PRRI, Perang Dingin, dan CIA
Coki Lubis • 09 Agustus 2016 11:51 WIB
Patung Soekarno di Tugu Proklamasi, Jakarta (MI/Ramdani)
Metrotvnews.com, Jakarta: Situasi sosial-politik mencekam, konflik antar partai meruncing. Di
tubuh militer, kekecewaan sejumlah perwira di daerah terhadap pusat memuncak, menentang
Sukarno. Situasi ini melahirkan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera
dan Sulawesi yang didukung penuh Amerika Serikat melalui operasi intelijen Central Intelligence
Agency (CIA). Inilah potret Indonesia di tahun 1957.
Usai Perang Dunia II, siapapun tentu sadar bahwa kedua pemenang, yakni, Amerika Serikat dan
Uni Soviet terlibat dalam persaingan memperebutkan pengaruh dalam penataan kembali dunia
internasional. Keduanya saling membangun koalisi militer, ideologi, perang psikologi, propaganda,
tilik sandi, persaingan industri hingga pengembangan teknologi pertahanan. Dunia terbelah dua,
yang satu blok kapitalis, dipimpin Amerika Serikat (AS), atau kerap disebut Blok Barat, dan satu lagi
blok komunis di bawah pengaruh Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina (RRC) atau Blok Timur.
Suasana yang muncul hanyalah kawan atau lawan.
Di Eropa, AS dan sekutunya mengajak negara yang pro terhadapnya untuk mendirikan pakta
pertahanan bersama. Pada 4 April 1949, North Atlantic Treaty Organization (NATO) resmi berdiri.
Sementara di Asia Tenggara, buntut dari Perang Korea yang dibacking RRC, Southeast Asia Treaty
Organization (SEATO) didirikan.
"Kian jelas, NATO dimaksudkan sebagai politik pembendungan terhadap Uni Soviet, sedangkan
SEATO ditujukan sebagai politik pembendungan terhadap RRC," ungkap Soebadio, penulis buku
Hubungan Indonesia Amerika Dasawarsa ke II Tahun 1955-1965.
Sejumlah pangkalan militer dibangun. Mulai Agustus 1951, berturut-turut AS membangun pangkalan
militer di Okinawa-Jepang, Pangkalan Clark & Subic di Philipina, ANZUS (Australia, New Zealand,
and United States), Korea Selatan, dan di Taiwan pada 1954.
Dalam perang dingin ini, CIA memiliki peranan penting bak playmaker dalam sebuah tim sepakbola.
Berbagai operasi rahasia dimainkan untuk menumbangkan rezim di negara yang berafiliasi dengan
blok musuh. Operasi itu dapat berupa propaganda, desain politik, hingga sokongan dana dan
persenjataan kepada para oposisi.
Fakta ini diamini Rizal Darma Putra, pengamat intelijen yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Studi
Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia. Menurutnya, di masa Perang Dingin, tindakan subversi
untuk menumbangkan rezim, khususnya di negara-negara dunia ketiga, saat itu menjadi hal yang
umum.
"Bila ada suatu negara yang condong ke barat, maka Uni Soviet akan mencoba untuk mensubversi,
menyokong gerakan-gerakan kiri yang melakukan pemberontakan. Sebaliknya, suatu negara
berafiliasi dengan blok timur, AS melalui CIA dengan sekutunya akan mensubversi, biasanya
menggunakan militer. Itu terjadi selama perang dingin, tak bisa dihindari. Ini suatu konsekuensi,
terutama di negara-negara dunia ketiga di Asia, Afrika, kawasan Maghribi, Amerika Selatan, itu silih
berganti," ujar Rizal saat berbincang dengan metrotvnews.com, Rabu (3/8/2016).
Sukarno menjadi ancaman
Yang menarik di tengah situasi pelik internasional, pada 1950-an muncul gerakan alternatif dari
negara-negara dunia ketiga di Asia dan Afrika yang baru merdeka, termasuk yang sedang dalam
proses mendapatkan kemerdekaannya secara yuridis. Semangatnya adalah non-blok, tidak mau
terlibat dalam pertikaian Blok Barat dan Blok Timur.
Salah satu tokoh yang mempelopori gerakan ini adalah Presiden RI Sukarno, bahkan ia disebut-
sebut sebagai pemimpin negara-negara dunia ketiga. Konferensi negara-negara non-blok di Asia
dan Afrika ini pun digelar di Bandung pada 1955, sikapnya menolak segala bentuk kolonialisme dan
imperialisme, menuju tatanan dunia yang damai.
Namun, AS memiliki respon lain terhadap gerakan ini. "Politik AS bersifat global. Suatu negara
harus memilih salah satu pihak. Aliran yang netral adalah immoral (tidak bermoral)," ucap Menteri
Luar Negeri AS saat itu, John Fuster Dulles.
Ya, AS di bawah Jenderal Dwight D. Eisenhower dan Menteri Luar Negeri John Foster Dulles saat
itu dikenal berhaluan keras, tidak boleh ada sikap abu-abu ketika harus memilih antara blok barat
dengan blok timur. Hanya memberi dua pilihan, menjadi sekutu atau musuh Amerika.
Jadi, wajar bila AS dan sekutu kala itu membenci Sukarno. Bayangkan, Sukarno menolak ajakan
masuk SEATO, gagalnya bantuan militer dengan AS saat kabinet PM Sukiman (1952), dan kini
Sukarno mengorganisir negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika dalam satu gerakan
non-blok.
"Negara-negara non blok itu kan rata-rata negara yg baru merdeka, atau dalam proses
kemerdekaan secara yuridis. Koloninya saat itu negara-negara (blok) barat, Perancis, Inggris, dan
lain-lain. Kalau bentuk blok sendiri, saat itu secara de facto memang condong ke arah timur," ujar
Rizal.
Sementara negara seperti Inggris, sambungnya, di masa keruntuhan kolonialisme ini inginkan bekas
jajahannya tetap berada di dalam naungannya, atau persemakmuran. "Ini juga bagian dari konteks
perang dingin. Tentu negara-negara nonblok ini tidak berada di dalam garis politiknya AS. Artinya,
sama-sama membahayakan, jadi harus dibendung,” kata Rizal.
PRRI/Permesta
Munculnya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), yang merupakan puncak krisis
politik parlementer disertai konflik internal AD, menjadi pintu masuk utama CIA untuk menggulingkan
kekuasaan Sukarno. Usai Pemilu 1955, tokoh-tokoh politik dari kelompok Islam yang duduk di
Masyumi bersama tokoh-tokoh sosialis liberal di PSI (Partai Sosialis Indonesia) menolak usul
demokrasi terpimpin yang diusung Sukarno Cs melalui PNI yang didukung PKI di Konstituante.
Di sisi lain, kedekatan PKI dengan Sukarno dianggap mempengaruhi sikap politik Sukarno yang
condong ke blok timur. Sebaliknya, tokoh-tokoh PSI, yang saat itu merupakan oposisi pemerintah,
memiliki jaringan yang baik dengan negara-negara blok barat. Belum lagi kabar ketidakharmonisan
antara pusat dengan daerah yang turut muncul, menyoal pembagian kue ekonomi dan
pembangunan yang tidak ideal antara pusat (termasuk seluruh Jawa) dengan luar Jawa. Isu ini tentu
menjadi kritik keras terhadap pemerintah pusat.
Sejumlah perwira militer yang anti PKI memanfaatkan isu ini untuk mendelegetimasi pemerintah
pusat yang mesra dengan PKI. Dapat dimaklumi, ketidaksukaan kalangan militer terhadap PKI
memang sudah muncul sejak peristiwa Madiun 1948.
Selain itu, konflik di tubuh Angkatan Darat pada 1952, yang merupakan buntut dari kebijakan
Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) internal militer pada 1948, turut membumbui kekecewaan
sekelompok tentara. Puncaknya, muncul dewan-dewan militer di sejumlah daerah, dengan nama
Dewan Perjuangan.
Pada 20 November 1956, berdirilah Dewan Banteng di Padang, Sumatera Barat, yang dipimpin oleh
Letnan Kolonel Achmad Husein. Mereka mengambil alih kekuasaan Gubernur Ruslan Mulyohardjo.
Di Medan, Sumatera Utara, berdiri Dewan Gajah yang dipimpin oleh Kolonel Simbolon. Di Sumatera
Selatan berdiri Dewan Garuda yang dipimpin oleh Kolonel Barlian.
Sementara di Indonesia Timur, di Manado, Sulawesi Utara berdiri Dewan Manguni yang dipimpin
oleh Kolonel Ventje Sumual. Pergerakan Dewan Manguni ini cukup cepat, menuntut pemerintah
pusat melaksanakan Repelita dan pembagian pendapatan daerah secara adil, yakni, daerah surplus
mendapat 70 persen dari hasil ekspor. Gerakan ini dideklarasikan melalui piagam Perjuangan
Semesta (Permesta) pada 2 Maret 1957, yang berujung pada pemutusan hubungan daerah dengan
pusat.
Menurut Rizal, saat inilah terjadi persinggungan kepentingan antara tokoh politik sipil yang
beroposisi dengan Sukarno dengan gerakan militer di daerah. “Terjadi persinggungan kesamaan
kepentingan buat tokoh sipil dengan perwira militer (dewan perjuangan) itu, mereka tidak puas
dengan kepemimpinan Mayjen AH. Nasution,” katanya.
Ultimatum
Sentimen negatif terhadap pemerintah pusat semakin tajam hingga Letkol Achmad Husein,
pimpinan Dewan Banteng di Sumatera Barat mengultimatum Sukarno agar mencabut mandat
Kabinet Djuanda dalam waktu 5x24 jam.
Ultimatum yang disuarakan pada 10 Februari 1958 itu didukung tokoh-tokoh oposisi, seperti,
Sjafruddin Prawiranegara, politisi Masyumi, mantan Wakil Perdana Menteri RI yang juga mantan
Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia era kabinet Hatta, dan Sumitro Djojohadikusumo,
politisi PSI yang juga mantan Menteri Perdagangan era kabinet Natsir.
Hasilnya, sidang Dewan Menteri pada 11 Februari menolak ultimatum tersebut dan memecat
dengan tidak hormat para perwira yang terlibat dalam Dewan Perjuangan itu. Beberapa hari
kemudian, 15 Februari 1958, Achmad Husein pun mengumumkan berdirinya Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sebagai tandingan kabinet Djuanda.
Sjafruddin Prawinegara, yang diangkat sebagai Perdana Menteri PRRI, dengan cepat menyatukan
seluruh dewan-dewan militer yang sudah terbentuk, termasuk gerakan Permesta di Sulawesi.
"Hubungan dengan Indonesia timur (Permesta) bukan sekadar gayung bersambut, tetapi memang
sudah network, djalin antara para pimpinan di daerah (Dewan Perjuangan). Kemudian para perwira
militer di daerah tersebut mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan PSI dan juga Masyumi.
Masyumi saat itu di Sumbar cukup kuat, PSI di sulawesi juga cukup kuat," kata Rizal.
Didukung AS
Karut marut politik dan keamanan inilah yang menjadi pintu masuk campur tangan blok barat yang
dikomandoi AS. Kepentingannya sudah jelas, menggulingkan Sukarno, si pelopor gerakan non-blok
yang dinilai tidak mau bekerjasama dengan blok barat untuk membendung komunis.
Penulis David Wise dan Thomas B. Ross, dalam bukunya Pemerintah „Bayangan‟ Amerika Serikat,
memaparkan keterlibatan CIA dalam PRRI/Permesta. Bahkan, dalam buku tersebut menceritakan
peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Sukarno di Cikini, Jakarta pada November 1957.
Kala itu pemerintah mendeteksi jika tindakan makar tersebut didalangi oleh komplotan ektrem kanan
yang dimotori Letkol Zulkifli Lubis, pendiri Badan Rahasia Negara Indonesia (BraNI) - lembaga
intelijen pertama di Indonesia, dan didukung CIA.
Tudingan Sukarno terhadap CIA belakangan terbukti. Dalam pertemuan Komite Intelijen Senat AS
yang diketuai Senator Frank Church dengan mantan wakil Direktur CIA bidang perencanaan
operasi,
Richard Bissel Jr. - 22 tahun kemudian - terungkap, saat itu nama Sukarno memang sudah masuk
dalam target operasi Direktur CIA, Allan Dulles, yang juga saudara kandung Menlu AS saat itu, John
Foster Dulles.
Sejak itulah serangkaian usaha-usaha penggulingan Sukarno selalu diasosiasikan dengan operasi-
operasi CIA. Asumsi tersebut pun terbukti dengan diketahuinya sokongan AS terhadap gerakan
PRRI/Permesta.
Dukungan CIA terhadap PRRI/Permesta di masa itu masih seputar kepentingan AS untuk
menjatuhkan Sukarno. Apalagi koalisi kuat pemerintah Sukarno didominasi PNI dan PKI, yang bagi
negara-negara barat PNI dianggap nasionalis yang "ke-marxis-marxisan". Sementara PKI sudah
jelas afiliasnya saat itu ke RRC.
"Oposisinya adalah PSI dan Masyumi. PSI memang partai kecil, namun memiliki kekuatan
intelektual yang cukup besar dan sangat dekat dengan Eropa dan AS, kemudian Masyumi adalah
kelompok islam, terdidik, juga memiliki pengaruh yang cukup kuat. Saat itu keduanya adalah sekutu
terbaik (CIA) untuk membendung komunis," ucap Rizal.
Dalam operasi mendukung PRRI/Permesta ini AS memang jor-joran. CIA menjadikan Singapura,
Filipina (Pangkalan AS Subic & Clark), Taiwan, dan Korea Selatan sebagai pos suplai dan pelatihan
bagi Angkatan Perang Revolusioner (APREV), tentara PRRI.
Ribuan pucuk senjata api dan mesin diselundupkan, lengkap dengan amunisi dan granat. CIA juga
mendrop sejumlah alat perang berat seperti meriam artileri, truk-truk pengangkut pasukan hingga
meminjamkan pesawat tempur dan pembom.
Sebab itulah PRRI bisa memiliki angkatan udaranya sendiri yang dinamakan AUREV (AU
Revolusioner). Bahkan, beberapa pesawat tempurnya dikendalikan sendiri oleh personil militer AS,
Korea Selatan, Taiwan, dan juga Filipina.
"Adalah Sumitro Djojohadikusumo (Menteri Perhubungan dan Pelayaran PRRI), yang memiliki
hubungan baik dengan AS sejak lama, yang memberikan jalan mudah bagi PRRI mendapatkan
dukungan politik dan logistik," ucap Rizal.
Sejarawan Bonnie Triyana, dalam tulisannya yang berjudul Spionase Paman Sam, juga
mengungkapkan soal hubungan CIA dengan Sumitro. "Agen CIA menjalin hubungan rahasia
dengan Sumitro Djojohadikusumo yang bertugas sebagai penggalang dana. Allen Dulles, tokoh
nomer wahid CIA langsung turun tangan untuk mengatur siasat operasi klandestin itu. Sejumlah
perwira pembangkang seperti Simbolon, Ventje Sumual dan Ahmad Husein pun dijadikan partner
dalam operasi subversif CIA untuk menumbangkan Sukarno," tulisnya.
Awalnya pemerintah AS membantah keterlibatannya. Namun, tidak sampai tiga pekan setelah
Presiden Eisenhower menyatakan hal itu, pada 18 Mei 1958, sebuah pesawat pengebom B-26
Invader AUREV milik AS yang telah membombardir sebuah pasar dan landasan udara Ambon,
ditembak jatuh oleh Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).
Pilot pesawat B-26 Invader AUREV yang tertembak jatuh itu sempat menyelamatkan diri dengan
parasut, namun berhasil ditangkap APRI. Sang pilot adalah Allen Lawrence Pope, pria
berkebangsaan AS yang identitasnya terbongkar dan diketahui bahwa dirinya agen CIA.
Selain itu, Kolonel Achmad Yani, panglima operasi penumpasan PRRI di Sumatera juga
menemukan langsung dukungan asing dalam APREV. "Telah terjadi 6 kali dropping senjata dengan
pesawat terbang asing untuk pasukan pemberontak," ucap Yani seperti dikutip dari laporan Kantor
Berita Antara pada 13 Mei 1958.
Mantan Wakil Kepala BIN As'ad Said Ali, saat bincangan dengan Metrotvnews.com, Kamis
(4/8/2016) lalu, mengungkapkan, keterlibatan AS melalui CIA-nya saat itu bukan operasi yang
didesain sejak awal. Keterlibatannya memang murni kerjasama atas dasar kepentingan yang sama.
"Kalau ditanya campur tangan asing, ya, kita setengah mengundang sebenarnya. AS punya
kepentingan, begitu juga PRRI. Ada irisan kepentingan, jatuhkan Sukarno," ucap As'ad.
Belakangan, mantan Dubes AS untuk Indonesia saat itu, Howard P. Jones, mengakui jika dirinya
tahu jika CIA ada di belakang PRRI/Permesta. Hal ini diungkap Jones dalam memoarnya
“Indonesia: The Possible Dream”.
Reaksi Blok Timur
Semakin terbukanya kabar keterlibatan AS dalam krisis politik dan keamanan dalam negeri
Indonesia mengundang reaksi Uni Soviet dan RRC, yang merupakan rival AS. Moskow dan Beijing
secara terang-terangan mengutuk tindakan AS.
Pada 15 Mei 1958, kantor berita Antara melaporkan bahwa pemerintah Uni Soviet telah
mengeluarkan pernyataan resmi soal pertempuran fisik di Indonesia yang melibatkan AS. Di antara
pernyataan itu berbunyi, "Pesawat-pesawat yang terbang dari pangkalannya (AS) di Taiwan dan
Filipina, telah dikeudikan oleh penerbang-penerbang Amerika dan Ciang Kai Sek. Ini bukti Amerika
Serikat langsung terlibat dalam pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia yang sah."
Laporan itu juga menulis bahwa pihak AS tidak menyangkal berita-berita tentang bantuan senjata
kepada PRRI/Permesta di Indonesia. John Dulles sendiri sempat mengatakan agar dibentuk suatu
pemerintahan baru di Indonesia. Bagi Uni Soviet, fakta ini diartikan sebagai suatu hasutan untuk
merobohkan pemerintahan RI yang sah.
"Pemerintah Uni Soviet menyatakan, bahwa semua ini merupakan pelanggaran terhadap prinsip-
prinsip PBB dan bertentangan dengan dasar-dasar pokok hukum internasional. Pemerintah Uni
Soviet tidak bisa membiarkan kejadian-kejadian yang timbul disekitar Indonesia, karena situasi itu
merupakan ancaman bagi perdamaian," tulis Antara.
Senada, pemerintah RRC pun turut menuduh AS melakukan tindakan-tindakan yang mengancam
perdamaian dunia. "Baru-baru ini kaum imperialis AS melakukan lagi tindakan-tindakan yang terang-
terangan memberikan bantuan kepada kaum pemberontak Indonesia, dan dengan demikian
melakukan dan meluaskan intervensi mereka yang tidak sah dalam masalah-masalah dalam negeri
Indonesia," bunyi pernyataan pemerintah RRC.
Dalam pernyataan resmi itu pula RRC menyampaikan pesan akan ikut ambil bagian dalam
persoalan yang menurutnya mengancam perdamaian di Asia dan dunia.
Sukarno (Bettmann/CORBIS)
Bahkan, beberapa referensi sejarah menyatakan RRC telah menyiapkan skuadron udaranya serta
ribuan tentara reguler untuk bergerak ke Indonesia untuk membantu Sukarno, namun Sukarno
menolaknya. “Kekuatan angkatan perang kami masih mampu menghadapi itu,” ujarnya.
Operasi yang gagal
Terbukanya kedok CIA serta ancaman Uni Soviet dan RRC tidak mengurungkan niat AS untuk
mendukung PRRI/Permesta. AS justru menggerakkan dua batayon US Marine dengan Armada ke-
7nya ke perairan Riau, dengan dalih mengamankan instalasi minyak Caltex milik AS di lokasi
tersebut.
Mendengar kabar ini, Sukarno justru balik mengancam AS soal keterlibatannya dalam masalah
internal RI. “AS jangan sampai bermain api dengan Indonesia. Jangan biarkan kekurangpahaman
Amerika menyebabkan meletusnya Perang Dunia Ketiga!”
Di lapangan, satu pasukan besar di bawah pimpinan Ahmad Yani sukses melibas PRRI di
Sumatera. Hanya dalam hitungan jam setelah mendarat di Pekanbaru, Padang, serta Bukit Tinggi -
pusat konsentrasi APREV - kota-kota penting itu pun berhasil direbut.
Bantuan senjata dan latihan tempur yang diberikan CIA kepada APREV dirasa sia-sia. Sejarawan
Bonnie Triyana mengungkapkan, operasi bawah tanah CIA yang langsung dikontrol oleh kantor
pusat CIA pun bubar.
"APREV tak sempat meledakkan instalasi minyak Caltex di Pekanbaru, Riau, sebagaimana
direncanakan oleh CIA untuk digunakan sebagai dalih AS menyerang Indonesia," tulis Bonnie dalam
Spionase Paman Sam.
Pasukan PRRI terus terpukul mundur oleh APRI, baik di Sumatera maupun Sulawesi. Nada
ancaman dari Uni Soviet dan RRC dan gagalnya sejumlah operasi CIA tampaknya menjadi salah
satu faktor mundurnya dukungan AS untuk PRRI/Permesta.
Pesan dari 1950-an
Dari rentetan fakta keterlibatan asing dalam krisis politik dan keamanan di Indonesia pada 1950-an,
As'ad Said Ali mengatakan, ini adalah pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Militer yang
profesional yang dimiliki Indonesia saat ini, yang tidak berpolitik, sepatutnya terus dijaga.
"Begitu pula perbedaan-perbedaan pandangan politik, kembalikan semua ingatan kita pada
Bhinneka Tunggal Ika. Karena, hingga saat ini, pola-pola serupa masih ada, kepentingannya bisa
jadi sama, soal ideologi atau ekonomi," ucapnya.
Pesan serupa juga pernah tertangkap oleh putri bungsu Wakil Presiden RI pertama Mohammad
Hatta, yakni Halida Hatta. Kepada Metrotvnes.com, Halida menyampaikan bahwa Bung Hatta
sempat sedih saat teman-teman seperjuangannya, satu kampung halaman, terlibat dalam gerakan
yang mengarah pada separatisme.
"Saat itu (krisis politik dan PRRI/Permesta), meski Ayah saya tidak lagi menjadi Wakil Presiden,
tetap sering dikunjungi para tokoh, ada juga tokoh politik yang menentang pemerintah dan mencoba
mengajaknya untuk bergabung. Tapi Ayah selalu menolaknya, justru memberi nasihat. Nasihatnya,
boleh kecewa, tapi selesaikanlah dengan jalan yang baik, yang tidak mengancam keutuhan
Indonesia," ujar Halida mengulang ucapan Mohammad Hatta.
(ADM)
(http://telusur.metrotvnews.com)
Gagalnya Operasi CIA dalam
Pemberontakan
PRRI/Permesta
Hasan Kurniawan
Sabtu, 17 September 2016 - 05:05 WIB
Agen CIA Allen Pope (foto:Istimewa/Hasan Kurniawan-Sindonews)
A+ A-
PEMBERONTAKAN bersenjata Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan
Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) di Sumatera dan Sulawesi, merupakan bagian
dari operasi rahasia Amerika Serikat (AS) dalam menggulingkan Soekarno.
Dimulai saat Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1955, di mana Partai Nasional Indonesia (PNI)
meraih 22,3% suara, Madjelis Sjuro Moeslimin Indonesia (Masjoemi) 20,9%, Nahdlatul Ulama
(NU) 18,4%, dan Partai Komunis Indonesia (PKI) 16,5%.
Masuknya PKI ke dalam partai empat besar, membuat posisi tawar politis PKI kian besar.
Kondisi ini membuat resah sejumlah kelompok dalam Angkatan Perang Republik Indonesia
(APRI) yang belum lupa dengan peristiwa Madiun 1948 tujuh tahun silam.
Diwaktu yang bersamaan, terjadi ketidakpuasan para pejabat lokal dan komandan militer di
daerah terhadap kebijakan ekonomi pusat. Kondisi itu makin diperparah dengan mundurnya
Wakil Presiden Mohammad Hatta, pada 1 Desember 1956.
Dengan mundurnya Hatta, maka tidak ada lagi yang bisa mengimbangi politik Soekarno yang
makin condong ke kiri, dan menjadi wakil dari luar Jawa. Perkembangan ini juga sejalan dengan
terjun bebasnya pengaruh Masjoemi dalam pemerintah pusat.
Atas situasi itulah, maka muncul gagasan bagi orang-orang di luar Jawa untuk bangkit melawan
pusat yang dianggap hanya mewakili kepentingan Jawa dan orang-orang Jawa. Akhirnya, pada
2 Maret 1957, diumumkan Piagam Perjuangan Permesta.
Pembacaan piagam dilakukan oleh Letkol Saleh Lahade, melalui Radio Makassar. Pada waktu
yang bersamaan, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia bagian Timur Letnan Kolonel
Samual mengangkat diri sebagai penguasa perang daerah itu.
Piagam itu menuntut agar keempat provinsi yang termasuk dalam TT VII, yaitu Sulawesi
Selatan-Tenggara, Sulawesi Utara-Tengah, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil diberi otonomi
keuangan yang seluas-luasnya untuk kemakmuran di daerah.
Mereka juga menuntut agar Hatta dikembalikan kepada posisinya sebagai Wakil Presiden RI.
Dari sikapnya, Soekarno enggan mengembalikan kedudukan Hatta. Hal ini membuat para
pemberontak semakin berani dengan melakukan pembunuhan-pembunuhan.
Pada 30 November 1957, terjadi upaya pembunuhan oleh sekelompok pemuda aktivis Muslim
dari Bima terhadap Soekaro saat dia sedang mengunjungi sekolah anak-anaknya di Jakarta.
Peristiwa ini dikenal juga dengan Peristiwa Cikini 1957.
Dalam peristiwa itu, Soekarno dilempar granat dan dia selamat. Sembilan orang dinyatakan
tewas dan 45 orang lainnya luka-luka. Soekarno menuding peristiwa pembunuhan itu didalangi
dinas rahasia AS, yaitu Central Intelligence Agendcy (CIA).
Soekarno berpendapat, CIA telah memanfaatkan komplotan ekstrem kanan yang dimotori
Letkol Zoelkifli Loebis, pendiri Badan Rahasia Negara Indonesia (BraNI) dan Saleh Ibrahim
untuk melenyapkan dirinya. Tudingan itu terbukti 22 tahun kemudian.
Dalam satu sesi pertemuan Komite Intelijen Senat AS yang diketuai Senator Frank Church
dengan mantan Wakil Direktur CIA bidang perencanaan operasi Richard Bissell Jr terungkap,
bahwa Seoakrno memang sudah masuk dalam sasaran tembak.
Dengan meningkatnya perlawanan, maka pada 10 Februari 1958, para pemberontak
memberikan ultimatum dari Padang agar kabinet Djuanda mengundurkan diri dalam tempo lima
hari, dan supaya dibentuk kabinet baru oleh Hatta dan Sultan Yogya.
Bila tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka mengancam membentuk pemerintah tandingan di
Sumatera. Sikap pemerintah menolak tuntutan. Akhirnya, pada 15 Februari 1958 di Padang,
dibentuk PRRI dengan Perdana Menteri Sjafruddin Prawiranegara.
PRRI memiliki kekuatan militer dari resimen-resimen di Sumatera Barat, Tapanuli dan Sulawesi
Utara. Sedang di Sumatera Selatan dan Kalimantan, mereka tidak mendapatkan dukungan
kuat, karena dua daerah ini hanya setuju perjuangan politik.
Merasa operasinya telah tercium, AS kemudian banting stir dengan mendukung aksi
pembangkangan di Sumatera dan Sulawesi melalui sandi oeprasi klandestin "Haik".
Pertemuan-pertemuan dengan para pemberontak pun mulai rutin dilakukan.
Seorang pejabat konsulat AS di Medan Dean Almy langsung menemui Kolonel Maludin
Simbolon di Bukittinggi. Dalam pertemuan itu, Almy menyerahkan bantuan keuangan sebesar
USD50. Pertemuan lanjutan dilakukan dua bulan kemudian, di Singapura.
Pada pertemuan kedua itu, Almy memberikan bantuan senjata bagi 8.000 personel
pemberontak di Sumatera. Selain dengan Maludin, Almy juga membuat sejumlah kesepakatan-
kesepakatan dengan tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) Soemitro.
Sejalan dengan itu, Panglima Operasi Angkatan Laut (AL) AS Laksamana Arleigh Burke
memerintahkan kepada Panglima Armada VII (Pasific) Laksamana Felix Stump menggerakkan
kekuatan AL AS yang berbasis di Teluk Subic, Filipina, ke Indonesia.
Pengerahan marinir AS beserta kapal penjelajah dan perusak itu mengundang kecurigaan RI.
Namun AS berdalih, pengerahan pasukan itu untuk pengamanan bisnis minyak mereka Caltex,
di Pekanbaru, dari perang saudara yang akan berkecamuk.
Sejak itu, dalam berbagai kesempatan, baik secara sembunyi-sembunyi atau rahasia dan
terbuka, AS mulai melakukan dropping senjata api. Senjata itu dibawa dengan memakai
pesawat amfibi jenis PBY 5 Catalina milik Angkatan Udara (AU) Filipina.
Senjata-senjata itu didaratkan di Danau Singkarak, Sumatera Barat, dan Danau Tondano,
Sulawesi Utara. Ada juga senjata dan logistik yang dikirim dengan penerjunan dari udara,
seperti di kawasan Bandara Tabing, Sumatera Barat.
Sedangkan melalui jalur laut, senjata dan logistik dibawa menggunakan kapal barang milik
Caltex atau kapal selam AS yang bergentayangan di perairan Riau. Tidak hanya menyokong
dana, senjata, dan logistik, AS juga menerjunkan militernya.
Para tentara AS itu dikerahkan untuk mengoperasikan senjata berat dan sejumlah pesawat
terbang. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan pelatihan perang terhadap para
pemberontak untuk ditempatkan di kawasan Danau Singkarak dan Tondano.
Tidak cukup di situ, AS juga membangunkan sejumlah pemancar radio bagi para pemberontak
untuk memudahkan mereka saling berkomunikasi di lapangan. Untuk memperkuat pasukan
udaranya, para pemberontak mendirikan AU Revolusioner (AUREV).
Pasukan udara ini dipimpin langsung oleh CIA yang berkedok sebagai pegawai perusahaan
angkutan udara Taiwan Civilian Air Transport milik CIA. Pasukan ini memiliki tiga pesawat
pemburu F-51D Mustang, dan enam pesawat pengebom B-26/25 Invander.
Selain itu, ada juga sejumlah pesawat ringan AT 11 Kansan, dua pesawat transpor Beechcraft,
dan satu pesawat amfibi PBY 5 Catalina. Seluruh pesawat itu berasal dari Filipina dan Taiwan.
Sedang yang menjadi pilotnya dari CIA dan pemberontak.
Reaksi RI terhadap pemberontakan ini sangat keras. Perang saudara pun akhirnya
berkecamuk. Dengan persenjataan dari AS, para pemberontakan melakukan pembunuhan dan
memerangi saudara mereka sendiri. Pemberontakan pun dapat ditumpas.
Pada Minggu pagi, di bulan April 1958, terjadi pertempuran hebat di Pulau Ambon. Pesawat-
pesawat pemberontak menembaki pemukiman penduduk dan sebuah gereja yang di dalamnya
sedang berlangsung upacara kebaktian. Bangunan itu hancur.
Seluruh jemaat gereja tewas diberondong senapan mesin. Para tentara pemberontak juga
berhasil menenggelamkan kapal RI di pelabuhan. Semua awak kapal itu tewas. Dalam satu kali
serangan para pemberontak, sedikitnya ada 700 orang yang tewas.
Meski demikian, tentara RI berhasil menembak jatuh pesawat pemberontak. Pilot pesawat
selamat, setelah nyangkut di pohon kelapa. Namun kaki dan tulang pahanya patah. Akhirnya,
tentara RI membawa pilot tersebut ke rumah sakit dan merawatnya.
Ternyata, pilot itu seorang warga negara Amerika bernama Allen Pope. Dalam surat-surat yang
ditemukan pada diri Pope, diketahui bahwa dia adalah seorang agen CIA yang memiliki lisensi
untuk civil air transport yang sengaja diutus AS.
Dari sinilah misi rahasia AS untuk menggulingkan Soekarno terbongkar. Selama menerbangkan
pesawat pengebom, Pope sudah banyak membunuh rakyat Indonesia. Awalnya RI
menjatuhkan hukuman mati kepada Pope, tapi akhirnya dia dibebaskan.
Proses pembebasan Pope juga berlangsung licik. AS memanfaatkan kelemahan Soekarno
dengan meminta seorang wanita cantik bekas pramugari Pan American Airways yang mengaku
sebagai istri Pope untuk memaafkannya setelah apa yang dia lakukan.
Dengan menggunakan air mata sebagai senjata, wanita itu berhasil meluluhkan hati Soekarno.
Setelah Pope sembuh dari sakit yang dideritanya, dia akhirnya dibebaskan justru oleh orang
yang akan dibunuhnya, yaitu Presiden RI Soekarno.
Sampai di sini ulasan singkat Cerita Pagi tentang Gagalnya Operasi CIA dalam
Pemberontakan PRRI/Permesta diakhiri. Semoga memberikan manfaat kepada para pembaca.
Sumber Tulisan
*Santoso Purwoadi, PRRI-Permesta Pemberontakan Para Kolonel, Dirty War, Edisi Koleksi
Angkasa XXIV.
*Budiarto Shambazy, Menjegal Komunis, Memburu Teroris, CIA Dinas Rahasia Paling
Berpengaruh di Dunia, Angkasa Edisi Koleksi, No 69, 2010.
*ULF Sundhaussen, Politik Militer Indonesia 1945-1967 Menuju Dwi Fungsi ABRI, LP3ES,
Cetakan Kedua, November 1988.
*Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Yayasan Bung Karno-Media
Pressindo, Edisi Revisi, Cetakan Kedua 2011.
(https://daerah.sindonews.com)