PERTEMUAN 1
PENGOLAHAN AIR BERSIH
A. TUJUAN PRAKTIKUM
Pada pertemuan ini membahas dan mempraaktikkan mengenai pengelohan air bersih.
Yang dimana, mahasiswa/i mampu meningkatakan pengetahuan dan memberikan
pengalaman langsung kepada mahasiswa/i dalam melakukan pengujian kualitas air dan
pengoperasian unit-unit pengolahan air bersih.
Quddus, R. (2014). Teknik pengolahan air bersih dengan sistem saringan pasir lambat
(downflow) yang bersumber dari Sungai Musi. jurnal teknik sipil dan lingkungan, 2(4), 669-
675.
Widyastuti, S., & Sari, A. S. (2011). Kinerja Pengolahan Air Bersih dengan Proses Filtrasi
dalam Mereduksi Kesadahan. WAKTU: Jurnal Teknik UNIPA, 9(1), 43-54.
Nainggolan, A. A., Arbaningrum, R., Nadesya, A., Harliyanti, D. J., & Syaddad, M. A.
(2019). Alat pengolahan air baku sederhana dengan sistem filtrasi. WIDYAKALA JOURNAL:
JOURNAL OF PEMBANGUNAN JAYA UNIVERSITY, 6, 12-20.
.
B. TEORI DAN PRINSIP DASAR PRAKTIKUM
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang
diketahui sampai saat ini di bumi. Air merupakan sumber daya yang sangat diperlukan oleh
makhluk hidup baik untuk memenuhi kebutuhan maupun menopang hidupnya secara alami.
Beberapa sumber air yang tersedia, penduduk Indonesia sebagian besar menggunakan air
permukaan terutama air Sungai dan air sumur. Untuk meningkatkan kebutuhan dasar
masyrakat, mengenai kebutuhan air bersih, maka perlu disesuaikan teknologi yang sesuai
dengan tngkat penguasaan teknologi dalam masyarakat itu sendiri. Zat-zat yang diserap oleh
air alam dapat diklasifikasikan sebagai padatan terlarut, gas terlarut dalam padatan
tesuspensi. Pada umunya, jenis zat pengotor yang terkandung dalam air bergantuk pada jenis
bahan yang berkontak dengan air itu, sedangkan banyaknya zat pengotor bergantung pada
waktu kontaknya.
Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi
kekurangan persediaan air. Hal tersebut terjadi akibat pengelolaan sumber daya air yang
kurang baik, monopolisasi serta privatisasi yang bahkan menyulut konflik. Indonesia telah
memiliki undang-undang nomor 7 tahun 2004 tentang sumber daya air. Namun, masih
terdapat beberapa daerah tidak merasakan air bersih atau air baku yang layak digunakan,
bahkan kekurangan persediaan air. Salah satu teknik pengolahan air yang sangat cocok untuk
memenuhi kebutuhan akan air bersih pada komunitas skala kecil atau skala rumah tangga
adalah system filtrasi. Filtrasi adalah proses pemisahan solid-liquid dengan cara melewatkan
liquid melalui berpori atau bahan – bahan berpori untuk menyisihkan atau menghilangkan
sebanyak – banyaknya butiran – butiran halus zat padat tersuspensi dari liquid. Teknologi
filtrasi yang banyak diterapkan di Indonsia biasanya adalah filtrasi konvensional dengan arah
aliran dari atas ke bawah (Down Flow), sehingga jika kekeruhan air baku naik, terutama pada
waktu hujan, maka sering terjadi penyumbatan pada saringan pasir, sehingga perlu dilakukan
pencucian secara manual. Hal inilah yang sering menyebabkan saringan pasir lambat yang
telah dibangun kurang berfungsi dengan baik, terutama pada musim hujan masyarakat
umunya malas melakukan pemeliharaan akibatnya alat tidak digunakan lagi dan mereka
Kembali memanfaatkan air kotor.
Penyediaan air bersih, selain kuantitasnya, kualitasnya pu harus memenuhi standar yang
berlaku. Standar kualitas air adalah baku mutu yang ditetapkan berdasarkan sifat0sifat fisik,
kimia, radioaktif maupun bakteriologis yang menunjukkan persyaratan kualitas air tersebut.
Dalam mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan air bersihi diperlukan penerapan teknologi
pengolahan air yang sesuai dengan kondisi sumber air baku, kondisi sosial budaya, ekonomi,
dan SDM masyarakat setempat. Air memiliki karakteristik yang khas yang dapat berupa
karakteristik fisik dan kimiawi. Karakteristik fisik terdiri dari kekeruhan, temperatur, warna,
kandungan zat padat, bau dan rasa. Sedangkan karakteristik kimiawi terdiri dari pH, DO
(Dissolved Oxygent), BOD (Biological Oxygent Demand), COD (Chemical Oxygent
Demand), kesadahan, dan senyawa-senyawa kimia beracun seperti Fe dan Mn.
Ada beberapa teknik pengolahan air yang sering digunakan untuk mendpatkan air besih
sesuai dengan standar mutu diantaranya :
1. Teknik koagulasi, yaitu teknik pengolahan air yang diterapkan dengan bantuan
koagulan kimia seperti Polyelektrolit (misalnya: PAC atau Poly Alumunium Chloride,
PAS atau Poly Alumunium Sulfat), garam aluminat (misalnya: alum, tawas), garam
Fe, Khittin, dan sebagainya.
2. Teknik redoks yaitu teknik pengolahan air yang diterapkan dengan bantuan inhibitor
seperti senyawa khlor (misalnya: kaporit), non khlor, atau teknik redoks lainnya.
3. Bioremoval dan Bioremidasi merupakan teknik pengolahan air dengan menggunakan
biomaterial. Biomaterial tesebut antara lain lumur, daun the, sekam padi, dan sabut
kelapa sawit, atau juga dari bahan non material seperti perlit, tanah gambaut, lumpur
aktif dan lain-lain.
4. Reserve osmosis yaitu teknik pengolahan air yang merupakan kebaikan dari proses
osmosis alami. Osmosis adalah perpindahan cairan dari konsentrasi rendah ke
konsentrasi tinggi yang Melawati membrane semipermeabel.
5. Teknik filtrasi atau penyaringan yaitu teknik pengolahan air yang diterapkan dengan
bantuan media filter seperti pasir (misalnya: silika, antrasit), senyawa kimia atau
mineral (misalnya: kapur, zeolite, karbon atif, resin, ion echange), membrane,
biofilter atau teknik filtrasi lainnya.
Adapun penyaringan pada botol bekas sebagai penyaring gair bersih sederhana. Untuk
membuat botol bekas sebagai penyaring gair bersih. bahan yang digunakan adalah air,
kerikil, sabut kelapa, arang, ijuk dan spons. Adapun metode pelaksaan pembuatan alat
saringan air sederhana yaitu :
1. Botol plastil air mineral ukuran 1.500 ml, digunakan sebagai wadah
penyaringan air. Kerikil sebagai penyaring air yang pertama. Sabut kelapa,
sebagai penyaring air tingkat kedua, ijuk sebagai penyaring ketiga, arang
sebagai penyaring keempat, spon sebagai penyaring air terakhir atau paling
bawah. Bak penampung berguna untuk menampung air hasil saringan, bak
penampung dapat menggunakan mangkok atau alat yang lainnya.
2. Langkah kerja : untuk memastikan bahan-bahan yang kita gunakan benar-
benar bersih, cuci bersih semua bahan yang akan digunakan kemudia
keringkan. Ambil botol plastik air mineral bekas ukuran 1.500 ml atau ukutan
1,5 liter. Botong bagian dasarnya menggunakan gunting atau cuter. Buka tutup
botol, lalu tempatkan botol air di baik penampungnya secara terbalik pegang
botol air mineral supaya tidak roboh saat dilakukan pengisian bahan-bahan
penyaring air.
3. Susunlah bahan-bahan yang diperlukan sesuai urutan yaitu paling atas adalah
kerikil, sabtu kelapa, arang, ijuk, dan terakhir adalah spons. Letakkan bak
penampung di bawah botol untuk menampung air hasil saringan. Tuangkan
beberapa gayung air kotor perlahan melalui botol penyaring. Secara terus
menerus, tuang air kotor tersebut hingga air yang tertampung berubah menjadi
jernih. Apabila hasil saringan masih kurang bersih lakukan penyaringan sekali
lagi agar mendapatkan air yang benar-benar bersih.
4. Setelah melakukan penyaringan air dengan menggunakan alat sederhana tugas
selanjutnya adlaah membuat laporan hasil pengamatan. Salah satu bagian
dalam pengamatan berisi tentang hasil pengamatan dan kesimpulan. Hasil
pengamatan hasil penjernihan air dapat dilihat melalui gambar sebelumnya.
Dimana air yang semula warnanya keruh berubah menjadi lebih bening. Hal
ini karena bahan-bahan yang digunakan, seperti batu kerikil, sabtu kelapa,
arang, ijuk, dan spons.
5. Adapaun batu-batu kerikil dan sabut kelapa yang digunakan pada alat
penjernihan air sederhana tersebut adalah untuk menyaring material-material
yang berukuran besar. Contoh : dan-daun, lumur, ganggang dan lain-;ain.
Sementara arang, ijuk, dan spons berfungsi untuk menyaring atau
menghilangkan bau, warna, zat pencemar dalam air, sebagai pelindung dan
penukaran resin dalam alat penyulingan air.
Keberadaan air bersih ditengah-tengah masyarakat ini menjadi hal yang penting bagi
kesehatan masyarakat terutama di daerah yang mengalamai kesulitan air besih. Air yang
bersih adalah ar yang sehat uang dipergunakan untuk kegiiatan manusia dan harus bebasa dari
kuman-kuman penyebab penyakit, bebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari air
bersih tersebut. Begitu banyak masyarakat Indoneisa yang belum tersentuh akan air besih
yang layak untuk konsumsi. Meskipun alat penyuling air telah ada ditengah masyarakat
namun dinilai sangat terbatas dan hanya digunakan untuk keperluan minum sedangkan
masak, mencuci, dan keperluan lainnya dalam jumalah yang sangat besar maysarakat
terpaksa menggunakan air sumur meskipun air tersebut tidak bersih/jernih, hal ini dilakukan
mengingat harga yang ditawarkan pada tempat penyulingan air sangat mahal, dengan
penerapan teknologi tepat guna “penjernihan air dengan penyaringan” diharapkan dapat
membantu mengurangi beban masyarakat dalam penanganan masalah air bersih.
E. REFERENSI
Wicaksono, B., Iduwin, T., Mayasari, D., Putri, P. S., & Yuhanah, T. (2019). Edukasi alat
penjernih air sederhana sebagai upaya pemenuhan kebutuhan air bersih. Terang, 2(1), 43-52.
Solihin, D., Prasetiyani, D., Sari, A. R., Sugiarti, E., & Sunardi, D. (2020). Pemanfaatan botol bekas
sebagai penyaring air bersih sederhana bagi warga Desa Cicalengka Kecamatan Pagedangan
Kabupaten Tangerang. Dedikasi Pkm, 1(3), 98-102.
Mechram, S., Agustina, R., Hartuti, S., & Ferijal, T. (2023). Aplikasi Penjernihan Air Metode
Penyaringan. JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN
(JP3L), 1(1), 32-36.
Al Farisi, I. S., & Komarudin, N. A. (2024). Analisis Kualitas Air Skala Rumah Tangga Dengan
Menggunakan Metode Filtrasi Sederhana. Environmental Technology Journal, 1(1), 25-28