Nama kelompok : 1.
Ester Kristiani Maduwu
2. Silvianing Putri Waruwu
3. Waristina Tafonao
Kelas/semester : A Teologi/ III
Mata Kuliah : Sejarah Kekristenan 1
Dosen Pengampu : Pdt. Elvilina Hulu, [Link]
BAB I
PENDAHULUAN
Reformasi Ulrich Zwingli dari tahun 1484-1531. Sebelum menjadi reformator ia sama
seperti Luther adalah seorang imam GKR. Tetapi ia lebih dari Luther, Zwingli sangat
dipengaruhi oleh humanisme dari Erasmus, karena itu ia memberi tempat yang penting bagi
akal budi dalam rangka memahami ajaran gereja. Hal ini kelak ikut menenentukan perbedaan
pandangan di antara keduanya antara lain mengenai kehadirat kristus di dalam perjamuan
kudus. Zwingli sudah mulai berpikir untuk mengupayakan dengan berlandaskan keyakinan
bahwa alkitab merupakan otoritas tertinggi dan terakhir di dalam gereja dan masyarakat.
Sejak 1518 ia sudah mulai menyajikan khotbahnya berupa uraian isi alkitab secara sistematis.
Penyampaian khotbah yang langsung bersumber dari alkitab dan berisi himbauan reformasi
yang semakin diintensifkannya ketika ia di tempatkan di Zurich, sejak tahun 1520.1
1
Pdt. Dr. Jan Sihar Aritonang, Garis Besar Sejarah Reformasi, Bandung, Jurnal Info Media, hlm.33
BAB II
PEMBAHASAN
Riwayat
Zwingli lahir pada tanggal 1 Januari 1484 di Wildhaus, Toggenburg, Swiss dan meninggal
pada tanggal 11 Oktober 1531. Ayahnya adalah seorang pemuka dalam desa itu dan ibunya
adalah saudara perempuan dari seorang imam. Ia anak ke-3 dari delapan anak lelaki dan dua
saudara perempuan. Zwingli dididik dalam agama Katolik Roma oleh orangtuanya yang takut
akan Allah. Sejak kecil Zwingli sudah memperlihatkan kesukaannya akan ilmu pengetahuan.
Pada umur 10 tahun ia dikirim ke Basel, di sebuah sekolah latin dengan belajar bahasa
latin, musik dan dialetika. Tahun 1498, ia memasuki Kolese Bern diasuh oleh seorang sarjana
klasik terkenal yaitu Heinrich Wolflin. Dari tahun 1500 sampai 1502 ia belajar di universitas
Wina yang merupakan pusat studi klasik dengan mempelajari filsafat skolastik, astronomi,
fisika, dan yang menjadi tujuan utamanya yaitu menjadi seorang humanis. Sesudah itu tahun
1502, ia kembali dan mengajar bahasa latin di sekolah St. Martin hingga ia meraih gelar MA
tahun 1506 dan ia dikenal dengan nama Ulrich. Kemudian ia ditahbiskan menjadi imam oleh
Uskup Constanz dan menjadi imam di Glarus, lalu selama 10 tahun ia bekerja sambil
mempelajari bahasa Yunani sendiri. Sewaktu di sana Zwingli berhubungan dengan Erasmus,
seorang tokoh humanis Belanda. Dalam pelayanannya ia dipercayai dua kali bekerja sebagai
pastor para tentara bayaran di Swiss2
Kemudian Zwingli dipanggil menjadi pendeta dari gereja besar di kota Zurich pada tahun
1518. Zwingli juga menikah sejak tahun 1522 dengan Anna Reinthart, seorang janda dari
Hans von Knonau, ibu dari tiga orang anak.
Pembaruan Zwingli
Tepat sebelum Zwingli mendapat gelar teologinya, ia menjadi pastor di Glarus dan
tinggal di sana selama sepuluh tahun. Pada saat itulah ia menyempurnakan bahasa Yunaninya
serta juga berhubungan dengan Erasmus, seorang tokoh humanis Belanda. 3 Zwingli juga
memberikan perhatian besar pada masalah-masalah umum terutama kepada tentara sewaan.
Tentara bayaran Swiss adalah sesuatu yang lazim terjadi di Eropa pada abad ke-16, namun
ditentang oleh Zwingli. Kendati demikian ia tiga kali menjadi Chaplain (imam khusus)
tentara pada beberapa kesempatan. Dari pengalamannya di medan perang, Zwingli melihat
2
Dr.F.D. Wellem,[Link], Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta:Gunung
Mulia,2003, hlm.199
3
Dr. [Link],[Link]. Riwayat hidup singkat Tokoh-tokoh Dalam sejarah Gereja, Jakarta : BPK Mulia, hlm.199
bangsanya menjual jiwanya untuk kepentingan negara asing. Kemudian pada tahun 1516
Zwingli meninggalkan Glarus dan pindah ke Einsiedeln. Ia mulai mendalami tulisan bapa-
bapa gereja, seperti Origenes, Ambrosius dan sebagainya. Ia mulai menyerang
kesewenangan-wenangan paus, penjualan surat indulgensia, dan keburukan-keburukan
lainnya dalam gereja. Zwingli sudah mulai berfikir untuk mengupayakan reformasi gereja
dan itu dilakukannya berlandaskan pada keyakinan bahwa Alkitab merupakan otoritas
tertinggi dan terakhir di dalam gereja dan masyarakat4
Sebagai seorang pengkhotbah yang baik dan sarjana yang cerdas juga membuat ia
terpilih pada tahun 1518 menjadi Imam di Zurich, Swiss. Sewaktu dia disana, ia sudah mulai
menyajikan khotbahnya berupa uraian isi Alkitab secara sistematis dan menurut urutan kitab-
kitab dalam perjanjian baru. Ia juga mau mendasarkan khotbahnya pada injil sejati saja 5 Pada
tahun 1520, Zwingli mulai memprogandakan berbagai-bagai pembaruan untuk kepentingan
bangsanya dan soal-soal politik. Pertama-tama ia melawan kebiasaan pemuda-pemuda Swiss
untuk masuk dinas militer raja-raja luar negeri selaku pasukan sewaan. Pada tahun 1522 hal
itu dilarang oleh dewan kota Zurich. Lalu ia menyerang rupa-rupa adat dan syariat Gereja
Roma, misalnya undang-undang puasa, selibat kaum imam dan sebagainya. Ia
mengkhotbahkan tentang larangan makan daging pada masa puasa tidak ada dasarnya dalam
kitab suci. Ia juga menuntut pembaruan secara radikal di dalam gereja. Namun Uskup dan
imam-imam GKR di kota itu tidak mendukung tuntutan itu, sehingga Zwingli minta berhenti
sebagai imam di GKR. Pemerintahan kota Zurich segera mengangkatnya kembali ke
posisinya semula tetapi tidak lagi dibawah wewenang hirearki GKR, melainkan langsung di
bawah wewenang pemerintahan6 Penganut-pengenut imam yang lama memang menentang
Zwingli. Oleh sebab itu pada tanggal 29 Januari 1523 diadakanlah debat umum atas ikhtiar
dan desakan Zwingli. Ia membentangkan acara pembaruannya dengan membela dan
menguraikan 67 dalil dan para dewan memutuskan: “Bahwa tuan Ulrich Zwingli melanjutkan
dan berpegang seperti semula dalam “menyiarkan” injil dan kitab suci sesuai dengan
kemampuannya 7 Dari debat ini membawa banyak perubahan dalam gereja. Yang terpenting
di antaranya adalah dewan kota memerintahkan kepada semua pelayan untuk hanya
memberitakan firman. Dewan memerintahkan juga untuk mengeluarkan salib-salib dan
patung-patung. Selain itu, Misa diganti dengan ibadah perjamuan malam yang lebih
sederhana. Karena firman Allah yang menguasai hidup kemasyarakatan, dewan kota
4
[Link]. Jan Sihar Aritonang, Garis Besar Sejarah Reformasi. Bandung, hlm.33
5
[Link], I.H. Enklaar. Sejarah Gereja, hlm.142
6
Pdt. Dr. Jan Sihar Aritonang, hlm. 34
7
A. Kenneth Curtis, dkk. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah [Link].78
menyuruh menyusun peraturan-peraturan perkawinan dan disiplin gereja yang ketat serta
menjatuhkan disiplin kepada siapa yang melanggar hukum-hukum dan aturan-aturan itu.
Perjamuan reformatoris dirayakan pada April 1525 untuk pertama kalinya. Bagi dirinya,
perjamuan adalah suuatu perjamuan peringatan akan kematian dan kebangkitan Kristus.
Zwingli bukan saja dihadapkan dengan oposisi gereja katolik, tetapi juga dengan
kaum anabaptis (kelompok reformasi yang lebih radikal) yang di bawah pimpinan Conrad
Grebel, seorang warga turunan bangsawan kaya yang bercampur tangan dalam urusan tangan
dan kendali pemerintahan atas kehidupan gereja termasuk dalam urusan perjamuan kudus
yang dimana menurut mereka hal itu bertentangan dengan firman Allah. Mereka mengajukan
dua pokok pikiran : (1) membentuk partai reformasi sebagai partai politik baru di kora Zurich
dan (2) baptisan anak tidak sah, karena tidak memungkinkan calon baptisan untuk lebih
dahulu menyatakan respons pribadi atas pengampunan dosa yang ditawarkan kristus maupun
untuk menyatakan ketaatan serta pertobatan, sebagaimana diamanatkan di dalam Alkitab.
Namun gagasan ini tidak didukung oleh Zwingli terutama tentang baptisan anak. Dalam
bukunya, ia membela baptisan anak atas dasar bahwa itu adalah tanda perjanjian dan
perjanjian itu meliputi seluruh keluarga jadi bukan hanya si terbaptis. Namun ia sekaligus
menolak pandangan GKR bahwa baptisan memberi kelahiran baru dan pengampunan dosa.
Bagi Zwingli baptisan terutama merupakan tanda lahiriah dari iman. Ia menunjukkan bahwa
baptisan adalah lebih lembut dari sunat kerena baptisan tidak melibatkan rasa sakit dan
penumpahan darah yang bersifat lebih inklusif dalam arti bahwa baptisan mencakup bayi
laki-laki dan perempuan. Baptisan merupakan suatu tanda keterhisaban ke dalam suatu
komunitas-dalam hal ini gereja kristen. 8
Kematian Zwingli
Pada tahun-tahun berikutnya, reformasi berkembang dari kota Zurich ke kota-kota
lainnya. Perkembangan ini juga menimbulkan ketegangan yang memuncak yang di mana
daerah-daerah Bern, Basel dan beberapa lagi lekas memihak kepada reformasi, tetapi di
daerah lainnya tetap menganut pengakuan katolik Roma. Mula-mula kedua belah pihak
berusaha menyelesaikan pertentangan keagamaan dan kebangsaan itu dalam suasana rohani.
Namun itu semua tidak tercapai karena timbul perbantahan keras antara Swiss dan Jerman
Selatan pada satu pihak dengan golongan dengan “Wittenberg”, Yaitu Luther bersama para
8
Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi,hlm.230
pengikutnya. Pokok perselisihannya yaitu tentang perjamuan kudus. Zwingli yang seorang
Humanis Belanda di kota Den Haag bahwa perjamuan kudus harus diartikan secara kiasan
atau lambang saja. Sehingga Luther marah, dan tetap mempertahankan bahwa roti dan anggur
itu benar-benar mengandung tubuh dan darah kristus.
Adalah Philip pangeran dari Hesse mempersatukan Luther dan Zwingli secara militer,
politik dan spiritual. Untuk tujuannya itu, ia membawa kedua orang tersebut ke Marburg pada
permulaan Oktober 15299 Luther menunjukkan banyak kesabaran dalam debat itu, ia tidak
mau membicarakan dengan cara bagaimana Kristus hadir dalam perjamuan kudus. Hanya
dituntutnya supaya lawannya mengaku bahwa tubuh dan darah Kristus sungguh-sungguh
hadir di dalam benda-benda itu. Akan tetapi pandangan ini ditolak sama sekali oleh Zwingli,
karena pada pendapatnya ajaran itu masih berbau Katolik Roma. Akhirnya kedua belah pihak
bercerai dengan tidak mencapai persesuaian pikiran.10 Mulanya mereka mementingkan pula
panggilan dan kewajiban gereja kristus terhadap dunia ini sehingga kebebasan pekabaran injil
boleh, bahkan harus dikejar dengan jalan dan senjata politik juga. Di Swiss pergerakan
reformasi makin meluas dan tak lama kemudian kedua golongan yang bertentangan itu, yaitu
protestan dan katolik roma masing-masing mengangkat senjata untuk menyelesaikan
pertikaian itu. Zurich kurang dibantu oleh sekutunya sehingga pihak Katolik Roma menang
dalam pertempuran yang penghabisan dekat Kappel (11 Oktober 1531). Zwingli yang turut
dengan pasukan-pasukan Protestan itu selaku pendeta tentara, tewas dan mayatnya dibagi
menjadi empat dan dibakar habis. Golongan protestan terpaksa menerima syarat-syarat
perdamaian yang merugikan, sehingga gerakannya tak sempat meluas lagi.
BAB III
PENUTUP
9
A. Kenneth Curtis, dkk. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah [Link].78
10
[Link], I.H. Enklaar. Sejarah Gereja,hlm. 144-146
Dari pemamparan di atas, kita dapat mengerti pada pembaruan ataupun reformasi yang
dilakukan oleh Zwingli yaitu di kota Zurich, Swiss. Yang di mana disana ia membuat
pembaruan di dalam gereja melalui pandangannya baik mengenai tentara sewaan, mengenai
puasa dan lain sebagainya. Namun dalam setiap pembaruan yang dilakukan tidak lepas juga
dari berbagai penolakkan baik itu dalam pemerintahan dan juga imam-imam di dalam gereja.
Namun itu juga tidak membuat Zwingli pantang menyerang dalam membarui peraturan di
dalam gereja. Walaupun pada akhirnya Zwingli juga dalam akhir hidupnya harus ikut dalam
perselisihan perbedaan pendapat dan mencari kebebasan melalui peperangan yang merenggut
nyawanya sendiri.