0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan28 halaman

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Diunggah oleh

1rwana44m4d
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan28 halaman

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Diunggah oleh

1rwana44m4d
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

9

BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERFIKIR DAN
HIPOTESIS TINDAKAN

2.1 Deskripsi Teoritis

2.1.1 Hakikat Hasil Belajar

Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja

dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau

pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan

perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak.

Menurut Susanto (2013: 4) belajar adalah Suatu aktivitas mental yang

berlangsung dalam interaksi aktif antara seseorang dengan lingkungan, dan

menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,

keterampilan, dan nilai sikap yang bersifat relatif konstan dan berbekas.

Berdasarkan pernyataan tersebut belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh

seseorang dengan lingkungannya yang akan menghasilkan perubahan baru, yang

sebelumnya tidak tahu menadi tahu dan yang tidak bisa menjadi bisa.

Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut :


1. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pebelajar.
2. Resposns si pebelajar.
3. konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut, pemerkuat terjadi
pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut.(Dimyati dan
Mudjiono 2009: 9)

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya

perubahan tingkah laku dalam dirinya. perubahan tingkah laku tersebut

menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), sikap (afektif),

9
10

dan keterampilan (psikomotorik). Peserta didik adalah subjek yang terlibat dalam

kegiatan belajar mengajar, dalam proses belajar tersebut, siswa menggunakan

kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Skinner berpandangan

bahwa belajar adalah suatu perilaku. Berdasarkan uraian tentang konsep belajar

diatas, dapat dipahami tentang makna hasil belajar, yaitu perubahan-perubahan

yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif,

psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Secara sederhana, yang dimaksud

dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah

melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari

seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku

yang relatif menetap.

Menurut Susanto (2013: 5) yang menyatakan bahwa Hasil belajar dapat

diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi

pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes

mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. hasil belajar adalah hasil yang

dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar

pada setiap akhir pembelajaran. Nilai yang diperoleh siswa menjadi acuan untuk

melihat penguasaan siswa dalam menerima materi pelajaran. Jadi dapat

disimpulkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan dan perubahan tingkah

laku siswa yang diperoleh setelah mendapatkan materi pelajaran yang diberikan

oleh guru dikelas, hasil yang dicapai berupa skor dalam bentuk angka. Untuk

mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang

dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi.


11

Hasil belajar telah tercapai apabila telah terpenuhi dua indikator berikut,
yaitu:
1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai
prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran instruksional khusus
telah dicapai oleh siswa baik secara individu maupun kelompok
(Susanto, 2013: 3).

Pencapaian hasil belajar dapat dilakukan dengan menggunakan tes agar

dapat mengukur tingkat keberhasilan peserta didik dalam menerima, memahami,

dan melaksanakan apa yang diajarkan, sehingga dapat mencapai prestasi tinggi.

Tes itu dapat berupa tes uraian dan tes objektif, keberhasilan pengajaran tidak

hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik, tetapi juga dari

segi prosesnya dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas.

Benyamin bloom membagi hasil belajar menjadi 3 ranah, yaitu :


1. Ranah Kognitif yaitu, berkenan dengan hasil belajar intelektual.
2. Ranah Afektif yaitu, berkenaan dengan hasil belajar sikap.
3. Ranah Psikomotorik yaitu, berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan dan kemampuan bertindak. (Sudjana, 2014: 22)

Hasil belajar merupakan perubahan yang mengakibatkan manusia berubah

dalam sikap dan tingkah lakunya. Perubahan perilaku hasil belajar itu merupakan

perubahan perilaku yang relevan dengan tujuan pengajaran. Menurut Purwanto

(2011 : 45) Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran

yang dikembangkan oleh bloom, simpson dan harrow mencakup aspek kognitif,

afektif, psikomotorik.
12

2.1.1.1 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar

Menurut teori Gestalt, belajar merupakan suatu proses perkembangan.

Artinya bahwa secara kodrati jiwa raga anak mengalami perkembangan.

Perkembangan sendiri memerlukan sesuatu baik berasal dari diri siswa sendiri

maupun pengaruh dari lingkungannya. Berdasarkan teori ini hasil belajar siswa

dipengaruhi oleh dua hal, siswa itu sendiri dan lingkungannya. Pertama, siswa;

dalam arti kemampuan berpikir atau tingkah laku intelektual, motivasi, minat, dan

kesiapan siswa, baik jasmani maupun rohani. Kedua, lingkungan; yaitu sarana dan

prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber-sumber belajar, metode serta

dukungan lingkungan, keluarga dan lingkungan. Menurut Susanto (2013: 12) hasil

belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai

faktor yang memengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal.

Secara perinci, uraian mengenai faktor internal dan eksternal, sebagai berikut :

1. Faktor internal

Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri

peserta didik, yang memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal

ini meliputi : kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan,

sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.

2. Faktor eksternal

Faktor eksternal berasal dari luar diri peserta didik yang

memengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, masyarakat. Keadaan

keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keluarga yang morat-

marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian orangtua


13

yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berperilaku

yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh

dalam hasil belajar peserta didik.

Selanjutnya, menurut Susanto (2013: 13) bahwa sekolah merupakan salah

satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar siswa. Semakin tinggi kemampuan

belajar siswa dan kualitas pengajaran di sekolah, maka semakin tinggi pula hasil

belajar siswa. Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa hasil belajar siswa

merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terlibat sejumlah faktor yang

saling memengaruhinya. Ruseffendi (1991: 7) mengidentifikasi faktor-faktor yang

memengaruhi hasil belajar ke dalam sepuluh macam, yaitu : kecerdasan, kesiapan

anak, bakat anak, kemauan belajar, minat anak, model penyajian materi, pribadi

dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru, dan kondisi masyarakat.

jadi tinggi rendahnya hasil belajar seseorang dipengaruhi oleh faktor-

faktor tersebut karena hasil belajar tidak akan dapat tercapai jika faktor-faktor itu

tidak ada. Menurut Susanto (2013: 15) bahwa hasil belajar yang dicapai oleh

siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dalam diri siswa dan faktor

yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor

kemampuan siswa besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. Kemampuan

itu bisa berupa pengetahuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran dan

menjawab soal tes yang diberikan oleh guru.


14

2.1.1.2 Hasil Belajar Mata Pelajaran Penataan Sanggul Kreatif

Hasil belajar mata pelajaran penataan sanggul kreatif di SMK Negeri 3

bogor menyangkut dalam aspek kognitif , hasil belajar kognitif adalah perubahan

perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi. meliputi : pengetahuan pada materi

penataan sanggul kreatif. Menurut Purwanto (2011: 50) bloom membagi dan

menyusun secara hirakhis tingkat hasil belajar kognitif mulai dari yang paling

rendah dan sederhana. Enam tingkat itu adalah hafalan (C1), pemahaman (C2),

penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6). Aspek afektif

berkenaan dengan sikap dan nilai, tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa

dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin,

motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan

hubungan sosial. Pada pembelajaran penataan sanggul kreatif, dapat di lihat dari

bagaimana sikap dan kedisiplinan siswa dalam menerima materi yang dijelaskan

oleh guru. Sedangakan aspek psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan

(skill) dan kemampuan bertindak individu, dapat di lihat ketika siswa

melaksanakan kegiatan praktik di kelas yaitu pada saat menata sanggul kreatif.

Hasil belajar afektif dan psikomotorik sifatnya lebih luas, lebih sulit dipantau

namun memiliki nilai yang sangat berarti bagi kehidupan siswa karena dapat

secara langsung mempengaruhi perilakunya. Ketiga ranah tersebut menjadi objek

penilaian hasil belajar. Menurut Sudjana (2014: 3) Penilaian hasil belajar adalah

proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan

kriteria tertentu. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah

laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup
15

ketiga ranah tersebut. Oleh sebab itu, penilaian hasil belajar peranan tujuan

instruksional yang berisi rumusan kemampuan dan tingkah laku yang diinginkan

dikuasai siswa menjadi unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian.

Penataan sanggul tradisional kreatif merupakan mata pelajaran yang ada di

Sekolah Menengah Kejuruan jurusan kecantikan rambut, mata pelajaran ini

diajarkan pada kelas XII. Pelaksanaan pembelajaran di kelas berupa teori dan

praktek, biasanya pada pertemuan awal guru mengajar teori terlebih dahulu

setelah itu mengajar praktik. Mata pelajaran penataan sanggul kreatif ini

mempelajari perbedaan sanggul kreatif, alat bahan dan kosmetika penataan

sanggul, Berbagai pola dan desain sanggul kreatif , Teknik dan bentuk penataan

sanggul kreatif, ornamen dan assesoris penataan sanggul kreatif. Sanggul kreatif

ini terdiri dari 3 macam yaitu sanggul up style, sanggul evening style dan sanggul

gala style.

 Pengertian Penataan

Penataan adalah tindakan memperindah bentuk rambut sebagai tahap akhir

proses penataan rambut dalam arti yang luas. Pada umumnya tindakan

tersebut dapat berupa penyisiran,blow dryng, penyanggulan dan penempatan

berbagai hiasan rambut baik secara sendiri-sendiri maupun sebagai satu

keseluruhan.

 Faktor yang Mempengaruhi Penataan

Faktor Internal

Faktor Perwujudan Fisik

Faktor Pendidikan
16

Faktor Penghargaan Seni

Faktor Kepribadian

 Tipe Penataan

Penataan Pagi dan siang hari

Penataan pagi dan siang hari atau day style merupakan tata rambut

yang dibuat untuk digunakan sewaktu pagi maupun siang hari. Baik

untuk bekerja di kantor maupun untuk menghadiri berbagai pertemuan

yang bersifat resmi.

Penataan Cocktail

Penataan cocktail adalah penataan yang digunakan pada

kesempatan resmi pada sore hari. Bentuknya sedikit lebih meriah

daripada penataan pagi, tetapi lebih sederhana daripada penataan malam

hari.

Penataan Sanggul Evening Style

Penataan malam hari atau Evening Style adalah penataan yang

dibuat untuk digunakan pada sore dan malam hari, pada umumnya pada

kesempatan yang lebih bersifat resmi. Bentuknya Biasanya lebih Rumit.

Penggunaan warna warni dan hiasan rambut juga lebih bebas, tetapi masih

dalam batas-batas rasa keindahan dan kepantasan masyarakat setempat.

Penataan Sanggul Gala Style

Penataan gala atau gala style adalah sanggul yang desainnya rumit

bentuknya bisa kepang, pilin, sasak, bukle. Dalam satu desain sanggul

dapat juga ditambahkan hairpiece berwarna dan aksesoris yang mewah.


17

Posisi sanggulnya dapat menjulang di puncak kepala, dapat juga

menjuntai ke bawah. Sanggul gala biasanya digunakan pada saat acara

pesta atau acara lunching produk iklan, bentuk desainnya sesuai dengan

tema acara.

Penataan Fantasi

Penataan fantasi atau fantasy style merupakan penataan yang lebih

menampilkan kreasi dengan tujuan mempercantik modelnya melalui tata

rambutnya. Sanggul fantasi biasanya digunakan pada saat acara fashion

show, bentuk desainnya sesuai dengan tema acara.

Materi yang akan di bahas pada penelitian ini adalah penataan sanggul

evening style dan penataan sanggul gala style. Dibawah ini merupakan

contoh gambar dari sanggul evening style dan sanggul gala style :

Gambar 2.1 Sanggul Evening style


Sumber : dokumentasi peneliti
18

Gambar 2.2 Sanggul gala style


Sumber : Dokumentasi peneliti

 Pola dalam Penataan

Dalam mode tata rambut senantiasa akan berubah dan berganti,

tetapi bagi suatu penataan tidak pernah dapat menyimpang dari 5 pola

penataan yaitu sebagai berikut :

Pola Simetris

Pentaan Simetris adalah penataan yang memberi kesan seimbang

pada model yang bersangkutan. Penataan simetris sudah digemari sejak

zaman mesir purba dan terutama oleh bangsa yunani.

Pola Asimetris

Penataan asimetris banyak dibuat dengan tujuan memberi kesan

dinamis bagisuatu disain tata rambut. Penataan asimetris ini akan

menciptakan ketidakseimbangan.
19

Pola Puncak

Penataan puncak menitikberatkan pembuatan kreasi tata rambut di

daerah ubun-ubun (Parietal).

Pola Belakang

Penataan belakang yaitu penataan rambut di bagian bagian

belakang kepala. Pola penataan belakang akan sangat memudahkan

penataan rambut panjang.

Pola Depan

Penataan depan yaitu penataan rambut di daerah dahi, pola

penataan depan memberi kesan anggun dan gerak alamiah bagi suatu

kreasi dalam satu keseluruhan.

Tabel 2.1 Alat dan Bahan untuk Menata Sanggul Kreatif

NO Nama Alat Fungsi Keterangan Gambar

1 Sisir sasak Menyasak rambut

2 Sisir ekor Membantu membuat


parting
20

3 Sisir penghalus Menghaluskan rambut

4 Jepit lidi Untuk menjepit dan


merapikan rambut

5 Jepit bebek Untuk menjepit rambut

6 Jepit pinkel Untuk menjepit rambut

7 Hair spray Merapikan dan


mempertahankan bentuk
rambut

8 harnet Membungkus rambut


agar terlihat rapi

9 Roll set Menata rambut agar


mudah di sasak
21

10 Setting lotion Mempermudah saat


pratata rambut

11 Hair dryer Mengeringkan pratata

12 Lungsen Rambut tambahan untuk


membuat bukle

15 aksesoris Untuk menghias sanggul

. Pada saat menata sanggul kreatif, harus sesuai dengan kondisi rambut dan

bentuk wajah pelanggan dan kesempatan yang akan di kunjungi. Secara prinsip

sanggul ini tetap menganut prinsip yang berlaku dari suatu desain yang dikenal

selama ini, seperti: adanya keseimbangan antara bentuk sanggul dengan besarnya

kepala, keharmonisan, irama, bentuk dari sanggul, dan penambahan-penambahan

ornamen/hiasan dari sanggul. Untuk itu sangat dibutuhkan tertib kerja yang jelas

sesuai dengan prosedur kerja yang akan dilakukan, pemakaian peralatan dan

pemilihan kosmetika perlu diperhatikan serta peraturan kesehatan dan


22

keselamatan kerja. Misalnya dalam pemasangan tusuk konde, jepitan dan

sebagainya. Jangan sampai melukai kulit kepala pelanggan.

2.1.1 Hakikat Model Pembelajaran Learning Cycle

2.1.2.1 Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang

digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau

pembelajaran dalam tutorial. Arends (1997: 7), mengemukakan bahwa model

pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan,

termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan

pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

“Model pembelajaran adalah suatu suatu perencanaan atau suatu pola


yang di pergunakan sebagai dalam merencanakan pembelajaran di kelas
atau pembelajaran tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat
pembelajaran seperti buku-buku, film, computer, kurikuler, dan lain-
lain. Hal ini Menunjukkan bahwa setiap model yang akan di
gunakan dalam pembelajaran menentukan perangkat yang dipakai dalam
pembelajaran tersebut”. (Trianto, 2012 : 53)

Untuk pemilihan model ini sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang

akan diajarkan, juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran

tersebut dan tingkat kemampuan peserta didik. setiap model pembelajaran selalu

mempunyai tahap-tahap (sintaks). Menurut Trianto (2010: 75) Sintaks (pola

urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan

alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian

kegiatan pembelajaran. sintaks (pola urutan) dari suatu model menunjukkan

dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa.
23

istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi,

metode, atau prosedur.

“Pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dimiliki oleh


strategi, metode, prosedur. ciri ciri tersebut ialah : (1) rasional teoritis logis
yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya ; (2) landasan
pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran
yang akan dicapai); (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar
model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; (4) lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai”.
( Trianto, 2012: 55)

Berdasarkan pernyataan tersebut dikatakan bahwa model pembelajaran

mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi , metode, dan prosedur.

karena model pembelajaran merupakan suatu perencanaan yang didalamnya sudah

ada strategi, metode dan prosedur yang akan digunakan pada saat kegiatan

pembelajaran di kelas. Fungsi model pembelajaran di sini adalah sebagai pedoman

bagi perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Menurut johnsson (dalam samani,2000), untuk mengetahui kualitas model

pembelajaran harus dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan produk.

Aspek proses mengacu apakah pembelajaran mampu menciptakan situasi

belajar yang menyenangkan serta mendorong siswa untuk aktif belajar dan

berpikir kreatif. Aspek produk mengacu apakah pembelajaran mampu menvapai

tujuan, yaitu meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan standar kemampuan

atau kompetensi yang ditentukan. Dalam hal ini sebelum melihat hasilnya,

terlebih dahulu aspek proses sudah dapat dipastikan berlangsung baik. jadi model

pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar sejak awal sampai

akhir dan disajikan secara khas oleh guru. Menurut Ahmadi,dkk. (2011: 7) apabila
24

antara pendekatan, strategi, metode, teknik bahkan taktik pembelajaran sudah

terangkai menjadi satu kesatuan utuh, maka terbentuklah model pembelajaran.

2.1.2.2. Model Pembelajaran Learning Cycle

Pembelajaran siklus (learning cycle) merupakan salah satu model

pembelajaran dengan pendekatan konstuktivistik.

“Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses


pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa.
Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan
memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling
menentukan terwujudnya gejala belajar dalah niat belajar siswa itu sendiri.
Sementara peranan guru dalam belajar konstruktivistik berperan
membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan pleh siswa berjalan
lancar. guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimiliknya,
melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri
dan dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa
dalam belajar”. (Siregar, dkk., 2007: 37)

Menurut Yamin (2012: 10) Pembelajaran konstruktivistik adalah

pembelajaran berpusat pada peserta didik (student oriented), guru sebagai

mediator, fasilitator, dan sumber belajar dalam pembelajaran. Guru mengemban

tugas utamanya adalah membangun dan membimbing peserta didik untuk belajar

serta mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

(berdasarkan kompetensi). Di dalam tugasnya seseorang guru diharapkan dapat

membantu peserta didik dalam memberi pengalaman-pengalaman baru untuk

membentuk kehidupan sebagai individu yang dapat hidup mandiri di tengah-

tengah masyarakat modern.


25

“Peranan guru pada pendekatan konstruktivistik ini lebih sebagai mediator


dan fasilitator bagi siswa. peranan tersebut meliputi :
1. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa
bertanggung jawab, mengajar atau berceramah bukanlah tugas utama
seorang guru.
2. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang
keinginantahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan
gagasannya.
3. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa
berjalan atau tidak”. (Siregar, dkk., 2007: 38)
Dalam sarana belajar, pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa

peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam

mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, melalui : bahan, media, peralatan,

lingkungan, dan fasilitas lainnya yang disediakan untuk membantu pembentukkan

tersebut.

Model pembelajaran siklus (leaning cycle) pertama kali diperkenalkan

oleh Robert Karplus dalam Science science curriculum improvement study/SCIS

(Trowbridge & Bybee,1996) lerning cycle (siklus belajar) merupakan suatu model

pembelajaran dengan berpusat pada siswa (student centered), siklus belajar

merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik

yang pada mulanya terdiri atas 3 tahap, yaitu :

a. Eksplorasi (exploration),

b. Pengenalan konsep (concept introduction),dan

c. Penerapan konsep (concept application).

Pada proses selanjutnya, tiga tahap siklus tersebut mengalami

pengembangan. Menurut Wena (2014: 171) tiga siklus tersebut saat ini di

kembangkan menjadi 5 tahap (Lorsbach,2002) yang terdiri atas tahap (a)


26

pembangkitan minat (engagement), (b) eksplorasi (exploration), (c) penjelasan

(explanation), (d) elaborasi (elaboration)/extention), dan (e) evaluasi (evaluation).

1. Tahap Pembelajaran

a. Pembangkitan Minat (Engagement)

Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus

belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan

mengembangkan minat dan keingintahuan (curiosity) siswa tentang topik

yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan

pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang

berhubungan dengan topik bahasan). Dengan demikian, siswa akan

memberikan respons/jawaban. Dalam hal ini guru harus membangun

keterkaitan /perikatan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik

pembelajaran yang akan dibahas.

b. Eksplorasi (Exploration)

Eksplorasi merupakan tahap kedua model siklus belajar. tahap ini

guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan

tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah

benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah,sebagian benar.

c. Penjelasan (Explanation)

Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap

penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu


27

konsep dengan kalimat/pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi

atas penjelasan siswa.

d. Elaborasi (Elaboration/Extention)

Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap

elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari

dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian, siswa

akan dapat belajar secara bermakna, karena telah

menerapkan/mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam

situasi baru. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka

motivasi belajar siswa akan meningkat.

e. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap

evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa

dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri

dengan mengajukan pertanyaan terbuka mencari jawaban yang

menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya.

Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang

proses penerapan metode siklus belajar yang sedang diterapkan.

Menurut Wena (2014: 172) perbedaan mendasar antara model

pembelajaran siklus belajar dengan pembelajaran konvensional adalah guru lebih

banyak bertanya daripada memberi tahu. Misalnya, pada waktu akan melakukan

eksperimen terhadap suatu permasalahan, guru tidak memberi petunjuk langkah-

langkah yang harus dilakukan siswa, tetapi guru mengajukan pertanyaan penuntun
28

tentang apa yang dilakukan siswa, apa alasan siswa merencanakan atau

memutuskan perlakuan yang demikian. Dengan demikian, kemampuan analisis,

evaluatif, dan argumentatif siswa dapat berkembang dan meningkat secara

signifikan.

2. Penerapan di Kelas

Secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran

dapat dijabarkan sebagai berikut :

Tabel 2.2 Tahapan Siklus Belajar

No. Tahap Siklus Belajar Kegiatan Guru Kegiatan Siswa


1. Tahap Pembangkitan Membangkitkan minat Mengembangkan
Minat dan keingintahuan minat/rasa ingin tahu
(curiosity) siswa. terhadap topik
bahasan.
2. Tahap Eksplorasi Membentuk Membentuk
kelompok,memberi kelompok dan
kesempatan untuk bekerja berusaha bekerja
sama Dalam kelompok dalam kelompok.
kecil secara mandiri.
Meminta bukti dan Menunjukkan bukti
klarifikasi penjelasan dan member
siswa, mendengar secara klarifikasi terhadap
kritis penjelasan siswa. ide-ide baru.
Memberi definisi dan Mencermati dan
penjelasan dengan berusaha memahami
memakai penjelasan siswa penjelasan guru.
terdahulu sebagai dasar
diskusi.
3. Tahap Penjelasan Mendorong siswa untuk Mencoba memberi
menjelaskan konsep penjelasan terhadap
dengan kalimat mereka konsep yang
sendiri. ditentukan.
Mendengar secara kritis Melakukan
penjelasan antarsiswa atau pembuktian terhadap
guru. konsep yang
diajukan
29

4. Tahap Elaborasi Mengingatkan siswa pada Menerapkan konsep


penjelasan alternatif dan dan keterampilan
mempertimbangkan data. dalam situasi baru.
Mendorong dan Bertanya,
memfasilitasi siswa mengusulkan
mengaplikasi konsep/atau pemecahan,membuat
keterampilan dalam keputusan,melakukan
setting yang baru/lain. percobaan,dan
pengamatan.
5. Tahap Evaluasi Mendorong siswa Melihat dan
memahami kekurangan/ menganalisis
kelebihannya dalam kekurangan
kegiatan pembelajaran. /kelebihannya dalam
kegiatan
pembelajaran.
Sumber : Made Wena (2014 : 176)

Adapun gambar tahapan model pembelajaran learning cycle 5 E yaitu :

5 1

Tahap Evaluasi Tahap pembangkitan


minat

4 2
Tahap Elaborasi Tahap Eksplorasi

Tahap Penjelasan

Gambar 2.3 Model pembelajaran siklus


Sumber : made wena (2014 : 176)
30

3. Pengembangan Model pembelajaran Learning Cycle 5E Menjadi


7E

Pada saat ini model pembelajaran siklus 5E berjalan dengan sangat sukses

. Adanya Penelitian tentang bagaimana orang belajar , penggabungan penelitian

ke dalam rencana pembelajaran dan pengembangan kurikulum menuntut model

5E untuk diperluas ke model 7E. Eisenkraft (2003: 57) mengembangkan learning

cycle menjadi 7 tahapan. Perubahan yang terjadi pada tahapan siklus belajar 5E

menjadi 7E terjadi pada fase engagement menjadi 2 tahapan yaitu elicit

(memunculkan) dan engage (ikut serta), sedangkan pada tahapan Elaborate dan

Evaluate menjadi 3 tahapan yaitu menjadi elaborate, evaluate dan extend.

Penelitian terkini dalam ilmu kognitif telah menunjukkan bahwa

pemahaman sebelumnya adalah komponen yang penting pada proses

pembelajaran (Bransford, Brown, and Cocking 2000). Dalam memunculkan

pemahaman sebelumnya guru bertanya kepada peserta didik mengenai materi

pembelajaran yang sudah mereka pahami sebelumnya yang berkaitan dengan

kehidupan sehari-hari, sehingga peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan

mereka tanpa guru menjelaskan lagi.

Transisi dari model 5E menjadi model 7E diilustrasikan pada Gambar 2.2 yaitu :
31

5E → 7E

Elicit
Engage
Engage
Explore Explore
Explain Explain
Elaborate Elaborate
Evaluate
Evaluate
Extend

Gambar 2.4 Siklus Pembelajaran dan Model Instruksi 7E yang dikembangkan

Sumber : Copyright 2003. The Science Teacher. Diterbitkan oleh the National Science Teachers
Association, 1840 Wilson Blvd., Arlington, VA 22201-3000.

7 tahapan model pembelajaran Learning cycle yang di kembangkan oleh

Eisenkraft yaitu :

1. Elicit (Memunculkan Pemahaman Sebelumnya)

Pada fase ini, guru berusaha menimbulkan atau mendatangkan

pengetahuan siswa mengenai materi sebelumya Penelitian terkini dalam

ilmu kognitif telah menunjukkan bahwa memunculkan pengetahuan

sebelumnya komponen penting dari proses pembelajaran.

2. Engage

Pada fase ini guru memfokuskan perhatian siswa, merangsang

kemampuan berpikir serta membangkitkan minat dan motivasi siswa

terhadap konsep yang akan diajarkan


32

3. Explore

Pada fase ini siswa memperoleh pengetahuan dengan pengalaman

langsung yang berhubungan dengan konsep yang akan dipelajari. Guru

memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengamati, merekam data,

mengisolasi variabel, mendesain dan merencanakan percobaan, membuat

grafik, menginterpretasikan hasil, mengembangkan hipotesis.

4. Explain

Pada fase ini siswa diperkenalkan pada konsep, hukum dan teori

baru, Siswa menyimpulkan dan mengemukakan hasil dari temuannya

pada fase explore.

5. Elaborate

Pada fase ini bertujuan untuk membawa siswa menerapkan simbol,

definisi, konsep, dan keterampilan pada permasalahan yang berkaitan

dengan contoh dari pelajaran yang dipelajari.

6. Evaluate

Fase evaluasi model pembelajaran Learning Cycle 7E terdiri dari

evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Dan juga guru mendorong siswa

untuk memahami kekurangan/ kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran

7. Extend

Pada tahap ini bertujuan untuk berfikir, mencari menemukan dan

menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari. kegiatan ini

dapat merangsang siswa untuk mencari hubungan konsep yang mereka

pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari.
33

Menurut Wawan,dkk. (2011: 186) dalam model pembelajaran Learning

Cycle 7E memiliki kelebihan antara lain:

a. “Merangsang siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang


telah mereka dapatkan sebelumnya.
b. Memberikan motivasi kepada siswa untuk menjadi lebih aktif dan
menambah rasa ingin tahu siswa.
c. Melatih siswa belajar menemukan konsep melalui eksperimen.
d. Melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang telah
mereka pelajari
e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, mencari,
menemukan dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah
dipelajari”.

Dibalik kelebihan-kelebihan di atas, model pembelajaran learning cycle

memiliki beberapa kelemahan (Fajaroh dalam Herdiansya, 2010: 25)

sebagai berikut.

a. “Efektifitas guru rendah jika guru tidak menguasai materi dan langka-
langka pembelajaran.
b. Menuntut kesungguhan dan kreatifitas guru dalam merangsang dan
melaksanakan proses pembelajaran.
c. Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk menyusun
rencana dan pelaksanaan pembelajaran”.

Tujuh tahapan dalam Learning Cycle 7E memberi kesempatan kepada

siswa untuk mengungkapkan gagasan-gagasan yang dimiliki siswa sebelum

pembelajaran, mengaitkan konten/materi dengan konteks nyata, menemukan

konsep,menerapkan konsep, bekerja sama dalam memecahkan masalah,

memindahkan, mengaitkan dan mengembangkan konsep-konsep yang telah

dipahami dalam konteks yang baru. Tujuan dari model pembelajaran 7E adalah

untuk menekankan pentingnya peningkatan pemahaman dengan memunculkan,

memperluas dan mentransfer konsep sebelumnya. Dengan model 7E, guru akan

terlibat dan siswa akan mengembangkan dan memperluas. Berdasarkan tahapan


34

dalam model pembelajaran bersiklus seperti yang telah dipaparkan, diharapkan

siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk

menggali, menganalisis, mengevaluasi pemahamannya terhadap konsep yang

dipelajari sehingga dalam penerapan model pembelajaran learning cycle 7E ini

hasil belajar siswa di kelas dapat meningkat secara bertahap.

2.2 Kerangka Berpikir

Belajar merupakan suatu proses aktif dimana siswa membangun

(mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman atau

pengetahuan yang sudah dimilikinya. Proses belajar terjadi melalui banyak cara,

baik disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan

menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Perubahan yang dimaksud

berupa perubahan perilaku tetap berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan.

dan kebiasaan yang baru diperoleh individu guna memperoleh hasil belajar.

Sehingga dapat dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi

dalam diri individu yang berlangsung secara terus menerus dan tidak statis.

Mata Pelajaran penataan sanggul kreatif merupakan mata pelajaran yang

masuk dalam uji kompetensi siswa di SMKN 3 Bogor. Mata pelajaran penataan

sanggul kreatif ini mempelajari perbedaan sanggul tradisional dan kreatif, Alat

bahan dan kosmetika penataan sanggul kreatif, macam- macam sanggul kreatif,

Berbagai pola dan desain sanggul kreatif ,ornamen dan aksesoris penataan

sanggul kreatif.
35

Sedangkan model pembelajaran learning cycle (siklus belajar) merupakan

suatu model pembelajaran dengan berpusat pada siswa (student centered), siklus

belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan

konstruktivistik. Model pembelajaran yang akan di terapkan adalah model

pembelajaran learning cycle 7E yang terdiri 7 tahapan yaitu elicit, engage,

explore, explain, elaborate, evaluate, extend. Dengan model ini peserta didik akan

ikut serta dalam pembelajaran secara aktif secara berkelompok maupun mandiri,

sehingga siswa dapat lebih mudah memahami setiap materi penataan sanggul

tradisional dan kreatif, dengan meningkatnya pemahaman dan penguasaan materi

penataan sanggul kreatif melalui penerapan model pembelajaran Learning Cycle

7E, diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar kognitif, afektif, maupun

psikomotorik siswa.

Model Learning Cycle 7E pada penelitian ini dilaksanakan dengan

menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus atau

lebih. Pelaksanaan penelitian ini mengacu pada instrumen yang sudah disusun

pada tahap perencanaan berupa silabus dan RPP. Penyusunan RPP pada setiap

siklus mengacu pada hasil penelitian dari siklus sebelumnya.

Dalam penelitian ini, melibatkan peneliti sebagai pengamat (observer),

guru pelajaran sebagai pelaksana tindakan dan kolabolator. Berdasarkan uraian di

atas, maka kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai

berikut :
36

Model Hasil Belajar


Pembelajaran Penataan
Learning Cycle 7E Sangggul Kreatif
Hasil Belajar
Elicit Kognitif Penataan
Engage Afektif Sanggul
Eksplore Psikomotorik Kreatif
Explain Meningkat
Elaborate
Evaluate
Extend

Gambar 2.5 Kerangka Berpikir

2.3 Hipotesis Tindakan

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir, maka dapat diajukan

hipotesis tindakan sebagai berikut “Dengan menerapkan model pembelajaran

Learning Cycle 7E akan meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Penataan

Sanggul Kreatif pada siswa kelas XII jurusan Tata Kecantikan Rambut di

SMK Negeri 3 Bogor.

Anda mungkin juga menyukai