0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
782 tayangan30 halaman

Diskusi 3 Sudah Dijawab

Diunggah oleh

Imam Ashari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
782 tayangan30 halaman

Diskusi 3 Sudah Dijawab

Diunggah oleh

Imam Ashari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Diskusi.

3
Jatuh tempo: Minggu, 5 Mei 2024, 23:59
Selesai: Buat kiriman forum: 1
Setelan
Mode tampilan Tampilkan tanggapan secara secara flat, dari yang terlama Tampilkan tanggapan secara secara flat, dari yang terbaru Tampilkan tanggapan dalam bentuk
untaian menampilkan balasan dalam bentuk bertingkat

Diskusi.3
Kamis, 14 Maret 2024, 21:59
Jumlah balasan: 21

Salaam

Tindak pidana hak asasi manusia terdiri dari kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusian. Sedangkan tindak pidana terorisme merupakan tindakan yang
dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Kemudian tindak pidana penerbangan berkaitan dengan penerbangan meliputi wilayah udara, pesawat udara, bandar
udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta keselamatan dan keamanan.

Sehubungan dengan itu:

1. Berikan analisis mengenai pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 !

2. Berikan ulasan mengenai karakterakteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus dan analisis mengenai
pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610?

Selamat mengerjakan, semangat dan jaga kesehatan

Tautan permanenBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh EDI SAPUTRA 042397708 - Senin, 22 April 2024, 14:47

1. Analisis Pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap UU No. 39 Tahun 1999 dan UU No. 26 Tahun 2000
Statuta Roma 1998 merupakan perjanjian internasional yang mendirikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk mengadili kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan
kejahatan perang. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Ratifikasi Persetujuan Pendirian Mahkamah Pidana Internasional dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengesahan Undang-Undang
Perjanjian Internasional tentang Kejahatan terhadap Kemanusiaan memiliki hubungan erat dengan Statuta Roma.

Pengaruh Statuta Roma terhadap kedua UU tersebut:

 Memberikan dasar hukum bagi Indonesia untuk meratifikasi Statuta Roma dan menjadi negara anggota ICC.
 Mengatur tentang kewajiban Indonesia untuk bekerja sama dengan ICC dalam proses penyelidikan dan penuntutan.
 Menentukan jenis-jenis kejahatan yang termasuk dalam yurisdiksi ICC.
 Memberikan perlindungan bagi saksi dan korban kejahatan yang diadili oleh ICC.

Meskipun Indonesia belum meratifikasi Statuta Roma, namun kedua UU tersebut menunjukkan komitmen Indonesia untuk memberantas kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan,
dan kejahatan perang.

Perlu dicatat bahwa:

 ICC hanya memiliki yurisdiksi atas kejahatan yang dilakukan di wilayah negara anggota atau oleh warga negara negara anggota.
 Indonesia memiliki sistem peradilan pidananya sendiri untuk mengadili kejahatan-kejahatan tersebut.
 Ratifikasi Statuta Roma oleh Indonesia akan memberikan ICC yurisdiksi atas kejahatan yang dilakukan di wilayah Indonesia atau oleh warga negara Indonesia.

Kesimpulan:

Statuta Roma 1998 telah memberikan pengaruh significant terhadap UU No. 39 Tahun 1999 dan UU No. 26 Tahun 2000. Kedua UU tersebut menunjukkan komitmen Indonesia untuk
memberantas kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. Ratifikasi Statuta Roma oleh Indonesia akan memperkuat upaya global untuk memerangi kejahatan-
kejahatan tersebut.

2. Karakteristik Khusus Tindak Pidana dalam Penerbangan dan Pertanggungjawaban Pidana Lion Air dalam Kasus JT-610

Karakteristik khusus tindak pidana dalam penerbangan:

 Terjadi di wilayah udara yang memiliki aturan hukum tersendiri.


 Melibatkan pesawat terbang dan penumpangnya yang berasal dari berbagai negara.
 Memiliki konsekuensi yang fatal bagi keselamatan jiwa manusia dan harta benda.
 Memerlukan keahlian khusus dalam proses penyidikan dan penuntutan.

Oleh karena itu, tindak pidana dalam penerbangan dikategorikan sebagai tindak pidana khusus.

Pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610:

 Lion Air dapat dipertanggungjawabkan secara pidana jika terbukti lalai dalam menjalankan kewajiban keselamatan penerbangan.
 Kewajiban keselamatan penerbangan tersebut meliputi:
o Pemeliharaan pesawat terbang.
o Pelatihan pilot dan kru pesawat.
o Pemeriksaan kelayakan terbang pesawat.
o Penyediaan prosedur keselamatan penerbangan yang memadai.
 Penentuan kelalaian Lion Air harus dilakukan melalui proses penyidikan dan penuntutan yang komprehensif.
 Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kelalaian Lion Air:
o Penyebab kecelakaan.
o Upaya yang dilakukan Lion Air untuk mencegah kecelakaan.
o Kerugian yang ditimbulkan akibat kecelakaan.

Kasus kecelakaan JT-610 masih dalam proses penyidikan. Oleh karena itu, belum ada kesimpulan definitif mengenai apakah Lion Air terbukti lalai dan dapat dipertanggungjawabkan
secara pidana.

Sumber Referensi:

 https://www.icc-cpi.int/sites/default/files/RS-Eng.pdf
 https://jdih.kemnaker.go.id/asset/data_puu/peraturan_file_20.pdf
 https://tbinternet.ohchr.org/_layouts/15/TreatyBodyExternal/TBSearch.aspx?
Lang=ch&TreatyID=8&DocTypeID=17&ctl00_PlaceHolderMain_radResultsGridChangePage=37_20&ctl00_ContentPlaceHolder1_radResultsGridChangePage=182
 https://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/28862/undangundang-nomor-1-tahun-2009/
 https://www.bbc.co.uk/news/world-asia-46014260

Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan EDI SAPUTRA 042397708

Re: Diskusi.3
oleh ANDI RAHMAN SAPUTRA 043399141 - Senin, 22 April 2024, 20:10
tes
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama


Re: Diskusi.3
oleh R.ERNEST HEMINGWAY PATTON 042230901 - Senin, 22 April 2024, 20:05
1.Statuta Roma dapat dipakai sebagai acuan tentang pelanggaran HAM Berat, namun seharusnya bukan satu-satunya acuan. Sebab, Statuta Roma memang membatasi yurisdiksinya untuk kejahatan perang
tertentu yang disebut sebagai extra ordinary crimes. Padahal, jika mengacu pada Konvensi Jenewa dan Optional Protocolnya, ada kejahatan lain (breaches) yang tidak dikategorikan sebagai pelanggaran berat
(grave breaches) namun tetap sebagai larangan (prohibit) yang tidak boleh diabaikan oleh pihak yang bersengketa.

Sebagai Negara yang sudah mengaksesi Konvensi Jenewa maka Indonesia pun perlu memasukkan larangan-larangan lain yang juga dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa.
Berhubungan dengan poin di atas, maka R KUHP kemudian menjadi rancu merumuskan siapa yang perlu ditindak dalam kejahatan perang. Istilah “setiap orang” berbeda dengan konteks Konvensi Jenewa
yang membatasinya dengan “pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.”

Dalam naskah tahun 2015 bahkan R KUHP menghilangkan seluruh ketentuan tinda pidana dalam masa perang atau damai termasuk Rancangan KUHP menghilangkan seluruh pengaturan pelanggaran berat
Konvensi Jenewa dan pelanggaran serius terhadap hukum dan kebiasaan perang, sehingga akan banyak prinsip perlindungan terhadap korban perang diabaikan oleh R KUHP.

2.1. Bentuk-bentuk perbuatan yang dapat diketegorikan sebagai tindak pidana di dalam pesawat udara selama penerbangan yakni melakukan perbuatan asusila, melanggar ketertiban dan ketentraman dalam
penerbangan, mengambil atau merusak peralatan pesawat udara dan mengoperasikan peralatan elektronika yang mengganggu navigasi penerbangan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan
penerbangan, Perbuatan-perbuatan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana
2. Sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana di dalam pesawat udara selama penerbangan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan dipidana dengan pidana penjara atau pidana denda
sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan. Sanksi pidana penjara yang diberlakukan mulai dari paling singkat 1 tahun dan paling lama 15 tahun penjara dan Pidana denda paling sedikit Rp100.000.000,00
(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh ANDI RAHMAN SAPUTRA 043399141 - Senin, 22 April 2024, 20:07
selamat malam Ibu Dosen

izin menjawab diskusi diatas

Nama : andi Rahman Saputra


NIM : 043399141

1. Berikan analisis mengenai pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 !

2. Berikan ulasan mengenai karakterakteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus dan analisis mengenai pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam
kasus kecelakaan JT-610?

Jawabnya :

1.menyatakan Statuta Roma sebenarnya merupakan bagian dari hukum kejahatan internasional (international criminal law) dan bukan hukum HAM. Sementara Nasution dan Zen (2006) memasukkan Statuta
Roma sebagai bagian dari instrumen internasional pokok HAM. Terlepas dari kontroversi tersebut, prinsip dan prosedur penghukuman di dalam Statuta Roma memberikan jaminan bahwa pelanggaran berat
HAM dapat dihukum melalui mekanisme tersebut.

Statuta tersebut, dengan demikian, mestinya menjadi inspirasi bagi penghukuman pelaku pelanggaran berat HAM di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hukum formil penegakan HAM di negara-negara
akan memberikan energi bagi perang melawan impunitas. Sebaliknya, kemandulannya ikut memberikan kontribusi bagi langgengnya impunitas.

Bahwa keberadaan UU No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM merupakan reaksi terhadap dunia internasional yang ingin mengadili mereka yang dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di
Timor Timur pasca jejak pendapat jelas tak dapat dipungkiri oleh siapapun. Sementara secara positif harus dikatakan bahwa keberadaan UU tersebut patut diapresiaasi sebagai bukti bahwa Bangsa Indonesia
berkehendak baik (goog will) untuk menyelesaikan sendiri dugaan pelanggaran HAM melalui pengadilan HAM nasional

kesimpulan nya
Reformasi sistem hukum pengadilan HAM nasional merupakan keniscayaan di tengah dua lingkungan; menguatnya komitmen komunitas internasional dan semakin tingginya potensi pelanggaran HAM dalam
konteks politik Global yang ditandai dengan crisis of value dan crisis of state government
(Khan, 2005). Selain itu reformasi tersebut perlu dilakukan untuk mereduksi impunitas yang terus berlangsung. Ungkapan klasik “impunitas semper addeteriora invitat” (impunitas mengundang kejahatan yang
lebih besar) merupakan warning akan bahaya impunitas.

Pengadilan HAM juga akan mengungkap tabir di balik kejahatan serius pelanggaran HAM. Pengadilan HAM akan memberikan jaminan kepastian hukum, tidak saja bagi korban akan tetapi juga bagi pelaku
pelanggaran HAM. Manusia tidak mungkin memaafkan sesuatu yang tidak bisa dihukum, sebagaimana mereka juga tidak bisa melupakan apa yang tidak pernah dibuka untuk diingat bersama

2.Kecelakaan Lion Air JT610 adalah tragedi yang mendalam yang menyoroti beberapa masalah kritis dalam industri penerbangan. Analisis kasus ini dari perspektif pidana dan tanggung jawab korporasi
menyoroti pentingnya standar keselamatan dan akuntabilitas korporasi.

1. Masalah Teknis dan Desain: Kesalahan desain pada sistem MCAS Boeing 737 MAX menjadi salah satu faktor utama dalam kecelakaan ini. Kegagalan untuk menginformasikan dan melatih pilot tentang fitur
baru ini menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab korporasi Boeing.
2. Tanggung Jawab Korporasi: Industri penerbangan memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memastikan keselamatan penumpang dan awak. Perusahaan penerbangan dan pabrikan harus bekerja
sama untuk memastikan bahwa prosedur keselamatan diikuti dengan ketat dan potensi risiko diidentifikasi dan diatasi dengan tepat.
3. Perspektif Pidana: Meskipun belum ada individu atau entitas yang secara resmi dijadikan tersangka, ada pertimbangan hukum pidana yang mungkin terlibat, terutama jika dapat dibuktikan bahwa ada
kelalaian atau kesalahan yang disengaja yang berkontribusi pada kecelakaan

Hasil investigasi harus dijadikan dasar untuk perbaikan dan penerapan standar keselamatan yang lebih ketat di seluruh industri. Pembelajaran dari kecelakaan ini seharusnya mencegah tragedi serupa di masa
depan.

sekian dan terima kasih

sumber :

-Kasim, Ifdhal (ed). 2000. Statuta Roma. Jakarta: ELSAM


-Komnas HAM. 2009. Kertas Posisi tentang Pengesahan “The Rome Statute Of
The International Criminal Court” (Statuta Roma tentang Mahkamah
Pidana Internasional) 1998. Tidak diterbitkan
-Rorong, T. J. (2021). Pemberlakuan Ketentuan Pidana Bagi Korporasi Akibat Mengoperasikan Pesawat Udara Yang Tidak Memenuhi Standar Kelaikudaraan. LEX CRIMEN, 10(4).
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh FAUZAN ADHIMA 043412272 - Selasa, 23 April 2024, 00:39
Ijin Menanggapi Diskusi ..

1. Berikan analisis mengenai pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 !
Statuta Roma 1998, atau yang dikenal sebagai Statuta Pengadilan Pidana Internasional (ICC), adalah perjanjian internasional yang mendirikan Pengadilan Pidana Internasional untuk mengadili kejahatan
genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan agresi. Pengaruh Statuta Roma terhadap hukum di Indonesia, khususnya terhadap UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
dan UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM adalah sebagai berikut:
1) UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia: Statuta Roma mendorong peningkatan perlindungan terhadap hak asasi manusia di Indonesia. UU ini mencakup berbagai aspek hak asasi manusia,
termasuk perlindungan terhadap kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Statuta Roma memberikan landasan hukum bagi pemerintah Indonesia untuk memperkuat sistem peradilan
domestiknya dalam menangani kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia.
2) UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM: Pengaruh Statuta Roma terhadap UU ini terutama terkait dengan upaya penguatan sistem peradilan di Indonesia. Statuta Roma memberikan dasar hukum
bagi pembentukan pengadilan khusus untuk menangani kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat dan sistematis. Pengadilan semacam ini di Indonesia diharapkan dapat mengadili kasus-kasus
genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang dengan standar internasional yang lebih tinggi.
Dengan adanya Statuta Roma 1998, Indonesia diharapkan untuk mematuhi komitmen internasionalnya dalam melindungi hak asasi manusia dan memerangi impunitas terhadap pelanggaran hak asasi manusia
yang berat. Pengaruhnya terhadap hukum domestik Indonesia, terutama UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000, adalah menguatkan landasan hukum bagi perlindungan dan penegakan hak asasi
manusia di negara ini.
2. Berikan ulasan mengenai karakterteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikategorikan sebagai tindak pidana khusus dan analisis mengenai pertanggungjawaban pidana
Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610?
Tindak pidana dalam penerbangan dikategorikan sebagai tindak pidana khusus karena memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari tindak pidana lainnya. Berikut adalah beberapa karakteristik
khusus tindak pidana dalam penerbangan:
1) Keterlibatan Wilayah Udara Internasional: Tindak pidana dalam penerbangan seringkali melibatkan wilayah udara internasional, yang membuatnya menjadi kasus lintas batas negara. Hal ini
membutuhkan kerja sama antar negara dan organisasi internasional dalam penanganan dan penegakan hukumnya.
2) Kompleksitas Teknis dan Hukum: Penerbangan melibatkan berbagai aspek teknis dan hukum yang kompleks, termasuk aturan penerbangan sipil, keselamatan penerbangan, navigasi udara, dan peraturan
perlindungan konsumen. Tindak pidana dalam penerbangan seringkali memerlukan pemahaman yang mendalam tentang aturan-aturan ini untuk penyelidikan dan penuntutan yang efektif.
3) Dampak Luas: Tindak pidana dalam penerbangan memiliki dampak yang luas, tidak hanya terbatas pada korban di dalam pesawat, tetapi juga dapat melibatkan korban di darat dan lingkungan sekitarnya.
Kecelakaan atau insiden dalam penerbangan dapat menyebabkan kerugian besar dalam hal jiwa, harta, dan lingkungan.
4) Regulasi Internasional dan Nasional yang Ketat: Industri penerbangan diatur oleh regulasi internasional dan nasional yang ketat untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan perlindungan konsumen.
Pelanggaran terhadap regulasi ini dapat berujung pada tindak pidana dan sanksi yang serius.
Dalam kasus kecelakaan JT-610 Lion Air pada tahun 2018, pertanggungjawaban pidana perusahaan penerbangan dapat dianalisis sebagai berikut:
1) Ketentuan Hukum: Dalam hukum penerbangan, ada sejumlah standar keselamatan yang harus dipatuhi oleh maskapai penerbangan dan operator pesawat. Jika terbukti bahwa kecelakaan tersebut
disebabkan oleh pelanggaran terhadap standar keselamatan ini, perusahaan penerbangan dapat dianggap bertanggung jawab secara pidana.
2) Penyelidikan Kecelakaan: Biasanya, setelah kecelakaan pesawat, dilakukan penyelidikan untuk menentukan penyebabnya. Jika hasil penyelidikan menunjukkan adanya kelalaian atau pelanggaran oleh
perusahaan penerbangan, mereka dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana.
3) Sanksi Hukum: Sanksi hukum bagi perusahaan penerbangan yang bertanggung jawab atas kecelakaan dapat beragam, mulai dari denda hingga penuntutan pidana terhadap individu yang bertanggung jawab
atas kecelakaan.
Dalam kasus kecelakaan JT-610, Lion Air sebagai maskapai penerbangan dapat dimintai pertanggungjawaban pidana jika terbukti:
• Melakukan kelalaian: Contohnya, Lion Air tidak memberikan pelatihan yang memadai kepada pilot, tidak melakukan perawatan pesawat yang layak, atau tidak mengikuti standar keselamatan penerbangan.
• Melanggar peraturan penerbangan: Contohnya, Lion Air menerbangkan pesawat yang tidak laik terbang, tidak mematuhi perintah navigasi penerbangan, atau tidak melaporkan kejadian yang tidak aman.
• Ketidaksengajaan: Kecelakaan terjadi karena faktor di luar kendali Lion Air, seperti kondisi cuaca ekstrem atau kerusakan mesin yang tidak terduga.
Maka dari itu, menurut saya penentuan pertanggungjawaban pidana Lion Air harus melalui proses hukum yang adil dan transparan, dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang ada dan kesaksian para ahli.

Referensi :
- Modul HKUM4309 (Tindak Pidana Khusus)
- UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan: https://peraturan.bpk.go.id/Details/54656/uu-no-1-tahun-2009
- https://www.kompasiana.com/gracebintang/5bda9d3e12ae94505d7d17c3/pertanggungjawaban-pidana-lion-air-dalam-kasus-kecelakaan-jt-610
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh REZA NUGRAHA ARDIANSYAH 042634244 - Selasa, 23 April 2024, 08:32
1. Pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum Indonesia, khususnya UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM),
terutama terlihat dalam penguatan penegakan hukum terhadap kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Statuta Roma 1998 merupakan dokumen yang menjadi dasar pendirian Mahkamah
Pidana Internasional (ICC) yang berwenang mengadili individu yang melakukan kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan agresi.

UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM mengakui dan mengatur kejahatan genosida serta kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai tindak pidana yang dapat
dikenakan sanksi pidana di Indonesia. Indonesia, meskipun belum menjadi anggota ICC, telah mengadopsi prinsip-prinsip yang terkandung dalam Statuta Roma tersebut ke dalam hukum nasionalnya. Hal ini
menunjukkan upaya Indonesia untuk mengakui pentingnya penegakan hukum terhadap pelanggaran HAM yang serius.

2. Tindak pidana dalam penerbangan dikategorikan sebagai tindak pidana khusus karena melibatkan keamanan dan keselamatan dalam operasi penerbangan, yang memiliki karakteristik khusus dan risiko yang
tinggi. Karakteristik khusus tersebut mencakup wilayah udara, pesawat udara, bandar udara, navigasi penerbangan, serta keselamatan dan keamanan penerbangan. Tindakan yang melanggar ketentuan dalam
hal penerbangan dapat memiliki konsekuensi serius, termasuk kecelakaan yang mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda.
Dalam kasus kecelakaan Lion Air JT-610, Lion Air bertanggung jawab atas operasional dan keselamatan penerbangan pesawatnya. Jika terdapat kelalaian atau pelanggaran terhadap standar keselamatan
penerbangan yang menyebabkan kecelakaan, Lion Air dapat dipertanggungjawabkan secara pidana sesuai dengan hukum penerbangan yang berlaku. Penyelidikan akan dilakukan untuk menentukan apakah
terdapat kelalaian atau pelanggaran yang dilakukan oleh Lion Air atau pihak terkait lainnya yang berkontribusi terhadap kecelakaan tersebut. Jika terbukti, Lion Air dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku dalam penerbangan.

Sumber referensi :
https://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal_online/IMPLIKASI%2520RATIFIKASI%
https://www.neliti.com/id/publications/3091/sanksi-bagi-pelaku-tindak-pidana-di-dalam-pesawat-udara-selama-penerbangan
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh GABRIELA WUWUNG 041922243 - Selasa, 23 April 2024, 22:41
Izin menjawab Tutor dan rekan-rekan Mahasiswa yang saya hormati..

1. Pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000.
Pelanggaran HAM berat atau dikenal dengan "gross violation of human rights" atau "greaves breaches of human rights" sebagaimana disebut secara eksplisit dalam Konvensi Jenewa 1949 dan protokolnya,
tidak dikenal dalam Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM). Di dalam Statuta Roma 1998 sebutan tersebut ada padanannya tetapi dengan istilah lain, yaitu "the most
serious crimes of concern to the intermational community as a whole".
Istilah pelanggaran HAM berat lainnya yang dapat dilihat dalam instrumen hukum HAM Internasional antara lain:
1. Gross violation of International Human Rights
2. Serious Violations of Human Rights
3. Systematic Violations of Human Rights
4. Major Violations of Human Rights
Selanjutnya, Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (UU Pengadilan HAM) mengatur Pelanggaran HAM berat yang meliputi genosida dan kejahatan terhadap
kemanusiaan. Pelanggaran HAM berat dalam hukum internasional diatur dalam International Criminal Court (ICC).
Pasal 5 ICC menyebutkan jenis-jenis pelanggaran HAM Berat, antara lain:
1. Genocide atau Genosida
2. Crimes against humaity atau Kejahatan terhadap kemanusiaan
3. Crimes of war atau kejahatan perang
4. Agression atau agresi
Statuta Roma Pasal 6, The International Criminal Tribunal for Rwanda Statute dalam Pasal 2, dan Pasal 8 UU Pengadilan HAM juga senada dengan Convention for the Prevention and
Punishment of the Crime of Genocide tentang pengertian genosida.
Ketentuan dari instrumen-instrumen ini tidak mengharuskan pemusnahan kelompok yang dimaksud secara keseluruhan untuk dapat disebut sebagai kejahatan genosida.
Unsur-unsur genosida diatur dalam Pasal 8 UU Pengadilan HAM yang sama indikatornya dengan Pasal 6 dari Statuta Roma. Selanjutnya, kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dalam Pasal 7 Statuta Roma disebutkan bahwa kejahatan kemanusiaan adalah kejahatan-kejahatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan meluas dan sistematik yang ditujukan kepada
sesuatu kelompok sipil, dengan mengetahui adanya serangan itu. Adapun yang termasuk dalam lingkup kejahatan kemanusiaan menurut Pasal 7 Statuta Roma adalah:
1. Pembunuhan
2. Pemusnahan
3. Perbudakan
4. Deportasi atau pemindahan paksa penduduk
5. Pemenjaraan atau perampasan berat atas kebebasan fisik dengan melanggar aturan-aturan dasar hukum internasional
6. Penyiksaan
7. Perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi, penghamilan paksa, pemaksaan sterilisasi, atau suatu bentuk kekerasan seksual lain yang cukup berat
8. Persekusi (Penganiayaan) terhadap suatu kelompok yang dapat diidentifikasi atau kolektivitas atas dasar politik, ras, nasional, etnis, budaya, agama, gender, sebagai didefinisikan dalam ayat 3, atau atas
dasar lain yang secara universal diakui sebagai tidak diijinkan berdasarkan hukum internasional, yang berhubungan dalam setiap perbuatan yang dimaksud dalam ayat ini atau setiap kejahatan yang berada
dalam juridiksi Mahkamah.
9. Penghilangan paksa
10. Kejahatan apartheid
11. Perbuatan tidak manusiawi lain dengan sifat sama yang secara sengaja menyebabkan penderitaan berat, atau luka serius terhadap badan atau mental atau kesehatan fisik
Di Indonesia, istilah kejahatan terhadap kemanusiaan secara yuridis baru dikenal sejak diundangkannya UU Pengadilan HAM. Dalam UU Pengadilan HAM, salah satu kewenangan Pengadilan HAM adalah
mengadili kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai salah satu Pelanggaran HAM Berat.
Pasal 7 UU Pengadilan HAM menggambarkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan dalam ketentuan UU Pengadilan HAM sesuai dengan Statuta Roma (Rome Statue Of International
Criminal Court).
Berbagai logika serta perundang-undangan yang menjiwai dan terkait atas dasar Statuta Roma haruslah dipahami dengan baik.

2. Mengenai karakteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus.
Berdasarkan hal tersebut, dapat dinyatakan bahwa undang-undang penerbangan ini memiliki karakteristik yang khusus serta cakupan yang luas, karena tindak pidana penerbangan memiliki
karakteristik yang berbeda dengan tindak pidana pada umumnya, oleh karena itu undang-undang yang mengatur tentang tindak pidana penerbangan juga memiliki beberapa kekhususan yang
bersifat menyimpang dari ketentuan umum KUHP.
Penyimpangan terhadap ketentuan umum dalam KUHP dapat terlihat pada subyek delik yang dimana berdasarkan ketentuan undang-undang ini dimungkinkan pemidanaan terhadap badan hukum, yang dalam
KUHP tidak mengenal badan hukum sebagai subyek delik. Akan tetapi, undang-undang tentang penerbangan ini bukanlah sebagai hukum pidana khusus, karena sanksi pidana dalam ketentuan undang-undang
ini ditempatkan sebagai daya paksa untuk melaksanakan aturan-aturan administratif.
Terkait dengan penyidikan atas tindak pidana penerbangan, UU Penerbangan menentukan bahwa yang bertindak selaku penyidik atas setiap bentuk tindak pidana penerbangan adalah pejabat Pegawai Negeri
Sipil tertentu yang instansinya berada dalam lingkup tugas dan tanggungjawab dalam bidang penerbangan, diatur dalam Pasal 399 ayat (1). Akan tetapi, penyidik yang ditunjuk tersebut tetap melakukan
koordinasi dan berada di bawah pengawasan penyidik Kepolisian serta meminta bantuan dari Kepolisian untuk melakukan penanganan lebih lanjut terhadap tindak pidana penerbangan yang terjadi. Ketentuan
tersebut didasarkan karena penyidikan terhadap tindak pidana penerbangan memerlukan suatu keahlian khusus dalam bidang penerbangan sehingga perlu adanya penyidik khusus untuk melakukan penyidikan
disamping penyidik yang dilakukan oleh Kepolisian.
Dalam UU Penerbangan ini jelas bahwa, di dalamnya sudah diatur mengenai hak, kewajiban, serta tanggung jawab hukum para penyedia jasa dan para pengguna jasa, dan tanggung jawab hukum penyedia jasa
terhadap kerugian pihak ketiga sebagai akibat dari penyelenggaraan penerbangan serta kepentingan internasional atas objek pesawat udara yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia.
Undang-Undang ini juga memberikan perlindungan konsumen tanpa mengorbankan kelangsungan hidup penyedia jasa transportasi serta memberi kesempatan yang lebih luas kepada daerah untuk
mengembangkan usaha-usaha tertentu di bandar udara yang tidak terkait langsung dengan keselamatan penerbangan. Keselamatan dan keamanan penerbangan (di Indonesia) merupakan tanggung jawab semua
unsur baik langsung maupun tidak langsung, baik regulator, operator, pabrikan, pengguna dan kegiatan lain yang berkaitan dengan transportasi penerbangan tersebut.
Dalam kasus kecelakaan Lion Air JT 610, Hak Hidup penumpang dan mendapatkan "Jaminan atas Keselamatan terutama di dalam Pesawat Udara" secara tegas dan diatur secara khusus dalam
pasal 1 butir 48, Undang-Undang Penerbangan No 1 tahun 2009 dimana disebutkan bahwa "Keselamatan Penerbangan adalah suatu keadaan "terpenuhinya persyaratan keselamatan" dalam
pemanfaatan wilayah udara , Pesawat udara dan Bandar Udara, Angkutan Udara dan Navigasi Penerbangan serta fasilitas umum lainnya".
Kata "terpenuhinya persyaratan keselamatan" ini menunjukkan itikad baik dari pembuat Undang-Undang dalam melindungi hak hidup dari para penumpang pesawat udara. Itikad baik tersebut diperkuat dengan
penerapan sanksi kepada pihak yang melanggar aturan tersebut yang tertuang pada pasal 11 ayat 5, Undang-Undang No 1 tahun 2009. Tertuangnya ketentuan mengenai hak hidup dan hak untuk mendapatkan
keselamatan penerbangan tersebutlah yang bisa dijadikan dasar gugatan pidana terhadap maskapai Lion Air sebagai koorporasi karena "dengan sengaja" menyebabkan kematian dan tidak terpenuhinya hak
hidup penumpang serta hak penumpang atas keselamatan penerbangan atau dengan kata lain" dengan sengaja menghilangkan nyawa" orang lain, tentunya dengan membuktikan terlebih dahulu unsur
kesalahannya.
Masalah keamanan dan keselamatan penumpang pesawat udara merupakan salah satu bentuk hak asasi manusia yaitu hak hidup. Hak hidup juga diatur secara khusus dalam Pasal 28A Undang-Undang Dasar
(UUD 1945) yang berbunyi, "Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya".
Indonesia sebagai negara hukum yang sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia terbukti sangat melindungi hak hidup warga negara nya dengan adanya ketentuan pasal 28A diatas. Hukum Pidana pun
sebenarnya juga timbul sebagai upaya untuk mempertahankan hak asasi manusia, termasuk di dalamnya hak untuk hidup dan jaminan keselamatan untuk hidup.
Dalam kasus kecelakaan Lion Air JT 610, Hak Hidup penumpang dan mendapatkan "Jaminan atas Keselamatan terutama di dalam Pesawat Udara" secara tegas dan diatur secara khusus dalam
pasal 1 butir 48, Undang-Undang Penerbangan No 1 tahun 2009 dimana disebutkan bahwa "Keselamatan Penerbangan adalah suatu keadaan "terpenuhinya persyaratan keselamatan" dalam
pemanfaatan wilayah udara , Pesawat udara dan Bandar Udara, Angkutan Udara dan Navigasi Penerbangan serta fasilitas umum lainnya". Kata "terpenuhinya persyaratan keselamatan" ini
menunjukkan itikad baik dari pembuat Undang-Undang dalam melindungi hak hidup dari para penumpang pesawat udara. Itikad baik tersebut diperkuat dengan penerapan sanksi kepada pihak yang melanggar
aturan tersebut yang tertuang pada pasal 11 ayat 5, Undang-Undang No 1 tahun 2009. Tertuangnya ketentuan mengenai hak hidup dan hak untuk mendapatkan keselamatan penerbangan tersebutlah yang bisa
dijadikan dasar gugatan pidana terhadap maskapai Lion Air sebagai koorporasi karena "dengan sengaja" menyebabkan kematian dan tidak terpenuhinya hak hidup penumpang serta hak penumpang atas
keselamatan penerbangan atau dengan kata lain" dengan sengaja menghilangkan nyawa" orang lain, tentunya dengan membuktikan terlebih dahulu unsur kesalahannya.
Pemerintah perlu melakukan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, karena terdapat ketentuan-ketentuan yang lemah mengenai unsur-unsur kesalahan yang mengakibatkan
terjadinyanya kecelakaan penerbangan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) secara khusus menyebutkan salah satu unsur kesalahan yaitu unsur kelalaian yang mengakibatkan kecelakaan pesawat
terbang, sedangkan Undang-Undang Penerbangan yang tidak menyebutkan unsur kealpaan dalam setiap pasalnya. Pasal 441 ayat (1) Undang-Undang Penerbangan menjadikan alasan untuk meminta
pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh orang yang melakukan tindak pidana atas nama dan kepentingan korporasi baik itu ada hubungan kerja maupun hubungan
lain. Setiap kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi sangat sulit untuk membuktikan adanya kesalahan pada korporasi, namun hal tersebut masih dapat dimungkinkan dengan mekanisme hukum yang ada
di Indonesia. “Political will” yang baik dari pemerintah juga diperlukan karena berbagai hal yang ada di bidang penerbangan adalah syarat dengan kepentingan politik. Diharapkan dengan semakin ketatnya
pengawasan dan penindakan tindak pidana di bidang penerbangan ini akan meningkatkan kesadaran dan budaya keselamatan transportasi khususnya transportasi udara, dan akan menciptakan kepercayaan
masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional terhadap keamanan dan keselamatan transportasi udara di Indonesia.

Sumber Referensi :
Nandang Alamsah Deliarnoor, Sigid Suseno, Tindak Pidana Khusus, Edisi 2, Penerbit Universitas Terbuka.

https://www.kompasiana.com/gracebintang/5bda9d3e12ae94505d7d17c3/pertanggungjawaban-pidana-lion-air-dalam-kasus-kecelakaan-jt-610 Diakses pada tanggal Selasa, 23 April 2024.

https://jurnal.uns.ac.id/recidive/article/download/47404/29637 Diakses pada tanggal Selasa, 23 April 2024.

Demikian jawaban saya, mohon arahan dan bimbingan dari Tutor yang saya hormati. Atas perhatian diucapkan banyak Terima Kasih.
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh RISKY DEAN CHRISTIAN JANIS 043204378 - Rabu, 24 April 2024, 07:38
1. Analisis Pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000

Statuta Roma 1998, yang mengesahkan pembentukan Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court - ICC), memiliki pengaruh signifikan terhadap hukum di Indonesia, khususnya terhadap UU
No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

Statuta Roma menetapkan prinsip-prinsip penting terkait kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan agresi, dan kejahatan perang. Hal ini mendorong Indonesia untuk mengharmonisasi
peraturan perundang-undangannya agar sesuai dengan standar internasional dalam menangani tindak pidana hak asasi manusia.

UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengakui dan menjamin perlindungan HAM yang sejalan dengan prinsip-prinsip universal HAM seperti yang tertuang dalam Statuta Roma. Meskipun
Indonesia belum menjadi pihak yang meratifikasi Statuta Roma, UU ini telah mencerminkan komitmen Indonesia dalam melindungi HAM.

UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia mengatur penyelenggaraan peradilan khusus untuk kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang sesuai dengan salah satu prinsip utama
Statuta Roma. UU ini memperkuat kerangka hukum di Indonesia untuk mengadili pelaku kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan, mencerminkan pengakuan terhadap norma-norma internasional.

2. Ulasan Karakteristik Khusus Tindak Pidana dalam Penerbangan dan Pertanggungjawaban Pidana Lion Air dalam Kasus Kecelakaan JT-610

- Karakteristik Tindak Pidana dalam Penerbangan


Tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus karena melibatkan aspek spesifik seperti keselamatan dan keamanan penerbangan, yang memerlukan regulasi dan penanganan
yang berbeda. Meliputi wilayah udara, pesawat udara, hingga navigasi penerbangan, ketentuan hukumnya diatur dalam hukum internasional seperti Konvensi Chicago 1944 dan hukum nasional seperti UU No.
1 tahun 2009 tentang Penerbangan. Karakteristik ini menunjukkan pararelitas antara hukum internasional dan nasional dalam mengatur keselamatan penerbangan.

Pertanggungjawaban Pidana Lion Air dalam Kasus Kecelakaan JT-610

Pertanggungjawaban pidana dalam kasus kecelakaan penerbangan, termasuk Lion Air JT-610, biasanya dianalisis berdasarkan adanya kesalahan atau kelalaian yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Pasal
yang berlaku dalam konteks kecelakaan penerbangan bisa mencakup pelanggaran terhadap UU No. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, khususnya terkait dengan standar keselamatan dan keamanan
penerbangan.

Di Indonesia, penyelidikan kecelakaan penerbangan dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menentukan penyebabnya. Meskipun laporan KNKT tidak ditujukan untuk
menetapkan pertanggungjawaban pidana, temuan mereka bisa digunakan sebagai dasar untuk penyelidikan lebih lanjut oleh penegak hukum.

Tanggung jawab pidana bagi operator penerbangan seperti Lion Air dalam kasus JT-610, jika ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran terhadap regulasi keselamatan, dapat dikenakan sanksi sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku. Namun, penentuan pertanggungjawaban pidana memerlukan proses hukum lebih lanjut yang menilai bukti dan kaitannya dengan kecelakaan tersebut.
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh APUNG DWI ALFIN 042874073 - Rabu, 24 April 2024, 11:31
Statuta Roma 1998 mempengaruhi hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 dengan memperkuat konsep hukum internasional yang berlaku di Indonesia. Statuta Roma 1998 merupakan dasar
pembentukan Pengadilan Pidana Internasional (ICC) yang mulai berlaku pada 01 Juli 2002. ICC merupakan pengadilan bersifat permanen yang menuntut dan mengadili kejahatan internasional, seperti
kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, genosida, dan kejahatan agresi. Prinsip dasar ICC, yaitu ICC merupakan pelengkap dari pengadilan nasional dalam menuntut dan mengadili kejahatan
internasional, memiliki berpengaruh penting bagi pengaturan hukum internasional di Indonesia.

2. Tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus karena memiliki beberapa karakteristik khusus, seperti:

a. Tindak pidana dalam penerbangan mengganggu keselamatan penerbangan.

b. Tindak pidana dalam penerbangan mengganggu kesehatan dan keselamatan paseng.


c. Tindak pidana dalam penerbangan mengganggu kesejahteraan masyarakat.

d. Tindak pidana dalam penerbangan mengganggu hukum dan adil.

Analisis mengenai pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610:

a. Pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610 dapat dilihat dari perspektif kewajiban perusahaan untuk memastikan keselamatan dan kesehatan paseng.

b. Lion Air sebagai pihak terkait dalam kasus kecelakaan JT-610 memiliki kewajiban mengatur dan mengawasi operasi perusahaan, termasuk pengelolaan peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam
penerbangan.

c. Pada dasarnya, Lion Air memiliki kewajiban mengatur dan mengawasi peralatan penerbangan yang diperlukan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan paseng.

d. Jika ada kecelakaan penerbangan yang terjadi, maka Lion Air harus memiliki sistem pengawasan yang efektif untuk mencegah kecelakaan tersebut.

e. Pada dasarnya, Lion Air memiliki kewajiban mengawasi dan mengatur peralatan penerbangan dengan baik, sehingga dapat memastikan keselamatan dan kesehatan paseng.

Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20221030202915-25-383659/wow-dari-tudung-saji-pengusaha-ini-raup-rp50-juta-bulan

https://www.bni.co.id/id-id/beranda/kabar-bni/berita/articleid/22444

https://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal_online/IMPLIKASI%20RATIFIKASI%20STATUTA%20ROMA%201998%20BAGI%20PENEGAKKAN%20HUKUM%20DAN%20HAM%20DI
%20INDONESIA_ApriyaniDewiAzis.pdf

https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1072&context=dharmasisya

https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jatayu/article/download/28787/16268/0
Tautan permanenTampilkan indukBalas
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh YULIA AMANDA 042076819 - Kamis, 25 April 2024, 20:28
1. Statuta Roma 1998 merupakan perjanjian antar negara (internasional) atau traktat internasional yang mendirikan Mahkamah Pidana Internasional (Inggris: International Criminal Court, disingkat ICC) yang
mengatur pelanggaran-pelanggaran HAM dimana dalam statuta roma ini menentukan empat inti kejahatan-kejahatan nasional seperti kejahatan genosida, kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, dan
kejahatan agresi.
Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 mengatur tentang Hak Asasi Manusia. Sedangkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 mengatur tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Yang mana kedua undang-
undang tersebut merupakan peraturan perundang-undangan nasional Indonesia yang mengatur tentang hak asasi manusia dan pengadilan hak asasi manusia.
Pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 26 tahun 2000 ialah :
1. Pelanggaran HAM berat atau dikenal dengan gross violation of human rights atau greaves breaches of human rights. Di mana dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM sebutan tersebut tidak dikenal.
Namun, dalam Statuta Roma 1998 sebutan tersebut ada tetapi dengan istilah the most serious crimes of concern to the international community as a whole. Sehingga dalam hal ini Statuta Roma memiliki
pengaruh dalam memperkuat definisi kejahatan HAM berat seperti kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Artinya Statuta Roma 1998 memberikan definisi lebih rinci dan definisi tersebut
diadopsi dalam UU No. 39 tahun 1999.
2. Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia mengatur pelanggaran HAM berat yang meliputi genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pelanggaran HAM berat dalam
hukum internasional diatur dalam International Criminal Court (ICC) Pasal 5 menyebutkan jenis-jenis pelanggaran HAM berat yaitu Genosida, Kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan agresi.
Sehingga hal ini statute Roma memberikan pengaruh terhadap Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 terkait perluasan cakupan jenis kejahatan berat.
3. Statuta Roma 1998 memberikan kewenangan kepada ICC untuk mengadili individu yang melakukan kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. Kewenangan ini kemudian
diterapkan dalam UU No. 26 Tahun 2000, yang memberikan kewenangan kepada Pengadilan Hak Asasi Manusia untuk mengadili individu yang melakukan kejahatan genosida dan kejahatan terhadap
kemanusiaan. Sehingga dalam hal ini Statuta Roma memberikan perluasan kewenangan pengadilan hak asasi manusia.
4. Statuta Roma 1998 mewajibkan negara-negara anggota untuk bekerja sama dengan ICC dalam menyelidiki dan mengadili individu yang melakukan kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan
kejahatan perang. Kemudian dalam UU No. 26 Tahun 2000, yang mewajibkan pemerintah Indonesia untuk bekerja sama dengan ICC dalam hal tersebut. Oleh karena itu, Statuta Roma 1998 ini memberikan
pengaruh dalam memperkuat mekanisme Kerjasama internasional.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa statute roma ini memiliki pengaruh signifikan terhadap penguatan definisi, cakupan jenis kejahatan, kewenangan pengadilan, dan mekanisme kerjasama internasional dalam
ranah Hak Asasi Manusia di Indonesia, yang diwujudkan dalam dua undang-undang nasional dan Statuta Roma 1998 menjadi landasan penting bagi pengembangan hukum HAM di Indonesia, khususnya dalam
penegakan hukum terhadap pelanggaran HAM berat.

2. Tindak pidana penerbangan berhubungan dengan hukum udara, yang diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Pasal 1 angka 1 UU Penerbangan adalah satu kesatuan sistem
yang terdiri atas pemanfaatan wilayah udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, keselamatan dan keamanan, lingkungan hidup, serta fasilitas penunjang dan fasilitas umum
lainnya.
UU Penerbangan sebagai peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur hal-hal yang berakitan dengan penerbangan, juga memberikan ketentuan terkait dengan tindak pidana. Ketentuan pidan
aini diberlakukan kepada setiap orang yang melanggar ketentuan dalam undang-undang ini disamping sanksi administratif yang berlaku dan ditentukan dalam undang-undang tersebut. Berdasarkan hal tersebut,
dapat dinyatakan bahwa UU Penerbangan ini memiliki karakteristik khusus serta cakupan yang luas, karena tindak pidana penerbangan memiliki karakteristik yang berbeda dengan tindak pidana pada
umumnya. Karakteristik khusus tindak pidana dalam penerbangan dikategorikan sebagai tindak pidana khusus yaitu :
a. Penyimpangan terhadap ketentuan umum dalam KUHP dapat terlihat pada subyek delik yang dimana berdasarkan ketentuan UU ini dimungkinkan pemidanaan terhadap badan hukum, yang dalam KUHP
tidak mengenal badan hukum sebagai subyek delik. Akan tetapi, undang-undang penerbangan ini bukanlah sebagai hukum pidana khusus, karena sanksi pidana dalam ketentuan undang-undang ini ditempatkan
sebagai daya paksa untuk melaksanakan aturan-aturan administratif.
b. Penyidikan atas tindak pidana penerbangan, UU Penerbangan menentukan bahwa yang bertindak selaku penyidik atas setiap bentuk tindak pidana penerbangan adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu
yang instansinya berada dalam lingkup tugas dan tanggung jawab dalam bidang penerbangan (Pasal 399 ayat (1)).
c. Dalam UU Penerbangan sudah diatur mengenai hak, kewajiban, serta tanggung jawab hukum para penyedia jasa dan para pengguna jasa, tanggung jawab hukum penyedia jasa terhadap kerugian pihak ketiga
sebagai akibat dari penyelenggaraan penerbangan serta kepentingan internasional atas objek pesawat udara yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia.
d. Tindak pidana penerbangan harus terjadi di wilayah udara, yaitu ruang angkasa di atas permukaan bumi yang dibatasi oleh garis vertikal ke atas dari batas wilayah darat atau laut.
e. Dalam UU Penerbangan memberikan perlindungan konsumen tanpa mengorbankan kelangsungan hidup penyedia jasa transportasi serta memberi kesempatan yang lebih luas kepada daerah untuk
mengembangkan usaha-usaha tertentu di bandar udara yang tidak terkait langsung dengan keselamatan penerbangan.
f. Dalam tindak pidana penerbangan yang dilakukan oleh korporasi, korporasi tetap dapat dipidana dengan pidana penjara dan pidana denda.
g. Penyelesaian tindak pidana penerbangan di luar instrument hukum pidana menurut UU Penerbangan dapat melalui instrument hukum administrasi dan hukum perdata.
h. UU Penerbangan mengatur mengenai tanggung jawab perdata seperti tanggung jawab perusahaan pengangkutan atau korporasi.

Contoh kasus UU Penerbangan termasuk tindak pidana khusus yaitu, dalam KUHP Jika terjadi kecelakaan pesawat yang disebabkan oleh kelalaian maskapai penerbangan, pilot dan kru pesawat yang akan
dipidana, bukan maskapai penerbangannya. Sedangkan dalam UU Penerbangan, Maskapai penerbangan dapat dipidana atas kelalaian yang menyebabkan kecelakaan pesawat.
Jadi, berdasarkan karakteristik khusus diatas seperti subjek, objek, locus delicti, pertanggung jawaban pidana, penyelesaian sengketa dan sebagainya yang disebutkan diatas menunjukkan bahwa UU
Penerbangan memiliki kekhususan dalam mengatur tindak pidana yang terjadi di bidang penerbangan, sehingga dikategorikan sebagai tindak pidana khusus.

Pada permasalahan Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610 yang terjadi pada tanggal 29 Oktober 2018, pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, sehingga
menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat sebanyak 189 orang. Penyebab kecelakaan ini diidentifikasi sebagai kegagalan sensor MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) yang
memberikan informasi ketinggian yang salah kepada pilot, sehingga memicu aktivasi stabilizer horizontal secara otomatis dan berulang kali menyebabkan pesawat menukik tajam dan tak terkendali.
Kasus ini dapat dimintai pertanggungjawaban pidana karena sebab kecelakaan pesawat tersebut ialah karena faktor manusia yang lalai dalam memberikan informasi kepada pilot dan karena faktor pengelolaan
karena berdasarkan identifikasi KNKT menemukan bahwa Lion Air memiliki catatan buruk dalam hal pemeliharaan pesawat, termasuk kurangnya pemeriksaan dan perbaikan yang diperlukan pada sensor
MCAS.
Sehingga pihak yang dapat dimintai pertanggung jawaban pidana pada kasus di atas ialah:
1. Pilot dan kru, Pilot dan kru pesawat memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan penerbangan. Dalam kasus ini, pilot gagal mengidentifikasi dan mengatasi kegagalan sensor MCAS dengan benar
yang berkontribusi pada kecelakaan.
2. Pihak Lion air, Lion Air sebagai maskapai penerbangan memiliki tanggung jawab utama untuk memastikan keselamatan penerbangan para penumpangnya. Dalam kasus ini, Lion Air memiliki beberapa
kelalaian seperti Kurangnya pemeliharaan pesawat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Tragedi jatuhnya Lion Air JT-610 merupakan sebuah tragedi yang terjadi di bidang penerbangan karena atas faktor kelalaian sehingga menyebabkan penumpang meninggal dunia
dan pertanggungjawaban pidana atas tragedi ini dapat dijatuhkan kepada beberapa pihak, termasuk pilot dan kru pesawat dan pihak Lion Air.

Sumber Referensi :
https://www.kompas.com/tren/read/2022/10/29/082900165/hari-ini-dalam-sejarah--tragedi-jatuhnya-lion-air-jt-610-189-orang?page=all
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama


Re: Diskusi.3
oleh A. RIZKY AZHARI 044933925 - Jumat, 26 April 2024, 16:50
1) Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM mendirikan Pengadilan HAM sebagai lembaga yang bertugas mengadili pelanggaran HAM berat di Indonesia. Meskipun Indonesia tidak
menjadi anggota ICC, Undang-undang ini mencerminkan upaya untuk mematuhi prinsip-prinsip hukum internasional, termasuk yang tercantum dalam Statuta Roma. Melalui undang-undang ini, Indonesia
menunjukkan komitmennya untuk memerangi impunitas terhadap pelanggaran HAM berat di dalam negeri. Secara keseluruhan, pengaruh Statuta Roma terhadap UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun
2000 terlihat dalam upaya Indonesia untuk mematuhi standar dan prinsip-prinsip hukum internasional yang diakui secara luas, terutama dalam konteks perlindungan hak asasi manusia dan penegakan hukum
terhadap pelanggaran berat HAM. Meskipun Indonesia tidak menjadi anggota ICC, kedua undang-undang tersebut mencerminkan komitmen negara terhadap penegakan keadilan dan akuntabilitas di dalam
negeri.

2) Undang-undang penerbangan memiliki karakteristik yang khusus serta cakupan yang luas, karena tindak pidana penerbangan memiliki karakteristik yang berbeda dengan tindak pidana pada umumnya, oleh
karena itu undang-undang yang mengalur tentang tindak pidana penerbangan juga memiliki beberapa kekhususan yang bersifat menyimpang dari ketentuan umum KUHP. Penyimpangan terhadap ketentuan
umum dalam KUHP dapat terlihat pada subyek delik yang dimana berdasarkan ketentuan undang-undang ini dimungkinkan pemidanaan terhadap badan hukum, yang dalam KUHP tidak mengenal badan
hukum sebagai subyek delik. Akan tetapi undang-undang tentang penerbangan ini bukanlah scbagai hukum pidana khusus, karena sanksi pidana dalam ketentuan undang-undang ini ditempatkan sebagai daya
paksa untuk melaksanakan aturan-aturan administratif.

Terkait dengan penyidikan atas tindak pidana penerbangan, UU Penerbangan menentukan bahwa yang bertindak selaku penyidik atas setiap bentuk tindak pidana penerbangan adulah pejabat Pegawai Negeri
Sipil tertentu yang instansinya berada dalam lingkup tugas dan tanggungjawab dalam bidang penerbangan, diatur dalam Pasal 399 ayat (1). Akan tetapi, penyidik yang ditunjuk tersebut tetap melakukan
koordinasi dan berada di bawah pengawasan penyidik Kepolisian serta meminta bantuan dari Kepolisian untuk melakukan penanganan lebih lanjut terhadap tindak pidana penerbangan yang terjadi. Ketentuan
tersebut didasarkan karena penyidikan terhadap tindak pidana penerbangan memerlukan suatu keahlian khusus dalam bidang penerbangan sehingga perlu adanya penyidik khusus untuk melakukan penyidikan
disamping penyidik yang dilakukan oleh Kepolisian.

Dalam UU Penerbangan ini jelas bahwa, didalamnya sudah diatur mengenai hak, kewajiban, serta tanggung jawab hukum para penyedia jasa, para pengguna jasa, dan tanggung jawab hukum penyedia jasa
terhadap kerugian pihak ketiga sebagai akibat dari penyelenggaraan penerbangan serta kepentingan internasional atas objek pesawat udara yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia.

Undang-Undang ini juga memberikan perlindungan konsumen tanpa mengorbankan kelangsungan hidup penyedia jasa transportasi serta memberi kesempatan yang lebih luas kepada daerah untuk
mengembangkan usaha-Usaha tertentu di bandar udara yang tidak terkait langsung dengan keselamatan penerbangan. Keselamatan dan keamanan penerbangan (di Indonesia) merupakan tanggung jawab semua
unsur baik langsung maupun tidak langsung, baik regulator, opertaor, pabrikan, pengguna dan kegiatan lain yang berkaitan dengan transportasi penerbangan tersebut.

Selanjutnya, tindak pidana penerbangan yang dilakukan oleh korporasi tidak dirumuskan secara detil dan tidak terlalu dibedakan dengan subjek hukum perorangan. Korporasi sendiri tetap dapat dipidana
dengan pidana penjara dan pidana denda. Hal yang membedakan kedua subjek hukum itu hanyalah perumusan ancaman pidananya, yakni jika tindak pidana penerbangan dilakukan oleh korporasi, dapat
dijatuhkan pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda yang ditentukan dalam Bab ketentuan pidana.

Dalam penyelesaian tindak pidana penerbangan di luar instrumen hukum pidana menurut UU Penerbangan dapat melalui instrumen hukum administrasi dan hukum perdata. UU Penerbangan sendiri mengatur
beberapa jenis sanksi administrasi yang digunakan, yaitu sanksi peringatan, pembekuan sertifikat, pencabutan sertifikat, denda administratif, penurunan tarif jasa bandar udara, pencabutan izin rute terbang,
pencabutan lisensi dan pencabutan kompetensi.

UU Penerbangan juga mengatur mengenai tanggung jawab perdata seperti tanggung jawab perusahaan pengangkut atau korporasi. Ada 5 Pasal yang mengatur tentang tanggungjawab pengangkut, yaitu:

1. Pasal 141

Tanggungjawab terhadap kerugian penumpang apabila meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka akibat kejadian pengangkutan udara didalam pesawat dan/atau naik turun pesawat udara.
2. Pasal 144

Tanggung jawab terhadap kerugian penumpang karena bagasi tercatat hilang, musnah atau rusak.

3. Pasal 145

Tanggung jawab terhadap pengirim kargo, karena kargo yang dikirim, hilang, musnah atau rusak

4. Pasal 146

Tanggung jawab terhadap kerugian karena keterlambatan mengangkut penumpang dan bagasi

5. Ganti rugi terhadap pihak ketiga.

Mengenai pertanggungjawabnnya Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610 tertuang dalam pasal 441 ayat (2) Undang-Undang penerbangan menyebutkan bahwa dalam hal tindak pidana di bidang penerbangan
dilakukan oleh suatu korporasi maka penyidikan, penuntutan, dan pemidanaan dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya. Artinya, dimungkinkan korporasi saja, pengurus saja, atau kedua-duanya.

Untuk sanksi pidananya dapat dilihat dalam Pasal 406 yaitu dihukum dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah),
jika mengoperasikan pesawat udara yang tidak memenuhi standar kelaikudaraan.

Selain itu dalam Pasal 443 Undang-Undang N0. 1 Tahun 2009 menyebut bahwa selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda
dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda yang ditentukan pada pasal ketentuan pidana. Berarti, pasal 406 dijatuhkan kepada maskapai penerbangan sipil, selain pengurus dipidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). Kepada korporasi juga dibebankan pidana denda paling banyak Rp7.500.000.000,00 (tujuh miliar lima ratus
juta rupiah).

sumber:

BMP HKUM 4309

https://www.kompasiana.com/gracebintang/5bda9d3e12ae94505d7d17c3/pertanggungjawaban-pidana-lion-air-dalam-kasus-kecelakaan-jt-610?page=3&page_images=1
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh ENJELITA MAHARANI NOVILANO 043273928 - Jumat, 26 April 2024, 18:54
1. Berikan analisis mengenai pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 !
Jawab:
Statuta Roma 1998 adalah perjanjian atau undang-undang yang mendirikan Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court, ICC). Perjanjian ini diadopsi dalam konferensi diplomatik di Roma,
Italia, pada 17 Juli 1998, dan mulai berlaku pada 1 Juli 2002. Saat ini, 124 negara menjadi pihak yang terikat oleh Statuta Roma.

Berikut adalah beberapa poin penting mengenai Statuta Roma 1998:

1. Tujuan: Statuta Roma bertujuan untuk mengadili pelaku kejahatan internasional, termasuk genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan agresi.
2. Yurisdiksi: Setiap negara yang menjadi pihak Statuta Roma wajib menggunakan yurisdiksinya untuk memberikan hukuman kepada para pelaku kejahatan internasional. ICC memiliki yurisdiksi atas
tindakan yang terjadi di wilayah negara pihak atau oleh warga negara negara pihak.
3. Prinsip-prinsip Hukum Pidana: Statuta Roma mengatur prinsip-prinsip hukum pidana, termasuk nullum crimen sine lege (tidak ada kejahatan tanpa undang-undang), nulla poena sine lege (tidak ada
hukuman tanpa undang-undang), dan tanggung jawab individu.
4. Pengadilan: ICC berfungsi sebagai pengadilan internasional yang bertugas mengadili kasus-kasus kejahatan internasional. Ini termasuk mengadili individu yang terlibat dalam genosida, kejahatan
terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang.

Maka dari itu, jika dianalisis statuta Roma 1998 ini memiliki dampak yang signifikan terhadap hukum di Indonesia, terutama dalam konteks hak asasi manusia dan hukum pidana internasional. Berikut
rangkuman analisis dari beberapa sumber hukum yang saya pahami, mengenai pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 26 tahun 2000:

 UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM)

1. Ratifikasi Statuta Roma menunjukkan komitmen Indonesia terhadap perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia di tingkat internasional.
2. Statuta Roma mengatur tentang pengadilan hak asasi manusia, tanggung jawab negara, dan tanggung jawab komandan.
3. Kontroversi: Beberapa ahli berpendapat bahwa Indonesia sudah memiliki undang-undang tentang pengadilan hak asasi manusia yang mengatur kejahatan serupa dengan yang diatur dalam Statuta
Roma.

 UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia

1. Tanggung Jawab Komando: Pasal 24 UU No. 26 tahun 2000 mengatur tanggung jawab komando. Ahli hukum berpendapat bahwa unsur-unsur tanggung jawab komando harus dipenuhi, bukan hanya
dua tingkat pelaku lapangan.
2. Penganiayaan: Terjemahan klausula "persecution" dalam Statuta Roma menjadi "penganiayaan" dalam UU No. 26 tahun 2000 dianggap tidak tepat. Perlu penyaduran yang lebih baik atas ketentuan-
ketentuan dalam Statuta Roma.

Kesimpulan
Jadi, ratifikasi Statuta Roma 1998 ini memperkuat kerangka hukum hak asasi manusia di Indonesia. Selain interpretasi dan penerapan ketentuan dalam undang-undang nasional juga perlu selaras dengan
ketentuan dalam Statuta Roma.

Referensi
1. Rome Statute International Criminal. https://www.icc-cpi.int/sites/default/files/RS-Eng.pdf
2. Sumber hukum yang relevan juga dapat ditemukan dalam buku "Statuta Roma Tahun 1998 Dalam Kerangka Hukum Pidana Internasional dan Implikasinya Terhadap Hukum Pidana Nasional" oleh
Mantan Menteri Kehakiman Muladi.
3. Implikasi Ratifikasi Statuta Roma 1998 Bagi Penegakkan Hukum Dan ... - BPHN. https://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal_online/IMPLIKASI%20RATIFIKASI%20STATUTA%20ROMA
%201998%20BAGI%20PENEGAKKAN%20HUKUM%20DAN%20HAM%20DI%20INDONESIA_ApriyaniDewiAzis.pdf
4. https://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal_online/IMPLIKASI%20RATIFIKASI%20STATUTA%20ROMA%201998%20BAGI%20PENEGAKKAN%20HUKUM%20DAN%20HAM%20DI
%20INDONESIA_ApriyaniDewiAzis.pdf
5. Ratifikasi Statuta Roma 1998 Oleh Indonesia (ID) - Academia.edu. https://www.academia.edu/10610035/Ratifikasi_Statuta_Roma_1998_Oleh_Indonesia_ID_.

2. Berikan ulasan mengenai karakterteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikategorikan sebagai tindak pidana khusus dan analisis mengenai pertanggungjawaban pidana
Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610?
Jawab:
Berikut ulasan menurut saya mengenai bagaimana tindak Pidana dalam Penerbangan dan Pertanggungjawaban Pidana Lion Air dalam Kasus Kecelakaan JT-610:

 Karakteristik Khusus Tindak Pidana dalam Penerbangan:

1. Lingkungan Terbatas: Tindak pidana dalam penerbangan terjadi di lingkungan yang terbatas, yaitu pesawat udara. Ini memengaruhi dinamika penegakan hukum dan pertimbangan khusus.
2. Keamanan dan Keselamatan: Tindak pidana dalam penerbangan dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penumpang, awak pesawat, dan orang di darat.
3. Regulasi Khusus: Undang-Undang Penerbangan mengatur tindak pidana dalam penerbangan secara khusus, termasuk sanksi pidana.

 Pertanggungjawaban Pidana Lion Air dalam Kasus Kecelakaan JT-610:

1. Kesalahan dalam Operasi: Lion Air JT-610 menghadapi tuduhan kesalahan dalam operasi yang menyebabkan kecelakaan. Ini termasuk ketidakpatuhan terhadap prosedur keselamatan dan perawatan
pesawat.
2. Pelanggaran Keselamatan: Jika terbukti melanggar ketentuan keselamatan penerbangan, Lion Air dapat dikenai sanksi pidana sesuai dengan Undang-Undang Penerbangan.
3. Kewajiban Perusahaan: Sebagai maskapai penerbangan, Lion Air memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan penumpang dan mematuhi regulasi penerbangan.

Kesimpulan
Dengan ini jelas sudah bahwa tindak pidana dalam penerbangan memiliki karakteristik khusus karena terjadi di lingkungan terbatas dan berdampak pada keamanan dan keselamatan. Tentu saja, Lion Air harus
bertanggung jawab atas kecelakaan JT-610 dan mematuhi ketentuan keselamatan penerbangan.

Referensi

1. Mencermati Tragedi Lion Air JT-610 Dari Perspektif Hukum. https://fjp-law.com/id/mencermati-tragedi-lion-air-jt-610-dari-perspektif-hukum/


2. SANKSI BAGI PELAKU TINDAK PIDANA DI DALAM PESAWAT UDARA SELAMA - Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/3091-ID-sanksi-bagi-pelaku-tindak-pidana-di-dalam-
pesawat-udara-selama-penerbangan.pdf
3. TINDAK PIDANA DI DALAM PESAWAT UDARA SELAMA PENERBANGAN MENURUT UNDANG .... https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexcrimen/article/view/22706/0
4. SANKSI BAGI PELAKU TINDAK PIDANA DI DALAM PESAWAT UDARA SELAMA PENERBANGAN. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexcrimen/article/view/3136

Tautan permanenTampilkan indukBalas


Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh DASEP RAHMAT 042156851 - Jumat, 26 April 2024, 20:32
Jawaban No. 1.

Pengertian Tindak Pidana kejahatan Hak Asasi Manusia Berat.


Hak asasi manusia telah diatur secara universal, regional dan nasional. Universal merujuk pada HAM tela diaturdidalam sebuah Deklarasi Unniversal HAM konvenankonvenaninternasional tentang ham,
regional menujuk pada ketentuan HAM telah diatur di dalam instrumen-instrumen hukum Kawasan di ASEAN, dan nasional merujuk pada ketentuan HAM telah menjadi peraturan perundang-undangan di
Indonesia. Secara umum konsep HAM yang diatur di dalam ketiga macam aturan itu sama, meskipun terdapat beberapabentuk hak asasi yang terdapat di Deklarasi Universal HAM namun tidak ditemukan di
Undnag-Undnag Dasar 1945 ataupun sebaliknya.
Pelanggaran HAM merupakan pelanggaran terhadap kewajiban negara yang lahir dari instrument-instrumen hakj asasi manusia Dimana pelanggaran tersebut dapat dilakukan dengan perbuatan aktif maupun
karena kelalaian negara (pasif). Perbuatan negara yang pertama disebut dengan acts of commission dan perbuatan negara yang terakhir disebut dengan act of omission.
Pelanggaran HAM berat atau dikenal dengan “gross violation of human rights” atau “greaves breaches of human rights”sebagaimana disebut secara eksplisit dalam Konvensi Jenewa 1949 dan protokolnya,
tidak dikenal dalam Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM). Didalam Statua Roma 1998 sebutan tersebut ada padanya tetapi dengan istilah lain yaitu: “the most serious
crimes of concern to the intrnational community as a whole”.

Jawaban No. 2.

Penertian Tindak pidana Penerbangan.


Tindak pidana penerbangan berhubungan dengan hukum udara, cabang ilmu yang berkembang pada abad ke 20, setelah Wilbur Wright dan Orville Wright berhadsil terbang dengan sebuah pesawat yang lebih
berat di udara.hukum udara menurut Goedhuis dan Diederiks Verschoor diartikan sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan hukum yang menagtur ruang budara dan penanggungnya untuk mkeperluan
penerbangan. Tindakmp;idfana penerbangan diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang penerbangan (UU Penerbangan). Penerbangan dalam pasal 1 angka 1 UU penerbangan adalah suatu sistem
yang terdiri adalah pemangfaatan udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbagnagn, keselamatan, lingkungan hidup, serta pasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya.
UU penerbangan ini adalah Undang-Undang pengganti dari Undang-Undang sebelumnyan yaitu Undang-Undang No. 15 Tahun 1992 tentang penerabangan. UU penerbangan dalam penjelasannya brtujuan
untuk mewujudkan penerbangan yang tertib, selamat, aman nyaman, dengan harga yang wajar, dan menghindari praktek persaingan usaha yang sehat, mempelancar urusan perpindfahan orang dan/atau barang
melalui udara dengan mengutamakan dan melindungi angkutan udara dalam rangka memperlancar kegiatan perekonomian nasional, membina jiwa kedirgantaraan, menjungjung kedaulatan negaramenciptakan
daya saing dengan mengmbangkan teknologi dan industeri angkutan udara nasional, menunjang menggerakan dan mendorong mencapain tujuan Pembangunan nasional, memperkukuh kestuan dan persatuan
bangsa dalam rangka perwujudan wawasan Nusantara, meningkatkan ketahanan nasional, dan mempererat hubungan antar bangsa, serta berasaskan manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata,
keseimbangan keserasian, dan keselarasan, kepentingan umum, keterpaduan, tegaknya hukum, kemandirian anti monopoli, dan keterbukaan, berwawasan lingkungan hidup, kedaulatan negara, kebangsaan serta
kenusantaraan.
Melawean hukum terhadap pesawat udara itu sendiri, dan konvensi Monteral 1971 yang lebih mengarah pada perlindungan penerbangan sipil karena konvensiMonteral ini lebih ditunjukan pada tindakan-
tindakan yang dilakukan di dan/atau dari luarpesawat udarayang mengancam keselamatan penerbangan sipil.
Di dalam dunia penerbangan, terdapat tiga hal yang saling berkaitan yaitu keamanan, keselamatan, dan kecelakaan atau bencana penerbangan.

Pertanggung jawaban Teragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 dan dugaan dsana CSR yang ditilap ACT.
Pertanggung jawaban Lion Air JT-610 terhadap korban pesawat yang jatuh diberikan santunan kepada keluarga korban yang ditinggalkan akibat menyebabkan meningalnya penumpang Lion Air JT 610
Dalam hasil analisis khasus dana bantuan Lion Air J- 610 bagi korban kecelakaan pesawat Lion air JT-610 di duga digelapkan oleh Yayasan aksi cepat tanggap (ACT). Dugaan itu muncul usai Bareskr9im polri
melakukan penyelidikan terkait penyalahgunaan dana dalam tubuh Yayasan itu.
Dana bantuan itu disalurkan melalui ACT oleh Boeing, Perusahaan pembuat pesawat Boeing 787Max 8 yang digunakan Lion Air JT-610. Boeing kala itu memberikan mandat kepada ACT untuk mengelola
dana corporate socialresponsibility (CSR) sebesar Rp. 138 miliar yang merupakan mkonpensasi untuk korban jatuhnya Lion Air JT-610.

Teragedi jatuhnya lion Air JT-610 pada tanggal 29 oktober 2018 lalu. Pesawan ini denga nrute Jakarta-Pangkalpinang itu jatuh di perairan dekat tanjung, karawang Jawa barat usai sempat hilang kontak pada
pukul 06: 30 WIB setelah lepas landas dari bandara Soekarno Hatta pada pukul 06 : 02 WIB
181 penumpang dan 8 awak pesawat menjadi korban dalam peristiwa tragi situ. Dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT, ada 9 faktor berkontribusi dalam peristiwa
jatuhnya Lion Air JT-610.
1. Asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 (MAX),
meskipun sesuai dengan refrensi yang ada ternyata tidak tepat.
2. Mengacu asumsi yang telah dibuat atas reaksi pilot dan kurang lengkapnya kajianterkait efek-efek yang
dapat terjadi di cockpit sensor Tunggal yang diandalkan untuk MCASdianggap cukup dan memenuhi
ketentuan sertifikasi.
3. Desain MCAS yang mengandalkan suatu sensoir rentan terhadap kesalahan
4. Pilot mengalami kesulitan melakukan respin yang tepat terhadap pergerakan MCAS yang tidak seharusnya
karena tidak ada petunjuk dalam buku panduan dan pelatihan.
5. Indikator AOA DISAGREE tidak tersedia di pesawat Boeing 737-8 (MAX) PK-LQP, berakibat informasi ini
tidak muncul pada saat penerbangan dengan penunjukan sudut AOA yang berbeda antara kiri dan kanan
sehingga perbedaan ini tidak dicatat oleh pilot dan teknis tidak dapat mengidentifikasi kerusakan AOA sensor.
6. AOA sensor pengganti mengalami kesalahan kalibrasi yang tidak terditeksipada saat perbaikan sebelumnya.
7. Investigasi tidak dapat menentukan pengujian AOA sensor setelah terpasang pada pesawat yang mengalami
kecelakaan dilakukan dengan benar, sehingga kesalahan kalibrasi tidak terdeteksi
8. Informasi mengenai stick shaker dan menggunakan prosedur non formil Runaway Stabilizerpada
penerbangan sebelumnya tidak tercatat pada buku catatan penerbangan dan perawatan pesawat
mangakkibatkan baik pilot maupun teknisi tidak dapat memgambil tindakan yang tepat.
9. Beberapa peringatan, berulangnya aktifasi MCAS dan padatnya komunikasi dngan ATC tidak terkelola
dengan efektif hal ini diakibatkan oleh situasi-kondisi yang sulit dan kemampuan mengendalikan pesawat,
pelaksanaan prosedur non-normal dan komunikasi antar pilot dan pengelolaan beban kerja. Kondisi ini telah
teridentifikasi pada saat pelatihan dan muncul Kembali pada penerbangan ini.

Sumber: https://news.detik.com
Sumber: Prof. Dr. H. Nandang Alamsah Deliarnoor, S.M., M. Hum., HKUM 4309 Tindak Pidana Khusus, Penerbit Universitas Terbuka, Tangerang Selatan
Tautan permanenTampilkan indukBalas
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh FINDI ANTIKA 042452313 - Sabtu, 27 April 2024, 07:32
1.Pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000:
-Statuta Roma 1998 menciptakan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang memiliki yurisdiksi atas kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan agresi.
-UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia memberikan dasar hukum bagi penegakan hukum terhadap kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Indonesia. Undang-undang ini
memberikan landasan bagi penuntutan pelaku kejahatan hak asasi manusia di pengadilan nasional.
-UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia juga merupakan hasil dari upaya Indonesia untuk memenuhi kewajiban internasionalnya dalam menghadapi pelanggaran hak asasi manusia,
termasuk kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Undang-undang ini memungkinkan penuntutan pelaku kejahatan hak asasi manusia di pengadilan nasional.
-Oleh karena itu, Statuta Roma 1998 memberikan dorongan bagi Indonesia untuk meningkatkan kerangka hukumnya dalam menangani kejahatan hak asasi manusia, yang tercermin dalam pembentukan UU
No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000.

2.Karakteristik Tindak Pidana dalam Penerbangan dan Pertanggungjawaban Pidana Lion Air dalam Kasus Kecelakaan JT-610:
-Tindak pidana dalam penerbangan memiliki karakteristik khusus karena melibatkan operasi penerbangan yang meliputi wilayah udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan,
serta keselamatan dan keamanan. Ini termasuk kecelakaan pesawat udara, pelanggaran aturan keselamatan penerbangan, penggunaan pesawat udara untuk tindakan kriminal, dan lain-lain.
-Dalam kasus kecelakaan Lion Air JT-610, pertanggungjawaban pidana mungkin akan melibatkan penyelidikan yang menyeluruh untuk menentukan penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan kesalahan
manusia, cacat teknis pesawat, atau faktor lingkungan lainnya.
-Jika terbukti bahwa Lion Air atau individu-individu yang terkait dengan operasi penerbangan tersebut melanggar peraturan keselamatan penerbangan atau bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut, mereka
dapat dituntut secara pidana sesuai dengan undang-undang yang berlaku, seperti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan.
-Tanggung jawab pidana Lion Air dalam kasus ini dapat meliputi pelanggaran peraturan keselamatan penerbangan, kelalaian dalam pemeliharaan pesawat, atau keputusan manajemen yang menyebabkan risiko
keselamatan yang tidak semestinya.

Dengan demikian, pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 menunjukkan upaya Indonesia dalam memperkuat kerangka hukumnya dalam menangani kejahatan
hak asasi manusia. Sementara itu, tindak pidana dalam penerbangan memiliki karakteristik khusus yang memerlukan investigasi mendalam dan jika terjadi kecelakaan, perusahaan penerbangan seperti Lion Air
dapat dipertanggungjawabkan secara pidana jika terbukti melanggar peraturan keselamatan penerbangan atau bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut.
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh SINTA SILVIA DASA 042076407 - Sabtu, 27 April 2024, 10:50
1. Menurut Statuta Roma 1998 mengacu pada pembentukan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan mendefinisikan berbagai kejahatan termasuk kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan
kejahatan perang. UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM memberikan dasar hukum bagi penuntutan pelanggaran HAM berat di Indonesia. Sementara itu, UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
memberikan landasan hukum untuk penanganan kasus pelanggaran HAM berat di pengadilan dalam negeri. Statuta Roma mempengaruhi kedua undang-undang tersebut dengan menempatkan tanggung jawab
pada negara untuk menegakkan hukum internasional mengenai HAM, sekaligus mendorong adopsi hukum domestik yang sejalan dengan standar internasional, meskipun implementasinya bisa bervariasi.

Tindak pidana dalam penerbangan dikategorikan sebagai tindak pidana khusus karena melibatkan aspek-aspek unik seperti regulasi penerbangan, keselamatan udara, dan navigasi. Karakteristik khusus ini
memerlukan pengetahuan teknis yang mendalam dalam hukum penerbangan dan sistem pengaturan keselamatan udara.

2. Dalam kasus kecelakaan JT-610 yang melibatkan Lion Air, pertanggungjawaban pidana perusahaan penerbangan ini akan bergantung pada hasil penyelidikan yang mengidentifikasi penyebab kecelakaan.
Jika penyelidikan menemukan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh kelalaian atau pelanggaran protokol keselamatan oleh Lion Air, maka perusahaan bisa dikenai pertanggungjawaban pidana. Ini bisa
mencakup dakwaan atas kelalaian dalam pemeliharaan pesawat, pelanggaran protokol keselamatan penerbangan, atau pelanggaran regulasi penerbangan yang mungkin menyebabkan atau memperburuk
kecelakaan tersebut. Namun, penentuan pertanggungjawaban pidana harus berdasarkan bukti yang kuat dan proses hukum yang adil.
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh ERWIN SYAHPUTRA SIPAHUTAR 043689448 - Sabtu, 27 April 2024, 13:01
1. Berikan analisis mengenai pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 !
Jawaban :
Statuta Roma 1998 memiliki dampak signifikan terhadap hukum Indonesia, khususnya Undang-Undang (UU) No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan UU No. 26 tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM. Ratifikasi Statuta Roma akan memungkinkan Indonesia untuk menegakkan hukuman terhadap pelaku kejahatan internasional, seperti kejahatan terhadap kemanusiaan. Implikasi ratifikasi
Statuta Roma termasuk motivasi untuk meningkatkan penegakan HAM melalui efektivitas hukum dan sistem peradilan nasional yang sesuai dengan prinsip-prinsip ICC, seperti prinsip komplementer.

Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM menjadi penting dalam konteks ratifikasi Statuta Roma. UU No. 26 tahun 2000 mengatur pidana yang
dapat dikenakan dalam kasus pelanggaran HAM, termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun, ada kelemahan yang perlu diperbaiki, seperti dalam bidang hukum materiil dan formil. Rekomendasi untuk
mengubah UU No. 26 tahun 2000 menjadi UU Pengadilan Kejahatan HAM yang paling Berat juga disarankan untuk meningkatkan efektivitasnya.

Dengan demikian, pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 adalah mendorong peningkatan penegakan HAM, memperkuat sistem peradilan nasional, dan
menuntut perlindungan yang lebih efektif terhadap hak asasi manusia di Indonesia.

2. Berikan ulasan mengenai karakterakteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus dan analisis mengenai pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam
kasus kecelakaan JT-610?
Jawaban :
Tindak pidana dalam penerbangan dikategorikan sebagai tindak pidana khusus karena memiliki karakteristik khusus yang melibatkan aspek-aspek yang unik terkait dengan penerbangan, seperti wilayah udara,
pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta keselamatan dan keamanan. Hal ini membuat tindak pidana dalam penerbangan memerlukan penanganan hukum yang spesifik dan
terfokus pada aspek-aspek yang berkaitan dengan penerbangan.
Dalam analisis mengenai pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610, terdapat beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan. Kasus kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 menunjukkan
adanya kegagalan dalam menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat. Dari berbagai sumber, terungkap bahwa Lion Air memiliki rekam jejak yang buruk dalam melindungi keselamatan
penumpangnya, dengan sejumlah kasus yang menunjukkan ketidakprofesionalan dalam menjaga keselamatan penerbangan. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius terkait tanggung jawab hukum Lion Air
dalam menjaga keselamatan penerbangan dan nyawa penumpangnya. Dalam konteks ini, pertanggungjawaban pidana Lion Air perlu dianalisis secara mendalam untuk menilai sejauh mana peran dan kewajiban
hukum maskapai penerbangan dalam menjaga keselamatan penerbangan dan memastikan bahwa kecelakaan serupa tidak terulang di masa depan.

Sumber: BMP HKUM4309 Tindak Pidana Khusus


Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh NURUL AINI 042639308 - Sabtu, 27 April 2024, 14:28
Tindak pidana hak asasi manusia terdiri dari kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusian. Sedangkan tindak pidana terorisme merupakan tindakan yang dilakukan dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan. Kemudian tindak pidana penerbangan berkaitan dengan penerbangan meliputi wilayah udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta keselamatan dan keamanan.

Sehubungan dengan itu:

1. Berikan analisis mengenai pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 !
Jawab : kasus yang pada dasarnya pernah terjadi di Indonesia berkaitan dengan pelanggaran HAM berat yang merupakan salah satu dari kejahatan yang diatur di Statuta Roma. Berkaitan dengan itu, sebenarnya
Indonesia telah memiliki mekanisme hukum untuk proses peradilan. terhadap kejahatan kemanusiaan. Namun itu hanya sebatas terhadap kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan berdasarkan
Undang- Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM yang secara terbatas telah mengadopsi ketentuan-ketentuan dalam Statuta Roma.Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman
atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya. penghilangan nyawa. Setiap orang tidak boleh ditangkap, ditahan, dipaksa, dikecualikan, diasingkan, atau
dibuang secara sewenang-wenang. Sebenarnya definisi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang terdapat pada Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM tidak jauh
berbeda dengan definisi pada ketentuan Statuta Roma. ada beberapa hal yang harus diubah agar Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM harmonis dengan Statuta Roma. Pertama
adalah masalah lingkup kewenangan kejahatan yang harus ditambah dua yurisdiksi lagi, yaitu kejahatan perang (war crimes) dan kejahatan agresi (aggression) dan pasal 7 huruf k. Kedua adalah asas ne bis in
idem. Statuta Roma yang menganut asas tersebut, memiliki pengecualian dalam penerapannya, yaitu Seseorang bisa diadili untuk yang kedua kalinya oleh Mahkamah Pidana Internasional apabila
bersinggungan dengan dua hal, yaitu apabila dalam peradilan sebelumnya bertujuan untuk melindungi orang yang bersangkutan dari tanggung jawab pidana untuk kejahatan yang berada di dalam jurisdiksi
Mahkamah atau tidak dilakukan secara mandiri atau tidak memihak sesuai dengan norma-norma mengenai proses yang diakui oleh hukum internasional dan dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan
maksud untuk membawa orang yang bersangkutan ke depan Mahkmah. Atas dasar hal itu maka Indonesia harus menerapkan pemahaman terlebih dahulu bahwa asas ne bis in idem yang digunakan oleh
Mahkamah Pidana Internasional berbeda dengan yang digunakan oleh Indonesia sendiri. Setelah memahami maka asas pengecualian tersebut kemudian dijadikan sebagai pegangan pada keberlangsungan
peradilan. Ketiga adalah adalah kesiapan dari lembaga hukum dan para penegak hukum Indonesia dalam menjalin hubungan dengan Mahkamah Pidana Internasional. Seperti contohnya kemampuan berbahasa
yang sangat dibutuhkan oleh para penyidik dan hakim dalam berkomunikasi.

2. Berikan ulasan mengenai karakterakteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus dan analisis mengenai pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam
kasus kecelakaan JT-610?
Jawab : Kecelakaan pesawat terbang sebagai suatu tindak pidana dapat dimintai pertanggungjawaban
pidana kepada korporasi penerbangan sipil. Doktrin strict liability (pertanggungjawaban mutlak) dan vicarious liability (pertanggungjawaban pengganti) dapat digunakan sebagai pendekatan hukum dalam
meminta pertanggungjawaban pidana oleh korporasi. Sesuai Pasal 443 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, penjatuhan sanksi pidana kepada korporasi dapat dibebankan kepada
pengurusnya yaitu pidana penjara dan denda, dan kepada korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana yang ditentukan. kecelakaan pesawat terbang sebagai suatu tindak pidana
dapat pula dimintai pertanggungjawaban pidana kepada korporasi penerbangan sipil. Doktrin strict liability (pertanggungjawaban mutlak) dan vicarious liability (pertanggungjawaban pengganti) dapat
digunakan sebagai pendekatan hukum dalam meminta pertanggungjawaban pidana oleh korporasi. Sesuai Pasal 443 Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2009 tentang Penerbangan, penjatuhan sanksi pidana kepada korporasi dapat dibebankan kepada pengurusnya yaitu pidana penjara dan denda, dan kepada korporasi berupa pidana denda dengan
pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana yang ditentukan.
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh NURDIN M 044185367 - Sabtu, 27 April 2024, 17:05

Assalamualaikum wr.wb

Izin menanggapi

1. Menyatakan Statuta Roma sebenarnya merupakan bagian dari hukum kejahatan internasional (international criminal law) dan bukan hukum HAM. Sementara Nasution dan Zen (2006)
memasukkan Statuta Roma sebagai bagian dari instrumen internasional pokok HAM. Terlepas dari kontroversi tersebut, prinsip dan prosedur penghukuman di dalam Statuta Roma
memberikan jaminan bahwa pelanggaran berat HAM dapat dihukum melalui mekanisme tersebut.

Statuta tersebut, dengan demikian, mestinya menjadi inspirasi bagi penghukuman pelaku pelanggaran berat HAM di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hukum formil penegakan HAM di
negara-negara akan memberikan energi bagi perang melawan impunitas. Sebaliknya, kemandulannya ikut memberikan kontribusi bagi langgengnya impunitas.

Bahwa keberadaan UU No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM merupakan reaksi terhadap dunia internasional yang ingin mengadili mereka yang dituduh melakukan kejahatan terhadap
kemanusiaan di Timor Timur pasca jejak pendapat jelas tak dapat dipungkiri oleh siapapun. Sementara secara positif harus dikatakan bahwa keberadaan UU tersebut patut diapresiaasi sebagai
bukti bahwa Bangsa Indonesia berkehendak baik (goog will) untuk menyelesaikan sendiri dugaan pelanggaran HAM melalui pengadilan HAM nasionalkesimpulan nya
Reformasi sistem hukum pengadilan HAM nasional merupakan keniscayaan di tengah dua lingkungan; menguatnya komitmen komunitas internasional dan semakin tingginya potensi
pelanggaran HAM dalam konteks politik Global yang ditandai dengan crisis of value dan crisis of state government

(Khan, 2005). Selain itu reformasi tersebut perlu dilakukan untuk mereduksi impunitas yang terus berlangsung. Ungkapan klasik “impunitas semper addeteriora invitat” (impunitas
mengundang kejahatan yang lebih besar) merupakan warning akan bahaya impunitas.

Pengadilan HAM juga akan mengungkap tabir di balik kejahatan serius pelanggaran HAM. Pengadilan HAM akan memberikan jaminan kepastian hukum, tidak saja bagi korban akan tetapi
juga bagi pelaku pelanggaran HAM. Manusia tidak mungkin memaafkan sesuatu yang tidak bisa dihukum, sebagaimana mereka juga tidak bisa melupakan apa yang tidak pernah dibuka untuk
diingat bersama

2. Kecelakaan Lion Air JT610 adalah tragedi yang mendalam yang menyoroti beberapa masalah kritis dalam industri penerbangan. Analisis kasus ini dari perspektif pidana dan tanggung
jawab korporasi menyoroti pentingnya standar keselamatan dan akuntabilitas korporasi.

a. Masalah Teknis dan Desain: Kesalahan desain pada sistem MCAS Boeing 737 MAX menjadi salah satu faktor utama dalam kecelakaan ini. Kegagalan untuk menginformasikan dan melatih
pilot tentang fitur baru ini menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab korporasi Boeing.

b. Tanggung Jawab Korporasi: Industri penerbangan memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memastikan keselamatan penumpang dan awak. Perusahaan penerbangan dan pabrikan
harus bekerja sama untuk memastikan bahwa prosedur keselamatan diikuti dengan ketat dan potensi risiko diidentifikasi dan diatasi dengan tepat.

c. Perspektif Pidana: Meskipun belum ada individu atau entitas yang secara resmi dijadikan tersangka, ada pertimbangan hukum pidana yang mungkin terlibat, terutama jika dapat dibuktikan
bahwa ada kelalaian atau kesalahan yang disengaja yang berkontribusi pada kecelakaan

Hasil investigasi harus dijadikan dasar untuk perbaikan dan penerapan standar keselamatan yang lebih ketat di seluruh industri. Pembelajaran dari kecelakaan ini seharusnya mencegah tragedi
serupa di masa depan.

Referensi :
-Kasim, Ifdhal (ed). 2000. Statuta Roma. Jakarta: ELSAM

-Komnas HAM. 2009. Kertas Posisi tentang Pengesahan “The Rome Statute Of

The International Criminal Court” (Statuta Roma tentang Mahkamah

Pidana Internasional) 1998. Tidak diterbitkan

-Rorong, T. J. (2021). Pemberlakuan Ketentuan Pidana Bagi Korporasi Akibat Mengoperasikan Pesawat Udara Yang Tidak Memenuhi Standar Kelaikudaraan. LEX CRIMEN, 10(4).

Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh ANJELINA PUSPITA SARI HUTAURUK 042345749 - Sabtu, 27 April 2024, 22:25
1. Statuta Roma 1998, dikenal sebagai Statuta Pengadilan Pidana Internasional (ICC), adalah perjanjian internasional yang bertujuan mendirikan Pengadilan Pidana Internasional permanen. Pengadilan ini
bertugas mengadili kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan agresi.
Indonesia sendiri sebagai negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menandatangani Statuta Roma pada 17 Juli 1998, meskipun belum meratifikasinya. Namun demikian , pengaruh Statuta Roma
1998 telah mempengaruhi beberapa aspek hukum di Indonesia, termasuk juga dalam pembentukan Undang-Undang (UU) No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan Hak Asasi Manusia
Pengaruh terhadap UU No.39 tahun 1999 yakni dimana UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia lahir dalam konteks perubahan paradigma perlindungan hak asasi manusia di Indonesia pasca-
Reformasi.serta pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap UU ini tercermin dalam aspek perlindungan dan penegakan hak asasi manusia, serta upaya pemberantasan impunitas terhadap pelanggaran hak asasi
manusia di Indonesia.
Sedangkan terhadap UU No .26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia juga mendapat pengaruh dari Statuta Roma 1998.
Dalam Statuta Roma menegaskan perlindungan hak hidup dan keselamatan penumpang pesawat udara. UU No. 26 Tahun 2000 mencerminkan komitmen Indonesia dalam melindungi hak asasi manusia,
termasuk hak untuk hidup dan keselamatan dalam penerbangan
Kedua undang-undang tersebut kemungkinan harus disesuaikan dengan standar dan prinsip-prinsip hukum internasional yang diatur oleh Statuta Roma 1998. Hal ini mempengaruhi interpretasi dan penerapan
hukum pidana di Indonesia, terutama dalam konteks kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

2. mengenai karakterakteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus karena menyangkut keselamatan penerbangan juga kehidupan manusia.
-Yang mana kecelakaan pesawat dapat berdampak luas, melibatkan banyak nyawa serta harta benda serta sering melibatkan negara-negara berbeda dan kerjasama internasional.
- Regulasi pada penerbangan sangat ketat untuk memastikan keselamatan penumpang dan penerbangan.
- Penerbangan melibatkan teknis yang kompleks, termasuk navigasi dan peralatan pesawat.
Terkait pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam kasus kecelakaan JT-610, dapat dipertanggungjawabkan jika terbukti adanya kelalaian dari pihak lion air. Berdasarkan Pasal 438 ayat 1 Undang-Undang No.
1 Tahun 2009 tentang Penerbangan mengatur sanksi bagi kapten penerbangan yang tidak memberitahukan kondisi bahaya atau gangguan pesawat yang mengakibatkan kecelakaan.penyelidikan dan analisis
teknis yang biasanya akan menentukan apa ada kelalaian atau pelanggaran yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Jika ada bukti bahwa Lion Air telah melanggar regulasi keselamatan atau gagal memenuhi
standar yang ditetapkan, perusahaan penerbangan tersebut dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana sesuai dengan hukum pidana yang berlaku, yang dapat meliputi sanksi denda atau tindakan pidana
terhadap individu yang bertanggung jawab dalam perusahaan. .
Tautan permanenTampilkan indukBalas

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh DIMAS TUNJUNG WIDI HANANTO 030146381 - Minggu, 28 April 2024, 10:20
Jawaban 1.
Statuta Roma 1998 merupakan perjanjian internasional yang mendirikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk mengadili kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. UU
No. 39 Tahun 1999 tentang Ratifikasi Persetujuan Pendirian Mahkamah Pidana Internasional dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengesahan Undang-Undang Perjanjian Internasional tentang Kejahatan
terhadap Kemanusiaan memiliki hubungan erat dengan Statuta Roma.

Pengaruh Statuta Roma terhadap kedua UU tersebut:

Memberikan dasar hukum bagi Indonesia untuk meratifikasi Statuta Roma dan menjadi negara anggota ICC.
Mengatur tentang kewajiban Indonesia untuk bekerja sama dengan ICC dalam proses penyelidikan dan penuntutan.
Menentukan jenis-jenis kejahatan yang termasuk dalam yurisdiksi ICC.
Memberikan perlindungan bagi saksi dan korban kejahatan yang diadili oleh ICC.
Meskipun Indonesia belum meratifikasi Statuta Roma, namun kedua UU tersebut menunjukkan komitmen Indonesia untuk memberantas kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan
perang.

Jawaban 2.
Dalam kasus kecelakaan Lion Air JT-610, Lion Air bertanggung jawab atas operasional dan keselamatan penerbangan pesawatnya. Jika terdapat kelalaian atau pelanggaran terhadap standar keselamatan
penerbangan yang menyebabkan kecelakaan, Lion Air dapat dipertanggungjawabkan secara pidana sesuai dengan hukum penerbangan yang berlaku. Penyelidikan akan dilakukan untuk menentukan apakah
terdapat kelalaian atau pelanggaran yang dilakukan oleh Lion Air atau pihak terkait lainnya yang berkontribusi terhadap kecelakaan tersebut. Jika terbukti, Lion Air dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku dalam penerbangan.
Selain itu
Tautan permanenTampilkan indukBalas
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi.3
oleh IMAM ASHARI 043410777 - Minggu, 28 April 2024, 17:11
Assalamualaikum wr wb
mohon ijin menjawab diskusi ke 3 kali ini terkait:
1. Berikan analisis mengenai pengaruh Statuta Roma 1998 terhadap hukum UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 26 tahun 2000 !

Indonesia hingga saat ini belum meratifikasi Statuta Roma padahal sebagian kejahatan internasional dalam Statuta Roma sudah diadopsi oleh Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
Kebutuhan Indonesia meratifikasi yaitu menghapuskan praktik impunitas; melakukan pembenahan instrumen hukum, aparat penegak hukum, dan prosedur penegak hukum; menjamin saksi maupun korban
mendapatkan perlindungan; dan memberikan jaminan perlindungan HAM bagi warga negara. Indonesia masih menemukan banyak kendala dalam penegakkan hukum dan HAM sehingga sulit menciptakan
kepastian hukum akibat banyak peraturan yang saling bertentangan.

Beberapa kasus terjadi yaitu kasus Timor-Timur memperlihatkan adanya praktik impunitas, kasus Tanjung Priok membuktikan sulitnya menciptakan pertanggungjawaban pidana individu, dan kasus
pembantaian Tengku Bantaqiyah (Aceh Barat) merupakan kasus yang penyelesaiannya tidak memenuhi prinsip keadilan bagi korban. Berbagai pertimbangan diperlukan dalam hal peratifikasian antara lain
kepentingan negara, dampak terhadap legislasi nasional, dan kelembagaan hukum serta hubungan atau pengaruh negara dalam peraturan dunia internasional.

Kita ketahui bahwa ratifikasi merupakan proses mengikatkan diri suatu negara pada perjanjian internasional. Proses mengikatkan diri berarti melakukan pengesahan dengan menandatangani naskah perjanjian
dan terikat dengan semua ketentuan dalam perjanjian. Peratifikasian Statuta Roma berarti negara tunduk pada ketentuan dalam Statuta Roma kemudian dilakukan penerapan ke dalam hukum nasional suatu
negara. Hal ini bertujuan agar negara bekerjasama penuh dengan ICC.

Berbagai pertimbangan diperlukan dalam hal peratifikasian antara lain kepentingan negara, dampak terhadap legislasi nasional, dan kelembagaan hukum serta hubungan atau pengaruh negara dalam peraturan
dunia internasional.
Dampak positif ratifikasi Statuta Roma bagi Indonesia, antara lain:
1) Hak Preferensi Secara Aktif dan Langsung dalam Segala Kegiatan ICC Indonesia akan dapat memberikan suara dan pandangan tentang halhal yang berkaitan dengan ketentuan Statuta Roma maupun hal lain
yang menyangkut pengaturan dan pelaksanaan ICC. Indonesia akan dapat memberikan hak preferensi untuk memberikan peranannya secara aktif dalam segala kegiatan ICC termasuk perlindungan terhadap
warganegaranya.
2) Kesempatan Untuk Menjadi Bagian dari Organ ICC Negara pihak berhak mencalonkan salah satu warganegaranya untuk menjadi hakim, penuntut umum, atau panitera. Hal ini dapat meningkatkan
kemampuan para aparat penegak hukum Indonesia dalam berpraktik di ICC.
3) Mengefektifkan Sistem Hukum Nasional Mendorong para penegak hukum untuk mengefektifkan instrumen hukum yang berkaitan dengan perlindungan HAM dalam penegakan hukum dan HAM Indonesia.
4) Membantu Percepatan Pembaharuan Hukum di Indonesia Indonesia akan segera terdorong untuk membenahi instrumen hukum agar sesuai dengan ketentuan dalam Statuta Roma.
5) Motivator dalam Peningkatan Upaya Perlindungan HAM Indonesia dapat melaksanakan perlindungan HAM internasional melalui pengadilan HAM secara efektif dan efisien.
6) Menjadi contoh bagi negara lain Dengan meratifikasi Statuta Roma, Indonesia dapat menjadi contoh yang baik dalam upaya perlindungan HAM khususnya bagi negara tetangga dan negara lain.

Sedangkan dampak negatif jika indonesia tidak ratifikasi Statuta Roma, diantaranya:
Tidak Memiliki Posisi Tawar Yang Signifikan 1) Indonesia tidak dapat memberikan suara berkaitan dengan ketentuan maupun pelaksanaan Statuta Roma. Indonesia tidak memiliki posisi tawar yang signifikan,
contohnya : sulit dalam membela dan melindungi warga negara yang RechtsVinding Online didakwa melakukan kejahatan yang termasuk yurisdiksi ICC.
2) Perkembangan Lambat dalam Pengaturan Perlindungan HAM Setelah meratifikasi Statuta Roma, negara pihak harus mempunyai aturan pelaksana yang sesuai ketentuan Statuta sehingga dapat memotivasi
negara untuk memperbaiki instrumen hukum yang berkaitan dalam perlindungan HAM.
3) Praktik Impunitas Praktik impunitas akan terus berjalan apabila Indonesia tidak memperbaiki instrumen hukum terkait perlindungan HAM yang disesuaikan dengan prinsip nonimmunity dalam ketentuan
Statuta.
4) Resiko Intervensi Asing dalam Kedaulatan Negara Apabila Indonesia tidak meratifikasi Statuta Roma, resiko intervensi pihak asing akan semakin besar, hal ini karena Indonesia tidak terlepas dari intervensi
pihak asing dalam kedaulatan hukum Negara. Dengan meratifikasi Statuta Roma, prinsip komplementer akan berlaku di Indonesia. ICC bukan untuk melaksanakan intervensi internasional dengan mengambil
alih fungsi pengadilan nasional suatu negara, namun menjunjung tinggi kedaulatan nasional suatu negara dengan mengutamakan keefektifan mekanisme hukum nasional untuk menghukum pelaku kejahatan
yang merupakan warganegaranya. Hal ini berarti resiko intervensi dari negara-negara lain terhadap kedaulatan negara Indonesia akan berkurang. 5) Tekanan Dari Dunia Internasional Komitmen Indonesia
terhadap perlindungan HAM dapat dianggap hanya sebagai retorika politis karena dalam praktiknya Indonesia tidak mendukung upaya-upaya yang mengarah pada kemajuan perlindungan HAM. Implikasi dari
ratifikasi Statuta Roma yaitu bahwa negara peratifikasi terikat dengan aturan dalam Statuta Roma.
Dengan meratifikasi Statuta Roma, Indonesia akan dapat menjamin penghukuman terhadap pelaku kejahatan internasional. Indonesia akan termotivasi untuk melaksanakan penegakkan HAM melalui
pengefektifan hukum dan sistem peradilan nasional yang dilatarbelakangi salah satu prinsip fundamental ICC yaitu prinsip komplementer.
Setelah Indonesia meratifikasi Statuta Roma, aturan implementasi harus segera disahkan. Hal ini penting untuk meminimalkan intervensi internasional karena Indonesia tidak akan dikategorikan sebagai negara
yang unwilling/unable.
Penyusunan aturan implementasi Statuta Roma bisa dimulai dari penjabaran aturan-aturan Statuta Roma yang belum terakomodir di Indonesia sehingga aturan tersebut dapat diterapkan dalam hukum nasional.
Selain itu perlu melakukan pembaharuan terhadap aturan-aturan yang sudah ada yang bertentangan dengan aturan dalam Statuta Roma, seperti misalnya aturan pidana mati, aturan kadaluwarsa, dan aturan
amnesti RechtsVinding Online bagi pelanggaran HAM yang berat, sehingga pada akhirnya penegakan hukum terkait perlindungan HAM dapat berjalan efektif.
Berdasarkan uraian tersebut diatas statuta roma dapat menjadi acuan dalam referensi penegakan Hukum HAM di Negara Indonesia namun tetap menjalankan sesuai nilai luhur dan moral bangsa Indonesia
sehingga kejelasan hukum bagi Pelaku Pelanggar HAM dapat dilakukan dengan Rasa keadilan dan Kebenaran.

2. Berikan ulasan mengenai karakterakteristik khusus sehingga tindak pidana dalam penerbangan dikatagorikan sebagai tindak pidana khusus dan analisis mengenai pertanggungjawaban pidana Lion Air dalam
kasus kecelakaan JT-610?

Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan , pada Pasal 1 angka 55 secara jelas mengartikan "setiap orang" sebagai orang perorangan atau korporasi, dengan kata lain korporasi dalam hal ini
Maskapai Lion Air adalah subjek hukum (rechts subject) dalam tindak pidana penerbangan yang tersirat pada Pasal 1 angka 20 yang merumuskan makna dari badan usaha angkutan udara sebagai badan usaha
milik negara, badan usaha milik daerah atau badan hukum Indonesia berbentuk perseroan terbatas atau koperasi yang digunakan mengangkut penumpang, kargo, dan/atau pos dengan memungut pembayaran.
Dengan diakuinya korporasi sebagai subjek tindak pidana dalam undang-undang penerbangan, berarti korporasi dianggap mampu melakukan tindak pidana dan dapat dipertanggungjawabkan perbuatannya
dalam hukum pidana (corporate criminal responsibility).
Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 menitik beratkan tindak pidana penerbangan pada 2 hal, yaitu pertama tindak pidana administrasi dan kedua tindak pidana mengenai keamanan dan keselamatan penumpang,
barang dan atau kargo. Tindak pidana administrasi adalah tindak pidana yang berhubungan dengan pelanggaran izin atau lisensi.

Mengapa bentuk pertanggungjawaban pidana pada kasus lion air pada kasus kecelakan tersebut masuk kedalam tindak pidana Khusus, karena didalam UU penerbangan itu sendiri terdapat karakteristik Hukum
Pidananya baik terhadap Pelaku dari sisi subyek maupun dari segi unsur kesalahan baik dolus maupun culpa. Selain itu tanggungjawab yang dibebankan didalam UU penerbangan juga berbeda dengan KUHP
sehingga ini yang menajdi ciri khas tersendiri dalam tindak pidana khususnya di dunia penerbangan.

Sumber referensi:
1. BMP HKUM 4309 Tindak Pidana Khusus Modul 4 hal 4.5-4-36
2. PPT 3 TINDAK PIDANA HAM, TINDAK PIDANA TERORISME, & TINDAK PIDANA PENERBANGAN
3. TINDAK PIDANA DI DALAM PESAWAT UDARA SELAMA PENERBANGAN MENURUT UNDANG- UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN Oleh : Riandy Christofel
Tombeg2

Anda mungkin juga menyukai