BAB III
METODE PENELITIAN
A. Alur Penelitian
Tahapan dalam penelitian ini diantaranya adalah pengumpulan data,
penentuan titik lokasi pengujian, pengukuran laju infiltrasi di lapangan
menggunakan alat double ring infiltrometer dan pengambilan sampel tanah,
perhitungan parameter infiltrasi metode Horton, perhitungan laju infiltrasi pada saat
konstan, pemetaan persebaran nilai laju infiltrasi. Alur tahapan pada penelitian ini
dapat dilihat pada diagram alir sebagai berikut.
Mulai
Pengumpulan Data
Penentuan titik lokasi
pengujian (5 titik)
Pengukuran laju infiltrasi di lapangan
Menggunakan Double Ring Infiltrometer
dan pengambilan sampel tanah
Gambar 3.1 Diagram alir penelitian
12
13
1. Perhitungan laju infiltrasi metode Horton
-konstanta untuk jenis tanah (k)
-laju infiltrasi awal (f0)
-laju infiltrasi konstan (fc).
2. Analisis Karakteristik Tanah
Pemetaan persebaran nilai laju infiltrasi
menggunakan software Arc GIS
Hasil berupa persebaran laju infiltrasi
pada lereng di Kalibawang, Kulon Progo
Selesai
Gambar 3.2 Diagram alir penelitian (lanjutan)
B. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung di lapangan dan
informasi jenis tanah, topografi, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan. Adapun
jenis data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Data primer yang
digunakan dalam penelitian ini adalah parameter infiltrasi yaitu laju infiltrasi awal
(f0), laju infiltrasi akhir (fc), konstanta untuk jenis tanah dan permukaanya (k).
Sedangkan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data peta
administrasi yang digunakan sebagai acuan batas wilayah penelitian.
C. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada hari Minggu 4 Februari 2017, dari pukul 09.00-
15.00 WIB. Penelitian dilakukan pada lereng di sekitar Saluran Induk Kalibawang,
14
Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah
Istimewa Yogyakarta (Gambar 3.2). Terdapat lima lokasi titik pengujian seperti
ditampilkan pada Gambar 3.3. Penutup lahan pada lereng berupa tanaman tebu
dengan tinggi 1 - 1,5 m. Jarak antara lokasi 4 ke lokasi 5 sebesar 25,9 m, jarak
antara lokasi 1 ke lokasi 4 sebesar 29,2 m, jarak antara lokasi 1 ke lokasi 2 sebesar
35.8 m, dan jarak antara lokasi 2 ke lokasi 3 sebesar 14,9 m (Gambar 3.4). Kondisi
tata guna lahan lokasi penelitian serta kondisi sekitar lokasi penelitian lebih jelas
dapat dilihat pada Lampiran B.
Gambar 3.3 Lokasi penelitian
Gambar 3.4 Lokasi titik-titk pengujian dan pengambilan contoh tanah
15
D. Alat Yang Digunakan
Alat yang digunakan untuk pengujian kapasitas infiltrasi di lapangan dalam
penelitian ini adalah double ring infiltrometer yang terdiri dari dua pasang silinder
konsentris atau tabung atau silinder bagian dalam (silinder B) dan luar (silinder A).
Silinder luar beriameter 55 cm dan siliinder dalam berdiamater 30 cm, dengan
tinggi 25 cm. Pada silinder B terdapat jembatan pengukur dengan lubang (1),
melalui lubang lingkaran kecil yang ada pada jembatan tersebut terdapat tongkat
atau penara pengukur penurunan air dengan dilengkapi balok pengapung yang
dapat bergerak bebas naik dan turun (2), bagian-bagian alat double ring
infiltrometer ditunjukkan pada Gambar 3.4.
A
2
Gambar 3.5 Alat Double ring infiltrometer
55
30
25 cm
Gambar 3.6 Skema alat Double ring infiltrometer
16
E. Prosedur Pengujian
1. Uji Infiltrasi
Pengukuran parameter infiltrasi dilakukan secara langsung di
lapangan untuk mengetahui nilai kapasitas infiltrasi yang kemudian dari nilai
kapasitas infiltrasi tersebut didapatkan parameter infiltrasi. Pengukuran
parameter infiltrasi menggunakan alat infiltrometer yaitu double ring
infiltrometer. Pengukuran dilakukan pada setiap titik lokasi pengujian yang
sudah ditentukan. Prosedur pengukuran parameter infiltrasi adalah sebagai
berikut :
1. Penyiapan lahan atau lokasi titik pengujian dengan terlebih dahulu
membersihkan permukaan tanah yang akan diuji dari rumput atau
tanaman, kemudian pada lahan atau lokasi pengujian yang miring harus
diratakan permukaan tanahnya. Penyiapan lahan ditunjukkan pada
Gambar 3.5.
Gambar 3.7 Proses Penyiapan lahan atau lokasi pengujian
2. Pemasangan alat Double ring infiltrometer.
a. Silinder A diposisikan pada titik lokasi pengujian, kayu diletakkan
di atas silinder, kemudian ditekan dengan alat pemukul hingga
silinder masuk 5-10 cm kedalam tanah guna mencegah rembesan
air dari dalam silinder.
b. Kemudian silinder B diposisikan di tengah-tengah silinder A,
kemudian silinder B ditekan ke dalam tanah seperti yang dilakukan
pada silinder A. Pemasangan silinder ditunjukkan pada Gambar 3.6.
17
Gambar 3.8 Penekanan silinder ke dalam tanah
c. Silinder A diisi dengan air sedalam 10-15 cm, didiamkan sampai
kira-kira 5-10 menit untuk menjenuhkan tanah.
d. Air dituangkan ke dalam silinder B dengan hati hati agar tidak
merusak lapisan permukaan tanahnya seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 3.7.
Gambar 3.9 Pengisian air pada silinder
e. Di pasang jembatan dan alat penara penurunan tinggi muka air.
3. Pengukuran laju infiltrasi dengan mencatat penurunan muka air (∆H)
dalam silinder B diukur setiap interval waktu (∆t) 2 menit selama 40
menit atau sampai tidak terjadi perubahan tinggi muka air atau tetap.
Laju infiltrasi ditentukan dengan Persamaan 3.1 berikut :
H
f t (3.1)
t
18
dengan, ΔH = Tinggi penurunan (cm) pada interval waktu t, t = waktu
yang dibutuhkan oleh air pada ΔH untuk masuk ke tanah (menit).
Gambar 3.8 Pengukuran laju infiltrasi
4. Air ditambahkan bila tinggi muka air kira-kira kurang dari 5 cm dari
permukaan tanah namun masih terjadi penurunan air, setelah air
ditambahkan lanjutkan pengukuran laju infiltrasi hingga mencapai
konstan atau tidak terjadi lagi penurunan.
2. Pemeriksaan Jenis Tanah Dan Kadar Air Tanah
1. Sebelum pengujian infiltrasi, contoh tanah di permukaan diambil.
Kemudian, setelah selesai pengujian infiltrasi dilakukan pengambilan
contoh tanah dengan menggunakan bor tangan pada setiap kedalaman
10 cm, 20 cm, 30 cm, 40 cm, 50 cm, seperti pada Gambar 3.9. Sampel
tanah pada setiap lokasi pada masing- masing kedalaman dilakukan
pengujian kadar air. Prosedur pengujian mengikuti SNI 1965:2008
(BSN, 2008a ).
2. Analisis ukuran partikel tanah dilakukan untuk contoh tanah yang
diambil pada kedalaman 50 cm. Pengujian yang dilakukan meliputi
analisis hidrometer dan analisis saringan di laboratorium. Prosedur
pengujian mengacu pada SNI 3423:2008 (BSN, 2008b ).
19
Gambar 3.9 Pengambilan sampel tanah
F. Analisis Data
1. Perhitungan Parameter Infiltrasi Metode Horton
Hubungan antara laju infiltrasi dan waktu digambarkan dalam suatu grafik
agar dapat diperkirakan kapasitas infiltrasi. Hasil pengukuran laju infiltrasi
tanah di lapangan dianalisis lebih lanjut untuk menduga laju infiltrasi tanah
berdasarkan model Horton yang dituliskan dalam Persamaan 3.2
(Horton,1941).
f t f c f o f c e Kt (3.2)
dengan :
f(t) = laju infiltrasi pada waktu ke-t (cm/jam),
fc = kapasitas infiltrasi konstan (cm/jam),
fo = kapasitas infiltrasi awal (cm/jam),
t = waktu (jam).
Parameter fc, fo, dan k, dalam persamaan 2 ditentukan dengan regresi fungsi
exponent dalam persamaan 2.3.
y yo aebt (2.3)
dengan, f(t) = y, (fo – fc) = a, fo = yo, dan K = b. Metode kuadrat terkecil
digunakan untuk menentukan koefisien regresi yo, a, dan b. Analisis regresi
dilakukan dengan perangkat lunak SigmaPlot.
20
2. Pemetaan Persebaran Laju Infiltrasi
Pemetaan nilai laju infiltrasi menggunakan software Arc GIS. Sebaran
laju infiltrasi pada lokasi penelitian ini menggunakan metode interpolasi IDW
(Inverse Distance Weighting). Pengolahan data spasial menggunakan metode
interpolasi dalam pembuatan garis isohyetnya. Metode interpolasi merupakan
metode yang digunakan untuk menduga nilai-nilai yang tidak diketahui pada
lokasi yang berdekatan, titik-titik yang berdekatan dapat berjarak teratur
ataupun tidak teratur.
Metode interpolasi IDW memiliki asumsi bahwa setiap titik input
mempunyai pengaruh yang bersifat lokal yang berkurang terhadap jarak.
Setelah theme peta penyebaran titik lokasi pengujian dan data peta
administrasi Kalibawang Kulon Progo dalam view serta proses koneksi
dilakukan maka langkah selanjutnya adalah mengaktifkan laju_infiltrasi.shp,
administrasi_line.shp dan Ekstensions Spasial Analyst. Setelah ekstension
Spasial Analyst aktif, maka akan muncul menu Analyst dan Surface. Untuk
membuat garis kontur interpolasi IDW maka langkah selanjutnya adalah
memilih menu surface dan sub menu Create Contours. Pilih ukuran grid cell
yang dipakai atau dihasilkan metode konturing dan field yang akan
digunakan. Hasil dari proses ini adalah peta garis interpolasi IDW berupa
sebaran nilai laju infiltrasi di lereng Kalibawang, Kulon Progo.