Tugas III
Mata kuliah:Teori kriminologi
Nama. :Sinta permatasari
Nim. :049226631
UPBJJ. : Bengkulu
Prodi. :S1 Ilmu hukum
Saudara mahasiswa, pada tugas tutorial ketiga ini saya minta Anda membuat atau menulis
Essay mengenai dampak dari merebaknya wabah Covids 19 berkaitan dengan meningkatnya
kasus percobaan bunuh diri dan atau kasus bunuh diri
Petunjuk pengerjaan, panjang essay maksimal 2 halaman, Font Arial 11, spasi 1,5. Waktu
pengumpulan tugas tutorial Maksimal 2 minggu setelah soal ini dibuat/dipublikasi.
Jawaban :
Wabah Covid-19 telah memberikan dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan
manusia di seluruh dunia. Selain dampak kesehatan yang nyata, penyebaran virus ini juga
berdampak pada kesejahteraan mental masyarakat. Salah satu dampak yang serius adalah
meningkatnya kasus percobaan bunuh diri dan kasus bunuh diri.
Sebagai contoh Pada 31 Desember 2019 lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima
laporan kasus.pneumonia di kota Wuhan, provinsi Hubei, China. Awal Januari 2020, China
mengidentifikasi telah menemukan virus penyakit virus corona, penyakit yang menyerang
saluran pernapasan. Sejauh yang kita tahu virus corona atau covid-19 sudah menyebar di
berbagai negara, kurang dari dua bulan kemudian, virus tersebut menyerang lebih dari 100
negara, termasuk Indonesia) menewaskan lebih dari 3.800 orang, dan menginfeksi lebih dari
111.000. orang-orang. Dampak yang ditimbulkan oleh virus ini sangat beragam, misalnya di
masyarakat, ekonomi, pendidikan, pekerjaan, politik, dll. Misalnya di negara maju pemerintah
membuat kebijakan Lockdown agar warganya tidak keluar rumah untuk mengurangi penyebaran
dari covid-19. Indonesia juga menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang
dibuat oleh pemerintah.
Berikut beberapa contoh dampak virus Covid-19 terhadap kehidupan
-Dampak pada masyarakat
Awal mula kasus Covid-19 di Indonesia membuat banyak warga takut sekaligus was-was
karena virus ini sangat menular. Dampaknya terhadap masyarakat, pembatasan sosial ini
dilakukan oleh pemerintah, ketika keluar rumah harus selalu memakai masker, menjaga
jarak 1 meter dari satu sama lain, dan juga sering mencuci tangan pakai sabun selama 20 detik.
Kebiasaan baru ini harus kita terapkan untuk mengurangi penularan virus covid-19.
-Dampak terhadap ekonomi
Keuntungan yang diperoleh pelaku usaha mengalami penurunan akibat wabah Covid-19, baik
dari sektor pariwisata maupun sektor penerbangan sepi penumpang akibat kebijakan social
distancing. Di sektor industri pabrik, produksi juga mengalami penurunan akibat banyaknya
karyawan yang di-PHK (PHK) serta dipulangkan oleh perusahaan sehingga mengakibatkan
banyak orang menganggur. Waralaba atau warung kecil juga diberikan kebijakan pemerintah
yang biasanya buka dari jam 08.00 – 20.00 dikurangi jam buka sampai jam 08.00 – 15.00 WIB.
Penggunaan uang digital untuk membeli barang, karena uang kertas merupakan perantara
penyebaran virus covid-19 yang mudah menular sehingga banyak orang menggunakan uang
digital untuk menghindari penularan virus covid-19.
-Dampak pada pendidikan
Ketika wabah covid-19 menyerang Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) menyatakan bahwa sekolah atau bidang pendidikan lainnya menyelenggarakan
sistem pembelajaran jarak jauh / online, yang kini biasa disebut School From Home (SFH).
Melalui sistem ini, semua materi dan tugas dibagikan secara online. Hampir semua sekolah dan
universitas tutup sementara agar kegiatan belajar langsung (tatap muka) tidak memperburuk
infeksi virus covid-19.
-Dampak pada pekerjaan
Tidak hanya sekolah yang dilakukan secara online, namun di tempat kerja sistem Work From
Home (WFH) juga diterapkan. Hal ini berdampak pada orang yang bekerja di area perkantoran.
Terkadang pekerja kantoran memiliki jadwal piket sehingga saat di area kerja tidak banyak
orang yang berkerumun dan juga dapat memutus mata rantai penyebaran virus.
Selain dari dampak external diatas, terdapat juga beberapa dampak internal dari pandemic
Covid-19 ini, salah satunya adalah kesehatan mental. Kesehatan mental yang terserang ini
menyebabkan maraknya kasus bunuh diri dimasa pandemi ini. Pandemi Covid-19 yang masih
berlangsung hingga hari ini ternyata memberikan kontribusi pada kasus bunuh diri di
Yogyakarta bahkan di Indonesia, faktor ekonomi dan faktor akses Pendidikan yang diduga
menjadi penyebab terbanyak dari kasus bunuh diri di era pandemic, anggapan tersebut diambil
dari hasil temuan TKP ataupun dari data anamnesis keluarga dan orang terdekat korban. Dalam
penelitian ini ditemukan angka bunuh diri meningkat (1,8%) pada tahun 2015, dan pada tahun
2016 (2,86%). Dan angka bunuh diri pada masa pandemic yaitu pada 28 Maret 2020 hingga
agustus 2020 meningkat pada wanita (23,9%). Kenaikan angka bunuh diri disebabkan oleh
suasana hati, koping stress dan kecemasan karna kehilangan pekerjaan, masalah keuangan dan
putus hubungan. Ditemukan juga kasus bunuh diri pada masa pandemic COVID-19 yang
disebabkan karena ketakutan atau kecemasan terhadap penularan. Korban berpikir bahwa
dirinya akan menularkan virus ke orang lain, dan hal itu yang membuat korban akhirnya bunuh
diri. Dampak dari Pandemi COVID-19 terjadi peningkatan pengangguran yang cepat dari
sebelumnya. Peningkatan pengangguran menyebabkan ketidakstabialan ekonomi dan bisa
berdampak depresi sehingga beresiko tinggi pada tindakan bunuh diri. Hasil ini menunjukan
peran psikologis Dapat memperburuk dampak dari COVID-19 yaitu stress yang berujung dengan
kematian. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, oleh sebab itu peran pemerintah sangat
diperlukan dalam upaya maksimal untuk memberikan edukasi, advokasi dan berbagai upaya
preventif lainnya untuk mengurangi dampak akibat gangguan jiwa. Upaya yang dirasakan
sangat efektif dan efisien adalah deteksi dini gangguan depresi di masyarakat. Dengan
memberikan pelatihan dan ketrampilan mendiagnosis depresi secara cepat serta tepat kepada
dokter umum di pusat pelayanan kesehatan primer (Puskesmas/klinik umum), diharapkan
dapat menekan angka kematian akibat depresi berat yaitu bunuh diri. Tidak kalah pentingnya
adalah advokasi kepada para tokoh masyarakat dan keluarga untuk mengenal gejala dini dari
berbagai gangguan jiwa, khususnya depresi. Sehingga jika ada anggota keluarganya yang mulai
tampak terjadi perubahan perilaku ke arah berbagai gejala depresi, maka sesegera
mungkinmembawanya ke pusat pelayanan kesehatan.
-Peningkatan Stres dan Kecemasan
Merebaknya wabah Covid-19 telah menciptakan situasi yang tidak biasa dan tidak stabil di
seluruh dunia. Pemerintah di banyak negara menerapkan kebijakan lockdown dan penghentian
sosial untuk menghentikan penyebaran virus. Kebijakan ini berdampak pada banyak aspek
kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan, pendidikan, dan kebebasan berinteraksi sosial.
Ketidakpastian ekonomi dan kesehatan yang dihadapi banyak orang telah menciptakan tingkat
stres dan kecemasan yang tinggi.
-Isolasi dan Keterbatasan Sosial
Salah satu langkah pencegahan yang diambil oleh pemerintah adalah membatasi kegiatan
sosial dan mendorong isolasi diri. Hal ini berdampak pada hilangnya dukungan sosial dan
interaksi antar individu. Banyak orang yang mengalami kesepian dan merasa terlindungi akibat
sengatan ini. Kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko depresi dan
kecenderungan untuk mempertimbangkan bunuh diri.
-Krisis Ekonomi
Wabah Covid-19 juga telah menyebabkan krisis ekonomi global. Banyak perusahaan mengalami
penurunan pendapatan atau bahkan penutupan secara permanen. Banyak pekerja kehilangan
pekerjaan dan menghadapi kesulitan keuangan. Ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran akan
masa depan finansial dapat menyebabkan tekanan mental yang berat. Ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar juga dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko bunuh diri.
-Akses Terbatas pada Layanan Kesehatan Mental
Selama wabah Covid-19, akses terhadap layanan kesehatan mental menjadi terbatas. Banyak
rumah sakit dan klinik mengalihkan sumber daya mereka untuk merawat pasien Covid-19,
sehingga menyebabkan penurunan akses terhadap layanan kesehatan mental. Banyak terapi
dan konselor juga beralih ke sesi online, yang mungkin tidak sesuai atau efektif bagi semua
individu. Kurangnya akses terhadap layanan kesehatan mental dapat menghalangi individu
untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.
-Upaya Pencegahan dan Dukungan yang Diperlukan
Menghadapi meningkatnya kasus percobaan bunuh diri dan kasus bunuh diri, penting bagi
pemerintah dan masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan yang memadai.
Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:
1.)Tersedianya akses yang memadai terhadap layanan kesehatan mental, termasuk konseling
dan terapi.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental dan cara
mengatasi stres dan kecemasan selama masa krisis.
2.)Mendorong inisiatif solidaritas dan dukungan sosial untuk individu yang merasa terlindungi
dan kesepian.
3.)Menolak kebijakan lockdown dan kebijakan sosial dengan tidak mengabaikan aspek
kesejahteraan mental masyarakat.
4.)Melibatkan komunitas dalam upaya pencegahan bunuh diri, dengan melibatkan fasilitator
lokal, keluarga, dan teman-teman.
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Merebaknya wabah Covid-19 telah memberikan dampak
yang signifikan terhadap kesejahteraan mental masyarakat. Tingkat stres, kecemasan, dan
ketidaknyamanan yang tinggi, bersama dengan isolasi sosial dan krisis ekonomi, telah
berkontribusi pada peningkatan kasus percobaan bunuh diri dan kasus bunuh diri. Upaya
pencegahan dan dukungan yang memadai diperlukan untuk melawan tren ini. Penting bagi
pemerintah dan masyarakat untuk bekerja sama dalam memastikan akses terhadap layanan
kesehatan mental dan dukungan sosial yang mampu bagi individu yang sakit.
Dampak Merebaknya COVID-19 pada Kasus Percobaan dan Bunuh Diri
Merebaknya COVID-19 telah memberikan dampak yang signifikan pada kesehatan mental
masyarakat di seluruh dunia. Pandemi ini telah menyebabkan peningkatan kasus percobaan
dan bunuh diri.
Percobaan bunuh diri adalah situasi ketika seseorang melakukan sesuatu untuk mengakhiri
hidupnya sendiri. Situasi ini dapat dipicu oleh kondisi perasaan dan kejiwaan seseorang, atau
masalah dalam kehidupan.
Berdasarkan data WHO, lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya.
Data tersebut belum termasuk angka penderita yang gagal saat mencoba bunuh diri. Pada
tahun 2019, bunuh diri menjadi penyebab kematian keempat terbanyak pada kelompok usia
15–29 tahun
Beberapa faktor yang menyebabkan kasus percobaan bunuh diri dimasa covid 19 dan cara
penanggulangannya.diantara lain:
1.)Isolasi sosial dan kecemasan
Pandemi ini telah memaksa banyak orang untuk menjalani isolasi sosial dan mengalami
kecemasan yang tinggi. Rasa kesepian dan kekhawatiran akan kesehatan fisik dan ekonomi
dapat memicu perasaan putus asa dan depresi yang dapat berujung pada percobaan bunuh diri.
2.)Stres ekonomi
Banyak orang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi ini.
Stres ekonomi yang tinggi dapat menyebabkan tekanan mental yang berat dan meningkatkan
risiko percobaan bunuh diri.
3.)Akses terbatas pada layanan kesehatan mental
Pandemi ini telah mengganggu akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental. Banyak
fasilitas kesehatan mental terpaksa ditutup atau mengalami penurunan kapasitas. Hal ini
membuat individu yang membutuhkan bantuan tidak dapat mendapatkan perawatan yang
mereka butuhkan.
4.)Peningkatan kekerasan dalam rumah tangga
Selama pandemi, kasus kekerasan dalam rumah tangga meningkat. Kekerasan fisik, emosional,
dan seksual dapat menyebabkan trauma dan depresi yang serius, yang pada gilirannya dapat
meningkatkan risiko percobaan bunuh diri.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kasus Percobaan dan Bunuh Diri
1.)Faktor individu
Riwayat penyakit mental, riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya, dan ketidakmampuan untuk
mengatasi stres dapat meningkatkan risiko percobaan dan bunuh diri.
2.)Faktor sosial
Kurangnya dukungan sosial, isolasi, dan tekanan dari keluarga, teman, atau masyarakat dapat
mempengaruhi kesehatan mental seseorang dan meningkatkan risiko percobaan bunuh diri.
3.)Faktor ekonomi
Ketidakstabilan ekonomi, kehilangan pekerjaan, dan kesulitan keuangan dapat menyebabkan
stres yang berat dan meningkatkan risiko percobaan bunuh diri.
Upaya Pencegahan dan Bantuan
1.)Peningkatan kesadaran
Penting untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan mental dan risiko
percobaan bunuh diri yang terkait dengan pandemi ini. Kampanye kesadaran dan edukasi dapat
membantu mengurangi stigma dan mendorong orang untuk mencari bantuan.
2.)Akses terhadap layanan kesehatan mental
Penting untuk memastikan akses yang mudah dan terjangkau ke layanan kesehatan mental.
Pemerintah dan organisasi kesehatan harus bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas
layanan dan menyediakan dukungan yang diperlukan.
3.)Dukungan sosial
Masyarakat harus saling mendukung dan menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.
Dukungan sosial dapat membantu mengurangi risiko percobaan bunuh diri dengan memberikan
rasa keterhubungan dan bantuan emosional.
4.)Intervensi krisis
Penting untuk memiliki sistem intervensi krisis yang efektif. Hotline darurat dan layanan
konseling online dapat memberikan bantuan segera bagi individu yang berisiko.
Biasanya Seseorang yang akan melakukan percobaan bunuh diri biasanya menunjukkan tanda-
tanda tertentu, misalnya membuat surat wasiat. Kondisi ini dapat dicegah, antara lain dengan
melibatkan peran keluarga dan kerabat dekat.
Penyebab Percobaan Bunuh Diri
Keinginan untuk mencoba bunuh diri biasanya timbul saat sedang menghadapi situasi yang
sulit diatasi. Situasi tersebut sampai membuat orang yang mengalaminya kehilangan harapan
dan menganggap bahwa bunuh diri merupakan satu-satunya cara untuk keluar dari situasi
tersebut.Percobaan bunuh diri dapat dipicu oleh banyak faktor, di antaranya
Menderita gangguan mental, seperti depresi, gangguan stres pascatrauma, atau gangguan
bipolarMengalami kekerasan psikologis, misalnya perundungan (bully) Menyalahgunakan
NAPZA Menderita kecanduan alkoholMenderita penyakit parah, seperti kanker Mengalami
tekanan batin, misalnya karena kehilangan pekerjaan, jabatan, atau kekayaan Mengalami
masalah dalam kehidupan, misalnya perceraian, kehilangan atau kematian orang dekat Memiliki
keluarga yang mati bunuh diri atau pernah mencoba bunuh diri Mengalami kekerasan seksual
Memiliki masalah pidana atau hukum dan masih banyak lagi apalagi jika kita kaitkan dengan
masa covid 19 dan beberapa pembahasan yang telah kita bahas diatas namun secara umum
Gejala Percobaan Bunuh Diri Seseorang yang akan melakukan percobaan bunuh diri biasanya
menunjukkan gerak-gerik yang tidak biasa, seperti Mengungkapkan ide atau kata-kata yang
mengindikasikan niat bunuh diri, seperti ‘saya ingin mati’ atau ‘lebih baik saya tidak pernah
lahir’Membuat surat wasiat Memberikan benda-benda berharganya Berpamitan kepada kerabat
dan keluarga Menyimpan pil-pil berbahaya atau senjata Melakukan sesuatu yang berbahaya dan
dapat menyebabkan kematian, seperti berkendara dengan sangat cepat Selain itu, orang yang
ingin melakukan percobaan bunuh diri juga kerap mencurahkan perasaannya, misalnya
Mengungkapkan rasa sakit, baik secara emosi atau fisik Berbicara tentang rasa bersalah atau
malu Merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain Memperlihatkan amarah atau berbicara
tentang balas dendam Mengungkapkan perasaannya, seperti kosong, putus asa, dan tidak lagi
memiliki alasan untuk hidup Mengutarakan keinginan untuk mati atau bunuh diri Sering berpikir
atau berbicara tentang kematian Gejala yang timbul dapat berbeda pada setiap penderita dan
tidak selalu dapat terlihat jelas. Sebagian orang lebih memilih untuk menyembunyikan
keinginannya untuk bunuh diri, sedangkan sebagian lain bisa secara sengaja menunjukkan
keinginan tersebut.
jika terdapat hal hal seperti diatas pada orang orang terdekat maka hal utama yang harus
dilakukan adalah Singkirkan segala sesuatu yang dapat mereka gunakan untuk menyakiti diri,
seperti senjata tajam. Selain itu, usahakan untuk mengajak mereka ke psikolog atau
psikiater.dan selain itu coba ajak mereka untuk berbicara ,biarkan mereka mengungkapkan
semua yang mereka pendam selama ini ,karena kebanyakan kasus bunuh diri disebabkan
karena tidak adanya yang mendengarkan mereka Maka dari itu Dengarkan dengan baik masalah
dan keluh kesahnya tanpa menghakimi.
Bantu penderita dalam mengatasi masalah yang dialaminya, misalnya dengan menyarankannya
untuk berkonsultasi dengan dokter atau psikiater.Jangan ragu untuk menanyakan perasaan
penderita, serta menunjukkan rasa sayang dan peduli terhadapnya, baik dalam perbuatan
maupun kata-kata.Jangan mengabaikan perasaannya terhadap sesuatu, meski itu sepele atau
mudah untuk diselesaikan serta Jauhkan barang-barang yang dapat digunakan untuk bunuh diri,
seperti senjata tajam atau senjata api.
Sumber referensi:
.alodokter.com/percobaan-bunuh-diri&ved
https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1450/depresi-dan-bunuh-diri