9
BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERFIKIR DAN
HIPOTESIS TINDAKAN
2.1 Deskripsi Teoritis
2.1.1 Hakikat Hasil Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja
dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau
pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan
perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak.
Menurut Susanto (2013: 4) belajar adalah Suatu aktivitas mental yang
berlangsung dalam interaksi aktif antara seseorang dengan lingkungan, dan
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan, dan nilai sikap yang bersifat relatif konstan dan berbekas.
Berdasarkan pernyataan tersebut belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang dengan lingkungannya yang akan menghasilkan perubahan baru, yang
sebelumnya tidak tahu menadi tahu dan yang tidak bisa menjadi bisa.
Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut :
1. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pebelajar.
2. Resposns si pebelajar.
3. konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut, pemerkuat terjadi
pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut.(Dimyati dan
Mudjiono 2009: 9)
Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya
perubahan tingkah laku dalam dirinya. perubahan tingkah laku tersebut
menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), sikap (afektif),
9
10
dan keterampilan (psikomotorik). Peserta didik adalah subjek yang terlibat dalam
kegiatan belajar mengajar, dalam proses belajar tersebut, siswa menggunakan
kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Skinner berpandangan
bahwa belajar adalah suatu perilaku. Berdasarkan uraian tentang konsep belajar
diatas, dapat dipahami tentang makna hasil belajar, yaitu perubahan-perubahan
yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif,
psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Secara sederhana, yang dimaksud
dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah
melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari
seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku
yang relatif menetap.
Menurut Susanto (2013: 5) yang menyatakan bahwa Hasil belajar dapat
diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi
pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes
mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. hasil belajar adalah hasil yang
dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar
pada setiap akhir pembelajaran. Nilai yang diperoleh siswa menjadi acuan untuk
melihat penguasaan siswa dalam menerima materi pelajaran. Jadi dapat
disimpulkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan dan perubahan tingkah
laku siswa yang diperoleh setelah mendapatkan materi pelajaran yang diberikan
oleh guru dikelas, hasil yang dicapai berupa skor dalam bentuk angka. Untuk
mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang
dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi.
11
Hasil belajar telah tercapai apabila telah terpenuhi dua indikator berikut,
yaitu:
1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai
prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran instruksional khusus
telah dicapai oleh siswa baik secara individu maupun kelompok
(Susanto, 2013: 3).
Pencapaian hasil belajar dapat dilakukan dengan menggunakan tes agar
dapat mengukur tingkat keberhasilan peserta didik dalam menerima, memahami,
dan melaksanakan apa yang diajarkan, sehingga dapat mencapai prestasi tinggi.
Tes itu dapat berupa tes uraian dan tes objektif, keberhasilan pengajaran tidak
hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik, tetapi juga dari
segi prosesnya dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas.
Benyamin bloom membagi hasil belajar menjadi 3 ranah, yaitu :
1. Ranah Kognitif yaitu, berkenan dengan hasil belajar intelektual.
2. Ranah Afektif yaitu, berkenaan dengan hasil belajar sikap.
3. Ranah Psikomotorik yaitu, berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan dan kemampuan bertindak. (Sudjana, 2014: 22)
Hasil belajar merupakan perubahan yang mengakibatkan manusia berubah
dalam sikap dan tingkah lakunya. Perubahan perilaku hasil belajar itu merupakan
perubahan perilaku yang relevan dengan tujuan pengajaran. Menurut Purwanto
(2011 : 45) Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran
yang dikembangkan oleh bloom, simpson dan harrow mencakup aspek kognitif,
afektif, psikomotorik.
12
2.1.1.1 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar
Menurut teori Gestalt, belajar merupakan suatu proses perkembangan.
Artinya bahwa secara kodrati jiwa raga anak mengalami perkembangan.
Perkembangan sendiri memerlukan sesuatu baik berasal dari diri siswa sendiri
maupun pengaruh dari lingkungannya. Berdasarkan teori ini hasil belajar siswa
dipengaruhi oleh dua hal, siswa itu sendiri dan lingkungannya. Pertama, siswa;
dalam arti kemampuan berpikir atau tingkah laku intelektual, motivasi, minat, dan
kesiapan siswa, baik jasmani maupun rohani. Kedua, lingkungan; yaitu sarana dan
prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber-sumber belajar, metode serta
dukungan lingkungan, keluarga dan lingkungan. Menurut Susanto (2013: 12) hasil
belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai
faktor yang memengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal.
Secara perinci, uraian mengenai faktor internal dan eksternal, sebagai berikut :
1. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri
peserta didik, yang memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal
ini meliputi : kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan,
sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal berasal dari luar diri peserta didik yang
memengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, masyarakat. Keadaan
keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keluarga yang morat-
marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian orangtua
13
yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berperilaku
yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh
dalam hasil belajar peserta didik.
Selanjutnya, menurut Susanto (2013: 13) bahwa sekolah merupakan salah
satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar siswa. Semakin tinggi kemampuan
belajar siswa dan kualitas pengajaran di sekolah, maka semakin tinggi pula hasil
belajar siswa. Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa hasil belajar siswa
merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terlibat sejumlah faktor yang
saling memengaruhinya. Ruseffendi (1991: 7) mengidentifikasi faktor-faktor yang
memengaruhi hasil belajar ke dalam sepuluh macam, yaitu : kecerdasan, kesiapan
anak, bakat anak, kemauan belajar, minat anak, model penyajian materi, pribadi
dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru, dan kondisi masyarakat.
jadi tinggi rendahnya hasil belajar seseorang dipengaruhi oleh faktor-
faktor tersebut karena hasil belajar tidak akan dapat tercapai jika faktor-faktor itu
tidak ada. Menurut Susanto (2013: 15) bahwa hasil belajar yang dicapai oleh
siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dalam diri siswa dan faktor
yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor
kemampuan siswa besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. Kemampuan
itu bisa berupa pengetahuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran dan
menjawab soal tes yang diberikan oleh guru.
14
2.1.1.2 Hasil Belajar Mata Pelajaran Penataan Sanggul Kreatif
Hasil belajar mata pelajaran penataan sanggul kreatif di SMK Negeri 3
bogor menyangkut dalam aspek kognitif , hasil belajar kognitif adalah perubahan
perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi. meliputi : pengetahuan pada materi
penataan sanggul kreatif. Menurut Purwanto (2011: 50) bloom membagi dan
menyusun secara hirakhis tingkat hasil belajar kognitif mulai dari yang paling
rendah dan sederhana. Enam tingkat itu adalah hafalan (C1), pemahaman (C2),
penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6). Aspek afektif
berkenaan dengan sikap dan nilai, tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa
dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin,
motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan
hubungan sosial. Pada pembelajaran penataan sanggul kreatif, dapat di lihat dari
bagaimana sikap dan kedisiplinan siswa dalam menerima materi yang dijelaskan
oleh guru. Sedangakan aspek psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan
(skill) dan kemampuan bertindak individu, dapat di lihat ketika siswa
melaksanakan kegiatan praktik di kelas yaitu pada saat menata sanggul kreatif.
Hasil belajar afektif dan psikomotorik sifatnya lebih luas, lebih sulit dipantau
namun memiliki nilai yang sangat berarti bagi kehidupan siswa karena dapat
secara langsung mempengaruhi perilakunya. Ketiga ranah tersebut menjadi objek
penilaian hasil belajar. Menurut Sudjana (2014: 3) Penilaian hasil belajar adalah
proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan
kriteria tertentu. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah
laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup
15
ketiga ranah tersebut. Oleh sebab itu, penilaian hasil belajar peranan tujuan
instruksional yang berisi rumusan kemampuan dan tingkah laku yang diinginkan
dikuasai siswa menjadi unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian.
Penataan sanggul tradisional kreatif merupakan mata pelajaran yang ada di
Sekolah Menengah Kejuruan jurusan kecantikan rambut, mata pelajaran ini
diajarkan pada kelas XII. Pelaksanaan pembelajaran di kelas berupa teori dan
praktek, biasanya pada pertemuan awal guru mengajar teori terlebih dahulu
setelah itu mengajar praktik. Mata pelajaran penataan sanggul kreatif ini
mempelajari perbedaan sanggul kreatif, alat bahan dan kosmetika penataan
sanggul, Berbagai pola dan desain sanggul kreatif , Teknik dan bentuk penataan
sanggul kreatif, ornamen dan assesoris penataan sanggul kreatif. Sanggul kreatif
ini terdiri dari 3 macam yaitu sanggul up style, sanggul evening style dan sanggul
gala style.
Pengertian Penataan
Penataan adalah tindakan memperindah bentuk rambut sebagai tahap akhir
proses penataan rambut dalam arti yang luas. Pada umumnya tindakan
tersebut dapat berupa penyisiran,blow dryng, penyanggulan dan penempatan
berbagai hiasan rambut baik secara sendiri-sendiri maupun sebagai satu
keseluruhan.
Faktor yang Mempengaruhi Penataan
Faktor Internal
Faktor Perwujudan Fisik
Faktor Pendidikan
16
Faktor Penghargaan Seni
Faktor Kepribadian
Tipe Penataan
Penataan Pagi dan siang hari
Penataan pagi dan siang hari atau day style merupakan tata rambut
yang dibuat untuk digunakan sewaktu pagi maupun siang hari. Baik
untuk bekerja di kantor maupun untuk menghadiri berbagai pertemuan
yang bersifat resmi.
Penataan Cocktail
Penataan cocktail adalah penataan yang digunakan pada
kesempatan resmi pada sore hari. Bentuknya sedikit lebih meriah
daripada penataan pagi, tetapi lebih sederhana daripada penataan malam
hari.
Penataan Sanggul Evening Style
Penataan malam hari atau Evening Style adalah penataan yang
dibuat untuk digunakan pada sore dan malam hari, pada umumnya pada
kesempatan yang lebih bersifat resmi. Bentuknya Biasanya lebih Rumit.
Penggunaan warna warni dan hiasan rambut juga lebih bebas, tetapi masih
dalam batas-batas rasa keindahan dan kepantasan masyarakat setempat.
Penataan Sanggul Gala Style
Penataan gala atau gala style adalah sanggul yang desainnya rumit
bentuknya bisa kepang, pilin, sasak, bukle. Dalam satu desain sanggul
dapat juga ditambahkan hairpiece berwarna dan aksesoris yang mewah.
17
Posisi sanggulnya dapat menjulang di puncak kepala, dapat juga
menjuntai ke bawah. Sanggul gala biasanya digunakan pada saat acara
pesta atau acara lunching produk iklan, bentuk desainnya sesuai dengan
tema acara.
Penataan Fantasi
Penataan fantasi atau fantasy style merupakan penataan yang lebih
menampilkan kreasi dengan tujuan mempercantik modelnya melalui tata
rambutnya. Sanggul fantasi biasanya digunakan pada saat acara fashion
show, bentuk desainnya sesuai dengan tema acara.
Materi yang akan di bahas pada penelitian ini adalah penataan sanggul
evening style dan penataan sanggul gala style. Dibawah ini merupakan
contoh gambar dari sanggul evening style dan sanggul gala style :
Gambar 2.1 Sanggul Evening style
Sumber : dokumentasi peneliti
18
Gambar 2.2 Sanggul gala style
Sumber : Dokumentasi peneliti
Pola dalam Penataan
Dalam mode tata rambut senantiasa akan berubah dan berganti,
tetapi bagi suatu penataan tidak pernah dapat menyimpang dari 5 pola
penataan yaitu sebagai berikut :
Pola Simetris
Pentaan Simetris adalah penataan yang memberi kesan seimbang
pada model yang bersangkutan. Penataan simetris sudah digemari sejak
zaman mesir purba dan terutama oleh bangsa yunani.
Pola Asimetris
Penataan asimetris banyak dibuat dengan tujuan memberi kesan
dinamis bagisuatu disain tata rambut. Penataan asimetris ini akan
menciptakan ketidakseimbangan.
19
Pola Puncak
Penataan puncak menitikberatkan pembuatan kreasi tata rambut di
daerah ubun-ubun (Parietal).
Pola Belakang
Penataan belakang yaitu penataan rambut di bagian bagian
belakang kepala. Pola penataan belakang akan sangat memudahkan
penataan rambut panjang.
Pola Depan
Penataan depan yaitu penataan rambut di daerah dahi, pola
penataan depan memberi kesan anggun dan gerak alamiah bagi suatu
kreasi dalam satu keseluruhan.
Tabel 2.1 Alat dan Bahan untuk Menata Sanggul Kreatif
NO Nama Alat Fungsi Keterangan Gambar
1 Sisir sasak Menyasak rambut
2 Sisir ekor Membantu membuat
parting
20
3 Sisir penghalus Menghaluskan rambut
4 Jepit lidi Untuk menjepit dan
merapikan rambut
5 Jepit bebek Untuk menjepit rambut
6 Jepit pinkel Untuk menjepit rambut
7 Hair spray Merapikan dan
mempertahankan bentuk
rambut
8 harnet Membungkus rambut
agar terlihat rapi
9 Roll set Menata rambut agar
mudah di sasak
21
10 Setting lotion Mempermudah saat
pratata rambut
11 Hair dryer Mengeringkan pratata
12 Lungsen Rambut tambahan untuk
membuat bukle
15 aksesoris Untuk menghias sanggul
. Pada saat menata sanggul kreatif, harus sesuai dengan kondisi rambut dan
bentuk wajah pelanggan dan kesempatan yang akan di kunjungi. Secara prinsip
sanggul ini tetap menganut prinsip yang berlaku dari suatu desain yang dikenal
selama ini, seperti: adanya keseimbangan antara bentuk sanggul dengan besarnya
kepala, keharmonisan, irama, bentuk dari sanggul, dan penambahan-penambahan
ornamen/hiasan dari sanggul. Untuk itu sangat dibutuhkan tertib kerja yang jelas
sesuai dengan prosedur kerja yang akan dilakukan, pemakaian peralatan dan
pemilihan kosmetika perlu diperhatikan serta peraturan kesehatan dan
22
keselamatan kerja. Misalnya dalam pemasangan tusuk konde, jepitan dan
sebagainya. Jangan sampai melukai kulit kepala pelanggan.
2.1.1 Hakikat Model Pembelajaran Learning Cycle
2.1.2.1 Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau
pembelajaran dalam tutorial. Arends (1997: 7), mengemukakan bahwa model
pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan,
termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan
pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
“Model pembelajaran adalah suatu suatu perencanaan atau suatu pola
yang di pergunakan sebagai dalam merencanakan pembelajaran di kelas
atau pembelajaran tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat
pembelajaran seperti buku-buku, film, computer, kurikuler, dan lain-
lain. Hal ini Menunjukkan bahwa setiap model yang akan di
gunakan dalam pembelajaran menentukan perangkat yang dipakai dalam
pembelajaran tersebut”. (Trianto, 2012 : 53)
Untuk pemilihan model ini sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang
akan diajarkan, juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran
tersebut dan tingkat kemampuan peserta didik. setiap model pembelajaran selalu
mempunyai tahap-tahap (sintaks). Menurut Trianto (2010: 75) Sintaks (pola
urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan
alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian
kegiatan pembelajaran. sintaks (pola urutan) dari suatu model menunjukkan
dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa.
23
istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi,
metode, atau prosedur.
“Pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dimiliki oleh
strategi, metode, prosedur. ciri ciri tersebut ialah : (1) rasional teoritis logis
yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya ; (2) landasan
pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran
yang akan dicapai); (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar
model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; (4) lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai”.
( Trianto, 2012: 55)
Berdasarkan pernyataan tersebut dikatakan bahwa model pembelajaran
mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi , metode, dan prosedur.
karena model pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang didalamnya sudah
ada strategi, metode dan prosedur yang akan digunakan pada saat kegiatan
pembelajaran di kelas. Fungsi model pembelajaran di sini adalah sebagai pedoman
bagi perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Menurut johnsson (dalam samani,2000), untuk mengetahui kualitas model
pembelajaran harus dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan produk.
Aspek proses mengacu apakah pembelajaran mampu menciptakan situasi
belajar yang menyenangkan serta mendorong siswa untuk aktif belajar dan
berpikir kreatif. Aspek produk mengacu apakah pembelajaran mampu menvapai
tujuan, yaitu meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan standar kemampuan
atau kompetensi yang ditentukan. Dalam hal ini sebelum melihat hasilnya,
terlebih dahulu aspek proses sudah dapat dipastikan berlangsung baik. jadi model
pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar sejak awal sampai
akhir dan disajikan secara khas oleh guru. Menurut Ahmadi,dkk. (2011: 7) apabila
24
antara pendekatan, strategi, metode, teknik bahkan taktik pembelajaran sudah
terangkai menjadi satu kesatuan utuh, maka terbentuklah model pembelajaran.
2.1.2.2. Model Pembelajaran Learning Cycle
Pembelajaran siklus (learning cycle) merupakan salah satu model
pembelajaran dengan pendekatan konstuktivistik.
“Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses
pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa.
Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan
memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling
menentukan terwujudnya gejala belajar dalah niat belajar siswa itu sendiri.
Sementara peranan guru dalam belajar konstruktivistik berperan
membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan pleh siswa berjalan
lancar. guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimiliknya,
melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri
dan dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa
dalam belajar”. (Siregar, dkk., 2007: 37)
Menurut Yamin (2012: 10) Pembelajaran konstruktivistik adalah
pembelajaran berpusat pada peserta didik (student oriented), guru sebagai
mediator, fasilitator, dan sumber belajar dalam pembelajaran. Guru mengemban
tugas utamanya adalah membangun dan membimbing peserta didik untuk belajar
serta mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
(berdasarkan kompetensi). Di dalam tugasnya seseorang guru diharapkan dapat
membantu peserta didik dalam memberi pengalaman-pengalaman baru untuk
membentuk kehidupan sebagai individu yang dapat hidup mandiri di tengah-
tengah masyarakat modern.
25
“Peranan guru pada pendekatan konstruktivistik ini lebih sebagai mediator
dan fasilitator bagi siswa. peranan tersebut meliputi :
1. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa
bertanggung jawab, mengajar atau berceramah bukanlah tugas utama
seorang guru.
2. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang
keinginantahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan
gagasannya.
3. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa
berjalan atau tidak”. (Siregar, dkk., 2007: 38)
Dalam sarana belajar, pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa
peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, melalui : bahan, media, peralatan,
lingkungan, dan fasilitas lainnya yang disediakan untuk membantu pembentukkan
tersebut.
Model pembelajaran siklus (leaning cycle) pertama kali diperkenalkan
oleh Robert Karplus dalam Science science curriculum improvement study/SCIS
(Trowbridge & Bybee,1996) lerning cycle (siklus belajar) merupakan suatu model
pembelajaran dengan berpusat pada siswa (student centered), siklus belajar
merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik
yang pada mulanya terdiri atas 3 tahap, yaitu :
a. Eksplorasi (exploration),
b. Pengenalan konsep (concept introduction),dan
c. Penerapan konsep (concept application).
Pada proses selanjutnya, tiga tahap siklus tersebut mengalami
pengembangan. Menurut Wena (2014: 171) tiga siklus tersebut saat ini di
kembangkan menjadi 5 tahap (Lorsbach,2002) yang terdiri atas tahap (a)
26
pembangkitan minat (engagement), (b) eksplorasi (exploration), (c) penjelasan
(explanation), (d) elaborasi (elaboration)/extention), dan (e) evaluasi (evaluation).
1. Tahap Pembelajaran
a. Pembangkitan Minat (Engagement)
Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus
belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan
mengembangkan minat dan keingintahuan (curiosity) siswa tentang topik
yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang
berhubungan dengan topik bahasan). Dengan demikian, siswa akan
memberikan respons/jawaban. Dalam hal ini guru harus membangun
keterkaitan /perikatan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik
pembelajaran yang akan dibahas.
b. Eksplorasi (Exploration)
Eksplorasi merupakan tahap kedua model siklus belajar. tahap ini
guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan
tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah
benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah,sebagian benar.
c. Penjelasan (Explanation)
Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap
penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu
27
konsep dengan kalimat/pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi
atas penjelasan siswa.
d. Elaborasi (Elaboration/Extention)
Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap
elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari
dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian, siswa
akan dapat belajar secara bermakna, karena telah
menerapkan/mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam
situasi baru. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka
motivasi belajar siswa akan meningkat.
e. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap
evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa
dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri
dengan mengajukan pertanyaan terbuka mencari jawaban yang
menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya.
Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang
proses penerapan metode siklus belajar yang sedang diterapkan.
Menurut Wena (2014: 172) perbedaan mendasar antara model
pembelajaran siklus belajar dengan pembelajaran konvensional adalah guru lebih
banyak bertanya daripada memberi tahu. Misalnya, pada waktu akan melakukan
eksperimen terhadap suatu permasalahan, guru tidak memberi petunjuk langkah-
langkah yang harus dilakukan siswa, tetapi guru mengajukan pertanyaan penuntun
28
tentang apa yang dilakukan siswa, apa alasan siswa merencanakan atau
memutuskan perlakuan yang demikian. Dengan demikian, kemampuan analisis,
evaluatif, dan argumentatif siswa dapat berkembang dan meningkat secara
signifikan.
2. Penerapan di Kelas
Secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran
dapat dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 2.2 Tahapan Siklus Belajar
No. Tahap Siklus Belajar Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
1. Tahap Pembangkitan Membangkitkan minat Mengembangkan
Minat dan keingintahuan minat/rasa ingin tahu
(curiosity) siswa. terhadap topik
bahasan.
2. Tahap Eksplorasi Membentuk Membentuk
kelompok,memberi kelompok dan
kesempatan untuk bekerja berusaha bekerja
sama Dalam kelompok dalam kelompok.
kecil secara mandiri.
Meminta bukti dan Menunjukkan bukti
klarifikasi penjelasan dan member
siswa, mendengar secara klarifikasi terhadap
kritis penjelasan siswa. ide-ide baru.
Memberi definisi dan Mencermati dan
penjelasan dengan berusaha memahami
memakai penjelasan siswa penjelasan guru.
terdahulu sebagai dasar
diskusi.
3. Tahap Penjelasan Mendorong siswa untuk Mencoba memberi
menjelaskan konsep penjelasan terhadap
dengan kalimat mereka konsep yang
sendiri. ditentukan.
Mendengar secara kritis Melakukan
penjelasan antarsiswa atau pembuktian terhadap
guru. konsep yang
diajukan
29
4. Tahap Elaborasi Mengingatkan siswa pada Menerapkan konsep
penjelasan alternatif dan dan keterampilan
mempertimbangkan data. dalam situasi baru.
Mendorong dan Bertanya,
memfasilitasi siswa mengusulkan
mengaplikasi konsep/atau pemecahan,membuat
keterampilan dalam keputusan,melakukan
setting yang baru/lain. percobaan,dan
pengamatan.
5. Tahap Evaluasi Mendorong siswa Melihat dan
memahami kekurangan/ menganalisis
kelebihannya dalam kekurangan
kegiatan pembelajaran. /kelebihannya dalam
kegiatan
pembelajaran.
Sumber : Made Wena (2014 : 176)
Adapun gambar tahapan model pembelajaran learning cycle 5 E yaitu :
5 1
Tahap Evaluasi Tahap pembangkitan
minat
4 2
Tahap Elaborasi Tahap Eksplorasi
Tahap Penjelasan
Gambar 2.3 Model pembelajaran siklus
Sumber : made wena (2014 : 176)
30
3. Pengembangan Model pembelajaran Learning Cycle 5E Menjadi
7E
Pada saat ini model pembelajaran siklus 5E berjalan dengan sangat sukses
. Adanya Penelitian tentang bagaimana orang belajar , penggabungan penelitian
ke dalam rencana pembelajaran dan pengembangan kurikulum menuntut model
5E untuk diperluas ke model 7E. Eisenkraft (2003: 57) mengembangkan learning
cycle menjadi 7 tahapan. Perubahan yang terjadi pada tahapan siklus belajar 5E
menjadi 7E terjadi pada fase engagement menjadi 2 tahapan yaitu elicit
(memunculkan) dan engage (ikut serta), sedangkan pada tahapan Elaborate dan
Evaluate menjadi 3 tahapan yaitu menjadi elaborate, evaluate dan extend.
Penelitian terkini dalam ilmu kognitif telah menunjukkan bahwa
pemahaman sebelumnya adalah komponen yang penting pada proses
pembelajaran (Bransford, Brown, and Cocking 2000). Dalam memunculkan
pemahaman sebelumnya guru bertanya kepada peserta didik mengenai materi
pembelajaran yang sudah mereka pahami sebelumnya yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari, sehingga peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan
mereka tanpa guru menjelaskan lagi.
Transisi dari model 5E menjadi model 7E diilustrasikan pada Gambar 2.2 yaitu :
31
5E → 7E
Elicit
Engage
Engage
Explore Explore
Explain Explain
Elaborate Elaborate
Evaluate
Evaluate
Extend
Gambar 2.4 Siklus Pembelajaran dan Model Instruksi 7E yang dikembangkan
Sumber : Copyright 2003. The Science Teacher. Diterbitkan oleh the National Science Teachers
Association, 1840 Wilson Blvd., Arlington, VA 22201-3000.
7 tahapan model pembelajaran Learning cycle yang di kembangkan oleh
Eisenkraft yaitu :
1. Elicit (Memunculkan Pemahaman Sebelumnya)
Pada fase ini, guru berusaha menimbulkan atau mendatangkan
pengetahuan siswa mengenai materi sebelumya Penelitian terkini dalam
ilmu kognitif telah menunjukkan bahwa memunculkan pengetahuan
sebelumnya komponen penting dari proses pembelajaran.
2. Engage
Pada fase ini guru memfokuskan perhatian siswa, merangsang
kemampuan berpikir serta membangkitkan minat dan motivasi siswa
terhadap konsep yang akan diajarkan
32
3. Explore
Pada fase ini siswa memperoleh pengetahuan dengan pengalaman
langsung yang berhubungan dengan konsep yang akan dipelajari. Guru
memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengamati, merekam data,
mengisolasi variabel, mendesain dan merencanakan percobaan, membuat
grafik, menginterpretasikan hasil, mengembangkan hipotesis.
4. Explain
Pada fase ini siswa diperkenalkan pada konsep, hukum dan teori
baru, Siswa menyimpulkan dan mengemukakan hasil dari temuannya
pada fase explore.
5. Elaborate
Pada fase ini bertujuan untuk membawa siswa menerapkan simbol,
definisi, konsep, dan keterampilan pada permasalahan yang berkaitan
dengan contoh dari pelajaran yang dipelajari.
6. Evaluate
Fase evaluasi model pembelajaran Learning Cycle 7E terdiri dari
evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Dan juga guru mendorong siswa
untuk memahami kekurangan/ kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran
7. Extend
Pada tahap ini bertujuan untuk berfikir, mencari menemukan dan
menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari. kegiatan ini
dapat merangsang siswa untuk mencari hubungan konsep yang mereka
pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari.
33
Menurut Wawan,dkk. (2011: 186) dalam model pembelajaran Learning
Cycle 7E memiliki kelebihan antara lain:
a. “Merangsang siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang
telah mereka dapatkan sebelumnya.
b. Memberikan motivasi kepada siswa untuk menjadi lebih aktif dan
menambah rasa ingin tahu siswa.
c. Melatih siswa belajar menemukan konsep melalui eksperimen.
d. Melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang telah
mereka pelajari
e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, mencari,
menemukan dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah
dipelajari”.
Dibalik kelebihan-kelebihan di atas, model pembelajaran learning cycle
memiliki beberapa kelemahan (Fajaroh dalam Herdiansya, 2010: 25)
sebagai berikut.
a. “Efektifitas guru rendah jika guru tidak menguasai materi dan langka-
langka pembelajaran.
b. Menuntut kesungguhan dan kreatifitas guru dalam merangsang dan
melaksanakan proses pembelajaran.
c. Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk menyusun
rencana dan pelaksanaan pembelajaran”.
Tujuh tahapan dalam Learning Cycle 7E memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengungkapkan gagasan-gagasan yang dimiliki siswa sebelum
pembelajaran, mengaitkan konten/materi dengan konteks nyata, menemukan
konsep,menerapkan konsep, bekerja sama dalam memecahkan masalah,
memindahkan, mengaitkan dan mengembangkan konsep-konsep yang telah
dipahami dalam konteks yang baru. Tujuan dari model pembelajaran 7E adalah
untuk menekankan pentingnya peningkatan pemahaman dengan memunculkan,
memperluas dan mentransfer konsep sebelumnya. Dengan model 7E, guru akan
terlibat dan siswa akan mengembangkan dan memperluas. Berdasarkan tahapan
34
dalam model pembelajaran bersiklus seperti yang telah dipaparkan, diharapkan
siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk
menggali, menganalisis, mengevaluasi pemahamannya terhadap konsep yang
dipelajari sehingga dalam penerapan model pembelajaran learning cycle 7E ini
hasil belajar siswa di kelas dapat meningkat secara bertahap.
2.2 Kerangka Berpikir
Belajar merupakan suatu proses aktif dimana siswa membangun
(mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman atau
pengetahuan yang sudah dimilikinya. Proses belajar terjadi melalui banyak cara,
baik disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan
menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Perubahan yang dimaksud
berupa perubahan perilaku tetap berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan.
dan kebiasaan yang baru diperoleh individu guna memperoleh hasil belajar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi
dalam diri individu yang berlangsung secara terus menerus dan tidak statis.
Mata Pelajaran penataan sanggul kreatif merupakan mata pelajaran yang
masuk dalam uji kompetensi siswa di SMKN 3 Bogor. Mata pelajaran penataan
sanggul kreatif ini mempelajari perbedaan sanggul tradisional dan kreatif, Alat
bahan dan kosmetika penataan sanggul kreatif, macam- macam sanggul kreatif,
Berbagai pola dan desain sanggul kreatif ,ornamen dan aksesoris penataan
sanggul kreatif.
35
Sedangkan model pembelajaran learning cycle (siklus belajar) merupakan
suatu model pembelajaran dengan berpusat pada siswa (student centered), siklus
belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan
konstruktivistik. Model pembelajaran yang akan di terapkan adalah model
pembelajaran learning cycle 7E yang terdiri 7 tahapan yaitu elicit, engage,
explore, explain, elaborate, evaluate, extend. Dengan model ini peserta didik akan
ikut serta dalam pembelajaran secara aktif secara berkelompok maupun mandiri,
sehingga siswa dapat lebih mudah memahami setiap materi penataan sanggul
tradisional dan kreatif, dengan meningkatnya pemahaman dan penguasaan materi
penataan sanggul kreatif melalui penerapan model pembelajaran Learning Cycle
7E, diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar kognitif, afektif, maupun
psikomotorik siswa.
Model Learning Cycle 7E pada penelitian ini dilaksanakan dengan
menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus atau
lebih. Pelaksanaan penelitian ini mengacu pada instrumen yang sudah disusun
pada tahap perencanaan berupa silabus dan RPP. Penyusunan RPP pada setiap
siklus mengacu pada hasil penelitian dari siklus sebelumnya.
Dalam penelitian ini, melibatkan peneliti sebagai pengamat (observer),
guru pelajaran sebagai pelaksana tindakan dan kolabolator. Berdasarkan uraian di
atas, maka kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai
berikut :
36
Model Hasil Belajar
Pembelajaran Penataan
Learning Cycle 7E Sangggul Kreatif
Hasil Belajar
Elicit Kognitif Penataan
Engage Afektif Sanggul
Eksplore Psikomotorik Kreatif
Explain Meningkat
Elaborate
Evaluate
Extend
Gambar 2.5 Kerangka Berpikir
2.3 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir, maka dapat diajukan
hipotesis tindakan sebagai berikut “Dengan menerapkan model pembelajaran
Learning Cycle 7E akan meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Penataan
Sanggul Kreatif pada siswa kelas XII jurusan Tata Kecantikan Rambut di
SMK Negeri 3 Bogor.