0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
202 tayangan6 halaman

Problem Solving untuk Kelas XI

Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) Bimbingan Klasikal membahas tentang rencana pelaksanaan layanan bimbingan klasikal untuk siswa kelas XI tentang Problem Solving. RPL ini mencakup tujuan, materi, metode, evaluasi, dan tahapan pelaksanaan layanan yang terdiri atas tahap awal, inti, dan penutup. Topik utama yang akan disampaikan adalah tentang pengertian Problem Solving, jenis-jenisnya, dan langkah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
202 tayangan6 halaman

Problem Solving untuk Kelas XI

Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) Bimbingan Klasikal membahas tentang rencana pelaksanaan layanan bimbingan klasikal untuk siswa kelas XI tentang Problem Solving. RPL ini mencakup tujuan, materi, metode, evaluasi, dan tahapan pelaksanaan layanan yang terdiri atas tahap awal, inti, dan penutup. Topik utama yang akan disampaikan adalah tentang pengertian Problem Solving, jenis-jenisnya, dan langkah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN (RPL)

BIMBINGAN KLASIKAL

A Komponen Layanan Dasar


B Bidang Layanan Sosial
C Topik / Tema Problem Solving
Layanan
D Fungsi Layanan Pemahaman
E Tujuan Umum Peserta didik/konseli memiliki pemahaman tentang Problem
Solving

F Tujuan Khusus 1. Peserta didik/konseli dapat memahami tentang Problem


Solving
2. Peserta didik/konseli dapat memahami jenis-jenis Problem
Solving
3. Peserta didik/konseli dapat memahami bagaiman Langkah-
langkah Problem Solving
G Sasaran Layanan Kelas XI
H Materi Layanan 1. Tentang Problem Solving
2. Jenis Problem Solving
3. Langkah-langkah Problem Solving
I Waktu 2 Kali Pertemuan x 45 Menit
J Sumber Materi
1. https://fijrakembar.wordpress.com/category/makalah-
strategi-pembelajaran/
2. https://skripsipsikologie.wordpress.com/2010/06/27/
problem-solving-remaja-berhubungan-dengan-identitas-diri/

K Metode/Teknik Ceramah, Curah pendapat dan tanya jawab


L Media / Alat LCD, Power Point ,Problem Solving
M Pelaksanaan
1. Tahap Awal
/Pedahuluan
a. Pernyataan 1. Guru BK/Konselor membuka dengan salam dan berdoa
Tujuan 2. Membina hubungan baik dengan peserta didik
(menanyakan kabar, pelajaran sebelumnya, ice breaking)
3. Menyampaikan tujuan-tujuan khusus yang akan dicapai
b. Penjelasan 1. Memberikan langkah-langkah kegiatan, tugas dan tanggung
tentang langkah- jawab peserta didik
langkah kegiatan 2. Kontrak layanan (kesepakatan layanan), hari ini kita akan
melakukan kegiatan selama 1 jam pelayanan, kita sepakat
akan melakukan dengan baik.
c. Mengarahkan Guru BK/Konselor memberikan penejelasan tentang topik yang
kegiatan akan dibicarakan
(konsolidasi)
d. Tahap Guru BK/Konselor menanyakan kesiapan peserta didik
peralihan melaksanakan kegiatan, dan memulai ke tahap inti
( Transisi)
2. Tahap Inti
Kegiatan 1. Mengamati tayangan slide ppt (tulisan, gambar, video)
peserta didik 2. Melakukan Brainstorming/curah pendapat
3. Mendiskusikan dengan kelompok masing-masing
4. Setiap kelompok mempresetasikan tugasnya kemudian
kelompok lain menanggapinya, dan seterusnya bergantian
sampai selesai.
Kegiatan 1. Menayangkan media slide power point yang berhubungan
Guru dengan materi layanan
BK/Konselo
r
2. Mengajak peserta didik untuk brainstorming/curah
pendapat
3. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok (6 kelompok)

4. Memberitugas (untuk diskusi kelompok)


5. Menjelaskan cara mengerjakan tugas
6. Mengevaluasi hasil diskusi peserta didik
7. Membuat catatan-catatan observasi selama proses layanan

3. Tahap Penutup 1. Peserta didik menyimpulkan hasil kegiatan


2. Peserta didik merefleksi kegiatan dengan
mengungkapkan kemanfaatan dan kebermaknaan
kegiatan secara lisan
3. Guru BK memberi penguatan dan rencana tindak lanjut
4. Guru BKmenutup kegiatan layanan dengan mengajak
peserta didik bersyukur/berdoa dan mengakhiri dengan
salam
N Evaluasi
1. Evaluasi Proses Guru BK atau konselor melakukan evaluasi dengan
memperhatikan proses yang terjadi :
1. Melakukan Refleksi hasil, setiap peserta didik menuliskan di
kertas yang sudah disiapkan.
2. Mengamati sikap peserta didik dalam mengikuti kegiatan
3. Mengamati cara peserta didik dalam menyampaikan
pendapat atau bertanya
4. Mengamati cara peserta didik dalam memberikan penjelasan
terhadap pertanyaan guru BK
2. Evaluasi Hasil Evaluasi dengan instrumen yang sudah disiapkan, antara lain :
1. Evaluasi tentang suasana pertemuan dengan instrumen:
menyenangkan/kurang menyenangkan/tidak menyenangkan.
2. Evaluasi terhadap topik yang dibahas : sangat
penting/kurang penting/tidak penting
3. Evaluasi terhadap cara Guru BKdalam menyampaikan
materi: mudah dipahami/tidak mudah/sulit dipahami
4. Evaluasi terhadap kegiatan yang diikuti :
menarik/kurang menarik/tidak menarik untuk diikuti

Pekanbaru, 15 September 2023

Mengetahui,

Kepala Sekolah Guru BK

Viki Fintaru, S.T,M.T. Anggun Sasmia,S.Pd.


A. Pengertian Problem Solving

Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah
dan memecahkan berdasarkan data dan Informasi iyang akurat, sehingga dapat diambil
kesimpulan yang tepat dan cermat (Hamalik, 1994:151). Problem solving yaitu suatu
pendekatan dengan cara problem identifikation untuk ketahap syntesis kemudian dianalisis
yaitu pemilahan seluruh masalah sehingga mencapai tahap application selajutnya
komprehension untuk mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut. (Qruztyan.
Blogs. Friendster.com)
Pendapat lain problem solving adalah suatu pendekatan dimana langkah-langkah
berikutnya sampai penyelesaian akhir lebih bersifat kuantitatif yang umum sedangkan
langkah-langkah berikutnya sampai dengan pengelesain akhir lebih bersifat kuantitatif dan
spesifik (Qrustian Blogs Friendster.com).
Ini berarti oreantasi pembelajaran problem solving merupakan infestigasi dan penemuan
yang pada dasarnya pemecahan nasalah. Apabila solving yang diharapkan tidak berjalan
sebagaimana yang diinginkan berarti telah terjadi di dalam tahap-tahap awal sehingga setiap
enginer harus mulai kembali berfikir dari awal yang bermasalah untuk mendapatkan
pemahaman menyeluruh mengenai masalah yang sedang dihadapi.

B. Problem Solving Remaja


Problem Solving Remaja Berhubungan Dengan Identitas Diri
Masa remaja adalah masa transisi dimana individu mengalami perubahan fisik,psikis maupun
sosial, remaja menemukan kesulitan dalam penyesuaian diri dan sosial yang disebabkan
karena lingkungan menganggap remaja bukan anak-anak dan belum saatnya di anggap
dewasa (Hurlock, 1994).
Masa remaja juga sering disebut sebagai usia bermasalah hal ini disebabkan karena;
1. Pertama,
sepanjang masa kanak-kanak masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua
dan guru sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi
masalah.
2. Kedua,
karena remaja merasa diri mandiri sehingga mereka ingin mengatasi
masalahnya sendiri dan menolak bantuan dari orang lain. Ketidakmampuan remaja
untuk mengatasi masalahnya menurut cara yang mereka yakini, menyebabkan
banyaknya remaja yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah-masalah
yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari (Hurlock,1994). Karena itu
diperlukannya kemampuan remaja dalam mengatasi pemecahan masalah atau sering
disebut dengan problem solving .

Kemampuan problem solving pada remaja memiliki hubungan yang erat dengan
identitas diri, karena remaja yang mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah
menurut Rumke (dalam Sabri, 1993) bersumber dari tiga masalah, yaitu : masalah
individuasi, masalah regulasi dan masalah integrasi.
Kesulitan remaja dalam mengatasi masalah Individuasi yaitu kesulitan dalam
mewujudkan dirinya sebagai seorang yang dewasa disebabkan karena sikapnya yang
ambivalensi.
Kesulitan dalam masa Regulasi disebabkan karena ketidakmampuan para remaja
dalam menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan yang sangat pesat di bidang fisik
dan seksualnya.
Kesulitan Integrasi disebabkan oleh kesulitan remaja dalam menyesuaikan dan
mengintegrasikan norma-norma/nilai-nilai sikap dan perilakunya dengan norma/nilai-
nilai standar yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.
Adapun langkah-langkah lain yaitu menurut konsep Dewey yang merupakan berpikir
itu menjadi dasar untuk problem solving adalah sebagai berikut:
1. Adanya kesulitan yang dirasakan atau kesadaran akan adanya masalah.
2. Masalah itu diperjelas dan dibatasi.
3. Mencari informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan atau
diklasifikasikan.
4. Mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesa-hipotesa kemudian
hipotesa-hipotesa dinilai, diuji agar dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak.
5. Penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sebagai
pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat sampai kepada kesimpulan.
6. Keunggulan Strategi Problem Solving
7. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
8. Berpikir dan bertindak kreatif.
9. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
10. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
11. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
12. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapi dengan tepat.
13. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia
kerja.

C. Kelemahan Strategi Problem Solving


Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini.
Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode
pembelajaran yang lain.

D. Ciri-ciri Strategi Problem Solving


Diawali dari sebuah masalah
1. Adanya tuntutan dari peserta untuk berpikir dan bertindak kreatif.
2. Adanya tuntutan bagi peserta untuk memecahkan masalah
3. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir peserta didik untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapi dengan tepat.

E. Tujuan Strategi Problem Solving


1. Melatih peserta berpikir cepat dan tepat
2. Melatih peserta untuk jeli menemukan masalah
3. Melatih kemampuan berpikir dalam menemukan solusi dari permasalahan yang
dihadapi
4. Berdasarkan uraian tersebut maka remaja yang sudah mencapai identitas diri dan
sudah
mampu melewati masa-masa krisis identitas seharusnya mereka sudah cukup matang
dalam
menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi sehingga bisa
melewati tugas-tugas perkembangannya dan siap memasuki tugas-tugas
perkembangan berikutnya. Sebaliknya jika remaja tidak mampu mencapai identitas
diri, mengalami krisis identitas yang menyebabkan remaja tidak memiliki kemampuan
problem solving maka ia akan mengalami hambatan dalam memasuki tugas-tugas
perkembangan berikutnya.

Anda mungkin juga menyukai