Makala Pendidikan Kewarganegaraan Kel5
Makala Pendidikan Kewarganegaraan Kel5
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 5:
DOSEN PENGAMPU:
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat dan
hidayatnya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Demokrasi
berlandaskan pancasila dan UUD 1945” penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah pengantar pendidikan kewarganegaraan . Kami berharap dapat menambah
wawasan dan pengetahuan khusus-nya dalam bidang kewarganegaraan. Serta pembaca dapat
mengetahui tentang bagaimana dan apa sebenarnya demokrasi berlandaskan pancasila dan
UUD 1945 itu.
Kami juga mengucapkan terimakasih kepada teman -teman yang telah ikut campur dalam
memberikan masukan pada makalah ini.saya mengucapkan terimasih kepada dosen
pengampu mata kuliah pendidikan kewarganegaraan telah membimgbing kami belajar
banyak hal.akhirnya kepada tuhan yang maha Esa saya berharap dan berdoa agar makalah
kami ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami sendiri sebagai penyusun dan umumnya bagi
pembaca makalah ini.aamiinn
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
1. apa yang dimaksud demokrasi dan. Apa saja pilar – pilar demokrasi..
…………….......................................…………………………….. v
A. Kesimpulan…………………………………………………………………………………x
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
sebagai calon sarjana dan profesional diharapkan; teguh pendirian mengenai hakikat,
instrumentasi, dan praksis demokrasi Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan UUD NRI
1945; mampu menganalisis hakikat, instrumentasi, dan praksis demokrasi Indonesia yang
bersumber dari Pancasila dan UUD NRI 1945 sebagai wahana penyelenggaran negara yang
sejahtera dan berkeadilan dan mampu mengkreasi peta konseptual dan/atau operasional
tentang problematika interaksi antar hakikat, instrumentasi, dan praksis demokrasi Indonesia
yang bersumber dari Pancasila dan UUD NRI 1945 sebagai wahana kolektif penyelenggaraan
negara yang sejahtera dan berkeadilan.
2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan demokrasi dan apa saja pilar-pilar demokrasi?
2. Apa yang menjadi ciri khas demokrasi indonesia?
3. Apa sumber historis demokrasi pancasila?
4. Contoh pelanggaran demokrasi ?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Adanya pengakuan dan perlindungan terkait hak asasi manusia serta adanya jaminan
hukum dari penguasa (pemerintah).
2. Adanya sikap proaktif dari masyarakat terhadap penyelenggaraan negara (politik) sesuai
aturan konstitusi yang berlaku.
Ketiga prinsip di atas merupakan prinsip demokrasi yang pada umumnya ada dalam suatu
negara yang demokratis. Selebihnya prinsip-prinsip demokrasi seperti adanya kebebasan
pers, adanya pembagian kekuasaan negara, adanya supermasi sipil terhadap militer, adanya
prinsip kesukarelaan dalam kegiatan masyarakat serta adanya penegakan suatu keadilan
sosial dapat berlaku berbeda-beda antara satu negara dengan negara lainnya
Demokrasi pancasila merupakan suatu paham demokrasi yang bersumber dari pandangan
hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia yang digali berdasarkan kepribadian rakyat
Indonesia sendiri.Dari falsafah hidup bangsa Indonesia, kemudian akan timbul dasar falsafah
negara yang disebut dengan Pancasila dimana terdapat, tercermin, terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945.
Prinsip demokrasi pancasila ini telah ditulis oleh Bpk. Ahmad Sanusi dalam buku yang
berjudul Memberdayakan Masyarakat dalam Pelaksanaan 10 Pilar Demokrasi (2006:
193-205) dimana memuat 10 prinsip demokrasi yang menurut Pancasila dan UUD
1945, yaitu :
Yang kedua ini berarti aturan dan penyelenggaraan demokrasinya menurut UUD
1945. Bukan lewat naluri, kekuatan otot atau kekuatan massa.
Pelaksanannya lebih menurut kecerdasan rohani, aqliyah, rasional dan kecerdasan
emosional. Maka dengan pola pikir tersebut masyarakat bisa melakukan tindakan
yang rasional.
Demokrasi pancasila kekuasaan tertinggi ada pada tangan rakyat, jadi prinsipnya
rakyatlah yang memiliki kedaulatan.
Nah kedaulatan rakyat ini dibatasi dan dipercayakan kepada wakil rakyat, yaitu MPR
(DPR/DPD) dan DPRD. Suara rakyat dapat ditampung pada satu wadah, untuk
kemudian disampaikan secara jelas dan tepat melalui wakil rakyat
Demokrasi pancasila menurut UUD 1945 ini mengalami pembagian dan pemisahan
kekuasaan (division and seperation of power) dengan sistem pengawasan dan
perimbangan (check and balance).
Hal ini dilakukan untuk menghindari penyelewengan kekuasaan yang bisa
mengakibatkan kerugian pada pemerintahan dan juga rakyat.
6. Demokrasi dengan hak asasi manusia
Prinsip yang ke enam ini berarti demokrasi beradsarkan UUD 1945 dimana mengakui
HAM dengan tujuan bukan hanya menghormati hak tersebut.Namun juga
meningkatkan martabat dan derajat manusia seutuhnya. HAM bersifat universal dan
dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia.
Prinsipnya ialah supaya membangun negara yang makmur oleh dan untuk rakyat
Indonesia yang mencakup semua aspek entah hak dan kewajiban, kedaulatan rakyat,
pembagian kekuasaan, otomi daerah ataupun keadilan hukum.
Hal ini berdampak pada menekannya tingkat konflik agama maupun antar ras menjadi
lebih kecil.
Apakah sebelum muncul istilah demokrasi Pancasila, bangsa Indonesia sudah memiliki
tradisi demokrasi? Ada baiknya kita ikuti pendapat Drs. Mohammad Hatta yang dikenal
sebagai Bapak Demokrasi Indonesia tentang hal tersebut.
Menurut Moh. Hatta, kita sudah mengenal tradisi demokrasi jauh sebelum Indonesia
merdeka, yakni demokrasi desa. Demokrasi desa atau desa-demokrasi merupakan demokrasi
asli Indonesia, yang bercirikan tiga hal yakni 1) cita-cita rapat, 2) cita-cita massa protes, dan
3) cita-cita tolong menolong. Ketiga unsur demokrasi desa tersebut merupakan dasar
pengembangan ke arah demokrasi Indonesia yang modern. Demokrasi Indonesia yang
modern adalah “daulat rakyat” tidak hanya berdaulat dalam bidang politik, tetapi juga dalam
bidang ekonomi dan social. Berikut adalah pandangan demokrasi menurut moh. Hatta
Menurut pandangan Mohammad Hatta demokrasi Barat bukanlah demokrasi politik, yaitu
demokrasi dalam kehidupan politik, melainkan liberalisme secara umum. Maka Mohammad
Hatta mengidentikan demokrasi Barat dengan sesuatu yang menimbulkan kekuasaan
kapitalisme yang tidak membawa kemerdekaan rakyat, yang dimaksudkan sebenarnya adalah
paham liberalisme. Karena liberalisme mengandung paham kebebasan individual. Kritik
mengenai liberalisme mulai datang dari penganut ideologi lainnya seperti Marx dan para
pendukungnya atau dari kaum intelektual liberal yang senantiasa berfikir tentang perbaikan
masyarakat (Suleman, 2010: 141-142).
Dari sudut inilah Mohammad Hatta beranjak dan menolak demokrasi yang bersifat
individualisme, karena dalam perkembangan masyarakat di kemudian hari, kaum pemodallah
yang cepat bisa memanfaatkan bentuk demokrasi yang seperti ini. Kaum pemodal, kapitalis
bisa tumbuh bila tidak ada kekuatan pengimbang terhadap dirinya. Dengan demikian, tumbuh
dominan kaum kapitalis dalam demokrasi kapitalis inilah terbuka lebar jalan I’exploitation de
I’hommepar I’homme, yakni ekploitasi manusia atas manusia.
Penjelasan dari istilah tersebut adalah penindasan yang dilakukan oleh kaum pemilik modal
seperti manusia petani kecil dieksploitasi manusia pemilik tanah dan yang lemah
dieksploitasi yang kuat. Sedangkan kelemahan yang kedua adalah demokrasi Barat selalu
memiliki sisi politik dan ekonomi, yaitu demokrasi politik dan sistem ekonomi kapitalisme.
Secara spesifik yang ingin dukemukakan oleh Mohammad Hatta mengenai sistem ekonomi
kapitalis yang lahir terlebih dahulu dan sistem demokrasi diciptakan dan diterapkan untuk
menjamin keberlangsungan dari sistem kapitalisme bukanlah sebaliknya.
Demokrasi yang diperkenalkan oleh pemikiran Mohammad Hatta merupakan demokrasi yang
berdasarkan pada kelemahan-kelemahan yang terkandung dalam demokrasi Barat dengan
sifat masyarakat desa di Indonesia yang asli. Demokrasi Mohammad Hatta merupakan
kedaulatan rakyat yang lebih sempurna sebagai dasar pemerintahan Republik Indonesia yang
tidak sama dengan individualisme, karena individualisme dianggap sebagai suatu penyakit
yang harus dihindari.
Demokrasi politik yang ingin dijelaskan oleh Mohammad Hatta adalah demokrasi yang
mencerminkan sifat keperibadian kehidupan asli dari masyarakat Indonesia yang sejak dulu
sudah ada, sifat-sifat tersebut seperti rapat, musyawarah untuk mencapai mufakat, dan sikap
kritis terhadap peguasa. Sedangkan pengertian untuk demokrasi ekonomi oleh Mohammad
Hatta dijelaskan bahwa demokrasi yang berdasarkan asaz tolong-menolong serta
kebersamaan dan kekeluargaan yang tertuang dalam konsep koperasi iterjemahkan dengan
menjadikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional.
Sebagai penjelasan akhir dari pandangan Mohammad Hatta mengenai demokrasi politik dan
demokrasi ekonomi yaitu melalui kehidupan masyarakat asli Indonesia yang memiliki ciri
kehidupan secara Kolektivisme atau kebersamaan diajadikan sebagai sendi dalam
mengembangkan tatanan demokrasi untuk Indonesia merdeka. Penjelasan secara konkret
adalah pertama, unsur rapat/musyawarah dan mufakat melandasi pengembangan demokrasi
dalam kehidupan politik. Sedangkan yang kedua, tradisi tolong-menolong dengan melalui
pengembangan koperasi merupakan dasar dari pengembangan demokrasi dalam kehidupan
ekonomi. Dari semua itulah yang menjadi kontruksi pemikiran Mohammad Hatta tentang
demokrasi Indonesia.
Demokrasi yang diformulasikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat merupakan fenomena baru bagi Indonesia ketika merdeka. Kerajaan-kerajaan pra-
Indonesia adalah kerajaan-kerajaan feodal yang dikuasai oleh raja-raja autokrat. Akan tetapi,
nilai-nilai demokrasi dalam taraf tertentu sudah berkembang dalam budaya Nusantara, dan
dipraktikkan setidaknya dalam unit politik terkecil, seperti desa di Jawa, nagari di Sumatra
Barat, dan banjar di Bali (Latif, 2011).
Mengenai adanya anasir demokrasi dalam tradisi desa kita akan meminjam dua macam
analisis berikut. Pertama, paham kedaulatan rakyat sebenarnya sudah tumbuh sejak lama di
Nusantara. Di alam Minangkabau, misalnya pada abad XIV sampai XV kekuasaan raja
dibatasi oleh ketundukannya pada keadilan dan kepatutan. Ada istilah yang cukup tekenal
pada masa itu bahwa “Rakyat ber-raja pada Penghulu, Penghulu ber-raja pada Mufakat, dan
Mufakat ber-raja pada alur dan patut”. Dengan demikian, raja sejati di dalam kultur
Minangkabau ada pada alur (logika) dan patut (keadilan). Alur dan patutlah yang menjadi
pemutus terakhir sehingga keputusan seorang raja akan ditolak apabila bertentangan dengan
akal sehat dan prinsip-prinsip keadilan (Malaka, 2005).
Kedua, tradisi demokrasi asli Nusantara tetap bertahan sekalipun di bawah kekuasaan
feodalisme raja-raja Nusantara karena di banyak tempat di Nusantara, tanah sebagai faktor
produksi yang penting tidaklah dikuasai oleh raja, melainkan dimiliki bersama oleh
masyarakat desa.
Karena pemilikan bersama tanah desa ini, hasrat setiap orang untuk memanfaatkannya harus
melalui persetujuan kaumnya. Hal inilah yang mendorong tradisi gotong royong dalam
memanfaatkan tanah bersama, yang selanjutnya merembet pada bidang-bidang lainnya,
termasuk pada hal-hal kepentingan pribadi seperti misalnya membangun rumah, kenduri, dan
sebagainya.
Adat hidup seperti itu membawa kebiasaan bermusyawarah menyangkut kepentingan umum
yang diputuskan secara mufakat (kata sepakat). Seperti disebut dalam pepatah Minangkabau:
“Bulek aei dek pambuluah, bulek kato dek mufakat” (Bulat air karena pembuluh/bambu,
bulat kata karena mufakat). Tradisi musyawarah mufakat ini kemudian melahirkan institusi
rapat pada tempat tertentu, di bawah pimpinan kepala desa.
Setiap orang dewasa yang menjadi warga asli desa tersebut berhak hadir dalam rapat itu.
Karena alasan pemilikan faktor produksi bersama dan tradisi musyawarah, tradisi desa boleh
saja ditindas oleh kekuasaan feodal, namun sama sekali tidak dapat dilenyapkan, bahkan
tumbuh subur sebagai adat istiadat.
Hal ini menanamkan keyakinan pada kaum pergerakan bahwa demokrasi asli Nusantara itu
kuat bertahan, “liat hidupnya”, seperti terkandung dalam pepatah Minangkabau “indak lakang
dek paneh, indak lapuak dek ujan”, tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan
(Hatta, 1992). Ada dua anasir lagi dari tradisi demokrasi desa yang asli nusantara, yaitu hak
untuk mengadakan protes bersama terhadap peraturan-peraturan raja yang dirasakan tidak
adil, dan hak rakyat untuk menyingkir dari daerah kekuasaan raja, apabila ia merasa tidak
senang lagi hidup di sana.
Dalam melakukan protes, biasanya rakyat secara bergerombol berkumpul di alunalun dan
duduk di situ beberapa lama tanpa berbuat apa-apa, yang mengekspresikan suatu bentuk
demonstrasi damai. Tidak sering rakyat yang sabar melakukan itu. Namun, apabila hal itu
dilakukan, pertanda menggambarkan situasi kegentingan yang memaksa penguasa untuk
mempertimbangkan ulang peraturan yang dikeluarkannya. Adapun hak menyingkir, dapat
dianggap sebagai hak seseorang untuk menentukan nasib sendiri. Kesemua itu menjadi bahan
dasar yang dipertimbangkan oleh para pendiri bangsa untuk mencoba membuat konsepsi
demokrasi Indonesia yang modern, berdasarkan demokrasi desa yang asli itu (Latif, 2011).
Sikap pasrah kepada Tuhan, yang memutlakkan Tuhan dan tidak pada sesuatu yang lain,
menghendaki tatanan sosial terbuka, adil, dan demokratis (Madjid, 1992) Kelanjutan logis
dari prinsip Tauhid adalah paham persamaan (kesederajatan) manusia di hadapan Tuhan,
yang melarang adanya perendahan martabat dan pemaksaan kehendak antarsesama manusia.
Bahkan seorang utusan Tuhan tidak berhak melakukan pemaksaan itu. Seorang utusan Tuhan
mendapat tugas hanya untuk menyampaikan kebenaran (tabligh) kepada umat manusia,
bukan untuk memaksakan kebenaran kepada mereka.
Dengan prinsip persamaan manusia di hadapan Tuhan itu, tiap-tiap manusia dimuliakan
kehidupan, kehormatan, hak-hak, dan kebebasannya yang dengan kebebasan pribadinya itu
manusia menjadi makhluk moral yang harus bertanggung jawab atas pilian-pilihannya.
Dengan prinsip persamaan, manusia juga didorong menjadi makhluk social yang menjalin
kerjasama dan persaudaraan untuk mengatasi kesenjangan dan meningkatkan mutu
kehidupan bersama (Latif, 2011). Sejarah nilai-nilai demokratis sebagai pancaran prinsip-
prisip Tauhid itu dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.A.W.
Lebih jauh, Bellah juga menyebut sistem Madinah sebagai bentuk nasionalisme yang egaliter
partisipatif (egalitarian participant nationalism). Hal ini berbeda dengan sistem republik
negara-kota Yunani Kuno, yang membuka partisipasi hanya kepada kaum lelaki merdeka,
yang hanya meliputi lima persen dari pendudukStimulus Islam membawa transformasi
Nusantara dari sistem kemasyarakatan feodalistis berbasis kasta menuju sistem
kemasyarakatan yang lebih egaliter.
Transformasi ini tercermin dalam perubahan sikap kejiwaan orang Melayu terhadap
penguasa. Sebelum kedatangan Islam, dalam dunia Melayu berkembang peribahasa, “Melayu
pantang membantah”. Melalui pengaruh Islam, peribahasa itu berubah menjadi “Raja adil,
raja disembah; raja zalim, raja disanggah”. Nilai-nilai egalitarianisme Islam ini pula yang
mendorong perlawanan kaum pribumi terhadap sistem “kasta” baru yang dipaksakan oleh
kekuatan kolonial (Wertheim, 1956). Dalam pandangan Soekarno (1965), pengaruh Islam di
Nusantara 3. Sumber Nilai yang Berasal dari Barat Masyarakat Barat (Eropa) mempunyai
akar demokrasi yang panjang. Pusat pertumbuhan demokrasi terpenting di Yunani adalah
kota Athena, yang sering dirujuk sebagai contoh pelaksanaan demokrasi partisipatif dalam
negara-kota sekitar abad ke-5 SM. Selanjutnya muncul pula praktik pemerintahan sejenis di
Romawi, tepatnya di kota Roma (Italia), yakni sistem pemerintahan republik. Model
pemerintahan demokratis model Athena dan Roma ini kemudian menyebar ke kotakota lain
sekitarnya, seperti Florence dan Venice. Model demokrasi ini mengalami kemunduran sejak
kejatuhan Imperium Romawi sekitar abad ke-5 M, bangkit sebentar di beberapa kota di Italia
sekitar abad ke-11 M kemudian lenyap pada akhir “zaman pertengahan” Eropa. Setidaknya
sejak petengahan 1300 M, karena kemunduran ekonomi, korupsi dan peperangan,
pemerintahan demokratis di Eropa digantikan oleh sistem pemerintahan otoriter (Dahl, 1992).
Pemikiran-pemikiran humanisme dan demokrasi mulai bangkit lagi di Eropa pada masa
Renaissance (sekitar abad ke-14 – 17 M), setelah memperoleh stimuls baru, antara lain, dari
peradaban Islam. Tonggak penting dari era Renaissance yang mendorong kebangkitan
kembali demokrasi
di Eropa adalah gerakan Reformasi Protestan sejak 1517 hingga tercapainya kesepakatan
Whestphalia pada 1648, yang meletakan prinsip co-existence dalam hubungan agama dan
Negara—yang membuka jalan bagi kebangkitan Negara-bangsa (nation-state) dan tatanan
kehidupan politik yang lebih demokratis. Kehadiran kolonialisme Eropa, khususnya Belanda,
di Indonesia, membawa dua sisi dari koin peradaban Barat: sisi represi imperialisme-
kapitalisme dan sisi humanisme-demokratis. Penindasan politik dan penghisapan ekonomi
oleh imperialisme dan kapitalisme, yang tidak jarang bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan
feodal bumi putera, menumbuhkan sikap antipenindasan, anti-penjajahan, dan anti-
feodalisme di kalangan para perintis kemerdekaan bangsa. Dalam melakukan perlawanan
terhadap represi membawa transformasi masyarakat feodal menuju masyarakat yang lebih
demokratis. Dalam perkembangannya, Hatta juga memandang stimulus Islam sebagai salah
satu sumber yang menghidupkan cita-cita demokrasi sosial di kalbu para pemimpin
pergerakan kebangsaan.
Masyarakat Barat (Eropa) mempunyai akar demokrasi yang panjang. Pusat pertumbuhan
demokrasi terpenting di Yunani adalah kota Athena, yang sering dirujuk sebagai contoh
pelaksanaan demokrasi partisipatif dalam negara-kota sekitar abad ke-5 SM. Selanjutnya
muncul pula praktik pemerintahan sejenis di Romawi, tepatnya di kota Roma (Italia), yakni
sistem pemerintahan republik. Model pemerintahan demokratis model Athena dan Roma ini
kemudian menyebar ke kotakota lain sekitarnya, seperti Florence dan Venice.
Model demokrasi ini mengalami kemunduran sejak kejatuhan Imperium Romawi sekitar abad
ke-5 M, bangkit sebentar di beberapa kota di Italia sekitar abad ke-11 M kemudian lenyap
pada akhir “zaman pertengahan” Eropa. Setidaknya sejak petengahan 1300 M, karena
kemunduran ekonomi, korupsi dan peperangan, pemerintahan demokratis di Eropa digantikan
oleh sistem pemerintahan otoriter (Dahl, 1992). Pemikiran-pemikiran humanisme dan
demokrasi mulai bangkit lagi di Eropa pada masa Renaissance (sekitar abad ke-14 – 17 M),
setelah memperoleh stimuls baru, antara lain, dari peradaban Islam. Tonggak penting dari era
Renaissance yang mendorong kebangkitan kembali demokrasi di Eropa adalah gerakan
Reformasi Protestan sejak 1517 hingga tercapainya kesepakatan Whestphalia pada 1648,
yang meletakan prinsip co-existence dalam hubungan agama dan Negara—yang membuka
jalan bagi kebangkitan Negara-bangsa (nation-state) dan tatanan kehidupan politik yang lebih
demokratis. Kehadiran kolonialisme Eropa, khususnya Belanda, di Indonesia, membawa dua
sisi dari koin peradaban Barat: sisi represi imperialisme-kapitalisme dan sisi humanisme-
demokratis.
Penindasan politik dan penghisapan ekonomi oleh imperialisme dan kapitalisme, yang tidak
jarang bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan feodal bumi putera, menumbuhkan sikap
antipenindasan, anti-penjajahan, dan anti-feodalisme di kalangan para perintis kemerdekaan
bangsa.
Dalam melakukan perlawanan terhadap represi politik-ekonomi kolonial itu, mereka juga
mendapatkan stimulus dari gagasan-gagasan humanisme-demokratis Eropa (Latif, 2011).
Penyebaran nilai-nilai humanisme-demokratis itu menemukan ruang aktualisasinya dalam
kemunculan ruang publik modern di Indonesia sejak akhir abad ke-19. Ruang publik ini
berkembang di sekitar institusi-institusi pendidikan modern, kapitalisme percetakan, klub-
klub sosial bergaya Eropa, kemunculan bebagai gerakan sosial (seperti Boedi Oetomo,
Syarekat Islam dan lan-lain) yang berujung pada pendrian partai-partai politik (sejak 1920-
an), dan kehadiran Dewan Rakyat (Volksraad) sejak 1918.
Sumberinspirasi dari anasir demokrasi desa, ajaran Islam, dan sosiodemokrasi Barat,
memberikan landasan persatuan dari keragaman. Segala keragaman ideologi-politik yang
dikembangkan, yang bercorak keagamaan maupun sekuler, semuanya memiliki titik-temu
dalam gagasan-gagasan demokrasi sosialistik (kekeluargaan), dan secara umum menolak
individualisme. Selanjutnya perlu dipertanyakan bagaimana praktik demokrasi di Indonesia
sejak dulu sampai sekarang? Apa Indonesia telah menerapkan demokrasi Pancasila? Dalam
kurun sejarah Indonesia merdeka sampai sekarang ini, ternyata pelaksanaan demokrasi
mengalami dinamikanya. Indonesia mengalami praktik demokrasi yang berbeda-beda dari
masa ke masa. Beberapa ahli memberikan pandangannya. Misalnya, Budiardjo (2008)
menyatakan bahwa dari sudut perkembangan sejarah demokrasi Indonesia sampai masa Orde
Baru dapat dibagi dalam empat masa, yaitu:
b. Masa Republik Indonesia II (1959-1965) yaitu masa Demokrasi Terpimpin yang banyak
penyimpangan dari demokrasi konstitusional yang secara formal merupakan landasan dan
penunjukan beberapa aspek demokrasi rakyat.
c. Masa Republik Indonesia III (1965-1998) yaitu masa demokrasi Pancasila. Demokrasi ini
merupakan demokrasi konstitusional yang menonjolkan sistem presidensiil.
Masih dilakukannya korupsi yang melanggar hak orang banyak. Dimana uang yang
seharusnya digunakan untuk rakyat justru dirampas oleh oknum-oknum yang serakah. Baru-
baru ini adalah adanya korupsi E-KTP. Pelaku korupsi E-KTP diberitakan cukup banyak.
Uang yang dirugikan sekitar 2,3 triliun rupiah. Dan pengguna uang tersebut tidak hanya satu
atau 10 orang, melainkan ada 30 orang lebih. Berikut beberapa orang yang menerima uang
tersebut sebagaimana dikutip pada detik.com:
7 Melcias Marchus Mekeng USD 1,4 juta 8 Olly Dondokambey USD 1,2 juta
14 Agun Gunandjar Sudarsa selaku anggota Komisi II dan Banggar DPR USD 1,047 juta
16 Ignatius Mulyono USD 258 ribu 17 Taufik Effendi USD 103 ribu
25 Ade Komarudin USD 100 ribu selaku direksi PT LEN Industri masing-masing Rp 1 miliar
27 Wahyudin Bagenda selaku Direktur Utama PT LEN Industri Rp 2 miliar
30 37 anggota Komisi II lainnya seluruhnya berjumlah USD 556 ribu, masing- masing
mendapatkan uang berkisar antara USD 13 ribu sampai dengan USD
18 ribu 31 Beberapa anggota tim Fatmawati yaitu Jimmy Iskandar Tedjasusila alias
Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Setyo, Benny Akhir, Dudi, dan Kurniawan
masing-masing Rp 60 juta
Mega Lestari Unggul yang merupakan holding company PT Sandipala Artha Putra Rp
148.863.947.122
35 PT mega lestari unggul yang merupakan holding company PT sandipala artha putra Rp :
148.836.974.122
37 PT Sucofindo Rp 8.231.289.362
Ada Gubernur Jawa Tengah yang juga terlibat dalam kasus E-KTP. Artinya sistem demokrasi
yang tengah dilaksanakan di negeri mengalami kegagalan. Bahkan bisa dikatakan kegagalan
total Mereka adalah orang-orang yang dipercaya oleh rakyatnya.
Seorang Gubernur Jawa Tengah yang pada akhir tahun lalu kecewa dengan sikap anak
kandungnya, yaitu Bupati Klaten, ibu Sri Hartini, dimana bulan Desember 2016 silam telah
membuat malu pak Ganjar Pranowo dengan melakukan korupsi. Lalu saat kini namanya
tengah dikaitkan dengan korupsi E- KTP. Walaupun belum diketahui pasti siapa saja yang
menerima uang tersebut, namun jelas adanya bahwa korupsi E-KTP memang terjadi.
SOLUSINYA ADALAH
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demokrasi pancasila merupakan suatu paham demokrasi yang bersumber dari pandangan
hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia yang digali berdasarkan kepribadian rakyat
Indonesia sendiri.Dari falsafah hidup bangsa Indonesia, kemudian akan timbul dasar falsafah
negara yang disebut dengan Pancasila dimana terdapat, tercermin, terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945 dan ciri khas demokrasi Indonesia adalah ketuhanan yang
berdasarkan pancasila . sumber-sumber historis pancasila yaitu: sumber historis dari desa,
sumber historis dari islam, sumber histors dari barat .
DAFTAR PUSTAKA
Mahfud MD, M. 2000. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia: Studi Tentang Interaksi
Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan. Jakarta: PT Rineka Cipta.