KAJIAN MENGENAI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL,
KOMPETENSI DAN KOMPENSASI YANG BERDAMPAK PADA
KINERJA DOSEN UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah .
Pada Undang-undang Nomor 02 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia pada Pasal 4 berbunyi
“ Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan
keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban
masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan,
pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya
ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia”.
Bunyi pada pasal tersebut sudah bisa merangkum secara keseluruhan
yang menjadi prinsip-prinsip utama dalam menjalankan tugas dan tanggung
jawab sebagai personel Polri. Untuk melakukan tugas dan tanggung jawab
tersebut Personel Polri, harus mengerti tindakan-tindakan bagaimana yang
seharusnya dilakukan agar mencerminkan faktualisasi anggota Polri yang
Positif sesuai dengan konsep-konsep yang telah di berikan pada lembaga
Pendidikan.
Pada saat ini jumlah personel Polri memang dapat dikatakan masih jauh
dari jumlah ideal.Jumlah ideal personel kepolisian adalah diukur dengan cara
membandingkan antara jumlah penduduk dengan jumlah personel kepolisian.
Rasio perbandingan antara jumlah penduduk dengan jumlah Polisi yang
ideal menurut standar PBB adalah 1 : 400. Angka tersebut berarti bahwa 1
orang polisi melakukan tugas pelayanan kepada 400 penduduk. Adapun
1
jumlah penduduk Indonesia menurut data dari hasil sensus penduduk tahun
2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Republik Indonesia adalah
berjumlah 237.556.363 penduduk. Sedangkan jumlah personel Polri pada
bulan Januari 2013 adalah berjumlah 384.622 personel.Data tersebut
bersumber dari data laporan kekuatan personel Polri Triwulan IV TA 2012.
Apabila dibuat menjadi Police Ratio maka rasio perbandingan Polisi
dengan jumlah penduduk adalah 1 : 618. Apabila dibandingkan antara
Police Ratio standar PBB dengan Police Ratio kondisi saat ini maka terlihat
kekurangan jumlah personel Polisi tersebut. Jika didasarkan dengan Police
Ratio sesuai standar PBB yaitu 1 : 400, dengan jumlah penduduk Indonesia
yang berjumlah 237.556.363 penduduk, maka jumlah polisi yang ideal adalah
berjumlah 593.890 personel polisi. Dengan demikian, jumlah kebutuhan
penambahan personel polisi yang diperlukan untuk mencapai standar
PBB di Indonesia adalah berjumah 209.268 personel. Dengan penambahan
personel tersebut maka Police Ratio sesuai standar PBB akan dapat tercapai.
Dengan kondisi kekurangan jumlah personel tersebut, merupakan hal
yang sewajarnya jika personel Polri yang ada tersebut mempunyai beban kerja
yang berat. Oleh sebab itu, setiap personel yang ada tersebut, harus digenjot
untuk mempunyai tingkat kinerja yang tinggi. Karena hanya dengan
kinerja yang tinggi dari para personel Polri tersebut, maka tugas – tugas
Kepolisian yang teramat berat dan banyak tersebut dapat diselesaikan,
dilaksanakan, dan dituntaskan secara professional dan proporsional.
Guna mewujudkan hal tersebut diatas Polri dalam hal ini Dit lantas sebagai
garda terdepan yang diamanatkan oleh Undang-Undang No. 22 tahun 2002
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, sebagai Motor atau penggerak untuk
mewujudkan dan menciptakan kamseltibcarlantas yang baik di wilayah Polda
Jabae, harus melalukan upaya-upaya dan langkah-langkah yang tepat antara
lain dengan mengedepankan Subdit dikyasa sebagai ujung tombak pelaksana
tugas lalu lintas di lapangan dalam memberikan Informasi, penyuluhan dan
dikmas lantas kepada semua masyarakat termasuk para pengguna jalan raya,
untuk meningkatkan disiplin serta mematuhi aturan berlalu lintas, sehingga bisa
diminimalisir jumlah pelanggaran dan laka lantas di wilayah hukum Polda
Jabar.
Polantas adalah unsur pelaksana yang bertugas menyelenggarakan tugas
kepolisian mencakup penjagaan, pengaturan, pengawalan dan patroli,
pendidikan masyarakat dan rekayasa lalu lintas, registrasi dan identifikasi
pengemudi atau kendaraan bermotor, penyidikan kecelakaan lalu lintas dan
penegakan hokum dalam bidang lalu lintas, guna memelihara keamanan,
ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Pendidikan masyarakat lalu lintas
(Dikmas Lantas) adalah segala kegiatan yang meliputi segala usaha untuk
menumbuhkan pengertian, dukungan dan keikutsertaan masyarakat aktif
dalam usaha menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran
lalu lintas. Pendidikan masyarakat (Dikmas) di bidang lalu lintas dilaksanakan
juga untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap lalulintas serta
memberikan pemahamam terhadap bagaimana cara berkendara yang baik dan
benar sebgai pengguna jalan, karena dalam masyarakat yang modern lalu
lintas merupakan factor utama pendukung produktivitasnya. Dan dalam lalu
lintas banyak masalah atau gangguan yang dapat menghambat dan
mematikan proses produktivitas masyarakat. Seperti kecelakaan lalu lintas,
kemacetan maupun tindak pidana yang berkaitan dengan kendaraan bermotor.
Untuk itu polisi lalu lintas terutama unit dikmas lantas mempunyai peran dalam
memberikan pemahaman kepada masyarakat selaku pengguna jalan untuk
mencegah terjadinya pelanggaran lalu lintas.
Sesuai Pasal 14 ayat (1) huruf C UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisan
Negara Republik Indonesia, disebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas
pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Kepolisian Negara Republik
Indonesia bertugas : membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi
masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat
terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. Hal ini sejalan dengan
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan diatur Tugas Polri dibidang Lalu Lintas yaitu Registrasi dan
Identifikasi kendaraan bermotor dan pengemudi, penegakkan hukum,
operasional manajemen dan rekayasa lalu lintas serta pendidikan berlalu lintas,
sehingga diharapkan fungsi teknis lalu lintas sebagai ujung tombak dalam
bidang pelayanan langsung kepada masyarakat, penegakkan hukum dan
mampu memberikan solusi pemecahan permasalahan dibidang lalu lintas.
Perlu digaris bawahi bahwa salah satu tugas polri dibidang lalu lintas
adalah memberikan pendidikan lalu lintas, dimana Pendidikan masyarakat lalu
lintas (Dikmas Lantas) adalah segala kegiatan yang meliputi segala usaha
untuk menumbuhkan pengertian, dukungan dan keikutsertaan masyarakat aktif
dalam usaha menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran
lalu lintas. Dengan dikmas lantas ini diharapkan dapat menjadikan masyarakat
untuk meningkatkan partisipasinya, kesadaran hukum masyarakat serta
ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-
undangan terutama tentang berlalulintas. Dikmas di bidang lalu lintas tak
terlepas dari tujuan Kamseltibcar Lantas sebagai hasil kerjasama masyarakat
dengan Polantas. Masyarakat diberi pengertian dan juga pengetahuan tentang
Kamseltibcar Lantas. Pendidikan masyarakat lalu lintas (Dikmas) adalah factor
yang sangat penting guna menunjang / pencapaian Kamseltibcar Lantas.
Dikmas Lantas dimaksudkan untuk mengetuk hati / mengajak masyarakat
dengan berperan serta dalam menciptakan Kamseltibcar Lantas Untuk
menunjang tersebut Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu
faktor untuk meningkatkan produktivitas kinerja suatu organisasi atau instansi.
Oleh karena itu, diperlukan Sumber Daya Manusia yang mempunyai
kompetensi yang memadai karena keahlian atau kompetensi akan dapat
mendukung peningkatan prestasi kerja para personel subdit dikyasa Polda
Jabar. Pada era reformasi yang sedang berlangsung, disaat kondisi bangsa
Indonesia dalam keadaan terpuruk, dibutuhkan seorang pemimpin yang ideal
bagi bangsa Indonesia dalam artian yang demokratis, bijaksana, serta betul-
betul memahami keadaan rakyatnya baik kebutuhannya maupun prilaku yang
ada dan berkembang dilingkungannya yang harus dijaga.
Pengembangan SDM dilakukan agar dapat memberikan hasil yang
sesuai dengan tujuan dan sasaran organisasi, dengan standar kinerja yang
telah ditetapkan atau kompetensi. Kompetensi menyangkut kewenangan setiap
individu untuk melakukan tugas atau mengambil keputusan sesuai dengan
peranannya dalam organisasi yang relevan dengan keahlian, pengetahuan dan
kemampuan yang dimiliki. Kompetensi yang dimiliki pegawai secara individual
harus mampu mendukung pelaksanaan strategi organisasi dan mampu
mendukung setiap perubahan yang dilakukan manajemen. Untuk itu, SDM
merupakan investasi yang paling penting yang dapat dilakukan oleh
organisasi yang tujuan akhirnya bermuara kepada satu titik, yaitu
agar organisasi memiliki tenaga kerja yang berkualitas, disiplin kerja yang
baik, berdedikasi, loyalitas, efisiensi disemua aspek dan memiliki produktivitas
kerja yang sesuai dengan kebutuhan, organisasi baik untuk sekarang maupun
di masa yang akan datang.
Untuk itu pada saat ini adalah waktu yang tepat bagi kita bicara tentang
faktor kepemimpinan, kompetensi dan komitmen yang mempunyai pengaruh
serta peran yang tinggi terhadap kinerja personil di subdit Dikyasa Polda Jawa
Barat. Memang jika dilihat secara riil, faktor kinerja memegang peranan yang
amat penting mengukur kegiatan atau tugas sehari-hari para personil. Seorang
personil yang mempunyai tingkat komitmen yang tinggi serta kompetensi yang
menunjang akan tetap bekerja dengan baik walaupun tanpa diawasi oleh
atasan. Seorang personil yang mempunyai komitmen tinggi akan mentaati
peraturan yang ada dalam lingkungan kerja dengan kesadaran yang tinggi
tanpa ada rasa paksaan. Pada akhirnya personil yang mempunyai komitmen
kerja yang tinggi akan mempunyai kinerja yang baik bila dibandingkan dengan
para personil yang bermalas-malasan karena waktu kerja dimanfaatkannya
sebaik mungkin untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan target yang
telah ditetapkan. Berikut ini adalah data kegiatan Subdit Dikyasa Polda Jawa
Barat berdasarkan target yang telah tercapai selama 2016 dapat dilihat pada
data sebagai berikut: :
Tabel 1.1.
Hasil Kegiatan Subdit Dikyasa Polda dan Subdit Gakum Jawa Barat
Tahun 2016
No Kegiatan Target Realisasi
Penerangan Keliling
Menumbuhkan pengertian dan kesadaran kepada
1 100% 86%
pemakai jalan untuk disiplin dan tertib berlalu lintas
dalam rangka keselamatan berlalu lintas
Penerangan Masyarakat
Menumbuhkan pengertian dan kesadaran pemakai
2 100% 77%
jalan untuk disiplin dan tertib berlalu lintas dalam
rangka keselamatan berlalu lintas
Taman Lalu Lintas
Menanamkan nilai-nilai kedisiplinan pengetahuan
3 dan wawasan tentang kelalu linatasan secara dini 100% 83%
yang diharapkan menjadi suatu kepribadian dalam
berperilaku di jalan raya di masa depan
Sumber : Kabag Umum 2017
Dari data diatas dapat dilihat volume kegiatan pada Subdit Dikyasa dan
Subditgakum Polda Jawa Barat yang sangat padat terdiri atas tiga bidang
dengan jumlah pengelola kegiatan sebanyak 58 orang sehingga masih belum
tercapai. Berikut ini adalah hasil prasurvey mengenai kinerja personil pada
Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat adalah sebagai berikut : Berikut ini adalah
hasil pra survey yang dilakukan peneliti sebanyak 20 orang yang diambil
secara acak tentang kinerja personil menurut Penilaian Kinerja Spesifik Perkap
Nomor 16 tahun 2011 adalah sebagai berikut .
Tabel 1.2
Hasil Survey Pendahuluan tentang Kinerja Personil Subdit Dikyasa Polda
dan Subdit Gakum Jawa Barat
Indikator pengukuran Rata-Rata Kriteria
No
Kinerja Aparatur
1 Jiwa Kepemimpinan 3,043 Cukup Baik
2 Jaringan Sosial 3,567 Cukup Baik
3 Komunikasi 3.321 Cukup Baik
4 Pengendalian Emosi 3.194 Cukup Baik
5 Agen Perubahan 2,975 Cukup Baik
6 Integritas 2,994 Cukup Baik
7 Empati 3,312 Cukup Baik
8 Pengelolaan Administrasi 2,756 Cukup Baik
9 Kreatifitas 3,331 Cukup Baik
10 Kemandirian 3,421 Baik
Sumber : Hasil survey pendahuluan 2017 (diolah)
Berdasarkan tabel 1.4 diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja personil ,
berdasar pada aspek penilaian kinerja generik masih belum optimal terutama
pada aspek pengelolaan administrasi. Harus diakui juga bahwa sumber daya
personel sampai dengan saat ini belum dikelola secara optimal. Oleh karena itu
tidak mengherankan jika manajemen sumber daya personel polda Jawa Barat
menjadi isu menarik yang menjadi salah satu fokus perhatian.
Berbagai permasalahan dalam penilaian kinerja personil ternyata
menjadi perhatian yang sangat serius bagi organisasi. kinerja personil
merupakan tahap paling kritis dalam pengelolaan personil. Oleh karena itu
diperlukan energi, waktu dan dana yang cukup untuk mengimplementasikan
model penilaian kinerja yang tepat bagi personil. Kinerja personil Subdit
Dikyasa Polda Jawa Barat pada umumnya masih belum sepenuhnya optimal,
dimana masih adanya pekerjaan yang seharusnya selesai sesuai dengan
rencana tidak dapat diselesaikan. Demikian pula tingkat kualitas pekerjaan
masih rendah, dilihat dari materi, format maupun redaksinya. Masih banyak
personil yang belum merasa suatu kewajiban untuk mengisi daftar hadir
personil setiap harinya serta masih ada personil yang tidak ada ditempat pada
saat jam kerja. Keadaan ini diperburuk dengan kinerja personil yang lamban
dan saling melimpahkan pekerjaan sehingga terkesan acuh terhadap
pekerjaan dan jelas mempengaruhi mutu pekerjaan mereka. Masih banyak
personil yang belum mengerti, memahami dan melaksanakan tugas pokok dan
fungsi mereka masing-masing. Iklim kerja yang kurang kondusif dimana masih
ada ego antar seksi, kurangnya kerjasama antar seksi, kurangnya
kebersamaan dan keakraban antar personil. Kurangya kemampuan personil
dalam menggunakan teknologi khususnya teknologi komputer dengan baik.
Dalam setiap kelompok organisasi selalu terdiri dari dua kelompok
manusia, satu kelompok sebagai atasan/pimpinan/manajer dan kelompok
lainnya adalah bawahan/staf yang masing-masing memiliki peran dan
tanggung jawab terhadap keberhasilan organisasi. Sebagai seorang pemimpin
yang bertanggungjawab atas keberhasilan unit kerjanya, maka seorang
pimpinan harus memiliki kemampuan mengkoordinasi kegiatan-kegiatan
unitnya, khususnya dalam hal pengambilan keputusan. Dimana memecahkan
masalah, mengambil keputusan adalah fungsi (tugas) pemimpin yang selalu
melekat pada dirinya, karena fungsi tersebut selalu dan terus menerus
diimplementasikan selama dia berfungsi sebagai pimpinan. Sumber daya
manusia (SDM) merupakan elemen utama dalam sebuah organisasi, sebab
manusia memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan sumber
daya yang lain. Oleh karenanya keberhasilan suatu organisasi sangat
ditentukan oleh kualitas orang-orang yang bekerja di dalam suatu organisasi.
Membangun sistem pengukuran (build a measurement system) merupakan
proses untuk menentukan indikator kinerja yang relevan dengan pertumbuhan
dan dinamika organisasi. Usaha ini terkait dengan kompetensi SDM dalam
menentukan standar kinerja yang sesuai dengan ability, skill dan attitude dari
SDM yang bersangkutan. Perubahan lingkungan yang begitu cepat, menuntut
kemampuan sumber daya manusia dalam menangkap fenomena perubahan,
menganalisa dampak terhadap organisasi dan menyiapkan langkah guna
menghadapi kondisi tersebut. Menyimak kenyataan ini, maka peran
manajemen SDM dalam organisasi tidak hanya sekedar administratif tetapi
justru lebih mengarah pada bagaimana mengembangkan potensi SDM agar
menjadi kreatif dan inovatif.
Berdasarkan pengamatan penulis dilapangan, terdapat beberapa hal
yang mendasar dan menjadi dasar permasalahan dalam Manajemen Sumber
Daya Manusia pada Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat adalah :
1. Masih belum optimalnya fungsi kepemimpinan yang ada di Subdit
Dikyasa Polda Jawa Barat hal tersebut berdampak pada ketidak
tegasannya pimpinan dalam memberikan reward dan punishment.
2. Masih adanya personil yang kurang mampu mengatasi kendala dalam
hal menyelesaikan pekerjaan, dikarenakan latar belakang pendidikan,
kurang profesional di bidang tertentu.
3. Masih dijumpai keterlambatan realisasi pekerjaan, belum mencapai
target yang telah ditetapkan, sehingga berdasarkan data 3 (tiga) bulan
berturut-turut, terlihat deviasi pekerjaan yang cukup besar.
4. Masih rendahnya motivasi kerja di lingkungan kerja
5. Masih rendahnya disiplin kerja para personil
Pada dasarnya motivasi dapat memacu personil untuk bekerja keras
sehingga dapat mencapai tujuan mereka. Hal ini akan meningkatkan
produktivitas kerja personil sehingga berpengaruh pada pencapaian tujuan
organisasi. Factor lain yang mempengaruhi kinerja adalah kompetensi.
Menurut Syaiful F. Prihadi (2004:105) mengatakan: “Kompetensi
menghasilkan kinerja yang efektif dan/atau superior”. Bisa dikatakan bila
karyawan memiliki kompetensi di bidangnya maka karyawan tersebut akan
meningkatkan kinerja yang efektif,demikian pula bila motivasi kerja karyawan
tinggi maka kinerja akan meningkat. Selanjutnya Wibowo (2007), mengatakan
bahwa kompetensi merupakan kemampuan untuk melaksanakan suatu
pekerjaan atau tugas yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan kerja
yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Dengan kompetensi yang memadai,
yang didukung oleh indikator-indikator tertentu maka kinerja para personil
Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat akan meningkat sesuai dengan yang
diharapkan, karena pada dasarnya hasil kinerja kepolisian yang bagus
merupakan manifestasi dari kompetensi para personel itu sendiri.
Untuk mengukur kompetensi, personil Subdit Dikyasa Polda dan Subdit
Gakum Jawa Barat dapat dilihat pada table hasil prasurvey kepada 20 orang
personel berikut ini :
Tabel 1.7 Data Observasi Kompetensi Personil
Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat
Frekuensi
Dimensi Rata-rata Kriteria
5 4 3 2 1
Pengetahuan
Pengetahuan Hukum
2 7 6 3 2 3,212 Cukup Baik
Pengetahuan Sosial
Perkembangan Lingkungan Strategi
Keterampilan Personel
Kemampuan komunikasi sosial
5 3 8 2 2 3,342 Cukup Baik
Kemampuan fungsi teknis kepolisian
Keterampilan penyidikan
Kepribadian Personel
Bermoral
Bermentalitas Tinggi
Sopan Santun Senyum Salam Sapa 4 8 3 5 0 3,563 Baik
Humanis
Komunikatif
Sumber:Data observasi diolah kembali
Dari data hasil prasurvey diatas dapat diketahui bahwa pada umumnya
dimensi kompetensi personel berdasarkan pada Perkap no 12 tahun 2012
mengenai kompetensi masih belum sepenuhnya optimal dan berada pada
kategori cukup baik terlihat bahwa dimensi pengetahuan memiliki nilai terendah
dibandingkan dengan dimensi lainnya. Berdasarkan pengamatan dilapangan
hal ini dikarenakan banyaknya personil Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat yang
kurang bekerja keras dan berusaha meningkatkan kemampuan yang
dimilikinya. Pada dimensi Keterampilan berada pada kategori cukup baik
namun masih ada hal yang masih perlu diperhatikan dimana para personil
Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat masih belum memiliki konsistensi yang tinggi
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta masih banyak yang
belum memiliki keterampilan khusus dan pengetahuan tentang fungsi teknis
kepolisian dalam melaksanakan pekerjaannya.
Peningkatan kinerja personil seharusnnya meningkat lebih baik. Untuk
mengetahui hal tersebut tentunya memerlukan penelitian lebih mendalam.
Kondisi ini dapat terjadi karena tidak lepas dari peran pimpinan yang harus
mampu memotivasi dan meningkatkan kedisiplinan bawahannya. Hal ini sesuai
dengan asumsi bahwa menurunnya kinerja personil tidak terlepas dari
lemahnya peran dan fungsi pimpinan dalam melakukan aspek kepemimpinan
terhadap bawahannya. Dengan berpedoman pada pengertian tersebut maka
komitmen merupakan faktor pengikat kerja, yaitu merupakan kekuatan yang
dapat memaksa tenaga kerja atau personil untuk mematuhi peraturan serta
prosedur kerja yang telah disepakati dan telah ditentukan oleh lembaga yang
berwenang atau pejabat yang berwenang dengan berpegang pada peraturan
tersebut. Dengan berpegang pada peraturan dimaksud diharapkan tujuan
organisasi dapat tercapai. Oleh karena itu kinerja personil suatu instansi akan
mencerminkan tingkat kemampuan kepemimpinan, kompetensi dan juga
komitmen dari personil instansi tersebut dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya sebagai personil Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat.
Memperhatikan kondisi tersebut di atas, terdapat permasalahan yang
perlu mendapat kajian yang lebih mendalam dan mendetail, yakni : Kompetensi
serta Kinerja Personil pada Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa
Barat . Berdasarkan uraian latar belakang inilah, penulis tertarik untuk
melakukan penelitian yang berjudul:
“PENGARUH KOMPETENSI PERSONEL TERHADAP KINERJA PERSONIL
DI LINGKUNGAN SUBDIT DIKYASA POLDA JAWA BARAT”.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diidentifikasikan :
1. Fungsi kepemimpinan pada Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda
Jawa Barat belum optimal.
2. Disiplin kerja personil pada Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda
Jawa Barat belum optimal.
3. Komunikasi antar personil Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda
Jawa Barat belum optimal.
4. Dorongan hati untuk patuh terhadap aturan yang ditetapkan di Subdit
Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa Barat belum optimal.
5. Keterampilan dan keahlian para personil Subdit Dikyasa dan Subdit
Gakum Polda Jawa Barat belum optimal.
6. Sarana prasarana untuk melakukan komunikasi antar Bagian atau Seksi
Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa Barat belum optimal.
7. Kerja sama antar bagian atau seksi pada Dinas belum optimal.
8. Motivasi kerja personil pada Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda
Jawa Barat belum optimal.
9. Iklim organisasi pada Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa
Barat Belum optimal.
10. Kinerja personil pada Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa
Barat belum optimal.
11. Pengembangan karir personil Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda
Jawa Barat belum optimal.
12. Hasil kerja para personil Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa
Barat belum optimal.
13. Kreativitas personil untuk meningkatkan kemampuannya belum optimal.
14. Penempatan posisi personil Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda
Jawa Barat belum optimal.
15. Kepuasan kerja Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa Barat
dalam melaksanakan tugas belum optimal.
16. Adanya personil Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa Barat
yang hasil pekerjaanya belum optimal.
17. Masih ada personil Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa Barat
yang memiliki komitmen rendah sehingga hasil kerjanya belum optimal.
18. Masih adanya atasan dalam memberikan tugas kepada pelaksana tidak
merata sehingga penyelesaian tugas belum optimal.
1.3. Pembatasan Masalah
Permasalahan yang sangat mendasar dalam suatu organisasi baik itu
pemerintah maupun swasta adalah tidak lepas dari sumber daya manusia yang
tersedia. Permasalahan-permasalahan tersebut tentunya harus ditanggapi
serius dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. Dalam tesis ini, penulis
membahas masalah mengenai kinerja personil yang ada di Subdit Dikyasa
Polda Jawa Barat . Mengenai kinerja personil, tentunya sangat banyak faktor
yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, maka dalam makalah ini penulis
akan membatasi permasalahan kinerja personil tersebut hanya dari faktor
kompetensi di Lingkungan Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa
Barat .
1.4. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas serta
banyaknya masalah yang terjadi khusunya yang berkaitan dengan kinerja
personil, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini meliputi :
1. Bagaimana komentensi personil pada Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat
2. Bagaimana kinerja personil pada Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat .
3. Seberapa besar pengaruh kompetensi terhadap kinerja personil pada
Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat .
1.5. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penulis menyampaikan tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui, mengkaji dan menganalisis :
1. Kompetensi personil pada Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat .
2. Kinerja personil pada Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat .
3. Besarnya pengaruh kompetensi personil terhadap kinerja personil pada
Subdit Dikyasa Polda Jawa Barat .
1.6. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian yang dilakukan penulis diharapkan dapat menambah
wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan memberikan manfaat dan
kegunaan yang lebih luas, baik untuk pengembangan ilmu, lembaga yang
menjadi obyek penelitian dan bagi para peneliti. Lebih lanjut penelitian
berguna pula untuk :
1. Menambah pengetahuan, wawasan bagi penulis.
Dari penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan penulis
berkaitan dengan kinerja personil pemerintahan khususnya di Subdit
Dikyasa Polda dan Sbdit Gakum Jawa Barat .
2. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Dari penelitian ini, diharapkan dapat diketahui pola hubungan dan
besarnya pengaruh kompetensi terhadap kinerja personil Subdit
Dikyasa dan Subdit Gakum Polda Jawa Barat, sehingga dapat
memperkuat keberadaan teori yang digunakan dalam penelitian ini.
3. Bagi Polda Jawa Barat .
Dari penelitian ini diharapkan, dapat diketahui kondisi aktual tentang
kompetensi serta kinerja personel. Kemudian data dari variable-variabel
penelitian di atas, dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi
pimpinan dalam mengambil kebijakan.
4. Bagi para peneliti lebih lanjut.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan untuk melakukan
penelitian lebih lanjut baik yang bersifat lebih mendalam (kualitatif)
maupun meluas (kuantitatif), sehingga dapat diperoleh suatu hasil
penelitian yang lebih komprehensif dan mendalam.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Kompetensi
Kompetensi merupakan karakteristik dasar dari seseorang dimana
memungkinkan mereka mempunyai kinerja yang superior dari pekerjaan,
aturan maupun situasi. Setiap individu pasti memiliki kompetensi tertentu.
Dengan adanya kompetensi tersebut, maka akan memungkinkan mereka untuk
dapat bekerja dan menghasilkan kinerja yang superior. Untuk mengukur
kompetensi personil menggunakan teori dari (Spencer & Spencer,1993)
didalamnya terdapat 5 (lima) karakteristik kompetensi yaitu :
1. Keterampilan (Skill)
2. Pengetahuan (Knowledge)
3. Sikap/Nilai (Self-Concept)
4. Watak/Sifat (Trait)
5. Motif (Motive)
Skill yaitu kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik
secara fisik maupun mental. Knowledge yaitu suatu informasi yang dimiliki
seseorang untuk bidang tertentu, knowledge merupakan kompetensi yang
kompleks. Self-Concept yaitu sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang. Trait
yaitu watak yang membuat orang untuk berperilaku atau bagaimana seseorang
merespon sesuatu dengan cara tertentu. Motive yaitu sesuatu dimana
seseorang secara konsisten berpikir sehingga dapat melakukan tindakan.
Kompetensi pengetahuan (knowledge competencies) dan keahilan (skill
competencies) cenderung lebih nyata (visible) dan relatif berada di permukaan
sebagai salah satu karakteristik yang dimiliki manusia. Sedangkan konsep diri
(self-concept), watak sifat (trait) dan motif (motive) merupakan kompetensi
lebih tersembunyi (hidden), dalam (deeper) dan berada pada titik central
kepribadian seseorang.Kompetensi pengetahuan dan keahlian, relatif mudah
untuk dikembangkan sehingga program pelatihan merupakan cara yang baik
untuk menjamin tingkat kemampuan sumber daya manusia, sedangkan motif
kompetensi dan watak/sifat berada pada “personality iceberg” sehingga cukup
sulit untuk dinilai dan dikembangkan sehingga salah satu cara yang paling
efektif adalah memilih karakteristik tersebut dalam proses seleksi. Adapun
konsep diri (seff-concept) terletak diantara keduanya.
Motive, trait dan self concept kompetensi dapat memprediksi tindakan perilaku
seseorang (skill behavior action) yang menghasilkan suatu prediksi kinerja
seseorang (job performance outcomes).Kompetensi selalu mengandung
maksud atau tujuan yang merupakan dorongan motif atau trait yang
menyebabkan suatu tindakan untuk memperoleh suatu hasil. Kompetensi
pengetahuan keahlian, tanpa kecuali termasuk juga kompetensi motif,
watak/sifat dan konsep diri merupakan penggerak untuk “mendorong”
digunakannya pengetahuan dan keahlian.
2.2. Teori Kinerja
Pengertiannya Kinerja atau Performace menurut Moeheriono
(2009:60):
Kinerja atau performance merupakan gambaran mengenai tingkat
pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi organisasi yang dituangkan
melalui perencanaan strategis suatu organisasi. Kinerja dapat diketahui
dan diukur jika individu atau sekelompok karyawan telah mempunyai
kreteria atau standar keberhasilan tolok ukur yang ditetapkan oleh
organisasi. Oleh karena itu, jika tanpa tujuan dan target yang ditetapkan
dalam pengukuran, maka kinerja pada seseorang atau kinerja organisasi
tidak mungkin dapat diketahui bila tidak ada tolok ukur keberhasilannya.
Teori yang digunakan dalam mengukur kinerja personel adalah Perkap
Nomor 16 tahun 2011, menyatakan bahwa penilaian kinerja personil polri
dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada tingkat individu dan tingkat
unit atau organisasi, dengan memperhatikan target, capaian, hasil dan manfaat
yang dicapai, serta perilaku personel dengan dimensi Jiwa Kepemimpinan,
Jaringan Sosial, Komunikasi, Pengendalian Emosi, Agen Perubahan,
Integritas, Empati,Pengelolaan Administrasi, Kreatifitas dan Kemandirian
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode yang Digunakan
Tujuan studi dari penelitian ini adalah deskriptif dan verifikatif. Penelitian
deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang
kompetensi dan kinerja personel. Sedangkan penelitian verifikatif adalah untuk
menguji kebenaran dari suatu hipotesa yang dilaksanakan melalui
pengumpulan data di lapangan, dimana dalam penelitian ini menguji pengaruh
kompetensi pada kinerja pegawai .
Mengingat sifat penelitian ini deskriptif dan verifikatif, maka metode
penelitian yang digunakan adalah descriptive survey dan metode explanatory
survey. Tipe investigasi dalam penelitian ini adalah causalitas yakni menguji
hubungan sebab akibat antar variabel bebas (independent) Penelitian ini
merupakan katagori crosssectional, yaitu informasi dari sebagian populasi
(sampel responden) dikumpulkan langsung dari lokasi secara empirik dengan
tujuan untuk mengetahui pendapat dari sebagian populasi terhadap objek yang
diteliti. Sedangkan alat pengujian untuk menganalisis uji verifikatif
menggunakat analisis Jalur (path analysis) dengan alasan : (1) antar variabel
bebas (independent) memiliki hubungan korelasi yang didukung oleh teori yang
sahih, (2) analisis jalur (path analysis) cukup refresentatif untuk menguji
hipotesis yang diajukan untuk data crosssectional, dan (3) dengan
menggunakan analisis jalur (path analysis) dapat mengukur pengaruh
langsung dan tidak langsungnya antara variabel bebas terhadap variabel
intervening atau variabel terikat.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
1. Untuk variabel kompetensi secara keseluruhan digambarkan cukup baik
menuju baik nilai rata-rata terendah adalah dimensi pengetahuan. Dan
indikator dengan nilai terendah adalah pada pernyataan : saya mengarahkan
prilaku untuk tujuan tertentu dengan nilai rata-rata sebesar 2.80, dan nilai rata-
rata terendah kedua yaitu pada pernyataan : Saya memiliki Ciri Sifat yang
berbeda daripada yang lain dengan nilai rata-rata sebesar 3.00. Fakta
dilapangan menunjukan bahwa kompetensi personel masih belum sepenuhnya
optimal. Terutama pada aspek pengetahuan. Hal ini disebabkan oleh karena
pada saat rekrutmen awal, pihak Polri tidak membatasi latar belakang
pendidikan, para personel memiliki latar belakang yang berbeda beda sehingga
pengetahuan yang dimiliki akan terbatas. Namun demikian, strategi dalam
menyikapi permasalahan ini adalah dengan cara Pengembangan SDM di
lingkungan Kepolisian ini merupakan bagian dari manajemen intern. Sebagai
bagian yang memberikan pengaruh besar pada lingkungan kepolisan
khususnya di Polda Jawa Barat, hal ini pastinya tidak bisa dianggap sepele.
Itulah sebabnya, Polda Jawa Barat harus terus mempersiapkan generasi yang
tangguh dan siap bereksplorasi dengan segala kemampuan yang dimiliki.
Kemampuan yang dimiliki setiap SDM harus terus dikembangkan hingga
kemampuan tersebut mampu memberikan kontribusi yang besar untuk
organisasi khususnya pada subdit dikyasa dan subdit gakum Polda Jawa
Barat.
Pengembangan SDM di Bank Lingkungan Polda Jawa Barat merupakan
salah satu langkah yang ditempuh untuk mewujudkan personel yang
mempunyai integritas dan kemampuan yang tinggi. Dengan SDM yang bagus
maka akan memberikan dampak positif untuk organisasi dan berdmpak pada
masyarakat. Metode yang ditempuh polda Jawa Barat untuk meningkatkan
kualitas SDM personel adalah dengan menyusun strategi pengembangan
pengembangan SDM itu sendiri.
2. Berdasarkan hasil pengolahan data, kinerja berada pada kategori cukup baik
menuju baik. Dimensi dengan nilai terbesar adalah dorongan integritas. Yaitu
Memahami sasaran-sasaran pribadi dari pekerjaannya, bekerja secara
kontinyu untuk menyelesaikan pekerjaannya. menggunakan kebijakan,
prosedur, dan pedoman yang ada untuk menyelesaikan pekerjaannya : Bekerja
secara efektif dengan bimbingan serta menyelesaikan pekerjaan secara efektif
dan efisien dengan hasil yang baik. Dan dimensi dengan nilai terlemah adalah
orientasi pada penglolaan administrasi yaitu menunjukan perhatian terhadap
prosedur atau aturan kerja : Bekerja dengan selalu mencek, ketepatan waktu,
dan biaya ) dan prosedur, bekerja dengan teliti dan hati hati, meminimalkan
kemungkinan-kemungkinan kesalahan.
Kegiatan penilaian kinerja seorang personel dalam suatu
perusahaan/organisasi adalah dipandang sangat perlu untuk dilakukan guna
sebagai bahan evaluasi kinerja, arsip tenaga kerja, penilaian kinerja itu sendiri
dibandingkan standar kerja (standar operasional) yang telah ditetapkan oleh
suatu perusahaan/organisasi, identifikasi letak kesalahan (error staffing),
pelatihan dan pengembangan dan lain sebangainya. Tanpa ada kegiatan
penilaian kinerja, maka polda jawa barat akan sulit melakukan identifikasi letak
permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan perosnel khususnya di
Subdit Dikyasa dan Subdit Gakum, akan berdamapak pada citra yang buruk di
tengah masyarakat– yang mungkin timbul karena faktor sumber daya manusia
personel itu sendiri yang kurang berkualitas dan nantinya sebagai bahan
keputusan perlu tidaknya kepolisian melakukan training/pelatihan dan
pendidikan serta pengembangan personel Subdit Gakum dan Subdit Dikyasa
guna meningkatkan produktivitas, memperbaiki kinerja yang lebih baik dari
sumber daya manusia yang ada
3. Variabel Kompetensi berpengaruh sebesar 20% terhadap kinerja. Hal ini
berarti kinerja personel bergantung kepada tingkat kompetensi, semakin tinggi
kompetensi yang dimiliki maka akan meningkatkan kinerja personel itu sendiri.
Kinerja Individu adalah hasil kerja baik dari segi kualitas maupun kuantitas
berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan. Personel subdit dikyasa dan
subdit gakum yang produktif menggambarkan potensi, persepsi, dan kreativitas
seseorang yang senantiasa ingin menyumbangkan kemampuan agar
bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Jadi, personel yang produktif adalah
orang yang dapat memberi sumbangan yang nyata , imaginatif dan inovatif
dalam mendekati persoalan hidupnya serta mempunyai kepandaian (kreatif)
dalam mencapai tujuan hidupnya, bertanggung jawab dan responsif dalam
hubungannya dengan orang lain. Personel seperti ini merupakan aset penting
bagi Polda Jawa Barat yang selalu berusaha meningkatkan diri dalam
organisasinya, dan akan menunjang pencapaian produktivitas organisasi. Oleh
karena itu, organisasi perlu melakukan upaya akuisisi atau pengembangan
kompetensi seluruh personel Polda Jawa Barat secara sistematis.
Pengembangan kompetensi dapat dilakukan dengan pembinaan dan
peningkatan kemampuan dan motivasi kerja yang dimiliki. Peningkatan
kemampuan kerja dilakukan dengan upaya peningkatan aspek-aspek yang
mendasari unsur tersebut yakni pengetahuan dan keterampilan kerja individu
serta peningkatan motivasi kerja dilakukan dengan cara membina sikap mental
individu serta situasi/lingkungan yang mendorong timbulnya kepuasan dan
kemauan kerja individu di Polda Jawa Barat Khususnya di Subdit Dikyasa dan
Subdit Gakkum
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Untuk variabel kompetensi secara keseluruhan digambarkan cukup baik
menuju baik nilai rata-rata terendah adalah dimensi pengetahuan.
2. Berdasarkan hasil pengolahan data, kinerja berada pada kategori cukup baik
menuju baik. Dimensi dengan nilai terbesar adalah dorongan integritas. Yaitu
Memahami sasaran-sasaran pribadi dari pekerjaannya
3. Variabel Kompetensi berpengaruh sebesar 20% terhadap kinerja. Hal ini
berarti kinerja personel bergantung kepada tingkat kompetensi, semakin tinggi
kompetensi yang dimiliki maka akan meningkatkan kinerja personel itu sendiri
5.2 Saran
Dalam meningkatkan kompetensi serta kinerja personel, pada subdit dikyasa
dan subdit gakum adalah perlunya personel yang produktif yang dapat
memberi sumbangan yang nyata , imaginatif dan inovatif dalam menyikapi
pekerjaan serta mempunyai kepandaian (kreatif) dalam mencapai tujuan,
bertanggung jawab dan responsif dalam hubungannya dengan orang lain.
Personel seperti ini merupakan aset penting bagi Polda Jawa Barat yang selalu
berusaha meningkatkan diri dalam organisasinya, dan akan menunjang
pencapaian produktivitas organisasi. Oleh karena itu, organisasi perlu
melakukan upaya akuisisi atau pengembangan kompetensi seluruh personel
Polda Jawa Barat secara sistematis.