BAB II
TINJAUAN TEORI
A. REMAJA
1) Definisi Remaja
Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa.
Istilah remaja dikenal dengan “adolescence” yang berasal dari kata dalam
bahasa Latin “adolescere” yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam
perkembangan dewasa. Santrock (2003), remaja adalah masa perkembangan
transisi antaramasa kanak-kanak dan masa dewasa yang mencakup perubahan
biologis, kognitifdan sosial-emosional.
Papalia dan Olds (2008), masa remaja merupakan suatu tahap
perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang mengandung
perubahan besar fisik, kognitif, dan [Link] Rice (dalam
Gunarsa, 2004), masa remaja adalah masa peralihan, ketika individu tumbuh
dari masa anak-anak menjadi individu yang memiliki kematangan.
Menurut World Health Organization 1974 remaja adalah suatu masa
dimana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-
tanda seksualitas sampai saat ini mencapai kematangan seksualitasnya,
individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa, dan terjadi peralihan dari ketergantungan
sosial yang penuh, kepada keadaan yang relative mandiri (Sarwono, 2004).
Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa
remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang
berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi
perubahan dalam hubungan orang tua dan cita-cita mereka, dimana
pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa
depan.
Dari beberapa uraian definisi remaja diatas dapat disimpulkan
bahwa masa remaja merupakan masa perkembangan transisi antara masa
kanak-kanak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologi,
kognitif, sosial-emosional, seksual.
2) Batasan Usia Remaja
Mappiare (dalam Ali & Asrori, 2004)masa remajaberlangsungantara
umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13tahun sampai
dengan 22 tahun bagi pria. Papalia & Olds (2008)masa remaja adalah masa
transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada
umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir
belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Desmita (2010)batasan usia remaja yang umum digunakan para ahli
adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya
dibedakan atas tiga yaitu: 12-15 tahun (masa remaja awal), 15-18 tahun (masa
remaja pertengahan), dan 18-21 tahun (masa remaja akhir).
Hurlock (1980) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal
(13-17 tahun) dan masa remaja akhir (16-18 tahun). Monks, Knoers, dan
Haditono (dalam Desmita, 2010) membedakan masa remaja atas empat
bagian, yaitu masa pra-remaja (10-12 tahun), masa remaja awal (12-15
tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun), masa remaja akhir (18-21
tahun). Remaja awal hingga remaja akhir inilah yang disebut masa adolesen.
Bedasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa batasan usia remaja
diabgi menjadi tiga fase yaitu remaja awal, pertengahan, dan akhir yang
berada dalam rentang usia 12 tahun sampai 21 tahun.
3) Tugas Perkembangan Remaja
Hurlock (1980) menjelaskan bahwa semua tugas perkembangan pada
masa remaja dipusatkan bagaimana menanggulangi sikap dan pola perilaku
yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa
[Link]-tugas tersebut antara lain:
a. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya
baik pria maupun wanita
b. Mencapai peran sosial pria dan wanita
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
d. Mengaharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang
dewasa lainnya
f. Mempersiapkan karir ekonomi
g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
h. Memperoleh perangkat nila dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideology
4) Perkembangan Remaja
a. Perkembangan Fisik Remaja
Perkembangan fisik remaja ditandai dengan perubahan biologis
pubertas yang merupakan tanda akhir masa kanak-kanak, berakibat
peningkatan penumbuhan berat dan tinggi, perubahan dalam proporsi dan
bentuk tubuh, dan pencapaian kematangan seksual (Papalia dan Olds,
2008). Piaget (dalam Jahja, 2012) menambahkan bahwa perubahan pada
tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan
tulang dan otot, kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi.
Papalia dan Olds (2008), perubahan yang terjadi pada pertumbuhan
tersebut diikuti munculnya tanda-tanda sebagai berikut:
1) Karakteristik seks primer
Karakteristik seks primer adalah organ yang dibutuhkan untuk
[Link] wanita organ reproduksi adalah indung telur
(ovaries), tuba falopi, uterus, dan [Link] pria adalah testis, penis,
skrotum (kantong kemaluan), gelembung sperma (seminal vesicle),
dan kelenjar prostat.
2. Karakteristik seks sekunder
Karakteristik seks sekunder adalah sinyal fisiologis
kematangan seksual yang tidak berkait langsung dengan organ seks,
misalnya payudara wanita dan lebar bahu pada [Link] seks
sekunder lainnya adalah perubahan suara dan tekstur kulit,
perkembangan muscular, dan pertumbuhan pubic, rambut tubuh,
wajah, ketiak, dan tubuh.
b. Perkembangan Kognitif Remaja
Musen dkk (Desmita, 2010) menyatakan bahwa masa remaja adalah
suatu periode kehidupan dimana kapasitas untuk memperoleh dan
menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya. Hal ini
dikarenakan selama periode remaja, proses pertumbuhan otak mencapai
kesempurnaan. Sistem saraf yang berfungsi memproses informasi
berkembang dengan cepat. Disamping itu pada masa remaja juga terjadi
reorganisasi lingkaran saraf prontal lobe (belahan otak bagian depan
sampai pada belahan atau celah sentral) yang berfungsi dalam aktivitas
kognitif tingkat tinggi.
Merujuk kepada Piaget, remaja memasuki level tertinggi
perkembangan kognitif yaitu tahap operasi formal. Pada tahap operasi
formal, remaja mengembangkan kemampuan berpikir abstrak (Papalia
dan Olds, 2008). Piaget mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi
kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah
sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi
memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget juga mengatakan
dalah tahap ini, remaja melampaui pengalaman-pengalaman konkret dan
berpikir logis.
Pada tahap ini remaja sudah dapat berpikir hipotesis sehingga mampu
memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang
abstrak. Disamping itu, pada tahap ini remaja sudah mampu berpikir
secara sistematik untuk memecahkan masalah. Remaja cenderung
memecahkan masalah melalui trial and error, remaja mulai berpikir
sebagaimana seorang ilmuwan berpikir, membuat rencana untuk
memcahkan masalah dan secara sistematis menguji solusi. Tipe
pemecahan masalah menuntut penalaran hipotesis-deduktif yang
mencakup penciptaan sebuah hipotesis dan melakukan deduksi terhadap
implikasinya, yang memungkinkan untuk menguji hipotesis.
c. Perkembangan Emosi Remaja
Perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja sebagai akibat dari
perubahan fisik dan hormonal yang terjadi pada remaja, dan juga
pengaruh lingkungan yang terkait dengan perubahan badaniah tersebut
(Agustiani, 2009). Ali dan Asrori (2006) mengungkapkan bahwa
dikarenakan remaja berada pada masa peralihan antara masa anak-anak
dan masa dewasa, status remaja agak kabur, baik bagi dirinya maupun
bagi lingkungannya.
Ali dan Asrori (2006) menambahkan bahwa perkembangan emosi
seseorang pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah lakunya.
Perkembangan emosi remaja juga demikian halnya. Kualitas atau
fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat bergantung
pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada individu tersebut.
Ali dan Asrori (2006) mengungkapkan faktor-faktor yang dapat
mempergaruhi perkembangan emosi remaja adalah sebagai berikut:
a. Perubahan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya perubahan
yang sangat cepat dari anggota tubuh.
b. Perubahan pola interaksi dengan orang tua
c. Perubahan pola interaksi dengan teman sebaya yang ditunjukkan
dengan cara membangun interaksi sesame teman sebayanya secara
khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama
dengan membentuk semacam geng. Pembentukkan kelompok
dalam bentuk geng seperti ini bertujuan untuk memenuhi minat
bersama.
d. Perubahan pandangan luar
e. Perubahan interaksi dengan sekolah.
d. Perkembangan Psikososial Remaja
Selama masa remaja, menurut Psikososial Erikson (dalam Hall dan
Lindzey, 1993) berada dalam tahapan indentitas versus kekacauan
identitas. Dimasa ini merupakan masa dalam kehidupan individu dimana
ingin menentukan identitas dirinya sekarang dan membuat rencana untuk
masa depan. Remaja sangat peka terhadap penilaian orang lain, mudah
tersinggung, dan merasa malu. Tingkah laku yang ditunjukkan remaja
juga mudah berganti antara tindakan-tindakan inpulsif, kurang
pertimbangan, sporadic, dan tindakan-tindakan yang dikendalikan secara
kompulsif.
Selama masa kekacauan identitas, tingkah laku remaja menjadi tidak
konsisten dan tidak dapat diprediksikan. Terdapat masa dimana remaja
merasa takut akan penolakkan, kekecewaan, atau penyesatan. Namun
disaat berikutnya, remaja mungkin ingin menjadi pengikut, pencinta,
dengan tidak menghiraukan konsekuensi-konsekuensi dari perbuatannya.
Pada masa remaja ini nilai kesetiaan berkembang. Kesetiaan ini
diperoleh melalui konfirmasi dari nilai-nilai dan kebenaran-kebenaran
dan juga afirmasi dari kawan-kawan.
B. IMPULSIVE BUYING
1. Impulsivitas
a. Defini Impusivitas
American Pschiatric Association, 2000 (dalam Arce dan Santisteban,
2006) mendefinisikan impulsivitas sebagai kegagalan untuk menolak impuls,
dorongan atau godaan untuk melakukan tindakan yang berbahaya bagi orang
atau orang lain. Eysenck (dalam Arce dan Santisteban, 2006) memahami
impulsif terkait dengan pengambilan risiko, kurang perencanaan, dan
mengambil keputusan dengan cepat. Dari perspektif perilaku, impulsif dapat
didefinisikan sebagai berbagai tindakan yang kurang dipahami, diungkapkan
secara prematur, terlalu berisiko, atau tidak sesuai dengan situasi dan yang
sering mengakibatkan hasil yang tidak diinginkan (Evenden, dalam Arce dan
Santisteban, 2006). Lebih sederhana, ini digambarkan sebagai
ketidakmampuan untuk menunda kepuasan atau kebalikan dari kontrol diri
(Monterosso dan Ainslie, 1999; Arce dan Santisteban, 2006).
Moeller, Barrat, Dougherty, Schmitz dan Swann (2001, dalam Arce dan
Santisteban, 2006) menunjukkan bahwa definisi umum impulsif
harusmencakup aspek-aspek berikut: 1) penurunan sensitivitas terhadap
konsekuensi negatif; 2) reaksi cepat dan tidak terencana terhadap rangsangan
sebelum pemrosesan informasi secara lengkap; dan 3) kurangnya
memperhatikan konsekuensi jangka panjang.
b. Pengambilan Keputusan Intuitif - Emosional
Pandangan tokoh mengenai pembelian yang tidak rasional dituangkan
dalam teori perilaku konsumen dengan penjelasan mengenai pembelian
didasari oleh proses pengambilan keputusan Instuitif Emosional. Schiffman
& Kanuk (2000) mengemukakan terdapat empat pandangan pengambilan
keputusan oleh konsumen, salah satunya adalah emotional view. Pada
emotional view digambarkan bahwa konsumen dalam memutuskan membeli
memerlukan keterlibatan perasaan atau emosi. Model pengambilan keputusan
konsumen secara emosional ini juga disebut sebagai keputusan konsumen
secara impulsive (Schiffman dan Kanuk, 2008). Biasanya orang membuat
keputusan ini didasarkan pada usaha untuk mendapatkan kepuasan (Turban,
1995 dalam Suhari, 2008).
Simon (1997, dalam Suhari, 2008) berargumentasi bahwa secara mendasar
tidak mungkin membuat keputusan dengan cara sepenuhnya menggunakan
rasional karena keterbatasan manusia dalam mendapatkan informasi yang
diperlukan untuk membuat keputusan rasional. Schiffman dan Kanuk (2008)
menjelaskan dalam pembelian ini konsumen tidak didasari pencarian,
pertimbangan, dan penilaian berbagai alternative dengan teliti sebelum
membeli dan hanya didasari desakan hati, keinginan yang tiba-tiba, dan
terdorong secara emosional.
Berbeda dengan sebelumnya, Suryadi dan Ali (2000) menyebutkan the
intuitive decision making sebagai persamaan dari pengambilan keputusan
konsumen yang dilandasi dari faktor emosional. The intuitive decision making
didefinisikan sebagai suatu proses bawah sadar atau tidak sadar yang timbul
atau tercipta akibat pengalaman yang terseleksi. Lebih lanjutnya pengambilan
keputusan ini menyukai kebiasaan dan pengalaman, perasaan yang mendalam,
pemikiran yang reflektif, dan naluri dengan menggunakan proses alam bawah
sadar.
c. Psikoanalisa Sigmund Freud
Teori yang menerangkan impulsivitas dalam diri individu dijelaskan dalam
Psikoanalisa [Link] (Alwisol, 2009) mengungkapkan bahwa kehidupan
jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar
(preconscious), dan tak sadar (unconscious).
1. Sadar (conscious)
Menurut Freud, didalam kesadaran hanya terdapat sebagian kecil
dari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan, dan ingatan).
Didalam alam kesadaran memiliki isi hasil proses penyaringan yang
diatur oleh stimulus atau cue-eksternal. Isi-isi dalam alam sadar hanya
bertahan dalam waktu singkat dan akan segera tertekan berpindah ke
daerah prasadar atau taksadar, begitu individu memindah perhatiannya
ke cue lain.
2. Prasadar (preconscious)
Lapisan jiwa ini berperan sebagai jembatan antara alam sadar dan
taksadar. Materi dalam prasadar berasal dari alam sadar dan taksadar.
Materi kesadaran dalam lapisan ini adalah pengalaman yang ditinggal
oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi cermati,
yang kemudian akan tertekan ke daerah prasadar. Materi taksadar yang
berada dalam didaerah prasadar bisa muncul dalam kesadaran dalam
bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme
pertahanan diri.
3. Taksadar (unconscious)
Lapisan jiiwa ini merupakan bagian paling penting dari jiwa
manusia. Ketidaksadaran berisi insting, impuls, drives yang dibawa
sejak lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatic yang ditekan oleh
kesadaran untuk dipindahkan ke daerah taksadar. Isi dari alam taksadar
memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam
ketidaksadaran, dan pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat
kuat namun tidak disaari.
Psikoanalisa Freud menyusun tiga struktur kepribadian yakni id, Ego, dan
superego (Hall dan Lindzey, 1993).Struktur ini bermaksud untuk melengkapi
atau menyempurnakan gambaran mental dalam individu (Alwisol, 2009).
1. Id
Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan
telah ada sejak lahir, termasuk insting-insting. Id memiliki sifat
impulsive (berada dalam ketidaksadaran) dalam kepribadian individu
yang merespon secara langsung dan tertuju langsung pada insting
(hasrat) (Hall dan Linsey, 1993).
Id beroperasi bedasarkan prinsip kenikmatan (pleasure primcipal).
Sebab itu, apabila terdapat stimulan dari luar atau dari dalam, maka id
akan bekerja sedemikian rupa untuk segera menghentikan tegangan
dan mengembalikan organisme pada tingkat eneergi rendah dan
konstan serta menyenangkan (Hall dan Linsey, 1993).
Proses untuk mendapat kenikmatan dilakukan dengan dua cara,
yaitu tindakan refleks dan proses primer. Tindakan refleks ditunjukkan
dengan reaksi-reaksi otomatis dan bawaan, sedangkan proses primer
ditunjukkan dengan khayalan tentang objek yang dapat menghilangkan
tegangan tersebut.
Id hanya mampu membayangkan sesuatu apa yang diinginkan. Id
tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah dan tidak tahu
[Link] untuk memperoleh dan mewujudkan khayalan menjadi
nyata ini sehingga memunculkan Ego sebagai eksekutor (Alwisol,
2009).
2. Ego
Jika didalam id fokus mempresentasikan dunia batin pengalaman
subjektif, berbeda dengan Ego yang mempresentasikan kebutuhan-
kebutuhan organisme terhadap dunia kenyataan [Link] dikatakan
memiliki prinsip kenyataan dan beroperasi menurut proses sekunder
(realistik) menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu
menghasilkan objek yang dimaksud (Alwisol, 2009). Ego memiliki
peranan utama untuk menegahi kebutuhan-kebutuhan instingtif dalam
diri seseorang dan kebutuhan-kebutuhan lingkungan sekitarnya (Hall
dan Lindzey, 1993).
Ego tidak memiliki energi sendiri, maka ia harus meminjamnya
dari Id. Pengalihan energi dari id ke proses-proses yang membentuk
Ego terlaksana lewat suatu mekanisme yang disebut identifikasi,
karena itu untuk memuaskan kebutuhan, seorang individu harus belajar
mencocokkan apa yang ada dalam batinnya dengan padanannya
didunia luar melalui proses sekunder. Dengan kata lain, identifikasi
memungkinkan proses sekunder untuk mereduksi tegangan-tegangan.
Ego juga bertugas untuk mengekang id agar tidak bertindak secara
impulsivedan [Link] kekang ini disebut [Link]
apabila id menjadi terlalu mengancam, maka Ego membentuk
pertahanan terhadapnya.
Alwisol (2009) menjabarkan bahwa Ego adalah eksekutif dari
kepribadian yang memiliki dua tugas utama yaitu, pertama memilih
stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan
dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan
kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan
tersedianya peluang yang resikonya minimal.
Jadi Ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi
kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan
kebutuhan berkembang mencapai kesempurnaan dari superego.
3. Superego
Superego pada hakekatnya merupakan elemen yang mewakili
nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang tua mengenai standar
sosial, yang diajarkan kepada anak melaui berbagai larangan dan
perintah (Alwisol, 2009). Superego sama seperti Ego yaitu tidak
memiliki energi sendiri sehingga superego berkembang dari Ego.
Superego menggunakan prinsip idealtistik (idealistic principle).
Didalam prinsip idealistik terdapat conscience dan Ego ideal (Hall dan
Lindzey, 1993). Conscience merupakan suara hati pada anak yang
bekerja untuk menerima larangan-larangan, perintah, perbuatan yang
dianggap salah sehingga dapat menghasilkan hukuman dari orang tua
untuk tidak dilakukan olehnya. Ego ideal berbanding terbalik dengan
conscience, apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan
diterima menjadi standar kesempurnaan atau Ego ideal yang berisi apa
saja yang harus dilakukan.
Pada mulanya seluruh energi psikis menjadi milik id dan dipakai untuk
memnuhi hasrat melalui tindakan refleks dan proses primer. Penggunaan
energi untuk menghasilkan suatu gerakan atau gambaran yang akan
memuaskan insting disebut kateksis (daya dorong). Namun proses primer
dalam id mudah berubah sehingga tidak bisa membedakan dari obyek satu ke
obyek lain dan menjadikan energinya tidak stabil.
Ego tidak mempunyai energi sendiri dan membutuhkan energi dari id.
Lama kelamaan energi id semakin banyak yang diambil Ego karena Ego
lebih berhasil daripada id dalam mereduksi ketegangan. Proses pengalihan
energi ini disebut identifikasi yakni proses Ego mencocokkan gambaran
mental dari id dengan kenyataan actual. Ego berprinsip gambaran obyek bisa
berbeda dengan obyek nyata karena harus dikonfrontasi dengan kenyataan
dan peluang untuk memperolehnya. Ketika Ego mampu memenuhi
kebutuhan id, Ego akan semakin menyerap banyak energi dari id. Energi ini
dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan proses psikologis
(persepsi, ingatan, berpikir), sebagian dipakai untuk mengekang id agar tidak
impulsive dan irasional (Antikateksis). Antikateksis digunakan untuk
melawan superego yang terlalu menindas kebebasan rasional sehingga
memunculkan mekanisme pertahanan.
Superego mendapat energi dari id melalui identifikasi dengan
menyalurkan nilai-nilai sosial dalam kehidupan. Terdapat dua faktor dalam
superego yaitu conscience (apa yang harus dihindari atau tidak dilakukan,
lebih berisikan hukuman) dan Ego ideal (berisikan hadiah apabila berperilaku
sesuai standar kesempurnaan). Dari sinilah terdapat perpindahan energi dari
id ke superego.
Id hanya memiliki kekuatan pendorong, sedangkan Ego dan superego
memakai energi untuk mencapai atau menggagalkan tujuan insting id. Untuk
mengatur kepribadian secara bijaksana, Ego harus memiliki energy untuk
mengecek id dan superego. Ego juga harus memiliki sisa energy yang cukup
untuk menangani dunia luar. Ego yang dominan adalah penanda jiwa yang
sehat, namun tetap dalam porsinya. Jika Ego tidak cukup kuat, Ego tidak
akan mampu mendapat energy dari id sehingga muncullah perilaku tidak
sesuai. Jika id tetap menguasai bagian besar energi psikis, maka individu
menjadi impulsive (cepat berindak, tanpa berpikir panjang), semaunya
sendiri, primitive (melakukan kekerasan dan kerusakan).
Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme Pertahanan Ego digunakan untuk melindungi individu dari
kecemasan yang berlebihan. Bagi Freud, mekanisme pertahanan adalah
strategi yang dipakai individu untuk bertahan melawan ekspresi impuls id
serta menentang tekanan superego. Mekanisme-mekanisme pertahanan yang
ada memiliki tiga persamaan ciri yaitu, beroperasi pada tingkat taksadar,
selalu memalsu; menolak; memutarbalikkan kenyataan, dan mengubah
persepsi nyata seseorang sehingga kecemasan menjadi kurang mengancam.
Freud mendeskripsikan tujuh mekanisme pertahanan: identifikasi,
pemindahan, fiksasi, regresi, pembentukan reaksi, projeksi, dan represi.
Represi merupakan mekanisme pertahanan utama dalam teori psikoanilis
Freud. Dalam represi, pemikiran dan idea tau hasrat dihilangkan dari
kesadaran. Hal-hal yang traumatis dan mengancam diri akan dikubur dalam
bawah sadar. Freud berpendapat bahwa pada awalnya orang tersebut
mengalami peristiwa tersebut secara sadar, kemudian karena demikian
traumatisnya pengalaman tersebut, individu tersebut menekannya. Individu
dengan gaya represif menunjukkan kecenderungan yang kecil untuk
mengalami afektif negative dan memiliki respons emosional yang relative
stereotip. Meskipun terlihat tenang, individu tersebut tampak lebih reaktif
terhadap stress psikologis dan lebih rentan mengalami ragam rasa sakit
(dalam Pervin, 2005).
2. Definisi Impulsive Buying
Perilaku impulsive buying secara umum dapat didefinisikan sebagai
perilaku seseorang dimana orang tersebut tidak merencanakan sesuatu dalam
berbelanja yang hanya didasari oleh emosional [Link] (2006)
perilaku impulsive buying adalah pembelian yang terjadi ketika konsumen
melihat produk atau merek tertentu, kemudian konsumen menjadi tertarik
untuk mendapatkannya, biasanya karena adanya rangsangan menarik dari
toko tersebut.
Rook dan Fisher (2003) mendefinisikan perilaku impulsive buying
sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli secara spontan, reflek,
tiba-tiba, dan otomatis, sesuai dengan suasana hati. Engel dan Blackwell
(1995) menambahkan perilaku impulsive buying sebagai suatu tindakan
pembelian yang dibuat tanpa direncanakan sebelumnya atau keputusan
pembelian dilakukan pada saat berada didalam toko. Perilaku impulsive
buying juga dapat diartikan sebagai perilaku yang dilakukan secara tidak
sengaja dan kemungkinan besar melibatkan berbagai macam motif yang tidak
disadari serta dibarengi oleh respon emosional yang kuat. Impulsive buying
juga dicirikan sebagai pembelian yang irasional, cepat, tidak direncanakan,
diikuti adanya konflik pikiran dan dorongan emosional (Verplanken dan
Herabadi, 2001).
Dari uraian definisi perilaku impulsive buying dapat disimpulkan bahwa
perilaku impulsive buying merupakan perilaku membeli suatu produk yang
dilakukan oleh individu dengan cara spontan dan tidak terencana.
3. Karakteristik Perilaku Impulsive Buying
Menurut Rook’s dalam Engel (1995), karakteristik perilaku impulsive buying
adalah spontan, kekuatan impuls dan intensitas tinggi, merangsang kegembiraan,
dan tidak peduli dengan konsekuensi.
a. Spontan
Pembelian dilakukan tanpa adanya perencanaan dan adanya
dorongan untuk membeli sebagai bentuk respons secara visual.
b. Kekuatan impuls dan intensitas tinggi
Adanya dorongan yang kuat sehingga menggerakkan individu
melakukan pembelian dan bertindak seketika.
c. Merangsang kegembiraan
Dengan melakukan pembelian, individu disertai dengan emosi
yang menggairahkan dan merangsang kebahagiaan dalam diri
individu.
d. Tidak peduli dengan konsekuensi
Desakan untuk membeli yang besar sehingga konsumen sulit untuk
menolak dan mengabaikan konsekuensi yang mungkin terjadi setelah
pembelian.
4. Tipe Pembelian Impusif
Loudon dan Della-Bitta (1998), mengelompokkan empat tipe pembelian
impulsif pada konsumen, antara lain:
1. Pure impulse (murni impulsif). Pembelian produk yang spontan dan
tidak [Link] ketika melihat suatu produk, dengan spontan ingin
membelinya karena merasa barang tersebut menarik dan dibutuhkan olehnya.
2. Suggestion impulse. Pembelian produk yang terjadi ketika konsumen
yang pada awalnya memasuki suatu toko dan tidak memiliki pengetahuan
mengenai suatu barang tertentu, kemudian melihat suatu produk tertentu dan
memvisualisasikan bahwa ia membutuhkan produk tersebut.
3. Reminder impulse. Pembelian produk yang didasari oleh ingatan
konsumen terhadap barangnya yang harus dibeli atau restock. Dalam jenis
impuls ini, barang yang dibeli merupakan barang yang memang biasa dibeli
namun tidak terantisipasi dan tidak tercatat dalam daftar belanjaan.
4. Planned impulse. Konsumen membeli barang disesuaikan dengan apa
yang sudah diharapkan atau sudah buatkan list dengan mempertimbangkan
kebutuhan, harga, dan kesukaan.
5. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Impulsive Buying
Loudon dan Bitta (1993) mengungkapkan faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku impulsive buying, yaitu:
a. Produk dengan karakteristik harga murah, kebutuhan kecil atau marginal,
produk jangka pendek, ukuran kecil, dan toko yang mudah dijangkau.
b. Pemasaran dan marketing yang meliputi distribusi dalam jumlah banyak,
outlet yang self service, iklan melalui media massa yang sangat sugestibel
dan terus-menerus, iklan dititik penjualan, posisi display dan lokasi toko
yang menonjol.
c. Karakteristik konsumen seperti, kepribadian, jenis kelamin, sosial
demografi atau karakteristik sosial ekonomi.
Thai (2003) mengungkapkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
perilaku impulsive buying seperti,:
a. Kondisi mood dan emosi konsumen. Keadaan mood konsumen dapat
mempengaruhi perilaku konsumen. Pada konsumen yang memiliki mood
negatif, perilaku impulsive buying lebih tinggi dilakukan dengan tujuan
untuk mengurangi kondisi mood yang negatif (Verplanken dan Herabadi,
2001).
b. Pengaruh lingkungan. Lingkungan yang dipenuhi dengan orang-orang
yang memiliki kecenderungan pembelian impulsive yang tinggi akan
cenderenung berpengaruh pada individu lainnya untuk melakukan hal
yang sama (Thai, 2003).
c. Kategori produk dan pengaruh toko. Produk-produk yang cenderung
dibeli secaraimpulsif adalah poduk yang memiliki tampilan menarik (bau
yang menyenangkan, warna yang menarik), cara memasarkannya, tempat
dimana produk itu dijual. Tampilan toko yang menarik akan lebih
menimbulkan dorongan pembelian impulsif (Verplanken & Herabadi,
2001).
d. Variabel demografis seperti kondisi tempat tinggal dan status sosial.
Konsumen yang tinggal di kota memiliki kecenderungan pembelian
impulsif yang lebih tinggi daripada konsumen yang tinggal di daerah
pinggiran kota (Thai, 2003).
e. Variabel perbedaan individu. Kepribadian individu memiliki pengaruh
terhadap kecenderungan pembelian impulsif (Verplanken & Herabadi,
2001).
6. Dinamika Terjadi Perilaku Impulsive Buying
Perilaku impulsive buying berakar dari kepribadian individu yang bersifat
[Link] Freud menjelaskan bahwa sifat impulsive berasal dari
id (berada dalam ketidaksadaran). Id beroperasi pada prinsip kenikmatan dan
butuh segera untuk dipenuhi sehingga mengurangi tegangan-tegangan yang
[Link] memenuhi hasratnya, id membutuhkan Ego. Ego yang berorientasi
pada dunia aktual dan memiliki prinsip kenyataan akan beroperasi dengan
proses sekunder (secara realistik). Ego akan berperan menyusun rencana dan
menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud (Alwisol,
2009). Ego sendiri dalam hal ini memiliki fungsi kognitif dan intelektual yang
dipakai untuk melayani proses sekunder. Ego tidak mempunyai energi sendiri
dan membutuhkan energi dari id. Lama kelamaan energi id semakin banyak
yang diambil Ego karena Ego lebih berhasil daripada id dalam mereduksi
ketegangan.
Ego menjalankan fungsi kognitif dan intelektual (Hall dan Lizey, 1993).
Ego juga berfungsi sebagai penunda kepuasan insting sampai kepuasan itu
dapat dicapai tanpa mengalami konflik dengan superego dan dunia eksternal
(Alwisol, 2009). Ego juga memiliki akses untuk berinteraksi dengan dunia
[Link] pada kenyataannya dalam perilaku impulsive buying masih
banyak individu yang berperilaku impulsive. Impulsive sendiri merupakan
sifat asli dari Id. Sedangkan id hanya dapat melakukan proses primer dan tidak
bisa berhubungan langsung dengan dunia luar (batiniah subjektif). Sedangkan
Ego yang memiliki kuasa untuk mempresentasikan kebutuhan-kebutuhan
organisme terhadap dunia kenyataan objektif. Ego dikatakan memiliki prinsip
kenyataan dan beroperasi menurut proses sekunder (realistik) menyusun
rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud
(Alwisol, 2009).
Selama hidup, id yang mencari kesenangan terus-menerus berjuang
melawan Ego yang melihat kenyataan. Individu tidak pernah terlepas dari id,
namun kebanyakan orang dewasa menjaganya agar tetap terkontrol. Namun
beberapa orang secara salah (atau sering didominasi) oleh pencarian
kesenangan sehingga pemuasan menjadi aspek inti dari kepribadian seorang
individu (Friedman dan Schustack, 2006). Ego yang harusnya memiliki
peranan utama untuk menengahi kebutuhan-kebutuhan instingtif dalam diri
seseorang dan kebutuhan-kebutuhan lingkungan sekitarnya (Hall dan Lindzey,
1993). Dalam perilaku impulsive buying, Ego tidak dapat secara maksimal
melakukan fungsinya secara kognitif dan intelektual serta tidak mampu
menunda kepuasan insting sampai kepuasan itu dapat dicapai tanpa
mengalami konflik dengan superego dan dunia eksternal. Sehingga yang
terjadi adalah individu akan dikuasai oleh id yang bersifat impulsive.
C. BIG FIVE PERSONALITY
1. Definisi Big Five Personality
Big Five Personality adalah salah satu teori yang menggambarkan
kepribadian individu yang terdiri dari lima dimensi. Kelima dimensi ini
mewakili karakteristik-karakteristik khas yang terdapat dalam diri individu
(Pervin, 2005). Allport (dalam Suryabrata, 2007) mendefinisikan kepribadian
sebagai suatu organisasi yang dinamis didalam individu sebagai sistem
psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri
terhadap lingkungan.
Big Five Personality disusun bukan untuk menggolongkan individu ke
dalam satu kepribadian tertentu, melainkan untuk menggambarkan sifat-sifat
kepribadian yang didasari oleh individu itu sendiri dalam kehidupannya
sehari-hari. Pendekatan ini disebut Goldberg sebagai Fundamental Lexical
Language Hyphothesis; perbedaan individu yang paling mendasar
digambarkan hanya dengan satu istilah yang terdapat pada setiap bahasa
(dalam Pervin, 2005).
Big Five Personality oleh Costa dan McRae dibuat bedasarkan
pendekatan yang lebih sederhana. Disini, peneliti berusaha menemukan unit
dasar kepribadian dengan menganalisa bahasa yang digunakan orang-orang
sehari-hari, yang tidak hanya dimengerti oleh para psikolog, namun juga
orang biasa (dalam Pervin, 2005).
2. Tipe-Tipe Big Five Personality
Big Five Personality terdiri dari lima tipe atau faktor. Terdapat beberapa
istilah untuk menjelaskan kelima faktor tersebut, antara lain: Neuroticism,
Extraversion, Openness to New Experience, Agreeableness,
Conscientiousness.
Costa dan McRae menggambarkan kelima dimensi diatas sebagai berikut:
Neuroticsm berlawanan dengan Emotional stability yang mencakup perasaan-
perasaan negative, seperti kecemasan, kesedihan, mudah marah, dan tegang.
Openness to Experience menjelaskan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas
dari aspek mental dan pengalaman hidup. Extraversion dan Agreableness
menrangkum sifat-sifat interpersonal, yaitu apa yang dilakukan seseorang
dengan dan kepada orang lain. Conscientiousness menjelaskan perilaku
pencapaian tujuan dan kemampuan mengendalikan dorongan yang diperlukan
dalam kehidupan sosial (Pervin, 2005).
Extraversion dan Neuroticism adalah traits atau ciri sifat yang menjadi
fokus pembahasan dalam teori-teori kepribadian. Three Factors Model (Costa
& McCrae, 1992 dalam Pervin, 2005) dan Five Factors Model yang
dikembangkan oleh Costa & McCrae (dalam Pervin, 2005) mencantumkan
kedua ciri sifat ini sebagai sentral dimensi kepribadian yang berada dalam dua
kutub yang berlawanan.
3. Kepribadian Neuroticism
Neuroticism menggambarkan seseorang yang cenderung gugup, sensitif
tegang, mudah cemas, temperamental, mengasihi diri sendiri, sangat sadar
akan dirinya sendiri, emosional dan rentan terhadap gangguan yang
berhubungan dengan stres (McCrae dan Costa, dalam Feist & Feist, 2010).
Sebaliknya, seorang dengan skor rendah dalam dimensi ini cenderung santai,
tenang (dalam Feist & Feist, 2010), tidak tempramental, puas terhadap dirinya
sendiri dan tidak emosional (McCrae dan Costa, dalam Feist & Feist, 2010).
Neuroticism secara umum berhubungan dengan ketidakstabilan emosi
internal individu. Neuroticism yang tinggi dikatakan sebagai pencemas,
khawatir, kurang bisa mengontrol emosi, dan seringkali dikonotasikan dengan
depresi. Sebaliknya orang yang neuroticism rendah menunjukkan emosi yang
stabil, kalem, tidak temperamental, tidak mudah cemas (Eysenck & Eysenck,
1991, dalam Ramdhani, 2007).
Menurut Timothy (Ghufron dan Rini, 2010), neuroticism disebut juga
dengan istilah negative emotionality. Tipe kepribadian ini bersifat kontradiktif
dari hal yang menyangkut kestabilan emosi dan identik dengan segala bentuk
emosi yang negatif seperti munculnya perasaan cemas, sedih, tegang, dan
gugup. McCrae dan Costa menggolongkan tipe ini pada dua karakteristik.
Individu dengan tingkat neurotis tinggi disebut kelompok reactive (N+).
Sedangkan bagi kelompok dengan neurotis rendah disebut kelompok resilient
(N-).
Penelitian ini akan memfokuskan pada teori sifat yang dikemukakan oleh
McCrae dan Costa dengan penjabaranan neuroticism sebagai kepribaidan yang
menggambarkan seseorang yang cenderung gugup, sensitif tegang, mudah
cemas, temperamental, mengasihi diri sendiri, sangat sadar akan dirinya
sendiri, emosional dan rentan terhadap gangguan yang berhubungan dengan
stres (McCrae dan Costa, dalam Feist & Feist, 2010).
D. Konformitas Teman Sebaya
1. Definisi Konformitas
Remaja hidup dalam suatu lingkungan sosial yang cenderung mencoba
menyesuaikan diri agar dapat diterima oleh teman sebaya di sekelilingnya.
Hurlock (1980) menjelaskan bahwa kebutuhan untuk diterima dalam
kelompok sebaya menyebabkan remaja dapat melakukan perubahan sikap dan
perilaku sesuai dengan perilaku anggota kelompok teman sebaya. Pengaruh
sosial ini biasa disebut konformitas.
Baron dan Byrne (2005) menjelaskan konformitas merupakan pengaruh
sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai
dengan norma sosial yang ada. Monks (2004) konformitas merupakan salah
satu bentuk penyesuaian dengan melakukan perubahan-perubahan perilaku
yang disesuaikan dengan norma kelompok. Sarwono (1999) menjabarkan
konformitas sebagai bentuk perilaku sama dengan orang lain. Sears (1991)
mendefinisikan konformitas sebagai perilaku tertentu yang ditampilkan oleh
individu dikarenakan ada tuntutan dan individu lain juga menampilkan
perilaku tersebut.
Menurut Santrock (2007) menjelaskan konformitas teman sebaya dapat
didefinisikan sebagai suatu perilaku yang terjadi apabila individu mengadopsi
sikap atau perilaku orang lain karena merasa terdesak (baik desakan nyata
maupun hanya bayangan saja. Konformitas teman sebaya ini sendiri begitu
mempengaruhi perilaku remaja dimana kebanyakan remaja sangat
mementingkan sebuah konformitas agar lebih terkenal dan dipandang oleh
teman-teman lainnya sehingga membuat mereka memiliki sikap maupun
perilaku yang sama agar tetap diakui dalam kelompok tersebut. Hal ini
disebabkan remaja mendapatkan tekanan-tekanan yang kuat dari teman
sebaya agar berperilaku sesuai dengan kelompoknya (Santrock, 2007).
Santrock (2003) menjelaskan bahwa konformitas muncul ketika indvidu
meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan ada dari kelompok.
Tekanan untuk mengikuti teman sebaya menjadi sangat kuat pada masa
remaja. Bernt (dalam Santrock, 2003) menemukan konformitas remaja
terhadap perilaku antisocial yang dimiliki oleh teman sebaya menurun pada
tingkat akhir masa sekolah menengah dan kesesuaian antara orang tua dan
teman sebaya mulai meningkat dalam banyak hal. Hampir semua remaja
mengikuti tekanan teman sebaya dan ukuran lingkungan sosial.
Menurut Santrock (2007) konformitas mengalami peningkatan selama
masa remaja. Hurlock (1980) menambahkan bahwa peningkatan konformitas
tersebut disebabkan waktu yang lebih banyakdihabiskan remaja bersama
teman daripada bersama keluarga, sehingga sikap, pembicaraan,minat,
penampilan, dan perilaku remaja lebih dipengaruhi oleh teman sebaya
daripadakeluarga
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dipaparkan sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa konformitas merupakan sebuah penyesuaian terhadap
sikap, pendapat, atau persepsi seorang individu yang ditunjukkan dengan
perilaku terhadap perilaku individu atau sekelompok individu lain yang
berada di sekitarnya.
2. Kelompok Kawan Sebaya
Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima kawan
sebaya atau kelompok. Bagi banyak remaja, pandangan kawan-kawan
terhadap dirinya merupakan hal yang paling penting. Sebagai akibatnya,
remaja akan merasa senang apabila diterima dan sebaliknya akan merasa
sangat tertekan dan cemas apabila dikeluarkan dan diremehkan oleh kawan-
kawan sebayanya (Santrock, 2007).
Kawan-kawan sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja yang memiliki
usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama (Santrock, 2007).
Kelompok teman sebaya mempunyai sejumlah peran dalam proses
perkembangan sosial anak. Menurut Santrock (2011) peranan teman sebaya
dalam proses perkembangan sosial anak antara lain sebagai sahabat, stimulasi,
sumber dukungan fisik, sumber dukungan Ego, fungsi perbandingan sosial
dan fungsi kasih sayang.
3. Aspek-Aspek Konformitas Teman Sebaya
Sears (1991) mengemukakan bahwa konformitas remaja ditandai dengan
beberapa aspek, antara lain:
a. Kepercayaan Terhadap Kelompok
Dalam situasi konformitas, individu akan mempercayai informasi
yang dimiliki oleh kelompok. Oleh karena itu, semakin besar
kepercayaan individu terhadap kelompok sebagai sumber informasi
yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk menyesuaikan diri
terhadap kelompok.
b. Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian diri sendiri
Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian diri sendiri
dikarenakan adanya penilaian bahwa sumber informasi yang unggul
adalah dari kelompok sehingga mengenyampingkan tingkat keyakinan
pada kemampuan diri sendiri.
c. Rasa takut terhadap celaan sosial
Konformitas dilakukan individu dengan tujuan memperoleh
persetujuan atau menghindari celaan kelompok.
d. Rasa takut terhadap penyimpangan
Rasa takut individu dipandang sebagai orang yang menyimpang
merupakan faktor dasar hamper dalam semua situasi sosial. Individu
tidak ingin dipandang sebagai orang yang [Link] ingin
disukai, diperlakukan dengan baik, dan diterima oleh kelompok.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konformitas Teman Sebaya
Ada beberapa faktor yang menentukan sejauh mana individu menuruti
tekanan sosial atau melawannya. Berikut adalah faktor-faktor yang tampak
paling penting mempengaruhi konformitas (dalam Baron dan Byrne, 2005) :
1. Kohesivitas.
Dapat didefenisikan bahwa kohesivitas (cohesiveness) adalah
tingkat ketertarikan yang dirasa oleh individu terhadap suatu kelompok.
Ketika individu memiliki ketertarikan yang besar terhadap suatu kelompok
maka ia memiliki kohesivitas tinggi. Tingginya rasa suka dan kagum
kepada kelompok orang-orang tertentu akan menimbulkan tekanan untuk
melakukan konformitas semakin kuat.
2. Ukuran Kelompok.
Semakin besar ukuran jumlah kelompok, maka semakin besar pula
kecenderungan individu untuk ikut serta, meskipun berarti individu
tersebut menerapkan tingkah laku yang berbeda dari yang sebenarnya
diinginkannya.
3. Norma Sosial Deskriptif dan Norma Sosial Injungtf.
Norma deskriptif adalah norma yang hanya mendeskripsikan apa
yang sebagian besar orang lakukan pada situasi tertentu. Norma-normaini
mempengaruhi tingkah laku dengan cara memberitahu kita mengenai apa
yang umumnya dianggap efektif atau adaptif pada situasi tersebut.
Sebaliknya, norma injungtif menetapkan apayang harus dilakukan, tingkah
laku apa yang diterima atau tidak diterima pada situasi tertentu.
Menurut Myers (2014) konformitas dapat dipengaruhi oleh beberapa hal,
diantaranya yaitu :
a. Budaya. Budaya merupakan faktor yang dapat mempengaruhi
konformitas. Penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa
individu yang tinggal di sebuah Negara yang menganut budaya kolektifitas
maka cenderung memiliki tingkat tingkat individualitas yang rendah dan
cenderung hidup berkelompok dan berorientasi pada nilai kelompok dan
memiliki tendensi untuk menyesuaikan sikap dan perilaku agar sesuai
dengan norma dan nilai yang dianut kelompok tersebut (Myers, 2014).
b. Kepribadian. Tindakan individu tidak hanya tergantung kepada
bagaimana situasi saat itu melainkan dipengaruhi juga oleh kepribadian dan
suasana hati (Myers, 2014).
c. Peran sosial. Individu cenderung menyamakan diri dengan normanorma
budaya yang ada dalam masyarakatnya sebagai bukti komitmen dalam
berperan menyesuaikan lingkungan sekitarnya agar memiliki kesamaan
dengan mayoritas kelompok (Myers, 2014).
d. Pembalikan peran. Pembalikan peran biasanya terjadi pada para imigran
yang dengan sadar memainkan peran baru dalam upaya penyesuaian atas
lingkungan baru dengan norma dan nilai yang relatif berbeda dari yang
dimiliki sebelumnya dan meskipun bertentangan (Myers, 2014).
E. Hubungan Antara Kepribadian Neuroticism Terhadap Perilaku Impulsive
Buying
Manusia tidak bisa dipisahkan dengan adanya keberagaman
kebutuhan. Kebutuhan manusia harus dipenuhi untuk keberlangsungan
[Link] pemenuhan kebutuhan adalah dengan [Link] dewasa
ini kegiatan belanja tidak hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan
tetapi bergeser fungsi menjadi fungsi gaya hidup dan semata-mata untuk
pemuasan kebutuhansecara emosional. Bergesernya fungsi dari belanja ini,
tidak dapat dipungkiri terdapat pula perubahan perilaku pada konsumen
sehingga menimbulkan perilaku pembelian impulsif atau impulsive buying.
Konsumen digambarkan sebagai manusia kognitif dan manusia
emosional. Manusia kognitif menggambarkan konsumen sebagai individu
yang berpikir untuk memecahkan masalah. Sedang manusia emosional
menggambarkan konsumen sebagai individu yang memiliki perasaan
mendalam dan emosi yang memengaruhi pembelian atau pemilikan barang
tertentu (Sumarwan, 2011). Schiffman dan Kanuk (2008) menyebutkan
model pengambilan keputusan secara emosional atau impulsive (menurutkan
desakan hati) yang menjelaskan pembelian yang tidak didasari pencarian,
pertimbangan, dan penilaian berbagai alternatif dengan teliti sebelum
membeli dan hanya didasari desakan hati, keinginan yang tiba-tiba, dan
terdorong secara emosional. Sumarwan (2011) mengungkapkan bahwa
pembelian yang lebih didominasi oleh emosional dibutuhkan sedikit sekali
usaha yang dilakukan untuk mencari informasi sebelum memebeli.
Perilaku impulsive buying merupakan salah satu bentuk perilaku
konsumen (Sumarwan, 2011). Sebagai konsumen pasti berusaha memahami
bagaimana mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan
menghabiskan produk dan jasa. Setiap konsumen melakukan berbagai
macam keputusan tentang pencarian, pembelian, penggunaan beragam
produk dan merek pada setiap periode tertentu (Sumarwan, 2011). Individu
dengan kepribadian neuroticism juga digambarkan sebagai individu yang
depresi. Depresi menyebabkan kecemasan tinggi sehingga yang terjadi
strategi coping rendah dan menghasilkan pengambilan keputusan yang tidak
rasional
Impulsive buying adalah perasaan intens yang ditunjukkan dengan
melakukan pembelian karena adanya dorongan untuk membeli suatu produk
dengan segera, mengabaikan konsekuensi negatif, merasakan kepuasan dan
mengalami konflik didalam pemikiran (dalam Verplanken,dan Herabadi,
2001). Perilaku impulsive buying diikuti dengan adanya konflik pikiran dan
dorongan emosional (Verplanken dan Herabadi, 2001). Perilaku impulsive
buying dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.
Faktor internal yang dapat mempengaruhi perilaku impulsive buying
adalah kepribadian individu. Loudon dan Bitta mengungkapkan faktor-
faktor yang dapat menimbulkan perilaku impulsive buying yakni salah
satunya kepribadian. Hal serupa juga dinyatakan oleh Thai (2003)
menyatakan kepribadian individu merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kecenderungan perilaku impulsive buying. Rook (1995),
trait-trait yang menyusun kepribadian individu merupakan aspek psikologis
yang terkait dengan kecenderungan perilaku impulsif.
Teori yang menggambarkan struktur traits individu dikenal sebagai
Big Five Personality (dalam Pervin, 2005).Dimensi Big Five Personality
terdiri dari lima tipe, salah satunya Neuroticism. Costa & McCrae, 1980
(dalam Feist dan Feist, 2013) mengungkapkan emosi negatif merupakan inti
dari kepribadian Neuroticism. Emosi negatif memiliki peran besar terhadap
perilaku impulsive buying. Pada konsumen yang memiliki kondisi mood
yang negatif, perilaku impulsive buying bisa terjadi dengan tujuan untuk
mengurangi kondisi mood yang negatif tersebut (Verplanken & Herabadi,
2009). Sehingga dengan mood negatif yang ada, lama-kelamaan akan
membentuk emosi negatif dalam diri individu.
Didalam kepribadian Neuroticism menurut McCrae dan Costa (1992)
digambarkan dengan individu yang memiliki perasaan-perasaan negatif yang
digambarkan sebagai seseorang yang cenderung gugup, sensitif tegang,
mudah cemas, temperamental, mengasihi diri dendiri, sangat sadar akan
dirinya sendiri, emosional, dan rentan terhadap gangguan yang berhubungan
dengan stress. McCrae dan Costa menggolongkan tipe ini pada dua
karakteristik. Individu dengan tingkat neurotis tinggi disebut kelompok
reactive dan tingkat neurotis rendah disebut resilient (dalam Feist dan Fesit,
2010).
Sedangkan dalam kepribadian neuroticism mencakup emosi-emosi
negatif yang digambarkan sebagai individu yang mengalami distress. Stress
mempengaruhi fungsi eksekutif dan terutama memori kerja yang pada
gilirannya memengaruhi kinerja positif (Preston, 2007 dalam Ozden, 2012).
Ditambah pada masa remaja adalah tahap perkembangan yang ditandai
dengan pengambilan keputusan yang impulsif (Shad, dalam Ozden, 2011).
Dalam hal ini berhubungan dengan perilaku impulsive buying yang
ditandai dengan adanya konflik antara pertimbangan kognitif dan
emosional (Verplanken dan Herabadi, 2001). Konflik ini yang pada
akhirnya dimenangkan oleh emosional sehingga menyebabkan individu
melakukan pembelian yang tidak rasional dan mempunyai kecenderungan
melakukan perilaku impulsive buying.
Apabila merujuk pada teori psikoanalisa Freud mengenai
impulsivitas, id memiliki sifat impulsive yangmana artinya akan merespon
secara langsung dan tertuju langsung pada insting (hasrat). Id digambarkan
memiliki sifat mementingkan diri “sendiri” (selfish) dan tidak [Link]
id memiliki prinsip kesenangan dan harus dipenuhi segera, terlepas dari
konsekuensinya maka id membutuhkan Ego untuk mereduksi tegangan
[Link] yang berorientasi pada dunia aktual dan memiliki prinsip
kenyataan akan beroperasi dengan proses sekunder (secara realistik). Ego
akan berperan menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu
menghasilkan objek yang dimaksud (Alwisol, 2009). Ego sendiri dalam hal
ini memiliki fungsi kognitif dan intelektual yang dipakai untuk melayani
proses sekunder.
Sebenarnya Ego memiliki peranan besar untuk pengambilan
keputusan dalam diri individu dikarenakan Ego menjalankan fungsi kognitif
dan intelektual, namun dalam perilaku impulsive buying, Ego tidak mampu
berperan secara maksimal yaitu menunda kepuasan insting sampai kepuasan
itu dapat dicapai tanpa mengalami konflik dengan superego dan dunia
eksternal sehingga individu lebih dikuasai oleh id yang memiliki sifat
impulsif
Uraian diatas menunjukkan dinamika hubungan antara kepribadian
khususnya kepribadian Neuroticism yang berpengaruh terhadap perilaku
impulsive buying pada diri individu.
F. Hubungan Antara Konformitas Teman Sebaya Terhadap Perilaku
Impulsive Buying.
Bagi banyak remaja menganggap pandangan kawan-kawan
terhadap dirinya merupakan hal penting (Santrock, 2007). Ditambah
remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima kawan
sebaya atau kelompok (Santrock, 2007). Remaja mulai mengarahkan
geraknya menuju kelompok teman sebaya yang dianggap mempunyai
kesamaan pandangan (Santrock, 2007). Pada masa remaja, teman
mempunyai peranan penting dalam kehidupan remaja dimana remaja
mulai untuk berteman secara berkelompok dan remaja cenderung memilih
untuk berteman dengan orang yang memiliki karakteristik perilaku dan
kepribadian yang sama dengan dirinya (Papalia dan Olds, 2008).
Pada masa awal kehidupan seorang indivisu, kelompok acuannya
adalah keluarga, namun dengan seiringnya waktu yakni pada masa remaja
kelompok acuan yang diikuti adalah kelompok teman [Link]
acuan (reference group) adalah seorang individu atau kelompok orang
yang secara nyata mempengaruhi perilaku seseorang. Kelompok acuan
akan memberikan standar dan nilai yang akan mempengaruhi perilaku
seseorang dan berfungsi sebagai referensi bagi seseorang dalam keputusan
pembelian dan konsumsi (Sumarwan, 2011). Dalam hal ini kelompok
refrensi remaja adalah kelompok teman sebayanya karena remaja lebih
banyak berada diluar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagai
kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya
pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku yang sangat
besar (Hurlock, 1980).
McCabe dan Ricciardell (dalam Santrock, 2008), dengan keinginan
remaja yang ingin diterima dalam kelompok, ingin terlihat menarik, dan
sukai serta diterima orang lain, maka membuat remaja kurang memikirkan
dengan matang ketika membeli barang-barang yang diinginkan sehingga
remaja tidak memperhatikan faktor kebutuhan ketika membeli barang. Hal
itu dilakukan karena adanya ikatan secara emosional dalam kelompok
teman sebaya akan berdampak besar bagi individu dalam kelompok
(Sumarwan, 2011). Kelompok teman sebaya yang dijadikan sebagai
kelompok acuan dapat membawa pengaruh negatif bagi remaja, salah
satunya dalam perilaku membeli secara [Link] Eysenck (dalam
Arce dan Santisteban, 2006) memahami terkait dengan pengambilan
resiko, kurang perencanaan, dan mengambil keputusan dengan cepat
merupakan perilaku impulsive. Serupa dengan pendapat Eysenk,
kecenderungan individu untuk membeli secara spontan, reflex, tiba-tiba,
otomatis, dan sesuai dengan suasana hari (Rook dan Fisher, 2003) disebut
sebagai perilaku impulsive buying.
Perilaku impulsive buying juga dapat diartikan sebagai perilaku
yang dilakukan secara tidak sengaja dan kemungkinan besar melibatkan
berbagai macam motif yang tidak disadari serta dibarengi oleh respon
emosional yang [Link] buying juga dicirikan sebagai pembelian
yang irasional, cepat, tidak direncanakan, diikuti adanya konflik pikiran
dan dorongan emosional (Verplanken dan Herabadi, 2001).
Thai (2003) perilaku impulsive buying dipengaruhi oleh faktor
eksternal yaitu pengaruh [Link] seorang remaja lebih
banyak berada diluar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagai
kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya
pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku sangat besar
(Hurlock, 1980).Pada masa ini remaja akan lebih mengikuti standar-
standar atau norma teman sebaya. Norma tersebut merupakan hasil
kesepakatan bersama antara sesama anggota kelompok (Santrock, 2002).
Kedekatan dengan teman sebaya tentunya didasari dengan adanya
penerimaan dari teman sebaya tersebut. Jika remaja diterima oleh teman
sebayanya maka tentunya remaja juga mampu menjalin kedekatan dengan
teman sebayanya. Teman sebaya merupakan wadah untuk belajar
kecakapan-kecakapan sosial, karena melalui teman sebaya remaja dapat
mengambil peran (Marheni dalam Soetjiningsih, dalam Tobing, 2016).
Adanya pengaruh lingkungan sosial kelompok teman sebaya ini
memunculkan perilaku konformitas teman sebaya (Sitohang, 2009).
Menurut Tambunan (dalam Sitohang, 2009) kebutuhan untuk
diterima dan menjadi sama dengan orang lain dalam hal ini adalah
konformitas teman sebaya yang menyebabkan remaja berusaha mengikuti
atribut yang sedang up to date dengan melakukan pembelian secara
impulsive. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh (Nuraeni, 2015)
menunjukkan bahwa remaja relatif lebih sering membeli produk fashion
dan aksesoris ditambah remaja membeli barang-barang tersebut ketika
bersama dengan teman-temannya kemudian membandingkan kepemilikan
barang yang dimilikinya dengan milik temannya.
Seharusnya dengan perkembangan kognitif remaja yang bisa
dibilang seperti pola berpikirnya lebih mirip “ilmuwan” (Berk, 2003)
membuat remaja diharapkan mampu membedakan antara kebutuhan dan
keinginan yang perlu [Link] dalam berbelanja juga seharusnya
didasarkan motif yang bersifat rasional, yakni yang berkaitan dengan
manfaat yang diberikan suatu produk (nilai utilitarian) (Saputra, 2017).
Namun pada kenyataannya remaja akan merasa sangat tertekan dan cemas
apabila tidak diterima, dikeluarkan dan diremehkan oleh kawan-kawan
sebayanya (Santrok, 2007).
Adanya tekanan untuk conform, remaja cenderung mengikuti
kebiasan-kebiasan yang berlaku di kelompok tersebut (Hurlock, 1980).
Oleh karena itu kelompok teman sebaya juga dapat memberikan dampak
negatif dengan membawa nilai-nilai yang negatif pula (Papalia, 1995
dalam Nisfiannoor, 2004).Artinya dengan kenyataan bahwa remaja akan
merasa sangat tertekan dan cemas apabila tidak diterima, dikeluarkan dan
diremehkan oleh kawan-kawan sebayanya (Santrok, 2007), membuat
remaja melakukan identifikasi dengan norma-norma yang berlaku dalam
kelompok dengan tujuan ingin diterima dalam suatu kelompok dalam hal
ini remaja merealisasikan norma-norma dalam kelompok agar diterima
kelompok dengan melakukan pembelian impulsif yang didasari oleh
konfomitas teman sebayanya.
Uraian penjelasan yang telah dijabarkan oleh peniliti menunjukkan
dinamika hubungan yang terjadi antara konformitas teman sebaya dengan
satu variabel terikat yaitu perilaku impulsive buying pada remaja
G. KerangkaKonseptual
Kepribadian Konformitas Teman
Neuroticism Id Psikoanalisa Sebaya
Sigmund Freud
X1 X2
Emosi Negatif Pengambilan Keputusan Pengaruh Tuntutan
Intuitif Emosional Lingkungan Remaja
Depresi, emosional,
khawatir, gugup, tegang
Perilaku Impulsive
Buying
H. Hipotesis
Ada hubungan antara kepribadian neuroticism dan konformitas
teman sebaya terhadap perilaku impulsive buying produk fashion pakaian
pada remaja di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya.