0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan138 halaman

Sabdotomo

Materi walimahan

Diunggah oleh

Imam Nooryanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan138 halaman

Sabdotomo

Materi walimahan

Diunggah oleh

Imam Nooryanto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ATUR SABDA TAMA

1. Gesang bebrayan asring dipun pralambangaken kadosdene kapal utawi baita


ingkang mengarungi Samudera yang luas. Gesang wonten ing bebrayan
ageng panci kadosdene kapal. Kala-kala tenang, namung kadang-kadang
penuh badai, kadang panas-kadang dingin, kadang suka-kadang duka.
Malahan kadang-kadang angin lan gelombang ingkang ganas menerpa
bahtera rumah tangga kita. Bahkan kadang menabrak batu karang.
2. Agar bahtera perkawinan selamat Mas M. Dzulqarnain perlu nyawisaken:
a. Kapal ingkang kokoh.
Anakku, bangunlah kapal rumah tanggamu berlandaskan iman dan taqwa,
dirikanlah tiang tiang layarnya dengan sholat wajib dan sholat sunat.
Dindingilah istana rumah tanggamu dengan beton yang kuat berupa amal-
amal sholehmu, dan pasanglah rusuk rusuk atapnya dengan puasamu,
zakatmu beserta umroh dan hajimu kelak.
“Annikakhu sunnatii faman ahabbanii falyastanna bisunnatii”.
Nikah adalah sunahku. Barangsiapa cinta kepadaku, maka hendaklah
melaksanakan sunahku. (HR Bukhari Muslim).
Innal mar’ata tuqbilu fii shuurati syaithonin, watudbiru fii shurati
syaithonin; faidza abshara ahadukum imra atan falya’ti ahlahu
fainna dzalika yaruddu maa fii nafsihi. (HR. Muslim)
Sesungguhnya wanita itu menghadap dengan rupa syetan dan
membelakinganya dengan rupa syetan pula. Jika seorang di antaramu
tertarik kepada seorang perempuan, hendaklah ia mendatangi isterinya,
karea yang demikian itu bisa menolak apa yang terjadi di dalam hatinya.
b. Mesinnya betul-betul oke, mboten mogokan.
Ibarat mesin merkipun Kubota mboten namung Dompleng. Motor
penggerak keluarga: tekad bersama nedya mencetak generasi penerus
ingkang shaleh; migunani tumrap kedua orang tua, masyarakat lan negari.
Putra ingkang sholeh saged ngentun ganjaran nalikanipun kita sampun
pejah. Dados niat berkeluarga mboten sekedar melepas hawa nafsu.
Pernikahan dipun jagi supados mboten mogok di tengah jalan. (contoh:
Artis, penyebabnya: selingkuh). Senajanta Mas Muhammad Dzulqarnain
wiwit alit gulet kalian bebek saha ayam, nanging ampun ngantos tiru-tiru.
Tirulah burung merpati, selalu berdua, nek angrem gantian saling
menjaga, mendidik sampai bisa mandiri
c. Bahan bakar lan sangu ingkang cekap.
Artinya, ekonominipun kedah sae. Mas Slamet kedah langkung sregep
ngupadi pangupa jiwa ingkang halal. Ampun ngantos namung
menggantungkan diri dateng tiyang sepuh utawi mara sepuh. Menapa
malih seneng M15 (madep manteb melu mara tuwa, maratuwa mangan
mantu melu mangan, maratuwa macem-macem mantu minggat, maratuwa
mati mantu melu marisi). Menawi ekonomi sampun sae gemar shodaqoh.
“Assahiyyu qaribum minallah, qaribum minannas, qaribum minal
jannah. Wal bakhilu ba’idum minallah, ba’idum minannas, baidum
minal jannah, qaribu minannar”.
Artinya : “Orang yang pemurah dekat pada Allah, dekat pada manusia,
dekat pada surga, dan orang yang bakhil, jauh dari Allah, jauh dari
manusia, jauh dari surga, dekat pada neraka”.
Pager mangkok luwih rosa tinimbang pager tembok. ATM-e wis siap
d. Ngasta kompas supados mboten tersesat.
Kompasipun tiyang bebrayan menika Al-Quran lan Hadits. Pelajarilah
Quran dan Hadits, saklajengipun jadikan pinangka pedomanipun gesang
bebrayan. Insya Allah kalian berdua akan selamat dunia dan akhirat.
Dados Al-Quran mboten nanung dados Mas Kawin.
      
      
        
 
70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
Katakanlah Perkataan yang benar,
71. niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni
bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya,
Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
e. Nyawisaken suku cadang.
Ananda berdua, sebesar apapun cinta panjenengan berdua cecongkrahan
pasti terjadi. Menawi wonten tiyang ingkang ngendikakaken dereng nate
congkrah, wonten dua kemungkinan: goroh utawi dereng nate nikah.
Rasulullah SAW paring pangandikan:
“Nasihatilah kaum wanita itu dengan baik, karena kaum wanita itu
tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Jika kamu memaksa
meluruskan nya berarti kamu mematahkannya, tetapi jika kamu
membiarkannya ia akan tetap bengkok, maka nasihatilah wanita”.
Pramila menawi ananda berdua congkrah mintalah nasehat dumateng
tiyang sepuh, ustadz, utawi sesepuh ingkang nggadahi niat sae. (Mboten
dateng tiyang ingkang seneng nglincipi carang papak).
f. Nakhoda utawi Sopir ingkang ahli.
Sopiripun keluarga menika Suami. Suami kedah saged dados patuladan
wonten ing keluarga. Sopir mboten pikantuk ugal-ugalan, cerdas ngadepi
segala situasi; sakhengga penumpangipun tenang, aman lan nyaman.
Suami ora oleh galak, kejaba nek mbengi. Nek bengi ra galak jamoni endog
pitik, nek rung majras endog bebek, nek urung endog banyak.
A’udzubillahi minasysyaithonirrajim. Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wasshalatu wassalamu ‘ala Muhammadin wa’ala
aalihi wasshahbihi ajma’in. Allahummaghfirlil muslimiina wal muslimat; wal
mukminiina wal mukminat, al ahyai minhum wal amwat. Innaka sami’un
qoribummujibu da’wat.
Rabbana dhalamna anfusana waillam taghfirlana watarhamna lana
kunana minal khasirin.
Ya Allah ya Tuhan kami, sungguh kami telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat
kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. Ya
Alloh, Dzat Yang Maha Pengampun, ampunilah kami, diri yang kotor berlumur
dosa ini, yang hidupnya bergelimang aib cacat dan cela. Kini kami bersimpuh di
hadapan-Mu. Ampuni kami Ya Alloh, sekelam apapun kehidupan yang pernah
kami lalui. Ampuni kami ya Allah, sebanyak apapun dosa yang melumuri tubuh
kami. Ampuni kami Ya Alloh, segelap apapun masa lalu kami.
Allahumma firli wali walidainaa, warhamhuma kama rabbayana
shighoro.
Ya Alloh, sungguh Engkau telah mengaruniai orang tua yang sangat
menyayangi kami. Maka dari itu ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa
kedua orang tua kami, sayangilah mereka seperti mereka telah menyayangi
kami diwaktu kecil.
Ya Allah, ampuni kedurhakaan kami kepada ibu bapak kami. Ampuni
kami jikalau kami jarang tersenyum kepadanya, ampuni kami jikalau kami
jarang memuliakan keduanya, berikan kesempatan kami untuk berbakti kepada
keduanya, yaa Allah. Ya Allah muliakan ibu bapak kami, jadikan husnul
khotimah sebagai akhir hidupnya, ringankanlah dia dalam menghadapi
sakaratul maut, jadikan kuburnya adalah salah satu taman dari taman-taman
surgamu, dan jangan jadikan kuburnya salah satu liang dari liang –liang
nerakamu.
“Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma
fii khaiir. Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga Ia
limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam
kebaikan.
Ya Allah…pada hari ini dua hamba-Mu telah mematri janji dalam
Mitsaqan Ghaliza; dalam ikatan yang kuat atas nama-Mu. Kami tahu tidak
mudah bagi mereka untuk memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridha dan
maghfirah-Mu. Kami tahu, amat berat bagi mereka untuk mengayuh biduk
rumah tangga dalam menghadapi badai dan taufan godaan kehidupan. Karena
itulah, kami datang memohon rahman dan rahim-Mu.
Jadikanlah mereka berdua Suami dan Istri yang saling mencintai di kala
dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh. Saling menghibur dikala duka,
saling mengingatkan dikala bahagia. Saling mendoakan dalam kebaikan dan
taqwa, serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.
Ya Allah. Tunjukilah mereka jalan yang lurus, jalan orang-orang yang
lebih Engkau anugerahi nikmat, bukan jalannya orang-orang yang Engkau
murkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang Engkau sesatkan. Sinarilah hati
mereka dengan cahaya petunjuk-Mu. Terangilah jalan mereka dengan sinar
taufik-Mu.

Ya Allah…hiasilah rumah tangga mereka dengan kalimat-kalimat-Mu


yang suci. Indahkan keluarga mereka dengan keturunan yang senantiasa
mengagungkan Asma-Mu. Penuhi kehidupan mereka dengan amal shaleh yang
Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan yang baik bagi manusia.
Ya Allah…Damaikanlah pertengkaran di antara mereka, pertautkan
hatimereka , dan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak dan
tersembunyi.
Rabbana hablana min ajwajiina, wadzurriyatina, qurrata a’yunin, waj’alna lil
muttaqina imama. Ya Allah hadiahkan kepada kami, istri dan anak-anak yang
menjadi penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang
yang bertaqwa. Ya Allah ampuni kami jikalau kami salah menjadi orang tua.
Ampuni kami jikalau kami salah mendidik keluarga. Ya Alloh selamatkan anak-
anak kami, teguhkanlah aqidahnya, kuatkanlah ibadahnya, muliakan
akhlaknya. Ampuni kami ya Allah andaikata kami telah meracuni keluarga
dengan harta yang haram. Ya Allah berikan kepada kami nikmatnya ibadah,
doa-doa yang Engkau ijabah, sisa umur yang penuh berkah, anak cucu yang
sholih dan sholihah, rejeki yang melimpah ruah, dan jadikan akhir hidup kami
khuznul khatimah.
Allahumma inna nas aluka salamatan fiddin, wal afiyatan fil jasaadi,
waziyadatan fil ilmi, wabarokatan firrizqi, wa taubatan qoblal maut, wa
rahmatan ‘indal maut, wa maghfirotan ba’dal maut. Allahumma hawwin
‘alaina fi sakaratil maut, wannajata minannar, wal afwa indal hisaab.
Ya Alllah sungguh kami memohon kepada-Mu, keselamatan dalam menjalani
agama kami, kesehatan dalam jasmani kami, kemanfaatan dalam ilmu kami,
barokah dalam rezeki kami. Ya Allah berikanlah kesempatan bertaubat
sebelum maut menjemput kami, kasih sayangilah tatkala maut menghampiri
kami, berilah ampunan setelah kematian kami. Ya Allah ringankanlah derita
kami ketika menghadapi sakaratul maut, selamatkan kami dari api neraka, dan
mudahkanlah kami ketika menghadapi hisabMu.
Rabbana laa tuakhitnaa innasiinaa au akhtha’naa; rabbana walaa
tahmil ‘alainaa ishran, kamaa hamaltahu ‘alalladzinaa min qablinaa; rabbana
wala tuhamilnaa maa laa thaqatalanaabih; wa’fuanna waghfirlanaa
warhamnaa anta maulanaa fangshurna ‘alal qaumil kaafiriin. "Ya Alah ya
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami
[Link] Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Rabbana aatina fiddun ya hasanah, wafil aakhirati khasaanah, waqinaa
‘adzabannar. Rabbana taqabbal minna innaka antassami’ul ‘aliim, watub
‘alaina innaka antattauwaburrahiim. Subhana rabbika rabbil izzati ‘amma
yashifun, wasalamu ‘alal mursalin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Anakmas temanten sarimbit,
Gegaran tumrap gesang bebrayan enggal punika salah
satunggalipun kedaha nindakaken pakarti gangsal prekawis ingkang
sinebat Malima. Malima ing mriki saking tembung mlumah,
mengkurep, modot, mlebu lan metu.
Mlumah, punika nglumahaken tangan, utawi kridaha lumahing
asta tegesipun dados tiyang gesang wonten madyaning bebrayan
agung punika aja seneng ngathung, utawi nggadhahi watak ingkang
remen njagekaken dhateng pawewehing liyan.
Ampun ngantos namung menggantungkan diri dateng tiyang sepuh
utawi mara sepuh. Menapa malih seneng M15 (madep manteb melu
mara tuwa, maratuwa mangan mantu melu mangan, maratuwa muna-
muni mantu minggat, maratuwa mati mantu melu marisi). Menawi
ekonomi sampun sae gemar shodaqoh.
Mengkurep, punika ngurepaken asta, tegesipun dados tiyang
gesang wonten madyaning bebrayan agung punika senenga paweweh
marang liyan sing tanpa pamrih. Senenga tetulung marang sapa wae
sing mbutuhake pitulung, nanging aja nganti diweruhi dening wong
akeh. Upama nindakake dana driyah, tangan tengen menehi dhuwit,
paribasane tangan kiwa aja nganti weruh.
“Assahiyyu qaribum minallah, qaribum minannas, qaribum
minal jannah. Wal bakhilu ba’idum minallah, ba’idum minannas,
baidum minal jannah, qaribu minannar”.
Artinya : “Orang yang pemurah dekat pada Allah, dekat pada
manusia, dekat pada surga, dan orang yang bakhil, jauh dari Allah,
jauh dari manusia, jauh dari surga, dekat pada neraka”. Pager
mangkok luwih rosa tinimbang pager tembok.
Modot, punika modot pikirane, modot nalare, tegesipun dados
tiyang tumitah wonten ing alam donya punika kedah tansah
mbudidaya murih undhaking kawruh, dimen jembar wawasanipun.
Kompasipun tiyang bebrayan menika Al-Quran lan Hadits.
Pelajarilah Quran dan Hadits, saklajengipun jadikan pinangka
pedomanipun gesang bebrayan. Insya Allah kalian berdua akan
selamat dunia dan akhirat. Dados Al-Quran mboten nanung dados Mas
Kawin.
Mlebu, tegesipun sadaya kawruh utawi tumindak ingkang
lerekipun dhateng kasaenan, kedah katampi saha dipun lebetaken
dhateng manah utawi sanubari, minangka dados gegebenganipun
tiyang gesang bebrayan.
Metu, tegesipun sadaya kawruh utawi tumindak ingkang sae
ingkang migunani dhumateng bebrayan agung, kedah dipun tularaken
dhateng tiyang sanes.
Kajawi nindakaken Malima, resepipun bebrayan sae, punika kedah
Tepa ing rasa, saha Temen tobating rila.
Tepa ing rasa tegesipun tepa punika ukuran, rasa punika pangraos.
Samukawis patrap lan makarti punika kedah manut raosipun
piyambak. Menawi tumrap raosipun piyambak boten sakeca lan
prayogi, sampun dipun cakaken dhateng tiyang sanes.
Temen tobating rila tegesipun kakung, kanthi temen tresna
dhateng garwa, martobat sampun tuman rabi malih, rila legawa narima
trusing batos garwa satunggal boten telas salamanipun, adatipun saged
nyaketaken tresna bektinipun garwa Putri, semanten ugi, adatipun
saged nyaketaken sih tresnanipun kakung.
Kajawi punika ugi kedah nindakaken Sacatur, inggih punika
Sarupa, sajiwa, Sawanda lan Saekapraya.
Sarupa, tegesipun kekalihipun rumaos manawi garwanipun punika
bagus/ayu piyambak. Ampun ngantos mengikuti guyonan pasangan
muda wonten ing perumahan. Sebaik-baik anak adalah anak sendiri;
secantik-cantik isteri adalah isteri tetangga.
Sajiwa, tegesipun kedah saged momong watak, satunggal-
satunggalipun.
Sawanda, tegesipun adeging bebrayan, pamoring jiwa kekalih.
Saekapraya, tegesipun kedah jumurung dhateng karsa, cipta tuwin
sedya ingkang sae lan utami.
ATUR SABDA TAMA
3. Gesang bebrayan asring dipun pralambangaken kadosdene kapal utawi baita
ingkang mengarungi Samudera yang luas. Gesang wonten ing bebrayan
ageng panci kadosdene kapal. Kala-kala tenang, namung kadang-kadang
penuh badai, kadang panas-kadang dingin, kadang suka-kadang duka.
Malahan kadang-kadang angin lan gelombang ingkang ganas menerpa
bahtera rumah tangga kita. Bahkan kadang menabrak batu karang.
4. Agar bahtera perkawinan selamat Mas M. Dzulqarnain perlu nyawisaken:
g. Kapal ingkang kokoh.
Anakku, bangunlah kapal rumah tanggamu berlandaskan iman dan taqwa,
dirikanlah tiang tiang layarnya dengan sholat wajib dan sholat sunat.
Dindingilah istana rumah tanggamu dengan beton yang kuat berupa amal-
amal sholehmu, dan pasanglah rusuk rusuk atapnya dengan puasamu,
zakatmu beserta umroh dan hajimu kelak.
“Annikakhu sunnatii faman ahabbanii falyastanna bisunnatii”.
Nikah adalah sunahku. Barangsiapa cinta kepadaku, maka hendaklah
melaksanakan sunahku. (HR Bukhari Muslim).
Innal mar’ata tuqbilu fii shuurati syaithonin, watudbiru fii shurati
syaithonin; faidza abshara ahadukum imra atan falya’ti ahlahu
fainna dzalika yaruddu maa fii nafsihi. (HR. Muslim)
Sesungguhnya wanita itu menghadap dengan rupa syetan dan
membelakinganya dengan rupa syetan pula. Jika seorang di antaramu
tertarik kepada seorang perempuan, hendaklah ia mendatangi isterinya,
karea yang demikian itu bisa menolak apa yang terjadi di dalam hatinya.
h. Mesinnya betul-betul oke, mboten mogokan.
Ibarat mesin merkipun Kubota mboten namung Dompleng. Motor
penggerak keluarga: tekad bersama nedya mencetak generasi penerus
ingkang shaleh; migunani tumrap kedua orang tua, masyarakat lan negari.
Putra ingkang sholeh saged ngentun ganjaran nalikanipun kita sampun
pejah. Dados niat berkeluarga mboten sekedar melepas hawa nafsu.
Pernikahan dipun jagi supados mboten mogok di tengah jalan. (contoh:
Artis, penyebabnya: selingkuh). Senajanta Mas Muhammad Dzulqarnain
wiwit alit gulet kalian bebek saha ayam, nanging ampun ngantos tiru-tiru.
Tirulah burung merpati, selalu berdua, nek angrem gantian saling
menjaga, mendidik sampai bisa mandiri
i. Bahan bakar lan sangu ingkang cekap.
Artinya, ekonominipun kedah sae. Mas Slamet kedah langkung sregep
ngupadi pangupa jiwa ingkang halal. Ampun ngantos namung
menggantungkan diri dateng tiyang sepuh utawi mara sepuh. Menapa
malih seneng M15 (madep manteb melu mara tuwa, maratuwa mangan
mantu melu mangan, maratuwa macem-macem mantu minggat, maratuwa
mati mantu melu marisi). Menawi ekonomi sampun sae gemar shodaqoh.
“Assahiyyu qaribum minallah, qaribum minannas, qaribum minal
jannah. Wal bakhilu ba’idum minallah, ba’idum minannas, baidum
minal jannah, qaribu minannar”.
Artinya : “Orang yang pemurah dekat pada Allah, dekat pada manusia,
dekat pada surga, dan orang yang bakhil, jauh dari Allah, jauh dari
manusia, jauh dari surga, dekat pada neraka”.
Pager mangkok luwih rosa tinimbang pager tembok. ATM-e wis siap
j. Ngasta kompas supados mboten tersesat.
Kompasipun tiyang bebrayan menika Al-Quran lan Hadits. Pelajarilah
Quran dan Hadits, saklajengipun jadikan pinangka pedomanipun gesang
bebrayan. Insya Allah kalian berdua akan selamat dunia dan akhirat.
Dados Al-Quran mboten nanung dados Mas Kawin.
      
      
        
 
70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
Katakanlah Perkataan yang benar,
71. niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni
bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya,
Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
k. Nyawisaken suku cadang.
Ananda berdua, sebesar apapun cinta panjenengan berdua cecongkrahan
pasti terjadi. Menawi wonten tiyang ingkang ngendikakaken dereng nate
congkrah, wonten dua kemungkinan: goroh utawi dereng nate nikah.
Rasulullah SAW paring pangandikan:
“Nasihatilah kaum wanita itu dengan baik, karena kaum wanita itu
tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Jika kamu memaksa
meluruskan nya berarti kamu mematahkannya, tetapi jika kamu
membiarkannya ia akan tetap bengkok, maka nasihatilah wanita”.
Pramila menawi ananda berdua congkrah mintalah nasehat dumateng
tiyang sepuh, ustadz, utawi sesepuh ingkang nggadahi niat sae. (Mboten
dateng tiyang ingkang seneng nglincipi carang papak).
l. Nakhoda utawi Sopir ingkang ahli.
Sopiripun keluarga menika Suami. Suami kedah saged dados patuladan
wonten ing keluarga. Sopir mboten pikantuk ugal-ugalan, cerdas ngadepi
segala situasi; sakhengga penumpangipun tenang, aman lan nyaman.
Suami ora oleh galak, kejaba nek mbengi. Nek bengi ra galak jamoni endog
pitik, nek rung majras endog bebek, nek urung endog banyak.
A’udzubillahi minasysyaithonirrajim. Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wasshalatu wassalamu ‘ala Muhammadin wa’ala
aalihi wasshahbihi ajma’in. Allahummaghfirlil muslimiina wal muslimat; wal
mukminiina wal mukminat, al ahyai minhum wal amwat. Innaka sami’un
qoribummujibu da’wat.
Rabbana dhalamna anfusana waillam taghfirlana watarhamna lana
kunana minal khasirin.
Ya Allah ya Tuhan kami, sungguh kami telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat
kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. Ya
Alloh, Dzat Yang Maha Pengampun, ampunilah kami, diri yang kotor berlumur
dosa ini, yang hidupnya bergelimang aib cacat dan cela. Kini kami bersimpuh di
hadapan-Mu. Ampuni kami Ya Alloh, sekelam apapun kehidupan yang pernah
kami lalui. Ampuni kami ya Allah, sebanyak apapun dosa yang melumuri tubuh
kami. Ampuni kami Ya Alloh, segelap apapun masa lalu kami.
Allahumma firli wali walidainaa, warhamhuma kama rabbayana
shighoro.
Ya Alloh, sungguh Engkau telah mengaruniai orang tua yang sangat
menyayangi kami. Maka dari itu ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa
kedua orang tua kami, sayangilah mereka seperti mereka telah menyayangi
kami diwaktu kecil.
Ya Allah, ampuni kedurhakaan kami kepada ibu bapak kami. Ampuni
kami jikalau kami jarang tersenyum kepadanya, ampuni kami jikalau kami
jarang memuliakan keduanya, berikan kesempatan kami untuk berbakti kepada
keduanya, yaa Allah. Ya Allah muliakan ibu bapak kami, jadikan husnul
khotimah sebagai akhir hidupnya, ringankanlah dia dalam menghadapi
sakaratul maut, jadikan kuburnya adalah salah satu taman dari taman-taman
surgamu, dan jangan jadikan kuburnya salah satu liang dari liang –liang
nerakamu.
“Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma
fii khaiir. Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga Ia
limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam
kebaikan.
Ya Allah…pada hari ini dua hamba-Mu telah mematri janji dalam
Mitsaqan Ghaliza; dalam ikatan yang kuat atas nama-Mu. Kami tahu tidak
mudah bagi mereka untuk memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridha dan
maghfirah-Mu. Kami tahu, amat berat bagi mereka untuk mengayuh biduk
rumah tangga dalam menghadapi badai dan taufan godaan kehidupan. Karena
itulah, kami datang memohon rahman dan rahim-Mu.
Jadikanlah mereka berdua Suami dan Istri yang saling mencintai di kala
dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh. Saling menghibur dikala duka,
saling mengingatkan dikala bahagia. Saling mendoakan dalam kebaikan dan
taqwa, serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.
Ya Allah. Tunjukilah mereka jalan yang lurus, jalan orang-orang yang
lebih Engkau anugerahi nikmat, bukan jalannya orang-orang yang Engkau
murkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang Engkau sesatkan. Sinarilah hati
mereka dengan cahaya petunjuk-Mu. Terangilah jalan mereka dengan sinar
taufik-Mu.

Ya Allah…hiasilah rumah tangga mereka dengan kalimat-kalimat-Mu


yang suci. Indahkan keluarga mereka dengan keturunan yang senantiasa
mengagungkan Asma-Mu. Penuhi kehidupan mereka dengan amal shaleh yang
Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan yang baik bagi manusia.
Ya Allah…Damaikanlah pertengkaran di antara kami, pertautkan hati
kami, dan tunjukkan kepada kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkan kami
dari kegelapan. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak dan tersembunyi.
Rabbana hablana min ajwajiina, wadzurriyatina, qurrata a’yunin, waj’alna lil
muttaqina imama. Ya Allah hadiahkan kepada kami, istri dan anak-anak yang
menjadi penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang
yang bertaqwa. Ya Allah ampuni kami jikalau kami salah menjadi orang tua.
Ampuni kami jikalau kami salah mendidik keluarga. Ya Alloh selamatkan anak-
anak kami, teguhkanlah aqidahnya, kuatkanlah ibadahnya, muliakan
akhlaknya. Ampuni kami ya Allah andaikata kami telah meracuni keluarga
dengan harta yang haram. Ya Allah berikan kepada kami nikmatnya ibadah,
doa-doa yang Engkau ijabah, sisa umur yang penuh berkah, anak cucu yang
sholih dan sholihah, rejeki yang melimpah ruah, dan jadikan akhir hidup kami
khuznul khatimah.
Allahumma inna nas aluka salamatan fiddin, wal afiyatan fil jasaadi,
waziyadatan fil ilmi, wabarokatan firrizqi, wa taubatan qoblal maut, wa
rahmatan ‘indal maut, wa maghfirotan ba’dal maut. Allahumma hawwin
‘alaina fi sakaratil maut, wannajata minannar, wal afwa indal hisaab.
Ya Alllah sungguh kami memohon kepada-Mu, keselamatan dalam menjalani
agama kami, kesehatan dalam jasmani kami, kemanfaatan dalam ilmu kami,
barokah dalam rezeki kami. Ya Allah berikanlah kesempatan bertaubat
sebelum maut menjemput kami, kasih sayangilah tatkala maut menghampiri
kami, berilah ampunan setelah kematian kami. Ya Allah ringankanlah derita
kami ketika menghadapi sakaratul maut, selamatkan kami dari api neraka, dan
mudahkanlah kami ketika menghadapi hisabMu.
Rabbana laa tuakhitnaa innasiinaa au akhtha’naa; rabbana walaa
tahmil ‘alainaa ishran, kamaa hamaltahu ‘alalladzinaa min qablinaa; rabbana
wala tuhamilnaa maa laa thaqatalanaabih; wa’fuanna waghfirlanaa
warhamnaa anta maulanaa fangshurna ‘alal qaumil kaafiriin. "Ya Alah ya
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami
[Link] Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Rabbana aatina fiddun ya hasanah, wafil aakhirati khasaanah, waqinaa
‘adzabannar. Rabbana taqabbal minna innaka antassami’ul ‘aliim, watub
‘alaina innaka antattauwaburrahiim. Subhana rabbika rabbil izzati ‘amma
yashifun, wasalamu ‘alal mursalin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
PENGAOSAN WALIMAHAN

Assalamu,alaikum Wr. Wb.


Kawula nuwun, kalawau kadang pranatacara nyebataken bilih kula
ingkang badhe paring sabdatama utawi ular-ular wulang utami
dhumateng temanten sarimbit. Pancenipun dereng darajat menawi kula
paring sabdatama. Mbok menawi tembung sabdatama ing riki,
mengku teges wulang utami dhedhasar sadaya Sabda-sabdaning
Pangeran, ingkang sampun kawahnya ing serat-serat suci.
Sanadyan kanthi awrating manah, karana ing mriki kathah
rawuhipun para pepundhen, para sesepuh, pinisepuh, saha para wasis
babagan wulang utami, parikedah boten saged hambantah, minangkani
pamundhutipun ingkang hamengku gati, sawatawis suka wawasan ing
babagan prayogining bebrayan. Jer nyatanipun tumraping gesang
patembayatan bebrayan, saestu langkung rumiyin kula. Mbok menawi
menika ingkang kangge gada supados kula kapeksa suka wawasan
tumraping gesang bebrayan enggal.
Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, pinisepuh.
Punapadene panjenenganipun para tamu ingkang satuhu luhuring budi,
keparenga sami paring pangestu dhumateng kula, supados saged
dumugining purug anggen kawula hamakili panjenengan sadaya, suka
wawasan tumrap theg kliweripun patembayatan bebrayan enggal.
Anakmas temanten sarimbit,
Gegaran tumrap gesang bebrayan enggal punika salah
satunggalipun kedaha nindakaken pakarti gangsal prekawis ingkang
sinebat Malima. Malima ing mriki saking tembung mlumah,
mengkurep, modot, mlebu lan metu.
Mlumah, punika nglumahaken tangan, utawi kridaha lumahing
asta tegesipun dados tiyang gesang wonten madyaning bebrayan
agung punika aja seneng ngathung, utawi nggadhahi watak ingkang
remen njagekaken dhateng pawewehing liyan.
Ampun ngantos namung menggantungkan diri dateng tiyang sepuh
utawi mara sepuh. Menapa malih seneng M15 (madep manteb melu
mara tuwa, maratuwa mangan mantu melu mangan, maratuwa macem-
macem mantu minggat, maratuwa mati mantu melu marisi). Menawi
ekonomi sampun sae gemar shodaqoh.
Mengkurep, punika ngurepaken asta, tegesipun dados tiyang
gesang wonten madyaning bebrayan agung punika senenga paweweh
marang liyan sing tanpa pamrih. Senenga tetulung marang sapa wae
sing mbutuhake pitulung, nanging aja nganti diweruhi dening wong
akeh. Upama nindakake dana driyah, tangan tengen menehi dhuwit,
paribasane tangan kiwa aja nganti weruh.
“Assahiyyu qaribum minallah, qaribum minannas, qaribum
minal jannah. Wal bakhilu ba’idum minallah, ba’idum minannas,
baidum minal jannah, qaribu minannar”.
Artinya : “Orang yang pemurah dekat pada Allah, dekat pada
manusia, dekat pada surga, dan orang yang bakhil, jauh dari Allah,
jauh dari manusia, jauh dari surga, dekat pada neraka”. Pager
mangkok luwih rosa tinimbang pager tembok.
Modot, punika modot pikirane, modot nalare, tegesipun dados
tiyang tumitah wonten ing alam donya punika kedah tandah
mbudidaya murih undhaking kawruh, dimen jembar wawasanipun.
Mlebu, tegesipun sadaya kawruh utawi tumindak ingkang
lerekipun dhateng kasaenan, kedah katampi saha dipun lebetaken
dhateng manah utawi sanubari, minangka dados gegebenganipun
tiyang gesang bebrayan.
Metu, tegesipun sadaya kawruh utawi tumindak ingkang sae
ingkang migunani dhumateng bebrayan agung, kedah dipun tularaken
dhateng tiyang sanes.
Kajawi nindakaken Malima, resepipun bebrayan sae, punika kedah
Dana ing tepa, Tepa ing rasa, saha Temen tobating rila.
Tepa ing rasa tegesipun tepa punika ukuran, rasa punika pangraos.
Samukawis patrap lan makarti punika kedah manut raosipun
piyambak. Menawi tumrap raosipun piyambak boten sakeca lan
prayogi, sampun dipun cakaken dhateng tiyang sanes.
Dana ing tepa tegesipun raos pangraos makaten punika, kula aturi
ngecakaken ing bebrayan agung, adatipun saged sumingkir saking
watak srei, drengki, jahil, methakil, dahwen, panasten, kamiopen.
Temen tobating rila tegesipun kakung, kanthi temen tresna dhateng
garwa, martobat sampun tuman rabi malih, rila legawa narima trusing
batos garwa satunggal boten telas salamanipun, adatipun saged
nyaketaken tresna bektinipun garwa Putri, semanten ugi, adatipun
saged nyaketaken sih tresnanipun kakung.
Kajawi punika ugi kedah nindakaken Sacatur, inggih punika
Sarupa, sajiwa, Sawanda lan Saekapraya.
Sarupa, tegesipun kekalihipun rumaos manawi garwanipun punika
bagus/ayu piyambak.
Sajiwa, tegesipun kedah saged momong watak, satunggal-
[Link], tegesipun adeging bebrayan, pamoring jiwa
[Link], tegesipun kedah jumurung dhateng karsa, cipta
tuwin sedya ingkang sae lan utami.
Hambok bilih namung semanten kemawon anakmas temanten,
menggah anggen kula suka wawasan saha nularaken ing babagan
wulang utamining bebrayan. Minangka puputing atur, menawi wonten
keladuking pangucap saha kiranging seserepan babagan wulang utami
nyuwun pangapunten.
A’udzubillahi minasysyaithonirrajim. Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wasshalatu wassalamu ‘ala Muhammadin wa’ala
aalihi wasshahbihi ajma’in. Allahummaghfirlil muslimiina wal muslimat; wal
mukminiina wal mukminat, al ahyai minhum wal amwat. Innaka sami’un
qoribummujibu da’wat.
Rabbana dhalamna anfusana waillam taghfirlana watarhamna lana
kunana minal khasirin.
Ya Allah ya Tuhan kami, sungguh kami telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat
kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. Ya
Alloh, Dzat Yang Maha Pengampun, ampunilah kami, diri yang kotor berlumur
dosa ini, yang hidupnya bergelimang aib cacat dan cela. Kini kami bersimpuh di
hadapan-Mu. Ampuni kami Ya Alloh, sekelam apapun kehidupan yang pernah
kami lalui. Ampuni kami ya Allah, sebanyak apapun dosa yang melumuri tubuh
kami. Ampuni kami Ya Alloh, segelap apapun masa lalu kami.
Allahumma firli wali walidainaa, warhamhuma kama rabbayana
shighoro.
Ya Alloh, sungguh Engkau telah mengaruniai orang tua yang sangat
menyayangi kami. Maka dari itu ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa
kedua orang tua kami, sayangilah mereka seperti mereka telah menyayangi
kami diwaktu kecil.
Ya Allah, ampuni kedurhakaan kami kepada ibu bapak kami. Ampuni
kami jikalau kami jarang tersenyum kepadanya, ampuni kami jikalau kami
jarang memuliakan keduanya, berikan kesempatan kami untuk berbakti kepada
keduanya, yaa Allah. Ya Allah muliakan ibu bapak kami, jadikan husnul
khotimah sebagai akhir hidupnya, ringankanlah dia dalam menghadapi
sakaratul maut, jadikan kuburnya adalah salah satu taman dari taman-taman
surgamu, dan jangan jadikan kuburnya salah satu liang dari liang –liang
nerakamu.
“Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma
fii khaiir. Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu dan semoga Ia
limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam
kebaikan.
Ya Allah…pada hari ini dua hamba-Mu telah mematri janji dalam
Mitsaqan Ghaliza; dalam ikatan yang kuat atas nama-Mu. Kami tahu tidak
mudah bagi mereka untuk memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridha dan
maghfirah-Mu. Kami tahu, amat berat bagi mereka untuk mengayuh biduk
rumah tangga dalam menghadapi badai dan taufan godaan kehidupan. Karena
itulah, kami datang memohon rahman dan rahim-Mu.
Jadikanlah mereka berdua Suami dan Istri yang saling mencintai di kala
dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh. Saling menghibur dikala duka,
saling mengingatkan dikala bahagia. Saling mendoakan dalam kebaikan dan
taqwa, serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.
Ya Allah. Tunjukilah mereka jalan yang lurus, jalan orang-orang yang
lebih Engkau anugerahi nikmat, bukan jalannya orang-orang yang Engkau
murkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang Engkau sesatkan. Sinarilah hati
mereka dengan cahaya petunjuk-Mu. Terangilah jalan mereka dengan sinar
taufik-Mu.

Ya Allah…hiasilah rumah tangga mereka dengan kalimat-kalimat-Mu


yang suci. Indahkan keluarga mereka dengan keturunan yang senantiasa
mengagungkan Asma-Mu. Penuhi kehidupan mereka dengan amal shaleh yang
Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan yang baik bagi manusia.
Ya Allah…Damaikanlah pertengkaran di antara mereka, pertautkan
hatimereka , dan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak dan
tersembunyi.
Rabbana hablana min ajwajiina, wadzurriyatina, qurrata a’yunin, waj’alna lil
muttaqina imama. Ya Allah hadiahkan kepada kami, istri dan anak-anak yang
menjadi penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang
yang bertaqwa. Ya Allah ampuni kami jikalau kami salah menjadi orang tua.
Ampuni kami jikalau kami salah mendidik keluarga. Ya Alloh selamatkan anak-
anak kami, teguhkanlah aqidahnya, kuatkanlah ibadahnya, muliakan
akhlaknya. Ampuni kami ya Allah andaikata kami telah meracuni keluarga
dengan harta yang haram. Ya Allah berikan kepada kami nikmatnya ibadah,
doa-doa yang Engkau ijabah, sisa umur yang penuh berkah, anak cucu yang
sholih dan sholihah, rejeki yang melimpah ruah, dan jadikan akhir hidup kami
khuznul khatimah.
Allahumma inna nas aluka salamatan fiddin, wal afiyatan fil jasaadi,
waziyadatan fil ilmi, wabarokatan firrizqi, wa taubatan qoblal maut, wa
rahmatan ‘indal maut, wa maghfirotan ba’dal maut. Allahumma hawwin
‘alaina fi sakaratil maut, wannajata minannar, wal afwa indal hisaab.
Ya Alllah sungguh kami memohon kepada-Mu, keselamatan dalam menjalani
agama kami, kesehatan dalam jasmani kami, kemanfaatan dalam ilmu kami,
barokah dalam rezeki kami. Ya Allah berikanlah kesempatan bertaubat
sebelum maut menjemput kami, kasih sayangilah tatkala maut menghampiri
kami, berilah ampunan setelah kematian kami. Ya Allah ringankanlah derita
kami ketika menghadapi sakaratul maut, selamatkan kami dari api neraka, dan
mudahkanlah kami ketika menghadapi hisabMu.
Rabbana laa tuakhitnaa innasiinaa au akhtha’naa; rabbana walaa
tahmil ‘alainaa ishran, kamaa hamaltahu ‘alalladzinaa min qablinaa; rabbana
wala tuhamilnaa maa laa thaqatalanaabih; wa’fuanna waghfirlanaa
warhamnaa anta maulanaa fangshurna ‘alal qaumil kaafiriin. "Ya Alah ya
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami
[Link] Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Rabbana aatina fiddun ya hasanah, wafil aakhirati khasaanah, waqinaa
‘adzabannar. Rabbana taqabbal minna innaka antassami’ul ‘aliim, watub
‘alaina innaka antattauwaburrahiim. Subhana rabbika rabbil izzati ‘amma
yashifun, wasalamu ‘alal mursalin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Tuladha Atur Sabda Tama

Assalamu,alaikum Wr. Wb.


Kawula nuwun, kalawau kadang pranatacara nyebataken bilih kula
ingkang badhe paring sabdatama utawi ular-ular wulang utami
dhumateng temanten sarimbit. Pancenipun dereng darajat menawi kula
paring sabdatama, jer demung Sabda mekaten, boten wonten ingkang
pantes hangagem, kajawi naming Pangeran ingkang dados tuking
samukawis, mandhapipun dhateng salah satunggaling Raja ingkang
nembe siniwaka. Mbok menawi tembung sabdatama ing riki, mengku
teges wulang utami dhedhasar sadaya Sabda-sabdaning Pangeran,
ingkang sampun kawahnya ing serat-serat suci.
Sanadyan kanthi awrating manah, karana ing mriki kathah rawuhipun
para pepundhen, para sesepuh, pinisepuh, saha para wasis babagan
wulang utami, parikedah boten saged hambantah, minangkani
pamundhutipun ingkang hamengku gati, sawatawis suka wawasan ing
babagan prayogining bebrayan, jer nyatanipun sanadyan langkung
wasis tuein pinter anakmas temanten sekaliyan menawi kaliyan kula,
nanging tumraping gesang patembayatan bebrayan, saestu langkung
rumiyin kula. Mbok menawi menika ingkang kangge gada supados
kula kapeksa suka wawasan tumraping gesang bebrayan enggal.
Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, pinisepuh.
Punapadene panjenenganipun para tamu ingkang satuhu luhuring budi,
keparenga sami paring pangestu dhumateng kula, supados saged
dumugining purug anggen kawula hamakili panjenengan sadaya, suka
wawasan tumrap theg kliweripun patembayatan bebrayan enggal.

Anakmas temanten sarimbit,


Gegaran tumrap gesang bebrayan enggal punika salah satunggalipun
kedaha nindakaken pakarti gangsal prekawis ingkang sinebat Malima.
Malima ing mriki saking tembung mlumah, mengkurep, modot,
mlebu lan metu.

Mlumah, punika nglumahaken tangan, utawi kridaha lumahing asta


tegesipun dados tiyang gesang wonten madyaning bebrayan agung
punika aja seneng ngathung, utawi nggadhahi watak ingkang remen
njagekaken dhateng pawewehing liyan.

Mengkurep, punika ngurepaken asta, tegesipun dados tiyang gesang


wonten madyaning bebrayan agung punika senenga paweweh marang
liyan sing tanpa pamrih. Senenga tetulung marang sapa wae sing
mbutuhake pitulung, nanging aja nganti diweruhi dening wong akeh.
Upama nindakake dana driyah, tangan tengen menehi dhuwit,
paribasane tangan kiwa aja nganti weruh.
Modot, punika modot pikirane, modot nalare, tegesipun dados tiyang
tumitah wonten ing alamdonya punika kedah tandah mbudidaya murih
undhaking kawruh, dimen jembar wawasanipun.

Mlebu, tegesipun sadaya kawruh utawi tumindak ingkang lerekipun


dhateng kasaenan, kedah katampi saha dipun lebetaken dhateng
manah utawi sanubari, minangka dados gegebenganipun tiyang gesang
bebrayan.
Metu, tegesipun sadaya kawruh utawi tumindak ingkang sae ingkang
migunani dhumateng bebrayan agung, kedah dipun tularaken dhateng
tiyang sanes.

Kajawi nindakaken Malima, resepipun bebrayan sae, punika kedah


Dana ing tepa, Tepa ing rasa, saha Temen tobating rila.
Miturut ngendikanipun Ki. Sri Sadhono Among Rogo, Tepa ing rasa
tegesipun tepa punika ukuran, rasa punika pangraos. Samukawis
patrap lan makarti punika kedah manut raosipun piyambak. Menawi
tumrap raosipun piyambak boten sakeca lan prayogi, sampun dipun
cakaken dhateng tiyang sanes.
Dana ing tepa tegesipun raos pangraos makaten punika, kula aturi
ngecakaken ing bebrayan agung, adatipun saged sumingkir saking
watak srei, drengki, jahil, methakil, dahwen, panasten, kamiopen.
Temen tobating rila tegesipun kakung, kanthi temen tresna dhateng
garwa, martobat sampun tuman rabi malih, rila legawa narima trusing
batos garwa satunggal boten telas salamanipun, adatipun saged
nyaketaken tresna bektinipun garwa Putri, semanten ugi, adatipun
saged nyaketaken sih tresnanipun kakung.

Kajawi punika ugi kedah nindakaken Sacatur, inggih punika Sarupa,


sajiwa, Sawanda lan Saekapraya.
Sarupa, tegesipun kekalihipun rumaos manawi garwanipun punika
bagus/ayu piyambak.
Sajiwa, tegesipun kedah saged momong watak, satunggal-
satunggalipun.
Sawanda, tegesipun adeging bebrayan, pamoring jiwa kekalih.
Saekapraya, tegesipun kedah jumurung dhateng karsa, cipta tuwin
sedya ingkang sae lan utami.

Hambok bilih namung semanten kemawon anakmas temanten,


menggah anggen kula suka wawasan saha nularaken ing babagan
wulang utamining bebrayan. Minangka puputing atur, menawi wonten
keladuking pangucap saha kiranging seserepan babagan wulang utami
nyuwun pangapunten.

Kautamaning Bebrayan
Pitudúh : 1
Ora ånå wóng kang ingaranan uríp, kêjabanê kang mikír sartå trêsnå
marang wóng kang ringkíh lan nandhang påpå cintråkå. Biså mèlu
ngrasakakê kasusahanê sartå lårå lapanê wóng liyå. Kanthi pangråså
kang mangkono mau atêgês biså nggadhúh kêkuwatan kang tanpå
watês, pêrlu kanggo mitulungi sapådhå-pådhå kang kahananê luwíh
nrênyúhakê katimbang dhiri pribadinê. “Pakarti mono darbèk kita
dhêwê, nanging wóhê pakarti mau dadi kagunganê Kang Gawê Urip”,
mangkono sabdanê sawijinê Pujånggå kalokå.
Pitudúh : 2
Wóng kang baút mawas dhiri iku wóng kang biså manjíng ajúr ajèr,
ngêrti êmpan papan laras karo rèh swasånå sakupêngê tanpå
ninggalakê subåsitå. Paribasanê wóng kang baút ngadisarirå, åjå múng
kalimpút êdiníng busånå baê, nangíng bisowå tansah mêrsudi marang
padhangíng sêmu lan manisíng wicårå tanpå nglírwakakê marang alús
lan luwêsíng solah båwå.
Pitudúh : 3
Kêcandhakíng sawijiníng idham-idhaman iku ora cukúp múng
dibandang móncèr lan pêpakíng ilmu lan kawrúh baê. Nangíng ånå
syarat siji kang ora kênå kalirwakakê, yaiku kapintêran ing bab
sêsrawungan. Såpå kang bisa tumindak ajúr-ajèr lan biså nuwúhakê
råså rêsèp marang liyan, prasasat wis êntúk pawitan kanggo nandangi
sakèhíng pagawêyan åpådênê nggayúh idham-idhamanê.
Pitudúh : 4
Nindakakê kabêcikan mono ora mêsthi kudu cucúl wragad, nanging
biså ditindakakê sarånå pakarti-pakarti liyanê sing sêjatinê akèh
bangêt caranê. Saugêr biså gawê sênênging liyan, upamanê baê måwå
ulat sumèh tangkêp srawúng kang sumanak, bisa manjíng ajúr-ajèr ing
madyaníng bêbrayan, lan biså dadi patuladhan laku utåmå. Kabèh mau
klêbu êwóníng tindak kabêcikan kang ajinê nglêluwihi wragad dêdånå
kang diwènèhakê utåwå dipotangakê, apamanèh lamún anggónê
mènèhi utåwå ngutangi iku sinamudånå kêbak pamríh.
Pitudúh : 5
Yèn kowê arêp rêmbugan, pikirên luwih dhisík têtêmbungan síng arêp
kók wêtókakê. Åpå wís ngênggoni têlúng prêkårå : bênêr, manís,
migunani. Êwå sêmono síng bênêr iku isih pêrlu dithinthingi manèh
yèn gawê gêndranê liyan prayogå wurúngnå. Dênê têmbúng manís
mono ora duwê pamríh, pamrihê biså gawê sênêngê liyan kang
tundhónê migunani tumrapê jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : 6
Sugíh ómóng kanggo nggayêngakê pasamuwan pancèn apík. Nangíng
ngómóng múng golèk suwurê awakê dhêwê sók kêtrucút miyak
wêwadinê dhêwê. Pirå baê cacahê wóng kang kêplèsèt uripê múng
margå sukå anggónê sugíh ómóng. Mulå sabêcik-bêcikê wóng iku ora
kåyå wóng kang mênêng. Nangíng mênêngê wóng kang darbê bóbót
kang antêb síng biså dadi panjujuganê pårå pawóngan kang
mbutúhakê rêmbúg lan pitudúh.
Pitudúh : 7
Ing jagadíng sêsrawungan mono nyirík marang sêsipatan kang
gumêdhê lan wêwatakan kang tansah ngêgúngakê dhiri. Sipat lan
wêwatakan mau adhakanê banjúr nuwúhakê råså ora lilå yèn nyipati
ånå liyan síng luwíh katimbang dhèwèkê. Mulå saibå bêcikê samångså
såpå kang rumangsa pintêr dhêwê, sugíh dhêwê, lan kuwåså dhêwê
iku gêlêma nglaras dhiri lan nglêrêmakê cíptanê kang wêning, yèn
sêjatinê isíh ånå manèh kang Måhå Pintêr, Måhå Sugih, lan Måhå
Luhúr. Klawan mangkono råså pangråså dumèh lan takabúr kang dadi
sandhungan pasrawungan biså sumingkír.
Pitudúh : 8
Luwih bêcík makarti tanpå sabåwå kang anjóg marang karahayóníng
bêbrayan, katimbang tumindakê wóng kang rêkanê nindakakê
panggawê luhúr nangíng disambi udúr. Yêktinê tåtå têntrêm iku ora
bakal biså kagayúh yèn tå ora adhêdhasar kêrukunan, dênê kêrukunan
iku múng biså kêcandhak yèn siji lan sijinê pådhå biså aji-ingajènan
lan móng-kinêmóng.
Pituduh: 9
Yèn atimu wis gilíg arêp gawé kabêcikan kanggo karaharjaníng
bêbrayan, bêratên råså uwas marang pandakwå ålå kang ora nyåtå.
Srananånå kanthi jêmbaríng dhådhå lan sabaríng nålå, amríh bisa
nuwúhaké gêdhéníng prabåwå lan cabaríng sakèhíng piålå.
Pitudúh : 10
Wicårå kang wêtuné kanthi tinåtå runtút kang awujúd sêsulúh kang
amót piwulang bêcík, ajiné pancèn ngungkuli mas picís råjåbrånå, biså
nggugah budi lan nguripaké pikír. Nangíng kawuningånå yèn
grêngsênging pikír lan uripíng jiwå iku ora biså yèn múng kagugah
sarånå wicårå baé. Kang wigati yaiku wicårå kang måwå tandang
minångkå tulådhå. Jêr tulådhå mono síng biså nuwúhaké kapitayan.
Luwíh-luwíh mungguhíng pårå manggalaníng pråjå kang wís
pinracåyå ngêmbani nuså lan bångså.
Pitudúh : 11
Luwíh bêcík ngasóraké rågå tinimbangané ngóngasaké kapintêran
kang sêjatiné isíh nguciwani bangêt. Ngóngasaké kapintêran iku
satêmêné múng kanggo nutupi kabodhowané, jêr kabèh mau mêrga
råså samar lan was sumêlang yèn ta kungkulan déníng sapêpadhané.
Tindak mangkono mau malah dadi sawijiníng godhå kang múng bakal
ngrêrêndhêti lakuníng kêmajuwané dhéwé ing jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : 12
Såpå wóngé síng ora sênêng yèn éntúk pangalêmbånå. Nangíng
thukulíng pangalêmbånå iku ora gampang. Kudu disranani kanthi
pakarti kang bêcik lan murakabi marang wóng akèh. Yèn múng
disranani båndhå, pangalêmbanané múng kandhêg ing lambé baé ora
tumús ing ati. Déné yèn disranani pênggawé kang lêlamisan, ing
pamburiné malah bakal kasingkang-singkang kasingkíraké såkå
jagadíng pasrawungan.
Pitudúh : 13
Généyå akèh wóng kang dhêmên nyatur alaníng liyan lan ngalêmbånå
awaké dhéwé? Sêbabé ora liya margå wóng-wóng síng kåyå ngono
mau ora ngêrti yèn pênggawé mau klêbu pakarti kang ora prayogå,
mula prêlu dingêrtèkaké. Awít yèn ora énggal-énggal nyingkiri pakarti
kang ora bêcík mau, wusanané dhèwèké kang bakal diêmóhi déníng
pasrawungan.
Pitudúh : 14
Nggayúh kaluhuran liré ngupåyå tataraníng uríp kang luwih dhuwúr.
Dhuwúr laír lan batiné, ya tumrap dhiri pribadiné ugå sumrambah
kanggo karaharjaníng bêbrayan. Nangíng yèn kandhêg salah siji,
têgêsé gothang. Yèn múng nêngênaké kaluhuraníng laír gênah múng
ngoyak drajat lan sêmat, isíh miyar-miyur gampang kênå pangaribåwå
såkå njåbå. Yèn ngêmúngaké kaluhuraníng batín, cêtha ora nuhóni
jêjêríng manungsa, awít ora tumandang ing gawé kanggo
kêpêrluwaníng bêbrayan. Atêgês tanpå gunå diparingi uríp ing alam
donya.
Pitudúh : 15
Sing såpå rumangsa nduwèni kaluputan, åjå isín ngowahi kaluputan
sing wís kadhúng katindakaké mau. Jêr ngakóni kaluputan mono wís
cêthå dudu tindak kang asór, nangíng malah nuduhaké marang pakarti
kang utåmå kang ora gampang linakónan déníng sadhêngah wóng. Iyå
wóng kang wis biså nduwèni watak gêlêm ngakóni kaluputané
mangkéné iki pantês sinêbút wóng kang jujúr sartå kasinungan ing
budi luhúr.
Pitudúh : 16
Manungså uríp iku dibiså nguwasani kamardikaníng laír lan batín.
Kang dikarêpakê kamardikaníng laír iku wujudê biså nyukupi
kabutuhaning uríp ing sabên dinanê såkå wêtuning kringêt lan wóhíng
kangèlan dhêwê ora gumantúng ing wóng liyå lan ora dadi sangganíng
liyan. Dênê kamardikaníng batín iku dicakakê sarånå nyingkiri håwå
napsu, adóh såkå asór lan nisthaníng pambudi, sêpi ing råså mêlík lan
drêngki srèi, sartå tuhu marang paugêran uríp bêbrayan.
Pitudúh : 17
Yèn kêpéngín diajèni liyan, mulå åjå sók dhêmên martak-martakaké,
åpå manèh nganti mamèraké kabisan lan kaluwihanmu. Pangaji-
ajiníng liyan iku sêjatiné ora pêrlu mbók buru, bakal têkå dhéwé.
Nudúhaké kêwasisan pancèn kudu bisa milíh papan lan êmpan. Mulå
kang prayoga kêpårå purihên åjå kóngsi wóng liyå biså njajagi.
Nangíng mångså kalané ngadhêpi gawé parigawé kêconggah mrantasi.
Pitudúh : 18
Åjå sók ngluputaké, gêdhéné ngundhat-undhat wóng liyå, samångså
kitå ora katêkan åpå kang dadi kêkarêpan kitå. Bêciké kitå tliti lan kitå
golèki sêbab-sêbab ing badan kita dhéwé, amrih kitå biså uwal såkå
dayaníng pangirå-irå kang ora prayogå. Kawruhana, yèn usadané
watak apês síng njalari nganti ora katêkan sêdyå kitå iku, ora ånå liya,
yå dumunúng ånå ing awak kita dhéwé.
Pitudúh : 19
Arang wóng síng bisa mapanaké råså narima marang åpå baé kang wís
klakón digayúh. Yèn rumangsa kurang isíh golèk wuwúh, yèn wís
olèh banjúr golèk luwíh, yèn wís luwíh tumuli mbudidåyå åjå ånå
wóng síng biså madhani. Wóng kang duwé råså mangkono mau
satêmêné mêmêlas. Uripé tansah ngångså-ångså, ora naté sumèlèh
atiné. Kanggo nuruti råså kang klèru kasêbút sók-sók banjúr tumindak
ora samêsthiné lan nalisír såkå pakarti kang bênêr.
Pitudúh : 20
Watak narimå mono yêkti dadi sihíng Pangéran, nangíng yèntå nganti
klèru ing panyuråså biså nuwúhaké klèruníng tumindak. Narimå, liré
ora ngångså-ångså nangíng ora kurang wêwékå lan tansah mbudidåyå
amríh katêkaning sêdyå, dudu atêgês kêbacút lumúh ing gawé, suthík
ihtiyar. Awít yèn mangkono ora jênêng narimå, nagíng kêsèt. Jêr
watakíng wóng kêsèt iku múng gêlêm énaké êmóh rêkasané, gêlêm
ngêmplók suthík tómbók, satêmah dadi wóng ora wêrúh ing wirang,
siningkiraké såkå jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : 21
Wóng uríp ing alam bêbrayan iku yêkti angèl, kudu biså ngêrèh
pakóné “si aku”, åjå nggugu karêpé dhéwé lan nuruti håwå napsu.
Luwíh-luwíh ing dinå samêngko, alam bêbrayan donyå tansah kêbak
pradhóndhi, silíh ungkíh, rêbutan bênêré dhéwé-dhéwé. Mulå síng
baku, wóng uríp kudu biså miyak alíng-alíng kang nutupi pikiran kang
wêníng. Liré, sênajanå sajroníng pasulayan, kudu bisa nyandhêt
kêmrungsung “si aku” istingarah sakèhíng bédané panêmu biså
disawijèkaké.
Pitudúh : 22
Wóng kang nduwèni watak tansah njalúk bênêré dhéwé iku adaté
banjúr kathukulan bêndånå sênêng nênacad lan ngluputaké marang
panêmu sartå tindak tanduké wóng liyå. Méndah bêciké yèn wóng
síng kåyå mangkono mau kålå-kålå gêlêm nggraitå ing njêro batiné :
“mbók mênåwå aku síng klèru, mulå cobå dak tlitiné klawan adíl såpå
kang sêjatiné nyåtå-nyåtå bênêr”.
Pitudúh : 23
Rêsêpíng omah iku ora dumunúng ing barang-barang méwah kang
larang rêgané, nangíng gumantúng marang panataníng prabót kang
prasåjå, sartå pêmasangé rêrênggan kang adóh såkå watak pamèr.
Sêmono ugå rêsêpíng salirå iku ora margå såkå pacakan kang èdi-pèni,
nangíng gumantúng ing sandhang pênganggo kang prasåjå, trapsilå
solah båwå, lan padhanging polatan.
Pitudúh : 24
Yèn kowé kêpênêr lagi srêngên lan nêsu, prayogané wóng síng kók
nêsóni lan kók srêngêni mau kóngkónên énggal sumingkír. Utåwå
kowé dhéwé sumingkirå sauntårå, aja têtêmónan karo wóng liya.
Sabanjuré mênêngå lan étúng-étúngå kanthi sarèh wiwít siji têkan
sêpulúh. Klawan mêngkono atimu bakal bisa nimbang-nimbang åpå
nêsu lan srêngênmu marang wóng mau bênêr, åpå malah dudu kowé
dhéwé síng lupút.
Pitudúh : 25
Jênêng tanpå gunå uripíng manungså kang nganti ora biså nyumurupi
marang kang kêdadéyan ing sakiwå têngêné. Ora biså asúng
lêlimbangan lan pamrayogå sakadharé kanggo karahayóníng
bêbrayan. Rupak pandêlêngé ora ånå liyå kang disumurupi kajåbå
uripé dhéwé. Mati pangrasané, jalaran ora kulina kanggo ngrasak-
ngrasakaké kang katón ing sabên dinané, wusana dadi cêthèk budiné,
jalaran såkå kalêpyan marang têpå palupi kang maédahi ing uripé.
Pitudúh : 26
Åjå sók nyênyamah luputíng liyan, luwíh bêcík tudúhnå kaluputané
kang malah biså ngrumakêtaké råså pasêduluran. Éwåsêmono åjå
nganti kowé kêsusu mbêcíkaké kêlakuwané liyan, yèn awakmu dhéwé
rumångså durúng biså ngênggóni råså sabar lan têpa sêlirå. Såpå kang
wís ngêrti lan ngrumangsani marang sakèhíng dosané, iku sawijiníng
wóng kang wís ngêrti marang jêjêríng kamanungsané, manungsa kang
utåmå.
Pitudúh : 27
Ajiníng manungså iku kapúrbå ing pakartiné dhéwé, ora kagåwå såkå
katurunan, kapintêran, lan kasugihané. Nangíng gumantúng såkå
ênggóné nanjakaké kapintêran lan kasugihané, sartå matrapaké
wêwatêkané kanggo kêpêrluan bêbrayan. Kabèh mau yèn múng
katanjakaké kanggo kapêrluwané dhéwé, tanpå paédah. Nangíng yèn
pakarti mau kadayan déníng råså pêpinginan golèk suwúr, golèk
pangkat lan donya brånå, malah bisa dadi mêmalaníng bêbrayan,
jalaran nyinamudana sarånå nylamúr migunakaké jênêngé wóng akèh.
Pitudúh : 28
Ora ånå budi kang luwíh luhur saliyané nduwèni råså asíh marang
nuså lan bangsané. Kadunungan råså rumangsa nduwèni sêsanggêman
lan kuwajiban mranåtå têntrêmíng pråjå kanthi pawitan kapintêran
kang dilandhêsi kawicaksananing pambudi. Tåndhå yêktiné yèn asíh,
yaiku tansah samaptå tumandang sawayah-wayah yèn ånå parigawé
kang wigati kanggo wargå sapådhå-pådhå, munggahé tansah samaptå
lêladi kanggo kêslamêtaníng bêbrayan lan karaharjaníng nagårå.
Pitudúh : 29
Wóng kang kêrêp tansah dipituturi wóng liya iku adaté bisa dadi wóng
dhêmên ngati-ati, nangíng mênåwå kapêngkók ing pêrlu sók ora bisa
tumindak lan ngrampungi dhéwé. Kêpêkså isíh kudu nolèh wóng liya
síng diwawas bisa awèh pitudúh. Mulå kuwi prayogå ngawulåå
marang ati lan kêkuwatanmu dhéwé, jalaran wóng liyå iku sêjatiné
yèn ånå apa-apané múng sadêrmå nyawang, ora mèlu ngrasakaké.
Pitudúh : 30
Wóng kang rumångså dhiriné linuwíh, ing sawijiníng wêktu mêsthi
bakal kasurúng atiné arêp mamèraké kaluwihané, liré amríh
dimangêrtènånå déníng wóng akèh yèn dhèwèké mono wóng kang
pinunjúl lan supåyå diajènånå. Sumurupå, sakabèhíng kaluwihan mau
yèn ora dicakaké måwå lêlabuhan kang murakabi marang bêbrayan,
tanpå gunå kêpårå malah ora kajèn lan gawé pitunå. Mula kang
prayogå biså tulús dadi wóng kang linuwih mênåwå gêbyaríng
kaluwihan iku múng dikatónaké marang batiné dhéwé, iku wís cukup.
Pitudúh : 31
Dêdånå utåwå sêdhêkah marang wóng kang lagi nyandhang påpå
cintråkå iku sawijiníng pênggawé bêcík kang patút tinulådhå, saugêr
pawèwèh mau ora kinanthènan panggrundêl kang nêlakaké ora
éklasíng atiné. Têtêmbungan kang lêmbah ing manah lan mêrak ati iku
luwih gêdhé ajiné katimbang dêdånå kang ora éklas. Suprandéné
nulúng lan mènèhi pêpadhang marang jiwané wóng
kangkacingkrangan iku kang sêjatiné luwih pêrlu lan wigati,
katimbang múng têtulúng marang awaké kang awujúd kêlairan baé.
Pitudúh : 32
Ulat sumèh, tindak-tandúk sarèh kinanthènan têmbúng arís iku biså
ngruntúhaké ati sartå ngêdóhaké panggódhaning sétan. Kósókbaliné
watak wicårå kang kêras, kêjåbå kêduga gawé tanginíng kanêpsón,
ugå gampang nuwúhaké salah panåmpå. Sabarang prakårå kang
sêjatiné bisa putús sarånå arís lan sarèh, kêpêksa dadi adu wulêding
kulít lan atósíng balúng, kari si sétan ngguyu ngakak bungah-bungah.
Pituduh : 33
Wóng kang kulinå uríp mubra-mubru iku samangsané ngalami
sandhungan uríp sêthithík baé adaté gampang kêthukulan gagasan lan
gawé kang cêngkah karo bêbênêr, luwíh bêgjå wóng kang uripé pokal
samadyå nangíng rêsík atiné. Déné bêgja-bêgjané wóng iku ora kåyå
wóng síng tansah uríp ing kahanan kang kêbak godhå rêncånå,
prasasat tåpå ånå satêngahíng cobå, nangíng tansah tawêkal lan kandêl
kêimanané marang adilíng Pangéran Kang Måhå Kuwåså.
Pitudúh : 34
Sipaté wóng uríp iku mêsthi kêsinungan kêkuwatan. Kang ngêrti biså
ngêcakaké déné kang ora biså ngêrti kurang digladhi, têmahan ora
tumanja. Éwåsémono ngêmpakaké kêkuwatan mula ora gampang.
Buktiné ora sêthithík kêkuwatan kang êmpané ora mapan. Kawruhana,
yèn rusaké bêbrayan ing antarané margå såkå pakartiné pårå-pårå kang
ngêrti marang dayaníng kêkuwatané nangíng ora kanggo nggayúh
gêgayuhan kang mulyå, múng kanggo nuruti dêrênging ati angkårå.
Pitudúh : 35
Katrêsnan kang tanpå pangrêksa iku dudu sêjatiníng katrêsnan. Kênå
diarani sêjatiníng katrêsnan kang múng kadêrêng lan kêna ing
pangaribawaníng håwå napsu. Dadi yèn ånå unèn-unèn ” trêsnå iku
wutå” yaiku síng kaprabawan håwå napsu. Síng prayogå iku mêsthiné
kudu ngugêmi unèn-unèn “trêsnå iku rumêkså” biså salaras
tumindaké. Rasaníng katrêsnan kang cêdhak dhéwé tumrap sadhêngah
manungså iku dumunúng ing awaké dhéwé. Mulå såpå kang trêsnå
marang sapådhå-pådhå iku aran trêsnå marang awaké dhéwé,
tundhóné såpå kang tansah ngrêkså marang karahayóníng liyan, ora
bédå karo pangrêkså marang kêslamêtané dhéwé.
Pitudúh : 36
Srawúng ing madyaning bêbrayan iku kêjåbå kudu wasís milíh papan
lan êmpan, ugå kudu bisa angón mångså lan mulat ing sêmu. Åjå
nggêgampang ngrójóngi rêmbúg kang kowé dhéwé durúng ngrêti
prakarané. Rêmbúg sêthithík nanging mranani iku nudúhaké bóbótíng
pribadi. Rêmbúg akèh nangíng ampang malah gawé sånggå rungginé
síng pådhå ngrugókaké kêpårå njuwarèhi.
Pitudúh : 37
Wóng kang wís têkan pêsthiné utåwå wis katimbalan bali mênyang
jaman kêlanggêngan iku sêjatiné lagi kênå diwènèhi biji tumrap ajiné
kamanungsané lan pakartiné nalikå uríp. Déné wóng kang isíh pådhå
uríp iku pêrlu disêmak baé dhisík, durúng kênå dipatrapi biji, jêr
kahanané isih bisa owah gingsír. Sarèhné manungså iki sawijiníng
titah kang luhúr dhéwé, mulå wís samêsthiné yèn kitå åjå nganti
kayadéné sato kang patiné múng ninggal têngêr lulang lan balúng baé.
Nangíng bisowå kita nanjakaké uríp kitå marang pakarti-pakarti
utåmå, sumrambahé marang karahayóning uríp bêbrayan.
Pitudúh : 38
Mustikané wóng tuwå marang anak múng ånå ing laku kang gumati,
gunêm kang rurúh, lan ujar kang manís. Gumatiné dumunúng ing têpå
tuladhaníng tingkah laku. Gunêm lan ujar kawêngku ånå ing ucap
kang istingarah numusi kajiwan, lan luhuríng budi pêkêrti. Mula yèn
ånå åpå-åpå, åjå sêlak marang sêbutíng paribasan : “Ora ånå kacang
ninggal lanjaran”.
Pitudúh : 39
Nanggapi kahanan urip ing satêngahíng bêbrayan iku gampang angèl.
Aran angèl kêpårå malah bisa gawé kêtliwênging pikír samångså
anggón kita mawas kêdhisikan kagubêl ing håwå. Aran gampang yèn
kita biså mikír klawan wêníng lan mênêb. Iyå pamikír kang mênêb iku
kang aran akal budi sêjati. Kang bisa mbabaraké wóhíng wawasan
kang mulús rêsík, ora kacampúran blêntóngé “si aku”. Apamanèh yèn
tå kitå biså têtêp nguwasani wêningíng pikír, nadyan kahanané uríp
ing satêngahing bêbrayan kisruhå dikåyångåpå, istingarah ora angèl
anggón kita nanggapi.
Pitudúh : 40
Srêngên marang wóng mono åjå nganti kênêmênên lan kêliwat-liwat
múng margå wis ngêrti yèn wóng mau ora bakal wani nglawan utåwå
wís ora biså nglawan, síng èstiné múng arêp ngêdír-êdíraké drajad
pangkat utåwå kadibyané baé. Pakarti kaya ngono mau kêjåbå klêbu
ambêg siyå, ugå wóng síng disrêngêni durúng karuwan bakal dadi
bêcík, kêpårå bisa nuwúhaké råså sêngít. Kang prayogå iku srêngên
samadyå kang mêngku pitutúr murih bêciké.
Pitudúh : 41
Wóng pintêr kang ora kinanthènan ing kautaman iku ora bédå karo
wóng wutå kang nggåwå óbór ing wayah bêngi. Madhangi wóng liyå
nangíng dhèwèké dhéwé lakuné kêsasar-sasar. Kapintêran mangkéné
iki yèn tå dicakaké ing madyaning bêbrayan bakal nuwúhaké
kapitunan, pikolèhé malah múng wujúd kasangsaran lan karusakan.
Pitudúh : 42
Síng såpå ngidham kaluhuran kudu wani kúrban lan ora wêgah ing
kangèlan. Mêrgå yèn tansah tidhå-tidhå, mokal åpå sing kagayúh bisa
digånthå lan tangèh lamún åpå síng diluru bisa kêtêmu. Makarti wani
rêkåså kanthi masrahaké urip lan jiwå rågå marang Kang Múrbèng
Kuwåså. Yèn kêpingín mênang pancèn larang patukóné, yaiku kudu
bisa nuhóni sêsanti: “Surå dirå jayaníngrat lêbúr déníng pangastuti”.
Pituduh : 43 Isíh bêjå yèn kowé diunèkaké “Ora Lumrah Uwóng”,
jalaran isíh dianggêp manungså. Yå múng solah tingkahmu kang kudu
kók owahi amríh ora gawé sêrikíng liyan. Cilakané yèn diunèkaké
“Ora Lumrah Manungså”, jalaran kowé dianggêp sétan gêntayangan
síng múng dadi lêlêthêging jagad margå pakartimu kang ninggal sifat
kamanungsan. Mula énggal-énggala sumujudå marang Gusti Kang
Múrbèng Dumadi. Sifaté Gústi Allah mono sarwå wêlas asíh marang
umaté kang wís sadhar marang doså-dosané sartå têmên-têmên bali
tuhu marang dhawúh-dhawuhé.
Pitudúh : 44
Ora ånå pênggawé luwíh déníng múlya kêjåbå dêdånå síng ugå atêgês
mbiyantu nyampêti kêkuranganing kabutuhané liyan. Dêdånå marang
sapêpådhå iku atêgês ugå mitulungi awaké dhéwé nglêlantih marang
råså lilå lêgåwå kang ugå atêgês angabêkti marang Pangéran Kang
Måhå Wikan. Pancèn pangabêkti mono wís aran pasrah, dadi kitå ora
ngajab marang baliné sumbangsih kang kitå asúngaké. Kabèh iku síng
kagungan múng Pangéran Kang Måhå Kuwåså, kitå ora wênang
ngajab wóhíng pangabêkti kanggo kitå dhéwé. Nindakaké kabêcikan
kanthi dêdånå kita pancèn wajíb, nanging ngundhúh wóhíng kautaman
kitå ora wênang.
Pitudúh : 45
Mêmitran pasêduluran nganti jêjodhowan kuwi yèn siji lan sijiné biså
êmóng-kinêmóng, istingarah biså sêmpulúr bêcík. Yèn ånå padudón
sêpisan pindho iku wis aran lumrah, bisa nambahi rakêtíng
sêsambungan. Nangíng suwaliké yèn pådhå angèl ngênggóni sifat
êmóng-kinêmóng mau gênah långkå langgêngé, malah bédaníng
panêmu sithík baé biså marakaké dhahuru.
Pitudúh : 46
Wóng kang ora naté nandhang prihatin ora bakal kasinungan råså
pangråså kang njalari têkané råså trênyúh lan wêlas lahír batiné. Wóng
kang wís naté kêtaman ing prihatin luwíh biså ngrasakaké
pênandhangé wóng liya. Mulå adhakané luwíh gêlêm awèh pitulungan
marang kang kasusahan.
Pitudúh : 47
Sarupaníng wêwadi sing ålå lan sing bêcík, yèn isíh kók gémból lan
mbók kêkêt kanthi rêmít ing ati salawasé isih bakal têtêp dadi batúr.
Nangíng yèn wís mbók kétókaké sathithík baé bakal dadi bêndaramu.
Isíh lagi nyimpên wêwadiné dhéwé baé wís abót. Åpå manèh yèn
nganti pinracåyå nggêgêm wêwadiné liyan. Mulå såkå iku åjå sók
dhêmên kêpingín mêruhi wêwadiné liyan. Síng wís cêthå múng bakal
nambahi sanggan síng sêjatiné dudu wajíbmu mèlu opèn-opèn.
Pitudúh : 48
Sók såpåå bakal nduwèni råså kúrmat marang wóng kang tansah katón
bingar lan padhang polatané, nadyan tå wóng mau nêmbé baé
nandhang susah utåwå nêmóni pêpalang ing panguripané.
Kósókbaliné, wóng kang tansah katón suntrút kêrêp nggrundêl lan
grênêngan mêrgå ora katêkan sêdyané iku cêthå bakal kóncatan
kêkuwataníng batín lan tênagané, tangèh lamún éntukå pitulungan,
kêpårå malah dadi sêsirikaníng mitra karuhé.
Pitudúh : 49
Kitå iki diparingi cangkêm siji lan kupíng loro déníng Kang Måhå
Kuwåså, liré mêngku karêp amríh kitå iki kudu luwíh akèh
ngrungókaké katimbang micårå. Yêktiné wóng kang dhêmên ngumbar
cangkêmé tinimbang kupingé iku adaté wicarané gabúg. Suwaliké
síng akèh ngrungókaké, wicarané sêthithík nangíng patitís lan mêntês.
Pantês dadi jujugané sadhêngah wóng kang mbutúhaké rêmbúg kang
prayogå.
Pitudúh : 50
Wóng kang tansah dhêmên ngupíng kêpingín wêrúh, åpådéné
nyampuri pêrkarané liyan, gêdhéné nganti nrambul urún ucap, iku
pådhå karo golèk-golèk mómótan kang sêjatiné ora prêlu, adhakané
kêpårå malah ngrêridhu awaké dhéwé.
Pitudúh : 51
Ucap sakêcap kang kêlaír tanpå pinikír kêrêp baé nuwúhaké drêdah
lan bilahi. Mula wêtuné têmbúng satêmbúng såkå lésan iku prayogå
tan udinên aja nganti nggêpók prêkarané wóng liyå, gêdhéné nganti
gawé sérikíng liyan. Biså nyandhêt uculé pangucap kåyå mangkono
mau wís klêbu éwóníng pakarti kang utåmå. Nangíng généyå kók ora
sabên wóng biså nglakóni ?
Pitudúh : 52
Wóng iku yèn wís kasókan kabêcikan lan rumangsa kapotangan budi,
ing sakèhíng pakartiné lumrahé banjúr ora kêncêng lan rêsík. Mulané
tangèh lamún yèn biså njågå jêjêgíng adíl, awít lésané kasumpêtan,
mripaté bêrêng, kupingé budhêg. Atiné dadi mati, angèl wêrúh ing
bêbênêr. Mulå såkå iku åjå gumampang nåmpå kabêcikané liyan,
samångså tujuwané ngarah marang pênggawé kang nalisír såkå
bêbênêr.
Pitudúh : 53
Åjå kasêlak kêsusu nyêpèlèkaké liyan, margå kók anggêp wóng mau
bodho. Awít ånå kalamangsané kowé mbutúhaké rémbúg lan pituturé
wóng iku, síng kanyatané biså mbéngkas lan nguwalaké såkå
karuwêtanmu. Pancèn ing sawijiné bab wóng biså kaaran bodho,
nangíng ing babagan liya tangèh lamún yèn kowé biså nandhingi.
Pitudúh : 54
Yèn micårå åjå gumampang nêlakaké pênacad utawa pangalêm,
luwíh- luwíh nganti mêmaóni. Awít wicaramu durúng karuwan bênêr.
Síng mêsthi panacad mau gawé sêrík, pangalêmé nuwúhaké wiså,
déné waónané ora digugu, kabèh swårå ålå. Mulå kang prayogå iku
múng mênêng, jalaran mênêng iku yêktiné pancèn mustikaníng
ngauríp.
Pitudúh : 55
Udinên ing alam donya iki åjå ånå wóng kang kók sêngiti, supaya ora
ånå wóng sêngít marang kowé, balík sabiså-biså pådhå trêsnanånå.
Amargå lêlakón ing alam donya iki anané múng walês-winalês baé.
Déné yèn kêpêkså kowé sêngít marang sawijiníng wóng, mångkå
kowé ora biså mbuwang sêngítmu, gawénên wadi åjå ånå wóng kang
ngêrti. Yèn kowé ngandhakaké sêngítmu marang liyan, prasasat kowé
mamèraké alané atimu.
Pitudúh : 56
Ajiníng dhiri ånå ing lati. Ajiníng rågå ånå ing busånå. Mula dèn
ngati-ati ing pangucapmu, sêmono ugå anggónmu ngadi busånå kang
bisa mapanaké dhiri.
Pitudúh : 57
Wóng pintêr kang isih gêlêm njalúk rêmbugíng liyan iku dianggêp
manungsa utúh. Såpå síng rumangsa pintêr banjúr suthík njaluk
rêmbuging liyan kuwi manungsa sêtêngah wutúh. Lan síng såpå ora
gêlêm njalúk rêmbugíng liyan, iku bisa kinaranan babar pisan durúng
manungså.
Upacara Perkawinan Tradisional Jawa
Hubungan cinta kasih wanita dengan pria, setelah melalui proses dan pertimbangan , biasanya
dimantapkan dalam sebuah tali perkawinan, hubungan dan hidup bersama secara resmi
selaku suami istri dari segi hukum, agama dan adat..

Di Jawa seperti juga ditempat lain, pada prinsipnya perkawinan terjadi karena keputusan dua
insan yang saling jatuh [Link] merupakan hal yang prinsip. Meski ada juga perkawinan
yang terjadi karena dijodohkan orang tua yang terjadi dimasa [Link] orang-orang tua
zaman dulu berkilah melalui pepatah : Witing tresno jalaran soko kulino, artinya : Cinta
tumbuh karena terbiasa.

Di Jawa dimana kehidupan kekeluargaan masih kuat, sebuah perkawinan tentu akan
mempertemukan dua buah keluarga besar. Oleh karena itu, sesuai kebiasaan yang berlaku,
kedua insan yang berkasihan akan memberitahu keluarga masing-masing bahwa mereka telah
menemukan pasangan yang cocok dan ideal untuk dijadikan suami/istrinya.

Bibit, Bebet, Bobot

Secara tradisional, pertimbangan penerimaan seorang calon menantu berdasarkan kepada


bibit, bebet dan bobot.
Bibit :artinya mempunyai latar kehidupan keluarga yang baik.
Bebet : calon penganten, terutama pria, mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bobot : kedua calon penganten adalah orang yang berkwalitas, bermental baik dan
berpendidikan cukup.
Biasanya setelah kedua belah pihak orang tua atau keluarga menyetujui perkawinan, maka
dilakukan langkah-langkah selanjutnya, menurut kebiasaan adalah sebagai berikut :

Pinangan

Biasanya yang melamar adalah pihak calon penganten [Link] masa lalu, orang tua calon
penganten pria mengutus salah seorang anggota keluarganya untuk meminang. Tetapi kini,
untuk praktisnya orang tua pihak lelaki bisa langsung meminang kepada orang tua pihak
wanita . Bila sudah diterima, langsung akan dibicarakan langkah-langkah selanjutnya sampai
terjadinya upacara perkawinan.

Hal-hal yang perlu dibicarakan antara lain meliputi :


Tanggal dan hari pelaksanaan perkawinan, ditentukan kapan pernikahannya, jam berapa,
biasanya dicari hari [Link] hari pernikahan sudah ditentukan, upacara lain yang terkait
seperti : peningsetan, siraman, midodareni, panggih , resepsi dll, tinggal disesuaikan.

Tidak kurang penting adalah pemilihan seorang pemaes, juru rias penganten
[Link] upacara perkawinan tradisional, peran seorang perias temanten sangat
besar, karena dia beserta asisten-asistennya akan membimbing, paling tidak memberitahu
seluruh pelaksanaan upacara, lengkap dengan sesaji yang [Link] pemaes yang
kondang, mumpuni dan ahli dalam bidangnya ,biasanya juga punya jadwal yang ketat, karena
laris, diminta merias dibanyak tempat, terlebih dibulan-bulan baik menurut perhitungan
kalender Jawa. Oleh karena itu, perias temanten harus dipesan jauh hari.

Perlu diprioritaskan pula pemilihan tempat untuk pelaksanaan upacara perkawinan itu.
Misalnya dimana tempat akad nikah, temu manten dan resepsinya. Apakah akan dilaksanakan
dirumah, disebuah gedung pertemuan atau dihotel.

Dalam pelaksanaan perkawinan adat Jawa, pihak calon penganten wanita secara resmi adalah
yang punya gawe, pihak pria [Link] pelaksanaan upacara perkawinan , apakah
sederhana, sedang-sedang saja atau pesta besar yang mengundang banyak tamu dan lengkap
dengan hiburan, secara realitas itu tentu tergantung kepada anggaran yang tersedia. Pada saat
ini kedua pihak sudah lebih terbuka membicarakan budget tersebut.

Kesibukan dirumah calon penganten putri

Yang lebih sibuk memang pihak orang tua calon penganten wanita. Hal-hal yang mesti
dilakukan adalah :

1. Mengundang keluarga terdekat untuk membicarakan dan menyiapkan seluruh proses


[Link] tradisi dibentuk sebuah panitya yang terdiri dari anggota keluarga
dan kenalan dekat dan masing-masing mempunyai tugas yang [Link] yang penting
pula adalah penunjukkan pihak yang bertanggungjawab tentang konsumsi, Catering
mana yang akan [Link] catering berdasarkan pengalaman penting
sekali, harus yang baik dan bertanggungjawab dan servicenya memuaskan.

Pada masa kini, dengan pertimbangan praktis,ada keluarga yang punya hajat,menunjuk
seluruh pelaksanaan upacara diserahkan kepada Event Organizer yang profesional.

Mungkin penunjukan Event Organizer dimaksud supaya tidak merepotkan keluarga


yang lain, ada baiknya. Tetapi perlu diingat bahwa upacara perkawinan tradisional itu
adalah juga sebuah acara untuk keluarga, menyangkut segi sosial, dimana para tamu
selain hadir untuk memberi selamat kepada kedua temanten , juga untuk mempererat
persaudaraan dan persahabatan antara pihak pengundang dan yang [Link]
banyak kejadian,sebuah upacara perkawinan tradisional yang dikendalikan
sepenuhnya oleh Event Organizer terasa kaku , meski mereka melaksanakan benar
sesuai prosedur langkah-langkah yang dilaksanakan. Yang hilang dari upacara itu
adalah “roh” dari upacara ritual tersebut.

Oleh karena itu, beberapa pelestari budaya Jawa yang mau mengerti “segi kepraktisan
zaman “ berpendapat sebaiknya untuk pelaksanaan hal-hal inti, meski ada Event
Organizer, tetap harus ada anggota keluarga yang terlibat. Bagaimanapun , keluarga
yang punya gawe harus membentuk panitya kecil praktis yang mampu mengarahkan
dan membantu dan kalau perlu meluruskan kerja para personil Event Organizer
tersebut.
2. Pemasangan Bleketepe dan Tarub

Sehari sebelum upacara perkawinan, rumah orang tua mempelai wanita dipasangi
tarub dan bleketepe dipintu masuk halaman [Link] gapura yang dihiasi tarub
yang terdiri dari berbagai tuwuhan ,yaitu tanaman dan dedaunan yang punya arti
simbolis.

Dikiri kanan gapura dipasang pohon pisang yang sedang berbuah pisang yang telah
matang.

Artinya : Suami akan menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan


[Link] pohon pisang yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun
dengan lingkungan, keluarga baru ini juga akan hidup bahagia, sejahtera dan rukun
dengan lingkungan sekitarnya.
Sepasang tebu wulung, pohon tebu yang berwarna kemerahan, merupakan simbol
mantapnya kalbu, pasangan baru ini akan membina dengan sepenuh hati keluarga
mereka.

Cengkir gading- kelapa kecil berwarna kuning, melambangkan kencangnya-kuatnya


pikiran baik, sehingga pasangan ini dengan sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan
bersama yang saling mencinta.

Berbagai macam dedaunan segar seperti : beringin, mojokoro,alang-alang,dadap srep,


merupakan harapan supaya pasangan ini hidup dan tumbuh dalam keluarga yang
selalu selamat dan sejahtera.

Anyaman daun kelapa yang dinamakan bekletepe digantungkan digapura depan


rumah, ini dimaksudkan untuk mengusir segala gangguan dan roh jahat dan sekaligus
menjadi pertanda bahwa dirumah ini sedang dilakukan upacara perkawinan.

Sesaji khusus diadakan sebelum pemasangan tarub dan bekletepe, yang terdiri dari :
nasi tumpeng, berbagai macam buah-buahan termasuk pisang dan kelapa, berbagai
macam lauk pauk,kue-kue, minuman, bunga, jamu, tempe, daging kerbau, gula kelapa
dan sebuah lentera.

Sesaji ini melambangkan permohonan supaya mendapatkan berkah dari Tuhan, Gusti
dan restu dari para leluhur dan sekaligus sebagai sarana untuk menolak goda mahluk-
mahluk halus jahat.

Sesaji ditempatkan dibeberapa tempat dimana prosesi upacara perkawinan


dilaksanakan seperti didapur, kamar mandi, pintu depan, dibawah tarub, dijalan dekat
rumah dll.

Upacara-upacara sebelum pernikahan

Siraman

Siraman dari asal kata siram ,artinya mandi. Sehari sebelum pernikahan, kedua calon
penganten disucikan dengan cara dimandikan yang disebut Upacara Siraman. Calon
penganten putri dimandikan dirumah orang tuanya, demikian juga calon mempelai pria juga
dimandikan dirumah orang tuanya.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk Siraman :

1. Persiapan tempat untuk siraman, apakah dilakukan dikamar mandi atau dihalaman
rumah belakang atau samping.
2. Daftar orang-orang yang akan ikut memandikan. Sesuai tradisi selain kedua orang tua
temanten, eyang temanten , beberapa pinisepuh . Yang diundang untuk ikut
memandikan adalah mereka yang sudah sepuh, sebaiknya sudah punya cucu dan
punya reputasi kehidupan yang baik.
3. Sejumlah barang yang diperlukan seperti : tempat air, gayung, kursi, kembang
setaman, kain, handuk, kendi dsb.
4. Sesaji untuk siraman, ada lebih dari sepuluh macam, diantaranya adalah seekor ayam
jago.
5. Pihak keluarga penganten putri mengirimkankan sebaskom air kepada pihak keluarga
penganten pria. Air itu disebut air suci perwitosari artinya sari kehidupan, yaitu air
yang dicampur dengan beberapa macam bunga,yang ditaruh dalam wadah yang
bagus , untuk dicampurkan dengan air yang untuk memandikan penganten
pria.

6.

Pihak terakhir yang memandikan penganten adalah pemaes, yang menyirami calon
penganten dangan air dari sebuah kendi. Ketika kendi telah kosong, pemaes atau
seorang pinisepuh yang ditunjuk, membanting kendi dilantai sambil berkata : Wis
pecah [Link] calon penganten yang cantik atau gagah sekarang sudah siap
untuk kawin.

7. Upacara siraman selesai dan calon penganten dengan memakai kain batik motif
grompol dan ditutupi tubuhnya dengan kain batik motif nagasari, dituntun kembali
keruang [Link] temanten putri akan dikerik oleh pemaes.

Upacara Ngerik

Ngerik artinya rambut-rambut kecil diwajah calon pengantin wanita dengan hati-hati dikerik
oleh [Link] penganten putri dikeringkan kemudian diasapi dengan ratus/dupa wangi.
Perias mulai merias calon penganten . Wajahnya dirias dan rambutnya digelung sesuai
dengan pola upacara perkawinan yang telah ditentukan.

Sesudah selesai, penganten didandani dengan kebaya yang bagus yang telah disiapkan dan
kain batik motif sidomukti dan sidoasih, melambangkan dia akan hidup makmur dan
dihormati oleh sesama.

Malam itu, ayah dan ibu calon mempelai putri memberikan suapan terakhir kepada putrinya,
karena mulai besok, dia sudah berada dibawah tanggung jawab suaminya.

Sesaji untuk ngerik sama dengan sesaji siraman. Jadi untuk praktisnya, seluruh sesaji siraman
dibawa masuk kekamar pelaminan dan menjadi sesaji untuk ngerik.

Upacara Midodareni

Pada upacara midodareni yang berlangsung dimalam hari sebelum Ijab dan Temu
Manten/Panggih di keesokkan harinya, kedua orang tua calon mempelai pria beserta calon
mempelai pria, diantar oleh keluarga dekatnya, berkunjung kerumah orang tua calon
mempelai putri.
Calon mempelai putri setelah dirias dikamar pelaminan, nampak cantik sekali bagai widodari,
bidadari, dewi dari kahyangan.

Sesuai kepercayaan kuno, malam itu mempelai putri ditemani oleh beberapa dewi cantik dari
kahyangan. Malam itu dia harus tinggal dikamar dan tidak boleh tidur dari jam 6/enam sore
sampai tengah [Link] ibu sepuh menemani dan memberikan nasihat-nasihat
berharga.

Keluarga calon mempelai pria yang wanita, yang datang dimalam midodareni, boleh
menengok calon mempelai wanita yang sudah didandani cantik, siap untuk nikah esok
harinya.

Sesuai adat, dikamar pelaminan ada sesaji khusus untuk upacara midodareni, ada sebelas
macam makanan dan barang; selain itu ada 7/tujuh macam barang yang lain .

Upacara diluar kamar pelaminan

Dimalam midodareni, orang tua dan keluarga calon penganten putri, menerima kunjungan
dari orang tua dan keluarga dari calon penganten pria. Mereka duduk didalam rumah, saling
berkenalan dan bersantap bersama. Calon penganten pria juga datang, tetapi dia tidak boleh
masuk rumah dan hanya boleh duduk diserambi depan rumah. Diapun hanya disuguhi segelas
air minum, tidak boleh makan atau minum yang [Link] konon untuk melatih kesabaran
seorang suami dan kepala keluarga.

Srah-srahan atau Peningsetan

Dalam upacara midodareni, bisa dilakukan srah-srahan atau peningsetan.( Pada zaman dulu,
peningsetan dilakukan sebelum malam midodareni). Orang tua dan keluarga calon penganten
pria memberikan beberapa barang kepada orang tua calon penganten wanita.

Peningsetan dari kata singset, artinya mengikat erat, dalam hal ini terjadinya komitmen akan
sebuah perkawinan antara putra putri kedua pihak dan para orang tua penganten akan menjadi
besan.

Pemberian itu berupa : Satu set suruh ayu sebagai perlambang harapan tulus supaya
mendapatkan keselamatan. Seperangkat pakaian untuk penganten wanita , termasuk beberapa
kain batik dengan motif yang melambangkan kebahagiaan hidup. Tidak boleh ketinggalan
sebuah stagen, ikat pinggang kain putih yang besar dan panjang, sebagai pertanda kuatnya
[Link] hasil bumi a.l. beras, gula, garam, minyak goreng, buah-buahan dlsb sebagai
pralambang hidup kecukupan dan sejahtera bagi keluarga baru..

Sepasang cincin kawin untuk kedua mempelai.


Pada kesempatan ini, pihak calon mempelai pria menyerahkan sejumlah uang, sebagai
sumbangan untuk pelaksanaan upacara [Link] hanya formalitas belaka, karena
urunan uang sudah diberikan jauh hari sebelumnya.

Sesudah bersantap bersama dan saling berkenalan, seluruh keluarga rombongan orang tua
temanten pria berpamitan untuk pulang. Mereka perlu mempersiapkan diri untuk besok yaitu
pelaksanaan upacara perkawinan yang penting termasuk pernikahan secara agama, Upacara
adat temu manten dsb.

Catatan : Menurut adat perkawinan Surakarta, sewaktu rombongan tamu berpamitan pulang,
pihak tuan rumah memberikan angsul-angsulan , berupa buah-buahan, kue-kue dan
seperangkat pakaian temanten pria yang akan dipakai besok. Pada adat perkawinan gaya
Yogyakarta, tidak ada angsul-angsulan.
Nyantri

Sewaktu rombongan keluarga temanten pria pulang dari upacara midodareni, calon penganten
pria juga ikut diajak [Link], bila calon mempelai pria nyantri, maka dia ditinggal
dirumah calon [Link] nyantri sebelumnya sudah dibicarakan dan disetujui kedua
pihak. Begini tata caranya : Orang tua calon mempelai pria melalui jurubicara keluarga
mengatakan kepada orang tua calon mempelai wanita, bahwa calon mempelai pria tidak
diajak pulang dan menyerahkan tanggung jawab kepada orang tua calon mempelai putri.

Setelah keluarganya pulang, ditengah malam dia dipersilahkan masuk rumah untuk makan,
tidak boleh ketemu calon istrinya dan sesudah itu diantar kekamar tidur untuk beristirahat.

Nyantri dilaksanakan untuk segi praktisnya, mengingat besok pagi dia sudah harus didandani
untuk pelaksanaan ijab kabul/pernikahan. Juga untuk keamanan pernikahan, kedua calon
mempelai sudah berada disatu tempat

Pelaksanaan Ijab

Ijab adalah hal paling penting untuk melegalisir sebuah perkawinan. Ijab atau perkawinan
dilaksanakan sesuai dengan agama yang dianut kedua penganten, bisa Islam, Kristen, Katolik,
Hindu, Budha, Konghucu.

Kini, warga Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, perkawinannya juga
diakui sah oleh negara sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun
2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang
Administrasi Kependudukan.

Persiapan untuk pernikahan/ Ijab, harus benar-benar cermat, supaya lancar dan aman.

Sesudah Ijab selesai, artinya temanten sudah sah sebagai suami istri. Tentu hati rasanya
“plong”, orang tua dan keluarga kedua pihak juga lega.

Upacara Panggih atau Temu Penganten.

Secara tradisional Upacara Panggih atau Temu Penganten dilaksanakan dirumah orang tua
penganten putri.

Pada saat yang telah ditentukan, penganten pria diantar oleh saudara-saudaranya kecuali
kedua orang tuanya yang tidak boleh hadir dalam upacara ini, tiba didepan rumah pengantin
putri dan berhenti didepan pintu rumah. Sementara itu, pengantin wanita dengan dikawal
saudara-saudaranya dan diikuti kedua orang tuanya, menyongsong kedatangan rombongan
pengantin pria dan berhenti dipintu rumah depan
Didepan pengantin wanita, dua gadis kecil yang disebut patah membawa kipas. Dua anak
laki-laki muda atau dua orang ibu, masing-masing membawa sebuah rangkaian bunga khusus
yang namanya kembar [Link] ibu pengiring pengantin pria maju dan memberikan
Sanggan kepada ibu pengantin putri sebagai tanda penghormatan untuk penyelenggaraan
upacara perkawinan. Sanggan itu berupa buah pisang yang dibungkus rapi dengan daun
pisang dan ditaruh diatas nampan.

Pada waktu upacara panggih, kembar mayang dibawa keluar rumah dan dibuang
diperempatan jalan dekat rumah atau didekat berlangsungnya upacara perkawinan,
maksudnya supaya upacara berjalan selamat dan tidak ada gangguan apapun dan dari pihak
manapun.

Balangan suruh

Kedua penganten bertemu dan berhadapan langsung pada jarak sekitar dua atau tiga meter,
keduanya berhenti dan dengan sigap saling melempar ikatan daun sirih yang diisi dengan
kapur sirih dan diikat dengan benang. Ini yang disebut ritual balangan suruh.

Kedua penganten dengan sungguh-sungguh saling melempar sambil tersenyum, diiringi


kegembiraan semua pihak yang menyaksikan. Menurut kepercayaan kuno, daun sirih punya
daya untuk mengusir roh jahat. Sehingga dengan saling melempar daun sirih, kedua
pengantin adalah benar-benar pengantin sejati, bukan palsu.

Ritual Wiji Dadi

Penganten pria menginjak sebuah telur ayam kampung hingga pecah dengan telapak kaki
kanannya, kemudian kaki tersebut dibasuh oleh penganten putri dengan air kembang.

Pralambang nya : rumah tangga yang dipimpin seorang suami yang bertanggung jawab
dengan istri yang baik, tentu menghasilkan hal yang baik pula termasuk anak keturunan.

Ritual memecah telur ini ada versi lain dari Yogyakarta, pelaksanaannya sebagai berikut :

Pengantin pria dan wanita berdiri berhadapan tepat. Telapak kaki kanan mempelai pria
dibasuh dengan air kembang oleh mempelai putri dengan sikap jongkok. Perias temanten
sebagai pembimbing upacara, memegang telur ayam kampung itu ditangan [Link]
telur tersebut oleh perias ditempelkan pada dahi pengantin pria dan kemudian pada dahi
pengantin [Link] telur itu dipecah oleh perias diatas tumpukan bunga yang berada
diantara kedua pengantin Ini penggambaran kedua pengantin sudah mantap dalam satu
pikiran, sadar saling kasih membina rumah tangga yang bahagia sejahtera dan menghasilkan
anak keturunan yang baik-baik
Ritual Kacar Kucur atau Tampa Kaya.

Sepasang pengantin dengan bergandengan dengan jari kecilnya berjalan menuju depan
krobongan, tempat dimana upacara tampa kaya [Link] kacar kucur ini
menggambarkan : suami memberikan seluruh penghasilannya kepada istri. Dalam ritual ini
suami memberikan kepada istri : kacang, kedelai, beras, jagung, nasi kuning, dlingo bengle,
beberapa macam bunga dan uang logam dengan jumlah [Link] menerima dengan segenap
hati dengan selembar kain putih yang ditaruh diatas selembar tikar tua yang diletakkan diatas
pangkuannya. Artinya istri akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan berhati-hati

Catatan : Pada masa dulu, ritual tampa kaya , dhahar kembul dll, memang dilakukan didepan
krobongan yang ada disenthong tengah ( Ruang tengah rumah kuno yang biasa dipakai untuk
melakukan sesaji). Pada masa kini, ritual tersebut tetap diadakan meskipun upacara
perkawinan diadakan digedung pertemuan atau hotel. Dekorasi dibelakang kursi temanten
adalah ukiran kayu yang berbentuk krobongan. Ini untuk mengikuti perkembangan zaman dan
sekaligus tetap melestarikan tradisi.

Ritual Dhahar Klimah atau Dhahar Kembul

Dengan disaksikan orang tua pengantin putri dan kerabat dekat, sepasang pengantin makan
bersama, saling menyuapi. Mempelai pria membuat tiga kepal nasi kuning dengan lauknya
berupa telor goreng,tempe, kedelai, abon, ati ayam. Lalu ia menyuapkan kepada istrinya,
sesudah itu ganti sang istri menyuapi suaminya, diakhiri dengan minum teh manis bersama.
Ini melambangkan bahwa mulai saat ini keduanya akan mempergunakan dan menikmati
bersama apa yang mereka punyai.

Mertui atau Mapag Besan

Kedua orang tua pengantin putri menjemput kedua orang tua pengantin pria didepan rumah
( untuk perkawinan digedung menjemputnya didepan ruangan tempat berlangsungnya acara
ritual) dan mempersilahkan mereka masuk rumah/ ruangan tempat upacara, selanjutnya
mereka berjalan bersama menuju ketempat upacara. Ibu-ibu berjalan didepan, bapak-bapak
mengiringi dari belakang. Kedua orang tua pengantin pria didudukkan sebelah kiri pengantin,
orang tua pengantin putri duduk disebelah kanan penganten.

Upacara Sungkeman

Sepasang pengantin melakukan sungkem kepada kedua belah pihak orang tua. Mula-mula
kepada orang tua pengantin wanita kemudian kepada orang tua pengantin pria. Sungkem
adalah merupakan bentuk penghormatan tulus kepada orang tua dan pinisepuh.
Pada waktu sungkem ( menghormat dengan posisi jongkok , kedua telapak tangan
menyembah dan mencium lutut yang di-sungkemi), keris yang dipakai pengantin pria dilepas
dulu dan dipegangi oleh perias, sesudah selesai sungkem , keris dikenakan kembali.

Orang tua dengan haru menerima penghormatan berupa sungkem dari putra putrinya dan pada
waktu yang bersamaan juga memberikan restunya supaya keduanya menempuh hidup rukun,
sejahtera. Tanpa mengucapkan kata-kata itu, sebenarnya para orang tua pengantin sudah
memberikan restu yang dilambangkan dari kain batik yang dikenakan yang polanya truntum ,
artinya punyailah rejeki yang cukup selama hidup. Kedua orang tua juga menggunakan ikat
pinggang besar yang namanya sindhur dengan pola gambar dengan garis yang melekuk-
lekuk, artinya orang tua mewanti-wanti kedua anaknya supaya selalu bertindak hati-hati, bijak
dalam menjalani kehidupan nyata didunia ini.

Ritual lain

Upacara-upacara diatas adalah tradisi yang berlaku di Yogyakarta, didaerah Surakarta dan
lainnya masih ada tambahan ritual yang lain.

Sindhur Binayang
Sesudah ritual Wiji Dadi, ayah pengantin putri berjalan didepan kedua temanten menuju ke
kursi pengantin didepan krobongan, sedangkan ibu pengantin putri berjalan dibelakang kedua
temanten, sambil menutupi pundak kedua pengantin dengan kain sindhur. Ini melambangkan ,
sang ayah menunjukkan jalan menuju ke kebahagiaan, sang ibu mendukung.

Timbang
Kedua penganten bersama-sama duduk dipangkuan ayahanda pengantin putri. Sesudah
menimbang-nimbang sejenak, ayahanda berkata : Sama beratnya, artinya ayah mencintai
keduanya , sama , tidak dibedakan.

Tanem
Selanjutnya, ayah mendudukkan sepasang pengantin dikursi mahligai perkawinan. Itu untuk
memperkuat persetujuannya terhadap perkawinan itu dan memberikan restunya.

Bubak Kawah
Ayah pengantin putri, sesudah upacara Panggih, minum rujak degan/ kelapa muda didepan
krobongan. Istrinya bertanya : Bagaimana Pak rasanya? Dijawab : Wah segar sekali, semoga
orang serumah juga segar. Lalu istrinya ikut mencicipi minuman tersebut sedikit dari gelas
yang sama, diikuti anak menantu dan terakhir pengantin wanita. Ini merupakan perlambang
permohonan supaya pengantin segera dikaruniai keturunan.

Tumplak Punjen
Ritual ini dilakukan oleh orang tua yang mengawinkan putrinya untuk terakhir kali. Tumplak
artinya menuang atau memberikan semua, punjen adalah harta orang tua yang telah
dikumpulkan sejak mereka berumah tangga.

Dalam ritual ini, orang tua yang berbahagia, didepan krobongan, memberikan miliknya(
punjen) kepada semua anak-anak dan keturunannya. Secara simbolis kepada masing-masing
diberikan sebuah bungkusan kecil yang berisi bumbu-bumbu,nasi kuning,uang logam dari
emas, perunggu dan tembaga dll.

Dengan mengadakan tumplak punjen, orang tua ingin memberi teladan kepada anak
keturunannya,bahwa mereka sudah purna tugas dan supaya generasi penerus selalu
menyukuri karunia Tuhan dan mampu melaksanakan tugas hidupnya dengan baik dan benar.

Tukar Kalpika
Pengantin melakukan tukar cincin sebagai tanda kasih dan keterikatan suami istri yang sah.

Resepsi Perkawinan

Sesudah seluruh rangkaian upacara perkawinan selesai, dilakukan resepsi, dimana kedua
temanten baru, dengan diapit kedua belah pihak orang tua, menerima ucapan selamat dari para
tamu.

Dalam acara resepsi, hadirin dipersilahkan menyantap hidangan yang sudah disediakan,
sambil beramah tamah dengan kerabat dan kenalan. Ada kalanya, sebelum resepsi dimulai,
diadakan pementasan fragmen tari Jawa klasik yang sesuai untuk perkawinan seperti fragmen
Pergiwo Gatotkaca atau tari Karonsih, yang melukiskan hubungan cinta kasih wanita dan
pria.

Upacara Perkawinan di Karaton


Tidak bisa dipungkiri bahwa karaton-karaton di Jawa, terutama Yogyakarta dan Surakarta
merupakan sumber dan benteng budaya Jawa yang masih eksis dan tetap aktif melestarikan
warisan budaya leluhur.

Pada masa kini, upacara perkawinan adat di karaton dan luar karaton, pada intinya sama.
Hanya saja di Karaton masih ada lagi ritual yang biasanya tidak dilakukan diluar , antara lain:
Ngapeman

Dikaraton Ngayogyakarta, sebelum malam midodareni, Sri Sultan Hamangubuwono X dan


permaisuri dibantu oleh beberapa putri karaton dan wanita abdi dalem, membuat kue apem di
Bangsal Keputren.

Tantingan

Sri Sultan Hamangkubuwono X didampingi permaisuri, sebelum pelaksanaan Ijab,


menanyakan kepada putrinya yang akan menikah, apakah benar-benar menghendaki untuk
dinikahkan dengan calon mempelai pria.

Kelompok “edan-edanan”

Sewaktu prosesi perkawinan di Karaton Surakarta dan Yogyakarta, yaitu ketika pengantin dan
rombongan pengiring berjalan menuju kekursi tempat resepsi perkawinan, barisan iring-
iringan dipimpin oleh seorang Suba Manggala sebagai cucuk lampah, pembuka jalan terdepan
yang melangkahkan kaki dengan gerak tari mengikuti iringan gamelan. Dibelakang
pengantin yang bergandengan tangan dan berjalan anggun, berjalan dua gadis kecil yang
disebut patah dengan dandanan cantik. Diikuti beberapa penari berpakaian bagus-bagus
sambil menari menghibur [Link] adalah bapak ibu kedua mempelai dan para
saudara mempelai. Pada prosesi pengantin di karaton Jogja dan Solo, masih ada rombongan
tambahan, yaitu kelompok “edan-edanan” ( edan artinya gila), yang terdiri dari beberapa
orang cebol, berbadan tidak normal dengan riasan aneh-aneh dan mencolok dan menari
dengan gerakan lucu.

Kelompok edan-edanan ini untuk tolak bala, mengusir semua gangguan berujud apapun
termasuk roh jahat

Disengker.
Calon mempelai di karaton, beberapa hari sebelumnya diharuskan sudah berada dilingkungan
karaton dan tidak boleh keluar,istilahnya disengker.

JagadKejawen,
Suryo S. Negoro

Upacara selamatan/syukuran untuk diri pribadi


Seseorang yang merasa mendapatkan anugerah atau karunia dari Tuhan, tentu akan bersyukur.

Misalnya : mendapatkan kenaikan pangkat, mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, seperti
diangkat menjadi direktur, kepala kantor, lurah, bupati, gubernur,
Secara tradisi, ungkapan rasa syukur dilakukan dengan mengadakan upacara kecil berupa
syukuran atau slametan.

Upacara syukuran dilakukan bersama dengan keluarga , teman-teman dekat, teman-teman


sejawat, tetangga dll.
Secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, dengan duduk bersila diatas
tikar, melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauk dan sesaji.

Yang terpenting adalah doa, ucapan syukur yang ditujukan kepada Gusti, Tuhan Yang Maha
Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan anugerah kepada seorang titahnya. Pada
umumnya inti doa adalah sebagai berikut : Setelah mengucap syukur atas anugerah yang
dilimpahkan Tuhan, semoga titah yang mendapatkan karunia dan kepercayaan dari Tuhan
berupa kedudukan yang lebih tinggi, yang telah menaikkan derajatnya dan sekaligus
tanggungjawabnya, selalu mendapatkan bimbingan Nya, untuk selalu mampu melaksanakan
tugasnya dengan selamat, baik dan benar. Semoga dijauhkan dari segala goda dan halangan
yang bisa menjadikan petaka bagi diri, keluarga, maupun instansinya.

Dengan selalu memohon berkah Tuhan dengan penuh kesadaran untuk mengaplikasikan
segenap pengetahuan dan kemampuannya secara maksimal, bekerjasama dengan kolega-
koleganya dengan sinergis, maka segala usaha dan upayanya akan membawa berkah
kebaikan, kesejahteraan dan kemajuan bagi instansi, jawatan atau daerah yang dipimpinnya.

Setelah doa, dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng, santap bersama dan ramah
tamah.

Pada saat ini, untuk praktisnya, nasi tumpeng, lauk pauk dan sesaji ( kalau ada) ditaruh diatas
sebuah meja. Seluruh hadirin melakukan doa bersama dengan berdiri mengelilingi meja.
Kalau mejanya kecil, sesaji( kalau ada) ditempatkan dimeja lain.

Catatan mengenai sesaji :


Sesaji yang diadakan untuk mengiringi upacara syukuran, maksud tujuannya seperti doa.
Intinya adalah bersyukur kepada Gusti, Tuhan dan semoga dengan berkah Nya, segala tugas
akan dilaksanakan dengan selamat, baik,benar dan membawa kesejahteraan dan kemajuan
yang lebih baik. Nasi tumpeng komplit sebenarnya mempunyai makna sebagai doa dan sesaji.
Syukuran karena terbebas dari halangan

Selain adanya syukuran yang dikarenakan dapat promosi jabatan atau dapat rejeki, orang juga
melakukan syukuran setelah terbebas dari halangan berat. Misalnya setelah sembuh dari sakit
yang gawat atau terbebas dari penderitaan yang amat berat. Semoga selanjutnya, selalu
mendapat perlindungan dan berkah dari Gusti, Tuhan, supaya jalan kehidupannya selalu
selamat, sehat dan sejahtera, bahagia lahir batin.

Bersyukur kepada Gusti, selalu ingat kepada asal muasal

Sudah seharusnya ,setiap manusia menyukuri keberadaannya untuk hidup didunia [Link]
izin Gusti, melalui karsa dan jalinan kasih Ibu dan Bapak, suksma yang berasal dari mula-
mula, melangkah turun untuk hidup dibumi.

Setelah melalui proses 9/ sembilan bulan dalam kandungan, suksma yang sudah berpakaian
badan komplit kasar dan halus, terlahir sebagai bayi, manusia baru yang akan menjalani hidup
sementara didunia ini.

Saudara-saudara halus

Orang Jawa tradisional percaya bahwa setiap orang mempunyai beberapa saudara halus –
sedulur alus, yang selalu menyertainyanya dimanapun si manusia berada.

Para saudara halus yang tidak berbadan fisik ini ,mengawal si manusia yang ber-raga fisik.
Mereka selalu menyertai, melindungi, membantu, supaya si manusia menjalani kehidupannya
dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup dibumi ini. Tugas tersebut adalah sesuai
ketentuan dari Gusti. Orang Jawa menyebut mereka : Sedulur papat kalima pancer – Saudara
empat ,yang kelima pancer , yang terdiri dari :

 Kakang Kawah
Kakak kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum si bayi. Tempatnya di Timur,
warnanya putih.
 Adi Ari-ari
Adik ari-ari, yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Tempatnya di Barat,
warnanya kuning.
 Getih
Darah, yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Tempatnya di Selatan,
warnanya merah.
 Puser
Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Tempatnya di Utara, warnanya hitam.
 Pancer
Keempat saudara diatas tidak punya raga fisik, sedangkan pancer adalah badan
jasmani, yang berada ditengah. Oleh karena itu selain disebut Sedulur papat kalimo
pancer, juga dipanggil Keblat papat, kalimo tengah

Selain Sedulur papat kalimo pancer, masih ada lagi ,yaitu :


Mar Marti.
Mereka adalah saudara-saudara manusia yang lebih tua. Mereka itu tidak ikut dilahirkan
melalui rahim ibu.

Mar, merefleksikan perjuangan ibu saat melahirkan si bayi. Keluar daya, hawa, kekuatan yang
hebat untuk hidup dan menghidupi.

Marti, merefleksikan keberhasilan ibu sesudah melalui perjuangan. Perjuangan berhasil,


rasanya lega.

Oleh karena itu, Mar dan Marti, itu dinilai tinggi derajatnya, bagaikan raja dan ratu. Secara
mistis warna cahayanya putih dan kuning muda jernih

Mar Marti akan membantu manusia yang dikawalnya, hanya dalam hal yang penting, dalam
keadaan yang benar-benar diperlukan. Manusia bisa meminta bantuan Mar Marti, sesudah dia
punya pikiran dan rasa yang jernih, sesudah melalui tapa brata ( laku spiritual yang sungguh-
sungguh).

Saudara-saudara halus yang lain, bisa dimintai bantuan setiap saat, untuk keperluan kehidupan
sehari-hari.

Lebih lanjut ada saudara-saudara halus yang dipanggil :


Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang metu ora saka margo ino.
Semua saudaraku yang ada, dengan melalui rahim ibu dan yang ada tanpa melalui rahim ibu.

Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan.
Semua saudaraku yang tidak kelihatan dan tidak terawat.

Jadi, saudara halus setiap manusia itu banyak sekali, ini yang suka disebut sedulur
sinarawedi.

Semua saudara halus itu dengan setia melakukan tugas yang telah digariskan Gusti, untuk
melindungi dan membantu satu-satunya saudara yang berujud/ bleger-bahasa Jawa/ sebagai
sosok manusia, yaitu suksma yang memakai raga kasar/fisik dan raga halus/eterik.

Secara umum, selama raga dan seluruh komponen si manusia, masih baik, maka “
kesementaraan” keberadaan manusia didunia ini masih berlanjut.
Kalau raganya, komponennya tidak berfungsi, karena rusak/penyakit atau sudah aus/tua dan
tidak bisa diperbaiki lagi/ disehatkan lagi, maka suksma akan kembali keasal muasal, ke
mula-mula hidup, kepada haribaan Gusti, Tuhan.

Tugas-tugas saudara-saudara halus

Mar Marti : Membantu untuk hal-hal yang sangat penting.

Sedulur papat kalimo pancer dan yang lain-lain : Melindungi dan membantu untuk kelancaran
hidup sehari-hari.

Tentu bantuan yang diberikan ,pada dasarnya adalah untuk hal-hal yang baik-baik.

Perlu diketahui bahwa semua saudara halus selalu bersama dengan figur manusia yang
dikawalnya, artinya selalu bersama dengan masing-masing kita, kita sadari atau [Link]
selalu melindungi dan membantu.

Banyak yang tidak mengerti bahwa para pengawal yang berupa saudara halus tersebut, juga
merasa senang kalau kita menyadari kehadiran mereka, terlebih kalau kita juga
memperhatikan mereka. Kalau mereka dianggap dan diperhatikan, mereka akan membantu
lebih baik lagi. Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap kegiatan kita,
seperti : minum, makan, belajar, bekerja, menyopir, mandi dlsb.

Contoh mengajak saudara-saudara halus, katakan dalam batin :

 Semua saudara halusku ( secara lengkap adalah : Kakang kawah, adi ari-ari, getih,
puser, kadang ingsun papat kalimo pancer. Kabeh kadang ingsun kang metu saka
margo ino lan kang metu ora saka margo ino,Kabeh kadang ingsun kang ora katon
lan ora karawatan), saya mau makan, bantulah saya-Aku arep mangan, ewang-
ewangana. Artinya kita dibantu bisa makan dengan selamat dan makanan itu juga baik
untuk kita.
 Semua saudara halusku, bantulah saya untuk menyopir mobil ini dengan selamat
sampai kekantor. Artinya selama menyopir selamat dan sampai ke kantor lancar, tidak
ada halangan ataupun kecelakaan.
 Semua saudara halusku bantulah saya dalam bekerja, sehingga pekerjaan saya lancar
dan benar.

Perlindungan waktu tidur

Pada waktu mau tidur,kita tidak minta dibantu oleh saudara-saudara halus, nanti mereka ikut
tidur, sesuatu yang mereka tidak perlukan, karena tidur bukan alam mereka.

Pada waktu mau tidur katakan dalam batin :Semua saudara halusku,saya mau tidur,
lindungilah saya. Kalau ada yang mengganggu atau membahayakan, kamu tanggulangi atau
bangunkan saya.

-Kabeh sedulur alusku, aku arep turu, reksanen aku sajerone turu, yen ana kang ngganggu
utawa mbebayani, tandangana utawa gugahen aku.
Sambil merebahkan badan ditempat tidur, sebelum menutup mata, letakkan tangan kanan
didada menyentuh jantung, katakan dalam batin : Aku iyo urip – Saya juga hidup.

Ini nasihat dan berdasarkan pengalaman para pinisepuh. Biasanya tidur jadi enak, selamat,
bangun tidur segar cerah.

Weton

Weton atau wetonan adalah peringatan hari lahir setiap 35-tiga puluh lima hari sekali. Untuk
orang Jawa tradisonal sangat penting untuk mengetahui wetonnya, sesuai dengan kalender
Jawa.

Dengan mengetahui tanggal, bulan dan tahun kelahiran menurut kalender Masehi, bisa
diketahui weton seseorang.
Hari kelahiran menurut kalender Jawa atau weton terjadi setiap selapan hari artinya setiap 35-
tiga puluh lima hari. Ini merupakan gabungan antara Hari Tujuh, Senin sampai dengan Sabtu
dan Hari Lima Jawa: Legi , Paing, Pon, Wage, Kliwon.

Jadi yang lahir hari Senin, bisa Senin Legi, Senin Paing, Senin Pon, Senin Wage, Senin
Kliwon .

Demikian pula yang lahir dihari-hari lain Selasa dan seterusnya.

Pada setiap saat weton dari seseorang, misalnya Jum’at Kliwon atau Sabtu Legi. Ini adalah
saat yang tepat untuk mengingat kepada saudara-saudara halus kita [Link] saat
wetonnya, sesudah jam enam sore, karena hari Jawa mengikuti kalender sistim rembulan, jadi
mulainya sore hari, orang yang punya weton malam itu akan mengingat saudara-saudara
[Link] orang membuat bancakan – sesaji kecil. Ada yang membuat sego
gudangan,nasi dengan lauk sayur atau bubur merah putih dan segelas air putih matang.

Secawan bubur merah putih dan segelas air putih itu diujubke/ diberikan kepada semua
saudara halus, dengan diletakkan diatas meja dan berkata dalam batin : Ini untuk semua
saudara halusku, aku selalu ingat kalian, maka itu jagalah dan bantulah aku.

Pemberian bubur merah putih dan air putih dan ucapan tersebut, itu merupakan sesaji yang
paling sederhana , tetapi mendasar. Karena inti sarinya mengenali dan menghargai semua
saudara halus dan ingat kepada ibu dan bapak, kedua orang tua kita, menghormati kakek
nenek yang telah menurunkan kita dan yang paling penting untuk memuja dan berterima kasih
kepada Sang Pencipta Hidup, Gusti, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pada waktu-waktu tertentu, orang melakukan peringatan weton dengan cara mengundang
beberapa kerabat atau kenalan baiknya. Pada saat seperti itu, biasanya sesaji lebih komplit,
termasuk nasi tumpeng dan lauk pauknya dsb. Sesudah diadakan doa bersama, dilanjutkan
dengan menyantap hidangan.

Hubungan serasi

Bagi orang Jawa tradisional, sangat penting untuk mempunyai hubungan yang serasi (
jumbuh) dengan saudara-saudara halus. Caranya, setiap bertindak ajaklah mereka, untuk
minta dibantu atau [Link] hubungannya terasa serasi, akrab dengan mereka, setiap
saat selalu panggilah mereka lengkap, satu per satu. Kalau sudah akrab, bisa dipanggil dengan
: Semua saudara halusku, bantulah aku untuk ...., jagalah aku selama ......dan sebagainya
menurut kebutuhan.

Namun, pada saat yang penting atau untuk urusan penting , umpamanya untuk menemani
sewaktu berdoa, meditasi atau semadi, adalah bijak untuk memanggil nama mereka secara
lengkap, satu per satu.

Menurut pengalaman para pinisepuh, peranan Kakang Kawah dan Adi Ari-ari dalam
membantu sangatlah penting. Sesuai dengan sifat alamnya, Kakang Kawah selalu berusaha
dengan sebaik-baiknya membantu terjadinya semua keinginan dan usaha, sedangkan Adi Ari-
ari selalu mendukung dan menyenangkan.

Ada kalanya atau ada orang yang setiap wetonnya, selama 24 Jam, sehari semalam melakukan
laku prihatin, seperti berpuasa sehari semalam, tidak tidur sama sekali selama 24 jam atau
tidur hanya sedikit sesudah tengah malam, berpasrah diri kepada Gusti.

Ini untuk mengingatkan akan posisi dan tugas seorang titah. Bahwa hidup ini tidak untuk
hanya makan sepuasnya dan mengutamakan tidur yang lama dan memenuhi kehendak
keduniawiannya yang mengabdi kepada materi dan egonya Tetapi manusia supaya ingat, akan
posisinya dan tugasnya yang mulia untuk memayu hayuning sesama lan buwana-untuk
membangun kehidupan antar sesama yang baik dan melestarikan buana, supaya mampu
melaksanakan kehidupan didunia ini dengan baik, benar, sejahtera, bahagia lahir batin.

JagadKejawen,
Suryo S. Negoro

Pemimpin yang Mrantasi gawe

Dalam keadaan negara yang amburadul, carut marut, tentu akan muncul pemimpin yang akan
memperbaiki keadaan, pada waktunya yang tepat.

Pemimpin itu pasti orang yang berbudi luhur, jujur, pandai dan berwawasan luas, tidak punya
pamrih hanya untuk kepentingannya sendiri, berani hidup sederhana, berani menegakkan
kebenaran, bijak dan mrantasi gawe – mampu menuntaskan semua masalah. Karena
kebijakan dan tindakannya adalah dijalan Ilahi dan diatas segalanya, pemimpin itu telah
tercerahkan jiwanya.

Berani hidup sederhana

Para pinisepuh selalu menekankan bahwa seorang pemimpin itu harus berani hidup sederhana,
tidak bergelimang kemewahan. Hal ini dipersyaratkan mutlak supaya pemimpin tidak
menyakiti perasaan rakyatnya, karena kebanyakan kawula kehidupannya masih belum
sejahtera.

Pemimpin yang hidup enak-enak, mewah, serba berlebih, sementara rakyatnya banyak yang
melarat, itu bukanlah manusia terpuji. Dia tidak punya rasa solidaritas sama sekali dan tidak
mengerti perasaan kawula alit.

Yang amat diharapkan oleh rakyat dan negara adalah pemimpin yang berkwalitas, yang bisa
mrantasi gawe .Bukan pemimpin yang hanya bisa ngomong manis dan mengobral janji,
bergaya sopan seperti a gentleman atau a gentle lady.

Yang penting adalah bukti nyata, dia telah mrantasi gawe, bekerja dengan berhasil,
membangun kehidupan yang tertata rapi, aman, adil, sehingga rakyat menikmati kehidupan
yang sejahtera, tersedia dan terjangkau sandang, pangan, papan, lapangan kerja, pendidikan,
masa depan bangsa dan negara [Link] Jawa dulu punya istilah : Wong cilik iso gumuyu-
Orang kecil bisa ketawa.

Itu pertanda kehidupan nyaman dan sejahtera.

Berwatak satria

Dinegeri ini sudah terbiasa kita mendengar ungkapan : supaya kita bersikap satria dalam
menjalankan sesuatu dan hidup ini.
Seorang satria artinya orang yang terhormat karena perilaku dan tindakannya yang baik dan
benar – Berbudi bawa laksana.

Satria itu orang yang bertanggung jawab. Ini merupakan sikap yang penting untuk saat ini,
dimana orang yang berani bertanggung jawab semakin langka. Kebanyakan orang maunya
sibuk cari fasilitas, dapat duit banyak dengan cara mudah dan tanpa tanggung jawab.

Seperti dalam cerita wayang dan babad, seorang satria baik wanita maupun pria,digambarkan
berwajah rupawan dan baik hatinya –Ayu rupane, Ayu atine. Dalam pepatah Jawa adalah :

Galuga sinalusur sari.


Para satria itu bersikap:
Jembar pandelenge - Luas wawasannya.
Jembar jagade - Luas pergaulannya.
Jembar segarane - Luas hatinya, artinya pemaaf.

Mereka itu dicintai banyak orang – Katon cempaka sawakul.

Dalam bidang pekerjaan, seorang satria bisa dihandalkan, karena seorang satria adalah
pemimpin yang berkwalitas. Argumentasi dan kerjanya bagus. Oleh karena itu, dia dengan
mudah mampu membangkitkan semangat kerja dan juang teman-temannya dan orang lain,
istilah Jawa nya: Sabda Merta.

Pemimpin Negarawan

Para satria sebenarnya punya kemampuan untuk berbakti ditingkat negarawan – statemanship.

Mereka punya modal kuat untuk menjadi negarawan.

Bila negara membutuhkannya, pada saat yang tepat, seorang satria anak bangsa akan muncul,
dia punya kemampuan luar biasa untuk ngontragake gunung,mampu bahkan menggoncang
gunung dan mengalahkan semua musuh bangsa dan negara.

Musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang menggerogoti dari dalam dengan cara
menghancurkan etika moral, budi pekerti anak bangsa, terutama yang punya jabatan penting
dan posisi yang strategis, sehingga dimana-mana timbul manipulasi, korupsi dan penyalah
gunaan wewenang yang ujung-ujungnya cari duit tidak halal.

Sang Pemimpin Sejati akan menjadi inspirator dan penggerak, karena segala ucapan dan
seruannya mampu menggetarkan hati pendengarnya – Prawata Bramantara.

Dia dikenal sebagai orang yang suci hatinya, jujur dan harum namanya – Pandhita amreksa
candhana.

Oleh karenanya, dia mendapat berkah Tuhan, segala tindakan dan kebijakannya berjalan
dengan baik dan berhasil. – Istilahnya : Ora kena disuwawa

Pada zaman dulupun ada garis kebijakan bahwa seorang pemimpin atau pejabat
menduduki jabatannya tidak pandang asal usul keluarga, apakah dia anak petani atau
anak priyayi atau anak orang biasa, faktor penentunya adalah kebaikan dan
kemampuannya – Kudhi pacul singa landhepa.

Semua orang diberi pengertian dan keyakinan bahwa negeri yang mempunyai
pemimpin yang berkwalitas seperti tersebut diatas, kehidupan rakyatnya tentulah:

Mubra mubru blabur madu, artinya tentulah serba kecukupan, makmur, selamat dan
bahagia.
Perayaan Garebeg di Jogjakarta dan Surakarta

Garebeg merupakan perayaan ritual yang sangat popular dan disenangi masyarakat. Karaton
Jogjakarta dan Surakarta menyelenggarakan prosesi Garebeg, tiga kali dalam setahun, yaitu :

Untuk sekedar informasi Tahun 2011 ini sama dengan Tahun BE Jawa 1944

Garebeg Mulud yang diadakan pada tanggal 12 Mulud, pada hari kelahiran Nabi
Muhammad SAW
Garebeg Sawal yang diadakan pada tanggal 1 Sawal, setelah bulan puasa.
Garebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 Besar, pada hari raya Idul Adha

Pada penyelenggaraan Garebeg, Sultan Jogja dan Sunan Solo memerintahkan aparat karaton
masing-masing untuk melakukan upacara tradisional berupa sesaji dalam bentuk gunungan.
Sesaji ini merupakan rasa syukur dan permohonan kepada Gusti Allah, Tuhan untuk
keselamatan dan kemakmuran negeri, kerajaan dan rakyatnya.

Prosesi Garebeg

Pagi hari dihari Garebeg, ribuan orang telah berada didepan Pagelaran di Alun-alun Utara.
Banyak orang telah berderet di Alun-Alun Utara dan Mesjid Ageng, disepanjang 500 meter
rute yang akan dilewati arak-arakan- prosesi gunungan.
Dari dalam Pagelaran terdengar alunan musik gamelan, trompet, tambor, lalu muncul barisan
prajurit karaton dengan berbagai uniform warna-warni dengan menyandang berbagai senjata
tradisional dan bedil-bedil kuno.

Prajurit karaton dari berbagai kesatuan dengan seragamnya yang khas dan indah dan masing-
masing kesatuan menyandang bangga lambang dan petakanya masing-masing, berbaris
mantap didepan sederet gunungan sesaji yang dikirabkan dari Karaton menunuju ke Masjid
Ageng di Kauman.

Di halaman masjid, sesudah upacara doa selesai, gunungan yang berupa sesaji nasi tumpeng,
sayur-mayur, buah-buahan, kue-kue dan lain-lain makanan akan dibagikan kepada warga
masyarakat yang menghadiri upacara ini. Mereka percaya bahwa sedikit makanan, pemberian
ratu memberi berkah keberuntungan dan ketentraman hidup. Oleh karena itu ,untuk
mendapatkan sedikit makanan, orang harus mau berebutan. “ Orang yang beruntung” dengan
senang hati membawa makanan itu kerumah untuk disantap bersama keluarganya.

Tujuan Upacara Garebeg

Seperti telah dipaparkan sebelumnya, upacara ritual Garebeg adalah upacara karaton dimana
Ratu memberikan sesaji gunungan dengan memohon berkah Gusti Allah untuk keselamatan
dan kemakmuran negeri, kerajaan/karaton dan seluruh rakyatnya.

Kata”garebeg” itu sendiri berarti mengawal ratu atau pejabat tinggi karaton untuk menerima
pisowanan/audiensi dari keluarga maupun pegawainya selama Upacara Garebeg. Upacara
Garebeg yang terbesar adalah Garebeg Mulud pada tahun Jawa Dal. Seperti diketahui
Kalender Jawa mengenal adanya 8/delapan tahun yang berputar ,yaitu : Tahun Alip, Ehe,
Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir.

Untuk sekedar informasi : Tahun 2011 ini sama dengan Tahun BE Jawa 1944.

Perayaan Garebeg tahun 2011 ini diselenggarakan pada :

Garebeg Mulud telah diadakan 15 Februari 2011.

Garebeg Sawal akan diadakan 31 Agustus 2011.

Garebeg Besar akan diadakan 6 Nopember 2011.

( Sebaiknya anda tanyakan kepada Biro Perjalanan atau Kantor Pariwisata atau Informasi dari
Karaton untuk mengecek tanggal yang tepat).

Perayaan Garebeg adalah satu upacara ritual kerajaan yang telah ada sejak masa kuno yaitu
dimasa Jawa Timur/Majapahit diabad ke 12. Sesudah kejatuhan Kerajaan Majapahit diabad ke
15, muncul Kerajaan Demak di Jawa Tengah.

Pada masa awal Demak, Perayaan Garebeg tidak diselenggarakan. Hal ini membuat orang-
orang yang sudah terbiasa dengan tradisi tersebut, tidak senang perasaannya. Sunan Kalijaga
yang bijak dan peka, menasihati Raja supaya Perayaan Garebeg dihidupkan lagi. Sejak saat
itu, Garebeg juga dipakai untuk penyebaran agama Islam. Gamelan ditabuh didekat masjid
dan hal tersebut menarik banyak orang.
Sunan Kalijaga adalah seorang Wali yang bijak, tutur katanya sopan dan lembut, beliau
mengajak orang untuk masuk Islam tanpa menjelekkan agama dan kepercayaan lain.

Penabuhan gamelan selama perayaan Garebeg disebut ‘Sekaten”. Dari zaman kuno sampai
kini, Sekaten tetap menarik banyak orang.

Gunungan

Yang menjadi perhatian dalam Upacara Ritual Garebeg adalah sesaji yang berupa gunungan.
Ada 6/enam macam gunungan, yaitu :

Gunungan Lanang

Gunungan Pria yang tingginya 1.5 meter ini diletakkan diatas nampan kayu berukuran 2x 1.5
meter.

Mustoko yaitu bagian atas gunungan dihias dengan Baderan, kue-kue kecil terbuat dari beras
dan berbentuk ikan. 5/lima buah rangkaian bunga dari melati dan kanthil digantungkan pada
Baderan.

Bendhul yaitu kue-kue dari beras berbentuk bola-bola kecil dan telur-telur asin juga
menghiasi bagian atas gunungan. Seluruh badan gunungan ditutupi dengan kacang panjang
hijau dan Lombok merah.

Ujung dari setiap deretan kacang panjang hijau dihias dengan kucu, kue kecil dari beras ketan
dalam bentuk cincin dan upil-upil yang berbentuk segitiga.

Diatas nampan kayu digelar kain dengan motif Bangun Tulak untuk mengusir gangguan
mahluk halus jahat dan gangguan –gangguan lain. Diatas nampan itu diletakkan : 12 buah
nasi tumpeng; 4 buah wadah dari daun pisang yang diisi bermacam laik pauk; sepasang daun
pisang muda. Disetiap sudut nampan, digantungi dengan rangkaian bunga melati.

Gunungan Wadon

Bagian atas dari Gunungan Wadon atau Gunungan Putri ini berbentuk seperti payung yang
terbuka yang dihiasi dengan sebuah kue besar yang rata, dikelilingi oleh rengginan ,kue-kue
kecil berbentuk daun dan kuncup bunga. Badan gunungan dihiasi dengan kue-kue dari beras
ketan berbentuk bintang, cincin dan segitiga. Dihiasi pula dengan kue-kue lain seperti eblek
yang bentuknya persegi; betetan yang seperti paruh burung betet; wajik, kue manis warna
cokelat dan berbagai macam buah.

Seperti gunungan yang lain,nampan kayunya juga digelar kain bermotif Bangun Tulak untuk
tolak bala. Gunungan Wadon bentuknya mirip sebuah bunga besar.

Gunungan Gepak

Gunungan yang puncaknya rata ini juga diletakkan diatas nampan kayu ukuran 2x 1.5 meter,
nampannya juga ditutup dengan kain Bangun Tulak dengan maksud yang sama.

Di atas nampan diletakkan sesaji yang berupa : 40 buah keranjang yang berisi kue-kue dengan
lima macam warna ,yaitu : merah, biru, kuning, hijau dan hitam dan berbagai macam buah-
buahan.

Gunungan Pawuhan

Gunungan Pawuhan mirip dengan Gunungan Wadon. Dipuncaknya beberapa bendera putih
ditancapkan. Badan gunungan dihias dengan bendera-bendera bulat warna hitam.

Gunungan Darat

Puncak gunungan ini juga rata. Beberapa kue warna hitam ditaruh disitu, dikelilingi oleh kue-
kue kecil dari beras ketan berbentuk seperti bibir manusia.

Gunungan Kutug/Bromo

Kutug dalam bahasa Jawa artinya membakar kemenyan. Banyak orang yang percaya bahwa
kutug/ membakar kemenyan adalah untuk memudahkan komunikasi dengan alam halus.

Gunungan Kutug bentuknya mirip Gunungan Putri, tetapi hiasannya berupa kue-kue dan
buah-buahan seperti Gunungan Lanang. Seperti gunungan yang lain ditempatkan diatas
nampan kayu yang ditutup dengan kain Bangun Tulak.

Di puncak gunungan ini ada sebuah lobang untuk menempatkan sebuah anglo/tungku untuk
membakar kemenyan. Selama parade gunungan, asap kemenyan terus menerus keluar dari
gunungan ini.
Gunungan Kutug atau Bromo hanya keluar pada saat Garebeg Mulud ditahun Dal, artinya
sekali setiap delapan tahun. Sesaji gunungan Kutug diperebutkan oleh para putri Karaton.

Setiap gunungan yang dikirab diusung oleh 16/enambelas abdidalem/pegawai raja dari
Karaton sampai Masjid Ageng. Untuk Gunungan Lanang ditambah dengan 2/dua orang yang
mendukung gunungan itu dengan dua buah galah supaya gunungan tetap tegak.

Lalu berapa buah gunungan yang dibuat untuk Perayaan Garebeg?

Pada zaman kuno untuk Garebeg Mulud ditahun Dal dibuat 31/ tiga puluh satu buah
gunungan, terdiri dari :

 10 Gunungan Lanang
 4 Gunungan Wadon
 4 Gunungan Pawuhan
 4 Gunungan Darat
 8 Gunungan Gepak
 1 Gunungan Kutug/Bromo

Untuk Garebeg Sawal disiapkan 12 gunungan.

Garebeg Besar disiapkan 30/ tigapuluh buah gunungan (seperti Garebeg Mulud Tahun Dal,
hanya tanpa Gunungan Bromo).

Pada saat ini jumlah gunungan yang dikirab lebih sedikit. Karaton Jogjakarta biasanya
membuat 6/enam buah gunungan, yaitu : 2 Gunungan Lanang; 1 Gunungan Wadon; 1
Gunungan Gepak; 1 Gunungan Pawuhan; 1 Gunungan Darat.

Puro Pakualaman menerima 1 Gunungan Lanang dari Karaton Jogjakarta.

Karaton Surakarta biasanya mengkirab 4 buah gunungan.

Persiapan Upacara Ritual Garebeg

Upacara Numplak Wajik


Upacara Numplak Wajik menandakan dimulainya perayaan Garebeg. Upacara ini dilakukan
di Kemagangan Kidul dikompleks Karaton, disaksikan oleh keluarga raja dan seorang pejabat
tinggi Karaton.

Disore hari, beberapa hari sebelum Garebeg, beberapa pegawai karaton memainkan music
tradisional yang disebut “Gejogan”, yaitu memukuli lesung kayu dengan alu, mereka
menendangkan Tembang Tundhung Setan, sebuah tembang kuno untuk mengusir mahluk
halus jahat.

Pembuatan Gunungan

Pembuatan gunungan dilakukan oleh para seniman karaton yang ahli dalam bidang ini. Untuk
menghormati tradisi yang sudah berlaku sejak dulu, yang dibuat terlebih dahulu adalah
Gunungan Putri, ini untuk menghormati tugas mulia wanita dalam proses kehidupan.
Berbagai macam benda disajikan untuk pembuatan gunungan ini ,yaitu ; kosmetik, sebuah
sisir, sirih ayu, kain bangun tulak, sehelai kain mori warna putih, sumekan- pakaian penutup
dada wanita.

Baru kemudian dibuat jenis gunungan yang lain. Gunungan yang sudah jadi sementara
disimpan di Omah Gunungan- Rumah Gunungan yang berada di Kemagangan Timur dan
Barat.

Gamelan Sekaten
Untuk Garebeg Mulud, 2 set gamelan dipersiapkan. Gamelan ini dikenal oleh umum sebagai
gamelan Sekati yang terdiri dari :

Kyai Gunturmadu yang berarti mendapat berkah yang baik.

Kyai Nogowilogo ,artinya selalu menang dalam perang.

Kyai Gunturmadu berasal dari Karaton Majapahit, Kyai Nogowilogo merupakan duplikat dari
Kyai Gunturmadu.

Setiap set gamelan terdiri dari : 1 saron demung, 2 saron barung. 1 saron penerus, 2 bende, I
set kempyang, 1 bedug dan 1 gong.

Sebelum tanggal 5 Mulud, gamelan dibersihkan dan diberi sesaji. Para Wiyogo, penabuh
gamelan harus menyucikan diri dengan cara berpuasa sehari, mandi suci dan mencuci
rambut/keramas, lalu ikut menghadiri Kenduri atau Selamatan, berdoa bersama beberapa
orang dengan sesaji berupa makanan untuk mohon selamat dari Gusti Allah, Tuhan.

Dimalam hari pada 5 Mulud, gamelan dibunyikan di Karaton sebagai tanda dimulainya
Sekaten. Pertama kali ditabuh dulu Kyai Gunturmadu dengan gendhing/lagu Wirangrong.
Pada saat itu beberapa pangeran menyebarkan udhik-udhik yang terdiri dari uang logam,
beberapa macam bunga, beras kuning dan irisan-irisan daun pandan kepada pemain gamelan
dan gamelan.

Jam 23.00 permainan gamelan dihentikan dan tepat tengah malam jam 24.00, 2 set gamelan
tersebut di usung ke kompleks Mesjid Ageng.

Kyai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul dan Kyai Nogowilogo di Pagongan Lor.

Gamelan selalu ditabuh kecuali saat Adzan dan sholat lima waktu.

Pada tanggal 11 Mulud, jam 23.00 tepat, kedua set gamelan itu diangkut kembali ke Karaton.
Prosesi pengusungan gamelan dari Karaton ke Masjid dan sebaliknya dilaksanakan sesuai
tradisi yang berlaku, dengan khusuk, dikawal oleh beberapa petinggi karaton dan prajurit-
prajurit karaton, merupakan satu prosesi menarik yang disaksikan banyak peminat.

Palace Regalia / Benda-benda Kebesaran Raja

Pihak karaton juga mempersiapkan 9/Sembilan benda emas kebesaran raja, yaitu:

1. Banyak ( Angsa) lambang kesucian.


2. Dhalang (Kijang) lambang kepandaian.
3. Sawung (ayam jago) lambang keberanian.
4. Galing (burung merak) lambang kekuasaan.
5. Ardawalika (naga) lambang tanggung jawab.
6. Kacu Mas ( saputangan emas) lambang kebersihan.
7. Kutug ( sebangsa ikan) lambang keindahan.
8. Kandhil ( lentera) lambang kecerahan.
9. Saput ( kotak perhiasan) lambang kesiapan.

Tanda-tanda kebesaran raja itu akan dibawa oleh Manggung, petugas putri karaton dalam
kirab Garebeg.

Ampilan
Ampilan adalah benda-benda kelengkapan Sultan yang bernilai sakral, terdiri dari ;

Dampar Kencono – Kursi Emas, Singgasana Raja


Pancadan - Tempat menapakkan kaki)
Cepuri – Kotak tempat sirih ayu
Wijikan – Tempat cuci tangan
Badak – Kipas dari bulu burung merak

Pusaka

Beberapa benda pusaka seperti keris, tombak dll ,ikut dikirabkan dalam Garebeg untuk
mengawal Sultan.

Abdi Dalem Polowijo

Abdi Dalem Polowijo adalah kelompok khusus abdidalem/pegawai karaton yang bentuk
badannya cacat, tetapi mentalnya waras, seperti pincang, bule/albino, ada juga orang
kate/cebol yang disebut cebolan.

Mereka ikut kirab Garebeg berjalan didepan kelompok putri Manggung. Di upacara khusus
karaton seperti pisowanan, mereka berada dekat Sultan. Ini merupakan bukti bahwa Sultan
memperhatikan semua warga, meski mereka cacat fisik, tetapi mampu mengabdi kepada
Negara.

Kunjungan Sultan ke Masjid Ageng


Malam sebelum Garebeg Mulud yang akan dilaksanakan hari besok,Sultan melakukan
kunjungan ke Masjid Ageng di Kauman. Pertama kali , beliau mengunjungi Pagongan Kidul
dan Pagongan Lor untuk menyebarkan udhik-udhik berupa uang logam dan berbagai macam
bunga kepada pemain gamelan dan gamelannya.

Kemudian Sri Sultan berkunjung ke masjid. Di serambi mesjid beliau disambut oleh Kepala
Penghulu dengan cium tangan Sultan dengan hormat. Kemudian Sultan dan rombongan
beserta seluruh hadirin mendengarkan dengan khidmat pembacaan riwayat hidup Nabi
Muhammad SAW, dilanjutkan dengan doa selawat. Sebelumnya Sultan masuk kedalam
masjid untuk memberikan sumbangan dan udhik-udhik didekat empat saka guru masjid.

Sesudah selawatan Kepala Penghulu mempersembahkan kepada Sultan dan pengikutnya


bunga melati dan kanthil. Sultan dan yang lain menyelipkan masing-masing sebuah bunga
diatas telinganya. Tradisi ini disebut “Caos Sumping” yang melambangkan kesucian.
Sebelum tengah malam ,Sultan dan pengiringnya kembali ke karaton.

Kirab Gunungan

Dipagi hari pada hari Garebeg, semua pejabat dan petugas karaton telah siap untuk
melaksanakan Perayaan Garebeg. Kirab dimulai dari dalam karaton. Sultan duduk di
singgasananya di Bangsala Kencono ( Bangsal Emas) memerintahkan kepada Pangeran
senior yang mendapat tugas untuk memimpin dan memulai kirab gunungan.

Kirab dari prajurit dan perwira karaton, gunungan dan lain-lain benda sakral karaton, mulai
bergulir dari Bangsal Kencono menuju Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil.

Sultan kemudian duduk di singgasana diatas Selo Gilang didampingi oleh beberapa pangeran
dan pejabat-pejabat karaton. Korps music karaton memainkan lagu kuno “ Munggang” ,
kemudian beberapa kesatuan prajurit karaton dengan uniformnya dan petaka-petakanya yang
indah dan berwarna-warni berbaris dan memberikan hormat kepada Sultan. Mereka berbaris
turun ke Pagelaran untuk selanjutnya ke Masjid Ageng. Pada baris terakhir adalah kesatuan
Mantrijero yang membawa dan memainkan gamelan Kyai Guntursari selama prosesi
berlangsung.
Kemudian terdengan alunan lagu “Kodok Ngorek” dari dua set gamelan karaton Kyai
Keboganggang dan Kyai Gunturlaut. Dengan diiringi lagu ini, gunungan mulai muncul
dengan didahului oleh sebuah Gagarmayang yang indah dan besar, berupa rangkaian bunga
dan dedaunan. Yang muncul pertama adalah Gunungan Kutug/Bromo yang mengepulkan
semerbak dupa kemenyan yang dibakar, lalu diikuti oleh gunungan-gunungan yang lain.

Munculnya barisan gunungan disambut salvo prajurit karaton dan tepuk tangan gempita para
pengunjung. Orang-orang di Alun-alun Lor berteriak gembira, secara tradisi mereka percaya
mendapatkan berkah dari Sultan sehingga akan mendapatkan keberuntungan dalam hidupnya
dan para petani yang hadir percaya bahwa panen tahun ini akan bagus.

Prosesi mulai memasuki Alun-alun Lor. Mula-mula terlihat barisan prajurit karaton dan
perwira-perwiranya, beberapa pangeran dan pejabat tinggi karaton, abdi dalem khusus
Polowijo dan Cebolan( cacat fisik), pusaka raja dan pengawal-pengawal raja. Beberapa
pusaka selalu dipayungi dan diasapi dupa kemenyan.

Pada masa kini, Sultan tidak berada dalam kirab gunungan, Sultan Hamengku Buwono VIII
almarhum adalah Sultan terakhir yang ikut kirab gunungan.

Di Masjid Ageng, Kenduri dipimpin Kepala Penghulu. Ini merupakan Wilujengan Negari
untuk keselamatan negeri. Sesudah acara ini selesai, dilanjutkan dengan makan bersama,
dhahar kembul

Sementara itu, dihalaman masjid, ratusan orang dengan riuh rendah berusaha mendapatkan
sedikit makanan dari sesaji gunungan, mereka percaya akan mendapatkan kehidupan yang
lebih tentram dan baik.

Sesudah makan siang bersama, raja atau wakilnya dan para pejabat mengambil dan membawa
sedikit makanan, ini disebut “berkat” untuk disantap bersama keluarga dirumah. Secara
tradisi hal ini dipercaya bahwa siapapun yang menyantap “berkat” akan mendapat berkah dari
Sang Pencipta Hidup, Tuhan.

Puro Pakualaman
Dihari Garebeg, pagi hari, beberapa pembesar Puro Pakualaman, didampingi oleh prajurit-
prajurit Pakualaman, telah siap dan berada dihalaman depan Puro yang luas dan tertata apik.

Mereka menunggu utusan-utusan Karaton Ngayogyokarto Hadiningrat yang ditunjuk Sultan


untuk menyampaikan sebuah gunungan sesaji berupa sebuah Gunungan Lanang.

Puro Pakualamaman tidak membuat gunungan, dengan terhormat Puro Pakualaman


menerima pemberian gunungan dari Karaton Jogjakarta.

Gunungan Lanang kiriman Karaton Jogjakarta kepada Puro Pakualaman itu dilakukan melalui
sebuah parade yang sangat menarik dan megah.

Gunungan tersebut dikawal oleh Prajurit Kavaleri Karaton termasuk 4 ekor gajah dan
diperkuat oleh 2 peleton prajurit Pakualaman dari kesatuan Lombok Abang dan Plangkir.
Sepanjang jalan kirab sejauh kira-kira 2 kilometer itu dipenuhi oleh penonton yang sangat
menikmati prosesi itu.
Proses serah terima gunungan berjalan dengan khusuk tetapi juga gembira. Salah seorang
pangeran senior dari Pakualaman atas nama Sri Paku Alam IX menerima dengan tulus
anugerah dari Sultan Hamengku Buwono X.

Kemudian gunungan digotong oleh para prajurit Pakualaman ke halaman masjid Puro
Pakualaman. Sesaji gunungan langsung dibagikan kepada kawula dan yang membutuhkan.

Pisowanan di Karaton

Pada saat garebeg Mulud dan Sawal, di karaton diadakan pisowanan,dimana Sultan menerima
audiensi dari anggota keluarga, pejabat karaton dan pejabat daerah lainnya.

Dalam pisowanan, mereka yang menghadap menghormat Sultan sesuai dengan protokol
karaton yaitu “sembah bekti” kepada Sultan.

( Sembah: Menghormat dengan menyatukan kedua telapak tangan dengan kedua ibu jari
menyentuh pucuk hidung. Bekti : Menghormat dengan tulus dan taat).

Sultan dan para tamu mengenakan busana Jawa kebesaran. Sultan duduk dengan posisi tubuh
tegak. Para tamu yang memberikan “sembah bekti”, satu persatu berlutut didepan Sultan,lalu
menghaturkan sembah , mencium lutut kanan raja dengan menempelkan sedikit ujung
hidungnya ke lutut raja, kedua telapak tangannya kanan dan kiri memegang lutut Sultan dan
menghaturkan : “ Saya menghaturkan “sembah bekti”, maafkan segala kesalahan saya dan
saya memohon berkah Sultan/ Ngarso Dalem”. ( Dalam bahasa akrab sopan, kawula Jogja
menyebut Sultan sebagai “Ngarso Dalem”). Dalam jawabannya, Sultan akan menepuk-nepuk
secara pelahan punggung atas dari yang menghadap dan memberkahinya.

Di Karaton Surakarta, “sembah bekti” dihaturkan kepada Sinuwun ( raja), tidak melakukan
cium lutut kanan tetapi ke jempol kaki kanan raja.

( Sampai dengan saat ini, keluarga dan keturunan raja yang tinggal diluar Karaton, yang masih
melestarikan tradisi Jawa, melakukan “sembah bekti” yang sama kepada orang tua dan kakek
neneknya, pada saat perayaan Lebaran, hari saling memaafkan di bulan Sawal)

Ada tata cara khusus bagi saudara Sultan yang lebih tua untuk menyampaikan “sembah bekti”
kepada Sultan. Seorang Pangeran, paman Sultan, berjalan menghampiri Sultan yang duduk di
singgasananya, kira-kira dua meter dari Sultan berhenti, sedikit menekuk lututnya,
mengangkat kedua tangannya , jempol kiri dan kanan tangannya menyentuh telinga kiri
kanannya sendiri dan menghaturkan”sembah bekti’. Sultan menjawab dengan cara yang sama
dari tempat duduknya.

Dimasa kuno, pada masa kekuasaan ditangan raja, bawahan yang tidak melakukan”sembah
bekti” kepada raja, dinilai tidak setia, bahkan memberontak dan akan menerima hukuman.

Sembah bekti di Puro Pakualaman disampaikan kepada Sri Paku Alam IX.

Sembah bekti di Puro Mangkunegaran dihaturkan kepada Sri Mangkoe Nagoro IX.

Karaton Surakarta Hadiningrat

Karaton Surakarta juga menyelenggarakan upacara Garebeg yang waktunya sama dengan
garebeg di Jogjakarta.

Di karaton Surakarta, gunungan disiapkan dikompleks karaton yang bernama Koken, artinya
dapur, 4/empat hari sebelum hari Garebeg dibulan-bulan Jawa Mulud, Sawal dan Besar.

Beberapa priyayi karaton ditunjuk untuk melaksanakan Perayaan Garebeg yang dikeluarkan
oleh Parentah Karaton. Raja, Susuhunan Pakoe Boewono XIII, dari tempat semayamnya
memberi perintah kepada Pejabat Karaton, Mas Tumenggung Bupati untuk meneruskan
kepada pejabat-pejabet terkait di Bangsal Marakata untuk melaksanakan upacara Garebeg.
Untuk Garebeg Mulud, Gamelan karaton Kanjeng Nyai Sekati yang terdiri dari Gamelan
Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Gamelan Kanjeng Kyai Guntursari dikeluarkan dari
Bangsal Parangkarso.

Abdi dalem, pegawai karaton dari kesatuan Semut Ireng mengangkut gamelan-gamelan
tersebut dipundaknya ke Mesjid Ageng di sebelah barat Alun-alun Lor. Gamelan-gamelan itu
ditempatkan di Bangsal Pagongan.

Selama Pasar Malam Sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad


SAW, ,gamelan selalu dibunyikan kecuali pada saat sholat wajib lima waktu.. Gunungan
dibawa kembali ke karaton pada saat berakhirnya Sekaten.

Sesaji gunungan dibagikan kepada yang hadir dihalaman masjid saat Garebeg dan kepada
pegawai karaton di istana.

Banyak orang Solo, orang biasa dan petani yang senang sekali menikmati gendhing-
gendhing/ musik yang ditabuh oleh Gamelan Sekati Mereka itu mendengarkan selama
berjam-jam didepan Pagongan menikmati lagu-lagu favoritnya terutama komposisi musik
gamelan “Rembu” dan “Rangkung”

“Rembu” intinya merupakan pujaan kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa; sedangkan
“Rangkung” mengajak orang untuk mempunyai jiwa besar dalam hidup ini. Untuk orang-
orang ini, lantunan Gamelan Sekaten adalah obat penenang yang nikmat dalam kehidupan
duniawi yang hiruk pikuk ini, sehingga sangat berguna untuk keseimbangan hidup.

Pada saat Garebeg Mulud, Sawal dan Besar, diadakan pisowanan kepada Sinuwun, dimana
para abdi dalem, pejabat karaton diwajibkan untuk turut ambil bagian sebagai tanda hormat
dan setia kepada Raja.

Jagadkejawen,

Suryo [Link]
KANURAGAN AJI KASEKTEN
Aji-aji, mantra, japamantra apabila diamalkan, diucapkan dalam batin , dipraktekkan sesuai
dengan persyaratannya akan mengeluarkan daya yang umumnya disebut daya supranatural,
daya gaib atau magic dari aji-aji atau mantra tersebut. Aji-aji atau mantra harus dilapalkan
istilahnya matak aji sesuai dengan bunyi aslinya, bahasa aslinya tidak boleh dirubah,
dikurangi, ditambah, juga tidak boleh diterjemahkan, karena daya kekuatannya akan ngabar –
hilang.

Aji-aji, japamantra itu sudah ratusan tahun ada ditanah Jawa, ini memang kekayaan non-
materi warisan leluhur Jawa, Nusantara. Ada banyak aji-aji, japamantra yang dipakai,
dimanfaatkan para pendahulu kita supaya jalan kehidupan berjalan dengan selamat, tentram,
terbebas dari segala gangguan yang tidak baik maupun yang mau mencelakakan.

Aji-aji, japamantra biasanya dipunyai oleh seseorang muda yang mulai menginjak dewasa ,
mereka yang berpikiran dan berhati baik dan sadar akan panggilan hidupnya untuk selalu
berbuat baik dan benar untuk memayu hayuning sesama lan buwana. Daya kesaktian dari
aji-aji, mantra, japamantra Jawa, Nusantara telah lama merasuk jagat kehidupan ditanah ini
dan telah banyak dipetik manfaat dan dayanya oleh para satria, pendekar dan pejuang negeri
ini, terutama pada masa perang kemerdekaan melawan penjajah.

Banyak pejuang kita, menjadi manusia terpilih , kuat mengamalkan aji, mantra yang sakti
mandraguna. Sesuai dengan situasi disaat itu, terdapat orang yang memiliki atau lebih tepat
menguasai aji dan mantra yang menjadi sakti, tahan pukulan, senjata tajam, peluru, punya
pukulan geledek, pukulan maut, mudah menghindari serangan, selamat dalam perang,
berwibawa, ditakuti musuh, dihormati teman.

Aji-aji, mantra, japamantra yang bermacam-macam guna dan manfaatnya seperti untuk pagar
diri, tolak bala dan menaklukkan lawan biasanya dipunyai oleh guru-guru yang mumpuni dan
bijak. Secara umum disebut Aji Kasekten, ada juga yang menyebut Sipat Kandel, yang
menyebabkan orang punya rasa percaya diri, berani mengemban tugas dan kewajiban yang
benar dan mulia.

Sekali lagi kegunaannya secara garis besar adalah :

1. Raga menjadi sakti, tahan terhadap berbagai serangan seperti pukulan, senjata tajam,
peluru , tidak mempan pukulan fisik maupun “halus”. Punya pukulan dan gerakan
menyerang yang melemahkan lawan.
2. Jaya-Kawijayan, menyebabkan pemiliknya selalu berjaya dalam setiap pertempuran
dan selalu memenangkannya dengan cara kesatria.
3. Pangeram-eram, punya kemampuan yang amat menakjubkan seperti sesuatu hal yang
sepertinya tidak mungkin, tetapi kenyataannya [Link] bisa menghilang, tak
mempan pusaka, anti peluru dlsb.

Cara mendapatkan Aji-aji

Mengingat daya kemampuan dari aji-aji, mantra, japamantra yang ngebat-ebati, yang luar
biasa hebatnya, maka tak mengherankan bahwa banyak golongan muda pada masa kuno dan
masa itu yang tengah tumbuh keberaniannya, berusaha untuk mendapatkan aji
[Link] pula orang-orang yang dalam pekerjaannya memerlukan aji kanuragan,
seperti mereka yang mengurusi keamanan.

Lalu dari mana aji kanuragan bisa didapatkan? Sejak dari masa kuno,masa lalu dan mestinya
sampai kini, japamantra beserta ngelmu dan lakunya bisa didapat dari : 1. Guru 2. Dari tirakat
sendiri.

Dari Guru

Guru biasanya mengajarkan ngelmu yang dilengkapi dengan laku dan aji, dan mantranya
sekalian.

Istilahnya guru “nurunake”, menurunkan artinya mentransfer ngelmunya, kepandaiannya


dalam satu bidang tertentu kepada siswa yang dianggapnya mampu. Istilah lainnya : siswa
“diisi” ngelmu kanuragan tertentu oleh guru.

Misalnya, suatu malam sang guru mentransfer aji kanuragan tahan senjata tajam, dimalam lain
( sesudah siswa belajar lagi dan mampu) guru memberinya ngelmu lengkap dengan
amalannya yang berupa pukulan geledhek, siapa saja terkena pukulan ini akan nglumpruk,
pingsan.

Jadi siswa akan menyerap ngelmu dan aji japamantra dari guru secara step by step, tidak
sekaligus.

Dari tirakat sendiri

Ada orang yang menerima atau mendapatkan suatu ngelmu atau japamantra bukan dari
seorang guru. Namun ini relatif jarang terjadi dan yang menerima seperti ini biasanya karena
orang tersebut kuat sekali melakukan tirakat dan dengan bersungguh-sungguh memohon
petunjuk dari Gusti Yang Maha Kuasa.

Dari hasil laku tirakatnya, mesu raga – mampu sepenuhnya mengendalikan raga dan nafsu,
cipta yang kuat dan terus menerus kepada Gusti, maka dia bisa mendapatkan ngelmu atau
kepandaian yang sangat dibutuhkannya. Dalam cerita wayang , seorang satria setelah bertapa
beberapa lama ,mendapatkan pusaka atau kemampuan supranatural dari Gusti dengan
perantaraan utusannya yaitu dewa. Dari legenda kuno kita dapatkan cerita, seorang satria yang
bertapa mendapatkan petunjuk bisa berupa wahyu, sasmita gaib / pemberitahuan gaib atau
lewat utusan Gusti berupa suksma luhur atau dewa.

( Ngelmu atau kepandaian yang dianugerahkan oleh Gusti itu bisa pula berupa kemampuan
untuk menyembuhkan orang sakit, baik sakit fisik maupun mental).

Kemampuan Aji Kasekten

Kemampuan aji kasekten terlihat sewaktu dilafalkan, dipraktekkan. Apakah aji-aji berfungsi
semestinya? Hal itu tergantung dari kemanjuran, kekuatan daya batin orang yang
mengucapkan.

Apakah aji-aji itu sudah benar-benar atut, merasuk, menurut dan berkiprah sesuai dengan
yang dikehendaki oleh yang mengucapkan ( dan tentu saja sesuai dengan daya dan tujuan
sebuah aji-aji).

Dua orang yang mempunyai aji-aji yang sama belum tentu mempunyai hasil yang sama pada
waktu me-matak aji-nya.

Oleh karena itu aji-aji, japamantra harus selalu diingat, diasah, dilatih. Bukannya harus sering
dipakai bertarung, tetapi tetap ada dibatin, hindari pantangannya kalau ada dan harus selalu
yakin bila satu saat, kapan saja, dimana saja – yen ana gawe pari gawe, maka aji-aji itu akan
berkarya sebagaimana mestinya.
Aji-aji yang tak pernah diingat, diasah, lalu dilupakan akan ngabar- hilang daya kekuatannya,
ini adalah hukum alam.

Terpana oleh ‘Kesaktian”

Satu hari ditahun 1954, ada lomba olahraga antar SLTP Negeri di stadion Kridosono,
Jogjakarta yang disaksikan oleh seluruh pelajar kelima SMP Negeri . (Waktu itu di Jogja baru
ada 5 SMP Negeri). Pada saat seperti itu, tentu kami senang, jalan-jalan keluar sekolah, tidak
usah belajar. Di stadion yang dipadati pelajar, suasana ramai sekali, terdengar hiruk pikuk
teriakan para suporter.

Tiba-tiba dipojok stadion ada ribut-ribut , orang berteriak-teriak :” ana sing krengan, ana
sing krengan”- ada yang berkelahi. Ada pengunjung yang menjauh, tetapi ada yang mendekat
tempat perkelahian, ingin melihat dari dekat.

Untuk pertama kalinya saya melihat perkelahian bebas seperti ini, seorang dikeroyok oleh
lima orang. Pemuda-pemuda yang terlibat perkelahian itu berumur antara 15 s.d. 18 tahunan,
ukuran sedang untuk orang kita, berbadan sehat. Pemuda yang dikeroyok berkelahi dengan
tangan kosong, sedangkan dua dari pengeroyoknya bersenjata pentungan kayu seukuran
pemukul soft-ball.

Para pengeroyok bersuara gaduh, berteriak-teriak mau segera menghabisi lawan. Pemuda
yang hanya seorang diri itu cukup cerdik dan berani. Dia menempati posisi sudut sehingga
tidak bisa diserang dari belakang, tetapi juga risiko, dia tidak bisa lari. Sepertinya dia memang
yakin mampu melindungi diri dari lawan, melawan lima orang penyerang dia hanya
menggunakan dua buah tangannya yang ditempatkan didepan didepan badan antara muka dan
dada. Dia lebih banyak menangkis, tetapi sesekali dia melawan juga. Kakinya hanya dipakai
untuk bergerak maju mundur. Kedua telapak tangannya terbuka, bila ada kesempatan
dikibaskan untuk memukul lawan. Lawan yang terkena pukulannya pasti sempoyongan. Dia
sendiri berkali-kali kena pukulan baik kepalan tangan maupun kena gada kayu dikepalanya.
Aneh ...... terkena pukulan gada kayu yang keras sehingga sampai menimbulkan bunyi yang
cukup keras, pemuda itu tak apa-apa. Bahkan gada kayu terpental ditangkis oleh tangannya.
Para pengeroyok mengetahui ‘keampuhan” pemuda tersebut ,lalu pelan-pelan mundur dan
meninggalkan arena. Pemuda itu juga tak mengejar, lalu membaur diantara penonton dan
pergi.

Ketika petugas keamanan datang pertarungan sudah usai. Ada anak yang bilang yang barusan
berantem adalah anak kampung A yang mengeroyok jagoan dari kampung B. Seorang kakak
kelas kami yang termasuk anak bandel bilang bahwa mereka yang berkelahi tadi sedang
mencoba kanu-nya. Apa itu kanu, tanya saya. Jawabnya dengan ketus : Kanu itu kanuragan,
kamu anak kecil, urusan begini belum ngerti. Coba kalau gak pakai “lambaran’ kanuragan,
dihantam gada kayu sekali pasti sudah “keyok”- kalah.

Maling juga ampuh

Sampai dengan tahun 1960-an, beberapa kali penulis melihat maling atau penjahat atau
pencopet yang ditangkap oleh masa. Sebelum diserahkan kepada yang berwajib dihajar dulu
oleh penduduk atau yang menangkap.
Masa itu, keadaan masih sederhana, tuntutan kebutuhan relatif juga seperlunya saja.

Maling masih sembunyi-sembunyi, sasaran barang yang dimaling barang rumah tangga biasa
antara lain : jemuran pakaian, perabot rumah tangga, binatang peliharaan seperti burung,
ayam juga bisa jadi sasaran. Radio, mesin jahit sudah termasuk barang mahal.
Meskipun yang dimaling menurut penilaian kini barang sepele, tetapi kalau maling
tertangkap, berat siksanya. Biasanya si maling berteriak-teriak sekuat-kuatnya dan minta
ampun sewaktu dihajar, tetapi kelihatannya fisiknya mulus saja. Dijagat kanuragan dikenal aji
japamantra yang disebut Aji Gineng. Orang yang punya aji ini, termasuk maling, dihajar
demikian hebat tidak apa-apa, dia tetap mbleleng saja. Orang sering bertanya, maling dapat aji
kanuragan dari guru “putih” atau guru “hitam” yang mengkhususkan untuk hal-hal yang
menyimpang. Banyak orang yang tangannya kesakitan sewaktu memukul seorang pencopet
yang tertangkap.

Ngelmu maling juga macam-macam. Ada yang dipakai untuk menidurkan penghuni rumah (
sirep), ada yang dipakai supaya tidak kelihatan, misalnya sewaktu maling dikejar dan dia
berhasil menempelkan diri ke sebuah pohon atau tembok/dinding, dia menjadi tidak
kelihatan.

Tetapi ada juga ngelmu untuk menjinakkan maling. Seorang anak muda tetangga penulis lebih
dari sekali menangkap maling yang sudah masuk [Link] caranya tidak tahu, si
maling sudah dia tangkap, lalu didudukkan dikamar makan dan diberi makan. Baru dia teriak-
teriak : maling,maling. Pada waktu para tetangga datang si maling sudah jinak dan duduk
dikursi. Dia bilang sama para tetangga, si maling sudah menyerah, jangan dipukuli, serahkan
saja ke polisi secara baik-baik.

Pesulap yang mempesona

Setiap akhir pelajaran sekolah, sesudah kenaikan kelas dan menjelang libur panjang,
sekaligus untuk perpisahan bagi teman-teman yang sudah lulus, tentu diadakan pesta sekolah.
Hal ini penulis alami sejak dari Sekolah Rakyat ( SD) sampai SMP dan SMA. Tentu ada acara
panggung dengan berbagai atraksi dan tentu juga disediakan suguhan berupa makanan kecil
dan minuman ringan.

Panggung gembira yang diisi berbagai tarian , nyanyian , deklamasi dilakukan oleh para
[Link] zaman penulis di SMA, kami para siswa belajar berbagai macam tari daerah
dari seluruh Nusantara. Jadi kami tahu dan kenal budaya bangsa dan itu merupakan tali kuat
persaudaraan bangsa.

Pada waktu di SD dan SMP , para murid disuguhi acara sulap yang dilakukan oleh para
pesulap professional.
Seperti kebiasaan sulap, yang disuguhkan adalah demo kebolehan dari permainan yang
merupakan kombinasi kecepatan, ketrampilan, berbagai trik sulap, tetapi ada juga
pertunjukkan yang menggunakan hipnotisme, magnetisme dan kanuragan.

Sopan santun peraga

Pada masa dulu sebelum pertunjukan sulap dimulai, biasanya pemimpin rombongan
memohon izin untuk melaksanakan pertunjukkan yang sifatnya hiburan untuk menyenangkan
semua hadirin. Dia berkata bahwa seluruh rombongan sulap tidak ingin menyombongkan diri.
Lalu memohon kepada semua penonton dan terutama yang lebih pandai untuk supaya jangan
mengganggu. Bahkan memohon dukungan batin supaya acara berjalan mulus dan sukses.
Itulah etika peraga dikala itu. Mereka itu ingat petuah bijak tradisional : “ Kita boleh yakin
akan kemampuan kita, tetapi jangan lupa bahwa sepandai-pandai orang masih ada yang lebih
pandai”.

Peragaan diluar nalar

Beberapa pertunjukan yang dilakukan dengan lancar dan berhasil, sebenarnya memang sulit
diterima [Link] sebagai orang tradisional kita sudah sering melihat seni pertunjukkan
lokal seperti jathilan, reog dimana ada pemainnya yang makan beling/pecahan kaca , makan
padi dan semangkok cabai rawit.

Dalam sulap ada atraksi seperti :

1. Badan dicoblosi dan dicanteli/ digantungi jarum dan paku. Setelah selesai dicopot dan
tidak berdarah.
2. Tidur telentang dipapan dengan paku tajam.
3. Memindahkan cincin dan kalung emas dari satu sisi panggung ke sisi yang lain.
4. Membedakan warna dengan mata tertutup.
5. Membaca dengan mata tertutup.
6. Membaca dari belakang papan tulis.
7. Naik sepeda keliling sekolah dengan mata tertutup.

Sewaktu di SMP ada seorang peraga yang menyopir mobil jeep dengan mata tertutup dari
Lapangan Benteng , dekat Kantor Pos sampai

Lapangan Sekip di Bulaksumur. Peraga yang sama pernah menyopir mobil dari Semarang ke
Jogja.

Sikap Hidup Yang Sederhana

Seingat penulis, atraksi sulap dan peragaan seperti tersebut diatas juga biasa diperagakan
dikota-kota lain di Jawa pada kurun waktu itu.

Kemampuan pesulap dan peraga dan bintang-bintang panggung dikala itu menurut penulis
termasuk hebat.

Meski mereka punya kemampuan hebat, menonjol, dikenal masyarakat, tetapi kehidupan
mereka itu biasa-biasa saja. Dalam kehidupan sehari-hari mereka juga bersikap ramah, sopan,
sederhana. Kalau di Jogja, mungkin didaerah , kemana-mana mereka itu naik sepeda.
Begitulah sikap dan kehidupan para orang terkenal dimasa itu sampai tahun 60-an, 70-an
seperti penyanyi, bintang radio, penari, pelawak, pemain film, pelukis, penulis, pemusik.
Mungkin waktu itu promosi atau PR belum sehebat sekarang. Kalau sekarang, para orang
panggung dalam waktu cepat sudah jadi selebritis, diva, gaya hidupnya kelas atas. Gaya
kehidupan seperti ini sepertinya dihembuskan atau lagi ngetren, tetapi apakah sejatinya itu
yang mereka idam-idamkan?

Berbagai Ketrampilan Bela Diri

Penulis banyak memaparkan contoh kejadian disekitar tahun 60-an, karena sebagai remaja
waktu itu, penulis mengalami dan menyaksikan [Link] ini sesuai karena kanoman
termasuk kanuragan adalah ngelmunya para muda.

Pada saat itu, selain seni bela diri tradisional seperti Pencak Silat dan Kanuragan, ada juga
anak-anak muda yang belajar seni bela diri yang berasal dari luar. Umpamanya ada yang
belajar Kung Fu, Tinju, Judo, Karate, Jujutsu dll. Seni bela diri yang dari luar tersebut lebih
mudah terkenal karena sudah menjadi cabang olahraga beladiri yang dipertandingkan secara
internasional , dengan sendirinya di Indonesia juga dipertandingkan di arena resmi dan
terbuka dan mendapatkan publikasi yang luas.

Seni beladiri Pencak Silat baru dipertandingkan dalam event olahraga beberapa tahun
kemudian. Kini sudah banyak pula paguyuban-paguyuban Pencak Silat dimanca negara.
Sesudah tahun 60-an, 70-an, pelatihan kanuragan seperti yang telah dipaparkan penulis
sepertinya tidak berjalan secara terbuka atau boleh dibilang kurang berkembang.
Kemungkinan sebabnya a.l karena banyak guru ngelmu yang sudah sepuh dan menarik diri
dari pengajaran kanuragan dan ada sementara beliau yang mengundurkan diri karena keadaan
sudah berubah, dimana banyak siswa yang menyalahgunakan ngelmu yang diterima. Mereka
berani memakai untuk hal-hal yang tidak baik termasuk untuk [Link] seorang guru
ngelmu yang menjalani hidup dengan jujur dan sederhana, berkata kepada penulis : “ Sudah
tidak ikut mengajari ngelmu kanuragan, nanti ikutan menanggung dosa”.

Seni Bela Diri Tenaga Dalam

Mulai tahun 1980-an orang ramai belajar seni beladiri tenaga dalam. Selain olah raga gerak
bela diri juga dikombinasikan dengan pernafasan. Untuk dapat menjadi anggota dan ikut
berlatih tentu diwajibkan memenuhi persyaratan dari masing-masing organisasi yang tentunya
bertujuan positif.

Kanuragan dicari lagi

Menurut pengamatan penulis dan beberapa teman pengamat, setelah kanuragan sepertinya
tidak lagi dipelajari bertahun-tahun secara terbuka, mulai tahun 1996 mulai dicari orang lagi.

Ada penawaran melalui iklan yang menawarkan untuk mengajari sampai bisa
menguasai ,misalnya :” Pukulan Jarak Jauh” . Katanya cukup sekali datang dan disebutkan
ongkos pelatihannya untuk satu macam ketrampilan. Kalau yang mau dipelajari ada beberapa
ketrampilan, tinggal dihitung saja ongkos jasanya.

Jadi, ini sepertinya menjual ngelmu. Anda bayar, anda dapat. Prinsip ini tentu sangat bertolak
belakang dari pengajaran ngelmu kanuragan dimasa lalu.

Penulis yang waktu itu menjadi penulis dan pengasuh satu website berbahasa Inggris ,
beberapa kali menerima email dari luar negeri ( Amerika dan Eropah), yang menanyakan
dimana bisa belajar ngelmu “Pukulan Jarak Jauh” dan tentunya “ Menangkis serangan dari
jauh” dan berapa beayanya.

Penulis cukup kaget menerima email seperti itu, tetapi memang ngelmu semacam kanuragan
ini juga diminati oleh orang-orang manca negara.

Sekitar tahun 2000-an, beberapa penyembuh alternative dari Eropah, Amerika datang kesini
dan ada yang berminat dan belajar cara-cara penyembuhan alternative tradisional seperti
penyembuhan dengan air minum yang dimantrai, penyembuhan dengan “disuwuk “ ditiup
ubun-ubun kepalanya dlsb.

Beberapa tokoh penyembuh dan paranormal kita ( yang kebetulan teman-teman baik
penulis)diundang ke-mancanegara. Disana mereka dimintai kerjasama untuk ikut membantu
pasien-pasien yang termasuk sulit disehatkan. Berkah Gusti, banyak pasien yang cocok.

Para tamu dari Indonesia juga menyaksikan penyembuhan alternative yang dipraktekkan
disana, kebanyakan memanfaatkan semacam tenaga dalam dan enerji alam. Pada waktu itu
metode penyembuhan dengan Prana dan Reiki dan sejenisnya selain dipakai diluar
negeri ,juga sudah mulai masuk ke Indonesia.

Berbagai macam relaksasi dan penyehatan dengan sistem pijat ( massage)juga dipakai disini
dan diluar negeri, ada juga pemijat kita yang maju prakteknya diluar negeri, dia jadi pemijat
bersertifikat di Amerika Seikat.( Di A.S. praktek penyembuhan alternative harus punya
sertifikat yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setempat).

Ada juga metode penyembuhan alternative dengan cara berdoa dimana pasien dan penyembuh
( ada yang diperkuat saudara, teman dan yang peduli) bersama-sama memohon kesehatan dan
kesembuhan dari Tuhan Yang Maha Kasih.

Dalam dunia penyembuhan alternative, seperti juga bidang-bidang yang lain terjadi
pengembangan yang berisifat global, dimana cara dan metode yang efisien akan dipakai
dimanapun, termasuk penggunaan daya dan enerji dari alam dan benda-benda alam seperti
kristal, logam, batu berharga, akik , berbagai jenis kayu, daun, buah dsb.

Beberapa catatan

Apapun pendapat sementara orang dan opini yang berkembang, pada umumnya orang tertarik
kepada hal-hal yang masuk kategori pangeram-eram, mukjizat atau miracle.

Coba bayangkan siswa-siswa kanuragan melihat gurunya membabat pohon pisang dengan
pedang kecil, sekali tebas pohon itu putus dan roboh. Artinya pedang kecil itu tajam sekali.
Lalu, dengan cukup keras guru membacoki sendiri lengannya yang telanjang dengan pedang
tersebut dan tidak apa-apa. Sesudah itu satu persatu siswa yang sudah siap, tidak pakai baju,
dibacok punggungnya sampai bunyi”bluk” dan tidak apa-apa, tidak luka, tidak berdarah.
Mereka tentu mantap dan tambah pede, semakin percaya kepada ngelmu yang diterima dari
guru.

Sebuah benda misalnya dompet ditaruh diatas meja, dompet itu mudah dipegang siapapun.
Kini dompet tersebut “dipagari’ dengan mantra, istilahnya”dikunci”. Siapa saja yang
bermaksud jahat mau mengambil dompet itu akan terpental.

Ada siswa setelah telapak tangannya “di-isi” mampu membuat pukulan yang keras sekali.
Beberapa tumpuk batu bata pecah dihantam pukulan telapak tangannya.

Ada ngelmu ketika dilafalkan orang itu menjadi kuat sekali cengkeramannya,
perbandingannya kerbau mengamuk tunduk dalam rangkulan kedua tangannya.

Ada siswa yang kesakitan diusap tangan jadi sembuh, yang sakit diberi air putih yang diisi
doa, sehat kembali. Air putih itu diminumkan atau diusapkan kebagian badan yang sakit atau
kebeberapa bagian badan.

Untuk diperkenankan menyerap dan mempelajari ngelmu kanuragan pada seorang guru yang
bijak, syarat utamanya adalah kelakuan baik dan tujuannya juga untuk maksud baik, positif
bukan untuk berbuat kejahatan, negatif. Selain itu sebagai orang Timur, kita ini orang-orang
yang sangat patuh kepada Gusti, segalanya terjadi karena karsa Gusti.

Inilah filosofi yang ditanamkan ngelmu dari Timur, Jawa, Nusantara ini. Orang yang punya
ngelmu harus bersikap satria, juga dalam penggunaannya.

Misalnya begini : dalam perkelahian harus jujur, satu lawan satu dan berhadap-hadapan. Oleh
karena itu sering terdengar orang yang menantang lawan untuk berkelahi dengan
mengatakan : “Ini dadaku, mana dadamu ?”

Sejak muda sudah diberi ajaran bahwa menyerang musuh yang belum siap, itu sikap yang
tidak satria. Jadi tidak boleh nglimpe mungsuh, menyerang musuh yang sedang terlena,
seperti menyerang dari belakang waktu musuh tidak siap.

Juga seorang gangster tidak akan diberi ngelmu oleh guru yang bijak. (Mungkin dia bisa
mendapatkan dari guru “hitam”, asal berani bayar)..
Jadi bagi guru yang masih memegang kepada filosofi yang baku, dia tidak akan setuju dengan
jual beli ngelmu .
Tetapi kalau untuk kebaikan dan lagi diberikan kepada orang baik-baik, guru akan mengajari
dengan tanpa menarik bayaran sepeserpun.

Mau dicoba?

Meski sudah diwanti-wanti guru bahwa aji kanuragan hanya untuk pagar diri, namanya anak
muda, dengan berbagai cara ada niatan untuk mencobanya. Selain itu, menurut pengalaman
yang punya ajian ini, meski mereka tidak mau mencobanya, tetapi ada saja pengaruh yang
entah dari mana datangnya, sehingga mereka itu terlibat perkelahian. Namanya darah muda,
bukannya berusaha menghindar, malahan mumpung ada yang menantang, ini kesempatan
untuk mempraktekkan ajiannya.

Ada seorang bapak muda umur sekitar 40-an, dia dapat mantra keselamatan supaya terhindar
dari berbagai kecelakaan baik dirumah, dijalan maupun ditempat kerja termasuk kuat fisiknya
kalau berhadapan dengan kriminal yang menodongnya dijalan. Jelas dia tidak mencari musuh
dan tidak mau mencoba ajiannya. Satu hari dalam perjalanan ke kantor, ban mobilnya kempes
dan dia harus mengganti ban sendiri. Entah bagaimana ,pipa besi yang dipakai untuk
mendongkrak ban dengan kecepatan penuh berbalik menghantam mulutnya.

Waktu terhantam, dia sempat berkunang-kunang, tetapi spontan dia berteriak dalam batin :
‘Tidak apa-apa”. Dan betul meskipun mulutnya terhantam begitu keras, bibirnya lecetpun
tidak dan giginya tidak ada yang rontok.

Demi alasan keamanan seorang teman yang sudah berkeluarga mendapat ajian anti tembak
dari seorang guru [Link] keadaan tidak aman, banyak kriminal yang suka
menodong bahkan sungguh-sungguh menembak. Satu siang hari, dijalan ada perampok yang
dikejar oleh aparat keamanan, terdengar suara beberapa tembakan. Teman kita tidak tahu
siapa yang mengeluarkan tembakan, dalam pikirannya dia minta [Link] itu dia naik
bis kota yang jendelanya terbuka. Tiba-tiba dada kirinya terasa dihantam. Secara reflek dia
pegang dadanya sebelah kiri. Disaku baju kiri dia kantongi tempat rokok dari perak. Tempat
rokok itu bolong dan disitu bersarang sebuah peluru. Dia bersyukur kepada Tuhan, dia
selamat, peluru tidak menembus dada kirinya. Seandainya dia tidak mengantongi tempat
rokok perak, apa jadinya?

Ada pendapat bahwa orang yang punya ajian , kalau dia tidak dengan sengaja mau
menggunakan ajiannya, ajiannya sendiri yang mau menunjukkan kebolehannya. Begitukah?

Kanuragan, Aji Kasekten tidak terpisahkan dari aji karahayon, keselamatan, pada dasarnya
untuk pagar diri terhadap beberapa hal, baik dari serangan musuh yang manusia, maupun dari
kejadian alam seperti hujan, kekeringan, angin, cuaca jelek, bencana alam, bencana penyakit,
gangguan binatang dan bisanya seperti ular, kalajengking dsb,, juga gangguan dari black
magic, ngelmu hitam yang bermacam-macam.

Para pinisepuh berpesan, hendaknya kanuragan dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik dan
tidak untuk mencelakakan /merugikan pihak lain.

Jagadkejawen,

Suryo [Link]
Mengenal 9 Type Wanita JAWA Ideal
Author: Kang Sugeng | Posted at: [Link] | Filed Under: Kasusastran Jawi |

Sahabatku sekalian... berikut ini saya perkenalkan 9 type wanita JAWA ideal yg saya kutip dari
buku kuno Kamasutra JAWA. Tentu maksud saya disini, hanya ingin sharing sedikit
pengetahuan saya tentang ilmu Kejawen. Silakan kalian simak dan semoga ini bisa menjadi
tolok ukur bagi para lelaki yg sedang mencari calon istri dan tentu saja juga sebagai bahan
introspeksi diri bagi para istri dan para calon istri.

Baiklah... mari kita simak baik-baik.


Inilah 9 type wanita JAWA ideal menurut buku Kamasutra JAWA :

1. Kusuma Wicitra
Diibaratkan seperti bunga mekar yg sangat mempesona, yg siap untuk dipetik.
Wanita yg ideal sebaiknya mempersiapkan dirinya dengan ilmu pengetahuan dan agama,
mengharumkan dirinya dengan perbuatan baik, menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.

2. Padma Sari
Diibaratkan seperti bunga teratai yg sedang mekar di kolam.
Bunga teratai dalam budaya Jawa merupakan simbol kemesraan, sehingga yg dimaksudkan
dengan wanita ideal dalam konsep ini adalah wanita cantik yg penuh kasih mesra hanya bila
bersama dengan suaminya.

3. Sri Pagulingan
Diibaratkan seperti cahaya yg sangat indah di peraduan/singgasana raja.
Wanita yg ideal sebaiknya tidak hanya cantik jasmaninya, namun juga dapat
mempersembahkan dan menunjukkan kecantikannya hanya kepada suaminya ketika berolah
asmara di peraduan.

4. Sri Tumurun
Diibaratkan seperti bidadari Nirwana yg turun ke dunia.
Wanita yg ideal sebaiknya cantik raga dan jiwanya. Ini dibuktikan dengan kesediannya untuk
"turun", berinteraksi dengan rakyat jelata, kaum yg terpinggirkan untuk menebarkan cahaya
cinta dan berbagi kasih.

5. Sesotya Sinangling
Diibaratkan seperti intan yg amat indah, berkilauan.
Wanita yg ideal sebaiknya selalu dapat menjadi perhiasan hanya bagi suaminya, sehingga
dapat memperindah dan mencerahkan hidup dan masa depan suaminya, juga keluarganya.

6. Traju Mas
Diibaratkan seperti alat untuk menimbang emas.
Ini merupakan simbol wanita setia yg selalu dapat memberikan saran, pertimbangan, nasihat,
demi terciptanya keluarga yg sakinah.

7. Gedhong Kencana
Diibaratkan seperti gedung atau rumah yg terbuat dari emas, dan berhiaskan emas.
Ini merupakan simbol wanita yg berhati teduh dan berjiwa teguh sehingga dapat
memberikan kehangatan dan kedamaian bagi suami dan keluarganya.

8. Sawur Sari
Diibaratkan seperti bunga yg harum semerbak.
Wanita yg ideal sebaiknya dikenal karena kebaikan hatinya, keluhuran budi pekertinya,
kehalusan perasaannya, keluasan ilmunya, kemuliaan akhlaknya. Kecantikan fisik dan
kekayaan harta yg dimiliki wanita hanya sebagai pelengkap, bukan syarat mutlak menjadi
seorang wanita ideal.
9. Pandhan Kanginan
Diibaratkan seperti pandhan wangi yg tertiup angin.
Ini merupakan simbol wanita yg amat menggairahkan, menawan, dan memikat hati. Dapat
dilukiskan sebagai, tinggi semampai, berparas cantik, berkulit kuning langsat, berbibir merah
alami, berpayudara indah, murah senyum, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus serta
dapat memberikan keturunan.

Yup itulah tadi 9 type wanita JAWA yg sangat ideal dan sesuai dengan kriteria para pencari
istri.
So... buat kalian para wanita sejagad blogshere Nusantara ini, termasuk type yg manakah

kamu?

HIMPUNAN PITUTUR LUHUR


by kerohanian sapta darma on Saturday, March 19, 2011 at 2:36pm ·

NATAS NITIS NETES

@ . artinya : adalah jiwa manusia itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, dapat menjadi
sempurna kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun dapat pula kembali dilahirkan
didunia, semua itu tergantung perbuatan manusia sendiri

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu mengembangkan manembah
yang sungguh-sungguh kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dapat sempurna kembali kepada
Tuhan Yang Maha Esa.

NENGING PANCADRIYA-NENGING RASA

@ . artinya : adalah dalam manembah, panca indera dan rasa dalam keadaan diam total.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku membangun kondisi "mbudheg,
micek ,mbisu" (tidak menanggapi apa yang didengar dan dilihat, serta tidak berkata-kata).

NORA KEGUH KECOPAKING IWAK, GROMBYANGING WONG, SEMILAKE WETIS


KUNING

@ . artinya : adalah dalam menjalankan tapa brata diperlukan kemampuan untuk tidak
terpengaruh oleh : kenikmatan lahiriah semata (kecopaking iwak), galaunya suara orang
(grombyanging wong), dan dorongan seks yang tidak sehat (semilake wetis kuning).

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan budaya hidup suci
dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

OLAH RAGA, OLAH RASA, OLAH JIWA

@ . artinya : adalah terjaminnya kondisi raga, rasa , jiwa yang prima yang siap mewujudkan
kondisi manunggaling kawula gusti.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengusahakan dinamika hidup ragawi-
jiwani sinergik-harmonis sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
mutakhir yang berada dalam bimbingan Tuhan Yang Maha Esa.

ORA KENA MELIKAN

@ . artinya : adalah kesadaran bahwa segala sesuatu termasuk kebendaan berasal dari Tuhan,
dan masing-masing diberi hak yang berbeda

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku tidak serakah.

ORA KENA NGRESULA MARANG PEPARING KANG MAHA KUWASA

@ . artinya : adalah tidak boleh mengeluh atas pemberian Tuhan Yang Maha Esa.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menerima pemberian TUHAN
Yang Maha Esa dengan tulus iklas dan lapang dada.

ORA RUMANGSA BISA, NANGING BISA RUMANGSA YEN MOBAH-MOSIK


KERSANING ALLAH HYANG SUKMA.

@ . artinya : adalah kesadaran, bahwa manusia tidak memiliki kelebihan apapun karena
semua adalah kodrat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku menciptakan keseimbangan dan
keselarasan serta menghargai hak-hak yang dimiliki setiap manusia.

OWAH-GINGSIRING KAHANAN IKU SAKA KERSANING PANGERAN KANG


MURBENG JAGAD

@ . artinya : adalah perubahan keadaan itu merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku siap menerima perubahan keadaan
dengan lapang dada.

PANGERAN IKU ANA ING NGENDI PAPAN, ANENG SIRA UGA ANA PANGERAN,
NANGING AJA SIRA KUMAWANI NGAKU PANGERAN

@ . artinya : adalah sekalipun Tuhan Yang Maha Esa berada dimana-mana, dan ada pula
dalam diri seseorang , namun jangan sekali-kali ia berani menyatakan, bahwa dirinya adalah
Tuhan Yang Maha Esa.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu sadar, bahwa ia adalah hamba
Tuhan Yang Maha Esa yang selalu manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rendah
hati.

PANGERAN IKU BISA NGRUSAK KAHANAN KANG WIS ORA DIPERLOKAKE, LAN
BISA GAWE KAHANAN ANYAR KANG DIPERLOKAKE

@ . artinya : adalah Tuhan Yang Maha Esa-lah yang menentukan keadaan mana yang sudah
tidak diperlukan, dan keadaan baru yang diperlukan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku siap menerima apapun yang telah
digariskan oleh Tuhan Yang MahaKuasa

PANGERAN IKU KUWASA TANPA PIRANTI, AKARYA JAGAD SAISINE, KANG


KATON LAN KANG ORA KASAT MATA
@ . artinya : adalah bahwa kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa itu diluar jangkauan manusia.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku sadar sepenuhnya kemahakuasaan
Tuhan Yang Maha Esa, apapun yang dikehendaki-Nya, jadilah.

PANGERAN IKU LANGGENG, TAN KENA KINYA NGAPA, SANGKAN PARANING


DUMADI

@ . artinya : adalah bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu kekal tidak dapat dijangkau oleh daya
pikir yang bagaimanapun, Dia adalah asal dan tujuan dari segala yang dihidupkan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku secara konsisten dan konsekuen
menjalani hidupnya didunia secara alami selalu memancarkan cinta kasih kepada siapapun
dan apapun, dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan yang bagaimanapun.

PANGERAN IKU MAHAKUASA, PEPESTHEN SAKA KERSANING PANGERAN ORA


ANA SING BISA MURUNGAKE

@ . artinya : adalah Tuhan Yang Maha Esa itu MahaKuasa, kepastian dari kehendak Tuhan
Yang Maha Esa tidak ada yang dapat membatalkan.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku siap menghadapi apapun yan terjadi
dengan lapang dada.

PANGERAN IKU MAHAWELAS LAN MAHAASIH, HAYUNING BAWANA MARGA


SAKA KANUGRAHANING PANGERAN

@ . artinya : adalah Tuhan Yang Maha Esa itu Maha Penyayang dan Pengasih, keindahan
dunia merupakan anugerah-Nya.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang saling mengasihi dan menyayangi
diantara sesama manusia dan menciptakan suasana damai dan sejahtera.

PANGERAN IKU NGOWAHI KAHANAN APA WAE TAN KENA KINAYA NGAPA

@ . artinya : adalah Tuhan Yang Maha Esa itu mengubah keadaan apapun tidak dapat
dijangkau dengan dinamika daya pikir yang bagaimanapun juga.

Makna tersebut diwujudkan dalam wujudkan dalam sikap dan perilaku siap menghadapi dan
menerima perubahan keadaan yang tidak terduga, dengan penuh rasa tanggung jawab dan
lapang dada.

PANGERAN NITAHAKE SIRA IKU LANTARAN BIYUNGIRA, MULA KUDU


NGURMATI BIYUNGIRA

@ . artinya : adalah bahwa ibu merupakan seorang yang dipilih Tuhan Yang Maha Esa
sebagai peran serta lahirnya seseorang, karenanya seseorang harus menghormati ibu.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menghormati dan berbakti
kepada Sang ibu penuh cinta kasih sayang dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan yang
bagaimanapun.

PANGERAN IKU ORA MBEDAK-MBEDAKAKE KAWULANE

@ . artinya : adalah Tuhan Yang Maha Esa tidak membeda-bedakan mahkluknya mencintai
manusia tanpa memandang perbedaannya seperti kaya atau miskin, pandai atau bodoh, tua
atau muda dan sebagainya.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mencintai sesama manusia tanpa
menbeda-bedakan atas dasar status, usia, jenis kelamin dan sebagainya.

PANGERAN IKU SIJI, ANA ING NGENDI-ENDI PAPAN, LANGGENG, SING


NGANAKAKE JAGAD SAISINE, DADI SESEMBAHAN MANUNGSA ALAM KABEH,
NGANGGO CARANE DHEWE-DHEWE

@ . artinya : adalah Tuhan Yang Maha Esa itu satu, ada dimana-mana, langgeng, menjadi
sesembahan manusia sejagad dengan caranya sendiri-sendiri.

Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku sadar, bahwa yang disembah manusia
sejagat hanyalah satu Tuhan, tetapi caranya yang berbeda-beda, tetap menghormati,
menghargai, bersahabat, bersaudara, dan mencintai siapapun sekalipun caranya manembah
kepada Tuhan Yang Maha Esa berbeda
TEMBANG JAWA

Urut-urutane tembang Jawa iku padha karo lelakoning manungsa saka mulai bayi abang
nganti tumekaning pati. Mungguh kaya mangkene urut-urutane tembang kaya kang tak
aturake ing ngisor iki:
Maskumambang
Gambarake jabang bayi sing isih ono kandhutane ibune, sing durung kawruhan lanang utawa
wadhon, Mas ateges durung weruh lanang utawa wadhon, kumambang ateges uripe
ngambang nyang kandhutane ibune.
Mijil
ateges wis lair lan jelas priya utawa wanita.
Kinanthi
saka tembung kanthi utawa tuntun kang ateges dituntun supaya bisa mlaku ngambah
panguripan ing alam ndonya.
Sinom
tegese kanoman, minangka kalodhangan sing paling penting kanggone remaja supaya bisa
ngangsu kawruh sak akeh-akehe.
Asmaradana
tegese rasa tresna, tresna marang liyan ( priya lan wanita lan kosok baline ) kang kabeh mau
wis dadi kodrat Ilahi.
Gambuh
saka tembung jumbuh / sarujuk kang ateges yen wis jumbuh / sarujuk njur digathukake
antarane priya lan wanita sing padha nduweni rasa tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa
urip bebrayan.
Dandanggula
Nggambarake uripe wong kang lagi seneng-senenge, apa kang igayuh biso kasembadan.
Kelakon duwe sisihan / keluarga, duwe anak, urip cukup kanggo sak kaluarga. Mula kuwi
wong kang lagi bungah / bombong atine, bisa diarani lagu ndandanggula.
Durma
Saka tembung darma / weweh. Wong yen wis rumangsa kacukupan uripe, banjur tuwuh rasa
welas asih marang kadang mitra liyane kang lagi nandhang kacintrakan, mula banjur
tuwuhrasa kepengin darma / weweh marang sapadha – padha. Kabeh mau disengkuyung uga
saka piwulange agama lan watak sosiale manungsa.
Pangkur
Saka tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka. Kang dipikir
tansah kepingin weweh marang sapadha – padha.
Megatruh
Saka tembung megat roh utawa pegat rohe / nyawane, awit wis titi wancine katimbalan marak
sowan mring Sing Maha Kuwasa.
Pocung / Pucung
Yen wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak durunge dikubur.

PITUTUR JAWA

“Aja Adigang, Adigung, Adiguna”


“Aja dumeh”.
“Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman”
“Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman”
“Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka, sing was-was tiwas”
“Aja milik barang kang melok, aja mangro mundak kendo”
“Ajining raga gumantung ana ing busana, ajining dhiri dumunung ana ing lathi”.
“Alon-alon waton kelakon”.
“Ana rembug, dirembug”.
“Becik ketitik, ala ketara”.
“Dadio godhong emoh nyuwek. Dadio banyu emoh nyawuk”.
“Dhemit ora ndulit, setan ora doyan”.
“Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan”
“Golek ono Galihi Kangkung, Golek ono Rose Bumbung Wung Wang, Golek ono Susuhe
Angin, Golekono Tapake Kuntul Mabur”
“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”.
“Jer basuki mawa bea”.
“Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara”

“Murid Gurune Pribadi, Guru Muride Pribadi”

“Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”.


“Ora ubet, ora ngliwet”.
“Sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha”
“Sepi ing pamrih rame ing gawe, banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli”
“Sing prihatin bakal mimpin”
“Sing resik uripe bakal mulya”
“Sing sabar lan ngalah dadi kekasih Allah”
“Sing salah bakal seleh”.
“Suradira jayaningrat, lebur dening pangastuti”.
“Tamba teka, lara lunga”.
“Urip iku urup”
“Yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi”.

Feb 18, '08 10:18 PM


HASTABRATA - Panglipur dan Pitutur Luhur
untuk semuanya
Hastabrata merupakan pitutur yang diberikan Rama kepada
Wibisana dan dalam kisah mahabarata, Hastabrata disampaikan pada pelantikan Prabu Sri
Batara Kresno menjadi raja. Sri Kresna adalah juga sebagai penasehat pandawa.

Dalam versi Jawa, Hastabrata dapat diuraikan sebagai berikut. Hasta berarti delapan
sedangkan Brata berarti laku, watak atau sifat utama yang diambil dari sifat alam. Dengan
begitu arti Hastabrata adalah delapan laku, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh
dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin atau siapa saja yang menjadi pemimpin sebuah
institusi/organisasi/rumah tangga, bahkan sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri.

Delapan watak utama tersebut diambil dari sifat matahari, bulan, bintang, awan/mendung,
bumi, lautan, api dan angin.

Pertama sifat Matahari. Terang benderang memancarkan sinarnya dan energi tiada henti.
Segalanya diterangi, diberinya sinar cahaya tanpa pandang bulu. Sebagaimana matahari,
seorang pemimpin harus mampu memberikan pencerahan kepada rakyat, berhati-hati dalam
bertindak seperti jalannya matahari yang tidak tergesa-gesa namun pasti dalam memberikan
sinar cahayanya kepada semua makhluk tanpa pilih kasih.

Kedua sifat Bulan. Sebagai planet pengiring matahari bulan bersinar dikala gelap malam tiba,
memberikan suasana tenteram dan teduh. Sebagaimana bulan, seorang pemimpin hendaknya
rendah hati, berbudi luhur serta menebarkan suasana tentram kepada rakyat.

Ketiga sifat Bintang. Nun jauh menghiasi langit dimalam hari, menjadi penentu arah dalam
ilmu perbintangan. Seorang pemimpin harus bisa menjadi pengarah dan panutan dari segi
kesusilaan, budaya dan tingkah laku serta mempunyai konsep berpikir yang jelas. Bercita-cita
tinggi mencapai kemajuan bangsa, teguh, tidak mudah terombang-ambing, bertanggung jawab
dan dapat dipercaya.

Keempat sifat Awan atau Mendung. Seakan-akan menakutkan tetapi kalau sudah berubah
menjadi hujan merupakan berkah serta sumber penghidupan bagi semua makhluk hidup.
Seorang pemimpin harus berwibawa dan “menakutkan” bagi siapa saja yang berbuat salah
dan melanggar peraturan. Namun di samping itu selalu berusaha memberikan kesejahteraan.

Kelima sifat Bumi. Sentosa, suci, pemurah memberikan segala kebutuhan yang diperlukan
makhluk yang hidup diatasnya. Menjadi tumpuan bagi hidup dan pertumbuhan benih dari
seluruh makhluk hidup. Sebagaimana bumi, seorang pemimpin harus bersifat sentosa, suci
hati, pemurah serta selalu berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang tergambar dalam
tutur kata, tindakan serta tingkah laku sehari-hari.

Keenam sifat Lautan. Luas, tidak pernah menolak apapun yang datang memasukinya,
menerima dan menjadi wadah apa saja. Sebagaimana lautan seorang pemimpin hendaknya
luas hati dan kesabarannya. Tidak mudah tersinggung bila dikritik, tidak terlena oleh
sanjungan dan mampu menampung segala aspirasi rakyat dari golongan maupun suku mana
pun serta bersifat pemaaf.
Ketujuh sifat Api. Bersifat panas membara, kalau disulut akan berkobar dan membakar apa
saja tanpa pandang bulu, tetapi juga sangat diperlukan dalam kehidupan. Sebagaimana sifat
api, seorang pemimpin harus berani menindak siapapun yang bersalah tanpa pilih kasih
dengan berpijak kepada kebenaran dan keadilan .

Kedelapan sifat Angin. Meskipun tidak tampak tetapi dapat dirasakan berhembus tanpa henti,
merata ke seluruh penjuru dan tempat.

Itu saja yang bisa saya sampaikan, TIADA GADING YANG TAK RETAK

Wallahualam

22. Tuladha Atur Pasrah Lamaran Saking Duta Saraya


Pinangka Sullh Salira saking calon Kadang Besan

ssalamu ‘alaikum Wr. Wb.


Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, para pini sepuh ingkang pantes pinundhi,
panjenenganipun puma karya labet praja, para santana warga saking Bp ___________
sekalihan garwa (ingkang mengku gati) ingkang pantes kinurmatan para kadang wredha
mudha ingkang bagya mulya.
Amit pasang paliman tabik, ila - ila dina sinabetna ing ila duni tinebihnaa tulak sarik
dhumawahing tawang towang, mugi linepata saking siku dhendhaning Gusti Allah ingkang
Maha Kawasa, kalilanana kula matur kanthi ngadeg wonten ngarsa panjenengan sadaya
saperlu nggempil kamardikan panjenengan ingkang katemben wawan pangandikan, karana
ing kalenggahan punika kula piniji ngembani wuwus dados duta saraya miwah cundhaka sulih
saliranipun Bp ___________ sekalihan.
Tinarbuka keparenga langkung rumiyin kula ngaturaken puji syukur wonten ngarsa dalem
Gusti Allah ingkang Maha Agung, awit saking barokah saha rohmatipun ingkang tansah
kapaningaken dhumateng panjenengan sadaya dalasan kula, saengga maksih pinarengaken
kempal manunggal kanthi karaharjan tebih ing sambekala.
Sinawung raos suka ing ngajeng, keparenga kula ngaturaken wosing gati menggah pisowan
kula sakadang.
Nun inggih maligi katur wonten ngarsanipun Bp ___________ sekalihan garwa (ingkang
mengku gati) kula pinangka sulih saliranipun
Bp ___________ sekalihan ngaturaken salam taklim mugi katur wonten ngarsa panjenengan
sumrambah para kulawarga samudayanipun. Wondene wigatosing gati pisowan kula
sakadanga saperlu ngaturaken wudharing gantha babaring sedya.
Nun inggih ing nguni Bp ___________ sekalihan garwa sami - sami hanggadhahi pirembagan
ingkang ing antawisipun Bp ___________ sekalihan hanggadhahi Putra jalu kekasih pun Bg.
___________ wondene Bp ___________ sekalihan garwa (mengku gati) hanggadhahi kenya
taruni sesilih Rr ___________ gumolonging pirembagan nedya hangraketaken balung apisah
daging arenggang bebasan ngebun-ebun enjang anjejawah sonten ndhodhok latar dhodhog
lawang sumedya nginang jambe suruhe, kanthi atur mekaten karana sampun jumbuh
anggenipun pepetangan, saha sampun manunggal cipta, rasa miwah karsa, agenging manah
ingkang tanpa pepindhan Bp ___________ sekalihan anggenya sampun katampi
panglamaripun pramila ing kalenggahan punika Bp ___________ sekalihan ngaturaken sarana
miwah upakarti pinangla jangkeping tatacara salaki rabi.
Nun inggih perlu kula aturaken mriki ingkang badhe kaaturaken wonten ngarsanipun Bp
___________ sekalihan garwa.
Sanggan saha majemuk ingkang sampun wonten wujudipun kanthi pangajabing sedya dadosa
sarana sahipun sesanggeman miwah raketing kekadangan temah mboten saget pisah salami -
laminipun.
Kasoking katresnanipun Bp ___________ sekalihan dhumateng
Bp ___________ sekalihan garwa ing mriki badhe ngaturaken malih ageman ingkang awujud
___________ ing pangajab pinangka agemanipun badhe / calon penganten putri.
mBoten kekilapan Bp ___________ sekalihan ngaturaken redana wujuding arta kenginga
damel ngentheng - enthengi anggenipun
Bp ___________ sekalihan garwa (mengku gati) netepi darmaning sepuh miwaha siwi
mahargya suta.
Amung panyuwunipun Bp ___________ sekalihan, mugi keparenga calon penganten
kadhaupna saha kapanggihna miturut satataning agami miwah adat ingkang sampun
lumampah ing tlatah kampung mriki. Hambok bilih Bp ___________ sekalihan anggenipun
ngaturaken sarana wonten kekiranganipun labet budi dayaning manungsa kirang sampurna,
mila awit saking punika Bp ___________ sekalihan garwa (mengku gati) mugi hangandhapna
samodra pangaksama ingkang agung.
Pepuntoning atur kula minangka ulih salira saking Bp ___________ sekalihan menawi
wonten gonyak - ganyuking wicara kiranging suba sita ingkang singlar ing reh tata krama
miwah kasusilan, mugi diagung pangaksama panjenengan sadaya.
Ing wasana Wabillahi taufiq wal hidayah Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

SESAJI DALAM PERNIKAHAN JAWA


Senin, Maret 12, 2012

9 Views

"Sesaji dalam pernikahan Jawa".

Sampai saat ini adat dan budaya Jawa masih tetap eksis dalam
masyarakat, seperti tampak dalam gambar disamping (diambil
hari Minggu, 11 Maret 2012 | 14:19 WIB) sebuah sesaji ditaruh
di bawah kotak sumbangan dalam suatu acara pernikahan di
suatu desa di Kabupaten Magetan.
Tentu suatu perbuatan tergantung kepada niatnya masing-masing.
Ketika melihat sesaji tersebut, mungkin saja terlintas dalam
pikiran kita bahwa itu termasuk klenik, bid'ah, takhayul,
irasional, tidak ada tuntunannya dalam syariat dan sebagainya.

Sesaji yang berisi antara lain buah Kelapa, Pisang, Telur, dan
makanan tersebut hanyalah simbol yang mengandung makna
tersurat dan tersirat sebagai pelajaran bagi orang disekitarnya.
Penempatan sesaji tersebut tentu disertai dengan doa mohon
keselamatan kepada Alloh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mengapa yang dipilih buah Kelapa, bukan buah Mangga atau


Rambutan, Duku, Salak, Kelengkeng, Jeruk, Apel, Strawberry ?
Mengapa yang dipilih buah Pisang, bukan buah yang lain ?
Mengapa dipilih Telur, bukan yang lain ? Mengapa ada
makanannya disitu ?

Siapakah yang memberi contoh dan wejangan isi sesaji tersebut


dahulunya ? Apakah di jaman para Walisanga ritual seperti itu
sudah ada dan akhirnya dipertahankan secara turun temurun
sampai sekarang ? Masih adakah adat seperti itu di tempat
tinggal pembaca ?

Mari kita kupas bersama makna dari isi sesaji dalam pernikahan
Jawa tersebut. Isi sesaji tersebut hanyalah simbol dan isyarat
untuk mengingatkan kita yang terkadang lupa, bukan sebagai
bentuk persembahan kepada jin, setan, tuyul, makhluk halus dan
lainnya.

Melalui buah Kelapa tersebut, tuan rumah yang menggelar hajat


pernikahan, kedua temanten, panitia dan tamu undangan
diingatkan kembali tentang ilmu agama yang pernah mereka
terima. Ilmu agama tersebut diumpamakan laksana buah Kelapa
yang bila tidak kita kupas dan tidak dipecah batoknya, maka
selamanya kita tidak akan pernah menemukan kelapanya, lebih-
lebih santannya dan minyak kelapanya. Begitu juga ilmu agama
yang kita dapatkan mempunyai pengertian yang berlapis-lapis.
Bila kita hanya berhenti pada kulitnya saja atau luarnya saja,
maka tentu saja kita tidak akan pernah tahu isinya buah Kelapa.
Kita hanya tahu dan mendapatkan sabutnya saja.

Dengan buah Pisang tersebut, seluruh hadirin yang menghadiri


resepsi pernikahan tersebut diingatkan kembali tentang
perjuangan hidup ini. Pohon Pisang tidak mau mati sebelum
berbuah. Buahnya bermanfaat bagi manusia. Sebelum mati,
pohon Pisang telah meninggalkan banyak anakan sebagai
penerusnya. Kita diingatkan melalui sesaji tersebut jadilah
seperti pohon Pisang. Sebelum meninggalkan dunia yang fana
ini, tinggalkan ilmu atau karya atau sesuatu lainnya yang
bermanfaat bagi orang lain. Disamping itu, tidak lupa
mempersiapkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan
kita di dunia ini.

Melalui telur dalam sesaji tersebut, kita diingatkan kembali tentang


asal usul dalam kehidupan ini. Dari telur dapat menetas menjadi
anak ayam, bebek, angsa dan sebagainya. Semula anak ayam
tersebut tidak ada kemudian ada dan hidup di dunia ini. Sebelum
hidup di dunia ini, manusia itu berasal dari mana ? Setelah
meninggal dunia, manusia itu akan kemana ? Apakah telur itu
ada dengan sendirinya / tidak ada yang menciptakan ? Apakah
manusia itu ada dengan sendirinya / tidak ada yang
menciptakan ? Apakah alam semesta ini ada dengan sendirinya /
tidak ada yang menciptakan ? Siapakah yang menciptakan alam
semesta ini ?

Makanan dalam sesaji tersebut jumlahnya cukup dalam keadaan


bersih, terpilih dan halal. Melalui sesaji tersebut, seluruh hadirin
utamanya kedua temanten yang akan mengarungi samudra
kehidupan rumah tangga hendaknya bijak dalam menyikapi
tentang makanan. Mencari rejeki dengan cara yang baik dan
halal. Bukan dengan jalan yang tidak baik dan merugikan orang
lain. Ketika makan, maka akan berhenti sebelum kenyang. Tidak
akan makan, sebelum merasa lapar. Makanan dalam sesaji
tersebut dibungkus dengan rapi. Kita diingatkan, ketika
mempunyai rejeki yang cukup tidak lupa dengan fakir miskin
dan yatim piatu dengan memberikan bantuan dan santunan.
Jadi sebenarnya sesaji dalam pernikahan Jawa tersebut hanyalah
simbol-simbol pengingat bagi kita yang masih hidup di dunia ini.
Isi sesaji tersebut berbicara kepada kita dengan bahasa isyarat.
Dapatkah kita mendengar dan menangkap isyaratnya ? Bukan
sebagai bentuk persembahan kepada jin, setan, tuyul, makhluk
halus dan sebagainya. Pernikahan adalah salah satu momen
penting dalam perjalanan hidup ini. Semuanya tentu
menginginkan sukses dalam hidup ini. Selamat dan sejahtera
dalam hidup ini. Tidak ada yang ingin celaka dan gagal dalam
hidup ini. Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya
kepadaMu kami mohon pertolongan.

Magetan, 18 Robiul Akhir 1433 H

Upacara Perkawinan Tradisional Jawa


Hubungan cinta kasih wanita dengan pria, setelah melalui proses
dan pertimbangan , biasanya dimantapkan dalam sebuah tali
perkawinan, hubungan dan hidup bersama secara resmi selaku
suami istri dari segi hukum, agama dan adat..

Di Jawa seperti juga ditempat lain, pada prinsipnya perkawinan


terjadi karena keputusan dua insan yang saling jatuh [Link]
merupakan hal yang prinsip. Meski ada juga perkawinan yang
terjadi karena dijodohkan orang tua yang terjadi dimasa
[Link] orang-orang tua zaman dulu berkilah melalui
pepatah : Witing tresno jalaran soko kulino, artinya : Cinta
tumbuh karena terbiasa.

Di Jawa dimana kehidupan kekeluargaan masih kuat, sebuah


perkawinan tentu akan mempertemukan dua buah keluarga
besar. Oleh karena itu, sesuai kebiasaan yang berlaku, kedua
insan yang berkasihan akan memberitahu keluarga masing-
masing bahwa mereka telah menemukan pasangan yang cocok
dan ideal untuk dijadikan suami/istrinya.
Bibit, Bebet, Bobot

Secara tradisional, pertimbangan penerimaan seorang calon


menantu berdasarkan kepada bibit, bebet dan bobot.
Bibit :artinya mempunyai latar kehidupan keluarga yang baik.
Bebet : calon penganten, terutama pria, mampu memenuhi
kebutuhan keluarga.
Bobot : kedua calon penganten adalah orang yang berkwalitas,
bermental baik dan berpendidikan cukup.
Biasanya setelah kedua belah pihak orang tua atau keluarga
menyetujui perkawinan, maka dilakukan langkah-langkah
selanjutnya, menurut kebiasaan adalah sebagai berikut :

Pinangan

Biasanya yang melamar adalah pihak calon penganten [Link]


masa lalu, orang tua calon penganten pria mengutus salah
seorang anggota keluarganya untuk meminang. Tetapi kini,
untuk praktisnya orang tua pihak lelaki bisa langsung meminang
kepada orang tua pihak wanita . Bila sudah diterima, langsung
akan dibicarakan langkah-langkah selanjutnya sampai terjadinya
upacara perkawinan.

Hal-hal yang perlu dibicarakan antara lain meliputi :


Tanggal dan hari pelaksanaan perkawinan, ditentukan kapan
pernikahannya, jam berapa, biasanya dicari hari [Link] hari
pernikahan sudah ditentukan, upacara lain yang terkait seperti :
peningsetan, siraman, midodareni, panggih , resepsi dll, tinggal
disesuaikan.

Tidak kurang penting adalah pemilihan seorang pemaes, juru rias


penganten [Link] upacara perkawinan tradisional,
peran seorang perias temanten sangat besar, karena dia beserta
asisten-asistennya akan membimbing, paling tidak memberitahu
seluruh pelaksanaan upacara, lengkap dengan sesaji yang
[Link] pemaes yang kondang, mumpuni dan ahli
dalam bidangnya ,biasanya juga punya jadwal yang ketat, karena
laris, diminta merias dibanyak tempat, terlebih dibulan-bulan
baik menurut perhitungan kalender Jawa. Oleh karena itu, perias
temanten harus dipesan jauh hari.

Perlu diprioritaskan pula pemilihan tempat untuk pelaksanaan


upacara perkawinan itu. Misalnya dimana tempat akad nikah,
temu manten dan resepsinya. Apakah akan dilaksanakan
dirumah, disebuah gedung pertemuan atau dihotel.

Dalam pelaksanaan perkawinan adat Jawa, pihak calon penganten


wanita secara resmi adalah yang punya gawe, pihak pria
[Link] pelaksanaan upacara perkawinan , apakah
sederhana, sedang-sedang saja atau pesta besar yang
mengundang banyak tamu dan lengkap dengan hiburan, secara
realitas itu tentu tergantung kepada anggaran yang tersedia. Pada
saat ini kedua pihak sudah lebih terbuka membicarakan budget
tersebut.

Kesibukan dirumah calon penganten putri

Yang lebih sibuk memang pihak orang tua calon penganten wanita.
Hal-hal yang mesti dilakukan adalah :
Mengundang keluarga terdekat untuk membicarakan dan
menyiapkan seluruh proses [Link] tradisi dibentuk
sebuah panitya yang terdiri dari anggota keluarga dan kenalan
dekat dan masing-masing mempunyai tugas yang [Link] yang
penting pula adalah penunjukkan pihak yang bertanggungjawab
tentang konsumsi, Catering mana yang akan
[Link] catering berdasarkan pengalaman
penting sekali, harus yang baik dan bertanggungjawab dan
servicenya memuaskan.

Pada masa kini, dengan pertimbangan praktis,ada keluarga yang


punya hajat,menunjuk seluruh pelaksanaan upacara diserahkan
kepada Event Organizer yang profesional.
Mungkin penunjukan Event Organizer dimaksud supaya tidak
merepotkan keluarga yang lain, ada baiknya. Tetapi perlu diingat
bahwa upacara perkawinan tradisional itu adalah juga sebuah
acara untuk keluarga, menyangkut segi sosial, dimana para tamu
selain hadir untuk memberi selamat kepada kedua temanten ,
juga untuk mempererat persaudaraan dan persahabatan antara
pihak pengundang dan yang [Link] banyak
kejadian,sebuah upacara perkawinan tradisional yang
dikendalikan sepenuhnya oleh Event Organizer terasa kaku ,
meski mereka melaksanakan benar sesuai prosedur langkah-
langkah yang dilaksanakan. Yang hilang dari upacara itu adalah
“roh” dari upacara ritual tersebut.

Oleh karena itu, beberapa pelestari budaya Jawa yang mau


mengerti “segi kepraktisan zaman “ berpendapat sebaiknya
untuk pelaksanaan hal-hal inti, meski ada Event Organizer, tetap
harus ada anggota keluarga yang terlibat. Bagaimanapun ,
keluarga yang punya gawe harus membentuk panitya kecil
praktis yang mampu mengarahkan dan membantu dan kalau
perlu meluruskan kerja para personil Event Organizer tersebut.
Pemasangan Bleketepe dan Tarub

Sehari sebelum upacara perkawinan, rumah orang tua mempelai


wanita dipasangi tarub dan bleketepe dipintu masuk halaman
[Link] gapura yang dihiasi tarub yang terdiri dari berbagai
tuwuhan ,yaitu tanaman dan dedaunan yang punya arti simbolis.

Dikiri kanan gapura dipasang pohon pisang yang sedang berbuah


pisang yang telah matang.

Artinya : Suami akan menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan


[Link] pohon pisang yang bisa tumbuh baik
dimanapun dan rukun dengan lingkungan, keluarga baru ini juga
akan hidup bahagia, sejahtera dan rukun dengan lingkungan
sekitarnya.
Sepasang tebu wulung, pohon tebu yang berwarna kemerahan,
merupakan simbol mantapnya kalbu, pasangan baru ini akan
membina dengan sepenuh hati keluarga mereka.

Cengkir gading- kelapa kecil berwarna kuning, melambangkan


kencangnya-kuatnya pikiran baik, sehingga pasangan ini dengan
sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan bersama yang saling
mencinta.

Berbagai macam dedaunan segar seperti : beringin,


mojokoro,alang-alang,dadap srep, merupakan harapan supaya
pasangan ini hidup dan tumbuh dalam keluarga yang selalu
selamat dan sejahtera.

Anyaman daun kelapa yang dinamakan bekletepe digantungkan


digapura depan rumah, ini dimaksudkan untuk mengusir segala
gangguan dan roh jahat dan sekaligus menjadi pertanda bahwa
dirumah ini sedang dilakukan upacara perkawinan.

Sesaji khusus diadakan sebelum pemasangan tarub dan bekletepe,


yang terdiri dari : nasi tumpeng, berbagai macam buah-buahan
termasuk pisang dan kelapa, berbagai macam lauk pauk,kue-kue,
minuman, bunga, jamu, tempe, daging kerbau, gula kelapa dan
sebuah lentera.

Sesaji ini melambangkan permohonan supaya mendapatkan berkah


dari Tuhan, Gusti dan restu dari para leluhur dan sekaligus
sebagai sarana untuk menolak goda mahluk-mahluk halus jahat.

Sesaji ditempatkan dibeberapa tempat dimana prosesi upacara


perkawinan dilaksanakan seperti didapur, kamar mandi, pintu
depan, dibawah tarub, dijalan dekat rumah dll.

Upacara-upacara sebelum pernikahan

Siraman
Siraman dari asal kata siram ,artinya mandi. Sehari sebelum
pernikahan, kedua calon penganten disucikan dengan cara
dimandikan yang disebut Upacara Siraman. Calon penganten
putri dimandikan dirumah orang tuanya, demikian juga calon
mempelai pria juga dimandikan dirumah orang tuanya.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk Siraman :
Persiapan tempat untuk siraman, apakah dilakukan dikamar mandi
atau dihalaman rumah belakang atau samping.
Daftar orang-orang yang akan ikut memandikan. Sesuai tradisi
selain kedua orang tua temanten, eyang temanten , beberapa
pinisepuh . Yang diundang untuk ikut memandikan adalah
mereka yang sudah sepuh, sebaiknya sudah punya cucu dan
punya reputasi kehidupan yang baik.
Sejumlah barang yang diperlukan seperti : tempat air, gayung,
kursi, kembang setaman, kain, handuk, kendi dsb.
Sesaji untuk siraman, ada lebih dari sepuluh macam, diantaranya
adalah seekor ayam jago.
Pihak keluarga penganten putri mengirimkankan sebaskom air
kepada pihak keluarga penganten pria. Air itu disebut air suci
perwitosari artinya sari kehidupan, yaitu air yang dicampur
dengan beberapa macam bunga,yang ditaruh dalam wadah yang
bagus , untuk dicampurkan dengan air yang untuk memandikan
penganten pria.

Pihak terakhir yang memandikan penganten adalah pemaes, yang


menyirami calon penganten dangan air dari sebuah kendi. Ketika
kendi telah kosong, pemaes atau seorang pinisepuh yang
ditunjuk, membanting kendi dilantai sambil berkata : Wis pecah
[Link] calon penganten yang cantik atau gagah sekarang
sudah siap untuk kawin.
Upacara siraman selesai dan calon penganten dengan memakai
kain batik motif grompol dan ditutupi tubuhnya dengan kain
batik motif nagasari, dituntun kembali keruang [Link]
temanten putri akan dikerik oleh pemaes.
Upacara Ngerik

Ngerik artinya rambut-rambut kecil diwajah calon pengantin


wanita dengan hati-hati dikerik oleh [Link] penganten
putri dikeringkan kemudian diasapi dengan ratus/dupa wangi.
Perias mulai merias calon penganten . Wajahnya dirias dan
rambutnya digelung sesuai dengan pola upacara perkawinan
yang telah ditentukan.

Sesudah selesai, penganten didandani dengan kebaya yang bagus


yang telah disiapkan dan kain batik motif sidomukti dan
sidoasih, melambangkan dia akan hidup makmur dan dihormati
oleh sesama.

Malam itu, ayah dan ibu calon mempelai putri memberikan suapan
terakhir kepada putrinya, karena mulai besok, dia sudah berada
dibawah tanggung jawab suaminya.

Sesaji untuk ngerik sama dengan sesaji siraman. Jadi untuk


praktisnya, seluruh sesaji siraman dibawa masuk kekamar
pelaminan dan menjadi sesaji untuk ngerik.

Upacara Midodareni

Pada upacara midodareni yang berlangsung dimalam hari sebelum


Ijab dan Temu Manten/Panggih di keesokkan harinya, kedua
orang tua calon mempelai pria beserta calon mempelai pria,
diantar oleh keluarga dekatnya, berkunjung kerumah orang tua
calon mempelai putri.
Calon mempelai putri setelah dirias dikamar pelaminan, nampak
cantik sekali bagai widodari, bidadari, dewi dari kahyangan.

Sesuai kepercayaan kuno, malam itu mempelai putri ditemani oleh


beberapa dewi cantik dari kahyangan. Malam itu dia harus
tinggal dikamar dan tidak boleh tidur dari jam 6/enam sore
sampai tengah [Link] ibu sepuh menemani dan
memberikan nasihat-nasihat berharga.

Keluarga calon mempelai pria yang wanita, yang datang dimalam


midodareni, boleh menengok calon mempelai wanita yang sudah
didandani cantik, siap untuk nikah esok harinya.

Sesuai adat, dikamar pelaminan ada sesaji khusus untuk upacara


midodareni, ada sebelas macam makanan dan barang; selain itu
ada 7/tujuh macam barang yang lain .

Upacara diluar kamar pelaminan

Dimalam midodareni, orang tua dan keluarga calon penganten


putri, menerima kunjungan dari orang tua dan keluarga dari
calon penganten pria. Mereka duduk didalam rumah, saling
berkenalan dan bersantap bersama. Calon penganten pria juga
datang, tetapi dia tidak boleh masuk rumah dan hanya boleh
duduk diserambi depan rumah. Diapun hanya disuguhi segelas
air minum, tidak boleh makan atau minum yang [Link] konon
untuk melatih kesabaran seorang suami dan kepala keluarga.

Srah-srahan atau Peningsetan

Dalam upacara midodareni, bisa dilakukan srah-srahan atau


peningsetan.( Pada zaman dulu, peningsetan dilakukan sebelum
malam midodareni). Orang tua dan keluarga calon penganten
pria memberikan beberapa barang kepada orang tua calon
penganten wanita.
Peningsetan dari kata singset, artinya mengikat erat, dalam hal ini
terjadinya komitmen akan sebuah perkawinan antara putra putri
kedua pihak dan para orang tua penganten akan menjadi besan.

Pemberian itu berupa : Satu set suruh ayu sebagai perlambang


harapan tulus supaya mendapatkan keselamatan. Seperangkat
pakaian untuk penganten wanita , termasuk beberapa kain batik
dengan motif yang melambangkan kebahagiaan hidup. Tidak
boleh ketinggalan sebuah stagen, ikat pinggang kain putih yang
besar dan panjang, sebagai pertanda kuatnya [Link]
hasil bumi a.l. beras, gula, garam, minyak goreng, buah-buahan
dlsb sebagai pralambang hidup kecukupan dan sejahtera bagi
keluarga baru..

Sepasang cincin kawin untuk kedua mempelai.


Pada kesempatan ini, pihak calon mempelai pria menyerahkan
sejumlah uang, sebagai sumbangan untuk pelaksanaan upacara
[Link] hanya formalitas belaka, karena urunan uang
sudah diberikan jauh hari sebelumnya.

Sesudah bersantap bersama dan saling berkenalan, seluruh


keluarga rombongan orang tua temanten pria berpamitan untuk
pulang. Mereka perlu mempersiapkan diri untuk besok yaitu
pelaksanaan upacara perkawinan yang penting termasuk
pernikahan secara agama, Upacara adat temu manten dsb.

Catatan : Menurut adat perkawinan Surakarta, sewaktu rombongan


tamu berpamitan pulang, pihak tuan rumah memberikan angsul-
angsulan , berupa buah-buahan, kue-kue dan seperangkat
pakaian temanten pria yang akan dipakai besok. Pada adat
perkawinan gaya Yogyakarta, tidak ada angsul-angsulan.

Nyantri

Sewaktu rombongan keluarga temanten pria pulang dari upacara


midodareni, calon penganten pria juga ikut diajak [Link],
bila calon mempelai pria nyantri, maka dia ditinggal dirumah
calon [Link] nyantri sebelumnya sudah dibicarakan
dan disetujui kedua pihak. Begini tata caranya : Orang tua calon
mempelai pria melalui jurubicara keluarga mengatakan kepada
orang tua calon mempelai wanita, bahwa calon mempelai pria
tidak diajak pulang dan menyerahkan tanggung jawab kepada
orang tua calon mempelai putri.

Setelah keluarganya pulang, ditengah malam dia dipersilahkan


masuk rumah untuk makan, tidak boleh ketemu calon istrinya
dan sesudah itu diantar kekamar tidur untuk beristirahat.

Nyantri dilaksanakan untuk segi praktisnya, mengingat besok pagi


dia sudah harus didandani untuk pelaksanaan ijab
kabul/pernikahan. Juga untuk keamanan pernikahan, kedua calon
mempelai sudah berada disatu tempat

Pelaksanaan Ijab

Ijab adalah hal paling penting untuk melegalisir sebuah


perkawinan. Ijab atau perkawinan dilaksanakan sesuai dengan
agama yang dianut kedua penganten, bisa Islam, Kristen,
Katolik, Hindu, Budha, Konghucu.

Kini, warga Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha


Esa, perkawinannya juga diakui sah oleh negara sesuai dengan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006
tentang Administrasi Kependudukan dan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan.
Persiapan untuk pernikahan/ Ijab, harus benar-benar cermat,
supaya lancar dan aman.

Sesudah Ijab selesai, artinya temanten sudah sah sebagai suami


istri. Tentu hati rasanya “plong”, orang tua dan keluarga kedua
pihak juga lega.

Upacara Panggih atau Temu Penganten.

Secara tradisional Upacara Panggih atau Temu Penganten


dilaksanakan dirumah orang tua penganten putri.

Pada saat yang telah ditentukan, penganten pria diantar oleh


saudara-saudaranya kecuali kedua orang tuanya yang tidak
boleh hadir dalam upacara ini, tiba didepan rumah pengantin
putri dan berhenti didepan pintu rumah. Sementara itu, pengantin
wanita dengan dikawal saudara-saudaranya dan diikuti kedua
orang tuanya, menyongsong kedatangan rombongan pengantin
pria dan berhenti dipintu rumah depan

Didepan pengantin wanita, dua gadis kecil yang disebut patah


membawa kipas. Dua anak laki-laki muda atau dua orang ibu,
masing-masing membawa sebuah rangkaian bunga khusus yang
namanya kembar [Link] ibu pengiring pengantin pria
maju dan memberikan Sanggan kepada ibu pengantin putri
sebagai tanda penghormatan untuk penyelenggaraan upacara
perkawinan. Sanggan itu berupa buah pisang yang dibungkus
rapi dengan daun pisang dan ditaruh diatas nampan.

Pada waktu upacara panggih, kembar mayang dibawa keluar


rumah dan dibuang diperempatan jalan dekat rumah atau didekat
berlangsungnya upacara perkawinan, maksudnya supaya upacara
berjalan selamat dan tidak ada gangguan apapun dan dari pihak
manapun.
Balangan suruh

Kedua penganten bertemu dan berhadapan langsung pada jarak


sekitar dua atau tiga meter, keduanya berhenti dan dengan sigap
saling melempar ikatan daun sirih yang diisi dengan kapur sirih
dan diikat dengan benang. Ini yang disebut ritual balangan suruh.

Kedua penganten dengan sungguh-sungguh saling melempar


sambil tersenyum, diiringi kegembiraan semua pihak yang
menyaksikan. Menurut kepercayaan kuno, daun sirih punya daya
untuk mengusir roh jahat. Sehingga dengan saling melempar
daun sirih, kedua pengantin adalah benar-benar pengantin sejati,
bukan palsu.

Ritual Wiji Dadi

Penganten pria menginjak sebuah telur ayam kampung hingga


pecah dengan telapak kaki kanannya, kemudian kaki tersebut
dibasuh oleh penganten putri dengan air kembang.

Pralambang nya : rumah tangga yang dipimpin seorang suami yang


bertanggung jawab dengan istri yang baik, tentu menghasilkan
hal yang baik pula termasuk anak keturunan.

Ritual memecah telur ini ada versi lain dari Yogyakarta,


pelaksanaannya sebagai berikut :

Pengantin pria dan wanita berdiri berhadapan tepat. Telapak kaki


kanan mempelai pria dibasuh dengan air kembang oleh
mempelai putri dengan sikap jongkok. Perias temanten sebagai
pembimbing upacara, memegang telur ayam kampung itu
ditangan [Link] telur tersebut oleh perias ditempelkan
pada dahi pengantin pria dan kemudian pada dahi pengantin
[Link] telur itu dipecah oleh perias diatas tumpukan
bunga yang berada diantara kedua pengantin Ini penggambaran
kedua pengantin sudah mantap dalam satu pikiran, sadar saling
kasih membina rumah tangga yang bahagia sejahtera dan
menghasilkan anak keturunan yang baik-baik

Ritual Kacar Kucur atau Tampa Kaya.

Sepasang pengantin dengan bergandengan dengan jari kecilnya


berjalan menuju depan krobongan, tempat dimana upacara tampa
kaya [Link] kacar kucur ini menggambarkan : suami
memberikan seluruh penghasilannya kepada istri. Dalam ritual
ini suami memberikan kepada istri : kacang, kedelai, beras,
jagung, nasi kuning, dlingo bengle, beberapa macam bunga dan
uang logam dengan jumlah [Link] menerima dengan
segenap hati dengan selembar kain putih yang ditaruh diatas
selembar tikar tua yang diletakkan diatas pangkuannya. Artinya
istri akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan berhati-hati

Catatan : Pada masa dulu, ritual tampa kaya , dhahar kembul dll,
memang dilakukan didepan krobongan yang ada disenthong
tengah ( Ruang tengah rumah kuno yang biasa dipakai untuk
melakukan sesaji). Pada masa kini, ritual tersebut tetap diadakan
meskipun upacara perkawinan diadakan digedung pertemuan
atau hotel. Dekorasi dibelakang kursi temanten adalah ukiran
kayu yang berbentuk krobongan. Ini untuk mengikuti
perkembangan zaman dan sekaligus tetap melestarikan tradisi.

Ritual Dhahar Klimah atau Dhahar Kembul


Dengan disaksikan orang tua pengantin putri dan kerabat dekat,
sepasang pengantin makan bersama, saling menyuapi. Mempelai
pria membuat tiga kepal nasi kuning dengan lauknya berupa
telor goreng,tempe, kedelai, abon, ati ayam. Lalu ia menyuapkan
kepada istrinya, sesudah itu ganti sang istri menyuapi suaminya,
diakhiri dengan minum teh manis bersama. Ini melambangkan
bahwa mulai saat ini keduanya akan mempergunakan dan
menikmati bersama apa yang mereka punyai.

Mertui atau Mapag Besan

Kedua orang tua pengantin putri menjemput kedua orang tua


pengantin pria didepan rumah ( untuk perkawinan digedung
menjemputnya didepan ruangan tempat berlangsungnya acara
ritual) dan mempersilahkan mereka masuk rumah/ ruangan
tempat upacara, selanjutnya mereka berjalan bersama menuju
ketempat upacara. Ibu-ibu berjalan didepan, bapak-bapak
mengiringi dari belakang. Kedua orang tua pengantin pria
didudukkan sebelah kiri pengantin, orang tua pengantin putri
duduk disebelah kanan penganten.

Upacara Sungkeman

Sepasang pengantin melakukan sungkem kepada kedua belah


pihak orang tua. Mula-mula kepada orang tua pengantin wanita
kemudian kepada orang tua pengantin pria. Sungkem adalah
merupakan bentuk penghormatan tulus kepada orang tua dan
pinisepuh.

Pada waktu sungkem ( menghormat dengan posisi jongkok , kedua


telapak tangan menyembah dan mencium lutut yang di-
sungkemi), keris yang dipakai pengantin pria dilepas dulu dan
dipegangi oleh perias, sesudah selesai sungkem , keris dikenakan
kembali.

Orang tua dengan haru menerima penghormatan berupa sungkem


dari putra putrinya dan pada waktu yang bersamaan juga
memberikan restunya supaya keduanya menempuh hidup rukun,
sejahtera. Tanpa mengucapkan kata-kata itu, sebenarnya para
orang tua pengantin sudah memberikan restu yang dilambangkan
dari kain batik yang dikenakan yang polanya truntum , artinya
punyailah rejeki yang cukup selama hidup. Kedua orang tua juga
menggunakan ikat pinggang besar yang namanya sindhur
dengan pola gambar dengan garis yang melekuk-lekuk, artinya
orang tua mewanti-wanti kedua anaknya supaya selalu bertindak
hati-hati, bijak dalam menjalani kehidupan nyata didunia ini.

Ritual lain

Upacara-upacara diatas adalah tradisi yang berlaku di Yogyakarta,


didaerah Surakarta dan lainnya masih ada tambahan ritual yang
lain.

Sindhur Binayang
Sesudah ritual Wiji Dadi, ayah pengantin putri berjalan didepan
kedua temanten menuju ke kursi pengantin didepan krobongan,
sedangkan ibu pengantin putri berjalan dibelakang kedua
temanten, sambil menutupi pundak kedua pengantin dengan kain
sindhur. Ini melambangkan , sang ayah menunjukkan jalan
menuju ke kebahagiaan, sang ibu mendukung.

Timbang
Kedua penganten bersama-sama duduk dipangkuan ayahanda
pengantin putri. Sesudah menimbang-nimbang sejenak,
ayahanda berkata : Sama beratnya, artinya ayah mencintai
keduanya , sama , tidak dibedakan.
Tanem
Selanjutnya, ayah mendudukkan sepasang pengantin dikursi
mahligai perkawinan. Itu untuk memperkuat persetujuannya
terhadap perkawinan itu dan memberikan restunya.

Bubak Kawah
Ayah pengantin putri, sesudah upacara Panggih, minum rujak
degan/ kelapa muda didepan krobongan. Istrinya bertanya :
Bagaimana Pak rasanya? Dijawab : Wah segar sekali, semoga
orang serumah juga segar. Lalu istrinya ikut mencicipi minuman
tersebut sedikit dari gelas yang sama, diikuti anak menantu dan
terakhir pengantin wanita. Ini merupakan perlambang
permohonan supaya pengantin segera dikaruniai keturunan.

Tumplak Punjen
Ritual ini dilakukan oleh orang tua yang mengawinkan putrinya
untuk terakhir kali. Tumplak artinya menuang atau memberikan
semua, punjen adalah harta orang tua yang telah dikumpulkan
sejak mereka berumah tangga.

Dalam ritual ini, orang tua yang berbahagia, didepan krobongan,


memberikan miliknya( punjen) kepada semua anak-anak dan
keturunannya. Secara simbolis kepada masing-masing diberikan
sebuah bungkusan kecil yang berisi bumbu-bumbu,nasi
kuning,uang logam dari emas, perunggu dan tembaga dll.

Dengan mengadakan tumplak punjen, orang tua ingin memberi


teladan kepada anak keturunannya,bahwa mereka sudah purna
tugas dan supaya generasi penerus selalu menyukuri karunia
Tuhan dan mampu melaksanakan tugas hidupnya dengan baik
dan benar.

Tukar Kalpika
Pengantin melakukan tukar cincin sebagai tanda kasih dan
keterikatan suami istri yang sah.

Resepsi Perkawinan

Sesudah seluruh rangkaian upacara perkawinan selesai, dilakukan


resepsi, dimana kedua temanten baru, dengan diapit kedua belah
pihak orang tua, menerima ucapan selamat dari para tamu.

Dalam acara resepsi, hadirin dipersilahkan menyantap hidangan


yang sudah disediakan, sambil beramah tamah dengan kerabat
dan kenalan. Ada kalanya, sebelum resepsi dimulai, diadakan
pementasan fragmen tari Jawa klasik yang sesuai untuk
perkawinan seperti fragmen Pergiwo Gatotkaca atau tari
Karonsih, yang melukiskan hubungan cinta kasih wanita dan
pria.

Upacara Perkawinan di Karaton

Tidak bisa dipungkiri bahwa karaton-karaton di Jawa, terutama


Yogyakarta dan Surakarta merupakan sumber dan benteng
budaya Jawa yang masih eksis dan tetap aktif melestarikan
warisan budaya leluhur.
Pada masa kini, upacara perkawinan adat di karaton dan luar
karaton, pada intinya sama. Hanya saja di Karaton masih ada lagi
ritual yang biasanya tidak dilakukan diluar , antara lain:

Ngapeman

Dikaraton Ngayogyakarta, sebelum malam midodareni, Sri Sultan


Hamangubuwono X dan permaisuri dibantu oleh beberapa putri
karaton dan wanita abdi dalem, membuat kue apem di Bangsal
Keputren.

Tantingan

Sri Sultan Hamangkubuwono X didampingi permaisuri, sebelum


pelaksanaan Ijab, menanyakan kepada putrinya yang akan
menikah, apakah benar-benar menghendaki untuk dinikahkan
dengan calon mempelai pria.
Kelompok “edan-edanan”

Sewaktu prosesi perkawinan di Karaton Surakarta dan Yogyakarta,


yaitu ketika pengantin dan rombongan pengiring berjalan
menuju kekursi tempat resepsi perkawinan, barisan iring-
iringan dipimpin oleh seorang Suba Manggala sebagai cucuk
lampah, pembuka jalan terdepan yang melangkahkan kaki
dengan gerak tari mengikuti iringan gamelan. Dibelakang
pengantin yang bergandengan tangan dan berjalan anggun,
berjalan dua gadis kecil yang disebut patah dengan dandanan
cantik. Diikuti beberapa penari berpakaian bagus-bagus sambil
menari menghibur [Link] adalah bapak ibu
kedua mempelai dan para saudara mempelai. Pada prosesi
pengantin di karaton Jogja dan Solo, masih ada rombongan
tambahan, yaitu kelompok “edan-edanan” ( edan artinya gila),
yang terdiri dari beberapa orang cebol, berbadan tidak normal
dengan riasan aneh-aneh dan mencolok dan menari dengan
gerakan lucu.

Kelompok edan-edanan ini untuk tolak bala, mengusir semua


gangguan berujud apapun termasuk roh jahat

Disengker.
Calon mempelai di karaton, beberapa hari sebelumnya diharuskan
sudah berada dilingkungan karaton dan tidak boleh
keluar,istilahnya disengker.
Bahasa Simbol (Makna Bunga)

Mengenal Berbagai Simbol Penghormatan

Dalam falsafah hidup Jawa, berbakti kepada kedua orang tua dan
para leluhur yang menurunkan adalah suatu ajaran yang
diagungkan. Orang Jawa yang memahami hakekat hidup,
tentunya akan sangat memahami apabila kesuksesan lahir dan
batin tak akan bisa diraih apabila kita menjadi seorang anak atau
generasi penerus yang durhaka kepada orang tua dan para
leluhur yang menurunkannya. Ungkapan rasa berbakti, tidak
hanya diucapkan dalam ikrar doa-doa puji-pujian yang ditujukan
kepada leluhurnya. Lebih dari itu, harus ada langkah konkrit
sebagaimana telah saya posting dalam thread terdahulu dengan
judul “Membangun Laku Prihatin yang Pener dan Pas” dan
Hubungan Leluhur dengan Kembalinya Kejayaan Nusantara.
Salah satu wujud konkrit rasa berbakti tersebut adalah berupa
sesaji, yang dimaksud sebagai persembahan atas segala rasa
hormat dan rasa terimakasih tak terhingga kepada para leluhur
yang telah wafat yang mana semasa hidupnya telah berjasa
memberikan warisan ilmu, harta-benda, dan lingkungan alam
yang terpelihara dengan baik sehingga masih dapat kita nikmati
sampai saat ini dan memberikan manfaat untuk kebaikan hidup
kita.

Berikut ini adalah beberapa contoh menu persembahan sebagai


ungkapan rasa menghormati kepada leluhur (sesaji). Masing-
masing uborampe mempunyai ciri khas dan makna yang dalam.
Tanpa memahami makna, rasanya persembahan sesaji akan
terasa hambar dan mudah menimbulkan prasangka buruk,
dianggap sesat, tak ada tuntunannya, dan syirik. Tetapi semua
prasangka itu tentu datang dari hasil pemikiran yang tak cukup
informasi untuk mengenal dan memahami apa makna hakekat di
balik semua itu.

Saya ambil contoh, misalnya para orang tua zaman dulu suka
menabur bunga setaman di perempatan jalan. Tetapi lama-
kelamaan tradisi itu hilang karena orang takut dituduh musrik
dst. Padahal, sesungguhnya orang yang menabur bunga di
perempatan jalan sambil mengucapkan doa yang mensiratkan
makna yang dalam dalam limpahan kasih sayang yang tidak pilih
kasih. Adapun doanya misalnya sebagai berikut :

Ya Tuhan…berilah keselamatan dan berkah kepada siapapun yang


melewati jalan ini, baik manusia, makhluk halus, maupun
binatang apapun jenis dan namanya.

Doa dan apa yang mereka lakukan merupakan manifestasi dari


budi pekerti mereka yang sungguh adiluhung. Melakukannya
penuh dengan ketulusan dan kasih sayang. Tentu saja doa yang
mengandung ketulusan dan kasih sayang yang berlimpah itu,
akan beresonansi dan bersinergi dengan energi alam semesta
yang penuh limpahan berkah. Alam menyambutnya dengan
limpahan berkah dan keselamatan lahir batin kepada seluruh
makhluk yang melewati perempatan jalan itu. Itulah kodrat alam
yang telah terbentuk dalam relung-relung hukum keadilan
Tuhan.

Kembang

Atau bunga. Bermakna filosofis agar kita dan keluarga senantiasa


mendapatkan “keharuman” dari para leluhur. Keharuman
merupakan kiasan dari berkah-safa’at yang berlimpah dari para
leluhur, dapat mengalir (sumrambah) kepada anak turunnya.
Menurut pengalaman saya pribadi, masing-masing aroma bunga,
dapat menjadi ciri khas masing-masing leluhur. Desa mawa cara,
negara mawa tata. Beda daerah, beda masyarakatnya, beda
leluhurnya, beda pula tradisi dan tata cara penghormatannya.
Bahkan aroma khas bunga serta berbagai jenis dedaunan
tertentu sering menjadi penanda bau khas salah satu leluhur kita.
Bila bau harum bunga tiba-tiba hadir di sekitar anda,
kemungkinan besar ada salah satu leluhur anda yang hadir di
dekat anda berada.

Kembang Setaman

Uborampe ini sangat fleksibel, cakupannya luas dan dimanfaatkan


dalam berbagai acara ritus dan kegiatan spiritual. Kembang
setaman versi Jawa terdiri dari beberapa jenis bunga. Yakni,
mawar, melati, kanthil, dan kenanga. Lihat dalam gambar.

Adapun makna-makna bunga tersebut yang sarat akan makna


filosofis adalah sbb :

1. Kembang KANTHIL, kanthi laku, tansah kumanthil

Atau simbol pepeling bahwa untuk meraih ngelmu iku kalakone


kanthi laku. Lekase kalawan kas, tegese kas iku nyantosani
(Lihat dalam thread; Serat Wedhatama). Maksudnya, untuk
meraih ilmu spiritual serta meraih kesuksesan lahir dan batin,
setiap orang tidak cukup hanya dengan memohon-mohon doa.
Kesadaran spiritual tak akan bisa dialami secara lahir dan batin
tanpa adanya penghayatan akan nilai-nilai luhur dalam
kehidupan sehari-hari (lakutama atau perilaku yang utama).
Bunga kanthil berarti pula, adanya tali rasa, atau tansah
kumanthil-kanthil, yang bermakna pula kasih sayang yang
mendalam tiada terputus. Yakni cirahan kasih sayang kepada
seluruh makhluk, kepada kedua orang tuanya dan para
leluhurnya. Bukankah hidup ini pada dasarnya untuk saling
memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh
makhluk. Jika semua umat manusia bisa melakukan hal
demikian tanpa terkotak-kotak ragam “kulit” agama, niscaya
bumi ini akan damai, tenteram, dan sejahtera lahir dan batinnya.
Tak ada lagi pertumpahan darah dan ribuan nyawa melayang
gara-gara masing-masing umat manusia (yang sesungguhnya
maha lemah) tetapi merasa dirinya disuruh tuhan yang Maha
Kuasa. Tak ada lagi manusia yang mengklaim diri menjadi
utusanNya untuk membela tuhan Yang Maha Kuasa. Yaah,
mudah-mudahan untuk ke depan tuhan tak usah mengutus-utus
manusia membela diriNya. Kalau memang kita percaya
kemutlakan kekuasaan Tuhan, biarkan tuhan sendiri yang
membela diriNya, biarkan tuhan yang menegakkan jalanNya
untuk manusia, pasti bisa walau tanpa adanya peran manusia!
Toh tuhan maha kuasa, pasti akan lebih aman, tenteram, damai.
Tidak seperti halnya manusia yang suka pertumpahan darah !!
Seumpama membersihkan lantai dengan menggunakan lap yang
kotor.
2. Kembang MLATHI, rasa melad saka njero ati.

Dalam berucap dan berbicara hendaknya kita selalu mengandung


ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. Lahir dan batin
haruslah selalu sama, kompak, tidak munafik. Menjalani segala
sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. Kembang melati, atau
mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala
kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan
hanya dilakukan secara gerak ragawi saja.

3. Kembang KENANGA, Keneng-a!

Atau gapailah..! segala keluhuran yang telah dicapai oleh para


pendahulu. Berarti generasi penerus seyogyanya mencontoh
perilaku yang baik dan prestasi tinggi yang berhasil dicapai para
leluhur semasa hidupnya. Kenanga, kenang-en ing angga.
Bermakna filosofis agar supaya anak turun selalu mengenang,
semua “pusaka” warisan leluhur berupa benda-benda seni,
tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, dan ilmu spiritual yang
banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom).

4. Kembang MAWAR, Mawi-Arsa

Dengan kehendak atau niat. Menghayati nilai-nilai luhur


hendaknya dengan niat. Mawar, atau awar-awar ben tawar.
Buatlah hati menjadi “tawar” alias tulus. Jadi niat tersebut harus
berdasarkan ketulusan, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih
(tapa ngrame) sekalipun pamrih mengharap-harap pahala. Pahala
tetap saja “upah” yang diharapkan datang dari tuhan apabila
seseorang melakukan suatu perbuatan baik. Pamrih pahala ini
tetap saja pamrih, berarti belum mencapai ketulusan yang tiada
batas atau keadaan rasa tulus pada titik nihil, yakni duwe rasa,
ora duwe rasa duwe (punya rasa tidak punya rasa punya)
sebagaimana ketulusan tuhan/kekuatan alam semesta dalam
melimpahkan anugrah kepada seluruh makhluk. Pastilah tanpa
pamrih.

4.1. Mawar Merah


Mawar melambangkan proses terjadinya atau lahirnya diri kita ke
dunia fana. Yakni lambang dumadine jalma menungsa melalui
langkah Triwikrama. Mawar merah melambangkan ibu. Ibu
adalah tempat per-empu-an di dalam mana jiwa-raga kita diukir.
Dalam bancakan weton dilambangkan juga berupa bubur merah
(bubur manis gula jawa).

4.2. Mawar Putih

Mawar putih adalah perlambang dari bapa yang meretas roh kita
menjadi ada. Dalam lingkup makrokosmos, Bapanya adalah
Bapa langit, Ibunya adalah Ibu Bumi. Bapanya jiwa bangsa
Indonesia, Ibunya adalah nusantara Ibu Pertiwi. Keduanya
mencetak “pancer” atau guru sejati kita. Maka, pancer kita
adalah pancerku kang ana sa ngisore langit, lan pancerku kang
ana sa nduwure bumi. Sang Bapa dalam bancakan weton
dilambangkan pula berupa bubur putih (santan kelapa). Lalu
kedua bubur merah dan putih, disilangkan, ditumpuk, dijejer,
merupakan lambang dari percampuran raga antara Bapa dan Ibu.
Percampuran ragawi yang diikat oleh rasa sejati, dan jiwa yang
penuh cinta kasih yang mulia, sebagai pasangan hidup yang
seiring dan sejalan. Perpaduan ini diharapkan menghasilkan bibit
regenerasi yang berkwalitas unggul. Dalam jagad makro,
keselarasan dan keharmonisan antara bumi dan langit
menjadukan keseimbangan alam yang selalu melahirkan berkah
agung, berupa ketentraman, kedamaian, kebahagiaan kepada
seluruh penghuninya. Melahirkan suatu negeri yang tiada
musibah dan bencana, subur makmur, gemah ripah loh jinawi,
tata titi tentrem kerta raharja.

Kembang Telon

Terdiri tiga macam bunga. Bisa menggunakan bunga mawar putih,


mawar merah, dan kanthil. Atau mawar, melati, kenanga. Atau
mawar, melati, kantil. Telon berasal dari kata telu (tiga). Dengan
harapan agar meraih tiga kesempurnaan dan kemuliaan hidup (tri
tunggal jaya sampurna). Sugih banda, sugih ngelmu, sugih
kuasa.
Kembang Boreh, Putihan

Terdiri dari tiga macam bunga yang berwarna putih. Yakni kanthil,
melati, dan mawar putih. Ditambah dengan “boreh” atau parutan
terdiri dua macam rempah; dlingo dan bengle. Agar segala
sesuatu selalu dalam tindak tanduk, perilaku yang suci murni.
Karena putih di sini melambangkan kesucian dan ketulusan hati.
Kembang telon bermakna pula sebagai pengingat agar supaya
kita selalu eling dan waspada.

Kembang Tujuh Rupa

Berupa kembang setaman ditambah jenis bunga-bunga lainnya


sampai berjumlah 7 macam. Lebih sempurna bila di antara
kembang tersebut terdapat kembang wora-wari bang. Atau
sejenis bunga sepatu yang wujudnya tidak mekar, tetapi
bergulung/gilig memanjang (seperti gulungan bulat memanjang
berwarna merah). Ciri lainya jika pangkal bunga dihisap akan
terasa segar manis. Kembang tujuh rupa, dimaksudkan supaya
apa yang sedang menjadi tujuan hidupnya dapat terkabul dan
terlaksana. Tujuh (Jawa; pitu) bermakna sebuah harapan untuk
mendapatkan pitulungan atau pertolongan dari tuhan yang
Mahakuasa.

Rujak Degan

Atau rujak kelapa muda. Degan supaya hatinya legan, legowo.


Seger sumringah, segar bugar dengan hati yang selalu sumeleh,
lega lila lan legawa. Hatinya selalu berserah diri pada tuhan,
selalu sabar, dan tulus.

Dlingo dan Bengle

Keduanya termasuk rempah-rempah, atau empon-empon. Bengle


bentuk luarnya mirip jahe. Tetapi baunya sangat menyengat dan
bisa membuat puisng. Sedangkan dalamnya berwarna kuning
muda. Karena baunya yangmblenger sehingga di Indonesia jenis
rempah ini tidak digunakan sebagai bumbu masak. Sebaliknya di
negeri Thailand rempah ini termasuk sebagai bumbu masak
utama. Entah apa sebabnya, bengle dan dlingo merupakan
rempah yang sangat tidak disukai oleh bangsa lelembut.
Sehingga masyarakat Jawa sering memanfaatkannya sebagai
sarana penolak bala atau gangguan berbagai makhluk halus.
Anda dapat membuktikannya secara sederhana. Bila ada orang
gila yang dicurigai karena ketempelan mahluk halus, atau jika
ada seseorang sedang kesurupan, coba saja anda ambil bengle,
atau parutan bengle, lalu oleskan di bagian tubuhnya mana saja,
terutama di bagian tengkuk. Anda akan melihat sendiri
bagaimana reaksinya. Biasanya ia akan ketakutan atau berteriak
histeris lalu sembuh dari kesurupan. Dalam tradisi Jawa, jika ada
orang meninggal dunia biasanya disiapkan parutan bengle
dicampur dengan sedikit air digunakan sebagai pengoles bagian
belakang telinga. Gunanya untuk menangkal sawan.

Bahkan pengalaman saya pribadi, setiap hidung ini mencium bau


bengle, menandakan ada seseorang yang berada di dekat saya
waktu itu, yang akan meninggal dunia.

Dlingo bengle, walaupun keduanya sangat berbeda bentuk dan


rupanya, tetapi baunya seolah matching, sangat serasi dan sekilas
baunya hampir sama. Dlingo dan bengle ebrmanfaat pula sebagai
sarana memasaang pagar gaib di lingkungan rumah tinggal.
Dengan cara ; dlingo dan bengle ditusuk bersama seperti sate,
lalu di tanam di setiap sudut pekarangan atau rumah.

Begitulah pelajaran berharga yang kini sering dianggap remeh bagi


yang merasa diri telah suci dan kaya pengetahuan. Di balik
semua itu sungguh memuat nilai adiluhung sebagai “pusaka”
warisan leluhur, nenek moyang kita, nenek moyang bangsa ini
sebagai wujud sikapnya yang bijaksana dalam memahami jagad
raya dan segala isinya. Doa tak hanya diucap dari mulut. Tetapi
juga diwujudkan dalam bergai simbol dan lambang supaya
hakekat pepeling/ajaran yang ada di dalamnya mudah diingat-
ingat untuk selalu dihayati dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Ajaran adiluhung yang di dalamnya penuh arti, sarat dengan
filsafat kehidupan. Kaya akan makna alegoris tentang moralitas
dan spiritualitas dalam memahami jati diri alam semesta, jagad
nusantara, serta jagad kecil yang ada dalam diri kita pribadi.
PERIBAHASA-JAWA

PERIBAHASA-JAWA

Dalam khasanah sastra Jawa dikenal apa yang dinamakan bebasan,


sanepan, atau saloka. Merupakan bentuk peribahasa yang berisi
makna kiasan sebagai sarana mempermudah penggambaran
suatu keadaan. Keadaan bisa berupa fakta realitas yang tidak
biasa terjadi, sindiran, sarkasme, dan suatu kenyataan yang
paradoksal. Dirangkai dalam gaya bahasa, kata dan kalimat yang
indah, lembut agar tidak mudah menyinggung perasaan orang
namun mudah sebagai pengingat. Pada saat ini kekayaan sastra
Jawa terasa sangat minim, tidak lebih dari bahasa sehari-hari
yang diterapkan dalam pergaulan masyarakat Jawa dan lainnya.
Namun bila anda ingin menggunakan dalam wacana komunikasi
sehari-hari tampaknya masih relevan, dan saya pikir masih
bermanfaat untuk megistilahkan atau membahasakan suatu
kejadian atau peristiwa yang tidak wajar. Kalimat yang
digunakan ibarat pantun yang terkadang terasa lucu dan aneh.
Apapun tastenya, berikut ini peribahasa yang dapat kami
kumpulkan dari berbagai sumber khasanah pustaka Jawa dan
nara sumber langsung. Semoga bermanfaat untuk anda sekalian
yang masih peduli kebudayaan lokal asli nusantara maupun bagi
yang gemar olah sastra dan budaya lokal.

Adhang-adhang tetese embun : njagakake barang mung sak oleh-


olehe.
Adigang, adigung, adiguna : ngendelake kekuwatane, kaluhurane
lan kepinterane.

Aji godhong garing (aking) : wis ora ana ajine / asor banget.

Ana catur mungkur : ora gelem ngrungokake rerasan kang ora


becik.

Ana daulate ora ana begjane : arep nemu kabegjan nanging ora sida
(untub-untub).

Ana gula ana semut : papan sing akeh rejekine, mesti akeh sing
nekani.

Anak polah bapa kepradah : tingkah polahe anak dadi


tanggungjawabe wong tuwa.

Anggenthong umos (bocor/rembes) : wong kang ora bisa nyimpen


wewadi.

Angon mongso : golek waktu kang prayoga kanggo tumindak.

Angon ulat ngumbar tangan : ngulatake kahanan menawa kalimpe


banjur dicolong.

Arep jamure emoh watange : gelem kepenake ora gelem rekasane.

Asu rebutan balung : rebutan barang kang sepele.

Asu belang kalung wang : wong asor nanging sugih.

Asu gedhe menang kerahe : wong kang dhuwur pangkate mesti bae
gede panguwasane.
Asu marani gebuk : njarak / sengaja marani bebaya.

Ati bengkong oleh obor : wong kang duwe niyat ala malah oleh
dalan.

Baladewa ilang gapite (jepit wayang) : ilang kekuwatane /


kaluhurane.

Banyu pinerang ora bakal pedhot (sigar) : pasulayan sedulur ora


bakal medhotake sedulurane.

Bathang lelaku : lunga ijen ngambah panggonan kang mbebayani.

Bathok bolu isi madu (bolong telu) : wong asor nanging sugih
kepinteran.

Blaba wuda : saking lomane nganti awake dhewe ora keduman.

Bebek mungsuh mliwis : wong pinter mungsuh wong kang podho


pintere.

Becik ketitik ala ketara : becik lan ala bakal konangan ing tembe
mburine.

Belo melu seton (malem minggu) : manut grubyuk ora ngerti


karepe (taklid).

Beras wutah arang bali menyang takere : barang kang wis owah
ora bakal bali kaya maune.

Bidhung api rowang : ethok-ethok nulung nanging sejatine arep


ngrusuhi.
Balilu tan pinter durung nglakoni (bodho) : wong bodho sering
nglakoni, kalah pinter ro wong pinter nanging durung tau
nglakoni.

Bubuk oleh leng : wong duwe niyat ala oleh dalan.

Bung pring petung : bocah kang longgor (gelis gedhe).

Buntel kadut, ora kinang ora udud : wong nyambut gawe borongan
ora oleh mangan lan udud.

Buru (mburu) uceng kelangan dheleg : golek barang sepele malah


kelangan barang luwih gedhe.

Busuk ketekuk, pinter keblinger : wong bodho lan pinter padha


wae nemu cilaka.

Carang canthel : ora diajak guneman nanging melu-melu


ngrembug.

Car-cor kaya kurang janganan : ngomong ceplas-ceplos oran


dipikir disik.

Cathok gawel (timangan sabuk) : seneng cawe-cawe mesthi ora


diajak guneman.

Cebol nggayuh lintang : kekarepan kang ora mokal bisa kelakon.

Cecak nguntal cagak (empyak) : gegayuhan kang ora imbang karo


kekuwatane.

Cedhak celeng boloten (gupak lendhut) : cedhak karo wong ala


bakal katut ala.
Cedhak kebo gupak : cedhak karo wong ala bakal katut ala.

Ciri wanci lelai ginawa mati : pakulinan ala ora bisa diowahi yen
durung nganti mati.

Cincing-cincing meksa klebus : karepe ngirit nanging malah entek


akeh.

Criwis cawis : seneng maido nanging yo seneng menehi/muruki.

Cuplak andheng-andheng, yen ora pernah panggonane bakal


disingkirake : wong kang njalari ala becike disingkirake.

Dadiya banyu emoh nyawuk, dadiya godhong emoh nyuwek,


dadiyo suket emoh nyenggut : wis ora gelem nyanak / emoh sapa
aruh.

Dahwen ati open (seneng nacad) : nacad nanging mbenerake wong


liya.

Dandhang diunekake kuntul, kuntul diunekake dandhang : ala


dianggep becik, becik dianggep ala.

Desa mawa cara, negara mawa tata : saben panggonan duwe cara
utawa adat dhewe-dhewe.

Dhemit ora ndulit, setan ora doyan : tansah diparingi slamet, ora
ana kang ngganggu gawe.

Digarokake dilukoke : dikongkon nyambut gawe abot.


Didhadhunga medhot, dipalangana mlumpat : wong kang kenceng
karepe ora kena dipenggak.

Diwenehi ati ngrogoh rempela : diwenehi sithik ora trima, malah


njaluk sing akeh.

Dom sumuruping mbanyu : laku sesideman kanggo meruhi


wewadi.

Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan : senajan wong
liya yen lagi nemoni rekasa bakal dibelani.

Duka yayah sinipi, jaja bang mawinga-wingi : wong kang nesu


banget.

Dudutan lan anculan (tali memeden sawah) : padha kethikan, sing


siji ethok-ethok ora ngerti.

Durung pecus keselak besus : durung sembada nanging kepengin


sing ora-ora.

Eman-eman ora keduman : karepe eman malah awake dewe ora


keduman.

Emban cindhe emban siladan (slendang iratan pring) : pilih kasih /


ora adil.

Embat-embat celarat (klarap) : wong nyambut gawe kanthi ngati-


ati banget.

Emprit abuntut bedhug : perkara sing maune sepele dadi gedhe /


ngambra-ambra.
Endhas gundul dikepeti : wis kepenak ditambahi kepenak maneh.

Endhas pethak ketiban empyak : wong kang bola-bali nemu cilaka.

Enggon welut didoli udhet : panggone wong pinter dipameri


kepinteran sing ora sepirowa.

Entek ngamek kurang golek : anggone nyeneni/nguneni sakatoge.

Entek jarake : wis entek kasugihane.

Esuk dhele sore tempe : wong kang ora tetep atine (mencla
mencle).

Gagak nganggo lar-e merak : wong asor / wong cilik tumindak


kaya wong luhur (gedhe).

Gajah alingan suket teki : lair lan batine ora padha, mesthi bakal
ketara.

Gajah (nggajah) elar : sarwa gedhe lan dhuwur kekarepane.

Gajah ngidak rapah (godhong garing) : nerang wewalere dewe.

Gajah perang karo gajah, kancil mati ing tengahe : wong gedhe
sing padha pasulayan, wong cilik sing dadi korbane.

Garang garing : wong semugih nanging sejatine kekurangan.

Gawe luwangan kanggo ngurungi luwangan : golek utang kanggo


nyaur utang.
Gayuk-gayuk tuna, nggayuh-nggayuh luput : samubarang kang
dikarepake ora bisa keturutan.

Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh : senajan alon-alon anggone


tumindak, nanging bisa kaleksanan karepe.

Golek banyu bening : meguru golek kawruh kang becik.

Golek-golek ketemu wong luru-luru : karepe arep golek utangan


malah dijaluki utang.

Gupak pulute ora mangan nangkane : melu rekasa nanging ora


melu ngrasakake kepenake.

Idu didilat maneh : murungake janji kang wis diucapake.

Iwak lumebu wuwu : wong kena apus kanthi gampang.

(n)Jagakake endhoge si blorok : njagagake barang kang durung


mesthi ana lan orane.

(n)Jajah desa milang kori : lelungan menyang ngendi-endi.

Jalma angkara mati murka : nemoni cilaka jalaran saka angkara


murkane.

(n)Jalukan ora wewehan : seneng njejaluk ora seneng menehi.

Jati ketlusupan ruyung : kumpulane wong becik kelebon wong ala.


Jaran kerubuhan empyak : wong wis kanji (kapok) banget.

Jarit lawas ing sampire : duwe kapinteran nanging ora digunakake.

Jer basuki mawa bea : samubarang gegayuhan mbutuhake wragat.

Jujul muwul : perkara kang nambah-nambahi rekasa.

(n)Junjung ngetebake / ngebrukake : ngalembana nanging duwe


maksud ngasorake.

Kacang ora ninggal lanjaran : kebiasa-ane anak nirokake wong


tuwane.

Kadang konang : gelem ngakoni sedulur mung karo sing sugih.

Kala cacak menang cacak : samubarang panggawean becik dicoba


dhisik bisa lan orane.

Kandhang langit, bantal ombak, kemul mega : wong sing ora duwe
papan panggonan.

Katepang ngrangsang gunung : kegedhen karep/panjangka sing


mokal bisa kelakon.

Katon kaya cempaka sawakul : tansah disenengi wong akeh.

Kaya banyu karo lenga : wong kang ora bisa rukun.

Kakehan gludug kurang udan : akeh omonge ora ana nyatane.

Kabanjiran segara madu : nemu kabegjan kang gedhe banget.


Kebat kliwat, gancang pincang : tumindak kesusu mesthi ora
kebeneran.

Kebo bule mati setra : wong pinter nanging ora ana kang
mbutuhake.

Kebo ilang tombok kandhang : wis kelangan, isih tombok wragat


kanggo nggoleki, malah ora ketemu.

Kebo kabotan sungu : rekasa kakehan anak / tanggungan.

Kebo lumumput ing palang : ngadili perkara ora nganggo waton.

Kebo mulih menyang kandhange : wong lunga adoh bali menyang


omahe / asale.

Kebo nusu gudel : wong tuwa njaluk wulang wong enom.

Kegedhen empyak kurang cagak : kegedhen karep nanging ora


sembada.

Kajugrugan gunung menyan : oleh kabegjan kang gedhe banget.

Kekudhung walulang macan : ngapusi nggawa jenenge wong kang


diwedeni.

Kelacak kepathak : ora bisa mungkir jalaran wis kebukten.

Kena iwake aja nganti buthek banyune : sing dikarepake bisa


kelakon nanging aja nganti dadi rame/rusak.

Kencana katon wingko : senajan apik nanging ora disenengi.


Kendel ngringkel, dhadang ora godak : ngakune kendel tur pinter
jebule jirih tur bodho.

Kenes ora ethes : wong sugih amuk nanging bodho.

Keplok ora tombok : wong senengane komentar thok nanging ora


gelem tumindak.

Kere munggah mbale : batur dipek bojo karo bendarane.

Kere nemoni malem : wong kang bedigasan / serakah.

Kerot ora duwe untu : duwe kekarepan nanging ora duwe beaya /
wragat.

Kerubuhan gunung : wong nemoni kesusahan sing gedhe banget.

Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang : nemoni cilaka kang


ora kenyana-nyana.

Ketula-tula ketali : wong kang tansah nandang sengsara.

Kethek saranggon : kumpulane wong kang tindakane ala.

Kleyang kabur kanginan, ora sanak ora kadhang : wong kang ora
duwe panggonan sing tetep.

Klenthing wadah uyah : angel ninggalake pakulinan tumindak ala.

Kongsi jambul wanen : nganti tumekan tuwa banget.

Krokot ing galeng : wong kang mlarat banget.


Kriwikan dadi grojogan : prakara kang maune cilik dadi gedhe
banget.

Kumenthus ora pecus : seneng umuk nanging ora sembada.

Kurung munggah lumbung : wong asor / cilik didadekake wong


gedhe.

Kuthuk nggendhong kemiri : manganggo kang sarwo apik/aji liwat


dalan kang mbebayani.

Kutuk marani sunduk, ula marani gebuk : njarag marani bebaya.

Kuncung nganti temekan gelung : suwe banget anggone ngenteni.

Ladak kecangklak : wong kang angkuh nemoni pakewuh, marga


tumindake dewe.

Lahang karoban manis : rupane bagus / ayu tur luhur budine.

Lambe satumang kari samerang : dituturi bola-bali meksa ora


digugu.

Lanang kemangi : wong lanang kang jireh.

Legan golek momongan : wis kepenak malah golek rekasa.

Lumpuh ngideri jagad : duwe karepan kang mokal bisa keturutan.

Maju tatu mundur ajur : perkara kang sarwa pakwuh.


Matang tuna numbak luput : tansah luput kabh panggayuhan.

Mbuang tilas : ethok-ethok ora ngerti marang tumindak kang ala


sing lagi dilakoni.

Meneng widara uleran : katon anteng nanging sejatin ala atine.

Menthung koja kena sembagine : rumangsane ngapusi nanging


sejatine malah kena apus.

Merangi tatal : mentahi rembug kang wis mateng.

Mikul dhuwur mendhem jero : bisa njunjung drajate wong tuwa.

Milih-milih tebu oleh boleng : kakehan milih wekasan oleh kang


ora becik.

Mrojol selaning garu : wong kang luput saka bebaya.

Mubra-mubra mblabar madu : wong sing sarwa kecukupan.

Nabok anyilih tangan : tumindak ala kanthi kongkonan uwong liya.

Ngagar metu kawul : ngojok-ojoki supaya dadi pasulayan, nanging


sing diojoki ora mempan.

Ngajari bebek nglangi : panggawean sing ora ana paedahe.

Ngalasake negara : wong sing ora manut pranatane negara.


Ngalem legining gula : ngalembana kepinterane wong kang pancen
pinter/sugih.

Ngaturake kidang lumayu : ngaturake barang kang wis ora ana.

Nglungguhi klasa gumelar : nindakake panggawean kang wis


tumata.

Ngontragake gunung : wong cilik/asor bisa ngalahake wong


luhur/gedhe, nganti gawe gegere wong akeh.

Nguthik-uthik macan dhedhe : njarag wong kang wis lilih nepsune.

Nguyahi segara : weweh marang wong sugih kang ora ana


pituwase.

Nucuk ngiberake : wis disuguhi mangan mulih isih mbrekat.

Nututi layangan pedhot : nggoleki barang sepele sing wis ilang.

Nyangoni kawula minggat : ndandani barang sing tansah rusak.

Nyolong pethek : tansah mleset saka pametheke/pambatange.

Obah ngarep kobet mburi : tumindake penggede dadi


contone/panutane kawula alit.

Opor bebek mentas awake dhewek : rampung saka rekadayane


dhewe.

Ora ana banyu mili menduwur : watake anak biasane niru wong
tuwane.
Ora ana kukus tanpa geni : ora ana sbab tanpa akibat.

Ora gonjo ora unus : wong kang ala atine lan rupane.

Ora mambu enthong irus : dudu sanak dudu kadhang.

Ora tembung ora tawung : njupuk barang liyan ora kandha disik.

Ora uwur ora sembur : ora gelem cawe-cawe babar pisan.

Ora kinang ora udud : ora mangan apa-apa.

Othak athik didudut angel : guneme sajak kepenak, bareng


ditemeni jebule angel.

Palang mangan tandur : diwenehi kapercayan malah gawe


kapitunan.

Pandengan karo srengenge : memungsuhan karo penguwasa.

Pandhitane antake : laire katon suci batine ala.

Pecruk (manuk kag magan iwak) tunggu bara : dipasrahi barang


kang dadi kesenengan.

Pitik trondhol diumbar ing padaringan : wong ala dipasrahi barang


kang aji, wekasane malah ngentek-entekake.

Pupur sadurunge benjut : ngati-ati sadurunge benjut.


R

Rampek-rampek kethek : nyedak-nyedak mung arep gawe


kapitunan.

Rawe-rawe rantas malang-malang putung : samubarang kang


ngalang-alangi bakal disingkirake.

Rebut balung tanpa isi : pasulayan merga barang kang sepele.

Rindhik asu digitik : dikongkon nindakake penggawean kang


cocok karo kekarepane.

Rupa nggendhong rega : barang apik regane larang.

Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah : yen padha rukun mesti
padha santosa, yen padha congkrah mesthi padha bubrah/rusak.

Sabar sareh mesthi bakal pikoleh : tumindak samubarang aja


kesusu supaya kasil.

Sabaya pati, sabaya mukti : kerukunan kang nganti tekan pati.

Sadumuk bathuk sanyari bumi : pasulayan nganti dilabuhi tekaning


pati.

Sandhing kebo gupak : cedhak wong tumindak ala, bisa-bisa katut


ala.

Satru mungging cangklakan : mungsuh wong kang isih sanak


sedulur.
Sadhakep awe-awe : wis ninggalake tumindak ala, nanging batien
isih kepengin nglakoni maneh.

Sembur-sembur adus, siram-siram bayem : bisa kalaksanan marga


oleh pandongane wong akeh.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe : nindakake panggaweyan kanthi


ora melik/pamrih apa-apa.

Sing sapa salah bakal seleh : sing sapa salah bakal konangan.

Sluman slumun slamet : senajan kurang ati-ati isih diparingi


slamet.

Sumur lumaku tinimba, gong lumaku tinabuh : wong kang


kumudu-kudu dijaluki piwulang/ditakoni.

Tebu tuwuh socane : prakara kang wus apik, bubrah marga ana
sing ngrusuhi.

Tega larane ora tega patine : senajan negakake rekasane, nanging


isih menehi pitulungan.

Tekek mati ing ulone : nemoni cilaka margo saka guneme dhewe.

Tembang rawat-rawat, ujare mbok bakul sunambiwara : kabar


kang durung mesthi salah lan benere.

Timun jinara : prakara gampang banget.

Timun mungsuh duren : wong cilik mungsuh wang


kuwat/panguwasa, mesthi kalahe.
Timun wungkuk jaga imbuh : wong bodho kanggone yen
kekurangan wae.

Tinggal glanggang colong playu : ninggalake papan pasulayan.

Tulung (nulung) menthung : katone nulungi jebule malah


nyilakani.

Tumbak cucukan : wong sing seneng adu-adu.

Tuna sathak bathi sanak : rugi bandha nanging bathi paseduluran.

Tunggak jarak mrajak tunggak jati mati : prakara ala ngambra-


ambra, prakara becik kari sethitik.

Ucul saka kudangan : luput saka gegayuhane.

Ulat madhep ati manteb : wis manteb banget kekarepane.

Undaking pawarta, sudaning kiriman : biasane pawarta iku beda


karo kasunyatane.

Ungak-ungak pager arang : ngisin-isini.

Welas tanpa lalis : karepe welas nanging malah gawe kapitunan.

Wis kebak sundukane : wis akeh banget kaluputane.

Wiwit kuncung nganti gelung : wiwit cilik nganti gedhe tuwa.


Y

Yitna yuwana mati lena : sing ngati-ati bakal slamet, sing


sembrana bakal cilaka.

Yiyidan mungging rampadan : biyene wong durjana/culika saiki


dadi wong sing alim.

Yuwana mati lena : wong becik nemoni cilaka marga kurang ngati-
ati.

Yuyu rumpung mbarong ronge : omahe magrong-magrong nanging


sejatine mlarat.

sabdalangit’s web
Rate this:

10 Votes

Like this:
★Suka
Be the first to like this.
Mei 1, 2009 SABDå
Kategori: Pribahasa Jawa Kaitkata: Peribahasa, Pribahasa Jawa,
pribasa, saloka, SANEPA
47 tanggapan kepada “PERIBAHASA-JAWA”

hadi wirojati
Mei 6th, 2009 pada 19:13
hadi wirojati
Mei 6th, 2009 pada 19:13

pamuji rahayu…

wah kangmas sabda…. ternyata sanepa jawa begitu lengkap ya…,


dan membuat sanepan orang – orang dulu lebih banyak berpikir
untuk mengeluarkan kata – kata yang takut melukai hati orang
lain .. jadi dibuatlah sanepa…, rukun agawe santosa…, rukune
kaya mimi lan mintuna…, adigang adigung adiguna kaduk wani
kurang deduga… hehehe… inget dulu diwarahi simbah…,matur
sembah nuwun kangmas.. jadi tambah kawruh untuk ikut nguri
nguri bahasa sanepa dan nanti pasti masih ada lagi yaitu
cangkriman … mungkin bisa di upload lagi ya kangmas… matur
sembah nuwun.

salam sihkatresnan

rahayu…,

10

Rate This

Balas

sabdalangit
Mei 6th, 2009 pada 20:04

sabdalangit
Mei 6th, 2009 pada 20:04
Wealah..kok wis dipethek ndingin yo, leres mas..sy lagi ngumpulin
cangkriman masa lalu. Lucu-lucu bisa untuk menghibur anak di
kala mau bobok.

Rahayu

Rate This

Balas

Ngabehi
Mei 7th, 2009 pada 09:12

Ngabehi
Mei 7th, 2009 pada 09:12

Kulo tambahi nggih KI, kayane dereng wonten….

Wong melik ngagendong lali


Kakehan gludug kurang Udan
wus kabotan sungu
yitna yuana leno kena
cedhak mung sak genter sineret
Timba nggolek sumur
sumur nggolek timba
Durung pecus keselak besus
Sak gluguting kolang kaling
Sak glugut pinoro sosro
“Kuning kuning kambile gadhing”
Bejane sing biso nyanding
Sing lencir kuning

Gemak blontheng blontheng


Urip penak ragat entheng

wah nuwun sewu ki malah dadi kelingan sengga’an campur sari je,
he eh

Simbol-simbol, Hiasan, dan Maknanya


Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook

05:24 yuni-1991 No comments Kirimkan Ini lewat Email


BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook

Simbol-simbol, Hiasan, dan Maknanya


Budaya Jawa dikenal sangat dipengaruhi oleh tradisi kratonnya.
Dalam perkawinan yang berlatar belakang budaya ini banyak
sekali simbol-simbol budaya dan hiasan yang memiliki makna
tertentu yang berasal dari tradisi kraton tersebut. Latar belakang
budaya Islam yang diusung dalam sebuah perkawinan turut pula
menyumbangkan pengaruhnya. Diantara hal tersebut adalah:
1. Patah
Patah adalah dua anak kecil putri yang berjalan di depan pengantin.
Ketika pengantin duduk, mereka bertugas untuk mengipasi
keduanya.
2. Domas dan Manggolo
Domas atau putri domas adalah dua orang gadis muda yang
mengiringi pengantin wanita. Sedangkan manggolo adalah dua
orang anak muda yang mengiringi pengantin pria, meskipun
sesungguhnya berasal dari keluarga pengantin wanita. Masing-
masing domas dan manggolo membawa kembar mayang dan
saling menukarkannya ketika prosesi jemuk berlangsung. Putri
domas dalam pernikahan ibarat dayang-dayang bagi seorang
ratu. Sedangkan para manggala adalah ibarat para punggawa
kerajaan.
3. Janur kuning
Rangkain janur/bleketepe kuning dipasang di gerbang atau pintu
masuk tempat acara resepsi. Dari pemasangan ini diharapkan
akan hilang kemungkinan yang tidak diinginkan dan sebagai
tanda bahwa adanya pernikahan yang akan berlangsung dirumah
tersebut. Janur juga dapat dimaknai dengan “jalarane nur” atau
bahwa rumah tangga sebagai sarana untuk menghadirkan cahaya
“pepadang” dalam sebuah kehidupan.
4. Kembar mayang
Kembar mayang merupakan rangkaian yang dibuat dari bermacam
daun dan banyak ornamen dari janur yang dirangkai dan
ditancapkan pada potongan pohon anak pisang. Dari janur dibuat
ornamen berbentuk tugu-tuguan/gunungan, uler-uleran, keris,
manukan, dan pecut. Sementara macam daun yang digunakan
adalah daun beringin, andong, gondoroso, dan mayang jambe.
Ornamen berbentuk tugu atau gunung melambangkan simbol sosok
laki laki yang (harus) penuh pengetahuan, pengalaman dan
kesabaran. Ornamen seperti keris memberikan makna bahwa
pasangan pengantin hendaknya berberhati-hati dalam kehidupan,
pintar dan bijaksana laksana sebuah keris. Ornamen uler-uleran
merupakan simbol keajegan bergerak dalam hidup terutama
dalam keluarga dan lingkungan. Ornamen seperti pecut
memberikan dorongan untuk sikap energik, cepat berpikir dan
mengambil keputusan untuk menyelamatkan keluarga.
Sedangkan ornamen seperti burung melambangkan motivasi
tinggi untuk kehidupan.

5. Pohon pisang lengkap dengan buah dan ontong-nya


Pohon pisang diletakkan di sebekah kiri kanan gapura/pintu masuk
tempat resepsi. Lebih diutamakan jika buah pisang yang
dipasang tersebut telah matang. Diantara makna yang dikandung
adalah bahwa suami hendaknya menjadi kepala keluarga
ditengah kehidupan bermasyarakat. Seperti pohon pisang yang
bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungan,
diharapkan keluarga baru yang dipimpin suami ini juga akan
hidup bahagia, sejahtera dan rukun dengan lingkungan
sekitarnya.
6. Cengkir gading
Cengkir gading atau kelapa kecil berwarna kuning, melambangkan
kencang dan kuatnya pikiran baik, sehingga diharapkan kedua
mempelai akan dengan sungguh-sungguh terikat dalam
kehidupan bersama yang saling mencinta.
7. Dekorasi (kwade) pengantin
Dekorasi atau background hiasan pernikahan adalah sebuah kwade
yang terdiri dari sebuah rono (krobongan) dengan lebar sesuai
dengan kapasitas ruangan. Hiasan bunga hidup atau palsu
melengkapi keindahan rono yang ada. Jika memungkinkan,
taman dan air mancur seringpula ditambahkan di depan rono.
Pemilihan bentuk dekorasi dan warnanya turut menentukan corak
dan warna pakaian yang akan dikenakan oleh pengantin dan
keluarganya dalam resepsi perkawinan.
8. Pakaian
Pada saat acara Jemuk penganten berlangsung, kedua penganten
mengenakan pakaian kebesaran kanalendran solo seperti
layaknya seorang raja dan ratu. Pengantin pria memakai baju
hitam beskap bludru lengkap dengan keris dan kuluk (topi tinggi
khas raja jawa) nya, atau jika terpaksa –seperti tinggi badan yang
lebih dan tidak seimbang dengan pengantin wanita-- maka ia
menggunakan blangkon. Hiasan tambahan yang dikenakannya
adalah dasi kupu-kupu, kalung dan bros dari roncen bunga
melati. Pengantin wanita juga memakai baju bludru solo putri
dengan gelungan dan hiasan rangkaian bunga melati di rambut
dan tiba dada (roncen melati yang menjuntai dari gelungan
rambut terus ke dada) di dada sebelah kiri. Nuansa gebyar,
“menyala” (warna mencolok), dan mewah biasanya sangat
nampak untuk membedakan pengantin dengan yang lainnya.
Pakaian orang tua (ayah) kedua pengantin adalah pakaian kejawen
berupa beskap lengkap dengan angkin, sabuk, dan kerisnya. Kain
(jarit) adalah motif truntum yang bermakna harapan masa depan
yang cerah. Pakaian ibu pengantin adalah kebaya dengan angkin
slindur. Kain yang dipakai sama dengan para bapak, yakni motif
truntum.
Ketika acara resepsi berlangsung dilakukan kirab temanten dan
selanjutnya rombongan berjalan menuju ruang ganti untuk lukar
busana (ganti pakaian) yang bernuansa mataraman dan lebih
santai. Seluruh “rombongan” yang terdiri dari patah, domas,
manggolo, dan kedua pasang bapak-ibu turut berganti pakaian
dan menyesuaian dengan corak yang dipakai kedua pengantin.
Menutut perias Ibu Lia, tren pakaian pengantin dan “keluarga” nya
saat ini adalah busana jawa muslim. Tren ini sangat nampak
pada pengantin wanita, para ibu pengantin, patah, dan domas.
Pengantin wanita memakai jilbab melati dengan daleman
(lapisan di bawah jilbab) berwarna hitam seperti rambut atau
warna kuning. Para wanita selain pengantin wanita memakai
kerudung dengan rambut tetap di-gelung.
9. Musik kebogiro dan syrakalan
Dengan lantunan musik kebogiro yang dipergunakan mengiringi
keseluruhan prosesi ritual adat diharapkan menambah
kehidmatan dan kesakralannya. Pemilihan musik “kebogiro
kedu” merupakan “bedah rangkah” atau pembuka acara
selamatan/resepsi. Disamping itu, musik syrakalan sering pula
diperdengarkan untuk menggantikan kebogiro atau
diperdengarkan sebelum kebogiro. (Wawancara dengan Modin
Ibn Batutah, Ibu Lia, dan M. Khalil )
Simbol-simbol dan hiasan dalam pernikahan Jawa-Islam
merupakan kekayaan budaya yang kaya makna. Menurut praktisi
dekorasi M. Khalil, selain memiliki akar pada budaya jawa,
hiasan pada pernikahan juga memiliki landasan agamis. Dengan
mengutip kitab al-Sab’iyyat yang merupakan hamisy kitab al-
Majalis al-Saniyyah halaman 111, Khalil menunjukkan hadith
yang menyebutkan bahwa Allah memerintah para malaikat untuk
menghias surga ketika Adam dan Hawa hendak menikah. Hanya
saja lanjut Khalil, semua itu hanyalah “pelengkap” yang tidak
perlu ditolak dan juga tidak perlu dipaksakan keberadaannya.
Yang lebih penting imbuhnya adalah sosialisasi “makna-makna”
tersebut agar dapat dipahami lebih baik oleh masyarakat.
(Wawancara dengan M. Khalil)
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa aspek simbol-simbol dan
hiasan pada perkawinan memiliki makna yang cukup kaya dan
mendalam. Kekayaan budaya ini hanya akan berupa simbol dan
hiasan kosong jika tidak ada upaya untuk mensosialisasikannya.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hanya orang-orang
tertentu saja seperti perias, modin, dan praktisi dekor yang
memahami makna-makna tersebut. Pemahaman yang baik ini
pada gilirannya akan memberikan tuntunan yang cukup bagi
kedua mempelai dan masyarakat dalam mengarungi kehidupan
keluarga, disamping mengarahkan dan mengendalikan upaya-
upaya modernisasi dan “penyederhanaan” terhadap kekayaan
budaya dalam panggih temanten agar tidak terkesan “lepas” dan
sekenanya.

Penutup
Panggih Temanten dalam perkawinan dengan adat Jawa-Islam
memiliki “pakem” tertentu baik dalam ritual adat, susunan acara
resepsi, maupun hiasan dan simbol yang digunakan. Dalam
perkembangan terakhir didapati adanya upaya penyesuaian
terhadap kemajuan zaman dan efisiensi waktu dalam
penyelenggaraan. Penyederhanaan ritual adat dilakukan dengan
“pemangkasan” ritual. Sedangkan penyederhanaan dalam resepsi
dilakukan dengan penggabungan antara beberapa acara seperti
atur mangayu bagya (sambutan selamat datang) dengan atur
panampi menjadi satu acara .
Simbol-simbol dan hiasan perkawinan yang kaya makna juga
mengalami hal yang sama. Penyesuaian terhadap mode dan
efisiensi acara turut mempengaruhi penampilannya. Disamping
itu upaya islamisasi turut mempengaruhi pemaknaan dengan
sudut pandang berbeda disamping juga menghadirkan paduan
baru dalam bentuk dan corak.
Makna dalam simbol-simbol dan hiasan dalam perkawinan adalah
kekayaan budaya yang memberikan banyak pelajaran hidup.
Upaya untuk menggali dan mensosialisasikannya merupakan hal
urgen untuk melestarikan budaya tersebut. Upaya-upaya
kontemporer untuk menyederhakan ritual dan resepsi pernikahan
juga akan tidak menjadi lepas sekaligus begitu saja
meninggalkan budaya ini jika makna-makna tersebut dipahami
dan tersosialisasi dengan baik. Wallahu a’lam

Makna Simbolis Pada Pengantin Jawa


REP | 12 July 2012 | 00:06
Dibaca: 379 Komentar: 29 11 dari 14 Kompasianer menilai
bermanfaat

Indonesia adalah hutan simbol yang rimbun, penuh belantara


keunikan sekaligus daya tarik yang menggoda. Banyak budaya
sebagai bagian dari tradisi asli yang menyimpan filosofi yang tak
usang di telan zaman. Hutan budaya Indonesia harus kita lihat
dengan mata jernih dan kita akan melihat betapa kaya dengan
percik-percik falsafah hidup yang khas daerahnya. Salah satu
dari budaya itu adalah tradisi ritual dalam pernikahan dan tulisan
di bawah ini tentang makna simbolis pada upacara pengantin
Jawa.

HAWA adalah IBU semua yang hidup, begitulah kata Kitab Suci,
yang mengandung arti Hawa adalah cikal bakal kehidupan
berikutnya, sudah sepantasnya kalau Hawa bisa dikatakan
SANGHYANG WINIH atau SANG WINIH yakni SANG
PEMBERI KETURUNAN yang melahirkan generasi berikutnya.
Dalam meneruskan amanat Tuhan Allah untuk memenuhi bumi
terjadilah ritual seremonial bergandengan dengan tradisi sebagai
bukti sebuah generasi meneruskan sejarahnya.

Sang Winih tak pernah dilukiskan dalam ujud yang menyolok,


melainkan hanya disimbolkan dalam lambang yang bersahaja.
Misalnya dalam adat Jawa, selain dalam PUTIH TELUR dan
KUNING TELUR, BENDERA GULA KELAPA (merah putih),
atau surya dengan sinar hangatnya yang memberikan sumber
hayati, dan ada kalanya melalui persembahan sesaji kembang
mawar dan melati, dan tak jarang desa-desa, masyarakat
membuat hidangan JENANG ABANG dan PUTIH, yang dalam
hal ini mengandung persenyawaan antara KEJANTANAN dan
KEWANITAAN.
Itulah Sang Winih yang bisa diibaratkan sebagai KERJASAMA
ABADI antara ADAM dan HAWA yang tulus. Dalam tradisi
penggambaran itu sebagai simbol DEWI SRI dan RADEN
SADHANA sebagai kombinasi lingkungan agraris agar menuai
hasil bumi yang melimpah.

Pada upacara-upacara pengantin di Jawa, UPACARA


MEMECAH TELUR DENGAN KAKI pengantin pria,
kemudian kaki itu dicuci oleh pengantin wanita dengan air berisi
kembang setaman, sebenarnya juga berkaitan dengan pemujaan
atas SANG HYANG TAPAK dan SANG HYANG WINIH yang
begitu menggetarkan dan mengharukan. Itulah tradisi yang
mengingatkan awal muawal dumadi atau PANCARING
GESANG dalam masyarakat Jawa.

Ketika akan melangsungkan pernikahan ada istilah sang pengantin


DIPINGIT selama sepasar atau tujuh hari, biasanya disebut juga
NYANTRI. Nyantri ini berasal dari perkataan SANTRI, dan di
santri ini adalah penyebutan yang semakna dari SHASTRI
artinya orang yang mempelajari sastra. Sedangkan pengertian
sastra menurut dunia klasisme Jawa adalah ilmu pengetahuan
tentang alam semesta, tentang baik dan buruk, tentang hukum
sebab-akibat dan akhir hayati.

Masa-masa me-nyantri itu dilukiskan sebagai masa MENAHAN


DIRI,masa PENGEKANGAN HAWA NAFSU,
dan MASA PENGSUCIAN BATIN. Selepas itu, ia kemudian
melakukan KERAMAS (mandi dengan reramuan
dan air kembang), lalu menyembah ayah bunda, baru menjelang
MALAM MIDODARENI sang anak ini harus membasuh kaki
ibunya dengan ASTHA BRANA MANDALIKA, yakni 8 anasir
yang menggugah hasrat pribadi manusia, dan memperkaya
lahiriah, yakni : Lumpur basah, akar-akar yang bergetah, bunga,
biji-bijian, manik-manik, batu kapur, batu merah, air embun
malam.
Kedelapan sifat dan makna yang terkandung dalam benda-benda
yang sekilas nampaknya bersahaja itu merupakan benih atau
winih yang menyebabkan sesuatu bergerak atau bergairah, dan
ini menstimulir kehidupan. Dan benda-benda tersebut
sebenarnya simbol TELAPAK KESEMESTAAN yang
mendorong gerak dan aktivitas.

Upacara basuh kaki itu disertai pembacaan mantera permohonan


restu kepada ibu, yang selama sembilan bulan lebih telah
mengandungnya, sehingga benih/winih dari sang bapa selamat
dilahirkan di dunia. Artinya ROH SUCI yang hendak
menggunakan tubuh dalam inkarnasi di dunia ini berhasil dengan
baik.

Pada UPACARA PANGGIH, yakni pertemuan mempelai pria dan


wanita, dengan diiringi para pengiring masing-masing, lalu
saling MELEMPAR SIRIH, sebagai tanda sudah SINEDHAH
SUSURUH artinya sudah sama-sama makan terpanggil oleh
undangan suci dari Yang Maha Kuasa untuk dipertemukan dan
dipersandingkan.

Kemudian berlangsunglah UPACARA BASUH KAKI pengantin


pria, dimana sebelumnya sang pengantin pria menginjak sebutir
telur, lambang bertemunya winih/benih itu, yakni terkumpul
serta mengkristalnya zat-zat lelaki dan perempuan (bersatunya
Sperma dan Ovum), hingga menghasilkan janin dalam GUA
GARBA (kandungan).

Kuning telur lambang lelaki, putih telur lambang wanita. Lalu


jemari kaki pengantin pria yang belepotan telur itu dibersihkan,
dibasuh oleh pengantin wanita, dengan menggunakan AIR
HARUM (air yang telah ditaburi bunga). Secara maknawi, sang
pengantin putri menyadari, bahwa ia harus memuliakan TAPAK
TELAPAK suaminya, sehingga dimana dan kapanpun suaminya
berada, istri harus menyertai, demikian pula dalam suka dan
duka.
Tapak suami ibarat suami adalah DEWA KAMAJAYA bagi
istrinya, ,dimana suami sebagai pemberi cinta, dan sang istri
sebagai DEWI KAMARATIH adalah penyambut dan pemelihara
ASMARA SUCI dalam rumahtangga itu. Demikianlah tradisi
pada pertemuan pengantin Jawa mengandung dasar-dasar yang
amat luhur.

Sekian.

Anda mungkin juga menyukai