Analisis Penyebab Tindakan Korupsi: Kesalahan Individu atau Faktor Eksternal?
Korupsi adalah masalah kompleks yang tidak hanya disebabkan oleh individu yang
melakukannya, tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku tersebut.
Dalam konteks ini, penting untuk menganalisis apakah tindakan korupsi murni merupakan
kesalahan individu atau apakah ada andil dari lingkungan luar yang turut mendorong terjadinya
korupsi. Pendekatan ini dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif dalam
memahami dan menangani masalah korupsi.
1. Kesalahan Individu
Pada satu sisi, tindakan korupsi dapat dilihat sebagai kesalahan individu yang bertindak
melanggar hukum dan norma etika. Faktor-faktor yang berperan dalam tindakan korupsi
individu meliputi:
- Motivasi Pribadi: Keserakahan, kebutuhan finansial, atau ambisi untuk mendapatkan
kekayaan dan kekuasaan dengan cara cepat.
- Moral dan Etika: Nilai moral dan etika pribadi yang rendah atau tidak adanya integritas pribadi.
- Rasionalisasi: Kemampuan individu untuk membenarkan tindakan korupsi dengan berbagai
alasan, seperti "semua orang melakukannya" atau "saya berhak atas ini karena gaji saya
rendah".
2. Andil Faktor Eksternal
Namun, korupsi sering kali tidak terjadi dalam vakum. Ada banyak faktor eksternal yang turut
berperan dalam mendorong individu untuk melakukan korupsi:
- Lingkungan Sosial: Lingkaran pertemanan, keluarga, dan kerabat yang mungkin memberikan
tekanan atau dukungan untuk melakukan korupsi. Contohnya, seorang pejabat yang mendapat
tekanan dari keluarga untuk meningkatkan standar hidup mereka.
- Lingkungan Kerja: Budaya organisasi yang tidak sehat, dimana korupsi menjadi praktik umum
dan diterima sebagai bagian dari sistem. Lingkungan kerja yang mendukung korupsi bisa
menciptakan situasi dimana individu merasa terdorong untuk mengikuti arus agar tidak
dikucilkan atau dihukum.
- Tuntutan Atasan: Tekanan dari atasan atau pihak yang berwenang yang mungkin meminta
bagian dari dana proyek atau menggunakan jabatan mereka untuk memaksa bawahannya
melakukan tindakan korupsi. Ini dikenal sebagai korupsi berjamaah, dimana tindakan korupsi
dilakukan secara sistematis dan terorganisir oleh sekelompok orang dalam suatu institusi.
- Sistem dan Regulasi: Sistem birokrasi yang berbelit-belit dan kurang transparan sering kali
mendorong individu untuk mencari jalan pintas melalui suap atau gratifikasi. Kurangnya
pengawasan dan penegakan hukum yang efektif juga membuat individu merasa aman untuk
melakukan korupsi.
Alasan Mengapa Kedua Aspek Ini Penting untuk Dipertimbangkan
Untuk mengatasi masalah korupsi secara efektif, penting untuk mengakui bahwa baik faktor
individu maupun eksternal memiliki peran signifikan. Memahami peran faktor eksternal dapat
membantu dalam merumuskan kebijakan dan strategi yang lebih komprehensif, seperti:
- Reformasi Sistem Birokrasi: Menyederhanakan prosedur administrasi dan meningkatkan
transparansi untuk mengurangi kesempatan korupsi.
- Penguatan Pengawasan: Meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap
tindakan korupsi dengan memperkuat lembaga anti-korupsi dan memastikan adanya
mekanisme pelaporan yang efektif.
- Pendidikan dan Pembentukan Moral: Meningkatkan pendidikan dan kesadaran tentang nilai-
nilai integritas dan etika sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
- Budaya Organisasi yang Sehat: Menciptakan budaya organisasi yang menekankan integritas
dan akuntabilitas, serta memberikan penghargaan kepada pegawai yang berperilaku jujur dan
profesional.
Kesimpulan
Korupsi bukan hanya hasil dari kesalahan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor
eksternal yang mendorong individu untuk melakukan tindakan tersebut. Dengan memahami dan
menangani kedua aspek ini, diharapkan dapat tercipta solusi yang lebih efektif dan
berkelanjutan dalam memberantas korupsi di Indonesia.
Referensi
1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
2. Transparency International (2020). Corruption Perceptions Index 2020.
3. Modul Pembelajaran Hukum Tata Negara dari universitas terkait.
4. Johnston, M. (2005). Syndromes of Corruption: Wealth, Power, and Democracy. Cambridge
University Press.
Pendekatan Kriminologi dalam Memahami Tindak Pidana Korupsi
Dalam memahami fenomena tindak pidana korupsi, teori-teori kriminologi dapat menjadi
kerangka konseptual yang sangat bermanfaat. Salah satu perspektif kriminologi yang
dapat diterapkan adalah teori pembelajaran sosial (social learning theory) yang
dikembangkan oleh Albert Bandura. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku kriminal,
termasuk korupsi, dapat dipelajari melalui proses observasi dan interaksi dengan
lingkungan sosial.
Berdasarkan teori ini, tindak pidana korupsi tidak semata-mata merupakan kesalahan
individual si pelaku, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti keluarga,
teman, rekan kerja, dan lingkungan sosial lainnya. Individu dapat mempelajari dan
menginternalisasi nilai-nilai, norma, dan perilaku koruptif melalui proses modeling,
reinforcement, dan identifikasi dengan orang-orang di sekitarnya yang terlibat dalam
tindak pidana korupsi.
Selain itu, teori kontrol sosial (social control theory) yang dikembangkan oleh Travis
Hirschi juga dapat membantu memahami fenomena korupsi. Teori ini menekankan
pentingnya ikatan individu dengan lembaga-lembaga sosial, seperti keluarga, sekolah,
dan pekerjaan, dalam menghambat perilaku kriminal. Ketika individu memiliki ikatan
yang kuat dengan institusi-institusi sosial, mereka cenderung memiliki komitmen yang
lebih tinggi terhadap norma-norma sosial dan akan lebih menghindari perilaku
menyimpang.
Dalam konteks korupsi, lemahnya ikatan individu dengan institusi sosial, seperti
keluarga yang disfungsional, lingkungan kerja yang koruptif, atau kurangnya
pengawasan dan pengendalian dari pihak berwenang, dapat meningkatkan risiko
individu terlibat dalam tindak pidana korupsi.
Faktor-faktor Pendorong Tindak Pidana Korupsi
Berdasarkan teori-teori kriminologi di atas, dapat diidentifikasi beberapa faktor yang
dapat mendorong terjadinya tindak pidana korupsi, antara lain:
1. Faktor Individual
Lemahnya integritas dan moralitas individu
Rendahnya pemahaman mengenai nilai-nilai etika dan antikorupsi
Adanya rasa keserakahan, materialisme, dan gaya hidup konsumtif
Kurangnya kesadaran akan dampak negatif korupsi bagi masyarakat dan negara
Faktor Keluarga dan Lingkungan Sosial
Adanya pola asuh dan sosialisasi yang permisif terhadap perilaku koruptif dalam
keluarga
Pengaruh teman, rekan kerja, atau lingkungan pertemanan yang terlibat dalam
tindak pidana korupsi
Lemahnya internalisasi nilai-nilai antikorupsi dalam lingkungan sosial
Faktor Organisasi/Kelembagaan
Lemahnya sistem pengendalian internal dan pengawasan dalam organisasi
Kurangnya integritas dan komitmen pimpinan terhadap pemberantasan korupsi
Sistem remunerasi dan insentif yang tidak memadai bagi pegawai
Budaya organisasi yang permisif terhadap praktik korupsi
Faktor Sistem Hukum dan Penegakan Hukum
Lemahnya penegakan hukum dan rendahnya kepastian hukum bagi pelaku
korupsi
Adanya celah hukum dan regulasi yang dapat dimanfaatkan untuk praktik
korupsi
Rendahnya sanksi dan hukuman yang dijatuhkan bagi pelaku korupsi
Faktor Ekonomi dan Politik
Kesenjangan ekonomi dan lapangan pekerjaan yang terbatas
Sistem politik yang tidak transparan dan akuntabel
Kuatnya pengaruh kepentingan ekonomi dan politik dalam pengambilan
keputusan
Dalam studi kasus yang diajukan, terdapat beberapa faktor yang dapat mendorong
terjadinya tindak pidana korupsi, antara lain:
1. Faktor Individual
Lemahnya integritas dan moralitas individu pelaku
Adanya rasa keserakahan dan gaya hidup konsumtif yang tidak sesuai dengan
pendapatan
Faktor Keluarga dan Lingkungan Sosial
Pengaruh lingkungan pertemanan dan rekan kerja yang terlibat dalam praktik
korupsi
Kurangnya internalisasi nilai-nilai antikorupsi dalam lingkungan sosial
Faktor Organisasi/Kelembagaan
Lemahnya sistem pengendalian internal dan pengawasan dalam organisasi
Kurangnya integritas dan komitmen pimpinan terhadap pemberantasan korupsi
Faktor Sistem Hukum dan Penegakan Hukum
Lemahnya penegakan hukum dan rendahnya kepastian hukum bagi pelaku
korupsi
Menurut pendapat saya, tindak pidana korupsi tidak semata-mata merupakan
kesalahan individu pelaku, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang
turut mendorong terjadinya praktik koruptif. Pendekatan kriminologi yang holistik,
dengan memperhatikan aspek individual, sosial, organisasi, hukum, dan ekonomi-
politik, diperlukan untuk memahami dan menanggulangi fenomena korupsi secara
komprehensif.
Daftar Pustaka:
1. Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice-Hall.
2. Hirschi, T. (1969). Causes of Delinquency. University of California Press.
3. Klitgaard, R. (1988). Controlling Corruption. University of California Press.
4. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.