TUGAS 2 PENGANTAR ILMU HUKUM
Nama: Yoseph Mbete Wangge
NIM: 048053484
Soal Tugas 2
Kasus Baiq Nuril
Putusan Nomor 83 PK/[Link]/2019, Mahkamah Agung (MA) telah memutus perkara Baiq Nuril
Maknun yang putusannya menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) atas permohonan
Baiq Nuril yang mengajukan PK ke MA. Kasus Baiq Nuril berawal pada tahun 2012, di mana ia
menjadi guru honorer pada SMA 7 Mataram, bermula dari percakapan telepon dengan Kepala
Sekolahnya yang bercerita soal pengalaman hubungan seksual yang diduga juga mengarah pada
pelecehan seksual secara verbal kepada Baiq Nuril. Karena merasa risih, Baiq Nuril kemudian
merekam pembicaraan tersebut dan rekaman itu akhirnya diketahui orang lain. Kemudian Kepala
Sekolah dimaksud melaporkan sebagai kasus pelanggaran terhadap UU Informasi dan Transaksi
Elektronik (ITE).
Ditolaknya permohonan PK Baiq Nuril, berdampak bahwa putusan kasasi MA yang menghukum
Baiq Nuril dinyatakan berlaku. Sebagaimana putusan tingkat Kasasi bulan September 2018
memutus Baiq Nurul Maknun bersalah dan diganjar hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp. 500
juta, karena dianggap melanggar UU ITE, Pasal 27 ayat (1) dan (3) jo Pasal 45 ayat 1 Undang-
Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), walaupun
sebelumnya Pengadilan Negeri Mataram, dalam sidang putusan tertanggal 26 Juli 2017,
menyatakan Baiq Nuril tidak bersalah dan divonis bebas.
Sumber : [Link]
antara-amnesti-dan-ketiadaan-mekanisme-menemukan-hukum-yang-adil
Soal :
1. Uraikan oleh saudara berdasarkan kasus di atas, Sistem hukum manakah yang dianut oleh
Indonesia dan apakah sistem hukum tersebut masih relevan diberlakukan di Indonesia?
2. Ada dua sistem hukum yang berlaku di dunia, apakah dimungkinkan kedua sistem hukum
tersebut diberlakukan di Indonesia secara bersamaan? Berikan pendapat saudara disertai dengan
contohnya.
[Link] kasus di atas menunjukkan bahwa hukum telematika saat ini mulai terus
berkembang seiring perkembangan zaman. Berikan pendapat saudara mengenai perkembangan
hukum telematika dan implementasi UU ITE apakah kasus Baiq Nuril memang termasuk
pelanggaran UU ITE? Jelaskan!
Jawab:
1. Sistem hukum Indonesia sebagai perpaduan beberapa sistem hukum yang sudah ada,
seperti hukum adat, hukum agama, dan hukum Eropa. Dalam hal ini sistem hukum Eropa
bisa masuk Indonesia sebagian besar dari Belanda karena sudah menjajah Indonesia
dalam waktu yang cukup lama. Selain dari hukum Eropa, sistem hukum di Indonesia juga
terbentuk dari hukum adat yang sudah berlaku pada suatu lingkungan masyarakat. Hal ini
dapat terjadi karena di Indonesia itu sendiri pada masa itu terdapat banyak sekali
kerajaan, seperti kerajaan yang bercorak Hindu, Budha, dan Islam. Dengan adanya
berbagai macam kerajaan itu, maka terciptalah hukum adat yang sudah berlaku. Tidak
hanya itu, Indonesia juga menganut hukum agama dalam menjaga persatuan dan kesatuan
masyarakat Indonesia. Dengan adanya hukum agama ini, maka dapat menciptakan
kerukunan dan kedamaian antar masyarakat.
Sebagai penganut sistem hukum Eropa Kontinental yang dinamakan juga
sebagai sistem Civil Law, sistem Rechtaat atau sistem Romawi Jerman seperti yang telah
dijelaskan diatas bahwa sistem hukum ini terbawa dari sistem hukum Belanda yang telah
menjajah idonesia selama 360 tahun. Sistem hukum ini juga dianut oleh banyak negara
bekas jajahan Belanda. Mengenai relevansi sistem hukum ini untuk tetap diberlakukan di
Indonesia, sistem hukum ini menurut saya masih sangat relevan untuk dianut oleh bangsa
Indonesia. Mengacu pada contoh kasus diatas, persoalannya bukan terletak pada sistem
hukum Eropa Kontinental namun pada penegak hukum yang menjalankan sistem hukum
tersebut dalam hal ini hakim. Hakim harus lebih jelih dan cerdas dalam mengadili kasus
ini. Perlu juga peningkatan kecakapan dan kemampuan hakin dalam mengadili suatu
perkara termasuk kasus yang menimpah Baiq Nuril. Selain kapasitas hakim, hal lain yang
perlu menjadi perhatian agar kasus Baiq Nuril tidak terjadi lagi di tempat lain
adalah menyempurnakan formulasi Undang-undang agar tidak mencederai prinsip
keadilan.
2. Secara umum dikenal dua sistem hukum besar, yaitu sistem hukum Eropa Kontinental
dan sistem hukum Anglo Saxon. Perbedaan utama dari kedua sistem hukum tersebut
terletak pada sumber hukum. Sistem hukum Eropa Kontinental menempatkan peraturan
perundang-undangan sebagai sumber utama, sedangkan sistem Anglo Saxon
menempatkan putusan hakim sebagai sumber hukum utamanya. Dalam
perkembangannya, perbedaan tersebut menjadi tidak terlalu fundamental karena Negara
yang menganut sistem Eropa Kontinental mulai menggunakan putusan hakim sebagai
sumber hukum. Demikian pula sebaliknya.
Apakah dimungkinkan kedua sistem hukum tersebut diberlakukan di Indonesia
secara bersamaan? Mungkin saja karena tidak ada larangan suatu negara menggunakan
dua sistem hukum sekaligus. Di Indonesia sendiri berlaku tiga sistem hukum, yaitu sistem
hukum adat, sistem hukum Eropa Kontinental, dan sistem hukum Islam. Dalam
penerapan dua sistem hukum yaitu sistem hukum Eropa Kontinental dan sistem hukum
Anglo Saxon perlu adanya pembagian yang jelas dalam penerapannya dalam jenis-jenis
hukum seperti untuk kaidah-kaidah Hukum Tata Negara, Pajak, Hukum Acara
menggunakan sistem hukum Anglo Saxon. Sedangkan sistem Eropa Kontinental
diterapkan pada hukum yang mengatur hubungan keluarga, property, kontrak dan Hukum
Pidana.
3. Hasil konvergensi di bidang telematika salah satunya adalah aktivitas dalam dunia siber
yang telah berimplikasi luas pada seluruh aspek kehidupan. Persoalan yang muncul
adalah bagaimana untuk penggunaannya tidak terjadi singgungan-singgungan yang
menimbulkan persoalan hukum. Pastinya ini tidak mungkin, karena pada kenyataannya
kegiatan siber tidak lagi sesederhana itu. Meskipun secara nyata kita merasakan semua
kemudahan dan manfaat atas hasil konvergensi itu, namun bukan hal yang mustahil
dalam berbagai penggunaannya terdapat berbagai permasalahan hukum. Hal itu dirasakan
dengan adanya berbagai penggunaan yang menyimpang atas berbagai bentuk teknologi
informasi, sehingga dapat dikatakan bahwa teknologi informasi digunakan sebagai alat
untuk melakukan kejahatan, atau sebaliknya pengguna teknologi informasi dijadikan
sasaran kejahatan. Pesatnya perkembangan teknologi digital yang hingga pada akhirnya
menyulitkan pemisahan teknologi informasi, baik antara telekomunikasi, penyiaran dan
teknologi informasi merupakan dinamika konvergensi. Pendekatan keamanan informasi
harus dilakukan secara holistik, karena itu terdapat tiga pendekatan untuk
mempertahankan keamanan di dunia maya, pertama adalah pendekatan teknologi, kedua
pendekatan sosial budaya-etika, dan ketiga pendekatan hukum. Satu langkah yang
dianggap penting untuk menanggulangi itu adalah telah diwujudkannya rambu-rambu
hukum yang tertuang dalam Undang-undang Transaksi dan Informasi Elektronik (UU
No. 11 Tahun 2008 yang disebut sebagai UU ITE).
UU ITE bukan merupakan produk yang sempurna, ada banyak kritik tentang UU ini.
Beberapa kritik tersebut menyangkut kepada : pertama, apakah transaksaksi dapat
berjalan, karena banyak persoalan teknis yang harus disiapkan khususnya menyangkut
pada transaksi dan penyelenggaraan sistem elektronik; kedua, masalah berkaitan dengan
hak asasi manusia dalam menyampaikan pendapat; dan ketiga, masalah ketentuan sanksi
(pidana), yang dianggap terlalu berlebihan dan memberatkan. Masalah ini perlu kita
perhatikan karena implementasi peraturan (hukum) setidaknya harus dapat memberikan
kepastian, kemanfaatan, dan keadilan bagi masyarakat.
Dalam kasus diatas Baiq Nuril didakwa dengan Pasal 27 ayat (1) UU ITE. Pasal tersebut
memuat rumusan tidak jelas terkait batasan unsur “melanggar kesusilaan”. Selain itu,
unsur “mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik” kendati telah dirumuskan harus
dalam sistem elektronik, dalam implementasinya, putusan pengadilan di tingkat
Mahkamah Agung sekalipun masih menginterpreasikan unsur tersebut secara luas dan
multitafsir, yang berdampak pada terjadinya kriminalisasi. Pada Pasal 27 ayat (3) UU ITE
juga memuat ketentuan pidana tentang penghinaan dalam sistem elektronik, yang dalam
penjelasan dimuat bahwa pasal ini merujuk pada ketentuan KUHP. Namun, UU ITE
gagal menjelaskan rujukkan pasal KUHP tersebut. Hal ini disebabkan KUHP mengatur
tingkatan tindak pidana mulai dari “penghinaan ringan”, “menyerang kehormatan orang”
sampai dengan “fitnah”. Hal ini menjadi alasan bahwa harus dilakukan revisi UU ITE,
pembaruan hukum acara pidana, hingga evaluasi berkala aparat penegak hukum untuk
menjamin terlindungannya korban kekerasan seksual dalam sistem peradilan pidana.
Referensi: - [Link]
nuril-lt5d450ebc3868e/?page=2
- [Link]