LAPORAN STUDI KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA BY NY “A” UMUR 6 HARI DENGAN
HIPERBILIRUBINEMIA DI RSUD SUMBAWA
Di susun oleh
Nama : IRMA YANI
Nim : P07124021060
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MATARAM
PRODI D III KEBIDANAN
TAHUN. 2022/2023
LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA BY NY ‘’ A” UMUR 6 HARI DENGAN
HIPERBILIRUBINEMIA DI RSUD SUMBAWA
Disusun Oleh:
Nama : IRMA YANI
Nim : P07124021059
Telah diseminarkan di depan pembimbing Pada........Agustus 2023
Mengesahkan,
Pembimbing Lahan Pembimbing Pendidikan
(Zakiah S, Kep. Ners ) (Syajaratuddur F,S. SiT, M. Kes )
Ketua Jurusan Kebidanan
DR. Sudarmi, SST., M.Biomed
NIP. 198012282001122001
PERSETUJUAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA BY NY “A” UMUR 6 HARI DENGAN
HIPERBILIRUBINEMIA DI RSUD SUMBAWA
Laporan PKK II Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Persalinan Telah Memenuhi
Persyaratan dan Disetujui
Tanggal Agustus 2023
Disusun Oleh:
NAMA : IRMA YANI
NIM : P017124021059
Menyetujui,
Pembimbing Lahan pembimbing pendidikan
(Zakiah S, Kep. Ners) (Syajaratuddur F, S.SiT, M. Kes )
PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat-Nya lah makalah ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan. Makalah ini membahas mengenai “Asuhan Kebidanan
pada By Ny. “A” Umur 6 Hari Dengan Hiperbilirubinemia, yang disajikan
dengan sistematis dan jelas.
Dalam penyusunan Laporan Study Kasus ini penulis banyak mendapat
bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak, dalam kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Yopi Harwinanda Ardesa, M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Mataram
2. Dr. Hj. Nieta Ariyani Selaku Direktur RSUD SUMBAWA yang telah
memberikan kesempatan kepada Kami untuk melakukan Praktek
kebidanan komprehensif di RSUD Sumbawa selama 1 bulan
3. DR. Sudarmi, SST.,M.Biomed selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik
Kesehatan Mataram Kemenkes RI.
4. Ni Nengah Arini Murni, SST., M. Kes. Selaku Ketua Program Studi D- III
Kebidanan Politeknik Kesehatan Mataram Kemenkes RI
5. Syajaratuddur Faiqah,S.SiT,M.Kes selaku Pembimbing yang selalu
memberikan arahan dan bimbingannya.
6. Ns. Linda Indriyanti S, Kep. Selaku perawat koordinator diruang NICU
RSUD Sumbawa yang telah memberikan izin kepada mahasiswa untuk
praktik di RSUD Sumbawa.
7. Zakiah S, Kep. Ners selaku pembimbing lahan di RSUD Sumbawa.
8. Semua dosen Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes
Mataram yang banyak memberikan bekal pengetahuan dan wawasan
kepada penulis
9. Seluruh tenaga kesehatan RSUD Sumbawa yang telah berbagi ilmu
kepada kami.
10. Keluarga dari bayi ny “A” yang telah memberikan kesempatan sehingga
terjalin kerjasama yang baik dengan petugas.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih sangat jauh
dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik serta saran
yang bersifat membangun guna kesempurnan laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih semoga laporan ini
bermanfaat bagi penulis khususnya serta pembaca pada umumnya.Dan
semoga kebaikan semua pihak yang telah membantu penyusunan laporan
ini mendapatkan imbalan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Mataram
Agustus 2023
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………..i
HALAMAN PENGESAHAN ..………………………………………….…...ii
HALAMAN PERSETUJUAN ..……………………………………………..iii
KATA PENGANTAR ..……………………………………………………...iv
DAFTAR ISI ..……………………………………………………………….vi
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….…1
A. Latar Belakang ……………………………………………………..1
B. Tujuan ……………………………………………………………….4
C. Manfaat ……………………………………………………………...5
BAB II TIJAUAN TEORI ……………………………………………………7
A. Konsep Dasar Teori Kasus ..………………….…………………7
B. Teori Manajemen Asuhan Kebidanan .....................................23
Standar Asuhan Kebidanan ……………………………………..23
Proses Manajemen Kebidanan …………………………………24
Data Perkembangan SOAP ……………………………………..30
C. Kerangka Berpikir ………………………………………………...45
BAB III TINJAUAN KASUS .................................................................46
A. Kunjungan I ……………………………………………………….46
B. Kunjungan II ………………………………………………………46
C. Kunjungan III ……………………………………………………...46
D. Kunjungan IV ………………………………………………….…..46
BAB VI PEMBAHASAN ……………………………………………….….50
A. Kunjungan I …………………………………………..……………50
B. Kunjungan II …………………………….…………………………65
C. Kunjungan III ……………………………………….……………...71
D. Kunjungan IV ………………………….…………………………...71
BAB V PENUTUUPAN ………………………..…………………..………72
A. Kesimpulan …………………..……………………..……………..73
B. Saran …………………………..……………..…………………...74
DAFTAR PUSTAKA …………………………………..…..………………76
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi salah
satu masalah kesehatan yang patut diperhatikan. Menurut WHO
tahun 2018 Angka Kematian Bayi mencapai sekitar 18 dari 1000
angka kelahiran hidup (WHO, 2019). Mayoritas dari semua
kematian neonatal (75%) tersebut terjadi selama minggu pertama
kehidupan, dan dari sekitar 1 juta bayi baru lahir meninggal dalam
24 jam pertama. Termasuk didalamnya kelahiran premature,
komplikasi terkait intrapartum (lahir dengan keadaan asfiksia atau
kegagalan bernafas), dan infeksi cacat lahir, hal ini yang
menyebabkan sebagian besar kematian pada neonatal (WHO,
2020).
Di Indonesia, Angka Kematian Bayi pada tahun 2021
mencapai 11,7 dari 1000 kelahiran. Artinya terdapat 11-12 bayi
yang meninggal dari 1000 bayi lahir hidup. Angka Kematian Bayi di
Indonesia menempati urutan kelima tertinggi di Asean setelah
Filipina. Tingginya angka kematian bayi di Inonesia ini disebabkan
oleh banyak faktor, menurut Kementerian Kesehatan RI, penyebab
utama kematian bayi meliputi gangguan pernapasan, kelahiran
premature, infeksi darah (Sepsis Neonatorum), serta kelainan
bawaan sejak lahir (malformasi kongenital) (World Bank, 2020;,
Kemenkes RI, 2020).
Menurut profil kesehatan NTB Angka Kematian Bayi (AKB)
di NTB pada Tahun 2021 mencapai 93,29 per 1000 kelahiran hidup
Sedangkan Menurut dinas kesehatan provinsi NTB tahun 2021
terjadi penurunan jumlah kematian bayi sebanyak 856 kasus
apabila dibandingkan dengan jumlah kematian bayi pada tahun
2019 dengan 863 kasus. Pada tahun 2021 kematian bayi terbanyak
terjadi di Kabupaten Lombok Timur dengan 201 kasus, dan yang
terendah terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat dengan 12 kasus.
Penyebab kematian bayi di NTB terbanyak disebabkan oleh BBLR
dengan 264 kasus, Pneumonia 55 kasus, Diare dan DBD masing
masing 9 kasus, Covid 3 kasus (Dinas kesehatan Provinsi NTB,
2021).
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi NTB tahun
2022 di Kabupaten Sumbawa ditemukan 44 kasus kematian bayi.
Menurut data tahunan RSUD Sumbawa pada tahun 2022
ditemukan kasus Hiperbilirubin sebanyak 156 kasus.
Bayi baru lahir atau neonatus adalah bayi yang berumur
dibawah 28 hari,bayi baru lahir memiliki resiko gangguan kesehatan
paling tinggi, berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Sehingga
tanpa penanganan yang tepat bisa berakibat fatal .
Pada waktu kelahiran,tubuh bayi baru lahir mengalami
sejumlah adaptasi psikologi. Bayi memerlukan pemantauan ketat
untuk menentukan masa transisi kehidupannya ke kehidupan luar
uterus agar berlangsung baik. Bayi baru lahir juga membutuhkan
asuhan yang dapat meningkatkan kesempatan untuknya menjalani
masa transisi dengan baik.
Pada masa ini disebut dengan periode emas anak (golden
age) adalah masa di mana otak anak mengalami perkembangan
paling cepat sepanjang sejarah kehidupan nya. Periode emas
berlangsung pada saat anak dalam kandungan hingga lahir sampai
usia 4 tahun adalah masa-masa yang paling menentukan.
Tingkat kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu
indikator penting di suatu Negara. Menurut SDKI Angka Kematian
Bayi (AKB) di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 24 per 1000
kelahiran hidup.
Di Indonesia angka kematian maternal dan neonatal masih
tinggi. Salah satu faktor penting sebagai penyebab angka kematian
ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) masih tinggi adalah
pemberian pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang
berkualitas kepada masyarakat yang belum terlaksana dengan
baik.
Berdasarkan penyebabnya , kematian bayi ada dua macam
yaitu dalam kandungan dan luar kandungan. Kematian janin dalam
kandungan adalah kematian janin yang dibawa sejak lahir seperti
asfiksia. Sedangkan kematian bayi luar kandungan atau kematian
post neonatal disebabkan oleh faktor – faktor yang berkaitan
dengan pengaruh luar. Salah satu penyebab kematian bayi luar
kandungan adalah bayi mengalami hiperbilirubinemia,dimana
hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang
paling sering ditemukan pada bayi baru lahir dalam minggu
pertama dalam kehidupannya. Kejadian hiperbilirubinemia di
Amerika 65%,Malaysia 75%,Indonesia 51,47% ditahun 2015.
Berdasarkan data Riset Kesehatan dasar menunjukkan angka
hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di Indonesia sebesar
51,47%, dengan faktor penyebabnya antara lain asfiksia 51%,BBLR
42,9%,sectio cesaria 18,9%, prematur 33,3% , kelainan kongenital
2,8%, sepsis 12%. 5
Hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir merupakan penyakit
yang disebabkan oleh penimbunan bilirubin dalam jaringan tubuh
sehingga kulit, mukosa,dan sklera berubah warna menjadi kuning.
Hiperbilirubinemia adalah warna kuning yang dapat terlihat pada
sklera,kulit,atau organ lain akibat penumpukan bilirubin.
Peningkatan kadar bilirubin terjadi pada hari ke 2 dan ke 3 dan
mencapai puncaknya pada hari ke 5 sampai ke 7 , kemudian
menurun kembali pada hari ke 10 sampai hari ke 14.
Terjadinya kuning pada bayi baru lahir, merupakan keadaan
yang relatif tidak berbahaya, tetapi pada kadar bilirubin yang tinggi
dapat menjadi toksik dan berbahaya terhadap sistem saraf pusat
bayi . Hiperbilirubinemia terbagi atas dua , yaitu fisiologis dan
patologis dimana hiperbilirubinemia fisiologis adalah keadaan
hiperbilirubinemia karena faktor fisiologis yang merupakan gejala
normal dan sering dialami bayi baru lahir.. Hiperbilirubinemia
patologis adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin
dalam darah mencapai nilai yang melebihi batas normal
hiperbilirubinemia dan mempunyai potensi untuk menimbulkan kern
ikterik .
Kern ikterus adalah ensefalopati bilirubin yang biasanya
ditemukan pada bayi cukup bulan dengan hiperbilirubinemia berat
(bilirubin indirek lebih dari 20 mg%), disertai penyakit hemolitik
berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak .
Hiperbilirubinemia patologis terjadi pada 24 jam pertama pada
bayi baru lahir , karena patologis dimana kadar bilirubin direk
melebihi 0,30 mg/dl. Kadar bilirubin indirek melebihi 1,0 mg/dl, dan
kadar bilirubin total melebihi 10 mg/dl untuk bayi kurang bulan dan
lebih dari 12 mg/dl untuk bayi cukup bulan. (5) Dampak buruk yang
diderita bayi seperti kulit berwarna kuning sampai jingga , bayi
tampak lemah , urine menjadi berwarna gelap sampai berwarna
coklat dan apabila penyakit ini tidak ditangani dengan segera maka
akan menimbulkan dampak yang lebih buruk lagi yaitu kern ikterus
suatu kerusakan pada otak yang ditandai dengan bayi tidak mau
mengisap , letargi,kejang ,tonus otot kaku , leher kaku dan bisa
menyebabkan kematian pada bayi .
Angka kejadian bayi hiperbilirubinemia berbeda di satu tempat
ke tempat lainnya . Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam faktor
penyebab dan penatalaksanaan . Menurut Data Register Rumah
Sakit Di RSUD Leuwiliang tahun 2017 terdapat kasus
hiperbilirubinemia sebanyak 309 kasus yaitu (23,5%) dari 1398
kasus . Kasus lain meliputi Asfiksia 8,3% , meconieum staining 4,4
% . BBLR 2,4 % .
Dampak yang terjadi dalam jangka pendek bayi akan
mengalami kejang-kejang sementara dalam jangka panjang bayi
bisa mengalami cacat neurologis contohnya ketulian, gangguan
bicara dan retardasi mental. Jadi , penting sekali mewaspadai
keadaan umum bayi dan harus terus dimonitor secara ketat .
Upaya untuk mengatasi dampak tadi adalah dengan dilakukan
nya metode Fototherapi ( terapi sinar) , Menyusui bayi dengan ASI ,
Terapi sinar matahari .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah
pada Penelitian ini yaitu Bagaimana gambaran hiperbilirubinemia
pada bayi baru lahir Cukup bulan dan bayi baru lahir kurang bulan di
RSUD Sumbawa.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu Mengetahui gambaran hiperbilirubinemia Pada
bayi baru lahir cukup bulan dan bayi baru lahir kurang bulan di
RSUD Sumbawa
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian data pada bayi dengan
Hiperbilirubinemia.
b. Mampu mengidentifikasi diagnosa, masalah, dan kebutuhan
untuk bayi dengan Hiperbilirubinemia.
c. Mampu mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial pada
bayi dengan Hiperbilirubinemia.
d. Mampu mengidentifikasi dan menetapkan penanganan segera
pada bayi dengan Hiperbilirubinemia.
e. Mampu merencanakan asuhan yang menyeluruh pada bayi
dengan Hiperbilirubinemia.
f. Mampu melaksanakan asuhan yang telah direncanakan pada
bayi dengan Hiperbilirubinemia.
g. Mampu mengevaluasi hasil asuhan yang telah dilaksanakan
pada bayi dengan Hiperbilirubinemia.
D. Manfaat
1. Teoritis
a. Untuk Responden dan Masyarakat
Dapat menambah pengetahuan tentang bayi dengan
Hiperbilirubinemia.
b. Untuk peneliti
1) Mendapatkan pengalaman menerapkan manajemen
kebidanan dalam memberikan asuhan kebidanan pada
bayi baru lahir dengan Hiperbilirubinemia sehingga
nantinya pada saat bekerja di lapangan dapat dilakukan
secara sistematis yang pada akhirnya meningkatkan
mutu pelayanan yang akan memberikan dampak
menurunkan angka kematian bayi.
2) Belajar menerapkan langsung pada masyarakat
dilapangan perkembangan ilmu pengetahuan yang
diperolehnya dalam kelas.
3) Mendapatkan pengetahuan tentang ada atau tidaknya
kesenjangan antara teori dan praktek di pelayanan
kesehatan.
2. Praktis/Aplikatif
a. Institusi Pendidikan
Manfaat bagi institusi dapat dijadikan sebagai bahan untuk
kepustakaan bagi studi selanjutnya.
b. Profesi
Sebagai sumbangan teoritis maupun aplikatif bagi profesi
Bidan dalam Asuhan Kebidanan pada bayi dengan
Hiperbilirubinemia
c. Puskesmas/Rumah Sakit
Diharapkan dengan penelitian ini dapat memberikan
masukan bagi institusi pelayanan kesehatan tentang
kendala dan masalah-masalah kesehatan yang terjadi pada
masyarakat, khususnya masalah yang terkait dengan
kebidanan, sehingga dapat memberikan pelayanan yang
lebih baik.
d. Klien dan Masyarakat
1. Dapat menambah pengetahuan klien khususnya dan
masyarakat umumnya dalam perawatan bayi baru lahir
dengan Hiperbilirubinemia.
2. Klien atau masyarakat dapat mengenali tanda-tanda
bahaya dan resiko terhadap bayi baru lahir dengan
Hiperbilirubinemia.
3. Klien khususnya dan masyarakat pada umumnya dapat
melakukan perawatan pada bayi baru lahir dengan
Hiperbilirubinemia.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Teori Kasus
1. Definisi Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia adalah istilah yang dipakai untuk ikterus
neonatorum setelah ada hasil laboratorium yang menunjukkan
peningkatan kadar bilirubin dalam darah hingga kadar bilirubin
serum lebih dari 12 mg/dl untuk bayi cukup bulan dan lebih dari 10
mg/dl untuk bayi kurang bulan. Dapat menimbulkan efek patologi
jika kadar bilirubin nya tidak dikendalikan yang dapat mengarah
pada kern ikterus yang mengakibatkan kematian kalaupun selamat
akan meninggalkan gejala sisa dikemudian hari yaitu gangguan
pendengaran dan keterbelakangan mental.
Hiperbilirubinemia adalah keadaan dimana meningkatnya
kadar Bilirubin dalam darah secara berlebihan sehingga dapat
menimbulkan Perubahan pada bayi baru lahir yaitu warna kuning
pada mata, kulit, Dan mata atau biasa disebut dengan jaundice.
Hiperbilirubinemi
Merupakan peningkatan kadar bilirubin serum yang
disebabkan oleh Salah satunya yaitu kelainan bawaan sehingga
menyebabkan ikterus (Imron, 2015). Hiperbilirubinemia atau
penyakit kuning adalah Penyakit yang disebabkan karena tingginya
kadar bilirubin pada darah Sehingga menyebabkan bayi baru lahir
berwarna kuning pada kulit dan Pada bagian putih mata (Mendri
dan Prayogi, 2017). Hiperbilirubinemia dapat disebabkan proses
fisiologis atau Patologis dan dapat juga disebabkan oleh kombinasi
keduanya. Hiperbilirubinemia menyebabkan bayi baru lahir tampak
kuning, Keadaan tersebut timbul akibat akumulasi pigmen bilirubin
(4Z, 15Z Bilirubin IX alpha) yang berwarna ikterus atau kuning pada
sklera dan Kulit (Kosim, 2012).
2. Patofisiologi Hiperbilirubinemia
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa
keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila
terdapat penambahan kadar bilirubin pada sel hepar yang
berlebih. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan
penghancuran
Eritrosit,polisitemia.
Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan
peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila
kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi
hipoksia,asidosis.Keadaan lain yang memperlihatkan
peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan
konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan
ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan
merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada
bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah
larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek
patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus
sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut kern
ikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf
pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar
Bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl.
Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati sawar darah otak
ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus.
Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila
bayi terdapat keadaan berat badan lahir rendah , hipoksia, dan
hipoglikemia.
3. Metabolisme Bilirubin
a. Produksi
Sebagian bilirubin terbentuk sebagai akibat degradasi
hemoglobin dalam sistem reticulum endoplasma sistem (RES)
dan sebagian proses eritropoesis yang tidak efektif. Bilirubin
adalah produk yang bersifat toksin dan harus dikeluarkan oleh
tubuh. Pembentukan bilirubin tadi dimulai dengan proses
oksidasi yang menghasilkan biliverdin. Biliverdin mengalami
reduksi dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin indirek yang
tidak larut dalam air tetapi larut dalam lemak. Bilirubin indirek
sulit diekskresi dan mudah melalui membran biologik seperti
plasenta .
b. Transportasi
Bilirubin indirek atau bilirubin bebas ini akan bersenyawa
dengan albumin dan kemudian di bawa ke hepar. Uptake
bilirubin oleh hepar dilakukan oleh protein Y dan protein Z.
c. Konjugasi
Didalam hepar bilirubin ini mengalami konjugasi yang
membutuhkan energy dan enzim glukoronil transferase.
Sesudah mengalami proses ini bilirubin berubah menjadi
bilirubin direk. Didalam hepar bilirubin tidak langsung diubah
menjadi bilirubin direk, melainkan melalui rantai reaksi. Dalam
rantai reaksi ini, yang terjadi dalam sel-sel hepar, bilirubin
indirek diubah menjadi bilirubin diglokoronida yang larut dalam
air dan yang memberi reaksi positif. Glukoronil transferase
memindahkan asam glukoronik dari asam uridin
difosfoglukoronik ke bilirubin,sehingga menjadi bilirubin
diglukoronik ialah satu – satunya bentuk dimana asam
glukoronik dapat diperoleh untuk konjugasi. Glukosa sangat
penting untuk ekskresi bilirubin karena proses konjugasi sangat
melibatkan metabolisme karbohidrat dan nukleotida.
d. Ekskresi
Bilirubin direk kemudian dieksresi ke usus dan sebagian
dikeluarkan dalam bentuk urobilin melalui ginjal. Di dalam
saluran cerna bilirubin direk merubah menjadi urobilinogen dan
keluar bersama tinja sebagai sterkobilin. Di usus sebagian
diabsorpsi kembali oleh mukosa usus dan terbentuklah proses
absorpsi interohepatik pada janin. Sebagian bilirubin diserap
kembali itu diekskresikan melalui plasenta dan ekskresi melalui
jalan inilah yang utama. Pada bayi baru lahir ekskresi melalui
plasenta terputus , karena itu bila fungsi hati belum matang atau
gangguan pada fungsi hepar akibat hipoksia, asidosis atau
kekurangan enzim glukoronik transferase atau kekurangan
glukosa maka kaar bilirubin indirek dapat meninggi.Bilirubin
indirek yang terikat pada albumin sangat bergantung pada kadar
albumin dan serum. Pada bayi kurang bulan dimana kadar
albumin. Biasanya rendah, maka kadar bilirubin indirek akan
meningkat.5
4. Etiologi Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubin yang juga disebut ikterus neonatorum terjadi akibat
sel-sel darah merah yang tidak lagi diperlukan ketika bayi mulai
bernafas dipecah dalam limpa bayi baru lahir . Hati yang
kemampuannya sementara terbatas untuk mengonjugasi bilirubin,
kadang-kadang tidak mampu menjernihkan bilirubin secara
adekuat.
Penyebab ikterus pada neonatus kadang-kadang sangat sulit
ditegakkan , sebab faktor penyebabnya jarang berdiri sendiri,
biasanya dipakai suatu pendekatan tertentu dan yang paling mudah
adalah pendekatan menurut saat terjadinya ikterus :
1. Etiologi ikterus fisiologis
a. Ikterus fisiologis pada neonatus adalah akibat kesenjangan
antara pemecahan sel darah merah (eritrosit) dan kemampuan
bayi untuk mentransfer, mengonjugasi, dan mengekskresi
bilirubin tak terkonjugasi.
b. Peningkatan pemecahan sel darah merah . Produksi bilirubin
bayi baru lahir lebih dari dua kali produksi orang dewasa normal
per kilogram berat badan di lingkungan uterus yang hipoksik,
janin bergantung pada hemoglobin F ( hemoglobin janin ) , yang
memiliki afinitas oksigen lebih besar dari pada hemoglobin A
( hemoglobin dewasa ) . Saat lahir ketika sistem pulmonary
menjadi fungsional , masa sel darah merah besar yang dibuang
melalui hemolysis mengakibatkan timbunan bilirubin, yang
berpotensi membebani sistem secara berlebihan.
c. Penurunan mengikat albumin. Transport bilirubin ke hati untuk
konjugasi menurun karena konsentrasi albumin yang rendah
pada bayi premature , penurunan kemampuan mengikat albumin
(yang dapat terjadi jika bayi mengalami asidosis ) dan
kemungkinan persaingan untuk mendapatkan tempat mengikat
albumin dengan beberapa obat. Jika tempat ikatan albumin yang
tersedia digunakan kadar bilirubin yang tidak berikatan , tidak
terkonjugasi dan larut lemak dalam darah akan meningkat , serta
mencari jaringan dengan afinitas lemak , seperti kulit dan otak .
d. Defisiensi enzim , kadar aktifitas enzim UDP-GT yang rendah
selama 24 jam pertama setelah kelahiran akan mengurangi
konjugasi bilirubin. Meskipun kadar meningkat 24 jam pertama,
hal tersebut tidak akan mencapai kadar dewasa selama 6-14
minggu .
e. Peningkatan rebsorbsi enterohepatik. Proses ini meningkat
dalam usus bayi baru lahir karena kurangnya jumlah bakteri
enteric normal yang memecahkan bilirubin menjadi urobilinogen ,
bakteri Ini juga meningkatkan aktivitas enzim beta-glukuronidase
yang menghidrolisis bilirubin terkonjugasi kembali ke kondisi tak
terkonjugasi (jika bilirubin ini diabsorpsi kembali ke dalam
sistem) Jika pemberian susu ditunda, motilitas usus juga
menurun , selanjutnya mengganggu ekskresi bilirubin tak
terkonjugasi . Bayi asia memiliki enterohepatik bilirubin yang
tinggi dan ikterus yang lebih lama .
2. ikterus patologis
Etiologi yang melatar belakangi ikterus patologis adalah beberapa
gangguan pada produksi , transport , konjugasi atau ekskresi bilirubin.
Setiap penyakit atau gangguan yang meningktakan produksi bilirubin
atau yang mengganggu transport atau metabolisme bilirubin
bertumbang tindih dengan ikterus fisiologis normal .
a. Produksi
Faktor yang meningkatkan penghancuran hemoglobin juga
meningkatkan kadar bilirubin . Penyebab peningkatan
hemolisis meliputi :
1) Inkompabilitas tipe / golongan darah-Rhesus anti D ,
anti-A, anti –B dan anti Kell, juga ABO.
2) Defisiensi enzim glukosa 6 fosfat dehydrogenase
memelihara integritas membrane sel darah merah dan
defisiensi menyebabkan hemolisis .
3) Sferositosis , membrane sel darah merah yang rapuh
4) Ekstravasasi darah , sefalhematoma dan memar .
5) Sepsis , dapat meningkatkan pemecahan hemoglobin.
6) Polisitemia , darah mengandung terlalu banyak sel
darah merah.
b. Transpor
Faktor yang menurunkan kadar albumin darah atau
menurunkan kemampuan mengikat albumin meliputi :
1) Hipotermia,asidosis,atau hipoksia dapat mengganggu
kemampuan mengikat albumin.
2) Obat yang bersaing dengan bilirubin (misalnya aspirin,
sulfonamide dan ampisilin)
c. Konjugasi
Seperti halnya imaturitas sistem enzim pada neonatus , faktor
lain dapat menganggu konjugasi bilirubin di hati yang meliputi :
1) Dehidrasi, kelaparan , hipoksia dan sepsis (oksigen dan
glukosa diperlukan untuk konjugasi )
2) Infeksi TORCH (toksoplasmosis,rubella,
sitomegalovirus,herpes)
3) Infeksi virus lain (misalnya virus hepatitis pada neonatus
).
4) Infeksi pada bakteria lain , terutama yang disebabkan
oleh escherecia coli.
5) Gangguan metabolic dan endokrin seperti hipotiroidisme
dan galaktosemia .
d. Ekskresi
Faktor yang dapat menganggu ekskresi bilirubin meliputi
1) Obstruksi hepatic yang disebabkan oleh anomaly
kongenital, seperti atresia bilier ekstrahepatik .
2) Obstruksi akibat sumbatan empedu karena peningkatan
viskositas empede (misalnya , fibrosis kistik , nutrisi
parenteral total , gangguan hemolitik dan dehidrasi).
3) Saturasi pembawa protein yang diperlukan untuk
mengeksresi bilirubin terkonjugasi ke dalam sistem
bilier.
4) Infeksi, kelainan kongenital lain dan hepatis neonatal
idiopatik yang juga dapat menyebabkan bilirubin
terkonjugasi berlebihan .
Setelah proses oleh hati , sebagian besar bilirubin di
konjugasi sehingga resiko kernikterus pada bayi lebih
kecil. Namun , mereka mungkin memerlukan terapi
segera untuk kondisi serius lain .
5. Klasifikasi Hiperbilirubinemia
a. Ikterus Fisiologis Ciri-ciri ikterus fisiologis
1) Timbul pada hari kedua dan ketiga
2) Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg/dl pada
neonatus kurang bulan tidak melewati 12 mg/dl pada
neonatus cukup bulan.
3) Peningkatan bilirubin tidak melebihi 5 mg/dl per hari
4) Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg/dl
5) Menghilang pada hari ke 10 dan tidak ada tanda
patologis .
b. Ikterus Patologis Ciri- ciri ikterus patologis
1) 24 jam pertama
2) Menetap sesudah 2 minggu
3) Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 12,5 mg/dl pada
neonatus cukup bulan atau 10 mg.dl pada neonatus
kurang bulan.
4) Peningkatan bilirubin 5 mg/dl
5) Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg/dl
6) Disertai proses hemolisis
7) Tanda dan Gejala Bayi Hiperbilirubinemia
Tanda klinis hiperbilirubin diantaranya
a) Sklera , puncak hidung ,sekitar mulut , dada ,
perut dan ekstremitas berwarna kuning .
b) Letargi
c) Kemampuan menghisap menurun dan kejang.
c. Hiperbilirubinemia
1. Komplikasi Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir apabila tidak segera
Diatasi dapat mengakibatkan bilirubin encephalopathy
(komplikasi Serius). Pada keadaan lebih fatal,
hiperbilirubinemia pada neonatus
Dapat menyebabkan kern ikterus, yaitu kerusakan neurologis,
cerebral Palsy, dan dapat menyebabkan retardasi mental,
hiperaktivitas, bicara Lambat, tidak dapat mengoordinasikan
otot dengan baik, serta tangisan Yang melengking (Suriadi dan
Yuliani, 2010). Menurut American Academy of Pediatrics
(2004) manifestasi Klinis kern ikterus pada tahap kronis
bilirubin ensefalopati, bayi yang Selamat biasanya menderita
gejala sisa berupa bentuk atheoid cerebral Palsy yang berat,
gangguan pendengaran, paralisis upward gaze, dan Dysplasia
dental enamel. Kern ikterus merupakan perubahan
Neuropatologi yang ditandai oleh deposisi pigmen bilirubin
pada Beberapa daerah otak terutama di ganglia basalis, pons,
dan cerebellum.
Bilirubin ensefalopati akut menurut American Academy of
Pediatrics (2004) terdiri dari tiga fase, yaitu :
a. Fase inisial, ditandai dengan letargis, hipotonik,
berkurangnya Gerakan bayi, dan reflek hisap yang buruk.
b. Fase intermediate, ditandai dengan moderate stupor,
iritabilitas, Dan peningkatan tonus (retrocollis dan
opisthotonus) yang Disertai demam.
c. Fase lanjut, ditandai dengan stupor yang dalam atau koma,
Peningkatan tonus, tidak mampu makan, high-pitch cry, dan
Kadang kejang.
Gejala pada Hiperbilirubinemia
a) Kuning pada kulit, mukosa, sclera, dan urin.
b) Letargi (lemas).
c) Tidak ingin menghisap.
d) Feses berwarna seperti dempul.
e) Urin berwarna gelap.
f) Tangisan yang melengking (high picth cry)
g) Kejang
h) Perut membuncit, dan hepatomegali.
2. Hipotermia karena sumber panas bayi prematur baik lemak
subkutan yang masih sedikit maupun brown fat belum
terbentuk. Beberapa ciri jika seorang bayi terkena hipotermia
antara lain :
a) Bayi menggigil (walau biasanya ciri ini tidak mudah
terlihat pada bayi kecil).
b) Kulit anak terlihat belang-belang, merah bercampur
putih atau timbul bercak-bercak.
c) Anak terlihat apatis atau diam saja.
d) Gerakan bayi kurang dari normal.
e) Lebih parah lagi jika anak menjadi biru yang bisa dilihat
pada bibir dan ujung-ujung jarinya (Walyani, 2015)
3. Hiperbilirubinemia karena fungsi hati belum matang
a) Hiperbilirubinemia
Hal ini dapat terjadi karena belum maturnya fungsi
hepar. Kurangnya enzim glukoroniltransferase
sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin
direk belum sempurna, dan kadar albumin darah yang
berperan dalam transportasi bilirubin dari jaringan ke
hepar kurang. Kadar bilirubin normal pada bayi 10
mg/Dl. Hiperbilirubin pada prematur bila tidak segera
diatasi dapat menjadi kern ikterus yang akan
menimbulkan gejala sisa yang permanen.
b) Tanda klinis hiperbilirubinemia
Sklera, puncak hidung, sekitar mulut, dada, perut dan
ekstremitas berwarna kuning, kemampuan menghisap
menurun dan kejang.
c) Hipoglikemia karena cadangan glukosa rendah
Penyelidikan kadar gula darah pada 12 jam pertama
menunjukan bahwa hipoglikemia dapat terjadi
sebanyak 50 % pada bayi matur : Glukosa merupakan
sumber utama energi selama masa janin, glukosa yang
diambil janin tergantung dari kadar gula darah ibu
karena terputusnya hubungan plasenta dan janin
menyebabkan terhentinya pemberian glukosa, bayi
aterm dapat mempertahankan kadar gula darah 50 –
60 mg/dL selama 72 jam pertama, bayi berat lahir
rendah dalam kadar 40 mg/dL. Ini disebabkan
cadangan glikogen yang belum mencukupi,
Hipoglikemia bila kadar gula darah sama dengan
kurang dari 20 mg/Dl.
4. Tanda klinis hipoglikemia : Gemetar atau tremor, sianosis,
apatis, kejang, apnea intermiten, tangisan lemah atau
melengking, kelumpuhan atau letergi, kesulitan minum,
terdapat gerakan putar mata, keringat dingin, hipotermia, gagal
jantung dan henti jantung (sering berbagai gejala muncul
bersama-sama).
5. Hipotermia
Dalam kandungan, bayi berada dalam suhu lingkungan yang
normal dan stabil yaitu 36°C sampai dengan 37°C. Segera
setelah lahir bayi diharapkan pada suhu lingkungan yang
umumnya lebih rendah.
Perbedaan suhu ini memberikan pengaruh pada
kehilangan panas tubuh bayi, hipotermi dapat terjadi karena
kemampuan untuk mempertahankan anas dan kesanggupan
menambah produksi panas sangat terbatas karena
pertumbuhan otot-otot yang belum cukup memadai, lemak
subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf
pengatur suhu tubuh, permukaan tubuh relatif lebih besar
dibandingkan dengan berat badan sehingga mudah
kehilangan panas. Tanda klinis hipotermia : suhu tubuh
dibawah normal, kulit dingin, akral dingin dan sianosis
(Kemenkes RI, 2016).
6. Diagnosis
Anamnesis ikterus pada riwayat obstetric sebelumnya sangat
membantu dalam menegakkan diagnosis hiperbilirubin pada bayi.
Termasuk anamnesis mengenai riwayat inkompabilitas darah ,
riwayat terapi sinar pada bayi sebelumnya. Disamping itu faktor
resiko kehamilan dan persalinan juga berperan dalam diagnosis
dini ikterus / hiperbilirubin pada bayi . Faktor risiko itu antara lain
adalah kehamilan dengan komplikasi , obat yang diberikan pada
ibu selama hamil / persalinan , kehamilan dengan diabetes
mellitus , gawat janin, Malnutrisi intrauterine , infeksi intranatal , dan
lain-lain.
Secara klinis ikterus pada bayi dapat dilihat segera setelah lahir
atau setelah beberapa hari kemudian . Pada bayi dengan
peninggian bilirubin indirek kulit tampak berwarna kuning terang
sampai jingga , sedangkan pada penderita dengan gangguan
obstruksi empedu warna kuning kulit tampak kehijauan. Penilaian
ini sangat sulit dikarenakan ketergantungan dari warna kulit bayi
sendiri Tanpa mempersoalkan usia kehamilan atau saat timbulnya
ikterus , hiperbilirubin yang cukup berarti memerlukan penilaian
diagnostic lengkap, yang mencakup penentuan fraksi bilirubin
langsung (direk) dan tidak langsung (indirek).
Daerah kulit bayi yang berwarna kuning untuk penerapan rumus
kramer:
Ikterus neonatorum patologis dibagi menjadi 5 kramer sesuai
dengan Daerah ikterusnya dapat dilihat pada tabel 1.1
Sumber : Saifuddin,2009
7. Pencegahan Hiperbilirubinemia
a. Nutrisi
Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna,
lambung kecil, enzim pencernaan belum matang, sedangkan
kebutuhan protein 3-5gr/kg BB dan kalori 110 kal/kg BB
sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian
minum sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan
menghisap cairan lambung. Refleks menghisap masih lemah
sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit,
tetapi dengan frekuensi yang lebih sering. ASI merupakan
makanan yang paling utama sehingga ASI lah yang paling
dahulu diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang, maka ASI
dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahanlahan
atau memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan
diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan
sampai mencapai sekitar 200cc/kg BB/hari. (Jamil, Sukma and
Hamidah, 2017).
b. Menghindari infeksi
Bayi prematur mudah sekali terkena infeksi karena daya tahan
tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang
dan pembentukan antibodi belum sempurna oleh karena itu
upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal
sehingga tidak terjadi persalinan prematur. (Jamil, Sukma and
Hamidah, 2017).
8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan sesuai dengan waktu
timbulnya ikterus yaitu :
d. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama Penyebab ikterus
terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya
kemungkinan dapat disusun sebagai berikut :
e. Inkomptabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain .
f. Infeksi Intra Uterin ( virus , toksoplasma , siphilis dan bakteri
)
g. Kadang – kadang oleh defisiensi enzim G6PD Pemeriksaan
yang perlu dilakukan :
Kadar bilirubinserum berkala
Darah tepi lengkap untuk menunjukkan sel darah
merah abnormal atau imatur , eritoblastosisi pada
penyakit Rh atau sferosis pada inkompatibilitas ABO .
Golongan darah ibu dan bayi untuk mengidentifikasi
inkompeten ABO
Test Coombs pada tali pusat bayi baru lahir hasil
positif tesr comb indirek membuktikan antibody Rh+
anti A dan anti B dalam darah ibu. Hasil positif dari
test Coomb direk menandakan adanya sensitisasi
(Rh+, anti A, anti B dari neonatus)
Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD , biakan darah
atau biopsy hepar bila perlu .
1. Ikterus yang timbul 24-72 jam sesudah lahir .
a. ikterus fisiologis
b. Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh ,
atau golongan lain . Hal ini diduga kalau kenaikan kadar
bilirubin cepat misalnya melebihi 5 mg% per 24 jam .
c. Defisiensi Enzim G6PD atau enzim eritrosit lain juga masih
mungkin.
d. Polisetimia .
e. Hemolisis perdarahan tertutup.
Bila keadaan bayi baik dan peningktannya cepat maka
pemeriksaan yang perlu dilakukan :
1) Pemeriksaan darah tepi
2) Pemeriksaan darah bilirubin berkala
3) Pemeriksaan skriningEnzim G6PD
2. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu
pertama.
a. Sepsis
b. Dehidrasi dan Asidosis
c. Defisiensi Enzim G6PD
d. Pengaruh obat-obat
e. Sindroma Criggler-Najjar, Sindroma Gilbert
3. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya.
a. Karena ikterus obstruktif
b. Hipotiroidisme
c. Breast milk Jaundice
d. Infeksi
e. Hepatitis neonatal
f. Galaktosemia
9. Penilaian/Skoring Usia Gestasi Ballard Skor
Skala Ballard Baru atau New Ballard Scale (NBS) adalah skala untuk
pengkajian usia gestasi yang disusun berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Dubowitz dan kawan-kawan dan telah di sederhanakan
oleh Ballard. Skala tersebut telah direvisi untuk mengkaji bayi baru lahir
yang sangat prematur secara akurat dan memberikan keakuratan yang
lebih besar pada bayi baru lahir cukup bulan. NBS dan skala lain akurat
dalam waktu dua minggu (Varney, Kriebs, dan Gegor, 2007). Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Limawa, et al (2008), terbukti bahwa
skor new ballard sangat baik bila digunakan untuk menentukan usia
gestasi bayi baru lahir.
Penilaian maturitas neuromuscular menurut Ballard JL, Khoury JC,
Wedig K, et al, (1991), meliputi:
a. Postur
Tonus otot tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat
dan adanya tahanan saat otot diregangkan. Untuk
mengamati postur, bayi diposisikan terlentang, bayi tenang,
dan dilakukan manipulasi ringan dengan memfleksikan jika
ekstensi atau sebaliknya. Fleksi panggul tanpa abduksi
memberikan gambaran seperti posisi kodok.
b. Sudut pergelangan tangan (square window)
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap
peregangan ekstensor memberikan hasil sudut fleksi pada
pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi dan
menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari lembut.
c. Rekoil tangan (arm recoil)
Maneuver ini berfokus pada fleksi pasif dari tonus biseps dengan
mengukur sudut mundur singkat setelah sendi siku di fleksi dan
ekstensikan. Bayi terlentang, pegang kedua tangan bayi,
fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik,
lalu rentangkan kedua lengan dan lepaskan. Amati reaksi bayi
saat lengan dilepaskan.
d. Sudut poplitea (popliteal angle)
Maneuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut
dengan menguji resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi.
Bayi tidur terlentang tanpa popok, paha ditempatkan lembut di
perut bayi dengan lutut tertekuk penuh, jangan menekan paha
belakang karena dapat mengganggu interpretasi, kaki
diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi,
dan ukur sudut yang terbentuk antara paha dan betis di daerah
popliteal. Bayi harus tenang tidak menendang aktif.
e. Tanda scarf (scarf sign)
Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Bayi
berbaring terlentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi
ke garis tengah tubuh dan mendorong tangan bayi melalui
dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari
tangan sisi lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. Siku
mungkin perlu diangkat melewati tubuh bayi, namun kedua
bahu harus tetap menempel di meja dan kepala tetap lurus.
Posisi siku bayi diamati dan bandingkan dengan angka pada
lembar penilaian, yakni, penuh pada tingkat leher (-1); garis
aksila kontrateral (0); kontrateral baris putting (1); prosesus
xyphoid (2); garis putting ipsilateral (3); dan garis aksila
ipsilateral (4).
f. Perasat tumit ke telinga (heel to ear)
Maneuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang
panggul dengan memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap
otototot posterior fleksor pinggul. Posisi bayi terlentang, pegang
kaki dengan ibu jari dan telunjuk, tarik sedekat mungkin dengan
kepala tanpa memaksa, pertahankan panggul pada permukaan
meja periksa, dan amati jarak antara kaki dan kepala serta
tingkat ekstensi lutut. Hasil resistensi tumit ketika berada pada
atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); putting baris (2);
daerah pusar (3); dan lipatan femoralis (4).
Penilaian maturitas fisik menurut Ballard JL, Khoury JC,
Wedig K, et al, (1991), meliputi:
a. Kulit (skin)
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan
struktur intrinsiknya bersamaan dengan hilangnya secara
bertahap dari lapisan pelindung (vernix caseosa),
sehingga kulit menebal, mengering, menjadi keriput atau
mengelupas, dan dapat timbul ruam selama pematangan
janin. Pada keadaan matur dan postmatur, janin dapat
mengeluarkan mekonium dalam cairan ketuban sehingga
mempercepat proses pengeringan kulit, menyebabkan
mengelupas, pecah-pecah, dan dehidrasi.
b. Lanugo
Lanugo mulai tumbuh pada usia gestasi 24-25
minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu
dan punggung atas ketika memasuki minggu ke 28.
Lanugo mulai menipis dari punggung bagian bawah.
Daerah yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan dengan
maturitasnya dan biasanya paling luas terdapat di daerah
lumbo sakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah
tidak ditutupi lanugo. Saat melakukan penilaian
hendaknya menilai daerah yang mewakili jumlah relatif
lanugo yakni pada daerah atas dan bawah dari punggung.
c. Lipatan plantar (plantar surface)
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian
anterior ini kemungkinan berkaitan dengan posisi bayi
ketika di dalam kandungan. Bayi very premature dan
extremely immature tidak mempunyai garis pada telapak
kaki. Untuk membantu menilai status maturitas fisik bayi
berdasarkan permukaan plantar maka dipakai ukuran
panjang dari ujung jari hingga tumit.
d. Payudara (breast)
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang
tumbuh akibat stimulasi estrogen ibu dan jaringan lemak
yang tergantung dari nutrisi yang diterima janin. Dilakukan
palpasi jaringan mammae dibawah areola dengan ibu jari
dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam
millimeter.
e. Mata/telinga (eye/ear)
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan
kartilago seiring perkembangannya menuju matur. Palpasi
untuk mengetahui ketebalan kartilago, lipat daun telinga
ke arah wajah kemudian lepaskan dan amati kembalinya
daun telinga. Pada bayi prematur daun telinga akan tetap
terlipat ketika dilepaskan. Pemeriksaan pada mata menilai
kematangan berdasarkan perkembangan palpebra.
Pemeriksa membuka dan memisahkan palpebra superior
dan inferior dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu
jari. Pada bayi extremely premature palpebra akan
menempel erat satu sama lain, dengan bertambahnya
maturitas palpebra bisa dipisahkan walaupun hanya satu
sisi dan meninggalkan sisi yang lain.
f. Genetalia
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke
dalam skrotum kurang lebih pada minggu ke 30 gestasi.
Testis kiri lebih dulu turun yaitu sekitar minggu ke 32. Kedua
testis biasanya sudah dapat diraba di kanalis inguinalis
bagian atas atau bawah pada minggu ke 33- 34 kehamilan.
Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih tebal dan
membentuk rugae. Testis telah sepenuhnya turun bila
terdapat dalam zona berugae. Pada neonatus matur hingga
postmatur, skrotum biasanya seperti pendulum dan dapat
menyentuh kasur ketika berbaring.
B. Teori Manajemen Asuhan Kebidanan
I. Standar Asuhan Kebidanan
Manajemen Asuhan Kebidanan mengacu pada
KEPEMENKES NO.938/MENKES/SK/VIII/2007 tentang
Standar Asuhan Kebidanan yang meliputi:
a) STANDAR I :PENGKAJIAN (RUMUSAN FORMAT
PENGKAJIAN)
b) STANDAR II :PERUMUSAN DIAGNOSA DAN ATAU
MASALAH KEBIDANAN
c) STANDAR III : PERENCANAAN
d) STANDAR IV : IMPLEMENTASI
e) STANDAR V : EVALUASI
f) STANDAR VI : PENCATATAN ASUHAN KEBIDANAN
II. Proses Manajemen Kebidanan
Proses manajemen kebidanan merupakan proses berfikir logis
sistematis dalam memberi asuhan kebidanan agar
menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi
asuhan. Oleh karena itu,manajemen kebidanan merupakan alur
berfikir bagi seorang bidan dalam memberikan arah /kerangka
dalam menangani kasus yang menjadi tanggung jawabnya.
Menurut Hellen Varney Langkah – Langkah Manajemen
Kebidanan.
a. Langkah 1 (Pertama) : Pengumpulan Data Dasar.
pertama merupakan awal yang akan menentukan langkah
berikutnya. Mengumpulkan data adalah menghimbau informasi
tentang klien atau orang yang meminta asuhan. Memilih
informasi data yang tepat diperlukan analisa situasi yang
menyangkut manusia yang rumit karena sifat manusia yang
komplek. Kegiatan pengumpulan dimulai saat klien masuk dan
dilanjutkan secara terus menerus selama proses asuhan
kebidanan berlangsung.
Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber. Sumber yang
dapat memberikan informasi paling akurat yang dapat diperoleh
secepat mungkin dan upaya sekecil mungkin. Pasien dalam
sumber informasi yang akurat dan ekonomis, disebut sumber
data primer, sumber data alternative atau sumber data sekunder
adalah data yang yang sudah ada praktikan kesehatan lainnya,
anggota keluarga.
Pengkajian adalah langkah awal yang dipakai dalam penerapan
asuhan kebidanan pada pasien yang terdiri dari data subjektif
dan data objektif.
1) Data Subjektif
Data subjektif adalah data yang didapat dari pasien
sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan
kejadian.
Data subjektif antara lain :
a) Identitas pasien
Pengkajian identitas meliputi :
1) Nama anak : untuk mengidentifikasi pasien
2) Tempat,tanggal lahir : untuk kejelasan mengenai
Data diri pasien
1) kelamin : untuk mengisi data diri pasien
2) Usia : untuk menentukan waktu kelahiran pasien
3) Anak ke : untuk mengetahui jumlah anak
Identitas orang tua :
1) Nama : untuk mengidentifikasi pasien
2) Pekerjaan : untuk menentukan jenis pengobatan Yang
akan diberikan
3) Umur ibu : untuk menentukan prognosa
4) Agama : untuk menentukan jenis bimbingan doa Sesuai
dengan agama dan kepercayaan pasien Tersebut
5) Pendidikan : untuk mengetahui latar belakang Pendidikan
pasien
6) Alamat : sebagai data untuk bidan melakukan Kunjungan
rumah Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan yang lalu Untuk mengetahui Penyakit
yang pernah di derita ibu,yang dapat memperburuk
keadaan bayi.
2) Riwayat kesehatan sekarang Untuk mengetahui Penyakit
penyakit yang di derita saat ini.
3) Riwayat kesehatan keluarga Untuk mengetahui Penyakit
penyakit yang di derita keluarga
4) Riwayat Kehamilan
Untuk mengetahui riwayat kesehatan kehamilan ibu pada
trimester 1,trimester II hingga trimester III dan berapa kali ibu
memeriksakan kehamilannya (ANC)
a. Persalinan
Untuk mengetahui riwayat persalinan ibu dalam batas
normal : Lamanya persalinan : 30 menit
Kala 1 : 10 – 15 jam
Kala II : 25 – 30 Menit
Kala III : 5 – 10 menit
Kala IV : 2 Jam
Keadaan air ketuban : jernih/keruh
Jenis persalinan : spontan/normal
Episiotomy : tidak dilakukan
Data Obyektif
a. umum : Baik
b. Kesadaran : Composmentis
c. TTV N : 110-160 x/menit
S : 36,5-37,5 C
P : 40-60x/menit
d. Antropemetri PB : 48-52 cm
BB : 2500 – 4000 gr
LD : 30-38 cm
LK : 33-35 cm
e. APGA SCORE : NORMAL
Apgar score dihitung daari menit ke 1 – 5 stelah persalinan/kelahiran
bayi,score terbaik adalah 10,namun score 7,8,9 masih dalam batas
normal.
f. Pemeriksaan fisik
1. Kepala : Ubun-ubun tidak ada molase, rambut
Berwarna hitam bersih, tidak ada pembengkakan,
tidak ada kelainan.
2. Mata : Simetris, tidak ada oedema, kemerah
Merahan, tidak ada bercak hitam pada mata.
3. Hidung : Simetris, tidak ada pernapasan cuping
Hidung dan pengeluaran.
4. Mulut : Bibir merah muda, bibir tidak sumbing, langit
Langit tidak terbelah, reflex rooting (+), reflex
Sucking (+)
5. Telinga : Simetris, tidak ada pengeluaran, tidak ada
Kelainan.
6. Dada : Pernafasan teratur, tidak ada retraksi Dada,
tidak ada kelainan.
7. Abdomen : Tidak ada kelainan, tidak ada benjolan
Dan tidak ada perdarahan tali pusat.
8. Punggung : fleksibilitas tulang punggungnya Baik,
tidak ada kelainan pada tulang Punggung, tidak ada
benjolan yang Abnormal.
9. Genetalia : Labia mayora menutupi labia Minora,
klitoris menonjol (pada bayi Perempuan), testis telah
turun ke Skrotum (pada bayi laki laki).
10. Anus : Terdapat lubang anus
11. Ekstermitas : Atas : simetris, jari jari
Lengkap,pergerakan tangan aktif, Refleks moro (+),
refleks grasping (+) (Normal). Bawah : simetris, jari
jari Lengkap,pergerakan tangan aktif, Reflek moro (+),
refleks grasping (+)
b. Langkah 2 (Kedua) : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan interpretasi dari data menjadi
masalah atau diagnosa yang teridentifikasi secara spesifik.
Kata masalah dan diagnosa keduanya digunakan seperti
halnya beberapa masalah tidak dapat diidentifikasi sebagai
diagnosis tetapi dibutuhkan sebagai pertimbangan dalam
mengembangkan rencana perawatan yang komprehensif
kepada pasien.
1. Diagnosa Kebidanan Adalah diagnosa yang ditegakkan oleh
bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar
nomenklatur diagnosa kebidanan (Mufdlilah, 2012) Diagnosa
kebidanan pada kasus ini yaitu ― Neonatus Dini usia 1-7 hari.
2. Adalah pernyataan yang menggambarkan masalah spesifik
yang berkaitan dengan keadaan kesehatan seseorang dan
didasarkan pada penilaian asuhan kebidanan Masalah
kebidanan pada kasus ini yaitu ―Perawatan Tali Pusat.
3. Kebutuhan Hal yang dibutuhkan pasien dan belum
teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang didapatkan
dengan analisis data (Mufdlilah, 2012)
Kebutuhan neonatus dini pada yaitu :
a) Menjaga suhu tubuh bayi
b) Memandikan bayi setelah 6 jam
c) Melakukan perawatan tali pusat
d) Menjaga keamanan bayi
e) Menjemur bayi
f) pemeriksaan fisik
g) Konseling tentang menyusui bayi terhadap ibu
h) Konseling tentang PENKES tanda bahaya bayi baru lahir.
c. Langkah 3 (Ketiga) : Identifikasi Data dan Diagnosa Potensial
Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan
seperangkat masalah dan diagnosa terbaru adalah suatu hal untuk
antisipasi, pencegahan jika mungkin, penantian dan pengawasan penuh,
dan persiapan untuk kejadian apapun.
d. Langkah 4 (Keempat) : Identifikasi Kebutuhan Yang Membutuhkan
Penanganan Segera Mengevaluasi kebutuhan segera dari bidan atau
dokter serta untuk konsultasi atau manajemen kolaboratif dengan anggota
tim kesehatan lain. Seperti yang didasarkan pada kondisi pasien.
e. Langkah 5 (Kelima) : Perencanaan atau Intervensi Pada langkah ini
yaitu mengembangkan suatu rencana perawatan komprehensif yang
didukung oleh penjelasan yang rasional dan valid sebagai dasar atas
pengambilan keputusan serta didasarkan pada langkah langkah
sebelumnya.
f. Langkah 6 (Keenam) : Pelaksanaan atau Implementasi Pada langkah ini
bidan mengatur atau melaksanakan rencana perawatan secara efisien
dan amanah. Hal ini biasa dilakukan seluruhnya oleh bidan, sebagian lagi
oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Jika bidan tidak
melakukannya sendiri, dia bertanggung jawab atas pengarahan
pelaksanaannya, misalnya mengamati bahwa hal ini telah dilaksanakan.
“Implementasi dilakukan sesuai intervensi/ perencanaan yang dibuat”
g. Langkah 7 (Ketujuh) : Evaluasi
Yang dilakukan adalah mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-
benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedang
sebagian belum efektif. Maka perlu mengulang kembali dari awal setiap
asuhan yang tidak efektif melalui manajemen untuk mengidentifikasi
mengapa proses manajemen tidak efektif serta melakukan penyesuaian
pada rencana tersebut.
III. Data Perkembangan SOAP
Menurut Mufdillah (2009), berdasarkan evaluasi, selanjutnya
rencana asuhan kebidanan dituliskan dalam catatan
perkembangan yang menggunakan SOAP yang meliputi :
• S = Subjektif
Data subjektif ini berhubungan dengan masalah dari sudut
pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran
dan keluhannya yang dicatat sebagai kutipan langsung atau
ringkasan yang akan berhubungan langsung dengan
diagnosis.
• = Objektif
Data objektif merupakan pendokumentasian hasil observasi
yang jujur, hasil pemeriksaan fisik pasien. Catatan medik
dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat
dimasukkan dalam data objektif ini sebagai data penunjang.
Data ini akan memberikan bukti gejala klinis pasien dan data
fakta yang berhubungan dengan diagnosis.
• A = Analisis/Asasment
Analisis assesment merupakan pendokumentasian hasil
analisis dan interprestasi (kesimpulan) dari data subjektif
dan objektif. Karena keadaan pasien yang setiap saat
mengalami perubahan dan akan ditemukan informasi baru
dalam data subjektif atau objektif, maka proses pengkajian
data akan menjadi sangat dinamis. Analisis data adalah
melakukan interpretasi data yang telah dikumpulkan,
mencangkup diagnosis / masalah kebidanan, diagnosis /
masalah potensial serta perlunya antisipasi diagnosis /
masalah potensial dan tindakan segera.
• P = Penatalaksanaan
Penatalaksanaan asuhan sesuai rencana yang telah disusun
dengan keadaan dan dalam rangka mengatasi masalah
pasien. Penatalaksanaan tindakan harus disetujui pasien,
kecuali bila tindakan tidak dilaksanakan akan
membahayakan keselamatan pasien.
C. Kerangka Berpikir
Neonatus
Faktor Penyebab
- Neonatus <200 gr
- Masa Gestasi <36 mgg
Hiperbilirubinemia
- Hipoksia
Patologi - Sindrom Gangguan
s Pernafasan
Fisiologis
Foto Terapy
Penatalaksanaan
- Foto Theraphy
- Pemantauan Kebutuhan Cairan Bayi
- Pengecekan Kadar Bilirubin Bayi setiap 24
jam sekali
- Pemberian Obat obatan
- Terapi Sinar Matahari
- Pemberian ASI
Evaluasi
- Kadar bilirubin kembali normal
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
(SOP Asfiksia dan Foto Theraphy pada Bayi RSUD Sumbawa, 2017)
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY”A”
DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA DI RUANG NICU RSUD SUMBAWA
TAHUN 2022
HARI PERTAMA (01-08-2023) PENGKAJIAN DATA BAYI NY”A”
Hari/ tanggal Waktu Selasa,01 Agustus 2023. 15.30
pengkajian : Wita
No RM 203313
:
Tempat Ruang NICU RSUD Sumbawa
:
A. Data Subyektif
Identitas :
1. Identitas Bayi
Nama : By Ny A
Umur : 6 Hari
Tanggal lahir : 26 Juli 2023 (13.55 Wita)
2. Identitas Orang Tua/Wali
Nama : Ny A Nama : Tn R
Umur : 23 tahun Umur : 25 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/Bangsa : Sumbawa Suku/Bangsa: Sumbawa
Pendidikan : SD Pendidikan: SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Nelayan
Kawin ke :1
Lama Pernikahan : 2 tahun
Alamat : Pulau Kaun dusun kaun bawak.
3. Keluhan Utama : Kuning pada wajah + tangan
4. Riwayat Perjalanan Penyakit :
Bayi lahir SC di RSUD Sumbawa tanggal 26 Juli 2023 pukul
13.55 Wita atas indikasi BBLR Masuk ruang NICU dengan
No Aspek yang dinilai 1 menit pertama Nilai 5 Menit Nilai
kedua
1 Apperance kekuningan 1 kemerah 1
2 pulse 100x/ mnt 2 ˃ 100x / mnt 2
3 Grimace merintih 1 merintih 2
4 Activity Sedikit fleksi 1 Sedikit fleksi 1
5 Respiratory Tidak teratur 1 Tidak teratur 1
6 Jumlah 6 7
APGAR SCORE 6-7
5. Riwayat Kehamilan/persalinan dan nifas yang lalu :
Riwayat Anak
Hamil UK Tem Penolon Jeni Penyulit
Ket
ke- (bulan) pat g s H P N BB J Umu
(gram K r
)
I 9 RS Dr.Spog SC - PE - 1800 ♀ 0 hr Hidup
Bulan B,T
ida
k
ad
a
His
Frekuensi : 5x di posyandu, puskesmas dan Dr SpoG
Imunisasi : TT3
Berat badan saat ini : 60 Kg
Berat badan sebelum hamil : 52 kg
Komplikasi waktu hamil : tidak ada
6. Riwayat penyakit/kehamilan
Perdarahan : Tidak ada
Eklamsia : Tidak ada
Penyakit kelamin : Tidak ada
Penyakit lain :Tidak ada
7. Kebiasaan waktu hamil
Nutrisi :Tidak ada pantangan
Obat-Obatan/ :Tablet
Jamu Fe
Merokok :Tidak
pernah
Lain-Lain :Tidak
ada
8. Riwayat persalinan
Lama kala I :-
Lama kala II :-
Warna air ketuban : hijau kental
Jenis persalinan : SC
Komplikasi : Tidak ada His,ateram, PEB
Penolong : Dr spog
Jam/ tanggal lahir : 13.55 Wita/ 26 Juli 2023
Jenis kelamin : laki-laki
BB/PB : 1800 gram/ 45 cm
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Bayi tampak Kuning/ sedang
Kesadaran : Composmentis
Tonus otot : Aktif
Berat badan : 1900 gram
Tanda-tanda vital :
DJ : 136 x/Menit
Respirasi : 48 x/Menit
Suhu : 36,4C
SPO2 : 99 %
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala: tidak ada caput suksedeneum, tidak ada
cephal hematoma, sutura normal, tidak ada
kelainan.
b. Mata: Tampak simetris, tidak ada kelainan
ataupun tanda-tanda infeksi, sklera Kuning.
c. Hidung : tidak ada pernafasan cuping hidung,
tidak ada sekret.
d. Mulut : Bibir kekuningan, tidak ada labioskisis,
tidak ada palatoskisis dan
labiogenatopalatoskisis. Terpasang OGT
e. Telinga : Simetris, membalik lembut
f. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid,
tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada
bendungan vena jugularis.
g. Dada : Simetris, aerola menonjol
h. Abdomen : Simetris, tidak ada benjolan, tidak
ada perdarahan tali pusat, tidak ada tanda
infeksi atau kelainan.
i. Tangan : Simetris, pergerakan lemah, kedua
tangan jumlah jari masing-masing 5, masih
Terpasang infus D12,5% di bagian tangan kanan
j. Kaki : Simetris, pergerakan aktif , kedua kaki
jumlah jari masing-masing 5
k. Kulit : Warna kulit kekuningan
l. Punggung : Tidak ada benjolan dan cekungan
pada tulang punggung
m. Genetalia : Jenis kelamin laki-laki, Testis sudah
turun ke dalam skrotum
n. Anus : Terdapat lubang anus
o. Reflek :
1. Moro : Telah dilakukan
2. Babinsky : Telah dilakukan
3. Rooting : Belum dilakukan
4. Sucking : Belum dilakukan
5. Swallowing : Belum dilakukan
6. Grasping : Belum dilakukan
2. Antropometri
Berat Badan Lahir : 1800 gram
Panjang Badan : 45 cm
Lingkar kepala : 31 cm
Lingkar dada : 29 cm
Lingkar lengan : 9 cm
3. Pola Eliminasi
BAK
Frekuensi : 2x dari jam 14.00- 20.00 Wita
Warna : kuning
Konsistensi : cair
BAB
Frekuensi : 1x dari jam 14.00- 20.00
Warna : kekuningan
Konsistensi : encer
4. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan Laboratorium
Darah
Tanggal Pemeriksaan Hasil Nilai normal
26 Juli 2023 HGB 13,8 g/dl % 10-14 g/dl
Eritrosi 4,0 Juta/uL 4.8-7.1 juta/Ul
Hematokril 46,6 % 55-66 %
Leukosit 15.3 1000/uL 9.400-3.400
Trombosit 160 1000/uL 150-450
1000/uL
Glukosa 93 mg/dl 40-150 mg/dl
Tanggal/ jam ; 01-08-2023/ 10.00 WITA
Bilirubin cash ; 12/ 12,1/ 13,9 mg/dl
C. Analisa
Diagnosa :Neonatus cukup Bulan
kecil Masa Kehamilan
umur 6 hari dengan
hiperbilirubinemia
Diagnosa potensial : Hiperbilirubin
Kebutuhan tindakan segera :Mandiri : Menghangatkan
bayi , atur posisi ,
observasi , Kolaborasi :
Pemberian nutrisi yaitu Asi
melalui OGT Setiap /3 jam
dan Pemberian therapy/
Foto therapy oleh dokter Dr
Spa
D. Penatalaksanaan
Tanggal/ jam : 09 Agustus 2022/ 15.30 Wita
1) Memberitahukan kondisi pasien pada keluarga yaitu
denyut jantung 136x /mnt, respirasi 46x /mnt, suhu
36,5°c, Spo2 99% dan meminta izin kepada keluarga
untuk bersedia dijadikan pasien laporan studi kasus.
Keluarga mengetahui kondisi pasien dan keluarga
bersedia.
Informed consent sudah ditanda tangani.
2) Menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa bayinya
masih terpasang OGT atau selang lambung untuk
membantu bayi dalam pemberian nutrisi/ asi setiap /3
jam atau pada jam 15.35 (8x 10 ml) dan infus masih
terpasang pada tangan bagian kanan bayi yaitu
Dextrose 12,5 % 7 tetes permenit
Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan setuju
dengan tindakan yang akan dilakukan.
3) Melakukan Asuhan kepada bayi baru lahir :
a) Memasukkan bayi dalam incubator
b) Mengatur posisi bayi
Membersihkan kotoran bayi dengan mengganti
popok bayi setiap 3 jam sekali /Setiap kali
basah atau pada jam 15.45 wita.
4) Melakukan Kolaborasi dengan Dr.Spa, advice, terkait
pemberian obat dan foto Terapy pada bayi. Foto
terapy mulai dilakukan pada jam 10.00 wita, dan obat
yang akan di berikan yaitu, Injeksi Gentamicin 1x9
mg, injeksi cefotaxim 2x100 mg, Hidrokortison 2x35
mg.
Kolaborasi dengan Dr.Spa sudah dilakukan
5) Memberitahu keluarga untuk tetap mencuci tangan
sebelum dan sesudah menyentuh bayi.
Pasien mengerti apa yang di jelaskan.
HARI KEDUA (02-08-2023) PENGKAJIAN DATA BAYI NY”A”
Hari/Tanggal : Rabu, 02 Agustus 2023
Waktu : 15.30 Wita
Tempat :Ruang NICU RSUD Sumbawa
A. Subjektif
Keluarga mengatakan keadaan umum bayi belum membaik.
B. Objektif
1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : Sedang
b) Kesadaran : Composmentis
c) BB : 1900 gram
d) Panjang Badan : 45 cm
e) TTV : DJ = 136 x/menit, R = 49 x/menit,
S = 36,6ºC
2. Eliminasi
BAK
Frekuensi. : 2x pada jam 14.00-20.00 wita
Warna : kehitaman
Konsistensi : cair
BAB
Frekuensi : 1x pada jam 14.00-20.00 wita
Warna : kekuningan
Konsistensi : encer
3. Pemeriksaan Penunjang (Tgl/jam : 02 Agustus 2023/ 12.00)
Glukosa : 98 mg/dl
Bilirubin cash : 14,7/14,4/17,2 mg/dl
C. Analisa
a) Diagnosa : neonatus cukup bulan kecil masa kehamilan
umur 7 Hari dengan hiperbilirubinemia dan Sepsis
Neonaturum
b) Masalah : Bayi Kuning
c) Kebutuhan tindakan segera : Foto Terapy
D. Penatalaksanaan
1) Melakukan pemeriksaan TTV meliputi suhu, respirasi, denyut
jantung. Didapatkan hasil pemeriksaan yaitu suhu 36,6 oC,
denyut jantung 138 x/menit, Respirasi 46 x/menit, SP02 98%.
Keluarga mengetahui keadaan dan kondisi bayi
2) Melakukan Asuhan kepada bayi
a) Memeriksa keadaan umum bayi yaitu sedang bayi dalam
incubator
b) Mengatur posisi bayi setiap 3 jam sekali
c) Membersihkan kotoran bayi dengan mengganti popok
bayi setiap 3 jam sekali.
d) Pemberian asi melalui OGT 8x 10 ml/3 jam
3) Memberikan pasien Terapy obat-obatan sesuai advice yaitu
infus D 12,5 %, Injeksi cefotaxim 2 x 100, injeksi Gentamicin
1x10,injeksi fluconazole 1x24 mg / 72 jam, dan dilanjutkan
dengan Foto theraphy untuk membantu proses mengurangi
Bilirubin agar dapat dikeluarkan oleh tubuh dengan lebih
efektif.
Terapi sudah diberikan sesuai dengan advice dokter.
4) Meminta keluarga pasien (ibu) untuk tetap berada didalam
ruangan jika akan dilakukan menyusui atau PMK selama 2
jam.
Ibu sudah mengerti apa yang di jelaskan.
5) Memberitahu ibu untuk mencuci tangan sebelum dan
sesudah menyentuh bayi. Ibu mengerti apa yang
dijelaskan.
HARI KETIGA (03-08-2023) PENGKAJIAN DATA BAYI NY”A”
Hari/Tanggal : Kamis, 03 agustus 2023
Waktu : 08.00 Wita
Tempat :Ruang NICU RSUD Sumbawa
A. Subjektif
Keluarga mengatakan keadaan umum bayi belum membaik.
B. Objektif
1. Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : Sedang
b) Kesadaran : Composmentis
c) BB : 1900 gram
d) Panjang Badan : 45 cm
e) TTV : DJ = 136 x/menit, R = 46 x/menit,
S = 36,5ºC
2. Eliminasi
BAK
Frekuensi. : 2x dari jam 10.45-15.30 wita
Warna : kuning
Konsistensi : cair
BAB
Frekuensi : 1x dari jam 10.45-15.30 wita
Warna : kehitaman
Konsistensi : padat
1. Pemeriksaan Penunjang
Bilirubin cash : 5,2/3,4/2,8 mg/dl
C. Analisa
a) Diagnosa : Neonatus cukup Bulan kecil masa kehamilan
umur 8 Hari, keadaan umum sedang dengan Hiperbilirubinemia
b) Masalah : Bayi Kuning
c) Kebutuhan tindakan segera :
Mandiri : mengobservasi TTV, keadaan umum bayi, BAB/BAK
Kolaborasi : terapi pemberian obat dan foto Terapy
Rujukan : tidak ada
D. Penatalaksanaan
Tanggal 03 Agustus 2023, Pukul 08.00 Wita.
1) Melakukan pemeriksaan TTV meliputi suhu, respirasi, saturasi
oksigen, denyut jantung. Didapatkan hasil pemeriksaan yaitu
suhu 36,5oC, denyut jantung 136 x/menit, Respirasi 46
x/menit, SP02 98%. Keluarga mengetahui keadaan dan
kondisi bayi
2) Memberitahu ibu/ keluarga hasil pemeriksaan yang diporoleh
yaitu, keadaan umum bayi sedang. Dan pemberian foto Terapi
masih dilanjutkan pada jam 14.00 WITA, pada jam 12.00 Wita
foto Terapi dihentikan karena kadar bilirubin bayi sudah mulai
stabil.
Ibu/ keluarga bayi sudah mengetahui keadaan nya.
3) Melanjutkan infus Dextrose 10 % 7 tetes permenit.
Infus Dextrose 10 % 7 sudah dilanjutkan
4) Melakukan Asuhan kepada bayi baru lahir yaitu mengatur
posisi pasien, menganti popok bayi pada jam 10.45 atau bila
kotor dan setiap kali basah.
5) Memberikan Terapy obat dengan berikan Injeksi fluconazole
1x24 mg / 72 jam, vitamin D3 1x400 IV,Sanbplek 1x0,3 cc,
urdahex 3x20 mg diberikan pada jam 10.00 wita.
6) Menjaga kehangatan bayi di dalam incubator dengan suhu
33,3 ˚C setting temp 32,0 ˚C.
Jaga kehangatan bayi sudah dilakukan.
HARI KEEMPAT (04-08-2023) PENGKAJIAN DATA BAYI NY”A”
Hari/Tanggal : jum’ at, 04 agustus 2023
Waktu : 08.00 Wita
Tempat :Ruang NICU RSUD Sumbawa
A. Subjektif
Keluarga mengatakan keadaan umum bayi belum membaik.
B. Objektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : sedang
b. Kesadaran : Composmentis
c. BB : 1900 gram
d. Panjang Badan : 45 cm
e. TTV : DJ = 136 x/menit, R = 46 x/menit, S = 36,6ºC
1. Antropometri
f. Lingkar kepala : 31 cm
g. Lingkar dada : 29 cm
h. Lingkar lengan : 9 cm
i. Panjang Badan : 45 cm
2. Eliminasi
BAK
Frekuensi. : 2x dari jam 10.45 s/d 15.30 wita
Warna : Kuning
Konsistensi : cair
BAB
Frekuensi : 1x dari jam 10.45 s/d 15.30wita
Warna : Kehitaman
Konsistensi : padat
4. Pemeriksaan Penunjang
(tidak dilakukan)
C. Analisa
a) Diagnosa : Neonatus cukup Bulan kecil masa kehamilan umur
10 Hari, keadaan umum sedang dengan Hiperbilirubinemia
b) Masalah : tidak ada
c) Kebutuhan tindakan segera
Mandiri : menjaga kehangatan tubuh bayi
melalui incubator, observasi TTV
Kolaborasi : terapi pemberian obat dengan dr. Spa
Rujukan : tidak ada
D. Penatalaksanaan
Tanggal 04 agustus 2023, Pukul 08.00 Wita
1) Melakukan pemeriksaan TTV meliputi suhu, respirasi, saturasi
oksigen, denyut jantung. Didapatkan hasil pemeriksaan yaitu suhu
36,5oC, denyut jantung 136 x/menit, Respirasi 46 x/menit, SP02
98%. Keluarga mengetahui keadaan dan kondisi bayi
2) Lanjutkan berikan cairan infus D10% dengan, L : Kebutuhan
cairan 185 cc dan R: Rate 7,7 cc/ jam
3) Mengopservasi BAB/BAK bayi, Dan mengganti popok bayi pada
jam 10.45 atau pada saat basah atau kotor.
Mengopservasi BAB/BAK bayi sudah dilakukan.
4) melakukan pemberian Asi pada jam 12.30 Wita sebanyak 8x 10 cc
melalui selang OGT
Pemberian asi sudah dilakukan.
5) Memberikan Injeksi cefotaxim 2x100 mg, Injeksi Gentamicin 1x10
mg, injeksi fluconazela 1x24 mg/ 72 jam, vitamin D3 1x 400 IV
Pemberian injeksi obat sudah dilakukan.
6) Menjaga kehangatan bayi didalam incubator dengan suhu setting
temp 33.0 °c
Menjaga kehangatan bayi sudah dilakukan
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini penulis akan menjelaskan tentang
pengaruh asuhan kebidanan yang telah diberikan. Pada bab ini
juga penulis akan menguraikan tentang ada atau tidaknya
kesenjangan antara teori dan hasil studi penatalaksanaan dan
penerapan asuhan kebidanan pada bayi Ny B dengan
Hiperbilirubinemia. Adapun hasil setiap kunjungan yang
dilakukan antara lain sebagai berikut:
1) Subyektif (S)
Berdasarkan hasil pengkajian yang telah diperoleh Ny. A 23
tahun mengaku hamil anak ke 1 dan tidak pernah keguguran.
Usia kehamilan 39-40 minggu. Di RSUD Sumbawa atas
indikasi PEB
Menurut Blackburn ST, 2007, Asfiksia, Hipoksia,
Hipotermi, Sepsis, bisa menyebabkan perubahan fungsi dan
perfusi hati (kemampuan konjugasi) yang menyebabkan
terjadinya Hiperbilirubinemia. Penelitian ini diperkuat dengan
penilitian terbaru oleh Saini, Arushi Galot, 2021 yang
mengatakan Hipoksemia dapat berdampak negatif pada hepar
dan organ tubuh lainnya. Gangguan pada hepar akibat
asfiksia dapat mengganggu metabolisme bilirubin, sehingga
menyebabkan hyperbilirubinemia.
Menurut Dewi, 2016 Hiperbilirubinemia adalah suatu
keadaan dimana kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang
mempunyai potensi menimbulkan kern ikterus kalau tidak
ditanggulangi dengan baik. Salah satu kondisi klinis
yang paling sering ditemukan pada bayi baru
lahir adalah hiperbilirubinemia. Sekitar 25-50% bayi baru
lahir menderita ikterus pada minggu pertama.
Hiperbilirubinemia pada bayi kurang bulan angka
kejadiannya lebih tinggi. Dimana terjadi 60% pada bayi
cukup bulan dan pada bayi kurang bulan terjadi sekitar
80%.
Menurut Auliasari, 2019 Hiperbilirubinemia dapat
disebabkan karena bererapa faktor yaitu faktor perinatal,
faktor neonatal dan faktor maternal. Pada faktor perinatal
dapat disebabkan oleh jenis persalinan, infeksi dan faktor
trauma lahir. Pada faktor neonatal dapat disebabkan oleh
faktor genetik, prematuritas, hipoglikemia, rendahnya
asupan ASI, polisitemia, hipoalbuminemia dan obat-
obatan. Sedangkan faktor maternal dapat disebabkan
oleh komplikasi kehamilan, ras, penggunaan infus
oksitosin dan ASI. BBLR danasfiksia juga merupakan faktor
lain penyebab hiperbilirubinemia.
Melihat kondisi pasien dengan teori yang menjadi
landasan terjadinya Asfiksia Berat dan Hiperbilirubinemia,
maka penulis menyimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan
antara praktek dengan teori yang sudah ada.
3. Data Obyektif (O)
Kunjunga Usia Kead Hasil Pemeriksaan
n Pasi aan
en Umu
m
I 5 Bayi Berat badan 1800
hari tampa gram, panjang badan
k 45 cm, lingkar kepala
lemah 31 cm, lingkar dada 29
cm, lingkar lengan 9
cm, denyut jantung
126x/menit, respirasi
46x/menit, suhu
36,6oC, dan SPO2
98%, pemeriksaan fisik
tampak kepala lebih
besar dari badan,
telinga membalik
lembut, areola muncul
sedikit tonjolan 1-2
mm, kulit kebiruan,
ekstremitas atas dan
bawah jumlah jari
masing-masing 5 dan
pada kaki terdapat
garis melintang hanya
pada bagian anterior,
Reflek moro ada,
reflek glabella ada,
reflek babinski ada,
reflek rooting belum
ada, reflek sucking
belum ada, reflek
swallowing belum ada,
dan reflek grasping
belum ada.Kulit
tampak kekuningan
II 6 Bayi Denyut jantung 126
hari tampa x/menit, respirasi
k 18x/menit, suhu
lemah 36,6oC, dan SPO2
95%. Reflek moro ada,
reflek glabella ada,
reflek babinski ada,
reflek rooting ada
(Lemah), reflek
sucking ada(Lemah),
reflek swallowingada
(Lemah), dan reflek
grasping ada.kulit
tampak kekuningan
III 7 Bayi Denyut jantung
hari tampa 126x/menit, respirasi
k 20x/menit, suhu
sedikit 36.6oC, dan SPO2
lemah 98%. Reflek moro ada,
reflek glabella ada,
reflek babinski ada,
reflek rooting ada
(sedikit Lemah), reflek
sucking ada (sedikit
Lemah), reflek
swallowingada (sedikit
Lemah), dan reflek
grasping ada.kulit
tampak kekuningan
IV 5 Bayi Denyut jantung
hari sema 126x/menit, respirasi
kin 20x/menit, suhu
memb 36.7oC, dan SPO2
aik 98%. Reflek moro ada,
reflek glabella ada,
reflek babinski ada,
reflek rooting ada,
reflek sucking ada,
reflek swallowing ada,
dan reflek grasping
ada.Kulit tampak
kekuningan
Warna kuning dalam kulit akibat dari akumulasi pigmen
bilirubin yang larut lemak, tak terkonjugasi, non polar
(bereaksi indirek). Pada bayi dengan hiperbilirubinemia
kemungkinan merupakan hasil dari defisiensi atau tidak
aktifnya glukoronil transferase. Rendahnya pengambilan
dalam hepatik kemungkinan karena penurunan protein
hepatik sejalan dengan penurunan darah hepatik (Suriadi
dan Yuliani 2010)
3. Analisa (A)
Pada kasus ini didapatkan hasil pemeriksaan bahwa
bayi Ny A mengalami Hiperbilirubinemia dikarenakan
faktor ibu yang kekurangan energy kronik. Berdasarkan
hasil pengkajian data subyektif dan obyektif, maka
ditegakkan sebuah diagnosa kebidanan yaitu “Neonatus
Cukup Bulan (NCB) kecil Masa Kehamilan (SMK) umur 4
hari dengan hiperbilirubinemia”.
Menurut teori Amelia 2019, menegakkan diagnosis
BBLR adalah dengan mengukur berat badan lahir bayi
dalam jangka waktu 1 jam setelah lahir dapat diketahui
dengan dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
2. Penatalaksanaan
Berdasarkan hasil analisa yaitu By A neonatus cukup bulan
sesuai masa kehamilan dengan Hiperbilirubinemia . Dilakukan
Penatalaksaan atas advise dokter spesialis anak dilakukan
observasi TTV 1 jam sekali , dan dilakukan permeriksaan lab serta
dilakukan Fototherapi pada tanggal 29 Juli 2023 pukul 13.55 wib ,
bayi diberikan Asi, hal ini sesuai dengan pendapat surasmi yang
mengatakan penatalaksanaan medis pada bayi hiperbilirubin
dengan Fototherapi , menyusui bayi dengan ASI , dan Terapi Sinar
Matahari. 6 Untuk penatalaksanaan Fototerapi dilakukan 1x24 jam
atas advise dokter karena hasil bilirubin total sudah kembali normal.
Ini menjadi kesenjangan karena dalam teori disebutkan jika
fototerapi dilakukan 2 x 24 jam .
5. Faktor Pendukung
Selama pelaksanaan asuhan kebidanan pada By. A di Ruang
NICU RSUD Sumbawa adalah adanya kerjasama yang baik
dengan ibu, keluarga dan tenaga kesehatan serta tersedianya
sarana yang memadai sehingga asuhan bisa diberikan secara
maksimal.
6. Faktor Penghambat
Selama pelaksanaan asuhan kebidanan pada BY A di Ruang NICU
RSUD Sumbawa tidak ditemukan faktor penghambat . .
C. Keterbatasan
Keterbatasan dalam studi kasus ini adalah saat melakukan
asuhan dan melakukan penjelasan dengan keluarga pasien terkait
kebutuhan pasien, keluarga dari pasien tidak sepenuhnya
mempercayai penulis dalam memberikan asuhan karena dirasa
belum mampu. Sehingga penulis mengalami sedikit kesulitan
dalam memberikan asuhan terhadap pasien, namun setelah
dilakukan konseling dan pendekatan dengan keluarga dan
meyakinkan keluarga bahwa tindakan yang dilakukan telah sesuai
dengan prosedur Rumah Sakit sehingga keluarga setuju dan
percaya dengan asuhan yang diberikan oleh penulis.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan asuhan kebidanan yang telah diberikan dengan
menggunakan metode SOAP. Evaluasi tindakan umum
Hiperbilirbinemia karena faktor penyulit persalinan pada ibu yang
menyebabkan bayi lahir dengan Asfiksia Berat, evaluasi
pengetahuan ibu mengenai Hiperbilirubinemia, dan evaluasi pasca
tindakan terhadap bayi Hiperbilirubinemia, maka penulis menarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Data Subyektif (S)
Dari pengkajian data yang dilakukan penulis memperoleh
data subyektif dari keluarga mengenai kemungkinan
penyebab Hiperbilirubinemia yaitu kurangnya pengetahuan
ibu tentang gangguan serta komplikasi pada kehamilan dan
persalinan.
2. Data obyektif (O)
Saat lahir tangisan bayi merintih ekstremitas kebiruan,dan
berat badan lahir rendah yaitu 1800 gram.
3. Analisa (A)
Dari hasil data subyektif dan obyektif, penulis
menegakkan diagnosa yaitu Neonatus Cukup Bulan (NCB)
kecil Masa Kehamilan (SMK) dengan Hiperbilirubinemia.
4. Penatalaksanaan (P)
Asuhan yang diberikan kepada bayi Ny.A, meliputi
penjelasan hasil pemeriksaan pada keluarga, informed
consent, persetujuan keluarga atas tindakan yang dilakukan,
memantau TTV dan tanda bahaya. Bidan melakukan
kolaborasi dengan dokter untuk mendapat advice dokter
dalam penanganan.
Penatalaksanaan pertama yang dilakukan oleh RSUD
Sumbawa dengan kasus Hiperbiliruinemia adalah
melakukan langkah-langkah menempatkan bayi dalam
inkubator untuk menghangatkan bayi, memasang infus,
memasang OGT jika bayi belum ada reflek menghisap dan
menelan, memasang okisgen, pemberian Fototheraphy,
memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi serta
pemberian nutrisi yang cukup.
Hasil evaluasi dari kunjungan pertama hingga kunjungan
terakhir yaitu keadaan bayi semakin membaik, refleks
semakin membaik, tanda-tanda vital belum dalam batas
normal, ASI diberikan melalui OGT kepada bayi, menjaga
kebersihan tali pusat bayi untuk mencegah infeksi, menjaga
kehangatan bayi.
5. Tidak ditemukannya kesenjangan antara teori dan lahan
praktek
B. Saran
1. Pelayanan Kesehatan
Diharapkan pelayanan kesehatan dari hasil studi kasus ini dapat
dimanfaatkan sebagai masukkan dalam memberikan suhan pada
bayi dengan Hiperbilirubinemia.
2. Penulis
Diharapakan penulis dapat melakukan identifikasi dan
asuhan terhadap bayi dengan Hiperbilirubinemia, sehingga
dapat memperdalam dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh
dan dapat mencegah komplikasi akibat Hiperbilirubinemia
pada bayi baru lahir karena kurangnya pengetahuan ibu
tentang komplikasi pada kehamilan dan persalinan.
3. Klien, Keluarga dan Masyarakat
Disarankan kepada masyarakat untuk memperhatikan
perencanaan kehamilan dengan matang, mencukupi suplai
gizi. Memberikan ASI yang adekuat, tetap menjaga
kehangatan tubuh bayi dan memperhatikan tumbuh kembang
bagi ibu dengan bayi Hiperbilirubinemia. Faktor resiko
Hiperbilirubinemia yaitu dari faktor ibu berupa Plasenta Previa,
usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak
hamil dan bersalin terlalu dekat, penyakit menahun seperti
hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, dan pekerjaan
yang terlalu berat. Faktor kehamilan berupa hamil ganda,
komplikasi kehamilan, KPD (Ketuban Pecah Dini),
eklampsia/preeklampsia, dan faktor janin berupa cacat bwaan
dan infeksi dalam rahim.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi Vivian Nanny Lia 2010 . Asuhan Neonatus Bayi dan Anak
Balita . Jakarta . Salemba Medika .
Suriadi.2001 Asuhan Keperawatan Pada anak edisi 1 . Jakarta . Fajar
Inter Pratama .
Depkes RI. 2017 . Capaian Kinerja Kemenkes RI [Diakses pada
tanggal 28 Maret 2018] http//www.depkes.go.id
Hiperbilirubin pada bayi . 2013 . [Diakses tanggal 2 Mei 2018]
ejournal.unsrat.ac.id
Anonim . 2015 . Riset Kesehatan Dasar . Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia .
Jakarta .
Nike . 2014 . Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir . Jakarta . EGC
Markum,2002 . Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak . Jakarta . FK UI .
Saifuddin, AB. 2009 .Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta . EGC
Data register RSUD Leuwiliang 2017
Alimul,Hidayat A. 2005 .Pengantar Ilmu Keperawatan Anak . Jakarta:
Salemba medi
LAMPIRAN