Manajemen Sumber Daya Manusia Efektif
Manajemen Sumber Daya Manusia Efektif
DAYA MANUSIA
Penulis :
i
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Penulis :
Agung Anggoro Seto, S.E., M.Si., C.FR., C.Ftax.
Wenny Desty Febrian, S.E., M.M.
Dr. Muhammad Donal Mon, S.E., M.M.
Fauzie Senoaji, S.E., M.SEI.
ZH.Nurul Kusumawardhani, S.A.P., M.Tr.Ap.
Indra Rustiawan Rusman, S.T., M.M.
Dr. Nicholas Simarmata, S.Psi., M.A.
Yane Puspito Sari, S.E., M.Si.
Dina Novita, S.E., M.M.
Hani Hasanah, S.Pi., M.M.
Desi Kristanti, S.E., M.M.
Imas Sukaesih, S.E., M.M.
Hendry Jaya, S.E., M.Ak.
Nuraeni, S.E., M.M.
Dr. Arifin, S.Pd., M.Pd.
ISBN : 978-623-198-181-3
Website : www.globaleksekutifteknologi.co.id
Email : [email protected]
iii
DAFTAR ISI
viii
DAFTAR TABEL
ix
DAFTAR GAMBAR
x
BAB 1
PENGANTAR MANAJEMEN SDM
Oleh Agung Anggoro Seto
1.1 Pendahuluan
Setiap organisasi dalam melakukan kegiatannya tidak
terlepas dari adanya sumber daya yang mendukung organisasi
tersebut. Salah satu jenis sumber daya yang pasti ada dalam
organisasi adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia
mrupakan sumber daya yang terdiri atas beberapa individu yang
bekerjasama untuk mencapai tujuan orgenisasi. Sumber daya
manusia merupakan sumber daya yang unik jika dibandingkan
dengan sumber daya lainnya karena hanya sumber daya manusia
yang menggunakan karsa, karya dan cipta dalam proses
pekerjaannya, selain itu sumber daya manusia merupakan sumber
daya pengerak sumber daya lainnya seperti modal dan teknologi.
Oleh karena itulah sangat penting bagi untuk melakukan
manajemen terhadap sumber daya manusianya. Bab ini akan
membahas lebih lanjut seputar pengantar manajemen sumber
daya manusia meliputi definisi, tujuan, dan fungsi manajemen
sumber daya manusia (SDM) secara lebih rinci.
1
organisasi, hal ini dikarenakan hanya manajemen sumber daya
manusia yang menggunakan karya, karsa dan cipta manusia
melalui akal, perasaan, pengetahuan dan keterampilan
manusia dalam proses pelaksanaannya sehingga faktor-faktor
lainnya seperti teknologi dan modal peranannya tidak terlalu
dominan. Hal inilah yang membedakan manajemen sumber
daya manusia dengan bagian manajemen lainnya.
4
Perencanaan merupakan proses penetapan tujuan
organisasi atau perusahaan. Salah satunya melalui
pnyusunan program dan tenaga kerja yang meliputi
penetapan jumlah dan kualitas tenaga kerja serta hal-
hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
b) Pengorganisasian (Organizing)
Setelah melakukan proses perencanaan, langkah
selanjutny adalah menyusun sebuah organisasi yang
akan melakukan kegiatan sesuai dengan hal-hal yang
telah direncanakan. Pengorganisasian disusun dengan
cara merancang struktur organisasi yang
menghubungkan beberapa pekerjaan dengan
pekerjaan lainnya, beberapa karyawan dengan
karyawan lainnya dan beberapa sumber daya dengan
sumber daya lainnya, Sehingga diharpkan terjadi
harmonisasi antara yang satu dengan yang lainnya.
c) Pengarahan (Directing)
Tahap lanjutan setelah pengorganisasian adalah
pengarahan dimana setelah organisasi disusun, agar
setiap orang melakukan pekerjaannya sesuai
denganyang diharapkan maka perlu dilakukan
pengarahan. Proses pengarahan dimulai melalui
proses penempatan (staffing) pegawai yang dianggap
sesuai dengan struktur organisasi yang telah dibuat,
Proses staffing ini menekankan pada kejelasan apa
saja tugas yang harus dilakukan oleh pegawai dan
kualifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk menempati
posisi tersebut. Selain penempatan, proses lainny
adalah pengarahan dimana pengarahan adalah proses
pemberin informasi dan instruksi gar pegawai bekerja
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
d) Pengawasan (Controling)
5
Tahap akhir dalam fungsi manajerial adalah
monitoring atau pengawasan. Aktivitas monitoring
meliputi pengawasan atas pelaksanaan dan kinerj
pegawai serta melakukan perubahan yang diperlukan
dengan tujuan memastikan bahwa karyawan bekerja
sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
2. Fungsi operasional
Fungsi operasional terdiri dari :
a. Pengadaan
Pengadaan merupakan suatu kegiatan organisasi atau
perusahan yang bertujuan untuk menyediakan tenaga
kerja yang sesuai dengan kebutuhan organisasi
meliputi penentuan jumlah kebutuhan dan kualifikasi
tenaga kerja. Pada kegiatan pengadaan mengandung
beberapa unsur kegiatan lainnya yaitu: penentuan
kebutuhan tenaga kerja, penarikan, seleksi, orientasi
pegawai dan penempatan.
b. Pengembangan
Setelah pegawai tersedia melalui proses pengadaan,
fungsi selanjutnya adalah pengembangan.
Pengembangan merupakan proses untuk
meningkatkan kompetansi pegawai melalui beberapa
kegiatan seperti pendidikan, pelatihan dan kegiatan
percobaan atau training.
c. Kompensasi
Fungsi kompensasi ialah semua jenis penghargaan
yang diterima oleh kryawan sebagai imbal jasa untuk
kontribusi yang diberikan kepada perusahaan.
Kompensasi dapat berupa kompensasi financial
maupun non financial (Rivai, 2009; Seto and Septianti,
2018). Dalam manajemen sumber daya manusia,
kompensasi berperan untuk memotivasi pegawai agar
dapat bekerja secara maksimal dan menjadi nilai
6
tawar perusahaan atau organisasi dalam perekrutn
karyawan.
d. Integrasi
Fungsi integrasi adalah fungsi yang menselaraskan
antara kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam
organisasi atau perusahaan terutama pegawai. Dlam
fungsi integrasi diharapkan terjadi keselarasan antara
kepentingan pegawai sebagai individu, manajemen,
organisasi atau perusahaan maupun pihak-pihak
eksternal seperti masyarakat dengan tujuan
mempermudah pencapaian tujuan perusahaan.
e. Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan fungsi lanjutan setelah
keempat fungsi operasional yaitu pengadaan,
pengembangan dan kompensasi berjalan dengan baik.
Pada fungsi pemeliharaan perusahaan berupaya untuk
mempertahankan pegawai yang sikap dan etos kerja
diniai menguntungkan bagi perusahaan
f. Pemutusan hubungan kerja
Pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan fungsi
yang memungkinkan bagi perusahaan untuk
menghentikan perjanjian kerjasama pekerjaan dengan
pegawai yang disebabkan oleh beberapa hal seperti
kinerja atau sikap pegawai yang tidak sesuai dengan
aturan perusahaan maupun hal-hal lainnya yang
membuat pegawai tidak memungkinkan melanjutkan
kerjasama pekerjaan.
7
operasional MSDM meliputii : 1) pengadaan pegawai ; 2)
Pengembangan; 3) Pemberian kompensasi; 4) Integrasi; 5)
Pemeliharaan dan 6) Pemutusan hubungan pekerjaan. Sedangkan
Mangkunegara mengungkapkan bahwa fungsi operasional
manajemen sumber daya manusia terbagi atas 6 bagian dimana
masing-masing bagian tersebut terdiri atas beberapa rangkaian
kegiatan, yaitu :
1. Pengadaan tenaga kerja
Meliputi kegiatan perencanaan sumber daya manusia,
analisis jabatan, rekrutmen tenaga kerja, penempatan
tenaga kerja dan orientasi kerja.
2. Pengembangan tenaga kerja
Pengembangan tenaga kerja meliputi pendidikan dan
pelatihan, pengembangan karir, penilaian prestasi kerja
3. Pemberian balas jasa
Pemberian balas jasa meliputi kegiatan pemberian
kompensasi baik secara langsung seperti pemberian upah
dan insentif maupun secara tidak langsung seperti
pemberian pelayanan dan kesejahteraan bagi pegawai
4. Integrasi
Meliputi kegiatan memotibvasi pegawai, partisipasi,
disiplin dan memberikan kepuasan kerja kepada
karyawan.
5. Pemeliharaan tenaga kerja
Meliputi kegiatan komunikasi kerja, pengendalian konflik
dalam pekerjaan, kkonsultasi pekerjaan dan kesehatan
dan keselamatan kerja.
6. Pemisahan tenaga kerja
Meliputi kegiatan pemberhentian karyawan, pensiun
kerja dan hal-hal yang berkaitan dengan pemutusan
hubungan kerja.
8
1.5 Kesimpulan
Salah satu sumber daya yang sangat penting bagi
perusahaan ialah sumber daya manusia, hal ini disebabkan hanya
sumber daya manusia yang menggunakan karsa, karya dan cipta
dalam pelaksanaan pekerjaannya. Manajemen sumber daya
manusia menjadi sangat penting bagi perusahaan sebagai
pedoman pengelolaan sumber daya manusia sebagai langkah
untuk mencapai tujuan perusahaan. Dalam manajemen sumber
daya manusia terdapat beberapa fungsi seperti fungsi manajemen
dan fungsi operasional dengan beberapa rangkaian tindakan dan
beberapa tujuan yang sejalan dengan tujuan perusahaan seperti
peningkatan produktivitas, kinerja dan tercapainya efektifitas dan
efisiensi dalam pekerjaan.
9
DAFTAR PUSTAKA
10
BAB 2
PERAN SDM DALAM ORGANISASI
Oleh Wenny Desty Febrian
11
handal, meskipun didukung oleh sarana, prasarana, dan sumber
pendanaan yang menjanjikan. Ini menunjukkan bahwa SDM
adalah faktor paling penting untuk diperhitungkan untuk semua
persyaratannya (Nelfianti, Yuniasih and Wibowo, 2018).
Manajemen sumber daya manusia, atau singkatnya HRM,
adalah ilmu atau metode pengelolaan hubungan dan peran
(tenaga kerja) sumber daya manusia. yang dimiliki oleh individu
yang efisien dan efektif dan dapat digunakan secara optimal untuk
mencapai tujuan (goal) dengan perusahaan, karyawan dan
masyarakat yang maksimal. HRM didasarkan pada konsep bahwa
setiap karyawan adalah manusia – bukan mesin – dan bukan
hanya menjadi sumber daya bisnis
Berdasarkan pendapat dari pemahaman AFStoner sendiri
dari Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu prosedur
yang berkelanjutan dengan tujuan memasok perusahaan atau
organisasi dengan karyawan atau orang-orang yang benar-benar
tepat untuk posisi atau jabatan ketika sebuah organisasi atau
perusahaan kebutuhan. (Zakkiyah et al., 2020). Bahkan
Manajemen Sumber Daya Manusia pada persiapan dari desain
karyawan, manajemen karir, perencanaan sistem, pengembangan
karyawan, evaluasi kinerja, hubungan kerja dan kompensasi
karyawan yang baik. Manajemen Sumber Daya Manusia
melibatkan semua praktek dan keputusan manajemen yang
secara langsung memenuhi sumber daya manusia (Sukamto and
Apriliyani, 2019).
13
bertanggung jawab untuk mengembangkan rencana seleksi
tenaga kerja sesuai dengan persyaratan bisnis (Ratnasari et al.,
2020). Selain itu merencanakan, memilih, dan memilih
membentuk proses. Kebutuhan perusahaan akan sumber daya
manusia meningkat seiring dengan ukurannya. Akibatnya,
manajemen SDM bertanggung jawab untuk menyaring dan
merekrut tenaga kerja yang dibutuhkan oleh bisnis. Fungsi
manajemen SDM adalah untuk mengevaluasi kinerja tenaga kerja
dan memastikan bahwa setiap tenaga kerja melakukan tugas dan
tanggung jawabnya sesuai dengan pekerjaannya. Di sebagian
besar bisnis, pelatihan dan penilaian pengadaan SDM dilakukan
oleh manajemen SDM.
Evaluasi kinerja ini bertujuan untuk memastikan bahwa
setiap karyawan memenuhi standar kinerja perusahaan. Fungsi
Kompensasi Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen
sumber daya manusia bertugas untuk membayar karyawan
berdasarkan seberapa baik mereka melakukan pekerjaan mereka.
Sistem penggajian karyawan, bonus, dan tunjangan karyawan
lainnya harus dibayarkan sesuai dengan kinerja sumber daya
manusia dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan
standar seperti upah minimum. Manajemen SDM juga
merencanakan dan membuat program pelatihan dan
pengembangan untuk karyawan baru, karyawan lama, dan calon
karyawan untuk membantu mereka bekerja di tingkat yang lebih
tinggi.
Pelatihan diperlukan untuk karyawan baru dan calon
karyawan, sedangkan pengembangan untuk karyawan yang ada
untuk membantu mereka bekerja di tingkat yang lebih tinggi.
Manajemen SDM dan karyawan, sebagai individu, harus memupuk
hubungan positif untuk menghindari masalah terkait serikat
pekerja. Ini membantu memastikan kelangsungan perusahaan
dengan mencegah pemogokan atau demonstrasi pekerja.
Kesehatan dan Keselamatan Manajemen Sumber Daya Manusia
14
bertanggung jawab untuk memastikan kesehatan dan
keselamatan tenaga kerja organisasi. Keselamatan kerja harus
menjadi prioritas utama, terutama untuk bisnis yang
berhubungan dengan produksi. Tentunya hal ini akan
berpengaruh pada kredibilitas perusahaan. Untuk melindungi
kesehatan pekerja, pekerjaan yang dilakukan juga harus
mematuhi peraturan keselamatan.
Perusahaan secara otomatis akan terus beroperasi dengan
sukses jika kesehatan dan keselamatan karyawannya dapat
terjamin. Agar seluruh operasional perusahaan berjalan dengan
lancar, maka fungsi manajemen SDM selanjutnya adalah
mengintegrasikan dan menyelaraskan kebutuhan karyawan
dengan kepentingan perusahaan. Pemeliharaan Fungsi
Manajemen SDM Seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
tenaga kerja merupakan komponen SDM yang sangat menentukan
keberhasilan perusahaan. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil
yang maksimal diperlukan pemeliharaan untuk menjaga fisik,
mental, dan loyalitas karyawan. Fungsi manajemen sumber daya
manusia, juga dikenal sebagai pemutusan hubungan
kerja/kontrak atau pemutusan hubungan kerja (PHK),
mempengaruhi karyawan dalam berbagai cara.
Dari uraian di atas sudah jelas bahwa fungsi manajemen
sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan dan
kemakmuran perusahaan dalam jangka panjang. Tanpa
pengelolaan SDM yang efektif, hampir pasti akan tercipta
lingkungan kerja yang tidak sehat dan akan terjadi kesenjangan
antar karyawan, yang akan berdampak negatif pada kinerja bisnis.
Padahal, fungsi HRM, atau manajemen sumber daya manusia,
bervariasi dari perusahaan ke perusahaan. Namun, secara umum,
fungsi SDM dapat mengembangkan berbagai kebijakan SDM dan
menjamin kinerja karyawan yang tinggi. Selain itu, tujuan dari
manajemen sumber daya manusia (SDM) adalah untuk menjamin
15
bahwa bisnis akan dapat mencapai tujuannya dengan melibatkan
semua karyawan yang terampil dan termotivasi.
Berikut adalah beberapa tujuan manajemen sumber daya
manusia, diantaranya : (1). Sistem penggajian, pengembangan dan
pelatihan karyawan, serta proses rekrutmen merupakan
komponen perencanaan sistem kerja yang efisien; (2). Menyadari
bahwa semua aspek perusahaan akan berkontribusi pada
pengembangan lingkungan kerja yang menyenangkan di tempat
kerja dan membangun sistem manajemen yang efisien; (3).
Memastikan bahwa setiap karyawan memiliki kesempatan yang
sama untuk maju dalam perusahaan dan berkontribusi pada
keberhasilannya; (4). Memastikan bahwa pekerja dapat dievaluasi
dan dipuji atas prestasi mereka; (5). Memastikan bahwa
kesehatan fisik dan mental karyawan terlindungi; (6).
Menyediakan tempat kerja yang ramah untuk semua.
Ketika datang untuk mendistribusikan jumlah sumber
daya manusia yang dibutuhkan di antara bisnis, diperlukan
perencanaan yang cermat. Kesenjangan ini dapat diisi oleh
manajemen SDM. Anda akan dapat melacak jumlah karyawan
yang akan diangkat ke posisi yang lebih tinggi, jumlah posisi yang
terbuka, jumlah lowongan yang harus diisi, dan sebagainya.
16
DAFTAR PUSTAKA
17
BAB 3
PERENCANAAN SDM
Oleh Muhammad Donal Mon
3.1 Pendahuluan
Dunia industri yang kita ketahui merupakan perpaduan
dari teknologi, mesin dan ketersediaan sumber daya untuk
keberlansungan operasional industry atau perusahaan tersebut.
Beberapa perusahaan dibelahan dunia ini sering direlokasi
bahkan harus tutup disebabkan oleh keterbatasan sumber daya
yang ada, baik itu sumber bahan baku, teknologi maupun sumber
daya manusia. Konsep manusia sebagai sumber daya dalam
sebuah organisasi dan perusahaan merupakan sebagai tenaga
kerja atau produsen, secara fungsi merupakan sumber daya utama
dalam menjalankan operasional. Organisasi yang sukses dan terus
berkembang adalah organisasi yang selalu menyusun rencana
program jangka pendek dan jangka panjang didalam organisasi
tersebut, tidak terkecuali perencanaan sumber daya manusianya.
Guna memberikan kepastian untuk kecukupan sumber daya
manusia maka perlu untuk melakukan perencanaan terhadap
sumber daya manusia dalam organisasi atau perusahaan.
(Widyawati, 2018) dalam melakukan perencanaan sumber daya
manusia atau tenaga kerja ada beberapa hal yang menjadi
pertimbangan seperti adanya kebutuhan tenaga kerja pada saat
itu yang diperlukan perusahaan sehingga, sehingga manajemen
HR perlu melakukan perencanaan akan kebutuhan tenaga kerja
dengan mealakukan beberapa analisa pekerjaan atau design
18
pekerjaan. Yang kedua yang perlu dilihat adalah ketersedian
sumber daya manusia itu sendiri saat ini, baik internal perusahaan
dimana jumlah SDM saat ini apakah melabihi dari kebutuhan
ataupun kurang bahkan kadang terdapat kesenjangan jumlah
karyawan antar departemen un tuk itu kita perlu menilai dan
melakukan perencanaan yang baik, selanjutnya kita juga
mengetahui SDM ekternal jika dimungkinkan untuk melakukan
rekrutmen kita bisa melakukan dengan baik dan tepat waktu
sesuai dengan kebutuhan saat ini dan masa datang. kita menyadari
bahwasanya banyak pelamar yang mencari pekerjaan dan
kebanyakan diantara mereka belum memiliki pengalaman, dan
skill yang kita butuhkan untuk pekerjaan yang akan kita
tempatkan untuk itu kita perlu melihat dan menyesuaikan segala
kriteria dan spesifikasi yang kita butuhkan.
20
dengan kata lain bisa dilihat dari jenis kerja yang dilakukan
sehingga bisa diprediksi keahlian apa yang diperlukan untuk
melakukan pekerjaan tersebut. Faktor lain yang perlu
dipertimbagkan adalah kapasitas mesin dibandingkan jumlah jam
kerja yang diizinkan atau yang sudah diatur oleh undang undang
menjadi pertimbangan untuk menempakan tenaga kerja pada unit
kerja tersebut. Dalam perencanaan tenaga kerja atau SDM jumlah
tenaga kerja yang mendekati pensiun perlu untuk diperhitungkan
jika pekerjaan tersebut membutuhkan waktu pelatihan untuk
hand over pada karyawan lainnya. Secara keseluruhan untuk
prose perkiraan tenaga kerja ini mencakup penyusunan
kebutuhan akan SDM (Labor Demand), ketersediaan sumber
tenaga kerja yang ada (Labor Supply), dan terakhir adalah
kesesuaian tenaga kerja yang ada dengan kebutuhan tenaga kerja
itu sendiri.
21
sumber daya yang akan kita gunakan atau dapat dilakukan dengan
melakukan perhitungan serta kalkulasi estimasi terhadap
kebutuhan tenaga kerja untuk pengembangan tersebut.
Berdasarkan pengalaman industri yang melakukan
pengembangan atau yang baru berdiri di tempat yang baru
biasanya akan melakukan training karyawan yang sudah ada pada
perusahaan induk, atau mesin yang akan digunakan nantinya guna
melihat kapasitas mesin, tenaga kerja dan berapa jumlah material
yang akan digunakan nantinya. Menurut (Gaol, 2014), penyusunan
program karyawan dapat dibagi beberapa tahap, yaitu : (1). Perlu
untuk mengetahui tujuan dari perencanaan sumber daya manusia;
(2). Melihat adanya alternative yang dapat dipertimbangakan
guna memenuhi tujuan yang telah ditetapkan; (3). Melakukan
penilaian terhadap alternative yang sudah ditentukan dan
selanjutnya memilih salah satu alternative yang terbaik; (4).
Merumuskan teknik dan pelaksanaan. Secara umum manajemen
atau perusahaan akan menyusun perencanaan tenaga kerja
dengan melakukan tahap tahap diatas, guna memastikan
perencanaan telah sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
22
perencanaan sumber daya manusia yang baik tentunya juga
merujuk kepada system tersebut, salah satu cara adalah dengan
merencanaan sumber daya manusia yang multi tasking atau ahli
dalam banyak hal, atau memiliki skill tidak hanya pada satu
pekerjaan saja. Dalam melakukan evluasi tentunya setiap
manajemen memiliki tool dan cara yang berbeda dalam
melakukannya pada intinya tahap ini menjadi bagian penting yang
harus dilakukan dalam melakukan perencanaan tenaga kerja.
DAFTAR PUSTAKA
29
BAB 4
REKRUTMEN DAN SELEKSI
Oleh Fauzie Senoaji
4.1 Pendahuluan
Mempunyai karyawan yang berbakat, kompeten,
termotivasi, berkomitmen, dan terampil adalah impian setiap
organisasi. Memperolehnya tidaklah mudah dan organisasi
menghadapi banyak tantangan dalam menemukan karyawan
yang tepat dengan keahlian dan kompetensi yang dibutuhkan.
Oleh karena itu hal tersebut menyadikan cukup dipertimbangkan
bahwa posisi atau pekerjaan yang tersedia harus sesuai dengan
keterampilan yang dibutuhkan untuk masing-masing posisi.
Proses tersebut harus sejalan dengan rencana strategis
perusahaan dan sesuai dengan kebutuhan karyawan yang terlibat.
Organisasi tentunya tidak hanya mencari kandidat dengan
kemampuan teknis dan keterampilan dasar, tetapi juga karyawan
muda, antusias, dan dinamis yang akan berkontribusi pada
perluasan organisasi di masa depan. Mereka akan berkontribusi
dengan baik melalui optimisme, keterampilan, kerja sama tim, dan
kemampuan beradaptasi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan
kandidat berkualitas sesuai kebutuhan organisasi , perusahaan
harus memiliki proses pengadaan karyawan yang tepat.
Proses kepegawaian atau Human Resources Recrutment
and Selection adalah aktivitas di mana SDM memastikan bahwa
jumlah karyawan yang tepat dengan keterampilan yang handal
selalu tersedia untuk pekerjaan yang tepat pada waktu yang tepat
30
dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Pengadaan karyawan
dilakukan melalui proses rekrutmen dan seleksi. Rekrutmen
adalah proses tepat waktu, jumlah orang yang cukup dengan
kualifikasi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Seleksi
adalah proses memilih kandidat yang paling cocok untuk posisi
tertentu dalam suatu organisasi dari sejumlah pelamar (R. Wayne
Mondy and Joseph J. Martocchio, 2016).
Menurut (Mahapatro, 2010), rekrutmen adalah proses
menemukan kandidat yang memenuhi syarat untuk pekerjaan
tertentu. Ini mencakup serangkaian aktivitas yang digunakan
organisasi untuk menarik calon pekerja yang memiliki
kompetensi, keterampilan, dan sikap positif yang diperlukan
untuk membantu organisasi mencapai tujuannya. Dalam
manajemen sumber daya manusia, rekrutmen mencakup praktik
atau aktivitas apa pun yang ditujukan untuk mengidentifikasi dan
menarik calon karyawan. Rekrutmen dan seleksi adalah bagian
dari perputaran Human Resource Management System dimana
proses ini sangat penting dalam menjamin perusahaan
mendapatkan karyawan atau pekerja yang dapat menjaga
stabilitas perusahaan.
4.2 Rekrutmen
Rekrutmen pegawai merupakan tahap awal penambahan
kekuatan (power) suatu organisasi. Oleh karena itu, rekrutmen
harus dilakukan dengan tepat, karena di satu sisi dapat menjadi
kekuatan bagi organisasi dan di sisi lain dapat melemahkan
kekuatan organisasi itu sendiri. Ketepatan rekrutmen pegawai
dapat ditunjukkan oleh adanya kesesuaian rekrutmen dengan
perencanaan pegawai. Perencanaan pegawai meliputi kuantitas
dan kualitas pegawai yang akan direkrut suatu organisasi. Setiap
organisasi memerlukan rekrutmen pegawai untuk mengisi
lowongan-lowongan pekerjaan yang tersedia. Rekrutmen adalah
suatu proses yang diawali dengan keinginan untuk mengisi
31
lowongan pekerjaan yang tersedia sampai pada pelamar
memasukkan berkas lamarannya. Jadi proses rekrutmen terpisah
dari proses seleksi. Proses seleksi dilakukan setelah proses
rekrutmen dilakukan (Wirman, Syafri, Dr. M.Si & Alwi, 2014). Ada
empat tahap yang harus dilalui oleh perusahaan selama proses
rekrutmen, (Suwatno, H., & Priansa, 2011), yaitu :
1. Fase pertama: posisi rekrutmen yang jelas
2. Fase kedua: meninjau dan memperbarui deskripsi dari
sebuah spesifikasi pekerjaan
3. Fase ketiga: mengidentifikasi kemungkinan sumber
pelamar yang berkualitas
4. Fase keempat : memilih metode komunikasi yang paling
efektif sehingga pelamar merasa senang
32
4.2.2 Sumber-Sumber Rekrutmen
Menurut (Sadli, 2006), ada dua sumber utama rekrutmen pegawai,
yaitu :
1. Rekrutmen internal yaitu mencari pelamar dari pegawai-
pegawai yang sudah ada dalam organisasi. Keuntungan
dari rekrutmen internal, antara lain :
(a) Biaya lebih murah jika dibandingkan dengan
rekrutmen eksternal.
(b) Organisasi secara khusus telah memiliki pengetahuan
tentang keterampilan dan kemampuan pelamar
internal daripada pelamar eksternal.
(c) Para pekerja memiliki motivasi kerja yang tinggi
(d) Mencegah tenaga kerja yang baik keluar dari organisasi
atau perusahaan karena pengembangan karier yang
tidak jelas.
(e) Pekerja dapat memahami kebijakan, prosedur,
ketentuan dan kebiasaan organisasi perusahaan.
33
Sedangkan kelemahan utamanya adalah mungkin
berdampak negatif pada kekompakan dan moral kerja.
Kelemahan yang lainnya dalah biaya yang lebih tinggi
dibandingkan dengan rekrutmen internal.
34
Hal yang terpenting untuk diperhatiakn adalah masing-
masing teknik seleksi dapat mengukur karateristik
tertentu sehingga akan memberi informasi yang berbeda-
beda dari setiap kandidat.
7. Membuat penawaran kerja
Penawaran kerja disini adalah mempersiapkan perjanjian
kerja (KKB), memperkenalkan secara lebih mendalam
tentang peraturan dan kondisi kerja di perusahaan dan
memastikan kandidat mulai bekerja. Bagian terpenting
pada tahap ini perusahaan harus mempersiapkan kandidat
cadangan sebagai antisipasi kegiatan yang tidak
diinginkan.
8. Mulai bekerja
Strategi rekrutmen yang baik akan memberikan hasil
positif bagi organisasi atau perusahaan. Semakin efektif
proses rekrutmen dan seleksi semakin besar kemungkinan
untuk mendapatkan pegawai yang tepat.
4.3 Seleksi
Seleksi merupakan tahapan kedua yang dilakukan oleh
sebuah perusahaan dalam mendapatkan karyawan yang tepat
dalam menunjang dalam keberlanjutan sebuah perusahan. Seleksi
merupakan bagian penting untuk mendapatkan kandidat dengan
kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Proses penyaringan
dapat menghindarkan perusahaan dari mempekerjakan calon
karyawan yang tidak sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan, oleh
sebab itu instrumen yang digunakan dalam proses seleksi harus
tepat dan akurat dalam proses pengukurannya. Elemen yang
biasanya dipergunakan untuk proses seleksi adalah tes (Sari,
2008). Seleksi tenaga kerja adalah sebuah proses dari sebuah
badan usaha memilih dari sekelompok pelamar, yang paling
memenuhi kriteria seleleksi untuk posisi yang ada saat ini.
Tahapan ini dimulai dari ketika pelamar datang di perusahaan dan
35
berakhir pada keputusan diterima atau ditolak dari posisi yang
dilamar oleh pelamar terhadap pekerjaan yang diinginkan (Yusuf,
Burhanurddin, Dr.H.M.M., 2016).
36
dan diterima menjadi pegawai benar-benar merupakan
tenaga kerja yang paling memenuhi berbagai persyaratan
yang teIah ditentukan bagi pekerjaan yang akan
dilakukan.
2. Tantangan etis
Memegang teguh norma-norma etika menuntut antara
Iain disiplin pribadi yang tinggi, kejujuran yang tidak
tergoyahkan, integritas karakter serta objektivitas yang
didasarkan pada kriteria yang rasional. Hal ini sangat
penting karena tidak mustahil perekrut dihadapkan pada
berbagai macam godaan seperti menerima hadiah, disuap
pelamar, mengkatrol nilai seleksi atau hal-hal Iain yang
mengakibatkan seseorang perekrut mengambil
keputusan yang didasarkan pada pertimbangan-
pertimbangan subjektif.
3. Tantangan organisasional
Para perekrut tenaga kerja pada umunya menyadari
bahwa situasi internal suatu organisasi bahwa harus
dipertimbangkan juga dalam merekrut dan menyeleksi
tenaga-tenaga kerja baru. Disamping itu faktor internal
lain yang harus dipertimbangkan adalah kebijaksanaan
atau strategi organisasi di masa yang akan datang.
4. Kesamaan kesempatan memperoleh pekerjaan
Diberbagai negara atau masyarakat, masih saja terjadi
praktik pemanfaatan sumber daya manusia yang sifatnya
diskriminatif atau pembedaan. Ada kalanya praktik
diskriminatif itu didasarkan atas warna kulit, daerah asal,
atau Iatar belakang sosial.
37
pelamar. masih banyak kendala dalam melakukan sebuah proses
seleksi (Yusuf, Burhanurddin, Dr.H.M.M., 2016), yaitu :
1. Terdapat perbedaan antara apa yang dapat dilakukan oleh
seseorang (kemampuan) dengan apa yang akan dilakukan
oleh seseorang berkaitan dengan motivasi.
2. Fungsi individu dan lingkungan sebagai contoh kebutuhan
seseorang mungkin berbeda di berbagai situasi.
3. Lingkungan organisasi yang berlainan, serta iklim
perusahaan dapat berubah dari iklim yang kondusif ke
yang sangat restriktif.
4. Penyeleksian orang-orang yang belakangan gagal dalam
menuaikan tugasnya , karena mungkin memilih orang yang
salah pada suatu posisi tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
39
BAB 5
PENGEMBANGAN SDM
Oleh ZH.Nurul Kusumawardhani
5.1 Pendahuluan
Terkadang sebagaian manusia terlahir sebagai seorang
pemimpin, tetapi yang akan menjadikan mereka adalah seorang
pemimpin bagi diri sendiri contohya: kepemimpinan disekolah
ada juga yang menjadi seorang guru sering kita sebut juga menjadi
seorang pemimpin, siswanya dosen adalah pemimpin mahasiswa
ibu dan ayah adalah pemimpin. Namun sering tak ada kesadaraan
yang dimiliki oleh orang tersebut sumber daya manusia yang ada
pada dirinya, menjadi dirinya saya ini adalah “rakyatkecil”,
sesungguhnya pendapat ini sering mengerdilkan SDM yang
dimiliki pada dirinya. Sebagai ilustrasi, tukang becak pun adalah
pemimpin bagi keluarganya di rumah. Apalagi kalau ia mampu
menghidupkan kebesaran jiwa dan mempengaruhi kebaikan
anak-anaknya tetap memiliki sumber daya manusia untuk
mempengaruhi orang disekitarnya. Tidak ada istilah “orang kecil”
atau orang tidak berpotensial karena semua manusia adalah
khalifahnya Allah di muka bumi.
40
kepegawaiannya yang akan berkaitan dengan membina
masyarakat maupun lindungan yang ada pada SDM itu sendiri
sehingga dapat dibilang manajemen kepegawaian terutama pada
objek perusahaan swasta yang sangat formal dimana dapat kita
ketahui bahwa perlakuan ekonomi ini dapat kita singgung dengan
angka pertumbuhan yang cukup tinggi tentunya.
41
akan sesungguhnya sebagai aset daripada instansi
tersebut.
b. Keragaman melalui imigrasi dan migrasi
Keragaman tenaga kerja di indonesia memang sangat
banyak ini akan kita jumpai dikota kota besar yang
memiliki penduduk lebih banyak di lainkan kota kota
yang kecil pula.
c. Keragaman dan profesional
Keragaman membentuk masalah-masalah baru di
kalangan manajer, profesional SDM, dan organisasi-
organisasi mereka.
2. Masalah-masalah Ekonomi Global
Adanya yang terjadi kesenjangan yang dilakukan para
penerima kesenjangan yaitu si pemberi kerja juga
bertentangan dengan pemerintahan indonesia karena hal
tersebut sudah diupayakan oleh pemerintah Indonesia.
3. Masalah-masalah Pemerintah
dengan adanya permasalahan pemerintaha yang sedang
terjadi Indonesia sering kali membuat banyak
pertentangan. Adanya ikut campur tangan pemerintah ke
perusahaan swasta yaitu berguna untuk menjadikan
permasalahan. Ini menjadi lebih baik lagi untuk
kedepannya pula dan sehingga terciptanya suasana yang
baru.
4. Masalah Organisasi
Adanya masalah yang baru ini dapat kita simpulkan bahwa
muncul seperti ada pencapaian yang akan dicapai bersama
sama pula hal ini akan memudahkan perusahaan swasta
dalam menangani karyawannya yang sudah bekerja lama
diperusahaan mereka, pengembangan-pengembangan ini
pula dapat dilakuakan secara terstruktural supaya yang
akan menjadi projek kedepan dapat berjalan dengan
semestinya. Lingkup organisasi meliputi :
42
a. Serikat Pekerja
Serikat buruh/pekerja di lingkungan SDM
mencerminkan masalah sosial bagi perusahaan yang
berserikat. Dan akan menjadi sebuah masalah yang
potensial bagi perusahaan yang tidak bersertifikat
yakni pada komponen berikut ini aktif tidaknya serikat
pekerja, komposisi karyawannya dan jenis usaha
perusahaan.
b. Sistem Informasi
Seorang pemimpin yang baik ataupun seorang
menejer yang baik akan melakukan apa saja untuk
menghasilkan SDM yang baik demi perusahaan nya .
sedikit banyaknya seorang menejer harus tau apa yang
menjadi hal hal dasar yang sering terjadi pada hal
tersebut
c. Budaya Perusahaan dan Konflik
Seorang karyawan memiliki pribadi yang khas.
Persamaan antara perusahaan dapat ditemui di
departemen. Masing-masing perusahaan memiliki
budayanya yang khas . Karakter orang-orangnya,
keberhasilan maupun kegagalan merupakan salah
satu ciri dari budaya perusahaan dari produk figure
perusahaan. Budaya perusahaan sangat
mencerminkan masa lalu dan masa depan sebah
perusahaan. Masalah bagi para manajer perusahaan
dan spesialis SDM adalah menyesuaikan diri dengan
budaya perusahaan secara proaktif sehingga dapat
adaptif terhadap segala perubahan. Budaya
perusahaan pada tiap perusahaan berbeda meskipun
bergerak pada bidang yang sama.
5. Masalah-masalah Profesional
Profesionalis memerupakan masalah lain bagi manajemen
SDM. Keterampilan manajemen SDM juga penting bagi
43
banyak organisasi dan masyarakat yang tidak boleh
diabaikan. Masalah-masalah luar dan dalam perusahaan
mengharuskan para praktisi untuk setidaknya
berkualifikasi standar.
a. Sertifikasi
Asosiasi mengeluarkan sertifikasi dan menetapkan
standar-standar dan kualifikasi sertifikasi. Kriteria-
kriteria pengujian yang memastikan tingkat
kompetensi minimum antar mereka yang menetapkan
adalah profesional. Adapun bentuk uji komprehensif
menyangkut topik-topik, meliputi :
1) Kompensasi
2) Tunjangan
3) Pekerja dan hubungan tenaga kerja
4) Penyeleksian dan penempatan
5) Pelatihan dan pengembangan
6) Kesehatan,keselamatan, dan keamanan kerja
7) Praktik-praktik manajemen.
b. Kebutuhan-kebutuhan Profesional Lain
Manajemen SDM bukan merupakan disiplin yang jelas-
jelas terpisah (tersendiri) seperti halnya masalah
sosial, kedokteran, atau ekonomi. Manajemen SDM
diambil pada sejumlah disiplin.
c. Manajemen SDM dalam Perspektif
Bila masalah ini tidak terpenuhi, maka Manajemen
SDM tidak mencapai tujuannya. Barangkali, masalah-
masalah yang paling kuat berasal dari kebutuhan
untuk memahami dan memberi peluang pekerjaan
yang sama.
6. Masalah SDM Internasional
Lingkup SDM Internasional meliputi :
a. Penanggulangan Masalah SDM Internasional
44
Salah satu ciri yang sering terjadi pada penanggulan
internasional adalah menanggulangi kuranggnya SDM
yang tersedia dalam masyarakat. Dan biasanya hal ini
dilakukan melalui upaya memakai jasa seorang
pengacara yang berkompeten.
b. Masalah Keragaman Gugus Kerja
Banyak juga masalah masalah yang sangat komplek
pula seorang menejer akan dikatakan berhasil apabila
bisa mengeimplementasikan dengan sangat baik pula.
c. Kesadaran Budaya
Adanya perbedaan budaya yang cukup signifikan
antara aktivitas perusahaan internasional. Perbedaan
ini harus diperhatikan karena dapat menghambat
kinerja mereka. Perusahaan dapat melakukan
identifiasi terhadap berbagai solusi terhadap
perbedaan budaya yang dapat menghambat strategi
sebuah perusahaan.
d. Asumsi
Menejer yang mengoperasikan nya dapat juga
melakukan sebuah training penyelesaian serta
melakukan perekrutan yang sangat menarik dan
banyak jumlahnya serta adanya etnosentrisme.
e. Struktur Departemen
Saat permasalaahan ini muncul dengan sangat tidak
akurat maka akan terjadi banyak sekali dorongan
dorongan hal yang tidak baik seperti penyelesain,
adanya kompensasi dan segala aktivitas lainnya yang
berujung pada perkiraan semata saja.
f. Hak Tenaga Kerja
Hak ini adalah hal dan komponon paling utama yang
ada di perusahaan untuk membantu dalam
berjalannya ide ide yang baik Dan menghasilkan SDM
yang baik pula.
45
5.2.2 Pemanfaatan Sumber Daya Manusia
Langkah terakhir dari proses manajemen sumberdaya
manusia adalah pemanfaatan tenaga kerja. Hal ini dilakukan
untuk memelihara kinerja dari tenaga kerja agar sesuai
perencanaan dar strategi perusahaan. Hal fundamental dari itu
semua ialah produktivitas, efisiensi. Namun kenyataannya
tidak semua tenaga kerja memenuhi standar tersebut. Baik
dari faktor internal maupun eksternal sangat mempengaruhi
performa tenaga kerja. Efisiensi perlu terus dilakukan untuk
memastikan tenaga kerja tetap terpelihara kualifikasinya
sesuai dengan perencanaan strategi perusahaan. Oleh
karenaitu program-program pembinaan bagi tenaga kerja
yang lama juga perlu dilakukan. Diantara program-program
tersebut adalah program pelatihan motivasi, program
pelatihan Seven Habits (Steven Covey), dan lain-lain. Untuk
perusahaan-perusahaan tertentu, upaya untuk melanjutkan
studi di dalam negeri maupun keluar negeri merupakan salah
satu program yang dilaksanakan dalam pengembangan
sumber daya manusia perusahaan. Pemanfaatab Sumber Daya
Manusia meliputi : (1) coaching, yaitu program berupa
bimbingan yang diberikan atasan kepada bawahan mengenai
berbagai hal yang terkait dengan pekerjaan; (2) planned
progression, yaitu program berupa pemindahan tenaga kerja
pada bagian-bagian lain melalui tingkatan-tingkatan
organisasi yang berbeda-beda; (3) job rotation, yaitu sebuah
program dalam pemindahan tenaga kerja ke bagian tertentu
dengan hirarki dan tugas yang berbeda dari sebelumnya.
Gunanya agar tenaga kerja dapat secara dinamis dan
menghindari dari monoton dalam aktivitas kerjanya; (4)
temporary task, yaitu pemberian tugas sementara entah
berupa kegiatan ataupun proyek ataupun jabatan tertentu
dalam periode sementara; serta (5) performance apparaisal
atau disebut sebagai program penilaian prestasi kinerja .
46
Adapun metode off the job yang dapat dilakukan
diantaranya : (1) executive development programme, yaitu
sebuah program pengiriman manajer atau tenaga kerja dalam
sebuah program kusus di luar perusahaan yang berpartisipasi
dalam analisa kasus, simulasi, ataupun metode pmbelajaran
lainnya; (2) laboratory training, yaitu program simulasi dunia
nyata yang terkait dengan perusahaan yang ditujukan kepada
tenaga kerja dengan berbagai metode seperti role playing,
simulasi, dan lain-lain; dan yang terakhir (3) organizational
development, yaitu program yang bertujuan untuk berpikir
mengenai cara memajukan perusahaan yang ditujukan kepada
tenaga kerja.
Persaingan yang ketat di era global menjadikan
kemampuan bertahan di era ekonomi global ini sangat
dibutuhkan. Hal ini pun sanagt dibutukan oleh perusahan dan
penting bagi semua tenaga kerja untuk memiliki kemampuan
beradaptasi dengan segala tantangan. Masa depan perusahaan
nanti dipengaruhi oleh keputusan besar hari ini. Perusahaan
efektif efisien, produktif merupakan cita cita bersama. Langkah
untuk mewujudkan manajemen SDM yang berkualitas dan
berkemampuan tinggi maka perlu sebuah langkah nyata di
setiap kesempatan untuk menyadaran pada semua
manajemen SDM agar selalu berusaha meningatkan kualitass
manajemen SDM di berbagai keahlian sebagai upaya
meningkatkan bisnis ataupun aktivitas perusahaan. Kita
sebagai manusia pasti mempunya tujuan dan keinginan
masing masing yang harus segera dicapai demi
melangsungakan kehidupan-nya masing-masing. Yang
awalnya memang seseorang memasuki perusahaan itu
pastinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang menjadi
seorang diri sendiri yang akan menjadi berkembang dan
bahkan maju yaitu sangat penting membuktikan bahwa
dirinya itu baik, penuh-dengan ide ide, kerja keras sangat
47
bertanggung jawab atas apa yang sudah menjadi kerja dari diri
tersebut tanpa harus meminta bantuan dari orang lagi.
DAFTAR PUSTAKA
48
BAB 6
KEPUASAN KINERJA
Oleh Indra Rustiawan Rusman
49
mendasari keyakinan atau perasaan yang meneruskan
penilaian seseorang tentang pekerjaan keseluruhan dan
aspek-aspeknya yang terpisah, juga mencerminkan derajat
sampai di mana harapan-harapan dari suatu kontrak
psikologis.
2) Menurut Schermerhorn, hubungan antara karyawan
dengan organisasinya disebut kontrak psikologis, karena
karyawan yang menyerahkan waktu, kemampuan,
keterampilan dan usaha, mereka juga mengharapkan
imbalan dari organisasi. Mengenai kontak psikologis ini
Eghar S. Schein yang dikutip Gibson, Ivansevich and Donnely
(1998) menjelaskan bahwa orang mempunyai berbagai
harapan dari organisasi, dan organisasi yang mempunyai
berbagai harapan dari karyawan. Harapan-harapan ini
tidak hanya meliputi berapa banyak pekerjaan yang harus
dilakukan dan berapa upahnya, tetapi juga meliputi
seluruh pola yang terdiri dari hak-hak istimewa dan
kewajiban antar karyawan dan organisasi.
3) Menurut (Albanese, 1988), menyatakan bahwa kepuasan
kerja adalah suatu sikap, ia adalah suatu sikap serentak
yang dimiliki seseorang terhadap suatu sikap, dan ia adalah
seperangkat sikap-sikap yang spesifik yang dimiliki
seseorang terhadap komponen-komponen tertentu dari
suatu pekerjaan. Sikap-sikap tersebut mempunyai tiga
komponen : kognitif, afektif dan kognatif. Yang di maksud
dengan komponen kognitif adalah sekelompok
kepercayaan bahwa seseorang mempunyai kecenderungan
terhadap pekerjaan, komponen obyektif yaitu perasaan
senang atau tidak senang terhadap pekerjaan dan
dimaksud dengan komponen kognatif adalah aspek
tendensi tindakan dari sikap kepuasan kerja.
4) Menurut (Handoko, 1995), kepuasan kerja adalah
kepuasan emosional yang menyenangkan atau tidak
50
menyenangkan dengan mana para karyawn memandang
pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan
perasaan seseorang terhadap pekerjaannya.
5) Menurut (As’ad, 1995), dalam (Wexley and Yuki, 1977)
bahwa di sebut sebagai kepuasan kerja adalah bahwa
kepuasan kerja sebagai perasaan seseorang terhadap
pekejaan, (Vroom, 1964), menyatakan sebagai refleksi dari
job attitude yang bernilai positif. Hoppeck menarik
kesimpulan setelah mengadakan penelitian terhadap
karyawan kerja merupakan penilaian dari pekerja yaitu
seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan
memuaskan kebutuhannya.
6) Menurut (Tiffin, 1958), berpendapat bahwa kepuasan
kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan
terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama
antara pimpinan dengan sesama karyawan. Kemudian
(Bloom, 1956), mengemukakan bahwa kepuasan kerja
merupakan sikap umum yang merupakan hasil dari
beberapa sikap khusus terhadap faktor-faktor pekerjaan,
penyesuaian diri dan hubungan sesuai individu di luar
kerja.
7) Menurut (Marchington, 1986), menyatakan bahwa apabila
responden berkata tentang perasaan puas, secara umum
hal ini berkaitan dengan pencapaian sesuatu atau dihargai
sebagai seorang karyawan yang baik dan lain-lain. Bila ia
menyatakan tentang segala sesuatu mengenai perasaan
kurang puas, maka biasanya ia akan mengaitkan dengan
pengawasan kerja yang kurang baik, pengupahan yang
kurang mencukupi, keadaan lingkungan kerja yang kurang
sehat.
Berdasarkan batasan-batasan mengenai kepuasan kerja
yang dikemukakan di atas, maka dikatakan bahwa konsepsi
kepuasan kerja melihat kepuasan kerja itu sebagai hasil interaksi
51
manusia dengan lingkungan kerjanya. Jadi, determinasi kepuasan
kerja menurut batasan ini meliputi perbedaan individu maupun
hasil lingkungan pekerjaannya. Di samping itu, perasaan orang
terhadap pekerjaan sekaligus merupakan refleksi sikapnya
terhadap pekerjaan. (Gibson and Donnely, 1996), menyatakan
bahwa teori kepuasan adalah teori yang memfokuskan pada
faktor-faktor dalam diri seseorang yang mendorong,
mengarahkan, mempertahankan dan menghentikan perilaku.
52
faktor kepuasan kerja dapat menyumbangkan manfaat pada
peningkatan produktivitas dan efisiensi melalui perbaikan sikap
dan tingkah laku karyawannya. Bagaimanapun juga karyawan
yang merasa puas akan menunjukkan sikap positif terhadap
pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi atau ditugaskan
kepadanya. Dengan demikian kepuasan kerja akan membawa
dampak positif terhadap hasil kerja karyawan. Apabila karyawan
kurang merasakan kepuasan kerja, maka dapat menimbulkan
perilaku yang dapat merugikan perusahaan itu sendiri. Perilaku
yang merugikan itu antara lain adalah tingginya tingkat turn over,
tingginya tingkat absensi (ketidakhadiran) karyawan dan bahkan
mungkin pencurian. Meskipun hanya merupakan salah satu faktor
dari banyak faktor lainnya, kepuasan kerja mempengaruhi tingkat
perputaran karyawan (turn over). Bila kepuasan kerja meningkat,
maka tingkat turn over akan menurun, dan sebaliknya jika tingkat
kepuasan kerja menurun, maka tingakat turn over akan tinggi.
Secara lebih jauh, hal ini dapat menurunkan loyalitas para
karyawan terhadap perusahaan, dan mencari kesempatan di
perusahaan lain.
54
e. Hilangnya produksi selama selang waktu antara pemutusan
hubungan kerja dengan karyawan lama dan penggantian oleh
karyawan baru.
f. Peralatan produksi tidak digunakan sepenuhnya selama
selang beberapa waktu pengangkatan dan periode pelatihan.
g. Tingkat pemborosan dan sampah meningkat apabila
karyawan baru terlibat.
h. Upah lembur mungkin diakibatkan oleh jumlah pemutusan
hubungan kerja yang berlebihan, yang menyebabkan kesulitan
dalam memenuhi tanggal-tanggal penyerahan barang.
56
faktor hubungan antara karyawan; (b). faktor individual; (c).
faktor luar. (Luthans, 1989), mengkategorikan kepuasan kerja
menjadi lima jenis yaitu kepuasan atas : (1). pekerjaan; (2). atasan;
(3). kondisi kerja; (d). upah dan gaji; (e). hubungan dengan rekan
kerja.
(Weiss et al., 1967), secara terperinci mengemukakan
bahwa terdapat 20 hal yang menunjukkan kepuasan kerja
seseorang secara lengkap di dalam perusahaan adalah kepuasan
atas :
1. Pemanfaatan Kemampuan,
2. Prestasi,
3. Aktivitas,
4. Kemahiran,
5. Otorisasi,
6. Kebijakan Perusahaan,
7. Imbalan,
8. Hubungan Antar Rekan Kerja,
9. Kreativitas,
10. Kemandirian,
11. Nilai-Nilai,
12. Pengakuan,
13. Tanggung Jawab,
14. Keamanan,
15. Pelayanan Sosial,
16. Situasi Sosial,
17. Hubungan Sosial Dengan Atasan,
18. Kemampuan Teknikal Atasan,
19. Keanekaragaman Tugas,
20. Kondisi Kerja.
57
Berdasarkan pendapat diatas, (As’ad, 1995) merangkum faktor-
faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu :
a. Faktor psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan
kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam
bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilam,
b. Faktor sosial, faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial,
baik antar sesama karyawan dengan atasannya maupun
dengan karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.
c. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan
kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan
waktu kerja dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan
ruangan (suhu, penerangan, perputaran udara), kondisi
kesehatan karyawan, umur dan sebagainya.
d. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan
jaminan serta program yang meliputi system dan besarnya gaji,
jaminan sosial, macam-maca tunjangan, fasilitas yang
diberikan, promosi dan sebagainya.
59
maksud dengan comparison person adalah dengan siapa
karyawan membandingkan rasio input-outcomes yang
dimilikinya. Dalam bentuk formula dapat digambarkan
sebagai berikut :
Input A Input B
Outcomes A Outcomes B
Comparison person ini bias berupa seseorang di perusahaan
yang sama atau di tempat lain atau bias pula dengan dirinya
sendiri di waktu lampau. Menurut Wexley & Yuki, bahwa
berdasarkan teorinya ini setiap karyawan akan
membandingkan ratio input- outcomes dirinya dengan ratio
input-outcomes orang lain (comparison person). Bila
perbandingan itu dianggapnya cukup adil (equity), maka ia
merasa puas. Bila perbandingan itu tidak seimbang tetapi
menguntungkan (over compensation inequity) bisa
menimbulkan kepuasan tetapi bisa pula tidak (misalnya orang
yang moralis). Tetapi bila perbandingan itu tidak seimbang
dan merugikan (under compensation inequity) akan timbul
ketidakpuasan. Adapun kelemahan dari teori ini menurut
(Locke, 1969) adalah kenyataan bahwa kepuasan orang juga
ditentukan oleh melamar pekerjaan apabila di Tanya besarnya
upah/gaji yang diinginkan.
c. Two Factor Theory
Menurut (Herzberg, 1966), prosip dari teori ini adalah bahwa
kepuasan kerja dan ketidakpuasn kerja itu merupakan dual hal
yang berbeda. Artinya kepuasan dan ketidakpuasan terhadap
pekerjaan itu tidak merupakan suatu variable yang kontiyu.
Teori ini pertama kali ditemukan ole Herzberg.
60
DAFTAR PUSTAKA
62
BAB 7
DISIPLIN
Oleh Nicholas Simarmata
7.1 Pendahuluan
Disiplin kerja karyawan akan mempengaruhi kinerja
organisasi. Karyawan adalah salah satu unsur atau bagian
terpenting dari organisasi yang diharapkan mampu
mempunyai disiplin kerja yang tinggi untuk keberhasilan
organisasi. Sehingga keberhasilan atau kegagalan organisasi
dipengaruhi oleh banyak factor dimana salah satunya yaitu
disiplin kerja (Agussalim & Mappatompo, 2019). Disiplin kerja
bagi karyawan merupakan cara karyawan melakukan
pekerjaanya dengan benar dan tepat sehingga hasil yang
dicapai akan sesuai dengan tujuan pekerjaan yang dilakukan.
Maka untuk mencapai kinerja yang baik diperlukan karyawan
yang memiliki disiplin kerja (Alam, Tamsah, & Ilyas, 2019).
63
mereka bersedia untuk mengubah perilaku serta sebagai upaya
untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan karyawan menaati
peraturan dan norma sosial yang berlaku (Rivai & Jauvani, 2011).
Sasaran dari disiplin kerja dibagi menjadi tiga yaitu
(Handoko, 2008) untuk memperbaiki pelanggar, untuk
menghalangi karyawan lain melakukan kegiatan yang serupa, dan
untuk menjaga standar kelompok tetap konsisten dan efektif.
Sasaran tindakan disiplin kerja hendaknya bersifat positif, bersifat
mendidik dan mengoreksi. Sasaran tindakan disiplin kerja bukan
merupakan tindakan negatif yang dapat menjatuhkan karyawan
yang berbuat salah. Maksud dari disiplin kerja adalah untuk
memperbaiki kegiatan di waktu yang akan datang. Bukannya
malah menghukum kegiatan di masa lalu. Pendekatan negatif
dalam menerapkan disiplin kerja karyawan yang bersifat
menghukum akan mempunyai berbagai pengaruh sampingan
yang merugikan, seperti hubungan emosional terganggu, absensi
karyawan meningkat, kelesuan dan juga ketakutan yang dapat
mengganggu kinerja karyawan.
Tujuan dari disiplin kerja yaitu memastikan karyawan
untuk taat aturan, keberlangsungan organisasi, meningkatkan
produktivitas kerja, dan membuat karyawan berperilaku sesuai
dengan norma dan aturan. Disiplin kerja merupakan fungsi
manajemen sumber daya manusia yang terpenting dan kunci
terwujudnya tujuan organisasi dan menentukan kedisiplinan
seseorang. Disiplin kerja merupakan modal utama yang amat
menentukan tingkat kinerja karyawan (Hasibuan, 2013). Disiplin
kerja dapat didefinisikan sebagai sikap menghormati, menghargai,
patuh dan taat terhadap peraturan yang berlaku, baik yang tertulis
maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak
mengelak untuk menerima sanksinya apabila melanggar tugas
dan wewenang yang diberikan. Pengertian lain dari disiplin kerja
yaitu prosedur yang mengkoreksi atau menghukum karena
64
melanggar peraturan atau prosedur (Alam, Tamsah, & Ilyas,
2019).
Faktor disiplin kerja perlu mendapat perhatian yang besar
baik bagi pimpinan maupun karyawan yang bersangkutan.
Penanaman disiplin kerja terlihat dari tingginya kesadaran
karyawan dalam melaksanakan tugas organisasi, memperhatikan
jam kerja, berpakaian seragam, pemakaian peralatan, dan kualitas
pekerjaan karyawan cukup memadai (Hestini & Haryani, 2020;
Rivai, 2008; Hasibuan, 2003). Disiplin kerja merupakan fungsi
operasional manajemen sumber daya manusia yang terpenting
karena semakin baik disiplin kerja maka semakin baik pula kinerja
yang dapat dicapai. Disiplin kerja merupakan faktor utama yang
diperlukan sebagai alat peringatan terhadap karyawan yang tidak
mau berubah sifat dan perilakunya yang bermasalah. Sehingga
karyawan dikatakan memiliki disiplin kerja yang baik jika
karyawan tersebut memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugas
yang diberikan kepadanya (Sutrisno, 2013).
69
yang bermasalah. Pendekatannya adalah pendekatan yang
berusaha membuat kontak yang mendalam sambil mengurangi
ketergesaan dalam menggunakan hukuman. Dalam pendekatan
ini diberikan peringatan lisan, peringatan tertulis, dan kemudian
cuti pengambilan keputusan. Namun karyawan juga harus
membuat keputusan untuk membuat komitmen total untuk
memperbaiki kinerja yang bermasalah atau keluar untuk mencari
pekerjaan di tempat lain. Mereka percaya pendekatan ini berguna
dalam mengembangkan tanggung jawab dan disiplin diri
(Osigweh & Hutchison, 1989). Ada pula cuti berbayar. Hal itu
bermanfaat sebagai itikad baik, mengubah kemarahan menjadi
rasa bersalah, mengurangi permusuhan, dan memperkuat nilai
karyawan.
Terdapat beberapa pelanggaran (yaitu pencurian,
penyalahgunaan narkoba di tempat kerja, atau perusakan
properti) disarankan untuk melakukan pemecatan segera,
pendekatan disiplin progresif dan hukuman untuk memberi
karyawan kesempatan untuk berubah. Ada metode yang dapat
digunakan untuk membantu mempertahankan karyawan sambil
berusaha memperbaiki perilaku bermasalah. Metode tersebut
menguji baik perilaku bermasalah dan karyawan. Semuanya itu
berorientasi pada pengembangan, bukan pada hukuman. Setiap
metode unik karena berusaha melibatkan karyawan dalam
mencapai solusi yang dapat diterima untuk masalah kinerja saat
ini atau yang mendatang (Grote, 2001).
7.7 Kesimpulan
Disiplin kerja termasuk hal yang sangat penting organisasi
karena tanpa adanya disiplin kerja yang baik tidak mungkin
tercipta disiplin kerja yang baik (Jalil, Idris, & Salim, 2022). Artinya
disiplin kerja juga menjadi unsur utama dan elemen penting bagi
keberlangsungan dan beroperasinya organisasi agar dapat maju
dan berkembang. Sehingga disiplin kerja perlu terus
70
dikembangkan bentuk, aturan, atau pelaksanaannya agar dapat
menemukan pola yang tepat bagi kasus spesifik sekaligus dapat
juga mengikuti perkembangan pasar dan zaman.
DAFTAR PUSTAKA
71
Huberman, J. (1964). Discipline without punishment. Harvard
Business Review, 42(4), 62–70.
Jalil, A., Idris, M., & Salim, M. (2022). Pengaruh Disiplin Kerja,
Budaya Kerja Dan Kompetensi Terhadap Kinerja Karyawan
Pada Kantor Camat Matakali Kabupaten Polewali Mandar.
Jurnal Aplikasi Manajemen & Kewirausahaan MASSARO.
Volume 4. No.2. Agustus. Hal. 97-107. e-ISSN : 2685-2349.
Mangkunegara, A.A.P. (2009). Perencanaan dan
Pengembangan Manajemen Sumber Daya Manusia,
Bandung: Penerbit Rafika Aditama.
Osigweh, C.A.B. & Hutchison, W.R. (1989). Positive discipline.
Human Resource Management, 28, 367–383.
Rivai, V. & Jauvani, E. (2011). Manajemen Sumber Daya
Manusia untuk organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Rivai, V. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia untuk
Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sastrohadiarjo, S. (2002). Manajemen Karyawan Indonesia
(pendekatan administrasi dan operasional). Jakarta:
Penerbit Bumi Aksara.
Sutrisno, E. (2013). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Kencana Prenada Media Grup.
72
BAB 8
PRODUKTIVITAS KERJA
Oleh Yane Puspito Sari
8.1 Pendahuluan
Produktivitas kerja merupakan kata kunci bagi sebuah
perusahaan. Perusahaan akan menuntut kepada karyawannya
untuk melakukan aktifitas produktif guna kelancaran
pengembangan dan jalannya perusahaan. Produktivitas karyawan
ini akan mendukung penjualan dan operasional perusahaan
semakin maju. Produktivitas adalah cara meningkatkan jumlah
penjualan barang atau jasa dengan sumber daya yang ada secara
efektif dan efisien. Dengan meningkatnya produktivitas kerja
karyawan, semakin meningkat pula aktivitas yang terjadi pada
prusahaan. Ini akan berefek pada meningkatnya jumlah hasil
produksi perusahaan.
Produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil
nyata maupun fisik berupa barang atau jasa dengan masukan yang
sebenarnya. Produktivitas mengandung arti perbandingan antara
hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang
digunakan, yang berkaitan dengan sikap mental produktif.
Produktivitas merupakan rasio antara kepuasan atas kebutuhan
dan pengorbanan yang dilakukan. Produktivitas menggambarkan
adanya ukuran efisiensi dalam penggunaan sumber daya pada
level masyarakat, organisasi atau individu. Peningkatan
produktivitas lebih banyak merupakan hasil dari perencanaan
yang tepat, investasi yang bijaksana, teknologi baru dan teknik
73
yang lebih baik. Produktivitas tergantung pada usaha yang penuh
kesadaran dari tiap-tiap individu, kesediaan untuk bekerja secara
baik dan mendapatkan gaji yang memadai. Peningkatan
produktivitas dapat dilihat dalam tiga bentuk yaitu: jumlah
produksi meningkat dengan menggunakan sumber daya yang
sama, jumlah produksi yang sama atau meningkat dicapai dengan
menggunakan sumber daya yang kurang dan jumlah produksi
yang jauh lebih besar diperoleh dengan pertambahan sumber
daya yang relatif lebih kecil. Produktivitas dikatakan meningkat
jika dapat menghasilkan lebih banyak dalam jangka waktu yang
sama, atau dapat menghasilkan sama banyak dalam jangka waktu
yang lebih singkat (Hasibuan, 2012).
8.2.1 Pekerjaan
Pekerjaan dapat mendukung produktivitas kerja
karyawan. Jika pekerjaan itu mudah dan dapat dilakukan oleh
karyawan, mereka akan melakukan pekerjaan itu dengan baik.
Produktivitas kerja meliputi sikap yang senantiasa mempunyai
pandangan bahwa kegiatan hari ini harus lebih baik dari kegiatan
kemarin dan hasil yang dapat diraih esok harus lebih baik
daripada hasil yang diraih hari ini. Produktivitas kerja yang baik,
dapat dilakukan melalui, manajemen dan metode kerja yang baik,
penghematan biaya, ketepatan waktu (berkenaan dengan cepat
dan lambatnya mencapai suatu pekerjaan), sistem dan teknologi
yang baik. Suatu pekerjaan dikatakan produktif bila fasilitas yang
digunakan untuk bekerja memadai dan penggunaan bahan baku
dan peralatan yang cukup membantu pekerjaan.
74
8.2.2 Karyawan Itu Sendiri
Semangat kerja para karyawan merupakan unsur penting
guna mencapai produktivitas yang tinggi. Maka sebaiknya
pimpinan memperhatikan unsur penting tersebut seperti melalui,
gaji yang sesuai dengan pekerjaan karyawan, memperhatikan
kebutuhan karyawan, dan penempatan karyawan pada posisi
yang tepat. Motivasi dari dalam diri sendiri karyawan juga
mempengaruhi produktivitas kerja mereka. Karena motivasi
tertinggi itu sebenarnya ada pada diri manusia itu sendiri.
Produktivitas adalah sikap mental yang mempunyai semangat
untuk melakukan peningkatan perbaikan. Perwujudan sikap
mental, dalam berbagai kegiatan antara lain sebagai berikut,
pengetahuan, ketrampilan, kedisiplinan, upaya pribadi dan
kerukunan kerja. Sikap mental ini juga ada pada diri karyawan itu
sendiri (Hasibuan, 2012).
8.3.1 Pengetahuan
Pengetahuan seseorang dapat diperoleh dari pendidikan
formal dan nonformal. Pengetahuan sangat memdukung
produktivitas kerja karyawan dalam melakukan kegiatan sehari-
hari dalam perusahaan. Karena dengan adanya pengetahuan ini,
karyawan akan lebih bisa memecahkan masalah dan mengambil
keputusan dalam kegiatan perusahaan. Daya pikir karyawan juga
ditentukan dari seberapa besar pengetahuan yang dimiliki
karyawan. Karyawan dituntut untuk memiliki pengetahuan yang
tinggi agar dalam melakukan pekerjaan mereka dapat melakukan
dengan baik dan benar.
75
8.3.2 Ketrampilan
Ketrampilan kerja adalah kemampuan dalam melakukan
sesuatu yang dapat membantu memaksimalkan kegiatan
karyawan dalam tugasnya sehari-hari di perusahaan. Dengan
adanya ketrampilan yang dimiliki oleh karyawan, dapat menjaring
lebih banyak pelanggan dan mampu membantu mempermudah
pelanggan dalam mencapai tingkat kepuasan yang tinggi.
Ketrampilan juga merupakan modal yang harus dimiliki oleh
karyawan. Perusahaan banyak yang mengharapkan karyawannya
memiliki ketrampilan dibandingan hanya bermodal mau bekerja.
Karyawan akan lebih mudah dalam menyelesaikan pekerjaan
dengan lebih efektif dan efisien serta hasil yang maksimal.
Ketrampilan kerja yang harus dimiliki oleh karyawan, agar dapat
membawa kesuksesan dalam diri sendiri, tim dan perusahaan
(Sedarmayanti, 2018) adalah :
a. Komunikasi
Komunikasi yang baik dan efektif harus bisa dilakukan baik
secara lisan maupun tulisan karena dalam bekerja karyawan
akan berkomunikasi secara langsung seperti saat presentasi,
berdiskusi dan meeting, serta komunikasi secara tidak langsung
seperti e-mail, media sosial dan berbagai pesan singkat tertulis.
Dengan memiliki keterampilan komunikasi yang baik dan
efektif maka akan bermanfaat untuk menghindari
kesalahpahaman dalam tim, lebih lancar saat demo penjualan
produk, serta lebih mudah menyampaikan pesan perusahaan
pada pelanggan dan klien lewat berbagai cara dan media.
b. Etika
Etika yang baik juga merupakan ketrampilan kerja yang bisa
diasah, misalnya dengan bersikap profesional, jujur, disiplin
dan bertanggung jawab. Nilai-nilai baik dalam etika yang
dimiliki oleh karyawan bisa menunjang karirnya karena
membuatnya lebih terpercaya.
c. Organisasi
76
Berorganisasi merupakan kemampuan karyawan dalam
memastikan bahwa semua pekerjaannya berjalan dengan
lancar serta penuh rasa tanggung jawab. Keterampilan
organisasi ini sangat bermanfaat bagi sebuah tim untuk meraih
keberhasilan suatu proyek.
d. Negosiasi
Negosiasi adalah kemampuan dalam mengutarakan sebuah
maksud untuk mencapai tujuan dan kesepakatan yang baik
bagi kedua belah pihak. Negosiasi diperlukan untuk
mendapatkan kerjasama yang baik dengan pihak luar.
e. Kerja sama
Ketrampilan kerja sama sangat dibutuhkan baik saat bekerja
secara individu maupun dalam tim. Hal ini dikarenakan semua
tugas kerja di dalam perusahaan pada dasarnya saling
berkaitan. Dengan memiliki keterampilan kerja sama maka
setiap tugas kerja bisa dilakukan dengan lebih cepat, efektif dan
efisien dalam lingkungan kerja yang positif.
f. Berpikir kritis
Berpikir kritis adalah kemampuan dalam menganalisis dan
menciptakan solusi untuk menyelesaikan setiap permasalahan
yang sedang dihadapi. Karena dunia bisnis akan selalu
menghadapi masalah yang berubah-ubah, maka dibutuhkan
karyawan dengan keterampilan pemikiran kritis yang bisa
tetap sabar dan disiplin meski sedang ada di dalam masa yang
sulit dan genting.
g. Percaya diri
Percaya diri bisa dimiliki oleh siapapun termasuk karyawan.
Dengan memiliki rasa percaya diri maka akan semakin mudah
menyampaikan ide, gagasan, pendapat, bahkan bisa lebih
berani saat harus berhadapan langsung dengan pihak luar
seperti pelanggan dan klien. Dengan demikian, tingkat
keberhasilan proyek yang dilakukan akan semakin meningkat.
h. Teknologi
77
Teknologi merupakan salah satu bentuk ketrampilan dengan
kemampuan penguasaan teknologi yang berguna untuk
menambah keefektifan dan efisiensi kerja. Misalnya
penguasaan fungsi komputer dasar, penggunaan bermacam-
macam aplikasi bisnis dan pemanfaatan berbagai teknologi
digital lainnya.
i. Kepemimpinan
Ketrampilan leadership atau kepemimpinan berupa
kemampuan dalam membersamai, menginspirasi, memotivasi
dan memberdayakan orang lain terutama dalam tim.
Keterampilan dalam memimpin ini dapat membuka
kesempatan untuk mendapatkan promosi jabatan kerja yang
lebih tinggi.
78
8.4 Faktor Yang Menyebabkan Produktivitas
Kerja Menurun
Produktivitas kerja sangat penting dalam dunia kerja.
Dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik adalah tujuan utama.
Namun tidak jarang penurunan produktivitas terjadi dalam
perusahaan. Penyebab turunnya produktivitas kerja dipengaruhi
oleh banyak hal diantaranya kebiasaan-kebiasan dari karyawan
itu sendiri. Berikut kebiasaan yang bisa menjadi faktor
penghambat produktivitas di tempat kerja (Hasibuan, 2012) :
1. Terlalu sering mengeluh
Karyawan yang terbiasa mengeluh, biasanya bekerja secara
lamban dan tidak menyukai pekerjaannya, ini akan dapat
menurunkan produktivitas kerja nya dalam perusahaan.
2. Selalu mencari alas an
Karyawan ini akan mencari kesalahan orang lain guna
menutupi kekurangannya, dengan sikap ini mereka tidak
akan bisa bekerja secara tim.
3. Tidak antusias dalam bekerja
Motivasi yang tertinggi ada pada diri manusia, sikap ini
mencerminkan bahwa karyawan tidak termotivasi untuk
bekerja dengan baik.
4. Tidak mau bekerja sama dengan rekan kerja
Mereka cenderung tidak bisa bekerja secara tim/kelompok.
5. Suka bergosip
Sikap karyawan ini adalah suka menjelekkan karyawan lain
dan tidak menyukai jika ada karyawan lain lebih baik
pekerjaannya dibandingkan dirinya.
6. Menunda pekerjaan
Menunda pekerjaan juga merupakan factor yang dapat
menghambat produktivitas kerja karyawan
9. Datang terlambat
Dengan karyawan yang datang terlambat, akan menyebabkan
pekerjaan juga akan tertunda dalam penyelesaian. Ini akan
79
mengakibatkan banyak pekerjaan yang akhirnya tidak selesai
tepat waktu.
8.5.2 Kuantitatif
Metode ini biasanya identik dengan angka. Mengukur
produktivitas kerja lebih kepada divisi tertentu seperti
pengepakan produk, distribusi produk, hingga bagian produksi.
Untuk lebih jauh, bagian supervisi mampu melihat hasil
produktivitas dari standar produksi dan distribusi karyawan.
81
ini akan menghasilkan keputusan bahwa produktivitas kerja
karyawan sangat baik. Sebaiknya jika keuntungan menurun, yang
disebabkan banyak hal yang dicapai oleh perusahaan, ini
mengakibatkan produktivitas kerja juga menurun. Keuntungan
yang meningkat akan berpengaruh dengan produktivitas kerja
karyawan. Karena diharapkan dengan adanya keuntungan yang
meningkat ini, akan menyebabkan peningkatan kebutuhan
karyawan yang akan terpenuhi oleh perusahaan, dan ini juga akan
memotivasi karyawan untuk meningkatkan produktivitas kerja
mereka (Wahyudi, 2010).
DAFTAR PUSTAKA
82
BAB 9
MOTIVASI
Oleh Dina Novita
9.1 Pendahuluan
Dalam setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, baik
secara perseorangan maupun kelompok membutuhkan kekuatan
yang dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Salah satu bentuk
kekuatan yang dapat mempengaruhi emosi perilaku kita adalah
motivasi. Motivasi seringkali dikatakan sebagai sebuah dorongan
yang dapat mempengaruhi perilaku individu maupun kelompok
dalam pencapaian tujuan. Terbentuknya motivasi itu dapat
dilakukan sendiri untuk mendapatkan kekuatan dalam menacapai
tujuan kegiatan, namun seringkali motivasi itu justru berasal dari
orang lain untuk mendapatkan kekuatan dalam pencapaian tujuan
tertentu. Motivasi seringkali menjadi tugas besar bagi pimpinan
perusahaan terhadap karyawannya dalam pencapaian tujuan
perusahaan, dikarenakan motivasi dapat menjadi keterikatan bagi
karyawan dalam bekerja dan mempengaruhi hasil dari
pekerjaannya.
83
merupakan hal penting yang harus ada dalam suatu organisasi,
karena motivasi erat hubungannya dengan sumber daya manusia
yang ada dalam suatu organisasi. Terdapat beberapa definisi
motivasi dari para peneliti sebelumnya, salah satu motivasi yang
seringkali digunakan dalam kegiatan sehari-hari adalah teori
hierarki kebutuhan maslow. Dalam hierarki kebutuhan tersebut
menjadikan kebutuhan sebagai pondasi dalam setiap perilaku
manusia dalam melakukan kegiatannya (S. P. Robbins, 2011).
Motivasi secara definisi juga dapat diartikan sebagai
dorongan yang berasal dari dalam diri (drive) dengan diakhiri
pada pembiasaan. Dimana pembiasaan diri digunakan untuk
memuaskan motif seseorang, (Mangkunegara, 2014). Dengan
beberapa pendapat yang diberikan oleh para ahli sebelumnya,
maka dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan
yang terdapat dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan
guna tercapainya tujuan. Dengan adanya dorongan tersebut, maka
seseorang dapat mencapai tujuan dengan cara yang lebih terarah.
Apabila itu terjadi pada seorang karyawan, maka karyawan akan
bekerja sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh perusahaan
dengan caranya.
86
2. Kebutuhan akan kekuasaan (nPow) adalah kebutuhan
untuk membuat orang lain berperilaku dengan cara tidak
akan dilakukan tanpa dirinya.
3. Kebutuhan afiliasi (nAff) adalah keinginan untuk hubungan
yang penuh persahabatan dan interpersonal yang dekat.
Ketiga unsur yang terdapat dalam teori kebutuhan yang
dikembangkan oleh McClelland ini memberikan dampak yang
kuat bagi seseorang dalam melakukan pekerjaan. Oleh sebab itu
pimpinan diharapkan memiliki pemahaman tentang kebutuhan
yang dapat meningkatkan kinerja karyawan.
87
Tabel 9. 1 Perbandingan Teori Hierarki Kebutuhan
& Teori Motivasi
Teori Hierarki Teori Motivasi Herzberg
Kebutuhan
Maslow
Faktor Aktualisasi diri ▪ Pekerjaan yang kreatif
Motivasi dan dan menantang
penghargaan ▪ Prestasi
▪ Penghargaan
▪ Tanggung jawab
▪ Kemajuan
Faktor Penghargaan Status
Pemeliharaan
Sosial Hubungan antar pribadi
dengan atasan, bawahan
dan rekan sejawat
88
lain : teori penetapan tujuan, teori keadilan, teori harapan, serta
beberapa teori lainnya yang masuk dalam teori kontemporer.
90
9.4.3 Teori Harapan (Expectancy Theory)
Karyawan memiliki perubahan pada perilaku atas
termotivasi disaat karyawan memberikan manfaat pada
perusahaan dan merasa dihargai oleh pimpinan perusahaan.
Dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian
tujuan, karyawan memiliki rasa keyakinan atas hasil kerjanya
mendapatkan imbalan dan penghargaan.
Dalam expectancy theory yang dikembangkan oleh Victor
H. Vroom menjelaskan tentang perilaku yang menjadikan
karyawan memiliki semagat dan giat dalam melakukan pekerjaan.
Teori harapan melibatkan hubungan multiplikatif dalam 3 konsep
yang berkaitan dengan expectancy theory menurut Vroom, antara
lain : 1). expectancy; 2). instrumentality; dan 3). Valence (Swain et
al., 2020). Expectancy diartikan bahwa dalam diri seseorang
memiliki keyakinan atas tingkat usaha tertentu akan memberi
hasil tertentu sesuai dengan usahanya. Instrumentality merupakan
seseorang yang memiliki keyakinan untuk menerima hasil berupa
penghargaan apabila dapat memenuhi hasil dari kinerja atas
usaha yang dilakukannya. Valence merupakan bentuk penilaian
yang ditempatkan atas hasil yang dicapai, baik penilaian secara
positif ataupun negatif.
91
memiliki kinerja tinggi untuk mendapatkan imbalan dan
penghargaan yang sesuai. Expectancy theory memberi gambaran
tentang keterkaitan tentang harapan dari karyawan (Anatan,
2010), antara lain : 1). hubungan usaha dan kinerja; 2). hubungan
usaha dan penghargaan; 3). hubungan penghargaan dan tujuan.
Hubungan ketiganya dapat digambarkan sebagai berikut :
92
kekuatan karyawan dalam menggerakkan serta menciptakan
semangat seseorang dalam bekerja agar dapat melakukan
kerjasama dengan orang lain, bekerja secara efektif dan efisien
dengan segala kemampuannya untuk memberikan rasa puas.
Karyawan yang memiliki perasaan puas atas hubungan umpan
balik yang dbaik dilingkungannya, akan berdampak positif
terhadap hasil kerja akhir. Hasil akhir yang dimaksud ini
merupakan kinerja karyawan atas hasil akhir dari proses yang
dilakukannya.
Motivasi yang sebagai pendorong bagi karyawan memiliki
dampak output yang tinggi sesuai tujuan perusahaan, sebaliknya
apabila karyawan tidak mendapatkan umpan balik dalam bentuk
motivasi akan merasa enggan melakukan pekerjaannya dan
cenderung menolak pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan
(Rawat et al., 2015; Dharma, 2018; Wondal et al., 2019).
93
DAFTAR PUSTAKA
95
BAB 10
PRESTASI KERJA
Oleh Hani Hasanah
10.1 Pendahuluan
Kecepatan Revolusi Industri 4.0 yang tidak pernah terjadi
di revolusi industri sebelumnya, mendorong pergeseran cara kerja
(model dan proses bisnis) industri yang menuntut perusahaan
untuk mengubah strategi agar tidak terdisrupsi tetapi sebaliknya
dapat mendisrupsi dengan cara “berubah” (transformasi).
Perkembangan teknologi telah mengubah cara kerja manusia dan
berbagai perilaku atau budaya, seperti sharing economy (budaya
berbagi sumber daya), kehidupan sosial, cara berbelanja, cara
belajar, cara bekerja dan pola interaksi. Banyak sekali jenis
pekerjaan yang akan hilang dan di operasikan secara otomatis
(robotic system), sebaliknya akan muncul jenis-jenis pekerjaan
baru seperti: Gene designer, Big Data dan AI scientist, eSport, Cyber
security, Elderly Care. Istilah Industri 4.0 pertama kali repercussion
(menggema dan berkumandang) fair yang dilaksanakan di kota
Hannover Jerman pada April 2011. Istilah ini digunakan oleh
pemerintah Jerman sebagai simbol untuk mendorong bidang
industri ke tahap yang lebih advance dengan institutional support
system (teknologi). revolusi industri generasi keempat ini dapat
diartikulasikan adanya chip in (campurnya) sebuah sistem cerdas
dan otomasi dalam industri hal yang digerakkan oleh data melalui
teknologi machine learning dan artifcal intellegence.
96
Kemajuan teknologi dibidang informasi dan komunikasi
berkembang sangat pesat. Disrupsi menggantikan “pasar lama”
industri dan teknologi untuk menghasilkan kebaruan yang lebih
efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif sekaligus kreatif.
Disrupsi berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan
yang baru. Disrupsi menggantikan teknologi lama yang serba fisik
dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-
benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat. Pada dunia
digital, batas antara kehidupan kerja dan kehidupan professional
akan menjadi kabur. Kesejahteraan dan profesionalisme pribadi
akan menjadi penting (Rusman, 2022).
Perubahan besar (mega trend) pada bisnis korporasi
(perusahaan) adalah bagaimana upaya peningkatan layanan
terhadap pelanggan, aspek sales dan marketing serta produk yang
dapat diterima pasar, dengan kata lain perusahaan dapat
merespon cepat dan memenuhi ekspektasi pelanggan dengan
baik. Perusahaan yang tidak dapat memenuhi ekspektasi
pelanggan akan ditinggalkan pelanggannya. Untuk keperluan
tersebut maka perusahaan memerlukan informasi dari big data
yang datanya diperoleh dari berbagai platform media sosial. Saat
ini sebuah perantara dapat membantu aplikasi berinteraksi satu
sama lain baik pda sau platform yang sama maupun lintas platform
agar dapat berkomunikasi. Data pengguna akan diolah dengan
keilmuan data mining dan kecerdasan buatan untuk selanjutnya
memberikan informasi dan rekomendasi tentang layanan unik
pada seorang pelanggan. Sebagai akibat tekanan dari Revolusi
Industri 4.0 maka bisnis, industri, perusahaan meresponnya
dengan produk artinya terbuka pada perubahan untuk setiap
model operasi. Hari ini kita melihat adanya tuntutan bahwa
perusahaan perlu merespon pelanggannya secara cepat,
kapanpun dan dimanapun mereka berada. Kemudian logistik yang
diperlukan untuk melakukan implementasi mesti dibekali oleh
empat enabler. Pertama adalah peningkatan volume atau jumlah
97
data, daya komputasi, dan konektivitas serta kemampuan analitis
dan bisnis intelijen.
Penggunaan teknologi digital untuk pengolahan data besar
secara cepat, akurat, dan aman membawa konsekuensi kebutuhan
baru di sisi kompetensi digital bagi SDM dan spesifikasi perangkat
keras komputer tinggi. Sebagai contoh penerapan Big Data
Analitik membutuhkan prosesor kecepatan tinggi, ukuran memori
(RAM) besar, dan media penyimpanan besar dengan kecepatan
transfer data tinggi, hingga dan saat ini proses transformasi
perubahan menuju era 5.0 dengan basis blockchain dengan
Hyperledger memerlukan perangkat keras dengan spesifikasi
tinggi. Perangkat tersebut tentu di operasionaliasikan oleh
Manusia.
Teknologi informasi dan komunikasi dalam melaksanakan
aktivitas manjemen sumber daya manusia (MSDM) guna
mencapai tujuan perusahan secara efektif dan efisien sangat
diperlukan. Teknologi diciptakan dan digunakan oleh manusia
didasari pada tujuan untuk meningkatkan intelektual,
mengintegrasikan manusia serta memudahkan pekerjaan dan
mencapai hasil yang optimal melalui peran interaksi serta
hubungan yang baik antar staf didalam pekerjaan dan
menghindari selisih antar departemen, hal tersebut yang di
katakan sebagai modal sosial pegawai memiliki peran penting
dalam mempengaruhi kinjerja pegawai yang pada akhirnya
mempengaruhi kinerja organisasi (Akdere, 2005).
Faktor keberhasilan peningkatan kinerja sumber daya
manusia dalampemberdayaan relasional modal social dan modal
intelektual juga mesti didukung dengan pemanfaatan informasi
dan teknologi yang memadai (Jejen, 2021). Misalnya saja dibidang
kepegawaian atau HRD (Human Resource Development)
diperlukan besar lemari dan bertumpuk rak-rak untuk
menyimpan timbunan (repository) dokumen (arsip) tentu
memerlukan banyak ruang (space) berkas-berkas penting
98
tersebut, namun saat ini dengan adanya TIK (Teknologi Informasi
dan Komunikasi) dalam peningkatan kapabilitas SDM, pekerjaan
dalam pengarsipan dapat disederhanakan dengan mudah dalam
menemukan data-data yang diinginkan hanya dengan
menggunakan kata kunci atau kode tertentu.
Upaya korporasi (perusahaan) pada era digital mendorong
dilakukan upaya pengembangan berbasis teknologi untuk
mengelola operasi bisnis dan tidak ada pilihan bagi Pimpinan
(CEO) untuk mengadopsi inovasi dalam fungsi SDM. Persyaratan,
manajemen, dan penggajian adalah beberapa proses yang
membutuhkan manajemen sumber daya manusia. Internet of
Things (IoT) adalah istilah yang paling menarik untuk media dan
menarik banyak perusahaan untuk diadopsi. Saat ini, IoT telah
menjadi subjek yang semakin menyenangkan untuk didiskusikan
di dalam tempat kerja maupun di luar. Teknologi memiliki dampak
yang besar pada setiap bidang kehidupan. Yang terpenting adalah
memahami dampak Internet of Things pada manusia. IoT memiliki
dampak positif pada manajemen sumber daya manusia sebagai
contohnya adalah di jaman teknologi ini pencari kerja beralih ke
telepon seluler daripada mencari di artikel surat kabar. Cara
menjalankan bisnis dan organisasi saat ini sangat membantu
untuk memahami dampak IoT pada manajemen sumber daya
manusia.
Industri 4.0 terkait dengan proses penciptaan nilai dan
industri, itu adalah transformasi digital dari industri produksi dan
manufaktur. Data besar, IoT, dan komponen sosial seperti tempat
kerja yang menarik diproduksi melalui Industri 4.0 sebagai
produksi jasa dan barang dengan dukungan teknis. Fungsi kerja
SDM diubah dengan keterlibatan IoT dalam organisasi dan bisnis
dan proses pengelolaan organisasi.
Pengembangan (development) teknologi informasi dan
komunikasi juga merupakan tipping point (titik kritis) dalam
manajemen korporasi kontemporer, karena diperlukan dukungan
99
sistem atau institutional support system kedalam kebutuhan
pengembangan human resources untuk mendukung work
performance (prestasi kerja) korporasi & staff. Perkembangan
teknologi pada era modern saat ini tidak bisa dipungkiri lagi
bahwa sangat berpengaruh besar terhadap kemudahan dan
kelancaran dalam mengirim suatu informasi atau pengolahan data
dalam berbagai bidang, saIah satunya dalam bidang manajemen
sumber daya manusia, dengan pemanfaatan fungsi teknologi
informasi sebagai pengumpulan, pengambilan, pengolahan,
penyebaran, penyimpanan, dan penyajian informasi akan
memudahkan proses manajemen personalia untuk mengatur
sumber daya manusianya dengan baik dan cepat. Pada sebuah
kesempatan Menristekdikbud Nadiem Makarim mengatakan pada
era digital, data merupakan ruh karena seperti dapat berbicara
semua hal, jika seorang pekerja tidak memiliki kemampuan
menganalisa data dan tren secara kritis maka ia akan left behind
(teringgal) (kompas.com, 2021). Namun demikian, tidak
seluruhnya digitalisasi identik dengan hal yang menguntungkan,
akan banyak lahan pekerjaan yang bakal defeat, yang mungkin
dimasa mendatang pekerjaan tersebut telah dapat digantikan oleh
teknologi yang semakin inovatif. Seperti: petani, petugas bank,
tukang pos dan lain sebagainya. Pada hal satu korporasi ingin
melaksanakan rekrutmen yang kerap menggunakan model tatap
muka, kini telah berubah menjadi tatap muka.
Hakikatnya teknologi menjadi media interaksi untuk
upaya integrasi, seperti halnya manajemen SDM harus lebih
mengandalkan teknologi untuk memperhatikan produktivitas
tenaga kerjanya dalam proses penilaian kinerja karyawan, contoh
interaksi digital kepada staf seperti upaya menguji
pengetahuannya, melakukan pengajaran secara terstruktur untuk
mengeksplorasi dan mengukur pengalaman karyawan, proses
perekrutan, pengembangan karyawan dan sebagainya. Tugas-
tugas tersebut akan sangat memakan waktu (time consumming)
100
dikerjakan dengan cara tradisional. Untuk itu banyak perusahaan
yang mempertimbangkan untuk menggunakan HRIS (Human
Resource Information System).
HRIS adalah suatu metode terintegrasi untuk
mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan mengontrol aliran
informasi tentang SDM ke seluruh organisasi
(Https://bpi.unair.ac.id/human-resource-information-system-
hris/, 2022). HRIS akan mengkonvergensi empat hal yang
menghasilkan benefit dalam pengelolaan SDM, seperti: 1).
Mendorong produktivitas kerja, 2). Meminimalisasi kesalahan
(margin error reduced), 3). Perangkat monitoring dan evaluasi
aktivitas korporasi utamanya memastikan proses bisnis on the
track dengan peraturan perundang-undangan dan law
enforcement, 4). analisa kinerja, dengan maksud menganalisa
performa dan metrik yang berhubungan dengan berbagai aspek
pendukung dalam pengambilan keputusan. Misalnya HR memiliki
tanggung jawab untuk meneliti biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk proses perekrutan. Hasil perhitungan dari HRIS
dapat dijadikan sebagai bahan untuk membuat keputusan bisnis
yang penting serta pembuatan strategi untuk mencapai tujuan
perusahaan. Sebuah korporasi bisnis mesti memiliki dasar yang
jelas untuk menggerakan secara sistematis dalam hal pencapaan
sebuah objectif serta harus didukung dengan beragam aspek yang
tersusun rapi dan terencana, sehingga dapat rolled out
berkesinambungan dan efektif, dapat dikatakan bahwa ini adalah
merupaan gambaran besar dari apa yang dimaksud dengan
enterprise architecture. Dibangunnya enterprise architecture,
bisnis agile dan robust menjadi dasar kuat untuk berpijak dan
mudah sekali goyah karena masalah dan hal yang ditemui selama
beroperasinya bisnis tersebut.
Enterprise architecture merupakan perancangan proses
bisnis dan teknologi pada setiap perusahaan atau bisnis yang
kemudian diintegrasikan guna mencapai tujuan tertentu yang
101
sudah direncanakan. Jadi pada dasarnya, ini adalah konsep
fundamental bagaimana bisnis dan setiap bagiannya berjalan
secara terintegrasi, sehingga bisa melakukan proses efektif untuk
mendapatkan hasil. Tidak hanya mengenai arah dan garis besar
yang jadi pegangan perusahaan saja, lebih lanjut konsep ini akan
memberikan gambaran jelas setiap proses yang sudah, sedang,
dan akan berjalan pada perusahaan secara efektif, dapat dikatakan
secara sederhana, enterprise architecture merupakan cetak biru
bagaimana perusahaan akan dilangsungkan secara menyeluruh
untuk mencapai target tertentu yang sudah direncanakan
sebelumnya. Prinsipnya sebuah korporasi untuk growth dan
thriving perlu membangun Architecture Enterprises (EA)
setidaknya dapat di bangun KMS (Knowledge Management
System) dan LMS (Learnng Management System) melalu dukungan
Data mart yang merupakan bagian dari gudang data yang berfokus
pada lini bisnis, departemen, atau area subjek tertentu.
Keberadaan Data mart membuat data menjad spesifik tersedia
untuk user grup (pengguna), yang memungkinkan pengguna
dapat mengakses wawasan secara krtis dan cepat tanpa
mengonsumsi waktu untu memperoleh melalui seluruh gudang
data atau yang di kenal dengan istlah data lake (danau data) atau
data mentah milik korporasi. Integrasi berhubungan dengan
koneksi global, kecerdasan buatan, dan otomasi telah membuat
disrupsi dibidang ekonomi. Teknologi dan inovasi telah
terintegrasi mendukung produktifitas perusahaan, bukan
sebaliknya. RI 4.0, pengambilan keputusan dan respon mesti
cepat, sehingga perlu memanfaatkan teknologi Big Data dan
kecerdasan buatan.
102
tujuan organisasi dalam konteks lingkungan eksternal dan
internal, kekuatan dan kelemahan, keputusan dalam proses
manajemen yang bertujuan untuk mencapai tujuan dalam suatu
organisasi(http://library.binus.ac.id/ecolls/ethesisdoc/bab2html
/2013100250mnbab2001/body.html, 2001). Dalam konsep yang
sederhana siklus manajemen strategi dapat di lihat pada gambar
10.1.
103
Penilaian prestasi kerja merupakan alat manajemen
sumber daya manusia yang digunakan untuk mengukur kualitas
sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu
periode tertentu, sekaligus untuk mengetahui tingkat
kesesuaiannya dengan kebutuhan sumber daya manusia pada
periode yang sama. Peran digital learning untuk meningkatkan
efisiensi biaya pengembangan SDM belum signifikan. Jumlah
program/ modul pembelajaran e-learning yang dapat memenuhi
kebutuhan organisasi/ pegawai masih relatif sedikit. Struktur
kemampuan individu dan tim dalam meningkatkan kinerja adalah
membangun staf logic dalam menulis, berfikir dan kemampuan
menyelesaikan masalah.
104
satu waktu, sementara di sisi lain dalam rangka eksistensinya
dalam upaya memperoleh laba maksimal di tuntut untuk
mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya.
Dalam sudut pandang kumpulan pekerja di anggap sebagai
social aset bagi korporasi, maka perspektifnya akan berbeda,
mereka merupakan aset investasi yang di catat yang sudah dimulai
sejak proses rekrutmen, proses talent acquisition, kemudian di
insentif melalui pelatihan, kemudian terus di tingkatkan dan di
kembangkan kemampuannya, peningkatan pendapatan berupa
gaji, bonus dan kompensasi lainnya, hal ini merupakan bentuk
investasi perusahaan pada para pekerjanya sehingga talenta yang
terus berkembang pada akhirnya meningkatkan kualitas dan
nilainya. Manajer korporasi menangkap hal ini harus merancang
sebuah strategi untuk terus mengikat (enggage) para staf yang
dengan tujuan terbangunnya loyalitas dan menurunkan tingkat
pergantian (turn over) dari investasi yang telah di alokasikan
untuk peningkatan talent para staf tersebut. Para talent tersebut
terus dilakukan assessment (penilaian) tentang bagaimana
peningkatan kemampuan serta peran mereka dalam mewujudkan
visi dan misi korporasi.
106
berinvestasi pada SDM yang mereka miliki, hal tersebut bisa
meningkatkan kepuasan kerja pada karyawan. Tantangan dan
peluang, efisiensi dan produktivitas, meningkatkan kualitas hidup,
orang dapat bekerja lebih baik dan waktu yang lebih sedikityang
ada dihadapan mesti di respon dengan membentuk staf menjadi
operator tangguh yang mampu memahami serta
mengoperasionalkan dengan baik. Maka dari itu, dengan
memberikan berbagai program pengembangan karier yang baik
serta kompensasi yang memuaskan, karyawan akan merasa
bahwa diri mereka dihargai. Data analytics (fenomena teknologi
global wide (tampilkan dalam statisctics). Melihat gambaran
begitu tidak ada pilihan lain bagi korporasi yang menginginkan
biduknya survive dalam menembus samudera adalah melakukan
improvement dan terus lakukan pengembangan, meningkatkan
daya saing. Indikator yang menjadi peran penting bagi sumber
daya manusia pada era perubahan dan kecepatan ini dapat di lihat
pada gambar 10.2 di bawah ini:
Flexible
Profes
Adaptif
sional
Aset Korporasi
Loyal Kognitif
Program Pengembangan
Perspektif institusi maka sebuah korporasi perlu punya karakter
kreatif, sebuah korporasi memerlukan orang yang bertalenta,
ingin tahu, kreatif, berkompetensi dan berkemauan. Orang orang
inilah nantinya akan menemukan dan mencobakan sebuah
teknologi baru pada korporasi mereka untuk mempunyai daya
saing, agile pada tantangan dan robust dalam tujuan sesuai visi dan
misi. Respon yang dilakukan korporasi terhadap RI 4.0 adalah
upaya adaptasi, bentuk sensitifitas terhadap eksposure dan
mencobakan teknologi baru untuk meningkatkan kapasitas
organisasi, dan pada sisi lain, mengimplementasikan strategi
pengembangan sumber daya manusia untuk membuat organisasi
lebih kreatif.
1.
5. Impact
Problem
4. Insight 2. issue
3.
Workplan
& analysis
109
Model Learning Development, yang di kembangkan pada
era 1980-an oleh tiga peneliti dan penulis yang grouping pada
dengan Center for Creative Leadership lembaga pendidikan nirlaba
di North Carolina, Amerika yaitu McCall, Lombardo, dan Eichinger.
Model 70:20:10 mengasumsikan bahwa manajer dan karyawan
lain terlibat dalam pelatihan dan ini merupakan faktor penting
yang membuat staf ingin tetap bersama perusahaan. Company
sekaliber google dengan nilai valuasi US$ 2 trilyun atau setara
dengan lebih dari 28 ribu trilyun, dimana bila dikaitkan dengan
jumlah APBN kita yang hanya 2700 trilyun, menyatakan bahwa
setiap orang mempelajari 70% melakukan pekerjaan dalam
kategori berat, 20% pembelajaran berasal dari orang yang bekerja
bersama kita, dan 10% diperoleh melalui kursus dan membaca,
yang kemudian teori tersebut kemudian diambil oleh Eric
Schmidt, mantan CEO Google, yang memutuskan untuk
menerapkan model Inovasi di Google hingga sebesar seperti saat
ini.
Learning Model
110
Bobot 70% direncanakan untuk dilakukan dengan pendekatan
berbasis manajemen penyelesaian masalah, di beri tugas yang
menantang dan praktek kerjasama kolektif analitik yang
dihasilkan dari yang relevan dengan kebutuhan internal dan
eksternal.
112
tujuannya untuk mengevaluasi karyawan di berbagai kategori,
seperti pola pikir strategis, keterampilan komunikasi, dan
kolaborasi tim. Periode review selama proses peninjauan kinerja
untuk mengukur kinerja karyawan relatif terhadap periode yang
ditetapkan. Setiap organisasi melakukan hal ini sedikit berbeda,
tetapi periode umum mencakup tahunan, dua tahunan, atau tiga
bulanan. Tujuan (objective goal) yang meliputi specific,
measurable, achievable, realistic, and time-bound merupakan
memberi gambaran pada staf tentang di mana mereka dapat
meningkatkan dan apa yang harus mereka fokuskan di masa
depan. SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Relevant,
Timebound) dapat membantu secara jelas mendefinisikan
ekspektasi kinerja untuk karyawan.
Barclay and Murray, 1997 melihat manajemen
pengetahuan pada dua perspektif, secara eksplisit menempatkan
komponen pengetahuan sebagai fokus penting dalam suatu
aktifitas bisnis yang terefleksi dalam startegi, kebijakan dan
implementasi di semua lini dalam organisasi, selanjutnya
mengkoneksikan aset intelektual untuk menghasilkan bisnis yang
berkembang. Sementara Grey, 1996 melihat manajemen
pengetahuan melalui pendekatan kolaborasi dan terintegrasi
melalui akses dan penggunaan aset intelektual perusahaan. Proses
transformasi model manajemen sumber daya berbasis tradisional
beralih ke modern, model pengelolaan pengetahuan perlu
dibangun untuk memastikan bahwa pengelolaan pengetahuan
didesain dengan menekankan berbagai aspek yang akan
memunculkan inovasi dan meningkatkan kinerja organisasi.
Untuk merealisasikan model pengelolaan pengetahuan tersebut,
diperlukan arsitektur KMS yang terdiri dari Visi Organisasi,
Komunitas Pengguna, Saluran Akses, Aplikasi-Aplikasi, Gudang
Pengetahuan, Infrastruktur, Lingkungan Pendukung. Desain KMS
diharapkan dapat menjadi bagian dari budaya organisasi yang
melekat dalam kegiatan sehari-hari, dapat dimanfaatkan untuk
113
pembelajaran organisasi melalui inovasi dalam rangka
meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses-proses utama.
114
10.7 Kesimpulan
Koneksi global, kecerdasan buatan, dan otomasi telah membuat
disrupsi dibidang ekonomi. Teknologi dan inovasi telah
terintegrasi mendukung produktifitas perusahaan, bukan
sebaliknya. RI 4.0, pengambilan keputusan dan respon mesti
cepat, sehingga perlu memanfaatkan teknologi Big Data dan
kecerdasan buatan.
DAFTAR PUSTAKA
115
Https://www.valamis.com/hub/kirkpatrick-model (2022) The
Kirkpatrick Model of Training Evaluation: Guide. Available
at: https://www.valamis.com/hub/kirkpatrick-model
(Accessed: 2 March 2023).
Jejen, L. (2021) ‘Peran teknologi informasi dalam peningkatan
kinerja sumber daya manusia’, Forum Ekonomi, 23(1), pp.
1–11.
Kok, J.A. (2005) ‘Can models for knowledge management be
successfully implemented to manage the diversity of
indigenous knowledge?’, Peer Reviewed Article, 7(4).
Available at:
https://doi.org/10.10520/AJA1560683X_355.
kompas.com (2021) Pentingnya Peran Teknologi dalam
Membangun SDM yang Lebih Berkualitas di Masa Covid-19
Halaman 1 - Kompasiana.com. Available at:
https://www.kompasiana.com/tegarkirana130103/61bd
676217e4ac179d338cb3/pentingnya-peran-teknologi-
dalam-membangun-sdm-yang-lebih-berkualitas
(Accessed: 2 March 2023).
Rusman (2022) ‘Tantangan Sumber Daya Manusia di Era
Globalisasi Rusman Email : [email protected]
Challenges of Human Resources in the Era of Globalization
Pendahuluan’, 1(2), pp. 78–84.
Schmidt, L.A., Jacobs, L.M. and Spetz, J. (2016) ‘Schmidt et al.
Respond’, American journal of public health, 106(12), pp.
e8–e9. Available at:
https://doi.org/10.2105/AJPH.2016.303490.
116
BAB 11
PROSES DAN JALUR
PENGEMBANGAN KARIR
Oleh Desi Kristanti
11.1 Pendahuluan
Pada pengembangan karir, upaya yang dilakukan seorang
pegawai untuk merencanakan di masa depannya yang berada
ditempat keja bisa secara dilaksanakaan yang optimal.
Pengembangan karir ini juga dapat diartikan upaya mendapatkan
pangkat untuk naik sesuai persyaratan kemampuan yang
dimilikinya. Maka itu suatu perencanaan karir sangat penting
untuk karyawan sebagai suatu persyaratan kemampuan yang
dicapai mendapatkan jabatan naik. Pengembangan karir ini
mempunyai tujuan mendapatkan suatu posisi lebih baik.
perencanaan matang juga perlu agar segala dilakukannya juga
lebih terarah juga maksimal. Perkembangan karir ini dipengaruhi
oleh latar belakang pada pendidikan pada proses individu
disepanjang hidupnya juga pada pekerjaan yang menjadi individu
oleh gaya hidup pada karirnya.
Sukses didalam karier tentu saja menjadi suatu dambaan
disetiap orang untuk mencapainya hal tidak mudah. Pengetahuan
dan keterampilan juga mendukung suatu perilakunya dan
diperlukan hard skill juga soft skillnya. Untuk soft skill lebih
berperan untuk menunjang kesuksesan dikarier juga
pekerjaannya. Didalam suatu kesuksesan karier merupakan
pekerjaan yang sangat diinginkan seseorang, dengan syarat yang
117
agak menantang seseorang dan juga pada perencanaan matang
juga dalam karier mencakup pada sasaran yang tepat.
Orientasi pada karier juga mencakup pada eksplorasi
diriwayat hidup karier,penelian dari tujuan karier, potensi dirinya,
pengaruh karier. Hal ini juga dapat sesuai dengan bakat dan minat
serta kemampuan seseorang dipunyainya.Pengembangan karier
ini harus dapat dicermati didalam menghadapi suatu tantangan
tidak pasti melanda dipasar mengenai tenaga kerja yang berubah
sangat cepat. Perubahan ini bisa berharap banyak untuk sebuah
organisasi yang memikirkan juga mengatur pada sebuah sistem
dipengembangan karier. Akibatnya bagi para karyawan harus
dapat membangun dirinya sendiri sesuai kemampuan yang
berada pada individunya. Manajemen karier penting bahkan harus
bisa menjadi penting pada saat ini dapat dikelola telah mengalami
perubahan-perubahan yang signifikan.
120
a. Increase responsibility
b. Maximizing the potential in oneself
c. Increase autonomy personally
d. Increase challenges at work
e. Developing talents and abilities as in the world of marketing
f. Getting the certainty of the day ahead
g. Boosts self-confidence
h. Increase work relationships
i. Better understand passion
j. Capable and skilled in carrying out tasks
123
Meskipun juga demikian adanya pada perusahaan juga bisa
melakukan suatu job enrichment di semua karyawan
berada dalam 1 tingkat dengan demikian juga dapat
ratakan sebuah kesempatan untuk dapat berkembang yang
berada pada diri mereka.
5. Patokan
Benchmark juga bisa dikatakan studi banding atau untuk
mengevaluasi juga dapat membandingkan standarnya.
Sebagai contohnya dalam sebuah perusahaan yang
tambang yang menghendaki untuk membangun tanah
untuk peleburan yang baru dapat melakukan benchmark di
pengalamannya menggunakan tanur tersebut. Pada studi
banding tidak terlalu membutuhkan suatu peralatan,
namun hal ini bisa juga ada apa yang menyangkut suatu
kepentingan pada perusahaan. Terdapat 4 jenis, yaitu :
a) Work alignment
b) Book work procedure
c) Work situation
d) Collective labor agreement between the company and
the employee.
6. Uji kompetensi
Uji ini dilakukan pada pihak perusahaan itu sendiri atau
pada suatu Lembaga yang bersertifikasi Profesi yang sudah
diakreditasi oleh Badan Nasional dan Uji tersebut juga
untuk mengembangkan karyawan. Sebagai contohnya,
laboratorium juga yang bisa menjalankan ISO/IEC
17025:2005 telah melakukan uji kompetensi ditahunan
yang terhadap suatu analis merupakan bagian jaminan
mutu mengenain pengujian ataupun kalibrasi. Para praktik
ini dapat penyelesaikan sesuai tunjukkan yang akan
menjadi penguji analis didalam pengujian atau operasi
mengenai alat. LSP setahap lebih maju karena sertifikat
124
untuk karyawan yang diuji kompetensi akan diakui secara
nasional.
7. Rotasi kerja
Menerapkan pada ISO/IEC 17025:2005 dapat dirotasikan
jadi Manajer pada teknis akan mendapatkan suatu promosi
dengan memberikan sebuah tantangan yang baru ataupun
juga bisa menambah suatu keterampilan pada karyawan.
Metode cara ini juga bisa dapat disatukan dengan
departemen diantara departemen lain dan waktu
mingguan atau pada bulanan.
8. Pembinaan
Tujuannya dari pembinaan untuk meningkatkan kualitas
dan kuantitas kerjanya,mengetahui tentang pengetahuan,
mendapatkan keterampilan yang diajarkan juga untuk
mendekatkan suatu hubungan kerja antara atasan dan
bawahan. Bisa mengkalibrasi spektrometer X-ray
fluorescence (XRF) juga membimbing satu(1) atau juga
lebih dibawahan.
9. Promosi
Metode dengan pengembangan cara terakhir melalui
promosi. Promosi juga bertujuan dapat mengembangkan
pada keterampilan semua karyawan, mempertahankan
diri untuk pindah diperusahaan yang satunya lagi.
Mendapatkan promosi yang dilakukan apabila ada diposisi
lowong dan posisi baru juga karyawan yang bersangkutan
telah memenuhi suatu kualifikasi yang mempunyai tempat
diposisi yang berada di atas. Sebagai contohnya setelah 3
tahun berada di posisi Assistant Chemist mendapatan juga
promosi jadi chemist.
127
Pengembangan karir dikaryawan bukan hanya
bergantung pada karyawan juga peran dan juga arahan
dari manajer didepartemen SDM.
4) Peran Umpan Balik Terhadap Kinerja
Tidak mengomentari dengan upaya pengembangan karir,
relatif sangat sulit untuk karyawan dapat mempersiapkan
persiapan terkadang diperlukan dalam mencapai suatu
tujuan dari pengembangan karirnya.
129
9. Tipe Manajemen
Secara teori, semua administrasi adalah sama. Namun,
dalam pelaksanaannya, manajemen satu lembaga mungkin
berbeda dari yang lain. Jika manajemen dilakukan secara
rahasia, karyawan akan memiliki sedikit keterlibatan
dalam pembinaan pekerjaan mereka. Di sisi lain, akan lebih
luas bagi orang-orang yang terbuka, demokratis dan
bekerja untuk berpartisipasi dalam pembinaan pekerjaan.
DAFTAR PUSTAKA
131
BAB 12
MERANCANG SISTEM KARIR
Oleh Imas Sukaesih
12.1 Pendahuluan
Perencanaan yang matang adalah salah satu kunci
kesuksesan karir. Perencanaan harus dilakukan secara teratur,
tidak hanya sekali. Karir, seperti sistem, perlu diperiksa secara
teratur. terutama jika posisi yang Anda pegang tidak sesuai
dengan kebutuhan, bakat, atau harapan Anda. segera
pertimbangkan reorganisasi karir. Tidak ada kata terlambat
untuk mengambil tindakan. Proses perencanaan karir tidak sulit
dan tidak memberatkan. Sebaliknya, ini harus dipandang
sebagai prosedur yang memberi arti pada jalur karier Anda.
Anda akan lebih sukses dalam karir Anda jika Anda mengikuti
prosedur ini. Jika mereka diberi kesempatan untuk mengikuti
program pendidikan dan pelatihan, mereka dapat
memanfaatkan peluang kemajuan program pengembangan
tersebut. Program pendidikan dan pelatihan yang diikuti perlu
didiskusikan dengan baik agar mereka memiliki kesempatan
untuk dipromosikan dan dipindahkan ke posisi yang lebih
bertanggung jawab dan status. Jenjang karir merupakan langkah
awal dalam proses perancangan sistem karir, dilanjutkan
dengan program kaderisasi. Jalur yang mengarah dari satu
posisi ke posisi lain dikenal sebagai jalur karier. Jalur karir
secara visual menggambarkan hubungan antar posisi
(Widyanti, 2018).
132
Setelah desain jenjang karir dibuat, dibuatlah program
kaderisasi. Perusahaan yang memiliki lowongan jabatan yang
perlu diisi dapat mencari karyawan yang sesuai dengan jabatan
tersebut melalui program kaderisasi ini. Dengan informasi ini,
perusahaan dapat mempersiapkan karyawan yang
bersangkutan untuk siap menempati posisi baru dan memiliki
kualifikasi pribadi yang diperlukan, memungkinkan terjadinya
transfer karyawan tanpa mengorbankan efektivitas organisasi.
12.2 Pembahasan
12.2.1 Mengapa Proses Karir Diperlukan
Manajemen memanfaatkan sumber daya manusia
untuk membuat karyawan siap dan mau bekerja sebaik
mungkin untuk tujuan organisasi. Ketika orang ditempatkan
pada posisi yang sesuai dengan minat dan kemampuannya,
mereka akan dapat bekerja dengan baik dan juga mau
melakukannya; dan jika dia dapat memenuhi berbagai
kebutuhannya dengan bekerja. Ini berarti bahwa karyawan
harus ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan minat dan
keterampilan mereka, dengan mempertimbangkan kebutuhan
mereka. Namun tidak selalu mudah untuk menempatkan
karyawan pada posisi yang tepat. Pemahaman menyeluruh
tentang karakteristik karyawan, karakteristik pekerjaan, dan
kesesuaian antara kedua jenis karakteristik tersebut harus
menjadi dasar penempatan yang tepat.
Pengembangan rencana karir dapat memiliki keuntungan,
diantaranya :
a. Sesuai dengan kemampuan masing-masing, setiap
karyawan dapat memperoleh kesempatan yang sama
dan memadai untuk mengembangkan keterampilannya,
mempelajari hal-hal baru, dan memperluas
wawasannya.
133
b. Pegawai dapat ditempatkan pada jabatan yang sesuai
dengan minat dan karakteristiknya apabila
dikembangkan dengan cara yang benar sesuai dengan
minat dan karakteristiknya. Lingkungan kerja yang
sehat, pengurangan omset, dan peningkatan kinerja
karyawan merupakan hasil yang mungkin dari hal ini.
c. Organisasi dapat memiliki karyawan dengan kapabilitas
yang handal di semua tingkatan, mulai dari eksekutif
hingga pucuk pimpinan, jika pengembangan karyawan
dilakukan secara efektif, menyeluruh, dan lancar.
134
Penyelarasan tujuan karir individu dengan peluang
organisasi yang tepat adalah fokus konstan dari perencanaan
karir. Dibutuhkan banyak kekuatan untuk membangun
organisasi yang memiliki peluang untuk diikuti dengan
perencanaan karir yang potensial, dan masalah ini sudah
dalam dan berkembang, sehingga sulit untuk merencanakan
karir.
135
3. Pegawai juga harus memahami informasi dasar tentang
organisasi, apa isinya, dan apa rencana masa depan
sehingga mereka dapat menemukan peluang masa
depan.
4. Karyawan harus mengetahui apakah sumber daya
rencana karir sudah tersedia atau dalam tahap
pengembangan.
5. Karyawan harus selalu tanggap terhadap lingkungan,
desain tujuan, dan terapkan tujuan.
6. Karyawan harus tahu dimana dia berdiri di dalam
pekerjaan itu.
7. Seorang manajer harus dapat mendukung karyawan
dalam membuat rencana karier
136
b. Karir sebagai model kemajuan karir yang jelas dan
sistematis yang berfungsi sebagai indikator pekerjaan
Misalnya, karir komputer biasanya dimulai sebagai
operator komputer dan naik ke program junior, program
senior, analis senior, pemrogram sistem, manajer proyek,
sistem manajer departemen, dan direktur informasi.
Melayani.
c. Karir sebagai riwayat pekerjaan seseorang atau
kumpulan tugas yang diselesaikan selama karir
seseorang. Dikatakan bahwa setiap orang yang pernah
bekerja sebelumnya memiliki pekerjaan di lingkungan ini.
138
penjualan. Perspektif organisasi dalam perencanaan karir.
Menilai potensi individu dan persyaratan pelatihan,
mencocokkan persyaratan organisasi dengan kemampuan
individu, dan mengaudit serta mengembangkan sistem karir
dan organisasi adalah bagian dari proses.
139
Permintaan berhenti dapat menjadi sarana untuk
mencapai tujuan karir jika seorang karyawan melihat
peluang karir yang lebih baik di tempat lain. Sebagai
bagian dari rencana karir mereka, banyak karyawan,
terutama manajer profesional, berpindah perusahaan.
Mereka biasanya mendapat kenaikan gaji, promosi, dan
pengalaman baru bila dilakukan dengan baik.
4. Loyalitas pada Organisasi
Di banyak organisasi, orang mengkondisikan kemajuan
karir mereka pada loyalitas mereka pada Organisasi.
Lulusan baru dan profesional biasanya memiliki tingkat
loyalitas yang rendah terhadap organisasi mereka.
Tingkat perputaran karyawan akan menurun jika
karyawan bertahan di perusahaan yang sama untuk
waktu yang lama.
5. Sponsor dan Mentor
Mentor adalah orang yang memberikan nasehat karir
informal. Banyak karyawan dan mentor bisnis
menyadari bahwa hubungan mereka bermanfaat bagi
kemajuan karier. Sponsor adalah seseorang dalam
organisasi yang dapat membantu orang lain memajukan
karier mereka.
6. Peluang Pertumbuhan
Ketika pekerja memanfaatkan peluang pertumbuhan
dengan mengasah keterampilan mereka melalui,
misalnya, program pelatihan, kursus, atau mendapatkan
gelar. Pengembangan sumber daya manusia internal dan
pencapaian rencana karir karyawan bermanfaat bagi
departemen personalia.
140
pasar tenaga kerja yang terus berubah” yang meliputi
serangkaian kegiatan seperti :
a) Mengidentifikasi kemampuan dan minat individu
b) Merencanakan tujuan hidup dan kerja
c) Mengukur jalur alternatif di dalam dan di luar
organisasi
d) Mencatat perubahan dan tujuan sebagai tahapan karir
141
perencanaan karir, berbagai lokakarya dan seminar
perencanaan karir juga meningkatkan minat staf. Rapat
semacam ini membantu karyawan memutuskan tujuan karier,
jalur karier, dan aktivitas. Seorang konsultan dapat
dipekerjakan oleh perusahaan jika kekurangan staf yang
diperlukan untuk menjalankan program pelatihan.
142
hidup seseorang mencakup lebih dari sekedar karir; akibatnya,
rencana karir yang diusulkan harus menjadi komponen penting
dari rencana hidup. Evaluasi diri oleh karyawan adalah
komponen lain dari konseling karir. Evaluasi diri meliputi
perawatan diri serta perencanaan hidup. Aspek kewirausahaan
berlaku untuk berbagai keterampilan dan kemampuan
karyawan serta berbagai minat dan kemampuan kerja mereka.
Karyawan dapat menggabungkan aspirasi mereka dengan
informasi yang mereka terima dari nasihat karir setelah hasil
yang jujur dan akurat diperoleh. Pengembangan karir
diperlukan untuk mewujudkan rencana karir. Upaya pribadi
karyawan untuk mengimplementasikan rencana karir disebut
sebagai pengembangan karir. Departemen personalia dapat
memberikan dukungan untuk kegiatan ini atau mereka dapat
beroperasi secara independen dari departemen tersebut.
144
besar. • Risiko beban mental
• Kinerja yang lebih • Stress yang lebih
tinggi. besar.
• Ketidakhadiran yang
lebih rendah.
Mekanis a. Pengurangan waktu a) Kepuasan kerja
pelatihan. yang lebih rendah.
b. Tingkat b) Motivasi yang lebih
pemanfaatan yang rendah.
lebih tinggi.
c) Ketidakhadiran yang
c. Kemungkinan
lebih tinggi.
terjadinya
kesalahan yang
lebih rendah.
d. Risiko beban
mental dan stress
yang berkurang.
Biologis • Upaya fisik yang Biaya-biaya
berkurang. keuangannya lebih tinggi
• Kelelahan fisik yang karena perubahan pada
berkurang. peralatan atau
• Keluhan-keluhan lingkungan pekerjaan.
kesehatan yang lebih
sedikit.
• Peristiwa-peristiwa
pengobatan yang
lebih sedikit.
• Ketidakhadiran yang
lebih rendah.
• Kepuasan kerja yang
lebih tinggi.
145
Penggerak • Kemungkinan • Kepuasan kerja
Persepsi Terjadinya yang lebih rendah.
kesalahan yang lebih • Motivasi yang
rendah. lebih rendah.
• Kemungkinan
terjadinya
kecelakaan yang
lebih rendah.
• Risiko beban
mental dan
stress yang
berkurang.
• Waktu pelatihan
yang lebih sedikit.
• Tingkat pemanfaatan
yang lebih tinggi.
Sumber : Diolah Penulis (2023)
Tahapan yang dilalui karyawan dari posisi terendah
atau level awal ke posisi tertinggi disebut sebagai jalur karier.
Menciptakan jenjang karir merupakan tanggung jawab
perusahaan. Karyawan dapat menentukan posisi mereka saat
ini dan jalur karir masa depan ketika jalur karir mereka jelas.
Karyawan dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk
posisi yang lebih baik berkat kejelasan ini. Karyawan sering
menyuarakan keprihatinan tentang jalur karir yang tidak
jelas. Ini biasanya terjadi pada bisnis dengan ukuran
menengah hingga kecil. Namun, kemungkinan terjadi di bisnis
besar tidak boleh diabaikan. Ketika diintegrasikan dengan
strategi keseluruhan perusahaan untuk manajemen talenta,
jalur karir karyawan akan lebih efektif. Jenjang karir secara
langsung akan mengarahkan karyawan untuk berperan
penting dalam meningkatkan daya saing perusahaan di masa
mendatang jika diselaraskan dengan strategi talent
management, yang tercermin dari adanya hubungan yang
146
kuat antara job role, kompetensi yang diinginkan, dan key
experience kedepan.
147
juga dapat melakukan pembandingan dengan industri
eksternal.
3. Mengidentifikasi Perilaku yang Diharapkan dan
Kompetensi
Inti Spencer mendasarkan definisinya tentang
kompetensi lebih pada perilaku, konsep diri, nilai,
pengetahuan, dan keterampilan seseorang yang sudah
ada. Kompetensi adalah perilaku yang membedakan
karyawan berkinerja tinggi dan berfungsi sebagai
standar kinerja yang menentukan hasil dalam berbagai
peran.
4. Bekerja dengan Pelatihan dan Pengembangan
Organisasi yang bekerja dengan pengembangan
karyawan dapat menciptakan jalur karir. Untuk mengisi
posisi yang lebih tinggi, jalur karir dan pengembangan
kompetensi karyawan dapat dirancang. Pelatihan
kepemimpinan, pengayaan pekerjaan, bergabung
dengan tim lintas fungsi, dan menambahkan penugasan
khusus adalah contoh program pengembangan.
Pengalaman ini memberi Anda kesempatan untuk
mempelajari keterampilan yang akan berguna di tahap
selanjutnya dalam karier Anda.
5. Membangun Akuntabilitas
Untuk menjamin efektivitas proses jalur karir, yang
membutuhkan investasi sumber daya yang signifikan,
organisasi harus mengembangkan mekanisme. Dengan
mendefinisikan peran dan tanggung jawab secara jelas,
mekanisme ini dibangun untuk memastikan
akuntabilitas dan memastikan bahwa sistem jenjang
karir dapat beradaptasi dengan perubahan kondisi
bisnis.
148
12.3.3 Desain Sistem Karir
Proses perancangan sistem karir pertama-tama melibatkan
pembuatan jalur karir dan kemudian membuat program kader.
Langkah-langkah dalam perencanaan karir, meliputi :
a. Desain Jalur Karir
Jalur karir adalah jalur yang mengarah dari satu posisi ke
posisi lain. Jalur karir secara visual menggambarkan
hubungan antar posisi. Berdasarkan judul posisi, jalur
karier ditautkan. Hal ini menunjukkan bahwa jenjang karir
pegawai didasarkan pada urutan jabatan, profesi, dan
jabatan, dengan memperhatikan “kesamaan, kesesuaian,
dan keterkaitan” antara tugas, persyaratan, dan hirarki
pekerjaan. Proses mencari pekerjaan yang "mirip" dan
mencari pekerjaan dengan "kesamaan, kecocokan, dan
relevansi" untuk menciptakan jenjang karir adalah yang
paling sulit saat ini. Jenjang karir suatu perusahaan sangat
ditentukan oleh hubungan logis antara posisi yang dimiliki
saat ini, seperti yang terlihat dari: selesaikan tugas yang
diselesaikan dengan mencantumkan posisi dalam struktur
organisasi dan jenisnya (fungsional atau struktural). Semua
posisi pada level yang sama yang memiliki satu atau lebih
karakteristik di atas digabungkan menjadi satu posisi untuk
mempermudah perencanaan karir.
Persyaratan pekerjaan dan faktor fungsional kritis
dapat digunakan untuk menguji hubungan antara posisi
dan tugas. Persyaratan pekerjaan adalah seperangkat
keterampilan dan penguasaan (proficiency) yang harus
dimiliki seseorang untuk melaksanakan tanggung jawab
posisi itu. Dalam melihat posisi berbagai direktorat, faktor
kritis fungsional yang sangat menentukan keberhasilan
suatu fungsi dalam menjalankan perannya menjadi
pertimbangan. Ketika menentukan apakah transfer
(formulasi jalur) berada pada level yang sama dengan
149
struktur organisasi, hierarki jabatan berfungsi sebagai
fondasi. Kesamaan yang dilihat ditentukan oleh jenis tugas
(struktural atau fungsional). Semakin tinggi jenjang jabatan,
semakin diperhatikan persamaan antara tugas dan
persyaratan jabatan dalam hal substansi jabatan struktural.
Jalur karir juga dikembangkan dengan mempertimbangkan
kebijakan manajemen, selain koneksi logis yang disebutkan
sebelumnya. Meskipun tidak ada koneksi logis yang dapat
ditarik antara dua posisi, manajemen dapat memetakan
arah berdasarkan pertimbangan strategis. Diagram jalur
karir yang menguraikan posisi dan level yang dapat dicapai
dari setiap posisi di perusahaan dapat menjadi hasil
perancangan jalur karir.
b. Rancangan Program Kaderisasi
Rancangan jenjang karir dibentuk sebelum program
kaderisasi dibuat. Jika ada kebutuhan untuk mengisi posisi
dalam organisasi, program kaderisasi ini dapat membantu
mengidentifikasi kandidat yang sesuai. Program regenerasi
berpotensi untuk menginformasikan karyawan tentang
potensi promosi atau perubahan yang mungkin mereka
alami. Dengan informasi ini, perusahaan dapat
mempersiapkan karyawan yang bersangkutan sehingga
siap untuk posisi baru dan memiliki kualifikasi yang
diperlukan, memungkinkan transfer karyawan tanpa
mengorbankan efektivitas organisasi. Merupakan tujuan
dari program regenerasi atau rencana suksesi untuk
mengevaluasi dan mempersiapkan karyawan potensial
untuk posisi terbuka di dalam perusahaan. Tes tersebut
pada dasarnya adalah perbandingan kualifikasi individu
karyawan (pegawai) dengan yang dibutuhkan untuk posisi
atau posisi tertentu. Pemeriksaan kesesuaian akan
menunjukkan : (a). Pegawai atau orang mana yang paling
cocok untuk dicalonkan untuk suatu posisi atau jabatan?;
150
(b). Keterampilan atau kredensial apa yang harus dimiliki
kandidat untuk memenuhi persyaratan posisi atau
jabatan?.
Penciptaan kualifikasi yang diperlukan untuk
setiap posisi dalam organisasi menjadi fokus utama dari
desain program kaderisasi yang dilakukan dalam pekerjaan
ini. Kualifikasi posisi juga merupakan kualifikasi yang
dibutuhkan oleh posisi atau jabatan ini. Sisi yang
berlawanan, yaitu penciptaan kualifikasi yang berbeda.
Kualifikasi individu dikembangkan sesuai dengan
persyaratan posisi atau jabatan. Kualifikasi jabatan disusun
sedemikian rupa sehingga dapat membedakan antara
jabatan vertikal dan horizontal untuk keperluan program
kaderisasi ini. Ini menunjukkan bahwa persyaratan
pekerjaan suatu posisi dapat dibandingkan dengan posisi
pada tingkat yang lebih rendah atau lebih tinggi dalam arah
vertikal. Ini menunjukkan bahwa persyaratan pekerjaan
suatu posisi dapat dibandingkan dengan posisi lain pada
tingkat yang sama dalam arah horizontal. Program
pembinaan karir yang buruk memiliki potensi untuk
menumbangkan organisasi. Karyawan akan mengalami
perasaan tidak aman, perlakuan tidak jujur, dan persepsi
bahwa mereka tidak diberi kesempatan yang sama untuk
mewujudkan potensi penuh mereka untuk kepentingan
bisnis. Selain itu, karyawan akan merasa tidak puas dengan
kebijakan perusahaan, yang pada akhirnya akan
berdampak negatif pada efektivitas dan efisiensi bisnis.
Untuk mencapai misi dan tujuan perusahaan secara
keseluruhan, beberapa kondisi harus dihindari yang
bertentangan dengan "Tujuan dan kebijakan
pengembangan" serta "kebijakan hubungan perusahaan
dengan karyawan".
151
12.4 Manfaat Sistem Karir Bagi Karyawan dan
Perusahaan
Perencanaan karir dimasukkan ke dalam program
pengembangan tenaga kerja dalam manajemen SDM. Kegiatan
pembinaan ini bertujuan untuk menjaga karyawan dengan
cara mengembangkannya sesuai dengan keterampilan dan
bakatnya agar dapat memberikan kinerja yang terbaik bagi
perusahaan. Sebagian besar waktu, para pemimpin
perusahaan bertanggung jawab atas fungsi pembinaan ini. Jika
dilakukan dengan benar, hal itu bisa membuat karyawan
bersemangat dengan pekerjaannya dan membuat mereka
senang di tempat kerja, yang pada akhirnya bagus untuk
perusahaan.
Manajer memainkan peran pelatih dengan membantu
bawahan mereka memperoleh pengetahuan dan
keterampilan baru. Hal ini membantu mereka menjadi lebih
cakap, terampil, dan berkualitas, dan diharapkan suatu saat
nanti mereka dapat mengambil alih peran manajer dan
berkontribusi pada pertumbuhan perusahaan. Penelitian
menunjukkan bahwa seorang supervisor yang dianggap
berhasil menghabiskan 30-40 persen waktunya untuk melatih
bawahannya, menjadikan pembinaan sebagai tugas yang
penting dan menantang (Widyanti, 2018). Bagi karyawan
maupun perusahaan, sistem karier dapat memberikan
manfaat sebagai berikut (Sutrisno, 2017) :
a. Bagi karyawan
1) Mengembangkan potensi kemampuan dan
keterampilannya.
2) Mengetahui jalur pengembangan karier karyawan
dalam organisasi
3) Mendapat pelatihan yang sesuai dengan arah
pengembangan kariernya.
152
b. Bagi Perusahaan
1) Mengendalikan tingkat keluar-masuk (turn over
rate)
2) Membantu terlaksananya program kaderisasi
3) Mengetahui dan mengantisipasi keinginan dan bakat
tenaga kerja
4) Mengetahui sejak awal tenaga kerja yang
kurang/tidak terampil, juga tenaga kerja yang tidak
produktif, sehingga dapat diambil tindakan segera.
DAFTAR PUSTAKA
153
BAB 13
KOMPENSASI
Oleh Hendry Jaya
154
maksimal disertai dengan kelengkapan fasilitas yang memadai,
namun jika tidak ada motivasi untuk melakukan pekerjaan
tersebut, maka pekerjaan tersebut tidak akan berjalan
sebagaimana yang diharapkan. pemberian motivasi oleh
pemimpin secara intensif juga sangat diperlukan dalam rangka
pembinaan pegawai serta merupakan sarana yang dapat
menerapkan teori motivasi yang tepat dalam menggerakkan para
bawahan untuk mengenal para anak buahnya.
Tingkat komitmen baik komitmen perusahaan terhadap
karyawan, maupun antara karyawan terhadap perusahaan sangat
diperlukan karena melalui komitmen-komitmen tersebut akan
tercipta iklim kerja yang profesional (Murty & Hudiwinarsih,
2012). Komitmen organisasi merupakan perspektif yang bersifat
keperilakuan dimana komitmen diartikan sebagai perilaku yang
konsisten dengan aktivitas (consistent lines of activity). Semakin
tinggi komitmen karyawan terhadap organisasi dapat
meningkatkan kinerja karyawan tersebut. sifat dari komitmen
organisasi dapat berubah sepanjang waktu dalam pekerjaannya
lebih bervariasi dan memiliki kebebasan dalam melakukan
penilaian.
156
pembayaran finansial dan jasa-jasa serta tunjangantunjangan
yang diberikan terhadap karyawan sebagai bagian dari hubungan
kekaryawanan. Kompensasi merupakan sesuatu yang diterima
oleh karyawan sebagai ganti atas kontribusi mereka terhadap
organisasi.
Berdasarkan berbagai definisi diatas, maka dapat di
simpulkan bahwa Kompensasi merupakan suatu bentuk imbal
jasa atau penghargaan yang diberikan kepada individu karena
telah melaksanakan dan menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu
yang di tugaskannya atau telah mencapai suatu strandart atau
target yang ditetapkan. Sedangkan manajemen kompensasi
adalah suatu kegiatan dalam merancang, mengelola dan mengatur
suatu bentuk imbal jasa terhadap karyawan atau pekerja yang
telah melakukan suatu pekerjaan tertentu dan menyelesaikannya
bagi organisasi, yang dimana bentuk imbal jasa tersebut harus
bersifat adil, obyektif, dan terbuka sehingga diperoleh kepuasan
bagi penerimanya sesuai dengan kontribusi yang telah di berikan.
sasi adalah semua pendapatan yang dapat berbentuk uang, barang
langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai
imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan. Manajemen
kompensasi dapat diartikan juga sebagai sebuah kegiatan dalam
merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan serta
mengembangkan suatu sistem kompensasi dalam organisasi
sehingga terbentuk sebuah model sistem yang mengandung nilai-
nilai obyektifitas, berkeadilan, dan transparan.
158
mendapatkan kesempatan lebih besar melakukan seleksi
dari jumlah pelamar yang banyak tersebut.Perusahaan
akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mendapatkan karyawan yang sangat berkualitas.
2. Mempertahankan karyawan yang ada
Jika karyawan memiliki kepuasan terhadap sistem
kompensasi yang diberikan perusahaan, maka karyawan
tersebut akan merasa nyaman dan betah untuk tinggal
sehingga tidak akan terjadi perpindahan atau pengunduran
diri ke instansi dan perusahaan lain. Tinggi rendahnya
labor turnabor turn over yang tinggi akan sangat
merugikan perusahaan karena akan menggerus, menguras
dan mengorbankan banyak hal dalam perusahaan. Jika
terdapat karyawan yang keluar maka perusahaan harus
melakukan perekrutan ulang untuk mengisi posisi tersebut
yang telah ditinggalkan. Padahal melakukan perekrutan
ulang harus mengorbankan waktu, tenaga dan sumber
daya yang seharusnya bisa dipakai untuk keperluan yang
lain yang lebih penting. Terlebih lagi, apabila karyawan
yang keluar adalah karyawan yang memiliki kompetensi
khusus sehingga untuk mencari gantinya akan sulit dan
membutuhkan waktu serta penyesuaian lebih. Untuk itu
program kompensasi yang baik dan layak sudah
seharusnya diberikan kepada karyawan dengan
sepantasnya, agar menghasilkan kepuasan yang maksimal
dalam bekerja dan karyawan akan merasa bahwa
kompensasi yang perusahaan berikan menjadi
penghargaan yang layak sehingga mau tetap bekerja dan
tidak berpindah ke instansi dan perusahaan lain.
3. Menjamin Keadilan
Program kompensasi yang baik adalah kompensasi yang
diberikan berdasarkan keadilan, baik secara internal
maupun eksternal. Keadilan internal adalah ketika
159
kompensasi diberikan sesuai dengan jenis, beban dan
tingkat kesulitan pekerjaan yang dikerjakan. Keadilan
eksternal merupakan pemberian kompensasi terhadap
karyawan atau pekerja yang dikomparasikan dengan
perusahaan lain dengan jenis, beban dan tingkat kesulitan
yang sama di pasar kerja. Oleh karena itu, kompensasi yang
adil juga harus terukur dan dapat diukur serta memiliki
ukuran yang telah disesuaikan dengan jenis, beban dan
tingkat kesulitan pekerjaan.
4. Penghargaan terhadap Perilaku yang Diinginkan
Program kompensasi dapat juga dalam bentuk
penghargaan over atau tingkat perputaran tenaga kerja
akan sangat memengaruhi efisiensi dan efektifitas kinerja
perusahaan. terhadap pola perilaku yang diperlihatkan
oleh karyawan, sesuai dengan yang diinginkan oleh
perusahaan. Penghargaan tersebut bisa berupa insentif
bagi karyawan yang telah memberikan effort dan
kontribusi lebih terhadap organisasi dalam hal mereka
berperilaku. Hal ini dapat digunakan sebagai penambah
motivasi karyawan dalam hal memperbaiki dan
meningkatkan perilaku baik mereka ketika berada didalam
lingkungan kerja atau perusahaan. Misalnya, perusahaan
memberikan kompensasi kepada karyawan, karena work
ethics mereka baik, seperti taat terhadap peraturan dan
kebijakan perusahaan, bekerja sesuai dengan SOP (Standar
Operational Prosedur), disiplin dalam bekerja, tepat waktu,
bertanggung jawab, dan mampu menjadi panutan bagi
karyawan lain.
5. Mengendalikan Biaya
Program kompensasi yang wajar, tidak terlalu tinggi dan
tidak terlalu rendah, akan membantu perusahaan
memperoleh dan mempertahankan karyawan dengan
kualitas seperti yang diharapkan. Tanpa adanya
160
pengelolaan kompensasi secara efektif, maka akan
menimbulkan ketidakpuasan karyawan dan pada akhirnya
bisa meningkatkan labor turn over yang tinggi. Namun jika
pemberiaan kompensasi juga tidak terkendali, terlalu
tinggi dan tidak disertai dengan pengukuran kinerja yang
tepat, malahan akan membebani keuangan perusahaan dan
menghasilkan biaya yang tidak perlu, yang malah
merugikan perusahaan.
6. Mengikuti Aturan Pemerintah
Sistem kompensasi yang baik merupakan kompensasi yang
seharusnya memenuhi aturan pemerintah yang berlaku.
Dalam hal ini, Indonesia telah memiliki Undang-Undang
Ketenaga kerjaan no. 13 thn. 2003, yang di dalamnya
membahas tentang besaran kompensasi karyawan. Oleh
karena itu, sistem kompensasi yang dibuat oleh
perusahaan setidaknya harus diberikan sesuai dengan
aturan pemerintah yang berlaku di Indonesia. termasuk
UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota) yang harus di
terapkan seluruh Indonesia dan ini merupakan dasar
acuan dalam penetapan kompensasi oleh perusahaan.
Selain itu, juga dapat dilengkapi dengan aturan hukum
yang berlaku seperti aturan Keputusan Menteri dan
peraturan lainnya.
7. Terbuka dan Transparan
Sistem kompensasi yang baik hendaknya diberikan secara
terbuka dan transparan (Fairness) serta dapat dipahami
oleh semua anggota dalam organisasi. Semakin terbuka
dan transparan program kompensasiyang diterapkan,
maka akan membuat semua karyawan mudah memahami
dan mengetahui apa saja komponen-komponen
kompensasi yang akan diterima oleh karyawan sehingga
program kompensasi menjadi efektif dan mampu
memotivasi karyawan untuk mengerahkan segala
161
kemampuan terbaiknya serta meningkat kan kinerja dan
kepuasan kerja karyawan secara signifikan.
8. Meningkatkan Efesiensi Administrasi
Sistem kompensasi yang baik hendaknya dirancang dan
dikelola dengan efektif dan efisien, dengan membuat
sistem informasi SDM secara sistematis, terintegrasi antara
satu bagian dengan bagian yang lain. Walaupun tujuan ini
sebenarnya sebagai pertimbangan sekunder saja
dibandingkan dengan tujuan-tujuan lain, namun
keberadaannya dapat membantu perusahaan menjadi
lebih efisien dan efektif. Akan tetapi apabila terdapat
keterbatasan sumber pendanaan dalam pengadaan
program sistem informasi terkomputerisasi, perusahaan
dapat menundanya dan menggunakan sistem yang
konvensional saja. Melalui program dengan menggunakan
IT dan terintegrasi, maka diharapkan akan menghasilkan
tingkat penilaian yang lebih baik lagi dan memudahkan
perusahaan untuk menetapkan kompensasi yang baik,
sesuai dengan poin-poin yang telah dibahas diatas.
164
Kelebihan dari sistem ini adalah perusahaan memberikan
kesempatan kepada semua karyawan secara adil, bagi
mereka yang ingin memaksimalkan hasil kerjanya demi
memperoleh kompensasi yang lebih besar. Sedangkan
kekurangan dari sistem hasil adalah produk yang
dihasilkan mungkin akan mengalami penurunan kualitas
karena pegawai cenderung mengejar kuantitas sehingga
mengorbankan kualitas produk.
3. Sistem borongan adalah sistem kompensasi dimana
besaran kompensasi didasarkan kepada volume pekerjaan
dan lama mengerjakannya. Penetapan besaran kompensasi
berdasarkan sistem borongan cukup rumit karena
membutuhkan keahlian khusus dan waktu yang cukup
lama untuk mengerjakannya serta banyak alat yang
diperlukan untuk menyelesaikannya. Sistem borongan ini
dipakai apabila pekerjaan yang dilakukan adalah jenis
pekerjaan yang membutuhkan tingkat keterampilan yang
mumpuni dan yang membutuhkan konsentrasi tinggi serta
penggunaan peralatan yang canggih.
Pada prakteknya sehari-hari, ketiga jenis sistem
kompensasi diatas, tidak semua dapat digunakan secara
bersamaan. Setiap organisasi atau perusahaan harus melakukan
Analisa sehingga dapat menggunakan sistem kompensasi yang
tepat dan sesuai dengan karakteristik serta kondisi organisasi atau
perusahaan yang bersangkutan. (Siagian, 2009). Manajemen
sumber daya manusia. diterima berupa fisik maupun non-fisik
yang harus dihitung dan diberikan kepada seseorang, yang
umumnya merupakan objek yang dikecualikan dari pajak
pendapatan”. Sistem kompensasi yang baik harus mampu
memberikan kepuasan bagi karyawan dan memungkinkan
perusahaan untuk memperoleh, memperkerjakan, dan
mempertahankan karyawan. Bagi organisasi atau perusahaan,
kompensasi memiliki arti penting karena kompensasi
165
mencerminkan upaya organisasi dalam mempertahankan dan
meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Pengalaman
menunjukan bahwa kompensasi yang tidak memadai dapat
menurunkan prestasi kerja, motivasi kerja dan kepuasan kerja
karyawan, bahkan dapat menyebabkan tingkat turnover
karyawan tinggi. Perusahaan menjadi terancam kehilangan
karyawan potensial.
167
berkorelasi dengan effort karyawan, prestasi kerja dan
kinerja karyawan.
4. Masuk Akal (Reasonable)
Sistem kompensasi yang dirasa efektif sekalipun akan
menjadi sia-sia belaka, apabila sistem kompensasi yang
dirancang oleh perusahaan dirasakan oleh karyawan tidak
masuk akal untuk dicapai. Oleh karena itu, sebelum
perusahaan merancang suatu sistem kompensasi, maka
perlu dilakukan suatu penelitian secara mendalam agar
tidak terjadi situasi yang bias dalam pengaplikasian sistem
kompensasi tersebut. Selain itu, untuk memenuhi keadilan
internal maka setiap bobot penilaian haruus disesuaikan
dengan masing-masing jabatan atau jenis pekerjaan,
sesuai dengan aturan atau standar yang berlaku didalam
perusahaan dan dilakukan pembandingan. Hal ini
dilakukan oleh perusahaan dengan melakukan evaluasi
jabatan, dimana setiap jabatan dan jenis pekerjaan harus
memiliki tugas pokok dan fungsi masing-masing yang
terintegrasi dengan sistem kompensasi, agar dapat
dievaluasi sesuai dengan target atau pencapaian yang
masuk akal.
168
perbandingan dengan pekerjaan lain dalam organisasi dan
pemberian “point” untuk setiap pekerjaan.
3) Melakukan survei sistem kompensasi. Artinya perusahaan
perlu membandingkan dan menelaah jenis, bentuk dan
model sistem kompensasi yang ada dan yang sudah
diterapkan sekarang ini. Hal ini karena sudah terdapat
berbagai jenis, bentuk dan model sistem kompensasi yang
telah diaplikasikan oleh berbagai macam
perusahaan.Guna memperoleh bahan masukan dan
informasi penting yang berkaitan dengan sistem
kompensasi, maka perlu dilakukan survei dan melakukan
komparasi antar sistem kompensasi yang ada. Melalui hal
ini, diharapkan perusahaan dapat menemukan dan
merancang sebuah model sistem kompensasi yang terbaik
dan sesuai dengan kondisi dan lingkungan internal
perusahaan.
4) Menentukan penilaian pekerjaan dikaitkan dengan
keadilan eksternal. Artinya perusahaan perlu menetapkan
“nilai besaran kompensasi” pekerjaan, yang sudah terlebih
dahulu sebelumnya dikomparasikan dengan “nilai besaran
kompensasi” pekerjaan sejenis pada perusahaan lain.
169
DAFTAR PUSTAKA
170
BAB 14
KOMPETENSI
Oleh Nuraeni
14.1 Pendahuluan
Kompetensi menurut UU No.13 Tahun 2013 adalah
kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek
pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan
standar yang ditetapkan. Organisasi memberikan setiap individu
sebuah indikator dari sikap/perilaku yang akan dievaluasi dan
dihubungkan dengan penentuan insentifnya. Kompetensi dapat di
artikan sebagai indikator kinerja suatu organisasi yang diuraikan
dalam kinerja masing-masing individu di dalamnya (Mahdane,
Hubeis and Kuswanto, 2018)
(Fadli, Muhammad, Fadli Anwar, 2012), mengemukakan
bahwa bagi karyawan kompetensi adalah modal utama yang
harus dimiliki, jika ia ingin diterima bekerja pada suatu organisasi.
Mengingat setiap perusahaan selalu menempatkan kompetensi
sebagai persyaratan wajib dalam bekerja. Tentunya hal tersebut
berkaitan dengan efektivitas operasional bisnis perusahaan, yang
mengharapkan setiap bisnisnya dapat dikerjakan oleh karyawan
yang handal dan profesional, sebab hal itu berkaitan dengan
ekspektasi dan tujuan organisasi, yakni memperoleh keuntungan
maksimal.
Banyak alasan yang menjelaskan mengapa SDM
berkualitas sangat penting bagi eksistensi perusahaan, namun
satu hal yang pasti keberadaan mereka tidak terlepas dari pribadi
171
yang cerdas, berpengetahuan, berpengalaman, ahli dan
menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalitas. (Arifin, 2011),
menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik dari
karyawan yang memiliki kontribusi meningkatkan kinerja dalam
mencapai tujuan organisasi. Kompetensi meliputi pengetahuan,
keahlian dan kemampuan ditambah dengan karakteristik lain,
seperti nilai-nilai, motivasi dan inisiatif serta pengendalian diri
172
menyatakan bahwa kompetensi adalah karakteristik dari
karyawan yang mempunyai peran dalam meningkatkan kinerja
serta mencapai hasil organisasi. Selain itu (Rogers at.al, 2014:228)
menyatakan bahwa kompetensi sebagai fitur dasar dari seorang
yang berhubungan dengan kinerja yang unggul dalam suatu
situasi. Mereka mengidentifikasi lima fitur kompetensi termasuk
motif, sifat, persepsi diri, pengetahuan dan ketrampilan.
Menurut (Ma’mun, 2013), mengemukakan bahwa
kompetensi merupakan suatu kemampuan untuk melakukan atau
melaksanakan sebuah tugas atau pekerjaan yang didasari atas
keterampilan dan kemampuan seseorang dalam menunjang
keberhasilan tugas yang diberikan kepadanya. Dalam hal praktik,
organisasi hanya akan memberikan pekerjaan kepada orang-
orang yang memiliki kemampuan untuk bekerja. Contohnya
adalah pengetahuan, yang dijadikan sebagai salah satu kriteria
yang dianggap bahwa setiap calon karyawan mampu bekerja.
Pengetahuan dianggap menjadi modal utama bagi setiap
karyawan dalam menjalankan pekerjaan yang pada bagiannya
pengetahuan akan membentuk kemampuan seseorang dalam
bekerja serta dengan seiring waktu berjalan akan membentuk
pengalaman dari karyawan tersebut.
Menurut (Jackson, Susan E., Schuller, Randall S., dan
Werner, 2010), mengatakan bahwa kompetensi adalah pola
pengetahuan, keterampilan, kemampuan, perilaku dan
karakteristik lain yang dibutuhkan seseorang untuk melakukan
peran pekerjaan atau fungsi pekerjaan yang baik. Dengan
demikian tujuan perusahaan akan dapat tercapai jika anggota
organisasi memiliki kemampuan yang dapat diandalkan.
Pengetahuan, keahlian, keterampilan dan pengalaman yang
dimiliki tentunya akan melahirkan tingkat kinerja yang optimal
dan di setiap unit kerja masing-masing menunjukkan
kapasitasnya sebagai karyawan yang berdaya saing unggul.
173
Menurut (Sunyoto, 2012), menambahkan kompetensi
adalah bagian dalam dan selamanya ada pada kepribadian
seseorang dan dapat memprediksikan tingkah laku dan
performansi secara luas pada semua situasi dan job tasks. Menurut
Kreitner dan Kinicki (2008:81) konsep kompetensi dipahami
sebagai kombinasi antara keterampilan dan kemampuan. Artinya
keterampilan dan kemampuan menjadi fokus perhatian yang
cukup besar pada lingkup manajemen saat ini. Kompetensi adalah
istilah yang digunakan untuk menjelaskan kemampuan seseorang
yang memiliki karakteristik stabil, kemampuan maksimum fisik
dan mental yang baik. Adapun kompetensi terbagi menjadi 3 jenis
yaitu: kompetensi organisasi, kompetensi pekerjaan atau teknis
dan kompetensi individual. Sedangkan karakteristik mendasar
yang ada pada kompetensi terbagi menjadi lima yaitu : motif, sifat,
konsep diri, pengetahuan dan keterampilan
Menurut (Martoyo, 2009), kompetensi merupakan konsep
kombinasi dari kemampuan (ability) dan bakat (trace). Bakat
menunjukkan kapabilitas untuk belajar sesuatu, bersifat potensial.
Sedangkan kemampuan merujuk pada kapasitas individu untuk
mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan, umumnya
kemampuan dibina oleh pengetahuan dan keterampilan. Dalam
pengertian sederhana kompetensi menunjukkan kepribadian
seseorang dalam bekerja, jika ada orang yang bekerja dengan
pengetahuannya menjelaskan bahwa orang tersebut
berpandangan luas, jika ada orang yang bekerja dengan
keterampilan yang baik menjelaskan bahwa orang tersebut
banyak bekerja sedikit berbicara dan jika ada karyawan yang
bekerja dengan emosionalnya menunjukkan bahwa ia memiliki
sikap tanggung jawab yang tidak baik.
Kompetensi diartikan sebagai wilayah pengetahuan atau
keterampilan yang krusial untuk menghasilkan output yang
penting. Maksud krusial di sini adalah dengan memiliki
kemampuan menjalankan tugas, memiliki pengetahuan dan
174
pengalaman akan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Akan tetapi sebaliknya suatu pekerjaan jika dikerjakan oleh
karyawan baru atau yang belum memiliki keahlian di bidangnya
akan menyebabkan gagalnya tugas. Dengan demikian tujuan
organisasi tidak tercapai, justru melahirkan berbagai banyak
permasalahan (Dubois, D.D., & Rothwell, 2004).
Kompetensi sebagai karakteristik individu yang sangat
mendasar dan berperan terhadap faktor-faktor yang
mempengaruhi kesuksesan suatu pekerjaan pada kondisi dan
situasi tertentu. Pengertian ini menggambarkan kompetensi
sebagai karakteristik yang dimiliki seseorang yang berkaitan
dengan kemampuan dalam menjalankan dan menyelesaikan
pekerjaan (Havidz Aima, Rizki Adam, 2017).
Menurut (Schermerchorn, 2011), bahwa kompetensi
individu dinyatakan sebagai : “The control issue concerning the
aptitude and abilities of people at work, aptitude represents a person
capability to Learn something, ability reflect a person existing
capacitiy to perform the various task needed for a given job and
includes both relevan knowledge and skill”. Pernyataan ini
memberikan makna bahwa kompetensi merupakan isu
pengendalian yang konsen terhadap sikap dan kemampuan
seseorang pada pekerjaan. Sikap direfleksikan sebagai bentuk
kapabilitas mempelajari sesuatu, sedangkan kemampuan sebagai
kapasitasnya yang ditampilkan pada berbagai tugas yang
dibutuhkan dalam pekerjaan mencakup pengetahuan dan
keterampilan.
Menurut (Robbins, 2017), mengemukakan “Therefore,
each members individual contribution also should be identified and
made a part of his or her overall performance appraisal”. Oleh
karenanya kontribusi dari masing-masing individual dalam
organisasi dapat dijadikan bahan identifikasi kinerja organisasi
secara keseluruhan, hal ini berarti bahwa kinerja organisasi secara
175
keseluruhan apakah memiliki daya saing atau tidak salah satunya
adalah faktor peran sumber daya manusia yang kompeten.
Menurut (Sedarmayanti, 2014), kompetensi adalah faktor
penentu seseorang dalam menghasilkan kinerja yang sangat baik,
dalam suatu pendapat lain, kompetitif dapat diartikan sebagai
faktor kunci dalam menentukan kesuksesan organisasi.
Penjelasan di atas memberikan pemahaman bahwa kompetensi
pada dasarnya harus memberikan dampak bagi kinerja karyawan,
karena kinerja memiliki hubungan langsung dengan perusahaan
yakni tujuan organisasi. Mc.Shane, Von Glinow and Mary
(2010:57) mengemukakan kompetensi menyertakan keterlibatan
karyawan, kebebasan kerja, kompetensi dan keterampilan dasar.
176
merancang strategi bisnis yang akan dijalankan oleh
perusahaan atau organisasi.
3. Management skills, merupakan suatu kemampuan dalam
memimpin, manajemen proyek dan melakukan
investigasi.
4. Interpersonal skills, merupakan kemampuan dalam
melakukan kerja sama tim, mempengaruhi, mengetahui
kepada siapa berbicara dan berkomunikasi.
5. Personal skills, merupakan keahlian dalam menguraikan
suatu permasalahan, memiliki logika yang kuat,
kemampuan stimulus, serta mampu mengetahui
keterbatasan pribadi.
177
(Havidz Aima, Rizki Adam, 2017) mengemukakan terdapat tiga
dimensi yang dapat membentuk kompetensi, di antaranya :
1. Kemampuan dalam manajemen tujuan dan tindakan,
diantaranya mencakup perencanaan, inisiatif, efisiensi,
kontrol diri, serta perhatian kepada hal yang detail dan
fleksibilitas.
2. Kemampuan manajemen orang mencakup empati,
persuasif, jaringan kerja, negosiasi, percaya diri,
manajemen kelompok/tim, pengembangan orang lain dan
komunikasi lisan.
3. Kemampuan logika analitis merupakan kemampuan yang
mencakup dalam penggunaan konsep, merancang pola-
pola, penggunaan teknologi, pengembangan teori, analisis
kuantitatif, komunikasi tertulis dan objektivitas sosial.
178
1. Kompetensi Intelektual, adalah berbagai perangkat
pengetahuan yang dimiliki oleh individu dan diperlukan
untuk menunjang kinerja.
2. Kompetensi Fisik, adalah perangkat kemampuan fisik
yang dimiliki oleh seorang individu dan diperlukan dalam
pelaksanaan tugas pekerjaan yang diberikan.
3. Kompetensi Pribadi, adalah perangkat perilaku yang
berhubungan dengan kemampuan individu dalam
mengeksplorasi diri, melakukan transformasi diri, dan
memahami identitas diri.
4. Kompetensi Sosial, adalah perangkat perilaku tertentu
yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan sosial.
5. Kompetensi Spiritual, adalah penghayatan, pemahaman,
serta pengamalan kaidah-kaidah yang berhubungan
dengan keagamaan.
179
Tabel 14. 1 Kompetensi Umum Model Spencer
Fitur-fitur Kompetensi
1. Achievement Orientation 11. Directiveness
2. Concern for Order 12. Teamwork
3. Initiative 13. Team Leadership
4. Information Seeking 14. Analitical Thinking
5. Interpersonal 15. Conceptual Thinking
Understanding
6. Consumer Service 16. Expertise
Orientation
7. Impact and Influence 17. Self Control
8. Organizational 18. Self Confidence
Awareness
9. Relationship Building 19. Flexibility
10. Developing Others 20. Organizational
Commitment
Sumber: (Nyoto, 2019)
180
Tabel 14. 2 Jenis kecerdasan Model Amstrong
Fitur-fitur Kompetensi
1. Kecerdasan Linguistik
2. Kecerdasan Logis Matematis
3. Kecerdasan Spasial
4. Kecerdasan Musikal
5. Kecerdasan Kinetis Jasmani
6. Kecerdasan Interpersonal
7. Kecerdasan Intrapersonal
Sumber: (Nyoto, 2019)
181
14.1.7 Tujuan Penggunaan Model Kompetensi
Derajat persaingan perusahaan semakin sengit, maka kinerja
perusahaan harus maksimal pencapaiannya melalui karyawan.
Oleh sebab itu, penggunaan model kompetensi sebagai upaya
tuntutan pasar persaingan kinerja perusahaan dalam mencapai
visi dan misi-nya. Adapun tujuan penggunaan model kompetensi
dilakukan dengan alasan sebagai berikut (Nyoto, 2019):
1. Untuk mendapatkan talenta yang sesuai dengan
kebutuhan fungsional organisasi pada waktu yang tepat.
2. Semakin kompleksnya peran fungsional dalam suatu
perusahaan.
3. Perkembangan informasi dan teknologi yang semakin
masif
4. Terjadinya perubahan gaya hidup (life style) di masyarakat
5. Berpikir strategis merupakan suatu keharusan apabila
tidak ingin tertinggal.
6. Upaya untuk meminimalisir kesenjangan antar personal di
dalam internal perusahaan.
7. Adanya tuntutan organisasi sebagai upaya untuk masuk
dalam persaingan terbuka (globalisasi).
182
a) Social role, adalah perilaku yang dilakukan oleh
seseorang dan mendapat afirmasi oleh organisasi atau
kelompok sosial. Contohnya menjadi seorang
pemimpin atau seorang pengikut, menjadi agen
perubahan atau menolak perubahan.
b) Self Image, adalah pandangan individu terhadap
dirinya sendiri yang berkaitan dengan identitas diri,
kepribadian, dan harga dirinya. Contohnya melihat
diri sendiri sebagai pengembang atau manajer yang
berperan dalam sebuah perusahaan atau organisasi.
3. Personal Characteristics
a) Traits, adalah aspek tipikal manusia dalam
berperilaku. Contohnya menjadi seorang pendengar
yang baik.
b) Motive, merupakan apa yang mendorong perilaku
seseorang dalam bidang tertentu (prestasi, afiliasi,
kekuasaan). Misalnya ingin mempengaruhi perilaku
orang lain untuk kebaikan organisasi.
183
Dapat diartikan bahwa kompetensi dapat menyebabkan atau
digunakan sebagai prediksi kinerja seseorang, maksudnya
apabila seseorang memiliki kompetensi yang tinggi maka
implikasinya akan mempunyai kinerja yang tinggi juga
(sebagai akibat).
3. Kriteria (Criterion Referenced)
Mengandung makna bahwa kompetensi sebenarnya
memprediksi siapa yang berkinerja baik, diukur dari kriteria
atau standar yang digunakan.
187
3. Paradox navigator, merupakan kemampuan untuk
mengelola berbagai tekanan yang ada di dalam bisnis baik
pada jangka pendek maupun panjang, baik bersumber
pimpinan maupun pekerja.
188
3. Compliance manager adalah kemampuan mengelola
berbagai proses dengan memenuhi aturan yang berlaku.
189
DAFTAR PUSTAKA
191
Edit. USA, McGraw Hill, Inc.
Sedarmayanti (2014) Restrukturisasi dan Pemberdayaan
Organisasi, Untuk Menghadapi dinamika Perubahan
Lingkungan. Bandung: Refika Aditama.
Sunyoto, D. (2012) Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta:
Penerbit CAPS.
Ulrich, D. (2017) HR Competencies: Mastery at the Intersection of
People and Business.
Wibowo (2007) Manajemen Kinerja. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.
Wijoyo, H. (2021) ‘Kompetensi Sdm Digital’, In Sdm Unggul Di
Industry 4.0. Solok: Insan Cendekia Mandiri.
Wijoyo Hadion, Ade Onny Siagian, Audia Junita, Denok Sunarsi,
Dini Haryati, Widiyanti, Zulfiayu Sapiun, Suherman, D.A.
(2021) SDM Unggul di Industry 4.0. Solok: Insan Cendekia
Mandiri.
192
BAB 15
KEPEMIMPINAN
Oleh Arifin
15.1 Pendahuluan
“Berfikirlah mendalam bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh
Firaun gagal menjadikan seluruh kekuasaan dan hartanya
membuatnya patuh dan tunduk pada Tuhannya. Demikian,
pemimpin yang diberikan kesempatan mengembang amanah
kemudian tidak mengarahkan semua elemen organisasinya
mendekatkan pada kalam ilahiah dan mengenal tujuan hidup
untuk kebahagiaan menuju arah organisasi yang
membahagiakan selamanya, maka Dia akan menjadi orang
yang kurang beruntung dan menyianyiakan amanah yang
telah dia emban”.
193
hanya ada satu kepala desa yang diminta melalui pemilihan kepala
desa, dan tidak meminta menjadi kepala desa. Selain lahir dari
ketiga jalur tersebut, pemimpin tidak boleh meminta jabatan
menjadi pemimpin karena sejatinya mereka yang meminta
jabatan terdapat kecenderungan untuk menyalahi atas amanah
yang diberikan (abuse of power). Pemimpin harus diusulkan atas
dasar komunitas, perorangan, kelompok, dan bukan karena
keinginan sendiri dari seorang pemimpin. Berapa banyak
kepemimpinan yang diinginkan oleh seseorang dan cenderung
pada memaksakan diri menjadi pemimpin, berakhir kurang baik
diakhir masa kepemimpinannyanya. Kepemimpinan yang
dihendaki sendiri oleh pemimpin tersebut akan mendatang nilai-
nilai negatif pada diri pemimpin tersebut. Sebaliknya, pemimpin
yang dipilih oleh masyarakat atas, oleh dan untuk masyarakat
akan mendatangkan keberkahan lebih baik.
Fir’aun adalah pemimpin yang memaksakan diri atas
kepemimpinannya, sehingga pada akhirnya melahirkan nilai-nilai
negatif pada dirinya, sehingga memaksakan kehendak menjadi
Tuhan. Pemaksaan kehendak tersebut berujung pada kekejaman
pada pengikuti Nabi Musa. A.S. Pada akhirnya Allah
menenggelamkan dia dan semua pasukannya di laut merah, dan
Allah menyelamatkan tubuhnya sampai sekarang agar menjadi
hikmah mendalam bagi manusia-manusia sesudahnya bahwa
siapapun pemimpin yang memiliki sifat-sifat negatif pada
kepemimpinannya maka sejatinya dia telah meneruskan DNA
Firaun dan pada akhirnya kesudahannya akan menjadi pil pahit
bagi mereka sendiri. Jangan seperti Firaun yang gagal menjadikan
harta dan takhtanya untuk mengabdi kepada Allah SWT (Rizqa,
2019).
195
anggota organisasi lainnya sebagai sebuah tim untuk
mencapai tujuan tertentu.
196
menempatkan Nabi Muhammad pada posisi nomer 1 dalam 100
orang paking berpengaruh di dunia sepanjang sejarah.
197
pesantren atau surau tetapi mereka lahir dari organisasi
perkantoran yang taat menjalankan perintah agama mereka
dengan baik. Organisasi yang miskin dalam ilmu agama akan
mendapatkan kebahagiaan dunia saja (Istidraj), keuntungan
perusahaan yang luar biasa namun tidak menjadikan keberkahan
bagi organisasi tersebut (kebahagiaan selamanya).
Kepemimpinan yang kuat dan berkarakter dalam organisasi
adalah pemimpin yang memiliki kompetensi ilmu agama yang
mampu menerjemahkan dalam kehidupan usaha dan bisnis
karena ini pula menjadi saran dari seorang manusia pada 1400
tahun silam. Oleh Michael Heart menempatkan beliau pada posisi
nomer 1 dalam manusia paling berpengaruh di dunia.
198
yang menjadi konsen utama tetapi kepedulian pada seluruh
bawahannya menjadi bagian dari kepemimpinan hati. Berapa
banyak orang yang memiliki intelektualtas yang baik namun
kecerdasan emosional masih rendah, mereka hanya fokus pada
hal pribadinya namun tidak pada sekelilingnya.
199
kecerdasan tersendiri bagi seorang pemimpin, karena organisasi
yang terdiri dari banyak orang membutuhkan cara memahami
jiwa orang dan bagaiman menjaga emosional orang dalam
mencapai tujuan organisasi.
200
15.6 Ketauladanan Pemimpin
Seorang pemimpin yang menjadi leader dalam sebuah
organisasi maupun seorang diri, maka mampu melahirkan
ketauladanan setiap saat dan kinerja karena be a good example
adalah cara kita mengajari anggota organisasi untuk bekerja
dengan kinerja yang lebih baik. Jangan harapkan semua anggota
organisasi jauh lebih baik, jika seorang pemimpin tidak mampu
memberikan contoh yang baik dalam upaya terus mencapai nilai-
nilai untuk mencapai tujuan. Ketauladanan adalah kata kunci
dalam organisasi karena setiap indikator keberhasilan organisasi
terdapat banyak kinerja yang harus dicontohkan oleh seorang
pemimpin. Tanpa ketauladanan apa yang diharapkan dari tujuan
mencapai organisasi, kecuali jika organisasi tersebut adalah milik
pribadi dari seorang pemimpin tersebut. Jangan mengajari
seseorang berenang jika pemimpin tidak tahu berenang, jangan
mengajari siswa mampu berbahasa Inggris dengan baik jika kita
tidak bisa menjadi contoh dalam berbicara Inggris. Semakin baik
ketauladanan yang diberikan, maka pengaruh pemimpin ke
bawahannya akan semakin efektif dalam setiap perintah
pekerjaan dari seorang pemimpin.
15.7.1 Intelektualitas
Pemimpin wajib memiliki hal ini, dia lahir dari ruang-ruang
dinamika intelektual dunia kampus atau terdidik dengan baik,
dunia akademisi. Dialektika yang terbangun sungguh merupakan
sebuah asah pemikiran dari dunia kampus, pemimpin akan lahir
dari dunia ini akan menjadikan referensi terbaik sebagai rujukan
atas ragam kebijakan yang dilahirkan sehingga menjadi dasar
utama dalam interaksinya dengan yang dipimpinnya. Pemimpin
yang anti dialektika kampus dan cenderung untuk menghindari
perdebatan politik di dunia kampus, justru akan membuatnya tak
memiliki visi dan misi dalam membangun suatu organisasi yang
dipimpinnya. Bagaimana mungkin sebuah visi dan misi dapat
terwujud dengan baik akan masa depan sebuah instansi yang
dipimpin jika pemikiran kolot menjadi dasar rasionalitasnya dan
dialektikanya tidak mencerminkan kualitas pemikir yang
memikirkan arah ke masa depan.
15.7.2 Moralitas
Moralitas seorang pemimpin lahir dari keyakinannya
kepada pegangan nilai-nilai Agama yang diyakininya. Pemimpin
bukan sekedar intelektual saja, tetapi kepemimpinan yang
memiliki hati. Mampu menjadikan bawahannya sebagai potensi
penting dalam mencapai masa depan yang telah direncanakannya
dengan baik bersama rekan-rekannya. Kepemimpinan yang selalu
202
menghargai tidak menghakimi, membantu tidak untuk mengejar
deadline semata, membimbing bukan sekedar mampu
menyelesaikan tugas, mengarahkan bukan berarti mendikte
setiap gerakan. Kepemimpinan yang lahir dari hati akan
melahirkan sebuah legacy yang berkesan penuh dengan
kebahagiaan. Semua nilai moralitas, jika dia pemimpin seorang
muslim, maka Centre of activity adalah masjid yang telah
membuktikan bahwa dari sana lahir banyak pemikiran yang baik
dan comprehension.
203
Intelektualitas pemimpin harus benar-benar dimiliki
dalam mengarahkan semua elemen yang dipimpin, jika
pemimpin tidak memiliki intelektualitas yang cukup maka
arah dan tujuan organisasi akan semakin terasa amat jauh
untuk dicapai walau tujuan itu sebenarnya hanya dekat.
Kepemimpinan yang berkualitas ditentukan dari nilai-nilai
kecerdasan yang dimiliki, sehingga memudahkan dan lebih
efektifnya capaian tujuan organisasi dengan
memberdayakan semua elemen pendukung organisasi
secara bersama-sama. Arah dan tujuan organisasi akan
sangat sulit dicapai jika nilai kecerdasan pemimpin tidak
bermutu, hal ini akan justru mengakibatkan para anggota
organisasi merasa menjadi pemimpin dibandingkan
pemimpi organisasi itu sendiri akibat ketidakmampuan
nya dalam mengarahkan anggotanya.
3. “Saya belum memecat kamu, tapi kamu sudah boleh mencari
pekerjaan lain”.
Kesadaran diri para anggota organisasi yang dipimpin juga
perlu menjadi hal penting untuk dipikirkan baik-baik agar
melahirkan kesadaran dari dalam hati bahwa posisinya
adalah bawahan untuk mendukung pemimpinnya sebagai
orang yang bertanggungjawab dalam organisasi. Dukungan
anggota kepada pemimpin dalam loyalitas harus benar-
benar terjaga dengan baik karena loyalitas menandakan
bahwa mereka berada di dalam perahu yang sama untuk
menjaga harus tetap seimbang dan tidak membocorkan
perahu. Peran ini perlu dan penting untuk disadari oleh
siapapun dalam posisi sebagai bawahan. Ketaatan pada
pemimpin harus mutlak dijaga dan dilakukan selama tidak
bertentangan dengan perintah Tuhan. Kita sering melihat
banyak anggota organisasi merasa diri paling mampu
memberikan perspektif namun tidak memilik rasa diri
sebagai anggota organisasi, dan tidak mampu
204
menempatkan diri bahwa dia adalah anggota yang
seharusnya mendukung sepenuhnya kebijakan yang
disampaikan oleh pemimpin.
4. “Saya kenal banyak orang dan orang banyak kenal saya, tapi
saya nggak punya teman. Mereka datang karena butuh,
bukan karena dorongan hati”.
Jangan berteman hanya karena seseorang memiliki jabatan
sebagai pemimpin, namun memulai persahabatan harusnya
dimulai dari nilai-nilai kebutuhan yang sama satu sama lain
dan bersahabat secara alami bukan karena jabatannya. Berapa
banyak kita temukan orang memiliki banyak sahabat ketika
mereka memiliki jabatan sebagai pemimpin, namun berapa
banyak kita temui dia kehilangan sahabat ketika dia memiliki
ragam masalah bahkan ketika dia berujung ke penjara.
Sahabat yang baik tidak melihat dari kualitas apa yang
dijabatnya namun lebih pada kebutuhan dan kepentingan
bahwa seorang sahabat harus saling mendukung satu sama
lainnya dalam suka dan duka. Itulah kualitas persahabatan
seorang pemimpin.
Kepemimpinan hati mendorong orang untuk
bersahabat dalam interaksi kebersamaan dan mendukung
dalam suka duka, percayalah bahwa pemimpin hari ini akan
berujung pada selesainya kepemimpinannya, setiap ada
awalan pasti ada akhirnya. Berapa lama seorang Bapak
Soeharto menjabat toh pada akhirnya harus turunnya tahta
juga. Berapa lama seorang Stalin memimpin dunia, toh pada
akhirnya kuburan juga tempat peristirahatan terakhirnya.
Berapa lama seorang Mustafa Kemal memimpin Negara Turki,
toh bumipun tidak menerimanya sehingga batu besar yang
harus menindihnya untuk kediaman terakhirnya. Berapa lama
seorang Hitler memimpin, toh sakit juga yang merenggut
nyawanya. Berapa lama Firaun berkuasa, toh air laut juga yang
menenggelamkan. Berapa lama seorang Raja Namrud
205
berkuasa, toh hanya seekor nyamuk saja yang masuk ke dalam
ubun-ubun otaknya hingga pada akhirnya merenggang nyawa.
Selama berkuasa, pergunakanlah semaksimal mungkin untuk
tunduk dan patuh pada perintah ilahiah karena semua ragam
interaksi kita bukan sekedar menyenangkan dan
membahagiakan banyak orang dengan cari baik kita, namun
sejatinya kita sekedar bekerja untuk terus menuju liang lahat
kita, sehingga pada akhirnya nama kita yang mulia di hadapan
orang terpanggil di surau-surau atau masjid di lingkungan
tempat tinggal kita. Di sanalah akhir kejayaan nama kita.
5. “Kalo mukulin orang jangan sampai mati, ingat yang mencabut
nyawa bukan kita”.
Budaya kita sering tidak profesional membenci orang karena
nilai subyektivitas bukan nilai objektivitas. Sebaiknya kita
harus benar-benar mampu membedakan pada posisi diri kita
sebagai pemimpin. Jika kita memposisikan diri sebagai
pemimpin, maka kepentingan personal jangan terlalu
dominan dalam setiap kesempatannya karena akan berakibat
buruk pada diri sendiri dan apa yang dipimpinnya (anggota
organisasi yang dipimpinnya). Kompetensi personal orang
yang baik harus diakomodir oleh seorang pemimpin yang baik,
meskipun secara pribadi dia tidak menyukainya namun
kebutuhan organisasi menyebabkan orang tersebut berada
pada posisi tersebut. Tidak semua orang yang kita sukai akan
bekerja baik dengan kita, justru yang tidak menyukai kita akan
benar-benar bekerja dengan baik karena mereka merasa
diawasi dengan kualitas pekerjaan yang lebih baik karena pasti
akan mendapatkan kritikan jika kualitas pekerjaannya buruk.
Sebaliknya, jika seorang sahabat tidak bekerja dengan baik,
maka nilai persahabatannya menjadi ukuran sehingga
pekerjaan yang buruk sering ditoleransi hanya karena
persahanatan. Hal inilah yang membuat nilai dan kualitas
pekerjaan tidak bermutu.
206
15.9 Teori Kekhalifaan
Teori kekhalifahan atau teori teokrasi klasik menyatakan
bahwa otoritas kekuasaan sebuah negara berasal dari Tuhan
kemudian diberikan secara langsung kepada manusia yang
memerintah. Baik secara individu atau personal ataupun
pemimpin dalam kelompok pada skala kecil dan besar. Manusia
sebagai khalifah di muka bumi adalah wakil Tuhan yang diminta
untuk menjadi pemimpin baik secara individu maupun sebagai
pemimpin organisasi. Sebagai individu, ia memiliki
tanggungjawab penuh pada diri sendiri bahwa harus mampu
memahami dengan baik bahwa ia akan diminta
pertanggungjawaban atas pribadinya sendiri dengan ragam
perilaku yang telah dilakukannya atas dirinya. Ia sebagai
pemimpin organisasi juga demikian, bahwa ia kelak juga akan
dimintai pertanggungjawaban sebagai pemimpin organisasi baik
pada skala besar ataupun kecil, akan kah semua anggotanya
organisasinya diarahkan pada unsur ilahiah pada fitrahnya bahwa
tujuan organisasi dilakukan dengan baik tanpa melakukan hal
yang bersifat keburukan atau kecurangan dalam mencapai tujuan
organisasi, selain itu akankah semua anggota organisasi diarahkan
dan terarahkan pada hal-hal yang bertujuan pada kebahagiaan
hakiki pada penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi
yang ending-nya harus mampu ber Tauhid pada Ilahi, jika hal ini
tidak dilakukan maka seorang pemimpin akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Pemimpin harus
memahami secara baik bahwa ragam interaksi dan proses
pencapaian tujuan organisasi dengan strategi yang
diimplementasikan harus benar-benar bersumber pada ajaran
teologi ketuhanan bahwa semua perbuatan harus mengandung
nilai ketuhanan di dalamnya.
Adapun menurut (Muchlisin, 2023) menyebutkan bahwa
karakter seorang pemimpin dalam terlihat dari beberapa poin
penting sebagai berikut :
207
1. Kemampuan untuk perseptif. Perseptif adalah menunjukkan
kemampuan bahwa visi seorag pemimpin harus benar-benar
mampu melihat dan merumuskan arah masa depan dari
organisasi yang dipimpinnya dengan memahami keadaan dan
kondisi atas apa yang dipimpinnya sehingga semua elemen
dapat benar-benar berfungsi mendukung tujuan dari
organisasi tersebut.
2. Kemampuan bersikap objektif. Objektivitas adalah
kemampuan untuk melihat suatu peristiwa atau merupakan
perluasan dari kemampuan persepsi. Hal ini akan membantu
pemimpin dalam memaksimalkan semua faktor pendukung
tujuan organisasi secara objektif bukan subjektif. Mampu
membedakan permasalahan personal dan kebutuhan
organisasi, menyukai sesuatu dan membenci sesuatu bukan
karena faktor like and dislike namun kebutuhan organisasi
yang dipandang secara objektif penuh dengan tanggungjawab
sebagai seorang pemimpin. Arifin (2018) Hal penting bagi
seorang pemimpin adalah menghargai ragam budaya yang
dimiliki bawahannya, satu hal yang perlu dipandang secara
subjectitif adalah budaya masing-masing bawahan, kita harus
memiliki kesadaran tinggi dan saling menghargai nilai budaya
satu sama lain
3. Kemampuan untuk menentukan prioritas. Kemampuan ini
sangat diperlukan karena pada kenyataannya masalah-
masalah yang harus dipecahkan bukan datang satu per satu,
melainkan datang bersamaan. Penentuan skala prioritas
menjadi tanggungjawab seorang pemimpin, melihat dengan
penuh ketelitian berbasis kemampuan akan nilai kebutuhan
dan nilai keinginan baik untuk pemimpin itu sendiri maupun
sebagai anggota yang dipimpin.
208
15.10 Kesimpulan
Nilai kepemimpinan yang tidak berorientasi pada sebuah legacy
yang baik akan menempatkan pemimpin tercatat dalam sejarah
buruk dalam kehidupan sesudah kepemimpinannya. Landasan
Tauhid seorang pemimpin akan mendatangkan kebahagiaan sejati
karena ragam aktivitasnya menjadikan dia sebagai pemimpin
yang penuh dengan kebahagiaan setelah masa kekuasaannya dan
kerinduan mendalam para anggota organisasi kepadanya.
Kepemimpinan tanpa landasan Tauhid akan menjebakkan diri
sang pemimpin kepada jurang kebodohan dan kemunduran
dalam sejarahnya.
DAFTAR PUSTAKA
210
BIODATA PENULIS
211
BIODATA PENULIS
212
BIODATA PENULIS
213
BIODATA PENULIS
214
BIODATA PENULIS
215
BIODATA PENULIS
216
Udayana (Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran,
Universitas Udayana) dan Jurnal Perseptual (Fakultas Psikologi,
Universitas Muria Kudus). Dia juga ikut dalam beberapa penulisan
book chapter. Email: [email protected].
217
BIODATA PENULIS
218
BIODATA PENULIS
220
BIODATA PENULIS
221
BIODATA PENULIS
222
BIODATA PENULIS
223
kegiatan manajerial sehingga penulis berencana membuat
berbagai buku yang berkaitan dengan ilmu manajemen,
224
BIODATA PENULIS
225
BIODATA PENULIS
226