0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
651 tayangan7 halaman

Tugas 2 Hukum Perlindungan Konsumen 118

Dokumen ini membahas hukum perlindungan konsumen dari berbagai aspek hukum seperti perdata, pidana dan administrasi negara. Contoh kasus juga diberikan untuk mengilustrasikan penerapan hukum perlindungan konsumen.

Diunggah oleh

KASIRA
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
651 tayangan7 halaman

Tugas 2 Hukum Perlindungan Konsumen 118

Dokumen ini membahas hukum perlindungan konsumen dari berbagai aspek hukum seperti perdata, pidana dan administrasi negara. Contoh kasus juga diberikan untuk mengilustrasikan penerapan hukum perlindungan konsumen.

Diunggah oleh

KASIRA
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : Bachtiar

NIM : 049019674

TUGAS : II (DUA)

SOAL

1. Contoh Kasus 1
Menurut analisa anda, apakah kasus diatas, nasabah perbankan dapat menuntut ganti
kerugian berdasarkan UUPK?
2. Contoh Kasus 2
Berikan perbedaan disertai contoh berdasarkan analisa anda, hukum perlindungan
konsumen dalam aspek hukum administrasi, aspek hukum pidana dan dari aspek
hukum perdata?
3. Contoh Kasus 3
Menurut analisa anda teori apa saja dalam hal hubungan antara konsumen dan pelaku
usaha biasanya terdapat kausal antara perbuatan dan kerugian serta mengapa
perbuatan melawan hukum tidak diatur secara terperinci dalam undang-undang?

JAWAB

1. Nasabah sebagai konsumen berhak memperoleh penyelesaian permasalahan


konsumennya baik di luar maupun melalui pengadilan, sebagaimana tercantum dalam
peraturan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen pada
Pasal 19 ayat (3), Pasal 45 ayat (1), dan Pasal 47. Setiap konsumen yang dirugikan
berhak menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang menangani perselisihan
konsumen-pelaku usaha, pengadilan umum, atau jika para pihak memilih, di luar
pengadilan, menyelesaikan perselisihan konsumennya. Hal itu tertuang dalam UUPK
Pasal 45 ayat (1). perbedaan pendapat (ayat (2) UUPK Pasal 45). UUPK Pasal 48
menyebutkan, sengketa konsumen yang diselesaikan oleh Pengadilan Negeri (PN)
adalah yang mengacu pada ketentuan umum terkait. Konsumen yang terkena dampak
atau ahli warisnya, sekelompok konsumen yang mempunyai kesamaan kepentingan,
pemerintah dan/atau instansi terkait, atau lembaga perlindungan konsumen non
pemerintah yang menangani sengketa di pengadilan (LPKSM). Konsumen yang
merasa dirugikan berhak menuntut ganti rugi langsung kepada produsen berdasarkan
Pasal 19 ayat (1) dan (3) UU Perlindungan Konsumen. Produsen wajib menanggapi
dan/atau menyelesaikan keluhan dalam waktu tujuh hari setelah transaksi. (Sidabalok
Janus, 2006:130–131). Selain itu, pilihan penyelesaian damai antara pihak-pihak yang
bertikai tidak dikecualikan dalam penyelesaian konsumen.
2. Hukum Perlindungan Konsumen dalam aspek Hukum Perdata
Hukum perlindungan konsumen dalam hukum perdata yakni dalam pengertian hukum
perdata dalam arti luas, yakni hukum perdata yang terdapat dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), Kitab Undang-Undang Hukum Dagang
(KUH Dagang), serta Peraturan PerundangUndangan Nasional yang tergolong dalam
hukum privat. KUH Perdata walaupun tidak secara khusus mengatur menyebutkan
istilah konsumen, tetapi ketentuan- ketentuan dalam KUH Perdata juga mengatur
masalah hubungan antara pelaku usaha. Salah satu aspek hukum privat yang terdapat
dalam Buku III KUH Perdata tentang Perikatan, yakni berkaitan dengan aspek hukum
perjanjian maupun Perbuatan Melawan Hukum (PMH). Selanjutnya, dalam KUH
Dagang yang berkaitan Pengangkutan, Asuransi, dll. Adapun dalam peraturan
perundang-undangan nasional perlindungan konsumen antara lain yang terdapat
dalam UU Pangan.
Contoh kasus :
Kasus gagal bayar perusahaan asuransi milik Grup Bakrie tersebut terjadi pada
produk Diamond Investa yang berjenis unit link (asuransi dan investasi).
Produk tersebut mengalami gagal bayar pada 2008 karena perusahaan terlalu agresif
berinvestasi di pasar saham, pada masa itu saham-saham berguguran karena krisis
global yang dipicu kasus subprime mortgage di Amerika Serikat (AS).
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), yang kini
telah berubah nama menjadi OJK, menyatakan gagal bayar Diamond Investa
mencapai Rp 500 miliar. Untuk menyelesaikan masalah ini dicapai kesepakatan
Bakrie Life akan mencicil kewajiban.
Hukum perlindungan konsumen dalam aspek hukum pidana
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak disebut-sebut kata ”konsumen”.
Kendati demikian, secara implisit dapat ditarik beberapa pasal yang memberikan
perlindungan hukum bagi konsumen, antara lain:
a. Pasal 204: Barangsiapa menjual, menawarkan, menyerahkan atau membagi-
bagikan barang, yang diketahui bahwa membahayakan nyawa atau kesehatan
orang, padahal sifat berbahaya itu tidak diberitakan, diancam penjara paling
lama lima belas tahun. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang, yang
bersalah dikenakan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama
waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.
b. Pasal 205: Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan bahwa barang-
barang yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang dijual, diserahkan
atau dibagi-bagikan tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh yang membeli
atau yang memperoleh, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak tiga
ratus rupiah. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang, yang bersalah
dikenakan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau kurung
paling lama satu 12 tahun. Barang-barang itu dapat disita.
c. Pasal 359: Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling
lama satu tahun (LN 1906 No.1).
d. Pasal 360: Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain
mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun atau kurungan paling lama satu tahun. Barangsiapa karena kealpaannya
menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit
atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu
tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah
e. Pasal 382: barangsiapa menjual, menawarkan atau menyerahkan makanan,
minuman atau obat-obatan yang diketahui bahwa itu dipalsu, dan
menyembunyikan hal itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun. Bahan makanan, minuman atau obat-obatan itu dipalsu, jika nilainya
atau faedahnya menjadi kurang karena dicampur dengan sesuatu bahan lain.
f. Pasal 382 bis: Barangsiapa untuk mendapatkan, melangsungkan atau
memperluas debit perdagangan atau perusahaan kepunyaan sendiri atau orang
lain, melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau
seorang tertentu diancam, jika karenanya dapat timbul kerugian bagi,
konkirenkonkirennya atau konkirenkonkiren orang lain itu, karena persaingan
curang, dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda
paling banyak sembilan ratus rupiah.
g. Pasal 383: Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat
bulan, seorang penjual yang berbuat curang terhadap pembeli: (1) karena 13
sengaja menyerahkan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli, (2)
mengenai jenis keadaan atau banyaknya barang yang diserahkan, dengan
menggunakan tipu muslihat.
h. Pasal 390: Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau
orang lain secara melawan hukum, dengan menyiarkan kabar bohong
menyebabkan harga barangbarang dagangan, dana-dana atau surat-surat
berharga menjadi turun atau naik, diancam dengan pidana penjara paling lama
dua tahun delapan bulan.

Diluar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat banyak sekali ketentuan


pidana yang beraspekkan perlindungan konsumen. Lapangan pengaturan yang paling
luas kaitannya dengan hukum perlindungan konsumen terdapat pada bidang
kesehatan. Termasuk dalam kelompok ini adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1996 tentang Pangan, yang berlaku sejak 4 November 1996.

Contoh kasus : Di kota Palembang telah dijatuhkan hukum badan 14 (hukum pidana
antara lain dalam kasus tahu berfomalin). Terhadap bahan pengawet tahu dengan
menggunakan formalin sudah pernah dijatuhkan hukuman oleh Pengadilan Negeri
Palembang dengan menjatuhkan hukuman 3 tahun penjara tahun 2006.

Hukum perlindungan konsumen dalam aspek hukum administrasi negara.

Sanksi-sanksi hukum secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif jika tidak
disertai sanksi administratif. Sanksi administratif tidak ditujukan pada konsumen pada
umumnya, tetapi justru kepada pengusaha, baik itu produsen maupun para penyalur
hasil-hasil produknya. Sanksi administratif berkaitan dengan perijinan yang diberikan
Pemerintah Republik Indonesia kepada pengusaha/penyalur tersebut. Jika terjadi
pelanggaran, ijin-ijin itu dapat dicabut secara sepihak oleh Pemerintah. Pencabutan
ijin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dan produsen/penyalur. Produksi
di sini harus diartikan secara luas, dapat berupa barang atau jasa. Dengan demikian,
dampaknya secara tidak langsung berarti melindungi konsumen. Campur tangan
administratur negara idealnya harus dilatarbelakangi itikad melindungi masyarakat
luas dan bahaya.

Contoh kasus: Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan
karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik
dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl
parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya
hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat (08/10/2010) pihak
Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran.
Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak
memasarkan produk dari Indomie. Taiwan menggunakan standar yang berbeda yang
melarang zat mengandung Methyl P-Hydroxybenzoate yang dilarang di Taiwan. Hal
ini yang dijadikan pokok masalah penarikan Indomie. Oleh karena itu akan dilakukan
penyelidikan dan investigasi yang lebih [Link] menyikapi hal tersebut PT
Indofood Sukses Makmur mencantumkan segala bahan dan juga campuran yang
dugunakan dalam bumbu produk indomie tersebut sehingga masyarakat atau
konsumen di Taiwan tidak rancu dengan berita yang dimuat di beberapa pers di
Taiwan.

Berdasarkan rilis resmi Indofood CBP Sukses Makmur, selaku produsen Indomie
menegaskan, produk mie instan yang diekspor ke Taiwan sudah memenuhi peraturan
dari Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan. BPOM juga telah
menyatakan Indomie tidak berbahaya.

3. Hubungan kausal antara perbuatan yang dilakukan dengan kerugian yang terjadi,
merupakan syarat dari suatu perbuatan melawan hukum. Untuk hubungan sebab
akibat ada 2 macam teori, yaitu:
a. Teori Hubungan Faktual
Teori Condition Sine Qua Non dari Von Buri, seorang ahli hukum
Eropa Kontinental yang merupakan pendukung teori faktual ini. menyatakan:
“suatu hal adalah sebab dari akibat, sedangkan suatu akibat tidak akan terjadi
bila sebab itu tidak ada.”
Menurut teori ini orang yang melakukan perbuatan melawan hukum selalu
bertanggungjawab, jika perbuatan Condition Sine Qua Non menimbulkan
kerugian.
Hubungan sebab akibat secara faktual (caution in fact) hanyalah merupakan
masalah fakta atau yang secara faktual telah terjadi. Setiap penyebab yang
menimbulkan kerugian adalah penyebab faktual. Dalam perbuatan melawan
hukum, sebab akibat jenis ini sering disebut hukum mengenai ” but for ” atau
” sine qua non ” .
b. Teori Adequate Veroorzaking.
Teori Adequate Veroorzaking dari Van Kries, menyatakan:
“Suatu hal adalah sebab dari suatu akibat bila menurut pengalaman
masyarakat dapat diduga, sebabt itu akan diikuti oleh akibat itu.
Menurut teori ini orang yang melakukan perbuatan melawan hukum hanya
bertanggungawab untuk kerugian, yang selayaknya diharapkan sebagai akibat
dari perbuatan melawan hukum.
Menurut Vollmar:
“Terdapat hubungan kausal, jika kerugian menurut aturan pengalaman secara
layak merupakan akibat yang dapat diharapkan akan timbul dari perbuatan
melawan hukum” Perbuatan melawan hukum juga terdapat dalam sengketa
tanah, dalam hal ini jika ada pihak yang melanggar hak orang lain misalnya
saja menempati tanah tanpa ijin pemiliknya apalagi sampai membangun
rumah dan menyewakan rumah tersebut pada orang lain, maka pihak yang
merasa dirugikan berhak mengajukan gugatan di pengadilan untuk objek
sengketa tersebut.
c. Teori Sebab Kira-kira (proximately cause ).
Teori ini, adalah bagian yang paling membingungkan dan paling
banyak pertentangan mengenai perbuatan melawan hukum ini. Kadang-
kadang teori ini disebut juga teori legal cause, penulis berpendapat , semakin
banyak orang mengtahui hukum, maka perbuatan melawan hukum akan
Semakin berkurang. Mencegah melakukan perbuatan melawan hukum, jauh
lebih baik daripada menerima sanksi hukum.

Mengapa perbuatan melawan hukum tidak diatur secara terperinci dalam


undang-undang? Perbuatan Melawan Hukum dalam Hukum Perdata
Dalam konteks hukum perdata, perbuatan melawan hukum
dikenal dengan istilah onrechtmatige daad. Sebagaimana diatur dalam Pasal
1365 KUH Perdata, perbuatan melawan hukum adalah:
Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang
lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya
untuk menggantikan kerugian tersebut.
Menurut Rosa Agustina, dalam bukunya Perbuatan Melawan Hukum
dipaparkan bahwa dalam menentukan suatu perbuatan dapat dikualifisir
sebagai melawan hukum, diperlukan 4 syarat:
1. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku;
2. Bertentangan dengan hak subjektif orang lain;
3. Bertentangan dengan kesusilaan;
4. Bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian.
Mariam Darus Badrulzaman dalam bukunya KUH Perdata Buku III Hukum
Perikatan Dengan Penjelasan, sebagaimana dikutip oleh Rosa Agustina,
menguraikan unsur-unsur perbuatan Melawan hukum yang harus dipenuhi,
antara lain :
a. Harus ada perbuatan (positif maupun negatif);
b. Perbuatan itu harus melawan hukum;
c. Ada kerugian;
d. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan melawan hukum itu
dengan kerugian;
e. Ada kesalahan.

Anda mungkin juga menyukai