Siti Urbayatun dkk.
Ragam
Intervensi
Psikologis
Berbasis Komunitas
SANKSI PELANGGARAN PASAL 113
UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014
TENTANG HAK CIPTA
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta
rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta
melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta
melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk penggunaan secara komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam
bentuk pembajakan, dipidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda
paling banyak Rp. 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
Siti Urbayatun dkk.
Ragam
Intervensi
Psikologis
Berbasis Komunitas
RAGAM INTERVENSI PSIKOLOGIS BERBASIS KOMUNITAS
Copyright © 2023 Siti Urbayatun dkk.
Penulis : Siti Urbayatun, Nurul Yunita, Inggit Kartika Sari, Erny
Hidayati, Lutfia Fausta Azzara, Alfi Purnamasari, Novia
Fetri Aliza, Mutingatu Sholichah, Nora Devi Irianjani,
Faridah Ainur Rohmah, Nurul Hidayah, Elsy Junilia, Siti
Muthia Dinni, Hikmah Islamiyati, Erlina Listyanti Widuri,
Nina Zulida Situmorang dan Suci Fajar Suryani.
Editor : Siti Urbayatun & Tim UAD Press
Layout : Kirman
Desain Sampul : Irfana Hafidz
Diterbitkan Oleh : UAD PRESS
(Anggota IKAPI dan APPTI)
Kampus II Universitas Ahmad Dahlan
Jl. Pramuka No. 42, Sidikan, Umbulharjo, Yogyakarta.
Telp. (0274) 563515, Phone (+62) 882 3949 9820
ISBN: 978-623-5635-96-5
16 x 24 cm, viii + 238 hlm
Cetakan Pertama, Juli 2023
All right reserved. Semua hak cipta © dilindungi undang-undang. Tidak
diperkenankan memproduksi ulang atau mengubah dalam bentuk apa pun
melalui cara elektronik, mekanis, fotocopy, atau rekaman sebagian atau seluruh
buku ini tanpa izin tertulis dari pemilik hak cipta.
Prakata
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT Yang
Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan banyak
karunia nikmat kepada segenap penulis sehingga buku “Ragam
Intervensi Psikologis berbasis Komunitas” ini dapat
terselesaikan berkat dukungan, saran, dan perhatian dari banyak
pihak yang tidak dapat penulis membalasnya, kecuali balasan yang
sebaik-baiknya dari Zat Yang Maha Agung, Allah swt.
Bimbingan dan masukan banyak penulis peroleh dari banyak
pihak. Oleh karena itu, terima kasih yang tulus penulis sampaikan
kepada Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Ahmad Dahlan, Kepala Program Studi Magister Psikologi
Profesi Universitas Ahmad Dahlan, segenap civitas academica maupun
kolega yang telah berkontribusi terhadap buku ini.
Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca
dan masyarakat, khususnya mahasiswa yang tertarik pada intervensi
psikologis di komunitas.
Yogyakarta, Juli 2023
Tim Penulis
Daftar Isi
PRAKATA —v
DAFTAR ISI —vii
BAB 1 PENINGKATAN LITERASI KESEHATAN JIWA DI PUSKESMAS SEBAGAI UPAYA
DALAM GERAKAN INDONESIA SEHAT: STUDI KASUS DI DESA “S” —1
Siti Urbayatun & Nurul Yunita
BAB 2 PSIKOEDUKASI DAN PSYCHOLOGICAL FIRST AID UNTUK MENGATASI
KASUS BULLYING —29
Inggit Kartika Sari & Erny Hidayati
BAB 3 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN
KENAKALAN REMAJA —59
Lutfia Fausta Azzara & Alfi Purnamasari
BAB 4 EMPOWERING COMMUNITY PSYCHOLOGY UNTUK PENDAMPINGAN
REMAJA KECANDUAN ALKOHOL —81
Novia Fetri Aliza & Mutingatu Sholichah
BAB 5 PSIKOEDUKASI DAN PELATIHAN KONSELOR SEBAYA UNTUK
MENINGKATKAN PENGETAHUAN KESEHATAN JIWA REMAJA —101
Nora Devi Irianjani & Faridah Ainur Rohmah
BAB 6 KONSELING SEBAYA UNTUK MENURUNKAN RISIKO PERILAKU SEKS BEBAS
PADA REMAJA —121
Nurul Hidayah & Elsy Junilia
BAB 7 INTERVENSI PSIKOSOSIAL DALAM PENANGGULANGAN KASUS STUNTING
—149
Siti Muthia Dinni
RAGAM INTERVENSI
viii PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
BAB 8 KONSELING KELOMPOK DAN RELAKSASI UNTUK MENURUNKAN STRES
PENGASUHAN PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK BALITA —179
Hikmah Islamiyati & Erlina Listyanti Widuri
BAB 9 MENAKAR KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF (SUBJECTIVE WELL-BEING) PADA
RELAWAN PEREMPUAN —205
Nina Zulida Situmorang & Suci Fajar Suryani
INDEKS —229
TENTANG PENULIS —233
BAB 6
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko
Perilaku Seks Bebas pada
Remaja
Nurul Hidayah & Elsy Junilia
A. Pendahuluan
Masa remaja diawali dengan perubahan biologis secara pesat
yang disebut sebagai perubahan fisik pubertas (Santrock, 2007).
Perkembangan primer seksualitas remaja perempuan ditandai oleh
menstruasi (menarche), sedangkan pada remaja laki-laki ditandai dengan
mimpi basah atau ejakulasi (Sarwono, 2011). Remaja akan mencoba
mengekspresikan identitas seksual dan peran jenis dalam masa tumbuh
kembangnya (Soeroso, 2001). Remaja yang tidak mampu beradaptasi
dengan perubahan yang terjadi lebih berisiko mengalami masalah
kesehatan fisik dan mental (McMurray, 2003).
Masalah yang paling sering ditemui pada kasus remaja adalah
perilaku seks bebas atau perilaku seks pranikah (Mu’tadin, 2002).
Perilaku seks pranikah merupakan salah satu perilaku menyimpang
pada remaja yang berisiko tinggi. Kecenderungan perilaku seks
pranikah pada remaja ini terus meningkat di setiap tahunnya tanpa
RAGAM INTERVENSI
122 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
adanya akses yang memadai tentang seks, seksual, dan kesehatan
reproduksi. Oleh karena itu, penting dikembangkan solusi bersifat
preventif.
Perilaku seksual pranikah merupakan segala tingkah laku
seksual yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenisnya
yang dilakukan oleh sepasang kekasih dalam kondisi belum menikah
(Soetjiningsih, 2008). Hubungan seksual pranikah pada remaja
dapat mengakibatkan peningkatan risiko rusaknya tatanan diri dan
masyarakat, di antaranya risiko tertular penyakit menular seksual
(PMS), kehamilan tak diinginkan, aborsi, trauma kejiwaan berupa
depresi, rendah diri, rasa berdosa, hilang harapan akan masa depan,
hilangnya kesempatan melanjutkan pendidikan dan kesempatan
bekerja, dan melahirkan bayi yang kurang sehat atau tidak sehat
(Husaeni, 2009). Risiko bagi keluarga adalah menimbulkan aib
keluarga, menambah beban ekonomi keluarga, dan pengaruh kejiwaan
bagi anak yang dilahirkan akibat tekanan dari lingkungannya. Adapun
dampak bagi masyarakat adalah meningkatnya remaja putus sekolah,
menurunnya kualitas hidup, dan meningkatnya angka kematian ibu
dan bayi.
Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan primer yang concern
melakukan upaya promosi dan prevensi kesehatan, baik kesehatan
fisik maupun kesehatan mental (Putri, dkk., 2017). Di wilayah kerja
Puskesmas Danurejan II Kota Yogyakarta, setiap tahunnya dijumpai
peningkatan kasus kehamilan tak diinginkan (KTD), baik yang tercatat
maupun tidak. Di bulan Januari 2020, tercatat dua pelajar SMP
yang mengalami kasus KTD melakukan pemeriksaan di puskesmas.
Menurut Havighurst (Yusuf, 2002) salah satu tugas perkembangan
sosial (social cognition) ialah mendorong remaja untuk menjalin
percintaan (pacaran). Namun, jalinan percintaan yang tidak diikuti
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
123
dengan pengetahuan dan pemahaman yang bertanggung jawab dapat
meningkatkan risiko KTD.
Untuk mengurangi risiko peningkatan perilaku seks pranikah,
diperlukan upaya dari berbagai pihak terkait, yaitu remaja itu sendiri,
orang tua, sekolah, dan masyarakat (Nadirah, 2017; Appulembang,
dkk., 2019). Intervensi menggunakan pendekatan komunitas menjadi
pilihan yang sesuai karena mengintegrasikan komponen-komponen
yang ada di dalam masyarakat (Adi, 2013). Berdasarkan pertimbangan
tersebut, maka dianggap perlu untuk melakukan intervensi bagi
remaja berupa pembentukan kader konselor sebaya untuk wilayah
kerja Puskesmas Danurejan II dan sekitarnya. Intervensi ini bertujuan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan konselor sebaya dalam
menjalankan perannya, dengan pertimbangan remaja setempat lebih
mampu memahami teman sebaya dan kondisi sosial di daerahnya.
B. Metode Asesmen
Asesmen dilakukan kepada Lurah, Kader PKK, Ibu RW, dokter
dan psikolog Puskesmas, guru Bimbingan Konseling SMP, dan siswa
SMP yang berada di wilayah kerja Puskesmas Danurejan II, serta
kepada perwakilan siswa.
C. Hasil Asesmen
1. Hasil Observasi
Proses observasi dilakukan pada beberapa setting sekolah,
yaitu ketika berdiskusi dengan guru Bimbingan Konseling (BK)
dan memenuhi administrasi perizinan untuk melakukan asesmen
dan intervensi. Observasi juga dilakukan saat kegiatan belajar dan
jam istirahat sekolah. Pada jam istirahat, terlihat bahwa siswa-
siswi cenderung berkumpul kembali di beberapa ruangan dengan
RAGAM INTERVENSI
124 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
membentuk kelompok-kelompok kecil. Sebagian siswa menulis
sambil berbaring dan tengkurap di dekat lawan jenisnya. Terlihat
juga sebagian lainnya berbicara dan saling menggoda satu sama
lain dengan memegang bahu lawan jenisnya sambil tertawa.
Di sudut lain, terlihat juga siswa saling bersandar atau beradu
punggung dengan lawan jenis ketika berbicara dalam kelompok.
Sebagian siswa berdiskusi sambil tertawa, saling mencubit, saling
menarik tangan, kemudian saling memukul dengan pelan. Ketika
ada guru yang lewat, terlihat siswa seperti mengatur posisi dan
menghentikan aktivitas saling berpegangan dan mendadak
menahan tawa. Siswa-siswi langsung saling memberi jarak
satu sama lain, menundukkan kepala, lalu menyapa guru dan
bersalaman. Ketika guru tersebut berlalu, para siswa kembali
tertawa dan saling melakukan sentuhan fisik seperti mencubit
dan menarik tangan. Terlihat tidak ada jarak antara laki-laki dan
perempuan dalam berinteraksi dan yang terlihat sering melakukan
sentuhan adalah siswa perempuan.
Berdasarkan hasil observasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa
remaja di sekolah sudah mengembangkan keterampilan komunikasi
interpersonal atau perkembangan sosial yang mendorong remaja
untuk menjalin kedekatan dengan lawan jenis. Perkembangan
sosial tersebut masih perlu diikuti dengan pemahaman tentang
aturan dan norma-norma dalam berperilaku, sehingga remaja
tidak salah mengartikan cara-cara mengekspresikan diri secara
wajar dalam lingkungan kehidupan sehari-hari, terutama norma
pergaulan teman sebaya yang berlainan jenis.
2. Wawancara dengan Lurah
Menurut lurah, berdasarkan arsip data sejak tahun 2016,
permasalahan remaja yang paling sering terjadi di salah satu
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
125
wilayah padat penduduk di Kota Yogyakarta (selanjutnya disebut
Kelurahan “Z”) adalah menikah di usia sekolah, lalu terjadi
perceraian dalam usia pernikahan yang tidak terlalu lama. Usia
pernikahan yang terlalu dini menjadi pemicu perceraian karena
belum muncul kesadaran akan tanggung jawab sebagai pasangan
suami istri dan sebagai orang tua.
Banyak kasus pernikahan dini justru disebabkan kasus
kehamilan di luar nikah dengan kondisi KTD. Kurangnya
edukasi tentang perkembangan remaja dan adanya sanksi sosial
dikucilkan membuat orang tua cenderung melindungi anaknya
yang mengalami KTD dari sanksi sosial tersebut dengan menutupi
kehamilan remaja dan memindahkan domisili sementara sang
anak ke tempat kos atau ke rumah saudara jauh. Tindakan tersebut
tidak jarang diikuti oleh keputusan orang tua untuk mengeluarkan
anak dari sekolah tanpa konfirmasi sebelumnya ke pihak sekolah.
3. Wawancara dengan Kader PKK
Kader PKK menyampaikan bahwa dalam dua tahun ini
permasalahan remaja di Kelurahan ‘Z” berupa pergaulan bebas
remaja yang melibatkan remaja dari kelurahan lain. Data terbaru
hingga bulan Januari 2020 menunjukkan adanya peningkatan kasus
KTD pada siswi SMP yang menjadi alasan mereka putus sekolah.
Orang tua atau kerabat dari remaja KTD tersebut berusaha
menutupi kondisi remaja tersebut dengan memindahkannya
sementara dari lingkungan sosial supaya kehamilannya tidak
diketahui oleh warga sekitar. Remaja di Kelurahan “Z” cenderung
bergaul dengan orang-orang dari luar karena kondisi kelurahan
tersebut sebagai daerah tujuan wisata memberikan memberikan
dampak yang buruk untuk remaja.
RAGAM INTERVENSI
126 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
4. Wawancara dengan dokter dan psikolog Puskesmas
Menurut informasi dari dokter dan psikolog Puskesmas
Danurejan II, permasalahan remaja di Kelurahan “Z” khususnya
wilayah Puskesmas Danurejan II adalah pergaulan bebas pada
remaja yang menyebabkan KTD. Dalam tiga bulan terakhir
(Januari hingga Maret 2020), sudah terdapat dua siswi SMP
yang hamil di luar nikah dan melakukan pemeriksaan bersama
keluarganya. Kasus ini tergolong meningkat semenjak pertengahan
tahun 2019 dan cenderung terjadi pada siswi SMP. Selain itu, ada
pula kasus hamil di luar nikah pada perempuan usia 18 tahun. Ia
baru memeriksakan diri dan meminta suntikan antitetanus (TT)
sebagai persyaratan untuk melakukan pernikahan di KUA setelah
dua minggu melahirkan.
5. Wawancara dengan Ibu RW
Permasalahan sosial di Kelurahan ‘Z” tergolong tinggi,
terutama menyangkut remaja yang memperoleh kekerasan dari
orang tuanya. Permasalahan ini diduga disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan orang tua tentang tumbuh kembang remaja, sehingga
mereka kurang memahami cara menyikapi remaja sesuai dengan
ciri khas dan tugas perkembangannya.
Kesadaran orang tua tentang penyampaian pendidikan
seks dan kesehatan reproduksi untuk remaja juga masih minim,
sehingga pendidikan seks dianggap sebagai hal yang tabu.
Ironisnya, orang tua juga belum memberikan contoh yang baik
dalam berperilaku, seperti masih adanya kebiasaan mandi di ruang
terbuka dengan menggunakan kain seadanya, banyaknya anak-
anak remaja berpakaian minim, serta adanya kasus anak yang
menyaksikan orang tuanya berhubungan intim akibat terbatasnya
kapasitas ruangan di dalam rumah sedangkan jumlah anak
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
127
melebihi kapasitas kamar.
Remaja cenderung mencari informasi tentang seksualitas
dengan teman sebayanya, sementara temannya tersebut juga
belum memperoleh informasi seputar pendidikan seks dan
kesehatan reproduksi yang bertanggung jawab. Kecenderungan
tersebut meningkatkan risiko bagi remaja untuk melakukan
perilaku seks bebas karena didorong rasa ingin tahu yang besar.
6. Wawancara siswa-siswi SMP “X” dan SMP “Y” Kota
Yogyakarta
Berdasarkan hasil wawancara terhadap siswa-siswi kelas 7 SMP
“X”, diketahui bahwa sebagian besar siswa sudah memiliki pacar
dan tidak sungkan untuk memperlihatkan aktivitas berpacaran di
lingkungan sekolah, seperti berpegangan tangan dan merangkul
pacarnya. Sementara itu, siswa kelas 9 menyampaikan bahwa
manfaat berpacaran adalah memberikan semangat untuk pergi ke
sekolah, menjadi lebih diakui oleh teman-temannya, dan terhindar
dari bully berupa panggilan “jomlo” atau dianggap tidak menarik
oleh teman-temannya. Siswa-siswi kelas 8 dan kelas 9 berpendapat
bahwa saling bergandengan tangan dan saling merangkul dengan
pacar di luar jam pelajaran sekolah adalah wajar. Pernyataan
tersebut tentu saja mengkhawatirkan karena kakak kelas
sejatinya adalah role model untuk adik kelasnya. Perilaku tersebut
dikhawatirkan akan ditiru dan meningkatkan risiko kecenderungan
perilaku pergaulan bebas remaja di lingkungan sekolah.
Selain itu, diperoleh fakta mengejutkan bahwa di sekolah ada
permainan tantangan yang dilakukan ketika guru berhalangan
hadir atau saat menunggu jemputan pulang sekolah. Permainan
tersebut adalah menantang anak perempuan untuk bersedia
dipegang bagian dada dengan reward uang Rp20.000,00 dan
RAGAM INTERVENSI
128 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
memegang alat kelamin lawan jenis dengan reward Rp50.000,00.
Permainan tersebut menjadi tontonan dan peserta akan
memperoleh tepukan serta sorak-sorai jika bersedia menjalankan
tantangan. Sebagian siswa menyampaikan bahwa hal tersebut
tidak baik, tetapi tidak berani menegur teman-temannya dan tidak
mengetahui cara untuk memberitahu temannya untuk berhenti
melakukan tantangan tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa-siswi kelas
7 SMP “Y”, banyak dari mereka yang berpacaran dan sering
disertai perilaku yang berlebihan. Perilaku yang dimaksud adalah
meminta izin keluar kelas saat jam pelajaran dan bertemu dengan
pacarnya di pojok bangunan, lalu berfoto-foto dengan pose-pose
berpegangan tangan, merangkul, bahkan berpelukan. Selanjutnya,
foto-foto tersebut dibagikan melalui status WhatsApp. Perilaku
pergaulan bebas siswa-siswi tersebar melalui media sosial tanpa
adanya kontrol dari pihak orang tua dan sekolah karena siswa-
siswi mengetahui trik-trik untuk mengelabui atau berkelit. Orang
tua dan pihak sekolah tidak menyadari bahwa ternyata anak-
anak kelas 7 sudah banyak yang berpacaran dengan aktivitas yang
melampaui batas di lingkungan sekolah.
7. Wawancara guru BK SMP “X” dan SMP “Y” Kota
Yogyakarta
Guru BK SMP “X” Kota Yogyakarta menyampaikan bahwa
sejak ada kebijakan zonasi dalam pemilihan sekolah, terdapat
kecenderungan penurunan norma perilaku di sekolah, yaitu
munculnya perilaku pacaran pada siswa-siswi kelas 7 SMP
yang sebelumnya tidak terjadi. Selain itu, perilaku berpacaran
yang diperlihatkan di lingkungan sekolah juga sudah mulai
mengkhawatirkan karena siswa-siswi yang berpacaran tidak
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
129
sungkan memperlihatkannya di depan guru dengan berpegangan
tangan dan saling merangkul. Dilaporkan juga perilaku bermedia
sosial beberapa siswa cukup mengkhawatirkan karena siswa-siswi
kelas 7 sudah berani mengunggah foto-foto aktivitas berpacaran
mereka di media sosial secara terbuka. Sejauh ini, belum ada
penanganan khusus yang dilakukan oleh pihak sekolah.
Guru BK SMP “Y” menyampaikan bahwa perilaku siswa-
siswi kelas 7 dalam berpacaran sudah mulai mengkhawatirkan.
Berdasarkan laporan dari kakak kelas, terlihat bahwa siswa-siswi
kelas 7 saling berpegangan tangan, saling merangkul, dan bahkan
berpelukan saat jam sekolah atau jam istirahat di sudut ruangan.
Beberapa siswa yang dilaporkan sudah dipanggil dan diberikan
pembinaan, serta dilakukan pemanggilan kepada orang tuanya
agar lebih mengawasi perilaku anak-anak di rumah. Sejauh ini,
guru BK biasanya memperoleh laporan bahwa perilaku tersebut
masih ada.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada berbagai
pihak pemangku kepentingan, ditemukan beberapa benang
merah tentang permasalahan remaja di wilayah kerja Puskesmas
Danurejan II. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar untuk
menghimpun informasi terkait permasalahan remaja dari sudut
pandang remaja itu sendiri melalui diskusi terarah, yaitu focussed-
group discussion (FGD).
8. Hasil FGD
FGD dilakukan pada siswa-siswi kelas 7 di SMP “X” dan SMP
“Y” Kota Yogyakarta. Peserta FGD dipilih oleh guru BK sebagai
perwakilan kelas masing-masing. Setiap kelas direkomendasikan
mengirimkan dua orang siswa-siswi sebagai perwakilan kelas.
FGD ini menghasilkan informasi bahwa sebagian besar siswa-siswi
RAGAM INTERVENSI
130 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
kelas 7 sudah berpacaran dan ada yang diketahui oleh orang tua.
Tema pembicaraan yang dominan ketika berkumpul atau saling
mencurahkan perasaan (curhat) adalah tema tentang lawan jenis,
permasalahan dalam pacaran, dan ekspresi suka terhadap lawan
jenis. Sentuhan fisik seperti bergandengan tangan dianggap biasa
sebagai ungkapan rasa sayang kepada pacar. Ada pasangan kelas 7
yang merekam aktivitas berpacaran dan mengunggahnya di media
sosial seperti Instagram dan story WhatsApp tanpa diketahui oleh
guru BK dan orang tua karena di-setting private.
Berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan, maka dapat
dipaparkan hasil analisis SWOT berikut ini.
Tabel 1. Hasil analisis SWOT di Kelurahan “Z”
Aspek Keterangan
Strength 1. Kesadaran remaja tentang kebutuhan memperoleh informasi seksualitas
(kekuatan) yang dapat dipertanggungjawabkan
2. Kedekatan remaja dalam peer group-nya
3. Kesediaan stakeholder untuk terlibat dalam program pemberdayaan
remaja
Weakness 1. Rendahnya tingkat sosial ekonomi orang tua
(kelemahan) 2. Minimnya pengetahuan orang tua tentang remaja dan problematikanya
3. Belum adanya forum berbagi atau komunitas remaja yang positif
4. Kecenderungan perilaku berpacaran yang marak pada siswa SMP
5. Belum adanya program preventif perilaku seks berisiko
Opportunities 1. Termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Danurejan II yang aktif
(kesempatan) melakukan pemberdayaan komunitas dengan melibatkan para kader.
2. Adanya kerja sama antara BKKBN, puskesmas, dan sekolah-sekolah
untuk pengembangan program pemberdayaan remaja
Threats 1. Termasuk daerah tujuan wisata yang berisiko memperoleh pengaruh
(Ancaman) buruk
2. Tingkat kepadatan penduduk tinggi, sehingga memunculkan masalah
sosial dan terbatasnya ruang privasi
3. Kemudahan mengakses internet, sehingga meningkatkan risiko bagi
remaja untuk terpapar pornografi.
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
131
Kecenderungan remaja melakukan perilaku seks pranikah
mendorong perlunya perancangan intervensi komunitas berupa
pembentukan konselor sebaya yang dimulai di sekolah yang diharapkan
dapat memberikan dampak yang lebih luas kepada masyarakat di
Kelurahan ‘Z” dengan melibatkan stakeholder di masyarakat.
D. Desain intervensi komunitas
Intervensi komunitas dapat didefinisikan sebagai perubahan
terencana yang mencakup tiga bentuk intervensi, yaitu pengembangan
masyarakat lokal, perencanaan (kebijakan) sosial, dan aksi sosial.
Intervensi ini bersifat prevensi primer, yaitu melakukan pencegahan
dini yang langsung menyasar kelompok remaja itu sendiri. Intervensi
ini dilakukan pada level knowledge yang bersifat meningkatkan
pengetahuan dan pemahaman kepada peserta serta meningkatkan
keterampilan untuk melakukan konseling kepada teman sebayanya
(Kloos, 2012). Teknik konseling remaja dilakukan pada tahap
keterampilan dasar. Intervensi dilakukan menggunakan metode
psikoedukasi dan pelatihan (Cowie & Sharp, 2017).
Kader konselor sebaya yang terbentuk akan diberikan pengetahuan
tentang perkembangan remaja, kesehatan reproduksi, keterampilan
hidup sehat, dan keterampilan melakukan konseling dasar untuk
diterapkan kepada teman sebayanya. Keterampilan konseling dasar
untuk teman sebaya dimaksudkan agar konselor sebaya mampu
memberikan konseling terhadap teman-teman sekolah atau teman
sebayanya di luar sekolah sebagai langkah penanganan awal bagi
remaja yang memiliki masalah. Jika ada remaja yang memiliki risiko,
ia kemudian diajak atau disarankan berkonsultasi kepada tenaga
profesional dengan sistem rujukan ke puskesmas dengan prosedur
dan blangko rujukan yang sudah disertakan dalam buku panduan.
RAGAM INTERVENSI
132 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
Intervensi komunitas berupa promosi dilakukan dengan
pembuatan dua jenis brosur yang didesain dan ditujukan untuk
beberapa kelompok (Kools et al., 2006), dalam hal ini kelompok siswa
dan kelompok guru. Brosur pertama berisi informasi tentang definisi
konselor sebaya, fungsi, dan cara mengaksesnya. Brosur kedua dibuat
untuk para orang tua dan wali siswa untuk meningkatkan pengetahuan
tentang tumbuh kembang remaja dan permasalahannya, serta sebagai
media untuk memperkuat informasi tentang dibentuknya konselor
sebaya dan fungsinya.
Selanjutnya, orang tua siswa diberikan program intervensi
psikoedukasi, yaitu diadakannya kelas parenting, khususnya bagi orang
tua wali siswa kelas 7 dengan tujuan meningkatkan pengetahuan
tentang tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. Orang tua
siswa yang berhalangan hadir diberi brosur yang berkaitan. Brosur ini
dititipkan kepada siswa untuk dibawa pulang dan diberikan kepada
orang tuanya. Berikut ini ikhtisar rancangan intervensi komunitas:
Tabel 2. Matriks rancangan intervensi komunitas
No Target Group Tujuan Metode Materi Hasil yang Diharapkan
1 Konselor remaja - Meningkatkan Psikoedukasi Tumbuh kembang remaja Kader mampu memberikan informasi
pengetahuan tentang dan edukasi pada remaja di sekolah
tumbuh kembang remaja atau di lingkungannya
- Meningkatkan Psikoedukasi Kesehatan reproduksi Kader mampu memberikan informasi
Pengetahuan tentang remaja dan edukasi pada remaja di sekolah
kesehatan reproduksi atau di lingkungannya
- Meningkatkan Pelatihan Keterampilan hidup sehat Kader mampu memberikan informasi
pengetahuan tentang dan edukasi pada remaja di sekolah
penyakit reproduksi atau di lingkungannya
- Meningkatkan Pelatihan Teknik konseling dasar Konselor sebaya mengetahui,
pengetahuan dan memahami, dan mampu memberikan
pemahaman tentang konseling dasar bagi remaja
tugas dan skill konseling bermasalah
dasar
2 Siswa-siswi SMP Memberikan informasi Psikoedukasi dan Definisi dan fungsi konselor Kesadaran siswa untuk mencari
kelas 7-9 tentang konselor brosur promotif sebaya bantuan problem pribadi kepada
sebaya, fungsi, dan cara konselor sebaya
mengaksesnya
3 Guru-guru SMP Memberikan informasi, Psikoedukasi dan Definisi dan fungsi konselor Dukungan guru terhadap konselor
memperkuat, dan brosur promotif sebaya; coaching dan sebaya
mendukung aksi nyata monitoring konselor sebaya
Konseling Sebaya untuk
Seks Bebas pada Remaja
konselor sebaya di sekolah
Menurunkan Risiko Perilaku
4 Orang tua siswa Mengetahui perkembangan Psikoedukasi dan Perkembangan dan Pemahaman dan interaksi positif orang
remaja dan teknik brosur promotif permasalahan pada remaja, tua-anak
berkomunikasi efektif dengan serta teknik berkomunikasi
anak remaja efektif dengan anak remaja
133
RAGAM INTERVENSI
134 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
1. Pelaksanaan intervensi
Konselor sebaya di kedua sekolah adalah siswa-siswi yang
dipilih oleh guru BK berdasarkan hasil observasi sebagai
individu yang mampu berkomunikasi dengan baik terhadap guru
dan memiliki hubungan yang baik dengan teman-temannya.
Selanjutnya, calon konselor sebaya tersebut diberikan kuesioner
Tes Modalitas Otak untuk Konseling Remaja. Tes ini sesuai dengan
standar acuan Kementerian Kesehatan RI untuk calon konselor
sebaya sesuai dengan pendekatan pelayanan kesehatan remaja
(PKPR) di puskesmas.
Untuk membangun suasana kebersamaan dalam kelompok,
di awal pelatihan, pada masing-masing sekolah dilakukan proses
saling berkenalan yang dimulai dengan fasilitator, dilanjutkan
dengan perkenalan antarkonselor sebaya (KS) atau peserta.
Suasana hangat dalam kelompok mudah terbangun karena setiap
anggota kelompok terlihat santai dan mampu saling memberikan
tanggapan dengan cukup baik.
Selanjutnya, peserta diajak untuk berdiskusi tentang peraturan
pelatihan yang disepakati bersama. Kontrak belajar dibuat secara
besama-sama dan menghasilkan kontrak belajar yang berbeda di
setiap sekolah. Kelompok SMP X menyampaikan kontrak belajar
bahwa tidak diperkenankan membuka HP selama penyampaian
materi, dilarang berbicara sendiri saat penyampaian materi,
datang tepat waktu, meminta izin pada guru kelas, diperbolehkan
duduk santai tetapi tetap sopan, serta diizinkan makan dan minum
selama sesi pelatihan berlangsung.
Di akhir setiap sesi pelatihan, peserta diminta untuk
menyampaikan secara lisan tentang harapan dan kekhawatiran
terhadap pelaksanaan tugas nantinya. Sesi ini bertujuan untuk
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
135
menggali tingkat pengetahuan peserta pada materi yang telah
disampaikan, melakukan evaluasi untuk fasilitator, dan dalam
jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan
diri peserta konselor sebaya ketika bertugas nantinya. Sesi ini
juga sangat membantu fasilitator untuk memahami harapan
dan kekhawatiran setiap peserta konselor sebaya tersebut untuk
selanjutnya dievaluasi pada pertemuan selanjutnya.
Pelatihan konselor sebaya ini menggunakan metode
pembelajaran partisipatif yang melibatkan peserta pelatihan
secara aktif dalam proses pembelajaran agar memudahkan mereka
memanfaatkan pengalaman dari peserta lain serta menghasilkan
hubungan yang lebih setara antara fasilitator dan peserta, sehingga
menimbulkan kenyamanan peserta. Peserta diminta untuk
mempelajari kembali materi yang telah disampaikan untuk mampu
memahami dan membuat rencana tindak lanjut pascapelatihan
dengan bimbingan dari guru BK, petugas puskesmas, psikolog,
serta ruang diskusi virtual di grup WhatsApp.
Intervensi pertama dengan tema “pelatihan tumbuh kembang
remaja” berfokus pada perubahan fisik dan perkembangan
mental. Peserta mampu menuliskan dua perubahan fisik yang
dirasakan, yaitu bertambahnya tinggi badan disertai perubahan
suara. Namun, sebagian besar peserta tidak memahami perubahan
mental, sehingga lembar jawaban tidak diisi.
Sesi kedua adalah pelatihan dengan materi “kesehatan
reproduksi remaja”. Reproduksi sehat berkaitan dengan
pengetahuan, sikap, dan perilaku yang bertanggung jawab
terhadap alat reproduksi dan fungsi-fungsinya serta pencegahan
gangguan yang mungkin timbul. Sesi ini bertujuan agar peserta
mengetahui tentang kesehatan reproduksi yang bertanggung jawab
RAGAM INTERVENSI
136 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
dan berbagai perilaku seksual berisiko.
Pertemuan sesi berikutnya mendiskusikan tema “Pendidikan
Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)” yang berorientasi pada
materi pengetahuan dan keterampilan untuk berperilaku hidup
sehat sehingga dapat mengembangkan kompetensi psikososial
sebagai bekal remaja menghadapi perubahan sosial dalam
masyarakat. Tujuan teman ialah agar peserta mampu memahami
PKHS, bersedia mengimplementasikannya, dan selanjutnya
menyampaikan kembali kepada teman sebaya masing-masing.
Peserta lebih banyak mendengarkan materi dan tidak mengajukan
pertanyaan yang berhubungan dengan materi.
Materi terakhir pelatihan adalah “teknik konseling bagi
konselor sebaya” yang berisi tugas konselor sebaya dalam
membantu petugas Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
dengan cara mendampingi teman sebaya untuk menemukan
masalah kesehatan yang dialami sedini mungkin. Tujuan
pemberian materi ini ialah supaya peserta mengetahui pengertian
dan tugas-tugas konselor sebaya, alasan perlunya kehadiran
konselor sebaya, dan agar peserta mampu melakukan konseling
dengan prinsip Bantuan Psikologi Awal (BPA/Pychological First Aid/
PFA) untuk teman sebaya. Metode penyampaian materi dengan
ceramah dan role play. Target pelatihan ini adalah peserta mampu
melakukan konseling dasar sesuai dengan situasi dan kondisi
masing-masing. Peserta yang nantinya tidak mampu mendampingi
teman sebaya karena beratnya masalah dapat merujuk temannya
kepada guru BK, ke petugas PKPR, atau ke psikolog puskesmas.
Tujuan role play adalah untuk memberikan kesempatan peserta
praktik untuk mendengarkan secara aktif dengan menggunakan
masalah-masalah keseharian yang pernah ditemui sebelumnya.
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
137
Setelah latihan selesai, peserta diajak untuk melakukan evaluasi
bersama.
2. Hasil intervensi
Intervensi untuk siswa-siswi SMP berupa promosi dengan
membagikan brosur yang berisi informasi tentang definisi konselor
sebaya, fungsi konselor sebaya, dan cara mengakses layanan
konselor sebaya dengan menyertakan nomor kontak yang dapat
dihubungi. Pembuatan brosur melibatkan langsung konselor
sebaya dengan terlebih dahulu berdiskusi melalui grup WhatsApp.
Penyerahan brosur untuk guru dilakukan oleh konselor sebaya
pada waktu yang telah disepakati bersama. Berdasarkan informasi
yang diperoleh fasilitator dari grup WhatsApp, disampaikan
bahwa tanggapan guru cukup antusias dan bersedia bertanya
pada beberapa konselor sebaya tentang definisi dan fungsi dari
konselor sebaya itu sendiri.
Orang tua siswa diberikan program intervensi psikoedukasi,
yaitu “kelas parenting” untuk wali siswa kelas 7 dengan tujuan
meningkatkan pengetahuan tentang tumbuh kembang remaja
dan permasalahannya. Selain itu, diberikan juga tambahan
materi tentang “komunikasi efektif pada remaja” dengan satu kali
pertemuan berdurasi 120 menit. Kelas parenting dilakukan di ruang
serbaguna sekolah SMP “X” Kota Yogyakarta. Materi diberikan
dengan metode ceramah interaktif dan diskusi. Evaluasi efektivitas
program intervensi psikoedukasi berupa pengisian pre-test dan pos-
test oleh peserta kelas parenting.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan membahas kembali
tentang rasa ingin tahu pada remaja yang dilengkapi dengan materi
komunikasi efektif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
RAGAM INTERVENSI
138 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
sering muncul. Tercatat ada 16 orang tua yang berbagi pengalaman
dan menyampaikan pendapatnya dalam kelas parenting, bahkan ada
seorang ibu yang ikut berbagi pengalaman cara membuat remaja
menjadi lebih antusias mendengarkan orang lain (orang tua). Kelas
terlihat kondusif dan sebagian besar orang tua meminta program
serupa dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Setelah kelas
selesai, lima orang tua sebagai perwakilan menemui kepala sekolah
untuk mengucapkan terima kasih telah diadakan kelas parenting
dan meminta agar kelas serupa kembali dilaksanakan sebagai
program rutin sekolah. Permintaan tersebut disampaikan karena
orang tua merasakan peningkatan pengetahuan yang bermakna
dan merasa terbantu setelah mendengarkan sesi sharing bersama
orang tua lainnya.
Orang tua siswa yang berhalangan hadir di kelas parenting
memperoleh dua brosur yang dititipkan lewat putra-putrinya.
Brosur pertama berisikan materi tentang tumbuh kembang remaja
dan permasalahannya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
tentang tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. Brosur
kedua berisikan profil konselor sebaya sebagai media untuk
memperkuat informasi tentang dibentuknya konselor sebaya
dan fungsinya. Kegiatan intervensi untuk orang tua berlangsung
kondusif dan disetujui akan dilaksanakan sebagai program rutin
tiap enam bulan sekali dengan menghadirkan pembicara dari
pihak Puskesmas Danurejan II.
Pengukuran pre-test dan pos-test diberikan kepada seluruh peserta
pelatihan konselor sebaya untuk mengukur dan membandingkan
pengetahuan dan pemahaman peserta konselor sebaya sebelum
dan sesudah diberikan materi pelatihan. Pre-test dan pos-test yang
diberikan terdiri atas beberapa pertanyaan yang wajib diisi oleh
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
139
seluruh peserta pelatihan konselor sebaya dengan cara menjawab
soal esai.
Terlihat adanya perbedaan pemahaman dan pengetahuan
peserta setelah mengikuti semua materi pelatihan yang
disampaikan. Adanya perbedaan tersebut menunjukkan
peningkatan pengetahuan yang baik. Jika sebelum pelatihan
peserta tidak mengetahui tentang perkembangan remaja,
kesehatan reproduksi, keterampilan hidup sehat, dan cara
melakukan konseling dasar untuk teman sebaya, setelah mengikuti
pelatihan, mereka memiliki pengetahuan pada materi-materi yang
telah disampaikan tersebut. Perubahan yang cukup signifikan
pada tingkat pengetahuan peserta terletak pada materi melakukan
konseling dasar untuk teman sebaya. Konselor sebaya yang
awalnya sama sekali tidak memahami menjadi paham metode
role play yang dilaksanakan.
Semua peserta relatif memperoleh hasil baik setelah mengikuti
pelatihan. Hasil analisis pre-post yang signifikan diduga karena
kelompok diberikan materi pelatihan yang berfokus pada role play
dengan pelatihan bertema mendengar aktif yang dilanjutkan dengan
triad dengan memilih tiga orang peserta yang bertugas berperan
sebagai konselor, klien, dan pengamat. Tema terakhir adalah role play
bersama guru BK dengan permainan peran dari tiga peserta yang
berinteraksi dengan seluruh peserta lainnya berdasarkan skenario
yang telah disiapkan sebelumnya oleh fasilitator.
E. Pembahasan
Asesmen dan intervensi pada program ini menggunakan
pendekatan komunitas. Metode asesmen komunitas menggunakan
observasi, wawancara individual, dan wawancara kelompok (focused-
RAGAM INTERVENSI
140 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
group discussion) (Kloos et al., 2012).
Pelatihan konselor sebaya untuk wilayah kerja Puskesmas
Danurejan II dilakukan sebanyak empat kali pertemuan dengan
empat macam materi untuk konselor sebaya. Pelatihan juga dilengkapi
dengan sosialisasi untuk guru dan kelas psikoedukasi berupa kelas
parenting untuk orang tua siswa. Semua kegiatan pelatihan tersebut
mengacu pada Modul Pelatihan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR) untuk Konselor Sebaya dari Kementerian Kesehatan RI.
Terlihat peningkatan pengetahuan konselor sebaya terkait dengan
pengetahuan tumbuh kembang remaja, kesehatan reproduksi remaja,
keterampilan hidup sehat untuk remaja, dan pemahaman tentang cara
melakukan konseling dasar untuk teman sebayanya. Pada guru terjadi
peningkatan pengetahuan, khususnya tentang definisi dan fungsi
konselor sebaya. Pada orang tua/wali siswa terdapat peningkatan
pengetahuan pada tumbuh kembang remaja dan permasalahannya
serta pengetahuan komunikasi efektif dengan remaja.
Temuan ini mendukung hasil-hasil penelitian terdahulu tentang
pentingnya peran konselor sebaya dalam meningkatkan kesadaran
remaja tentang kesehatan reproduksi, seperti penelitian Utami
(2017) yang menemukan bahwa peran konselor sebaya yang baik
meningkatkan pengetahuan tentang TRIAD KRR 2,74 kali lebih
besar dari pada peran konselor sebaya yang kurang baik dalam PIK R.
Pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
konselor sebaya di pengurus PIK-KRM dalam memberikan informasi
dan konseling tentang kesehatan reproduksi (seksualitas, HIV/AIDS,
dan narkoba) (Harini et al., 2014). Hasil penelitian Adyani et al. (2019)
juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
pemanfaatan konseling sebaya dengan perilaku seksual berisiko pada
remaja.
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
141
Hasil pengukuran pre-test dan post-test secara kualitatif
menunjukkan hasil baik berupa peningkatan pengetahuan peserta
sebagai konselor sebaya. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman
tentang cara melakukan konseling dasar untuk teman sebaya secara
tidak langsung ternyata juga memengaruhi kesadaran peserta untuk
melakukan tindakan-tindakan preventif untuk dirinya sendiri terhadap
kecenderungan perilaku seks pranikah. Konselor sebaya K SMP “Y”
mengatakan:
“Berarti suka dengan lawan jenis itu normal, tapi bukan berarti harus
pacaran kan yah, kan pacaran ternyata banyak risiko. Iya, sih, awalnya
pegangan tangan, nanti kalau sudah terbiasa jadi rangkulan, pelukan,
dan… iiihhh, aku gak maulah, rugi!”
Berbeda lagi dengan pernyataan konselor sebaya J:
“Iya yah, udah pacaran, terus tergoda melakukan yang gitu-gitu padahal
belum siap reproduksinya, uang jajan masih minta. Udah gitu gak direstui
pula. Halaaahh, capek amat yak. Sekolah aja dulu lah…”
Pernyataan tersebut disampaikan saat selesainya penjelasan materi
perilaku seksual yang bertanggung jawab. Sementara itu, saat pelatihan
keterampilan hidup sehat, banyak yang memberikan komentar positif
pada informasi yang diberikan.
“Oh, ternyata harus gantinya minimal dua kali ya? Saya malah sehari
sekali karena pakai pantiliner, dan itu gak boleh ya.”
“Ya ampun, aku selama ini gak ada tujuan, pantas suka galau, gaes...
hahaha.”
RAGAM INTERVENSI
142 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
Adapun ungkapan menarik dari konselor sebaya J yang
menyatakan pemahamannya terhadap materi:
“Memang kita seharusnya mengenal diri sendiri dulu dan ada tujuan
besar dulu ya, Bu. Nanti tujuannya kita bagi menjadi tujuan per bulan,
per minggu, jadi mantap. Kalau sudah begitu enak kita nanti memahami
orang lain, lah wong kita sudah menjalankan.”
Materi yang diberikan bersifat berkelanjutan dan tersedia e-modul
yang dapat diakses kapan saja oleh semua konselor sebaya ketika
membutuhkan. Pendampingan untuk konselor sebaya juga bersifat
berkelanjutan karena dihimpun dalam satu grup WhatsApp sebagai
wadah untuk saling berdiskusi dan mencari alternatif solusi ketika
ada konselor sebaya yang merasa kurang mampu dalam melakukan
konseling pada teman sebaya. Konselor sebaya diarahkan untuk tetap
mengakses modul, melakukan diskusi di grup, dan berkomunikasi
dengan guru BK di sekolah, mengingat fungsi utama dari konselor
sebaya adalah untuk deteksi awal terhadap masalah yang dialami oleh
teman sebaya kemudian melakukan perujukan terhadap guru BK atau
psikolog di puskesmas. Dilakukan juga seremoni pelantikan konselor
sebaya di sekolah yang sekaligus bertujuan memberikan informasi ke
teman-teman sekolah tentang kehadiran dan fungsi konselor sebaya,
sehingga teman sebaya mengetahui cara mengakses informasi dan
bercerita tentang masalah pribadinya (curhat).
Teknik komunikasi dengan menggunakan reward merupakan faktor
pendukung tersampaikannya maksud dan tujuan program konselor
sebaya. Reward diakui peserta mampu menambah motivasi dalam
kehadiran, kedisiplinan, dan pemahaman materi psikoedukasi yang
diberikan. Hasil ini sejalan dengan beberapa riset yang menunjukkan
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
143
bahwa pemberian reward masih diperlukan dalam pemberdayaan
kelompok remaja (Andika, 2017; Astiti, 2019; Ramadhan, 2020; Alza
et al., 2022; Hasanah et al., 2022).
Sementara itu, hambatan yang ditemui selama pelaksanaan
pelatihan program konselor sebaya dapat dibagi menjadi dua, yaitu
hambatan yang berasal dari internal konselor sebaya dan hambatan
yang berasal dari eksternal konselor sebaya. Hambatan yang berasal
dari internal adalah munculnya persepsi bahwa dirinya belum pantas
karena rasa tidak percaya diri dalam bertugas sebagai konselor sebaya;
juga munculnya ketergantungan konselor sebaya terhadap fasilitator
secara tidak langsung, sehingga konselor sebaya merasa sulit lepas dari
kedekatan dan instruksi dari fasilitator. Sementara itu, hambatan yang
berasal dari eksternal konselor sebaya selama berlangsungnya kegiatan
pelatihan adalah 1) kurangnya dukungan dari guru, sehingga ada siswa
yang tidak diizinkan mengikuti pelatihan, 2) kebijakan, prosedur, dan
peraturan izin dari sekolah yang cenderung membutuhkan waktu
tunggu yang lama, dan 3) adanya bentuk penolakan awal dari guru
pada konselor sebaya dalam melakukan konseling karena anggapan
konselor sebaya belum pantas dijadikan role model untuk remaja lainnya.
F. Penutup
Pelaksanaan intervensi berupa pelatihan konselor sebaya dengan
empat materi yang dipresentasikan, yaitu perkembangan remaja,
kesehatan reproduksi, keterampilan hidup sehat, dan teknik konseling
dasar untuk konselor sebaya, dilaksanakan seluruhnya dan berjalan
dengan baik. Hasilnya berupa peningkatan pengetahuan peserta
sebagai konselor sebaya untuk kemudian diteruskan khusus kepada
teman-teman sebayanya di sekolah dan kepada seluruh remaja lainnya.
RAGAM INTERVENSI
144 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
Berdasarkan hasil intervensi dapat diberikan rekomendasi kepada
pihak-pihak terkait. Remaja diharapkan memaksimalkan fungsi
konselor sebaya sebagai pusat informasi dan sebagai teman bercerita.
Remaja juga diharapkan dapat mendukung tugas konselor sebaya
dengan merekomendasikan pada teman sebaya yang bermasalah.
Warga diharapkan mampu berperan aktif dalam pengawasan
dan kontrol sosial terhadap aktivitas-aktivitas remaja yang berisiko,
seperti berinteraksi hingga larut malam atau berpacaran di ruang
tertutup. Warga juga diharapkan meningkatkan pengetahuan tentang
perkembangan remaja dengan bersedia mengikuti program-program
edukasi dari puskesmas supaya mampu memahami remaja dan
permasalahannya.
Koordinator kader dan kader jiwa diharapkan lebih aktif dalam
menyampaikan informasi kepada warga tentang perkembangan
remaja dan permasalahannya. Selain itu, koordinator kader puskesmas
juga diharapkan dapat menginformasikan kepada warga mengenai
pentingnya kontrol sosial pada perilaku remaja yang berisiko seperti
berpacaran hingga larut malam.
Psikolog puskesmas diharapkan dapat memberikan pelatihan
lanjutan sesuai dengan modul pelatihan PKPR bagi konselor sebaya.
Pelatihan bersifat rutin dan berkesinambungan, sehingga mampu
menambah pemahaman konselor sebaya untuk mendeteksi dan
merujuk teman sebaya yang mengalami masalah. Pemahaman yang
bertahap tersebut bertujuan mengurangi faktor risiko permasalahan
remaja yang mengarah pada kasus KTD pada remaja.
Orang tua diharapkan dapat meluangkan waktu untuk mengakses
informasi tentang tumbuh kembang remaja dan permasalahannya,
sehingga mampu memahami remaja dan berkomunikasi dengan baik
dengan anak remaja. Orang tua juga diharapkan dapat memberikan
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
145
waktu untuk berdiskusi atau beraktivitas bersama, sehingga dapat
terbentuk attachment yang mendukung tumbuh kembang remaja.
Guru-guru BK diharapkan memberikan kesempatan dan
dukungan kepada semua konselor sebaya untuk melakukan tugas
mereka dalam mendeteksi dan melakukan konseling dasar tehadap
teman sebaya. Guru BK juga diharapkan mampu meningkatkan skill
konseling konselor sebaya dengan memberikan metode bimbingan dan
sharing pada kelompok konselor sebaya secara terjadwal dan rutin.
REFERENSI
Adi, I. R. (2013). Intervensi Komunitas dan Pengembangan Masyarakat sebagai
Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Rajawali Pers.
Adyani, S. A. M., Wiarsih, W., & Fitriyani, P. (2019). “Konseling sebaya
sebagai pencegahan perilaku seksual berisiko pada remaja”. Jurnal
Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia, 9(1), hlm. 544-549. https://doi.
org/10.33221/jiiki.v9i01.184
Alza, N., Al Kautzar, A. M., Firdayanti, Taherong, F., Diarfah, A. D.,
Andryani, Z. Y., & Saleha, S. (2022). “Pelatihan konselor sebaya
dalam optimalisasi kesehatan reproduksi remaja di Panti Asuhan
Amrullah cabang Aisyiyah”. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan,
4(2), hlm. 43-48.
Andika, Y. (2017). “Efektivitas konseling sebaya dengan teknik
reward dan punishment pada ekstrakurikuler pramuka dalam
meningkatkan kedisiplinan peserta didik di SMA Negeri 9 Bandar
Lampung tahun pelajaran 2016/2017”. Skripsi. UIN Raden Intan.
Lampung.
Appulembang, Y. A., Nur, A.F., & Angeline H. Z. T. (2019). “Peran
keluarga dalam upaya pencegahan perilaku seks pranikah remaja
di Palembang”. Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA, 11(2), hlm.
RAGAM INTERVENSI
146 PSIKOLOGI BERBASIS
KOMUNITAS
151-158.
Astiti, S. P. (2019). “Efektivitas konseling sebaya (peer counseling) dalam
menuntaskan masalah siswa”. Indonesian Journal of Islamic Psychology,
1(2).
Cowie, H. & Sharp, S. (2017). Peer Counselling in Schools. Oxfordshire:
Routledge.
Harini, R., and Rahmat, I., & Nisman, W. A. (2014). “Upaya
peningkatan keterampilan konseling kesehatan reproduksi
mahasiswa melalui pelatihan konselor sebaya”. Jurnal Ners, 9(2),
hlm. 173-182. https://doi.org/10.20473/jn.v9i2.2536
Hasanah, A. W., Arifin, D. Z., & Aminarista, A. (2022). “Peran srikandi
gizi terhadap berjalannya program pemberian tablet tambah darah
pada remaja putri di SMAN 1 Pasawahan”. Journal of Holistic and
Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan), 6(2), hlm. 75–80.
https://doi.org/10.51873/jhhs.v6i2.176
Husaeni. (2009). “Depresi pada Remaja Putri yang Hamil di Luar
Nikah”. Skripsi. Universitas Gunadarma. Jakarta.
Kloos, B., Hill, J., Thomas, E., Wandersman, A., Elias, M. J., & Dalton,
J. H. (2012). Community psychology: linking individuals and communities
(3rd ed.). Wadsworth: Cengage Learning.
Kools, M., van de Wiel, M. W. J., Ruiter, R. A. C., Crüts, A., & Kok,
G. (2006). “The effect of graphic organizers on subjective and
objective comprehension of a health education text”. Health
Education Behavior. doi:10.1177/1090198106288950.
McMurray (2003). Community health and wellness: A sociological approach.
Moissoury: Mosby.
Mu’tadin, Z. (2002). “Pendidikan seksual pada remaja”. http://www.
epsikologi.com
Konseling Sebaya untuk
Menurunkan Risiko Perilaku
Seks Bebas pada Remaja
147
Nadirah, S. (2017). “Peranan pendidikan dalam menghindari
pergaulan bebas anak usia remaja”. Musawa: Journal for Gender
Studies, 9(2), hlm. 309-351. https://doi.org/10.24239/msw.
v9i2.254
Putri, W.C.W.S., Yuliyatni, P.C.D., Aryani, P., Sari, K. A. K., & Sawitri,
A.A.S. (2017). Modul pembekalan manajemen dan program puskesmas
dasar-dasar pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Badung: Bagian
Ilmu Kedokteran Komunitas Ilmu Kedokteran Pencegahan
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran,
Universitas Udayana.
Ramadhan, B. M. (2020). “Pengaruh konseling sebaya dengan teknik
token economy terhadap peningkatan kedisiplinan anggota UKM
Resimen Mahasiswa/202 Harimau Sumatera UIN”. Skripsi. UIN
Raden Intan. Lampung.
Santrock. J. W. (2007). Remaja Edisi II. Jakarta: Erlangga.
Sarwono, S. W. (2011). Psikologi Remaja. (Edisi Revisi). Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Soeroso, S. (2001). “Masalah kesehatan remaja”. Sari Pediatri, 3(3),
hlm. 190-198.
Soetjiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya.
Jakarta: PT Sagung Seto.
Utami, W. (2017). “Peran konselor sebaya sebagai upaya meningkatkan
pengetahuan remaja tentang triad kesehatan reproduksi remaja”.
Jurnal Medika Respati, 12(1). https://doi.org/10.35842/mr.v12i1.4
Yusuf, S. (2002). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Buku Ragam Intervensi Psikologis Berbasis
Komunitas ini dapat menjadi gambaran berbagai
permasalahan yang terjadi di masyarakat dari
perspektif psikologi, seperti masalah kenakalan
remaja, stunting, bullying, seks bebas, dan
permasalahan kesehatan mental lainnya. Buku ini
juga dapat menjadi pegangan dalam mengatasi
permasalahan tersebut dari perspektif psikologi
komunitas. Semoga buku ini dapat memberi
manfaat bagi profesi psikologi maupun bagi
masyarakat umum.
(Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, SU. , Guru
Besar Psikologi Klinis)