BAB II
SEJARAH BENTENG KUTO GAWANG DAN KUTO BESAK
A. Sejarah Benteng Kuto Gawang
Terdapat banyak peninggalan sejarah yang Palembang simpan diantaranya ialah
Keraton Kuto Gawang yang pernah berdiri sekitar 100 tahun dimana keraton ini
merupakan inti dari ibukotanya Palembang yang secara kosmologisnya bisa dikenal
sebagai pusatnya kekuatan magis kerajaan dikala itu. Keraton tersebut dibangun
maupun didirikan oleh Ki Gede Ing Sura pada 1552-1573 diwilayah sekitaran
kelurahan I Ilir (Palembang Lamo) dan kelurahan Sungai Buah, atau dikompleks
1
Pusri. 1 Keraton Kuto Gawang ialah pusatnya Batanghari Sembilan yang dijadikan
sbeagai simbolnya kosmologi “satu” pada konsep Melayu Jawa yakni suatu simbol
mengenai penggambaran delapan buah penjuru mata angin yang terpencar dari
pusatnya yang maan penjuru ataupun pusat kesembilannya tersebut ada di keraton
Palembang. Sehingga Palembang mengklaim berbagai daerah luarnya berada
dibatasan Batanghari (sungai). Dari keraton tersebut, para penguasanya beradaptasi
dengan lingkungan Melayu yang ada disekitar sehingga terjadilah asimilasi maupun
akulturasi budaya Melayu dan Jawa yang terkenal sebagai kebudayaannya
Palembang. Dari hasil pra penelitian Balar Palembang, secara geografis Batasan kota
Palembang dimasa pra kesultananya cukup strategis yang mana wilayah tersebut
dikelilingi oleh sungai mencakup Batasan barat, timur, selatan maupun utaranya ialah
sungai musi, sungai Taligawe, sungai Buah, maupun sungai Lunjuk. Selain hal
tersebut dikawasan tengahnya kota Palembang dimasa awalnya kesultanan mengalir
pula sungai Rengas. 2 . Tidak hanya batasan sungai, secara teknis Keraton Kuto
Gawang diperkuat serta dilindungi oleh pagar keliling tebal dari kayu unglen serta
cerucup yang lokasinya terletak disebelah utara. Saat ini jadi kawasan batasan
hijau( greenbarier) PT Pusri. Selaku ibukota provinsi Sumatera Selatan( Sumsel) serta
salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang mempunyai sejarah panjang.
Pertumbuhan Palembang diawali dari kemunculannya kerajaan sriwijaya. Setlah
1 Ibid., hlm. 1-2.
2 Palembang diambil dari kata Limbang yakni kosakatanya jawa yang bermakna membersihkan logam
ataupun biji dari benda luar ataupun tanah. Pa ialah sebuah kata hubung yang dipergunakan oleh orang
melayu apabila mereka ingin menyebutkan sebuah tempat yang mana sebuah kondisi ataupun usaha
berlangsung. Sehingga pa-limbang pada kosakatanya jawa bermakna sebagai tempat membersihkan
logam ataupun biji. LihatnJ.I. Van Sevenhoven, Lukisan Tentang Ibu Kota
Palembang,[Link],i(Yogyakarta: Ombak, 2015), hlm. 2.
2
kejayaannya sriwijaya runtuh, dasar kekuasaan Majapahitlah yang kemudian mengisi
kekosongan tersebut bertepatan dengan dipandu seorang adipate Ario Darma yakni
putranya Prabu Brawijaya yang merupakan rajanya majapahit. Ario Damar selaku
adipate mempunyai anak tiri yang Namanya Raden Fatah yang nanti hendak jadi
sultan awal untuk kesultanan Demak. Sehabis kekuasaannya Majapahit berakhir yang
disebabkan oleh bangkitnya kesultanan maupun kerajaan Islam diwilayah Palembang.
Palembang setelah itu jadi salah satu daerah yang berperan selaku proteksi Kerajaan
Islam Demak yang mengaitkan Aria Penangsang serta Pangeran Hadiwijaya. Sehabis
itu pada abad ke- 16 berdirilah kerajaan Palembang yang didirikan oleh bangsawan
yang tiba dari Jawa, tepatnya dari daerah Jipang, Demak. Mereka ini, yang terdiri atas
80 kepala keluarga ialah pengikut Aria Jipang( Pangeran Aria Penangsang).
Kehadiran mereka dari Jawa disebabkan tewasnya Pangeran Aria Penangsang dalam
perebutan tahta di kesultanan Demak. Bersumber pada catatan kronik Tiongkok,
tulisan pelaut Arab serta Persia(abad ke 8–9 Meter) diyakini wujud kota Palembang,
memanjang selama sungai Musi mulai dari lingkungan PT Pupuk Sriwijaya( Pusri)
hingga ke wilayah Karang Anyar, yang mana bagian seberang ulunya tidak ada
pemukiman. 3.
Dari nama serta gelarnya, paling tidak Ki Gede Ing Sura, merupakan
bangsawan yang tiba dari Jawa merupakan seseorang sura, yang jika dilakukan
penerjemahan dalam bahasa Indonesia mempunyai makna seorang yang gagah serta
berani, bertabiat kepahlawanan serta pria perkasa. Bagi [Link] Graaf, gelar‘Ki’ yang
3 MestikaiZed, KepialanganiPolitikidaniRevolusi: Palembang 1900-1950 (Jakarta: LP3ES, 2003),
hlm.28
3
dipakai terlebih dulu oleh pendahulu- pendahulu senapati semacam Ki Ageng Sela,
Ki Ageng Ngenis, Ki Ageng Pemanahan menampilkan kalau mereka ini berasal dari
kalangan warga rendah. Bersumber pada catatan sejarah serta sketsa Laksamana
Johan van Der Laen pada tahun 1659, Keraton Kuto Gawang letaknya menghadap ke
arah Sungai Musi(selatan) dengan pintu masuknya lewat Sungai Rengas. Sebelah
timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe, serta mata angin baratnya berbatasan
dengan Sungai Buah. Keraton Kuto Gawang berupa persegi panjang yang dibentengi
dengan kayu besi serta kayu unglen yang tebalnya 30×30 cm tiap batangnya. Di
tengah benteng keraton nampak berdiri megah bangunan keraton yang posisinya di
sebelah barat Sungai Rengas. Kraton Kuto Gawang yang dikelilingi pagar kota yang
kuat, ditafsirkan tidak berdiri sendiri. Tidak hanya mempunyai Masjid di Candi
Laras, kota Palembang pula mempunyai pertahanan yang berlapis dengan kubu- kubu
yang ada di Pulau Kemaro, Plaju, Bagus Kuning(Sungai Gerong). Benteng ini
memiliki dimensi 290 Rijnlandsche roede(1.093 m), baik panjang ataupun lebarnya.
Besar bilik yang mengitarinya dekat 24 kaki(7,25 m) 4 Benteng keraton memiliki 3
buah baluarti(bastion) yang terbuat dari konstruksi batu. Dulu, orang orang asing
yang tinggal di Seberang Ulu Sungai Musi merupakan orang- orang Portugis,
Belanda, Tiongkok, Melayu, Arab, Campa, serta yang lain. Kekuatan Kuto Gawang
ditopang oleh sesuatu sistem perbentengan serta kubu yang terdapat di bagian hilir
Musi, ialah benteng Bamagangan yang ada di di muara Sungai Komering. Benteng
4 DjohaniHanafiah, SejarahiKeraton-keratoniPalembang: Kuto Gawang (Palembang:
CViPratama,i2005),ihlm. 8.
4
kedua merupakan Benteng Martapura, serta Benteng Pulau Kemaro, yang posisinya
dekat dengan Kuto Gawang.
Kondisi Keraton Kuto Gawang kini sama dengan berbagai bangunan yang
telah ada semenjak zamannya kerajaan Sriwijaya yang mana kondisinya ini sudah
Sebagian hilang maupun rusak. Keraton ini telah jadi abu dan arang sebab terjadinya
pembumihangusan maupun penyerbuan oleh VOC tanggal 24 November 1659
dibawah pimpinannya Laksamana Johan Van Der Laen yang mana hal tersebut
menjadi jawaban terhadap adanya penyerbuan kerajaan Palembang yang ketika
kedatangannya VOC, Cornelis Ockerz dikirimnya ke Palembang dengan armada de
Wachter dan Jacatra guna memenuhi kontrak dagany khususnya lada dan timah pada
kerajaan Palembang. Dengan adanya penyerbuan terhadap kerajaan Palembang
tersebut terlihat bahwasanya Cornelis Ockerz maupun 42 orang Belanda terbunuh
serta 24 orang ditawan. Sedangkan de wachter dan Jacatra dikuasai dan direbut. 5.
Sehabis kejadian pembumihangusan maupun penyerbuannya keraton kuto
gawang, raja serta rakyat Palembang mengungsi keluar kota meninggalkan
reruntuhanya keraton kuto gawang. Sehabis sukses menyelamatkan dirinya dari
serangan VOC, raja Palembang yakni Pangeran Sido Ing Rejek Jamaluddin(1652-
1659) pula turut mengungsi ke wilayah pedalaman lewat sungai Ogan hingga ke
Indralaya. Di wilayah ini Pangeran Sido Ing Rejek Ratu Mangkurat Jamaluddin
berupaya untuk membangun kembali kekuatan. Tetapi, tidak sukses serta
kesimpulannya memutuskan buat senantiasa tinggal di situ hingga kesimpulannya
5 Djohan Hanafiah, Kuto Besak , hlm. 26.
5
wafat di wilayah Sakatiga(Ogan Ilir). Pangeran Sido Ing Rejek Ratu Mangkurat
Jamaluddin digantikan oleh saudaranya yang bernama Ki Mas Hindi yang bergelar
Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim. Hingga kesimpulannya, Ki Mas Hindi
mendirikan kesultanan Palembang Darussalam setelah itu bergelar sultan
Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayyidul Imam. 6
Sebaliknya peninggalan- peninggalan yang lain di akhir Kesultanan
Palembang(abad ke19) nasibnya hampir sirna ataupun tidak terpelihara. Dikala ini
cuma Masjid Agung Palembang yang dibentuk pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud
Badaruddin I(1724-1757) yang bernasib baik serta masih berdiri, sebab sudah
direstorasi serta direnovasi. Budayawan Djohan Hanafiah berkata kalau, pada tahun
1659 Palembang digempur Belanda lewat agresi militer Vereenigde Oost indische
Compagnie(VOC) ataupun perserikatan industri Hindia Timur yang menyebabkan
Keraton Kuto Gawang habis dibakar. Para korban yang berguguran dikala kota
digempur VOC, mungkin besar dimakamkan di Sabokingking(balik lingkungan
Pusri). Sebab bawah inilah, hingga makam Sabokingking ini dikira selaku simbol
upaya Kesultanan Palembang buat menegakkan kemerdekaan. 7
Pasca lebih 200 tahun penyerbuan serta pembumihangusan, Keraton Kuto
Gawang ditafsirkan selaku sesuatu tempat berdirinya keraton Raja- raja Palembang.
Sisa bangun annya masih bisa dilihat, di situ mari terdapat sepotong bilik
ditumbuhi tanaman yang memanjat serta bunga berbagai warnanya yang biasa
berkembang di pekarangan. Reruntuhan gerbang dinaungi serta dilindungi oleh suatu
6 Refico & Ahmad Zamhari, “ToponimnPadanMasanPemerintahannKesultanannPalembang
DarusallamidiiKecamataniIliriTimuri1iPalembang”. JurnaliSiddhayatra , vol. 23 (1), 2018, hlm. 60.
7 Ibid., hlm. 28.
6
tumbuhan beringin yang menarik, seakan mau berkata kalau tumbuhan tersebut
berasal dari sesuatu tempat, di mana sempat terdapat sesuatu kerajaan, kemegahan
pada masa silam. Tidak jauh dari dekat reruntuhan tersebut berdiri sesuatu pendopo
yang indah. Tempat ini diperkaya oleh alam dengan pohon-pohonan, flora serta fauna
yang membagikan banyak khasiat. Dekat pada tahun 1960an, sisa Keraton Kuto
Gawang dibuka buat pendirian pabrik pupuk PT Pusri. Dikala dicoba penggalian buat
memasang konstruksi pabrik, banyak sekali ditemui balok- balok kayu sisa bilik
Keraton Kuto Gawang ataupun bentuk- bentuk penemuan yang lain. Sayangnya, pada
dikala itu kita(spesialnya pemerintah) belum mempedulikan serta mencermati
permasalahan kesejarahan Keraton Kuto Gawang.
Sebagian media diprovinsi Sumatera Selatan ditahun 2016 telah dihiasi oleh
nama kuto Gawang yang mana nama tersebut dipergunakan untuk menamakan
kecamatan barunya kota Palembang yang termasuk dari hasil pemekarannya
kecamatan Ilir Timur II. Namun, menamakan kecamatan baru tersebut tidaklah sesuai
sebab lokasinya bukan di area Kuto Gawang. Sehinga pemakaian nama tersebut
dianggap mengganggu serta mengkaburkan sejarahnya. Selaku nama institusinya
kerajaan, Kuto Gawang sangatlah sacral. Sesungguhnya semangat pemkot maupun
DPRD Palembang untuk melaksanakan pemekarannya kecamatan Ilir Timur II
tersebut tujuannya agar pelayanan pada kehidupannya warga bisa di tingkatkan
spesialnya didaerah Kuto Batu, 11 Ilir, 10 Ilir, 9 Ilir, 8 Ilir serta melestarikan nama
Kuto Gawang tersebut pantas [Link] Larasati sebagai Pimpinan Pansus 6
DPRD Palembang menyampaikan bahwasanya menamakan kecamatan baru dengan
7
Kuto Gawang bukanlah keputusan sepihak namun merupakan usulan warga yang
mana hal tersebut sudah disepakati dengan DPRD Palembang.
Jika warga secara bersama-sama sungguh-sunggu melindungi Kawasan serta
nama Kuto Gawang, tidaklah hanya memohon perbaikan penamaan kecamatannya
Kuto Gawang. Selaku usulan, sepertinya telah seharusnya warga daerah Sumatera
Selatan dengan dipandu Sultan Mahmud Badaruddin III, Sultan Mahmud Badarudin
IV Djaya Wikrama(RM Fauwaz Diradja), Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, serta
pemerintah Kota Palembang buat menghindari berbagai perusahaan yang dengan
jelas membangun serta berproduksi diatas web(wilayah penemuan benda- benda
purbakala) Keraton Kuto Gawang. Paling tidak pemberian nama Sriwijaya selaku
industri yang berdiri di atas web dikira tidak pas, sebab mengaburkan serta
mengganggu sejarah. Walaupun nama Sriwijaya di atas nama Kuto Gawang.
Mengutip perkataan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin yang berwasiat biar nama
Kuto Gawang tidak dijadikan selaku nama kecamatan walaupun lokasinya persis di 1
Ilir, maksudnya bisa disimpulkan kalau dia pula hendak tidak menyetujui buat
merubah nama industri PT Pusri jadi PT Pupuk Kuto Gawang Bagi pemimpin
administrasi Kecamatan Ilir Timur II(Syairulgama), apalah makna suatu nama serta
terutama merupakan kemauan buat turut membangun kecamatan yang bermanfaat
untuk peningkatkan pelayanan warga. Demikian pula dengan keberadaan PT Pusri
yang dirancang buat kepentingan kemakmuran rakyat Indonesia. PT Pusri tidak bisa
diotak- atik kembali keberadaannya meski jelas- jelas berdiri di web Keraton Kuto
Gawang. Kedatangan PT Pusri dikira tidak melenceng, mengaburkan serta
mengganggu sejarah Keraton Kuto Gawang.
8
Pembicaraan mengenai kesultanannya Palembang tak terlepaskan dari keraton
sebab keraton ialah pusat pemerintahannya yang ada dimasa kesultanannya
Palembang. Pada sejarah, pusatnya kesultanan Palembang hadapi sebaian kali
perpindahan dimulai dari Kuto Gawang, Beringgin Janggut, Kuto kenguruk, hingga
kuto besak. Awal berdirinya keraton di Palembang ialah keraton kuto Gawang yang
dibentuk priyayi diabad ke16 yang tiba dari jawa ialah dari daerahnya Jipan pada
lingkup kerajaan Demak yang mana mereka merupakan pengikutnya Ario Jipan yakni
pangeran penagsang yang tewas ketika terjadi perebutannya kekuasaan Demak.
Dengan tewasnya pangeran tersebut, menjadikan para pengikutnya melarikan dirinya
dari daerah demak yang dipimpin oleh ki Gede Ing Suro menuju Palembang tahun
1552.
Generasi ki gede ing suro inilah yang hendak mencikal bakali pendirian
kerajaan Palembang yan mana situasi saat ini menjadi kompleksnya pabrik pupuk
sriwijaya (PUSRI). Pada dunia Melayu Palembang ialah nama yang karismatik.
Secara kosmologisnya, keraton ialah ibukota yang jadi pusatnya kekuatan magis
kerajaan, sementara kuto Gawang ialah pusatnya kekuatan yang ditopang dengan
adanya benteng serta kubu yang terdapat dibagian hilir yakni benteng Pulau Kemaro,
Benteng Martapura, serta Benteng Bamangangan. 8
Keraton Kuto Gawang ialah suatu keraton yang telah berdiri paling tidak
sepanjang 100 tahun, saat sebelum dibakar habis oleh ulah VOC pada tahun 1659.
Sebab peristiwa ini membuat Seda Ing rejek berangkat meninggalkan Palembang, dia
8 Djohan Hanafiah, Kuto Besak , hlm. 26.
9
berangkat ke Sakatiga(daerah Kabupaten Ogan ilir) meninggalkan reruntuhan Kuto
Gawang yang sudah jadi arang serta abu. Kejadian tersebut menjadikan Seda Ing
Rejeki meninggalkan reruntuhannya Kuto Gawang di Palembang dan berankat ke
Sakatiga untuk membuat keraton baru dan permukinan baru serta masjid baru.
Setelah itu, pusat pemerintahannya pindah kesebelah baratnya Suuntai
Tengkuruk yang mana keraton tersebut dimasa pemerintahannya Sultan Mahmud
Badarudin I diketahui dengan istilah Keraton Kuto Lamo ataupun Keraton Kuto
Tengkuruk. Dimasa kekuasannya ini, palembang mengalami berbagai kemajuan pada
pembangunannya yakni dibentuknya masjid agung sehingga ia wajib membentuk
keraton baru maupun pemukiman serta masjid baru pula
Dengan menyamakan kawasannya tanah keraton ialah letaknya kuto lama,
masjid agung, kuto besak hingga kawasannya beringin janggung terbentuk pula pulau
yang dibatasi sungai Penedan, Karang Waru/Sungai Rendang, Sungai Tengkuruk
maupun sungai Musi. Sungai Penedan ini berperan selaku terusannya yang menjadi
penghubungsungai kebun duku, sungai kapuran maupun sungai kemenduran. JA. Van
Rijn Alkemede berkomentar bahwasanya berbagai sungai ini saling berhubungan
sehingga penduduk yang melaksanakan ekspedisi dari sungai rendang mengarah
tekngkuruh serta dari sungai bayas mengarah sekanak sehingga tidak wajib melalui
sungai Musi. 9
Berdasarkan kondisi tersebut bisa membagikan anggapan kalau kehidupannya
kota palembang tidaklah lagi seluruhnya selama Sungai Musi. Diwilayah pedalaman
9 Ibid., hlm. 28.
10
ataupun disebelah darat sudah tercipta daerah pemukiman dengan dibaginya berbagai
sektor usaha tiap zona tersebut hendak berproduksi cocok dengan kemampuannya,
yang diucap [Link] guguk umumnya memiliki tugas, kemampuan, serta gunanya
tertentu. Paling tidak terdapat 3 zona bagi sifatnya, ialah: zona Profesi(peran/jabatan),
zona usaha, serta zona gunanya. Di tiap daerah guguk. Benteng Kuto Besak
merupakan salah satu peninggalan bersejarah masa lalu yang berada di Kota
Palembang, Sumatera Selatan. Lokasi Benteng Kuto Besak berada di tepian Sungai
Musi, tepatnya di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota
Palembang. Benteng ini tergolong luas dengan ukurannya 288,75 meter x 183,75
10
meter, serta tebal dinding 1,99 meter .
10 DjohaniHanafiah,iKutoiBesak,ihlm. 29.
11
B. Sejarah Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak merupakan benteng yang dibangun oleh pribumi dan bukan oleh
kolonial Belanda. Fakta sejarah ini membuat Benteng Kuto Besak berbeda dengan
dua benteng terkenal di Jawa, yaitu Vredeburg di Yogyakarta dan Vastenburg di
Surakarta. Benteng Kuto Besak ini tercatat sebagai satu-satunya benteng yang
dibangun oleh kaum pribumi. Awalnya Benteng Kuto Besak dibangun oleh Sultan
Mahmud Badaruddin I yang memerintah Kesultanan Palembang Darussalam pada
1724-1758. Namun pembangunan benteng ini belum selesai ketika Sultan Mahmud
Badaruddin I mangkat. Kemudian, pembangunan benteng dilanjutkan oleh Sultan
Mahmud Bahaudin yang memerintah Kesultanan Palembang pada periode 1776-1803.
Baca juga: Benteng Vastenburg: Lokasi, Fungsi, dan Arsitekturnya Pada masa
12
pemerintahan Sultan Mahmud Bahaudin inilah pembangunan benteng selesai, dan
disusul dengan pemindahan pusat kerajaan dari Kuto Lamo ke Kuto Besak. Dengan
demikian, Benteng Kuto Besak yang dibangun dalam waktu 17 tahun menjadi
keraton keempat Kesultanan Palembang, setelah Kuto Gawang, Beringin Janggut,
dan Kuto Lamo. Sejak digunakan, benteng ini menjadi pusat pemerintahan sekaligus
tempat tinggal penguasa Kesultanan Palembang. Namun ketika Belanda masuk ke
Palembang, benteng ini berhasil direbut dan difungsikan sebagai markas dan
menyebutnya sebagai Nieuwe Keraton atau Keraton Baru.
Bentekng kuto besak ialah kediaman resminya kesultanan Palembang diabad
ke19 yang mana sultan yang membangun benteng ini untuk pertama kalinya ialah
Mahmud baharuddin I dan kepemilikannya dialihkan kepada Belanda setelah ditahun
1823 kesultanan tersebut mengalami keruntuhan. Benteng kuto besak yang termasuk
keraton dimasa kesultanannya tepat terletak ditepinya sungai musi maupun anak
sungainya. Keberadaannya tersebut sangatlah strategis sebab langsung berhadapan
dengan jalur perdagangannya sumatera selatan. Menyadari pentingnya letak benteng
yang strategis ini, sultan Palembang memposisikan empat bastion yang lengkap
dengan artilerinya didalam benteng. Hal ini dilakukan untuk menandakan ada suatu
yang perlu diawasi dari dalam benteng ini yang mana benteng tersebut bisa dimaknai
sbegaai Menara pengawas pada penjara yang mengawasi rumah tahanan. 11
Keraton kuto besak dibentuk dimasa kekuasaannya Sultan mahmud Baharuddin yang
mana pendiriannya dilakukan ditahun 1780 dengan waktu yang lumayan lama yakni berkisar
11 Djohan Hanafiah, Kuto Besak, hlm. 9
13
17 tahun. Keraton tersebut dihuni secara formal di pagi harinya 23 syaban 1211 H. diakhir
abad ke18 serta dini abad ke19, kesultnan Palembang terus menjadi maju spesialnya dalam
bidang perekonomian dari kehancurannya organisasi dagang colonial VOC yang mana
penduduk Palembang pada kala itu bermata pencaharian sebagai tambang, Bertani,
menumpulkan hasil hutan maupun berdagang. Sistem pertanian yang dipergunaakn dikala itu
masih simple Cuma sekedar memenuhi kebutuhannya serta Sebagian hasil taninya mereka
jual. Dalam mencerna lahan pertanian, mereka memakai perlengkapan berbentuk beliung
ataupun kapas ringan, kapak maupun pawang. Komoditas hasil pertaniannya dari Palembang
merupakan lada sementara hasil alamnya berupa timah. Selain itu, Palembang juga
menghasilkan buah sebagai salah satu produk pertaniannya semacam pisang, rami, pinang,
sirih, tembakau, gambir maupun kapas. Adapun buah yang popular di Palembang yakni
bidara, duku, delima, rambutan, papaya, nanas, jeruk nipis, cempedak, durian, manga, nona,
srikaya, langsat, prambeh, jambu biji sertajambu bol.
14