0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan21 halaman

BAB 2 Proposal PTK

Untuk unggah dokumen

Diunggah oleh

snaewelielisma
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan21 halaman

BAB 2 Proposal PTK

Untuk unggah dokumen

Diunggah oleh

snaewelielisma
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Hasil Belajar Matematika

1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dari keseluruhan proses

pendidikan disekolah. Belajar merupakan awal kegiatan untuk mencapai tujuan

pendidikan. Akan terlihat perubahan tingkah laku baik dari pribadinya,

pengetahuan, keterampilan maupun sikap dari peserta didik setelah ia mengalami

proses belajar.

Beberapa defenisi tentang belajar yaitu sebagai berikut:

a. Belajar adalah suatu usaha,yang berarti perbuatan yang dilakukan secara

sungguh, sistematis dengan mendaya gunakan semua potensi yang

dimiliki, baik fisik maupun mental.11

b. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seorang untuk

memperoleh suau perbuhan tingkah laku yang baru secarakeseluruhan,

sebagai hasil pengalamnya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya. 12

c. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui

pengalaman, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan

bukanmerupakan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat

akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami.13

11
Mardianto, Psikologi Belajar, (Medan: Perdana Publishing, 2014), h. 45.
12
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2010), h.2.
13
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 27.

13
14

Umat Islam diwajibkan untuk menuntut ilmu karena ilmu membawa

manfaat bagi dirinya sendiri juga orang yang lain karena masyarakat tidak akan

membutuhkan orang-orang yang tidak memiliki ilmu.

Belajar itu sendiri merupakan proses dari seseorang yang berusaha untuk
memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam
kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan
pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan
lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang
berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan
intruksional.14

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor internal

(dari dalam diri siswa), faktor eksternal (dari luar diri siswa), dan faktor

pendekatan belajar siswa.15

1) Faktor internal (faktor dari dalam siswa) yakni keadaan atau kondisi
jasmani dan rohani siswa. Faktor internal meliputi dua aspek yaitu
aspek fisiologis dan aspek psikologis. Aspek fisiologis berhubungan
dengan kondisi umum jasmani yang mempengaruhi semangat dan
intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ-organ
khusus siswa yang dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam
menyerap informasi dan pengetahuan seperti tingkat kesehatan indera
pendengar dan indra penglihatan. Sedangkan aspek psikologis yang
dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran
siswa adalah tingkat kecerdasan/inteligensi siswa, sikap siswa, bakat
siswa, minat siswa dan motivasi siswa.
2) faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di
sekitar siswa. faktor lingkungan terbagi menjadi dua yaitu faktor
lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial. Yang termasuk
lingkungan sosial adalah masyarakat dan tetangga juga temaan-teman
sepermainan di sekitar perkampungan. Sedangkan faktor-faktor yang
termasuk lingkungan nonsosial ialh gedung sekolah dan letaknya, alat-
alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan siswa.
3) Faktor pendekatan belajar, yakni segala cara atau strategi yang
digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses
pembelajaran materi tertentu.

14
Sudirman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h.
26.
15
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2011), h.145-156.
15

2. Hasil Belajar

Hasil belajar tidak bisa terlepas dari proses belajar yang telah dilakukan,

karena di dalam kegiatan tersebut hasil belajar menjadi tolak ukur dalam menilai

sejauh mana keberhasilan yang diperoleh seseorang dari proses ataupun kegiatan

belajar yang telah dilakukan. Hasil belajar merupakan perubahan yang terdapat

pada siswa baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa:16

a) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam


bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon
secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut
tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun
penerapan aturan.
b) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep
dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan
mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan
mengembangkan prinsip–prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual
merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
c) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan
konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
d) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
jasmani.
e) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan
menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan
kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.

Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional,


pasal 58 ayat 1 bahwa “ evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh
pendidik untuk memantau proses kemajuan, dan perbaikan hasil belajar
peserta didik secara berkesinambungan”.17

16
Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem, ( Yokyakrta: Pustaka
Pelajar,2010), h. 5-6.
17
UURI No. 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, ( Jakarta: Cemerlang, 2005), h.
99.
16

Dalam menentukan hasil belajar selain menentukan instrumen juga perlu

merancang cara menggunakan instrumen beserta kriteria keberhasilannya. Hal ini

perlu dilakukannya, sebab dengan kriteria yang jelas dapat ditentukan apa yang

harus dilakukan siswa dalam mempelajari isi atau bahan pelajaran. 18

Ilmu yang kita miliki akan sebanding dengan hasil belajar yang kita

peroleh. Jika rajin belajar dengan sungguh-sungguh maka akan memperoleh hasil

belajar yang baik pula dan begitu sebaliknya..

3. Penilaian Hail Belajar

Hasil belajar menurut Benyamin Bloom secara garis besar dibagi menjadi

tiga ranah yaitu ranah kognitif, efektif dan psikomotorik.19

a. Ranah Kognitif

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).

Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah

termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat

enam jenjang proses berpikir antara lain yaitu: (1)

Pengetahuan/hafalan/ingatan (Knowledge), (2) Pemahaman

(Comprehension), (3) Penerapan (Application). (4) Analisis

(Analysis), (5) Sintesis (Synthesis), (6) Penilaian (Evaluation).

Perubahan yang terjadi pada ranah kognitif ini tergantung pada tingkat

kedalaman belajar yang dialami oleh siswa. Dengan pengertian bahwa

perubahan yang terjadi pada ranah kognitif diharapkan siswa mampu

18
Wina Sanjaya, Media Komunikasi Pembelajaran,(Jakarta: Kencana, 2014), h. 47.
19
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, ( Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2009), h. 50.
17

melakukan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi sesuai dengan

bidang studi yang dihadapinya.

b. Ranah afektif

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.

Beberapa pakar mengatakan bahwa setiap seseorang dapat diramalkan

perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif

tingkat tinggi. Adapun jenis kategori dalam ranah ini adalah sebagai

hasil belajar mulai dari tingkat dasar sampai dengan kompleks yaitu :

(1) Menerima rangsangan (Receiving), (2) Merespon rangsangan

(Responding), (3) Menilai sesuatu (Valuing), (4) Mengorganisasikan

nilai (Organization), (5) Menginternalisasikan mewujudkan nilai-nilai

(Characterization by Value or Value Complex). Pada ranah ini siswa

mampu lebih peka terhadap nilai dan etika yang berlaku, dalam

bidang ilmunya perubahan yang terjadi cukup mendasar, maka siswa

tidak hanya menerimanya dan memperhatikan saja melainkan mampu

melakukan suatu sistem nilai yang berlaku dalam ilmunya.

c. Ranah psikomotorik

Ranah psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan

(skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima

pengalaman belajar tertentu.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar

khususnya mata pelajaran Matematika merupakan sebuah proses yang

mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif menatap dalam tingkah laku


18

seseorang yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Baik yang meliputi

kognitif, afektif, psikomotorik, maupun aspek-aspek yang lain sehingga

perubahan sifat yang terjadi pada masing-masing aspek tersebut tergantung pada

kedalaman belajar.

4. Indikator Hasil Belajar Siswa

Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah

psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa.

Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah

mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu)

dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.20

Indikator yang dijadikan tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses

belajar mengajar dikatakan berhasil, berdasarkan ketentuan kurikulum yang

disempurnakan, dan saat ini digunakan adalah:

a. Daya serap terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan mencapai

prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok.

b. Prilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran atau intruksional

khusus (TIK) telah dicapai murid baik secara individu maupun

kelompok.21

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Aktivitas belajar siswa tidak selamanya berlangsung wajar, kadangkadang

lancer dan kadang-kadang tidak lancar, kadang-kadang cepat menangkap apa

20
Muhubbin syah, Psikologi Belajar, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h.24.
21
Sartini, Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui Metode
Ceramah Plus pada Kelas V SD Negeri 3 Popalia Kecamatan Togo Binongko Kebupaten
Wakatobi, Skripsi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Kendari,
2015. h.18
19

yang dipelajari, kadang-kadang terasa sulit untuk dipahami. Dalam hal

semangatpun kadang-kadang tinggi dan kadang-kadang sulit untuk berkonsentrasi

dalam belajar. Demikian kenyataan yang sering dijumpai pada setiap siswa dalam

kehidupannya sehari-hari didalam aktivitas belajar mengajar.

Setiap siswa memang tidak ada yang sama, perbedaan individual inilah

yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan siswa, sehingga

menyebabkan perbedaan hasil belajarnya. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu

proses yang di dalamnya terdapat sejumlah faktor yang saling mempengaruhi,

tinggi rendahnya hasil belajar siswa tergantung pada faktor-faktor tersebut.

Terkait dengan uraian tersebut diatas, maka ada banyak faktor yang dapat

mempengaruhi hasil belajar siswa, baik faktor yang sifatnya internal maupun

eksternal. Kedua faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Faktor internal, meliputi :

1) Faktor psikis (jasmani). Kondisi umum jasmani dan tonud

(tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ

tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan

intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.

2) Faktor psikologis (kejiwaan). Banyak faktor yang termasuk aspek

psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas perolehan

pendekatan siswa yang mempengaruhi hasil belajarnya, antara lain:

intelegensi, sikap, bakat, minat dan motivasi.

b. Faktor eksternal, meliputi:


20

1) Lingkungan sosial. Lingkungan sosial sekolah seperti para guru,

staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi

semangat belajar seorang siswa.

2) Lingkungan non-sosial. Faktor yang termasuk lingkungan

nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya rumah tempat tinggal

keluarga dan anak dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca

dan waktu belajar yang digunakan anak, faktor-faktor ini

dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.

3) Faktor pendekatan belajar. Faktor pendekatan belajar juga

berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pendekatan anak

tersebut. Cara guru dan orang tua dalam mendidik anak juga

berpengaruh besar terhadap minat dan perhatian anak terhadap

materi yang sedang dipelajari. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa hasil belajar siswa bersifat relatif, artinya dapat berubah

setiap saat. Hal ini terjadi karena hasil belajar siswa sangat

berhubungan dengan faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor

tersebut saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.

Kelemahan salah satu faktor, akan dapat mempengaruhi

keberhasilan seseorang dalam belajar. Dengan demikian, tinggi

rendahnya prestasi hasil yang dicapai siswa sekolah dasar didukung

oleh faktor internal dan eksternal sebagaimana yang telah

dijelaskan diatas.
21

B. Hakekat Pembelajaran Matematika

1. Pengertian Matematika

Matematika merupakan suatu ilmu pengetahuan yang dijadikan mata

pelajaran wajib dipelajari disetiap tingkatan pendidikan baik di SD, SMP dan

SMA sederajat karena matematika dianggap penting untuk dipelajari dan sangat

bermanfaat bagi peserta didik untuk menyelesaikan masalah kehidupannya sehari-

hari.

Abdul Aziz dan Abdusysyakin berpendapat, sebagaimana yang penulis

kutip dari latar belakang dalam bukunya “Analisis Matematis Terhadap Filsafat

Al-Qur’an”, mereka mengatakan:

Matematika adalah salah satu ilmu pasti yang mengkaji abstraksi


ruang, waktu dan angka. Matematika merumuskan gagasan-gagasan atau
konsepkonsepnya ke dalam bahasa lambang dan angka untuk
mendeskripsikan realitas alam semesta. Setelah itu dapatlah diikuti secara
deduktif konsepnya dan menetapkan sebuah sistem pengukuran tertentu
yang berkenaan dengan angka-angka dan keruangannya, yang semuanya
berguna dalam kehidupan kita, dan dalam penelitian ilmu lainnya.22

Di dalam agama Islam, matematika telah digunakan sedemikian luasbaik

dalam hal ibadah maupun muamalah. Bahkan begitu pentingnya matematika,maka

ada beberapa syari’at Islam yang tidak dapat dilaksanakan tanpamemanfaatkan

ilmu matematika seperti ilmu falaq dan waris.23

Sujono dan Fathani mengemukakan beberapa pengertian matematika,di

antaranya :

Matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak


danterorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan

22
Abdul Aziz, Abdusysyakin, Analisis Matematika Terhadapa Filsafat Al-Qur’an, (
Malang: UIN-Malang, 2006), h. 5.
23
Yusran Fauzi, Keutamaan Mempelajari Matematika Dalam Prespektif Al’quran,
(Banjarmasin: Antasari press, 2006), h.8.
22

ilmupengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang


berhubungandengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika
sebagai ilmu bantudalam menginterpretasikan berbagai ide dan
kesimpulan.24

Ismail mengemukakan bahwa matematika adalah ilmu yang membahas

angka-angka dan perhitungannya, membahas masalah-masalah numerik,

mengenai kuantitas dan besaran, mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur,

sarana berpikir, kumpulan sistem, struktur dan alat.25

Matematika sangat penting. Cornelius menyatakan bahwa ada lima alasan


tentang perlunya siswa belajar matematika yaitu karena matematika
merupakan (1) sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk
memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-
pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana untuk
mengembangkan kreativitas, (5) sarana untuk meningkatkan kesadaran
terhadap perkembangan budaya.26

Dalam bahasa Belanda, matematika disebut dengan kata wiskunde yang

berarti ilmu tentang belajar (hal ini sesuai dengan arti kata mathein pada

matematika).

2. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika di SD/MI

Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan berhitung, mengukur,

menurunkan dan menggunakan rumus matematika sederhana yang diperlukan

dalam kehidupan sehari-hari melalui materi bilangan, pengukuran, geometri dan

pengolahan data. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan

24
Abdul Halim Fathani, Matematika dan Logika, (Jogyakarta: Ar-Ruz Media, 2009), H.19.
25
Ali Hamzah dan Mushlisraini, Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Matematika,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 48.
26
Abdul Halim Fathani, Op.Cit., h. 253.
23

mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalui model.matematika yang

dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram,grafik atau tabel.27

Secara khusus, tujuan pembelajaran matematika di sekolah

dasar,sebagaimana disajikan oleh Depdiknas dalam Susanto,sebagai berikut:

(1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep,


dan mengaplikasikan konsep atau logaritma; (2) Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika; (3) Memecahkan masalah yang meliputi
kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
meyelesaikan model, dan menafsirkan model yang diperoleh; (4)
Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, ataumedia
lain untuk menjelaskan keadaan atau masalah. (5) Memiliki sikap
menghargai penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari.28

C. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (cooperative Learning) merupakan bentuk

pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok

kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang

dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.29

Menurut Joyce model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu

pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di

kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-

27
Departemen Aagama RI, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Madrasah Ibtidaiyah, (
Jakarta: Direktor Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2004), h. 137.
28
Ahmas Susanto, Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana,
2013), h. 190.
29
Rusman, Model-Model Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pres, 2014), h.202.
24

perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer,

kurikulum, dan lain-lain.30

2. Ciri- Ciri Pembelajaran kooperatif

Ciri-ciri yang terjadi pada kebanyakan pembelajaran yang menggunakan

model pembelajaran kooperatif, adalah: (1) Siswa bekerja dalam kelompok secara

kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. (2) Kelompok dibentuk dan

siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. (3) Bilamana

mungkin anggota kelompok berasal dan ras, budaya, suku, jenis kelamin

berbedabeda. (4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.31

3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Numbereded Head Together pertama kali dikembangkan oleh Spenser

Kagen (1993). Numbereded Head Together (NHT) atau penomoran berpikir

bersama adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi

pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.32

NHT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif dengan sintaks:

pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu,

berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap

siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor sama

30
Ngalimun, Strategi dan Model Pembelajaran, (Yokyakarta: Aswaja Pressindo, 2013),
h.7.
31
Ismail, Model-Model Pemeblajaran, (Jakarta: Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama Dirjen Dikdasmen Depdiknas, 2002), h.12.
32
Barowi dan Suandi, Prosedur Penelitian Tindakan Kelas, (Bogor: Ghili Indonesia,
2008), h. 82
25

mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok

dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi

diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan

hasil kuis dan beri reward. 33

Langkah-langkah pembelajaran NHT adalah sebagai berikut:34


a. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam kelompok
mendapat nomor
b. Gurumemberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakanya.
c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap
anggota kelompok dapat mengerjakan dan mengetahui jawabnya
d. Guru memanggil salah satu nomor siswa yang dipanggil melaporkan
hasil kerja sama mereka
e. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk kelompok
lain
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua
pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.

Langkah-langkah pembelajaran NHT adalah sebagai berikut:35

a. Penomoran
Guru membagi siswa kedalam kelompokberanggotakan 3-6 orang dan
kepada setiapanggota kelompok diberi nomor atau label (misalnama
kelompoknya apel maka masing–masinganggota kelompok berlabel: apel
1, apel 2 dst.
b. Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan baik spesifik bentuk kalimat tanya ataupun
arahan. (pertanyaanlanjutan bisa diwujudkan dalam bentuk Lembar Kerja
Siswa).
c. Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapat dengan kelompoknya dalam menjawab
pertanyaan.
d. Menjawab
Guru meminta siswa untuk menjawab pertanyaan dengan aturan sbb:
1) Mengundi nama kelompok (misal yang terundikelompok apel).
2) Mengundi nomor anggota kelompok (misalyang terundi nomor 2).

33
Ibid,. h.169.
34
Kokom Komalasari , Pembelajaran Kontekstual ,( Bandung: PT Refika Aditama,
2010), h.62
35
Agus Prasetyo Kurniawan, Strategi Pembelajaran Matematika, (Sidoarjo: UINSA
Press, 2014), h. 78-79.
26

3) Meminta siswa dengan label apel 2 untukmaju kedepan mewakili


kelompoknya untukmenjawab pertanyaan anggota kelompok apel
yang lain tidak boleh membantu.
4) Anggota dari kelompok lain yang memilikinomor yang sama (misal
jeruk 2, pisang 2 dst)harus memberi tanggapan terhadap jawabanapel
2.

Kelebihan dan kekurangan NHT adalah:

Menurut Suwarno (210) Numbered Hears Together (NHT) mempunyai

kelebihan dan kekurangan:36

Kelebihan:

a. Dapat meningkatkan tanggungjawab siswa secara bersama .

b. Melatih siswa menyatukan pikiran, karena Numberededed Heads

Together megajak siswa untuk menyatukan persepsi dalam kelompok.

c. Melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain, sebab dari hasil

diskusi dimintai tanggapan dari peserta lain.

Kekurangan NHT adalah:

a. Sulit menyatukan pikiran siswa dalam suatu kelompok.

b. Diskusi sering kali menghamburkan waktu cukup lama.

D. Alat Peraga

1. Pengertian Alat Peraga

Alat peraga matematika pada dasarnya anak beajar melalui alat yang

konkrit. Untuk memahami konsep abstrak anak memerlukan benda-benda konkret

(riil) sebagai perantara visualisasinya. Alat peraga matematika adalah seperangkat

benda konkret yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja

36
Budi Wahyono, “Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)”,
http://www.pendidikanekonomi.com/2013/04/model-pembelajaran-numbered-heads.html , diakses
pada hari Sabtu, 22 November 2018 pukul 09:45.
27

yangdigunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-

konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika.37

Alat peraga dalam proses pembelajaran memegang peranan penting

sebagai alat bantu untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif. Alat

bantupembelajaran adalah perlengkapan yang menyajikan satuan-satuan

pengetahuan melalui stimulasi pendengaran, penglihatan atau keduanya untuk

membantu pembelajaran. Estiningsih berpendapat alat peraga adalah “media

pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri konsep yang

dipelajari.”38

Media pembelajaran adalah sebuah alat yang digunakan untuk membantu

dalam proses belajar mengajar. Ciri-ciri umum dari media pendidikan adalah

sebagai berikut:

a. Media pendidikan identik artinya, dengan pengertian keperagaanyang


berasal dari kata “raga”, artinya suatu benda yang dapatdiraba, dilihat,
didengar dan dapat diamati melalui panca inderakita.
b. Tekanan utama terletak pada benda atau hal-hal yang dapatdilihat dan
didengar. Media pendidikan digunakan dalam rangka
hubungan(komunikasi) dalam pengajaran, antara siswa dan guru.
c. Media pendidikan adalah semacam alat bantu belajar mengajarbaik di
luar kelas39

Berdasarkan arti tersebut di atas media pendidikan adalah alat, metode dan

teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan

interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di kelas

37
Iswaji, Pengembangan Media Alat Pembelajaran di SLT, ( Makalah tidak di
Publikasikan, 2003).
38
Sukayati dan Agus Suharjana, Pemanfaatan Alat Peraga Matematika dalam
Pembelajarai SD, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2009), h. 6.
39
Hadi Susanto, Alat Peraga, dalam bagawanabiyasa.wodpress.com diunduh pada 6
Dedember 2018.
28

Memahami konsep matematika yang abstrak, anak memerlukan alat

peraga sebagai benda konkrit sebagai perantara. Penggunaan alat peraga dalam

pembelajaran matematika juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Eman

Suherman berpendapat manfaat menggunakan alat peraga adalah sebagai berikut:.

a. Proses belajar mengajar termotivasi. Baik siswa maupun gurudan


terutama siswa minatnya akan timbul. Ia akan senang,terangsang
tertarik dan karena itu akan bersikap positifterhadap pembelajaran
matematika.
b. Konsep matematika tersajikan dalam bentuk konkrit dankarena itu
lebih dapat dipahami, dimengerti dan dapatditanamkan pada tingkat-
tingkat yang lebih rendah.
c. Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan bendabendadi
alam sekitar akan lebih dapat dipahami.
d. Konsep-konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk konkrit yaitu
dalam bentuk model matematik yang dapat dipakai sebagai objek
penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi
baru menjadi bertambah banyak.40

2. Fungsi Alat Peraga

Terdapat beberapa fungsi pokok alat peraga dalam proses belajar mengajar

antara lain sebagai berikut:

a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar


bukanmerupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi
tersendirisebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar
mengajaryang efektif.
b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang interal
darikeseluruhan situasi mengajar.
c. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengantujuan
dan isi pelajaran.
d. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran bukan sematasemataalat
hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedarmelengkapi proses
belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
e. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakanuntuk
mempercepat proses belajar mengajar dan membantusiswa dalam
menangkap pengertian yang diberikan oleh guru.

40
Siti Annisah, “Alat Peraga Pembelajaran Matematika”, dalam Jurnal Tarbawiyah,
(Lampung: STAIN Jurai Siwo Metro), No. 1/Januari-Juni 2014, h. 4
29

f. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran diutamakan


untukmempertinggi mutu belajar mengajar.41

3. Jenis-jenis alat peraga Matematika

Terdapat beberapa jenis alat peraga, jenis-jenis alat peraga dibedakan

menjadi alat peraga dua dan tiga dimensi dan alat peraga yang di proyeksikan

antara lain sebagai berikut :

a. Alat peraga dua dan tiga dimensi

Alat peraga dua dimensi artinya alat peraga yang memiliki panjang dan

lebar, sedangkan alat peraga tiga dimensi selain mempuyai panjang dan

lebar, juga memiliki tinggi. Contoh dari alat peraga dua dan tiga

dimensi antara lain adalah bagan, grafik, poster, gambar mati, peta

datar, peta timbul, globe dan papan tulis.

b. Alat peraga yang diproyeksikan

Alat peraga yang diproyeksikan artinya alat peraga yang menggunakan

proyektor sehingga gambar nampak pada layar. Contoh dari alat peraga

yang diproyeksikan antara lain adalah film, slide dan filmstripe.42

E. Penelitian yang Relevan

1. Syarimah Siregar jurusan Pendidikan Matematika IAIN-Sumatera dengan

judul “Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa Yang Diajar Dengan

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Dan Tipe NHT Pada Materi Pokok

Himpunan Di Kelas VII Mts AZIDDIN MEDAN T.A 2013/2014”. Yang

41
Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2011), h. 99-100.
42
Siti Annisah, Alat Peraga Pembelajaran Matematika, h. 6.
30

menjadi populasinya adalah seluruh siswa kelaas VII yang terdiri dari 2

lokal yang berjumlah 69 orang siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah

sebanyak jumlah populasi yaitu 69 siswa. Dimana kelas VII-A sebagai

kelas eksperiman I yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT

yang berjumlah sebanyak 36 orang dan kelas VII-B sebagai kelas

eksperimen II yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Dari hasil penelitiannya diperoleh nilai Post test Kedua kelas tersebut dapat

dinyatakan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen setelah diberikan

perlakuan dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT sebesar 74,91 dengan

varians sebesar 87,16 dan standart deviasi sebesar 9,34 sedangkan nilai

rata-rata kelas eksperimen setelah diberikan perlakuan dengan

pembelajaran kooperatif tipe STAD sebesar 70,03 dengan varians sebesar

82,46 dan standart deviasi sebesar 9,08, jelas terlihat bahwa kemampuan

pemecahan masalah matematika siswa pada materi Himpunan yang diajar

menggunaakan tipe NHT lebih tinggi dibanding dengan yang diajarkan

menggunakan tipe STAD. 43

2. Selanjutnya penelitian oleh Nur Kholilah dengan judul “ Pengaruh

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe NHT terhadap hasil belajar

siswa pada materi Kubus dan Balok di kelas VIII MTs Budi Agung Medan

Marelan T.A 2013/2014 menunjukkan bahwa sebelum diberi perlakuan

diperoleh nilai rat-rata 43,52 dengan varians sebesar 172,59 dan standart

43
Syarimah Siregar, Perbedaan hasil belajar Matematika siswa yang di ajar
dengan pembelajaran Kooperatif tipe STAD dan NHT pada materi pokok Himpunan di
kelas VII Mts Aziddin Medan, (Skripsi Sarjana, IAIN Sumatera Program Studi
Matemtika, 2014).
31

deviasi sebesar 13,14 dan nilai maksimum sebesar 61,1 sedangkan untuk

data penelitian hasil belajar siswa pada kelas eksperimen setelah diajarkan

dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT di peroleh nilai rat-rata 84,81

dengan varians sebesar 63,72 dan standart deviasi sebesar 7, 98 dan nilai

maksimum sebesar 94,4, maka penerapan model pembelajaran kooperatif

tipe NHT memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap hasil

belajar siswa pada materi kubus dan balok di kelas VIII MTs Budi Agung

Medan Marelan Tahun Ajaran 2013/2014. 44

Kedua penelitian di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan

penelitian ini.Penelitian Syarimah Siregar dan Nur Kholilah memiliki persamaan

pada penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Number Head Togoteher pada

jenjang yang sama yaitu MTS sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar

siswa. Perbedaannya adalah penelitian Syarimah Siregar menggunakan dua model

pembelajaran yaitu kooperatif tipe PAIKEM dan NHT tyaitu pada mata pelajaran

Matematika pada jenjang MTS kelas VIII, Sedangkan Penelitian Subandi hanya

menggunakan satu model pembelajaran pada mata pelajaran matematika pada

jenjang MTS kelas VIII.

Penelitian tersebut memiliki persamaan dengan penelitian ini yaitu

penggunaan model pembelajaran yang di gunakan yaitu model pemeblajaran

kooperatif tipe Number Head Togeteher , sedangkan perebedaanya penelitian ini

menggunakan alat peraga dan penelitian ini di lakukan pada jenjang SD . Adapun

44
Nur Kholilah, Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe NHT
terhadap hasil belajar siswa pada materi Kubus dan Balok di kelas VIII MTs Budi Agung
Medan Marelan, ( Skripsi Sarjana, IAIN Sumatera Program Studi Matematika, 2014).
32

posisi penelitian ini dari kedua penelitian yang telah dipaparkan adalah untuk

membuktikan teori bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Number

Head Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya di SDN 5

Ranomeeto Barat.

F. Kerangka Berfikir
Salah satu permasalahan umum yang terjadi di dunia pendidikan adalah

rendahnya hasil belajar siswa, penyebab diantaranya adalah citra pelajaran

matematika yang melekat bahwa matematiika merupakan pelajaran yang sulit juga

membosankan terlihat dari sikap siswa yang cenderung tidak memiliki semangat

belajar, tidak peduli dan tidak memiliki sikap tanggung jawab terhadap tugas yang

diberikan.

Model pembelajaran yang diperlukan untuk membantu siswa menguasai

materi pembelajaran yang diajarkan yaitu dengan menggunakan konsep

pembelajaran yang membuat siswa mampu menyelesaikan permasalahannya

sendiri, antara lain adalah model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan model pembelajaran

berkelompok dengan anggota yang beragam ada yang pandai, sedang dan ada pula

tingkat kemampuannya kurang. Setiap anggota kelompok diberi tanggung jawab

dengan memberikan soal yang telah diberi sesuai dengan nomor-nomor yang telah

ada. Anggota kelompok saling menjelaskan kepada sesama teman anggota

kelompoknya, sehingga semua anggota kelompok mengetahui jawaban dari semua

soal yang diberikan. Selanjutnya, guru menyebut satu nomor para siswa dari tiap

kelompok dan yang telah disebut nomornya harus menyiapkan jawabannya untuk

seluruh kelas dan mempresentasikan di depan kelas. Dengan demikian, setiap


33

siswa akan mempunyai tingkat kemampuan yang relatif sama terhadap pelajaran

matematika yang dipelajarinya dan pada gilirannya hasil yang diperoleh akan

lebih baik.

Selain itu penggunaan Alat peraga dalam Pembelajaran Matematika juga

sangat penting karena dengan adanya alat peraga ini guru lebih mudah dalam

menyampaikan materi pembelajaran.Matematika merupakan mata pelajaran yang

sulit dipahami siswa. Dengan menggunakan alat peraga diharapkan siswa mudah

memahami. Pembalajaran dapat menggunakan alat peraga yang cocok untuk

siswa memahami materi yang di berikan.

Untuk lebih jelasnya tentang skema Kerangka pikir dapat di lihat pada

gambar berikut ini :45

Gambar 2.1
Skema Kerangka Berpikir

Pembelajaran Penerapan model dan


alat peraga
matematika

Hasil belajar Model pembelajaran


NHT dan alat peraga

meningkat

45
Jamal Ma’mur Asmani, 7 Tips Aplikasi Pakem, (Jogjakarta: DIVA Press, 2011), h.319.

Anda mungkin juga menyukai