0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
375 tayangan45 halaman

Review Jurnal

Artikel ini membahas upaya meningkatkan minat baca siswa sekolah dasar melalui gerakan literasi membaca dengan melaksanakan kegiatan 15 menit membaca dan menggunakan metode scrapbook, serta mengoptimalkan pojok baca di kelas. Kegiatan-kegiatan tersebut terbukti dapat meningkatkan minat baca siswa.

Diunggah oleh

Nety Puspito
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
375 tayangan45 halaman

Review Jurnal

Artikel ini membahas upaya meningkatkan minat baca siswa sekolah dasar melalui gerakan literasi membaca dengan melaksanakan kegiatan 15 menit membaca dan menggunakan metode scrapbook, serta mengoptimalkan pojok baca di kelas. Kegiatan-kegiatan tersebut terbukti dapat meningkatkan minat baca siswa.

Diunggah oleh

Nety Puspito
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Nety C Puspito

Kelas :A
Nim : 202286206012
Jurusan : PGSD

REVIEW ARTIKEL
1. Meningkatkan Minat Membaca melalui Gerakan Literasi Membaca bagi
Siswa Sekolah Dasar (2019)
- PENDAHULUAN
Di era pendidikan 4.0, minat baca siswa khususnya siswa di level sekolah dasar
perlu ditingkatkan ( Handayani, Adisyahputra, & Indrayanti,2019 ). Era pendidikan
4.0 menjadi tantangan tersendiri tak terkecuali bagi pihak sekolah dasar dalam
membentengi siswa dari dampak negatif derasnya penggunaan teknologi terutama
dalam keseharian siswa. Era pendidikan 4.0 merupakan era modern dimana adanya
sistem digitalisasi hampir dalam segala aspek kehidupan, tak terkecuali dalam aspek
pendidikan.Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, tentunya hal
tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi tantangan
tersendiri bagi para siswa.
Pendidikan 4.0 tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi, akan tetapi
minat baca siswa juga perlu ditingkatkan untuk menyongsong Pendidikan 4.0.
Derasnya arus informasi dan teknologi di era pendidikan 4.0 ini berdampak pada
semakin terbatasnya waktu yang dimiliki para siswa untuk membaca. Padahal,
kemampuan literasi siswa dalam membaca tentunya dapat sangat diperlukan bagi
siswa untuk tetap dapat mengikuti segala perkembangan terutama yang terkait
dengan dunia pendidikan mereka (Yuriza,Adisyahputra, & Sigit, 2019; Juhanda,&
Maryanto, 2019).
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini berupaya untuk bisa menawarkan
dan menyajikan kegiatan-kegiatan yang menarik dalam upaya menarik minat para
siswa dalam meningkatkan minat membaca khususnya melalui gerakan literasi
membaca. Melalui gerakan literasi membaca diharapkan para siswa akan dapat
mengembangkan dan merangsang kemampuan literasi membaca mereka, kreativitas,
imajinasi, dan juga pengetahuan mereka.
Pentingnya kemampuan literasi telah sering diteliti pada penelitian-penelitian
sebelumnya. Upaya gerakan literasi sekolah merupakan suatu bentuk dukungan
kepada pemerintah dalam upaya menanamkan budi pekerti dari semenjak pendidikan
dasar. Salah satu penelitian tersebut yaitu penelitian yang dilakukan oleh Suyono,dkk
(2017). Dalam penelitian tersebut, mereka memfokuskan penelitian pada
implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di sekolah dasar. Dari hasil penelitian
mereka ditemukan pola-pola dalam implementasi Gerakan Literasi Sekolah, yaitu
pola kegiatan literasi pada buku tematik dan pola kegiatan literasi di sekolah.
Komentar: Kalimat-kalimat dalam teks tersebut menyajikan pemahaman yang baik
tentang tantangan yang dihadapi dalam era pendidikan 4.0 terkait dengan minat baca
siswa di tingkat sekolah dasar.
- METODE
Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dalam ranah penelitian
studi kasus. Menurut Gall dkk (2003), penelitian studi kasus merupakan metode
penelitian berfokus pada sebuah fenomena untuk dikaji atau dideskripsikan secara
mendalam. Dalam hal ini, peneliti mengkaji sebuah fenomena tentang implementasi
gerakan literasi membaca bagi siswa sekolah dasar di SDN Rejowinangun Selatan 3
dan SDN Rejowinangun Selatan 4.
Partisipan dalam penelitian ini adalah 50 siswa kelas 5 yang terbagi menjadi
25 siswa di SDN Rejowinangun Selatan 3 dan 25 siswa SDN Rejowinangun Selatan
4. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu observasi dan wawancara. Peneliti
melaksanakan observasi terkait upaya pelaksanaan gerakan literasi di sekolah
tersebut. Selain itu, peneliti menerapkan beberapa metode-metode atau kegiatan
penunjang untuk mendukung upaya gerakan literasi membaca. Wawancara juga
dilaksanakan untuk mengetahui perspektif siswa terkait kegiatan peningkatan minat
membaca.
Komentar: Perlu disebutkan lebih lanjut tentang proses pemilihan partisipan, serta
langkah-langkah yang diambil dalam meminimalkan potensi bias penelitian.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan kegiatan observasi, peneliti menerapkan beberapa kegiatan
peningkatan minat baca siswa untuk mendukung gerakan literasi membaca bagi
siswa. Kegiatan yang diterapkan peneliti seperti Kegiatan 15 menit membaca sebelum
memulai kegiatan belajar mengajar.
a. Kegiatan 15 Menit Membaca
Kegiatan 15 menit membaca bertujuan untuk meningkatkan minat
baca siswa sehingga program gerakan literasi dapat berjalan dengan
sukses. Berikut deskripsi kegiatan 15 menit membaca yang diterapkan
oleh peneliti kepada para siswa.

Tabel 1 . Deskripsi Kegiatan 15 Menit Gerakan Literasi


NO Detail Kegiatan Alokasi Waktu
1. Buku bacaan diberikan siswa. 1 Menit
2. Siswa membaca buku bacaan. 9 Menit
3. Kegiatan Pilihan : 5 Menit
a. Siswa menceritakan kembali tentang
isi buku bacaan kepada teman
sebangku.
b. Siswa melaksanakan kegiatan
peningkatan minat baca.
Dalam kegiatan 15 menit Gerakan Literasi, peneliti menerapkan beberapa
metode peningkatan minat baca seperti pembuatan Scrapbook.Scrapbook merupakan
salah satu metode seni menempel gambar atau foto pada media kertas. Penerapan
metode peningkatan minat baca melalui Scrapbook terdiri dari beberapa langkah
seperti berikut.
1. Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari empat orang.
2. Siswa membaca buku bacaan yang telah dibagikan dalam waktu 9-10 menit.
3. Siswa mengumpulkan buku bacaan.
4. Siswa memperoleh potongan gambar tentang cerita di buku bacaan.
5. Siswa mendapatkan media kertas berwarna, alat tulis, dan lem untuk
Scrapbook yang telah dibagikan ke setiap kelompok.
6. Siswa menyusun potongan gambaran secara urut berdasarkan cerita di
buku bacaan dalam waktu sekitar 3 menit.
7. Siswa menulis minimal satu kalimat yang mendeskripsikan gambar yang
telah disusun.
8. Siswa mempresentasikan karya Scrapbook mereka.
9. Siswa mengumpulkan Scrapbook mereka di Pojok Baca di kelas.
Berdasarkan observasi kelas, para siswa antusias dalam mengikuti
kegiatan peningkatan minat baca dengan metode Scrapbook. Hal ini ditunjukan
dari keaktifan siswa dalam membuat Scrapbook.Berikut beberapa dokumentasi
tentang penerapan metode Scrapbook untuk meningkatkan minat baca para siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan para siswa terkait kegiatan 15
menit membaca, siswa berpendapat bahwa kegiatan 15 menit membaca adalah
kegiatan yang menarik dan menyenangkan khususnya ketika metode Scrapbook
diterapkan dalam kegiatan 15 menit membaca. Berikut beberapa data wawancara
dengan siswa.
Data 1 : “Aku senang dengan kegiatan ini, buku ceritanya bagus dan bergambar.”
Data 2 : “Saya suka menyusun gambar dan bercerita setelah baca buku ceritanya.”
Data 3 : “Saya senang membaca, apalagi menyusun gambar bersama teman-teman.”
Data 4 : “Saya suka membaca buku cerita dan menyusun gambar, kegiatannya seru.”
Data 5 : “Saya senang cerita kembali setelah menyusun gambar tadi.”
Data 1 sampai dengan Data 5 menunjukan bahwa para siswa merasa
senang dan tertarik dengan kegiatan 15 Menit Membaca. Hal ini
menunjukan bahwa perlu mengoptimalkan kegiatan 15 Menit Membaca yang
sudah diterapkan oleh pihak sekolah. Penanggung jawab kegiatan 15 Menit
Membaca di setiap sekolah dapat menerapkan metode-metode peningkatan minat
baca siswa seperti dengan penggunaan metode Scrapbook, Retelling story,
ataupun yang lainnya. Dengan mendayagunakan kegiatan 15 Menit Membaca,
program Gerakan Literasi Membaca dapat berjalan dengan sukses dan lancar.
a. Pojok Baca
Pojok Baca merupakan salah satu program yang telah diinisiasi
pihak Sekolah Dasar untuk meningkatkan minat baca siswa. Pojok
Baca terdapat disetiap sudut kelas dengan koleksi buku-buku cerita dan
buku-buku penunjang mata pelajaran. Berdasarkan wawancara dengan
guru,manfaat Pojok Baca adalah sebagai berikut.
 Pojok Baca merupakan alternatif bagi siswa untuk gemar
membaca.
 Pojok Baca menjadikan siswa dapat mengakses buku cerita atau
buku penunjang mata pelajaran secara mudah.
 Pojok Baca dapat mendekatkan siswa dengan buku.
 Pojok Baca dapat dijadikan sarana untuk mendukung kegiatan
belajar.
Dengan mengoptimalkan Pojok Baca, Gerakan Literasi Membaca dapat
berjalan dengan lancar. Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak seperti Kepala
Sekolah, Guru, Penanggung Jawab Gerakan Literasi, dan para siswa untuk
mengoptimalkan Pojok Baca sebagai salah satu program Gerakan Literasi di
Sekolah Dasar. Berikut dokumentasi Pojok Baca.
Komentar: Kalimat-kalimat dalam teks tersebut secara umum cukup jelas dan
informatif dalam menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan peneliti untuk
meningkatkan minat baca siswa dalam rangka mendukung gerakan literasi membaca.

- KESIMPULAN
Gerakan Literasi Membaca bagi siswa Sekolah Dasar merupakan program
yang perlu didukung oleh seluruh pihak di sekolah. Dalam penelitian ini, hasil
penelitian menunjukan bahwa kegiatan 15 Menit Membaca dengan berbagai
metode peningkatan minat baca dan Pojok Baca merupakan program
peningkatan minat baca untuk mendukung Gerakan Literasi Membaca. Dengan
mengoptimalkan Gerakan Literasi Membaca, siswa dan guru akan mendapatkan
banyak manfaat untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar.
Komentar: kegiatan 15 Menit Membaca dengan berbagai metode peningkatan minat
baca dan Pojok Baca, sebagai bagian dari upaya peningkatan minat baca dalam
mendukung Gerakan Literasi Membaca. Namun, harus ada perbaikan yang bisa
dilakukan dalam penyusunan kalimat ini agar lebih jelas.

2. Pengembangan Budaya Literasi Menulis bagi Guru Sekolah Dasar


Melalui Pelatihan Pembuatan PTK dan Artikel Ilmiah (2021)

- PENDAHULUAN
Desa Janteh merupakan salah satu dari 16 di Kecamatan Kwanyar,
Kabupaten Bangkalan yang terletak 2 Km kearah utara dari Kantor Kecamatan.
Desa Janteh memiliki luas wilayah dengan luas 420,47 hektar. Desa Janteh
merupakan desa dengan yang tergolong berkembang, ekonomi masyarakat Desa
Janteh tergolong menengah, dengan mayoritas penduduk yang bermata pencaharian
sebagai petani, dan sebagian lainnya berpencaharian sebagai pedagang dan
terdapat masyarakat selain menjadi petani warga desa beternak ayam dan sapi
(Sadik, 2016; Santoso & Rohmawati, 2017).
Desa Janteh memiliki sumber daya alam berupa hasil pertanian yang berupa
padi, jagung dan kacang tanah. Potensi pertanian masih belum dikelola secara
maksimal serta kurangnya wawasan dan keterampilan masyarakat dalam
mengelola potensi tersebut menjadi sebuah kendala yang perlu diatasi. Selain itu,
pendidikan di desa janteh, Kwanyar masih tergolong sangat rendah.
SDN janteh 1 ini merupakan mitra pertama dalam program pengabdian
masyarakat ini. Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui observasi,
dokumentasi dan wawancara dengan kepala sekolah dan guru, diketahui bahwa
budaya membaca dan menulis siswa disini sangat rendah. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor diantaranya adalah 1) rendahnya pembiasaan aktivitas siswa
dalam membaca dan menulis di setiap kegiatan pembelajaran, 2) Ketidakmampuan
guru dalam menerapkan gerakan literasi di sekolah, 3) Kurangnya motivasi
siswa akan budaya literasi membaca, 4) rendahnya tingkat kemampuan berfikir
siswa, yang terindikasi dari asessmen pembelajaran yang masih berada pada taraf
berfikir sederhana, 5) Model pembelajaran guru bersifat konvensional.
Berdasarkan identifikasi awal terkait permasalahan pembelajaran,
diketahui bahwa Pembelajaran yang dilaksanakan masih berorientasi pada
pemahaman konsep tanpa memberikan pengalaman belajar pada siswa. Tentu hal
ini berdampak pada tingkat berfikir siswa yang rendah. Pembelajaran juga kurang
melibatkan semua indera agar pengetahuan dan pemahaman siswa dapat terekam dan
bertahan lama dengan baik. Padahal, proses pembelajaran harus dapat
memotivasi dan meningkatkan daya tarik siswa untuk belajar. Kondisi ini bisa
dicapai apabila guru mampu memilih model, strategi dan metode pembelajaran
dan mengemasnya dalam sebuah rencana pembelajaran yang menarik (Lukman,
Hayati, & Hakim, 2019).
Permasalahan lainnya adalah kurangnya skill guru dalam menghasilkan
karya ilmiah, dari hasil observasi tim ke sekolah, guru kesulitan menuangkan
ide dalam bentuk tulisan, termasuk dalam melakukan penelitian tindakan kelas
(Abdul Syukur, 2014; Mufti, 2016). Padahal, ini merupakan bentuk output literasi
bagi seorang guru. Tantangan seorang guru tidak hanya berkutat pada kemampuan
mengajar, tetapi juga kemampuan menulis karya ilmiah sebagai bentuk
literasinya. Tidak tersediannya perpustakaan sekolah juga berdampak pada kurangnya
buku-buku referensi sebagai sumber belajar untuk pengayaan materi pelajaran.
Oleh karena itu, perlunya peningkatan kualitas literasi melalui peningkatan
manajemen perpusatakaan sehingga meningkatkan kualitas guru untuk menulis,
selain itu perlunya adanya pelatihan penulisan artikel ilmiah sebagai output literasi
menulis bagi guru.
Oleh karena itu, berdasarkan hasil analisis bersama tim, maka tujuan pelatihan
ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran
yang aktif, pembudayaan gerakan literasi di sekolah, dan pengembangan
kemampuan berfikir kritis pada siswa. Solusi yang ditawarkan adalah dengan
pelatihan pengembangan budaya literasi bagi guru. Budaya literasi menulis
mampu mengembangkan kreativitas guru dalam menciptakan inovasi
sebuah pembelajaran yang mampu mengatasi permasalahan yang ada dikelasnya
(Yunus, Mulyati, & Yunansah, 2021).
Komentar: Kalimat-kalimat dalam teks ini memberikan gambaran yang cukup rinci
tentang Desa Janteh, termasuk informasinya

- METODE
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan ini yaitu melalui pelatihan
kepada guru SDN Janteh 1 Kwanyar terkait literasi menulis melalui PTK beserta
memberikan pendampingan kepada guru selama proses pengabdian masyarakat
di Kwanyar berlangsung. Adapun tahapan pelatihannya dilakukan beberapa
tahapan yaitu, (1) Tahap identifikasi; yaitu mengidentifikasi kebutuhan, dan
kesulitan guru SDN Janteh 1 dalam menulis Karya tulis PTK. (2) Tahap persiapan,
pada tahap ini berkoordinasi dengan kepala sekolah, dan guru setempat terkait
program pelatihan yang akan dilaksanakan. Waktu dan tempat pelaksanaan
menjadi bahan pertimbangan pada saat persiapan. (3) Tahap pelaksanaan.
Dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada guru SDN Janteh 1, yang
dilakukan secara paralel. Memberikan arahan dan materi terkait literasi menulis yang
harus dikuasai oleh guru. (4) Tahap Evaluasi, dimana tahap ini dilakukan setelah
proses pelatihan berlangsung, berkoordinasi dengan guru setempat kendala-
kendala yang dialami dalam mengembangkan Karya tulis, serta memberikan
bimbingan pendampingan kepada guru SDN Janteh, hingga proses penulisa
karya tulis ilmiah PTK selesai dikembangkan.
Komentar: Ada beberapa poin yang bisa ditingkatkan dalam kalimat ini untuk
membuatnya lebih komprehensif,sebaiknya tambahkan informasi mengenai tujuan
dari pelatihan ini.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Tahap Identifkasi
Objek pelatihan ini adalah guru SDN Janteh 1. Objek penelitian
berdasarkan jenis kelamin (Gambar 1) terdapat 9 guru perempuan, dan 4 guru
laki-laki. Hal ini cukup signifikan, jumlah guru di dalam sekolah, dimana
terdapat 13 guru di dalam sekolah. Tentunya jumlah kuantitas guru yang
sudah memadai perlu ditunjang dengan kemampuan literasi menulis guru
yang sepadan pula
Gambar 1. Deskripsi objek pelatihan berdasarkan jenis kelamin
Hasil identifikasi kesulitan guru dalam mengembangkan budaya literasi di
sekolah, terdapat beberapa faktor yang menyebabkannya guru merasa kesulitan dalam
mengembangkan budaya literasi, khususnya menulis PTK. Kesulitan guru dalam
mengembangkan literasi menulis bisa dilihat dari presentase diagram diatas,
diperoleh data 43% guru merasa tidak ada waktu untuk menulis PTK maupun yg lain,
sedangkan 26% guru mengatakan jika mereka tidak paham teori/makna literasi, dan
31% guru di SDN Janteh tidak paham akan sistematika penulisan PTK(Gambar 2).

Gambar 2. Presentase kesulitan guru dalam mengembangkan literasi.


2. Tahap koordinasi
Tahap koordinasi dilakukan melalui refleksi bersama dengan pihak
sekolah dan tim KKNI 31 untuk memberikan pelatihan terkait budaya literasi
menulis di SDN Janteh 1, melalui pelatihan PTK. Pihak sekolah menyetujui
dilaksanakannya pelatihan bagi guru-guru SDN Janteh 1, dan selanjutnya
dilakukan persiapan pelaksanaan.
3. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan pelatihan literasi menulis bagu guru SDN Janteh 1
dilaksanakan pada hari kamis 20-21 Juli 2019. Pelaksanaan diawali dengan
pembukaan dan sambutan dari kepala sekolah SDN Janteh 1. Selanjutnya
kegiatan dilakukan dengan pemaparan materi terkait penulisan PTK dan
artikel ilmiah. Pemaparan materi berlangsung selama 2 jam dengan dilakukan
secara penuh oleh kedua materi. Setelah pelaksanaan pemaparan materi
dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh peserta pelatihan.Peserta pelatihan
sangat antusias dalam mengajukan hal-hal yang belum dimengerti oleh
mereka. Sistematika penulisan dan cara publikasi menjadi hal yang
diperbincangkan oleh pemateri dan peserta. Selanjutnya dilakukan tutorial
pembuatan judul dalam PTK yang disampaikan oleH pemateri, hingga cara
menganalisis sebuah penelitian Tindakan Kelas. Pemateri juga memberikan
contoh bagaimana publikasi artikel ilmiah pada sebuah jurnal ilmiah yang
relevan. Setelah kegiatan berangsung, pemateri bersama peserta melakukan
refleksi bersama-sama dengan memberikan review dari pemaparan materi
yang telah disampaikan.
4. Tahap Evaluasi
Pada tahap ini, pemateri melakukan refleksi bersama guru dan kepala
sekolah, berkoordinasi dengan guru setempat kendala-kendala yang dialami
dalam mengembangkan Karya tulis, serta memberikan bimbingan
pendampingan kepada guru SDN Janteh, hingga proses penulisa karya tulis
ilmiah PTK selesai dikembangkan. Kegiatan pendampingan ini berlangsung
selama 2 minggu hingga berakhirnya proses KKN 31 UTM di SDN Kwanyar
Bangkalan. Pendampingan berlangsung sangat hangat, dan antusiasme guru
dalam mengembangkan prototipe artikel yang diperoleh melalui karya tulis
PTK. Tahap evaluasi ini juga dilakukan melalui proses wawancara kepada
guru-guru terkait kendala dan saran pelaksanaan pelatihan PTK di SDN
Janteh 1, selain itu memberikan angket kepada guru-guru berkaitan saran dan
masukan pelaksanaan pelatihan, sehingga bisa diperbaiki untuk pelatihan
berikutnya.Kegiatan pelatihan ini merupakan rangkaian kegiatan pengabdian
dosen berkolaborasi dengan mahasiswa KKN 31 UTM.
Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru
dalam mengelola pembelajaran yang aktif, pembudayaan gerakan literasi di
sekolah, dan pengembangan kemampuan berfikir kritis pada siswa. Kondisi
minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah (Artana, 2015).
Solusi yang ditawarkan adalah dengan pelatihan pengembangan budaya
literasi bagi guru. Budaya literasi menulis mampu mengembangkan
kreativitas guru dalam menciptakan inovasi sebuah pembelajaran yang
mampu mengatasi permasalahan yang ada dikelasnya (Akhadia, 1994).
Bagi seorang guru literasi ini penting dilakukan, agar peserta didik mampu
berfikir secara kritis dan kreatif. Kritis dan kreatif merupakan salah satu kompetensi
utama untuk bisa bertahan di abad 21 (Mahanani, 2018). Melalui literasi, guru
mampu menciptkan inovasi pembelajaran berdasarkan apa yang sudah ditulis sebagai
upaya perbaikan pembelajaran dikelas. Kemampuan membaca permulaan sebagai
bagian literasi juga menentukan kemampuan membaca siswa (Hapsari, 2019). Oleh
karena itu guru juga hendaknya memiliki kemampuan untuk menulis sehingga
mampu memberikan ilmunya bagi secara lebih optimal
Komentar: Perlu diperjelas mengenai tujuan pelatihan. Tuliskan tujuan secara
eksplisit agar pembaca dapat memahami dengan lebih baik mengapa pelatihan ini
penting bagi guru-guru.

- KESIMPULAN
Kegiatan pelatihan literasi menulis bagi guru di SDN Janteh 1 sangat efektif
diterapkan untuk mengatasi kesulitan guru dalam menulis. Melalui kegiatan ini
mampu memberikan Output berupa laporan penelitian PTK guru SDN Janteh 1
dan prototipe draft artikel ilmiah. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini
mampu meberikan kontribusi yang signifikan kepada guru berkaitan dengan
penulisan artikel ilmiah.
Komentar: Ada beberapa hal yang dapat diperbaiki. Yaitu,kalimat bisa lebih spesifik
dengan menyebutkan jenis kesulitan yang diatasi oleh pelatihan ini.

3. Pengaruh Budya Literasi Sekolah Melalui Pemanfaatan Sudut Baca


Terhadap Minat Membaca Siswa Di Sekolah Dasar (2020 )

- PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, karena melalui pendidikan mampu membentuk watak yang
bermartabat serta peradaban guna mencerdaskan kehidupan bangsa . Dalam
Undang -Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003
Pasal 4 ayat 3 sampai 5 menyebutkan bahwa Pendidikan diselenggarakan
sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi
keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta
didik dalam proses pembelajaran. Pendidikan diselenggarakan dengan
mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga
masyarakatMenurut Marksheffel membaca adalah kegiatan kompleks dan
disengaja, kegiatan ini berupa proses berpikir yang terdiri dari berbagai pikiran
yang bekerja secara terpadu mengarah kepada satu tujuan yaitu memahami
makna paparan tertulis secara keseluruhan. Dalam hal ini, kegiatan membaca
mengarah pada kegiatan memperoleh pengetahuan dari simbol-simbol huruf atau
gambar yang diamat, pemecahan masalah yang timbul serta menginterprestasikan
simbol-simbol huruf atau gambar-gambar dan sebagainya.
Dalam menerapkan program gerakan Literasi Sekolah sebagai
kebijakan dari Kementrian Pendidikan dan kebudayaan, sekolahdapat
mengembangkan budaya literasi untuk meningkatkan minat baca peserta
didik dengan menciptakan dan memanfaatkan sudut baca atau yang biasa
disebut dengan perpustakaan kelas. Kemendikbud (2016) menjelaskan tujuan
sudut baca yaitu untuk mengenalkan kepada siswa beragam sumber bacaan
untuk dimanfaatkan sebagai media, sumber belajar, serta memberikan
pengalaman membaca yang menyenangkan.Sudut baca juga sebagai upaya
mendekatkan perpustakaan ke siswa. Sudut baca dimanfaatkan secara optimal
untuk mendukung keberhasilan proses pembelajaran.Peserta didik dapat
memanfaatkan sudut baca tersebut untuk memperkaya pengetahuannya. Menurut
pengamatan yang penulis lakukan dalam kegiatan magang di sekolah dasar,
rendahnya minat peserta didik untuk membaca dan berkunjung ke
perpustakaan sekolah dikarenakan tidak adanya waktu bagi peserta didik untuk
membaca buku di perpustakaan serta keterbatasan tempat di perpustakaan
sekolah
Budaya literasi di sekolah dapat berupa kegiatan membaca selama 15
menit sebelum waktu pembelajaran dimulai. Peserta didik juga dapat
memanfaatkan waktu istirahat atau waktu luang ketika telah selesai menyelesaikan
tugas dengan membaca buku di sudut baca bersama peserta didik yang lain. Dalam
pemanfaatan sudut baca, tidak hanya berisi buku pelajaran saja, namun bisa
juga diberi buku cerita, majalah, koran, ensiklopedia, dan lain sebagainya.
Berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan di atas mengenai
rendahnya minat baca peserta didik di Indonesia, penulis merumuskan hal
yang perlu dibahas yaitu mengenai pemanfaatan sudut baca untuk
meningkatkan minat baca peserta didik, dampak pemanfaatan sudut baca di
setiap kelas bagi peserta didik dan faktor penghambat dalam
pemanfaatan sudut baca. Untuk itu, dalam artikel ini penulis akan membahas
mengenai tiga hal tersebut berdasarkan sumber dari artikel ilmiah lain yang
digunakan dalam menyusun artikel studi pustaka ini.
Komentar: ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk perbaikan:
1) Struktur Paragraf: Paragraf-paragraf dalam teks cenderung panjang dan penuh
dengan informasi yang beragam. Ini bisa membuat kita kesulitan dalam memahami
pesan yang ingin disampaikan.
2) Konsistensi Bahasa: Terdapat beberapa kebingungan dalam penggunaan
istilah.

- METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian jenis kajian pustaka atau
studi kepustakaan yang bersifat kualitatif. Metode studi kepustakaan adalah
metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan sejumlah informasi atau
data melalui buku, artikel, karya ilmiah, dan sumber relevan lain yang dapat
menunjang penulisan artikel. Penelitian yang bersifat kualitatif ini berupa
deskripsi atau uraian yang dilakukan dengan membaca dan menggali informasi
melalui sumber data.Dalam menyusun artikel ini menggunakan sumber data
berupa artikel –artikel yang diambil dalam jurnal ilmiah dan beberapa buku
relevan lainnya. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu : (1)
mencari informasi mengenai penelitian, memilih untuk berada di kelas dan
bermain bersama teman dibandingkan dengan berkunjung dan membaca buku ke
perpustakaan sekolah.
Komentar: Metode ini akan membantu pembaca memahami mengapa metode ini
dipilih.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil analisis dari 6 artikel yang berjudul Pemanfaatan
Sudut Baca dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa di Madrasah
Ibtidaiyah Negeri 2 Samarinda yang ditulis oleh Nadya N. R. dan Siti J., Dampak
Perpustakaan Kelas di SDN 1 JURNAL PENDIDIKAN DAN KONSELING
VOLUME 2 NOMOR 1 TAHUN 2020Kutosari Kebumen yang ditulis oleh Alfi Nur
H, LarasM., dan Moh Salimi, Analisis Gerakan Literasi Pojok Baca Kelas
terhadap Eksistensi Daya Baca Anak di Sekolah Dasar yang ditulis oleh Hijrawatil
Aswat dan Andi Lely Nurmaya, Membangun Budaya Baca Melalui
Pengelolaan Media Sudut Baca Kelas Dengan “12345” yang ditulis oleh Mijiatun
Sri Hartyatni, Optimalisasi Fungsi Pojok Baca di Kelas I SD
Muhammadiyah Pangkalpinang sebagai Penumbuhkenalkan Budaya Membaca
yang ditulis oleh Bintang Pamungkas, dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
melalui Pemanfaatan Sudut BacaKelas sebagai Sarana Alternatif Penumbuhan
Minat Baca Siswa yang ditulis oleh Febriana Ramandanu. Artikel tersebut
digunakan sebagai sumber dalam menulis artikel ini. Penulis akan membahas
mengenai pemanfaatan sudut baca dalam meningkatkan minat baca peserta didik,
dampak pemanfaatan sudut baca bagi peserta didik, dan faktor penghambat
dalam pemanfaatan sudut baca.
a. Pemanfaatan Sudut Baca dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa
Berdasarkan hasil analisis dari artikel ilmiah yang ditulis oleh Nadya
N. R. dan Siti J. yang berjudul Pemanfaatan Sudut Baca dalam
Meningkatkan Minat Baca Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2
Samarinda menyatakan bahwa dalam memanfaatkan sudut baca
sudah berjalan dengan baik, walaupun buku –buku yang disediakan
masih belum mencukupi tetapi pemanfaatannya tetap dijalankan.
Dalam memanfaatkan sudut baca, guru mengadakan kegiatan membaca
selama kurang lebih 15 menit setiap harinya.Kegiatan membaca ini
dilakukan sebelum pembelajaran dimulai.Pada awal kegiatan banyak
siswa yang masih malas dan tidak tertarik untuk membaca, karena
mereka terbiasa bermain dengan temannya.Dalam membiasakan siswa
untuk mau membaca di sudut baca, guru memerlukan waktu yang
cukup lama.
b. Dampak Pemanfaatan Sudut Baca Bagi Peserta Didik
Hasil analisis artikel ilmiah berjudul Pemanfaatan Sudut Baca
dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2
Samarinda yang ditulis oleh Nadya N. R. dan Siti J., menyebutkan
bahwa pemanfaatan sudut baca memiliki beberapa dampak positif
bagi peserta didik yaitu dapat menanamkan pembiasaan membaca
buku pada peserta didikdan memingkatkan minat membaca peserta
didik, karena pada saat ini Indonesia merupakan salah satu negara
dengan minat membaca yang rendah. Hal ini ditandai dengan
seringnya peserta didik untuk berkunjung ke sudut baca dan merasa
senang saat membaca.
Artikel lain yang berjudul Dampak Perpustakaan Kelas di SDN
1 Kutosari Kebumen yang ditulis oleh Alfi Nur H, Laras M., dan Moh
Salimi menjelaskan bahwa sudut baca kelas membawa dampak yang
beragam bagi peserta didik, antara lain:
a. Dengan adanya sudut baca di kelas, minat membaca peserta didik
meningkat. Hal ini didukung oleh pernyataan kepala sekolah
yaitu dengan adanya perpustakaan di sudut kelas, peserta
didik sering memanfaatkan waktunya untuk membaca.
b. b.Kreativitas peserta didik semakin bertambah karena sering
membaca literatur yang berkaitan dengan seni dan
keterampilan, maupun buku pengetahuan lain yang tersedia di
perpustakaan kelas. Hal ini dibuktikan dengan beragamnya
karya –karya peserta didik yang dipajang baik di majalah dinding
maupun di lemari pajang.
c. Bakat peserta didik menjadi berkembang. Hal ini didukung
oleh pernyataan dari kepala sekolah yaitu banyak bakat –bakat
ditemukan pada peserta didik melalui budaya membaca yang
dikembangkan di sekolah.
c. Faktor Penghambat dalam Pemanfaatan Sudut Baca
Hasil analisis artikel ilmiah berjudul Pemanfaatan Sudut Baca
dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2
Samarinda yang ditulis oleh Nadya N. R. dan Siti J.,
dalammemanfaatkan sudut baca ada beberapa faktor penghambat yang
mempengaruhi pemanfaatan sudut baca, antara lain adalah kurangnya
tempat untuk membuat sudut baca yang lebih luas di setiap kelas dan
kurangnya jenis buku yang ada. Oleh karena itu peserta didik akan
merasa bosan jika terus membaca buku yang sama.
Menurut hasil analisis artikel yang berjudul Dampak Perpustakaan
Kelas di SDN 1 Kutosari Kebumen yang ditulis oleh Alfi Nur H, Laras
M., dan Moh Salimi.Faktor yang menghambat dalam pemanfaatan sudut
bacaadalah rendahnya semangat peserta didik untuk membaca serta
mempunyai rasa bosan terhadap buku yang telah mereka baca, untuk itu
guru harus lebih berperan aktif dalam mendorong peserta didik
untuk melaksanakan program membaca dengan telaten, sering
mengingatkan, dan mendampingi siswa dalam membaca.Hal tersebut
dapat membantu peserta didik untuk menumbuhkan semangat dalam
membaca. Selain itu untuk mengatasi permasalahan bosannya peserta
didik dalam membaca buku yang kurang beragam, maka pengurus
perpustakaan bekerja sama dengan wali kelas untuk mengganti buku yang
ada dalam sudut baca.
Komentar: ada beberapa aspek yang bisa diperbaiki dalam tulisan ini.
1) Struktur Tulisan: Tulisan ini bisa ditingkatkan dengan penataan yang lebih
terstruktur.
2) Bahasa: Ada beberapa kalimat yang bisa diperjelas dan dirapikan.

- KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dibahas mengenai pemanfaatan
sudut baca dalam meningkatkan minat baca peserta didik, dampak pemanfaatan
sudut baca, dan faktor yang menghambat pemanfaatan sudut baca yang
diperoleh dari hasil analisis kajian artikel yang digunakan, dapat disimpulkan
bahwa dalam memanfaatkan sudut baca untuk meningkatkan minat membaca
peserta didik dilakukan dengan cara pembiasaan. Cara ini dilakukan dengan
membiasakan peserta didik untuk membaca selama 15 menit sebelum
pembelajaran dimulai.Sudut baca juga dapat digunakan oleh peserta didik saat
beristirahat maupun waktu senggang pada saat pembelajaran.Sudut baca juga
didesain dan ditata serapi mungkin agar peserta didik merasa nyaman untuk
membaca.Buku yang ada di rak sudut baca juga beragam, yaitu terdiri dari
buku pelajaran, cerita rakyat bergambar, novel, buku cerita anak, kumpulan
pantun dan puisi, majalah, buku ensiklopedi, dan sebagainya.
Pemanfaatan sudut baca memiliki dampak positif, yaitu dapat
menumbuhkan minat membaca peserta didik, hal ini dapat dibuktikan dengan
banyaknya peserta didik yang membaca setelah diciptakannya pojok baca.Selain
itu, sudut baca juga dapat meningkatkan kreativitas peserta didik.Dengan
membaca buku bergenre sastra, mereka dapat menulis karya sastra dengan baik
dan mampu menceritakan kembali buku yang telah dibaca.
Walaupun dalam pemanfaatan sudut baca memiliki dampak positif,
namun terdapat faktor yang menghambat dalam pemanfaatannya yaitu
kurangnya motivasi peserta didik dalam membaca, timbul rasa bosan dalam
diri peserta didik untuk membaca karena buku bacaan yang kurang beragam,
serta kurangnya partisipasi dari orang tua peserta didik dalam mendukung
pelaksanaan literasi sekolah melalui sudut baca.
Komentar: beberapa poin dapat ditingkatkan agar teks menjadi lebih padat dan
informatif.

4. Media pembelajaran komik untuk meningkatkan motivasi dalam literasi


membaca pemahaman.

- PENDAHULUAN
Literasi membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang
berupaya untukmenemukan berbagai informasi yang terdapat dalam
tulisanDalman(2017).Menurut Tarigan(2015)literasi membaca mempunyai peranan
yang amat penting dalam kehidupan sepanjang masa. Karena, membaca merupakan
suatu alat komunikasiyang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat berbudaya.
Dalam keterampilan berbahasa mencakup empat segi, yaitu
menyimak/mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis, setiap keterampilan
tersebut erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang
beraneka ragam.
Dalam mengajar literasi membaca pemahaman peserta didik diharapkan
mampu memahami isi bacaannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru
dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam literasi membaca
adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik dan efektif,
sehingga peserta didik tertarik dan termotivasi dalam proses pembelajaran yang
sedang berlangsung. Media pembelajaran merupakanpesan yang ingin
disampaikan dari pembelajaran serta tujuan yang ingin dicapai dari proses
pembelajaran, dalam menggunakan media pembelajaran yang kreatif akan
memperbesar kemungkinan bagi peserta didik untuk belajar lebih banyak,
mengingatapa yang dipelajari peserta ddik,dan meningkatkan keterampilan sesuai
dengan tujuan pembelajaran (Susilana & Riyana, 2008).
Salah satu upayameningkatkan motivasi belajar dalam literasi membaca
pemahaman peserta didik, yaitu digunakannya media pembelajaran yang menarik,
contohnya dalam kelompok media grafis, bahan cetak dan gambar diam, karena
media grafis biasanya digunakan untuk mengilustrasikan fakta-fakta menarik dan
diingat orang pada bahan cetak dan gambar menyajikan pesan melalui huruf dan
gambar-gambar yang diilustrasikan lebih memperjelas pesan atau informasi yang
disajikan Susilana danRiyana(2008)salah satu media yang termasuk dalam kelompok
tersebut adalah media komik.
Komentar: ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam teks ini:
1) Kohesivitas: Beberapa kalimat dalam teks terasa agak terputus-putus.
2) Penggunaan Ejaan dan Tanda Baca:Ada beberapa kesalahan ejaan dan tanda
baca yang perlu diperbaiki agar teks menjadi lebih jelas.
3) Struktur Paragraf: harus dapat mempertimbangkan kalimat yang lebih jelas.
4) Pengembangan Argumen: Cobalah untuk mengembangkan argumen Anda
lebih lanjut.

- METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode SLR
(Systematic Literature Review). Metode ini peneliti melakukan dengan
mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi serta menafsirkan semua penelitian
yang tersedia. Dengan metode ini peneliti melakukan reviewdan mengidentifikasi
jurnal-jurnal secara sistematis yang pada setiap prosesnya.
Tahapan yang dilakukan peneliti yaitu dengan cara mencari dan
mengumpulkan artikel jurnal dengan kata kunci media komik dalam
meningkatkan motivasi literasi membaca pemahaman. Pengumpulan data
dilakukan dengan cara mendokumentasi semua artikel yang diperoleh dalam
penelitian ini. Artikel yang digunakan dalam penelitian ini sejumlah 10 artikel jurnal
nasional yang terakreditasi sinta 1 sampai 4 yang diperoleh dari google scholar.
Artikel yang dipilih merupakan artikel yang memiliki penelitian yang serupa
kemudian dianalisis dan dirangkum kemudian dijadikan satu pembahasan yang utuh
dalam artikel ini.
Komentar: Metode ini melibatkan tahapan identifikasi, pengkajian, evaluasi, dan
interpretasi semua penelitian yang relevan yang tersedia dalam literatur terkait topik.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil data penelitian yang dimasukan dalam kajian literatur ini merupakan
analisis dan rangkuman dari artikel terkait efektivitas media komik dalam
meningkatkan motivasi belajar dalam literasi mem- baca pemahaman.
1. Implementasi dan Efektivitas Media Pembelajaran Komik dari
Berbagai Penelitian
Dalam penelitian Wahyuningsih (2012) yang bertujuan untuk mengembangkan
media pembelajaran komik bergambar pada materi sistem saraf untuk pembelajaran
yang menggunakan strategi Preview Questions Read Reflect Recite Review (PQ4R)
agar dapat meningkatkan hasil belajar, aktivitas dan minat peserta didik. Dalam
penelitian ini instrumen yang digunakan adalah Silabus, Rencana Pelaksana- an
Pembelajaran (RPP) dan produk pengembangan yang dihasilkan berupa komik yang
didalamnya terdapat Lembar Kegiatan Peserta didik (LKS), serta terdapat alat
penilaian berupa tes dan angket sikap. Penelitian yang dilakukan di Kelas XI IPA 1
SMA 1 Bojong Kabupaten Pekalongan ini dilakukan simu- lasi pada kelompok kecil
terdiri dari 6 orang, kemudian pada uji coba kedua dengan kelompok besar berjumlah
40 orang terdiri dari 16 peserta didik laki-laki dan 24 peserta didik perempuan
terdapat tahapan dalam penelitian ini yaitu:
a. Perencanaan Media Komik
b. Penelitian &Pengumpulan Data
c. Validasi, perangkat, instrumen, materi
d. Revisi
e. Simulasi 6 peserta didik
f. Evaluasi Guru Mapel
g. Uji coba 40 Peserta didik
h. Revisi
i. Evaluasi Guru Mapel
j. Revisi
k. Draf 4
Puspitorini et al. (2014) melaksanakan penelitian di SMPN 1 Banjarnegara,
penelitian ini menggu- nakan media komik untuk mendeskrpsikan peningkatan
motivasi, hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif peserta didik dalam
pembelajaran IPA melalui pendekatan quasi experiment dengan desain one group
pretest-postest dengan subjek 57 peserta didik kelas VII, penelitian ini dilakukan
sebanyak 6 kali pertemuan tatap muka. Untuk mengetahui peningkatan motivasi
dapat didlihat dengan membandingkan data pengisian angket antara sebelum dan
seteleh menggunakan media komik dalam proses pembel- ajaran IPA. Observasi
dilakukan selama proses pem-belajaran dengan menggunakan komik IPA selama 6
pertemuan, Grafik rata-rata penilaian observasi setiap pertemuan ditunjukkan oleh:

Gambar 2. Rata-rata Penilaian Observasi Motivasi pada setiap Pertemuan.


Gambar grafik pada Pertemuan pertama, kedua, keempat, dan ke-lima diisi
dengan aktivitas praktik- um, sedangkan pertemuan ketiga dan keenam diisi dengan
kegiatan tatap muka dan diskusi di dalam kelas. Berdasarkan kegiatan tersebut dapat
diketahui bahwa peningkatan motivasi peserta didik paling baik ketika pada
aktivitas praktikum. Pada Peningkatan hasil belajar kognitif peserta didik diperoleh
dengan cara mencari Gain Score. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa peserta
didik mengalami peningkatan hasil belajar kognitif yang terlihat dengan besarnya
nilai Gain Score yang diperoleh, yaitu sebesar 0,42 yang tergolong dalam kategori
sedang. Pada penilaian afektif peningkatan hasil belajar afektif melalui angket dapat
ditentukan dengan membandingkan data pengisian angket antara sebelum dan
seteleh menggunakan media komik di dalam proses pembelajaran IPA. Hasil
penilaian observasi afektif pada setiap pertemuan disajikan dalam Gambar 3.
Peningkatan hasil belajar afektif belajar peserta didik diperoleh dengan cara
mencari Gain Score. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa peserta didik
mengalami peningkatan hasil belajar afektif yang terlihat dengan besarnya nilai Gain
Score yang diperoleh, yaitu sebesar 0,34 yang tergolong dalam kategori sedang.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media komik mampu
meningkatkan motivasi, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif. Peningkatan
motivasi dan hasil belajar afektif pada 6 pertemuan dengan media komik
memberikan dampak yang positif jika aktivitas pembelajaran dilakukuan dengan
menggunakan metode eksperimen dengan aktivitas laboratorium.
Gambar 3. Rata-rata Penilaian Observasi Afektif pada setiap Pertemuan.
Pada penelitian Widyawati dan Prodjosantoso (2015) yaitu mengembangkan
media komik berbasis karakter pada pembelajaran IPA, penelitian yang dilakukan
pada kelas VIII di SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta ini menggunakan responden
sebanyak 43 peserta didik yang terbagi menjadi 5 peserta didik untuk uji coba
individual, 10 peserta didik untuk uji coba kelompok kecil, 24 peserta didik untuk
uji coba lapangan terhadap media komik IPA. Hasil observasi yang dilakukan oleh
Widyawati dan Prodjosantoso (2015) menunjukkan bahwa karakter peserta didik
pada usia SMP kelas VIII sangat rawan dengan pengaruh negatif seperti
penyalahgunaan Narkoba, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) sehingga
diperlukan media yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dengan materi
NAPZA, pada studi lapangan juga menunjukkan bahwa karakter tanggung jawab
dan kepedulian dari peserta didik masih kurang,sehingga karakter ini layak untuk
disisipkan ke dalam komik. Penilaian karakter dan motivasi belajar dilakukan
dengan dua cara, yakni melalui angket presentase rata rata skor motivasi mengalami
peningkatan dari 56,71 menjadi 100 dan lembar observasi karakter yang didukung
melalui angket semula 72,56 mengalami peningkatan menjadi 96,98. Sehingga pada
penelitian ini media pembelajaran komik IPA yang dibutuhkan oleh sekolah
mempunyai karakteristi berbasis pendidikan karakter dan berisi materi IPA yang
merupakan perpaduan dari beberapa Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
dapat dinyatakan layakan berdasarkan penilaian ahli media, ahli materi, pendidik,
dan teman sejawat dengan kriteria sangat baik dengan demikian terdapat
peningkatan motivasi belajar dan karakter peserta didik sesudah menggunakan
media komik IPA.
Komentar: 1) Struktur Paragraf: Sebaiknya, setiap penelitian dikelompokkan ke
dalam paragraf yang berbeda untuk memudahkan pembaca paham.
2) Poin Utama: Setiap paragraf harus memiliki satu poin utama atau
kesimpulan yang jelas.

- KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan penjelasan paparan tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa media komik dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada
peserta didik. berdasarkan pembahasan media komik ini sangat efektif digunakan,
karena terdapat respon yang positif dari peserta didik, dan di harapkan pada
penelitian selanjutnya dapat menerapkan kajian ini pada efektivitas media komik
pada pembelajaran yang lainnya. Peningkatan motivasi belajar dengan
menggunakan media komik dapat diperoleh dari hasil angket respon peserta didik
dan untuk peningkatan hasil belajar kognitif dengan menggunakan media komik
peserta didik dapat dilihat dengan membandingkan nilai pretest dan postest. diperoleh
dengan cara mencari Gain Score.
Komentar: Media komik dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman
pada peserta didik, yang merupakan inti dari paparan tersebut. Ini lah langkah
penting dalam menyusun sebuah kesimpulan yang kuat.

5. Peran Literasi Dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Di Sekolah Dasar


(2020)

- PENDAHULUAN
Di era pendidikan 4.0, minat baca siswa khususnya siswa di level sekolah
dasar perlu ditingkatkan(Wulanjani & Anggraeni, 2019). Pesatnya kemajuan ilmu
pengetahuan menuntut setiap siswa memiliki kemampuan baca dan tulis yang lebih,
dengan tujuan agar siswa memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup untuk
dapat bersaing dan mengikuti perkembangan zaman. Kemampuan membaca memiliki
andil dan merupakan salah satu penentu sukses tidaknya seseorang, hal ini
disebabkan karena semua akses innformasi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki
selalu berkaitan dengan kegiatan membaca (Rohman, 2017).
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu usaha yang dilaksanakan
secara menyeluruh dan berkesinambungan serta berkelanjutan guna mewujudkan
sekolah menjadi organisasi pembelajar yang memiliki warga literat sepanjang hayat
dengan melibatkan masyarakat (Sadli & Saadati, 2019). Salah satu tujuan dari
gerakan literasi sekolah ini adalah meningkatkan kesadaran siswa bahwa membaca
itu sangat penting serta membawa wawasan yang lebih luas (Dharma, 2013).
Pemerintah menetapkan gerakan literasi sekolah sejak tahun 2016. GLS dapat
menjadi sarana untuk mengenal, memahami, dan ilmu yang diperoleh siswa di
sekolah. Melalui gerakan literasi siswa juga dapat mengembangkan budi pekerti
dalam kehidupan sehari - hari. Program gerakan literasi ini juga mampu menguatkan
gerakan penumbuhan budi pekerti seperti tertuang dalam Permendikbud Nomor 23
Tahun 2015. Program kegiatan tersebut salah satunya adalah kegiatan 15 menit
membaca buku yang bukan merupakan buku pelajaran sebelum waktu belajar
dimulai. Materi bacaan berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional,
dan global yang disampaikan sesuai tahap perekembangan siswa.
Pelaksanaan GLS di sekolah dasar dilakukan secara bertahap. Hal ini
dipertimbangkan sesuai dengan konsisi dan kesiapan sekolah. Kesiapan ini meliputi
kesiapan fisik sekolah berupa sarana prasarana literasi dan kesiapan warga sekolah
yang terdiri dari guru, orang tua, siswa serta masyarakat. Kesiapan juga dapat berupa
kesiapan system pendukung seperti partisipasi masyarakat, dukungan lembaga, dan
perangkat kebiijakan yang relevan.
Pelaksanaan gerakan literasi sekolah terdiri dari 3 tahapan yaitu tahap
pembiasaan, tahap pengembangan dan tahap pembelajaran (Dharma, 2013). Tahap
pembiasaan, merupakan tahap penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit
membaca. Pada tahap ini sekolah dapat menyiapkan buku – buku dongeng atau cerita
rakyat yang dapat meningkatkan minat baca siswa di sekolah. Tahap pengembangan,
merupakan tahap peningkatan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku
pengayaan. Tahap ini bertujuan untuk mengembangkan proses kecakapan dalam
literasi misalnya membaca buku bacaan dengan intonasi yang tepat, menulis cerita
dan mendiskusikan suatu bahan cerita. Tahap pembelajaran yaitu tahap meningkatkan
kemampuan literasi pada setiap mata pelajaran melalui penggunaan buku pengayaan
dan strategi membaca untuk setiap mata pelajaran. Pada tahap ini, sekolah
menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan serta
mempertahankan minat baca siswa melalui buku-buku pelajaran misalnya seperti
mengadakan kegiatan permainan dalam pembelajaran yang kaya akan teks yang
berguna agar siswa mampu mempertahankan minat bacannya.
Sekolah merupakan suatu lembaga yang bertanggung jawab mewujudkan
budaya baca yang merupakan bagian penting dalam kegiatan belajar. sekolah harus
bisa memfasilitasi berbagai sarana yang dapat meningkatkan minat baca siswa yaitu
dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah. Melalui membaca peserta didik dapat
memperluas wawasan, mempertajam gagasan, dan meningkatkan kreativitas (Salma
& Mudzanatun, 2019).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat baca pada anak, anatara
lain keluarga dan lingkungan di luar (Pradana, 2020). Rendahnya minat baca
disebabkan oleh beberapa hal diantaranya mahalnya harga buku dan terbatasnya
fasilitas terpustakaan (Pradana, 2020). Dampak negatif dari perkembangan teknologi
gadget dapat mengurangi kebersamaan dan interaksi serta komunikasi secara
langsung antar individu. Peserta didik lebih tertarik untuk bermain game online
melalui gadgetdaripada membaca buku. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya minat
peserta didik untuk membaca (Pradana, 2020).
Hasil observasi penulis di sekolah dasar diperoleh fakta bahwa rendahnya
minat baca siswa juga dipengaruhi oleh rendahnya minat siswa untuk berkunjung ke
perpustakaan. Hal ini disebabkan karena siswa tidak ada waktu untuk sekedar
membaca di perpustakaan. Saat istirahat, siswa cenderung bermain di kelas bersama
teman – temannya dibandingkan meluangkan waktu untuk pergi ke perpustakaan.
Berdasarkan uraian di atas, maka muncul upaya dalam meningkatkan minat
membaca bagi siswa sekolah dasar melalui program gerakan literasi sekolah. Oleh
karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran literasi, hambatan serta
usaha yang dilakukan sekolah dalam peningkatan minat baca siswa sekolah dasar.
Komentar: Jurnal ini mengangkat isu yang sangat relevan dalam era pendidikan 4.0,
yaitu pentingnya meningkatkan minat baca siswa, khususnya di tingkat sekolah dasar.
- METODE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kegiatan literasi, hambatan
dan usaha yang dilakukan sekolah dalam peningkatan minat membaca siswa sekolah
dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek
penelitian adalah kepala sekolah, guru dan siswa kelas 4 SD Negeri Kutoharjo 02.
Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik
analisi data meliputi pengumpulan data (data collection), reduksi data (data
reduction), penyajian data (data display), dan simpulan (conclution). Berdasarkan
data yang terkumpul, kemudian didiskripsikan dan dianalisis.
Komentar: Penelitian ini memiliki potensi yang baik untuk memberikan wawasan
tentang peran literasi dalam meningkatkan minat membaca siswa sekolah dasar.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


Observasi dilakukan pada siswa kelas IV SD Negeri Kutoharjo 02 Tahun
Ajaran 2019/2020 yang terdiri dari 28 siswa. Berdasarkan hasil observasi diperoleh
data bahwa kegiatan literasi yang dilaksanakan di SD Negeri Kutoharjo 02 masih
pada tahap pembiasaan yaitu kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran
dimulai. Jenis buku yang dibaca adalah buku cerita, buku pengetahuan dan ada pula
yang membaca buku pelajaran. Pada awal pelaksanaan kegiatan ini banyak siswa
yang tidak terrtarik karena mereka terbiasa bermain dengan temannya dibandingkan
membaca buku. Butuh watu yang cukup lama bagi guru untuk membiasakan siswa
melaksanakan kegiatan tersebut.
Guru menugaskan setiap siswa untuk membawa sattu buku cerita maupun
buku lain yang relevan untuk dibaca dan dikumpulkan di sekolah. Buku disusun rapi
dalam sebuah rak dan di atur sedemikian rupa sehingga terbentuk sebuah sudut baca.
Sudut baca merupakan sudut yang ada di kelas dan dilengkapi dengan koleksi buku
untuk menarik dan menumbuhkan minat membaca siswa (Pradana, 2020). Sudut baca
ini dimaksudkan agar menjadi tempat yang mampu menarik siswa sebagai tempat
berkumpul dan saling bertukar buku bacaan yang dibawa oleh masing – masing
siswa. Dengan demikian diharapkan minat membaca siswa dapat meningkat. Dalam
pelaksanaannya, pembiasaan literasi dilaksanakan setiap hari sebelum pembelajaran
dimulai. Perpustakaan dengan kondisi yang bersih, rapid an berisi buku – buku
menarik juga mampu meningkatkan minat membaca siswa. Selain kegiatan tersebut,
perpustakaan juga menjadi alternatif lain dalam melaksanakan kegiatan pembiasaan
literasi di sekolah.
Pada kegiatan pembiasaan ini guru juga melakukan variasi kegiatan literasi.
Setelah membaca 15 menit, guru memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan
dengan cerita yang sudah dibaca. Sesekli guru meminta siswa membaca dalam hati
sebuah cerita, kemudian siswa diberi kesempatan untuk menceritakan kembali isi
bacaan di depan kelas. Inovasi ini dilakukan untuk meningkatkan minat membaca
siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru diperoleh hasil bahwa siswa sangat
senang dengan kegiatan literasi ini. Adanya kegiatan membaca yang dilaksanakan
setiap hari membawa dampak positif bagi siswa. Dampak positif ini berupa
peningkatan minat membaca siswa terutama buku – buku non pelajaran. Hal ini
disertai dengan meningkatnya rasa percaya diri siswa yang mampu berpendapat
maupun bercerita di depan kelas.
Kegiatan literasi di SD Negeri Kutoharjo 02 ini telah terlaksana dengan baik
dan memiliki peran dalam meningkatkan minat membaca siswa. Hal ini dapat dilihat
dari semangat dan antusias siswa dalam membaca buku serta berpartisipasi aktif
dalam kegiatan literasi dengan mendatanggi perpustakaan. Semangat membaca siswa,
ketertarikan untuk membaca dan keinginan mencari sumber bacaan lebih baik. Hanya
saja kesadaran siswa dan kemauan memanfaatkan waktu luang untuk membaca masih
dalam kategori cukup. Namun demikian, secara keseluruhan dengan adanya kegiatan
literasi ini dapat dikatakan bahwa minat membaca siswa masih dalam kategori baik.
Literasi secara tidak langsung memotivassi siswa untuk tertarik pada kegiatan
membaca. Dari kegiataan ini, siswa tertarik ikut kegiatan lomba menulis, bercerita
atau membaca yang diselenggarakan oleh sekolah dengan rasa tanggung jawab yang
tinggi. Literasi mampu memberi manfaat bagi siswa misalnya menambah wawasan,
memudahkan dalam membaca dan memahami materi yang sedang dipelajari.
Komentar: Studi observasi ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang
implementasi kegiatan literasi di SD Negeri Kutoharjo 02.

- KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa 1) kegiatan literasi di SD Negeri
Kutoharjo 02 berperan dalam meningkatkan minat membaca siswa, 2) hambatan
pihak sekolah dalam melaksanakan kegiatan literasi di sekolah yaitu kurangnya
saranaa prasarana, metode yang diterapkan kurang variatif serta rendahnya
kedisiplinan siswa dalam proses pembiasaan kegiatan literasi, dan 3) usaha yang
dilakukan pihak sekolah adalah dengan memberikan sosialisasi mengenai kegiatan
literasi, menambah sarana seperti pengadaan buku – buku yang menarik minat serta
mengadakan kegiatan lomba sebagai wadah siswa untuk berpartisipasi aktif.
Komentar:. penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa kegiatan literasi di SD
Negeri Kutoharjo 02 memiliki dampak positif dalam meningkatkan minat membaca
siswa.

6. Literasi Baca Tulis Dan Inovasi Kurikulum Bahasa (2019)

- PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan masyarakat
yang terus berupaya untuk meningkatkan kemampuannya di dalam dunia pendidikan.
Pendidikan merupakan wujud dari suatu kemajuan. Suatu masyarakat yang maju
adalah ditandai dengan majunya sektor pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang
berkualitas tersebut ditandai salah satunya dengan masyarakat yang literat. Untuk
memajukan pendidikan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan inovasi
atau perubahan kurikulum. Perlunya perubahan tersebut dengan tujuan untuk
mengatasi kebutuhan yang baru muncul sebagai dampak dari kemajuan zaman
(Psifidou, 2009). Pembaharuan berkelanjutan kurikulum juga dilakukan agar
kurikulum tetap dinamis dan lebih responsif terhadap kebutuhan siswa saat ini dan di
masa depan (Kırkgöz, 2009). Hal itu sesuai dengan salah satu sifat kurikum yang
tidak stagnan tetapi sering berubah untuk menyesesuaikan dengan modernisasi
(Nhlapo & Maharajh, 2017).
Perubahan kurikulum di Indonesia selalu dilakukan inovasi secara berkala.
Perubahan kurikulum tersebut bertujuan untuk memajukan pendidikan dan
memperbaiki pendidikan sebelumnya. Walaupun kurikulum telah berubah, tetapi
revisi terus dilakukan. Pada tahun 2013, di Indonesia, Kurikulum 2013 diberlakukan,
pada tahun 2014 dan 2016 dilakukan revisi pada kurikulum pada aspek-aspek tertentu
contohnya Kompotensi Inti dan Kompe-tensi Dasar pada mata pelajaran.
Di Indonesia, sejalan dengan perubahan Kurikulum pada tahun 2013,
pemerintah mencanangkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk
meningkatkan literasi siswa. Pencanangan kegiatan GLS merupakan langkah awal
yang baik dalam upaya untuk menjadikan masyarakat literat. GLS merupakan
kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mewujudkan visi agar
masyarakat dapat mengadaptasi kemajuan teknologi dan keterbaharuan. Pada tahun
2018 pemerintah berusaha untuk menjadikan literasi sebagai prioritas nasional
dengan dicanangkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan tersebut tidak hanya
ditujukan hanya untuk siswa saja, tetapi ditujukan untuk masyarakat pada umumnya.
Setelah dicanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan Gerakan Literasi
Nasional (GLN), beberapa sekolah telah melaksanakan kegiatan tersebut dengan
melakukan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Bacaan yang
dibaca oleh siswa beragam dan hasil bacaan tersebut ditulis berupa ulasan di dalam
buku harian. Berdasarkan kegiatan literasi tersebut, kurikulum pembelajaran dan
literasi dilakukan secara terpisah dan sejalan. Pelaksanaan kegiatan literasi
menempatkan literasi sebagai pelengkap dalam pelaksanaan kurikulum. Seharusnya,
literasi dan pembelajaran yang dilakukan bukan sesuatu yang terpisah tetapi dua hal
yang dapat dilakukan bersama-sama. Menempatkan kurikulum literasi dalam
kehidupan siswa menjadi lebih berguna dan relevan untuk kehidupan pada saat ini
(Petrone, 2013).
Literasi adalah hak asasi manusia yang fundamental untuk dapat
meningkatkan kehidupan seseorang mencapai tujuan pribadi, sosial, pekerjaan,
pendidikan, membuka peluang sosial, dan integrasi ekonomi dan politik (Rahanu et
al., 2016) (Pinto, Boler, & Norris, 2007). Literasi sangat penting bagi manusia untuk
perkembangan sosial dan mengubah kehidupan untuk meningkatkan kesehatan
seseorang, penghasilan seseorang, dan hubungan seseorang dengan dunia (UNESCO,
2015). Teeuw menyatakan bahwa bangsa yang literasi masyarakatnya masih rendah
akan mengalami peradapan yang suram (Suryaman, 2015). Untuk itu, membangun
masyarakat literat harus menjadi prioritas utama di antara prioritas-prioritas utama
lainnya. Menjadikan literasi sebagai prioritas nasional adalah wujud untuk
membentuk masyarakat yang literat (Pinto et al., 2007).
Literasi adalah dasar dalam pembentukan kepribadian multi-berpendi-dikan.
Kurikulum nasional menempatkan penting tugas untuk sekolah dengan meramalkan
tujuan pendidikan umum dan persyaratan publik, untuk mengembangkan kompetensi
literasi siswa (Tavdgiridze, 2016). Melihat kehidupan dan dunia tercermin dalam
kurikulum sekolah, kurikulum literasi harus berfungsi untuk membantu siswa
memenuhi tuntutan yang semakin kompleks di dunia (Petrone, 2013).
Kurikulum literasi sering diterapkan di sekolah untuk mewujudkan konstruk
literasi antitesis sebagai keterampilan “otonom” (Purcell-Gates et al., 2012).
Maksudnya, literasi diasumsikan sebagai satu set keterampilan yang netral,
dekontekstual yang dapat diterapkan secara universal (Street, 2003). Akan tetapi,
pembuat kebijakan pendidikan masih banyak yang bergantung pada konsep literasi
yang hanya menyediakan keterampilan untuk memperkuat daya saing ekonomi
nasional (Pinto et al., 2007). Hal itu tercermin pada kegiatan literasi yang hanya
dilaksanakan di sekolah, seharusnya untuk menciptakan praktik literasi yang lebih
inklusif, kita harus memahami hubungan praktek literasi dengan wacana, keluarga,
dan lingkungan masyarakat (Rogers, Tyson, & Marshall, 2000).
literasi baca tulis. Selain diketahui melalui uji literasi yang telah dilakukan
beberapa lembaga, perlu mengetahui bagaimana pelaksanaan literasi yang telah
diterapkan oleh sekolah. Selain itu, perlu diketahui juga hasil dari pelaksanaan literasi
tersebut pada aspek mendasar melalui respon siswa. Hal itu bertujuan agar perbaikan
dapat dilakukan, terutama pada perubahan kurikulum berdasarkan kebijakan yang
diberlakukan.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan
literasi yang telah dilakukan di sekolah dan melihat respon siswa setelah dilaksanakan
kegiatan literasi. Hasil penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui posisi literasi
pada kurikulum, khususnya bahasa.
Komentar: Artikel ini mengulas pentingnya perubahan kurikulum dalam upaya
memajukan pendidikan di Indonesia. Upaya inovasi dan perubahan kurikulum adalah
langkah yang penting untuk mengatasi kebutuhan baru yang muncul akibat kemajuan
zaman.
- METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan
dengan teknik wawancara terstruktur dan teknik pengumpulan angket. Instrumen
yang digunakan adalah pedoman wawancara dan lembar kuesioner. Pedoman
wawancara digunakan sebagai pedoman untuk mewawancarai guru perihal
pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ditempat guru tersebut mengajar,
sedangkan angket digunakan untuk mengetahui dampak dari GLS terhadap siswa.
Sumber data didapatkan dari Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Sumatera
Barat yang berjumlah tujuh orang guru, sedangkan angket diisi oleh siswa di salah
satu sekolah, yaitu siswa SMP Negeri 31 Padang yang berjumlah 30 orang siswa.
Data dianalisis dengan mendeskripsikan temuan yang diperoleh melalui hasil
wawancara dan angket. Data wawancara dideskripsikan dengan menjabarkan
jawaban dari narasumber, sedangkan data angket dideskripsikan melalui statistik
deskriptif.
Komentar: Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman
tentang pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Sumatera Barat.
Penggunaan teknik wawancara terstruktur dan pengumpulan angket sebagai
instrumen penelitian merupakan pendekatan yang tepat.

- HASIL DAN PEMBAHSAN


Data penelitian ini didapatkan dengan melakukan wawancara dengan Guru
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah tingkat SMP dan SMA di Sumatera
Barat. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang langsung di
jawab oleh guru. Pertanyaan yang diajukan sebanyak dua pertanyaan. Pertanyaan
tersebut antara lain; (1) Bagaimana pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
di sekolah tempat Bapak/Ibu mengajar? (2) Bagaimana pelaksanaan literasi di
kelas yang Bapak/ Ibu ajar pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Hasil wawancara
tersebut dijabarkan sebagai berikut.
Pertama, di SMA N 7 Padang, Gerakan Literasi Sekolah dilakukan dengan
mewajibkan siswa membaca buku di rumah. Buku yang dibaca tersebut ditentukan
oleh guru. Buku yang telah dibaca, dibuat laporan bacaan dengan format yang
telah ditentukan. Laporan tersebut, dibuat dengan menggunakan tulisan tangan.
Pelaksanaan kegiatan literasi pada pembelajaran bahasa tidak ada kegiatan khusus,
karena kegiatan GLS sudah merupakan kegiatan literasi membaca dan menulis.
Jadi GLS yang dilakukan sudah merupakan kegiatan literasi bahasa.
Kedua, di SMA N 1 Painan, Gerakan Literasi Sekolah dilakukan dengan
membaca buku apa saja selama 15 menit pada awal pembelajaran. Fakta
menunjukkan bahwa GLS tersebut tidak berjalan sesuai dengan kebijakan yang
ditetapkan. Literasi pada pembelajaran Bahasa Indonesia dilakukan berdasarkan
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang telah diatur dalam silabus
pembelajaran. Pada awal pembelajaran, siswa diwajibkan untuk membaca buku,
baik berupa buku ilmiah atau buku cerita seperti novel. Pada mid semester dan
akhir semester, siswa harus menyerahkan hasil ringkasan atau pokok-pokok
penting dari buku yang dibaca.
Ketiga, di SMA N 1 Batang Kapas, literasi di sekolah ini belum ada
kebijakan maupun pelaksanaan yang telah dilakukan, baik Gerakan Literasi
Sekolah maupun literasi pada pembelajaran bahasa Indonesia.
Keempat, di SMP N 12 Padang, Gerakan Literasi Sekolah dilakukan pada
hari senin sampai kamis. Pelaksanaan literasi tersebut dengan membaca buku apa
saja, asal jangan komik, 20 menit sesudah istirahat. Pelaksanaan kegiatan membaca
tersebut dilakukan pada pukul 10.20—10-40 WIB. Tidak ada kegiatan literasi
khusus pada pembelajaran bahasa. Akan tetapi, untuk pelaksanaan GLS dilakukan
oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia tersebut
memiliki tugas mengawasi dan mengisi laporan pada buku GLS setiap hari,
sesudah siswa membaca.
Kelima, di SMP N 20 Padang, Gerakan Literasi Sekolah dilakukan dengan
aturan berikut, setiap selasa membaca Al-Quran, rabu membaca buku apa saja, kamis
melaporkan hafalan ayat, jumat literasi di lapangan dengan pelaksanaan kultum. GLS
dilakukan di 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai. Kegiatan literasi
membaca buku yang dilakukan pada hari rabu, dilakukan dengan membaca buku apa
saja, tetapi diutamakan buku cerita. Pelaksanaan GLS dimonitoring oleh guru yang
mengajar pada jam pembelajaran pertama. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia,
tidak ada kegiatan khusus yang dilakukan.
Keenam, di SMP N 31 Padang, Gerakan Literasi Sekolah dilakukan dengan
mencanangkan wajib membaca selama 15 menit sebelum dimulainya jam pelajaran
pertama. Selain pelaksanaan membaca, siswa dan guru yang mengajar akan
melakukan kegiatan tanya jawab perihal bacaan yang telah dibaca. Siswa juga
melaksanakan penulisan jurnal bacaan berdasarkan buku yang dibaca, baik di
sekolah, di perpustakaan, maupun di rumah. Pelaksanaan gerakan literasi sekolah ini,
baru pada tahap pembiasaan, yaitu dengan tujuan menumbuhkan minat baca serta
memberikan pembiasaan membaca siswa setiap hari. Pada pembelajaran Bahasa
Indonesia, tidak ada kegiatan khusus yang dilakukan.
Ketujuh, di SMP N 2 Sijunjung, Gerakan Literasi Sekolah dilakukan pada 20
menit sebelum jam pelajaran dimulai. GLS dilakukan pada hari selasa sampai kamis.
Kegiatan literasi dilakukan dengan membaca buku apa saja yang tidak mengandung
hal negatif. Tujuan kegiatan literasi ini adalah untuk menumbuhkan minat siswa agar
giat membaca. Pada kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia, literasi pada tingkat
SMP ada pada kelas VIII dan IX. Hal itu sesuai dengan Kompetensi Inti dan
Kompetensi Dasar. Pada kelas VIII siswa mempelajari teks ulasan dengan mengulas
bacaan. Pada tingkat ini, siswa diminta mengulas cerita pendek yang dibaca. Pada
kelas IX, siswa telah diminta untuk membaca novel dan membuat laporan dari novel
yang dibaca.
Literasi diasumsikan sebagai satu set keterampilan yang netral, dekonteks-tual
yang dapat diterapkan secara universal (Street, 2003). Literasi dapat mencakup tidak
hanya literasi membaca dan menulis, tetapi juga literasi numerasi, literasi sains,
literasi finansial, digital, literasi budaya dan lingkungan dan jenis-jenis literasi
lainnya. Berdasarkan jenis literasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa semua kegiatan
yang dilakukan pada kegiatan pembelajaran di sekolah merupakan kegiatan literasi.
Akan tetapi, pada Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang telah dilaksanakan di sekolah
berdasarkan kebijakan Kemendikbud lebih difokuskan pada kegiatan literasi
membaca dan menulis. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada sekolah yang diteliti.
Kegiatan yang dilakukan tersebut, menjadikan literasi memiliki arti sempit, yaitu
mencakup membaca dan menulis (Solikhah, 2015).
Menjadikan literasi sebagai kurikulum merupakan suatu hal yang patut
dipertimbangkan. Hal itu disebabkan karena, literasi dan kegiatan pembelajaran
bukan merupakan suatu hal yang berbeda, tetapi suatu kesatuan yang dilaksanakan
secara bersama. Pada pembelajaran bahasa, siswa melakukan kegiatan literasi
membaca dan menulis. Pada pembelajaran metematika, siswa melakukan kegiatan
literasi numerasi, dan begitu juga untuk literasi lainnya.
Berdasarkan hasil dari angket yang diisi siswa, secara umum, siswa lebih
menyukai membaca karya sastra (novel dan puisi) dari pada buku pelajaran dan surat
kabar. Hal itu membuktikan bahwa siswa cenderung menyukai bahan bacaan yang
menghibur di waktu luang mereka. Secara umum, siswa cenderung membaca untuk
membuat tugas yang ditugaskan guru, jika tidak ada tugas, siswa cenderung tidak
membaca. Dari segi kebermanfaatan kegiatan membaca, siswa secara umum
merasakan bahwa membaca dapat menam-bah ilmu pengetahuan dan pengetahuan
siswa tersebut meningkat.
Permasalahan yang perlu disoroti dari pelaksanaan GLS di sekolah yang
diteliti adalah sebagai berikut. (1) Siswa cenderung hanya membaca ketika di
sekolah, kegiatan membaca di rumah dilakukan jika ada tugas yang diberikan. (2)
Semua siswa belum tertarik untuk membaca. Hal itu terlihat dari banyaknya
kunjungan ke perpustakaan. (3) Pelaksa-naan GLS di awal pembelajaran hanya
dijalankan oleh guru yang mengajar di jam pertama, sedangkan yang lain tidak. (4)
Sekolah tidak berupaya melibatkan publik (orang tua, alumni, dan elemen masyara-
kat) untuk mengembangkan kegiatan literasi sekolah. (5) Adanya salah persepsi
dengan pelaksanaan GLS, antara lain kegiatan literasi dengan membaca Al-Quran dan
hafalan ayat, tidak ada kegiatan literasi pada kegiatan pembelajaran, kegiatan literasi
pada KD tertentu, dan hanya guru tertentu yang terlibat pada kegiatan literasi.
Berdasarkan permasala-han tersebut perlu solusi agar persepsi dan paradigma siswa
dan guru mengenai literasi lebih luas.” (Rivers, 1976).
Komentar: Penelitian ini memberikan gambaran yang cukup rinci tentang
pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di beberapa sekolah di Sumatera Barat.
Hasil wawancara menunjukkan variasi dalam implementasi GLS antara sekolah yang
berbeda.

- KESIMPULAN
Reformasi, inovasi, revisi, atau perubahan kurikulum sesuatu hal yang perlu
dilakukan jika kurikulum yang digunakan saat ini tidak dapat mengimbangi dengan
kebutuhan siswa. Salah satu rekomendasi untuk kurikulum yang dapat digunakan
adalah dengan menggunakan literasi sebagai kurilum sekolah. Khususnya untuk
pembelajaran bahasa, maka literasi yang dilakukan adalah literasi baca dan tulis.
Untuk mewujudkan keberhasilan kurikulum tersebut, salah satu yang penting
dilakukan adalah adanya keterlibatan guru.
Untuk memandu perancang kurikulum dalam upaya mempromosikan inovasi
kurikulum. Pertama, inovasi perlu diperkenalkan secara bertahap dengan cara yang
sistematis, yang dikembangkan di bawah terang isu-isu teoritis. Kedua, semua peserta
harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan dengan penyediaan maksimum untuk
pengembangan konsensus, komitmen dan motivasi. Ketiga, keterlibatan administratif
yang efektif dan dukungan diperlukan untuk pengembangan kurikulum untuk
mencapai koherensi di antara komponen- komponennya. Guru, sebagai pemain
utama, perlu diberikan dukungan administratif yang memadai tidak hanya selama
tahap awal proses pembaharuan kurikulum, tetapi juga selama periode pengajaran
berikutnya untuk memungkinkan perubahan diterapkan dalam praktik mengajar
mereka. Akhirnya, komunikasi internal yang efisien perlu dipelihara dengan
pengadopsi inovasi yang potensial untuk memfasilitasi penerimaan perubahan
(Kırkgöz, 2009).
Komentar: Meskipun ada penekanan pada keterlibatan guru, lebih lanjut dijelaskan
mengenai cara-cara konkret untuk mendukung dan melibatkan mereka dalam proses
inovasi kurikulum akan memperkuat argumen yang diajukan.

7. Pembiasaan Membaca dalam Pelajaran Bahasa Indonesia melalui


Gerakan Literasi Sekolah (2021)

- PENDAHULUAN
Aktifitas membaca merupakan bagian dari kegiatan dalam dunia literasi.
Literasi merupakan bagian integral dari dunia pendidikan dengan alasan bahwa
informasi dan pengetahuan didapatkan melaui kegiatan membaca. Berhasil atau
gagalnya proses belajar mengajar dapat ditentukan dari salah satu faktor yaitu
membaca (Faradina, 2017: 60). Agar siswa mampu mengenal, memahami, dan
menerapkan ilmu yang telah diperoleh dari proses belajar mengajar dalam dunia
pendidikan. Ketrampilan membaca merupakan kompetensi yang wajib dimiliki oleh
siswa. Membaca adalah suatu ketrampilan yang dapat menjadi faktor penunjang
dalam kemampuan berbahasa lainnya seperti berbicara dan juga menulis (Mansyur,
2018). Berangkat dari pemahaman tersebut dapat kita yakini bahwa pada dasarnya
ketrampilan membaca haruslah dikuasai oleh siswa semenjak usia dini. Dalam
kehidupan, membaca memiliki posisi yang sangat penting, utamanya di era informasi
yang berkembang dengan sangat pesat sebagaimana keadaan yang dirasakan sekarang
ini. Jalil Dan Elmustian (2006: 66) berpendapat membaca merupakan suatu
kemampuan yang bermanfaat untuk mendapatkan berbagai informasi, pengetahuan,
dan pengalaman baru, hal ini karena aktifitas membeca bersifat reseptif atau
menerima. Pengatahuan dan informasi inilah yang akan menjadi pintu untuk
membuka wawasan yang selanjutnya dapat merubah paradigma dalam berpikir dan
bertindak seseorang menuju kemajuan. Bahkan dalam kitab suci al-Quran sendiri
perintah untuk membaca menjadi ayat yang pertama kali diturunkan.
Akan tetapi pada kenyataannya membaca belum menjadi sebuah kebiasaan di
masyarakat Indonesia. Membaca belum menjadi sebuah aktifitas utama, membaca
masih hanya menjadi cara untuk mengisi waktu seggang. Maka tak berlebihan bila
sebuah penelitian telah menunjukan sangat rendahnya kemampuan membaca pelajar
di Indonesia. Pada tanggal 3 Desember 2019, Hasil akhir penelitian Programme for
International Student Assessment (PISA) yang dilakukan pada tahun 2018 telah
diumumkan. Hasilnya dari penelitian yang dilakukan pada 600.000 orang anak yang
berumur 15 tahun, diaman anak-anak tersebut berasal dari 79 Negara di dunia dengan
melakukan pembandingan kemampuan membaca, kemampuan matematika, dan
kinerja sains tersebut, Indonesia berada pada peringkat 74 pada kategori kemampuan
membaca dengan skor rata-rata 371 (Tohir, 2019: 1). Fakta di atas tentunya sangat
menyedihkan.
Rendahnya tingkat kemampuan membaca siswa di Indonesia haruslah menjadi
tantangan bagi dunia pendidikan untuk sesegera mungkin memperbaikinya. Pada
dasarnya pemerintah sebagai pengambil kebijakan telah berupaya untuk
meningkatkan kemampuan membaca yang dikuasai siswa dengan melakukan gerakan
literasi yang disebut Gerakan Literasi Sekolah disingkat GLS.
Gerakan Literasi Sekolah merupakan bagian dari kegiatan Gerakan Literasi
Nasional yang dicanangkan Pada tahun 2016 oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan sebagai lembaga yang memilki kewenangan dalam bidang pendidikan.
Program ini merupakan perwujudan dari peraturan menteri pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang budi pekerti, yang memiliki tujuan
menumbuh kembangkan budi pekerti siswa dengan pembudayaan ekosistem literasi
sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi
pembelajar sepanjang hidupnya (Faizah dkk, 2016: 2).
Guru sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan disekolah harus mampu
mengimplementasikan GLS. Guru harus menghadirkan kegiatan-kegiatan yang
kreatif dan inovatif untuk mendorong, mengembangkan, dan menumbuhkan minta
siswa dalam kemampuan membaca. Dengan kegiatan yang kreatif dan inovatif ini
siswa diharapkan akan memiliki kemampuan membaca yang baik sehingga akan
melahirkan generasi- generasi berbudaya membaca.
Tujuan akhir dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan
menganalisa berbagai kegiatan yang terkait Gerakan Litersi Sekolah sebagai suatu
upaya menumpuhkan kebiasaan membaca di MI Muhammadiyah Penaruban.
Berangkat dari penjelasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa
MI Muhammadiyah Penaruban telah melakukan berbagai kegiatan yang termasuk
dari GLS sebagai suatu upaya inovatif dan kreatif dalam menumbuhkan kebiasaan
membaca bagi siswa.
1. Kajian Teori
Pembiasaan adalah suatu poses penanaman kebiasaan kepada anak dan
merupakan salah satu cara mendidik anak (Sapendi, 2015 : 27). Sedangankan
berdasarkan penelitian Marwiyati (2020: 154) pembiasaan adalah prilaku
mempengaruhi seseorang yang dilakukan secara sadar, sistematis, dan berulang-
ulang untuk menajadikan seseorang melakukuan sesuatu tanpa perlu dipengaruhi.
Kebiasaan itu merupakan hasil dari prilaku yang dilakukan secara terencana,
penuh kesadaran, sehingga orang yang dipengaruhi tadi terbiasa dengan apa yang
dilakukan. Dengan pengertian yang lain pembiasaan adalah prilaku yang secara
teratur dilakukan. Kebiasaan menadika orang melakukan sesuatu tanpa
memperlukan pemikiran yang panjang.
Membaca merupakan bagian dari empat ranah ketrampilan berbahasa
Indonesia yang meliputi Ketrampilan mendengar, keterampilan menyimak,
keterampilan berbicara, dan ketrampilan menulis. Hal ini sesuai dengan amanat
Undang-Undang No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
menjelaskan salah satu ketrampilan yang haris dijaga, dirawat, dan dikembangkan
adalah membaca.
Komentar: Paragraf tersebut memberikan gambaran yang cukup baik tentang
pentingnya literasi dan kemampuan membaca dalam dunia pendidikan, serta
menyoroti masalah rendahnya tingkat kemampuan membaca siswa di Indonesia.

- METODE
Jenis Penelitian deskriptif kualitatif dimana dalam penelitian yang dilakukan
peneliti menjeskan dan menguraikan hasil penelitian yang dilakukan mengacu pada
data- data yang didapatkan.
Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara,
observasi, dan dokumentasi. Metode observasi atau pengamatan dilakukan dengan
pengamatan tentang pelaksanaan gerakan literasi sekolah di MI Muhammadiyah
Penaruban. Adapun wawancara dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan
informasi atau data dengan memberikan pertanyatan-pertanyaan yang telah dirancang
dengan sistematis, mengacu pada tujuan penelitian, yang dilakukan secara langsung
baik kepada responden yang relevansi dengan penelitian yang dilakukan maupun
tenaga ahli yang memiliki kompetensi dan tanggung jawab dalam suatu masalah atau
bidang.
Analisis model interaktif merupakan model analisis yang digunakan peneltian
ini. Reduksi data, sajian, data dan penarikan simpulan merupakan komponen analisis
yang dilakukan secara interaktif dengan aktifitas mengumpulkan data sebagai suatu
lingkaran siklus.
Komentar: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk
menjelaskan dan menguraikan hasil penelitian berdasarkan data yang diperoleh
melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan wawancara dengan kepala MIM Penaruban Nur Laily didapatkan
informasi bahwa MIM Penaruban telah melakukan beberapa upaya untuk
meningkatkan kebiasaan membaca siswa sebagai bagian dari kegiatan literasi di
madrasahnya. Hal tersebut dilakukan agar literasi terutama kebiasaan membaca dan
menulis di MIM Penaruban menjadi sebuah budaya sekaligus mendukung proses
pembelajaran siswa khususnya pelajaran Bahasa Indonesia. Usaha yang dilakukan
antara lain :
a. Pembuatan Pojok Baca
Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan guru diperoleh informasi
bahwa MIM Penaruban membuat pojok baca di setiap ruang kelas. Di pojok baca
tersebut disediakan beberapa buku bacaan dengan tema yang bervariasi seperti
dongeng cerita rakyat, seri ilmu pengetahuan, agama, ensiklopedi dan lainnya.
Pembuatan pojok baca di tiap kelas ini memiliki tujuan agar siswa mudah untuk
mengakses buku-buku bacaan untuk dibaca.

b. Waktu Khusus Membaca


Mengacu dari informasi yang dilakukan melalui wawancara dengan kepala
madrasah diperoleh informasi bahwa setiap hari sebelum memulai proses
pembelajaran diharuskan bagi setiap siswa untuk membaca buku bacaan atau
pengayaan selama 15 menit. Kegiatan ini dipantau oleh guru tiap kelas. Pada
kegiatan ini siswa dapat memanfaatkan pojok baca yang disediakan di setiap kelas
atau dapat pula membawa buku sendiri.
Tujuan yang ingin didapatkan dari kegiatan ini agar para siswa memiliki
kebiasaan dalam membaca serta menambah pengetahuan sehingga mendukung
proses belajar mengajar.
c. Memajang Hasil Karya Siswa
Berdasarkan pengamatan terlihat beberapa karya siswa terkait dengan
kegiatan literasi baik berupa poster motivasi dan media pembelajaran tertempel di
dinding- dinding kelas, serta beberapa tempat yang lainya yang disediakan khusus
oleh madrasah. Menurut gois hal ini dilakukan sebagai upaya mengapresiasi hasil
karya siswa serta untuk menciptakan lingkungan yang dapat memotivasi siswa
untuk berkarya.
d. Pengadaan Buku Bacaan siswa di Perpustakaan
Berdasarkan wawancara dengan kepala madrasah dan pengelola perpustakaan,
MIM Penaruban memiliki koleksi buku sebayak 2543 eksemplar buku. Bila
dibandingkan dengan jumlah siswa sebanyak 265 siswa maka jumlah buku yang
tersedia masih dikategorikan kurang. Hal berakibat siswa kurang tertarik untuk
datang dan membaca buku diperpustakaan. Selain itu belum tersedianya ruang
perpustakan yang representative baik dari segi ukuran maupuan fasilitas
menjadikan kegiatan membaca di perpustakaan kurang nyaman.
e. Mengadakan Kegiatan Lomba Literasi bagi Siswa
Kegiatan lomba literasi sangat penting. Kegiatan lomba dapat merangsang
anak untuk belajar, dan berkompetisi, kegiatan lomba juga dapat memberi
motivasi serta member ruang apresiasi.
Diantara Beberapa contoh lomba berbasis literasi yang diadakan di MIM
Penaruban antara lain antara lain: Lomba membaca puisi, lomba mendongeng,
lomba mading, lomba membuat poster, dan lomba teks proklamasi. Para siswa
sangat antusias mengikuti perlombaan apalagi dengan adanya hadiah atau piala
menambah semangat siswa untuk mengikutinya.
f. Membuat Majalah Dinding
Bagi siswa kelas IV sampai dengan kelas VI MIM penaruban
menyelenggaraan kegiatan pembuatan majalah dinding yang dibina dan dipandu
oleh wali kelas masing- masing. Konten-konten yang ditampilkan merupakanhasil
karya darai para siswa.
Dengan adanya majalah dinding ini siswa-siswi MIM Penaruban yang dibuat
dengan menarik menadikan para siswa tertarik untuk membacanya beberapa
konten yang ditampilkan antara lain : dongeng anak, pengetahuan singkat, bacaan
al-Quran atau hadits, poster, puisi, biografi tokoh, dan lain-lain.
g. Kepala Sekolah Aktif dalam Kegiatan Literasi
Kepala MIM Penaruban juga sangat aktif dalam kegiatan literasi. Siti
Nuralaleli telah menghasilan beberapa karya buku baik merupakan karya sendiri
maupun karya bersama dengan penulis lain, diantara judul buku yang berhasil
diterbitkan antara lain : Cerita Bocah Klawing, 41 Hari Bersama Suami & Bunda
di Rumah-Mu, Meraki Asa, Antologi Puisi Khazanah Pendidikan Indonesia Jilid
1sampai 4, Senandika Pena, Guratan Pena, Kenangan Bersamamu, Menyulam
Rindu dalam Rintik Hujan, Kasih Guru Tak Terbilang, Warna Kasih Ibu,
Impresif, serta beberapa buku yang belum diterbitkan. Ia juga menerima beberapa
penghargaan terkait kegiatan kepenulisan antara lain : Piagam Biru, Perak, Emas,
Platinum, dan Diamond dari Gurusiana serta beberapa penghargaan tingkat
nasional. Selain itu ia juga aktif dalam organisasi kepenulisan seperti di
Mediaguru dan aktif menuliskan karya-karyanya dalam blog Mediaguru.
Komentar: Upaya yang telah dilakukan oleh MIM Penaruban dalam meningkatkan
kebiasaan membaca siswa serta mendukung literasi di madrasah ini patut diapresiasi.

- KESIMPULAN
Berangkat dari data-data yang didapat melalui beberapa metode peneliti
berkesimpulan bahwa kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di MI
Muhammadiyah Penaruban Kabupaten Purbalingga berjalan dengan baik dan
bermanfaat bagi siswa dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai salah satu
bagian dari literasi.
Pada pelaksanaan GLS seluruh komponen pendidikan siswa, guru, dan
pustakawan saling mendukung dan memberikan peran aktif dalam setiap kegiatan
GLS yang diselenggarakan. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan antara lain :
membuat pojok baca, menyadiakan waktu khusus untuk membaca, Memajang hasil
karya siswa, Pengadaan buku bacaan siswa di Perpustakaan, Mengadakan kegiatan
lomba literasi bagi siswa, Membuat majalah dinding, dan Kepala sekolah aktif dalam
kegiatan literasi.
Komentar: Hasil penelitian menunjukkan bahwa GLS di sekolah ini berjalan dengan
baik dan memberikan manfaat yang signifikan bagi siswa dalam mengembangkan
kebiasaan membaca sebagai bagian integral dari literasi.

8. Workshop Pengembangan Soal AKM Literasi Membaca pada MGMP


Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kampar (2022)
- PENDAHULUAN
Literasi membaca bukan hanya sekadar kemampuan membaca secara harfiah
tanpa mengetahui isi/makna dari bacaan tersebut, melainkan kemampuan memahami
konsep bacaan. Hal tersebut juga dikemukakan Kuo, (2013) dalam artikelnya bahwa
literasi membaca dipandang sebagai metode alternatif untuk mendorong
pengembangan pengetahuan peserta didik.
Evaluasi program atau pembelajaran dapat menggunakan berbagai macam
instrumen. Satu di antaranya ialah tes. Tes yang dimaksud ialah untuk mengukur dan
menilai kemampuan literasi membaca seseorang. Hal tersebut juga dikemukakan oleh
Arifin (2014) bahwa tes dapat diklasifikasikan menjadi empat bagian yaitu tes
intelegensi umum, tes kemampuan khusus, tes prestasi belajar, dan tes kepribadian.
Instrumen literasi membaca bertujuan untuk melihat kemampuan intelegensi umum
siswa.
Kemampuan individu memahami teks dipengaruhi oleh kecakapan mereka dan
kesanggupan mereka dalam mengolah informasi. Kemampuan literasi membaca
untuk perserta didik harus ditingkatkan. Dengan kemampuan literasi yang dimiliki,
peserta didik dituntut mampu merefleksikan beragam informasi penting yang
diperoleh untuk bekal berpartisipasi dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta untuk pengembangan kapasitas diri. Selain itu, kemampuan literasi
membaca juga diharapkan mampu membentuk karakter, menggali kemampuan
berpikir kritis dan kreatif, dan mampu menumbuhkan partisipasi secara positif dalam
komunikasi dan kerjasama.
Hal penting dalam mengembangkan instrumen AKM litreasi membaca harus
memenuhi beberapa hal. Hal tersebut yaitu adanya konten teks, konteks teks, level
kognitif literasi membaca, dan kemajuan Pembelajaran (Pusat Asesmen dan
Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, 2020).
Konten teks dalam penyusunan soal AKM dikelompokkan menjadi dua, yaitu
teks sastra dan teks informasi. Melalui teks sastra peserta didik dapat memperoleh
hiburan, menikmati cerita, dan melakukan perenungan untuk menghayati
permasalahan kehidupan yang ditawarkan pengarang. Di sisi lain, melalui teks
informasi peserta didik dapat memperoleh fakta, data, dan informasi untuk
pengembangan wawasan dan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah (Pusat Asesmen
dan Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, 2020).
Pertama, teks sastra/fiksi naratif, ialah karya imajinatif yang mengangkat
persoalan-persoalan kehidupan manusia yang sudah dipadukan dengan
imajinasi/subjektivitas pengarang untuk kepentingan hiburan. Sifat khas teks sastra
ini adalah aspek referensinya, yakni imajinasi. Artinya, pernyataan yang terdapat di
dalam teks sastra tidak dapat dianggap benar secara harfiah. Teks sastra menawarkan
sebuah kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai
unsur intrinsik, seperti alur, tokoh, latar, dan sudut pandang. Semua unsur tersebut
sengaja dikreasikan oleh pengarang, dibuat mirip, diimitasikan dan dianalogikan
dengan dunia nyata sehingga seolah-seolah sungguh ada dan terjadi. Namun,
kebenaran dalam sastra (fiksi) tidak perlu disamakan dengan kebenaran dalam dunia
nyata. Dunia sastra (fiksi) yang imajinatif dan dunia nyata yang faktual masing-
masing memiliki sistem hukumnya sendiri (Nurgiyantoro, 2015).
Teks sastra adalah teks-teks yang disusun dengan tujuan artistik dengan
menggunakan bahasa lisan atau bahasa tulis. Cara penyajiannya menggunakan kata
yang bermakna simbolik/majas/kias. Kata dan istilah yang tepat sesuai dengan
konteks. Teks sastra memiliki karakteristik bahasa yang indah atau terorganisasi
secara baik, dengan gaya penyajian yang menarik, ekspresif, dan estetis. Contoh teks
sastra yang dapat digunakan sebagai stimulus bacaan dalam penyusunan soal AKM,
antara lain cerita rakyat, legenda, fabel, mitos, fiksi ilmiah, satir, puisi, prosa, drama,
novel, pantun, soneta, epos, cerita bergambar, cerita fantasi, ironi, lirik lagu, catatan
perjalanan, dan biografi/autobiografi.
Kedua, teks Informasi atau teks nonfiksi adalah teks yang ditulis berdasarkan
data-data faktual, peristiwa-peristiwa, dan sesuatu yang lain yang benar-benar ada
dan terjadi dalam kehidupan. Data dan fakta dalam teks informasi dapat berupa data
dan fakta kesejarahan, kemasyarakatan, dan keilmuan bidang-bidang tertentu yang
dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris atau secara logika Teks informasi
terikat oleh kejelasan, ketepatan, ketajaman, dan kebenaran uraian. Teks informasi
dapat disajikan dalam bentuk ulasan, penjelasan, deskripsi, analisis, uraian, dan
penilaian yang dikemukakan secara rinci, mendalam, dan komprehensif terhadap
suatu permasalahan (Nurgiyantoro, 2015).
Berdasarkan wawancara dengan beberapa orang guru bahasa Indonesia
khususnya anggota MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kampar mengalami
beberapa hambatan dalam mengembangkan soal literasi membaca. Guru kurang
memahami karakteristik soal literasi membaca berbasis AKM. Guru tidak memahami
langkah-langkah dalam mengembangkan sebuah instrumen tes. Guru tidak
memanfaatkan kearifan lokal daerahnya yang dapat dijadikan sebagai stimulus dalam
membuat soal. Dengan demikian, soal-soal literasi membaca yang dibuat tidak valid
dan reliabel dengan tuntutan AKM.
Komentar: teks seharusnya menguraikan lebih lanjut mengenai pentingnya
instrumen tes literasi membaca yang valid dan reliabel dalam mengukur kemampuan
peserta didik.

- METODE
Pengabdian ini dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan klasikal
dan individual. Pendekatan klasikal diberikan dalam bentuk pelatihan (workshop)
guna menyampaikan teoretis atau prosedur dalam mengembangkan soal AKM literasi
membaca, sedangkan pendekatan individual dilakukan dalam bentuk tugas yang
diberikan sebagai bentuk penilaian terhadap kemampuan guru dalam membuat soal
AKM literasi membaca. Adapun langkah-langkah kegiatan yang dilakukan dalam
mencapai tujuan ini, yakni (1) Ceramah tentang konseptual pengembangan soal AKM
literasi membaca; (2) Tanya-jawab tentang pemahaman dalam mengembangkan soal
AKM literasi membaca; (3) Simulasi dalam mengembangkan soal AKM literasi
membaca; (4) Peserta diberikan tugas secara berkelompok untuk membuat soal AKM
literasi membaca; dan (5) Menelaah secara bersama-sama tentang tugas yang telah
dikerjakan.
Komentar: Pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini cukup jelas dan
terstruktur, dengan dua pendekatan yang berbeda.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Pelaksanaan Kegiatan
Pengabdian kepada masyarakat berupa Workshop Pengembangan Soal
AKM Literasi Membaca Pada MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten
Kampar dilaksanakan melalui tiga tahapan. Ketiga tahapan tersebut ialah
tahap persiapan, pelaksanaan, dan akhir. Lebih jelas mengenai pelaksanaan
ketiga tahapan tersebut ialah sebagai berikut ini.
Petama, tahap persiapan yaitu pada tahap ini dimulai dengan melakukan
tanya-jawab kepada ketua MGMP dan guru-guru Bahasa Indonesia mengenai
pemahamannya terhadap pelaksanaan AKM literasi membaca. Selain itu, hal
lain yang ditanyakan ialah tentang bagaimana peran seorang guru dalam
membuat soal AKM literasi membaca. Berdasarkan tahapan ini ditemui
permasalahan mengenai pembuatan soal AKM Literasi membaca.
Permasalahan yang dialami para guru MGMP ialah kurangnya pemahaman
guru terhadap AKM literasi membaca, sulitnya menetapkan stimulus, tidak
adanya pedoman yang baku dalam penilisan soal AKM, sulitnya membuat
bentuk soal yang bervariasi.
Kedua, tahap pelaksanaan yaitu pada tahap ini dilaksanakan satu hari yaitu
pada tanggal 4 Desember 2021. Workshop dilaksanakan di aula SMA Negeri
1 Bangkinang Kota. Tahap ini dilakukan dengan menyampaikan materi
tentang AKM literasi membaca yang ditetapkan pemerintah. Selanjutnya
dijelaskan tentang bagaimana cara dalam pengembangan soal AKM literasi
membaca yang telah ditetapkan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran. Pada
hari kedua dan ketiga diminta seluruh peserta membuat beberapa soal AKM
literasi membaca dengan pendampingan secara asingkronus. Selanjutnya, soal
yang dirancang dikirimkan melalui google from yang telah disediakan.
Pembuatan soal dilakukan selama dua hari yaitu pada tanggal 5 s.d 6
Desember 2021.
Ketiga, tahap akhir yaitu dilakukan evaluasi kepada seluruh peserta
workshop untuk mengetahui pemahaman dan kemampuan dalam
mengembangkan soal AKM literasi membaca. Evaluasi dilaksanakan dengan
melakukan tes unjuk kerja dan juga pengisian angket melalui google from.
Hasilnya dapat disimpulkan bahwa guru-guru MGMP Bahasa Indonesia sudah
memahami tentang AKM Literasi membaca. Namun demikian, berkaitan
dengan kemampuan guru dalam mengembangkan soal AKM Literasi
membaca masih kurang. Hal tersebut terlihat dari soal yang dibuat masih
menggunakan stimulus yang tidak berkaitan dengan konteks sosial budaya
setempat. Teks yang dijadikan stimulus juga masih tergolong teks yang
sederhana dan tidak kompleks. Beberapa soal masih mempertanyakan hal-hal
yang tersurat dan pertanyaan masih tergolong pada level pemahaman. Selain
itu, bentuk soal rata-rata masih menggunakan bentuk pilihan ganda.
2. Hasil Kegiatan
Berdasarkan tahapan yang dilakukan dalam pelaksanaan pengabdian
kepada masyarakat, maka hasil kegiatan diuraikan berikut ini. Hasil pada
tahapan awal dapat kemukakan bahwa para guru MGMP masih banyak yang
belum memahami tentang AKM literasi membaca, terlebih tidak adanya
sosialisasi yang dilakukan pemerintah pada tingkat satuan pendidikan. Hal ini
berimbas kepada kemampuan guru dalam mengembangkan soal AKM literasi
membaca.

Gambar 1. Hasil Kuesioner Workshop Pengembangan Soal AKM Literasi Membaca pada
MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kampar
Berdasarkan hasil angket kepuasan mitra terhadap kegiatan pengabdian
kepada masyarakat berupa Workshop Pengembangan Soal AKM Literasi Membaca
Pada MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kampar yang dilaksanakan pada
tanggal 4 s,d 6 Desember 2021 berhasil dan sukses. Mitra/peserta merasa puas
dengan pelayanan yang diberikan oleh Tim pengabdian baik dari segi materi PkM
sesuai dengan kebutuhan mitra/peserta sampai tahap kegiatan PkM yang berhasil
meningkatkan kompetensi mitra/peserta. Oleh karena itu, tim PKM Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau berhasil
mencapai target yang ditentukan sebelumnya.
Komentar: Soal-soal yang dibuat sebaiknya lebih kompleks dan berfokus pada
tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Selain itu, variasi format soal juga perlu
diperbanyak untuk menguji berbagai aspek literasi membaca.

- KESIMPULAN
Berdasarkan pelaksanaan workshop tentang “Pengembangan Soal AKM
Literasi Membaca Pada MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Kampar” dapat
disimpulkan bahwa kegiatan berjalan lancar dan sukses. Peserta telah dapat membuat
soal AKM literasi membaca berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Workshop
ini dilakukan dalam usaha untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merancang
asesmen dalam pembelajaran, khususnya dalam asesmen literasi membaca.
Komentar: Meskipun workshop ini dianggap berhasil dalam hal pelaksanaan yang
lancar dan peserta mampu membuat soal AKM literasi membaca sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan, namun ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan lebih
lanjut.

9. Manajemen Literasi Terhadap Pembudayaan Membaca di Dayah Putri


Muslimat Samalanga (2020)

- PENDAHULUAN
Pada hakikatnya manusia dalam kehidupan sehari-hari dihadapakan dengan
situasi belajar, mengapa, karena setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia tak
lepas dari pengalaman-pengalaman yang diperolehnya. Pengalaman-pengalaman ini
diperoleh dari proses belajar itu sendiri, baik proses belajar yang disengaja maupun
tidak disengaja. Individu pada dasarnya merupakan makhluk pembelajar dalam setiap
konteks perkembangan budaya.
Individu (manusia) merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk
belajar, salah satunya dengan belajar lewat jalur pendidikan atau sekolah. Sekolah
adalah lembaga yang memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan
pembelajarnya. Sekolah memiliki peran penting dalam mengembangakan
kemampuan siswanya, dengan melalui berbagai sistem pembelajaran yang efektif
untuk mencapai tujuan belajar.
Melihat bahwa budaya membaca di Indonesia pada peringkat bawah, ketika
UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001, artinya
pada setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat membaca, rata-rata
membaca nol sampai satu buku pertahun masyarakat di Indonesia. Tingkat literasi di
Indonesia hanya berada pada rangking 64 dari 65 negara yang disurvei, fakta lagi
tingkat membaca santri atau siswa di Indonesia hanya menempat urutan 57 dari 65
negara.3
Hal ini membuktikan bahwa budaya literasi di Indonesia sangat rendah
sehingga hal ini perlu digalakkan dan di terapkan dengan baik khususnya dalam
dayah atau pesantren. Dayah sebagai lembaga pendidikan Islam harus menerapkan
budaya membaca dengan tepat, sehingga dapat menciptakan generasi yang gemar
membaca. Pentingnya menumbuhkan gemar membaca, dengan membudayakan
membaca merupakan sebuah upaya yang mendukung dalam menumbuhkan rasa cinta
membaca.
Membaca merupakan salah satu ketrampilan dalam berbahasa. Membaca
merupakan kegiatan yang penting dalam dunia pendidikan, dengan membaca akan
semakin banyak informasi-informasi yang diperoleh dari berbagai bidang ilmu yang
diekspresikan dalam sebuah buku. Harjasujana dan Damaianti yang dikutib oleh
Dalman menyatakan dalam membudayakan kegiatan membaca, pembaca harus dapat:
1. Mengamati lambang yang disajikan di dalam teks,
2. Menafsirkan lambang atau kata,
3. Mengikuti kata tercetak dengan pola linier, logis dan gramatikal,
4. Menghubungan kata dengan pengalaman langsung untuk memberi
makna terhadap kata tersebut,
5. Membuat inferens (kesimpulan) dan mengevaluasi materi bacaan,
6. Mengingat yang dipelajari pada masa lalu dan menggabungkan
ide-ide baru dan fakta-fakta dengan isi teks,
7. Mengetahui hubungan antara lambang dan bunyi, serta antar kata
yang dinyatakan di dalam teks, daN Membagi perhatian dan sikap
pribadi pembaca yang berpengaruh terhadap proses membaca.
Membaca adalah salah satu pintu untuk mencari informasi-informasi yang
dapat bermanfaat dalam kehidupan, dengan aktif membaca buku juga mampu
mengasah ketrampilan membaca, menulis apabila membuat tulisan atau catatan dari
membaca dan dari proses itu dapat pula menambah pengetahuan dengan menganalisis
dan memahami bacaan, sehingga mampu berpikir kritis.
Dayah Putri Muslimat Samalanga merupakan salah satu dayah yang telah
menerapkan budaya membaca lewat gerakan literasi dayah. Dayah Putri Muslimat
Samalanga dalam menerapkan kultur literasi ini sudah berjalan dengan baik, baik
dalam kegiatan pra pembelajaran, pemanfaatan perpustakaan dan masih banyak lagi
upaya dalam meningkatkan minat membaca. Melihat hal di atas maka peneliti
mengajukan sebuah penelitian terkait kultur literasi atau budaya membaca bagi santri
atau siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca di Dayah Putri Muslimat.
Komentar: Dipendahuluan butuh dijelaskan lebih lanjut bagaimana sekolah dapat
berperan dalam meningkatkan minat baca siswa.

- METODE
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif.
Penelitian kulitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada
kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan dengan cara trianggulasi (gabungan), analisis data
bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada
generalisasi.6Pendekatan yang penulis lakukan dalam penelitian ini pendekatan
normatif. Sifat penelitian adalah deskriftif.
Komentar: sebaiknya ada penjelasan singkat mengenai kontribusi atau temuan utama
yang diharapkan dari penelitian ini dalam konteks pendekatan normatif yang
digunakan.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


Literasi diartikan melek huruf, kemampuan baca tulis, kemelekwancanaan
atau kecakapan dalam membaca dan menulis. Pengertian literasi berdasarkan konteks
penggunaanya dinyatakan Baynham bahwa literasi merupakan integrasi keterampilan
menyimak, berbicara, menulis, membaca dan berpikir kritis. Literasi, dalam bahasa
Inggris literacy, berasal dari bahasa Latin littera (huruf) yang pengertiannya
melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang
menyertainya.
Akan tetapi, literasi utamanya berhubungan dengan bahasa dan
bagaimana bahasa itu digunakan. Adapun sistem bahasa tulis itu sifatnya sekunder.
Manakala berbicara mengenai bahasa, tentunya tidak lepas dari pembicaraan
mengenai budaya karena bahasa itu sendiri merupakan bagian dari budaya. Sehingga,
pendefinisian istilah literasi tentunya harus mencakup unsur yang melingkupi bahasa
itu sendiri, yakni situasi sosial budayanya.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dinyatakan bahwa literasi adalah
1. Kemampuan baca-tulis;
2. Kemampuan mengintegrasikan antara menyimak, berbicara, membaca,
menulis dan berpikir;
3. Kemampuan siap untuk digunakan dalam menguasai gagasan baru atau
cara mempelajarinya;
4. Kemampuan sebagai penunjang keberhasilannya dalam lingkungan
akademik atau sosial;
5. Kemampuan performansi membaca dan menulis yang selalu diperlukan;
6. Kompetensi seorang akademisi dalam memahami wacana secara
profesional.
Literasi merupakan kemampuan yang penting dikuasai oleh siswa. Literasi
dapat diperoleh melalui proses pembelajaran melalui dua kemampuan literasi yang
dapat diperoleh siswa secara bertahap yaitu membaca dan menulis. Salah satu tujuan
utama dari pembelajaran literasi adalah membantu peserta didik dalam memahami
dan menemukan strategi yang efektif untuk kemampuan membaca dan menulis,
termasuk di dalamnya kemampuan menginterpretasi makna dari teks yang kompleks
dalam struktur tata bahasa dan sintaksis.
Pada pembelajaran di tingkat SD sampai SMP/MTs bahkan SMA, literasi
lebih ditekankan pada kemampuan membaca dan menulis. Menurut Tarigan ada lima
alasan, mengapa literasi lebih diarahkan kepada keterampilan membaca dan menulis
karena:
1. Pembaca adalah penyusun atau pembangun makna, setiap pembaca
mempunyai tujuan. Tujuan itu menggerakan pikirannya tentang topik teks
dan mengaktifkan hubungan pengetahuan latar belakangnya dengan isi
teks. Penulis juga bertindak melalui proses yang sangat mirip dengan
pembaca. Tujuan untuk menulis untuk menggerakkan pikirannya tentang
topik yang akan ditulis dan akan mengaktifkan pengetahuan latar
belakangnya sebelum mulai menulis.
2. Membaca dan menulis meliputi pengetahuan dan proses yang sama.
Membaca dan menulis diajarkan bersama karena keduanya berkembang
bersama secara alami. Membaca dan menulis saling berbagi proses dan
tipe pengetahuan yang sama. Pengetahuan yang dihasilkan dalam bentuk
tulisan merupakan hasil dari proses membaca suatu teks yang sama.
3. Pembelajaran membaca dan menulis secara bersama meningkatkan
prestasi. Berdasarkan tinjauan penelitian tentang pengaruh membaca dan
menulis bersama, disimpulkan bahwa menulis menggiring pada
peningkatan prestasi membaca, membaca menggiring pada kemampuan
menulis yang lebih baik dan kombinasi pembelajaran kedunya menggiring
pada peningkatan kemampuan mebaca dan menulis.
4. Membaca dan menulis bersama membantu perkembangan komunikasi.
Membaca dan menulis bukan hanya keterampilan untuk dipelajari agar
mendapatkan nilai tes prestasi yang lebih baik tetapi prosesnya itulah yang
menolong berkomunikasi secara efektif. Penggabungan itu memunginkan
siswa berpartisipasi dalam proses komunikasi dan hasilnya lebih banyak
memetik nilai-nilai makna literasi.
5. Kombinasi membaca dan menulis menggiring pada hasil yang bukan
diakibatkan oleh salah satu prosesnya. Suatu elemen penting dalam
pembelajaran literasi secara umum adalah berpikir dalam kombinasi
pembelajaran menulis dan membaca, para siswa diajak pada berbagai
pengalaman yang menuntun pada keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Kerangka pembelajaran literasi pada dasarnya memuat pembelajaran
membaca dan menulis yang membutuhkan kemampuan siswa dalam
mengumpulkan, mengolah dan menyajikan informasi. Pembelajaran
literasi tersebut dapat dilakukan dengan mengacu pada kerangka konsep
pembelajaran literasi di bawah ini.
Maka manajemen yang diterapkan di Dayah Putri Muslimat Samalanga
memiliki beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Perencanaan
Tgk Atiqah selaku majlis syura Dayah Putri Muslimat Samalanga
mengatakan bahwa perencanaan literasi terhadap pembudayaan membaca
tersebut dilakukan disetiap jurusan dengan sistematika pelaksanaan yaitu
perencanaan harian kami bebankan agar dilakukan sepenuhnya oleh
masing-masing guru setiap lokal dan mengajari sistem pelaksanaannya.
Kemudian para guru kelas diberikan arahan oleh bagian pendidikan
mengenai pelaksanaan literasi terhadap pembudayaan membaca untuk
menetapkan kegiatan-kegiatan membaca yang akan dilakukan dimasing-
masing kelas kemudian para guru memberikan arahan kepada masing-
masing santriwati agar produktif disetiap bahan bacaan serta mata
pelajaran dan memberi arahan arahan tersebut berupa instruksi teknis yang
terkait dengan proses perencanaan literasi membaca.
2. Peorganisasian
Tgk Irna Amalia selaku petugas pustaka Dayah Putri Muslimat Samalanga
mengatakan bahwa sebelum kami di Dayah Putri Muslimat Samalanga
meranjak lebih jauh kami memberi instruksi kepada seluruh guru kelas
terhadap pembudayaan membaca untuk menyusun kisi-kisi bahan bacaan
kemudian membuat daftar anggota pelaksanaan leterasi pembudayaan
membaca yang dilakukan oleh bagian pendidikan dan ketua umum dan
menyediakan fasilitas, perlengkapan yang diperlukan untuk pelaksanaan
literasi membaca agar dalam pelaksanakanaanya efektif dan efisien dan
memberikan pengunguman lebih awal kepada santri mengenai
pelaksanaannya agar para santriwati menyiapkan diri sebelum proses
pelaksanaannya. Beliau juga menambahkan bahwa peroganisasian yang
kami lakukan dengan adanya SK dari pimpinan Dayah Putri Muslimat
Samalanga dan kami sebelumnya terlebih dahulu mengumumkan kepada
seluruh santri agar mempersiapkan diri sebelum proses dimulai sebaik
mungkin dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi proses.
3. Pelaksanaan
Tgk Nurul Maulina mengatakan bahwa dalam pelaksanaan literasi
terhadap pembudayaan membaca kami membentuk panitia pelaksana dan
pengawas (panitia teknis) dan setelah itu menyusun jadwal pelaksanaan
dan biaya yang diperlukan secara rinci dan jelas dan kami
mengeluarkan instruksi-instruksi yang spesifik mengenai pelaksanaan
literasi terhadap pembudayaan membaca agar dapat difahami oleh santri
dan guru.
4. Pengawasan
Tgk Nurul Maulina mengatakan bahwa mengevaluasi pelaksanaan
kegiatan literasi dalam pembudayaan membaca dengan kami
membandingkan hasil test dan ketercapian hasil belajar pada hasil yang
dicapai oleh santri dan memberikan intruksi kepada para pengawas dan
panitia untuk menyiapkan laporan-laporan penyimpangan yang terjadi
selama proses pelaksanaan dan tindakan koreksi terhadap pelaksanaan.
Pengawasan literasi terhadap pembudayaan membaca yang ada di Dayah
Putri Muslimat Samalanga pada kurikulum dilakukan oleh pimpinan atau
ketua umum yaitu Tgk Atiqah dengan melihat secara langsung dari luar
balee ketika hendak melaksanakan oleh para santri. Pada materi
pembelajaran dan metode pembelajaran kurang ada pengawasan dari
pimpinan Dayah Putri Muslimat Samalanga secara langsung akan tetapi
ditanggani langsung oleh ketua umum sekaligus majlis syura. Hasil
membaca, pengawasan literasi oleh pimpinan atau ketua umum yaitu Tgk
Atiqah dan membuat absensi untuk mengetahui kehadiran santri serta
tengku atau guru, artinya Tgk Atiqah melakukan pengawasan pada guru
dan santri disetiap waktu yang telah ditentukan. Pengawasan sarana dan
prasarana dilakukan oleh pengurus Dayah Putri Muslimat Samalanga pada
bidang masing-masing seperti bidang pengajian serta dibantu oleh guru-
guru lainya.
5. Evaluasi
Tgk Irna Amalia selaku petugas pustaka mengatakan bahwa secara umum
evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki tiga
macam fungsi pokok, yaitu mengukur kemajuan, menunjang penyusunan
dan memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali.Evaluasi
literasi di Dayah Putri Muslimat Samalanga kami lakukan pada akhir
bulan dengan memperhatikan ketiga fungsi tersebut sehingga memberikan
pengaruh terhadap output dan outcome lulusan Dayah Putri Muslimat
Samalanga yang berkompten dibidiangnya. Proses pelaksanaan evaluasi
yang dilakukan sangat mempertimbangkan hal-hal yang paling terperinci
dalam pengelolaan evaluasi literasi di Dayah Putri Muslimat Samalanga.
Komentar: Teks ini memberikan definisi literasi dan menguraikan beberapa aspek
pentingnya, tetapi beberapa konsep mungkin bisa lebih diuraikan secara lebih
mendalam untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang literasi.

- KESIMPULAN
Manajemen Literasi Yang Diterapkan Dayah Putri Muslimat Samalanga
Terhadap Pembudayaan Membaca: perencanaan, peorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi. Faktor Keberhasilan dan Kendala Dalam Manajemen
Literasi Terhadap Pembudayaan Membaca di Dayah Putri Muslimat Samalanga
adalah penyedian buku yang memadai, antusias santri dalam mengikuti kegiatan
menulis dan dukungan public dan lingkungan literat.
Komentar: Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, penting untuk
memperkuat aspek perencanaan dan pengawasan dalam manajemen literasi ini.
Kedua, meskipun penyediaan buku yang memadai menjadi faktor kunci, penelitian
ini dapat lebih mendalam dengan menggali lebih lanjut mengenai metode yang
digunakan untuk meningkatkan minat membaca di kalangan santri.

10. Literasi Baca Tulis Kelas Tinggi Di Sekolah Dasar (2021)

- PENDAHULUAN
Pentingnya literasi bagi masyarakat, maka Pemerintah, melalui Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan sedang berusaha meningkatkan literasi membaca dan
menulis bagi masyarakat, Literasi membaca dan menulis sudah menjadi bagian
kebutuhan yang sangat penting. Sebagian besar pakar pendidikan menganggap
kemampuan literasi membaca dan menulis sebagai suatu hak asasi warga negara yang
wajib difasilitasi oleh pemerintah selaku penyelenggara pendidikan. Oleh karena itu,
banyak negara khususnya negara maju dan juga berkembang menjadikan kemampuan
literasi membaca dan menulis sebagai agenda utama pembangunan sumber daya
manusia agar mampu bersaing dalam era modern. Literasi secara tradisi dimaknai
sebagai kemampuan menggunakan bahasa untuk membaca dan menulis. Dalam
konteks modern, literasi merujuk kemampuan membaca dan menulis pada tahap yang
memadai untuk berkomunikasi dalam suatu masyarakat yang literat (Widodo dan
Ruhaena, 2018; Saryono dkk., 2017).
Gerakan literasi membaca dan menulis harus ditanamkan oleh pemerintah
agar menjadi bagian budaya masyarakatnya. Gerakan masyarakat membaca dan
menulis merupakan gerakan yang menjadi satu kesatuan. Meniadakan yang satu akan
terjadi kepincangan. Misalnya hanya literasi membaca saja, lalu apa yang dibaca.
Begitu juga hanya literasi menulis, lalu siapa yang membaca. Dengan demikian kedua
literasi ini saling melengkapi seperti dua sisi mata uang tidak dapat dibuang salah
satu. Gerakan literasi membaca dan menulis ini harus dapat dilakukan oleh siapa saja,
di mana saja, kapan saja, dan dengan media apa saja. Dengan literasi membaca dan
menulis akan mendorong masyarakatnya selalu mengikuti perkembangan informasi.
Dengan informasi tersebut masyarakat akan dapat mengikuti perkembangan zaman,
semakin kreatif dan mandiri dalam menangani masalah dalam kehidupannya.
Gerakan literasi membaca dan menulis di Indonesia sudah dilakukan oleh pemerintah,
namun hasilnya belum menggembirakan. Sampai saat ini, kondisi literasi membaca
dan menulis masyarakat Indonesia masih sangat minim.
Literasi adalah sebuah fenomena yang sedang marak gaungnya di pendidikan
Indonesia, sementara, hal ini bukanlah hal yang baru namun praktiknya ternyata
masih jauh dari sempurna. Literasi baca tulis adalah salah satu literasi yang utama
dan wajib dimiliki oleh anak-anak sekolah dasar untuk perkembangan belajar mereka
di sekolah. Namun, hal membaca dan menulis agaknya masih juga menjadi masalah
di sekolah dasar seperti tidak bisa membaca, membaca masih mengeja dan bahkan
menulis pun masih sangat lambat akibat belum mengenal huruf dan lain-lain.
Fenomena di atas terjadi bukan hanya pada kelas rendah namun yang menjadi
menarik adalah terjadi pada kelas tinggi. Ada apa dengan literasi baca tulis di
sekolah-sekolah kita? Oleh sebab itu, penelitian ini harus dilakukan untuk melihat
bentuk literasi baca tulis seperti apakah yang dilakukan oleh pihak sekolah khususnya
di sekolah dasar di kecamatan Malifut.
Literasi adalah kecakapan hidup yang wajib dimiliki oleh setiap orang terlebih
lagi oleh anak-anak usia sekolah dasar karena hal ini adalah hal paling penting yang
nantinya akan menentukan nasib bangsa kita. Literasi baca tulis adalah salah satu dari
enam literasi dasar yang dicanangkan oleh GLN (Gerakan Literasi Nasional) di
bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2016 yang merupakan
implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun 2015
tentang Budi Pekerti. Gerakan Literasi adalah salah satu cara menumbuhkan budi
pekerti dan hal ini wajib dilakukan. Mengingat betapa pentingnya literasi baca tulis di
sekolah dasar karena sekolah dasar adalah fondasi bagi pendidikan siswa di lembaga
formal. Di kelas rendah siswa akan diajarkan tentang membaca dan menulis namun
fenomena yang terjadi sekarang ini bahkan di kelas tinggi pun masih sangat banyak
anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis secara baik. Permasalahan Baca
Tulis ini menjadi masalah yang besar apalagi anak sudah sampai di kelas tinggi, yang
seharusnya sudah memiliki kompetensi ini. Penerapan Literasi baca tulis ini adalah
sebuah dasar untuk menghasilkan Sumber daya manusia yang bermutu dan
membutuhkan usaha yang gigih untuk mewujudkannya.
Komentar: Meskipun teks memberikan gambaran umum tentang pentingnya literasi
baca tulis, sebaiknya ada pengembangan lebih lanjut tentang permasalahan konkret
yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia terkait literasi baca tulis.

- METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif.
Penelitian ini dilakukan dengan teknik wawancara terstruktur. Sumber data yang
digunakan dalam penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah:
Data yang berupa hasil wawancara yang diperoleh dari guru kelas dan kepala sekolah.
Data sekunder yaitu data- data bersumber dari laporan-laporan atau dokumen–
dokumen yang terkait dengan buku bacaan di perpustakaan. Subjek dalam penelitian
ini adalah kepala sekolah dan guru kelas tinggi se-kecamatan Malifut. Lokasi
penelitian ini di SD se-kecamatan Malifut. Instrumen yang digunakan adalah lembar
formulir wawancara. Formulir wawancara digunakan sebagai pedoman untuk
mewawancarai kepala sekolah dan guru kelas tinggi tentang Literasi Baca Tulis.
Data dianalisis dengan mendeskripsikan temuan yang diperoleh melalui hasil
wawancara. Data wawancara dideskripsikan dengan menjabarkan jawaban dari
narasumber dan dikaitkan dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini.
Observasi, yaitu pengumpulan data dengan mengamati proses pembelajaran yang
dilakukan oleh guru kelas. Wawancara terstruktur, yaitu pengumpulan data dengan
menggunakan instrumen wawancara. Data-data kualitatif pada penelitian ini
dianalisis melalui langkah-langkah (Creswell,2010) sebagai berikut: Mengolah dan
mempersiapkan data untuk dianalisis, membaca keseluruhan data, menganalisis lebih
detil dengan mengcoding data, menerapkan proses coding untuk mendeskripsikan
setting, orang-orang, kategori-kategori, dan tema- tema yang dianalisis,
mendeskripsikan dan menghubungkan tema-tema dalam narasi atau laporan kualitatif,
dan menginterprestasi atau memaknai data.
Komentar; Meskipun penelitian ini memberikan gambaran tentang metodologi yang
digunakan, masih perlu disertai informasi lebih lanjut tentang hasil temuan dan
kontribusi penelitian terhadap pemahaman literasi baca tulis.

- HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di sepuluh sekolah di
Kecamatan Malifut, pelatihan fasilitator literasi baca-tulis untuk kepala sekolah, guru,
dan tenaga kependidikan tidak dilakukan. Dari sepuluh sekolah yang diteliti terdapat
satu sekolah yang menyatakan bahwa sekolah mereka pernah mengikuti kegiatan
literasi seperti ini. Hanya saja kegiatan ini sudah pernah dilakukan pada tahun
2003/2004 dan tidak pernah ada kegiatan serupa hingga saat ini. Kegiatan ini
dilaksanakan oleh World Vision Indonesia di Halmahera Utara dan menurut Kepala
Sekolah di SD ini, kegiatannya cukup baik dan sangat memberikan manfaat yang
besar bagi perkembangan siswa-siswi di sekolah mereka.
Selain pelatihan fasilitator literasi baca tulis, ada pula sub indikator pengukur
keberhasilan sebuah sekolah untuk menjalankan literasi baca tulis yakni pemanfaatan
dan penerapan literasi dalam kegiatan pembelajaran. Dikarenakan pelatihan khusus
literasi sendiri tidak pernah dilakukan, maka menurut kepala sekolah dan guru-guru
SD yang diwawancarai, mereka otomatis tidak pernah memanfaatkan dan
menerapkan literasi sesuai dengan kaidah penerapan dan pemanfaatan literasi baca-
tulis sendiri. Dua dari sepuluh sekolah menyatakan penerapan literasi yang mereka
lakukan adalah lima belas menit membaca sebelum memulai pembelajaran di kelas.
Sebuah hasil penelitian mengungkapkan kegiatan 15 menit membaca sebelum
kegiatan belajar ini sangat penting untuk menarik minat siswa terhadap literasi, hal ini
adalah langkah awal yang baik yang sudah dilaksanakan sekolah untuk kesuksesan
literasi sekolah (Wulanjani dan Anggreni, 2019).
Salah satu bentuk pendukung literasi di sekolah menurut Desi Setyaningrum
(2018) adalah penyediaan sarana dan prasarana antara lain: buku bacaan, pojok baca,
sekolah, fasilitas perpustakaan dan jurnal membaca harian. Sarana dan prasarana
yang mendukung literasi baca tulis di SD se-Kecamatan Malifut adalah perpustakaan
di setiap sekolah, tetapi sangat disayangkan tidak semua sekolah memiliki fasilitas
ini. Dari hasil observasi ke sekolah-sekolah se-kecamatan Malifut peneliti
menemukan perpustakaan yang harusnya jadi tempat membaca bagi para siswa
diubah menjadi ruang guru, tidak dirawat, kemudian banyak siswa tidak berminat
untuk membaca sehingga butuh paksaan dari para guru agar siswa-siswanya
membaca.
Perpustakaan pun tidak memiliki buku bacaan yang menyenangkan hanya
didominasi oleh buku pelajaran dan tidak diperbaharui setiap tahunnya. Sehingga
menyebabkan kebosanan juga di kalangan siswa.
Komentar: perlu upaya serius untuk meningkatkan literasi baca-tulis di sekolah-
sekolah ini, termasuk pelatihan fasilitator, pengembangan kegiatan literasi, dan
perbaikan sarana dan prasarana literasi.

- KESIMPULAN
Literasi Baca Tulis merupakan pekerjaan rumah yang melibatkan semua pihak
di lingkungan sekolah, dari mulai kepala sekolah, jajaran komite, pengawas, guru,
siswa, orang tua, dan masyarakat sekitar dalam pelaksanaannya. Pengembangan
budaya literasi dilaksanakan beriringan dengan penumbuhan karakter dan budi
pekerti di ekosistem sekolah. Dengan adanya hal ini, diharapkan akan tumbuh budaya
membaca dan menulis sebagai dasar terciptanya proses pembelajaran sepanjang
hayat. Literasi Baca Tulis di SD Se-Kecamatan Malifut masih jauh dari kata
sempurna dan gerakan literasi nasional sepertinya belum sampai di Kecamatan
Malifut. Sehingga dibutuhkan kerja keras dari semua pihak untuk melanjutkan
kegiatan ini guna memberikan manfaat bagi generasi kita selanjutnya.
Komentar: masih perlu diperjelas bagaimana upaya konkret dilakukan untuk
meningkatkan literasi di SD Se-Kecamatan Malifut.

Anda mungkin juga menyukai