(a).
Pembangunan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 harus diselenggarakan
berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.
Dalam hal pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sudah terjadi, perlu dilakukan
upaya represif berupa penegakan hukum yang efektif, konsekuen, dan konsisten
terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dikembangkan satu sistem hukum
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas, tegas, dan menyeluruh
guna menjamin kepastian hukum sebagai landasan bagi perlindungan dan pengelolaan
sumber daya alam serta kegiatan pembangunan lain. UU No. 32 Tahun 2009 ini juga
mendayagunakan berbagai ketentuan hukum, baik hukum administrasi, hukum perdata,
maupun hukum pidana. Ketentuan hukum perdata meliputi penyelesaian sengketa
lingkungan hidup di luar pengadilan dan di dalam pengadilan. Penyelesaian sengketa
lingkungan hidup di dalam pengadilan meliputi gugatan perwakilan kelompok, hak gugat
organisasi lingkungan, ataupun hak gugat pemerintah. Melalui cara tersebut diharapkan
selain akan menimbulkan efek jera juga akan meningkatkan kesadaran seluruh
pemangku kepentingan tentang betapa pentingnya perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup demi kehidupan generasi masa kini dan masa depan. Penegakan
hukum pidana dalam Undang-Undang ini memperkenalkan ancaman hukuman
minimum di samping maksimum, perluasan alat bukti, pemidanaan bagi pelanggaran
baku mutu, keterpaduan penegakan hukum pidana, dan pengaturan tindak pidana
korporasi. Penegakan hukum pidana lingkungan tetap memperhatikan asas ultimum
remedium yang mewajibkan penerapan penegakan hukum pidana sebagai upaya
terakhir setelah penerapan penegakan hukum administrasi dianggap tidak berhasil.
Undang-Undang ini memberikan kewenangan yang luas kepada Menteri untuk
melaksanakan seluruh kewenangan pemerintahan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup serta melakukan koordinasi dengan instansi lain. Melalui
Undang-Undang ini juga, Pemerintah memberi kewenangan yang sangat luas kepada
pemerintah daerah dalam melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
di daerah masing-masing yang tidak diatur dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. UU No. 32 Tahun 2009 ini juga dapat
dikatakan sebagai Undang-Undang Payung (Umbrella Act), karena bidang lingkungan
sangat luas yang tidak muat dalam satu Undang-Undang.
(b). Ya, pemerintah dapat menggugat jika terjadi pencemaran dan kerusakan
lingkungan hidup. Mengenai hak gugat pemerintah dan pemerintah daerah dalam
hukum lingkungan diatur dalam Pasal 90 ayat (1) UU No. 32 tahun 2009 yang
menyatakan bahwa: “instansi pemerintah dan pemerintah daerah yang
bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup berwenang mengajukan gugatan ganti
rugi dan tindakan tertentu terhadap usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang mengakibatkan kerugian
lingkungan hidup”. Selanjutnya dalam penjelasan pasal tersebut dijelaskan bahwa hak
gugat ini dapat diterapkan terhadap kerugian lingkungan hidup yang bukan kerugian
terhadap hak milik privat. Tindakan tertentu merupakan tindakan pencegahan dan
penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan serta pemulihan fungsi lingkungan
hidup guna menjamin tidak akan terjadi atau terulangnya dampak negatif terhadap
lingkungan hidup. Apabila ditafsirkan secara a contrario maka hak gugat tersebut baru
dapat diberlakukan terhadap sebuah kerugian yang bersifat pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan terhadap hak milik publik maupun hak milik Negara.
Permasalahan yang kemudian lahir adalah kriteria kerugian itu sendiri serta hak milik
publik maupun milik Negara secara konseptual dan normatif , hal ini karena secara
prinsip telah disepakati dalam Deklarasi Rio bahwa lingkungan hidup adalah satu
kesatuan, dalam pengertian lingkungan hidup adalah milik seluruh masyarakat yang
berarti kerugian terhadap lingkungan hidup tidak hanya menyangkut hak milik individu
tertentu saja, tetapi akan menyangkut kepentingan publik/masyarakat luas termasuk
Negara.
(c). Contoh kasus : Nomor: SP. 068/HUMAS/PP/HMS.3/03/2020
Jakarta, Selasa, 25 Februari 2020. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bale
Bandung mengabulkan gugatan Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan
(KLHK) terhadap PT. Kamarga Kurnia Textile Industry (PT. KKTI). Perusahaan tersebut
dinyatakan terbukti melakukan pencemaran lingkungan hidup di lokasi PT. KKTI yang
beralamat di Jalan Cibaligo KM 3 Leuwigajah, Desa Melong, Kecamatan Cimahi
Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Majelis Hakim menghukum PT. KKTI untuk
membayar ganti rugi materiil sebesar Rp. 4,25 Miliar, lebih rendah dari gugatan yang
diajukan KLHK sebesar Rp. 18,2 Miliar. Gugatan perdata terhadap pabrik tekstil PT.
KKTI, dilakukan karena tidak ada keseriusan pihak perusahaan dalam mengelola air
limbah, dan limbah B3 yang dihasilkan. KLHK tidak akan berhenti mengejar, dan
menyeret pelaku pencemar lingkungan hidup ke pengadilan baik melalui perdata
dan/atau pidana. Pencemaran lingkungan hidup merupakan kejahatan yang sangat luar
biasa (Extra Ordinary Crime). Dampaknya langsung terhadap kesehatan masyarakat,
ekonomi, kerusakan ekosistem serta berdampak pada wilayah yang luas dalam waktu
yang lama. Oleh karena itu, agar memberikan efek jera terhadap pelaku, tidak ada
pilihan lain, harus ditindak seberat-beratnya. Putusan ini menunjukkan bahwa
pencemaran lingkungan merupakan sebuah kejahatan luar biasa atau Extra Ordinary
Crime, dan Majelis Hakim telah menerapkan prinsip in dubio pro natura, atau prinsip
kehati-hatian. Dalam mengadili perkara, mereka juga menggunakan beban pembuktian
dengan pertanggungjawaban mutlak atau Strict Liability.
Terima kasih.
Referensi :
BMP HKUM4309. Tindak Pidana Khusus. Penerbit Univesitas Terbuka.
Hak Mengajukan Gugatan Dalam Sengketa Lingkungan Hidup. Muzakkir
Abubakar. Kanun Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 21, No. 1, April 2019.
[Link]