0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan9 halaman

Tugas 3 Perencanaan Kota Via Amrina Rosada 044333581

Dokumen ini membahas tentang perencanaan kota di daerah tertinggal. Dokumen ini menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, dan pembahasan mengenai masalah yang dihadapi daerah tertinggal serta upaya yang dapat dilakukan dalam percepatan pembangunannya.

Diunggah oleh

viaamrina24
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • keterbatasan ekonomi,
  • pengelolaan sumber daya,
  • keterbatasan sumber daya,
  • kemandirian ekonomi,
  • masalah daerah tertinggal,
  • keterbatasan kesehatan,
  • kebijakan desentralisasi,
  • keterbatasan jaringan,
  • keterbatasan akses,
  • pendidikan
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan9 halaman

Tugas 3 Perencanaan Kota Via Amrina Rosada 044333581

Dokumen ini membahas tentang perencanaan kota di daerah tertinggal. Dokumen ini menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, dan pembahasan mengenai masalah yang dihadapi daerah tertinggal serta upaya yang dapat dilakukan dalam percepatan pembangunannya.

Diunggah oleh

viaamrina24
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • keterbatasan ekonomi,
  • pengelolaan sumber daya,
  • keterbatasan sumber daya,
  • kemandirian ekonomi,
  • masalah daerah tertinggal,
  • keterbatasan kesehatan,
  • kebijakan desentralisasi,
  • keterbatasan jaringan,
  • keterbatasan akses,
  • pendidikan

Nama : Via Amrina Rosada

NIM : 044333581
Prodi : Ilmu Administrasi Negara

TUGAS 3 PERENCANAAN KOTA


DAERAH TERTINGGAL

ABSTRAK

Peraturan Menteri negara pembangunan daerah tertinggal nomor: 07/ PER/ M-PDT / III/ 2007
tentang perubahan keputusan Menteri negara pembangunan daerah tertinggal nomor 001/ KEP/
M-PDT/ II/ 2005 tentang strategi nasional pembangunan daerah tertinggal, merupakan gambaran
implementasi tanggung jawab negara, maka hukum (peraturan perundang-undangan) dijadikan
patokan utama, untuk meningkatkan sinergitas dan sinkronisasi program/ kegiatan dalam rangka
percepatan pembangunan daerah tertinggal (disingkat PDT).
Pertimbangan pembentukan peraturan perundang-undangan ini adalah adanya fakta berupa
tantangan dan persoalan/ masalah dalam pelaksanaan pembangunan yang dihadapi pemerintah
pusat dan daerah. Reformasi hukum merupakan salah satu amanat penting dalam rangka
pelaksanaan agenda reformasi nasional. Di dalamnya tercakup agenda penataan kembali
berbagai institusi hukum dan politik, mulai tingkat pusat.

Latar Belakang Masalah


Bahwa pada hakikatnya pembangunan nasional harus bersifat adil, demokratis, terbuka,
partisipatif dan terintegrasi, sehingga kesenjangan pebangunan daerah tertinggal yang ada saat
ini dapat segera teratasi. Untuk mengatasi ketertinggalan suatu daerah menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah itu sendiri, namun pemerintah lebih berperan untuk melakukan asilitasi dan
koordinasi. Untuk menghasilkan program/ kegiatan pembangunan yang komprehensif,
terkoordinasi, terintegrasi, sinergis, efektif, dan efisien, perlu disusun sebuah strategi nasional
percepatan pembangunan daerah tertinggal sebagai landasan bagi semua pihak (pemerintah
pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat) dalam melaksanakan pembanguan
daerah tertinggal.
Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah daerah mempunyai kewenangan yang
lebih luas dalam menentukan kebijakan dan program pembangunan yang terbaik bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah masing-masing. Pemberlakuan
Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah mengisyaratkan kepada kita
semua mengenai kemungkinan-kemungkinan pengembangan suatu wilayah dalam suasana yang
lebih kondusif dan dalam wawasan yang lebih demokratis. Termasuk didalamnya, berbagai
kemungkinan pengelolaan dan pengembangan bidang pembangunan daerah tertinggal.
Pemberlakuan undang-undang tersebut menuntut adanya perubahan pengelolaan dan
pengembangan pembangunan dari yang bersifat sentralistik kepada yang lebih bersifat
desentralistik.
Dalam rangka penanganan kesenjangan wilayah telah diintrodusir istilah daerah tertinggal.
Daerah tertinggal didefinisikan sebagai daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya
relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Penyebab utama
ketertinggalan suatu daerah diantaranya karena kebijakan pembangunan yang terlalu berdimensi
sektoral. Hal ini dibuktikan dengan dominannya penerapan asas dekonsentrasi dan orientasi
sektoral pemerintah pusat. Pembangunan daerah tertinggal sebagai bentuk kesadaran kolektif
dalam penanganan kesenjangan wilayah harus disikapi lebih serius. Sebab bagaimana pun
kesenjangan wilayah merupakan isu sensitif bagi bangsa Indonesia, yang dalam beberapa fase
sering menjadi pemicu timbulnya suasana yang tidak kondusif.
Berkaitan dengan pembangunan daerah tertinggal, pemerintah berkewajiban untuk melakukan
percepatan pembangunan tersebut agar mampu mengejar ketertinggalan pembangunannya
dengan daerah lain. Untuk itu dibutuhkan strategi pembangunan nasional sebagai arahan kepada
kementerian, departemen dan non departemen, pemerintah daerah serta masyarakat dalam
membuat arah kebijakan, program, kegiatan dan alokasi sumber daya yang berpihak pada
percepatan pembangunan daerah tertinggal yang disesuaikan dengan Rencana Pembangunan
Jangka Mengengah Nasional 2010-2014 yang bertujuan terwujudnya kemakmuran masyarakat.
Kebijakan tentang desentralisasi di Indonesia yang diperkenalkan melalui Undang-Undang no.
32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang no. 33 tahun 2004 tentang
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah pada dasarnya telah
membuka perspektif dan peluang baru dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan di
Indonesia. Kebijakan ini telah mengubah basis pendekatan pengelolaan pemerintahan dan
pembangunan yang bersifat top-down menjadi buttom-up. Dengan kebijakan itu, daerah
mempunyai banyak peluang dalam ruang yang luas untuk merancang dan merealisasi usaha-
usaha pembangunannya sendiri. Karena itu tidak berlebihan untuk menyatakan bahwa kebijakan
baru tentang desentralisasi ini sebenarnya mengarahkan pada proses pembangunan Indonesia
yang berbasis daerah.
Masyarakat yang berada di wilayah tertinggal pada umumnya masih belum banyak tersentuh
oleh program-program pembangunan sehingga akses terhadap pelayanan sosial, ekonomi, politik
dan hukum masih sangat terbatas serta terisolir dari wilayah di sekitarnya. Oleh karena itu
kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di daerah tertinggal memerlukan perhatian dan
keberpihakan pembangunan yang besar dari pemerintah khususnya pemerintah daerah.
Namun demikian, pembangunan daerah tertinggal tidak mungkin berhasil tanpa kerja keras para
pemangku kepentingan (stakeholders). Sebagai wujud komitmen pemerintah untuk mempercepat
pencapaian agenda pembangunan di atas diperlukan penyamaan persepsi dan langkah tindak
lanjut yang dapat disepakati oleh seluruh stakeholders atau kementerian, lembaga pemerintah
non departemen, pemerintah daerah, serta masyarakat. Untuk itulah strategi pembangunan
daerah tertinggal diperlukan oleh seluruh stakeholders sebagai arus utama strategi di dalam
percepatan pembangunan daerah tertinggal.
Konsep dan teori.
Konsep dengan memberikan definisi optional dari istilah-istilah yang digunakan dalam penulisan
ini sebagai berikut :

a. Pembangunan adalah proses perubahan yang mencakup seluruh sistem sosial, seperti
politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan,
dan budaya (Alexander 1994).

b. Daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang relatif kurang berkembang


dibandingkan daerah lain dalam skala nasional, dan berpenduduk yang relatif
tertinggal. Jadi yang dimaksud dengan pembangunan daerah tertinggal merupakan
upaya terencana untuk mengubah suatu daerah yang dihuni oleh komunitas dengan
berbagai permasalahan sosial, ekonomi dan keterbatasan fisik, menjadi daerah yang
maju dengan komunitas yang kualitas hidupnya sama atau tidak jauh tertinggal
dibandingkan dengan masyarakat Indonesia lainnya. Pembangunan daerah tertinggal
ini berbeda dengan penanggulangan kemiskinan dalam hal cakupan
pembangunannya. Pembangunan daerah tertinggal tidak hanya meliputi aspek
ekonomi, tetapi juga aspek sosial, budaya, dan keamanan (bahkan menyangkut
hubungan antara daerah tertinggal dengan daerah maju). Di samping itu kesejahteraan
kelompok masyarakat yang hidup di daerah tertinggal memerlukan perhatian dan
keberpihakan yang besar dari pemerintah.

Teori.
Untuk mengetahui efektifitas terkait pembangunan daerah tertinggal, maka kerangka teori yang
dipergunakan adalah teori yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto yang menyatakan bahwa
derajat efektifitas suatu hukum ditentukan antara lain oleh taraf kepatuhan masyarakat terhadap
hukum, termasuk oleh para penegak hukumnya.
Ada 2 aspek yang melatar belakangi kemunculan teori hukum ini, yaitu : pertama, ada asumsi
bahwa masyarakat. Kedua, dalam kenyataan di masyarakat Indonesia telah terjadi perubahan
alam pemikiran masyarakat ke arah hukum modern. Oleh karena itu, tujuan pokok hukum bila
direduksi pada satu hal saja adalah ketertiban yang dijadikan syarat pokok bagi adanya
masyarakat yang teratur. Tujuan lain hukum adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda isi
dan ukurannya, menurut masyarakat dan jamannya.
Negara dianggap gagal apabila tidak dapat menjalankan fungsinya dalam mencapai tujuan
negara, yaitu diperlukan prioritas yang diarahkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
mendasar yang dihadapi oleh semua daerah tertinggal, dengan mengefektifkan penanganan yang
berkaitan dengan pengembangan infrastruktur fisik, infrastruktur ekonomi lokal, keberdayaan
masyarakat, kapasitas kelembagaan, keterisolasian daerah dan karakteristik daerah. Disamping
menciptakan kebahagiaan secara umum baik ditinjau dari sisi ekonomi, sosial, budaya, termasuk
didalamnya hak memperoleh keadilan dalam percepatan pembangunan daerah tertinggal.
Rumusan Masalah.

1. Masalah apa yang dihadapi daerah tertinggal?


2. Kriteria apa saja untuk pembangunan daerah tertinggal?
3. Apa kendala serta upaya dalam melakukan percepatan pembangunan daerah tertinggal?

Pembahasan.
Masalah yang dihadapi daerah tertinggal.

a) Banyak wilayah-wilayah yang masih tertinggal dalam pembangunan. Masyarakat yang


berada di wilayah pada umumnya masih belum banyak tersentuh oleh program-program
pembangunan sehingga akses terhadap pelayanan sosial, ekonomi, dan politik masih sangat
terbatas serta terisolir dari wilayah di sekitarnya. Oleh karena itu kesejahteraan kelompok
masyarakat yang hidup di wilayah tertinggal memerlukan perhatian dan keberpihakan
pembangunan yang besar dari pemerintah. Permasalahan yang dihadapi dalam
pengembangan wilayah tertinggal, termasuk yang masih dihuni oleh komunitas adat
terpencil antara lain : (1) terbatasnya akses transportasi yang menghubungkan wilayah
tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih maju; (2) kepadatan penduduk relatif rendah dan
tersebar; (3) kebanyakan wilayah-wilayah ini miskin sumberdaya, khususnya sumberdaya
alam dan manusia; (4) belum diprioritaskannya pembangunan di wilayah tertinggal oleh
pemerintah daerah karena dianggap tidak menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD)
secara langsung; serta (5) belum optimalnya dukungan sektor terkait untuk pengembangan
wilayah-wilayah ini.

b) Belum berkembangnya wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh. Banyak wilayah yang
memiliki produk unggulan dan lokasi strategis belum dikembangkan secara optimal. Hal ini
disebabkan, antara lain :
(1) Adanya keterbatasan informasi pasar dan teknologi untuk pengembangan produk
unggulan;
(2) Belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari pelaku
pengembangan kawasan di daerah;
(3) Belum optimalnya dukungan kebijakan nasional dan daerah yang berpihak pada
petani dan pelaku usaha swasta;
(4) Belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berorientasi pada
pengelolaan pengembangan usaha yang berkelanjutan dalam perekonomian
daerah;
(5) Masih lemahnya koordinasi, sinergi, dan kerjasama diantara pelaku-pelaku
pengembangan kawasan, baik pemerintah, swasta, lembaga non pemerintah, dan
masyarakat serta antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota, dalam
upaya meningkatkan daya saing produk unggulan;
(6) Masih terbatasnya akses petani dan pelaku usaha skala kecil terhadap modal
pengembangan usaha, input produksi, dukungan teknologi, dan jaringan
pemasaran, dalam upaya mengembangkan peluang usaha dan kerjasama
investasi;
(7) Keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan ekonomi dalam mendukung
pengembangan kawasan dan produk unggulan daerah; serta
(8) Belum optimalnya pemanfaatan kerangka kerjasama antar wilayah maupun antar
negara untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan.
Sebenarnya, wilayah strategi dan cepat tumbuh ini dapat dikembangkan secara
lebih cepat tumbuh ini dapat dikembangkan secara lebih cepat, karena memiliki
produk unggulan yang berdaya saing. Jika sudah berkembang, wilayah-wilayah
tersebut diharapkan dapat berperan sebagai penggerak bagi pertumbuhan
ekonomi di wilayah-wilayah sekitarnya yang miskin sumber daya dan masih
terbelakang.

c) Wilayah perbatasan termasuk pulau-pulau kecil terluar memiliki potensi sumberdaya alam
yang cukup besar serta merupakan wilayah yang sangat strategis bagi pertahanan dan
keamanan negara. Namun demikian, pembangunan di beberapa wilayah perbatasan masih
sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan pembangunan di wilayah negara tetangga.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah ini umumnya jauh lebih rendah
dibandingkan dengan kondisi sosial ekonomi warga negara tetangga. Hal ini telah
mengakibatkan timbulnya berbagai kegiatan ilegal di daerah perbatasan yang dikhawatirkan
dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai kerawanan sosial.

Permasalahan utama dari ketertinggalan pembangunan di wilayah perbatasan adalah arah


kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi “inward looking”
sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan
negara. Akibatnya, wilayah-wilayah perbatasan dianggap bukan merupakan wilayah prioritas
pembangunan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Sementara itu pulau-pulau kecil yang ada
di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit terjangkau.
Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya, serta
belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah.

Kriteria penetapan daerah tertinggal.


Unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam artikel ilmiah ini adalah wilayah
administrasi kabupaten. Hal ini sesuai dengan kewenangan otonomi daerah yang secara penuh
diberikan kepada pemerintah kabupaten. Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan
menggunakan pendekatan berdasarkan pada pembangunan enam kriteria dasar, yaitu :
perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, prasarana (infrastruktur), kemampuan
keuangan lokal (celah fiscal), aksesibilitas dan karakteristik daerah, serta berdasarkan kabupaten
yang berada di daerah perbatasan antar negara dan gugusan pulau-pulau kecil, daerah rawan
bencana, dan daerah rawan konflik. Keenam kriteria ini diolah dengan menggunakan data
potensi daerah, survei sosial ekonomi nasional dan data keuangan kabupaten dari Departemen
Keuangan.
Daerah tertinggal pada umumnya memiliki ketidak beruntungan komparatif (comparative
disadvantage) yang cukup serius dalam konteks perkembangan persaingan pasar global. Oleh
karena itu, salah satu tujuan pembangunan daerah tertinggal adalah menghilangkan atau
mengurangi ketidak beruntungan komparatif tersebut untuk menjamin persaingan yang adil dan
terciptanya kohesi sosial ekonomi antara daerah yang berbeda. Ketidak beruntungan komparatif
tersebut biasanya muncul karena :
(1) Ketertinggalan pembangunan berbagai infrastruktur yang mengakibatkan keterbatasan
masyarakat daerah tertinggal dalam berkomunikasi, produk, uang, dan informasi. Ini
merupakan ketidak beruntungan dalam hal akses.

(2) Keterbatasan kemampuan (ability) dan sumberdaya (resources-type disadvantage) untuk


menghasilkan barang dan jasa yang bisa dijual di pasar yang lebih luas. Ketidak
beruntungan dalam hal akses biasanya tampak nyata dan dapat dikuantifikasikan. Ketidak
beruntungan ini membatasi berbagai akses daerah pinggiran, misalnya akses fisik, ekonomi,
dan politis (atau kebijakan). Contoh yang paling jelas adalah akses fisik yang buruk karena
jeleknya infrastruktur fisik (jaringan transportasi, telekomunikasi, amenities, dan
sebagainya) yang menjadi kendala yang sangat kuat bagi pergerakan manusia, barang, dan
informasi. Jaringan jalan yang buruk akan menghambat kegiatan communicating
masyarakat daerah tertinggal ke sentra-sentra ekonomi dan industri di sekitarnya,
membatasi pemasaran produk yang dihasilkan, atau bisa juga menghambat kedatangan para
wisatawan jika wilayah tersebut memiliki obyek wisata yang menarik. Lebih dari itu,
keterbatasan ketersediaan jaringan jalan yang memadai juga akan mengurangi daya tarik
investasi, baik yang berasal dari lokal maupun yang dari luar. Keterbatasan infrastruktur
lunak (soft-infrastructur) seperti jasa-jasa bisnis dan keuangan, institusi pendidikan, atau
jasa pelayanan kesehatan meskipun agak kurang kelihatan (less visible) tetapi memliki
dampak yang sama. Keterbatasan infrastruktur lunak tersebut akan membatasi pergerakan
uang (investasi) dan dunia usaha untuk masuk dan keluar. Ini merupakan kendala akses
ekonomi.

(3) Kelemahan atau kekurangan institusi publik atau kemasyarakatan yang ada seperti
administrasi publik, organisasi-organisasi masyarakat, agen-agen pembangunan (lembaga
swadaya masyarakat), masyarakat madani (civil societies), dan organisasi sosial politik.
Kelemahan institusi publik tersebut akan membatasi akses kebijakan (policy access) atau
kemampuan organisasi-organisasi pusat untuk mencapai daerah tertinggal dalam upaya
untuk menetapkan aturan atau menyalurkan sumberdaya-sumberdaya pembangunan.
Dampak dari seluruh kendala di atas adalah keterbatasan akses yang menyebabkan aliran modal,
barang-barang, masyarakat, informasi, dan kebijakan ke dalam dan ke luar daerah tertinggal
menjadi terbatas. Pada akhirnya kendala-kendala tersebut akan menyebabkan daerah tertinggal
tetap tertinggal karena terkucil dari arus utama perekonomian, kehidupan politik , dan budaya.
Kendala tersebut membatasi kemampuan daerah tertinggal untuk menghasilkan barang dan jasa
yang bisa dijual di pasar yang lebih luas (regional, nasional, atau global). Keterbatasan-
keterbatasan ini dapat dikelompokkan menjadi keterbatasan sumberdaya keuangan, manusia
(human), dan kelembagaan (institusional). Secara empiris dan realitas di lapangan, harus diakui
bahwa dari ketidak beruntungan ini adalah kelangkaan sumber daya keuangan.
Jenis lain dari kendala tersebut adalah bersumber dari kelemahan sumberdaya manusia.
Sumberdaya manusia daerah tertinggal ditandai oleh tingkat pendidikan yang relatif rendah,
ketrampilan yang rendah, dan belakangan ini jumlah penduduk berusia lanjut yang semakin
meningkat. Sementara itu, penduduk daerah tertinggal yang memiliki tingkat pendidikan yang
relatif lebih baik banyak berimigrasi ke daerah lainnya, terutama ke daerah perkotaan/ industri
sehingga memperburuk kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia yang tinggal di wilayah
tertinggal. Salah satu akibat dari lemahnya sumberdaya manusia daerah tertinggal ini adalah
rendahnya budaya kewirausahaan (entrepreneurship) dan rendahnya jumlah sumberdaya yang
dimiliki masyarakat daerah tertinggal sehingga pada gilirannya mengakibatkan kapasitas inovasi
dan pembelajaran masyarakat juga rendah.
Upaya dalam melakukan percepatan pembangunan daerah tertinggal.
Arah kebijakan ini selanjutnya ditempuh melalui strategi pembangunan yang disesuaikan dengan
karakteristik ketertinggalan suatu daerah. Percepatan pembangunan daerah tertinggal dilakukan
melalui strategi sebagai berikut :
Strategi pengembangan ekonomi lokal di daerah tertinggal ditujukan untuk mengoptimalkan
pemanfaatan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan dengan menekankan pada
pengembangan daerah pusat pertumbuhan, pusat produksi, serta meningkatkan pertumbuhan
usaha makro kecil menengah dan koperasi. Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lokal di
daerah tertinggal dibutuhkan dukungan penguatan sentra produksi/ klaster usaha skala mikro dan
kecil: dan pengembangan kawasan transmigrasi yang berada di daerah tertinggal, baik dari segi
kualitas sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana kawasan transmigrasi. Upaya lain
yang juga diperlukan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produk unggulan lokal,
melalui dukungan pengembangan dan pendayagunaan.
Strategi penguatan kelembagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan
sumberdaya lokal di daerah tertinggal, diperlukan untuk meningkatkan perekonomian daerah
tertinggal. Hal ini dilakukan melalui penguatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah
tertinggal. Disamping itu, penguatan kelembagaan perlu didukung dengan kerjasama antar
lembaga, sehingga terjadi sinergi peran yang baik dan terpadu dalam rangka mengoptimalkan
pengembangan ekonomi lokal di PPDT.
Strategi peningkatan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau di daerah tertinggal
perlu didukung melalui peningkatan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan khusus juga
dibutuhkan untuk daerah tertinggal dan pulau-pulau kecil terdepan (terluar) melalui pelayanan
medik spesialis di RS bergerak, pemberian insentif khusus terhadap tenaga kesehatan yang
didayagunakan di daerah tertinggal dan pulau terkecil terdepan (terluar), serta pemberian
jamkesmas. Kegiatan tersebut merupakan koridor dalam rangka operasionalisasi arah kebijakan
dan strategi pembangunan yang terdapat dalam bidang pembangunan social budaya dan
kehidupan beragama.
Strategi peningkatan pelayanan pendidikan yang berkualitas di daerah tertinggal berorientasi
pada upaya mengatasi permasalahan rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan angkatan
kerja di daerah tertinggal. Peningkatan pelayanan pendidikan ini tidak hanya difokuskan pada
pendidikan dasar, menengah dan kejuruan, tetapi terutama pada pendidikan luar sekolah berupa
pendidikan ketrampilan hidup (life skill) melalui lembaga kursus dan pelatihan lainnya yang
berorientasi untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan ekonomi produktif.
Strategi peningkatan sarana dan prasarana di daerah tertinggal ditujukan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kondisi perekonomian masyarakat. Dukungan terhadap
sarana dan prasarana yang diperlukan diantaranya melalui pembangunan pasar tradisional,
pembangunan jalan dan jembatan, transportasi keperintisan, permukiman, serta pembangunan
sarana dan prasarana informatika di daerah tertinggal. Pengembangan sektor transportasi
keperintisan, diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas daerah tertinggal dengan pusat-pusat
pertumbuhan sehingga terjadi keterkaitan pembangunan antara kawasan tertinggal dengan pusat
pertumbuhan kawasan.

Kesimpulan.
Untuk merajut motivasi dasar masyarakat daerah tertinggal, pendukung tegaknya hukum seperti
birokrasi, penegakan hukum, dan segenap lapisan masyarakat selalu dituntut dalam bingkai dan
rancang bangun “tegaknya hukum”. Sehingga tidak menimbulkan tirani, ketidakadilan di bidang
ekonomi, sosial budaya, politik yang mengakibatkan meningkatnya kejahatan, kekerasan,
korupsi, dan eksploitasi pada yang lemah.
Kendala pembangunan daerah tertinggal pada umumnya memiliki ketidak beruntungan
komparatif (comparative disadvantage) yang cukup serius dalam konteks perkembangan
persaingan pasar global. Ketidak beruntungan komparatif tersebut biasanya muncul karena : (1)
ketertinggalan pembangunan berbagai infrastruktur yang mengakibatkan keterbatasan
masyarakat daerah tertinggal dalam berkomunikasi, produk, uang, dan informasi. Ini merupakan
ketidak beruntungan dalam hal akses (access-type disadvantages) dan (2) keterbatasan
kemampuan (ability) dan sumberdaya (resources-type disadvantage) untuk menghasilkan barang
dan jasa yang bisa dijual di pasar yang lebih luas. (3) kelemahan atau kekurangan institusi public
atau kemasyarakatan yang ada seperti: administrasi publik, organisasi-organisasi masyarakat,
agen-agen pembangunan (lembaga swadaya masyarakat), masyarakat madani (civil societies),
dan organisasi sosial politik. (4) akibat lebih parah dari kelemahan sumberdaya manusia di atas
adalah hilang atau musnahnya sumberdaya kelembagaan (institutional resources) atau
institusional local. Di daerah tertinggal dimana sumberdaya manusianya sangat buruk, budaya
saling percaya (mutual trust) dan keinginan untuk bekerja sama pun bisa hilang sehingga pada
akhirnya semakin menyulitkan dalam memulai atau melaksanakan pembangunan jenis apapun.
Saran.
Ada beberapa rekomendasi yang kiranya dapat berguna bagi pencapaian visi pemerintah
provinsi/ kabupaten daerah tertinggal, rekomendasi itu hanya berhubungan dengan empat bidang
prioritas yaitu :
a. Untuk mencapai suatu SDM yang berkualitas diusulkan dalam membangun pendidikan
harus
ada pembagian yang jelas antara membangun fisik pendidikan dan manusia, sehingga mudah
untuk diatur dalam hal pendanaan ataupun pengawasan.
b. Setiap kecamatan/ distrik wajib mempunyai puskesmas yang difasilitasi dengan dokter dan
obat subsidi dari pemerintah.
[Link] membangun infrastruktur diperlukan sarana dan prasarana yang menjawab kebutuhan
masyarakat dan satu hal lagi yang menjadi penting adalah memanfaatkan sumber daya yang ada
di daerah setempat.
[Link] bidang pemberdayaan ekonomi lokal, karena rakyatlah yang menjadi prioritas untuk
diberdayakan maka, diharapkan oranglah yang menjadi perhatian sehingga tujuan untuk
menjadi tuan dinegeri sendiri dapat tercapai.

Daftar Pustaka.
Hestu Cipto Handoyo, “Prinsip-Prinsip Legal Drafting & Desain Naskah Akademik”, Penerbit:
Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2008.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, “Strategi Naional : Percepatan
Pembangunan Daerah Tertinggal (Stranas PPDT) Tahun 2004-2009”, Penerbit : Kementerian
Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Dengan Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/ BAPPENAS. Jakarta, 2007.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
(BAPPENAS), “Rangkuman Rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional (RPJMN) :
Prioritas Bidang Kawasan Strategis, Kawasan Perbatasan, Daerah Tertinggal dan Kawasan
Rawan Bencana Tahun 2010-1014”, Penerbit : BAPPENAS, Februari, 2010.
M. Djadijono, I Made Leo Wiratma, T.A. Legowo, “Membangun Indonesia Dari Daerah”,
Penerbit : Centre or Strategic and International Studies, Jakarta, 2006.
M. Djadijono, I Made Leo Wiratna, T.A. Legowo, “Membangun Indonesia dari Daerah”, Centre
for Strategic and International Studies, Yogyakarta: Kanisius, Maret 2006.
RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) 2004 – 2009”, Penerbit: Sinar Grafika, Jakarta,
Maret 2005.
Tjahya Sipriatna, S.U., “Strategi Pembangunan dan Kemiskinan”, Jakarta: Penerbit Rineka
Cipta, Agustus 2000.
Utang Rosidin, “Otonomi Daerah dan Desentralisasi” ( Dilengkapi UU No. 32 Tahun 2004
dengan perubahan-perubahannya)” , Bandung: Penerbit CV Pustaka Setia, Oktober 2010.

Common questions

Didukung oleh AI

Public institutions play a crucial role in ensuring the success of development initiatives in Indonesia's underdeveloped regions by facilitating effective governance, resource allocation, and policy implementation that are aligned with local needs. These institutions help coordinate efforts among various stakeholders, including government agencies, businesses, and non-profits, to ensure a cohesive approach to development . They are also responsible for creating an enabling environment for local economic activities through legislation and infrastructure development . Strengthening public institutional capacities enhances responsiveness to challenges faced in underdeveloped regions, thereby boosting the efficacy of development initiatives .

Stakeholder collaboration is crucial in the development of underdeveloped areas in Indonesia because it ensures the pooling of resources, expertise, and efforts to address complex developmental challenges. Collaborative efforts enhance the alignment of objectives, minimize resource fragmentation, and promote sustainable solutions tailored to local needs . The primary stakeholders involved include government bodies at both central and local levels, private sector investors, non-governmental organizations, local communities, and international development partners . These stakeholders work together to design and implement policies, improve infrastructure, and create economic opportunities, thereby facilitating comprehensive regional development .

Limited human capital impacts the economic development of underdeveloped regions in Indonesia by constraining the regions' ability to innovate and improve productivity. Low education levels and skill sets among the workforce lead to reduced competitiveness and hinder economic diversification . This challenge can be addressed by investing in education and vocational training programs that enhance skills relevant to local industries . Furthermore, policies supporting the retention of talent and attracting back emigrant skilled workers can improve the overall human capital quality . Collaborative strategies involving government, educational institutions, and the private sector are essential to develop a capable and skilled workforce .

Lack of infrastructure severely impacts the development of underdeveloped regions in Indonesia by limiting mobility and access to services, thereby restricting economic activities and social interactions. Poor transportation networks hinder the flow of goods and people, isolating these regions from markets and opportunities . Inadequate social infrastructure, such as education and healthcare facilities, affects the quality of life and human capital development, further perpetuating poverty . To address these issues, development initiatives focus on upgrading transportation systems and building essential services, which can enable underdeveloped regions to participate more fully in the national economy and improve residents' quality of life .

The implementation of regional development plans aims to address socio-economic inequalities by integrating various aspects of development such as economic, social, cultural, and infrastructural improvements. These plans prioritize sustainable resource management, enhancement of local institutional capacities, and improvement of access to basic services like education and health care . Efforts are also made to strengthen local economies by promoting cooperative entrepreneurship and supporting small to medium enterprises, thus creating employment opportunities and reducing poverty . Furthermore, the development of infrastructure, such as roads and communication networks, enhances connectivity and facilitates better integration of these regions into broader economic networks, thereby diminishing socio-economic disparities .

Local governments contribute to poverty alleviation under the decentralization framework by tailoring development agendas to local needs, implementing policies that enhance economic opportunities, and improving service delivery. They focus on strengthening local economies through support for small to medium enterprises and ensuring resources are directed toward areas with the greatest needs . These governments also play a crucial role in coordinating with various stakeholders to effectively utilize available resources and ensure sustainable development practices are adopted . The empowerment of local authorities, as facilitated by the decentralization policy, enables more efficient response to unique challenges faced by underdeveloped areas, thereby helping alleviate poverty .

Rural areas in Indonesia face significant challenges in integrating with the national economy due to limited physical infrastructure such as roads and communication, which hinders access to markets and information . Additionally, the scarcity of financial and human resources further limits economic growth potential . Mitigation strategies include developing robust transportation and communication infrastructures to improve accessibility, enhancing educational and skill development programs to build a competent workforce, and encouraging local enterprises through supportive policies and connections to broader markets . Strengthening public institutions and fostering public-private partnerships can also enhance economic integration by aligning development initiatives with the needs of rural communities .

The concept of 'comparative disadvantage' negatively affects the competitive position of underdeveloped regions in Indonesia by limiting their access to necessary resources, markets, and networks. Such regions often face economic isolation due to poor infrastructure and inadequate logistical connections, making it difficult for them to compete in broader markets . Moreover, limited access to capital and human resources hinders the growth of local industries and innovation potentials. This disadvantage constrains economic diversification and growth, perpetuating the cycle of underdevelopment . To counteract this, strategic investments in infrastructure and human capital development are essential .

Key strategies for accelerating the development of underdeveloped regions in Indonesia include enhancing local economic growth through sustainable resource management, improving infrastructure like roads and communication networks, and strengthening institutional capacities at the local level . Additionally, providing access to quality education and healthcare services is prioritized to improve human capital . Development efforts are aligned with fostering entrepreneurship and supporting small industries to create job opportunities and invigorate local economies . Collaborative efforts among stakeholders, including government bodies and the private sector, are vital to ensure the effective implementation of these strategies .

The decentralization policy outlined by Indonesian Law No. 32 of 2004 shifted the governance and development approach from a centralized to a decentralized system, allowing local governments more autonomy in managing their development agendas. This policy framework enabled regions to independently plan and execute development activities, which are tailored to their local needs and conditions, potentially leading to more effective governance and accelerated development of underdeveloped areas . However, the success of these efforts requires a congruence of intentions and actions across various stakeholders, including government bodies, businesses, and the local population .

Anda mungkin juga menyukai