0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan9 halaman

Jawaban Riski

Diunggah oleh

Dika Saputra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan9 halaman

Jawaban Riski

Diunggah oleh

Dika Saputra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Riski Galang Ramadhan

NIM : 856996988
Matkul : Pembelajaran IPA di SD

Jawaban!
1. )
a. Pembelajaran yang Sesuai dengan Tahap Perkembangan Siswa SD Menurut Piaget
Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, siswa SD (kira-kira usia 7-11 tahun)
berada dalam tahap perkembangan operasional konkret. Pada tahap ini, anak-anak mulai
berpikir secara logis tentang objek-objek konkret dan peristiwa-peristiwa, tetapi mereka
masih kesulitan dengan konsep-konsep yang abstrak. Pembelajaran yang sesuai dengan tahap
ini meliputi:

Aktivitas Konkret: Menggunakan objek nyata dan pengalaman langsung untuk membantu
siswa memahami konsep.
Eksperimen dan Percobaan**: Mendorong siswa untuk melakukan eksperimen dan
percobaan sendiri untuk memahami prinsip-prinsip ilmiah.
3. **Diskusi dan Interaksi Sosial**: Memfasilitasi diskusi kelompok dan interaksi sosial
untuk membantu siswa berbagi ide dan pemahaman.

Dalam konteks Pak Indra, dia sudah melakukan pembelajaran yang sesuai dengan tahap
perkembangan ini dengan meminta siswa melakukan percobaan yang melibatkan konsep
gaya dan perubahan gerak.

### b. Analisis Kelebihan dan Kelemahan Kasus Tersebut

#### Kelebihan:
1. **Penggunaan Percobaan Konkret**:
- **Kelebihan**: Memberikan siswa pengalaman langsung dan nyata tentang bagaimana
gaya mempengaruhi gerak. Hal ini sesuai dengan kemampuan kognitif mereka dalam
memahami objek konkret.
- **Kelemahan**: Jika percobaan tidak dirancang dengan baik atau terlalu kompleks, siswa
mungkin akan merasa bingung atau tidak mendapatkan pemahaman yang jelas.
2. **Penugasan Laporan**:
- **Kelebihan**: Mengembangkan kemampuan siswa dalam mengamati, mencatat, dan
melaporkan hasil percobaan, yang merupakan keterampilan penting.
- **Kelemahan**: Mungkin terlalu menuntut untuk beberapa siswa yang belum terbiasa
membuat laporan tertulis secara mandiri.

3. **Penjelasan Awal Materi**:


- **Kelebihan**: Memberikan dasar pemahaman teori yang kemudian diaplikasikan dalam
percobaan. Ini membantu siswa menghubungkan teori dengan praktek.
- **Kelemahan**: Jika penjelasan terlalu abstrak atau teoretis, siswa mungkin kesulitan
memahaminya karena mereka masih dalam tahap berpikir konkret.

#### Kelemahan:
1. **Kurangnya Pemahaman Abstrak**:
- **Kelemahan**: Beberapa konsep mungkin masih terlalu abstrak untuk siswa pada tahap
ini, sehingga penjelasan teoretis harus benar-benar disederhanakan dan dihubungkan dengan
pengalaman konkret.

2. **Waktu dan Pengelolaan Kelas**:


- **Kelemahan**: Melakukan percobaan membutuhkan waktu yang cukup dan pengelolaan
kelas yang baik. Siswa yang belum mandiri mungkin memerlukan bimbingan lebih banyak,
yang bisa menjadi tantangan bagi guru.

3. **Penutup Pembelajaran**:
- **Kelemahan**: Penutup pembelajaran yang hanya menyatakan bahwa pembelajaran
selesai tanpa adanya refleksi atau umpan balik bisa membuat siswa kehilangan kesempatan
untuk memperkuat pemahaman dan mengevaluasi pengalaman mereka.

Pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif menurut Piaget memerlukan
pendekatan yang mendukung eksplorasi konkret dan interaksi aktif. Dengan demikian, guru
perlu merancang kegiatan yang mendorong pemahaman melalui pengalaman langsung sambil
memastikan bimbingan dan dukungan yang memadai untuk siswa.
2.)
Contoh Kasus Pembelajaran:
Misalnya, kasus pembelajaran di soal pertama melibatkan pembelajaran tentang ekosistem
hutan kepada siswa SMP. Kelemahan yang teridentifikasi mungkin termasuk:
Kurangnya keterlibatan siswa karena metode pembelajaran yang terlalu teoretis.
Kesulitan siswa dalam memahami konsep ekosistem karena kurangnya pengalaman langsung.
Revisi dan Pengembangan Skenario Pembelajaran menggunakan PLAS
Skenario Pembelajaran yang Direvisi:
Pendahuluan:
Guru memperkenalkan topik ekosistem hutan dengan menggunakan video atau gambar dari
hutan lokal.
Diskusi kelas tentang pengalaman pribadi siswa yang pernah berkunjung ke hutan atau
melihat hutan di sekitar mereka.
Kegiatan Utama:
Kunjungan Lapangan:
Siswa dibawa ke hutan lokal atau taman kota yang memiliki area hutan mini. Di sana, mereka
dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diberikan tugas pengamatan.
Setiap kelompok diminta untuk mengidentifikasi berbagai komponen ekosistem seperti
tanaman, hewan, tanah, dan air serta interaksi antar komponen tersebut.
Pengumpulan Data:
Siswa mengumpulkan sampel daun, tanah, dan mencatat pengamatan mereka tentang
berbagai spesies yang ditemukan.
Menggunakan peta sederhana, siswa menandai area di mana mereka menemukan spesies
tertentu.
Analisis dan Diskusi:
Kembali ke kelas, setiap kelompok mempresentasikan temuan mereka.
Diskusi dipandu oleh guru tentang bagaimana komponen-komponen tersebut berinteraksi dan
pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Penutup:
Siswa membuat laporan tertulis tentang kunjungan lapangan mereka dan
mempresentasikannya dalam bentuk poster atau PowerPoint.
Refleksi pribadi tentang apa yang telah dipelajari dan bagaimana hal tersebut dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga lingkungan.
3.)
a. **Apakah cara tersebut sesuai dengan hakikat IPA? Jelaskan jawaban Anda!**

Cara Bu Intan meminta anak membaca, merangkum, dan mempresentasikan di depan kelas
sudah mencakup beberapa aspek penting dalam pembelajaran IPA, seperti pemahaman materi
dan kemampuan komunikasi. Namun, hakikat IPA mencakup lebih dari itu, yaitu eksplorasi,
pengamatan langsung, eksperimen, dan penemuan konsep melalui pengalaman nyata.
Pembelajaran IPA yang efektif seharusnya melibatkan kegiatan yang mempromosikan
keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pemahaman konsep melalui metode
ilmiah. Aktivitas seperti eksperimen atau demonstrasi langsung sifat-sifat cahaya akan lebih
sesuai dengan hakikat IPA, karena memungkinkan siswa untuk belajar melalui pengalaman
langsung dan penemuan sendiri.

b. **Tentukan satu metode/model pembelajaran yang sesuai dengan hakikat IPA, kemudian
revisilah desain tersebut menjadi skenario pembelajaran (kegiatan awal, inti, dan akhir)**

Metode pembelajaran yang sesuai dengan hakikat IPA adalah **Metode Eksperimen**.
Berikut adalah revisi desain tersebut menjadi skenario pembelajaran:

### Skenario Pembelajaran

#### Kegiatan Awal


1. **Apersepsi dan Motivasi:**
- Guru membuka pelajaran dengan bertanya kepada siswa mengenai sumber-sumber cahaya
yang mereka ketahui.
- Guru menampilkan video pendek tentang fenomena cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
- Guru menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini yaitu mempelajari sifat-sifat cahaya
melalui eksperimen.

2. **Pemahaman Awal:**
- Guru meminta siswa untuk menyebutkan beberapa sifat cahaya yang sudah mereka
ketahui dari pengalaman atau pelajaran sebelumnya.
#### Kegiatan Inti
1. **Eksplorasi dan Eksperimen:**
- Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil.
- Setiap kelompok diberikan alat dan bahan untuk melakukan eksperimen, seperti senter,
cermin, prisma, dan kertas.
- Guru memberikan lembar kerja yang berisi instruksi langkah-langkah eksperimen untuk
mengamati sifat-sifat cahaya, seperti pemantulan, pembiasan, dan dispersi.

2. **Pengamatan dan Diskusi:**


- Siswa melakukan eksperimen sesuai dengan instruksi dalam lembar kerja.
- Setiap kelompok mencatat hasil pengamatan mereka pada lembar kerja yang telah
disediakan.
- Guru berkeliling untuk membimbing dan memastikan setiap kelompok melakukan
eksperimen dengan benar.

3. **Analisis dan Presentasi:**


- Setiap kelompok mendiskusikan hasil eksperimen mereka dan menyusun kesimpulan
tentang sifat-sifat cahaya yang telah diamati.
- Perwakilan dari setiap kelompok mempresentasikan hasil eksperimen mereka di depan
kelas.

#### Kegiatan Akhir


1. **Refleksi dan Kesimpulan:**
- Guru mengajak siswa untuk merefleksikan proses pembelajaran hari ini dan berbagi apa
yang telah mereka pelajari tentang sifat-sifat cahaya.
- Guru merangkum poin-poin penting dari hasil presentasi setiap kelompok dan
menjelaskan kembali konsep-konsep utama tentang sifat-sifat cahaya.

2. **Penutup:**
- Guru memberikan tugas individu berupa soal latihan terkait sifat-sifat cahaya untuk
dikerjakan di rumah.
- Guru menutup pelajaran dengan memberi motivasi dan mengingatkan siswa untuk selalu
memperhatikan fenomena cahaya dalam kehidupan sehari-hari.

4.)
### a. Analisis Pembelajaran

**Hakikat IPA:**
- **Observasi dan Eksplorasi:** Pembelajaran IPA seharusnya melibatkan observasi
langsung dan eksplorasi fenomena alam.
- **Proses Inkuiri:** Siswa harus dilibatkan dalam proses inkuiri, di mana mereka
mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan, dan menarik kesimpulan.

**Tingkat Perkembangan Anak Usia SD dalam Teori Piaget:**


- **Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun):** Anak-anak pada tahap ini mampu
berpikir logis tentang objek konkret. Mereka dapat melakukan klasifikasi dan seriasi,
namun masih memerlukan dukungan konkret dalam berpikir.

**Analisis:**
- **Positif:**
- Penggunaan gambar-gambar makanan membantu konkretisasi konsep, sesuai dengan tahap
operasional konkret.
- Kegiatan identifikasi dan presentasi mendorong siswa untuk berpikir dan berkomunikasi.

- **Negatif:**
- Tidak ada aktivitas eksplorasi langsung atau eksperimen yang melibatkan siswa dalam
proses inkuiri.
- Pembelajaran lebih bersifat pasif, tidak mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan
atau melakukan percobaan.

### b. Perbaikan Pembelajaran


**Kegiatan Awal:**
1. **Pendahuluan (10 menit):**
- Guru membuka pelajaran dengan pertanyaan pemantik, seperti “Apakah kalian tahu
bahwa ada makanan yang lebih mudah dicerna daripada yang lain? Apa contoh-contohnya?”
- Guru mengaitkan topik dengan pengalaman sehari-hari siswa untuk menarik perhatian.

**Kegiatan Inti:**
2. **Eksplorasi dan Inkuiri (20 menit):**
- **Eksperimen Sederhana:**
- Guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil.
- Setiap kelompok diberikan bahan makanan yang berbeda (misalnya, roti, nasi, kacang-
kacangan, dan daging).
- Siswa diminta untuk mengamati dan mencatat perbedaan fisik dari makanan tersebut
(misalnya, tekstur, warna, bau).
- **Diskusi Kelompok:**
- Siswa mendiskusikan hasil pengamatan mereka dalam kelompok dan mencoba
memprediksi mana makanan yang lebih mudah dan sulit dicerna, berdasarkan pengamatan.
- Guru memberikan penjelasan tambahan tentang proses pencernaan dan faktor-faktor
yang mempengaruhi pencernaan makanan.

3. **Presentasi dan Diskusi Kelas (20 menit):**


- Setiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan prediksi mereka.
- Guru memfasilitasi diskusi kelas untuk membandingkan hasil setiap kelompok dan
menjelaskan konsep lebih lanjut.

**Kegiatan Penutup:**
4. **Refleksi dan Kesimpulan (10 menit):**
- Guru mengajak siswa untuk merefleksikan apa yang telah mereka pelajari tentang
makanan yang mudah dan sulit dicerna.
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan dan
memberikan klarifikasi.
- Guru menutup pelajaran dengan menyimpulkan poin-poin utama yang telah dipelajari dan
memberikan tugas ringan seperti membuat jurnal makanan yang mereka makan selama
seminggu dan mencoba mengklasifikasikannya.

### Penjelasan Perbaikan

**Mengapa Perbaikan Ini Sesuai dengan Hakikat IPA:**


- **Proses Inkuiri:** Siswa dilibatkan dalam proses inkuiri melalui eksperimen sederhana
dan diskusi kelompok.
- **Eksplorasi Aktif:** Siswa aktif dalam eksplorasi dan analisis makanan, bukan hanya
mengidentifikasi gambar secara pasif.

**Mengapa Perbaikan Ini Sesuai dengan Teori Piaget:**


- **Tahap Operasional Konkret:** Kegiatan eksperimen dan pengamatan langsung sesuai
dengan kebutuhan siswa di tahap operasional konkret yang memerlukan objek nyata untuk
berpikir logis.
- **Kolaborasi dan Diskusi:** Diskusi kelompok dan presentasi mendorong perkembangan
sosial dan kognitif siswa, yang penting dalam teori perkembangan kognitif Piaget.

**Konstruktivisme dalam Pembelajaran:**


- **Konstruk Pengetahuan:** Siswa membangun pemahaman mereka sendiri melalui
pengalaman langsung dan refleksi.
- **Pembelajaran Berbasis Masalah:** Kegiatan pembelajaran berpusat pada masalah nyata
yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, memungkinkan mereka untuk
menghubungkan konsep dengan pengalaman mereka sendiri.

Anda mungkin juga menyukai