0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan8 halaman

Indriani Paradita

Diunggah oleh

Desti Juwita harefa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan8 halaman

Indriani Paradita

Diunggah oleh

Desti Juwita harefa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Indriani Paradita – Perbandingan Administrasi Negara

Judul : Model Model Dalam Studi Pertandingan


Reviewer : Indriani Paradita
NIM : 227110602
Kelas : AP 6A
Mata Kuliah : Perbandingan Administrasi Negara

Pendahaluan
Buku ini membahas mengenai model-model dalam studi perbandingan
administrasi negara. Buku ini dengan jelas menampilkan nama-nama dari setiap
ahli yang dikutip pendapatnya. Buku ini menyertakan istilah teknis serta soal
latihan pada bab-bab tertentu. Materi yang dibahas disetiap bab pada buku ini
adalah Metode Perbandingan dengan pendekatan Fred. W. Riggs, Pendekatan
Silang Budaya dan Pendekatan Struktural dan Pendekatan Fungsional. Buku ini
digunakan sebagai referensi belajar pada mata kuliah perbandingan administrasi
negara.

Metode Perbandingan dengan pendekatan Fred. W. Riggs

Bab ini membahas pandangan Fred. W. Riggs dalam melihat 3


kecenderungan penting dalam studi perbandingan administrasi negara, yaitu:
1. semakin pentingnya analisis empiris
2. pendekatan ekologis terhadap studi perilaku administrative
3. meningkatkan perhatian terhadap pengujian teori melalui studi khusus.
Dengan 3 kecenderungan tersebut menurut Fred. W. Riggs digambarkan
akan terjadi pergeseran kearah pola yang baru. Pergeseran tersebut adalah:
1. pergeseran dari pendekatan normative menuju pendekatan yang
empiris
2. pergeseran dari pendekatan idiografis menuju kepada pendekatan yang
nomotetis
3. pergeseran dari pendekatan non-ekologis menuju ke pendekatan yang
ekologis.
Indriani Paradita – Perbandingan Administrasi Negara

Pada bab ini dibahas secara detail mengenai pergeseran pola tersebut, yaitu:
Menuju Empirisme
Pada pembahasan ini dikatakan bahwa model ini memungkinkan
penggambaran evolusi organisasi yang ada di dalam masyarakat. Terjadinya
dimulai dengan pemisahan beberapa fungsi administrasi dan juga institusi-institusi
yang khusus. Proses ini melewati jalan diferensi fungsi yang terus menerus dan
pembangunan struktur-struktur yang sesuai kearah masyarakat yang modern. Pada
pembahasan ini juga digambarkan konsep prismatic society dari riggs.

Tahap Transisional
Pada pembahasan ini dikatakan bahwa konsep diferensiasi di dalam
masyarakat tidak seharusnya segera terjadi dalam langkah yang sama. Di dalam
tingkat transisional berapa berat dari unsur-unsur tradisional atau unsur-unsur
modern tidak terbagi secara rata antara daerah kota dan daerah desa, daerah
golongan etnis tertentu ataupun golongan-golongan kelas. Atau dengan perkataan
lain, unsur-unsur tradisional dan modern tidak terbagi rata antara lingkungan
ekonomi, kultural, politik dan administrative. Jadi dapat dikatakan bahwa
lingkungan-lingkungan tersebut merupakan subsistem-subsistem dalam
masyarakat.
Pada pembahasan ini juga dijelaskan bahwa untuk mengkaji suatu
fenomena dalam suatu masyarakat khususnya studi administrative, maka
diperlukan sifat yang hati-hati untuk mengambil suatu kesimpulan atas
pengalaman dalam suatu empiris, karena itu studi empiris ini memakan waktu
yang panjang agar didapatkan hasil yang dapat dipergunakan sebagai bahan dalam
penafsiran yang benar-benar mendalam.

Pendekatan Nomotetis
Pada pembahasan ini dijelaskan mengenai pandangan Riggs dalam studi
perbandingan berkaitan dengan data idiografis sebagai hal yang pokok dalam
studi perbandingan. Contoh: laporan bersifat idiogradis mengenai lapangan
tertentu, termasuk studi pemerintahan Amerika-nasional, Negara Bagian, dan
WASKITA Vol .. No .. Tahun Terbit

Lokal belum mempergunakan analisis nomotetis walaupun setiap laporan


mengandung berbagai unsur nomotetis.

Pendekatan Ekologi
Pada pembahasan ini dikatakan bahwa studi ini dikembangkan untuk
menyelidiki ekologi manusia dimana ternyata manusia pun mempunyai hubungan
pengaruh timbal balik dengan lingkungannya. Yang dimaksud dengan lingkungan
hidup (environment) adalah keadaan sekitar yang melingkupi atau mengelilingi
suatu organisme hidup atau kehidupan. Lingkungan hidup mempunyai beberapa
faktor yang disebut faktor lingkungan hidup.

Analogi
Pada pembahasan ini dijelaskan bahwa sebagai akibat adanya perbedaan-
perbedaan variabel dalam garis lurus pembangunan, maka variabel-variabel ini
tidak dapat menjelaskan karena apa dan bagaimana pembangunan suatu negara itu
berlangsung, sekalipun variabel itu dapat mendefinisikan dan mengoperasionalkan
konsep pembangunan itu sendiri. Karena hal tersebut, cara yang sama dapat dicari
analogi untuk pembangunan dengan harapan agar apa yang dimaksudkan dengan
pembangunan dapat operasional lebih tepat dan terukur.

Pendekatan Silang Budaya

Bab ini membahas kaitan dari variabel-variabel dalam pendekatan silang


budaya serta melakukan perbandingan dengan pandangan Fred. W. Riggs. Pada
bab ini digambarkan mengenai perangkat koordinat Cartesian. Dengan
meletakkan satu koordinat yang mengukur tingkat pembangunan dan koordinat
lain untuk variabel yang lain. Ada beberapa kemungkinan yang terdapat, yaitu:
1. kalau variabel kedua berhubungan secara langsung dengan
pembangunan, maka setiap peningkatan rata-rata pembangunan sesuai
dengan peningkatan variabel yang bersangkutan, diperoleh garis lurus
I.
Indriani Paradita – Perbandingan Administrasi Negara

2. bila keterbukaan itu sebaliknya, maka kita bisa mengubah menjadi


korelasi langsung dengan mengambil hubungan timbal balik variabel
tersebut sehingga dapat kita asumsikan bahwa semua kasus berkaitan
langsung atau tidak langsung tergambarkan dalam garis I.
3. variabel-variabel lain mungkin dapat dikorelasikan dengan
pembangunan secara non-linier.
4. Kurva menunjukkan bahwa unsur-unsur sosial dan budaya tidak
pernah mengalami perubahan yang teratur dalam hubungannya dengan
proses pembangunan.
Pada pembahasan ini juga digambarkan mengenai tingkat kepekaan
variabel yang digunakan untuk mengukur tingkat kepekaan dari berbagai variabel
pembangunan. Dengan mengukur tingkat korelasi setiap variabel dengan tingkat
pembangunan, maka akan dapat ditemukan tingkat kepekaan itu.
Variabel-variabel yang dibahas yaitu:
1. variabel dasar-dasar ekonomi (economics foundation)
Pola ini memandang masyarakat sebagai sesuatu tempat transaksi
antara benda-benda yang semuanya dipandang mempunyai nilai
ekonomi. Konsekuensinya terhadap sistem administrasi negara ialah:
a. tenaga kerja dipandang sebagai barang ekonomi, sehingga gaji
seorang pekerja dipandang sebagai harga daripada tenaga kerja
tersebut.
b. Konsekuensi yang lain menyebabkan pihak pekerja akan selalu
berusaha untuk meningkatkan harga daripada tenaga kerjanya,
dengan meningkatkan mutu dari kecakapannya disatu pihak, dilain
pihak berusaha untuk menjual tenaganya dengan imbalan gaji yang
lebih tinggi, loyalitas institusionalnya kurang.
c. Marketisasi membutuhkan aparat yang cukup efisien untuk
mengatur dan mempengaruhi mekanisme pasar, akibatnya amerika
dibutuhkan birokrasi yang besar
2. variabel susunan-susunan sosial (social structur)
WASKITA Vol .. No .. Tahun Terbit

Pada pembahasan ini dijelaskan bahwa pada setiap masyarakat


terdapat dua tipe organisasi atau pengelompokan kecil, yaitu:
a. Tipe kelompok primer (Primary Organization), misalnya adalah
organisasi-organisasi yang bersifat kekeluargaan.
b. Tipe kelompok sekunder (Secondary Organization), misalnya
adalah organisasi-organisasi yang bersifat pamrih.
3. variabel jaringan komunikasi (communications network)
Di dalam bidang komunikasi sudah popular dikenal istilah dan
pengertian mobilisasi atau asimilasi. Mobilisasi terjadi apabila telah
terjadi proses komunikasi antar kelompok di dalam masyarakat.
Sebagai akibatnya, jika suatu gejala dimana didalam masyarakat tadi
terbentuk norma-norma atau nilai-nilai yang sama, dan tercipta
semacam kesatuan Bahasa. Selama mobilisasi belum tercipta, masalah
asimilasi bukanlah merupakan masalah yang memerlukan perhatian
khusus. Tetapi sekali terjadi proses mobilisasi, maka masalah asimilasi
merupakan masalah yang mendesak, karena ini merupakan dasar dari
proses komunikasi. Asimilasi dapat dipermudah dengan adanya
kesamaan Bahasa, agama, pandangan politik dan sebagainya.
4. variabel pola-pola ideology (Idiological symbol pattrens)
Pada pembahasan ini dikatakan bahwa Harold Lasswell dan
Abraham Kapian mengemukakan dan membedakan adanya tiga
tingkatan simbol-simbol politik yakni Mite (myths), formula
(formulas), dan kode (codes). Masing-masing dikemukakan dengan
contoh berikut:
a. Mite, yakni norma-norma yang menyangkut hakikat dari
kedaulatan negara-negara, hak-hak dan kebebasan dasar manusia,
tujuan yang paling fundamental dari negara.
b. Formula, yaitu peraturan-peraturan yang menentukan struktur
pemerintahan hak-hak dan kewajibannya, bagaimana mereka
dipilih dan sebagainya.
Indriani Paradita – Perbandingan Administrasi Negara

c. Kode, yaitu rumusan-rumusan tertentu seperti undang-undang


biasa, peraturan-peraturan, kebijaksanaan pemerintah dan lain
sebagainya.
5. variabel sistem politik (political system)
Pada pembahasan ini dikatakan bahwa political system terutama
sekali berkaitan dengan masalah kekuatan atau power. Dan masalah
power ini merupakan suatu masalah yang menjadi pembahasan baik di
dalam politik maupun administrasi negara.
Ada pendapat terkemuka menyebabkan bertambahnya kekuasaan
birokrasi (adminitrasi negara) tidaklah menjamin adanya efisiensi
administrasi. Efisiensi akan timbul jika kekuatan-kekuatan non-
birokrasi atau kekuatan-kekuatan politik dari partai, media massa,
cukup kuat untuk mengawasi birokrasi tadi. Kekuasaan birokrasi yang
terlalu besar mengakibatkan tidak adanya pengawasan terhadap
kekuasaan birokrasi. Sehingga dikehendaki bahwa suatu sistem akan
bekerja dengan baik jika ada keseimbangan diantara kekuasaan
birokrasi dengan kekuatan luar birokrasi. Keadaan demikian
diidamkan sebagai sesuatu yang merupakan keseimbangan politik.

Pendekatan Struktural dan Pendekatan Fungsional

Pada bab ini digambarkan model pendekatan structural dan pendekatan


fungsional. Dimana Karl. W. Deutseh mengatakan bahwa kita mempergunakan
model-model dengan kelemahan atau tidak, bilamana kita akan mencoba berpikir
secara sistematis tentang sesuatu sebulatnya). Sedangkan Riggs mengakatan
bahwa sebagaimana digunakan disini model menunjuk kepada sesuatu susunan
daripada simbol-simbol dan aturan-aturan pelaksanaanya yang kita bayangkan
sebagai mempunyai pasangan dengan dunia kenyataan. Lingkaran misalnya dapat
digunakan sebagai model untuk mencirikan bentuk dari basi atau tunjuk. Model
hanyalah suatu persepsi atau pendekatan-pendekatan, demikian Siffin. Selanjutnya
model adalah konsep-konsep atau sistem-sistem daripada konsep (teori) untuk
WASKITA Vol .. No .. Tahun Terbit

menyatakan dengan mana data dikumpulkan, diklasifikasi dan juga bila perlu
dianalisis, dan akhirnya kesimpulan seberapa dapat dirumuskan.
Bab ini membahas mengenai kelemahan pendekatan structural dan
kelebihan pendekatan fungsional yang dapat mengatasi kelemahan dari
pendekatan structural tersebut. Kelemahan daripada pendekatan structural dalam
studi perbandingan ilmu politik antara lain adalah:
a. hanya memperbandingkan lembaga-lembaga legislatif, partai-partai
politik dan lain-lain yang mungkin keberatan institusi-intitusi seperti
itu ada dalam berbagai sistem politik tetapi tidak mempunyai struktur
yang sama, atau strukturnya sama tetapi fungsinya berbeda.
b. Tidak cukup dipergunakan dengan hasil baik jika dipergunakan untuk
negara-negara yang kondisinya berbeda.
c. Adanya gejala formalisme di dalam negara-negara yang sedang
berkembang/transisi itu, yakni ketidaksamaan antara apa yang formal
dikehendaki dengan bagaimana kenyatannya, bagaimana tingkah laku,
perbuatan dan tindakan dalam realitanya.
Bab ini membahas bagaimana sistem administrasi negara disaat
perkembangan awal institusi-intitusi yang ada. Oleh Riggs telah dicoba untuk
mengelompokkan serta mengkategorikan isi daripada bahan-bahan itu, menurut
penglihatannya dapat dijadikan atas kelompok-kelompok berikut ini.
a. Kelompok tradisional yang di modifikasi, tentang metode-metode yang
tradisional tetapi telah mengalami perubahan seperlunya. Termasuk
kedalam kelompok ini juga ialah studi perbandingan tentang suatu
administrasi negara secara keseluruhan sistemnya atau bagian-bagian
tertentu saja. Hasil studi kelompok ini banyak ditulis oleh Ferrel
Heady.
b. Kelompok yang berorientasi pembangunan, tentang usaha menemukan
atau mengidentifikasi kondisi-kondisi atau persyaratan-persyaratan
dalam mana dilakukan usaha untuk mencapai tingkat kemajuan yang
optimal, serta kondisi-kondisi yang mengikuti atau mempengaruhi
kemajuan atau tingkat kemajuan yang dicapai. Usaha dalam kelompok
Indriani Paradita – Perbandingan Administrasi Negara

ini banyak menghasilkan kepustakaan dalam development


administration.

Saran atas Kekurangan dan Kelebihan Buku

Pada buku ini terdapat istilah teknis yang ditampilkan dihalaman paling
awal setiap bab, sebaiknya istilah teknis diletakkan dibagian akhir bab agar
pembaca lebih fokus terhadap isi pada pembahasan bab tersebut.
Kemudian, pada buku ini terdapat soal latihan, akan tetapi tidak semua bab
disertakan soal latihan akan lebih baik jika semua bab ada soal latihannya untuk
menguji pemahaman pembaca setelah mengkaji isi dari bab tersebut.
Penjelasan di setiap bab pada buku ini sudah sangat bagus jelas akan tetapi
terlalu terfokus pada tulisan dan hanya menampilkan sedikit gambar sehingga bisa
saja kurang menarik minat pembaca.

Anda mungkin juga menyukai