Pemikiran Kalam Murji'ah
Pemikiran Kalam Murji'ah
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam
DISUSUN OLEH :
2022
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan baik. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
ii
DAFTAR ISI
JUDUL…………………………………………………………......…..…… i
KATA PENGANTAR………………………………………………..….… ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………...………... 1
B. Rumusan Masalah…………………………………………..………..... 3
C. Tujuan Penulisan…………………………………………………......... 3
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………..….…. 4
F. Perkembangan Murji’ah…………………………...…………………. 19
A. Kesimpulan………………………………………………………........ 22
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….……. 23
iii
BAB I
PENDAHULUAN
Setelah wafat nya Nabi Muhammad Saw, dalam ajaran islam banyak
ditemukan aliran- aliran dan teologi-teologi. jika sebelumnya semua masalah
dikembalikan pada beliau, maka setelah Nabi wafat Al-Qur’ān dan hadith
menjadi pegangan. Namun, masalah semakin komplit dan Al-Qur’ān masih
sangat universal. Interpretasipun dilakukan dan menjadi pegangan. Sebagai hasil
sebuah pemikiran, lahirlah berbagai perbedaan dari rujukan yang sama.
Aliran murji’ah merupakan salah satu aliran teologi islam yang muncul pada
abad pertama hijriah. Pendirinya tidak diketahui dengan pasti, akan tetapi menurut
Syahristani dalam bukunya bahwa orang pertama yang membawa paham ini
adalah Gailan ad-Dimasyqi.1
Sebagaimana halnya dengan kaum khawarij dan syiʻah, murji’ah pada mulanya
juga ditimbulkan oleh persoalan politik. Dalam suasana konflik yang ditimbulkan
oleh kaum khawarij dan syiʻah itulah muncul suatu golongan baru yang ingin
bersikap netral yang tidak mau terlibat dalam pertentangan-pertentangan yang
terjadi diketika itu dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir
atau tidak kafirnya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan. Bagi kaum
murji’ah mereka yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat
dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar, mereka tidak menyalahkan
siapa yang benar dan siapa yang salah, mereka lebih menyerahkan semua urusan
kepada Allah Swt, untuk mengampuni atau tidak mengampuninya pada hari
kiamat kelak.2
1
Ensiklopedi Islam jilid 3, cet. X, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002), h. 301
2
Harun Nasution, Teologi Islam,cet, V, ( Jakarta: UI-Press, 2011), h. 22
1
Keberadaan murji’ah banyak yang belum diketahui, tidak seperti
khawarij, syiʻah dan aliran lain. Keberadaanya sudah lama tenggelam seiring
perkembangan Islam. Pencetus dan pengikut murji’ah ekstrim mungkin harus
bertanggung jawab atas semuanya. Karena merekalah yang membuat murji’ah
terkesan negatif dan ditinggalkan pada masa-masa selanjutnya. Namun, ajaran-
ajarannya yang moderat masih banyak ditemukan walau tidak dalam murji’ah
formal sebagai sebuah aliran.
Aliran Murji’ah merupakan salah satu aliran yang dipelajari dalam Teologi
Islam.Munculnya aliran ini dilatarbelakangi oleh persoalan politik, yaitu soal
khalifah (kekhalifahan).Setelah terbunuhnya khalifah Usman ibn Affan, umat
Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Mu’awiyah.
Kelompok Ali lalu terpecah pula kedalam dua golongan yaitu golongan yang setia
membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut
Khawarij).
Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij
dalam merebut kekuasaan, kelompok Mu’awiyah lalu membentuk dinasti
Umaiyah. Syiah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syiah
menentang Mu’awiyah karena menuduh Mu’awiyah merebut kekuasaan yang
seharusnya milik Ali dan keturunannya.
Melalui makalah kami ini penyusun berharap agar pembaca bisa lebih
mengenal tentang peradapan Islam khususnya dalam mempelajari kaum Murji’ah
agar semakin memperluas wawasan tentang ke-Islaman.
2
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulis
3
BAB II
PEMBAHASAN
Murjiah adalah salah satu aliranteologi dalam Islam yang berkembang pada
abad pertama Hijriah. Aliran Murji’ah terkait dengan pendapat sebagian umat
Islam yang menganggap bahwa penentuan hukum atas konflik politik antara
kelompok Ali bin Abi Tholib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Khawarij,
ditunda sampai hari perhitungan kelak.
Murji’ah tidak berani berpendapat siapa yang salah diantara ketiga golongan
tersebut. Paham itu bertalian dengan nam aliran Murji’ah.
Dikutib dari artikeldalam Jurnal Kajian Islam yang bertajuk “Al Khawarij dan
Al Murji’ah: Sejarah dan Pokok Ajarannya”(2017), kelompok Murji’ah muncul
pertama kali pada era akhir pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Kemudian,
ada sekelompok sahabat yang memilih menarik diri dari pertingkaian terebut dan
akhirnya mereka disebut golongan Mur’ah.
Sedangkan merujuk ulasan dari Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam yang
berjudul “Khawarij dan Murji’ah: Perfektif Ilmu Kalam”(2018), sebagaimana ahli
sejarah menyebut yang dibawa oleh Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah
(cucu Ali bin Abi Tholib) pada tahun 695 H.
4
Peristiwa Tahkim membuat kelompok Ali bin Abi Tholib terpecah menjadi
golongan pro dan kontra. Kelompok yang kontra, dan kemudian menjelma
Khawarij, menuding tahkim merupakan perupakan perbuatann dosa besar dan
pelakunya dapat dihukumi kafif.
Kelompok yang pro mengatakan bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin dan
dosanya diserahkan kepada Allah SWT. Kelompok pro ini yang pada akhirnya
disebut Murji’ah.
Nama Murji’ah sendiri berasal dari kata Arab yaitu irja’ atau arja’a yang
memiliki pengertian tidan hanya satu arti.
Kata murji’ah berasal dari kata Arab arja’a yang artinya bisa bermacam-macam
yaitu:
1. Menunda (menangguhkan),
2. Memberi harapan
3. Mengesampingkan.
5
Sedangkan murji’ah dalam pengertian mengesampingkan maksudnya adalah
bahwa golongan ini menganggap yang penting dan di utamakan adalah iman,
seangkan amal perbuatan hanya merupakan soal kedua, yang menentukan
mukmin atau kafirnya seseorang adalah imannya bukan perbuatannya. Dengan
demikian, iman lebih penting dibandinkan perbuatan, sedangkan perbuatan
dikesampingkan.3
Aliran ini muncul dilatarbelakangi oleh persoalan politik, yaitu soal khilafah
(kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat islam pada
masa itu terpecah kedalam tiga kelompok yaitu golongan Khawarij, Syiʻah dan
Muawiyah. Dalam merebut kekuasaan, kelompok muawiyyah membentuk Dinasti
Umayyah. Syiʻah dan Khawarij sama-sama menentang kekuasaannya. Syiʻah
menentang Muawiyyah karena menuduh Muawiyyah merebut kekuasaan yang
seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung
muawiyyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran islam. Dalam pertikaian
antara ketiga golongan tersebutlah terjadi saling mengkafirkan, sampai akhirnya
muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam
pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang
menjadi golongan Murji’ah.4
Seperti arti dari murji’ah yang ketiga adalaah mengesampingkan, jadi golongan
murji’ah berpendapat bahwa yang terpenting dalam kehidupan beragama adalah
aspek iman dan kemudian amal. Walaupun seseorang telah melakukan dosa besar,
3
M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam,cet I,(Jakarta: Amzah, 2012), h. 24-25
4
Ensiklopedi Islam..., h. 301
6
selama masih meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad
utusanNya, maka ia tetap dianggap mukmin bukan kafir, adapun mengenai dosa
yang dilakukannya terserah Allah akan diampuni atau tidak, pendapat ini menjadi
doktrin ajaran murjiah, dan pendapat ini berlawanan dengan pendapat kaum
khawarij yang menyatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir.
Pendapat yang seperti ini dapat disimpulkan bahwa yang terpenting dan yang
paling diutamakan bagi golongan murji’ah adalah iman, sedangkan perbuatan
merupakan soal kedua. Jadi, yang menentukan seseorang itu mukmin atau kafir
adalah kepercayaan atau keimanannya saja, dan bukan perbuatan dan amalannya.
Akibat dari pendapat yang demikian yang menganggap bahwa perbuatan itu tidak
penting membawa golongan murjiah ini kedalam beberapa paham-paham yang
ekstrim.
1. Permasalahan Politik
Dalam suasana pertentangan inilah, timbul suatu golongan baru yang ingin
bersikap netral tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi
antara golongan yang bertentangan ini.Bagi mereka sahabat-sahabat yang
7
bertentangan ini merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar
dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat siapa
sebenarnya yang salah, dan lebih baik menunda (arja’a) yang berarti penyelesaian
persoalan ini di hari perhitungan di depan Tuhan.
Gagasan irja’ atau arja yang dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan
tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat islam ketika terjadi pertikaian
politik dan juga bertujuan menghindari sekatrianisme.
2. Permasalahan Ke-Tuhanan
8
Tuhan mau memaafkan ia akan langsung masuk surga, sedangkan jika tidak, maka
ia akan disiksa sesuai dengan dosanya, setelah ia akan dimasukkan ke dalam
surga. Dan mengakhirkan dimaksudkan karena mereka memandang bahan
perbuatan atau amal sebagai hal yang nomor dua bukan yang pertama.Selanjutnya
kata menangguhkan, dimaksudkan karena mereka menangguhkan keputusan
hukum bagi orang-orang yang melakukan dosa di hadapan Tuhan.
Disamping itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nama Murji’ah yang
diberikan pada golongan ini, bukan karena mereka menundakan penentuan hukum
terhadap orang islam yang berdosa besar kepada Allah di hari perhitungan kelak
dan bukan pula karena mereka memandang perbuatan mengambil tempat kedua
dari iman, tetapi karena mereka memberi pengharapan bagi orang yang berdosa
besar untuk masuk surga. Golongan Murji’ah berpendapat bahwa yang terpenting
dalam kehidupan beragama adalah aspek iman dan kemudian amal. Jika seseorang
masih beriman berarti dia tetap mukmin, bukan kafir, kendatipun ia melakukan
dosa besar. Adapun hukuman bagi dosa besar itu terserah kepada Tuhan, akan ia
ampuni atau tidak. Pendapat ini menjadi doktrin ajaran Murji’ah.
Nama murji’ah di ambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan,
penangguhan, dan pengharapan.Yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar
untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah.Selain itu, arja’a berarti pula
meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan
amal dari iman.Oleh karena itu murji’ah, artinya orang yang menunda penjelasan
kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta
pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.
9
Teori lain mengatakan bahwa gagasan irja, yang merupakan basis doktrin
murji’ah. Muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang di perlihatkan oleh
cucu Ali bin Abi Thalib. Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, sekitar tahun
695. Penggagas teori ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah kematian
Muawiyah, pada tahun 680, dunia islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Teori lain
menceritakan bahwa ketika terjadi perseteruan antara Ali dan Muawiyah,
dilakukan tahkim (arbitrase) atas usulan Amr bin Ash, seorang kaki tangan
Muawiyah.Kelompok Ali terpecah menjadi dua kubu, yang pro dan yang
kontra.Kelompok kontra yang akhirnya menyatakan keluar dari Ali, yakni kubu
khawarij.Mereka memandang bahwa tahkim bertentangan dengan Al-Qur’an,
dalam pengertian, tidak bertahkim berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu,
mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim itu dosa besar, dan pelakunya dapat
dihukumi kafir, sama seperti perbuatan dosa besar lain, seperti zina, riba,
membunuh tanpa alasan yang benar durhaka kepada orang tua, serta memfitnah
wanita baik-baik. Pendapat ini ditentang sekelompok sahabat yang kemudian di
sebut murji’ah. Yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak
kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah.
B. Doktrin-doktrin Murji’ah
5
Rozak Abdul, 2001,Ilmu Kalam(Bandung: CV Pustaka Setia). Hal. 58
Ibid. Hal. 58
10
Doktrin teologi Murji’ah menurut Harun Nasution menyebutkan empat ajaran
pokok, yaitu :
1. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr Bin Ash, dan Abu Musa Al-
Asy’ary yang terlibat tahkim dan menyerahkan kepada Allah di hari kiamat
kelak.
Sekte dalam aliran Murji’ah tidak jelas jumlahnya karena masing-masing ahli
memiliki pendapat masing-masing. Al-Baghdadi membagi mereka dalam tiga
golongan , yaitu al-Murji’ah yang dipengaruhi ajaran-ajaran al-Qodariyah, al-
Murji’ah yang yang dipengaruhi ajaran-ajaran al-Jabariyah, dan al-Murji’ah yang
tidak dipengaruhi keduanya. Golongan ketiga ini terdiri dari lima sekte, yaitu al-
Yunusiyah, al-Ghazaniyah, al-Saubaniyah, al-Tumaniyah, dan al-Murisiyah. Al-
Asy’ary membagi menjadi 12 golongan, sedangkan al-Syahrastani membagi
menjadi tiga sekte, yaitu al-Murji’ah al-Khawarij, al-Murji’ah al-Jabariyah, dan
al-Murji’ah asli.7
Aliaran murji’ah dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu golongan
moderat dan golongan ekstrem.
6
Rozak Abdul, 2001,Ilmu Kalam(Bandung: CV Pustaka Setia). Hal. 58
Ibid. Hal. 58
7
Nurdin, M. Amin, 2011, Sejarah Pemikiran Isalm(Jakarta: Teruna Grafika). Hal. 27
11
Al-Murji’ah moderat disebut juga al-Murji’ah al-Sunnah yang pada umum
terdiri dari para fuquha dan muhditsin. Mereka berpendapat bahwa orang berdosa
besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, dia akan dihukuk dalam
neraka sesuai dosa yang telah diperbuatnya dan kemungkinan Allah bisa
mengampuni dosanya. Dengan demikian, Murji’ah moderat masih mengakui
keberadaan amal perbuatan dan mengakui pentingnya amal perbutan manusia,
meskipun bukan bagian dari iman. Yang termasuk golongan al-Murji’ah moderat,
di antaranya al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Tholib, Abu Hanifah, Abu
Yusuf, dan beberapa ahli hadis.
1. Yunusiyyah
Yunusiyyah adalah kelompok yang dipelopori oleh Yunus ibn ‘Aun an-
Numairi. Menurut kelompok ini iman adalah mengenal Allah dengan mentaati
semua perintahNya dan menyerahkan segala urusan kepada Allah dan mencintai
Allah dengan sepenuh hati, bersikap rendah hati dan tidak kufur. Sedangkan kufur
adalah kebalikan dari itu. Iblis dikatakan kafir bukan karena tidak percaya kepada
Allah Swt, melainkan karena ketakaburannya kepada Allah. Sebagaimana fiman
Allah Swt.
12
Menurut Yunus barang siapa yang menanamkan rasa kepatuhan hanya kepada
Allah semata dan mencintai Allah dengan sepenuh hati, sekalipun ia melakukan
maksiat, tidaklah hal itu mengurangi nilai iman dan keikhlasannya kepada Allah,
karena mereka meyakini bahwa perbuatan jahat dan maksiat tidak merusak
iman seseorang.8
Dari uraian diatas kita telah mengetahui bahwa menurut kelompok ini selama
seseorang itu masih mencintai Allah dengan sepenuh hati, walaupun berbuat
maksiat tetap akan masuk surga, karena yang menyebabkan seseorang itu masuk
surga adalah keiklasan dan kecintaan nya kepada Allah.
2. ‘Ubaidiyyah
Kelompok ini dipelopori oleh Ubaid al-Muktaib, menurut dia semua dosa
selain syirik pasti akan diampuni. Apabila ada yang meninggal sebagai seorang
yang mengesakan (muwahhid), katanya tidak ada dosa yang telah ia lakukan atau
kejahatan yang telah ia kerjakan akan menghancurkannya.9
Jadi dari urain diatas dapat disimpulkan bahwa kelompok ‘ubaidiyah ini
berpendapat hampir sama dengan pendapat Yunusiyyah. Akan tetapi mereka
mempunyai pendapat yang lain yang bahwa seseorang yang meninggal dalam
keadaan masih memiliki ketauhidan tidak akan merugikannya, karena perbuatan
jahat tidak merusak iman. Begitupun sebaliknya perbuatan baik yang dilakukan
oleh orang-orang kafir tidak akan memperbaiki posisi orang kafir.
3. Ghassaniyyah
13
tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, orang
yang demikian tetap mukmin dan bukan kafir. Dan jika seseorang mengatakan,
saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji ke ka’bah tetapi saya tidak tau apakah
Ka’bah di india atau tempat lain, orang demikian juga tetap mukmin. Artinya
keyakinan-kayakinan seperti itu berada diluar persoalan keimanan, tidak ada
hubungannya dengan iman. Jadi orang tersebut pada dasarnya tidak meragukan
hal-hal tadi, karena setiap orang yang berakal pasti tidak meragukan dimana
ka’bah dan pasti tahu perbedaan antara kambing dan babi.10
4. Tsaubaniyyah
Golongan ini juga berpendapat bahwa jika Allah mengampuni seorang pendosa
pada hari kiamat, Ia akan mengampuni setiap pendosa yang beriman yang berada
pada posisi yang sama. sekali lagi, jika Ia mengeluarkan seseorang dari neraka, Ia
juga akan mengeluarkan setiap orang lainnya yang berada pada posisi yang
sama.11
5. Shalihiyyah
Shalihiyyah diambil dari nama tokohnya Shalih ibn Umar Al-Shalihi. Menurut
paham ini, iman adalah semata-mata pengenalan kepada Allah sebagai sang
pencipta, sedangkan kekafiran adalah ketidaktahuan terhadap Allah, menurutnya
shalat bukan ibadah, kecuali dari orang yang beriman kepada-Nya, karena ia telah
mengenal-Nya. Iman meliputi pengenalan akan Allah. Ini merupakan kualitas
yang tidak terbagi, yang tidak bertambah dan berkurang, demikian juga kekafiran
10
Imam Muhammad, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, terj. Abd Rahman Dahlan, cet. I,
( Jakarta: logos Publishing House, 1996),h.146
11
Asy-syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal...,h. 219
14
merupakan kualitas yang tidak terbagi, yang tidak bertambah dan tidak
berkurang.12
6. Marisiyyah
Marisiyyah dipelopori oleh Bisyar Al- Marisy. Paham ini meyakini iman
adalah selain meyakini dalam hati bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
Muhammad itu Rasul-Nya juga harus di ucapkan secara lisan, maka tidak
dikatakan iman jika tidak diyakini dalam hati dan di ucapkan secara lisan.
7. Karamiyyah
Sebagai aliran yang berdiri sendiri, kelompok Murji’ah ekstrem sudah tidak
didapati lagi sekarang, walaupun demikian, ajaran-ajarannya dan pengaruh-
pengaruhnya masih didapati pada sebagian umat Islam. Adapun ajaran-ajaran dari
kelompok Murjiah moderat, terutama mengenai pelaku dosa besar serta
pengertian iman dan kufur, menjadi ajaran yang umum disepakati oleh umat
Islam.
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa paham Murjiah banyak yang tidak
ditemukan lagi sebagaimana aliran lain. Bahkan keberadaannya seakan hilang
ditelan masa dan hanya tinggal sejarah. Namun praktik-praktik ajarannya masih
banyak kita temukan dikalangan masyarakat dewasa ini. Hanya saja tidak
dinamakan lagi dengan aliran murji’ah, tetapi dinamakan dengan aliran lain.
12
Ensiklopedi Islam jilid 3, cet. X, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 200), hal. 302
13
Ensiklopedi Islam..., h. 303
15
Walaupun hal ini tidak bisa dipastikan sebagai pengaruh ajaranya, karena tidak
mungkin sesuatu yang tidak saling berinteraksi akan saling mempengaruhi.
Namun apa yang tampak tetap tidak bisa dipungkiri sebagai pengaruh dari ajaran
Murji’ah.
1. Taklid
Menjadi hal yang biasa ketika ada anak yang lahir dari orang tua muslim juga
dikatakan seorang muslim. Padahal mereka belum tahu tentang apa itu Islam
bahkan kadang sampai masa dewasanya. Khususnya mereka yang dari kecil
sangat sedikit mengenyam pendidikan keagamaan. Mereka Islam hanya ikut-
ikutan atau bisa dibilang turunan. Ketika ditanya tentang agama, mereka begitu
antusias menjawab “Islam” bahkan ada yang memberi embel-embel Ahlu Sunnah
Wa Jama’ah tanpa lebih dulu tau akan semuanya. Pada hal dalam aliran Ahlu
Sunnah Wa Al-Jama’ah sendiri tidak diperbolehkan taklid dalam akidah.
Kebolehan taklid dalam akidah hanya ditemukan dalam ajaran murji’ah
sebagaimana sebagian pendapat di atas. Secara tidak sadar sebenarnya mereka
bukan Ahlu Sunnah Wa Jama’ah.
Menunda - nunda baik dalam urusan dunia maupun akhirat sudah menjadi
kebiasaan dan hal yang lumrah dan masyarakat sekarang ini. Dalam hal pekerjaan,
menunda menyelesaikan sebuah tugas sudah menjadi biasa. Apalagi dalam hal
taubat, begitu banyak dosa dan maksiat yang dilakukan dan menunggu masa tua
untuk bertaubat.
Sudah diketahui sebelumnya bahwa termasuk salah satu ajaran Murji’ah adalah
tidak berpengaruhnya amal akan keimanan seseorang. Meskipun mereka yang
beriman tidak menjalankan syari’at bahkan menentangnya, mereka tetap tidak
kufur dan bisa masuk surga. Hal ini sudah menjadi pegangan masyarakat dan
16
dalih mereka ketika melakukan dosa atau bahkan menentang agama. Tidak ada
yang berhak memberikan hukuman atau menentukan iman dan tidak imannya
seseorang selain Tuhan sendiri. Dan mereka tetap memiliki bagian di surga
dengan secuil iman meskipun tanpa amal sebagai penghargaan.
4. Pengampunan Tuhan
Pemimpin utama Madzhab murji’ah ialah Hasan ibn Bilal Al Muzni, Abu Salat
As-Sammam dan Dirar ibn Umar. Untuk mendukung perjuangan
pendapat Murji’ah ini pada masa Umayyah telah muncul sebuah syair
yang terkenal tetang i’tikad dan keyakinan Murji’ah yang di gubah oleh Tsabiti
Quthnah.14
14
Yusran Asmuni, ilmu tauhid (cv pedoman ilmu jaya jakarta kramat jaya 3 j)
17
Murji’ah yang moderat antara lain Hasan ibn Muhammad ibn Abi Thalib antara
lain berpendapat walau bagaimanapun besar dosanya, kemungkinan pengampunan
Tuhan masihada.Dan yang ekstrim antara lain Al-Jahmiyah,As- Sahalihiyah, Al-
Yunusiy .Al-Ubaidiyah dan Al-Hasaniyah.
18
Secara fisik Murji’ah lenyap bersama turunnya Bani Ummayah. Namun dalam
sejarah perkembangannya cukup banyak mengisi lembaran sejarah. Dalam politik
mereka sebagai moderator yang tidak mudah apriori dan dalam teologi termasuk
orong yang berhati-hati dalam menghukum orang sebagai kafir.
Aliran Murji’ah ini sangat berkembang sangat subur pada masa pemerintahan
Dinasti Bani Umayyah. Aliran ini tidak memberontak pada pemerintah, karena
bersifat netral dan tidak memusuhi pemerintah yang sah. Dalam perkembangan
yang berikutnya, lambat laun aliran ini tidak mempunyai bentuk lagi. Bahkan
beberapa jajarannya diakui oleh aliran kalam yang berikutnya. Sebagai aliran yang
berdiri sendiri, gologngan Murji’ah modern telah hilang dalam sejarah dan ajaran-
ajaran mereka mengenai iman, kufr, dan dosa besar masuk ke dalam aliran Ahli
Sunnah Wal Jama’ah. Sementara itu, golongan Murji’ah ekstrim pun sudah hilang
dan tidak ditemui lagi sekarang. Namun ajaan-ajarannya yang ekstrim itu masih
didapati pada sebagaian umat Islam yang menjalankan ajaran-ajarannya.
Kemungkinan merek tidak sadar bahwa mereka sebenarnya mengikuti ajaran-
ajaran golongan Murji’ah
Kelebihan dari aliran ini adalah golongan ini tidak akan memudaratkan
perbuatan maksiat itu terhadap keimanan. Demikian juga sebaliknya, “tidaklah
akan memberi manfaat dan memberi faedah ketaatan seseorang terhadap
kekafirannya”. Artinya, tidaklah akan berguna dan tidaklah akan diberi pahala
perbuatan baik yang dilakukan oleh orang kafir. Maka dari itu, mereka tidak mau
mengkafirkan seseorang yang telah masuk Islam, sebab golongan ini sagat
mementingakan kewajiban sesama manusia.
19
Kekurangan aliran ini adalah lebih mementingkan urusan dunia dari pada
akhirat.Karena menurut mereka, iman adalah mengetahui dan mengakui sesuatu
yang menurut akal wajib dikerjakan.Berarti, kelompok ini mengakui adanya
kewajiban-kewajiban yang dapat diketahui akal sebelum datangnya syariat.
Artinya :
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi
tenteram”.
Apabila seseorang sudah mempercayai Allah SWT dan rasul-rasul-Nya dan segala
sesuatu yang datang dari Allah SWT, berarti ia mukmin meskipun ia menyatakan
dalam perbuatannya hal-hal yang bertentangan dengan imannya. Seperti berbuat
dosa, menyembah berhala, dan minum-minuman keras.Golongan ini juga
meyakini bahwa surga dan neraka itu tidak abadi, karena keabadian hanya bagi
Allah SWT semata.
Artinya :
20
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Kata arji’ah mengandung arti memberi pengharapan, yaitu kepada pelaku dosa
besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah SWT. Oleh karena itu
murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang
bersengketa, yaitu Ali dan Muawwiyah.
21
Dua doktrin pokok ajaran Murji’ah yaitu yang pertama, Iman adalah cukup
dengan percaya kepada Allah SWT dan rasul-Nyayang dimana merupakan
suatu keharusan bagi adanya iman.Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap
mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang diwajibkan dan melakukan dosa
besar. Yang kedua, dasar keselamatan adalah iman semata, selama masih ada
iman di hati, setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat ataupun gangguan
atas seseorang, untuk mendapatkan pengampunan, manusia cukup hanya
menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.
Secara garis besar aliran Murji’ah terbagi ke dalam 2 sekte yaitu Murji’ah
moderat dan Murji’ah ekstrem. Tokoh Murji’ah yang moderat antara lain Hasan
ibn Muhammad ibn Abi Thalib antara lain berpendapat walau bagaimanapun
besar dosanya, kemungkinan pengampunan Tuhan masih ada. Dan yang ekstrem
antara lain Al-Jahmiyah, As- Sahalihiyah, Al-Yunusiy, Al-Ubaidiyah dan al-
Ghozaniyah
DAFTAR PUSTAKA
Maarif, Syamsul Dwi. 2021. Sejarah Murjiah Lahir serta Pemikiran Aliran
Moderat dan Ektremnya
Ensiklopedi Islam jilid 3, cet. X, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002.
http://muhsansyaif.wordpress.com/2011/03/25/aqidah-akhlak/
22
Nasution, Harun. 2010. Teologi Islam. Jakarta: UI-Press
Imam Muhammad, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, terj. Abd Rahman
Dahlan, cet. I,Jakarta: logos Publishing House, 1996.
http://makalahqwahyu.blogspot,com/2016/07/makalah-ilmu-kalam-aliran-
murjiah.html
23