0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan14 halaman

Sejarah Benteng Kuto Gawang Palembang

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan14 halaman

Sejarah Benteng Kuto Gawang Palembang

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

SEJARAH BENTENG KUTO GAWANG DAN KUTO BESAK

A. Sejarah Benteng Kuto Gawang

Terdapat banyak peninggalan sejarah yang Palembang simpan diantaranya ialah

Keraton Kuto Gawang yang pernah berdiri sekitar 100 tahun dimana keraton ini

merupakan inti dari ibukotanya Palembang yang secara kosmologisnya bisa dikenal

sebagai pusatnya kekuatan magis kerajaan dikala itu. Keraton tersebut dibangun

maupun didirikan oleh Ki Gede Ing Sura pada 1552-1573 diwilayah sekitaran

kelurahan I Ilir (Palembang Lamo) dan kelurahan Sungai Buah, atau dikompleks

1
Pusri. 1 Keraton Kuto Gawang ialah pusatnya Batanghari Sembilan yang dijadikan

sbeagai simbolnya kosmologi “satu” pada konsep Melayu Jawa yakni suatu simbol

mengenai penggambaran delapan buah penjuru mata angin yang terpencar dari

pusatnya yang maan penjuru ataupun pusat kesembilannya tersebut ada di keraton

Palembang. Sehingga Palembang mengklaim berbagai daerah luarnya berada

dibatasan Batanghari (sungai). Dari keraton tersebut, para penguasanya beradaptasi

dengan lingkungan Melayu yang ada disekitar sehingga terjadilah asimilasi maupun

akulturasi budaya Melayu dan Jawa yang terkenal sebagai kebudayaannya

Palembang. Dari hasil pra penelitian Balar Palembang, secara geografis Batasan kota

Palembang dimasa pra kesultananya cukup strategis yang mana wilayah tersebut

dikelilingi oleh sungai mencakup Batasan barat, timur, selatan maupun utaranya ialah

sungai musi, sungai Taligawe, sungai Buah, maupun sungai Lunjuk. Selain hal

tersebut dikawasan tengahnya kota Palembang dimasa awalnya kesultanan mengalir

pula sungai Rengas. 2 . Tidak hanya batasan sungai, secara teknis Keraton Kuto

Gawang diperkuat serta dilindungi oleh pagar keliling tebal dari kayu unglen serta

cerucup yang lokasinya terletak disebelah utara. Saat ini jadi kawasan batasan

hijau( greenbarier) PT Pusri. Selaku ibukota provinsi Sumatera Selatan( Sumsel) serta

salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang mempunyai sejarah panjang.

Pertumbuhan Palembang diawali dari kemunculannya kerajaan sriwijaya. Setlah

1 Ibid., hlm. 1-2.


2 Palembang diambil dari kata Limbang yakni kosakatanya jawa yang bermakna membersihkan logam
ataupun biji dari benda luar ataupun tanah. Pa ialah sebuah kata hubung yang dipergunakan oleh orang
melayu apabila mereka ingin menyebutkan sebuah tempat yang mana sebuah kondisi ataupun usaha
berlangsung. Sehingga pa-limbang pada kosakatanya jawa bermakna sebagai tempat membersihkan
logam ataupun biji. LihatnJ.I. Van Sevenhoven, Lukisan Tentang Ibu Kota
Palembang,[Link],i(Yogyakarta: Ombak, 2015), hlm. 2.
2
kejayaannya sriwijaya runtuh, dasar kekuasaan Majapahitlah yang kemudian mengisi

kekosongan tersebut bertepatan dengan dipandu seorang adipate Ario Darma yakni

putranya Prabu Brawijaya yang merupakan rajanya majapahit. Ario Damar selaku

adipate mempunyai anak tiri yang Namanya Raden Fatah yang nanti hendak jadi

sultan awal untuk kesultanan Demak. Sehabis kekuasaannya Majapahit berakhir yang

disebabkan oleh bangkitnya kesultanan maupun kerajaan Islam diwilayah Palembang.

Palembang setelah itu jadi salah satu daerah yang berperan selaku proteksi Kerajaan

Islam Demak yang mengaitkan Aria Penangsang serta Pangeran Hadiwijaya. Sehabis

itu pada abad ke- 16 berdirilah kerajaan Palembang yang didirikan oleh bangsawan

yang tiba dari Jawa, tepatnya dari daerah Jipang, Demak. Mereka ini, yang terdiri atas

80 kepala keluarga ialah pengikut Aria Jipang( Pangeran Aria Penangsang).

Kehadiran mereka dari Jawa disebabkan tewasnya Pangeran Aria Penangsang dalam

perebutan tahta di kesultanan Demak. Bersumber pada catatan kronik Tiongkok,

tulisan pelaut Arab serta Persia(abad ke 8–9 Meter) diyakini wujud kota Palembang,

memanjang selama sungai Musi mulai dari lingkungan PT Pupuk Sriwijaya( Pusri)

hingga ke wilayah Karang Anyar, yang mana bagian seberang ulunya tidak ada

pemukiman. 3.

Dari nama serta gelarnya, paling tidak Ki Gede Ing Sura, merupakan

bangsawan yang tiba dari Jawa merupakan seseorang sura, yang jika dilakukan

penerjemahan dalam bahasa Indonesia mempunyai makna seorang yang gagah serta

berani, bertabiat kepahlawanan serta pria perkasa. Bagi [Link] Graaf, gelar‘Ki’ yang

3 MestikaiZed, KepialanganiPolitikidaniRevolusi: Palembang 1900-1950 (Jakarta: LP3ES, 2003),


hlm.28
3
dipakai terlebih dulu oleh pendahulu- pendahulu senapati semacam Ki Ageng Sela,

Ki Ageng Ngenis, Ki Ageng Pemanahan menampilkan kalau mereka ini berasal dari

kalangan warga rendah. Bersumber pada catatan sejarah serta sketsa Laksamana

Johan van Der Laen pada tahun 1659, Keraton Kuto Gawang letaknya menghadap ke

arah Sungai Musi(selatan) dengan pintu masuknya lewat Sungai Rengas. Sebelah

timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe, serta mata angin baratnya berbatasan

dengan Sungai Buah. Keraton Kuto Gawang berupa persegi panjang yang dibentengi

dengan kayu besi serta kayu unglen yang tebalnya 30×30 cm tiap batangnya. Di

tengah benteng keraton nampak berdiri megah bangunan keraton yang posisinya di

sebelah barat Sungai Rengas. Kraton Kuto Gawang yang dikelilingi pagar kota yang

kuat, ditafsirkan tidak berdiri sendiri. Tidak hanya mempunyai Masjid di Candi

Laras, kota Palembang pula mempunyai pertahanan yang berlapis dengan kubu- kubu

yang ada di Pulau Kemaro, Plaju, Bagus Kuning(Sungai Gerong). Benteng ini

memiliki dimensi 290 Rijnlandsche roede(1.093 m), baik panjang ataupun lebarnya.

Besar bilik yang mengitarinya dekat 24 kaki(7,25 m) 4 Benteng keraton memiliki 3

buah baluarti(bastion) yang terbuat dari konstruksi batu. Dulu, orang orang asing

yang tinggal di Seberang Ulu Sungai Musi merupakan orang- orang Portugis,

Belanda, Tiongkok, Melayu, Arab, Campa, serta yang lain. Kekuatan Kuto Gawang

ditopang oleh sesuatu sistem perbentengan serta kubu yang terdapat di bagian hilir

Musi, ialah benteng Bamagangan yang ada di di muara Sungai Komering. Benteng

4 DjohaniHanafiah, SejarahiKeraton-keratoniPalembang: Kuto Gawang (Palembang:


CViPratama,i2005),ihlm. 8.
4
kedua merupakan Benteng Martapura, serta Benteng Pulau Kemaro, yang posisinya

dekat dengan Kuto Gawang.

Kondisi Keraton Kuto Gawang kini sama dengan berbagai bangunan yang

telah ada semenjak zamannya kerajaan Sriwijaya yang mana kondisinya ini sudah

Sebagian hilang maupun rusak. Keraton ini telah jadi abu dan arang sebab terjadinya

pembumihangusan maupun penyerbuan oleh VOC tanggal 24 November 1659

dibawah pimpinannya Laksamana Johan Van Der Laen yang mana hal tersebut

menjadi jawaban terhadap adanya penyerbuan kerajaan Palembang yang ketika

kedatangannya VOC, Cornelis Ockerz dikirimnya ke Palembang dengan armada de

Wachter dan Jacatra guna memenuhi kontrak dagany khususnya lada dan timah pada

kerajaan Palembang. Dengan adanya penyerbuan terhadap kerajaan Palembang

tersebut terlihat bahwasanya Cornelis Ockerz maupun 42 orang Belanda terbunuh

serta 24 orang ditawan. Sedangkan de wachter dan Jacatra dikuasai dan direbut. 5.

Sehabis kejadian pembumihangusan maupun penyerbuannya keraton kuto

gawang, raja serta rakyat Palembang mengungsi keluar kota meninggalkan

reruntuhanya keraton kuto gawang. Sehabis sukses menyelamatkan dirinya dari

serangan VOC, raja Palembang yakni Pangeran Sido Ing Rejek Jamaluddin(1652-

1659) pula turut mengungsi ke wilayah pedalaman lewat sungai Ogan hingga ke

Indralaya. Di wilayah ini Pangeran Sido Ing Rejek Ratu Mangkurat Jamaluddin

berupaya untuk membangun kembali kekuatan. Tetapi, tidak sukses serta

kesimpulannya memutuskan buat senantiasa tinggal di situ hingga kesimpulannya

5 Djohan Hanafiah, Kuto Besak , hlm. 26.

5
wafat di wilayah Sakatiga(Ogan Ilir). Pangeran Sido Ing Rejek Ratu Mangkurat

Jamaluddin digantikan oleh saudaranya yang bernama Ki Mas Hindi yang bergelar

Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim. Hingga kesimpulannya, Ki Mas Hindi

mendirikan kesultanan Palembang Darussalam setelah itu bergelar sultan

Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayyidul Imam. 6

Sebaliknya peninggalan- peninggalan yang lain di akhir Kesultanan

Palembang(abad ke19) nasibnya hampir sirna ataupun tidak terpelihara. Dikala ini

cuma Masjid Agung Palembang yang dibentuk pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud

Badaruddin I(1724-1757) yang bernasib baik serta masih berdiri, sebab sudah

direstorasi serta direnovasi. Budayawan Djohan Hanafiah berkata kalau, pada tahun

1659 Palembang digempur Belanda lewat agresi militer Vereenigde Oost indische

Compagnie(VOC) ataupun perserikatan industri Hindia Timur yang menyebabkan

Keraton Kuto Gawang habis dibakar. Para korban yang berguguran dikala kota

digempur VOC, mungkin besar dimakamkan di Sabokingking(balik lingkungan

Pusri). Sebab bawah inilah, hingga makam Sabokingking ini dikira selaku simbol

upaya Kesultanan Palembang buat menegakkan kemerdekaan. 7

Pasca lebih 200 tahun penyerbuan serta pembumihangusan, Keraton Kuto

Gawang ditafsirkan selaku sesuatu tempat berdirinya keraton Raja- raja Palembang.

Sisa bangun annya masih bisa dilihat, di situ mari terdapat sepotong bilik

ditumbuhi tanaman yang memanjat serta bunga berbagai warnanya yang biasa

berkembang di pekarangan. Reruntuhan gerbang dinaungi serta dilindungi oleh suatu

6 Refico & Ahmad Zamhari, “ToponimnPadanMasanPemerintahannKesultanannPalembang


DarusallamidiiKecamataniIliriTimuri1iPalembang”. JurnaliSiddhayatra , vol. 23 (1), 2018, hlm. 60.
7 Ibid., hlm. 28.

6
tumbuhan beringin yang menarik, seakan mau berkata kalau tumbuhan tersebut

berasal dari sesuatu tempat, di mana sempat terdapat sesuatu kerajaan, kemegahan

pada masa silam. Tidak jauh dari dekat reruntuhan tersebut berdiri sesuatu pendopo

yang indah. Tempat ini diperkaya oleh alam dengan pohon-pohonan, flora serta fauna

yang membagikan banyak khasiat. Dekat pada tahun 1960an, sisa Keraton Kuto

Gawang dibuka buat pendirian pabrik pupuk PT Pusri. Dikala dicoba penggalian buat

memasang konstruksi pabrik, banyak sekali ditemui balok- balok kayu sisa bilik

Keraton Kuto Gawang ataupun bentuk- bentuk penemuan yang lain. Sayangnya, pada

dikala itu kita(spesialnya pemerintah) belum mempedulikan serta mencermati

permasalahan kesejarahan Keraton Kuto Gawang.

Sebagian media diprovinsi Sumatera Selatan ditahun 2016 telah dihiasi oleh

nama kuto Gawang yang mana nama tersebut dipergunakan untuk menamakan

kecamatan barunya kota Palembang yang termasuk dari hasil pemekarannya

kecamatan Ilir Timur II. Namun, menamakan kecamatan baru tersebut tidaklah sesuai

sebab lokasinya bukan di area Kuto Gawang. Sehinga pemakaian nama tersebut

dianggap mengganggu serta mengkaburkan sejarahnya. Selaku nama institusinya

kerajaan, Kuto Gawang sangatlah sacral. Sesungguhnya semangat pemkot maupun

DPRD Palembang untuk melaksanakan pemekarannya kecamatan Ilir Timur II

tersebut tujuannya agar pelayanan pada kehidupannya warga bisa di tingkatkan

spesialnya didaerah Kuto Batu, 11 Ilir, 10 Ilir, 9 Ilir, 8 Ilir serta melestarikan nama

Kuto Gawang tersebut pantas [Link] Larasati sebagai Pimpinan Pansus 6

DPRD Palembang menyampaikan bahwasanya menamakan kecamatan baru dengan

7
Kuto Gawang bukanlah keputusan sepihak namun merupakan usulan warga yang

mana hal tersebut sudah disepakati dengan DPRD Palembang.

Jika warga secara bersama-sama sungguh-sunggu melindungi Kawasan serta

nama Kuto Gawang, tidaklah hanya memohon perbaikan penamaan kecamatannya

Kuto Gawang. Selaku usulan, sepertinya telah seharusnya warga daerah Sumatera

Selatan dengan dipandu Sultan Mahmud Badaruddin III, Sultan Mahmud Badarudin

IV Djaya Wikrama(RM Fauwaz Diradja), Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, serta

pemerintah Kota Palembang buat menghindari berbagai perusahaan yang dengan

jelas membangun serta berproduksi diatas web(wilayah penemuan benda- benda

purbakala) Keraton Kuto Gawang. Paling tidak pemberian nama Sriwijaya selaku

industri yang berdiri di atas web dikira tidak pas, sebab mengaburkan serta

mengganggu sejarah. Walaupun nama Sriwijaya di atas nama Kuto Gawang.

Mengutip perkataan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin yang berwasiat biar nama

Kuto Gawang tidak dijadikan selaku nama kecamatan walaupun lokasinya persis di 1

Ilir, maksudnya bisa disimpulkan kalau dia pula hendak tidak menyetujui buat

merubah nama industri PT Pusri jadi PT Pupuk Kuto Gawang Bagi pemimpin

administrasi Kecamatan Ilir Timur II(Syairulgama), apalah makna suatu nama serta

terutama merupakan kemauan buat turut membangun kecamatan yang bermanfaat

untuk peningkatkan pelayanan warga. Demikian pula dengan keberadaan PT Pusri

yang dirancang buat kepentingan kemakmuran rakyat Indonesia. PT Pusri tidak bisa

diotak- atik kembali keberadaannya meski jelas- jelas berdiri di web Keraton Kuto

Gawang. Kedatangan PT Pusri dikira tidak melenceng, mengaburkan serta

mengganggu sejarah Keraton Kuto Gawang.


8
Pembicaraan mengenai kesultanannya Palembang tak terlepaskan dari keraton

sebab keraton ialah pusat pemerintahannya yang ada dimasa kesultanannya

Palembang. Pada sejarah, pusatnya kesultanan Palembang hadapi sebaian kali

perpindahan dimulai dari Kuto Gawang, Beringgin Janggut, Kuto kenguruk, hingga

kuto besak. Awal berdirinya keraton di Palembang ialah keraton kuto Gawang yang

dibentuk priyayi diabad ke16 yang tiba dari jawa ialah dari daerahnya Jipan pada

lingkup kerajaan Demak yang mana mereka merupakan pengikutnya Ario Jipan yakni

pangeran penagsang yang tewas ketika terjadi perebutannya kekuasaan Demak.

Dengan tewasnya pangeran tersebut, menjadikan para pengikutnya melarikan dirinya

dari daerah demak yang dipimpin oleh ki Gede Ing Suro menuju Palembang tahun

1552.

Generasi ki gede ing suro inilah yang hendak mencikal bakali pendirian

kerajaan Palembang yan mana situasi saat ini menjadi kompleksnya pabrik pupuk

sriwijaya (PUSRI). Pada dunia Melayu Palembang ialah nama yang karismatik.

Secara kosmologisnya, keraton ialah ibukota yang jadi pusatnya kekuatan magis

kerajaan, sementara kuto Gawang ialah pusatnya kekuatan yang ditopang dengan

adanya benteng serta kubu yang terdapat dibagian hilir yakni benteng Pulau Kemaro,

Benteng Martapura, serta Benteng Bamangangan. 8

Keraton Kuto Gawang ialah suatu keraton yang telah berdiri paling tidak

sepanjang 100 tahun, saat sebelum dibakar habis oleh ulah VOC pada tahun 1659.

Sebab peristiwa ini membuat Seda Ing rejek berangkat meninggalkan Palembang, dia

8 Djohan Hanafiah, Kuto Besak , hlm. 26.

9
berangkat ke Sakatiga(daerah Kabupaten Ogan ilir) meninggalkan reruntuhan Kuto

Gawang yang sudah jadi arang serta abu. Kejadian tersebut menjadikan Seda Ing

Rejeki meninggalkan reruntuhannya Kuto Gawang di Palembang dan berankat ke

Sakatiga untuk membuat keraton baru dan permukinan baru serta masjid baru.

Setelah itu, pusat pemerintahannya pindah kesebelah baratnya Suuntai

Tengkuruk yang mana keraton tersebut dimasa pemerintahannya Sultan Mahmud

Badarudin I diketahui dengan istilah Keraton Kuto Lamo ataupun Keraton Kuto

Tengkuruk. Dimasa kekuasannya ini, palembang mengalami berbagai kemajuan pada

pembangunannya yakni dibentuknya masjid agung sehingga ia wajib membentuk

keraton baru maupun pemukiman serta masjid baru pula

Dengan menyamakan kawasannya tanah keraton ialah letaknya kuto lama,

masjid agung, kuto besak hingga kawasannya beringin janggung terbentuk pula pulau

yang dibatasi sungai Penedan, Karang Waru/Sungai Rendang, Sungai Tengkuruk

maupun sungai Musi. Sungai Penedan ini berperan selaku terusannya yang menjadi

penghubungsungai kebun duku, sungai kapuran maupun sungai kemenduran. JA. Van

Rijn Alkemede berkomentar bahwasanya berbagai sungai ini saling berhubungan

sehingga penduduk yang melaksanakan ekspedisi dari sungai rendang mengarah

tekngkuruh serta dari sungai bayas mengarah sekanak sehingga tidak wajib melalui

sungai Musi. 9

Berdasarkan kondisi tersebut bisa membagikan anggapan kalau kehidupannya

kota palembang tidaklah lagi seluruhnya selama Sungai Musi. Diwilayah pedalaman

9 Ibid., hlm. 28.

10
ataupun disebelah darat sudah tercipta daerah pemukiman dengan dibaginya berbagai

sektor usaha tiap zona tersebut hendak berproduksi cocok dengan kemampuannya,

yang diucap [Link] guguk umumnya memiliki tugas, kemampuan, serta gunanya

tertentu. Paling tidak terdapat 3 zona bagi sifatnya, ialah: zona Profesi(peran/jabatan),

zona usaha, serta zona gunanya. Di tiap daerah guguk. Benteng Kuto Besak

merupakan salah satu peninggalan bersejarah masa lalu yang berada di Kota

Palembang, Sumatera Selatan. Lokasi Benteng Kuto Besak berada di tepian Sungai

Musi, tepatnya di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota

Palembang. Benteng ini tergolong luas dengan ukurannya 288,75 meter x 183,75
10
meter, serta tebal dinding 1,99 meter .

10 DjohaniHanafiah,iKutoiBesak,ihlm. 29.

11
B. Sejarah Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak merupakan benteng yang dibangun oleh pribumi dan bukan oleh

kolonial Belanda. Fakta sejarah ini membuat Benteng Kuto Besak berbeda dengan

dua benteng terkenal di Jawa, yaitu Vredeburg di Yogyakarta dan Vastenburg di

Surakarta. Benteng Kuto Besak ini tercatat sebagai satu-satunya benteng yang

dibangun oleh kaum pribumi. Awalnya Benteng Kuto Besak dibangun oleh Sultan

Mahmud Badaruddin I yang memerintah Kesultanan Palembang Darussalam pada

1724-1758. Namun pembangunan benteng ini belum selesai ketika Sultan Mahmud

Badaruddin I mangkat. Kemudian, pembangunan benteng dilanjutkan oleh Sultan

Mahmud Bahaudin yang memerintah Kesultanan Palembang pada periode 1776-1803.

Baca juga: Benteng Vastenburg: Lokasi, Fungsi, dan Arsitekturnya Pada masa

12
pemerintahan Sultan Mahmud Bahaudin inilah pembangunan benteng selesai, dan

disusul dengan pemindahan pusat kerajaan dari Kuto Lamo ke Kuto Besak. Dengan

demikian, Benteng Kuto Besak yang dibangun dalam waktu 17 tahun menjadi

keraton keempat Kesultanan Palembang, setelah Kuto Gawang, Beringin Janggut,

dan Kuto Lamo. Sejak digunakan, benteng ini menjadi pusat pemerintahan sekaligus

tempat tinggal penguasa Kesultanan Palembang. Namun ketika Belanda masuk ke

Palembang, benteng ini berhasil direbut dan difungsikan sebagai markas dan

menyebutnya sebagai Nieuwe Keraton atau Keraton Baru.

Bentekng kuto besak ialah kediaman resminya kesultanan Palembang diabad

ke19 yang mana sultan yang membangun benteng ini untuk pertama kalinya ialah

Mahmud baharuddin I dan kepemilikannya dialihkan kepada Belanda setelah ditahun

1823 kesultanan tersebut mengalami keruntuhan. Benteng kuto besak yang termasuk

keraton dimasa kesultanannya tepat terletak ditepinya sungai musi maupun anak

sungainya. Keberadaannya tersebut sangatlah strategis sebab langsung berhadapan

dengan jalur perdagangannya sumatera selatan. Menyadari pentingnya letak benteng

yang strategis ini, sultan Palembang memposisikan empat bastion yang lengkap

dengan artilerinya didalam benteng. Hal ini dilakukan untuk menandakan ada suatu

yang perlu diawasi dari dalam benteng ini yang mana benteng tersebut bisa dimaknai

sbegaai Menara pengawas pada penjara yang mengawasi rumah tahanan. 11

Keraton kuto besak dibentuk dimasa kekuasaannya Sultan mahmud Baharuddin yang

mana pendiriannya dilakukan ditahun 1780 dengan waktu yang lumayan lama yakni berkisar

11 Djohan Hanafiah, Kuto Besak, hlm. 9


13
17 tahun. Keraton tersebut dihuni secara formal di pagi harinya 23 syaban 1211 H. diakhir

abad ke18 serta dini abad ke19, kesultnan Palembang terus menjadi maju spesialnya dalam

bidang perekonomian dari kehancurannya organisasi dagang colonial VOC yang mana

penduduk Palembang pada kala itu bermata pencaharian sebagai tambang, Bertani,

menumpulkan hasil hutan maupun berdagang. Sistem pertanian yang dipergunaakn dikala itu

masih simple Cuma sekedar memenuhi kebutuhannya serta Sebagian hasil taninya mereka

jual. Dalam mencerna lahan pertanian, mereka memakai perlengkapan berbentuk beliung

ataupun kapas ringan, kapak maupun pawang. Komoditas hasil pertaniannya dari Palembang

merupakan lada sementara hasil alamnya berupa timah. Selain itu, Palembang juga

menghasilkan buah sebagai salah satu produk pertaniannya semacam pisang, rami, pinang,

sirih, tembakau, gambir maupun kapas. Adapun buah yang popular di Palembang yakni

bidara, duku, delima, rambutan, papaya, nanas, jeruk nipis, cempedak, durian, manga, nona,

srikaya, langsat, prambeh, jambu biji sertajambu bol.

14

Anda mungkin juga menyukai