0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
374 tayangan5 halaman

Sesi 6

Dokumen ini membahas tentang force majeure atau keadaan memaksa dalam hukum perjanjian di Indonesia. Keadaan memaksa adalah kondisi di mana debitur gagal memenuhi kewajibannya karena peristiwa di luar kendalinya. Dokumen ini menjelaskan ketentuan force majeure dalam KUHPerdata dan kategori-kategori keadaan memaksa.

Diunggah oleh

warungmbasil
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
374 tayangan5 halaman

Sesi 6

Dokumen ini membahas tentang force majeure atau keadaan memaksa dalam hukum perjanjian di Indonesia. Keadaan memaksa adalah kondisi di mana debitur gagal memenuhi kewajibannya karena peristiwa di luar kendalinya. Dokumen ini menjelaskan ketentuan force majeure dalam KUHPerdata dan kategori-kategori keadaan memaksa.

Diunggah oleh

warungmbasil
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dalam suatu perjanjian kadang terjadi keadaan memaksa (force majeur/overmacht).

Bila terjadi kondisi seperti ini siapakah yang dapat dimintai pertanggungjawaban
dan berikan penjelasan mengacu pada ketentuan yang berlaku?

Jawaban

Dalam KUH Perdata, menyatakan bahwa overmacht adalah “keadaan di mana


debitur terhalang memberikan sesuatu atau melakukan sesuatu atau melakukan
perbuatan yang dilarang dalam perjanjian”. Pengertian ini kemudian disesuaikan
dengan terminologi yang digunakan, yaitu keadaan paksa.

Force Majeure atau keadaan memaksa (overmacht) adalah keadaan di mana debitur
gagal menjalankan kewajibannya pada pihak kreditur dikarenakan kejadian yang
berada di luar kuasa pihak yang bersangkutan, misalnya karena gempa bumi, tanah
longsor, epidemik, kerusuhan, perang, dan sebagainya.

Ketentuan mengenai force majeure diatur dalam pasal 1244 KUHPerdata dan pasal
1245 KUHPerdata. Berikut adalah kutipannya:

Pasal 1244

“Jika ada alasan untuk itu, si berutang harus dihukum mengganti biaya, rugi, dan
bunga apabila ia tak dapat membuktikan, bahwa hal tidak atau tidak pada waktu
yang tepat dilaksanakannya perikatan itu, disebabkan suatu hal yang tak terduga,
pun tak dapat dipertanggungjawabkan padanya, kesemuanya itu pun jika itikad
buruk tidaklah ada pada pihaknya.”

Pasal 1245

“Tidak ada penggantian biaya, kerugian, dan bunga, bila karena keadaan memaksa
atau karena hal yang terjadi secara kebetulan, debitur terhalang untuk memberikan
atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau melakukan suatu perbuatan yang
terlarang baginya“.

Dalam ketentuan ini, ada 5 hal yang menyebabkan debitur tidak dapat melakukan
penggantian biaya, kerugian, dan bunga, yakni:
• Terjadi suatu peristiwa yang tidak terduga (tidak termasuk dalam asumsi dasar
dalam pembuatan kontrak)
• Peristiwa yang terjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan pada pihak debitur
• Peristiwa yang terjadi di luar kesalahan pihak debitur
• Peristiwa yang terjadi di luar kesalahan para pihak yang terkait
• Tidak ada itikad yang buruk dari pihak debitur

Tidak ada satu pihakpun yang beritikad baik dalam perjanjian menginginkan
terjadinya keadaan yang bakal mengganggu terlaksananya perjanjian, sehingga
ketika terjadi keadaan memaksa, maka akan ada pihak yang dirugikan dan
bagaimana penyelesaian atas risiko-risiko yang terjadi karena keadaan memaksa.
Dari permasalahan tersebut, maka perlu diketahui terlebih dahulu kondisi-kondisi
seperti apa sajakah yang bisa dikategorikan sebagai keadaan memaksa.

Merujuk pada pengklasifikasian jenis keadaan memaksa yang disebutkan oleh


Soemadipradja (2010) maka dapat diperoleh kategori-kategori yang dapat dikatakan
sebagai sebuah keadaan memaksa, yaitu:
• Berdasarkan penyebab: Overmacht karena keadaan alam, keadaan darurat,
karena musnahnya atau hilangnya barang objek perjanjian, karena perubahan
kebijakan atau peraturan pemerintah.
• Berdasarkan sifat: Bersifat tetap bahwa suatu perjanjian tidak mungkin
dilaksanakan atau tidak dapat dipenuhi sama sekali, bersifat sementara adalah
keadaan memaksa yang mengakibatkan pelaksanaan suatu perjanjian ditunda
daripada waktu yang ditentukan.
• Berdasarkan objek: bisa mengenai seluruh prestasi atau sebagian prestasi yang
tidak dilaksanakan oleh debitur
Berdasarkan subjek: a) objektif adalah keadaan memaksa yang menyebabkan
pemenuhan prestasi tidak mungkin dilakukan oleh siapa pun dikarenakan
ketidakmungkinan (imposibilitas); b) subjektif yaitu terjadi ketika pemenuhan prestasi
menimbulkan kesulitan pelaksanaan bagi debitur tertentu. Debitur masih mungkin
memenuhi prestasi, tetapi dengan pengorbanan yang besar yang tidak seimbang,
atau menimbulkan bahaya kerugian yang besar sekali bagi debitur. Keadaan ini di
dalam sistem Anglo–American disebut hardship yang menimbulkan hak untuk
negosiasi kembali.
• Berdasarkan ruang lingkup: a) Umum, dapat berupa iklim, kehilangan, dan
pencurian; b) Khusus, dapat berupa berlakunya suatu peraturan (Undang-Undang
atau Peraturan Pemerintah). Dalam hal ini, prestasi bukan tidak dapat dilakukan,
tetapi prestasi tidak boleh dilakukan.
• Kriteria lain dalam ilmu hukum kontrak : terdiri atas ketidakmungkinan,
ketidakpraktisan, frustrasi terhadap maksud kontrak

Dari kategori tersebut, maka para pihak dapat mempertimbangkan kondisi-kondisi


yang seperti apa sajakah yang kiranya akan dapat diklaim oleh debitur sebagai
keadaan memaksa. Hal ini dapat dipakai sebagai antisipasi oleh kreditur tentang
tidak dapat dipenuhinya prestasi dalam kontrak oleh debitur dengan alasan keadaan
memaksa, yang bisa saja akan dijadikan pertimbangan oleh hakim saat kreditur dan
debitur membawa sengketa mereka ke pengadilan.

Masalah overmacht sebenarnya berada diantara siapa yang menanggung kerugian


terlepas dari siapa yang salah serta masalah resiko dan kesalahan (schuld).

Sumber :
Syarifah, Nur, dkk. 2019. Hukum Perjanjian. Universitas Terbuka. Tanggerang
Selatan.
[Link]
[Link]
%20keadaan%20memaksa,kerusuhan%2C%20perang%2C%20dan%20sebagainya

Jawaban lain :

Pertanggungjawaban Force Majeure (keadaan darurat)

Tanggung jawab adalah kewajiban menanggung segala sesuatunya bila terjadi


sesuatu dapat dituntut, dipersalahkan, dan diperkarakan. Pertanggungjawaban
dibagi menjadi dua macam, yaitu kesalahan dan risiko. Dengan demikian dikenal
dengan pertanggungjawaban atas dasar kesalahan (lilability without based on fault)
dan pertanggungjawaban tanpa kesalahan yang dikenal (lilability without fault) yang
disebut dengan tanggung jawab risiko atau tanggung jawab mutlak (strick liabiliy).

Prinsip dasar pertanggungjawaban atas dasar kesalahan mengandung arti bahwa


seseorang harus bertanggung jawab karena ia melakukan kesalahan karena
merugikan orang lain. Sebaliknya prinsip tanggung jawab risiko adalah bahwa
konsumen penggugat tidak diwajibkan lagi melainkan produsen tergugat langsung
bertanggung jawab sebagai risiko usahanya.

Force majeure (keadaan darurat) adalah keadaan tidak dapat terpenuhinya prestasi
oleh debitur karena terjadi suatu peristiwa diluar dugaan (kendali) debitur yang mana
keadaan atau peristiwa tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada debitur.
Dalam hal ini, debitur tidak dalam keadaan beriktikad buruk sebagaimana di atur
dalam Pasal 1338 KUHPerdata.

Force majeure (keadaan darurat) memunculkan perlindungan dari suatu kerugian


yang disebabkan oleh kebakaran, banjir, gempa, hujan badai, angin topan,
pemadaman listrik, kerusakan katalisator, sabotase, perang, invasi, perang saudara,
pemberontakan, revolusi, kudeta militer, dan lain-lain. Secara umum, ketentuan
Force majeure (keadaan darurat) dalam Hukum Perdata diatur dalam Pasal 1244 s/d
Pasal 1245 KUHPerdata.

Pasal 1244 KUHPerdata berbunyi "Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya,
kerugian dan bunga. bila ia tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya
perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu
disebabkan oleh sesuatu hal yang tak terduga, yang tak dapat dipertanggungkan
kepadanya. walaupun tidak ada itikat buruk kepadanya." Unsur-unsur keadaan
memaksa menurut ketentuan diatas meliputi :

 Suatu hal yang tak terduga, contoh Tito dan Ana melakukan perjanjian jual-
beli kursi kayu. Tito mengirimkan kursi kayu tersebut melalui pesawat kargo
yang tak disangka mengalami kecelekaan udara. Kecelakaan udara tersebut
dapat dikatakan sebagai suatu hal yang tak terduga

 Tidak dapat dipertanggungkan kepada debitur, contohnya Alina memiliki


usaha souvenir pernikahanan. Pada suatu hari, Sandra yang akan
melangsungkan pernikahan membeli souvenir pernikahan sebanyak 1000 pcs
kepada Alina. Ketika pengantaran berlangsung, mobil Alina mengalami
kecelakaan yang cukup serius sehingga Alina tidak dapat mengantar pesanan
Sandra tepat waktu. Untuk itu, Alina segera meminta maaf kepada Sandra
dan meminta agar tidak dimintai ganti rugi dengan alasan telah terjadi
keadaan memaksa.

 Tidak ada itikad buruk pada debitur.

Pasal 1245 KUHPerdata berbunyi "Tidak ada penggantian biaya. kerugian dan
bunga. bila karena keadaan memaksa atau karena hal yang terjadi secara
kebetulan, debitur terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang
diwajibkan, atau melakukan suatu perbuatan yang terlarang baginya". Unsur-unsur
keadaan memaksa menurut ketentuan diatas meliputi :

 Terjadi secara kebetulan

 Debitur terhalang melakukan prestasi

 Debitur terhalang melakukan suatu perbuatan.

Selain ketentuan di atas, keadaan memaksa juga tercantum dalam Pasal 1444 s/d
Pasal 1445 KUHPerdata :

Pasal 1444 KUHPerdata meliputi :

 Jika barang tertentu yang menjadi pokok persetujuan musnah, tak dapat
diperdagangkan, atau hilang hingga tak diketahui sama sekali apakah barang
itu masih ada, atau tidak, maka hapuslah perikatannya, asal barang itu
musnah atau hilang di luar kesalahan debitur dan sebelum ia lalai
menyerahkannya.

 Bahkan meskipun si berutang (debitur) lalai menyerahkan suatu barang


sedangkan ia tidak telah menanggung terhadap kejadian-kejadian yang tidak
terduga, perikatan tetap hapus jika barang itu akan musnah juga dengan cara
yang sama di tangan kreditur, seandainya barang tersebut sudah diserahkan
kepadanya.

 Debitur diwajibkan membuktikan kejadian yang tidak terduga yang


dimajukannya itu.

Dalam Pasal 1445 KUHPerdata menyatakan bahwa jika barang yang terutang
musnah, tak lagi dapat diperdagangkan, atau hilang di luar kesalahan debitur, maka
debitur, jika ia mempunyai hak-hak atau tuntutan ganti rugi mengenai barang
tersebut, diwajibkan memberikan hak dan tuntutan tersebut kepada kreditur (orang
yang mengutangkan kepadanya)

Jawaban :

Syarifah, Nur. Perdana, Reghi. 2022. Hukum Perjanjian. Tangerang Selatan:


Penerbit Universitas Terbuka.
[Link]
[Link]

PermalinkShow parent

Anda mungkin juga menyukai