Hasil Belajar: Teori dan Fungsi Evaluasi
Hasil Belajar: Teori dan Fungsi Evaluasi
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Hasil belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu
“hasil” dan “belajar”. Hasil Belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk
mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan. Untuk
mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan serangkaian pengukuran menggunakan alat
evaluasi yang baik dan memenuhi syarat. Pengukuran demikian dimungkinkan karena
pengukuran merupakan kegiatan ilmiah yang dapat diterapkan pada berbagai bidang termasuk
pendidikan. (Nurita, 2018)
Menurut Purwanto (2011:44) pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan
akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkanberubahnya input secara
fungsional. Tujuan pengajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan
dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur. Peserta didik dikatakan
berhasil dalam belajar apabila peserta didik tersebut berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Hal
ini didukung oleh pernyataan Dimyati dan Mudjono dalam (Ahmadiyanto, 2016:983), dimana
hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru.
Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik dari
sebelum mengikuti kegiatan belajar yang terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor. Sedangkan dari sisi guru hasil belajar merupakan saat selesainya kegiatan belajar.
Perubahan perilaku akibat kegiatan belajar mengakibatkan siswa memiliki penguasaan
terhadap materi pengajaran yang disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai
tujuan pengajaran. Dengan memperhatikan berbagai teori di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah perubahan perilaku mahasiswa akibat belajar. Perubahan perilaku disebabkan
karena dia mencapai penguasaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar
mengajar. Pencapaian itu didasarkan atas tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Hasil itu dapat
berupa perubahan dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik .
Hasil belajar dapat dikaitkan dengan terjadinya perubahan kepandaian, kecakapan, atau
kemampuan seseorang dimana proses kepandaian itu terjadi tahap demi tahap. Hasil belajar
diwujudkan dalam lima kemampuan yaitu kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi
verbal, kemampuan motorik dan sikap (Sudjana,1988:45).
Darsono (2000:110) menguraikan lebih jauh bahwa hasil belajar siswa adalah
perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pengetahuan/kognitif. Keterampilan/
psikomotor, dan nilai sikap/ afekif sebagai akibat interaksi aktif dengan lingkungan.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa hasil belajar adalah kemampuan-
kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar berupa tingkah laku
siswa yang meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif setelah mereka memperoleh
pengalaman belajar.
Cara dan kemampuan siswa untuk mencapai tujuan belajar berbeda-beda, masing- masing
siswa bersifat unik, artinya kondisi fisik, mental dan sosial mereka berbeda satu sama lain.
Perbedaan ini menyebabkan hasil belajar mereka tidak sama. Sutadi (1996: 62) mengemukakan
bahwa untuk mengetahui sejauh mana siswa mencapai tujuan belajarnya, guru tidak hanya
melihat sepintas karena tidak akan diperoleh gambaran yang obyektif, untuk itu diperlukan
kegiatan evaluasi yang lebih menyeluruh, berkesinambungan dan obyektif.
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku secara menyeluruh bukan hanya pada satu
aspek saja tetapi terpadu secara utuh. Hasil belajar akan selalu berkaitan dengan kegiatan
evaluasi pembelajaran sehingga diperlukan adanya teknik dan prosedur evaluasi belajar yang
dapat menialai secara afektif proses dan hasil belajar. Hasil belajar siswa akan dapat ditingkatkan
dengan baik dan maksimal apabila kegiatan pembelajaran dikembangkan dengan prinsip-prinsip
belajar yang tepat.
Kunandar (2013:68) menyebutkan fungsi penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru
adalah sebagai berikut:
a. Menggambarkan seberapa dalam siswa telah menguasai suatu kompetensi tertentu.
b. Mengevaluasi hasil belajar siswa dalam rangka membantu siswa memahami dirinya,
membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program,
pegembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
c. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan siswa
serta sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah siswa perlu
mengikuti remedial atau pengayaan.
d. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembeljaran yang sedang berlangsung
guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
e. Kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan peserta didik.
Sedangkan menurut Salam (2016), Hasil belajar memiliki beberapa fungsi antara lain :
a. Hasil belajar merupakan indikator dari kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah
dikuasai siswa.
b. Hasil belajar sebagai lambang pemusatan hasrat ingin tahu.
c. Hasil belajar sebagai bahan informasi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa hasil belajar
dapat dijadikan pedoman bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan
teknologi sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.
d. Hasil belajar merupakan indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat
produktivitas suatu intitusi pendidikan.
2. Pembelajaran IPS di SD
IPS, seperti halnya IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia merupakan bidang studi.
Dengan demikian, IPS sebagai bidang studi memiliki garapan yang dipelajari cukup luas. Bidang
garapannya itu meliputi gejala-gejala dan masalah kehidupan manusia di masyarakat. Tekanan
yang dipelajari IPS berkenaan dengan gejala dan masalah kehidupan masyarakat bukan pada
teori dan keilmuannya, melainkan pada kenyataan kehidupan kemasyarakatan. Dari gejala dan
masalah sosial tadi ditelaah, dianalisis faktor-faktornya sehingga dapat dirumuskan jalan
pemecahannya. Memperhatikan kerangka kerja IPS, seperti yang dikemukakan di atas dapat
ditarik pengertian IPS sebagai berikut.
IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah
sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu perpaduan. IPS
yang diajarkan pada pendidikan dasar dan menengah, menjadi dasar pengantar bagi mempelajari
IPS/Studi Sosial ataupun ilmu Sosial di Perguruan Tinggi. Bahkan dalam kerangka kerjanya
dapat saling melengkapi.
Istilah IPS pada Sekolah Dasar merupakan nama mata pelajaran yang berdiri sendiri
sebagai integrasi dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains, bahkan berbagai
isu dan masalah sosial kehidupan. Materi IPS untuk jenjang sekolah dasar tidak terlihat aspek
disiplin ilmu karena yang lebih dipentingkan adalah dimensi pedagogis dan psikologi serta
karakterisktik kemempuan berpikir siswa yang bersifat holistik. Menurut Sapriya (2009)
pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan
humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan
pedagogis/psikologis.
Pendidikan IPS di SD merupakan perwujudan terdisiplinan dari berbagai ilmu sosial,
yang didasari bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tatanegara, dan sejarah
sehingga pendidikan IPS bukanlah mata pelajaran dengan disiplin ilmu tunggal melainkan
gabungan dari berbagai disiplin ilmu.
IPS merupakan gabungan ilmu- ilmu social terintegrasi atau terpadu. Pengertian terpadu,
bahwa bahan atau materi IPS diambil dari ilmu-ilmu sosial yang dipadukan dan tidak terpisah-
pisah dalam kotak disiplin ilmu. (Sadeli, 1986). Berikut ini karakteristik IPS dilihat dari materi
dan strategi penyampaiannya:
1. Materi IPS
Mempelajari IPS pada hakekatnya adalah menelaah interaksi antara individu dan
masyarakat dengan lingkungan (fisik dan social budaya). Materi IPS digali dari segala aspek
kehidupan praktis sehari-hari di masyarakat. Dengan demikian masyarakat dan
lingkungannya, selain menjadi sumber IPS sekaligus juga menjadi laboratoriumnya.
Pengetahuan konsep, teori-teori IPS yang diperoleh anak di dalam kelas dapat dicocokkan
dan dicobakan sekaligus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Ada beberapa versi manfaat mempelajari IPS bagi siswa, baik secara umum maupun
menurut KTSP. Berikut beberapa manfaat siswa mempelajari IPS:
1. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) tahun 2016:
a. Mengenalkan siswa mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
bermasyarakat dan lingkungan sekitarnya.
b. Membantu siswa memiliki kemampuan dasar untuk memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi, berfikir kritis namun logis, inkuiri, dapat memecahkan masalah
sendiri dan memiliki keterampilan serta dapat membawa diri dalam kehidupan
sosial bermasyarakat.
c. Meningkatkan komitmen dan kesadaran mengenai nilai-nilai sosial
kemanusiaan.
d. Melatih keterampilan komunikasi siswa, semangat kerjasama dan berkompetisi
secara sehat dalam masyarakat baik di tingkat lokal, nasional maupun global.
2. Manfaat Pelajaran IPS Secara Umum:
a. Pelajaran IPS membekali siswa pengetahuan sosial yang nantinya bisa
diterapkan langsung dalam kehidupan bermasayarakat kelak.
b. Membekai siswa kemampuan menganalisis, mengidentifikasi serta menyusul
alternatif dalam memecahkan masalah sosial yang dihadapinya dalam kehidupan
masayarakat.
c. Membekali siswa kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat untuk berbagi
ilmu dan keahlian mereka.
d. Membekali siswa mengenai kesadaran sikap mental yang positif dan
keterampilan untuk berkontribusi di masyarakat kelak.
e. Memberikan bekal kepada siswa kemampuan untuk mengembangkan
pengetahuan sesuai perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pnegtahuan dan
teknologi.
f. Mempelajari IPS membantu siswa untuk mengetahui cara berinteraksi dengan
orang di sekitarnya, baik itu interaksi dalam kelompok kecil maupun kelompok
besar.
g. Dengan mempelajari IPS, memudahkan siswa untuk terjun dan hidup dalam satu
kelompok baru karena meraka sudah dibekali pengetahuan mengenai tradisi
yang ada dalam kelompok tersebut.
h. Melatih dan membentuk jiwa sosial kepada siswa.
i. Melatih sifat teliti dan ekonomis
j. Mengajari siswa untuk mensyukuri kehidupan yang dimilikinya karena apa yang
sedang mereka jalani saat ini merupakan bagian dari proses-proses sosial yang
harus dilewati.
k. Dengan mempelajari IPS diharapkan siswa mampu mengembangkan aspek
pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding) serta aspek
keterampilan (skill).
Tujuan pendidikan IPS dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa pendidikan IPS
merupakan suatu disiplin ilmu. Oleh karena itu pendidikan IPS harus mengacu pada tujuan
Pendidikan Nasional. Dengan demikian tujuan pendidikan IPS adalah mengembangkan
kemampuan peserta didik dalam menguasai disiplin ilmu-ilmu sosial untuk mencapai tujuan
pendidikan yang lebih tinggi.
Ada tiga aspek yang harus dituju dalam pengembangan pendidikan IPS, yaitu aspek
intelektual, kehidupan sosial, dan kehidupan individual. Pengembangan kemampuan intelektual
lebih didasarkan pada pengembangan disiplin ilmu itu sendiri serta pengembangan akademik dan
thinking skill. Tujuan intelektual berupaya untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam
memahami disiplin ilmu sosial., kemampuan berpikir, kemampuan prosesual dalam mencari
informasi dan mengkomunikasikan hasil temuan. Pengembangan kehidupan sosial berkaitan
dengan pengembangan kemampuan dan tanggung jawab siswa sebagai anggota masyarakat.
Tujuan ini mengembangkan kemampuan sepeti berkomunikasi, rasa tanggung jawab
sebagai warga negara dan warga dunia, kemampuan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan
kemasyarakatan dan bangsa. Termasuk dalam tujuan ini adalah pengembangan pemahaman dan
sikap positif siswa terhadap nilai, norma dan moral yang berlaku dalam masyarakat. (Sundawa,
2006).
Fokus utama dari program IPS adalah membentuk iindividu-individu yang memahami
kehidupan sosialnya-dunia manusia, aktivitas dan interaksinya yang ditujukan untuk
menghasilkan anggota masyarakat yang bebas, yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk
melestarikan, malanjutkan dan memperluas nilai-nilai dan ide-ide masyarakat bagi generasi masa
depan.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak
yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963)
berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit
operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun
yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang
(kongkrit), dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (abstrak). Padahal bahan
materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu,
perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi,
kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak
yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD.
3.2 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (ada tabelnya ya)
Menurut Depdiknas (2005) sintaks model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai
berikut:
Model pembelajaran ini memacu kerja sama siswa melalui belajar dalam kelompok yang
anggotanya beragam agar saling mendorong dan membantu satu sama lain dalam suasana social
yang beragam untuk menguasai keterampilan yang sedang dipelajari. Dari pengertian diatas
dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan suatu model pembelajaran
dimana peserta didik belajar dan bekerja sama dalam kelompok kecil yang secara kolaboratif
anggotanya 4-5 orang dengan struktur kelompok hiterogen.
Model STAD lebih mementingkan sikap partisipasi peserta didik dalam
mengembangkan potensi kognitif dan efektif antara lain: (1) relatif mudah
menyelenggarakannya, (2) mampu memotivasi siswa dalam mengembangkan potensi individu,
terutama kreatifitas dan tanggung jawab dalam mengangkat citra kelompoknya, (3) melatih siswa
untuk bekerja sama dan saling tolong menolong dalam kelompok, (4) siswa mampu
menyakinkan dirinya dan orang lain bahwa tujuan yang ingin dicapai bergantung pada cara kerja
mereka, bukan karena keberuntungan, (5) siswa mampu berkomunikasi verbal dan nonverbal
dalam bekerja sama, (6) meningkatkan keakraban antar siswa
Tujuan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah memotivasi, mendorong dan
untuk membantu para siswa satu sama lain untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan yang
disajikan oleh guru. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini
siswa akan lebih aktif dalam berdiskusi dengan teman-teman sekelompoknya untuk menguasai
suatu materi pembelajaran dibimbing oleh guru. Dengan siswa aktif diharapkan hasil belajar
siswa akan meningkat.
4. Karakteristik Siswa
Sarifah Nurhasanah (2010) “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk
Meningkatkan Pemahaman Peristiwa Proklamasi Indonesia dalam Pelajaran Ips Pada Siswa
Kelas V Sd Negeri 01 Pereng Karanganyar”. Menyimpulkan bahwa selain dapat meningkatkan
pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia pada mata pelajaran IPS, Student Team
Achievement Division (STAD) juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta dapat
memotivasi semangat belajar siswa dalam mengikuti pelajaran. Hal tersebut ditunjukkan dengan
nilai rerata hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada kondisi awal 51%, siklus I sebesar
69.50% dan pada siklus II sebesar 88.50%. Rerata pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia
pada kondisi awal 51% siswa tuntas belajar dengan nilai rata-rata 61,71. Pada rerata pemahaman
peristiwa Proklamasi Indonesia adalah 69,50% siswa tuntas belajar dengan nilai rata-rata
pertemuan pertama sebesar 68,94, sedangkan pertemuan ke-dua dengan nilai rata-rata 74,57. Dan
siklus II rerata pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia sebesar 88,50% siswa tuntas belajar
dengan nilai rata-rata pada pertemuan pertama sebesar 78,28 sedangkan nilai rata-rata pada
pertemuan ke-dua sebesar 81,22.
Titi Anderpati (2005) “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalu Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa kelas VII SMP Negeri 2 Boyolali”.
Menyimpulkan bahwa Student Team Achievement Division (STAD) terbukti dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa. Sebelum dilakukan tindakan persentasi pencapaian Standar
Ketuntasan Batas Minimal (SKBM) penguasaan konsep 70 %, siklus I menjadi 90 % dan siklus
II mencapai 95 %, sedangkan rata-ratanya sebelum tyindakan 6.8 siklus I menjadi 8,05 dan
siklus II mencapai 8,3. persentasi pencapaian SKBM kinerja ilmiah sebelum tindakan, 70 %. Ini
menunjukkan bahwa indicator kinerja dapat tercapai. Terjadi peningkatan kreativitas dan
keaktifan siswa, antara lain mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, bekerjasama,
menghargai pendapat teman.
Listyowati (2008) tentang “Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Anak Berkesulitan
Belajar Melalui Pembelajaran Kooperativ di Kelas VB SD Negeri Cemara Dua No.13
Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta”. Menyimpulkan bahwa setelah dilakukan analisis data
dari hasil penelitian di peroleh kesimpulan dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Student
Team Achievement Division (STAD) terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar matematika
siswa. Peningkatan ini karena siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan
penggunaan alat peraga. Terjadi peningkatan kreativitas dan keaktifan siswa antara lain
mengajukan pertanyaan, menyampaiakan pendapat, bekerja sama, menghargai pendapat teman.
Berdasaran pendapat diatas, guru hendaknya harus kreaktif dan aktif dalam menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD sehingga dapat menumbuhkan rasa senang kepada
siswa dalam mengikuti pembelajaran, agar siswa tidak jenuh dan dapat menjadikan belajar lebih
optimal sesuai dengan batas ketuntasan belajar baik secara individual maupun kelompok
C. Kerangka berpikir
Pembelajaran bersifat
Konvensional berpusat pada Pemahaman siswa
Kondisi terhadap peristiwa
guru, siswa pasif dalam
Awal proklamasi rendah
materi peristiwa proklamas
Indonesia pelajaran IPS.
Siklus I
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir yang telah diuraikan di atas dapat
dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap peristiwa Proklamasi Indonesia
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kualitas
proses pembelajaran peristiwa Proklamasi Indonesia dalam Pelajaran IPS terhadap
siswa kelas V
Daftar Pustaka
Darsono, Max. Dkk, 2000, Belajar dan Pembelajaran, Semarang: IKIP Semarang Press.
Depdiknas.
Kunandar. (2013). Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan
Kurikulum 2013). Suatu Pendekatan Praktis Disertai Dengan Contoh. Jakarta:
Rajawali Pers.
Listyowati. 2008. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Anak Berkesulitan Belajar Melalui
Pembelajaran Kooperativ di Kelas VB SD Negeri Cemara Dua No.13 Kecamatan
Banjarsari Kota Surakarta. Skripsi. .
Maulana, P., & Akbar, A. (2017). Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student
Team Achievement Division) untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca
Pemahaman di Sekolah Dasar. Jurnal Pesona Dasar, 5(2).
Nugroho. R. A. 2013. Peningkatan Hasil Belajar Dengan Model Pembelajaran Picture And
Picture Kompetensi Dasar Sikap Positif Terhadap Pelaksanaan Demokrasi Kelas Viii
B Smp Muhammadiyah 3 Purwokerto. Skripsi. Universitas Muhammadiyah
Purwokerto
Nurita. T. 2018. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa.
Jurnal ILmu-ilmu ALQur'an, Hadist, Syariah dan Tarbiyah. Vol 3, No. 01.
Purwanto, Ngalim. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Sadeli, Lili. M., dkk. 1986. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial Modul 1-3. Universitas
Terbuka Jakarta. Diakses dari https://pgsd.binus.ac.id/2018/01/0
8/karakteristik-ips-di-sekolah- dasar/ Pada tanggal 20 Desember 2019.
Salam. M. 2016. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis Materi Tanda
Baca Waqaf Dan Wasal Melalui Penerapan Strategi Index Card Match Pada Siswa
Kelas Ii Mi Miftahul Ulum Duren Tengaran Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran
2015/2016. Skripsi. Universitas Islam Negeri Walisongo. Semarang
Slavin, Robert E. (2010). Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Terjemahan Narulita
Yusron. Bandung: Nusa Media. Taufik, M. (2015)
Sudjana, Nana. 1988. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru
Wardana, I., Banggali, T., & Husain, H. (2017). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
student team achivement division (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar siswa
kelas XI IPA Avogadro SMA Negeri 2 Pangkajene (Studi pada Materi Asam Basa).
Chemica: Jurnal Ilmiah Kimia dan Pendidikan Kimia, 18(1), 76-84