Nama Smt/Jur
: Khilyatut Dzakhiroh : VII/KI/BK MEMAHAMI PERSOALAN SISWA YANG KURANG PD
Lia (bukan nama sebenarnya), adalah seorang siswa kelas I (X) SMU favorit di Salatiga, dan baru saja naik kelas II (XI). Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di sebuah desa yang terletak di pedalaman kurang lebih 17 KM di luar kota Salatiga. Sebagai anak pertama, semula orang tuanya merasa keberatan jika setamat SLTP anaknya (LIa) melanjutkan ke SMU di Salatiga. Karena, orang tuanya sebenarnya berharap agar anaknya tidak perlu bersusah payah melanjutkan sekolahnya di kota. Tetapi, atas bujukan wali kelas Lia pada saat pengambilan STTB, maka dengan berat hati orang tuanya harus merelakan Lia untuk melanjutkan sekolah, berdasarkan pertimbangan dari wali kelasnya karena Lia terbilang anak yang cerdas diantara teman-temannya yang lain sehingga wajar jika Lia dapat diterima di SMU favorit. Sejak diterima di SMU favorit, disatu pihak Lia bangga sebagai anak desa dapat diterima di SMU faforit itu akan tetapi, dilain pihak ia mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu berbeda dengan latar belakang Lia. Ia menganggap bahwa teman-teman dari golongan keluarga kaya tersebut, sebagai orang-orang yang egois, kurang bersahabat, suka memilih-milih teman yang sama-sama dari keluarga kaya, serta sombong. Makin mencekam, lama dan perasaan mulai ditolak, terisolir ,dan kesepan anggapan makin bahwa
timbul
sikap-sikap
atau
sekolahnya adalah bukan untuk dirinya, merasa tidak krasan , ingin keluar akan tetapi merasa malu pada orang tua serta teman-temannya sekampung. Terus bertahan, merasa susah karena tidak memiliki teman
yang perduli, dasar saya anak desa, anak miskin, (dibanding temantemannya di kota)hujamnya pada dirinya sendiri. Akhirnya Lia benar-benar menjadi anak minder, pemalu, peragu, serta penakut dalam bergaul sebagaimana mestinya, makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban perasaan dan pikiran semakin berat, sampaisampai dia merasa ragu apakah dia dapat naik kelas ataukah tidak.
I.
Identitas Klien dan Keluhan a. Identitas Klien 1. Nama
2. Jenis Kelamin 3. Tempat/tgl lahir
: LIa (Nama samaran) : Perempuan : : Islam : Jl. Sentana no.150 Desa Pandaran
4. Agama
5. Alamat Tinggal
kota Salatiga 6. Sekolah 7. Alamat Sekolah b. Keluhan Klien 1. Minder 2. Tidak percaya diri 3. Tidak memilki teman yang perduli padanya 4. Nilai menurun 5. Tidak dapat berkonsentrasi saat belajar
II.
: SMU Favorit kota Salatiga : Kota Salatiga
Gejala yang Nampak Sering murung, merasa terisolir, pendiam, tidak krasan di
sekolahan, tidak mau bergaul dengan teman-teman yang lain, tidak dapat konsentrasi saat belajar. III. Langkah-Langkah A. Identitas masalah 1. Hasil pengumpulan data
a. Data psikologis Potensi kecerdasan cukup tinggi Kecepatan dalam berpikir sangat baik Kurang percaya diri dalam bergaul Suka minder Sering menyalahkan diri sendiri
Pendiam
Menutup diri [Link] kemajuan akademik
Mempelajari raport di SMU Salatiga
Kelas X
: Semester I nilai rata-rata. Semester II nilai
rata-rata Kelas XI : Semester I nilai rata-rata. Semester II nilai rata-rata c. Keadaan fisik dan kesehatan Mata dan pendengarannya normal Anggota badan, tangan dan kaki normal Penyakit yang diderita sampai saat ini tidak ada Tinggi badan, 155 cm dan berat badan 46 kg
Jika di lingkungan sekolahan terutama di lingkungan
kelasnya selalu murung dan menyendiri (tidak mau bergaul dengan teman-temannya) [Link] keluarga
Nama ayah kandung Maliki, seorang petani Nama ibu kandung Hartini, seorang petani
Jumlah saudara kandung 1 orang, Lia anak pertama duduk di kelas II (XI) SMU dan adiknya laki-laki duduk di kelas I (VII) SLTP Kondisi rumah cukup sederhana, dan dengan keadaan ekonomi yang cukup secara sosial ekonomi bagi seorang petani desa Awalnya orang tua lia keberatan jika anaknya
melanjutkan sekolah di SMU favorit yang terletak di kota Segala keluh-kesahnya tidak dapat diungkapkannya pada kedua orang tuanya sebab bersekolah di SMU favorit juga merupakan bagian dari keinginannya, sehingga dia makin minder
Lia merasa tidak pantas sebagai anak desa bersekolah di
lingkungan anak-anak orang kaya menjadikan dia merasa tidak krasan Semangat belajarnya menurun karena sering melamun, sehingga mempengaruhi nilai raportnya Jadi seorang anak yang pendiam
e. kondisi lingkungan masyarakat
Lia adalah anak yang tidak mudah bergaul dengan temanteman sebayanya yang berada di lingkungan desanya, karena dia adalah tergolong anak yang agak pendiam, Lia hanya dekat dengan beberapa orang saja dari temannya di desa. 2. Hasil Analisis data
Kecerdasan cukup tinggi, akan tetapi pendiam sehingga
menyebabkan permasalahannya tak kunjung selesai Susah berkonsentrasi disebabkan menanggung
permasalahan, sehingga mempengaruhi hasil belajarnya Sikapnya yang suka menutup diri membuat beban
pikirannya menjadi makin berat, menganggap tidak ada seorang pun yang perduli padanya
Terjadi pertentangan batin antara dia tetap bertahan tapi
nilai
makin
turun malu
atau
keluar
dari
sekolah tua dan
dengan teman-
menanggung
terhadap
orang
temannya di desa 3. Masalah klien Minder, menutup diri, tidak percaya diri, merasa diasingkan dan tidak ada yang perduli padanya. Menganggap temantemannya yang dari golongan orang-orang kaya itu egois, suka pilih-pilih teman, serta tidak mau berkawan dengannya yang membuatnya merasa tidak krasan belajar di SMU favorit tersebut B. Diagnosis 1. Sebab-sebab yang bersumber dari diri siswa
Tertutup dari orang-orang di sekitarnya
Menjadi pendiam Suka minder Tidak percaya diri 2. Sebab-sebab yang bersumber dari keluarga Kurang adanya dukungan orang tua
Kurangnya kedekatan secara khusus antara orang tua dan Lia
Latar belakang pendidikan orang tua yang kurang bisa
memahami kepribadian anaknya 3. Sebab-sebab yang bersumber dari sekolah
Teman-teman kurang perduli antar sesama Guru kelas kurang tanggap dengan masalah Lia
4. Sebab-sebab yang bersumber dari masyarakat Tidak memiliki banyak teman karena memang sukar
beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya C. Prognosis 1. Layanan konseling perorangan/individu 2. Konseling non-direktif D. Bentuk Terapinya
a) Melalui teknik konseling non-direktif, teknik konseling Non-
Direktif
disebut
juga
dengan
Client
Centered
theraphy,
pendekatan ini diperoleh oleh Carl Rongers dan Universitas Wiconsin di Amerika Serikat. Merupakan upaya bantuan pemecahan masalah yang berpusat pada klien, klien diberi kesempatan untuk mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiran-pikirannya secara bebas. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa seseorang yang mempunyai masalah sendiri. Tetapi oleh karena suatu hambatan, potensi dan kemampuannya itu tidak dapat berkembang atau berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk memfungsikan kembali kemampuannya, klien
memerlukan bantuan, maka dalam proses konselingnya,
inisiatif dan peranan untama terletak pada pundak klien sendiri. Sedangkan kewajiban dan peran konselor hanya mempersiapkan suasana agar potensi dan kemampuan yang pada dasarnya ada pada klien dapat berkembang secara optimal, menciptakan hubungan konseling yang hangat, dan permisif. Menurut Roger menjadi tanggung jawab klien sendiri untuk membantu dirinya sendiri. Aliran ini menekankan pentingnya pengembangan potensi dan kemampuan yang secara hakiki ada pada diri setiap individu. Potensi dan kemampuan yang berkembang menjadi penggerak bagi upaya individu untuk mencapai tujuan-tujuan hidupnya
b) Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan
prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. Tugas konselor menunjukkan bahwa:
masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.
Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien, dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung; (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien; (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya; (d) menggunakan
pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan menekan sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional