya bersifat final dan tidak dapat
dimintakan banding.
Karakteristik Kasus yang Sesuai: Kasus yang memerlukan keputusan yang
mengikat dan final. Sengketa yang melibatkan permasalahan teknis atau
hukum yang kompleks. Para pihak menginginkan proses yang lebih cepat
dibandingkan litigasi tetapi dengan hasil yang mengikat.

Selanjutnya, sengketa tanah pun dapat diselesaikan dengan cara mediasi. Di


Indonesia, cara-cara musyawarah untuk mencapai mufakat merupakan hal
yang lazim dilakukan. Untuk kasus-kasus pertanahan yang bersifat perdata
dalam arti luas, yakni tidak menyangkut aspek administrasi dan pidana,
sepanjang para pihak menghendaki cara-cara mediasi, maka alternatif ini
dapat ditempuh.

Karakteristik Kasus yang Sesuai: Ketidaksepahaman antara pihak yang


masih ingin menjaga hubungan baik. Kasus di mana para pihak bersedia
berkomunikasi dan bernegosiasi secara langsung.

Contoh kasus nya : Sengketa Antara Tetangga Mengenai Batas Tanah: Dua
tetangga bersengketa mengenai batas properti mereka. Mediasi bisa
membantu mereka mencapai kesepakatan tanpa merusak hubungan
bertetangga.

Alternatif lainnya adalah konsiliasi, dimana dalam penyelesaian sengketa


terdapat konsiliator sebagai fasilitator. Peran konsiliator berkaitan dengan hal
komunikasi antara para pihak, guna mendapatkan solusi dalam penyelesaian
sengketa.

Karakteristik Kasus yang Sesuai: Kasus yang memerlukan saran dari pihak
ketiga yang netral tetapi tanpa keputusan yang mengikat. Sengketa dengan
permasalahan yang tidak terlalu kompleks. Para pihak yang membutuhkan
arahan untuk mencapai kesepakatan.

Contoh Kasus:

Sengketa Komunitas Mengenai Penggunaan Lahan Publik: Konsiliasi dapat


membantu anggota komunitas dan pemerintah daerah mencapai
kesepakatan mengenai penggunaan lahan publik tanpa konflik
berkepanjangan.

Pemilihan metode APS/ADR yang tepat bergantung pada karakteristik


spesifik sengketa tanah yang dihadapi. Mediasi, negosiasi, arbitrase, dan
konsiliasi masing-masing memiliki kelebihan yang bisa disesuaikan dengan
kebutuhan dan kondisi sengketa. Dengan memilih metode yang tepat,
penyelesaian sengketa tanah dapat dilakukan secara lebih efisien, efektif, dan
dengan hasil yang memuaskan semua pihak terlibat.

Referensi :
https://www.hukumonline.com/klinik/a/contoh-kasus-sengketa-tanah-dan-
penyelesaiannya-lt635fb7386f08f/

Istijab, Penyelesaian Sengketa Tanah Sesudah Berlakunya Undang-Undang


Pokok Agraria, Widya Yuridika Jurnal Hukum, Vol. 1, No. 1, 2018, hal. 14.

Dian Indrawati (et.al), Analisis Penyelesaian Sengketa Kepemilikan Lahan


Antara Masyarakat Lokal Pekon Sukapura dengan Kementerian Lingkungan
Hidup & Kehutanan (Studi Kasus: Kelurahan Sukapura, Kecamatan
Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat), Administrativa: Jurnal Birokrat,
Kebijakan, dan Pelayanan Publik, Vol. 4, No. 1, 2022, hal. 84.

Anda mungkin juga menyukai