0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan18 halaman

Makala Pendidikan Kewarganegaraan Kel5

Diunggah oleh

fingkyokta20
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan18 halaman

Makala Pendidikan Kewarganegaraan Kel5

Diunggah oleh

fingkyokta20
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DEMOKRASI BERLANDASKAN PANCASILA

DAN UUD 1945

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 5:

 RISVI ARIANDINI (12340123767)


 FINGKY OKTA SAFIRA (12340123820)
 MHD MUFLIH NAUFAL HSB (12340114363)
 BAGUS TRI CAHYUDA (12340112564)
 REDHO SAPUTRA (12340112715)

DOSEN PENGAMPU:

M.imam Arifandy M,A.


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKAS JURUSAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT ISLAM UNIVERSITAS SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2024

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat dan
hidayatnya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Demokrasi
berlandaskan pancasila dan UUD 1945” penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah pengantar pendidikan kewarganegaraan . Kami berharap dapat menambah
wawasan dan pengetahuan khusus-nya dalam bidang kewarganegaraan. Serta pembaca dapat
mengetahui tentang bagaimana dan apa sebenarnya demokrasi berlandaskan pancasila dan
UUD 1945 itu.

Menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Kami sngat


mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca untuk melengkapi segala kekurangan dan
kesalahan dari makalah ini.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada teman -teman yang telah ikut campur dalam
memberikan masukan pada makalah ini.saya mengucapkan terimasih kepada dosen
pengampu mata kuliah pendidikan kewarganegaraan telah membimgbing kami belajar
banyak hal.akhirnya kepada tuhan yang maha Esa saya berharap dan berdoa agar makalah
kami ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami sendiri sebagai penyusun dan umumnya bagi
pembaca makalah ini.aamiinn
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..……….....…………………………………………………….… ii

DAFTAR ISI ....……………………..………………………………………………..….. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ………………………………………………………………………….. iv

B. Rumusan Masalah ...……...……………………………………………………………... iv

BAB II PEMBAHASAN

1. apa yang dimaksud demokrasi dan. Apa saja pilar – pilar demokrasi..
…………….......................................…………………………….. v

2.apa yang menjadi ciri khas demokrasi indonesia


……………………………………………... vi

3. Apa sumber historis demokrasi


pancasila…………………………………………………........................... vii

4. contoh pelanggaran demokrasi…………………………………………………............. viii

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………………………………………x

B. Daftar Pustaka ..…………….…………………………………………………………...... x


BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Setiap warga negara mendambakan pemerintahan demokratis yang menjamin tegaknya


kedaulatan rakyat. Hasrat ini dilandasi pemahaman bahwa pemerintahan demokratis memberi
peluang bagi tumbuhnya prinsip menghargai keberadaan individu untuk berpartisipasi dalam
kehidupan bernegara secara maksimal. Karena itu, demokrasi perlu ditumbuhkan, dipelihara,
dan dihormati oleh setiap warga negara. Setiap negara mempunyai ciri khas dalam
pelaksanaan kedaulatan rakyat atau demokrasinya. Hal ini ditentukan oleh sejarah negara
yang bersangkutan, kebudayaan, pandangan hidup, serta tujuan yang ingin dicapainya.
Dengan demikian pada setiap negara terdapat corak khas demokrasi yang tercermin pada pola
sikap, keyakinan dan perasaan tertentu yang mendasari, mengarahkan, dan memberi arti pada
tingkah laku dan proses berdemokrasi dalam suatu sistem politik.

sebagai calon sarjana dan profesional diharapkan; teguh pendirian mengenai hakikat,
instrumentasi, dan praksis demokrasi Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan UUD NRI
1945; mampu menganalisis hakikat, instrumentasi, dan praksis demokrasi Indonesia yang
bersumber dari Pancasila dan UUD NRI 1945 sebagai wahana penyelenggaran negara yang
sejahtera dan berkeadilan dan mampu mengkreasi peta konseptual dan/atau operasional
tentang problematika interaksi antar hakikat, instrumentasi, dan praksis demokrasi Indonesia
yang bersumber dari Pancasila dan UUD NRI 1945 sebagai wahana kolektif penyelenggaraan
negara yang sejahtera dan berkeadilan.

2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan demokrasi dan apa saja pilar-pilar demokrasi?
2. Apa yang menjadi ciri khas demokrasi indonesia?
3. Apa sumber historis demokrasi pancasila?
4. Contoh pelanggaran demokrasi ?
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian demokrasi dan pilar pilar demokrasi

Prinsip demokrasi secara umum sangat terkait dengan implementasi (penerapan)


demokrasi oleh negara tersebut kepada rakyatnya. Hal inilah yang kemudian membuat
prinsip demokrasi antara satu negara dengan negara lainnya bisa berbeda. Akan tetapi
ada beberapa prinsip demokrasi yang sama, diantaranya:

1. Adanya pengakuan dan perlindungan terkait hak asasi manusia serta adanya jaminan
hukum dari penguasa (pemerintah).

2. Adanya sikap proaktif dari masyarakat terhadap penyelenggaraan negara (politik) sesuai
aturan konstitusi yang berlaku.

3. Adanya suatu pemerintahan yang terbuka.

Ketiga prinsip di atas merupakan prinsip demokrasi yang pada umumnya ada dalam suatu
negara yang demokratis. Selebihnya prinsip-prinsip demokrasi seperti adanya kebebasan
pers, adanya pembagian kekuasaan negara, adanya supermasi sipil terhadap militer, adanya
prinsip kesukarelaan dalam kegiatan masyarakat serta adanya penegakan suatu keadilan
sosial dapat berlaku berbeda-beda antara satu negara dengan negara lainnya

Demokrasi pancasila merupakan suatu paham demokrasi yang bersumber dari pandangan
hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia yang digali berdasarkan kepribadian rakyat
Indonesia sendiri.Dari falsafah hidup bangsa Indonesia, kemudian akan timbul dasar falsafah
negara yang disebut dengan Pancasila dimana terdapat, tercermin, terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945.

a. Prinsip-prinsip Demokrasi Pancasila

Prinsip demokrasi pancasila ini telah ditulis oleh Bpk. Ahmad Sanusi dalam buku yang
berjudul Memberdayakan Masyarakat dalam Pelaksanaan 10 Pilar Demokrasi (2006:
193-205) dimana memuat 10 prinsip demokrasi yang menurut Pancasila dan UUD
1945, yaitu :

1. Demokrasi yang Berketuhanan Yang Maha Esa


Demokrasi yang berketuhanan yang maha esa berarti sistem penyelenggaraan negara
harus taat, konsisten dan sesuai dengan nilai juga kaidah dasar ketuhanan yang maha
esa.
Dengan begitu maka diharapkan masyarakat mempunyai pola pikir dan tindakan yang
jauh dari tercela. Sehingga dapat meminimalisir adanya konflik horizontal maupun
penyebab pelanggaran HAM vertikal.

2. Demokrasi dengan kecerdasan

Yang kedua ini berarti aturan dan penyelenggaraan demokrasinya menurut UUD
1945. Bukan lewat naluri, kekuatan otot atau kekuatan massa.
Pelaksanannya lebih menurut kecerdasan rohani, aqliyah, rasional dan kecerdasan
emosional. Maka dengan pola pikir tersebut masyarakat bisa melakukan tindakan
yang rasional.

3. Demokrasi yang berkedaulatan rakyat

Demokrasi pancasila kekuasaan tertinggi ada pada tangan rakyat, jadi prinsipnya
rakyatlah yang memiliki kedaulatan.
Nah kedaulatan rakyat ini dibatasi dan dipercayakan kepada wakil rakyat, yaitu MPR
(DPR/DPD) dan DPRD. Suara rakyat dapat ditampung pada satu wadah, untuk
kemudian disampaikan secara jelas dan tepat melalui wakil rakyat

4. Demokrasi dengan rule of law

Hal ini mempunyai empat makna penting :

 Pertama, kekuasaan negara Republik Indonesia itu harus mengandung, melindungi,


serta mengembangkan kebenaran hukum (legal truth) bukan demokrasi ugal-ugalan,
demokrasi dagelan, atau demokrasi manipulatif.
 Kedua, kekuasaan negara itu memberikan keadilan hukum (legal justice) bukan
demokrasi yang terbatas pada keadilan formal dan pura-pura.
 Ketiga, kekuasaan negara itu menjamin kepastian hukum (legal security) bukan
demokrasi yang membiarkan kesemrawutan atau anarki.
 Keempat, kekuasaan negara itu mengembangkan manfaat atau kepentingan hukum
(legal interest), seperti kedamaian dan pembangunan, bukan demokrasi yang justru
mempopulerkan fitnah dan hujatan atau menciptakan perpecahan, permusuhan, dan
kerusakan.

5. Demokrasi dengan pemisahan kekuasaan negara

Demokrasi pancasila menurut UUD 1945 ini mengalami pembagian dan pemisahan
kekuasaan (division and seperation of power) dengan sistem pengawasan dan
perimbangan (check and balance).
Hal ini dilakukan untuk menghindari penyelewengan kekuasaan yang bisa
mengakibatkan kerugian pada pemerintahan dan juga rakyat.
6. Demokrasi dengan hak asasi manusia
Prinsip yang ke enam ini berarti demokrasi beradsarkan UUD 1945 dimana mengakui
HAM dengan tujuan bukan hanya menghormati hak tersebut.Namun juga
meningkatkan martabat dan derajat manusia seutuhnya. HAM bersifat universal dan
dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia.

7. Demokrasi dengan pengadilan yang merdeka

Demokrasi pancasila berarti menghendaki diberlakukannya sistem pengadilan yang


independen atau merdeka dengan memberi kesempatan seluasnya kepada pihak yang
berkepentingan untuk mencari dan menemukan hukum yang paling adil.
Semua pihak juga mempunyai hak yang sama untuk mengajukan pertimbangan, dalil,
fakta, saksi, alat bukti dan petitumnya.
Pengadilan di Indonesia bersifat bebas artinya tidak memihak manapun atau bersifat
netral memberikan sanksi hukuman tanpa melihat status sosial, ekonomi, dan
popularitas individu yang menjalani proses hukum

8. Demokrasi dengan otonomi daerah

Prinsip yang ke delapan ini berarti demokrasi Pancasila dijalankan dengan


prinsip otonomi dimana pemerintahan membentuk daerah-daerah otonom pada
propinsi dan kabupaten/kota.
adalah supaya bisa mengatur dan menyelenggarakan urusan-urusan
pemerintah sebagai urusan rumah tangganya sendiri yang diserahkan oleh
Pemerintah Pusat. Tujuannya Hal tersebut juga berfungsi untuk menggali
potensi dan memanfaatkannya sebagai instrumen untuk mengembangkan
daerahnya.

9. Demokrasi dengan kemakmuran

Prinsipnya ialah supaya membangun negara yang makmur oleh dan untuk rakyat
Indonesia yang mencakup semua aspek entah hak dan kewajiban, kedaulatan rakyat,
pembagian kekuasaan, otomi daerah ataupun keadilan hukum.
Hal ini berdampak pada menekannya tingkat konflik agama maupun antar ras menjadi
lebih kecil.

10. Demokrasi yang berkeadilan sosial

Prinsip ke sepuluh berarti demokrasi ini menggariskan keadilan sosial di antar


berbagai kelompok, golong dan masyarakat.
Artinya, semua masyarakat mendapat perlakuan yang sama, tanpa melihat tingkat
sosial maupun golongan ekonomi tertentu.
2. Apa yang menjadi ciri khas demokrasi diindonesia

Sebagai negara demokrasi, demokrasi Indonesia memiliki kekhasan. Apa kekhasan


demokrasi Indonesia itu? Menurut Budiardjo dalam buku DasarDasar Ilmu Politik (2008),
demokrasi yang dianut di Indonesia adalah demokrasi yang berdasarkan Pancasila yang
masih terus berkembang dan sifat dan ciri-cirinya terdapat pelbagai tafsiran dan pandangan.
Meskipun demikian tidak dapat disangkal bahwa nilai-nilai pokok dari demokrasi
konstitusional telah cukup tersirat dalam UUD NRI 1945. Apa itu demokrasi Pancasila dan
apa itu demokrasi konstitusional? Untuk mendalami hal ini, cobalah Anda cari berbagai
pendapat tentang Demokrasi Pancasila dan Demokrasi Konstitusional.

Apakah sebelum muncul istilah demokrasi Pancasila, bangsa Indonesia sudah memiliki
tradisi demokrasi? Ada baiknya kita ikuti pendapat Drs. Mohammad Hatta yang dikenal
sebagai Bapak Demokrasi Indonesia tentang hal tersebut.

Menurut Moh. Hatta, kita sudah mengenal tradisi demokrasi jauh sebelum Indonesia
merdeka, yakni demokrasi desa. Demokrasi desa atau desa-demokrasi merupakan demokrasi
asli Indonesia, yang bercirikan tiga hal yakni 1) cita-cita rapat, 2) cita-cita massa protes, dan
3) cita-cita tolong menolong. Ketiga unsur demokrasi desa tersebut merupakan dasar
pengembangan ke arah demokrasi Indonesia yang modern. Demokrasi Indonesia yang
modern adalah “daulat rakyat” tidak hanya berdaulat dalam bidang politik, tetapi juga dalam
bidang ekonomi dan social. Berikut adalah pandangan demokrasi menurut moh. Hatta

 Demokrasi Barat dalam Pandangan Mohammad Hatta

Menurut pandangan Mohammad Hatta demokrasi Barat bukanlah demokrasi politik, yaitu
demokrasi dalam kehidupan politik, melainkan liberalisme secara umum. Maka Mohammad
Hatta mengidentikan demokrasi Barat dengan sesuatu yang menimbulkan kekuasaan
kapitalisme yang tidak membawa kemerdekaan rakyat, yang dimaksudkan sebenarnya adalah
paham liberalisme. Karena liberalisme mengandung paham kebebasan individual. Kritik
mengenai liberalisme mulai datang dari penganut ideologi lainnya seperti Marx dan para
pendukungnya atau dari kaum intelektual liberal yang senantiasa berfikir tentang perbaikan
masyarakat (Suleman, 2010: 141-142).

Dari sudut inilah Mohammad Hatta beranjak dan menolak demokrasi yang bersifat
individualisme, karena dalam perkembangan masyarakat di kemudian hari, kaum pemodallah
yang cepat bisa memanfaatkan bentuk demokrasi yang seperti ini. Kaum pemodal, kapitalis
bisa tumbuh bila tidak ada kekuatan pengimbang terhadap dirinya. Dengan demikian, tumbuh
dominan kaum kapitalis dalam demokrasi kapitalis inilah terbuka lebar jalan I’exploitation de
I’hommepar I’homme, yakni ekploitasi manusia atas manusia.

Penjelasan dari istilah tersebut adalah penindasan yang dilakukan oleh kaum pemilik modal
seperti manusia petani kecil dieksploitasi manusia pemilik tanah dan yang lemah
dieksploitasi yang kuat. Sedangkan kelemahan yang kedua adalah demokrasi Barat selalu
memiliki sisi politik dan ekonomi, yaitu demokrasi politik dan sistem ekonomi kapitalisme.
Secara spesifik yang ingin dukemukakan oleh Mohammad Hatta mengenai sistem ekonomi
kapitalis yang lahir terlebih dahulu dan sistem demokrasi diciptakan dan diterapkan untuk
menjamin keberlangsungan dari sistem kapitalisme bukanlah sebaliknya.

 Demokrasi Politik dan demokrasi Ekonomi

Demokrasi yang diperkenalkan oleh pemikiran Mohammad Hatta merupakan demokrasi yang
berdasarkan pada kelemahan-kelemahan yang terkandung dalam demokrasi Barat dengan
sifat masyarakat desa di Indonesia yang asli. Demokrasi Mohammad Hatta merupakan
kedaulatan rakyat yang lebih sempurna sebagai dasar pemerintahan Republik Indonesia yang
tidak sama dengan individualisme, karena individualisme dianggap sebagai suatu penyakit
yang harus dihindari.

Demokrasi politik yang ingin dijelaskan oleh Mohammad Hatta adalah demokrasi yang
mencerminkan sifat keperibadian kehidupan asli dari masyarakat Indonesia yang sejak dulu
sudah ada, sifat-sifat tersebut seperti rapat, musyawarah untuk mencapai mufakat, dan sikap
kritis terhadap peguasa. Sedangkan pengertian untuk demokrasi ekonomi oleh Mohammad
Hatta dijelaskan bahwa demokrasi yang berdasarkan asaz tolong-menolong serta
kebersamaan dan kekeluargaan yang tertuang dalam konsep koperasi iterjemahkan dengan
menjadikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional.

Sebagai penjelasan akhir dari pandangan Mohammad Hatta mengenai demokrasi politik dan
demokrasi ekonomi yaitu melalui kehidupan masyarakat asli Indonesia yang memiliki ciri
kehidupan secara Kolektivisme atau kebersamaan diajadikan sebagai sendi dalam
mengembangkan tatanan demokrasi untuk Indonesia merdeka. Penjelasan secara konkret
adalah pertama, unsur rapat/musyawarah dan mufakat melandasi pengembangan demokrasi
dalam kehidupan politik. Sedangkan yang kedua, tradisi tolong-menolong dengan melalui
pengembangan koperasi merupakan dasar dari pengembangan demokrasi dalam kehidupan
ekonomi. Dari semua itulah yang menjadi kontruksi pemikiran Mohammad Hatta tentang
demokrasi Indonesia.

3. Sumber-sumber historis demokrasi pancasila

1. Sumber Nilai yang Berasal dari Demokrasi Desa

Demokrasi yang diformulasikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat merupakan fenomena baru bagi Indonesia ketika merdeka. Kerajaan-kerajaan pra-
Indonesia adalah kerajaan-kerajaan feodal yang dikuasai oleh raja-raja autokrat. Akan tetapi,
nilai-nilai demokrasi dalam taraf tertentu sudah berkembang dalam budaya Nusantara, dan
dipraktikkan setidaknya dalam unit politik terkecil, seperti desa di Jawa, nagari di Sumatra
Barat, dan banjar di Bali (Latif, 2011).

Mengenai adanya anasir demokrasi dalam tradisi desa kita akan meminjam dua macam
analisis berikut. Pertama, paham kedaulatan rakyat sebenarnya sudah tumbuh sejak lama di
Nusantara. Di alam Minangkabau, misalnya pada abad XIV sampai XV kekuasaan raja
dibatasi oleh ketundukannya pada keadilan dan kepatutan. Ada istilah yang cukup tekenal
pada masa itu bahwa “Rakyat ber-raja pada Penghulu, Penghulu ber-raja pada Mufakat, dan
Mufakat ber-raja pada alur dan patut”. Dengan demikian, raja sejati di dalam kultur
Minangkabau ada pada alur (logika) dan patut (keadilan). Alur dan patutlah yang menjadi
pemutus terakhir sehingga keputusan seorang raja akan ditolak apabila bertentangan dengan
akal sehat dan prinsip-prinsip keadilan (Malaka, 2005).

Kedua, tradisi demokrasi asli Nusantara tetap bertahan sekalipun di bawah kekuasaan
feodalisme raja-raja Nusantara karena di banyak tempat di Nusantara, tanah sebagai faktor
produksi yang penting tidaklah dikuasai oleh raja, melainkan dimiliki bersama oleh
masyarakat desa.

Karena pemilikan bersama tanah desa ini, hasrat setiap orang untuk memanfaatkannya harus
melalui persetujuan kaumnya. Hal inilah yang mendorong tradisi gotong royong dalam
memanfaatkan tanah bersama, yang selanjutnya merembet pada bidang-bidang lainnya,
termasuk pada hal-hal kepentingan pribadi seperti misalnya membangun rumah, kenduri, dan
sebagainya.

Adat hidup seperti itu membawa kebiasaan bermusyawarah menyangkut kepentingan umum
yang diputuskan secara mufakat (kata sepakat). Seperti disebut dalam pepatah Minangkabau:
“Bulek aei dek pambuluah, bulek kato dek mufakat” (Bulat air karena pembuluh/bambu,
bulat kata karena mufakat). Tradisi musyawarah mufakat ini kemudian melahirkan institusi
rapat pada tempat tertentu, di bawah pimpinan kepala desa.

Setiap orang dewasa yang menjadi warga asli desa tersebut berhak hadir dalam rapat itu.
Karena alasan pemilikan faktor produksi bersama dan tradisi musyawarah, tradisi desa boleh
saja ditindas oleh kekuasaan feodal, namun sama sekali tidak dapat dilenyapkan, bahkan
tumbuh subur sebagai adat istiadat.

Hal ini menanamkan keyakinan pada kaum pergerakan bahwa demokrasi asli Nusantara itu
kuat bertahan, “liat hidupnya”, seperti terkandung dalam pepatah Minangkabau “indak lakang
dek paneh, indak lapuak dek ujan”, tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan
(Hatta, 1992). Ada dua anasir lagi dari tradisi demokrasi desa yang asli nusantara, yaitu hak
untuk mengadakan protes bersama terhadap peraturan-peraturan raja yang dirasakan tidak
adil, dan hak rakyat untuk menyingkir dari daerah kekuasaan raja, apabila ia merasa tidak
senang lagi hidup di sana.

Dalam melakukan protes, biasanya rakyat secara bergerombol berkumpul di alunalun dan
duduk di situ beberapa lama tanpa berbuat apa-apa, yang mengekspresikan suatu bentuk
demonstrasi damai. Tidak sering rakyat yang sabar melakukan itu. Namun, apabila hal itu
dilakukan, pertanda menggambarkan situasi kegentingan yang memaksa penguasa untuk
mempertimbangkan ulang peraturan yang dikeluarkannya. Adapun hak menyingkir, dapat
dianggap sebagai hak seseorang untuk menentukan nasib sendiri. Kesemua itu menjadi bahan
dasar yang dipertimbangkan oleh para pendiri bangsa untuk mencoba membuat konsepsi
demokrasi Indonesia yang modern, berdasarkan demokrasi desa yang asli itu (Latif, 2011).

2. Sumber Nilai yang Berasal dari Islam


Nilai demokratis yang berasal dari Islam bersumber dari akar teologisnya. Inti dari keyakinan
Islam adalah pengakuan pada Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid, Monoteisme). Dalam
keyakinan ini, hanya Tuhanlah satu-satunya wujud yang pasti. Semua selain Tuhan, bersifat
nisbi belaka. Konsekuensinya, semua bentuk pengaturan hidup sosial manusia yang
melahirkan kekuasaan mutlak, dinilai bertentangan dengan jiwa Tauhid (Latif, 2011).
Pengaturan hidup dengan menciptakan kekuasaan mutlak pada sesama manusia merupakan
hal yang tidak adil dan tidak beradab.

Sikap pasrah kepada Tuhan, yang memutlakkan Tuhan dan tidak pada sesuatu yang lain,
menghendaki tatanan sosial terbuka, adil, dan demokratis (Madjid, 1992) Kelanjutan logis
dari prinsip Tauhid adalah paham persamaan (kesederajatan) manusia di hadapan Tuhan,
yang melarang adanya perendahan martabat dan pemaksaan kehendak antarsesama manusia.
Bahkan seorang utusan Tuhan tidak berhak melakukan pemaksaan itu. Seorang utusan Tuhan
mendapat tugas hanya untuk menyampaikan kebenaran (tabligh) kepada umat manusia,
bukan untuk memaksakan kebenaran kepada mereka.

Dengan prinsip persamaan manusia di hadapan Tuhan itu, tiap-tiap manusia dimuliakan
kehidupan, kehormatan, hak-hak, dan kebebasannya yang dengan kebebasan pribadinya itu
manusia menjadi makhluk moral yang harus bertanggung jawab atas pilian-pilihannya.
Dengan prinsip persamaan, manusia juga didorong menjadi makhluk social yang menjalin
kerjasama dan persaudaraan untuk mengatasi kesenjangan dan meningkatkan mutu
kehidupan bersama (Latif, 2011). Sejarah nilai-nilai demokratis sebagai pancaran prinsip-
prisip Tauhid itu dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.A.W.

sejak awal pertumbuhan komunitas politik Islam di Madinah, dengan mengembangkan


cetakan dasar apa yang kemudian dikenal sebagai bangsa (nation). Negara-kota Madinah
yang dibangun Nabi adalah sebuah entitas politik berdasarkan konsepsi Negara-bangsa
(nation-state), yaitu Negara untuk seluruh umat atau warganegara, demi maslahat bersama
(common good). Sebagaimana termaktub dalam Piagam Madinah, “negara-bangsa” didirikan
atas dasar penyatuan seluruh kekuatan masyarakat menjadi bangsa yang satu (ummatan
wahidah) tanpa membeda-bedakan kelompok keagamaan yang ada. Robert N. Bellah
menyebutkan bahwa contoh awal nasionalisme modern mewujud dalam sistem masyarakat
Madinah masa Nabi dan para khalifah. Robert N. Bellah mengatakan bahwa sistem yang
dibangun Nabi itu adalah “a better model for modern national community building than
might be imagined” (suatu contoh bangunan komunitas nasional modern yang lebih baik dari
yang dapat dibayangkan). Komunitas ini disebut modern karena adanya keterbukaan bagi
partisipasi seluruh anggota masyarakat dan karena adanya kesediaan para pemimpin untuk
menerima penilaian berdasarkan kemampuan.

Lebih jauh, Bellah juga menyebut sistem Madinah sebagai bentuk nasionalisme yang egaliter
partisipatif (egalitarian participant nationalism). Hal ini berbeda dengan sistem republik
negara-kota Yunani Kuno, yang membuka partisipasi hanya kepada kaum lelaki merdeka,
yang hanya meliputi lima persen dari pendudukStimulus Islam membawa transformasi
Nusantara dari sistem kemasyarakatan feodalistis berbasis kasta menuju sistem
kemasyarakatan yang lebih egaliter.

Transformasi ini tercermin dalam perubahan sikap kejiwaan orang Melayu terhadap
penguasa. Sebelum kedatangan Islam, dalam dunia Melayu berkembang peribahasa, “Melayu
pantang membantah”. Melalui pengaruh Islam, peribahasa itu berubah menjadi “Raja adil,
raja disembah; raja zalim, raja disanggah”. Nilai-nilai egalitarianisme Islam ini pula yang
mendorong perlawanan kaum pribumi terhadap sistem “kasta” baru yang dipaksakan oleh
kekuatan kolonial (Wertheim, 1956). Dalam pandangan Soekarno (1965), pengaruh Islam di
Nusantara 3. Sumber Nilai yang Berasal dari Barat Masyarakat Barat (Eropa) mempunyai
akar demokrasi yang panjang. Pusat pertumbuhan demokrasi terpenting di Yunani adalah
kota Athena, yang sering dirujuk sebagai contoh pelaksanaan demokrasi partisipatif dalam
negara-kota sekitar abad ke-5 SM. Selanjutnya muncul pula praktik pemerintahan sejenis di
Romawi, tepatnya di kota Roma (Italia), yakni sistem pemerintahan republik. Model
pemerintahan demokratis model Athena dan Roma ini kemudian menyebar ke kotakota lain
sekitarnya, seperti Florence dan Venice. Model demokrasi ini mengalami kemunduran sejak
kejatuhan Imperium Romawi sekitar abad ke-5 M, bangkit sebentar di beberapa kota di Italia
sekitar abad ke-11 M kemudian lenyap pada akhir “zaman pertengahan” Eropa. Setidaknya
sejak petengahan 1300 M, karena kemunduran ekonomi, korupsi dan peperangan,
pemerintahan demokratis di Eropa digantikan oleh sistem pemerintahan otoriter (Dahl, 1992).
Pemikiran-pemikiran humanisme dan demokrasi mulai bangkit lagi di Eropa pada masa
Renaissance (sekitar abad ke-14 – 17 M), setelah memperoleh stimuls baru, antara lain, dari
peradaban Islam. Tonggak penting dari era Renaissance yang mendorong kebangkitan
kembali demokrasi

di Eropa adalah gerakan Reformasi Protestan sejak 1517 hingga tercapainya kesepakatan
Whestphalia pada 1648, yang meletakan prinsip co-existence dalam hubungan agama dan
Negara—yang membuka jalan bagi kebangkitan Negara-bangsa (nation-state) dan tatanan
kehidupan politik yang lebih demokratis. Kehadiran kolonialisme Eropa, khususnya Belanda,
di Indonesia, membawa dua sisi dari koin peradaban Barat: sisi represi imperialisme-
kapitalisme dan sisi humanisme-demokratis. Penindasan politik dan penghisapan ekonomi
oleh imperialisme dan kapitalisme, yang tidak jarang bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan
feodal bumi putera, menumbuhkan sikap antipenindasan, anti-penjajahan, dan anti-
feodalisme di kalangan para perintis kemerdekaan bangsa. Dalam melakukan perlawanan
terhadap represi membawa transformasi masyarakat feodal menuju masyarakat yang lebih
demokratis. Dalam perkembangannya, Hatta juga memandang stimulus Islam sebagai salah
satu sumber yang menghidupkan cita-cita demokrasi sosial di kalbu para pemimpin
pergerakan kebangsaan.

3. Sumber Nilai yang Berasal dari Barat

Masyarakat Barat (Eropa) mempunyai akar demokrasi yang panjang. Pusat pertumbuhan
demokrasi terpenting di Yunani adalah kota Athena, yang sering dirujuk sebagai contoh
pelaksanaan demokrasi partisipatif dalam negara-kota sekitar abad ke-5 SM. Selanjutnya
muncul pula praktik pemerintahan sejenis di Romawi, tepatnya di kota Roma (Italia), yakni
sistem pemerintahan republik. Model pemerintahan demokratis model Athena dan Roma ini
kemudian menyebar ke kotakota lain sekitarnya, seperti Florence dan Venice.

Model demokrasi ini mengalami kemunduran sejak kejatuhan Imperium Romawi sekitar abad
ke-5 M, bangkit sebentar di beberapa kota di Italia sekitar abad ke-11 M kemudian lenyap
pada akhir “zaman pertengahan” Eropa. Setidaknya sejak petengahan 1300 M, karena
kemunduran ekonomi, korupsi dan peperangan, pemerintahan demokratis di Eropa digantikan
oleh sistem pemerintahan otoriter (Dahl, 1992). Pemikiran-pemikiran humanisme dan
demokrasi mulai bangkit lagi di Eropa pada masa Renaissance (sekitar abad ke-14 – 17 M),
setelah memperoleh stimuls baru, antara lain, dari peradaban Islam. Tonggak penting dari era
Renaissance yang mendorong kebangkitan kembali demokrasi di Eropa adalah gerakan
Reformasi Protestan sejak 1517 hingga tercapainya kesepakatan Whestphalia pada 1648,
yang meletakan prinsip co-existence dalam hubungan agama dan Negara—yang membuka
jalan bagi kebangkitan Negara-bangsa (nation-state) dan tatanan kehidupan politik yang lebih
demokratis. Kehadiran kolonialisme Eropa, khususnya Belanda, di Indonesia, membawa dua
sisi dari koin peradaban Barat: sisi represi imperialisme-kapitalisme dan sisi humanisme-
demokratis.

Penindasan politik dan penghisapan ekonomi oleh imperialisme dan kapitalisme, yang tidak
jarang bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan feodal bumi putera, menumbuhkan sikap
antipenindasan, anti-penjajahan, dan anti-feodalisme di kalangan para perintis kemerdekaan
bangsa.

Dalam melakukan perlawanan terhadap represi politik-ekonomi kolonial itu, mereka juga
mendapatkan stimulus dari gagasan-gagasan humanisme-demokratis Eropa (Latif, 2011).
Penyebaran nilai-nilai humanisme-demokratis itu menemukan ruang aktualisasinya dalam
kemunculan ruang publik modern di Indonesia sejak akhir abad ke-19. Ruang publik ini
berkembang di sekitar institusi-institusi pendidikan modern, kapitalisme percetakan, klub-
klub sosial bergaya Eropa, kemunculan bebagai gerakan sosial (seperti Boedi Oetomo,
Syarekat Islam dan lan-lain) yang berujung pada pendrian partai-partai politik (sejak 1920-
an), dan kehadiran Dewan Rakyat (Volksraad) sejak 1918.
Sumberinspirasi dari anasir demokrasi desa, ajaran Islam, dan sosiodemokrasi Barat,
memberikan landasan persatuan dari keragaman. Segala keragaman ideologi-politik yang
dikembangkan, yang bercorak keagamaan maupun sekuler, semuanya memiliki titik-temu
dalam gagasan-gagasan demokrasi sosialistik (kekeluargaan), dan secara umum menolak
individualisme. Selanjutnya perlu dipertanyakan bagaimana praktik demokrasi di Indonesia
sejak dulu sampai sekarang? Apa Indonesia telah menerapkan demokrasi Pancasila? Dalam
kurun sejarah Indonesia merdeka sampai sekarang ini, ternyata pelaksanaan demokrasi
mengalami dinamikanya. Indonesia mengalami praktik demokrasi yang berbeda-beda dari
masa ke masa. Beberapa ahli memberikan pandangannya. Misalnya, Budiardjo (2008)
menyatakan bahwa dari sudut perkembangan sejarah demokrasi Indonesia sampai masa Orde
Baru dapat dibagi dalam empat masa, yaitu:

a. Masa Republik Indonesia I (1945-1959) yang dinamakan masa demokrasi konstitusional


yang menonjolkan peranan parlemen dan partai-partai, karena itu dinamakan Demokrasi
Parlementer,

b. Masa Republik Indonesia II (1959-1965) yaitu masa Demokrasi Terpimpin yang banyak
penyimpangan dari demokrasi konstitusional yang secara formal merupakan landasan dan
penunjukan beberapa aspek demokrasi rakyat.

c. Masa Republik Indonesia III (1965-1998) yaitu masa demokrasi Pancasila. Demokrasi ini
merupakan demokrasi konstitusional yang menonjolkan sistem presidensiil.

d. Masa Republik Indonesia IV (1998-sekarang) yaitu masa reformasi yang menginginkan


tegaknya demokrasi di Indonesia sebagai koreksi terhadap praktik-praktik politik yang terjadi
pada masa Republik Indonesia III.
4. contoh pelanggaran demokrasi
Contoh Pelanggaran Demokrasi di Sekolah

 Tidak mau mendengarkan pendapat orang lain

 Sekolah membuat keputusan merugikan secara sepihak

 Kekerasan pada siswa dan guru

 Tawuran antar siswa.


Dan contoh pelanggaran demokrasi antara lain :

Masih dilakukannya korupsi yang melanggar hak orang banyak. Dimana uang yang
seharusnya digunakan untuk rakyat justru dirampas oleh oknum-oknum yang serakah. Baru-
baru ini adalah adanya korupsi E-KTP. Pelaku korupsi E-KTP diberitakan cukup banyak.
Uang yang dirugikan sekitar 2,3 triliun rupiah. Dan pengguna uang tersebut tidak hanya satu
atau 10 orang, melainkan ada 30 orang lebih. Berikut beberapa orang yang menerima uang
tersebut sebagaimana dikutip pada detik.com:

1 Gamawan Fauzi USD 4,5 juta dan Rp 50 juta

2 Diah Anggraini USD 2,7 juta dan Rp 22,5 juta

3 Drajat Wisnu Setyaan USD 615 ribu dan Rp 25 juta

4 6 orang anggota panitia lelang masing-masing USD 50 ribu

5 Husni Fahmi USD 150 ribu dan Rp 30 juta

6 Anas Urbaningrum USD 5,5 juta

7 Melcias Marchus Mekeng USD 1,4 juta 8 Olly Dondokambey USD 1,2 juta

9 Tamsil Lindrung USD 700 ribu

10 Mirwan Amir USD 1,2 juta

11 Arief Wibowo USD 108 ribu

12 Chaeruman Harahap USD 584 ribu dan Rp 26 miliar

13 Ganjar Pranowo USD 520 ribu

14 Agun Gunandjar Sudarsa selaku anggota Komisi II dan Banggar DPR USD 1,047 juta

15 Mustoko Weni USD 408 ribu

16 Ignatius Mulyono USD 258 ribu 17 Taufik Effendi USD 103 ribu

18 Teguh Djuwarno USD 167 ribu

19 Miryam S Haryani USD 23 ribu


20 Rindoko, Nu'man Abdul Hakim, Abdul Malik Haramaen, Jamal Aziz dan Jazuli Juwaini
selaku Kapoksi pada Komisi II DPR masing-masing USD 37 ribu

21 Markus Nari Rp 4 miliar dan USD 13 ribu

22 Yasonna Laoly USD 84 ribu

23 Khatibul Umam Wiranu USD 400 ribu

24 M Jafar Hapsah USD 100 ribu

26 Abraham Mose, Agus Iswanto, Andra Agusalam, dan Darma Mapangara

25 Ade Komarudin USD 100 ribu selaku direksi PT LEN Industri masing-masing Rp 1 miliar
27 Wahyudin Bagenda selaku Direktur Utama PT LEN Industri Rp 2 miliar

28 Marzuki Ali Rp 20 miliar

29 Johanes Marliem USD 14,880 juta dan Rp 25.242.546.892

30 37 anggota Komisi II lainnya seluruhnya berjumlah USD 556 ribu, masing- masing
mendapatkan uang berkisar antara USD 13 ribu sampai dengan USD

18 ribu 31 Beberapa anggota tim Fatmawati yaitu Jimmy Iskandar Tedjasusila alias

Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Setyo, Benny Akhir, Dudi, dan Kurniawan
masing-masing Rp 60 juta

32 Manajemen bersama konsorsium PNRI Rp 137.989.835.260

33 Perum PNRI Rp 107.710.849.10

34 PT Sandipala Artha Putra Rp 145.851.156.022

Mega Lestari Unggul yang merupakan holding company PT Sandipala Artha Putra Rp
148.863.947.122

35 PT mega lestari unggul yang merupakan holding company PT sandipala artha putra Rp :
148.836.974.122

36 PT LEN Industri Rp 20.925.163.862

37 PT Sucofindo Rp 8.231.289.362

38 PT Quadra Solution Rp 127.320.213.798,36

Ada Gubernur Jawa Tengah yang juga terlibat dalam kasus E-KTP. Artinya sistem demokrasi
yang tengah dilaksanakan di negeri mengalami kegagalan. Bahkan bisa dikatakan kegagalan
total Mereka adalah orang-orang yang dipercaya oleh rakyatnya.
Seorang Gubernur Jawa Tengah yang pada akhir tahun lalu kecewa dengan sikap anak
kandungnya, yaitu Bupati Klaten, ibu Sri Hartini, dimana bulan Desember 2016 silam telah
membuat malu pak Ganjar Pranowo dengan melakukan korupsi. Lalu saat kini namanya
tengah dikaitkan dengan korupsi E- KTP. Walaupun belum diketahui pasti siapa saja yang
menerima uang tersebut, namun jelas adanya bahwa korupsi E-KTP memang terjadi.

SOLUSINYA ADALAH

• Cara untuk memberantas korupsi adalah merubah peundang-undangan yang mengatur


tentang korupsi. Saya rasa hukum di Indonesia kurang tegas mengenai permasalahan
tersebutPerlu adanya pembaharuan hukum. Sebagaimana hukuman mati untuk seorang
pengedar narkoba . Dimana narkoba adalah obat pembodohan para remaja, anak-anak
maupun orang tua.begitu pula dengan korupsi, Padahal kerugian diantara koruptor dan
pengedar rasanya masih lebih besar pada kelakuan koruptor. Rakyat yang seharusnya
terjamin. pendidikannya justru kehilangan jaminannya hanya karena oknum yang tak
bertanggung jawab Orang-orang pinggiran tidak memiliki papan, sandang, bahkan pangan.
Mereka mati hanya karena kekurangan gizi Puskesmas yang seharusnya terjamin kesehatan
dan kebersihannya. Dan banyak lagi yang bisa dilakukan Maka perlu adanya pembaruan
hukum, dimana hukum harus dianggap sebagai upaya mencegah bukan mengobati. Hukum
harus dipandang sebagai antisipasi bukan hanya sebuah reaksi. Karena ketika Anda hanya
bereaksi maka Anda sudah terlambat.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Demokrasi pancasila merupakan suatu paham demokrasi yang bersumber dari pandangan
hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia yang digali berdasarkan kepribadian rakyat
Indonesia sendiri.Dari falsafah hidup bangsa Indonesia, kemudian akan timbul dasar falsafah
negara yang disebut dengan Pancasila dimana terdapat, tercermin, terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945 dan ciri khas demokrasi Indonesia adalah ketuhanan yang
berdasarkan pancasila . sumber-sumber historis pancasila yaitu: sumber historis dari desa,
sumber historis dari islam, sumber histors dari barat .
DAFTAR PUSTAKA

Mahfud MD, M. 2000. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia: Studi Tentang Interaksi
Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sanusi, A. 2006. Model Pendidikan Kewarganegaraan Menghadapi Perubahan dan Gejolak


Sosial. Bandung: CICED.

Anda mungkin juga menyukai