0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan28 halaman

Bab Ii

Diunggah oleh

Rafika R P
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan28 halaman

Bab Ii

Diunggah oleh

Rafika R P
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. DESKRIPSI TEORI
1. Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar
Sebelum berbicara tentang pengertian hasil
belajar perlu kita ketahui terlebih dahulu apa pengertian
belajar, dan bagaimana ciri-cirinya.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar
merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh
aspek tingkah laku.1
Mengetahui lebih lanjut mengenai pengertian
belajar, berikut ini adalah menurut para ahli pendidikan
tentang pengertian belajar:
1) Nurrahman mengutip dari buku Educational
Psychology, H.C Whitherington mengemukakan
bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam
kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola

1
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 2.

7
baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan,
kepribadian atau suatu pengertian.2
2) Agus Suprijono menukil pendapat Harold Spears:
“Learning is to observe, to read, to imitate, to try
something themselves, to listen to follow direction.
(Belajar adalah mengamati, membaca, meniru,
mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti arah
tertentu)”.3
Definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan
bahwa pengertian belajar, adalah suatu usaha sadar yang
dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan
ditampilkan dalam peningkatan kecakapan pengetahuan,
pengalaman, pemahaman, sikap, tingkah laku, daya pikir,
keterampilan dengan berbagai kegiatan membaca,
mengamati, mendengarkan, meniru, mencoba dan lain
sebagainya.
Posisi guru dan anak didik tidak boleh berbeda,
tetapi keduanya tetap seiring dan setujuan, bukan seiring
tapi tidak setujuan.4 Dalam hal ini seorang guru dan siswa

2
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta,
2009, Cet. II), hlm. 35.
3
Agus Suprijono, Cooperative Learning, (Surabaya: Pustaka Belajar,
2009), hlm. 2.
4
Isjoni, Guru sebagai Motivator Perubahan, (Yogyakarta: Pustaka
Belajar, 2009), Cet II, hlm. 22.

8
mempunyai kesamaan langkah dalam mencapai tujuan
pendidikan, yaitu peserta didik berusaha mencapai cita-
citanya dan seorang guru yang mengantar dan
membimbing peserta didik untuk mencapai cita-citanya.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan
bahwa seorang guru itu berkewajiban untuk menciptakan
“khairunnas”, yakni manusia yang baik yang nantinya
akan menjadi khalifah di muka bumi. Khalifah dalam
artian mampu menjalankan perintah-perintah-Nya dan
memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala apa yang
ada.5
Pengertian ini dapat dikuatkan dengan firman
Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30:

       

 

“sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah


dimuka bumi” (QS. Al-baqarah ayat 30).6

5
Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid 1, (Yogyakarta: Universitas Islam
Indonesia, 1995), hlm. 87.
6
Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta:
Putera Praja, 1983), hlm 7.

9
b. Pengertian Hasil Belajar
Membicarakan mengenai hasil belajar, maka tidak
lepas dari yang namanya kegiatan belajar mengajar atau
pelaksanaan pembelajaran, mengingat proses
pembelajaran adalah suatu hal yang sangat penting. Tetapi
guru sering mendapatkan permasalahan dalam proses
belajar mengajar, untuk itu dalam proses belajar mengajar
harus menunjukkan sampai di mana kemampuan anak
didiknya dalam mencapai keberhasilan suatu tujuan
pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki
siswa setelah dia menerima pengalaman belajarnya.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan
pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan
instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari
Benyamin bloom yang secara garis besar membaginya
menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah efektif dan
ranah psikomotoris.7
Perubahan hasil proses belajar mengajar dapat
ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan
pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah
lakunya, keterampilannya kecakapan dan kemampuannya,
daya reaksi, daya penerimaannya, serta aspek-aspek lain

7
Nana Sujana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung,
PT. Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 22-23.

10
yang ada pada diri individu.8 Dengan belajar, seseorang
mengalami perubahan tingkah laku. Namun demikian,
tidak semua perubahan tingkah laku itu dikatakan sebagai
hasil dari belajar.
Menurut Bloom dalam Agus Suprijono, hasil
belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif,
psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge
(pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman,
menjelaskan, meringkas, contoh), application
(menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan
hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan,
membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai).
Domain afektif adalah receiving (sikap menerima),
responding (memberikan respons), valuing (nilai),
organization (organisasi), initiatory, pre-routine, dan
routinized. Psikomotor juga mencakup keterampilan
produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan
intelektual.9 Untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu
penilaian terhadap siswa yang bertujuan untuk
mengetahui apakah siswa telah menguasai materi atau
belum.

8
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung,
Sinar Baru Algesindo, 2010), hlm. 28.
9
Agus Suprijono, Cooperative Learning, hlm. 7.

11
c. Ciri-ciri belajar
Hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku,
sebagaimana Sholih Abdul Majid dalam bukunya At-
Tarbiah Watorikut Tadris menerangkan

.
Belajar adalah perubahan pemikiran/cara berpikir dari
murid dari pengalaman yang telah lalu berubah pada pola
pikir yang baru.10

Beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan ke


dalam ciri-ciri belajar.11
1) Perubahan yang terjadi secara sadar
Individu yang belajar akan menyadari terjadinya
perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu
merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam
dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya
bertambah, kecakapannya bertambah, kebiasaannya
bertambah dan keterampilannya juga bertambah.
2) Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
Perubahan yang terjadi dalam diri individu
berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu

10
Sholih Abdul Aziz, At-Tarbiyah Watoriqu Tadris, (Mesir: Darul
Ma’arif, tt), hlm. 168
11
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta,
2008), hlm. 15.

12
perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan
berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun
proses belajar berikutnya.
3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif,
perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju
untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari
sebelumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha
belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik
perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat
aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan
sendirinya, melainkan karena usaha individu itu
sendiri.
4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang terjadi karena proses belajar
bersifat menetap dan permanen. Ini berarti bahwa
tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat
menetap. Misalnya, kecakapan seorang anak dalam
memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang
melainkan akan terus dimiliki dan bahkan makin
berkembang bila terus dipergunakan atau dilatih.
5) Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah
Perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada
tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah

13
pada perubahan tingkah laku yang benar-benar
disadari.
6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh individu setelah
melalui suatu proses belajar meliputi perubahan
keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar
sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami
perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam
sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan
sebagainya.

d. Aspek-aspek Hasil Belajar


Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat
dikategorikan menjadi tiga bidang yakni bidang kognitif
(penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan
dengan sikap dan nilai) serta bidang psikomotor
(kemampuan atau keterampilan bertindak ataupun
berperilaku)12. Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan
membentuk hubungan hirarki. Sebagai tujuan yang
hendak dicapai, ketiganya harus tampak sebagai hasil
belajar peserta didik di sekolah. Oleh sebab itu ketiga
aspek tersebut, harus dipandang sebagai hasil belajar
siswa dari proses pembelajaran. Hasil belajar tersebut

12
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, hlm. 48.

14
nampak dalam perubahan tingkah laku, secara teknik
dirumuskan dalam sebuah pernyataan verbal melalui
tujuan pengajaran (tujuan instruksional). Dengan
perkataan lain rumusan tujuan pengajaran berisikan hasil
belajar yang diharapkan dikuasai peserta didik yang
mencakup ketiga aspek tersebut. 13
Unsur-unsur yang terdapat dalam ketiga aspek
hasil belajar tersebut, di antaranya:14
a) Aspek hasil belajar bidang kognitif
Aspek hasil belajar bidang kognitif meliputi
pengetahuan hafalan (knowledge), pemahaman
(comprehension), penerapan (application), analisis,
sintesis, dan evaluasi.
(1) Pengetahuan hafalan yang dimaksud adalah
tingkat kemampuan yang hanya meminta
responden mengenal konsep, fakta, istilah-istilah
tanpa harus memahami, atau menilai, atau dapat
menggunakannya.
(2) Pemahaman yang dimaksud adalah mampu
memahami arti atau konsep, situasi, dan fakta
yang diketahuinya.

13
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, hlm. 49.
14
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, hlm. 50-54.

15
(3) Penerapan (aplikasi) yaitu mampu menerapkan
atau menggunakan apa yang telah diketahuinya
dalam situasi yang baru baginya.15
(4) Analisis yaitu usaha untuk memilah suatu
integrasi menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian
sehingga menjadi jelas susunannya. Dengan
menganalisis seseorang diharapkan dapat
memilah integrasi menjadi bagian-bagian secara
terpadu.
(5) Sintesis merupakan kemampuan menggabungkan
unsur-unsur pokok ke dalam struktur yang baru.
(6) Evaluasi adalah kemampuan menilai isi pelajaran
untuk suatu maksud atau tujuan tertentu.16

b) Aspek hasil belajar bidang afektif


Aspek hasil belajar afektif tampak pada siswa
dalam berbagai tingkah laku seperti atensi atau
perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar,
menghargai guru, teman, dan sebagainya.
Tingkatan aspek afektif sebagai tujuan dan
aspek hasil belajar. Tingkatan tersebut dimulai dari

15
Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 44.
16
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, hlm. 204.

16
tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkatan
yang kompleks yaitu17:
(1) Receiving/attending, yakni semacam kepekaan
dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar
yang datang pada siswa, baik dalam bentuk
masalah, situasi, gejala.
(2) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang
diberikan seseorang terhadap stimulasi yang
datang dari luar.
(3) Valuing (penilaian), yakni berkenaan dengan nilai
dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus
tadi.
(4) Organisasi, yakni pengembangan nilai sebagai
suatu sistem organisasi, termasuk menentukan
hubungan satu nilai yang telah dimilikinya.
(5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai yakni
keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah
dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola
kepribadian dan tingkah lakunya.

c) Aspek hasil belajar bidang psikomotor


Hasil belajar bidang psikomotor tampak dalam
bentuk keterampilan (skill), kemampuan bertindak

17
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, hlm. 56-58

17
individu (seseorang). Ada 6 tingkatan keterampilan
yakni:
(1) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang
tidak sadar)
(2) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar
(3) Kemampuan perseptual termasuk di dalamnya
membedakan visual, membedakan auditif motorik
dan lain-lain
(4) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan,
keharmonisan, ketepatan
(5) Gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana
sampai pada keterampilan yang kompleks
(6) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi
non diskursif (hubungan tanpa bahasa, melainkan
melalui gerakan).18

e. Faktor-Faktor Hasil Belajar


Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar peserta
didik banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi
dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.19
a) Faktor Intern

18
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, hlm. 63-64
19
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, hlm.
54.

18
Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri
peserta didik. Di dalam membicarakan faktor intern
ini, akan dibagi menjadi tiga faktor yaitu faktor
jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.
(1) Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan dan
cacat tubuh.
(2) Faktor psikologis meliputi intelegensi, perhatian,
minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
(3) Faktor kelelahan dibedakan menjadi dua, yaitu
kelelahan jasmani dan rohani. Kelelahan jasmani
seperti lemah lunglai sedangkan kelelahan rohani
seperti adanya kelesuan dan kebosanan.20

b) Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari
luar diri peserta didik, faktor ekstern dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan
faktor masyarakat.
(1) Faktor keluarga
Peserta didik akan dipengaruhi dari
keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi
antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan
keadaan ekonomi keluarga.
(2) Faktor sekolah

20
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, hlm.
55.

19
Faktor sekolah yang dapat mempengaruhi
belajar yaitu mencakup metode mengajar,
kurikulum, relasi guru dan peserta didik, relasi
peserta didik dengan peserta didik, disiplin
sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar
pengajaran, kualitas pengajaran, keadaan gedung,
metode belajar dan tugas rumah.
(3) Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang
juga berpengaruh terhadap belajar peserta didik.
Pengaruh itu terjadi karena keberadaan peserta
didik dalam masyarakat. Meliputi kegiatan peserta
didik dalam masyarakat, teman bergaul dan bentuk
kehidupan masyarakat.21
Selain itu terdapat juga faktor ekstern yang
mempengaruhi hasil belajar peserta didik yaitu sarana dan
prasarana sekolah yang belum lengkap seperti keadaan
gedung sekolah yang masih dalam pembangunan. Faktor
ekstern yang lainnya yaitu faktor pendekatan yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan oleh guru.
Strategi dan metode ceramah yang dilakukan secara terus
menerus akan membuat peserta didik merasa bosan dan
pembelajaran yang monoton juga dapat menghambat

21
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, hlm.
56-57.

20
pemahaman peserta didik terhadap materi yang
disampaikan.

2. Media Manik-Manik
a. Pengertian Media
Menurut poerwadarminta kata media berasal dari
22
kata medium yang secara harfiah berarti perantara.
Sedangkan menurut Arsyad Media merupakan perantara
pembelajaran antara guru dan siswa. 23
Adapun yang dimaksud media disini adalah media
pembelajaran. Media pembelajaran merupakan alat bantu
yang dapat mempermudah proses penerimaan materi yang
disampaikan oleh guru sehingga akan mempermudah
siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Secara umum manfaat media dalam proses
pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru
dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih
efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus ada
beberapa manfaat media yang lebih rinci. Adapun manfaat
media dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan.

22
Arsyad, Azhari, Media Pembelajaran, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, 2000. hlm.60
23
Ibid. hlm.60

21
2) Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik.
3) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.
4) Efisien dalam waktu dan tenaga.
5) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.
6) Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan
di mana sajadan kapan saja.
7) Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa
terhadap materi dan
proses belajar.
8) Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan
produktif.

b. Pengertian Manik-manik
Yang dimaksud manik-manik adalah berupa butiran
benda yang kecil-kecil seperti batu, kancing baju, tasbih
atau sejenisnya. 24
Media manik-manik dapat digunakan untuk
memvisualisasikan atau menggambarkan secara konkrit
proses perhitungan pada bilangan bulat.
Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan media manik-manik tentunya disertai
dengan memperagakan media tersebut secara langsung
kepada siswa. Memperagakan media secara langsung
sering dikenal dengan metode demonstrasi.

24
http://kbbi.web.id/manik

22
Metode demonstrasi adalah metode pembelajaran
yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu
pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana
melakukan sesuatu kepada anak didik tentang suatu
proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau
hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian,
demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan
oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran
siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi
demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih
konkret. 25
Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif,
sebab membantu siswa untuk mencari jawaban dengan
usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. 26
1) Kelebihan Metode Demonstrasi
Sebagai suatu metode pembelajaran
demonstrasi memiliki beberapa kelebihan,
diantaranya :
a) Melalui metode demonstrasi terjadinya
verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa
disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran
yang dijelaskan.

25
Ibid. Hlm.83
26
Nana Sujana. Drs, Dasar-dasar proses belajar-mengajar, hal.83

23
b) Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab
siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat
peristiwa yang terjadi.
c) Dengan cara mengamati secara langsung siswa
akan memiliki kesempatan untuk membandingkan
antara teori dan kenyataan. Dengan demikian
siswa akan lebih menyakini kebenaran materi
pembelajaran.
2) Kelemahan Metode Demonstrasi
Disamping beberapa kelebihan, metode
domonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan,
diantaranya:
a) Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang
lebih matang, sebab tanpa persiapan yang
memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat
menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.
Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan
pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus
beberapa kali mencobanya terlebih dahulu,
sehingga dapat memakan waktu yang banyak.
b) Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan,
dan tempat yang memadai yang berarti
penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan
yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
c) Demonstrasi memerlukan kemampuan dan

24
keterampilan guru yang khusus, sehingga guru
dituntut untuk bekerja lebih professional.
Disamping itu demonstrasi juga memerlukan
kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk
keberhasilan proses pembelajaran siswa. 27

3) Langkah-langkah Menggunakan Metode


28
Demonstrasi.
 Tahap Persiapan
Pada tahapan persiapan ada beberapa hal
yang harus dilakukan:
a) Tetapkan tujuan demonstrasi
b) Tetapkan langkah-langkah pokok demonstrasi
yang akan dilakukan.
c) Siapkan alat-alat yang diperlukan
d) Lakukan uji coba demonstrasi.

 Tahap Pelaksanaan
a) Langkah pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada
beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya:
(1) Aturlah tempat duduk yang memungkinkan

27
http://materiinside.blogspot.co.id/2014/12/pengertian-kelebihan-
kekurangan demonstrasi.html
28
Nana Sudjana. Drs,. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, hlm.
84.

25
semua siswa dapat memperhatikan dengan
jelas apa yang didemonstrasikan.
(2) Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai
oleh siswa.
(3) Kemukakan tugas-tugas apa yang harus
dilakukan siswa, misalnya siswa ditugaskan
untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting
dari pelaksanaan demonstrasi.
b) Langkah pelaksanaan demonstrasi
(1) Usahakan demonstrasi dapat diikuti, diamati
oleh seluruh kelas.
(2) Tumbuhkan sikap kritis pada siswa sehingga
terdapat tanya jawab, dan diskusi tentang
masalah yang akan didemonstrasikan
(3) Berikan kesempatan kepada setiap siswa
untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut
sesuai dengan apa yang dilihat dari proses
demonstrasi itu, dan berikan kesempatan
siswa untuk mencoba sehingga siswa merasa
yakin tentang kebenaran suatu proses.
c) Langkah mengakhiri demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan,
proses pembelajaran perlu diakhiri dengan
memberikan tugas-tugas tertentu yang ada
kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan

26
proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini
diperlukan untuk menyakinkan apakah siswa
memahami proses demonstrasi itu atau tidak.
Selain memberikan tugas yang relevan, ada
baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi
bersama tentang jalannya proses demonstrasi itu
untuk perbaikan selanjutnya.

3. Pembelajaran Penjumlahan Bilangan Bulat


a. Standar Kompetensi
Standar kompetensi yang hendak dicapai pada
pembelajaran materi penjumlahan bilangan bulat adalah
Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat.
b. Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar pada materi ini adalah
Menjumlahkan bilangan bulat
c. Indikator
Indikator pada pembahasan penjumlahan bilangan
bulat adalah sebagai berikut:
1) Menjumlahkan bilangan bulat positif dengan positif
2) Menjumlahkan bilangan bulat positif dengan negatif
3) Menjumlahkan bilangan bulat negatif dengan negatif
4) Menjumlahkan bilangan bulat negatif dengan positif
d. Materi Pokok
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas, pengertian penjumlahan adalah bentuk operasi

27
bilangan yang ditandai dengan simbol/tanda (+/-).
Sedangkan bilangan bulat adalah bilangan yang
terdiri dari bilangan 0, bilangan negatif dan bilangan
asli/bilangan positif atau jika ditulis dalam bentuk
himpunan bilangan bulat adalah
{...-3; -2; -1; 0; 1; 2; 3; ...}.
Dalam penjumlahan bilangan bulat seperti halnya
penjumlahan pada bilangan asli dan bilangan cacah, yaitu
kita menggunakan tanda tambah atau plus dengan notasi
(+) dan tanda kurang atau selisih atau minus dengan (-).29
Ada 4 jenis penjumlahan bilangan bulat, yaitu :
a. Penjumlahan bilangan bulat posisif dengan positif
Contoh : 3 + 5 = 8
b. Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif
Contoh : -2 + (-3) = -5
c. Penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif
Contoh : 3 + (-5) = -2
d. Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif
Contoh : -8 + 1 = -7

Ada beberapa kemampuan yang harus dikuasai


siswa kelas IV dalam mempelajari materi bilangan bulat,
pemahaman tentang nama bilangan, lambang bilangan,

29
Karso. Drs, M.Pd., Materi Pokok Pendidikan Matematika I, (Jakarta:
Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004), hal. 6.18

28
lawan bilangan, serta operasi penjumlahan dan
pengurangan bilangan bulat. Dalam mempermudah
pengoperasian penjumlahan bilangan bulat tersebut dapat
kita padukan dengan menggunakan media pembelajaran,
dalam hal ini media yang tepat untuk kita gunakan adalah
media manik-manik.
Cara penerapan penggunaan media manik-manik
pada proses perhitungan penjumlahan bilangan bulat
adalah sebagai berikut.
1) Alat peraga manik-manik pendekatannya
menggunakan pendekatan konsep himpunan.
2) Bentuknya dapat berupa butiran bulatan-bulatan
setengah lingkaran atau lingkaran penuh.
3) Alat ini biasanya terdiri dari dua warna, satu warna
untuk menggambarkan bilangan bulat positif dan
warna yang lain untuk menandakan bilangan negatif.
4) Jika ada manik-manik dengan warna yang berbeda
berpasangan sama dengan netral (nol).30

30
Gatot Muhsetyo, dkk., Pembelajaran Matematika SD Edisi 1,
(Jakarta: Universitas Terbuka, 2012), hlm.3.11.

29
Gb.1 : Simbol bilangan bulat Gb.2 : Simbol
bilangan bulat positif negatif

1 Pasang=0 2 pasang=0 3 pasang=0

Gb.3 : Positif dan negatif yang berpasangan, sama


dengan netral atau nol (0)

Contoh penggunaan dalam operasi penjumlahan bilangan


bulat adalah sebagai berikut :

1)

3 + (- 2 ) = 1

(2 manik kuning dan 2 manik merah berpasangan sama dengan


netral atau nol. Jadi tinggal 1 manik kuning/1 positif = 1)

30
1)

-3 + 2 = -1

(2 manik kuning dan 2 manik merah berpasangan sama dengan


netral atau nol. Jadi tinggal 1 manik merah/1 negatif = -1)

Gb. 4 : Peragaan penjumlahan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa


pengertian penjumlahan bilangan bulat adalah bentuk operasi
menjumlahkan bilangan yang terdiri dari bilangan 0, bilangan
negatif dan bilangan bilangan positif

B. KAJIAN PUSTAKA
Penelitian yang berjudul “Peningkatan Kemampuan
Memahami Konsep Penjumlahan Bilangan Bulat Melalui
Penggunaan Media Manik-Manik Pada Siswa Kelas IV SD
Negeri 05 Bantarbolang Tahun Pelajaran 2009/2010.”( Sadi,
2010). Setelah dilakukan penelitian, Penggunaan media manik-
manik dapat meningkatkan kemampuan memahami konsep
penjumlahan bilangan bulat pada siswa. Hal ini terbukti dari rata-

31
rata nilai siswa sebelum tindakan yang semula 51,90 Menjadi
62,38 pada siklus I dan 83,10 pada siklus II.31
Penelitian yang berjudul tentang “Penggunaan Media
Manik-Manik Untuk Meningkatkan Kemampuan Menghitung
Pengurangan Bilangan Bulat Pada Siswa Kelas IV SD Islam AL
IRSYAD Tawangmangu Tahun Pelajaran 2011/2012” yang
dilakukan oleh Indra Narotama tahun 2013. Dari hasil penelitian
tersebut hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
Matematika menggunakan media manik-manik dapat
meningkatkan kemampuan menghitung pengurangan bilangan
bulat siswa kelas IV SD Islam Al Irsyad tahun ajaran 2011/2012.
Hal ini dibuktikan dari perbandingan hasil nilai tugas akhir siswa
pada nilai awal nilai rata-rata kelas adalah 50,42, Nilai rata-rata
kelas pada Siklus I adalah 67,5 dan nilai rata-rata kelas siklus II
adalah 76,25. Pada siklus I nilai masing-masing siswa yang
mengalami peningkatan 14 siswa (70%) dengan nilai diatas
KKM, 6 siswa (30%) dengan nilai dibawah KKM. Sedangkan
Siklus II sebanyak 12 siswa (60%) mengalami peningkatan,
sebanyak 6 siswa (30%)memperoleh nilai yang sama dan 2 orang
32
siswa (10%) mendapat nilai di bawah KKM.

31
Sadi, Peningkatan Kemampuan Memahami Konsep Penjumlahan
Bilangan Bulat Melalui Penggunaan Media Manik-Manik Pada Siswa Kelas
IV SD Negeri 05 Bantarbolang Tahun Pelajaran 2009/2010. Surakarta :
Universitas Sebelas Maret 2010,
32
Indra Narotama, Penggunaan Media Manik-Manik Untuk
Meningkatkan Kemampuan Menghitung Pengurangan Bilangan Bulat Pada

32
Penelitian yang berjudul “Peningkatan Kemampuan
Menghitung Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat
Melalui Media Manik-manik pada Siswa Kelas IV SD N
Balangan Teras Boyolali Tahun Pelajaran 2009/2010 “ yang
dilakukan oleh Betty Biliya Anggraheni tahun 2010. Dari hasil
penelitian tersebut dapat dilihat ada peningkatan Rata-rata skor
kelas yang diperoleh siswa dari kondisi pra siklus 52,82 ;
kemudian menjadi 62,39 pada siklus I, menjadi 76,73 pada siklus
II, Adapun prosentase hasil belajar siswa mengalami peningkatan
pada pra siklus hanya 35 % ; pada siklus pertama tes menjadi
60,86 % ; kemudian pada siklus kedua menjadi 86,96 % .
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
menggunakan media manik-manik mampu meningkatkan
menambahkan dan mengurangkan kemampuan siswa kelas 4 di
SD Balangan Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali pada tahun
akademik 2009/2010. 33
Perbedaan penelitian yang peneliti lakukan sekarang
dengan penelitian-penelitian yang terdahulu, yaitu terletak pada
subjek dan objek, serta materi yang peneliti gunakan. Yang mana
peneliti menggunakan media manik-manik pada kelas IV di MI

Siswa Kelas IV SD Islam AL IRSYAD Tawangmangu Tahun Pelajaran


2011/2012, Universitas Muhammadiyah Surakarta 2013.
33
Betty Biliya Anggraheni, Peningkatan Kemampuan Menghitung
Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat Melalui Media Manik-manik
pada Siswa Kelas IV SD N Balangan Teras Boyolali Tahun Pelajaran
2009/2010, Surakarta Universitas Sebelas Maret 2010.

33
Miftahul Ulum Genuk Semarang dengan materi yang digunakan
yaitu Penjumlahan Bilangan Bulat.

C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan
masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah
dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.34
Berdasarkan pendapat tersebut diatas, maka penulis
mengajukan hipotesis bahwa: “Apakah penerapan pembelajaran
dengan menggunakan media manik-manik dapat meningkatkan
hasil belajar siswa pada materi penjumlahan bilangan bulat di
kelas IV MI Miftahul Ulum Genuk Semarang Tahun Pelajaran
2015/2016.

34
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 9.

34

Anda mungkin juga menyukai