BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
Landasan teori pada penelitian ini diperoleh dari sumber-sumber referensi yang
relevan dan mengacu pada pokok permasalahan yang dibahas. Sumber referensi
digunakan untuk mendukung dan menjawab permasalahan-permasalahan yang
dikaji di dalam penelitian ini. Adapun teori yang digunakan penulis pada penelitian
ini mencakup teori yang berkaitan dengan arsip dinamis, pengelolaan arsip dinamis
aktif, pengorganisasian arsip, temu kembali dan penyimpanan arsip.
2.1.1. Pengertian Arsip
Pada awalnya, kata arsip berasal dari bahasa Yunani yaitu arche yang berarti
permulaan. Kata arche kemudian berkembang menjadi archia yang berarti catatan.
Selanjutnya kata archia mengalami perubahan menjadi arsipcheton yang berarti
gedung pemerintahan. Dalam bahasa Latin arsip disebut dengan archivum atau
archium dan dalam bahasa Inggris arsip desebut dengan archieve. Adapun
penggunaan kata arsip di Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Belanda,
yaitu archief yang artinya warkat (Priansa dan Agus Garnida, 2013: 157).
Menurut Barthos (2007: 11), arsip merupakan naskah dan dokumen yang
dibuat, diterima dan dipergunakan oleh lembaga negara atau badan pemerintahan
dalam bentuk dan corak, baik dalam keadaan tunggal maupun kelompok dalam
10
11
rangka pelaksanaan pemerintahan. Pernyataan serupa juga tertulis di dalam
Undang-Undang No. 43 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 2 yang menyatakan :
“Arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk
dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi yang dibuat dan terima oleh lembaga negara, pemerintahan
daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi
kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”
Dari penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Arsip merupakan
dokumen tertulis, lisan, maupun bergambar (foto, film, dan sebagainya) dari
kegiatan atau aktivitas yang sudah dikerjakan dan disimpan dalam media tulis
(kertas) atau elektronik (pita kaset, pita video, disket komputer, dan sebagainya)
yang diciptakan oleh instansi resmi, disimpan, dipelihara di tempat khusus karena
memiliki nilai guna pada setiap kegiatan di lembaga negara, pemerintahan daerah,
lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan,
atau perseorangan. Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1971 pasal 2 fungsi
arsip terbagi menjadi dua yaitu:
1. Arsip Dinamis yaitu arsip yang secara langsung dipergunakan dalam
perencanaan, pelaksanaan, penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada
umumnya atau dipergunakan secara langsung dalam penyelenggaraan
administrasi Negara dan disimpan selama jangka waktu tertentu.
2. Arsip Statis yaitu arsip yang tidak dipergunakan secara langsung untuk
perencanaan, penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumya
maupun untuk penyelenggaraan sehari-hari administrasi negara karena
memiliki guna kesejarahan, telah habis masa retensinya dan
12
berketerangan dipermanenkan yang diverifikasi oleh ANRI (Arsip
Nasional Republik Indonesia) atau lembaga kearsipan.
2.1.2. Arsip Dinamis
Arsip dinamis merupakan kumpulan dokumen yang disimpan di instansi karena
masih diperlukan untuk kegiatan perencanaan, pengambilan keputusan,
pengawasan dan keperluan lain. Sulistiyo Basuki (2005: 5) mendefinisikan arsip
sebagai record yang artinya informasi terekam, termasuk data dalam sistem
komputer, yang dibuat atau diterima oleh badan korporasi atau perseorangan dalam
transaksi kegiatan atau melakukan tindakan sebagai bukti aktivitas tersebut.
Adapun menurut Sugiarto dan Teguh Wahyono (2005: 5) yang menyatakan
bahwa arsip dinamis adalah arsip yang dipergunakan secara langsung dalam
perencanaan, pelaksanaan dan penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada
umumnya atau dipergunakan secara langsung dalam penyelenggaraan administrasi
negara.” Dari pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa arsip dinamis
merupakan informasi yang terekam di dalam sebuah media, dibuat atau diterima
oleh badan korporasi atau perseorangan, dipergunakan secara langsung dan terus-
menerus dalam kegiatan administrasi perkantoran yang bertujuan sebagai bukti
aktivitas tersebut.
Ditinjau dari fungsi dan sifat kepentingannya arsip dinamis terbagi menjadi
beberapa kategori. Barthos (2007: 4) membedakan arsip dinamis menjadi dua yaitu:
13
1. Arsip Aktif adalah arsip yang secara langsung dan terus menerus
digunakan dalam penyelenggaraan administrasi sehari-hari serta masih
dikelola dan disimpan di unit pengolah atau pencipta.
2. Arsip Inaktif adalah arsip yang tidak secara langsung digunakan dalam
penyelenggaraan administrasi sehari-hari karena frekuensi
penggunaannya telah menurun serta disimpan di unit kearsipan.
2.1.3. Fungsi Arsip Dinamis
Arsip dinamis disimpan di Unit Pencipta dan Unit Kearsipan karena masih
diperlukan dalam kegiatan administasi sehari-hari. Menurut Sulistiyo Basuki
(2003: 31) arsip dinamis disimpan karena memiliki fungsi, di antaranya untuk;
1. Memori badan korporasi
Arsip diperlukan karena pengelola arsip pada badan korporasi memiliki daya
ingat yang terbatas. Bila ada arsip yang diperlukan untuk data kegiatan, maka
hasil ingatan pengelola sangatlah terbatas. Untuk mencegah terjadinya
kesalahan dalam pengambilan keputusan, badan korporasi mengandalkan
informasi yang terekam/tertulis sebagai dasar pengambilan keputusan.
2. Pengambilan keputusan manajemen
Proses pengambilan keputusan meliputi penentuaan masalah,
mengembangkan alternatif, memilih dan menerapkan pemecahan yang
terbaik dan menilai keputusan yang diambil. Arsip dinamis juga menyediakan
informasi yang diperlukan untuk keputusan terprogram atau rutin. Jenis
14
keputusan semacam ini dilakukan berdasarkan kebijakan, prosedur dan
peraturan badan korporasi yang mapan.
3. Menunjang litigasi
Bilamana sebuah badan korporasi menggugat badan korporasi lain, maka
arsip dinamis menyediakan dokumentasi yang diperlukan untuk digunakan di
pengadilan. Dokumentasi yang jelas dari maksud dan tindakan sebuah badan
korporasi merupakan pengaman dan pelindung terhadap litigasi.
4. Mengurangi biaya dan volume penggunaan kertas
Perlunya perhatian terhadap meningkatnya volume kertas yang digunakan
berimbas pada biaya pemeliharaan. Untuk itu dibutuhkan ancangan sistematis
terhadap konsep arsip dinamis secara total, mulai dari penciptaan sampai
dengan pemusnahan, dalam upaya mengendalikan volume kertas yang
meningkat
5. Efisiensi badan korporasi
Badan korporasi akan mengalami inefisiensi bilamana informasi yang
diperlukan tidak segera tersedia. Ancangan yang sistematis terhadap
manajemen arsip dinamis menyediakan sarana temu balik informasi guna
meningkatkan efisiensi pegawai dan badan korporasi.
6. Ketentuan Hukum
Arsip dinamis di badan korporasi yang ada kaitannya dengan pemerintah,
tunduk pada retensi dan kriteria pemusnahan arsip inaktif disamping juga
tunduk ketentuan badan korporasi. Bilamana ada pemeriksaan, badan
15
korporasi yang memperoleh kontrak kerja atau pesanan dari pemerintah harus
mampu menyediakan dokumentasi atas permintaan pemeriksa
7. Rujukan Historis
Arsip dinamis merekam masa lalu dan menyediakan informasi untuk masa
depan. Arsip dinamis melestarikan sejarah untuk generasi mendatang.
Bilamana arsip tersebut hilang atau rusak, sebagian besar informasi yang
terkandung di dalamnya tidak dapat diperoleh kembali.
2.1.4. Pengelolaan Arsip Dinamis Aktif
Pengelolaan merupakan proses atau tata kelola untuk mengorganisasi dan
memberikan pengawasan kepada semua aspek dan pihak yang terlibat untuk
mencapai tujuan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Sugiharto dan
Teguh Wahyono (2005: 15), pengelolaan arsip merupakan seni pengendalian
dokumen berupa pengendalian penggunaan, pemeliharaan, perlindungan serta
penyimpanan arsip. Hal tersebut bertujuan supaya arsip yang dikelola dapat terarah
dan terpantau dengan teratur oleh petugas kearsipan, sehingga nilai kegunaan dari
arsip tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif.
Pada setiap instansi pemerintah, pengelolaan arsip menjadi sesuatu hal yang
wajib dilaksanakan untuk menjaga kelancaran arus informasi di instansi terkait. Hal
tersebut tertulis di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun
2009 Tentang Kearsipan Bab IV Pasal 1 yang menyatakan bahwa pengelolaan arsip
dinamis dilaksanakan untuk menjamin ketersediaan arsip dalam penyelenggaraan
kegiatan sebagai bahan akuntabilitas dan alat bukti yang sah berdasarkan suatu
16
sistem yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Pengelolaan arsip dinamis
aktif meliputi tahap penciptaan, penggunaan dan pemeliharaan.
Pada tahap penciptaan, arsip berasal sebuah kumpulan dokumen atau surat
yang dihasilkan oleh instansi sebagai bentuk kegiatan administrasi. Menurut
Undang-Undang Tahun 2009 pasal 41 penciptaan arsip dilaksanakan dengan baik
dan benar untuk menjamin rekaman kegiatan dan peristiwa sebagaimana adanya
sehingga menghasilkan arsip yang autentik, utuh dan terpercaya sesuai peraturan
yang dilaksanakan berdasarkan analisis fungsi dan tugas organisasi. Karena itu
pencipta atau pengelola arsip wajib mengatur dan mendokumentasikan proses
pembuatan dan penerimaan arsip secara akurat. Berdasarkan penyataan tersebut,
surat dapat dijadikan sebagai alat bukti atau rekaman yang sah dalam manajemen
kearsipan. Surat merupakan media komunikasi tertulis untuk menyampaikan
maksud dan tujuan seseorang (pegawai) kepada pihak lain yang bersangkutan.
Maka dari itu penciptaan arsip yang meliputi pengelolaan dan pengendalian surat
masuk dan surat keluar harus dikelola dengan baik, mengingat bahwa surat
merupakan salah satu arsip dinamis aktif yang selalu ada dan dibutuhkan pada
setiap kegiatan administrasi di lingkungan instansi pemerintahan. Kegiatan
penciptaan arsip meliputi penerimaan surat masuk dan penciptaan surat keluar.
1. Surat Masuk
Surat masuk merupakan sarana komunikasi tertulis yang diterima dari
instansi lain atau perorangan. Pengurusan dan pengendalian surat masuk di
instansi dapat digolongkan menurut jenis, isi, kepentingan surat. Secara
17
umum langkah-langkah pengurusan surat masuk dibagi menjadi lima tahapan
yaitu;
a. Penerimaan Surat
b. Penyortiran Surat
c. Pencatatan Surat
d. Pengarahan Surat
e. Penyimpanan Surat (Yatimah, 2009: 124-131)
Adapun menurut Peraturan Walikota nomor 26 Tahun 2010 Tentang
Pedoman Tata Kelola Naskah Dinas di Lingkungan Pemkot Semarang pasal
7, yang menerangkan bahwa pengelolaan surat masuk dilakukan melalui :
“1. Instansi penerima menindaklanjuti surat yang diterima melalui
tahapan :
a ). Diagenda dan diklasifikasi sesuai sifat surat serta
didistribusikan ke unit pengelola;
b ). Unit Pengelola menindaklanjuti sesuai dengan klasifikasi
surat dan arahan pimpinan; dan
c ). Surat masuk diarsipkan pada unit tata usaha.
2. Salinan surat jawaban yang mempunyai tembusan disampaikan
kepada yang berhak.
3. Alur surat menyurat diselenggarakan melalui mekanisme dari
tingkat pimpinan tertinggi hingga pejabat struktural terendah
yang berwenang.”
2. Surat Keluar
Surat keluar merupakan surat yang sudah lengkap (bertanggal, bernomor,
bertanda tangan dan ber-stempel) yang dibuat oleh instansi untuk dikirim atau
ditujukan kepada kantor lain atau perorangan sebagai balasan dari surat
masuk yang diterima oleh instansi tersebut. Pada dasarnya langkah-langkah
kepengurusan surat keluar mencakup tujuh tahapan yaitu;
18
a. Pembuatan Konsep Surat
b. Pengetikan Surat
c. Penyutingan Surat
d. Pelipatan dan Penyampulan Surat
e. Pembubuhan Alamat Surat
f. Pencatatan Surat
g. Pengiriman dan Penyimpanan Surat (Yatimah, 2009: 131-164).
Adapun pengelolaan surat keluar menurut Peraturan Walikota nomor
26 Tahun 2010 pasal 8, yang dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut;
a. Konsep surat keluar di paraf secara berjenjang dan terkoordinasi
sesuai dengan tugas dan kewenangan serta diagendakan oleh masing-
masing unit tata usaha dalam rangka pengendalian.
b. Surat keluar yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang diberi
nomor, tanggal dan stempel oleh unit tata usaha pada masing-masing
satuan kerja perangkat daerah.
c. Surat keluar atau surat jawaban yang mempunyai tembusan wajib
segera dikirim.
d. Surat keluar disimpan dan diarsipkan pada unit tata usaha.
Adapun menurut Peraturan Walikota nomor 26 Tahun 2010 Tentang
Pedoman Tata Kelola Naskah Dinas di Lingkungan Pemkot Semarang pasal 9 yang
19
menjelaskan bahwa, tingkat keamanan surat dilakukan dengan cara mencantumkan
kode pada sampul naskah/bagian dokumen sebagai berikut:
“a. Surat sangat rahasia disingkat SR, merupakan surat yang materi dan
sifatnya memiliki tingkat keamanan yang tinggi, erat hubungannya
dengan rahasia negara, keamanan dan keselamatan negara.
b. Surat rahasia disingkat R, merupakan surat yang materi dan sifatnya
memiliki tingkat keamanan tinggi yang berdampak kepada kerugian
Negara, disintegrasi bangsa.
c. Surat penting disingkat P, merupakan surat yang tingkat keamanan
isi surat perlu mendapat perhatian penerima surat.
d. Surat konfidensial disingkat K, merupakan surat yang materi dan
sifatnya memiliki tingkat keamanan sedang yang berdampak kepada
terhambatnya jalannya pemerintahan dan pembangunan.
e. Surat biasa disingkat B, merupakan surat yang materi dan sifatnya
biasa namun tidak dapat disampaikan kepada yang tidak berhak.”
Apabila pada tahap penciptaan terkelola dengan baik maka pada tahap
penggunaan arsip dinamis aktif akan memudahkan pegawai dalam melakukan
kegiatan penyimpanan dan temu kembali. Penggunaan arsip merupakan pemakaian
arsip oleh pengguna atau pegawai instansi karena dibutuhkan. Menurut Peraturan
Gubernur Jawa Tengah nomor 39 tahun 2016 pasal 1 ayat 18 menyatakan bahwa,
penggunaan arsip merupakan kegiatan pemanfaatan dan penyediaan arsip bagi
kepentingan pengguna arsip yang mempunyai kepentingan. Dalam hal ini, pencipta
atau pengelola arsip mempunyai tugas untuk menyediakan serta mengawasi
penggunaan arsip dinamis bagi kepentingan pengguna/pegawai di lingkungan
instansi. Salah satu kegiatan yang harus dilakukan pada tahap penggunaan arsip
ialah pemberkasan arsip. Pemberkasan arsip merupakan kegiatan penataan fisik dan
informasi arsip serta menyusun daftar arsip secara rapi dan sistematis. Kegiatan
pemberkasan arsip berfungsi untuk mempermudah pengguna atau pengelola arsip
dalam melakukan temu kembali. Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia
20
nomor 28 tahun 2012 tentang pelaksanaan Undang Undang nomor 43 tahun 2009
menjelaskan bahwa, pemberkasan arsip merupakan penempatan
naskah/dokumen/surat ke dalam suatu himpunan atau kelompok yang tersusun
secara sistematis dan logis dengan konteks kegiatannya sehingga menjadi satu
kelompok yang sama sehingga memiliki hubungan informasi, kesamaan jenis atau
kesamaan masalah dari suatu unit kerja. Pemberkasan arsip meliputi klasifikasi,
deskripsi, waktu, jumlah dan keterangan arsip. Adapun isi informasi arsip meliputi
nomor berkas, nomor ite arsip, kode klasifikasi, informasi arsip tanggal, jumlah,
dan keterangan arsip.
Mengingat dari penggunaan arsip dinamis aktif yang secara khusus
dipergunakan oleh pegawai instansi, arsip bersifat rahasia dan tidak bersifat terbuka
untuk umum. Maka dari itu, sistem pengamanan arsip diperlukan oleh petugas di
setiap kantor untuk menjaga kerahasiaan isi dan informasi yang terdapat di dalam
arsip. Sugiarto dan Teguh Wahyono (2005: 92) menjelaskan bahwa pegamanan
arsip ialah usaha penjagaan agar fisik arsip tidak hilang serta isi atau informasinya
tidak diketahui oleh orang yang tidak berhak.
Aspek terpenting yang sering dilupakan dalam penggunaan arsip adalah
pemeliharaan arsip. Menurut Sugiarto dan Teguh Wahyono (2005: 83),
pemeliharaan arsip merupakan suatu usaha penjagaan arsip agar kondisi fisik arsip
tidak rusak selama masih mempunyai nilai guna. Adapun menurut Peraturan
Gubernur Jawa Tengah nomor 39 tahun 2016 pasal 1 ayat 19 yang menjelaskan
bahwa, pemeliharaan arsip merupakan kegiatan atau usaha untuk menjaga keutuhan,
keamanan dan keselamatan arsip baik dari segi fisik maupun informasinya.
21
Mengingat dari pengertian arsip dinamis aktif yang digunakan terus-menerus dalam
kegiatan administrasi perkantoran, arsip dinamis sangat mudah dalam mengalami
kerusakan secara fisik yang disebabkan oleh faktor perusak dari dalam (media arsip,
kualitas kertas, dan lain-lain) maupun faktor dari luar (serangga perusak, kelalaian
manusia, tempat penyimpanan dan lain-lain). Dalam hal ini arsip dinamis aktif
haruslah dipelihara dengan baik supaya data dan informasi yang terdapat di dalam
arsip tersebut tidaklah hilang.
Kegiatan pengelolaan arsip dinamis aktif meliputi tahapan penciptaan,
penggunaan dan pemeliharaan. Maka dari itu, manusia memiliki peranan penting
dalam mengatur dan mengelola arsip. Sebab tanpa adanya campur tangan manusia,
kegiatan pengelolaan arsip dinamis aktif tidak akan berjalan sesuai yang diharapkan,
walaupun didukung oleh sarana dan prasarana yang lengkap. Dalam melakukan
kegiatan tata kelola arsip dinamis aktif, instansi pemerintahan memerlukan pegawai
yang memiliki kompetensi di bidang kearsipan. Menurut Peraturan Gubernur jawa
Tengah nomor 39 tahun 2016 pasal 1 ayat 32 menyatakan bahwa, sumber daya
manusia kearsipan adalah seorang pegawai negeri sipil atau non pegawai negeri
sipil yang memiliki kompetensi di bidang kearsipan serta memiliki tugas pokok dan
tanggungjawab dalam melaksanakan kegiatan kearsipan.
2.1.5. Pengorganisasian Arsip
Pada manajemen kearsipan, pengelolaan dan tanggung jawab haruslah jelas. Hal
tersebut bertujuan agar kegiatan penyimpanan, penempatan dan pengelolaan arsip
menjadi tertata dan terkelola dengan baik dan terarah. Menurut Sugiarto dan Teguh
22
Wahyono (2005: 23) sistem pengorganisasian arsip dalam kantor terbagi menjadi
tiga, yaitu;
1. Sentralisasi
Asas Sentralisasi yaitu sistem pengelolaan arsip yang dilakukan secara
terpusat dalam suatu organisasi, atau dengan kata lain penyimpanan arsip
yang dipusatkan pada satu unit kerja khusus yang lazim disebut Sentral Arsip.
Dengan sentralisasi arsip maka semua surat-surat kantor yang sudah selesai
diproses dan disimpan di Sentral Arsip.
2. Desentralisasi
Asas Desentralisasi yaitu pengelolaan arsip yang dilakukan pada setiap unit
kerja dalam suatu organisasi. Bila suatu kantor atau organisasi menganut
sistem pengelolaan secara desentralisasi, ini berarti bahwa semua unit
mengelola arsipnya masing-masing. Dalam sistem ini setiap unit yang
mempunyai tugas untuk mengatur dan mengelola arsipnya sendiri.
3. Kombinasi Sentralisasi dan Desentralisasi
Dalam penanganan arsip secara kombinasi, arsip yang masih aktif
dipergunakan atau disebut arsip aktif (active file) dikelola di unit kerja
masing-masing pengolah, dan arsip arsip yang kurang dipergunakan atau
disebut arsip inaktif dikelola di Sentral Arsip. Dengan demikian, pegelolaan
arsip aktif dilakukan secara desentralisasi dan arsip inaktif secara sentralisasi,
2.1.6. Temu Kembali dan Penyimpanan Arsip
23
Keberhasilan suatu instansi dalam melakukan manajemen kearsipan dapat
ditentukan oleh sistem temu kembali dan penyimpanan arsip. Sebab penemuan
kembali dan penyimpanan arsip merupakan salah satu kegiatan administrasi
perkantoran di instansi yang sering dilakukan oleh setiap pegawai. Kegiatan temu
kembali arsip merupakan pencarian fisik dokumen karena dibutuhkan oleh pegawai
untuk kegiatan administrasi. Adapun syarat-syarat yang harus dilakukan supaya
kegiatan temu kembali menjadi mudah dan tepat sasaran, di antaranya:
1. Kebutuhan si pemakai arsip harus diteliti terlebih dulu, misalnya untuk
berkas kepegawaian sebaiknya ditata berdasarkan nama pegawai tersebut
& tidak berdasarkan nomor pegawai. Sebab nomor pegawai tidak pernah
disebut oleh si pemakai, apabila mereka membutuhkan berkas pegawai
tersebut.
2. Temu kembali harus berdasarkan atas kegiatan nyata instansi yang
bersangkutan. Oleh sebab itu disusunlah kata tangkap/indeks sebagai tanda
pengenal
3. Sistem temu kembali harus logis, konsisten & mudah diingat.
4. Sistem temu kembali harus didukung oleh peralatan & perlengkapan yang
sesuai dengan penataan berkas.
5. Temu kembali harus didukung oleh pegawai atau tenaga yang terlatih dan
harus mempunyai daya tangkap yang tinggi dan cepat tanggap/ senang
bekerja secara detail tentang informasi. (Abu-Bakar 1991: 75)
Kegiatan temu kembali arsip tidak hanya menemukan fisik arsip itu sendiri,
melainkan menemukan informasi yang terdapat di dalamnya. Hal tersebut berguna
24
untuk pegawai apabila ingin melakukan peminjaman arsip. Peminjaman arsip
adalah keluarnya berkas atau arsip dari tempat penyimpanan karena
dipinjam/dipakai oleh pegawai. Karena berkas/arsip keluar dari tempat
penyimpanan, maka peminjaman arsip perlu diatur dan dicatat oleh pengelola arsip
mengingat arsip dinamis aktif yang bersifat penting dan tidak boleh hilang untuk
kelancaran administrasi di instansi. Sugiharto dan Teguh Wahyono (2005: 96)
berpendapat bahwa peminjaman arsip dapat dikendalikan dan diingat oleh pegawai
yang mengelola arsip menggunakan buku peminjaman arsip atau formulir
peminjaman arsip dengan pencatatan data peminjam di antaranya yaitu
identitas/nama peminjam, tanggal peminjaman, tanggal pengembalian, data arsip
yang dipinjam, tanda tangan petugas, tanda tangan peminjam dan lain-lain.
Kegiatan temu kembali arsip membutuhkan sebuah penataaan dan
penyimpanan secara sistematis atau terarah. Menurut Priansa dan Agus Garnida
(2013: 165), sistem penyimpanan arsip secara umum digolongkan menjadi lima
subjek yaitu :
1. Sistem Abjad (Alphabetical System)
Sistem penyimpanan arsip menurut abjad adalah sistem penyimpanan
arsip yang berdasarkan susunan abjad dari nama pegawai atau nama
bagaian di instansi, urut dari A-Z dengan berpedoman pada peraturan
pengindeksan.
2. Sistem Perihal/Masalah/Subjek (Subject System)
25
Sistem penyimpanan arsip menurut pokok masalah adalah sistem
penyimpanan arsip berdasarkan pokok soal atau kegiatan yang
berkaitan dengan isi informasi yang terdapat di dalam arsip.
3. Sistem Nomor (Numerical System)
Sistem penyimpanan arsip menurut nomor adalah sistem penyimpanan
arsip yang menggunakan sistem penomoran berdasarkan isi informasi
pada arsip dengan memberikan kode nomor.
4. Sistem Tanggal (Chronological System)
Sistem penyimpanan arsip menurut tanggal adalah sistem penyimpanan
arsip yang menggunakan urutan kronologi waktu (tanggal, bulan,
tahun) yang tercantum pada surat.
5. Sistem Wilayah (Geographical System)
Sistem penyimpanan arsip menurut wilayah adalah sistem
penyimpanan arsip menurut pembagian wilayah atau tempat (lokasi)
tertentu.
2.2. Penelitian Sejenis
Terdapat lima penelitian sejenis yang memiliki kaitan dan dijadikan acuan bagi
penulis dalam melakukan penyusunan penelitian ini, yaitu:
1. Penelitian yang berjudul “Analisis Sistem Pengelolaan Arsip Aktif Laporan
Hasil Pemeriksaan (LHP) di Inspektorat Provinsi Jawa Tengah Semarang”
(skripsi) yang disusun oleh Ariyani Nur Hidayah pada tahun 2016. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengelolaan arsip aktif Laporan Hasil
26
Pemeriksaan (LHP) di Inspektorat Provinsi Jawa Tengah dengan desain
penelitian kualitatif. Metode pengumpulan yang dipakai yaitu wawancara,
observasi dan dokumentasi dengan menggunakan purposive sampling
sebagai teknik pengambilan sampel. Hasil dari penelitian ini menyatakan
bahwa sistem pengelolaan arsip aktif Laporan Hasil Pemeriksaan di
Inspektorat Provinsi Jawa Tengah dilakukan secara manual menggunakan
buku agenda yang dimulai dari tahap pemberkasan, penyimpanan, dan
penyusutan. Sistem pengelolaan arsip Laporan Hasil Pemeriksaan yang
dikelola pada Bagian Administrasi dan Umum belum sepenuhnya memenuhi
faktor-faktor penentu sistem kearsipan yang baik yang dikemukakan oleh
Agus Sugiharto dan Teguh Wahyono di dalam buku “Manajemen Kearsipan
Modern”, yaitu faktor kepadatan, mudah dicapai, kesederhanaan, keamanan,
kehematan waktu dan elastisitas.
Namun penelitian di atas memiliki perbedaan dengan penelitian yang
dikaji oleh penulis. Perbedaan tersebut terletak pada objek, subjek, tahapan
pengelolaan dan fokus arsip yang dikelola. Tahapan pengelolaan yang
dibahas oleh saudari Ariyani Nur Hidayah menggunakan tahap pemberkasan,
penyimpanan dan penyusutan. Sedangkan pada penelitian yang dikaji penulis
mengacu pada siklus daur hidup arsip (life cycle of record) dengan
menggunakan tahapan pengelolaan arsip dinamis aktif sesuai dengan UU 43
tahun 2009 Tentang Kearsipan yaitu tahap penciptaan, penggunaan dan
pemeliharan.
27
2. Penelitian kedua berjudul “Pengelolaan Arsip Dinamis Aktif di Kantor
Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kendal” (skripsi) yang disusun
oleh Puspita Dwi Marwani pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengelolaan arsip dinamis aktif serta kendala-kendala yang di
hadapi dalam pengelolaan arsip dinamis aktif di Kantor Perpustakaan Arsip
Dinamis Aktif Daerah Kabupaten Kendal. Metode pengumpulan yang
dipakai yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data
yang dipakai yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan
dengan menggunakan trigulasi sumber dan trigulasi metode. Hasil penelitian
menyatakan bahwa pengelolaan arsip di Kantor Perpustakaan dan Arsip
Daerah Kabupaten Kendal cukup baik, namun terdapat kendala-kendala yang
dihadapi pada pelaksanaan pengelolaannya. Kendala yang dihadapi antara
lain, (1) terbatasnya jumlah fasilitas kearsipan, (2) kegiatan peminjaman arsip
belum menggunakan prosedur peminjaman yang tepat, (3) pemeliharaan arsip
dinamis belum dilakukan secara maksimal.
Namun penelitian di atas memiliki perbedaan dengan penelitian yang
dikaji oleh penulis. Perbedaan tersebut terletak pada tempat penelitian dan
arsip yang dikelola. Tempat penelitian yang dikaji penulis bertempat di Dinas
Pendidikan Kota Semarang. Fokus arsip yang dikaji oleh penulis adalah arsip
dinamis aktif yang disimpan dan dikelola oleh Sub Bagian Umum dan
Kepegawaian.
3. Penelitian ketiga berjudul “Sistem Pengelolaan Arsip Dinamis Manual (Fisik)
pada Politeknik LP3I Jakarta Kampus Cimone” yang diteliti oleh Rahayu Tri
28
Utami, M.Si. Penelitian ini dimuat dalam Jurnal Lentera Bisnis Politeknik
LP3I Jakarta, Vol.1 No.3 Tanggal 25 Nopember. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mendeskripsikan tentang sistem pengelolaan arsip dinamis
manual di Politeknik LP3I Jakarta Kampus Cimone dan faktor-faktor yang
mempengaruhi sistem pengelolaan arsip. Hasil dari penelitian ini menyatakan
bahwa sistem penataan (filling) arsip menggunakan sistem desentralisasi
walaupun dalam proses pengurusan surat menggunakan sistem kombinasi.
Adapun sistem penataan (filling) arsip yang diterapkan belum berjalan
dengan baik sesuai yang diharapkan. Hal tersebut dapat dilihat dari, (1)
Penyimpanan Arsip, (2) Peminjaman Arsip, (3) Penemuan Kembali Arsip di
karenakan oleh faktor sumber daya manusia (SDM), biaya, sarana dan
prasarana.
Perbedaan dari penelitian di atas dengan penelitian yang dikaji oleh
penulis terletak pada objek, subjek dan fokus arsip yang dikelola. Objek
penelitian yang dilakukan oleh penulis bertempat di Dinas Pendidikan Kota
Semarang dengan memfokuskan pada arsip dinamis aktif yang disimpan dan
dikelola pada Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.
4. Penelitian keempat berjudul “Model Sistem Pengelolaan Arsip di Indonesia”
yang disusun oleh Drs. Bambang P. Widodo, M.Si. dalam Jurnal Kearsipan
ANRI Vol. 5 Tahun 2010. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis titik
temu antara konsep life cycle of record dengan continuum record dan
mendeskripsikan model yang perlu dikembangkan terkait implementasi
pengelolaan arsip di Indonesia. Jenis Penelitian ini menggunakan penelitian
29
kualitatif dengan menggunakan pendekatan naturalistik. Penulis memperoleh
data dengan menggunakan penelitian pustaka dan observasi lapangan. Hasil
dari penelitian ini menyatakan bahwa perkembangan teknologi informasi
menyebabkan kegunaan arsip dipengaruhi oleh kemampuan dari organisasi
untuk mengelola informasi arsip yang diciptakan guna dimanfaatkan oleh
pengguna (baik organisasi maupun publik). Adanya kecenderungan
peningkatan pencarian dan pemanfaatan informasi menggiring organisasi di
Indonesia untuk mencoba pendekatan record continuum model tanpa harus
menghilangkan fungsi dari konsep.
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini,
sebab sistem pengelolaan arsip dinamis aktif pada Sub Bagian Umum dan
Kepegawaian Dinas Pendidikan Kota Semarang tidak meninggalkan konsep
life cycle of record. Konsep life cycle of record merupakan siklus daur hidup
arsip dengan tahapan penciptaan, penggunaan, pemeliharaan dan penyusutan.
5. Penelitian kelima berjudul “Signifikansi Empat Instrumen Pokok
Pengelolaan Arsip Dinamis“ yang disusun oleh Azmi dalam Jurnal
Kearsipan ANRI Vol. 11 Tahun 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pentingnya tata naskah dinas, klasifikasi arsip, jadwal retensi
arsip, sistem keamanan dan akses arsip dalam pengelolaan arsip dinamis.
Adapun hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa ketersediaan empat
instrument pokok pengelolaan arsip dinamis di lingkungan pencipta arsip
dapat dikatakan sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat dari aspek, (1) Tata
naskah dinas dalam menjamin autentisitas dan reabilitas arsip dinamis yang
30
tercipta. (2) klasifikasi arsip dalam menjamin ketepatan pemberkasan arsip
aktif pada Unit Pengolah. (3) Jadwal Retensi Arsip (arsip inaktif) dalam
menjamin akuntabilitas pemindahan, pemusnahan dan penyerahan arsip. (4)
Sistem klasifikasi keamanan dan akses arsip dalam menjamin keamanan
akses dan keselamatan arsip aktif dari penggunaan oleh pihak yang tidak
berhak dan kebocoran informasi.
Penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam penulisan skripsi ini, sebab
pada kegiatan penyimpanan dan pengelolaan arsip dinamis aktif, Sub Bagian
Umum dan Kepegawaian memperhatikan aspek pentingnya tata naskah dinas,
klasifikasi arsip, sistem keamanan dan akses arsip.