Review Jurnal
Review Jurnal
Kelas :A
Nim : 202286206012
Jurusan : PGSD
REVIEW ARTIKEL
1. Meningkatkan Minat Membaca melalui Gerakan Literasi Membaca bagi
Siswa Sekolah Dasar (2019)
- PENDAHULUAN
Di era pendidikan 4.0, minat baca siswa khususnya siswa di level sekolah dasar
perlu ditingkatkan ( Handayani, Adisyahputra, & Indrayanti,2019 ). Era pendidikan
4.0 menjadi tantangan tersendiri tak terkecuali bagi pihak sekolah dasar dalam
membentengi siswa dari dampak negatif derasnya penggunaan teknologi terutama
dalam keseharian siswa. Era pendidikan 4.0 merupakan era modern dimana adanya
sistem digitalisasi hampir dalam segala aspek kehidupan, tak terkecuali dalam aspek
pendidikan.Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, tentunya hal
tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi tantangan
tersendiri bagi para siswa.
Pendidikan 4.0 tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi, akan tetapi
minat baca siswa juga perlu ditingkatkan untuk menyongsong Pendidikan 4.0.
Derasnya arus informasi dan teknologi di era pendidikan 4.0 ini berdampak pada
semakin terbatasnya waktu yang dimiliki para siswa untuk membaca. Padahal,
kemampuan literasi siswa dalam membaca tentunya dapat sangat diperlukan bagi
siswa untuk tetap dapat mengikuti segala perkembangan terutama yang terkait
dengan dunia pendidikan mereka (Yuriza,Adisyahputra, & Sigit, 2019; Juhanda,&
Maryanto, 2019).
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini berupaya untuk bisa menawarkan
dan menyajikan kegiatan-kegiatan yang menarik dalam upaya menarik minat para
siswa dalam meningkatkan minat membaca khususnya melalui gerakan literasi
membaca. Melalui gerakan literasi membaca diharapkan para siswa akan dapat
mengembangkan dan merangsang kemampuan literasi membaca mereka, kreativitas,
imajinasi, dan juga pengetahuan mereka.
Pentingnya kemampuan literasi telah sering diteliti pada penelitian-penelitian
sebelumnya. Upaya gerakan literasi sekolah merupakan suatu bentuk dukungan
kepada pemerintah dalam upaya menanamkan budi pekerti dari semenjak pendidikan
dasar. Salah satu penelitian tersebut yaitu penelitian yang dilakukan oleh Suyono,dkk
(2017). Dalam penelitian tersebut, mereka memfokuskan penelitian pada
implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di sekolah dasar. Dari hasil penelitian
mereka ditemukan pola-pola dalam implementasi Gerakan Literasi Sekolah, yaitu
pola kegiatan literasi pada buku tematik dan pola kegiatan literasi di sekolah.
Komentar: Kalimat-kalimat dalam teks tersebut menyajikan pemahaman yang baik
tentang tantangan yang dihadapi dalam era pendidikan 4.0 terkait dengan minat baca
siswa di tingkat sekolah dasar.
- METODE
Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dalam ranah penelitian
studi kasus. Menurut Gall dkk (2003), penelitian studi kasus merupakan metode
penelitian berfokus pada sebuah fenomena untuk dikaji atau dideskripsikan secara
mendalam. Dalam hal ini, peneliti mengkaji sebuah fenomena tentang implementasi
gerakan literasi membaca bagi siswa sekolah dasar di SDN Rejowinangun Selatan 3
dan SDN Rejowinangun Selatan 4.
Partisipan dalam penelitian ini adalah 50 siswa kelas 5 yang terbagi menjadi
25 siswa di SDN Rejowinangun Selatan 3 dan 25 siswa SDN Rejowinangun Selatan
4. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu observasi dan wawancara. Peneliti
melaksanakan observasi terkait upaya pelaksanaan gerakan literasi di sekolah
tersebut. Selain itu, peneliti menerapkan beberapa metode-metode atau kegiatan
penunjang untuk mendukung upaya gerakan literasi membaca. Wawancara juga
dilaksanakan untuk mengetahui perspektif siswa terkait kegiatan peningkatan minat
membaca.
Komentar: Perlu disebutkan lebih lanjut tentang proses pemilihan partisipan, serta
langkah-langkah yang diambil dalam meminimalkan potensi bias penelitian.
- KESIMPULAN
Gerakan Literasi Membaca bagi siswa Sekolah Dasar merupakan program
yang perlu didukung oleh seluruh pihak di sekolah. Dalam penelitian ini, hasil
penelitian menunjukan bahwa kegiatan 15 Menit Membaca dengan berbagai
metode peningkatan minat baca dan Pojok Baca merupakan program
peningkatan minat baca untuk mendukung Gerakan Literasi Membaca. Dengan
mengoptimalkan Gerakan Literasi Membaca, siswa dan guru akan mendapatkan
banyak manfaat untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar.
Komentar: kegiatan 15 Menit Membaca dengan berbagai metode peningkatan minat
baca dan Pojok Baca, sebagai bagian dari upaya peningkatan minat baca dalam
mendukung Gerakan Literasi Membaca. Namun, harus ada perbaikan yang bisa
dilakukan dalam penyusunan kalimat ini agar lebih jelas.
- PENDAHULUAN
Desa Janteh merupakan salah satu dari 16 di Kecamatan Kwanyar,
Kabupaten Bangkalan yang terletak 2 Km kearah utara dari Kantor Kecamatan.
Desa Janteh memiliki luas wilayah dengan luas 420,47 hektar. Desa Janteh
merupakan desa dengan yang tergolong berkembang, ekonomi masyarakat Desa
Janteh tergolong menengah, dengan mayoritas penduduk yang bermata pencaharian
sebagai petani, dan sebagian lainnya berpencaharian sebagai pedagang dan
terdapat masyarakat selain menjadi petani warga desa beternak ayam dan sapi
(Sadik, 2016; Santoso & Rohmawati, 2017).
Desa Janteh memiliki sumber daya alam berupa hasil pertanian yang berupa
padi, jagung dan kacang tanah. Potensi pertanian masih belum dikelola secara
maksimal serta kurangnya wawasan dan keterampilan masyarakat dalam
mengelola potensi tersebut menjadi sebuah kendala yang perlu diatasi. Selain itu,
pendidikan di desa janteh, Kwanyar masih tergolong sangat rendah.
SDN janteh 1 ini merupakan mitra pertama dalam program pengabdian
masyarakat ini. Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui observasi,
dokumentasi dan wawancara dengan kepala sekolah dan guru, diketahui bahwa
budaya membaca dan menulis siswa disini sangat rendah. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor diantaranya adalah 1) rendahnya pembiasaan aktivitas siswa
dalam membaca dan menulis di setiap kegiatan pembelajaran, 2) Ketidakmampuan
guru dalam menerapkan gerakan literasi di sekolah, 3) Kurangnya motivasi
siswa akan budaya literasi membaca, 4) rendahnya tingkat kemampuan berfikir
siswa, yang terindikasi dari asessmen pembelajaran yang masih berada pada taraf
berfikir sederhana, 5) Model pembelajaran guru bersifat konvensional.
Berdasarkan identifikasi awal terkait permasalahan pembelajaran,
diketahui bahwa Pembelajaran yang dilaksanakan masih berorientasi pada
pemahaman konsep tanpa memberikan pengalaman belajar pada siswa. Tentu hal
ini berdampak pada tingkat berfikir siswa yang rendah. Pembelajaran juga kurang
melibatkan semua indera agar pengetahuan dan pemahaman siswa dapat terekam dan
bertahan lama dengan baik. Padahal, proses pembelajaran harus dapat
memotivasi dan meningkatkan daya tarik siswa untuk belajar. Kondisi ini bisa
dicapai apabila guru mampu memilih model, strategi dan metode pembelajaran
dan mengemasnya dalam sebuah rencana pembelajaran yang menarik (Lukman,
Hayati, & Hakim, 2019).
Permasalahan lainnya adalah kurangnya skill guru dalam menghasilkan
karya ilmiah, dari hasil observasi tim ke sekolah, guru kesulitan menuangkan
ide dalam bentuk tulisan, termasuk dalam melakukan penelitian tindakan kelas
(Abdul Syukur, 2014; Mufti, 2016). Padahal, ini merupakan bentuk output literasi
bagi seorang guru. Tantangan seorang guru tidak hanya berkutat pada kemampuan
mengajar, tetapi juga kemampuan menulis karya ilmiah sebagai bentuk
literasinya. Tidak tersediannya perpustakaan sekolah juga berdampak pada kurangnya
buku-buku referensi sebagai sumber belajar untuk pengayaan materi pelajaran.
Oleh karena itu, perlunya peningkatan kualitas literasi melalui peningkatan
manajemen perpusatakaan sehingga meningkatkan kualitas guru untuk menulis,
selain itu perlunya adanya pelatihan penulisan artikel ilmiah sebagai output literasi
menulis bagi guru.
Oleh karena itu, berdasarkan hasil analisis bersama tim, maka tujuan pelatihan
ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran
yang aktif, pembudayaan gerakan literasi di sekolah, dan pengembangan
kemampuan berfikir kritis pada siswa. Solusi yang ditawarkan adalah dengan
pelatihan pengembangan budaya literasi bagi guru. Budaya literasi menulis
mampu mengembangkan kreativitas guru dalam menciptakan inovasi
sebuah pembelajaran yang mampu mengatasi permasalahan yang ada dikelasnya
(Yunus, Mulyati, & Yunansah, 2021).
Komentar: Kalimat-kalimat dalam teks ini memberikan gambaran yang cukup rinci
tentang Desa Janteh, termasuk informasinya
- METODE
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan ini yaitu melalui pelatihan
kepada guru SDN Janteh 1 Kwanyar terkait literasi menulis melalui PTK beserta
memberikan pendampingan kepada guru selama proses pengabdian masyarakat
di Kwanyar berlangsung. Adapun tahapan pelatihannya dilakukan beberapa
tahapan yaitu, (1) Tahap identifikasi; yaitu mengidentifikasi kebutuhan, dan
kesulitan guru SDN Janteh 1 dalam menulis Karya tulis PTK. (2) Tahap persiapan,
pada tahap ini berkoordinasi dengan kepala sekolah, dan guru setempat terkait
program pelatihan yang akan dilaksanakan. Waktu dan tempat pelaksanaan
menjadi bahan pertimbangan pada saat persiapan. (3) Tahap pelaksanaan.
Dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada guru SDN Janteh 1, yang
dilakukan secara paralel. Memberikan arahan dan materi terkait literasi menulis yang
harus dikuasai oleh guru. (4) Tahap Evaluasi, dimana tahap ini dilakukan setelah
proses pelatihan berlangsung, berkoordinasi dengan guru setempat kendala-
kendala yang dialami dalam mengembangkan Karya tulis, serta memberikan
bimbingan pendampingan kepada guru SDN Janteh, hingga proses penulisa
karya tulis ilmiah PTK selesai dikembangkan.
Komentar: Ada beberapa poin yang bisa ditingkatkan dalam kalimat ini untuk
membuatnya lebih komprehensif,sebaiknya tambahkan informasi mengenai tujuan
dari pelatihan ini.
- KESIMPULAN
Kegiatan pelatihan literasi menulis bagi guru di SDN Janteh 1 sangat efektif
diterapkan untuk mengatasi kesulitan guru dalam menulis. Melalui kegiatan ini
mampu memberikan Output berupa laporan penelitian PTK guru SDN Janteh 1
dan prototipe draft artikel ilmiah. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini
mampu meberikan kontribusi yang signifikan kepada guru berkaitan dengan
penulisan artikel ilmiah.
Komentar: Ada beberapa hal yang dapat diperbaiki. Yaitu,kalimat bisa lebih spesifik
dengan menyebutkan jenis kesulitan yang diatasi oleh pelatihan ini.
- PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, karena melalui pendidikan mampu membentuk watak yang
bermartabat serta peradaban guna mencerdaskan kehidupan bangsa . Dalam
Undang -Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003
Pasal 4 ayat 3 sampai 5 menyebutkan bahwa Pendidikan diselenggarakan
sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi
keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta
didik dalam proses pembelajaran. Pendidikan diselenggarakan dengan
mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga
masyarakatMenurut Marksheffel membaca adalah kegiatan kompleks dan
disengaja, kegiatan ini berupa proses berpikir yang terdiri dari berbagai pikiran
yang bekerja secara terpadu mengarah kepada satu tujuan yaitu memahami
makna paparan tertulis secara keseluruhan. Dalam hal ini, kegiatan membaca
mengarah pada kegiatan memperoleh pengetahuan dari simbol-simbol huruf atau
gambar yang diamat, pemecahan masalah yang timbul serta menginterprestasikan
simbol-simbol huruf atau gambar-gambar dan sebagainya.
Dalam menerapkan program gerakan Literasi Sekolah sebagai
kebijakan dari Kementrian Pendidikan dan kebudayaan, sekolahdapat
mengembangkan budaya literasi untuk meningkatkan minat baca peserta
didik dengan menciptakan dan memanfaatkan sudut baca atau yang biasa
disebut dengan perpustakaan kelas. Kemendikbud (2016) menjelaskan tujuan
sudut baca yaitu untuk mengenalkan kepada siswa beragam sumber bacaan
untuk dimanfaatkan sebagai media, sumber belajar, serta memberikan
pengalaman membaca yang menyenangkan.Sudut baca juga sebagai upaya
mendekatkan perpustakaan ke siswa. Sudut baca dimanfaatkan secara optimal
untuk mendukung keberhasilan proses pembelajaran.Peserta didik dapat
memanfaatkan sudut baca tersebut untuk memperkaya pengetahuannya. Menurut
pengamatan yang penulis lakukan dalam kegiatan magang di sekolah dasar,
rendahnya minat peserta didik untuk membaca dan berkunjung ke
perpustakaan sekolah dikarenakan tidak adanya waktu bagi peserta didik untuk
membaca buku di perpustakaan serta keterbatasan tempat di perpustakaan
sekolah
Budaya literasi di sekolah dapat berupa kegiatan membaca selama 15
menit sebelum waktu pembelajaran dimulai. Peserta didik juga dapat
memanfaatkan waktu istirahat atau waktu luang ketika telah selesai menyelesaikan
tugas dengan membaca buku di sudut baca bersama peserta didik yang lain. Dalam
pemanfaatan sudut baca, tidak hanya berisi buku pelajaran saja, namun bisa
juga diberi buku cerita, majalah, koran, ensiklopedia, dan lain sebagainya.
Berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan di atas mengenai
rendahnya minat baca peserta didik di Indonesia, penulis merumuskan hal
yang perlu dibahas yaitu mengenai pemanfaatan sudut baca untuk
meningkatkan minat baca peserta didik, dampak pemanfaatan sudut baca di
setiap kelas bagi peserta didik dan faktor penghambat dalam
pemanfaatan sudut baca. Untuk itu, dalam artikel ini penulis akan membahas
mengenai tiga hal tersebut berdasarkan sumber dari artikel ilmiah lain yang
digunakan dalam menyusun artikel studi pustaka ini.
Komentar: ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk perbaikan:
1) Struktur Paragraf: Paragraf-paragraf dalam teks cenderung panjang dan penuh
dengan informasi yang beragam. Ini bisa membuat kita kesulitan dalam memahami
pesan yang ingin disampaikan.
2) Konsistensi Bahasa: Terdapat beberapa kebingungan dalam penggunaan
istilah.
- METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian jenis kajian pustaka atau
studi kepustakaan yang bersifat kualitatif. Metode studi kepustakaan adalah
metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan sejumlah informasi atau
data melalui buku, artikel, karya ilmiah, dan sumber relevan lain yang dapat
menunjang penulisan artikel. Penelitian yang bersifat kualitatif ini berupa
deskripsi atau uraian yang dilakukan dengan membaca dan menggali informasi
melalui sumber data.Dalam menyusun artikel ini menggunakan sumber data
berupa artikel –artikel yang diambil dalam jurnal ilmiah dan beberapa buku
relevan lainnya. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu : (1)
mencari informasi mengenai penelitian, memilih untuk berada di kelas dan
bermain bersama teman dibandingkan dengan berkunjung dan membaca buku ke
perpustakaan sekolah.
Komentar: Metode ini akan membantu pembaca memahami mengapa metode ini
dipilih.
- KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dibahas mengenai pemanfaatan
sudut baca dalam meningkatkan minat baca peserta didik, dampak pemanfaatan
sudut baca, dan faktor yang menghambat pemanfaatan sudut baca yang
diperoleh dari hasil analisis kajian artikel yang digunakan, dapat disimpulkan
bahwa dalam memanfaatkan sudut baca untuk meningkatkan minat membaca
peserta didik dilakukan dengan cara pembiasaan. Cara ini dilakukan dengan
membiasakan peserta didik untuk membaca selama 15 menit sebelum
pembelajaran dimulai.Sudut baca juga dapat digunakan oleh peserta didik saat
beristirahat maupun waktu senggang pada saat pembelajaran.Sudut baca juga
didesain dan ditata serapi mungkin agar peserta didik merasa nyaman untuk
membaca.Buku yang ada di rak sudut baca juga beragam, yaitu terdiri dari
buku pelajaran, cerita rakyat bergambar, novel, buku cerita anak, kumpulan
pantun dan puisi, majalah, buku ensiklopedi, dan sebagainya.
Pemanfaatan sudut baca memiliki dampak positif, yaitu dapat
menumbuhkan minat membaca peserta didik, hal ini dapat dibuktikan dengan
banyaknya peserta didik yang membaca setelah diciptakannya pojok baca.Selain
itu, sudut baca juga dapat meningkatkan kreativitas peserta didik.Dengan
membaca buku bergenre sastra, mereka dapat menulis karya sastra dengan baik
dan mampu menceritakan kembali buku yang telah dibaca.
Walaupun dalam pemanfaatan sudut baca memiliki dampak positif,
namun terdapat faktor yang menghambat dalam pemanfaatannya yaitu
kurangnya motivasi peserta didik dalam membaca, timbul rasa bosan dalam
diri peserta didik untuk membaca karena buku bacaan yang kurang beragam,
serta kurangnya partisipasi dari orang tua peserta didik dalam mendukung
pelaksanaan literasi sekolah melalui sudut baca.
Komentar: beberapa poin dapat ditingkatkan agar teks menjadi lebih padat dan
informatif.
- PENDAHULUAN
Literasi membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang
berupaya untukmenemukan berbagai informasi yang terdapat dalam
tulisanDalman(2017).Menurut Tarigan(2015)literasi membaca mempunyai peranan
yang amat penting dalam kehidupan sepanjang masa. Karena, membaca merupakan
suatu alat komunikasiyang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat berbudaya.
Dalam keterampilan berbahasa mencakup empat segi, yaitu
menyimak/mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis, setiap keterampilan
tersebut erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang
beraneka ragam.
Dalam mengajar literasi membaca pemahaman peserta didik diharapkan
mampu memahami isi bacaannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru
dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam literasi membaca
adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik dan efektif,
sehingga peserta didik tertarik dan termotivasi dalam proses pembelajaran yang
sedang berlangsung. Media pembelajaran merupakanpesan yang ingin
disampaikan dari pembelajaran serta tujuan yang ingin dicapai dari proses
pembelajaran, dalam menggunakan media pembelajaran yang kreatif akan
memperbesar kemungkinan bagi peserta didik untuk belajar lebih banyak,
mengingatapa yang dipelajari peserta ddik,dan meningkatkan keterampilan sesuai
dengan tujuan pembelajaran (Susilana & Riyana, 2008).
Salah satu upayameningkatkan motivasi belajar dalam literasi membaca
pemahaman peserta didik, yaitu digunakannya media pembelajaran yang menarik,
contohnya dalam kelompok media grafis, bahan cetak dan gambar diam, karena
media grafis biasanya digunakan untuk mengilustrasikan fakta-fakta menarik dan
diingat orang pada bahan cetak dan gambar menyajikan pesan melalui huruf dan
gambar-gambar yang diilustrasikan lebih memperjelas pesan atau informasi yang
disajikan Susilana danRiyana(2008)salah satu media yang termasuk dalam kelompok
tersebut adalah media komik.
Komentar: ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam teks ini:
1) Kohesivitas: Beberapa kalimat dalam teks terasa agak terputus-putus.
2) Penggunaan Ejaan dan Tanda Baca:Ada beberapa kesalahan ejaan dan tanda
baca yang perlu diperbaiki agar teks menjadi lebih jelas.
3) Struktur Paragraf: harus dapat mempertimbangkan kalimat yang lebih jelas.
4) Pengembangan Argumen: Cobalah untuk mengembangkan argumen Anda
lebih lanjut.
- METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode SLR
(Systematic Literature Review). Metode ini peneliti melakukan dengan
mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi serta menafsirkan semua penelitian
yang tersedia. Dengan metode ini peneliti melakukan reviewdan mengidentifikasi
jurnal-jurnal secara sistematis yang pada setiap prosesnya.
Tahapan yang dilakukan peneliti yaitu dengan cara mencari dan
mengumpulkan artikel jurnal dengan kata kunci media komik dalam
meningkatkan motivasi literasi membaca pemahaman. Pengumpulan data
dilakukan dengan cara mendokumentasi semua artikel yang diperoleh dalam
penelitian ini. Artikel yang digunakan dalam penelitian ini sejumlah 10 artikel jurnal
nasional yang terakreditasi sinta 1 sampai 4 yang diperoleh dari google scholar.
Artikel yang dipilih merupakan artikel yang memiliki penelitian yang serupa
kemudian dianalisis dan dirangkum kemudian dijadikan satu pembahasan yang utuh
dalam artikel ini.
Komentar: Metode ini melibatkan tahapan identifikasi, pengkajian, evaluasi, dan
interpretasi semua penelitian yang relevan yang tersedia dalam literatur terkait topik.
- KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan penjelasan paparan tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa media komik dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada
peserta didik. berdasarkan pembahasan media komik ini sangat efektif digunakan,
karena terdapat respon yang positif dari peserta didik, dan di harapkan pada
penelitian selanjutnya dapat menerapkan kajian ini pada efektivitas media komik
pada pembelajaran yang lainnya. Peningkatan motivasi belajar dengan
menggunakan media komik dapat diperoleh dari hasil angket respon peserta didik
dan untuk peningkatan hasil belajar kognitif dengan menggunakan media komik
peserta didik dapat dilihat dengan membandingkan nilai pretest dan postest. diperoleh
dengan cara mencari Gain Score.
Komentar: Media komik dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman
pada peserta didik, yang merupakan inti dari paparan tersebut. Ini lah langkah
penting dalam menyusun sebuah kesimpulan yang kuat.
- PENDAHULUAN
Di era pendidikan 4.0, minat baca siswa khususnya siswa di level sekolah
dasar perlu ditingkatkan(Wulanjani & Anggraeni, 2019). Pesatnya kemajuan ilmu
pengetahuan menuntut setiap siswa memiliki kemampuan baca dan tulis yang lebih,
dengan tujuan agar siswa memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup untuk
dapat bersaing dan mengikuti perkembangan zaman. Kemampuan membaca memiliki
andil dan merupakan salah satu penentu sukses tidaknya seseorang, hal ini
disebabkan karena semua akses innformasi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki
selalu berkaitan dengan kegiatan membaca (Rohman, 2017).
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu usaha yang dilaksanakan
secara menyeluruh dan berkesinambungan serta berkelanjutan guna mewujudkan
sekolah menjadi organisasi pembelajar yang memiliki warga literat sepanjang hayat
dengan melibatkan masyarakat (Sadli & Saadati, 2019). Salah satu tujuan dari
gerakan literasi sekolah ini adalah meningkatkan kesadaran siswa bahwa membaca
itu sangat penting serta membawa wawasan yang lebih luas (Dharma, 2013).
Pemerintah menetapkan gerakan literasi sekolah sejak tahun 2016. GLS dapat
menjadi sarana untuk mengenal, memahami, dan ilmu yang diperoleh siswa di
sekolah. Melalui gerakan literasi siswa juga dapat mengembangkan budi pekerti
dalam kehidupan sehari - hari. Program gerakan literasi ini juga mampu menguatkan
gerakan penumbuhan budi pekerti seperti tertuang dalam Permendikbud Nomor 23
Tahun 2015. Program kegiatan tersebut salah satunya adalah kegiatan 15 menit
membaca buku yang bukan merupakan buku pelajaran sebelum waktu belajar
dimulai. Materi bacaan berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional,
dan global yang disampaikan sesuai tahap perekembangan siswa.
Pelaksanaan GLS di sekolah dasar dilakukan secara bertahap. Hal ini
dipertimbangkan sesuai dengan konsisi dan kesiapan sekolah. Kesiapan ini meliputi
kesiapan fisik sekolah berupa sarana prasarana literasi dan kesiapan warga sekolah
yang terdiri dari guru, orang tua, siswa serta masyarakat. Kesiapan juga dapat berupa
kesiapan system pendukung seperti partisipasi masyarakat, dukungan lembaga, dan
perangkat kebiijakan yang relevan.
Pelaksanaan gerakan literasi sekolah terdiri dari 3 tahapan yaitu tahap
pembiasaan, tahap pengembangan dan tahap pembelajaran (Dharma, 2013). Tahap
pembiasaan, merupakan tahap penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit
membaca. Pada tahap ini sekolah dapat menyiapkan buku – buku dongeng atau cerita
rakyat yang dapat meningkatkan minat baca siswa di sekolah. Tahap pengembangan,
merupakan tahap peningkatan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku
pengayaan. Tahap ini bertujuan untuk mengembangkan proses kecakapan dalam
literasi misalnya membaca buku bacaan dengan intonasi yang tepat, menulis cerita
dan mendiskusikan suatu bahan cerita. Tahap pembelajaran yaitu tahap meningkatkan
kemampuan literasi pada setiap mata pelajaran melalui penggunaan buku pengayaan
dan strategi membaca untuk setiap mata pelajaran. Pada tahap ini, sekolah
menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan serta
mempertahankan minat baca siswa melalui buku-buku pelajaran misalnya seperti
mengadakan kegiatan permainan dalam pembelajaran yang kaya akan teks yang
berguna agar siswa mampu mempertahankan minat bacannya.
Sekolah merupakan suatu lembaga yang bertanggung jawab mewujudkan
budaya baca yang merupakan bagian penting dalam kegiatan belajar. sekolah harus
bisa memfasilitasi berbagai sarana yang dapat meningkatkan minat baca siswa yaitu
dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah. Melalui membaca peserta didik dapat
memperluas wawasan, mempertajam gagasan, dan meningkatkan kreativitas (Salma
& Mudzanatun, 2019).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat baca pada anak, anatara
lain keluarga dan lingkungan di luar (Pradana, 2020). Rendahnya minat baca
disebabkan oleh beberapa hal diantaranya mahalnya harga buku dan terbatasnya
fasilitas terpustakaan (Pradana, 2020). Dampak negatif dari perkembangan teknologi
gadget dapat mengurangi kebersamaan dan interaksi serta komunikasi secara
langsung antar individu. Peserta didik lebih tertarik untuk bermain game online
melalui gadgetdaripada membaca buku. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya minat
peserta didik untuk membaca (Pradana, 2020).
Hasil observasi penulis di sekolah dasar diperoleh fakta bahwa rendahnya
minat baca siswa juga dipengaruhi oleh rendahnya minat siswa untuk berkunjung ke
perpustakaan. Hal ini disebabkan karena siswa tidak ada waktu untuk sekedar
membaca di perpustakaan. Saat istirahat, siswa cenderung bermain di kelas bersama
teman – temannya dibandingkan meluangkan waktu untuk pergi ke perpustakaan.
Berdasarkan uraian di atas, maka muncul upaya dalam meningkatkan minat
membaca bagi siswa sekolah dasar melalui program gerakan literasi sekolah. Oleh
karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran literasi, hambatan serta
usaha yang dilakukan sekolah dalam peningkatan minat baca siswa sekolah dasar.
Komentar: Jurnal ini mengangkat isu yang sangat relevan dalam era pendidikan 4.0,
yaitu pentingnya meningkatkan minat baca siswa, khususnya di tingkat sekolah dasar.
- METODE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kegiatan literasi, hambatan
dan usaha yang dilakukan sekolah dalam peningkatan minat membaca siswa sekolah
dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek
penelitian adalah kepala sekolah, guru dan siswa kelas 4 SD Negeri Kutoharjo 02.
Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik
analisi data meliputi pengumpulan data (data collection), reduksi data (data
reduction), penyajian data (data display), dan simpulan (conclution). Berdasarkan
data yang terkumpul, kemudian didiskripsikan dan dianalisis.
Komentar: Penelitian ini memiliki potensi yang baik untuk memberikan wawasan
tentang peran literasi dalam meningkatkan minat membaca siswa sekolah dasar.
- KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa 1) kegiatan literasi di SD Negeri
Kutoharjo 02 berperan dalam meningkatkan minat membaca siswa, 2) hambatan
pihak sekolah dalam melaksanakan kegiatan literasi di sekolah yaitu kurangnya
saranaa prasarana, metode yang diterapkan kurang variatif serta rendahnya
kedisiplinan siswa dalam proses pembiasaan kegiatan literasi, dan 3) usaha yang
dilakukan pihak sekolah adalah dengan memberikan sosialisasi mengenai kegiatan
literasi, menambah sarana seperti pengadaan buku – buku yang menarik minat serta
mengadakan kegiatan lomba sebagai wadah siswa untuk berpartisipasi aktif.
Komentar:. penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa kegiatan literasi di SD
Negeri Kutoharjo 02 memiliki dampak positif dalam meningkatkan minat membaca
siswa.
- PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan masyarakat
yang terus berupaya untuk meningkatkan kemampuannya di dalam dunia pendidikan.
Pendidikan merupakan wujud dari suatu kemajuan. Suatu masyarakat yang maju
adalah ditandai dengan majunya sektor pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang
berkualitas tersebut ditandai salah satunya dengan masyarakat yang literat. Untuk
memajukan pendidikan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan inovasi
atau perubahan kurikulum. Perlunya perubahan tersebut dengan tujuan untuk
mengatasi kebutuhan yang baru muncul sebagai dampak dari kemajuan zaman
(Psifidou, 2009). Pembaharuan berkelanjutan kurikulum juga dilakukan agar
kurikulum tetap dinamis dan lebih responsif terhadap kebutuhan siswa saat ini dan di
masa depan (Kırkgöz, 2009). Hal itu sesuai dengan salah satu sifat kurikum yang
tidak stagnan tetapi sering berubah untuk menyesesuaikan dengan modernisasi
(Nhlapo & Maharajh, 2017).
Perubahan kurikulum di Indonesia selalu dilakukan inovasi secara berkala.
Perubahan kurikulum tersebut bertujuan untuk memajukan pendidikan dan
memperbaiki pendidikan sebelumnya. Walaupun kurikulum telah berubah, tetapi
revisi terus dilakukan. Pada tahun 2013, di Indonesia, Kurikulum 2013 diberlakukan,
pada tahun 2014 dan 2016 dilakukan revisi pada kurikulum pada aspek-aspek tertentu
contohnya Kompotensi Inti dan Kompe-tensi Dasar pada mata pelajaran.
Di Indonesia, sejalan dengan perubahan Kurikulum pada tahun 2013,
pemerintah mencanangkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk
meningkatkan literasi siswa. Pencanangan kegiatan GLS merupakan langkah awal
yang baik dalam upaya untuk menjadikan masyarakat literat. GLS merupakan
kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mewujudkan visi agar
masyarakat dapat mengadaptasi kemajuan teknologi dan keterbaharuan. Pada tahun
2018 pemerintah berusaha untuk menjadikan literasi sebagai prioritas nasional
dengan dicanangkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan tersebut tidak hanya
ditujukan hanya untuk siswa saja, tetapi ditujukan untuk masyarakat pada umumnya.
Setelah dicanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan Gerakan Literasi
Nasional (GLN), beberapa sekolah telah melaksanakan kegiatan tersebut dengan
melakukan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Bacaan yang
dibaca oleh siswa beragam dan hasil bacaan tersebut ditulis berupa ulasan di dalam
buku harian. Berdasarkan kegiatan literasi tersebut, kurikulum pembelajaran dan
literasi dilakukan secara terpisah dan sejalan. Pelaksanaan kegiatan literasi
menempatkan literasi sebagai pelengkap dalam pelaksanaan kurikulum. Seharusnya,
literasi dan pembelajaran yang dilakukan bukan sesuatu yang terpisah tetapi dua hal
yang dapat dilakukan bersama-sama. Menempatkan kurikulum literasi dalam
kehidupan siswa menjadi lebih berguna dan relevan untuk kehidupan pada saat ini
(Petrone, 2013).
Literasi adalah hak asasi manusia yang fundamental untuk dapat
meningkatkan kehidupan seseorang mencapai tujuan pribadi, sosial, pekerjaan,
pendidikan, membuka peluang sosial, dan integrasi ekonomi dan politik (Rahanu et
al., 2016) (Pinto, Boler, & Norris, 2007). Literasi sangat penting bagi manusia untuk
perkembangan sosial dan mengubah kehidupan untuk meningkatkan kesehatan
seseorang, penghasilan seseorang, dan hubungan seseorang dengan dunia (UNESCO,
2015). Teeuw menyatakan bahwa bangsa yang literasi masyarakatnya masih rendah
akan mengalami peradapan yang suram (Suryaman, 2015). Untuk itu, membangun
masyarakat literat harus menjadi prioritas utama di antara prioritas-prioritas utama
lainnya. Menjadikan literasi sebagai prioritas nasional adalah wujud untuk
membentuk masyarakat yang literat (Pinto et al., 2007).
Literasi adalah dasar dalam pembentukan kepribadian multi-berpendi-dikan.
Kurikulum nasional menempatkan penting tugas untuk sekolah dengan meramalkan
tujuan pendidikan umum dan persyaratan publik, untuk mengembangkan kompetensi
literasi siswa (Tavdgiridze, 2016). Melihat kehidupan dan dunia tercermin dalam
kurikulum sekolah, kurikulum literasi harus berfungsi untuk membantu siswa
memenuhi tuntutan yang semakin kompleks di dunia (Petrone, 2013).
Kurikulum literasi sering diterapkan di sekolah untuk mewujudkan konstruk
literasi antitesis sebagai keterampilan “otonom” (Purcell-Gates et al., 2012).
Maksudnya, literasi diasumsikan sebagai satu set keterampilan yang netral,
dekontekstual yang dapat diterapkan secara universal (Street, 2003). Akan tetapi,
pembuat kebijakan pendidikan masih banyak yang bergantung pada konsep literasi
yang hanya menyediakan keterampilan untuk memperkuat daya saing ekonomi
nasional (Pinto et al., 2007). Hal itu tercermin pada kegiatan literasi yang hanya
dilaksanakan di sekolah, seharusnya untuk menciptakan praktik literasi yang lebih
inklusif, kita harus memahami hubungan praktek literasi dengan wacana, keluarga,
dan lingkungan masyarakat (Rogers, Tyson, & Marshall, 2000).
literasi baca tulis. Selain diketahui melalui uji literasi yang telah dilakukan
beberapa lembaga, perlu mengetahui bagaimana pelaksanaan literasi yang telah
diterapkan oleh sekolah. Selain itu, perlu diketahui juga hasil dari pelaksanaan literasi
tersebut pada aspek mendasar melalui respon siswa. Hal itu bertujuan agar perbaikan
dapat dilakukan, terutama pada perubahan kurikulum berdasarkan kebijakan yang
diberlakukan.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan
literasi yang telah dilakukan di sekolah dan melihat respon siswa setelah dilaksanakan
kegiatan literasi. Hasil penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui posisi literasi
pada kurikulum, khususnya bahasa.
Komentar: Artikel ini mengulas pentingnya perubahan kurikulum dalam upaya
memajukan pendidikan di Indonesia. Upaya inovasi dan perubahan kurikulum adalah
langkah yang penting untuk mengatasi kebutuhan baru yang muncul akibat kemajuan
zaman.
- METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan
dengan teknik wawancara terstruktur dan teknik pengumpulan angket. Instrumen
yang digunakan adalah pedoman wawancara dan lembar kuesioner. Pedoman
wawancara digunakan sebagai pedoman untuk mewawancarai guru perihal
pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ditempat guru tersebut mengajar,
sedangkan angket digunakan untuk mengetahui dampak dari GLS terhadap siswa.
Sumber data didapatkan dari Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Sumatera
Barat yang berjumlah tujuh orang guru, sedangkan angket diisi oleh siswa di salah
satu sekolah, yaitu siswa SMP Negeri 31 Padang yang berjumlah 30 orang siswa.
Data dianalisis dengan mendeskripsikan temuan yang diperoleh melalui hasil
wawancara dan angket. Data wawancara dideskripsikan dengan menjabarkan
jawaban dari narasumber, sedangkan data angket dideskripsikan melalui statistik
deskriptif.
Komentar: Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman
tentang pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Sumatera Barat.
Penggunaan teknik wawancara terstruktur dan pengumpulan angket sebagai
instrumen penelitian merupakan pendekatan yang tepat.
- KESIMPULAN
Reformasi, inovasi, revisi, atau perubahan kurikulum sesuatu hal yang perlu
dilakukan jika kurikulum yang digunakan saat ini tidak dapat mengimbangi dengan
kebutuhan siswa. Salah satu rekomendasi untuk kurikulum yang dapat digunakan
adalah dengan menggunakan literasi sebagai kurilum sekolah. Khususnya untuk
pembelajaran bahasa, maka literasi yang dilakukan adalah literasi baca dan tulis.
Untuk mewujudkan keberhasilan kurikulum tersebut, salah satu yang penting
dilakukan adalah adanya keterlibatan guru.
Untuk memandu perancang kurikulum dalam upaya mempromosikan inovasi
kurikulum. Pertama, inovasi perlu diperkenalkan secara bertahap dengan cara yang
sistematis, yang dikembangkan di bawah terang isu-isu teoritis. Kedua, semua peserta
harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan dengan penyediaan maksimum untuk
pengembangan konsensus, komitmen dan motivasi. Ketiga, keterlibatan administratif
yang efektif dan dukungan diperlukan untuk pengembangan kurikulum untuk
mencapai koherensi di antara komponen- komponennya. Guru, sebagai pemain
utama, perlu diberikan dukungan administratif yang memadai tidak hanya selama
tahap awal proses pembaharuan kurikulum, tetapi juga selama periode pengajaran
berikutnya untuk memungkinkan perubahan diterapkan dalam praktik mengajar
mereka. Akhirnya, komunikasi internal yang efisien perlu dipelihara dengan
pengadopsi inovasi yang potensial untuk memfasilitasi penerimaan perubahan
(Kırkgöz, 2009).
Komentar: Meskipun ada penekanan pada keterlibatan guru, lebih lanjut dijelaskan
mengenai cara-cara konkret untuk mendukung dan melibatkan mereka dalam proses
inovasi kurikulum akan memperkuat argumen yang diajukan.
- PENDAHULUAN
Aktifitas membaca merupakan bagian dari kegiatan dalam dunia literasi.
Literasi merupakan bagian integral dari dunia pendidikan dengan alasan bahwa
informasi dan pengetahuan didapatkan melaui kegiatan membaca. Berhasil atau
gagalnya proses belajar mengajar dapat ditentukan dari salah satu faktor yaitu
membaca (Faradina, 2017: 60). Agar siswa mampu mengenal, memahami, dan
menerapkan ilmu yang telah diperoleh dari proses belajar mengajar dalam dunia
pendidikan. Ketrampilan membaca merupakan kompetensi yang wajib dimiliki oleh
siswa. Membaca adalah suatu ketrampilan yang dapat menjadi faktor penunjang
dalam kemampuan berbahasa lainnya seperti berbicara dan juga menulis (Mansyur,
2018). Berangkat dari pemahaman tersebut dapat kita yakini bahwa pada dasarnya
ketrampilan membaca haruslah dikuasai oleh siswa semenjak usia dini. Dalam
kehidupan, membaca memiliki posisi yang sangat penting, utamanya di era informasi
yang berkembang dengan sangat pesat sebagaimana keadaan yang dirasakan sekarang
ini. Jalil Dan Elmustian (2006: 66) berpendapat membaca merupakan suatu
kemampuan yang bermanfaat untuk mendapatkan berbagai informasi, pengetahuan,
dan pengalaman baru, hal ini karena aktifitas membeca bersifat reseptif atau
menerima. Pengatahuan dan informasi inilah yang akan menjadi pintu untuk
membuka wawasan yang selanjutnya dapat merubah paradigma dalam berpikir dan
bertindak seseorang menuju kemajuan. Bahkan dalam kitab suci al-Quran sendiri
perintah untuk membaca menjadi ayat yang pertama kali diturunkan.
Akan tetapi pada kenyataannya membaca belum menjadi sebuah kebiasaan di
masyarakat Indonesia. Membaca belum menjadi sebuah aktifitas utama, membaca
masih hanya menjadi cara untuk mengisi waktu seggang. Maka tak berlebihan bila
sebuah penelitian telah menunjukan sangat rendahnya kemampuan membaca pelajar
di Indonesia. Pada tanggal 3 Desember 2019, Hasil akhir penelitian Programme for
International Student Assessment (PISA) yang dilakukan pada tahun 2018 telah
diumumkan. Hasilnya dari penelitian yang dilakukan pada 600.000 orang anak yang
berumur 15 tahun, diaman anak-anak tersebut berasal dari 79 Negara di dunia dengan
melakukan pembandingan kemampuan membaca, kemampuan matematika, dan
kinerja sains tersebut, Indonesia berada pada peringkat 74 pada kategori kemampuan
membaca dengan skor rata-rata 371 (Tohir, 2019: 1). Fakta di atas tentunya sangat
menyedihkan.
Rendahnya tingkat kemampuan membaca siswa di Indonesia haruslah menjadi
tantangan bagi dunia pendidikan untuk sesegera mungkin memperbaikinya. Pada
dasarnya pemerintah sebagai pengambil kebijakan telah berupaya untuk
meningkatkan kemampuan membaca yang dikuasai siswa dengan melakukan gerakan
literasi yang disebut Gerakan Literasi Sekolah disingkat GLS.
Gerakan Literasi Sekolah merupakan bagian dari kegiatan Gerakan Literasi
Nasional yang dicanangkan Pada tahun 2016 oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan sebagai lembaga yang memilki kewenangan dalam bidang pendidikan.
Program ini merupakan perwujudan dari peraturan menteri pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang budi pekerti, yang memiliki tujuan
menumbuh kembangkan budi pekerti siswa dengan pembudayaan ekosistem literasi
sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi
pembelajar sepanjang hidupnya (Faizah dkk, 2016: 2).
Guru sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan disekolah harus mampu
mengimplementasikan GLS. Guru harus menghadirkan kegiatan-kegiatan yang
kreatif dan inovatif untuk mendorong, mengembangkan, dan menumbuhkan minta
siswa dalam kemampuan membaca. Dengan kegiatan yang kreatif dan inovatif ini
siswa diharapkan akan memiliki kemampuan membaca yang baik sehingga akan
melahirkan generasi- generasi berbudaya membaca.
Tujuan akhir dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan
menganalisa berbagai kegiatan yang terkait Gerakan Litersi Sekolah sebagai suatu
upaya menumpuhkan kebiasaan membaca di MI Muhammadiyah Penaruban.
Berangkat dari penjelasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa
MI Muhammadiyah Penaruban telah melakukan berbagai kegiatan yang termasuk
dari GLS sebagai suatu upaya inovatif dan kreatif dalam menumbuhkan kebiasaan
membaca bagi siswa.
1. Kajian Teori
Pembiasaan adalah suatu poses penanaman kebiasaan kepada anak dan
merupakan salah satu cara mendidik anak (Sapendi, 2015 : 27). Sedangankan
berdasarkan penelitian Marwiyati (2020: 154) pembiasaan adalah prilaku
mempengaruhi seseorang yang dilakukan secara sadar, sistematis, dan berulang-
ulang untuk menajadikan seseorang melakukuan sesuatu tanpa perlu dipengaruhi.
Kebiasaan itu merupakan hasil dari prilaku yang dilakukan secara terencana,
penuh kesadaran, sehingga orang yang dipengaruhi tadi terbiasa dengan apa yang
dilakukan. Dengan pengertian yang lain pembiasaan adalah prilaku yang secara
teratur dilakukan. Kebiasaan menadika orang melakukan sesuatu tanpa
memperlukan pemikiran yang panjang.
Membaca merupakan bagian dari empat ranah ketrampilan berbahasa
Indonesia yang meliputi Ketrampilan mendengar, keterampilan menyimak,
keterampilan berbicara, dan ketrampilan menulis. Hal ini sesuai dengan amanat
Undang-Undang No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
menjelaskan salah satu ketrampilan yang haris dijaga, dirawat, dan dikembangkan
adalah membaca.
Komentar: Paragraf tersebut memberikan gambaran yang cukup baik tentang
pentingnya literasi dan kemampuan membaca dalam dunia pendidikan, serta
menyoroti masalah rendahnya tingkat kemampuan membaca siswa di Indonesia.
- METODE
Jenis Penelitian deskriptif kualitatif dimana dalam penelitian yang dilakukan
peneliti menjeskan dan menguraikan hasil penelitian yang dilakukan mengacu pada
data- data yang didapatkan.
Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara,
observasi, dan dokumentasi. Metode observasi atau pengamatan dilakukan dengan
pengamatan tentang pelaksanaan gerakan literasi sekolah di MI Muhammadiyah
Penaruban. Adapun wawancara dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan
informasi atau data dengan memberikan pertanyatan-pertanyaan yang telah dirancang
dengan sistematis, mengacu pada tujuan penelitian, yang dilakukan secara langsung
baik kepada responden yang relevansi dengan penelitian yang dilakukan maupun
tenaga ahli yang memiliki kompetensi dan tanggung jawab dalam suatu masalah atau
bidang.
Analisis model interaktif merupakan model analisis yang digunakan peneltian
ini. Reduksi data, sajian, data dan penarikan simpulan merupakan komponen analisis
yang dilakukan secara interaktif dengan aktifitas mengumpulkan data sebagai suatu
lingkaran siklus.
Komentar: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk
menjelaskan dan menguraikan hasil penelitian berdasarkan data yang diperoleh
melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.
- KESIMPULAN
Berangkat dari data-data yang didapat melalui beberapa metode peneliti
berkesimpulan bahwa kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di MI
Muhammadiyah Penaruban Kabupaten Purbalingga berjalan dengan baik dan
bermanfaat bagi siswa dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai salah satu
bagian dari literasi.
Pada pelaksanaan GLS seluruh komponen pendidikan siswa, guru, dan
pustakawan saling mendukung dan memberikan peran aktif dalam setiap kegiatan
GLS yang diselenggarakan. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan antara lain :
membuat pojok baca, menyadiakan waktu khusus untuk membaca, Memajang hasil
karya siswa, Pengadaan buku bacaan siswa di Perpustakaan, Mengadakan kegiatan
lomba literasi bagi siswa, Membuat majalah dinding, dan Kepala sekolah aktif dalam
kegiatan literasi.
Komentar: Hasil penelitian menunjukkan bahwa GLS di sekolah ini berjalan dengan
baik dan memberikan manfaat yang signifikan bagi siswa dalam mengembangkan
kebiasaan membaca sebagai bagian integral dari literasi.
- METODE
Pengabdian ini dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan klasikal
dan individual. Pendekatan klasikal diberikan dalam bentuk pelatihan (workshop)
guna menyampaikan teoretis atau prosedur dalam mengembangkan soal AKM literasi
membaca, sedangkan pendekatan individual dilakukan dalam bentuk tugas yang
diberikan sebagai bentuk penilaian terhadap kemampuan guru dalam membuat soal
AKM literasi membaca. Adapun langkah-langkah kegiatan yang dilakukan dalam
mencapai tujuan ini, yakni (1) Ceramah tentang konseptual pengembangan soal AKM
literasi membaca; (2) Tanya-jawab tentang pemahaman dalam mengembangkan soal
AKM literasi membaca; (3) Simulasi dalam mengembangkan soal AKM literasi
membaca; (4) Peserta diberikan tugas secara berkelompok untuk membuat soal AKM
literasi membaca; dan (5) Menelaah secara bersama-sama tentang tugas yang telah
dikerjakan.
Komentar: Pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini cukup jelas dan
terstruktur, dengan dua pendekatan yang berbeda.
Gambar 1. Hasil Kuesioner Workshop Pengembangan Soal AKM Literasi Membaca pada
MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kampar
Berdasarkan hasil angket kepuasan mitra terhadap kegiatan pengabdian
kepada masyarakat berupa Workshop Pengembangan Soal AKM Literasi Membaca
Pada MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kampar yang dilaksanakan pada
tanggal 4 s,d 6 Desember 2021 berhasil dan sukses. Mitra/peserta merasa puas
dengan pelayanan yang diberikan oleh Tim pengabdian baik dari segi materi PkM
sesuai dengan kebutuhan mitra/peserta sampai tahap kegiatan PkM yang berhasil
meningkatkan kompetensi mitra/peserta. Oleh karena itu, tim PKM Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau berhasil
mencapai target yang ditentukan sebelumnya.
Komentar: Soal-soal yang dibuat sebaiknya lebih kompleks dan berfokus pada
tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Selain itu, variasi format soal juga perlu
diperbanyak untuk menguji berbagai aspek literasi membaca.
- KESIMPULAN
Berdasarkan pelaksanaan workshop tentang “Pengembangan Soal AKM
Literasi Membaca Pada MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kampar” dapat
disimpulkan bahwa kegiatan berjalan lancar dan sukses. Peserta telah dapat membuat
soal AKM literasi membaca berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Workshop
ini dilakukan dalam usaha untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merancang
asesmen dalam pembelajaran, khususnya dalam asesmen literasi membaca.
Komentar: Meskipun workshop ini dianggap berhasil dalam hal pelaksanaan yang
lancar dan peserta mampu membuat soal AKM literasi membaca sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan, namun ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan lebih
lanjut.
- PENDAHULUAN
Pada hakikatnya manusia dalam kehidupan sehari-hari dihadapakan dengan
situasi belajar, mengapa, karena setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia tak
lepas dari pengalaman-pengalaman yang diperolehnya. Pengalaman-pengalaman ini
diperoleh dari proses belajar itu sendiri, baik proses belajar yang disengaja maupun
tidak disengaja. Individu pada dasarnya merupakan makhluk pembelajar dalam setiap
konteks perkembangan budaya.
Individu (manusia) merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk
belajar, salah satunya dengan belajar lewat jalur pendidikan atau sekolah. Sekolah
adalah lembaga yang memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan
pembelajarnya. Sekolah memiliki peran penting dalam mengembangakan
kemampuan siswanya, dengan melalui berbagai sistem pembelajaran yang efektif
untuk mencapai tujuan belajar.
Melihat bahwa budaya membaca di Indonesia pada peringkat bawah, ketika
UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001, artinya
pada setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat membaca, rata-rata
membaca nol sampai satu buku pertahun masyarakat di Indonesia. Tingkat literasi di
Indonesia hanya berada pada rangking 64 dari 65 negara yang disurvei, fakta lagi
tingkat membaca santri atau siswa di Indonesia hanya menempat urutan 57 dari 65
negara.3
Hal ini membuktikan bahwa budaya literasi di Indonesia sangat rendah
sehingga hal ini perlu digalakkan dan di terapkan dengan baik khususnya dalam
dayah atau pesantren. Dayah sebagai lembaga pendidikan Islam harus menerapkan
budaya membaca dengan tepat, sehingga dapat menciptakan generasi yang gemar
membaca. Pentingnya menumbuhkan gemar membaca, dengan membudayakan
membaca merupakan sebuah upaya yang mendukung dalam menumbuhkan rasa cinta
membaca.
Membaca merupakan salah satu ketrampilan dalam berbahasa. Membaca
merupakan kegiatan yang penting dalam dunia pendidikan, dengan membaca akan
semakin banyak informasi-informasi yang diperoleh dari berbagai bidang ilmu yang
diekspresikan dalam sebuah buku. Harjasujana dan Damaianti yang dikutib oleh
Dalman menyatakan dalam membudayakan kegiatan membaca, pembaca harus dapat:
1. Mengamati lambang yang disajikan di dalam teks,
2. Menafsirkan lambang atau kata,
3. Mengikuti kata tercetak dengan pola linier, logis dan gramatikal,
4. Menghubungan kata dengan pengalaman langsung untuk memberi
makna terhadap kata tersebut,
5. Membuat inferens (kesimpulan) dan mengevaluasi materi bacaan,
6. Mengingat yang dipelajari pada masa lalu dan menggabungkan
ide-ide baru dan fakta-fakta dengan isi teks,
7. Mengetahui hubungan antara lambang dan bunyi, serta antar kata
yang dinyatakan di dalam teks, daN Membagi perhatian dan sikap
pribadi pembaca yang berpengaruh terhadap proses membaca.
Membaca adalah salah satu pintu untuk mencari informasi-informasi yang
dapat bermanfaat dalam kehidupan, dengan aktif membaca buku juga mampu
mengasah ketrampilan membaca, menulis apabila membuat tulisan atau catatan dari
membaca dan dari proses itu dapat pula menambah pengetahuan dengan menganalisis
dan memahami bacaan, sehingga mampu berpikir kritis.
Dayah Putri Muslimat Samalanga merupakan salah satu dayah yang telah
menerapkan budaya membaca lewat gerakan literasi dayah. Dayah Putri Muslimat
Samalanga dalam menerapkan kultur literasi ini sudah berjalan dengan baik, baik
dalam kegiatan pra pembelajaran, pemanfaatan perpustakaan dan masih banyak lagi
upaya dalam meningkatkan minat membaca. Melihat hal di atas maka peneliti
mengajukan sebuah penelitian terkait kultur literasi atau budaya membaca bagi santri
atau siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca di Dayah Putri Muslimat.
Komentar: Dipendahuluan butuh dijelaskan lebih lanjut bagaimana sekolah dapat
berperan dalam meningkatkan minat baca siswa.
- METODE
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif.
Penelitian kulitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada
kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan dengan cara trianggulasi (gabungan), analisis data
bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada
generalisasi.6Pendekatan yang penulis lakukan dalam penelitian ini pendekatan
normatif. Sifat penelitian adalah deskriftif.
Komentar: sebaiknya ada penjelasan singkat mengenai kontribusi atau temuan utama
yang diharapkan dari penelitian ini dalam konteks pendekatan normatif yang
digunakan.
- KESIMPULAN
Manajemen Literasi Yang Diterapkan Dayah Putri Muslimat Samalanga
Terhadap Pembudayaan Membaca: perencanaan, peorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi. Faktor Keberhasilan dan Kendala Dalam Manajemen
Literasi Terhadap Pembudayaan Membaca di Dayah Putri Muslimat Samalanga
adalah penyedian buku yang memadai, antusias santri dalam mengikuti kegiatan
menulis dan dukungan public dan lingkungan literat.
Komentar: Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, penting untuk
memperkuat aspek perencanaan dan pengawasan dalam manajemen literasi ini.
Kedua, meskipun penyediaan buku yang memadai menjadi faktor kunci, penelitian
ini dapat lebih mendalam dengan menggali lebih lanjut mengenai metode yang
digunakan untuk meningkatkan minat membaca di kalangan santri.
- PENDAHULUAN
Pentingnya literasi bagi masyarakat, maka Pemerintah, melalui Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan sedang berusaha meningkatkan literasi membaca dan
menulis bagi masyarakat, Literasi membaca dan menulis sudah menjadi bagian
kebutuhan yang sangat penting. Sebagian besar pakar pendidikan menganggap
kemampuan literasi membaca dan menulis sebagai suatu hak asasi warga negara yang
wajib difasilitasi oleh pemerintah selaku penyelenggara pendidikan. Oleh karena itu,
banyak negara khususnya negara maju dan juga berkembang menjadikan kemampuan
literasi membaca dan menulis sebagai agenda utama pembangunan sumber daya
manusia agar mampu bersaing dalam era modern. Literasi secara tradisi dimaknai
sebagai kemampuan menggunakan bahasa untuk membaca dan menulis. Dalam
konteks modern, literasi merujuk kemampuan membaca dan menulis pada tahap yang
memadai untuk berkomunikasi dalam suatu masyarakat yang literat (Widodo dan
Ruhaena, 2018; Saryono dkk., 2017).
Gerakan literasi membaca dan menulis harus ditanamkan oleh pemerintah
agar menjadi bagian budaya masyarakatnya. Gerakan masyarakat membaca dan
menulis merupakan gerakan yang menjadi satu kesatuan. Meniadakan yang satu akan
terjadi kepincangan. Misalnya hanya literasi membaca saja, lalu apa yang dibaca.
Begitu juga hanya literasi menulis, lalu siapa yang membaca. Dengan demikian kedua
literasi ini saling melengkapi seperti dua sisi mata uang tidak dapat dibuang salah
satu. Gerakan literasi membaca dan menulis ini harus dapat dilakukan oleh siapa saja,
di mana saja, kapan saja, dan dengan media apa saja. Dengan literasi membaca dan
menulis akan mendorong masyarakatnya selalu mengikuti perkembangan informasi.
Dengan informasi tersebut masyarakat akan dapat mengikuti perkembangan zaman,
semakin kreatif dan mandiri dalam menangani masalah dalam kehidupannya.
Gerakan literasi membaca dan menulis di Indonesia sudah dilakukan oleh pemerintah,
namun hasilnya belum menggembirakan. Sampai saat ini, kondisi literasi membaca
dan menulis masyarakat Indonesia masih sangat minim.
Literasi adalah sebuah fenomena yang sedang marak gaungnya di pendidikan
Indonesia, sementara, hal ini bukanlah hal yang baru namun praktiknya ternyata
masih jauh dari sempurna. Literasi baca tulis adalah salah satu literasi yang utama
dan wajib dimiliki oleh anak-anak sekolah dasar untuk perkembangan belajar mereka
di sekolah. Namun, hal membaca dan menulis agaknya masih juga menjadi masalah
di sekolah dasar seperti tidak bisa membaca, membaca masih mengeja dan bahkan
menulis pun masih sangat lambat akibat belum mengenal huruf dan lain-lain.
Fenomena di atas terjadi bukan hanya pada kelas rendah namun yang menjadi
menarik adalah terjadi pada kelas tinggi. Ada apa dengan literasi baca tulis di
sekolah-sekolah kita? Oleh sebab itu, penelitian ini harus dilakukan untuk melihat
bentuk literasi baca tulis seperti apakah yang dilakukan oleh pihak sekolah khususnya
di sekolah dasar di kecamatan Malifut.
Literasi adalah kecakapan hidup yang wajib dimiliki oleh setiap orang terlebih
lagi oleh anak-anak usia sekolah dasar karena hal ini adalah hal paling penting yang
nantinya akan menentukan nasib bangsa kita. Literasi baca tulis adalah salah satu dari
enam literasi dasar yang dicanangkan oleh GLN (Gerakan Literasi Nasional) di
bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2016 yang merupakan
implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun 2015
tentang Budi Pekerti. Gerakan Literasi adalah salah satu cara menumbuhkan budi
pekerti dan hal ini wajib dilakukan. Mengingat betapa pentingnya literasi baca tulis di
sekolah dasar karena sekolah dasar adalah fondasi bagi pendidikan siswa di lembaga
formal. Di kelas rendah siswa akan diajarkan tentang membaca dan menulis namun
fenomena yang terjadi sekarang ini bahkan di kelas tinggi pun masih sangat banyak
anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis secara baik. Permasalahan Baca
Tulis ini menjadi masalah yang besar apalagi anak sudah sampai di kelas tinggi, yang
seharusnya sudah memiliki kompetensi ini. Penerapan Literasi baca tulis ini adalah
sebuah dasar untuk menghasilkan Sumber daya manusia yang bermutu dan
membutuhkan usaha yang gigih untuk mewujudkannya.
Komentar: Meskipun teks memberikan gambaran umum tentang pentingnya literasi
baca tulis, sebaiknya ada pengembangan lebih lanjut tentang permasalahan konkret
yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia terkait literasi baca tulis.
- METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif.
Penelitian ini dilakukan dengan teknik wawancara terstruktur. Sumber data yang
digunakan dalam penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah:
Data yang berupa hasil wawancara yang diperoleh dari guru kelas dan kepala sekolah.
Data sekunder yaitu data- data bersumber dari laporan-laporan atau dokumen–
dokumen yang terkait dengan buku bacaan di perpustakaan. Subjek dalam penelitian
ini adalah kepala sekolah dan guru kelas tinggi se-kecamatan Malifut. Lokasi
penelitian ini di SD se-kecamatan Malifut. Instrumen yang digunakan adalah lembar
formulir wawancara. Formulir wawancara digunakan sebagai pedoman untuk
mewawancarai kepala sekolah dan guru kelas tinggi tentang Literasi Baca Tulis.
Data dianalisis dengan mendeskripsikan temuan yang diperoleh melalui hasil
wawancara. Data wawancara dideskripsikan dengan menjabarkan jawaban dari
narasumber dan dikaitkan dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini.
Observasi, yaitu pengumpulan data dengan mengamati proses pembelajaran yang
dilakukan oleh guru kelas. Wawancara terstruktur, yaitu pengumpulan data dengan
menggunakan instrumen wawancara. Data-data kualitatif pada penelitian ini
dianalisis melalui langkah-langkah (Creswell,2010) sebagai berikut: Mengolah dan
mempersiapkan data untuk dianalisis, membaca keseluruhan data, menganalisis lebih
detil dengan mengcoding data, menerapkan proses coding untuk mendeskripsikan
setting, orang-orang, kategori-kategori, dan tema- tema yang dianalisis,
mendeskripsikan dan menghubungkan tema-tema dalam narasi atau laporan kualitatif,
dan menginterprestasi atau memaknai data.
Komentar; Meskipun penelitian ini memberikan gambaran tentang metodologi yang
digunakan, masih perlu disertai informasi lebih lanjut tentang hasil temuan dan
kontribusi penelitian terhadap pemahaman literasi baca tulis.
- KESIMPULAN
Literasi Baca Tulis merupakan pekerjaan rumah yang melibatkan semua pihak
di lingkungan sekolah, dari mulai kepala sekolah, jajaran komite, pengawas, guru,
siswa, orang tua, dan masyarakat sekitar dalam pelaksanaannya. Pengembangan
budaya literasi dilaksanakan beriringan dengan penumbuhan karakter dan budi
pekerti di ekosistem sekolah. Dengan adanya hal ini, diharapkan akan tumbuh budaya
membaca dan menulis sebagai dasar terciptanya proses pembelajaran sepanjang
hayat. Literasi Baca Tulis di SD Se-Kecamatan Malifut masih jauh dari kata
sempurna dan gerakan literasi nasional sepertinya belum sampai di Kecamatan
Malifut. Sehingga dibutuhkan kerja keras dari semua pihak untuk melanjutkan
kegiatan ini guna memberikan manfaat bagi generasi kita selanjutnya.
Komentar: masih perlu diperjelas bagaimana upaya konkret dilakukan untuk
meningkatkan literasi di SD Se-Kecamatan Malifut.