0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan26 halaman

Pemikiran Kalam Murji'ah

Diunggah oleh

faisalrizqi089
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan26 halaman

Pemikiran Kalam Murji'ah

Diunggah oleh

faisalrizqi089
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PEMIKIRAN KALAM ALIRAN MURJI’AH

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam

Dosen Pengampu : Dr. Amarodin, M.Pd.I

DISUSUN OLEH :

1. Ananda Satriawan Wiguna (2022.080.29.0001)

2. Aziza Laylatul Jannah (2022.080.26.0003)

3. Ilham Ardiansyah (2022.080.29.0007)

4. Umi Saidah (2022.080.26.0025)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


DAN EKONOMI SYARIAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DIPONEGORO TULUNGAGUNG

2022

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan baik. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Sehubung dengan penyelesaian makalah tentang “ Pemikiran Kalam aliran


Murji’ah” ini kami mengucapkan terimaksih kepada:

1. Dr. H. Sukarji, M.Pd.I selaku Rektor STAI Diponegoro Tulungagung.

2. Dr. Amarodin, M.Pd.I selaku Dosen Pembimbing Ilmu Kalam.

Menyadari masih banyaknya kekurangan dalam Menyusun makalah ini. Oleh


karena itu kami sangat mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca untuk
melengkapi segala kekurangan dan kesalahan dalam laporan ini. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada pihak- pihak yang telah membantu selama
proses menyusun makalah yang kami buat ini.

Tulungagung, 26 September 2022

ii
DAFTAR ISI

JUDUL…………………………………………………………......…..…… i

KATA PENGANTAR………………………………………………..….… ii

DAFTAR ISI…………………………………………………………....….. iii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………...………... 1

A. Latar Belakang ....................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah…………………………………………..………..... 3

C. Tujuan Penulisan…………………………………………………......... 3

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………..….…. 4

A. Sejarah munculnya aliran Murji’ah………………………..…….….... 4

B. Doktrin pada aliran Murji’ah…………...………...………………..…. 10

C. Sekte dalam aliran Murji’ah……………….……………...………….. 11

D. Pengaruh aliran Murji’ah………………………………………...….... 16

E. Tokoh-tokoh aliran dalam Murji’ah………………………………….. 17

F. Perkembangan Murji’ah…………………………...…………………. 19

G. Kelebihan dan Kekurangan Murji’ah……………………...…………. 20

BAB III PENUTUP…………………………………………...………..…... 22

A. Kesimpulan………………………………………………………........ 22

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….……. 23

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setelah wafat nya Nabi Muhammad Saw, dalam ajaran islam banyak
ditemukan aliran- aliran dan teologi-teologi. jika sebelumnya semua masalah
dikembalikan pada beliau, maka setelah Nabi wafat Al-Qur’ān dan hadith
menjadi pegangan. Namun, masalah semakin komplit dan Al-Qur’ān masih
sangat universal. Interpretasipun dilakukan dan menjadi pegangan. Sebagai hasil
sebuah pemikiran, lahirlah berbagai perbedaan dari rujukan yang sama.

Aliran murji’ah merupakan salah satu aliran teologi islam yang muncul pada
abad pertama hijriah. Pendirinya tidak diketahui dengan pasti, akan tetapi menurut
Syahristani dalam bukunya bahwa orang pertama yang membawa paham ini
adalah Gailan ad-Dimasyqi.1

Sebagaimana halnya dengan kaum khawarij dan syiʻah, murji’ah pada mulanya
juga ditimbulkan oleh persoalan politik. Dalam suasana konflik yang ditimbulkan
oleh kaum khawarij dan syiʻah itulah muncul suatu golongan baru yang ingin
bersikap netral yang tidak mau terlibat dalam pertentangan-pertentangan yang
terjadi diketika itu dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir
atau tidak kafirnya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan. Bagi kaum
murji’ah mereka yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat
dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar, mereka tidak menyalahkan
siapa yang benar dan siapa yang salah, mereka lebih menyerahkan semua urusan
kepada Allah Swt, untuk mengampuni atau tidak mengampuninya pada hari
kiamat kelak.2

1
Ensiklopedi Islam jilid 3, cet. X, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002), h. 301
2
Harun Nasution, Teologi Islam,cet, V, ( Jakarta: UI-Press, 2011), h. 22

1
Keberadaan murji’ah banyak yang belum diketahui, tidak seperti
khawarij, syiʻah dan aliran lain. Keberadaanya sudah lama tenggelam seiring
perkembangan Islam. Pencetus dan pengikut murji’ah ekstrim mungkin harus
bertanggung jawab atas semuanya. Karena merekalah yang membuat murji’ah
terkesan negatif dan ditinggalkan pada masa-masa selanjutnya. Namun, ajaran-
ajarannya yang moderat masih banyak ditemukan walau tidak dalam murji’ah
formal sebagai sebuah aliran.

Aliran Murji’ah merupakan salah satu aliran yang dipelajari dalam Teologi
Islam.Munculnya aliran ini dilatarbelakangi oleh persoalan politik, yaitu soal
khalifah (kekhalifahan).Setelah terbunuhnya khalifah Usman ibn Affan, umat
Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Mu’awiyah.
Kelompok Ali lalu terpecah pula kedalam dua golongan yaitu golongan yang setia
membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut
Khawarij).

Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij
dalam merebut kekuasaan, kelompok Mu’awiyah lalu membentuk dinasti
Umaiyah. Syiah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syiah
menentang Mu’awiyah karena menuduh Mu’awiyah merebut kekuasaan yang
seharusnya milik Ali dan keturunannya.

Sementara itu Khawarij tidak mendukung Mu’awiyah karena ia dinilai


menyimpang dari ajaran Islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebut,
terjadi ditengah-tengah suasana pertikaian ini, muncul sekelompok orang yang
menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang
terjadi.Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan
“Murji’ah”.

Melalui makalah kami ini penyusun berharap agar pembaca bisa lebih
mengenal tentang peradapan Islam khususnya dalam mempelajari kaum Murji’ah
agar semakin memperluas wawasan tentang ke-Islaman.

2
B. Rumusan Masalah

Melalui makalah ini, penyusun memaparkan beberapa rumusan masalah,


sebagai berikut:

1. Bagaimana sejarah munculnya aliran Murji’ah?

2. Apa saja doktrin pada aliran Murji’ah?

3. Apa saja sekte dalam aliran Murji’ah beserta ajaran-ajarannya?

4. Apa saja pengaruh aliran Murji’ah?

5. Siapa tokoh aliran dalam Murji’ah?

6. Bagaimana perkembangan aliran Murji’ah?

7. Apa kelebihan dan kekurangan Murji’ah?

C. Tujuan Penulis

1. Mengetahui sejarah munculnya aliran Murji’ah

2. Mengetahui doktrin aliran Murji’ah

3. Mengetahui sekte dalam aliran Murji’ah beserta ajaran-ajarannya

4. Mengetahui pengaruh aliran Murji’ah

5. Mengetahui tokoh aliran dalam Murji’ah

6. Mengetahui perkembangan Murji’ah

7. Mengetahui kelebihan dan kekuranga Murji’ah

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Aliran Murji’ah

Murjiah adalah salah satu aliranteologi dalam Islam yang berkembang pada
abad pertama Hijriah. Aliran Murji’ah terkait dengan pendapat sebagian umat
Islam yang menganggap bahwa penentuan hukum atas konflik politik antara
kelompok Ali bin Abi Tholib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Khawarij,
ditunda sampai hari perhitungan kelak.

Murji’ah tidak berani berpendapat siapa yang salah diantara ketiga golongan
tersebut. Paham itu bertalian dengan nam aliran Murji’ah.

Dikutib dari artikeldalam Jurnal Kajian Islam yang bertajuk “Al Khawarij dan
Al Murji’ah: Sejarah dan Pokok Ajarannya”(2017), kelompok Murji’ah muncul
pertama kali pada era akhir pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Kemudian,
ada sekelompok sahabat yang memilih menarik diri dari pertingkaian terebut dan
akhirnya mereka disebut golongan Mur’ah.

Sedangkan merujuk ulasan dari Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam yang
berjudul “Khawarij dan Murji’ah: Perfektif Ilmu Kalam”(2018), sebagaimana ahli
sejarah menyebut yang dibawa oleh Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah
(cucu Ali bin Abi Tholib) pada tahun 695 H.

Dalam sebuah surat pendek, Al-Hasan menulis bahwa ia menolak


pendampingan dengan kelompok Syiah dan menjauhkan diri dari golongan
Khawarij. Hal tersebut ia lakukan untuk menanggulangi perpecahan umat Islam.

Sementara menurut pendapat sejarawan lainnya, aliran Murji’ah muncul di


tengah perseteruan Ali dan Muawiyah. Pendapat itu menyodorkan teori bahwa
kemunculan Murji'ah mer’pakan imbas dari peristiwa Tahkim (arbitrase) yang
menyudahi perang antara pasukan Ali dan pendukung Muawiyah.

4
Peristiwa Tahkim membuat kelompok Ali bin Abi Tholib terpecah menjadi
golongan pro dan kontra. Kelompok yang kontra, dan kemudian menjelma
Khawarij, menuding tahkim merupakan perupakan perbuatann dosa besar dan
pelakunya dapat dihukumi kafif.

Kelompok yang pro mengatakan bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin dan
dosanya diserahkan kepada Allah SWT. Kelompok pro ini yang pada akhirnya
disebut Murji’ah.

Nama Murji’ah sendiri berasal dari kata Arab yaitu irja’ atau arja’a yang
memiliki pengertian tidan hanya satu arti.

Kata murji’ah berasal dari kata Arab arja’a yang artinya bisa bermacam-macam
yaitu:

1. Menunda (menangguhkan),

2. Memberi harapan

3. Mengesampingkan.

Murji’ah dalam arti menunda (menangguhkan) maksudnya adalah bahwa


dalam menghadapi sahabat-sahabat yang bertentangan, mereka tidak
mengeluarkan pendapat siapa yang bersalah, tetapi mereka menunda dan
menangguhkan penyelesaian persoalan tersebut di hari akhirat kelak di hadapan
Allah Swt.

Murji’ah dengan arti memberi harapan, maksudnya adalah bahwa orang-orang


islam yang berbuat dosa besar tidak menyebabkan mereka menjadi kafir. Mereka
tetap mukmin dan tetap mendapatkan rahmat Allah meskipun mereka harus
masuk lebih dahulu dalam neraka karena perbuatan dosanya. Namun murji’ah
diberikan untuk golongan ini karena mereka memberi pengharapan bagi orang
yang berdosa besar untuk masuk surga.

5
Sedangkan murji’ah dalam pengertian mengesampingkan maksudnya adalah
bahwa golongan ini menganggap yang penting dan di utamakan adalah iman,
seangkan amal perbuatan hanya merupakan soal kedua, yang menentukan
mukmin atau kafirnya seseorang adalah imannya bukan perbuatannya. Dengan
demikian, iman lebih penting dibandinkan perbuatan, sedangkan perbuatan
dikesampingkan.3

Aliran ini di sebut murji’ah karena menunda penyelesaian permasalahan antara


Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyyah Ibn Abi Sufyan dan Khawarij ke hari
perhitungan di akhirat nanti. Aliran ini menyatakan bahwa orang yang berdosa
tetap mukmin selama masih beriman kepada Allah SWT dan Rasul Nya.
Sedangkan orang yang melakukan dosa besar, orang tersebut di akhirat baru
ditentukan hukuman nya.

Aliran ini muncul dilatarbelakangi oleh persoalan politik, yaitu soal khilafah
(kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat islam pada
masa itu terpecah kedalam tiga kelompok yaitu golongan Khawarij, Syiʻah dan
Muawiyah. Dalam merebut kekuasaan, kelompok muawiyyah membentuk Dinasti
Umayyah. Syiʻah dan Khawarij sama-sama menentang kekuasaannya. Syiʻah
menentang Muawiyyah karena menuduh Muawiyyah merebut kekuasaan yang
seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung
muawiyyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran islam. Dalam pertikaian
antara ketiga golongan tersebutlah terjadi saling mengkafirkan, sampai akhirnya
muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam
pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang
menjadi golongan Murji’ah.4

Seperti arti dari murji’ah yang ketiga adalaah mengesampingkan, jadi golongan
murji’ah berpendapat bahwa yang terpenting dalam kehidupan beragama adalah
aspek iman dan kemudian amal. Walaupun seseorang telah melakukan dosa besar,
3
M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam,cet I,(Jakarta: Amzah, 2012), h. 24-25

4
Ensiklopedi Islam..., h. 301

6
selama masih meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad
utusanNya, maka ia tetap dianggap mukmin bukan kafir, adapun mengenai dosa
yang dilakukannya terserah Allah akan diampuni atau tidak, pendapat ini menjadi
doktrin ajaran murjiah, dan pendapat ini berlawanan dengan pendapat kaum
khawarij yang menyatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir.

Pendapat yang seperti ini dapat disimpulkan bahwa yang terpenting dan yang
paling diutamakan bagi golongan murji’ah adalah iman, sedangkan perbuatan
merupakan soal kedua. Jadi, yang menentukan seseorang itu mukmin atau kafir
adalah kepercayaan atau keimanannya saja, dan bukan perbuatan dan amalannya.
Akibat dari pendapat yang demikian yang menganggap bahwa perbuatan itu tidak
penting membawa golongan murjiah ini kedalam beberapa paham-paham yang
ekstrim.

Asal-usul kemunculan kelompok Murji’ah dapat dibagi menjadi 2 sebab yaitu :

1. Permasalahan Politik

Ketika terjadi pertikaian antara Ali dan Mu’awiyah, dilakukanlah tahkim


(arbitrase) atas usulan Amr bin Ash, seorang kaki tangan Mu’awiyah.Kelompok
Ali terpecah menjadi 2 kubu, yang pro dan kontra.Mereka memandang bahwa
tahkim bertentangan dengan Al-Qur’an, dengan pengertian, tidak ber-tahkim
dengan hukum Allah. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa melakukan
tahkim adalah dosa besar, dan pelakunya dapat dihukumi kafir, sama seperti
perbuatan dosa besar yang lain. Seperti yang telah disebutkan di atas Kaum
khawarij, pada mulanya adalah penyokong Ali bin Abi thalib tetapi kemudian
berbalik menjadi musuhnya. Karena ada perlawanan ini, pendukung-pendukung
yang tetap setia pada Ali bin Abi Thalib bertambah keras dan kuat membelanya
dan akhirnya mereka merupakan golongan lain dalam islam yang dikenal dengan
nama Syi’ah.

Dalam suasana pertentangan inilah, timbul suatu golongan baru yang ingin
bersikap netral tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi
antara golongan yang bertentangan ini.Bagi mereka sahabat-sahabat yang

7
bertentangan ini merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar
dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat siapa
sebenarnya yang salah, dan lebih baik menunda (arja’a) yang berarti penyelesaian
persoalan ini di hari perhitungan di depan Tuhan.

Gagasan irja’ atau arja yang dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan
tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat islam ketika terjadi pertikaian
politik dan juga bertujuan menghindari sekatrianisme.

2. Permasalahan Ke-Tuhanan

Dari permasalahan politik, mereka kaum Mur’jiah pindah kepada permasalahan


ketuhanan (teologi) yaitu persoalan dosa besar yang ditimbulkan kaum khawarij,
mau tidak mau menjadi perhatian dan pembahasan pula bagi mereka.Kalau kaum
Khawarij menjatuhkan hukum kafir bagi orang yang membuat dosa besar, kaum
Murji’ah menjatuhkan hukum mukmin.Pendapat penjatuhan hukum kafir pada
orang yang melakukan dosa besar oleh kaum Khawarij ditentangsekelompok
sahabat yang kemudian disebut Mur’jiah yang mengatakan bahwa pembuat dosa
besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah,
apakah dia akan mengampuninya atau tidak. Aliran Murji’ah menangguhkan
penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di
hadapan Tuhan, karena hanya Tuhan-lah yang mengetahui keadaan iman
seseorang.Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar masih di
anggap mukmindi hadapan mereka.Orang mukmin yang melakukan dosar besar
itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun
melakukan dosa besar masih tetapmengucapkan dua kalimat syahadat yang
menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu, orang tersebut masih tetap
mukmin, bukan kafir.Pandangan golongan ini dapat dilihat terlihat dari
kataMurji’ah itu sendiri yang berasal dari kata arja’a yang berarti orang yang
menangguhkan, mengakhirkan dan memberikan pengaharapan. Menangguhkan
berarti bahwa mereka menunda soal siksaan seseorang di tangan Tuhan, yakni jika

8
Tuhan mau memaafkan ia akan langsung masuk surga, sedangkan jika tidak, maka
ia akan disiksa sesuai dengan dosanya, setelah ia akan dimasukkan ke dalam
surga. Dan mengakhirkan dimaksudkan karena mereka memandang bahan
perbuatan atau amal sebagai hal yang nomor dua bukan yang pertama.Selanjutnya
kata menangguhkan, dimaksudkan karena mereka menangguhkan keputusan
hukum bagi orang-orang yang melakukan dosa di hadapan Tuhan.

Disamping itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nama Murji’ah yang
diberikan pada golongan ini, bukan karena mereka menundakan penentuan hukum
terhadap orang islam yang berdosa besar kepada Allah di hari perhitungan kelak
dan bukan pula karena mereka memandang perbuatan mengambil tempat kedua
dari iman, tetapi karena mereka memberi pengharapan bagi orang yang berdosa
besar untuk masuk surga. Golongan Murji’ah berpendapat bahwa yang terpenting
dalam kehidupan beragama adalah aspek iman dan kemudian amal. Jika seseorang
masih beriman berarti dia tetap mukmin, bukan kafir, kendatipun ia melakukan
dosa besar. Adapun hukuman bagi dosa besar itu terserah kepada Tuhan, akan ia
ampuni atau tidak. Pendapat ini menjadi doktrin ajaran Murji’ah.

Nama murji’ah di ambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan,
penangguhan, dan pengharapan.Yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar
untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah.Selain itu, arja’a berarti pula
meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan
amal dari iman.Oleh karena itu murji’ah, artinya orang yang menunda penjelasan
kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta
pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.

Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan


murji’ah. Teori pertama mengatakan bahwa gagasan irja atau arja dikembangkan
oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat islam
ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan untuk menghindari
sektarianisme. Diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculan syiah dan
khawarij, kelompok ini merupakan musuh berat khawarij.

9
Teori lain mengatakan bahwa gagasan irja, yang merupakan basis doktrin
murji’ah. Muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang di perlihatkan oleh
cucu Ali bin Abi Thalib. Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, sekitar tahun
695. Penggagas teori ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah kematian
Muawiyah, pada tahun 680, dunia islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Teori lain
menceritakan bahwa ketika terjadi perseteruan antara Ali dan Muawiyah,
dilakukan tahkim (arbitrase) atas usulan Amr bin Ash, seorang kaki tangan
Muawiyah.Kelompok Ali terpecah menjadi dua kubu, yang pro dan yang
kontra.Kelompok kontra yang akhirnya menyatakan keluar dari Ali, yakni kubu
khawarij.Mereka memandang bahwa tahkim bertentangan dengan Al-Qur’an,
dalam pengertian, tidak bertahkim berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu,
mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim itu dosa besar, dan pelakunya dapat
dihukumi kafir, sama seperti perbuatan dosa besar lain, seperti zina, riba,
membunuh tanpa alasan yang benar durhaka kepada orang tua, serta memfitnah
wanita baik-baik. Pendapat ini ditentang sekelompok sahabat yang kemudian di
sebut murji’ah. Yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak
kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah.

B. Doktrin-doktrin Murji’ah

Di bidang politik, doktrin irja diimplementasikan dengan sikap politik netral


atau nonblok. Adapun di bidang teologis doktrin irja dikembangkan Murji’ah
ketika menanggapi persolan-persoalan teologis yang muncul saat itu. Pada
perkembangan berikutnya, persoalan-persoalan yang ditanggapinya menjadi
semakin kompleks sehingga mencakup iman, kufur, dosa besar dan ringan, tauhid,
tafsir Al-Quran, eskatologi, pengampunan dosa besar, kemaksuman nabi,
hukuman atas dosa, ada yang kafir di kalangam generasi awal Islam, tobat,
hakikat Al-Quran, nama dan sifat Allah, serta ketentuan Tuhan.5

5
Rozak Abdul, 2001,Ilmu Kalam(Bandung: CV Pustaka Setia). Hal. 58
Ibid. Hal. 58

10
Doktrin teologi Murji’ah menurut Harun Nasution menyebutkan empat ajaran
pokok, yaitu :

1. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr Bin Ash, dan Abu Musa Al-
Asy’ary yang terlibat tahkim dan menyerahkan kepada Allah di hari kiamat
kelak.

2. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa


besar.

3. Meletakan (pentingnya) iman daripada amal.

4. Memperbaiki pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk


memperoleh ampunan dan rahmat Allah.6

C. Sekte-sekte dan Ajaran Dalam Aliran Murji’ah

Sekte dalam aliran Murji’ah tidak jelas jumlahnya karena masing-masing ahli
memiliki pendapat masing-masing. Al-Baghdadi membagi mereka dalam tiga
golongan , yaitu al-Murji’ah yang dipengaruhi ajaran-ajaran al-Qodariyah, al-
Murji’ah yang yang dipengaruhi ajaran-ajaran al-Jabariyah, dan al-Murji’ah yang
tidak dipengaruhi keduanya. Golongan ketiga ini terdiri dari lima sekte, yaitu al-
Yunusiyah, al-Ghazaniyah, al-Saubaniyah, al-Tumaniyah, dan al-Murisiyah. Al-
Asy’ary membagi menjadi 12 golongan, sedangkan al-Syahrastani membagi
menjadi tiga sekte, yaitu al-Murji’ah al-Khawarij, al-Murji’ah al-Jabariyah, dan
al-Murji’ah asli.7

Aliaran murji’ah dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu golongan
moderat dan golongan ekstrem.

6
Rozak Abdul, 2001,Ilmu Kalam(Bandung: CV Pustaka Setia). Hal. 58
Ibid. Hal. 58

7
Nurdin, M. Amin, 2011, Sejarah Pemikiran Isalm(Jakarta: Teruna Grafika). Hal. 27

11
Al-Murji’ah moderat disebut juga al-Murji’ah al-Sunnah yang pada umum
terdiri dari para fuquha dan muhditsin. Mereka berpendapat bahwa orang berdosa
besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, dia akan dihukuk dalam
neraka sesuai dosa yang telah diperbuatnya dan kemungkinan Allah bisa
mengampuni dosanya. Dengan demikian, Murji’ah moderat masih mengakui
keberadaan amal perbuatan dan mengakui pentingnya amal perbutan manusia,
meskipun bukan bagian dari iman. Yang termasuk golongan al-Murji’ah moderat,
di antaranya al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Tholib, Abu Hanifah, Abu
Yusuf, dan beberapa ahli hadis.

Golongan al-Murji’ah yang eksterm adalah mereka yang secara berlebihan


mengadakan pemisahan antara iman dan amal perbuatan. Mereka menghargai
iman terlalu berlebihan dan merendahkan amal perbuatab tanpa perhitungan sama
sekali. Amal perbutan tidak ada pengaruhnya terhadap iman. Iman hanya
berkaitan dengan Tuhan dan hanya Tuhan yang mengetahuinya. Oleh karena itu,
selagi orang beriman, perbuatan apapun tidak dapat merusak imanya sehingga
tidak menyebabkan kafirnya seseoarang.

Adapun yang termasuk al-Murji’ah eksterm sebagai berikut :

1. Yunusiyyah

Yunusiyyah adalah kelompok yang dipelopori oleh Yunus ibn ‘Aun an-
Numairi. Menurut kelompok ini iman adalah mengenal Allah dengan mentaati
semua perintahNya dan menyerahkan segala urusan kepada Allah dan mencintai
Allah dengan sepenuh hati, bersikap rendah hati dan tidak kufur. Sedangkan kufur
adalah kebalikan dari itu. Iblis dikatakan kafir bukan karena tidak percaya kepada
Allah Swt, melainkan karena ketakaburannya kepada Allah. Sebagaimana fiman
Allah Swt.

‫ابى واستكبر و كان من الكافرين‬

Artinya: … ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-


orang yang kafir” (Q.S. Al-Baqarah 34).

12
Menurut Yunus barang siapa yang menanamkan rasa kepatuhan hanya kepada
Allah semata dan mencintai Allah dengan sepenuh hati, sekalipun ia melakukan
maksiat, tidaklah hal itu mengurangi nilai iman dan keikhlasannya kepada Allah,
karena mereka meyakini bahwa perbuatan jahat dan maksiat tidak merusak
iman seseorang.8

Dari uraian diatas kita telah mengetahui bahwa menurut kelompok ini selama
seseorang itu masih mencintai Allah dengan sepenuh hati, walaupun berbuat
maksiat tetap akan masuk surga, karena yang menyebabkan seseorang itu masuk
surga adalah keiklasan dan kecintaan nya kepada Allah.

2. ‘Ubaidiyyah

Kelompok ini dipelopori oleh Ubaid al-Muktaib, menurut dia semua dosa
selain syirik pasti akan diampuni. Apabila ada yang meninggal sebagai seorang
yang mengesakan (muwahhid), katanya tidak ada dosa yang telah ia lakukan atau
kejahatan yang telah ia kerjakan akan menghancurkannya.9

Jadi dari urain diatas dapat disimpulkan bahwa kelompok ‘ubaidiyah ini
berpendapat hampir sama dengan pendapat Yunusiyyah. Akan tetapi mereka
mempunyai pendapat yang lain yang bahwa seseorang yang meninggal dalam
keadaan masih memiliki ketauhidan tidak akan merugikannya, karena perbuatan
jahat tidak merusak iman. Begitupun sebaliknya perbuatan baik yang dilakukan
oleh orang-orang kafir tidak akan memperbaiki posisi orang kafir.

3. Ghassaniyyah

Kelompok Al- Ghassaniyyah adalah mereka yang mengikuti ajaran Ghassan


Al-Kafi. Menurut Ghassan, iman adalah pengetahuan ( ma’rifat) kepada Allah dan
Rasul. Jika seseorang mengatakan, saya tahu bahwa Tuhan melarang makan babi,
8
Asy- Syahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal, terj. Asywadie Syukur. (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2006),
h.105
9
Asy-syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal, terj. Syuaidi Asy’ari. ( Bandung: Mizan Pustaka,2004), h.
216

13
tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, orang
yang demikian tetap mukmin dan bukan kafir. Dan jika seseorang mengatakan,
saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji ke ka’bah tetapi saya tidak tau apakah
Ka’bah di india atau tempat lain, orang demikian juga tetap mukmin. Artinya
keyakinan-kayakinan seperti itu berada diluar persoalan keimanan, tidak ada
hubungannya dengan iman. Jadi orang tersebut pada dasarnya tidak meragukan
hal-hal tadi, karena setiap orang yang berakal pasti tidak meragukan dimana
ka’bah dan pasti tahu perbedaan antara kambing dan babi.10

4. Tsaubaniyyah

Tsaubaniyyah dipelopori oleh Abu Tsauban yang berpendapat bahwa iman


adalah pengenalan dan pengakuan lidah kepada Allah, mereka juga menambahkan
bahwa yang termasuk iman adalah mengetahui dan mengakui sesuatu yang
menurut akal wajib dikerjakan. Singkatnya kelompok ini mengakui adanya
kewajiban-kewajiban yang dapat diketahui akal sebelum datangnya syari’at.

Golongan ini juga berpendapat bahwa jika Allah mengampuni seorang pendosa
pada hari kiamat, Ia akan mengampuni setiap pendosa yang beriman yang berada
pada posisi yang sama. sekali lagi, jika Ia mengeluarkan seseorang dari neraka, Ia
juga akan mengeluarkan setiap orang lainnya yang berada pada posisi yang
sama.11

5. Shalihiyyah

Shalihiyyah diambil dari nama tokohnya Shalih ibn Umar Al-Shalihi. Menurut
paham ini, iman adalah semata-mata pengenalan kepada Allah sebagai sang
pencipta, sedangkan kekafiran adalah ketidaktahuan terhadap Allah, menurutnya
shalat bukan ibadah, kecuali dari orang yang beriman kepada-Nya, karena ia telah
mengenal-Nya. Iman meliputi pengenalan akan Allah. Ini merupakan kualitas
yang tidak terbagi, yang tidak bertambah dan berkurang, demikian juga kekafiran

10
Imam Muhammad, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, terj. Abd Rahman Dahlan, cet. I,
( Jakarta: logos Publishing House, 1996),h.146
11
Asy-syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal...,h. 219

14
merupakan kualitas yang tidak terbagi, yang tidak bertambah dan tidak
berkurang.12

6. Marisiyyah

Marisiyyah dipelopori oleh Bisyar Al- Marisy. Paham ini meyakini iman
adalah selain meyakini dalam hati bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
Muhammad itu Rasul-Nya juga harus di ucapkan secara lisan, maka tidak
dikatakan iman jika tidak diyakini dalam hati dan di ucapkan secara lisan.

7. Karamiyyah

Karamiyyah, di rintis oleh Muhammad bin Karram yang mempunyai pendapat


bahwa iman adalah pengakuan secara lisan dan kufur adalah pengingkaran secara
lisan. Mukmin dan kafirnya seseorang dapat diketahui melalui pengakuannya
secara lisan.13

Sebagai aliran yang berdiri sendiri, kelompok Murji’ah ekstrem sudah tidak
didapati lagi sekarang, walaupun demikian, ajaran-ajarannya dan pengaruh-
pengaruhnya masih didapati pada sebagian umat Islam. Adapun ajaran-ajaran dari
kelompok Murjiah moderat, terutama mengenai pelaku dosa besar serta
pengertian iman dan kufur, menjadi ajaran yang umum disepakati oleh umat
Islam.

D. Pengaruh Aliran Murji’ah

Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa paham Murjiah banyak yang tidak
ditemukan lagi sebagaimana aliran lain. Bahkan keberadaannya seakan hilang
ditelan masa dan hanya tinggal sejarah. Namun praktik-praktik ajarannya masih
banyak kita temukan dikalangan masyarakat dewasa ini. Hanya saja tidak
dinamakan lagi dengan aliran murji’ah, tetapi dinamakan dengan aliran lain.

12
Ensiklopedi Islam jilid 3, cet. X, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 200), hal. 302
13
Ensiklopedi Islam..., h. 303

15
Walaupun hal ini tidak bisa dipastikan sebagai pengaruh ajaranya, karena tidak
mungkin sesuatu yang tidak saling berinteraksi akan saling mempengaruhi.
Namun apa yang tampak tetap tidak bisa dipungkiri sebagai pengaruh dari ajaran
Murji’ah.

Diantara pengaruh-pengaruh yang masih berkembang dewasa ini adalah:

1. Taklid

Menjadi hal yang biasa ketika ada anak yang lahir dari orang tua muslim juga
dikatakan seorang muslim. Padahal mereka belum tahu tentang apa itu Islam
bahkan kadang sampai masa dewasanya. Khususnya mereka yang dari kecil
sangat sedikit mengenyam pendidikan keagamaan. Mereka Islam hanya ikut-
ikutan atau bisa dibilang turunan. Ketika ditanya tentang agama, mereka begitu
antusias menjawab “Islam” bahkan ada yang memberi embel-embel Ahlu Sunnah
Wa Jama’ah tanpa lebih dulu tau akan semuanya. Pada hal dalam aliran Ahlu
Sunnah Wa Al-Jama’ah sendiri tidak diperbolehkan taklid dalam akidah.
Kebolehan taklid dalam akidah hanya ditemukan dalam ajaran murji’ah
sebagaimana sebagian pendapat di atas. Secara tidak sadar sebenarnya mereka
bukan Ahlu Sunnah Wa Jama’ah.

2. Penundaan dan penangguhan

Menunda - nunda baik dalam urusan dunia maupun akhirat sudah menjadi
kebiasaan dan hal yang lumrah dan masyarakat sekarang ini. Dalam hal pekerjaan,
menunda menyelesaikan sebuah tugas sudah menjadi biasa. Apalagi dalam hal
taubat, begitu banyak dosa dan maksiat yang dilakukan dan menunggu masa tua
untuk bertaubat.

3. Iman dan Kufur

Sudah diketahui sebelumnya bahwa termasuk salah satu ajaran Murji’ah adalah
tidak berpengaruhnya amal akan keimanan seseorang. Meskipun mereka yang
beriman tidak menjalankan syari’at bahkan menentangnya, mereka tetap tidak
kufur dan bisa masuk surga. Hal ini sudah menjadi pegangan masyarakat dan

16
dalih mereka ketika melakukan dosa atau bahkan menentang agama. Tidak ada
yang berhak memberikan hukuman atau menentukan iman dan tidak imannya
seseorang selain Tuhan sendiri. Dan mereka tetap memiliki bagian di surga
dengan secuil iman meskipun tanpa amal sebagai penghargaan.

4. Pengampunan Tuhan

Di zaman sekarang, banyak ditemukan orang yang berlebihan dan keterlaluan


khususnya dalam maksiat. Bahkan mereka tidak merasa bahwa apa yang
dikerjakan adalah dosa. Mereka terlalu berlebihan memahami sifat Ghaffar-Nya
Allah atau bisa saja dibilang salah paham. Mereka yang bergelut dengan maksiat
ketika ditanya tentang apa yang dilakukannya, akan menjawab bahwa
pengampunan Allah begitu luas dan tidak terbatas. Hal ini bisa saja merupakan
pengaruh Murji’ah ekstrem yang mewajibkan pengampunan Allah terhadap segala
dosa dengan konsep penangguhannya.

E. Tokoh-tokoh Aliran dalam Murji’ah

Pemimpin utama Madzhab murji’ah ialah Hasan ibn Bilal Al Muzni, Abu Salat
As-Sammam dan Dirar ibn Umar. Untuk mendukung perjuangan
pendapat Murji’ah ini pada masa Umayyah telah muncul sebuah syair
yang terkenal tetang i’tikad dan keyakinan Murji’ah yang di gubah oleh Tsabiti
Quthnah.14

Dari segi politik, Murji’ah sangat menguntungkan pada khalifah, semasa


Bani Umaiyyah karena dengan dogma mereka dapat mencegah pemberontakan
terhadap pemerintah. Dalam proses perkembangan selanjutnya terjadi perpecahan
dan perbedaan pendapat, ada yang moderat ada pula
yang ekstrim. Dalam Murji’ah tidak terdapat aliran atau sekte dalam arti yang
sebenarnya, yang ada hanya pendapat pribadai yang didukung oleh orang lain.

14
Yusran Asmuni, ilmu tauhid (cv pedoman ilmu jaya jakarta kramat jaya 3 j)

17
Murji’ah yang moderat antara lain Hasan ibn Muhammad ibn Abi Thalib antara
lain berpendapat walau bagaimanapun besar dosanya, kemungkinan pengampunan
Tuhan masihada.Dan yang ekstrim antara lain Al-Jahmiyah,As- Sahalihiyah, Al-
Yunusiy .Al-Ubaidiyah dan Al-Hasaniyah.

Pandangan tiap-tiap kelompok menjelaskan seperti berikut :

 Jahmiyah, kelompok jahm bin shafwan dan para pengikutnya


berpandangan bahwa orang yang perca ya kepada Tuhan kemudian
menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir karena iman
dan kufur bertempat didalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh
manusia.
 Syalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman
adalah pengetahuan Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan.
Sholat bukan merupak ibadah kepada Allah yang dimaksud ibadah adalah
iman kepada–Nya dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula dengan
zakat, puasa dan haji bukanlah ibadah, melaikan sekedar menggambarkan
kepatuhan.
 Yunusiyah dan Ubaniyah melontarkan pernyataan bahwa melakukan
maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merugikan orang yang bersangkutan.
Dalam hal ini, Muqatil bin Sulaiman berpendapat bahwa berbuat jahat,
banyak atau sedikit, tidak merusak iman seorang sebagai musyrik
(polytheist).

Hasaniyah menyebutkan bahwa jika seorang mengatakan bahwa “saya tahu


Tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan
itu adalah kambing ini”. Maka orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir, begitu
pula orang mengatakan “saya tahu Tuhan mewajibakn naik haji ke Ka’bah, tetapi
saya tidak tahu apakah Ka’bah di India atau tempat lain?

18
Secara fisik Murji’ah lenyap bersama turunnya Bani Ummayah. Namun dalam
sejarah perkembangannya cukup banyak mengisi lembaran sejarah. Dalam politik
mereka sebagai moderator yang tidak mudah apriori dan dalam teologi termasuk
orong yang berhati-hati dalam menghukum orang sebagai kafir.

F. Perkembangan Aliran Murjiah

Aliran Murji’ah ini sangat berkembang sangat subur pada masa pemerintahan
Dinasti Bani Umayyah. Aliran ini tidak memberontak pada pemerintah, karena
bersifat netral dan tidak memusuhi pemerintah yang sah. Dalam perkembangan
yang berikutnya, lambat laun aliran ini tidak mempunyai bentuk lagi. Bahkan
beberapa jajarannya diakui oleh aliran kalam yang berikutnya. Sebagai aliran yang
berdiri sendiri, gologngan Murji’ah modern telah hilang dalam sejarah dan ajaran-
ajaran mereka mengenai iman, kufr, dan dosa besar masuk ke dalam aliran Ahli
Sunnah Wal Jama’ah. Sementara itu, golongan Murji’ah ekstrim pun sudah hilang
dan tidak ditemui lagi sekarang. Namun ajaan-ajarannya yang ekstrim itu masih
didapati pada sebagaian umat Islam yang menjalankan ajaran-ajarannya.
Kemungkinan merek tidak sadar bahwa mereka sebenarnya mengikuti ajaran-
ajaran golongan Murji’ah

G. Kelebihan dan Kekurangan Aliran Murji’ah

Kelebihan dari aliran ini adalah golongan ini tidak akan memudaratkan
perbuatan maksiat itu terhadap keimanan. Demikian juga sebaliknya, “tidaklah
akan memberi manfaat dan memberi faedah ketaatan seseorang terhadap
kekafirannya”. Artinya, tidaklah akan berguna dan tidaklah akan diberi pahala
perbuatan baik yang dilakukan oleh orang kafir. Maka dari itu, mereka tidak mau
mengkafirkan seseorang yang telah masuk Islam, sebab golongan ini sagat
mementingakan kewajiban sesama manusia.

19
Kekurangan aliran ini adalah lebih mementingkan urusan dunia dari pada
akhirat.Karena menurut mereka, iman adalah mengetahui dan mengakui sesuatu
yang menurut akal wajib dikerjakan.Berarti, kelompok ini mengakui adanya
kewajiban-kewajiban yang dapat diketahui akal sebelum datangnya syariat.

Firman Allah SWT dalam surat Ar Ra’du ayat 28 :


‫اّلذين امنوا وتطمئّن قلوبهم بذكر الله قلى اال بذكر الله تطمئّن القلوب‬

Artinya :

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi
tenteram”.
Apabila seseorang sudah mempercayai Allah SWT dan rasul-rasul-Nya dan segala
sesuatu yang datang dari Allah SWT, berarti ia mukmin meskipun ia menyatakan
dalam perbuatannya hal-hal yang bertentangan dengan imannya. Seperti berbuat
dosa, menyembah berhala, dan minum-minuman keras.Golongan ini juga
meyakini bahwa surga dan neraka itu tidak abadi, karena keabadian hanya bagi
Allah SWT semata.

Firman Allah SWT dalam surat Al Anfal ayat 2 disebutkan :

‫واذا تليت عليهم اياته زادتهم ايمانا‬

Artinya :

“Dan apabila dibacakan terhadap ayat-ayat-Nya, maka ayat-ayat itu menambah


iman mereka.

20
BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN

Kata arji’ah mengandung arti memberi pengharapan, yaitu kepada pelaku dosa
besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah SWT. Oleh karena itu
murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang
bersengketa, yaitu Ali dan Muawwiyah.

21
Dua doktrin pokok ajaran Murji’ah yaitu yang pertama, Iman adalah cukup
dengan percaya kepada Allah SWT dan rasul-Nyayang dimana merupakan
suatu keharusan bagi adanya iman.Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap
mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang diwajibkan dan melakukan dosa
besar. Yang kedua, dasar keselamatan adalah iman semata, selama masih ada
iman di hati, setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat ataupun gangguan
atas seseorang, untuk mendapatkan pengampunan, manusia cukup hanya
menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.

Secara garis besar aliran Murji’ah terbagi ke dalam 2 sekte yaitu Murji’ah
moderat dan Murji’ah ekstrem. Tokoh Murji’ah yang moderat antara lain Hasan
ibn Muhammad ibn Abi Thalib antara lain berpendapat walau bagaimanapun
besar dosanya, kemungkinan pengampunan Tuhan masih ada. Dan yang ekstrem
antara lain Al-Jahmiyah, As- Sahalihiyah, Al-Yunusiy, Al-Ubaidiyah dan al-
Ghozaniyah

DAFTAR PUSTAKA

Maarif, Syamsul Dwi. 2021. Sejarah Murjiah Lahir serta Pemikiran Aliran
Moderat dan Ektremnya

Asy- Syahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal, terj. Asywadie Syukur,Surabaya: PT.


Bina Ilmu, 2006.

Ensiklopedi Islam jilid 3, cet. X, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002.

http://muhsansyaif.wordpress.com/2011/03/25/aqidah-akhlak/

22
Nasution, Harun. 2010. Teologi Islam. Jakarta: UI-Press

Nurdin, M.Amin. 2012. Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta: Teruna Grafika

Rozak, Abdul. 2001. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia

Imam Muhammad, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, terj. Abd Rahman
Dahlan, cet. I,Jakarta: logos Publishing House, 1996.

M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam,cet I, Jakarta: Amzah, 2012

Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2001

http://makalahqwahyu.blogspot,com/2016/07/makalah-ilmu-kalam-aliran-
murjiah.html

23

Anda mungkin juga menyukai