0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan22 halaman

Hasil Belajar: Teori dan Fungsi Evaluasi

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan22 halaman

Hasil Belajar: Teori dan Fungsi Evaluasi

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Hasil belajar

1.1 Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu
“hasil” dan “belajar”. Hasil Belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk
mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan. Untuk
mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan serangkaian pengukuran menggunakan alat
evaluasi yang baik dan memenuhi syarat. Pengukuran demikian dimungkinkan karena
pengukuran merupakan kegiatan ilmiah yang dapat diterapkan pada berbagai bidang termasuk
pendidikan. (Nurita, 2018)
Menurut Purwanto (2011:44) pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan
akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkanberubahnya input secara
fungsional. Tujuan pengajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan
dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur. Peserta didik dikatakan
berhasil dalam belajar apabila peserta didik tersebut berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Hal
ini didukung oleh pernyataan Dimyati dan Mudjono dalam (Ahmadiyanto, 2016:983), dimana
hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru.
Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik dari
sebelum mengikuti kegiatan belajar yang terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor. Sedangkan dari sisi guru hasil belajar merupakan saat selesainya kegiatan belajar.
Perubahan perilaku akibat kegiatan belajar mengakibatkan siswa memiliki penguasaan
terhadap materi pengajaran yang disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai
tujuan pengajaran. Dengan memperhatikan berbagai teori di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah perubahan perilaku mahasiswa akibat belajar. Perubahan perilaku disebabkan
karena dia mencapai penguasaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar
mengajar. Pencapaian itu didasarkan atas tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Hasil itu dapat
berupa perubahan dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik .
Hasil belajar dapat dikaitkan dengan terjadinya perubahan kepandaian, kecakapan, atau
kemampuan seseorang dimana proses kepandaian itu terjadi tahap demi tahap. Hasil belajar
diwujudkan dalam lima kemampuan yaitu kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi
verbal, kemampuan motorik dan sikap (Sudjana,1988:45).
Darsono (2000:110) menguraikan lebih jauh bahwa hasil belajar siswa adalah
perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pengetahuan/kognitif. Keterampilan/
psikomotor, dan nilai sikap/ afekif sebagai akibat interaksi aktif dengan lingkungan.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa hasil belajar adalah kemampuan-
kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar berupa tingkah laku
siswa yang meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif setelah mereka memperoleh
pengalaman belajar.
Cara dan kemampuan siswa untuk mencapai tujuan belajar berbeda-beda, masing- masing
siswa bersifat unik, artinya kondisi fisik, mental dan sosial mereka berbeda satu sama lain.
Perbedaan ini menyebabkan hasil belajar mereka tidak sama. Sutadi (1996: 62) mengemukakan
bahwa untuk mengetahui sejauh mana siswa mencapai tujuan belajarnya, guru tidak hanya
melihat sepintas karena tidak akan diperoleh gambaran yang obyektif, untuk itu diperlukan
kegiatan evaluasi yang lebih menyeluruh, berkesinambungan dan obyektif.
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku secara menyeluruh bukan hanya pada satu
aspek saja tetapi terpadu secara utuh. Hasil belajar akan selalu berkaitan dengan kegiatan
evaluasi pembelajaran sehingga diperlukan adanya teknik dan prosedur evaluasi belajar yang
dapat menialai secara afektif proses dan hasil belajar. Hasil belajar siswa akan dapat ditingkatkan
dengan baik dan maksimal apabila kegiatan pembelajaran dikembangkan dengan prinsip-prinsip
belajar yang tepat.

1.2 Fungsi Hasil Belajar

Kunandar (2013:68) menyebutkan fungsi penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru
adalah sebagai berikut:
a. Menggambarkan seberapa dalam siswa telah menguasai suatu kompetensi tertentu.
b. Mengevaluasi hasil belajar siswa dalam rangka membantu siswa memahami dirinya,
membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program,
pegembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
c. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan siswa
serta sebagai alat diagnosis yang membantu guru menentukan apakah siswa perlu
mengikuti remedial atau pengayaan.
d. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembeljaran yang sedang berlangsung
guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
e. Kontrol bagi guru dan sekolah tentang kemajuan peserta didik.

Sedangkan menurut Salam (2016), Hasil belajar memiliki beberapa fungsi antara lain :
a. Hasil belajar merupakan indikator dari kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah
dikuasai siswa.
b. Hasil belajar sebagai lambang pemusatan hasrat ingin tahu.
c. Hasil belajar sebagai bahan informasi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa hasil belajar
dapat dijadikan pedoman bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan
teknologi sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.
d. Hasil belajar merupakan indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat
produktivitas suatu intitusi pendidikan.

1.3 Bentuk dan Tipe Hasil Belajar


Hasil belajar dapat dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif,
Psikomotoris . Perinciannya adalah sebagai berikut:
a. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu :
1) Pengetahuan (knowledge)
Tipe hasil pengetahuan termasuk kognitif tingkat rendah. Namun, tipe hasil belajar ini
menjadi prasyarat bagi tipe hasil belajar yang berikutnya. Hal ini berlaku bagi semua
bidang studi pelajaran. Misalnya hafal suatu rumus akan menyebabkan paham bagaimana
mengguankan rumus tersebut; hafal kata-kata akan memudahkan dalam membuat
kalimat.
2) Pemahaman
Pemahaman dapat dilihat dari kemampuan individu dalam menjelaskan sesuatu
masalah atau pertanyaan.
3) Aplikasi
Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus.
Abstraksi terse Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi. Mengulang-
ulang menerapkannya pada situasi lama akan beralih menjadi pengetahuan hafalan atau
keterampilan.
4) Analisis
Analisis adalah usaha memilih suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-
bagian sehingga jelas hierarkinya dan atau susunannya. Analisis merupakan kecakapan
yang kompleks, yang memanfaatkan kecakapan dari ketiga tipe sebelumnya.
5) Sintesis
Penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk menyeluruh disebut
sintesis. Berpikir sintesis adalah berpikir divergen dimana menyatukan unsur-unsur
menjadi integritas.
6) Evaluasi
Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari
segi tujuan, gagasan, cara kerja, pemecahan metode, dll. but mungkin berupa ide, teori,
atau petunjuk teknis.
b. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa
dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiaannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi
belajar, menghargai guru, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Ranah afektif meliputi
lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan
karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
c. Ranah Psikomotor
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan
kemampuan bertindak individu. Gogne membagi hasil belajar dalam 5 kategori, yaitu
(dalam Nugroho, 2013):
a) Informasi verbal. Informasi verbal adalah kesanggupan untuk mengungkapkan
pengetahuan dalam bentukbahasa, baik lisan maupun tulis. Pemilikan informasi verbal
memugkinkan individu berperan dalam kehidupan.
b) Keterampilan intelektual. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi
untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan
lambang keterampilan intelektual sendiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan
terdefinisi,dan prinsip
c) Strategi kognitif. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah
dalam memecahkan masalah
d) Sikap. Sikap Adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan
penilaian terhadap obyek tersebut
e) Keterampilan motorik. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan
rangkaian tegas jasmani dalam urusan dankoordinasi, sehingga berwujud otomatisme
gerak jasmani.

2. Pembelajaran IPS di SD

2.1 Pengertian Pembelajaran IPS di SD

IPS, seperti halnya IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia merupakan bidang studi.
Dengan demikian, IPS sebagai bidang studi memiliki garapan yang dipelajari cukup luas. Bidang
garapannya itu meliputi gejala-gejala dan masalah kehidupan manusia di masyarakat. Tekanan
yang dipelajari IPS berkenaan dengan gejala dan masalah kehidupan masyarakat bukan pada
teori dan keilmuannya, melainkan pada kenyataan kehidupan kemasyarakatan. Dari gejala dan
masalah sosial tadi ditelaah, dianalisis faktor-faktornya sehingga dapat dirumuskan jalan
pemecahannya. Memperhatikan kerangka kerja IPS, seperti yang dikemukakan di atas dapat
ditarik pengertian IPS sebagai berikut.
IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah
sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu perpaduan. IPS
yang diajarkan pada pendidikan dasar dan menengah, menjadi dasar pengantar bagi mempelajari
IPS/Studi Sosial ataupun ilmu Sosial di Perguruan Tinggi. Bahkan dalam kerangka kerjanya
dapat saling melengkapi.
Istilah IPS pada Sekolah Dasar merupakan nama mata pelajaran yang berdiri sendiri
sebagai integrasi dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains, bahkan berbagai
isu dan masalah sosial kehidupan. Materi IPS untuk jenjang sekolah dasar tidak terlihat aspek
disiplin ilmu karena yang lebih dipentingkan adalah dimensi pedagogis dan psikologi serta
karakterisktik kemempuan berpikir siswa yang bersifat holistik. Menurut Sapriya (2009)
pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan
humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan
pedagogis/psikologis.
Pendidikan IPS di SD merupakan perwujudan terdisiplinan dari berbagai ilmu sosial,
yang didasari bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tatanegara, dan sejarah
sehingga pendidikan IPS bukanlah mata pelajaran dengan disiplin ilmu tunggal melainkan
gabungan dari berbagai disiplin ilmu.
IPS merupakan gabungan ilmu- ilmu social terintegrasi atau terpadu. Pengertian terpadu,
bahwa bahan atau materi IPS diambil dari ilmu-ilmu sosial yang dipadukan dan tidak terpisah-
pisah dalam kotak disiplin ilmu. (Sadeli, 1986). Berikut ini karakteristik IPS dilihat dari materi
dan strategi penyampaiannya:

1. Materi IPS
Mempelajari IPS pada hakekatnya adalah menelaah interaksi antara individu dan
masyarakat dengan lingkungan (fisik dan social budaya). Materi IPS digali dari segala aspek
kehidupan praktis sehari-hari di masyarakat. Dengan demikian masyarakat dan
lingkungannya, selain menjadi sumber IPS sekaligus juga menjadi laboratoriumnya.
Pengetahuan konsep, teori-teori IPS yang diperoleh anak di dalam kelas dapat dicocokkan
dan dicobakan sekaligus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

2. Strategi Penyampaian Pengajaran IPS


Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagian besar adalah didasarkan pada suatu
tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga,
kota, region, Negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon
or Expanding Environment Curriculum” (Mukminan, 1996). Tipe kurikulum tersebut,
didasarkan pada asumsi bahwa anak pertama-tama dikenalkan atau perlu memperoleh
konsep yang berhubungan dengan lingkungan terdekat atau diri sendiri. Selanjutnya secara
bertahap dan sistematis bergerak dalam lingkungan konsentrasi keluar dari lingkaran
tersebut, kemudian mengembangkan kemampuannya untuk menghadapi unsur-unsur dunia
yang lebih luas.

2.2 Manfaat Pembelajaran IPS di SD

Ada beberapa versi manfaat mempelajari IPS bagi siswa, baik secara umum maupun
menurut KTSP. Berikut beberapa manfaat siswa mempelajari IPS:
1. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) tahun 2016:
a. Mengenalkan siswa mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
bermasyarakat dan lingkungan sekitarnya.
b. Membantu siswa memiliki kemampuan dasar untuk memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi, berfikir kritis namun logis, inkuiri, dapat memecahkan masalah
sendiri dan memiliki keterampilan serta dapat membawa diri dalam kehidupan
sosial bermasyarakat.
c. Meningkatkan komitmen dan kesadaran mengenai nilai-nilai sosial
kemanusiaan.
d. Melatih keterampilan komunikasi siswa, semangat kerjasama dan berkompetisi
secara sehat dalam masyarakat baik di tingkat lokal, nasional maupun global.
2. Manfaat Pelajaran IPS Secara Umum:
a. Pelajaran IPS membekali siswa pengetahuan sosial yang nantinya bisa
diterapkan langsung dalam kehidupan bermasayarakat kelak.
b. Membekai siswa kemampuan menganalisis, mengidentifikasi serta menyusul
alternatif dalam memecahkan masalah sosial yang dihadapinya dalam kehidupan
masayarakat.
c. Membekali siswa kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat untuk berbagi
ilmu dan keahlian mereka.
d. Membekali siswa mengenai kesadaran sikap mental yang positif dan
keterampilan untuk berkontribusi di masyarakat kelak.
e. Memberikan bekal kepada siswa kemampuan untuk mengembangkan
pengetahuan sesuai perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pnegtahuan dan
teknologi.
f. Mempelajari IPS membantu siswa untuk mengetahui cara berinteraksi dengan
orang di sekitarnya, baik itu interaksi dalam kelompok kecil maupun kelompok
besar.
g. Dengan mempelajari IPS, memudahkan siswa untuk terjun dan hidup dalam satu
kelompok baru karena meraka sudah dibekali pengetahuan mengenai tradisi
yang ada dalam kelompok tersebut.
h. Melatih dan membentuk jiwa sosial kepada siswa.
i. Melatih sifat teliti dan ekonomis
j. Mengajari siswa untuk mensyukuri kehidupan yang dimilikinya karena apa yang
sedang mereka jalani saat ini merupakan bagian dari proses-proses sosial yang
harus dilewati.
k. Dengan mempelajari IPS diharapkan siswa mampu mengembangkan aspek
pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding) serta aspek
keterampilan (skill).

2.3 Tujuan Mempelajari IPS di SD

Tujuan pendidikan IPS dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa pendidikan IPS
merupakan suatu disiplin ilmu. Oleh karena itu pendidikan IPS harus mengacu pada tujuan
Pendidikan Nasional. Dengan demikian tujuan pendidikan IPS adalah mengembangkan
kemampuan peserta didik dalam menguasai disiplin ilmu-ilmu sosial untuk mencapai tujuan
pendidikan yang lebih tinggi.
Ada tiga aspek yang harus dituju dalam pengembangan pendidikan IPS, yaitu aspek
intelektual, kehidupan sosial, dan kehidupan individual. Pengembangan kemampuan intelektual
lebih didasarkan pada pengembangan disiplin ilmu itu sendiri serta pengembangan akademik dan
thinking skill. Tujuan intelektual berupaya untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam
memahami disiplin ilmu sosial., kemampuan berpikir, kemampuan prosesual dalam mencari
informasi dan mengkomunikasikan hasil temuan. Pengembangan kehidupan sosial berkaitan
dengan pengembangan kemampuan dan tanggung jawab siswa sebagai anggota masyarakat.
Tujuan ini mengembangkan kemampuan sepeti berkomunikasi, rasa tanggung jawab
sebagai warga negara dan warga dunia, kemampuan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan
kemasyarakatan dan bangsa. Termasuk dalam tujuan ini adalah pengembangan pemahaman dan
sikap positif siswa terhadap nilai, norma dan moral yang berlaku dalam masyarakat. (Sundawa,
2006).
Fokus utama dari program IPS adalah membentuk iindividu-individu yang memahami
kehidupan sosialnya-dunia manusia, aktivitas dan interaksinya yang ditujukan untuk
menghasilkan anggota masyarakat yang bebas, yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk
melestarikan, malanjutkan dan memperluas nilai-nilai dan ide-ide masyarakat bagi generasi masa
depan.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak
yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963)
berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit
operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun
yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang
(kongkrit), dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (abstrak). Padahal bahan
materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu,
perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi,
kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak
yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD.

2.4 Ruang Lingkup IPS di SD (disangkut pautkan dg proklamasi kemerdekaan RI)

Pembelajaran IPS berkembang dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala


tingkah laku dan kebutuhannya. Manusia pada konteks sosialnya atau manusia sebagai anggota
masyarakat, dalam pelajaran IPS di jenjang pendidikan harus melakukan pembatasan-
pembatasan sesuai dengan siswa pada tingkat masing-masing.
Ruang lingkup pembelajaran IPS di SD dibatasi sampai gejala dan masalah sosial yang
dapat dijangkau pada geografi dan sejarah. Siswa SD mulai dari lingkup gejala dan masalah
kehidupan yang ada disekitar tempat tinggal dan sekolah, desa, kecamatan, kabupaten, propinsi,
Negara dan akhirnya ke Negara-negara tetangga.
Dalam pengajaran IPS masyarakat sebagai suatu sistem dapat dijadikan suatu paket
mengajar, pusat sistem manusia sebagai sistem adalah bertingkat dari lingkungan yang kecil ke
lingkungan yang lebih besar. Oleh karena itu, segala gejala, masalah dan peristiwa tentang
kehidupan manusia di masyarakat dapat dijadikan sumber dan materi IPS. Kejadian-kejadian tadi
baik yang langsung terjadi di dalam masyarakat maupun yang diberitakan di media massa (radio,
surat kabar, TV, atau buku-buku penunjang yang lain). Pengarahan materi-materi IPS yang
bersifat makro- dan berbelit, dasarnya harus dari contoh kenyataan yang terdekat. Masyarakat
selain menjadi sumber dan materi IPS juga menjadi laboratoriumnya.
Salah satu bidang ilmu sosial yang di pelajari di SD adalah sejarah. Sejarah merupakan
pengetahuan masa lampau berupa rangkaian peristiwa dan kejadian yang disusun secara
sistematis dan dilakukan oleh manusia yang dapat dibuktikan kebenarannya eran manusia sangat
mempengaruhi bagaimana sejarah itu terjadi. Seperti halnya negara Indonesia tidak mungkin
merdeka tanpa adanya perjuangan tokoh-tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia di masa lampau. Akan tetapi pada kenyataannya materi proklamasi kemerdekaan
Indonesia tersebut tidaklah mudah untuk diajarkan kepada peserta didik. Menurut penelitian
Putri, dkk (2016). IPS yang memuat banyak materi dan minimnya media juga menjadi kendala
tersendiri bagi guru kelas V SD Negeri 1 Kembang Boyolali. Berdasarkan hasil observasi,
pembelajaran IPS materi proklamasi kemerdekaan Indonesi masih didominasi oleh guru dan
pembelajaran cenderung monoton. Akibatnya antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran juga
sangat kurang.
Untuk itu dalam pembelajaran IPS, guru harus membawa anak didik kepada kenyataan
hidup yang sebenarnya dapat dihayati, ditanggapi dan akhirnya dapat membawa kepekaan sikap
mental, keterampilan dalam menghadapi kenyataan yang nyata. Dengan demikian diharapkan
peningkatan pemahaman siswa dan kualitas proses pembelajaran IPS materi peristiwa
proklamasi Indonesia.
3. Pendekatan kooperatif Tipe STAD

3.1 Pengertian Pendekatan Kooperatif Tipe STAD

Model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student teams Achievement Divisions)


dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari Universitas John Hopkins Amerika
Serikat. Model STAD adalah model pembelajaran untuk mengajarkan materi kepada kelompok
siswa atau tim siswa yang heterogen melalui penyajian materi, Tiap anggota tim menggunakan
lembar tugas kemudian saling membantu untuk menguasai materi melalui tanya jawab atau
diskusi antar sesama anggota tim kemudian dipresentasikan di kelas dan dievaluasi oleh guru
untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap materi yang telah dipelajari serta diberi
penghargaan secara individu maupun kelompok.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model pembelajaran untuk tempat siswa
belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkatan kemampuan siswa
yang berbeda, untuk menguasai materi dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota
saling bekerja sama secara kolaboratif dan membantu memahami materi, serta membantu teman
untuk menguasai bahan pembelajaran.
Student Teams-Achievement Divisions (STAD) berarti mengerjakan sesuatu secara
bersama-sama dengan saling membantu satu dengan yang lain sebagai satu tim. Erman
mengemukakan bahwa, ”Model student teams achievement division (STAD) tergolong pada
model pembelajaran kooperatif, yaitu model pembelajaran yang terdiri atas kelompok kecil yang
bekerja sama sebagai satu tim untuk memecahkan masalah, melengkapi tugas atau
menyelesaikan tugas bersama”. DengaN demikian, model student teams achievement division
(STAD) merupakan model pembelajaran yang dapat merangsang aktivitas siswa untuk
mengemukakan pendapat, ide, dan gagasan dalam pembelajaran (Maulana, 2017).
Pembelajaran kooperatif tipe STAD, bekerja dalam kelompok sehingga siswa dapat
menumbuhkan kemauan kerja sama, berpikir kritis, termotivasi, bertanggung jawab terhadap
kelompok. Siswa memiliki kemampuan untuk membantu teman dan terhadap diri sendiri dalam
mengikuti kuis nantinya guna mencapai suatu tujuan yaitu mendapatkan penghargaan tim yang
super. Adanya evaluasi, siswa mampu merangkum pelajaran yang diterima dari penjelasan guru
maupun hasil kerja kelompok yang dilakukan. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
yang telah dipelajari dimana siswa tidak diperbolehkan bekerja sama (Wardana, Ika: 2017).

3.2 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (ada tabelnya ya)

Menurut trianto Fase-fase pembelajaran Kooperatif tipe STAD (Student Teams


Achievement Division) Fase Kegiatan Guru Antara lain:
a. Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan semua tujuan
pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
b. Fase 2 Menyajikan/ menyampaikan informasi Menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.
c. Fase 3 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar Menjelaskan
kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
d. Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Membimbing kelompok -
kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
e. Fase 5 Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah diajarkan atau
masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
f. Fase 6 Memberikan penghargaan Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya
maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Menurut Depdiknas (2005) sintaks model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai
berikut:

Tabel 1. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

3.3 Langkah-Langkah Penerapan Model Kooperatif Tipe STAD


Slavin (2008) mengemukakan ada 5 langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD ini, yaitu:
a) Persiapan
Pada tahap ini guru memulainya dengan menyampaikan kepada siswa apa yang hendak
dipelajari dan mengapa hal itu penting. Selanjutnya guru menyampaikan secara khusus
tujuan pembelajaran. Guru membangkitkan motivasi rasa ingin tahu siswa tentang materi
apa yang akan mereka pelajari. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan apersepsi
sebagai pengantar menuju materi.
b) Penyajian Materi
Dalam mengembangkan materi pembelajaran perlu ditekankan beberapa hal sebaga
berikut: (a) mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan
dikerjakan siswa dalam kelompok; (b) menekankan bahwa belajar adalah memahami
makna dan bukan sekadar hafalan; (c) memberikan umpan balik sesering mungkin untuk
mengontrol pemahaman siswa; (d) memberi penjelasan atau alasan mengapa jawaban itu
benar atau salah dan (e) beralih pada materi berikutnya jika siswa telah memahami
masalah yang ada.
c) Tahap Kerja Kelompok
Pada tahap ini, siswa diberi kertas kerja sebagai bahan yang akan dipelajari dalam bentuk
open-ended tasks. Dalam kerja kelompok ini siswa saling berbagi tugas, saling bantu
menyelesaikan tugas dengan target setiap anggota kelompok mampu memahami materi
secara benar. Salah satu kerja kerja dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada
tahap ini guru harus mampu berperan sebagai fasilitator dan motivator kerja kelompok.
Selanjutnya langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut:
1) Mintalah anggota kelompok untuk memindahkan meja/bangku agar merekaberkumpul
menjadi satu kelompok.
2) Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok
3) Bagikan lembar kegiatan siswa.
4) Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu kelompok
utuh, tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka mengerjakan soal,
masing-masing siswa harus mengerjakan soal sendiri dan kemudian dicocokkan
dengan temannya. Jika salah satu tidak dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman
satu kelompok bertanggung jawab menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan
jawaban pendek, maka mereka lebih sering bertanya dan kemudian antara teman
saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha menjawab pertanyaan itu.
5) Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin
teman-teman satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan
siswa mengerti bahwa lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi
dan diserahkan. Jadi penting bagi siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek
diri mereka dan teman-teman sekelompok mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan
siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka seharusnya menanyakan teman
sekelompoknya sebelum bertanya guru.
6) Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru
sebaiknya memuji kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang
anggotanya duduk dalam kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang
lain bekerja dan sebagainya.
d) Tahap Tes Individu
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar telah dicapai, diadakan tes secara
individual atau quiz mengenai materi yang telah dipelajari dengan menggunakan
pertanyaan-pertanyaan open-ended tasks dimana tes individu dilakukan pada akhir setiap
pertemuan. Tujuannya agar siswa dapat menunjukkan pemahaman dan apa yang telah
dipelajari sebelumnya. Skor yang diperoleh siswa per individu ini didata dan diarsipkan
sebagai bahan untuk perhitungan skor kelompok.
e) Tahap Penghargaan
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan poin peningkatan kelompok. Skor
kelompok adalah rata-rata dari peningkatan individu dalam kelompok tersebut.
Penghargaan diberikan pada anggota tim yang paling baik/berprestasi. Penghargaan
kelompok dilakukan dalam tahapan berikut ini:
1) Menghitung skor individu kelompok.
2) Nilai perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan skor tes awal dan
tes berikutnya, sehingga setiap anggota memiliki kesempatan yang sama untuk
memberi sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya.

3.4 Fungsi Pendekatan Kooperatif Tipe STAD

Model pembelajaran ini memacu kerja sama siswa melalui belajar dalam kelompok yang
anggotanya beragam agar saling mendorong dan membantu satu sama lain dalam suasana social
yang beragam untuk menguasai keterampilan yang sedang dipelajari. Dari pengertian diatas
dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan suatu model pembelajaran
dimana peserta didik belajar dan bekerja sama dalam kelompok kecil yang secara kolaboratif
anggotanya 4-5 orang dengan struktur kelompok hiterogen.
Model STAD lebih mementingkan sikap partisipasi peserta didik dalam
mengembangkan potensi kognitif dan efektif antara lain: (1) relatif mudah
menyelenggarakannya, (2) mampu memotivasi siswa dalam mengembangkan potensi individu,
terutama kreatifitas dan tanggung jawab dalam mengangkat citra kelompoknya, (3) melatih siswa
untuk bekerja sama dan saling tolong menolong dalam kelompok, (4) siswa mampu
menyakinkan dirinya dan orang lain bahwa tujuan yang ingin dicapai bergantung pada cara kerja
mereka, bukan karena keberuntungan, (5) siswa mampu berkomunikasi verbal dan nonverbal
dalam bekerja sama, (6) meningkatkan keakraban antar siswa

3.5 Tujuan Dan Manfaat Penerapan Tipe STAD

Tujuan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah memotivasi, mendorong dan
untuk membantu para siswa satu sama lain untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan yang
disajikan oleh guru. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini
siswa akan lebih aktif dalam berdiskusi dengan teman-teman sekelompoknya untuk menguasai
suatu materi pembelajaran dibimbing oleh guru. Dengan siswa aktif diharapkan hasil belajar
siswa akan meningkat.

4. Karakteristik Siswa

Pengetahuan mengenai karakteristik siswa dalam interaksi kegiatan belajar mengajar.


Bagi guru informasi megenai karakteristik siswa ini akan sangat berguna dalam menentukan pola
pengajaran yang baik dan tepat. Guru akan mengkontruksi dan mengorganisasikan materi
pelajaran, memilih dan menentukan metode pembelajaran yang tepat, sehinga akan terjadi proses
interaksi dari masing-masing komponen proses belajar mengajar secara optimal.
Pada umumnya siswa SD berkisar mulai dari umur 7 tahun sampai 13 tahun. Siswa SD
adalah mereka yang menjalani tahap perkembangan dari masa kanak-kanak sampai dengan masa
yang memasuki remaja awal. Selesai pendidikan di SD mereka masuk pada tahapperkembangan
masa awal remaja dan akan memasuki masa remaja dan menuju jengang pendidikan selanjutnya
yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa usia sekolah dasar disebut masa intelektual
karena pada masa usia ini akan mengalami keterbukaandan keingintahuan untuk memperoleh
pengetahuan dasar yang dinilai sangat penting bagi perkembangan mentalnya sebagai persiapan
dan penyesuaian diri terhadap kehidupan di masa dewasa mendatang.
Menurut Piaget dalam Felicia (2022:1.30) menyatakan bahwa setiap perkembangan
kognitif pada anak mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, secara garis besar
dikelompokkan menjadi 4 tahap perkembangan, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap Sensori Motor
Tahap perkembangan kognitif anak pada usia 0 sampai 2 tahun, pada tahap ini anak
belum memasuki usia sekolah. Pada tahap ini juga anak mulai menyadari bahwa benda-
benda yang ada disekitarnya mempunyai keberadaan, dapat ditemukan kembali dan mulai
mampu membuat hubungan-hubungan sederhana antara benda-benda yang mempunyai
persamaan.
b. Tahap Praoperasional
Tahap perkembangan kognitif anak pada usia 2 sampai 7 tahun. Dalam tahap ini anak
menunjukkan penggunaan fungsi simbol yang lebih besar, objek-objek danperistiwa mulai
menerima arti secara simbolis. Anak menyadari bahwa kemampuannya untuk belajar
konsep-konsep lebih kompleks meningkat apabila ia diberi contoh yang nyata. Dengan
contoh tersebut anak memperoleh suatu kriteria yang digunakan untuk mendefinisi suatu
konsep.
c. Tahap Operasional Konkret
Tahap perkembangan kognitif pada usia 7 sampai 11 tahun. Pada tahap ini anak mulai
berpikir logis dan mampu memperhatikan lebih dari satu dimensi yang lainnya. Pada tahap
ini juga anak sudah mampu membuat keputusan-keputusan tentang hubungan timbal balik
dan yang berkebalikan. Namun pada tahap ini anak belum dapat berpikir secara nyata.
d. Tahap Operasional Formal
Tahap perkembangan kognitif pada usia 11 tahun ke atas. Pada tahap ini anak sudah
mampu berpikir yang abstrak, dapat menganalisa salah secara ilmiah, dapat menganalisa
ide-ide serta dapat memahami ruang dan hubungan.
Pada penelitian ini subjek penelitian siswa SD kelas V berusia 11-12 tahun, pada usia ini
siswa kelas V masuk kedalam kategori operasional konkret, maka sudah mampu
menggunakan metode pembelajaran kooperatif/kerjasama.
B. Hasil Penelitian yang relevan

Sarifah Nurhasanah (2010) “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk
Meningkatkan Pemahaman Peristiwa Proklamasi Indonesia dalam Pelajaran Ips Pada Siswa
Kelas V Sd Negeri 01 Pereng Karanganyar”. Menyimpulkan bahwa selain dapat meningkatkan
pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia pada mata pelajaran IPS, Student Team
Achievement Division (STAD) juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta dapat
memotivasi semangat belajar siswa dalam mengikuti pelajaran. Hal tersebut ditunjukkan dengan
nilai rerata hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada kondisi awal 51%, siklus I sebesar
69.50% dan pada siklus II sebesar 88.50%. Rerata pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia
pada kondisi awal 51% siswa tuntas belajar dengan nilai rata-rata 61,71. Pada rerata pemahaman
peristiwa Proklamasi Indonesia adalah 69,50% siswa tuntas belajar dengan nilai rata-rata
pertemuan pertama sebesar 68,94, sedangkan pertemuan ke-dua dengan nilai rata-rata 74,57. Dan
siklus II rerata pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia sebesar 88,50% siswa tuntas belajar
dengan nilai rata-rata pada pertemuan pertama sebesar 78,28 sedangkan nilai rata-rata pada
pertemuan ke-dua sebesar 81,22.
Titi Anderpati (2005) “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalu Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa kelas VII SMP Negeri 2 Boyolali”.
Menyimpulkan bahwa Student Team Achievement Division (STAD) terbukti dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa. Sebelum dilakukan tindakan persentasi pencapaian Standar
Ketuntasan Batas Minimal (SKBM) penguasaan konsep 70 %, siklus I menjadi 90 % dan siklus
II mencapai 95 %, sedangkan rata-ratanya sebelum tyindakan 6.8 siklus I menjadi 8,05 dan
siklus II mencapai 8,3. persentasi pencapaian SKBM kinerja ilmiah sebelum tindakan, 70 %. Ini
menunjukkan bahwa indicator kinerja dapat tercapai. Terjadi peningkatan kreativitas dan
keaktifan siswa, antara lain mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, bekerjasama,
menghargai pendapat teman.
Listyowati (2008) tentang “Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Anak Berkesulitan
Belajar Melalui Pembelajaran Kooperativ di Kelas VB SD Negeri Cemara Dua No.13
Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta”. Menyimpulkan bahwa setelah dilakukan analisis data
dari hasil penelitian di peroleh kesimpulan dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Student
Team Achievement Division (STAD) terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar matematika
siswa. Peningkatan ini karena siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan
penggunaan alat peraga. Terjadi peningkatan kreativitas dan keaktifan siswa antara lain
mengajukan pertanyaan, menyampaiakan pendapat, bekerja sama, menghargai pendapat teman.
Berdasaran pendapat diatas, guru hendaknya harus kreaktif dan aktif dalam menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD sehingga dapat menumbuhkan rasa senang kepada
siswa dalam mengikuti pembelajaran, agar siswa tidak jenuh dan dapat menjadikan belajar lebih
optimal sesuai dengan batas ketuntasan belajar baik secara individual maupun kelompok

C. Kerangka berpikir

Adapun gambar bagan kerangka berpikir perbaikan pembelajaran, sebagai berikut:

Pembelajaran bersifat
Konvensional berpusat pada Pemahaman siswa
Kondisi terhadap peristiwa
guru, siswa pasif dalam
Awal proklamasi rendah
materi peristiwa proklamas
Indonesia pelajaran IPS.

Siklus I

Guru menggunakan KD : menghargai jasa-


Tindakan metode pembelajaran jasa para pahlawan
kooperatif/ kerjasama proklamasi
Tipe STAD Model : Kooperatif
STAD
Siswa : Membuat garis
waktu/tahapan peristiwa
proklamasi
kemerdeakaan
Diduga melalui Siklus II
model pembelajaran
Kondisi
tipe STAD dapat KD : Menghargai jasa
Akhir meningkatkan peranan para pahlawan
pemahaman dan proklamasi Indonesia
kualitas proses
Model : Kooperatif tipe
pembelajaran materi
peristiwa proklamasi STAD
Indonesia
pelajaran IPS Siswa : membuat biografi
dan riwayat singkat
tokoh-tokoh pahlawan
proklamasi
D. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir yang telah diuraikan di atas dapat
dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap peristiwa Proklamasi Indonesia
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kualitas
proses pembelajaran peristiwa Proklamasi Indonesia dalam Pelajaran IPS terhadap
siswa kelas V
Daftar Pustaka

Anderpati. T. 2005. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalu Model


Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa kelas VII SMP Negeri 2 Boyolali.
SKRIPSI.

Darsono, Max. Dkk, 2000, Belajar dan Pembelajaran, Semarang: IKIP Semarang Press.

Depdiknas.

Depdiknas. (2005). Model-model pengajaran dalam pembelajaran Sains. Jakarta.:

Felicia, N. (2022). Perkembangan Peserta Didik. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Kunandar. (2013). Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan
Kurikulum 2013). Suatu Pendekatan Praktis Disertai Dengan Contoh. Jakarta:
Rajawali Pers.

Listyowati. 2008. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Anak Berkesulitan Belajar Melalui
Pembelajaran Kooperativ di Kelas VB SD Negeri Cemara Dua No.13 Kecamatan
Banjarsari Kota Surakarta. Skripsi. .

Maulana, P., & Akbar, A. (2017). Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student
Team Achievement Division) untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca
Pemahaman di Sekolah Dasar. Jurnal Pesona Dasar, 5(2).

Mukminan. 1996. The Wdining Horizon or Expanding Environment Curriculum.


Diakses dari https://pgsd.binus.ac.id/2018/01/0 8/karakteristik-ips-di-
sekolah- dasar/ Pada tanggal 15 Juni 2024.

Mukminan. 1996. The Wdining Horizon or Expanding Environment Curriculum.


Diakses dari https://pgsd.binus.ac.id/2018/01/0 8/karakteristik-ips-di-
sekolah- dasar/ Pada tanggal 15 Juni 2024.

Nugroho. R. A. 2013. Peningkatan Hasil Belajar Dengan Model Pembelajaran Picture And
Picture Kompetensi Dasar Sikap Positif Terhadap Pelaksanaan Demokrasi Kelas Viii
B Smp Muhammadiyah 3 Purwokerto. Skripsi. Universitas Muhammadiyah
Purwokerto

Nurhasanah. S. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Untuk


Meningkatkan Pemahaman Peristiwa Proklamasi Indonesia Dalam Pelajaran Ips Pada
Siswa Kelas V Sd Negeri 01 Pereng Karanganyar. Skripsi. Universitas Sebelas Maret.

Nurita. T. 2018. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa.
Jurnal ILmu-ilmu ALQur'an, Hadist, Syariah dan Tarbiyah. Vol 3, No. 01.
Purwanto, Ngalim. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Putri. C. A., Yulianti, Sadiman. 2017. Peningkatkan Pemahaman Konsep Proklamasi


Kemerdekaan Indonesia Melalui Model Pembelajaran Make A Match Pada Siswa
Sekolah Dasar. Didaktika Dwija Indria, Volume 6, Nomor 3, Hlm. 95-99

Sadeli, Lili. M., dkk. 1986. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial Modul 1-3. Universitas
Terbuka Jakarta. Diakses dari https://pgsd.binus.ac.id/2018/01/0
8/karakteristik-ips-di-sekolah- dasar/ Pada tanggal 20 Desember 2019.

Salam. M. 2016. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis Materi Tanda
Baca Waqaf Dan Wasal Melalui Penerapan Strategi Index Card Match Pada Siswa
Kelas Ii Mi Miftahul Ulum Duren Tengaran Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran
2015/2016. Skripsi. Universitas Islam Negeri Walisongo. Semarang

Sapriya. 2009. Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Slavin, Robert E. (2010). Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Terjemahan Narulita
Yusron. Bandung: Nusa Media. Taufik, M. (2015)

Sudjana, Nana. 1988. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru

Wardana, I., Banggali, T., & Husain, H. (2017). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
student team achivement division (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar siswa
kelas XI IPA Avogadro SMA Negeri 2 Pangkajene (Studi pada Materi Asam Basa).
Chemica: Jurnal Ilmiah Kimia dan Pendidikan Kimia, 18(1), 76-84

Anda mungkin juga menyukai