LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEBIDANAN KESEHATAN
PEREMPUAN PADA REMAJA
DI PKM GEMAWANG
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Semester I
DISUSUN OLEH :
NUR KHOFIFAH TAUFIK
P1337424520019
PRODI PROFESI BIDAN JURUSAN KEBIDANAN
MAGELANG
POLITEKNIK KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
TAHUN AJARAN 2024/2025
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan pendahuluan berjudul “Asuhan Kebidanan Kesehatan Perempuan Pada
Remaja” dalam rangka praktek Kesehatan Perempuan telah diperiksa dan
disetujui oleh pembimbing klinik dan pembimbing akademik Prodi Profesi Bidan
Jurusan Kebidanan Magelang Politeknik Kementrian Kesehatan Semarang.
Magelang, Agustus 2024
Pembimbing Klinik Praktikan
Hariyanti, S.Tr.Keb Nur Khofifah Taufik
NIP. NIM
Mengetahui
Pembimbing Institusi
Arum Lusiana, M.Keb
NIP
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada ALLAH SWT karena atas rahmat dan
hidayahNya, kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Pendahuluan
Kesehatan Perempuan Pada Remaja. Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk
memenuhi salah satu tugas Praktik Kebidanan Semester I.
Kami menyadari bahwa penyusunan laporan pendahuluan ini ,masih jauh dari kata
sempurna, oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran demi
kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Semoga laporan ini dapat
bermanfaaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi kita semua.
Magelang, Agustus 2024
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan perempuan adalah isu yang kompleks dan beragam dari
berbagai faktor yang mempengaruhi kehidupan mereka. Mulai dari faktor
usia, reproduksi, penyebab sakit, kesembuhan, interaksi dengan
masyarakat luas dan cara perempuan menerima layanan kesehatan
(Indrayani, 2024).
Kesehatan seseorang dilihat dari keutuhan kondisi sejahtera fisik, mental,
spiritual dan sosial serta tidak hanya ditandai dengan absennya suatu
penyakit dalam tubuh. Kesehatan lebih mengarah pada keseimbangan
antara kesehatan fisik/badan dan mental/jiwa. Akan tetapi, analisa
keseimbangan kesehatan perempuan merujuk pada analisa kesehatan yang
berbeda dengan laki-laki dalam beberapa cara yang unik (Indrayani, 2024).
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Remaja
2. Ciri-ciri Remaja
3. Fase Remaja
4. Kebutuhan Remaja
5. Asuhan Pada Remaja
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Tinjauan Teori Kesehatan Perempuan Pada Remaja Anemia
1.1 Konsep Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi adalah merupakan suatu keadaan sehat secara
menyeluruh mulai dari mental, kehidupan sosial, fisik yang berkaitan
dengan alt, fungsi serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan
reproduksi bukannya kondisi yang bebas dari penyakit tapi seseorang
dapat memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan
sebelum ataupun sesudah menikah (Nova, 2023).
2.1 Kesehatan Reproduksi dalam Perspektif Gender
Konsep gender berdasarkan buku ajar dasar kesehatan reproduksi dan
KIA (Ayu, 2019).Ruang lingkup kesehatan reproduksi dalam lingkup
kehidupan adalah sebagai berikut (Harahap, 2003):
a. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
b. Pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi
termasuk PMS-HIV/AIDS
c. Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi
d. Kesehatan reproduksi remaja
e. Pencegahan dan penanganan infertile
f. Kanker pada usia lanjut, g. Berbagai aspek kesehatan reproduksi
lain, misalnya kanker servik, mutilasi genital, fistula, dan lain-lain.
a.a. Konsep Gender
1) Gender adalah Konstruksi sosial yang membagi atau
membedakan fungsi, peran dan tanggungjawab antara laki-
laki dan perempuan dalam kehidupan berkeluarga dan
Masyarakat
2) Jenis kelamin (seks) merujuk pada perbedaan biologis
antara perempuan dan laki-laki.
a) Karena perbedaan itu, peran biologis perempuan dan
laki-laki, juga berbeda: perempuan melahirkan dan
menyusui; laki-laki membuahi.
b) Peran biologis ini tidak dapat berubah
a.b. Perbedaan Seks dan Gender
1) Seks : Perbedaan organ biologis laki-laki dan perempuan
khususnya pada bagian reproduksi, ciptaan Tuhan, bersifat
Kodrat, tidak dapat berubah, tidak dapat ditukar, berlaku
kapan dan di mana saja
2) Gender :Perbedaan peran, fungsi dan tanggung jawab antara
laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial,
buatan manusia, tidak bersifat Kodrat, dapat berubah, dapat
ditukar, tergantung waktu dan budaya setempat
a.c. Jenis Peran Gender
1) Peran produktif adalah peran seseorang menyangkut
pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk
dikonsumsi maupun untuk diperdagangkan. (sector publik).
2) Peran reproduktif adalah peran seseorang dlm pemeliharaan
dalam urusan rumahtangga, seperti mengasuh anak,
memasak, mencuci pakaian, menyetrika, membersihkan
rumah . (sector domestik)
3) Peran sosial adalah peran seseorang untuk berpartisipasi
dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti gotong-
royong menyangkut kepentingan bersama.
a.d.Budaya yang mempengaruhi gender
1) masyarakat dianut oleh kepercayaan yang salah tentang apa
arti menjadi seorang wanita
2) wanita dan pria untuk berpikir, berperasaan dan bertindak
dengan pola-pola tertentu Contohnya : wanita diharapkan,
menyiapkan masakan, membawa air dan kayu bakar,
merawat anak-anak dan suami., rpia bertugas memberikan
kesejahteraan bagi keluarga di masa tua serta melindungi
keluarga dari ancaman.
3) Gender dan dihubungkan dengan jenis kelamin hasil
rekayasa masyarakat. Contoh: memasak dan merawat anak
adalah tugas Perempuan
4) Peran gender diajarkan secara turun temurun dari orang tua
ke anaknya. Tanpa disadari telah diajarkan dari anak-anak
sampai dewasa
a.e. Isu Gender
1) Kesehatan ibu dan bayi baru lahir (safe Motherhood)
2) Keluarga Berencana
3) Kesehatan reproduksi remaja
4) Infeksi Saluran Reproduksi.
3.1 Kesehatan Reproduksi Remaja
Masa remaja merupakan salah satu dari periode perkembangan
manusia, Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologis,
psikologis, dan social. Usia remaja biasanya dimulai pada usia 10 -13
tahun dan berakhir pada usia 18 - 22 tahun (Nova, 2023).
4.1 Permasalahan prioritas Kesehatan reproduksi pada remaja
Permasalahan prioritas kesehatan reproduksi pada remaja (Rahayu,
2017) dapat dikelompokkan sebagai menjadi :
a. kehamilan tak dikehendaki, yang seringkali menjurus kepada
aborsi yang tidak aman dan komplikasinya;
b. kehamilan dan persalinan usia muda yang menambah risiko
kesakitan dan kematian ibu;
c. Masalah PMS, termasuk infeksi HIV/AIDS
d. Masalah kesehatan reproduksi remaja selain berdampak secara
fisik, juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan
emosi, keadaan ekonomi serta kesejahteraan sosial dalam jangka
panjang. Dampak jangka panjang tersebut tidak hanya
berpengaruh terhadap remaja itu sendiri, tetapi juga terhadap
keluarga, masyarakat dan bangsa pada akhirnya.
5.1 Masa Remaja
a. Masa remaja awal/dini (early adolescence): umur 10–13 tahun
1) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya
2) Tampak dan merasa ingin bebas
3) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan
tubuhnya dan mulai berfikir khayal (abstrak)
b. Masa remaja pertengahan (middle adolescence): umur 14–16
tahun
1) Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri,
2) Ada keinginan untuk berkencan atau tertarik pada lawan jenis,
3) Timbul perasaan cinta yang mendalam,
4) Kemampuan berfikir abstrak (berkhayal) makin berkembang,
5) Berkhayal mengenai hal-hal yang bekaitan dengan seksual
c. Masa remaja lanjut (late adolescence): umur 17–19 tahun
1) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri
2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif
3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya,
4) Dapat mewujudkan perasaan cinta
5) Memiliki kemampuan berfikir khayal atau abstrak.
6.1 Masalah Gizi Pada Usia Sekolah Dan Remaja
Masalah gizi pada usia sekolah dan remaja menurut buku kemenkes
(Rohaeti, 2018) :
a. Kurus
Keadaan dimana anak usia sekolah/remaja mengalami kekurangan
gizi (kalori dan protein) atau disebut juga, masalah gizi akut.
b. Gizi lebih atau obesitas
Kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak
berlebihan. Kegemukan dan obesitas dapat disebabkan oleh factor
genetic dan lingkungan yaitu pola makan yang tidak memenuhi
prinsip gizi seimbang dan kurangnya aktivitas fisisk.
c. Anemia
Anemia suatu keadaan Dimana kadar Hemoglobin dalam darah
kurang dari 12 g/dL untuk anak usia sekolah dan Wanita dewasa.
7.1 Anemia Pada Remaja
Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah
(eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak
mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh
jaringan. Hemoglobin adalah salah satu komponen dalam sel darah
merah/eritrosit yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan
menghantarkannya ke seluruh sel jaringan tubuh. Oksigen diperlukan
oleh jaringan tubuh untuk melakukan fungsinya. Kekurangan oksigen
dalam jaringan otak dan otot akan menyebabkan gejala antara lain
kurangnya konsentrasi dan kurang bugar dalam melakukan aktivitas
(Indrayani, 2024)
Kriteria Anemia
Populasi Non Anemia (g/dL)
Anemia Ringan Sedang Berat
(g/dL)
Anak 6 – 59 11 10,0 – 10,9 7,0 – 9,9 < 7,0
bulan
Anak 5 – 11 11,5 11,0 – 11,4 8,0 – 10,9 < 8,0
tahun
Anak 12 – 12 11,0 – 11,9 8,0 – 10,9 < 8,0
14 tahun
Perempuan 12 11,0 – 11,9 8,0 – 10,9 < 8,0
tidak hamil
(≥ 15 tahun)
Ibu hamil 11 10,0 – 10,9 7,0 – 9,9 < 7,0
Laki-laki ≥ 13 11,0 – 12,9 8,0 – 10,9 < 8,0
15 tahun
8.1 Cara penggunaan tablet tambah darah
Untuk meningkatkan penyerapan zat besi sebaiknya TTD dikonsumsi
bersama dengan :
a. Buah-buahan sumber vitamin C (jeruk, pepaya, mangga, jambu
biji dan lain-lain).
b. Sumber protein hewani, seperti hati, ikan, unggas dan daging
Hindari mengonsumsi TTD bersamaan dengan :
a. Teh dan kopi karena mengandung senyawa fitat dan tanin yang
dapat mengikat zat besi menjadi senyawa yang kompleks
sehingga tidak dapat diserap.
b. Tablet Kalsium (kalk) dosis yang tinggi, dapat menghambat
penyerapan zat besi. Susu hewani umumnya mengandung kalsium
dalam jumlah yang tinggi sehingga dapat menurunkan
penyerapan zat besi di mukosa usus
c. Obat sakit maag yang berfungsi melapisi permukaan lambung
sehingga penyerapan zat besi terhambat. Penyerapan zat besi akan
semakin terhambat jika menggunakan obat maag yang
mengandung kalsium.
Rekomendasi global menganjurkan untuk daerah dengan
prevalensi anemia ≥ 40%, pemberian TTD pada rematri dan WUS
terdiri dari 30-60 mg elemental iron dan diberikan setiap hari
selama 3 bulan berturut-turut dalam 1 tahun (WHO, 2016).
Sedangkan untuk daerah yang prevalensi anemianya ≥ 20%,
suplementasi terdiri dari 60 mg elemental iron dan 2800 mcg asam
folat dan diberikan 1 kali seminggu selama 3 bulan on (diberikan)
dan 3 bulan off (tidak diberikan) (WHO, 2011).
ProgramPencegahan &Penanggulangan Anemia pada Rematridan
WUS 20 Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) pada rematri
dan WUS merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk
memenuhi asupan zat besi. Pemberian TTD dengan dosis yang
tepat dapat mencegah anemia dan meningkatkan cadangan zat besi
di dalam tubuh. Penelitian di Kupang (NTT) pada rematri tahun
2002, menunjukkan bahwa suplementasi TTD secara mingguan
selama 16 minggu mampu meningkatkan kadar hemoglobin dan
serum feritin lebih besar dibandingkan suplementasi TTD 4 hari
berturut-turut saat menstruasi selama 4 siklus menstruasi.
Penelitian yang dilakukan pada siswi SMA di Tasikmalaya
menunjukkan bahwa pemberian TTD 1x seminggu dibandingkan
dengan pemberian TTD 1x seminggu ditambah setiap hari selama
10 hari saat menstruasi, dapat meningkatkan kadar Hb tetapi tidak
terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok tersebut. Di
beberapa negara lain seperti: India, Bangladesh, dan Vietnam,
pemberian TTD dilakukan 1 kali seminggu dan hal ini berhasil
menurunkan prevalensi anemia di negara tersebut. Berdasarkan
penelitian di Indonesia dan di beberapa negara lain tersebut, maka
pemerintah menetapkan kebijakan program pemberian TTD pada
rematri dan WUS dilakukan setiap 1 kali seminggu dan sesuai
dengan Permenkes yang berlaku. Pemberian TTD untuk rematri
dan WUS diberikan secara blanket approach. Bagian 1 Untuk
meningkatkan penyerapan zat besi sebaiknya TTD dikonsumsi
bersama dengan: 1. Buah-buahan sumber vitamin C (jeruk,
pepaya, mangga, jambu biji dan lain-lain). 2. Sumber protein
hewani, seperti hati, ikan, unggas dan daging. Hindari
mengonsumsi TTD bersamaan dengan : 1. Teh dan kopi karena
mengandung senyawa fitat dan tanin yang dapat mengikat zat besi
menjadi senyawa yang kompleks sehingga tidak dapat diserap. 2.
Tablet Kalsium (kalk) dosis yang tinggi, dapat menghambat
penyerapan zat besi. Susu hewani umumnya mengandung kalsium
dalam jumlah yang tinggi sehingga dapat menurunkan penyerapan
zat besi di mukosa usus. 3. Obat sakit maag yang berfungsi
melapisi permukaan lambung sehingga penyerapan zat besi
terhambat. Penyerapan zat besi akan semakin terhambat jika
menggunakan obat maag yang mengandung kalsium.
Rekomendasi global menganjurkan untuk daerah dengan
prevalensi anemia ≥ 40%, pemberian TTD pada rematri dan WUS
terdiri dari 30-60 mg elemental iron dan diberikan setiap hari
selama 3 bulan berturut-turut dalam 1 tahun (WHO, 2016).
Sedangkan untuk daerah yang prevalensi anemianya ≥ 20%,
suplementasi terdiri dari 60 mg elemental iron dan 2800 mcg asam
folat dan diberikan 1 kali seminggu selama 3 bulan on (diberikan)
dan 3 bulan off (tidak diberikan) (WHO, 2011). Program
Pencegahan & Penanggulangan Anemia pada Rematri dan WUS
Program Pencegahan & Penaggulangan Anemia pada Rematri dan
WUS 21 Jika ditemukan rematri dan WUS yang anemia maka
tentukan penyebabnya dan ditatalaksana sesuai dengan penyebab
anemia tersebut. I. Dasar Pendekatan Blanket Approach Blanket
Approach atau dalam bahasa Indonesia berarti “pendekatan
selimut”, berusaha mencakup seluruh sasaran program. Dalam hal
ini, seluruh rematri dan WUS diharuskan minum TTD untuk
mencegah anemia dan meningkatkan cadangan zat besi dalam
tubuh tanpa dilakukan skrining awal pada kelompok sasaran.
Konsumsi zat besi secara terus menerus tidak akan menyebabkan
keracunan karena tubuh mempunyai sifat autoregulasi zat besi.
Bila tubuh kekurangan zat besi, maka absorpsi zat besi yang
dikonsumsi akan banyak, sebaliknya bila tubuh tidak mengalami
kekurangan zat besi maka absorpsi besi hanya sedikit, oleh karena
itu TTD aman untuk dikonsumsi. Namun, konsumsi TTD secara
terus menerus perlu mendapat perhatian pada sekelompok
populasi yang mempunyai penyakit darah seperti thalassemia,
hemosiderosis. Pada daerah endemis malaria, pemberian TTD
mengacu pada Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di
Indonesia. Monitoring berkala dilakukan dengan pemeriksaan
kadar Hb. Bila ada kecurigaan adanya thalassemia dan atau
malaria, harus dirujuk ke dokter. Apabila ingin mengonsumsi
makanan dan minuman yang dapat menghambat penyerapan zat
besi, sebaiknya dilakukan dua jam sebelum atau sesudah
mengonsumsi TTD Bagian 1 23 Konsumsi TTD kadang
menimbulkan efek samping seperti: - Nyeri/perih di ulu hati -
Mual dan muntah - Tinja berwarna hitam Gejala di atas
(nyeri/perih di ulu hati, mual, muntah, dan tinja berwarna hitam)
tidak berbahaya. Untuk mengurangi gejala di atas sangat
dianjurkan minum TTD setelah makan (perut tidak kosong) atau
malam sebelum tidur. Bagi rematri dan WUS yang mempunyai
gangguan lambung dianjurkan konsultasi kepada dokter. J.
Kerangka Pikir Penanggulangan Anemia pada Rematri dan WUS
Gambar 6. Kerangka Pikir Program Pencegahan dan
Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri dan WUS Sumber :
Modifikasi Kemkes, 2016 ProgramPencegahan &Penanggulangan
Anemia pada RematridanWUS 22 Jika ditemukan rematri dan
WUS yang anemia maka tentukan penyebabnya dan ditatalaksana
sesuai dengan penyebab anemia tersebut. I. Dasar Pendekatan
Blanket Approach Blanket Approach atau dalam bahasa Indonesia
berarti “pendekatan selimut”, berusaha mencakup seluruh sasaran
program. Dalam hal ini, seluruh rematri dan WUS diharuskan
minum TTD untuk mencegah anemia dan meningkatkan cadangan
zat besi dalam tubuh tanpa dilakukan skrining awal pada
kelompok sasaran. Konsumsi zat besi secara terus menerus tidak
akan menyebabkan keracunan karena tubuh mempunyai sifat
autoregulasi zat besi. Bila tubuh kekurangan zat besi, maka
absorpsi zat besi yang dikonsumsi akan banyak, sebaliknya bila
tubuh tidak mengalami kekurangan zat besi maka absorpsi besi
hanya sedikit, oleh karena itu TTD aman untuk dikonsumsi.
Namun, konsumsi TTD secara terus menerus perlu mendapat
perhatian pada sekelompok populasi yang mempunyai penyakit
darah seperti thalassemia, hemosiderosis. Pada daerah endemis
malaria, pemberian TTD mengacu pada Pedoman Penatalaksanaan
Kasus Malaria di Indonesia. Monitoring berkala dilakukan dengan
pemeriksaan kadar Hb. Bila ada kecurigaan adanya thalassemia
dan atau malaria, harus dirujuk ke dokter. Apabila ingin
mengonsumsi makanan dan minuman yang dapat menghambat
penyerapan zat besi, sebaiknya dilakukan dua jam sebelum atau
sesudah mengonsumsi TTD Bagian 1 Konsumsi TTD kadang
menimbulkan efek samping seperti: - Nyeri/perih di ulu hati -
Mual dan muntah - Tinja berwarna hitam Gejala di atas
(nyeri/perih di ulu hati, mual, muntah, dan tinja berwarna hitam)
tidak berbahaya. Untuk mengurangi gejala di atas sangat
dianjurkan minum TTD setelah makan (perut tidak kosong) atau
malam sebelum tidur. Bagi rematri dan WUS yang mempunyai
gangguan lambung dianjurkan konsultasi kepada dokter. J.
Kerangka Pikir Penanggulangan Anemia pada Rematri dan WUS
Gambar 6. Kerangka Pikir Program Pencegahan dan
Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri dan WUS Sumber :
Modifikasi Kemkes, 2016 Program Pencegahan &
Penanggulangan Anemia pada Rematri dan WUS Program
Pencegahan & Penaggulangan Anemia pada Rematri dan WUS 22
Jika ditemukan rematri dan WUS yang anemia maka tentukan
penyebabnya dan ditatalaksana sesuai dengan penyebab anemia
tersebut. I. Dasar Pendekatan Blanket Approach Blanket Approach
atau dalam bahasa Indonesia berarti “pendekatan selimut”,
berusaha mencakup seluruh sasaran program. Dalam hal ini,
seluruh rematri dan WUS diharuskan minum TTD untuk
mencegah anemia dan meningkatkan cadangan zat besi dalam
tubuh tanpa dilakukan skrining awal pada kelompok sasaran.
Konsumsi zat besi secara terus menerus tidak akan menyebabkan
keracunan karena tubuh mempunyai sifat autoregulasi zat besi.
Bila tubuh kekurangan zat besi, maka absorpsi zat besi yang
dikonsumsi akan banyak, sebaliknya bila tubuh tidak mengalami
kekurangan zat besi maka absorpsi besi hanya sedikit, oleh karena
itu TTD aman untuk dikonsumsi. Namun, konsumsi TTD secara
terus menerus perlu mendapat perhatian pada sekelompok
populasi yang mempunyai penyakit darah seperti thalassemia,
hemosiderosis. Pada daerah endemis malaria, pemberian TTD
mengacu pada Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di
Indonesia. Monitoring berkala dilakukan dengan pemeriksaan
kadar Hb. Bila ada kecurigaan adanya thalassemia dan atau
malaria, harus dirujuk ke dokter. Apabila ingin mengonsumsi
makanan dan minuman yang dapat menghambat penyerapan zat
besi, sebaiknya dilakukan dua jam sebelum atau sesudah
mengonsumsi TTD Bagian 1 23 Konsumsi TTD kadang
menimbulkan efek samping seperti: - Nyeri/perih di ulu hati -
Mual dan muntah - Tinja berwarna hitam Gejala di atas
(nyeri/perih di ulu hati, mual, muntah, dan tinja berwarna hitam)
tidak berbahaya. Untuk mengurangi gejala di atas sangat
dianjurkan minum TTD setelah makan (perut tidak kosong) atau
malam sebelum tidur.
B. Tinjauan Teori Kebidanan
1. Definisi Manajemen Kebidanan
Manajemen adalah membuat pekerjaan selesai (getting things done).
Manajemen adalah mengungkapkan apa yang hendak dikerjakan,
kemudian menyelesaikannya. Manajemen adalah menentukan tujuan
dahulu secara pasti (yakni menyatakan dengan rinci apa yang hendak
dituju) dan mencapainya (Arlenty, 2021)
manajemen kebidanan merupakan alur fikir bagi seorang bidan dalam
memberikan arah/kerangka dalam menangani kasus yang menjadi
tanggung jawabnya.Manajemen kebidanan merupakan proses
pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk
mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah,
temuan-temuan, keterampilan suatu keputusan yang berfokus pada klien
(Natalina, 2019).
Penerapan manajemen kebidanan dalam bentuk kegiatan praktik
kebidanan dilakukan melalui suatu proses yang disebut langkah-
langkah atau proses manajemen kebidanan.
a. Identifikasi dan analisis masalah Proses manajemen kebidanan
dimulai dengan langkah identifikasi dan analisis masalah. Di dalam
langkah ini bidan tidak dibenarkan mendugaduga masalah yang
terdapat pada klien. Bidan harus menggali dan mencari data atau
fakta baik dari klien, keluarga maupun anggota tim kesehatan
lainnya dan juga dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan
sendiri. Langkah pertama ini mencakup kegiatan pengumpulan,
pengelolaan, analisa data atau fakta untuk perumusan masalah.
Langkah ini merupakan proses berfikir yang ditampilkan bidan
dalam tindakan yang akan menghasilkan rumusan masalah yang
dialami/diderita pasien/klien.
b. Diagnose kebidanan Setelah ditentukan masalah dan masalah
utamanya, maka bidan merumuskannya dalam suatu pernyataan
yang mencakup kondisi, masalah, penyebab dan prediksi terhadap
kondisi tersebut. Prediksi yang dimaksud mencakup masalah
potensial dan prognosa. Hasil dari perumusan masalah merupakan
keputusan yang ditegakkan oleh biodan yang disebut diagnose
kebidanan. Dalam menentukan diagnose kebidanan diperlukan
pengetahuan keprofesionalan bidan. Penegakan diagnose kebidanan
dijadikan dasar tindakan dalam upaya menanggulangi ancaman
keselamatan hidup pasien atau klien. Masalah potensial dalam
kaitannya dengan diagnose kebidanan adalah masalah yang mungkin
timbul dan bila tidak segera diatasi akan mengganggu keselamatan
hidup klien. Oleh karena itu masalah potensial harus segera
diantisipasi, dicegah dan diawasi serta segera dipersiapkan tindakan
untuk mengatasinya. Diagnose kebidanan adalah diagnose yang
ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi
standar nomenklatur diagnose kebidanan. Standar Nomenklatur
Diagnosa Kebidanan:
1) Diakui dan telah disahkan oleh profesi
2) Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan
3) Memiliki ciri khas kebidanan
4) Didukung oleh penilaian klinik (clinical judgment) dalam
praktik kebidanan
5) Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan.
c. Perencanaan Berdasarkan diagnose yang ditegakkan, bidan
menyusun rencana kegiatannya. Rencana kegiatan mencakup tujuan
dan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan dalam
melakukan intervensi untuk mencegah masalah pada klien serta
rencana evaluasi. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka langkah-
langkah penyusunan rencana kegiatan adalah sebagai berikut:
1) Menentukan tujuan yang akan dilakukan termasuk sasaran dan
hasil yang akan dicapai
2) Menentukan tindakan sesuai dengan masalah dan tujuan yang
akan dicapai. Langkah-langkah tindakan mencakup kegiatan
yang dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan
3) Menentukan kriteria evaluasi dan keberhasilan.
d. Pelaksanaan Langkah pelaksanaan dilakukan bidan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan. Pada langkah ini, bidan melakukan
secara mandiri, pada penanganankasus yang didalamnya
memerlukan tindakan di luar kewenangan bidan, perlu dilakukan
kegiatan kolaborasi atau rujukan. Pelaksanaan tindakan selalu
diupayakan dalam waktu yang singkat, efektif, hemat dan
berkualitas. Selama pelaksanaan, bidan mengawasi dan memonitor
kemajuan pasien atau klien.
e. Evaluasi Adalah tindakan pengukuran antara keberhasilan dan
rencana. Jadi, tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan tindakan kebidanan yang dilakukan.
Langkah-langkah manajemen kebidanan
a. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai
keadaan klien secara keseluruhan
b. Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnose atau
masalah
c. Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial dan
mengantisipasi penanganannya
d. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi,
kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan
kondisi klien
e. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan
rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah
sebelumnya
f. Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman 102
g. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan
mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan
yang tidak efektif
C. PENGKAJIAN
Pernyataan standar Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat,
relevan dan lengkap dan semua sumber yang berkaitan dengan kondisi
klien. Kriteria Pengkajian :
a. Data tepat, akurat dan lengkap
b. Terdiri dari data subyektif (hasil anamnesa, biodata
Identitas ibu dan suami (nama, umur, pekerjaan, agama, suku, alamat)
(Yanti, 2021), keluhan utama, riwayat obstetri, riwayat kesehatan dan
latar belakang sosial budaya)
c. Data obyektif (hasil pemeriksaan fisik, fisiologi dan pemeriksaan
penunjang)
Definisi Operasional
a. Ada format pengumpulan data
b. Pengumpulan data dilakukan secara sistematis, terfokus yang meliputi
data-data
c. Demografi, identitas klien
d. Riwayat penyakit terdahulu
e. Riwayat kesehatan reproduksi
f. Keadaan kesehatan saat ini termasuk kesehatan reproduksi
g. Analisa data
Anamnesis ialah pengkajian data subjektif yang dilakukan oleh bidan
dengan pasien, untuk menggali data Subjektif yang berkaitan dengan
keadaan Kesehatan. Pada kunjungan awal, anamnesis dilakukan untuk
menggali data secara lengkap, yang meliputi:
1. Data subyektif (Data umum)
a. Identitas Pasien
1) Nama pasien untuk mempermudah bidan dalam mengetahui
pasien, sehinga dapat diberikan asuhan yang sesuai dengan
kondisi pasien, selain itu juga dapat mempererat hubungan antara
bidan dan pasien sehingga dapat meningkatkan rasa percaya
pasien terhadap bidan.
2) Umur, untuk mengetahui usia pasien, umur ditulis dalam tahun.
3) Suku dan Bangsa, untuk mengetahui kebudayaan dan
perilaku/kebiasaan pasien, apakah sesuai atau tidak dengan pola
hidup sehat.
4) Agama, untuk memotivasi pasien dengan kata-kata yang bersifat
religius, terutama pada pasien dengan gangguan pskologis.
5) Pendidikan, untuk mengetahui jenjang pendidikan pasien
sehingga bidan dapat menggunakan katakata yang sesuai dengan
jenjang pendidikan pasien. Misalnya, penggunaan bahasa pada
pasien yang pendidikan terakhirnya hanya Sekolah Dasar tentu
saja berbeda dengan pasien yang pendidikan terakhirnya S1.
6) Pekerjaan, untuk mengetahui keadaan ekonomi pasien, sehingga
saat diberikan asuhan dapat disesuaikan dengan kondisi
ekonominya. - Alamat, untuk mempermudah bidan dalam
memberikan asuhan dan menghubungi pasien.
b. Keluhan utama Pengkajian Keluhan utama untuk mempermudah
bidan dalam memberikan asuhan dan menegakkan diagnosa pada
tahap selanjutnya, apakah keluhan pasien merupakan hal yang
fisiologis atau patologis.
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Ibu Untuk mengetahui karakteristik personal,
riwayat penyakit menular/keturunan dan riwayat pengobatan.
2) Riwayat kesehatan keluarga Untuk mengetahui adaya resiko
penyakit menular/keturunan dan kelainan-kelainan genetik.
d. Data psikososial Riwayat perkawinan 2) Respon suami dan keluarga
terhadap kehamilan ini 3) Respons ibu terhadap kehamilan 4)
Hubungan ibu dengan anggota keluarga suami dan anggota keluarga
yang lain 5) Adat setempat yang dianut dan berhubungan dengan
kehamilan
e. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari 1) Nutrisi 2) Eliminasi 3)
Pola Istirahat 4) Personal hygiene 5) Aktivitas 6) Hubungan seksual
2. Pengkajian data objektif dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan
langsung pada pasien.
a. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan Umum
a) Pengukuran tinggi badan dilakukan untuk mendeteksi faktor
resiko terhadap kehamilan yang sering berhubungan dengan
keadaan kelainan rongga panggul padatinggi badan kurang dari
145 cm
b) Berat Badan di kaji saat sebelum hamil dan selama hamil
untuk mengetahui adanya peningkatan berat badan selama
kehamilan.Kenaikan berat badan normal ibu selama hamil
dihitung dari Trimester I sampai Trimester III yang berkisar
antara 9- 13,5 kg dan kenaikan berat badan setiap minggu yang
tergolong normal adalah 0,4 - 0,5 kg dimulai dari Trimester III.
c) Bahaya dari kenaikan berat badan yang berlebih pada ibu
hamil, meliputi: 1) Resiko melahirkan bayi besar yang akan
mempersulit proses persalinan 2) Merupakan tanda bahaya
kemungkinan terjadinya preeklamsi 3) Merupakan gejala
penyakit diabetes mellitus pada ibu hamil - LILA, (Lingkar
Lengan Atas), pengukuran LILA untuk mengetahui adanya
resiko kekurangan energi untuk kronik (KEK) pada Wanita
usia subur/Ibu Hamil dan menampis ibu hamil yang
mempunyai resiko melahirkan BBLR apabila batas ambang
LILA < 23,5
d) Tanda-tanda vital. Tekanan Darah Tekanan darah diukur setiap
kali pemeriksaan kehamilan. Tekanan darah ibu dikatakan
meningkat apabila tekanan sistol meningkat >30 mmHg dan
diastol >15 mmHg dari tekanan darah sebelumnya.Menurut
WHO batas normal tekanan darah sistolik berkisar 110-
120mmHg dandiastolik 70-90 mmHg. Frekuensi nadi normal
antara 60-90x/menit. Nilai normal suhu tubuh berkisar antara
36oC-37,5oC. Umumnya frekuaensi nafas yang normal yaitu
20-24x/menit.
e) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pada ibu hamil dilakukan
untuk mengetahui ada/tidaknya keabnormalan secara fisik/
Pemeriksaan fisik ini dilakukan secara sistematis dari kepala
hingga ujung kaki (head to toe). Pemeriksaan fisik, meliputi
IPPA (Inspeksi, Palpasi, Perkusi dan Auskultasi)
Kepala Amati bentuk kepala mesosephal atau terdapat benjolan
abnormal
wajah Perhatikan adanya pembengkakan pada wajah, Apabila
terdapat pembengkakan atau edema di wajah, perhatikan juga
adanya pembengkakan pada tangan dan kaki,apabila di tekan
menggunakan jari akan berbekas cekungan yang lambat
kembali seperti semula.Apabila bengkak terjadi pada wajah,
tangan dan kaki merupakan pertanda terjadinya pre eklampsia.
Mata. Periksa perubahan warna konjungtiva mata.Konjungtiva
yang pucat menandakan ibu menderita anemia sehingga harus
dilakukan penanganan lebih lanjut.Pada pemeriksaan mata
juga lihat warna sklera, apabila sklera berwarna kekuningan
curigai bahwa ibu memiliki riwayat penyakit hepatitis.
Mulut dan gigi Ibu hamil mengalami perubahan hormon baik
itu progesterone maupun estrogen. Dampak dari perubahan
hormon kehamilan itu dapat mempengaruhi kesehatan mulut
dan gigi. Peningkatan resiko terjadinya pembengkakan gusi
maupun pendarahan padagusi. Hal ini terjadi karena pelunakan
dari jaringan daerah gusi akibat peningkatan hormone, kadang
timbul benjolan – benjolan bengkak kemerahan pada gusi dan
menybabkan gusi mudah berdarah - Leher Periksa adanya
pembengkan pada leheryang biasanya disebabkan oleh
pembengkakan kelenjar thyroid dan apabila ada
pembesaranpada vena jugularis curigai bahwa ibu memiliki
penyakit jantung Ekstremitas Pemeriksaan Ekstremitas
meliputi pemeriksaan tangan. dan kaki untuk mengetahui
adanya pembengkakan/edema sebagai indikasi preeklamsia.
Pada dilakukan pemeriksaan dari kaki varices dan edema.
Pemeriksaan edema dilakukan dengan cara menekan pada
bagian
Data Subyektif 1) Identitas a) Nama: Untuk mengenal ibu dan suami.
b) Umur: Semakin tua usia seseorang berpengaruh terhadap semua fase
penyembuhan luka sehubungan dengan adanya gangguan sirkulasi dan
koagulasi, respon inflamasi yang lebih lambat dan penurunan aktivitas
fibroblast (Johnson dan Taylor, 2005). c) Suku/Bangsa: Asal daerah
atau bangsa seorang wanita berpengaruh terhadap pola pikir mengenai
tenaga kesehatan, pola kebiasaan sehari-hari (Pola nutrisi, pola
eliminasi, personal hygiene, pola istirahat dan aktivitas) dan adat
istiadat yang dianut. d) Agama: Untuk mengetahui keyakinan ibu
sehingga dapat membimbing dan mengarahkan ibu untuk berdoa sesuai
dengan keyakinannya. e) Pendidikan: Untuk mengetahui tingkat
intelektual ibu sehingga tenaga kesehatan dapat melalukan komunikasi
dengan istilah bahasa yang sesuai dengan pendidikan terakhirnya,
termasuk dalam hal pemberian konseling. f) Pekerjaan: Status ekonomi
seseorang dapat mempengaruhi pencapaian status gizinya (Hidayat dan
Uliyah, 2008). Hal ini dapat dikaitkan antara status gizi dengan proses
penyembuhan luka ibu. Jika tingkat sosial ekonominya rendah,
kemungkinan penyembuhan luka pada jalan lahir berlangsung lama.
Ditambah dengan rasa malas untuk merawat dirinya. g) Alamat:
Bertujuan untuk mempermudah tenaga kesehatan dalam melakukan
follow up terhadap perkembangan ibu. 2) Keluhan Utama: Persoalan
yang dirasakan pada ibu nifas adalah rasa nyeri pada jalan lahir, nyeri
ulu hati, konstipasi, kaki bengkak, nyeri perut setelah lahir, payudara
membesar, nyeri tekan pada payudara dan puting susu, puting susu
pecah-pecah, keringat berlebih serta rasa nyeri selama 121 beberapa
hari jika ibu mengalami hemoroid (Varney, dkk, 2007). 3) Pemenuhan
Kebutuhan Sehari-hari a) Pola Nutrisi: Ibu nifas harus mengkonsumsi
makanan yang bermutu tinggi, bergizi dan cukup kalori untuk
mendapat protein, mineral, vitamin yang cukup dan minum sedikitnya
2-3 liter/hari. Selain itu, ibu nifas juga harus minum tablet tambah
darah minimal selama 40 hari dan vitamin A (Varney, dkk, 2007). b)
Pola Eliminasi: Ibu nifas harus berkemih dalam 4-8 jam pertama dan
minimal sebanyak 200 cc (Bahiyatun, 2009). Sedangkan untuk buang
air besar, diharapkan sekitar 3-4 hari setelah melahirkan (Mochtar,
2011). c) Personal Hygiene: Bertujuan untuk mencegah terjadinya
infeksi yang dilakukan dengan menjaga kebersihan tubuh, termasuk
pada daerah kewanitaannya dan payudara, pakaian, tempat tidur dan
lingkungan (Varney, dkk., 2007). d) Istirahat: Ibu nifas harus
memperoleh istirahat yang cukup untuk pemulihan kondisi fisik,
psikologis dan kebutuhan menyusui bayinya dengan cara
menyesuaikan jadwal istirahat bayinya (Varney, dkk., 2007). e)
Aktivitas: Mobilisasi dapat dilakukan sedini mungkin jika tidak ada
kontraindikasi, dimulai dengan latihan tungkai di tempat tidur, miring
di tempat tidur, duduk dan berjalan. Selain itu, ibu nifas juga
dianjurkan untuk senam nifas dengan gerakan sederhana dan bertahap
sesuai dengan kondisi ibu (Varney, dkk, 2007). f) Hubungan Seksual:
Biasanya tenaga kesehatan memberi batasan rutin 6 minggu pasca
persalinan untuk melakukan hubungan seksual (Varney, dkk., 2007). 4)
Data Psikologis a) Respon orangtua terhadap kehadiran bayi dan peran
baru sebagai orangtua: Respon setiap ibu dan ayah terhadap bayinya
dan terhadap pengalaman dalam membesarkan anak berbeda-beda dan
mencakup seluruh 122 spectrum reaksi dan emosi, mulai dari tingginya
kesenangan yang tidak terbatas hingga dalamnya keputusasaan dan
duka (Varney, dkk, 2007). Ini disesuaikan dengan periode psikologis
ibu nifas yaitu taking in, taking hold atau letting go. b) Respon anggota
keluarga terhadap kehadiran bayi: Bertujuan untuk mengkaji muncul
tidaknya sibling rivalry. c) Dukungan Keluarga: Bertujuan untuk
mengkaji kerja sama dalam keluarga sehubungan dengan pengasuhan
dan penyelesaian tugas rumah tangga. b. Data Obyektif 1) Pemeriksaan
Umum a) Keadaan Umum: Baik b) Kesadaran: Bertujuan untuk
menilai status kesadaran ibu. Composmentis adalah status kesadaran
dimana ibu mengalami kesadaran penuh dengan memberikan respons
yang cukup terhadap stimulus yang diberikan (Hidayat dan Uliyah,
2008). c) Keadaan Emosional: Stabil. d) Tanda-tanda Vital: Segera
setelah melahirkan, banyak wanita mengalami peningkatan sementara
tekanan darah sistolik dan diastolik kemudian kembali secara spontan
setelah beberapa hari. Pada saat bersalin, ibu mengalami kenaikan suhu
tubuh dan akan kembali stabil dalam 24 jam pertama pasca partum.
Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir, kembali normal
setelah beberapa jam pertama pasca partum. Sedangkan fungsi
pernapasan kembali pada keadaan normal selama jam pertama pasca
partum (Varney, dkk, 2007).
Data dikumpulkan dari
a. Klien / pasien, keluarga dan sumber lain
b. Tenaga Kesehatan
c. Individu dalam lingkungan terdekat
Data diperoleh dengan cara
a. Wawancara
b. Observasi
c. Pemeriksaan fisik
d. Pemeriksaan penunjang
D. ANALISA
Pernyataan Standar Bidan menganalisa data yang diperoleh pada
pengkajian, menginterprestasikannya secara akurat dan logis untuk
menegakkan diagnosa dan masalah kebidanan yang tepat.
a. Kriteria Perumusan Diagnosa dan atau Masalah
b. Diagnosa sesuai dengan nomenklaktur kebidanan
c. Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien
d. Dapat diselesaikan dengan asuhan kebidanan secara mandiri, kolaborasi
dan rujukan
Definisi Operasional
a. Diagnosa kebidanan dibuat sesuai dengan kesenjangan yang dihadapi
oleh klien atau suatu keadaan psikologis yang ada pada tindakan
kebidanan sesuai dengan kewenangan bidan dan kebutuhan klien.
b. Diagnosa kebidanan dirumuskan dengan padat, jelas, sistematis
mengarah pada asuhan kebidanan yang diperlukan oleh bidan
E. PENATALAKSANAAN
DAFTAR PUSTAKA
Arlenty, L. (2021). Manajemen Pelayanan Kebidanan. Bengkulu: Stikes Sapta Bakti.
Ayu, S. M. (2019). Buku Ajar Dasar Kesehatan Reproduksi Dan KIA. Yogyakarta: CV Mine.
Indrayani, S. d. (2024). Perempuan Dan Kesehatan Perempuan. Purbalingga: CV. EUREKA
MEDIA AKSARA.
Natalina, R. (2019). Modul Manajemen Pelayanan Kebidanan. Palangka Raya: Poltekkes
Kemenkes Palangka Raya.
Nova, D. d. (2023). Pengantar Kesehatan Reproduksi Wanita. Purbalingga: Eureka Media
Aksara.
Rahayu, A. d. (2017). Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Lansia. Surabaya:
Airlangga University Press.
Rohaeti, L. S. (2018). Buku KIE Kader Kesehatan Remaja. Jakarta: Kemenkes RI.
Winarni, S. d. (2020). Buku Ajar Dasar Kesehatan Reproduksi. Semarang: FKM UNDIP
Pess.
Yanti, J. S. (2021). Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Untuk Mahasiswa S1 Kebidanan.
Pekanbaru: Stikes Hang Tuah Pekanbaru.