Anak 1 Tahun dengan GEDS dan Demam Typhoid
Anak 1 Tahun dengan GEDS dan Demam Typhoid
Disusun oleh:
dr. Lusy Yulita Sari
Pembimbing :
dr. Tri Kristiyani
DPJP :
dr. Hartono, Sp.A
A. IDENTITAS
Nama penderita : [Link]
Umur/tgl lahir : 1 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Krajan Utara rt 5/5 demak
No. RM : 22-11-261xxx
B. ANAMNESA
Anamnesa dilakukan secara alloanamnesis pada tanggal 20 November 2022
pukul 15.10 WIB di Bangsal Anggrek.
Keluhan Utama
Demam dan BAB cair ± 3 hari SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien rujukan dr. Hartono Sp.A datang ke IGD dengan keluhan BAB cair sudah
± 3 hari SMRS. BAB cair 3-4x tiap hari. Dengan konsistensi cair, warna kekuningan,
dengan sedikit ampas makanan, tanpa disertai darah dan lendir, dan bau seperti tinja
biasanya. Setiap kali berak, tinja yang keluar sebanyak ± 1/2 gelas aqua (± 100 cc).
Diare muncul secara mendadak, Demam dikatakan mulai muncul setelah pasien
mengalami diare dan muncul secara mendadak tinggi. Demam dikatakan tidak sempat
diukur menggunakan termometer. Pasien mengaku sempat mengkonsumsi obat
penurun panas untuk menghilangkan keluhan demamnya. keluhan sempat membaik.
Pasien juga mengeluh nyeri perut(+). Nyeri dirasakan pada perut kanan atas terasa
seperti melilit (dipelintir). Nyeri dirasakan setiap kali pasien merasa ingin buang air
besar. Pasien mengaku bibir dan lidahnya terasa kering setelah mengalami diare.
Pasien juga mengaku merasa kehausan sehingga pasien lebih sering minum.
Lemas(+). Nafsu makan pasien dikatakan menurun. ibu mengatakan anaknya lebih
rewel. BAK normal dengan frekuensi BAK 4-5x /hari. Keluhan lain mimisan (-), gusi
berdarah (-), bintik merah di tubuh (-), penurunan berat badan (-).
DATA KHUSUS
1. Riwayat Perinatal
Anak laki-laki lahir dari ibu P1A0 hamil 38 minggu, Lahir spontan, cukup bulan, ditolong
bidan di rumah sakit, BBL 3500 gram, panjang badan lahir 51 cm, bayi langsung
menangis, sehat, kemerahan. antenatal care teratur.
2. Riwayat makan-minum
Anak diberikan ASI eksklusif sejak lahir sampai usia 12 bulan. MPASI diberikan saat usia
6 bulan, mendapat makanan pendamping berupa bubur susu usia 6 bulan, umur 9 bulan
hingga sekarang mendapat makanan pendamping berupa nasi tim dan sayur. Anak makan
biasanya 2-3 kali sehari.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Umur : 1 tahun
Berat badan sekarang : 11 kg
Berat badan sebelum sakit : 11 kg
Tinggi badan : 85 cm
Keadaan Umum:
Composmentis
Tanda Vital:
Tekanan Darah :-
Nadi : 121 x/menit, irama reguler, isi dan tegangan kuat
Frekuensi napas : 22 x/menit
Suhu badan : 38,3 °C
Pemeriksaan Fisik Umum:
• Rambut : hitam, tidak mudah dicabut
• Kepala : mesocephale
• Kulit : sianosis (-), ptechie (-), turgor kulit lambat (-)
• Mata : injeksi conjungtiva (-/-), sklera ikterik (-/-), mata cekung (-/-)
• Hidung : nafas cuping hidung (-), secret (-),mucosa hiperemis (-)
• Telinga : discharge (-), nyeri tekan tragus (-)
• Mulut : sianosis (-), bibir kering (+), gusi berdarah (-), stomatitis (-)
• Leher : simetris, pembesaran kelenjar getah bening (-), kaku kuduk (-), ruam
makulopapular (-)
• Tenggorokan : faring hiperemis (-), T1-T1
Thorak:
Paru-paru :
Inspeksi : Hemithorax dextra et sinistra simetris dalam keadaan statis maupun
dinamis, retraksi dinding dada subcostal (-/-)
Palpasi : Strem femitus dextra dan sinistra simetris
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : SD vesikular +/+, suara tambahan: wheezing (-/-), ronki (-/-)
Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis teraba dengan 1 jari sejajar papila mammae ICS 5 linea
midclavikula sinistra
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : BJ I-II regular, bising (-)
Abdomen:
Inspeksi : bentuk datar, ruam makulopapular (-)
Auskultasi : bising usus (+) meningkat
Perkusi : hipertimpani (+) , kembung(+)
Palpasi : nyeri tekan (+), pembesaran organ (-)
Hepar : tidak teraba
Lien : tidak teraba
Turgor : baik
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium (20/11/2022)
Tanggal 21/11/2022
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN N. METODA
RUJUKAN
HEMATOLOGI
Leukosit 7,96 10³/mm³ 4 – 11
Hemoglobin 10.6 L g/dl 12 – 16
Hematokrit 35.6 L% 37 – 47
Thrombosit 308 10³/mm³ 150 – 450
E. DAFTAR MASALAH
Demam
BAB cair
Nyeri perut
F. DIAGNOSA
Diagnosa: Anak 1 tahun dengan GEDS, Febris hari ke 3 Demam typhoid
DD: disentri, intoleransi laktosa
G. TATALAKSANA
Rawat inap
Pengawasan: KU, TTV
Pemeriksaan Penunjang : Darah Lengkap, Imuno-serologi
Terapi medikamentosa:
- Inf RL 11 tpm
- Dumin supp 125mg
- Paracetamol puyer 4x125mg
- Inj Ceftriaxon 2x400mg
- HTN 3x1
- Zinc 1x1
- L-bio 1x1
H. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad Sanam : dubia ad bonam
I. EDUKASI
Menjelaskan kepada ibu tentang penyakit, perjalanan penyakit, serta tindakan yang
akan dilakukan
Istirahat cukup
Perbanyak minum air putih, makan makanan yang matang.
Motivasi keluarga pasien agar menjaga kebersihan lingkungan, jamban air berih dan
menjaga higienitas makanan
Mencuci tangan dengan sabun terutama setelah BAB dan saat akan menyajikan
makanan
Minum obat teratur dan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi.
20/11/2022 21/11/2022
BAB cair (+), nyeri perut(+) BAB cair berkurang, nyeri
demam (+) perut berkurang, demam (-)
KU : Sedang, Composmentis KU : Sedang,
Composmentis
TTV TTV
TD : - TD : -
HR : 121x/m HR : 98 x/m
RR : 22 x/m RR : 22 x/m
T : 38.3 C T : 36,6 C
Thx ; Thx ;
SDV+/+ rh-/-wh-/- BJ I-II SDV+/+ rh-/- wh-/- BJ I-II
reg reg
Abd = Bu (+) meningkat , Abd =Bu (+) , NT (-),
NT (+), Timpani, Supel, Timpani, Supel,
hepatosplenomegaly (-) hepatosplenomegaly (-)
Ext : Ext :
akral dingin (-/-)/(-/-), akral dingin (-/-)/(-/-),
GEDS, febris hari ke 3 GEDS, febris hari ke 3
- Inf RL 11 tpm - Inf RL 11 tpm
- Paracetamol puyer - Paracetamol puyer
4x125mg 4x125mg
- Inj Ceftriaxon 2x400mg - Inj Ceftriaxon 2x400mg
- HTN 3x1 - HTN 3x1
- Zinc 1x1 - Zinc 1x1
- L-bio 1x1 - L-bio 1x1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Gastrointeritis Akut
Gastroenteritis akut adalah suatu keadaan dimana seseorang buang air besar dengan konsisteni
lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali
atau lebih ) dalam satu hari (DEPKES, 2016).
Menurut WHO secara klinis diaredidefinisikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja
berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat) kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya lebih dari 200g atau 200ml/24jm. Definisi lain memakai kriteria frekuaensiyaitu buang
air besar encer tersebut dapat atau tanpa di sertai lendir dan darah. Jadi dapat diartikan suatu
kondisi buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja
yang encer dapat di sertai atau tanpa di sertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya
proses inflamasi pada lambung dan usus.
Non –Infeksi
a. Malabsorpsi/ maldigesti
Kurangnya penyerapan seperti :
1. Karbohidrat : Monosakrida (glukosa), disakarida (sakarosa)
2. Lemak : Rantai panjang trigliserida
3. Asam amino
4. Protein
5. Vitamin dan mineral
b. Imunodefisiensi
Kondisi seseorang dengan imunodefisiensi yaitu hipogamaglobulinemia,
panhipogamaglobulinemia (Bruton), penyakit granulomatose kronik, defisiensi IgA dan
imunodefisiensi IgA heavycombination.
c. Terapi Obat
Orang yang mengonsumsi obat- obatan antibiotic, antasida dan masih kemoterapi juga bisa
menyebabkan gastroenteritis akut.
d. Lain-lain
Tindakan gastrektomi, terapi radiasi dosis tinggi, sindrom Zollinger-Ellison, neuropati diabetes
sampai kondisi psikis juga dapat menimbulkan gastroenteritis akut.
4. Klasifikasi
Menurut Sodikin diare dibedakan menjadi tiga macam sindrom, masingmasing mencerminkan
patogenesis berbeda dan memerlukan pendekatan yang berlainan dalam pengobatannya, berikut
klasifikasi diare :
a. Diare akut (gastroenteritis akut)
Diare akut ialah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat.
Diare berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari tujuh hari) dengan
disertai pengeluaran feses lunak atau cair, sering tanpa darah, mungkin disertai muntah dan
panas. Diare akut (berlangsung kurang dari tiga minggu), penyebabnya infeksi dan bukti
penyebabnya harus dicari (perjalanan ke luar negeri, memakan makanan mentah, diare serentak
dalam anggota keluarga dan kontak dekat). Diare akut lebih sering terjadi pada bayi daripada
anak yang lebih besar. Penyebab terpenting diare cair akut pada anak-anak di negara
berkembang adalah rotavirus, Escherhia coli enterototoksigenik, Shigella, Campylobacter jejuni
dan Crytosporidium. Penyakit diare akut dapat ditularkan dengan cara fekal-oral melalui
makanan dan minuman yang tercemar. Peluang untuk mengalami diare akut antara laki-laki dan
perempuan hampir sama. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi dan bila masukan makanan
berkurang, juga mengakibatkan kurang gizi, bahkan kematian yang disebabkan oleh dehidrasi.
b. Disentri
Disentri didefinisikan dengan diare yang disertai darah dalam feses, menyebabkan anoreksia,
penurunan berat badan dengan cepat, dan kerusakan mukosa usus karena bakteri invasif.
Penyebab utama disentri akut yaitu Shigella, penyebab lain adalah Campylobacter jejuni, dan
penyebab yang jarang ditemui adalah E. Coli enteroinvasife atau Salmonell. Pada orang deawasa
muda, disentri yang serius disebabkan oleh Entamoeba hislytica, tetapi jarang menjadi penyebab
disentri pada anak-anak.
c. Diare persisten
Diare persisten adalah diare yang pada mulanya bersifat akut tetapi berlangsung lebih dari 14
hari, kejadian dapat dimulai sebagai diare cair atau disentri. Diare jenis ini mengakibatkan
kehilangan berat badan yang nyata, dengan volume feses dalam jumlah yang banyak sehingga
berisiko mengalami dehidrasi. Diare persisten tidak disebabkan oleh penyebab mikroba tunggal,
E. Coli enteoaggregatife, Shigella, dan Cryptosporidium, mungkin penyebab lain berperan lebih
besar. Diare persisten tidak boleh dikacaukan dengan diare kronik, yaitu diare intermitten atau
diare yang hilang timbul, atau berlansung lama dengan penyebab noninfeksi seperti penyakit
sensitif terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang menurun.
4. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah:
pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalm rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit dalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus, isi
rongga usus yang berlebih ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul
diare.
Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan
isi rongga usus.
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya
kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan
diare [Link] itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup kedalam
usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang
biak, kemudian mengeluarkan toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan
menimbulkan diare ( Titik Lestari,2016).
Usus halus menjadi bagian absorbsi utama dan usus besar melakukan absorbsi air yang akan
membuat solid dari komponen feses, dengan adanya gangguan dari gastroenteritis akan
menyebabkan absorbsi nutrisi dan elektrolit oleh usus halus, serta absorbsi air menjadi
terganggu. Selain itu, diare juga dapat terjadi akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam
usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. Pada manifestasi lanjut dari diare dan
hilangnya cairan dan elektrolit memberikan manifestasi pada ketidakseimbnagan asam basa dan
gangguan sirkulasi yaitu terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis).hal
ini terjadi karena kehilangan Na bikarbonat bersama feses. Respon patologis penting dari
gastroenteritis dengan diare berat adalah dehidrasi. Diare dengan dehidrasi berat dapat
mengakibatkan renjatan syok hipovolemik. Syok adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh
defisiensi sirkulasi akibat disparitas (ketidakseimbangan) antara volume darah dan ruang
vaskular. Faktor yang menyebabkan terjadinya disparitas pada gastroenteritis adalah karena
volume darah berkurang akibat permeabilitas yang bertambah secara menyeluruh.
5. Diagnosis
Diagnosis gastroenteritis akut dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Onset, durasi, tingkat keparahan, dan frekuensi diare harus dicatat, dengan perhatian khusus
pada karakteristik feses (misalnya, berair, berdarah, berlendir, purulen). Pasien harus dievaluasi
untuk tanda-tanda mengetahui dehidrasi, termasuk kencing berkurang, rasa haus, pusing, dan
perubahan status mental. Muntah lebih sugestif penyakit virus atau penyakit yang disebabkan
oleh ingesti racun bakteri. Gejala lebih menunjukkan invasif bakteri (inflamasi) diare adalah
demam, tenesmus, dan feses berdarah. Makanan dan riwayat perjalanan sangat membantu untuk
mengevaluasi potensi paparan agent. Anak-anak di tempat penitipan, penghuni panti jompo,
penyicip makanan, dan pasien yang baru dirawat di rumah sakit berada pada risiko tinggi
penyakit diare menular..
2. Pemeriksaan Fisik
Tujuan utama dari pemeriksaan fisik adalah untuk menilai tingkat dehidrasi pasien. Umumnya
penampilan sakit, membran mukosa kering, waktu pengisian kapiler yang tertunda, peningkatan
denyut jantung dan tanda-tanda vital lain yang abnormal seperti penurunan tekanan darah dan
peningkatan laju nafas dapat membantu dalam mengidentifikasi dehidrasi. Demam lebih
mengarah pada diare dengan adanya proses inflamasi. Pemeriksaan perut penting untuk menilai
nyeri dan proses perut akut.
Pemeriksaan rektal dapat membantu dalam menilai adanya darah, nyeri dubur, dan konsistensi
feses. Dehidrasi Ringan (hilang cairan 2-5% BB) gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak,
pasien belum jatuh dalam presyok. Dehidrasi Sedang (hilang cairan 5-8% BB) turgor buruk,
suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam. 10
Dehidrasi Berat (hilang cairan 8-10 BB) tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun
(apatis sampai koma), otot otot kaku, sianosis.
3. Pemeriksaan Penunjang Darah:
- Darah perifer lengkap - Serum elektrolit: Na+ , K+ , Cl-
- Analisa gas darah apabila didapatkan tanda-tanda gangguan keseimbangan asam basa
(pernafasan Kusmaull)
- Immunoassay: toksin bakteri (C. difficile), antigen virus (rotavirus), antigen protozoa (Giardia,
E. histolytica).
- Feses:
--- Feses lengkap (mikroskopis: peningkatan jumiah lekosit di feses pada inflamatory diarrhea;
parasit: amoeba bentuk tropozoit, hypha pada jamur)
--- Biakan dan resistensi feses (colok dubur) Pemeriksaan penunjang diperlukan dalam
penatalaksanaan diare akut karena infeksi, karena dengan tata cara pemeriksaan yang terarah
akan sampai pada terapi definitif.
6. KOMPLIKASI
Menurut (Titik Lestari,2016) komplikasi yang dapat terjadi dari diare akut maupun kronis, yaitu:
a) Dehidrasi (ringan,sedang,berat,hipotonik, isotonik atau hipertonik)
b) Renjatan hipovolemik (kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES), dan
dapat tejadi karena kehilangan cairan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, perdarahan sehingga
dapat menimbulkan syok hipovolemia)
c) Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada
elekto kardiagram)
d) Hipoglikemia
e) Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan villi
mukosa, usus halus
f) Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik
g) Malnutrisi energy, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami
kelaparan.
[Link]
Quo Ad Vitam : ad bonam
Quo Ad Sanam : ad bonam
Quo Ad Fungsional : ad bonam
DAFTAR PUSTAKA
1. Riddle, M., DuPont, H. and Connor, B. (2016). ACG Clinical Guideline: Diagnosis,
Treatment, and Prevention of Acute Diarrheal Infections in Adults. The American Journal of
Gastroenterology, 111(5), pp.602-622.
2. Barr, w. and smith, a. (2017). [online] Available at: [Link] Diarrhea in Adults WENDY
BARR, MD, MPH, MSCE, and ANDREW SMITH, MD Lawrence Family Medicine Residency,
Lawrence, Massachusetts [Accessed 5 Mar. 2017].
3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II eidsi V. Jakarta: Interna Publishing; 2009
4. Al-Thani, A., Baris, M., Al-Lawati, N. and Al-Dhahry, S. (2013). Characterising the aetiology
of severe acute gastroenteritis among patients visiting a hospital in Qatar using real-time
polymerase chain reaction. BMC Infectious Diseases, 13(1).
5. Depkes RI., 2012. Angka Kejadian Gastroenteritis Masih Tinggi.
[Link] [Accessed 5 Mar. 2017 ]
6. Anon, (2017). [online] Available at: ([Link]
adolescenthealth/Emergencies/Diarrhoea_guidelines.pdf) A manual for physicians and other
senior health workers [Accessed 9 Apr. 2017].
7. How, C. (2010). Acute gastroenteritis: from guidelines to real life. Clinical and Experimental
Gastroenterology, p.97.
8. Dennis L., Anthony S., Stephen H., Dan L., Larry J., Joseph L. 2016. Harrison's
Gastroenterology and Hepatology. 3rd Edition. Philadelphia: McGraw Hill.
9. Lestari,Titik. 2016. Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta. Nuha Medika