1.
Posisi Bupati pada masa kerajaan Majapahit dianggap merupakan hiasan yang berlebihan dalam
sistem pemerintahan dan karenanya harus dihapuskan dan dinilai tidak berguna lagi. Namun menurut
seorang residen berhaluan liberal, H.E. Steinmetz, seorang Bupati tetap memiliki fungsi, jelaskan
fungsi-fungsi bupati tersebut!
Jawab :
Steinmetz merekrut 11 anggota—terdiri dari 7 orang Belanda dan 4 bupati pribumi—untuk mengisi
struktur Komisi Pusat. Empat bupati itu adalah bupati Demak, Sumedang, Panarukan, dan Ngawi.
Keempat bupati itu dilantik secara langsung oleh Gubernur Jenderal pada 31 Oktober 1902.
Steinmetz memilih mereka duduk dalam Komisi Pusat berdasar tiga alasan. Pertama, para bupati itu
bisa berbahasa Belanda dengan fasih. Kedua, mereka merupakan representasi Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Madura.
Ketiga, mereka adalah orang-orang yang pernah berjasa bagi wilayahnya. Bupati Sumedang Raden
Adipati Soeriaatmadja, misalnya, pernah membangun aliran irigasi sawah, meningkatkan hasil
ternak, melarang penggunaan racun untuk menangkap ikan, dan pada 1901 mendirikan Afdeeling
Bank—sebuah bank desa untuk membantu para petani.
2. Birokrasi adalah suatu aparat khusus khusus administrasi negara yang tergantung pada suatu
pemisahan antara masyarakat ekonomi, serta administrasi negara. Namun tidak terlepas dari
kekuasaan birokrasi. Analisislah gambaran kekuasaan birokrasi menurut Max Weber!
Jawab :
Dalam birokrasi ideal yang di gambarkan oleh Max Weber bersifat legal rasional semakin mekar
fungsi dan peranannya dari sekadar instrumen teknis penyelenggara roda daministrasi pemerintahan yang
terikat konstitusi dan aturan hukum, objektif, netral, dan apolitik. Sebainya, birikrasi justru
memperlihatkan kecendrungan perannya yang semakin luas melampaui fungsi-fungsi konvensionalnya,
bahkan semakin dominan dalam mengatur berbagai sektor kehidupan masyarakat dan negara khususnya
dalam mekanisme pengambilan keputusan-keputusan dan penyelenggaraan (politik). Dari sebuah
instrumen teknis yang apolitis ia berubah menjadi mesin politik yang efektif dalam berbagai upaya
rekayasa dalam masyarakat. Sehingga birokrasi Indonesia menjadi semakin otonom. Besarnya peran
birokrasi merupakan keharusan struktural terhadap pilihan pembangunan yang berorientasi pada
pertumbuhan dan stabilitas politik yang dicanangkan semasa Pemerintahan Orde Baru.
Kecendrungan semakin besarnya keterlibatan birokrasi masih ditambah dengan
ketidakseimbangan lembaga kekuasaan antara kekuatan birokrasi dengan non-bureaucratic power. Di
dalam proses pengambilan keputusan, birokrasi tidak banyak melibatkan kekuatan sosial politik, dan lebih
banyak bertumpu pada teknokrat. Pandangan teknokrat sangat menentukan di dalam meletakkan arah
pembangunan ekonomi yang menekankan pada stabilitas, anggaran berimbang, peletakan jaringan pasar,
dan infrastruktur. Sementara penetrasi birokrasi di dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan kultural,
semakin meningkat. Birokrasi menjadi “kue politik” yang di bagi-bagi sebagai imbalan jasa. Pada saat
yang lain menjadi penentu atau “boss politik” yang dapat mengatur atau mempengaruhi peri kehidupan
politik dan kemasyarakatan maupun kenegaraan. Karean demikian besar kekuasaan lembaga birokrasi ini
maka ia didekati oleh lembaga-lembaga lain di luar birokrasi. Lembaga-lembaga kemasyarakatan maupun
lembaga-lembaga politik yang semestinya lebih “dekat” dengan lembaga-lembaga perwakilan, justru
mendekatkan diri kepada birokrasi karena dianggap lebih efektif sebagai penyalur aspirasi karena
langsung berhadapan dengan si pembuat keputusan.
Dari berbagai tolok ukur tampak bahwa Pemerintah Orde Baru telah mampu mencapai hasil yang
cukup besar dalam memperkuat kehidupan bernegara, seperti pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
dan stabilitas politik yang cukup mantap. Akan tetapi, untuk jangka panjang jenis struktur demikian akan
menjadi hambatan serius bagi kelangsungan pembangunan karena adanya ketidaksesuaian yang melekat
pada struktur ini, antara kebutuhan dominasi di satu pihak dengan tuntutan partisipasi di pihak lain.
Pemerintah Orde Baru bertekad melakukan reformasi ekonomi memerlukan suatu birokrasi yang
efektif sifatnya sebagai primum mobile atau penggerak utama pembangunan. Birokrasi yang diwarisi dari
rezim Orde Lama adalah birokrasi yang lemah, sangat lamban, terpolitisasi, dan korup. Pemerintah Orde
Baru yang dimotori oleh kaum teknokrat tetap menganggap penting peran birokrasi, sehingga
menempatkan birokrasi negara sebagai satu-satunya “agen utama modernisasi”. Pilihan terhadap birokrasi
dilandasi bahwa birokrasi negara di anggap mempunyai beberapa kelebihan, baik secara politis maupun
ekonomi. Birokrasi pemerintah adalah satu-satunya birokrasi yang mungkin sekali memiliki akses
penguasaan atas seluruh sumber-sumber nasional. Menolak sektor bisnis swasta atau sebagai kekuatan
entrepreneurial (kewiraswastaan) karena sektor ini sangat tergantung pada negara dan didominasi
golongan Cina yang tidak mewakili kepentingan umum dan kurang berorientasi pada pembangunan.
Kalangan politis sebagai kelompok yang dalam masalah ekonomi irasional serta kurang memiliki
keahlian, pendidikan, dan pengalaman dalam pengelolaan ekonomi. Kelompok teknokrat menganggap
bahwa birokrasi negara merupakan satu-satunya institusi “penggerak utama pembangunan”.
3. Salah satu adanya perubahan sosial yaitu pada masa Pandemi covid 19 dengan adanya
penerapan physical distancing. Pelayanan berbasis teknologi dan internet menjadi suatu hal yang
lumrah, dengan tujuan pelayanan baik barang maupun jasa kepada masyarakat tetap dapat terlaksana
dengan baik sehingga birokrasi harus menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi
disekitarnya. Berikan analisis saudara terhadap perubahan tersebut berhubungan dengan perubahan
kontekstual seperti yang disampaikan oleh Mustopadidjaja!
Jawab :
Kebijakan publik merupakan apa saja yang dilakukan pemerintah, mengapa pemerintah mengambil
tindakan dan akibat – akibat dari tindakan tersebut. Maka agar kita menghindari fokus yang sempit itu
yaitu dengan menggunakan disiplin yang bervariasi. Analisis kebijkan publik adalah sub bidang terapan
yang isinya tidak dapat ditentukan yang terbatas tetapi dengan segala sesuatu yang tampaknya sesuai
dengan segala situasi dari masa hakekat dari persoalannya.
Menurut Dunn (1994), proses analisis kebijakan adalah serangkaian aktivitas dalam proses kegiatan yang
bersifat politis. Aktivitas politis tersebut diartikan sebagai proses pembuatan kebijakan dan
divisualisasikan sebagai serangkaian tahap yang saling tergantung, yaitu (a) penyusunan agenda, (b)
formulasi kebijakan, (c) adopsi kebijakan, (d) implementasi kebijakan, dan (e) penilaian kebijakan.
Proses formulasi kebijakan dapat dilakukan melalui tujuh tahapan sebagai berikut (Mustopadidjaja,
2002):
1. Pengkajian Persoalan. Tujuannya adalah untuk menemukan dan memahami hakekat persoalan dari
suatu permasalahan dan kemudian merumuskannya dalam hubungan sebab akibat.
2. Penentuan tujuan. Adalah tahapan untuk menentukan tujuan yang hendak dicapai melalui kebijakan
publik yang segera akan diformulasikan.
3. Perumusan Alternatif. Alternatif adalah sejumlah solusi pemecahan masalah yang mungkin
diaplikasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
4. Penyusunan Model. Model adalah penyederhanaan dan kenyataan persoalan yang dihadapi yang
diwujudkan dalam hubungan kausal. Model dapat dibangun dalam berbagai bentuk, misalnya model
skematik, model matematika, model fisik, model simbolik, dan lain-lain.
5. Penentuan kriteria. Analisis kebijakan memerlukan kriteria yang jelas dan konsisten untuk menilai
alternatif kebijakan yang ditawarkan. Kriteria yang dapat dipergunakan antara lain kriteria ekonomi,
hukum, politik, teknis, administrasi, peranserta masyarakat, dan lain-lain.
6. Penilaian Alternatif. Penilaian alternatif dilakukan dengan menggunakan kriteria dengan tujuan untuk
mendapatkan gambaran lebih jauh mengenai tingkat efektivitas dan kelayakan setiap alternatif dalam
pencapaian tujuan.
7. Perumusan Rekomendasi. Rekomendasi disusun berdasarkan hasil penilaian alternatif kebijakan yang
diperkirakan akan dapat mencapai tujuan secara optimal dan dengan kemungkinan dampak yang
sekecil-kecilnya.
William N. Dunn (2000) mengemukakan bahwa analisis kebijakan adalah suatu disiplin ilmu sosial
terapan yang menggunakan berbagai macam metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan
memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan, sehingga dapat dimanfaatkan di tingkat politik
dalam rangka memecahkan masalah-masalah kebijakan. Weimer and Vining, (1998:1): The product of
policy analysis is advice. Specifically, it is advice that inform some public policy decision. Jadi analisis
kebijakan publik lebih merupakan nasehat atau bahan pertimbangan pembuat kebijakan publik yang berisi
tentang masalah yang dihadapi, tugas yang mesti dilakukan oleh organisasi publik berkaitan dengan
masalah tersebut, dan juga berbagai alternatif kebijakan yang mungkin bisa diambil dengan berbagai
penilaiannya berdasarkan tujuan kebijakan.
Analisis kebijakan publik bertujuan memberikan rekomendasi untuk membantu para pembuat kebijakan
dalam upaya memecahkan masalah-masalah publik. Di dalam analisis kebijakan publik terdapat
informasi-informasi berkaitan dengan masalah-masalah publik serta argumen-argumen tentang berbagai
alternatif kebijakan, sebagai bahan pertimbangan atau masukan kepada pihak pembuat kebijakan.
Analisis kebijakan publik berdasarkan kajian kebijakannya dapat dibedakan antara analisis kebijakan
sebelum adanya kebijakan publik tertentu dan sesudah adanya kebijakan publik tertentu. Analisis
kebijakan sebelum adanya kebijakan publik berpijak pada permasalahan publik semata sehingga hasilnya
benar-benar sebuah rekomendasi kebijakan publik yang baru. Keduanya baik analisis kebijakan sebelum
maupun sesudah adanya kebijakan mempunyai tujuan yang sama yakni memberikan rekomendasi
kebijakan kepada penentu kebijakan agar didapat kebijakan yang lebih berkualitas.
Physical distance atau Physical distancing berarti menjaga jarak antar manusia dengan menghindari
pertemuan besar atau kerumunan. Idealnya, seseorang yang menerapkan physical distancing menjaga
jarak dengan orang lain dengan radius enam kaki atau dua meter.
Dengan melakukan physical distancing, kita sebaiknya tidak bepergian ke pusat perbelanjaan, bioskop,
atau stadion olahraga. Physical distancing juga diterapkan dengan membatalkan acara yang dapat menarik
perhatian banyak orang.
Penerapan hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyebaran penyakit. Namun, melakukan
physical distancing atau membatasi jarak fisik bukan berarti tidak melakukan kontak sosial. Dengan
bantuan teknologi, kita masih dapat terhubung dengan orang lain, rekan kerja, hingga belajar dengan
teman-teman kelas melalui pembelajaran daring.