Asuhan Kebidanan Pranikah Nn. E 22 Tahun
Asuhan Kebidanan Pranikah Nn. E 22 Tahun
Disusun Oleh:
NUR FALAH
Disusun Oleh
NUR FALAH
231590111006
Telah Disetujui
Pada Tanggal
Mengetahui,
Pembimbing Lahan
Mengetahui,
Pembimbing Institusi
Keterangan:
1. Isilah kolom nilai dengan angka 0-100 pada tiap-tiap komponen
2. Batas nilai lulus=75
(Ryzky Diah Anggraini M.Tr.Keb) (Nur Falah) (Bdn. Shelvy R. Chandra S.Tr.Keb)
LAPORAN CASE BASED DISCUSSION (CBD)
STASE PRANIKAH & PRAKONSEPSI
ASUHAN KEBIDANAN Nn. E USIA 22 TAHUN DENGAN
PERSIAPAN PERNIKAHAN & IMUNISASI TT
TAHUN AKADEMIK 2023/2024
Disusun Oleh:
Nur Falah
Nim: 231590111006
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V KESIMPULAN
Pendahuluan
Latar Belakang
Skrining Pranikah adalah pemeriksaan awal sebelum menikah untuk segera dilakukan
agar tidak terjadi kerusakan pada penyakit darah, penyakit infeksi dan penyakit
lainnya yang bisa mentransmisi pada pasangan lainnya atau anak di di masa depan.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan genetik, penyakit menulardan
infeksi melalui darah. Pemeriksaan bertujuan untuk mencegah agar penyakit tersebut
tidak menurun pada keturunannya di kemudian hari sehingga hidup sehat bersama
keluarga bisa tercapai. Waktu pelaksanaan pre marital screening yang disarankan
adalah 6 bulan sebelum calon mempelai menikah. (Kemenkes, 2018)
Keselamatan ibu dan bayi pada proses persalinan sampai dengan pasca persalinan
sangat perlu mendapat perhatian. Salah satu masalah yang dihadapi di negara-negara
maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan sudah maju, tingkat kematian akibat
neonatal tetanus dapat ditekan. Antibodi dari ibu kepada bayinya juga mencegah
neonatal tetanus. Oleh karena itu salah satu upaya untuk mencegah dengan imunisasi
Tetanus Toxoid (TT) bagi wanita dimulai dari masa anak- anak sampai dengan pada
masa kehamilan. (Sukmara, 2017)
Pelaksanaan program imunisasi TT
pada calon pengantin, Kemenkes menjalin
kerjasama dengan Kementerian Agama. Hal
tersebut dilakukan karena sasaran dari
program ini adalah calon pengantin yang
biasanya sudah mendaftarkan diri di kantor
urusan agama (KUA). Baik Dinas
Kesehatan maupun KUA setempat, masing-
masing saling membentuk divisi atau bagian
yang bertanggung jawab menangani
program tersebut. (Hadianti, 2017)
Tinjauan Teori
Definisi Skrining Pranikah
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Pre-marital screening check
up atau tes kesehatan pra nikah sebaiknya dilakukan oleh pasangan yang
akan melangsungkan pernikahan. Tes ini penting dilakukan untuk
memahami kondisi genetika pasangan dan membantu pasangan untuk
mengambil tindakan pencegahan atau perawatan bila diperlukan.
Pemeriksaan bertujuan untuk mencegah agar penyakit tersebut tidak
menurun pada keturunannya di kemudian hari sehingga hidup sehat bersama
keluarga bisa tercapai. Waktu pelaksanaan premarital skrining yang
disarankan adalah 6 bulan sebelum calon mempelai menikah. Pemeriksaan
premarital yang terdiri atas pemeriksaan umum, yakni uji pemeriksaan fisik
secara lengkap. Hal ini dilakukan karena umumnya status kesehatan dapat
dilihat lewat tekanan darah. Umumnya, tekanan darah tinggi dapat
berbahaya bagi kandungan sebab membuat tumbuh kembang janin dalam
kandungan terhambat (Kemenkes, 2018).
Manfaat Skrining Pranikah
01 02 03
Mengetahui Status Mendeteksi penyakit Mendeteksi penyakit atau
Kesehatan Pasangan menular, seperti hepatitis kelainan genetik, seperti
B dan HIV/AIDS anemia sel sabit, thalasemia,
dan hemofili
04 05 06
Mengetahui tingkat Mengetahui kondisi pasangan Memperoleh kesiapan mental
kesuburan masing-masing serta proyeksi pernikahan yang karena sudah mengetahui
berkaitan dengan masalah benar kondisi kesehatan calon
calon mempelai.
kesehatan reproduksi (fertilitas ) pasangan hidupnya.
dan genetika ( keturunan ).
Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam Tes Kesehatan
Pranikah menurut Kemenkes:
05 Pemeriksaan Alergi
Jenis-jenis Pemeriksaan Kesehatan
Pranikah
1. Analisa Hematologi (Hb, leukosit, eritrosit, trombosit). Ini
bertujuan untuk mendiagnosis penyakit infeksi dan penyakit
darah.
2. Urine Aanalisis. Bertujuan untuk memantau kondisi fungsi
ginjal atau saluran kemih.
3. Golongan darah dan rhesus. Bertujuan untuk mengetahui
kecocokan rhesus.
4. Glukosa puasa. Bertujuan untuk mengetahui penyakit kencing
manis.
Definisi Hipertensi
Tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan oleh darah yang bersirkulasi ke dinding
arteri (pembuluh darah utama dalam tubuh). Hipertensi terjadi ketika tekanan darah
terlalu tinggi. Tekanan darah terdiri dari (sistolik) tekanan di pembuluh darah saat
jantung berkontraksi atau berdetak dan (diastolik) tekanan di pembuluh saat jantung
beristirahat di antara detak jantung. Dikatakan hipertensi jika, ketika diukur pada dua
hari yang berbeda, hasil tekanan darah sistolik kedua hari tersebut adalah ≥140 mmHg
dan atau pembacaan tekanan darah diastolik pada kedua hari tersebut adalah ≥90
mmHg (WHO, 2019). Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan
tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90
mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan
cukup istirahat/tenang (Kemenkes RI, 2014).
Dampak Hipertensi terhadap WUS
Dampak yang dapat terjadi pada wanita usia subur
dengan hipertensi antara lain penyakit kardio
vaskuler, ginjal, stroke, dan untuk WUS yang
sedang hamil menyebabkan komplikasi seperti
hipertensi gestasional, preeklampsia, eklampsia dan
hipertensi post partum (Sari, 2020).
Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan terhadap hipertensi dapat dilakukan secara farmakologis
dan non-farmakologi. Anggapan bahwa hipertensi bisa di sembuhkan adalah
keliru, dan menyebabkan penderita berhenti minum obat. Hipertensi tidak
bisa di sembuhkan, tetapi bisa dikendalikan. Hanya sedikit orang yang
hipertensinya tidak muncul dalam waktu lama (bertahun tahun sampai
puluhan tahun), tetapi mereka harus tetap waspada. Ada 4 fungsi obat dalam
dunia kedokteran, dan obat anti hipertensi itu termasuk dalam obat untuk
mengontrol penyakit (Nurrahmani, 2017).
Definisi Anemia
Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Anemia adalah suatu
keadaan Dimana jumlah dan ukuran sel darah merah, atau konsentrasi haemoglobin
dibawah nilai batas yang ditentukan, akibatnya merusak kapasitas darah untuk mengangkut
oksigen kesekuruh tubuh (WHO). Menurut data WHO secara global, kasus anemia
sebanyak 1,62 miliar orang atau 24,8% dari populasi. Berdasarkan Riskesdas 2013 terdapat
21,7% penduduk indonesia dengan kadar hemoglobin yang kurang dari batas normal
dengan proporsi 20,6% di perkotaan dan 22,8% di pedesaan serta 18,4% laki-laki dan
23,9% perempuan. Menurut WHO (2013) 40% kematian ibu di negara berkembang
berkaitan dengan anemia dalam kehamilan di Indonesia prevalensi anemia dalam
kehamilan masih cukup tinggi yaitu 68%1 . Sebagian besar penyebab anemia di Indonesia
adalah kekurangan zat besi yang berasal dari makanan yang dimakan setiap hari dan
diperlukan untuk pembentukan hemoglobin sehingga disebut anemia kekurangan besi.
Anemia zat besi banyak diderita oleh wanita hamil, wanita menyusui dan wanita usia subur,
pada umumnya karena fungsi kodrati yaitu haid, hamil, melahirkan dan menyusui.
Dampak Anemia terhadap WUS
Dampak yang ditimbulkan akibat anemia defisiensi besi sangat kompleks. Hal ini juga
tentu akan berdampak pada WUS pranikah yang akan menghadapi masa kehamilan
setelah menikah dan menghasilkan generasi penerus bangsa. Status anemia yang terjadi
pada masa ini rentan akan mengakibatkan efek secara tidak langsung terhadap janin
yang akan dikandung oleh WUS nantinya menyebabkan buruknya persalinan, berat
bayi lahir rendah, bayi lahir premature, serta komplikasi kehamilan dan kelahiran.
Menurut Soemantri, bahwa anemia yang tinggi akan berdampak pada penurunan
kualitas sumber daya manusia, sosial dan ekonomi . Anemia pada calon pengantin
dapat menyebabkan mudah lelah, kapasitas fisik turun, badan lemah, dan menurun nya
produktifitas, dan akan semakin berat kondisinya bila calon pengantin hamil
Penatalaksanaan
Catin sebagai calon ibu merupakan kelompok yang rawan anemia gizi besi
dan memerlukan perhatian khusus dalam penanganannya.(Hendriani et al.,
2020). Skrining anemia dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium yang
merupakan salah satu deteksi dini yang harus dilakukan kepada catin
wanita agar dapat diketahui kadar hemoglobin (Hb) dalam darahnya.
Intervensi harus dilakukan sedini mungkin dan berkelanjutan apabila
ditemukan catin wanita yang anemia melalui program pemerintah
pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) (Friscila et al., 2023)
Definisi Imunisasi TT
Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan
terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau produk
kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan kedalam tubuh.
Dengan melakukan imunisasi kuman atau produk kuman yang sudah
dimasukkan diharapkan bisa menjadi hal yang bisa melemahkan dan
melawan kuman maupun bibit penyakit yang masuk kedalam tubuh.
Imunisasi Tetanus Toxoid ialah imunisasi untuk mencegah
penyakit tetanus. Imunisasi TT Pada ibu Hamil dalah upaya yang
dilakukan untuk memperoleh kekebalan pada ibu hamil terhadap
infeksi tetanus yaitu dengan menyuntikan vaksin tetanus toxoid.
(Rinaldi, 2016)
Manfaat Menurut (Sukmara, 2017) manfaat imunisasi TT yaitu:
Imunisasi
TT
01. 02.
Mencegah tetanus pada bayi baru
lahir (diberikan pada wanita usia Mencegah tetanus pada ibu bayi
subur atau ibu hamil)
03.
Dapat digunakan oleh siapa saja
yang terluka seperti terkena benda
berkarat, jatuh di jalan raya
Tujuan Imunisasi TT
Tujuan diberikannya imunisasi tetanus toksoid antara lain untuk
(Rinaldi, 2016) : meningkatkan kekebalan tubuh dari infeksi tetanus pada
perempuan yang hendak menikah, melindungi bayi baru lahir dari tetanus
neonatorum, melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka,
pencegahan penyakit pada ibu hamil dan bayi kebal terhadap kuman
tetanus, serta untuk mengeliminasi penyakit tetanus pada bayi baru lahir.
Selain itu Imunisasi TT juga bertujuan sebagai Salah satu yang harus
dipenuhi dan merupakan aturan wajib dari pemerintah adalah Vaksin
Tetanus Toksoid (TT).
Jadwal Jenis
Imunisasi
Pemberian
Imunisasi
Interval pemberian
minimal
Persentaseproteksi
Masa
Perlindungan Dosis
Pemberian Imunisasi
TT1 -- -- Tidak ada 0,5 cc
Imunisasi TT
TT2 4 minggu setelah TT1 80 % 3 tahun
0,5 cc
Wanita
Usia Seumur hidup
Subur TT5 1 tahun setelah TT4 99 % atau
(WUS) selama usia 0,5 cc
subur/
(25 tahun)
Sumber :Kep. MenKes no. 1611/ MENKES/ SK/ XI/ 2005 tentang pedoman
Penyelenggaraan Imunisasi dalam Petunjuk Teknis Imunisasi TT, 2005.
Jadwal Pemberian Imunisasi TT
Menurut IDAI tahun 2020
Vaksin DTap terhitung dimulai dari diberikan pada
umur 2, 3, 4 bulan atau 2, 4, 6 bulan. Booster pertama
diberikan pada umur 18 bulan. Booster berikutnya
diberikan pada umur 5 - 7 tahun atau pada program
BIAS kelas 1. Umur 7 tahun atau lebih menggunakan
vaksin Td atau Tdap. Booster selanjutnya pada umur 10
– 18 tahun atau pada program BIAS kelas 5. Booster Td
diberikan setiap 10 tahun
Manfaat Indikasi
Melindungi calon bayi yang Untuk pemberian kekebalan
akan lahir dari penyakit aktif/ imunisasi aktif terhadap
tetanus neonatorum tetanus.
Melindungi calon
pengantin/ calon ibu
terhadap
kemungkinan tetanus
apabila terluka.
Cara Pemberian & Dosis
Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
Vaksin disuntikkan secara intramuscular atau subkutan dalam
Imunisasi TT untuk pencegahan terhadap tetanus/ tetanus neonatorum dari 2 dosis primer 0,5
ml yang diberikan secara intramuscular dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis
ketiga setelah 6 bulan berikutnya.
Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada WUS, maka dianjurkan diberikan 5
dosis. Dosis keempat diberikan 1 tahun setelah dosis ketiga, dan dosis kelima diberikan 1
tahun setelah dosis keempat. Imunisasi TT dapat diberikan elama kehamilan, bahkan pada
periode trimester pertama.
Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka boleh digunakan selama 4 minggu,
dengan ketentuan :
Vaksin belum kadaluarsa, VVM masih dalam kondisi A dan B
Vaksin disimpan dalam suhu +2o - +8oC
Tidak pernah terendam air
Sedangkan diposyandu, vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari
berikutnya (Depkes RI, 2017).
Keefektifan vaksin Tetanus Toxoid
Efektifitas imunisasi TT sebesar 60% - 90% proteksi dari penyakit tetanus
neonatorum selama 3 tahun terhadap calon pengantin yang melakukan
imunisasi TT sebanyak 2x (Purwanto, 2002). Hal tersebut dibuktikan dalam
penelitian Lilly indrawati, 1998, yang menyebutkan bahwa ibu dengan
status imunisasi TT tidak lengkap atau tidak imunisasi TT mempunyai
kecenderungan 36 kali lebih beresiko bayinya menderita tetanus
neonatorum dibandingkan dengan ibu yang status imunisasi TT lengkap.
Efek Samping
Dalam buku pedoman teknis imunisasi , vaksin TT adalah vaksin
yang aman dan tidak mempunyai kontraindikasi dalam
pemberiannya kecuali bagi klien yang mengalami reaksi
anafilaksis setelah pemberian dosis pertama. Meskipun demikian,
imunisasi TT tidak boleh diberikan kepada:
1. WUS dengan riwayat alergi terhadap imunisasi TT yang lalu.
2. WUS dengan panas tinggi dan sakit berat, namun demikian
WUS tersebut dapat di imunisasi segera setelah sembuh
Penatalaksanaan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung
maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung
misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi
suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope. Hal ini
adalah peristiwa yang normal dialami oleh tubuh ketika jaringan mengalami cedera,
yang dalam hal ini diakibatkan penggunaan jarum suntik. Peristiwa ini disebut dengan
reaksi radang akut yang memiliki 5 tanda khas, yaitu rubor (kemerahan), kalor (panas),
dolor (nyeri), tumor (pembengkakan), dan fungsio laesa (perubahan fungsi). Namun
munculnya tanda-tanda tersebut setelah pemberian imunisasi membuat ibu takut dan
menganggap anaknya berada dalam bahaya, sehingga ibu menjadi enggan untuk
memberikan imunisasi. (Fitria & Luthfiah, 2018)
Tinjauan Kasus
DOKUMENTASI SOAP
Asuhan Kebidanan pada Remaja dan Pranikah pada Nn.E Usia 22 Tahun dengan indikasi Catin
Penatalaksanaan
1) Memberitahu hasil pemeriksaan, semua dalam batas normal
2) Mengarahkan catin untuk melakukan pemeriksaan lab
3) Menjelaskan hasil pemeriksaan lab
4) Memberikan KIE tentang imunisasi catin, Efek samping dan keuntungan
5) Menyiapkan vaksin TD sesuai Kebutuhan (0,5 cc), lalu melakukan
penyuntikan pada lengan atas kiri ± 2-3 jari dari pangkal lengan atas
dengan sudut 45° dan lubang jarum menghadap atas
6) Memberikan dukungan psikologis agar tidak cemas dalam persiapan
pernikahan
7) Memberikan KIE tentang Skrining pra nikah
8) Memberikan KIE tentang alat Kontrasepsi
9) Pemberian tablet fe 10 tablet untuk persiapan kehamilan
10) Melakukan kolaborasi dengan tenaga medis lain dalam upaya skrining
pranikah terpadu (Poli gizi, poli gigi, dam poli umum)
Pembahasan
Nn.E usia 22 tahun mengatakan ingin melakukan pemeriksaan catin. Nn.E
mengatakan tidak ada keluhan, dan Nn.E ingin mendapatkan konseling terkait pra
nikah. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Pre-marital screening check
up atau tes kesehatan pra nikah sebaiknya dilakukan oleh pasangan yang akan
melangsungkan pernikahan. Waktu pelaksanaan premarital skrining yang
disarankan adalah 6 bulan sebelum calon mempelai menikah. Pemeriksaan
premarital yang terdiri atas pemeriksaan umum, yakni uji pemeriksaan fisik secara
lengkap. Bedasarkan hasil cek pemeriksaan fisik, tekanan darah Nn. E sedikit
tinggi. Nn. E mengatakan tidak memiliki Riwayat hipertensi serta dari faktor
genetic, orang tua Nn. E tidak memiliki Riwayat hipertensi. Bidan menganjurkan
untuk istirahat dan menjaga Kesehatan, serta pola nutrisi menjelang persiapan
pernikahan Nn. E. Berdasarkan hasil cek lab pada Nn. E didapatkan hasil
haemoglobin 13,5 gr/dl, normal dan tidak anemia. Anemia adalah suatu keadaan
Dimana jumlah dan ukuran sel darah merah, atau konsentrasi haemoglobin dibawah
nilai batas yang ditentukan, akibatnya merusak kapasitas darah untuk mengangkut
oksigen kesekuruh tubuh (WHO). Untuk hasil pemeriksaan lab mengenai PMS Nn.
E semuanya negative dan hasil GDS dalam batas normal. Dari hasil anamnese,
Imunisasi TT Nn. E hanya sampai T3, yang mana perlu untuk diberikan imunisasi
TT lanjutan untuk pemenuhan imunisasi TT.
Imunisasi TT akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus toksoid. Vaksin TT juga salah
satu syarat yang harus dipenuhi saat mengurus surat-surat atau kelengkapan administrasi di KUA.
Kepada calon pengantin Wanita imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu.
Imunisasi TT diberikan kepada caten wanita dengan tujuan untuk melindungi bayi yang akan dilahirkan
dari penyakit tetanus neonatrium Bila pasangan usia subur melakukan imunisasi TT1 dan TT2, jika
dalam waktu tiga tahun ia melahirkan, bayi yang dilahirkan akan terlindung dari tetanus neonaturum.
Sedangkan bila ia melakukan imunisasi sampai dengan TT5, ia akan memberi perlindungan selama 25
tahun atau seumur hidup. Imunisasi TT dapat dilakukan ditempat pelayanan kesehatan pemerintah,
praktek bidan atau RS. Sebenarnya target pemberian imunisasi TT ini adalah bukan wanita yang akan
menikah saja, tapi adalah wanita usia subur. Nn. Bersedia diberikan imunisasi TT, status imunisasi TT
Nn. E sekarang adalah T4. Berdasarkan hasil keseluruhan pemeriksaan, bahwa keadaan Nn. E baik
dalam persiapan kehamilannya. Bidan memberikan konseling terkait persiapan kehamilan, serta
konseling terkait alat kontrasepsi dalam mengatur jarak kehamilannya nanti. Bidan memberikan
konseling terkait pola nutrisi serta memberikan terapi SF 10 tablet untuk mempertahankan kadar HB Nn.
E agar tetap sehat, serta memberikan konseling terkait dampak bila mengalami anemia pada calon
pengantin dapat menyebabkan mudah lelah, kapasitas fisik turun, badan lemah, dan menurun nya
produktifitas, dan akan semakin berat kondisinya bila calon pengantin hamil. Kemudian bidan
kolaborasi dengan tenaga medis lain (Poli Gigi, poli gizi, dan Poli umum) dan menganjurkan Nn. E
untuk melanjutkan pemeriksaan skrining pranikah dan prakonsepsi terpadu.
Kesimpulan
Setelah dilakukan pengkajian dan penyusunan laporan
Case Base Discussion didapatkan kesimpulan Nn.E
usia 22 tahun dengan suntik TT caten. Dalam
pelaksanaan diharapkan mendapatkan konseling pra
nikah yang diinginkan. Setelah diberikan KIE Nn.E
memahami penjelasan petugas kesehatan dan bersedia
melaksanakan saran petugas kesehatan terkait
imunisasi TT caten dan konseling Pra nikah, dianjurkan
untuk kembali lagi jika ada keluhan.
Sekian &
Terima Kasih