LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEBIDANAN KEGAWATDARURATAN NEONATAL
DENGAN ASFIKSI SEDANG DAN BBLR
Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktek Kebidanan
Kegawatdaruratan Maternal Neonatal
Semester II Profesi Bidan
Oleh :
TARIS NUR ADZHANI
NIM. P1337424823053
PEMBIMBING INSTITUSI
Sri Setiasih, SsiT, Bdn, M. Kes
PROGRAM STUDI PROFESI BIDAN JURUSAN KEBIDANAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2024
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan Kegawatdaruratan Maternal Neonatal di RS DR. [Link], telah
disahkan oleh pembimbing pada:
Hari :
Tanggal :
Dalam Rangka Praktik Klinik Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal Neonatal yang
telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing klinik dan pembimbing institusi Prodi Profesi
Kebidanan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang
Tahun 2024.
Semarang, Maret 2024
Pembimbing Klinik Mahasiswa
Aprillia Widyastuti, [Link].,Ns Taris Nur Adzhani
NIP. 198604222009031005 NIM. P1337424823053
Pembimbing Institusi
Sri Setiasih, SsiT, Bdn, M. Kes
NIP. 196909131989032005
TINJAUAN TEORI
A. Tinjauan Teori Medis
1. Kegawatdaruratan Neonatal
Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi
dan manajemen yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis (≤usia 28
hari) membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenali perubahan psikologis
dan kondisi patologis yang mengancam jiwa yang bisa saja timbul sewaktu-
waktu (Setyarini dan Suprapti, 2016).
Beberapa faktor berikut dapat menyebabkan kegawatdaruratan pada
neonatus. Faktor tersebut antara lain, faktor kehamilan yaitu kehamilan
kurang bulan, kehamilan dengan penyakit DM, kehamilan dengan gawat
janin, kehamilan dengan penyakit kronis ibu, kehamilan dengan pertumbuhan
janin terhambat dan infertilitas. Faktor lain adalah faktor pada saat persalinan
yaitu persalinan dengan infeksi intrapartum dan persalinan dengan
penggunaan obat sedative. Sedangkan faktor bayi yang menyebabkan
kegawatdaruratan neonatus adalah Skor apgar yang rendah, BBLR, bayi
kurang bulan, berat lahir lebih dari 4000 gr, cacat bawaan, dan frekuensi
pernafasan dengan 2x observasi lebih dari 60/menit (Setyarini dan Suprapti,
2016).
2. Asfiksia Neonatal
a. Definisi Asfiksia
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bayi bernapas spontan dan
teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai
dengan hipoksemia, hiperkarbia, dan asidosis (Menkes RI, 2019).
Asfiksia merupakan keadaan bayi tidak bernafas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disebabkan karena
hipoksia janin dalam uterus dan berhubungan dengan faktor –faktor yang
timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir
(Wiknjosastro, 2016).
b. Etiologi dan faktor resiko asfiksia
Asfiksia dapat terjadi selama kehamilan, pada proses persalinan,
atau sesaat segera setelah lahir. Beberapa faktor risiko yang diperkirakan
meningkatkan risiko asfiksia meliputi faktor ibu (antepartum atau
intrapartum) dan faktor janin (antenatal atau pascanatal) (Menkes RI,
2019).
Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi
karena gangguan pertukaran gas serta transport O2 dari ibu ke janin
sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam
menghilangkan CO2. Gangguan ini dapat berlangsung secara menahun
akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan atau secara
mendadak karena hal–hal yang diderita ibu dalam persalinan
(Wiknjosastro, 2016).
Menurut Sa'danoer, I.M., (2020) faktor risiko asfiksia neonatorum
antara lain :
1) Faktor Ibu
a) Antepartum
(1) Sosio ekonomi rendah
(2) Primipara
(3) Kehamilan ganda
(4) Pre eklamsia dan eklampsia
Preeklampsia dalam kehamilan pada ibu meningkatkan resiko
terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir (Indah dan Aprilia,
2016).
(5) Infeksi saat kehamilan
(6) Hipertensi dalam kehamilan
(7) Anemia
(8) Diabetes miletus
(9) Perdarahan antepartum
(10) Riwayat kematian bayi sebelumnya
(11) Kehamilan post matur
Irianto (2017) dalam Batubara dan Fauziah (2020), Persalinan
postterm menunjukkan kehamilan berlangsung sampai 42
minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid
terakhir menurut rumus Naigele dengan siklus haid rata-rata 28
hari. Kehamilan lewat bulan adalah kehamilan yang
berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung
dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naigele dengan
siklus haid rata-rata 28 hari. Dalam penelitian Batubara dan
Fauziah(2020), dinyatakan postdate mempunyai peluang
berpengaruh sebesar 5.836 kali lipat bayi akan mengalami
asfiksia.
b) Intrapartum
(1) Penggunaan anestesi atau opiat
(2) Partus lama
Partus lama adalah persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam
pada primigravida dan atau 18 jam pada multigravida
(Ardyana, D. and Sari, E.P., 2019).
(3) Persalinan sulit dan traumatic
(4) Meconium dalam ketuban
(5) Ketuban pecah dini
(6) Induksi oksitosin
(7) Kompresi tali pusat
(8) Prolapse tali pusat
(9) Trauma lahir
2) Fator Janin
a) Antental (intrauterine)
(1) Malpresentasi (sungsang, distosia bahu)
(2) Prematuritas
(3) Bayi berat lahir rendah (BBLR)
(4) Pertumbuhan janin terhambat (PJT)
(5) Anomali kongenital
(6) Pneumonia intrauterine
(7) Aspirasi mekonium yang berat
b) Pascanatal
(1) Sumbatan jalan napas atas
(2) Sepsis kongenital
3) Faktor Tali Pusat ( Ardyana, D. and Sari, E.P., 2019)
a) Lilitan Tali Pusat
b) Tali Pusat Pendek
c) Simpul Tali Pusat
d) Prolapsus Tali Pusat
e) Hematom plasenta
f) Infark plasenta
c. Patofisiologi asfiksia
Pada awal proses kelahiran, setiap bayi akan mengalami
hipoksia relative dan akan terjadi adaptasi akibat aktivitas bernapas dan
menangis. Apabila proses adaptasi terganggu, maka bayi dapat dikatakan
mengalami asfiksia yang berefek pada gangguan sistem organ vital
seperti jantung, ginjal, paru–paru dan otak yang mengakibatkan
kematian (Manuaba, 2012).
Dalam Maryunani dan Puspita (2013), patofisiologi asfiksia
neonatorum, dapat dijelaskan dalam dua tahap yaitu dengan mengetahui
cara bayi memperoleh oksigen sebelum dan setelah lahir, dan dengan
mengetahui reaksi bayi terhadap kesulitan selama masa transisi normal,
yang dijelaskan sebagai berikut :
1) Cara bayi memperoleh oksigen sebelum dan setelah lahir :
a) Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen
atau jalan untuk mengeluarkan karbondioksida.
(1) Pembuluh arteriol yang ada di dalam paru janin dalam keadaan
konstriksi sehingga tekanan oksigen (pO2) parsial rendah.
(2) Hampir seluruh darah dari jantung kanan tidak dapat melalui
paru karena konstriksi pembuluh darah janin, sehingga darah
dialirkan melalui pembuluh yang bertekanan lebih rendah yaitu
duktus arteriosus kemudian masuk ke aorta (Khoiriah, A. and
Pratiwi, T., 2019).
b) Setelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru-paru sebagai
sumber utama oksigen.
(1) Cairan yang mengisi alveoli akan diserap ke dalam jaringan
paru, dan alveoli akan berisi udara.
(2) Pengisian alveoli oleh udara akan memungkinkan oksigen
mengalir kedalam pembuluh darah disekitar alveoli.
c) Arteri dan vena umbikalis akan menutup sehingga menurunkan
tahanan pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah
sistemik. Akibat tekanan udara dan peningkatan kadar oksigen di
alveoli, pembuluh darah paru akan mengalami relaksasi sehingga
tahanan terhadap aliran darah berkurang.
d) Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah
sistemik, menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih
rendah dibandingkan tekanan sistemik sehingga aliran darah paru
meningkat sedangkan aliran pada duktus arteriosus menurun.
(1) Oksigen yang diabsorbsi di alveoli oleh pembuluh darah di
vena pulmonalis dan darah yang banyak mengandung oksigen
kembali ke bagian jantung kiri, kemudian dipompakan ke
seluruh tubuh bayi baru lahir.
(2) Pada kebanyakan keadaan, udara menyediakan oksigen (21%)
untuk menginisiasi relaksasi pembuluh darah paru.
(3) Pada saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru
mengalami relaksasi, duktus arteriosus mulai menyempit.
(4) Darah yang sebelumnya melalui duktus arteriosus sekarang
melalui paru-paru, akan mengambil banyak oksigen untuk
dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.
e) Pada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan
menggunakan paru-parunya untuk mendapatkan oksigen.
(1) Tangisan pertama dan tarikan nafas yang dalam akan
mendorong cairan dari jalan nafasnya.
(2) Oksigen dan pengembangan paru merupakan rangsang utama
relaksasi pembuluh darah paru.
(3) Pada saat oksigen masuk adekuat dalam pembuluh darah,
warna kulit bayi akan berubah dari abu-abu/biru menjadi
kemerahan.
2) Reaksi bayi terhadap kesulitan selama masa transisi normal :
a) Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara ke
dalam paru-parunya.
(1) Hal ini mengakibatkan cairan paru keluar dari alveoli ke
jaringan insterstitial di paru sehingga oksigen dapat
dihantarkan ke arteriol pulmonal dan menyebabkan arteriol
berelaksasi.
(2) Jika keadaan ini terganggu maka arteriol pulmonal akan tetap
kontriksi, alveoli tetap terisi cairan dan pembuluh darah arteri
sistemik tidak mendapat oksigen.
b) Pada saat pasokan oksigen berkurang, akan terjadi kontriksi
arteriol pada organ seperti usus, ginjal, otot dan kulit, namun
demikian aliran darah ke jantung dan otak tetap stabil atau
meningkat untuk mempertahankan pasokan oksigen.
(1) Penyesuaian distribusi aliran darah akan menolong
kelangsungan fungsi organ-organ vital.
(2) Walaupun demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus
maka terjadi kegagalan peningkatan curah jantung, penurunan
tekanan darah, yang mengakibatkan aliran darah ke seluruh
organ berkurang (Mardalena, H. 2021)
c) Sebagai akibat dari kekurangan perfusi oksigen dan oksigenasi
jaringan, akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang
irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau kematian.
(1) Keadaan bayi yang membahayakan akan memperlihatkan satu
atau lebih tanda-tanda klinis.
(2) Tanda-tanda tonus otot tersebut seperti :
(a) Tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak,
otot dan organ lain: depresi pernafasan karena otak
kekurangan oksigen.
(b) Brakikardia (penurunan frekuensi jantung) karena
kekurangan oksigen pada otot jantung atau sel otak
(c) Tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada
otot jantung, kehilangan darah atau kekurangan aliran
darah yang kembali ke plasenta sebelum dan selama proses
persalinan.
(d) Takipnue (pernafasan cepat) karena kegagalan absorbsi
cairan paru-paru dan sianosis karena kekurangan oksigen di
dalam darah (Khoiriah, A. and Pratiwi, T., 2019).
Dalam Mutiara, A (2019) penafasan spontan BBL tergantung pada
kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila terdapat gangguan
pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan atau persalinan
akan terjadi asfiksia yang berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi
sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian asfiksia yang
terjadi dimulai suatu periode apnu disertai dengan penurunan frekuensi.
Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas tidak tampak dan bayi
selanjutnya berada pada periode apnu kedua. Pada tingkat ini terjadi
brakikardi dan penurunan tekanan darah. Pada asfiksia terjadi pula
gangguan metabolisme dan penurunan keseimbangan asam-basa pada
tubuh bayi. Pada tingkat pertama hanya terjadi asidosis respiratorik. Bila
berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an aerobic
yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga glikogen tubuh terutama
pada jantung dan hati akan berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan
terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan oleh beberapa keadaan
diantaranya :
1) Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi
jantung.
2) Terjadinya asidosis metabolik yang akan menimbulkan kelemahan otot
jantung.
3) Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan
tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi
darah ke paru dan ke sistem sirkulasi tubuh lain akan mengalami
gangguan.
4) Gejala dan Tanda-tanda Asfiksia :
a) Tidak bernafas atau nafas mega-megap
b) Warna kulit kebiruan
c) Kejang
d) Penurunan kesadaran
e) DJJ lebih dari 100x/menit atau kurang dari 100x/menit tidak
teratur
f) Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala (Ardyana, D.
and Sari, E.P., 2019)
d. Klasifikasi Asfiksia
Penilaian APGAR Skor (Batubara, A.R. and Fauziah, N., 2020)
Tanda/Klinis 0 1 2
A Appeareance Biru Pucat Akrosianosis Seluruhnya
(Warna Kulit) kemerahan
P Pulse Tidak ada <100x/menit >100x/menit
(Denyut jantung)
G Grimace Tidak ada Sedikit / Menangis/
(Reflek respon menyeringai aktif
rangsangan)
A Activity Lemas Sedikit Gerak aktif
(Tonus Otot) fleksi
R Respiration Tidak ada Menangis Baik,
(Pernafasan) lemah, tidak menangis
teratur
Nilai APGAR :
Nilai 0-3 : Asfiksia Berat
Nilai 4-6 : Asfiksia
Sedang Nilai 7-10 : Normal
Menurut Batubara, A.R. and Fauziah, N., (2020) klasifikasi asfiksia terdiri
dari :
1) Bayi normal atau tidak asfiksia : Skor APGAR 8-10. Bayi normal
tidak memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen secara terkendali.
2) Asfiksia Ringan : Skor APGAR 5-7. Bayi dianggap sehat, dan tidak
memerlukan tindakan istimewa, tidak memerlukan pemberian oksigen
dan tindakan resusitasi.
3) Asfiksia Sedang : Skor APGAR 3-4. Pada Pemeriksaan fisik akan
terlihat frekuensi jantung lebih dari 100 kali/menit, tonus otot kurang
baik atau baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada dan memerlukan
tindakan resusitasi serta pemberian oksigen sampai bayi dapat
bernafas normal.
4) Asfiksia Berat : Skor APGAR 0-3. Memerlukan resusitasi segera
secara aktif dan pemberian oksigen terkendali, karena selalu disertai
asidosis, maka perlu diberikan natrikus dikalbonas 7,5% dengan dosis
2,4 ml/kg berat badan, dan cairan glukosa 40% 1- 2 ml/kg berat badan,
diberikan lewat vena umbilikus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
frekuensi jantung kurang dari 100 kali/menit, tonus otot buruk,
sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, refleks iritabilitas tidak ada.
e. Diagnosis
Menurut Sa'danoer, I.M., (2020), Asfiksia yang terjadi pada bayi
biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia/hipoksia janin. Diagnosis
anoksia/hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan
ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat
perhatian yaitu:
1) Denyut jantung janin : frekuensi normal ialah antara 120 dan 160
denyutan semenit. Apabila frekuensi denyutan turun sampai di bawah
100 permenit di luar his dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu
merupakan tanda bahaya.
2) Mekonium dalam air ketuban : adanya mekonium pada presentasi
kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan gawat janin,
karena terjadi rangsangan nervus X, sehingga pristaltik usus
meningkat dan sfingter ani terbuka. Adanya mekonium dalam air
ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk
mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
3) Pemeriksaan Ph darah janin : adanya asidosis menyebabkan turunnya
PH. Apabila PH itu turun sampai bawah 7,2 hal ini dianggap sebagai
tanda bahaya.
Menurut Mardalena, H (2021) untuk menegakkan diagnosis, dapat
dilakukan dengan berbagai cara dan pemeriksaan berikut ini:
1) Anamnesis : anamnesis diarahkan untuk mencari faktor resiko
terhadap terjadinya asfiksia neonatorium.
2) Pemeriksaan fisik : memperhatikan apakah terdapat tanda-tanda
berikut atau tidak, antara lain:
a) Bayi tidak bernafas atau menangis
b) Denyut jantung kurang dari 100x/menit
c) Tonus otot menurun
d) Bisa didapatkan cairan ketuban ibu bercampur mekonium, atau
sisa mekonium pada tubuh bayi
e) BBLR
3) Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : hasil analisis gas darah tali pusat menunjukkan hasil
asidosis pada darah tali pusat jika:
a) PaO2 < 50 mm H2o
b) PaCO2 > 55 mm H2
c) pH < 7,30
f. Komplikasi
Dalam Maryunani dan Puspita (2013), Asfiksia neonatorum dapat
menyebabkan komplikasi pasca hipoksia, yang dijelaskan menurut
beberapa pakar antara lain berikut ini:
1) Pada keadaan hipoksia akut akan terjadi redistribusi aliran darah
sehingga organ vital seperti otak, jantung, dan kelenjar adrenal akan
mendapatkan aliran yang lebih banyak dibandingkan organ lain.
Perubahan dan redistribusi aliran terjadi karena penurunan resistensi
vascular pembuluh darah otak dan jantung serta meningkatnya
asistensi vascular di perifer.
2) Faktor lain yang dianggap turut pula mengatur redistribusi vascular
antara lain timbulnya rangsangan vasodilatasi serebral akibat hipoksia
yang disertai saraf simpatis dan adanya aktivitas kemoreseptor yang
diikuti pelepasan vasopressin.
3) Pada hipoksia yang berkelanjutan, kekurangan oksigen untuk
menghasilkan energi bagi metabolisme tubuh menyebabkan terjadinya
proses glikolisis an aerobik. Produk sampingan proses tersebut (asam
laktat dan piruverat) menimbulkan peningkatan asam organik tubuh
yang berakibat menurunnya pH darah sehingga terjadilah asidosis
metabolic. Perubahan sirkulasi dan metabolisme ini secara bersama-
sama akan menyebabkan kerusakan sel baik sementara ataupun
menetap Manuaba, I. B. G. (2012).
Rahayu, S.P (2019), komplikasi meliputi berbagai organ yaitu:
1) Otak : Hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsiserebralis
2) Jantung dan Paru : Hipertensi pulmonal persisten pada neonatus,
perdarahan paru, edema paru
3) Grastrointestinal : Enterokolitis nekrotikan
4) Ginjal : Tubular nekrosis akut, siadh
5) Hematologi : DIC
Vera dan Amir (2013) dalam Kusuma (2019), kejadian asfiksia yang
berlangsung lama dapat menimbulkan gangguan fungsi multi organ
diantaranya gangguan pada otak berupa perdarahan otak, kerusakan otak,
dan keterlambatan tumbuh kembang. Asfiksia juga dapat menimbulkan
cacat seumur hidup seperti buta, tuli, cacat otak dan kematian. Dampak
asfiksia pada sistem susunan saraf yaitu terjadinya ensefalopati hipoksia
iskemia. Gejala klinis biasanya terjadi 12 jam setelah asfiksia berat
meliputi stupor, sampai koma, pernafasan periodik, oliguria, hipototonus,
tidak ada refleks komplek seperti moro dan hisap. Kejang tonik klonik
atau multifokal terjadi antara 12-24 jam kemudian. Bila berlanjut dapat
menyebabkan koma, apnoe lama dan mati batang otak pada 24-72 jam
kemudian
g. Resusitasi Bayi Baru Lahir
Adalah suatu intervensi yang dilangsungkan saat lahir untuk menyokong
penetapan pernafasan dan sirkulasi bayi baru lahir ( Yulianti, N.T., 2021).
h. Persiapan Tim Resusitasi
1) Penolong pertama
yaitu pemimpin resusitasi, memposisikan diri di sisi atas kepala bayi
(posisi A). Pemimpin diharapkan memiliki pengetahuan dan
kemampuan resusitasi yang palinglengkap, dapat mengkoordinir tugas
anggota tim, serta mempunyai tanggung jawab utama terkait jalan
napas (airway) dan pernapasan (breathing). Penolong pertama
bertugas menangkap dan meletakkan bayi di penghangat bayi,
menyeka muka bayi, memasangkan topi, mengeringkan bayi,
memakaikan plastik, serta memantau dan melakukan intervensi pada
ventilasi (memperhatikan pengembangan dada bayi, melakukan VTP,
memasang continuous positive airway pressure (CPAP), dan intubasi
bila diperlukan) (Murniati, L. 2021)
2) Penolong kedua
yaitu asisten sirkulasi (circulation). Asisten sirkulasi mengambil posisi
di sisi kiri bayi (posisi B) dan bertanggung jawab memantau sirkulasi
bayi. Penolong bertugas membantu mengeringkan bayi, mengganti
kain bayi yang basah, mendengarkan LJ bayi sebelum pulseoxymetri
mulai terbaca, mengatur peak inspiratorypressure / tekanan puncak
inspirasi (PIP) dan fraksioksigen (FiO2), melakukan kompresi dada,
dan memasang kateter umbilikal. Selain itu, penolong kedua
menentukan baik-buruknya sirkulasi bayi dengan menilai denyut arteri
radialis, akral, dan capillary refill time bayi (Yulianti, N.T., 2021).
3) Penolong ketiga
yaitu asisten obat dan peralatan (medication andequipment). Asisten
peralatan dan obat berdiri di sisi kanan bayi (posisi C), bertugas
menyiapkan suhu ruangan 24-26°C, memasang pulse oxymetri,
memasang probesuhu dan mengatur agar suhu bayi mencapai suhu
36,5-37°C, menyalakan tombol pencatat waktu, memasang monitor
saturasi, menyiapkan peralatan dan obat-obatan, memasang infus
perifer bila diperlukan serta menyiapkan inkubator transpor yang telah
dihangatkan (Menkes RI, 2019).
i. Persiapan Peralatan Resusitasi
Dalam Sutjipto, F.I (2022), dijelaskan perlengkapan resusitasi antara lain :
1) Penghangat / (Warmer)
a) Kain pengering dan topi
b) Handuk hangat/pembungkus
c) Kantung plastic untuk neonates <1500 gram
d) Penghangat kepala (overhead heater) atau Infant Warmer
Gambar 1. Infant warmer dengan overhead heater
2) Peralatan tata laksana jalan napas (Airway)
a) Suction dengan tekanan negative (tidak boleh melebihi 100
mmHg) / mucus extractor/ dee lee
b) Kateter suction (ukuran 5,6,8,10,12,14-French)
c) Aspirator meconium
Gambar 2. Suction unit, Kateter suction, Mekonium aspirator
3) Peralatan tata laksanan Ventilasi (Breathing)
a) Self Inflating Bag / Balon mengembang sendiri (BMS)
b) T-piece resuscitator (Neo-puff, Mixsafe)
c) Sungkup wajah
d) Sungkup laring (Laryngeal Mask Airway / LMA), LMA dapat
digunakan bila pemberian VTP dengan BMS gagal dan penolong
gagal melakukan pemasangan Endotracheal tube (ETT)
e) Peralatan Intubasi (Laringoskop dengan blade, pipa endotrakeal/
ETT) (Imanadhia, A. and Yanika, G., 2022)
Gambar. BMS, Neopuff, mixsafe
Gambar LMA, Laringoskop, ETT
4) Peralatan tata laksana sirkulasi (circulation), yaitu : kateter umbilikal
ukuran 3,5 dan 5-French atau pada fasilitas terbatas dapat
dipergunakan pipa orogastrik /orogastric tube (OGT) ukuran 5-French
beserta setumbilikal steril, dan three way stopcocks
5) Obat–obatan resusitasi, seperti : epinefrin (1:10.000), nalokson
hidroklorida (1 mg/mL atau 0,4 mg/mL), dan cairan pengganti
volume/volume expander (NaCl 0,9% dan ringer laktat).
6) Pulse oxymetri
7) Stetoskop
8) Oksigen (Sutjipto, F.I. and Iskandar, A.T.P., 2022)
Gambar 4. Oksigen konsentrator, Tabung Oksigen
j. Penatalaksanaan Asfiksia yaitu :
1) Penilaian (Menkes RI, 2019)
Komponen utama yang wajib dinilai saat awal yaitu pernapasan, tonus
otot dan laju denyut jantung.
a) Pernapasan, merupakan komponen terpenting dalam menilai
kondisi bayi saat lahir. Pernapasan yang teratur merupakan tanda
keberhasilan bayi melakukan adaptasi dari kehidupan intrauterin
ke ekstrauterin. Bayi yang lahir dalam keadaan asfiksia dapat
mengalami apnue atau pernapasan megap-megap, namun dapat
pula bernapas spontan disertai tanda gawat napas atau mengalami
sianosis persisten. Tanda gawat napas meliputi napascuping
hidung, retraksi dinding dada, atau suara merintih. Tanda klinis ini
menunjukkan bayi mengalami kesulitan untuk mengembangkan
paru. Sianosis persisten (dengan FiO2 100%) juga dapat
disebabkan oleh kelainan di luar paru. Keadaan yang berbeda
tersebut membutuhkan tata laksana ventilasi yang berbeda pula
(Imanadhia, A. and Yanika, G., 2022).
b) Tonus dan respons terhadap stimulasi. Bayi asfiksia memiliki
tonus otot yang lemah dan gerakan otot terbatas, sehingga
memerlukan berbagai stimulasi ringan. Stimulasi termal dengan
mengeringkan bayi dan stimulasi mekanik dengan menepuk
telapak kaki bayi akan membantu merangsang pernapasan bayi
serta meningkatkan LJ. Rangsangan berlebihan seperti memukul
bokong dan pipi tidak perlu dilakukan karena dapat mencederai
bayi. Bila bayi tidak memperlihatkan respons perbaikan terhadap
stimulasi ringan maka langkah selanjutnya dalam resusitasi harus
dilakukan (Imanadhia, A. and Yanika, G., 2022).
c) Laju jantung (LJ), berkisar antara 100-160 kali permenit. Penilaian
LJ dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu meraba denyut
nadi perifer atau sentral, meraba denyut pembuluh darah
umbilikus, mendengarkan LJ dengan stetoskop atau dengan
menggunakan pulse oxymetri. Penggunaan pulse oxymetri
dianggap paling akurat untuk menilai LJ. Namun, fungsi pulse
oxymetri sangat dipengaruhi oleh cardiac output dan perfusi
jaringan. Bila LJ sangat lemah dan perfusi jaringan sangat buruk,
pulseoxymetri tidak dapat berfungsi dengan baik. Pada kasus ini,
pemantauan LJ lebih baik dilakukan dengan monitor EKG. Bila LJ
menetap <100 kali per menit, oksigenasi jaringan akan menurun
sehingga mengakibatka( Sutjipto, F.I. and Iskandar, A.T.P., 2022).
d) Oksigenasi jaringan, dinilai menggunakan pulse oxymetri.
Penilaian dengan pulse oxymetri cenderung lebih akurat
dibandingkan berdasarkan warna kulit. Penggunaan pulse oxymetri
sangat direkomendasikan jika terdapat antisipasi resusitasi, VTP
diperlukan lebih dari beberapa kali pompa, sianosis menetap
dengan intervensi, dan bayi mendapat suplementasi oksigen.
Pemantauan ini diperlukan agar oksigen yang diberikan tidak
berlebihan dan membahayakan bayi. Sensor pulse oxymetri
sebaiknya dipasang pada lokasi preduktal (pergelangan atau
telapak tangan kanan) untuk mencegah pengaruh shunting selama
periode transisi sirkulasi bayi. Pembacaan saturasi oksigen
umumnya dapat dilakukan mulai dari 90 detik setelah bayi lahir,
namun perlu diingat bahwa nilai saturasi oksigen tidak dapat
dipercaya pada curah jantung (cardiac output) dan perfusi kulit
yang buruk. Saturasi normal saat lahir bervariasi tergantung pada
usia kehamilan bayi. Makin muda usia gestasi makin lama bayi
mencapai target saturasi normal. Berikut ini merupakan target
saturasi oksigen bayi selama resusitasi (Murniati, L. 2021).
e) Nilai Apgar, merupakan penilaian obyektif kondisi bayi baru lahir,
namun tidak digunakan untuk menentukan kebutuhan, langkah,
dan waktu resusitasi pada bayi baru lahir. Nilai Apgar, yang
umumnya ditentukan pada menit ke-1 dan ke-5, merupakan
penilaian respons terhadap resusitasi. Neonatal Resuscitation
Program (NRP), ACOG, dan AAP mengemukakan bila pada
menit ke-5 nilai Apgar ditemukan <7, maka penilaian terhadap
bayi harus dilanjutkan dan diulang setiap 5 menit sampai menit ke-
20 (Murniati, L.,2021).
2) Langkah Awal IDAI, (2014) dalam Imanadhia, A. and Yanika, G.,
(2022) – Airway (diselesaikan dalam waktu ≤ 30 detik)
a) Memberi kehangatan (Hangatkan)
Kondisi hipotermia dapat meningkatkan konsumsi oksigen
yangpada akhirnya dapat mengganggu resusitasi yang efektif.
Pastikan area resusitasi terjaga hangat dengan suhu ruangan sekitar
25 hingga 26°C, meletakkan bayi di bawah radiant warmer dalam
beberapa menit pertama setelah lahir, dan menggunakan
alas/matras penghangat tambahan bila perlu, terutama pada bayi-
bayi kecil. 15 Pasang probe suhu pada bayi dan setel infant warmer
padamode operasional otomatis atau sistem Servo, sehingga infant
warmer akan menyesuaikan suhunya berdasarkan temperatur bayi
yang dinilai dari probe (Imanadhia, A. and Yanika, G., 2022).
Untuk bayi cukup bulan atau usia gestasi mendekati cukup
bulan, keringkan bayi dan ganti kain yang sudah basah dengan
yang kering. Pada bayi dengan usia gestasi kurang dari 28 minggu,
disarankan untuk menaikkan suhu ruangan menjadi 26°C dan
membungkus bayi dengan plastik polietilen setinggi leher sebelum
mengeringkan bayi. Kepala bayi tidak terbungkus dan dikeringkan,
sementara bagian tubuh sisanya terbungkus plastik dan tidak
dikeringkan sebelumnya. Pada bayi dengan berat dibawah 1000
gram disarankan untuk membungkus bayi dengan matras
penghangat (Sutjipto, F.I. and Iskandar, A.T.P., 2022).
b) Membuka jalan napas bayi (Atus Posisi)
Bayi diposisikan dalam keadaan setengah ekstensi agar jalan napas
terbuka.
c) Isap Lendir
Penghisapan trakea hanya dilakukan pada bayi tidak bugar
(depresi napas, tonus otot lemah, denyut jantung di bawah 100 kali
per menit) dengan kecurigaan obstruksi jalan napas. Menghisap
lendir dimulai dari mulut ±5 cm kemudian hidung ± 3 cm.
d) Mengeringkan dan merangsang taktil bayi (Keringkan)
Mengeringkan dan memberi rangsang taktil pada bayi merupakan
tindakan penilaian sekaligus resusitatif yang dapat merangsang
napas.
e) Memposisikan kembali bayi pada posisi setengah ekstensi
Setelah mengeringkan dan menstimulasi bayi, kembalikan posisi
bayi seperti sebelumnya yaitu setengah ekstensi untuk membuka
jalan napas bayi.
f) Menilai kembali upaya napas dan laju denyut jantung bayi
Nilai pernafasan jika nafas spontan lakukan penilaian
denyutjantung selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung
>100x/menit, nilai warna kulit jika merah/sianosis perifer lakukan
observasi, apabila biru beri oksigen. Denyut jantung <100 x/menit,
lakukan ventilasi (Imanadhia, A. and Yanika, G., 2022).
3) Breathing (Ventilasi)
a) Jika pernafasan sulit (megap-megap), denyut jantung <100
x/menit,saturasi berada dibawah target, walaupun telah diberikan
aliran oksigen bebas sampai 100% lakukan ventilasi tekanan
positif,
b) Periksa ulang posisi bayi dan pastikan kepala telah dalam posisi ½
tengadah (sedikit ekstensi)
c) Letakkan sungkup melingkupi dagu, hidung dan mulut sehingga
tebentuk semacam pertautan antara sungkup dan wajah.
d) Lakukan Ventilasi tekanan positif/VTP dengan memberikan O2
melalui neopuff/ ambubag, masker harus menutupi hidung dan
mulut tetapi tidak menutupi mata.
e) Lakukan pengujian pertautan dengan melakukan ventilasi
sebanyak dua kali dengan tekanan 30 cm air dan periksa gerakan
dinding dada (Yulianti, N.T., 2021).
f) Bila pertautan baik (tidak bocor) dan dinding dada mengembang,
maka lakukan ventilasi, jika dada tidak mengembang perbaiki
perlekatan sungkup, posisi bayi, lihat apakah ada lendir, jika ada
hisap lendir.
g) Melakukan VTP 20 kali dengan tekanan 20 cm air selama 30 detik
dengan menggunakan oksigen. Bila bayi mulai bernafas normal
hentikan ventilasi secara bertahap dan pantau kondisi bayi. Bila
bayi belum bernafas lakukan kembali tindakan ventilasi.
h) Menghentikan ventilasi bertahap jika bayi:
(1) Mulai bernafas normal/tidak megap-megap dan atau menangis
kuat maka lakukan asuhan pasca resusitasi
(2) Jika bayi bernafas megap – megap atau tidak bernafas
melanjutkan tindakan ventilasi 20 kali selama 30 detik
(Murniati, L. 2021
4) Circulation (VTP dan Kompresi dada)
Imanadhia, A. and Yanika, G., (2022) menyebutkan, langkah ini
diambil bila setelah dilakukan VTP dan bayi masih megap – megap,
frekuensi jantung ≤60x/menit. Langkah yang dikerjakan adalah :
a) Mempersiapkan petugas 2 orang untuk melakukan VTP dan
kompresi dada
b) Mengatur posisi 1 petugas berada pada posisi di kepala dan 1
petugas berada disamping dekat kepala bayi
c) Melaukan penilaian pada dada dan menempatkan tangan dengan
benar (petugas yang melakukan kompresi dada)
d) Menempatkan sungkup wajah secara efektif dan memantau
gerakan dada
e) Tarik garis khayal diantara dua putting susu, letakkan jari tengah
dan manis di sebelah jari telunjuk pindahkan ketiga jari tersebut ke
tengah sternum, posisi jari tegak, angkat jari telunjuk pertahankan
jari tengah dan jari manis, melakukan kompresi dada dengan
kedalaman ±⅓ diameter antero-posterior dada, lama penekanan
lebih pendek dari lama pelepasan curah jantung maksimum
(Imanadhia, A. and Yanika, G., 2022).
f) Melakukan tindakan VTP dan kompresi dada :
(1) 1 siklus : 3 kompresi dan 1 ventilasi dalam 2 detik (3:1)
(2) Frekuensi : 90 kompresi + 3 ventilasi dalam 1 menit (berarti
120 kegiatan per menit)
(3) Dilakukan dalam 30 detik 15 siklus
Untuk memastikan frekuensi kompresi dada dan ventilasi yang
tepat, penekan menghitung dengan jelas “satu – dua – tiga –
pompa” (Murniati, L. 2021).
g) Lakukan penilaian ventilasi, buat keputusan dan lanjutkan tindakan
(1) Jika bayi bernapas normal dan atau menangis, hentikan
ventilasi kemudian lakukan asuhan pasca resusitasi
(2) Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas lanjutkan tindakan
ventilasi
h) Jika bayi belum bernapas spontan atau megap–megap, lanjutkan
ventilasi 20 kali dalam 30 etik selanjutnya dan lakukan penilaian
ulang tindakan VTP dan kompresi dada, demikian selanjutnya
(1) Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas dan resusitasi telah
lebih dari 2 menit-nilai jantung, siapkan rujukan, lanjutkan
ventilasi
(2) Pada penilaian ulang hasil ventilasi berikutnya, selain penilaian
napas lakukan juga penilaian denyut jantung bayi
(3) Jika bayi tidak bernapas dan tidak ada denyut jantung, ventilasi
tetap dilanjutkan tetapi jika hingga 10 menit kemudian bayi
tetap tidak bernapas dan denyut jantung tetap tidak ada,
pertimbangkan untuk menghentikan resusitasi (Yulianti, N.T.,
2021).
5) Drugs (Pemberian obat dan cairan pengganti volume)
Tim resusitasi perlu mempertimbangkan pemberian obat – obatan bila
LJ <60 kali per menit setelah pemberian VTP dengan oksigen 100%
dan kompresi dada yang adekuat selama 60 detik. Pemberian obat-
obatan dan cairan dapat diberikan melalui jalur vena umbilikalis,
endotrakeal, atauintraoseus. Obat-obatan dan cairan yang digunakan
dalam resusitasi, antara lain :
a) Epinefrin 1:10.000, dilakukan melalui jalur intravena atau
intraoseus dengan dosis 0,1-0,3mL/kgBB (0,01-0,03 mg/kgBB).
Pemberian melalui jalur endotrakea kurang efektif, namun dapat
dilakukan bila jalur intravena /intraoseus tidak tersedia. Pemberian
epinefrin melalui jalur trakea membutuhkan dosis lebih besar,
yaitu 0,5-1 ml/kgBB (0,05-0,1 mg/kgBB). Lakukan penilaian
denyut jantung janin, jika >100x/menit hentikan obat. Dosis ini
dapat diulang setiap beberapa menit sekali bila laju denyut
jantung masih di bawah 60 kali per menit meski ventilasi dan
kompresi dada yang efektif sudah diberikan (Imanadhia, A. and
Yanika, G., 2022).
b) Cairan, diberikan bila terdapat kecurigaan kehilangan darah
fetomaternal akut akibat perdarahan vasa previa, perdarahan
pervaginam, laserasi plasenta, trauma, prolapstali pusat, lilitan tali
pusat, perdarahan talipusat, atau bayi memperlihatkan tanda klinis
syok dan tidak memberikan respons adekuat terhadap resusitasi.
Cairan yang dapat digunakan antara lain darah, albumin, dan
kristaloid isotonis, sebanyak 10 ml/kgBB dan diberikan secara
bolus selama 5-10 menit. Pemberian cairan pengganti volume yang
terlalu cepat dapat menyebabkan perdarahan intrakranial, terutama
pada bayi prematur. Tatalaksana hipotensi pada bayi baru lahir
dengan menggunakan kristaloid isotonis (normal saline)
mempunyai efektivitas yang sama denganpemberian albumin dan
tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam meningkatkan dan
mempertahankan tekanan arterial rerata (meanarterial pressure
/MAP) selama 30 menit (Murniati, L. 2021)
c) Bikarbonat, bukan merupakan terapi rutin dalam resusitasi
neonatus. Dosis yang dianjurkan adalah 1-2 mmol/kg (2-4 mL dari
larutan bikarbonat 4,2%) diberikan dengan suntikan intravena
lambat (Murniati, L. 2021)
d) Nalokson, diberikan dengan dosis 0,01-0,04 mg/kgBB secara
intravena atau intramuskular dengan dosis 0,1 mg/kgBB. Jalur
pemberian melalui endotrakea tidak direkomendasikan.
Pemberian nalokson tidak dianjurkan sebagai terapi awal pada bayi
baru lahir yang mengalami depresi napas di kamar bersalin.
Sebelum nalokson diberikan, penolong harus mengoptimalkan
bantuan ventilasi terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian nalokson dapat dipertimbangkan bila bayi dari ibu
dengan riwayat penggunaan opiat tetap mengalami apnue
walaupun telah diberikan ventilasi apneu (Menkes RI, 2019).
k. Tatalaksana pasca resusitasi di ruang perawatan
IDAI (2014) dalam Murniati, L. (2021) , bayi harus tetap
dipertahankan stabil walaupun resusitasi telah berhasil dilakukan dengan
cara memindahkan bayi dari ruang resusitasi ke ruang perawatan,
sehingga bayi dapat dipantau secara ketat dan dilakukan intervensi sesuai
indikasi. Akronim STABLE (sugar and safe care, temperature, airway,
blood pressure, laboratorium working, dan emotional support) dapat
digunakan sebagai panduan selama perawatan pasca resusitasi atau
periode sebelum bayi ditranspor, baik ke ruang perawatan intensif maupun
rumah sakit rujukan.
1) Sugar and safe
Kadar gula darah yang rendah pada bayi yang mengalami kondisi
hipoksik-iskemik akan meningkatkan risiko cedera otak dan luaran
neurodevelopmental yang buruk. Penelitian membuktikan bahwa
hewan yang mengalami hipoglikemia pada kondisi anoksia atau
hipoksia-iskemik memperlihatkan area infark otak yang lebih luas dan
/atau angka kesintasan yang lebih rendah dibandingkan kontrol. Bayi
asfiksia memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami hipoglikemia
sehingga pemberian glukosa perlu dipertimbangkan sesegera mungkin
setelah resusitasi guna mencegah hipoglikemia (Murniati, L. 2021)
2) Temperature
Penelitian menunjukkan bahwa terapi hipotermia ringan(mild
hypothermia) dapat menurunkan risiko kematian dan disabilitas bayi
akibat asfiksia secara signifikan. Terapi hipotermia secara pasif dapat
dimulai sejak di kamar bersalin atau ruang operasi pada bayi yang
diperkirakan mengalami asfiksia, dengan cara mematikan penghangat
bayi dan melepas topi bayi sesegeramungkin setelah target ventilasi
efektif dan LJ tercapai. Hal inidapat dikerjakan secepat-cepatnya pada
usia 10 menit dengan memerhatikan kecurigaan asfiksia berdasarkan
faktor risiko asfiksia, nilai Apgar saat usia 5 menit dan kebutuhan
ventilasi masih berlanjut sampai usia 10 menit. Pada pelaksanaan
terapi hipotermia pasif dengan suhu ruangan menggunakan pendingin
ruangan harus berhati-hati terhadap kemungkinan overcooling yang
akan memperberat efek samping terapi hipotermia. Probe rektal (6 cm
dari pinggiran anus) atau esofagus sebaiknya telah dipasang dalam
waktu 20 menit setelah kelahiran. Bayi ditranspor dengan
menggunakan inkubator transpor yang dimatikan dengan tujuan
mencapai target suhu tubuh rektal antara 33,5 - 34,5°C. Pada
kecurigaan asfiksia perinatal, hipertermia harus dihindari selama
resusitasi dan perawatan karena akan meningkatkan metabolisme otak
dan dapat memicu terjadinya kejang (Kusuma, E. 2019).
3) Airway
Perawatan pascaresusitasi ini meliputi penilaian ulang mengenai
gangguan jalan napas, mengenali tanda gawat maupun gagal napas,
deteksi dan tata laksana bila terjadi pneumotoraks, interpretasi analisis
gas darah, pengaturan bantuan napas, menjaga fiksasi ETT, serta
evaluasi foto toraks dasar. Intervensi dilakukan sesuai indikasi apabila
ditemukan kelainan pada evaluasi (Murniati, L., 2021).
4) Blood pressure
Pencatatan dan evaluasi laju pernapasan, LJ, tekanan darah, CRT,
suhu, dan saturasi oksigen perlu dilakukan sesegera mungkin
pascaresusitasi. Selain itu, pemantauan urin juga merupakan salah satu
parameter penting untuk menilai kecukupan sirkulasi neonatus
(Murniati, L. 2021).
5) Laboratorium working
Penelitian menunjukkan bahwa keadaan hiperoksia, hipokarbia, dan
hiperglikemia dapat menimbulkan efek kerusakan pada otak sehingga
harus dipertahankan pada keadaan normal setidaknya pada 48-72 jam
pertama kehidupan. Pemeriksaan gula darah secara periodik sebaiknya
dilakukan pada usia bayi 2, 6, 12, 24, 48, dan 72 jam kehidupan, kadar
hematokrit dalam 24 jam pada hari-hari pertama kehidupan, kadar
elektrolit (natrium, kalium, dankalsium) dalam 24 jam, serta
pemeriksaan fungsi ginjal, hati, enzim jantung, dll bila diperlukan
(Yulianti, N.T., 2021).
6) Emotional support
Klinisi perlu menjelaskan kondisi terakhir bayi dan rencana perawatan
selanjutnya serta memberikan dukungan emosional pada orangtua.
B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang di
gunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan keterampilan dalam
rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang
berfokus pada klien Asuhan kebidanan terdiri dari tujuh langkah yang
berurutan, yang di mulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir
dengan evaluasi. Tujuh langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap
dan bisa di aplikasikan dalam suatu situasi (Varney, Helen & Marlyn HE,
David W, 2012).
2. Tahapan Asuhan Kebidanan
Dalam praktiknya bidan menggunakan manajemen kebidanan dalam
memberikan asuhan kebidanan. Menurut Varney (2012), manajemen
kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai
metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, penemuan, keterampilan dalam tahapan yang logis untuk
pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien. Manajemen kebidanan:
a. Langkah I (Pengumpulan Data Dasar)
Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap
yang berkaitan dengan kondisi klien. Pendekatan ini harus bersifat
komprehensif meliputi data subjektif, objektif, dan hasil pemeriksaan.
b. Langkah II (Interpretasi Data Dasar)
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah
dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas dasar data-
data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan
diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah
yang spesifik.
c. Langkah III (Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial dan
Mengantisipasi Penanganannya)
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial
lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang telah
diidentifikasikan.
d. Langkah IV (Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera)
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan
atau untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim
kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
e. Langkah V (Menyusun Rencana Asuhan yang Menyeluruh)
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang menyeluruh, ditentukan
langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan
manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi
atau diantisipasi, pada langkah ini informasi/data dasar yang tidak
lengkap dapat dilengkapi.
f. Langkah VI (Pelaksanaan Langsung Asuhan Efisien dan Aman)
Pada langkah ini, rencana asuhan yang menyeluruh di langkah kelima
harus dilaksanakan secara efisien dan aman.
g. Langkah VII (Mengevaluasi Hasil Tindakan)
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan. Rencana dapat dianggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaannya.
3. Pendokumentasian Manajemen Asuhan Kebidanan
a. Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang diperoleh melalui orang terdekat,
baikibu, ayah, ataukeluarga lain yang mengetahui keadaan ibu selama
hamil dan bersalin. Pada data subyektif pada kondisi bayi baru lahir ini,
erat kaitannya dengan masa kehamilan, persalinan, dan riwayat
keluarga terkait dengan penyakit serta pola kebiasaaan sehari-hari
(Kartikasari, M. et. al., 2022).
1) Identitas
2) Riwayat kesehatan meliputi riwayat kesehatan seperti adanya
hipoksia janin, gangguan aliran darah prenatal, hipotensi dan
hipertensi selama kehamilan, gangguan plasenta, kehamilan
berisiko: primi tua, anemia, ketuban pecah dini, infeksi), riwayat
persalinan; lilitan tali pusat, partus lama/macet, trauma lahir, dan
prematuritas (Nurwiandani, W. and Aden, F.F., 2018).
Penelitian yang dilakukan oleh Syaiful dan Khudzaifah
(2016) dalam Khoiriah, A. and Pratiwi, T., (2019) faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap asfiksia neonatorum antara lain masa
gestasi (r=0,000), jenis tindakan persalinan (r=0,041) dan lama
persalinan (r=0,041). Hasil analisis didapatkan faktor yang paling
dominan kejadian asfiksia neonatorum yaitu masa gestasi.
Penelitian lain yang sejalan yaitu penelitian yang dilakukan
oleh Widiani, Kurniati dan Windiani (2016) dalam Batubara, A.R.
and Fauziah, N (2020) mengatakan faktor risiko yang bermakna
meningkatkan kejadian asfiksia neonatorum adalah: lilitan tali
pusat, anemia pada saat hamil, partus lama, BBLR, umur ibu <20
tahun dan >35 tahun dan hipertensi pada saat hamil.
3) Pemeriksaan fisik:
a) Kaji frekuensi, kedalaman dan kualitas pernapasan.
b) Inspeksi: pergerakan dinding dada, pernapasan cuping hidung,
retraksi dan warna kulit (sianosis, pucat, kehitam-hitaman) serta
amati diameter dada anteroposterior yang memanjang dapat
mengindikasikan udara terperangkap dalam alveoli.
c) Auskultasi: suara napas tambahan dan suara paru.
d) Perkusi: kaji adanya suara tumpul yang menunjukkan bahwa
cairan atau jaringan padat telah menggantikan udara.
4) Kaji kebutuhan peningkatan oksigen.
5) Kaji tekanan darah bayi.
6) Pemeriksaan diagnostik meliputi oksimetri nadi dan analisa gas
darah (Nurwiandani, W. and Aden, F.F., 2018).
4. Assesment
Dilakukan indentifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah
dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang
[Link] dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga
ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik (Puspitasari, D., 2019).
5. Planing
Perencanaan yang perlu dilakukan pada bayi asfiksia adalah sesuai dengan
bagan alur penanganan resusitasi bayi. Evaluasi dilakukan setiap 30 detik.
Hal yang perlu dinilai adalah usaha napas, frekuensi laju denyut jantung
(LDJ), dan tonus otot (Puspitasari, D., 2019).
DAFTAR PUSTAKA
Ardyana, D. and Sari, E.P., 2019. Hubungan Lilitan Tali Pusat, Partus Lama Dan
Plasenta Previa Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum. Jurnal'Aisyiyah
Medika, 4(3).
Batubara, A.R. and Fauziah, N., 2020. Faktor Yang Memengaruhi Kejadian Asfiksia
Neonatorum Di Rsu Sakinah Lhokseumawe. Journal of Healthcare
Technology and Medicine, 6(1), pp.411-423.
Imanadhia, A. and Yanika, G., 2022. Resusitasi Neonatus: Algoritma Terkini. Cermin
Dunia Kedokteran, 49(5), pp.290-293.
Kartikasari, M. et. al., 2022. Dokumentasi Kebidanan. Get Press: Jakarta.
Khoiriah, A. and Pratiwi, T., 2019. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap
Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir. Jurnal'Aisyiyah Medika, 4.
Kusuma, E. 2019. “Pengaruh Terapi Hipotermi terhadap Kejadian Kejang pada Bayi
Asfiksia di Ruang Alamanda RSUD Bangil,” 7(2), hal. 72–78.
Manuaba, I. B. G. (2012) Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta:
EGC.
Mardalena, H., Sari, K., Kurnia, Y.F. and Sulistiyani, S., 2021, December. Analisis
faktor faktor penyebab kejadian asfiksia pada bayi baru lahir. In CALL FOR
PAPER SEMINAR NASIONAL KEBIDANAN (pp. 211-218).
Maryunani, A. dan Puspita, E. (2013) Asuhan Kegawatdaruratan Maternal &
Neonatal. Jakarta: Trans Info Media.
Menkes RI (2019) “KMK Nomor HK.01.07/Menkes/214/2019 Tentang Pedoman
Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Asiksia.” doi:
10.22201/fq.18708404e.2004.3.66178.
Murniati, L., Taherong, F. and Syatirah, S., 2021. Manajemen Asuhan Kebidanan
Pada Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia (Literatur Review). Jurnal
Midwifery, 3(1).
Mutiara, A., Apriyanti, F. and Hastuty, M., 2020. Hubungan Jenis Persalinan dan
Berat Badan Lahir Dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Di RSUD
Selasih Kabupaten Pelalawan Tahun 2019. Jurnal Kesehatan Tambusai, 1(2),
pp.42-49.
Nurwiandani, W. and Aden, F.F., 2018. Dokumentasi Kebidanan Konsep dan
Aplikasi Dokumentasi Kebidanan. Pustakabarupress: Yogyakarta.
Puspitasari, D., 2019. Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan Kebidanan Terhadap
Perlindungan Hukum Pasien pada Bidan Praktik Mandiri (Studi di
Kabupaten Cilacap). Jurnal Idea Hukum, 5(1).
Rahayu, S.P. and Tjahjowati, S., 2019. Analisis Kasus Asfiksia Pada Kematian
Neonatal Di RSUD Tugurejo Semarang. Jurnal Kebidanan Indonesia, 10(1),
pp.56-73.
30
31
Sa'danoer, I.M., 2020. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Asfiksia
Neonatorum di RSUD Pariaman. Jurnal Bidan Komunitas, 3(3), pp.93-98.
Sutjipto, F.I. and Iskandar, A.T.P., 2022. Karakteristik Bayi Baru Lahir dengan
Resusitasi Berkaitan dengan Kebutuhan Jenis Alat Bantu Napas Saat
Lahir. Sari Pediatri, 24(2), pp.83-90.
Varney, Helen & Marlyn HE, David W, M. (2012) Buku Ajar Asuhan Kebidanan
Edisi 4 Volume 2. Jakarta: EGC.
Wiknjosastro. 2016. Ilmu Kebidanan Edisi 4 Cetakan 5. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono
Yulianti, N.T., 2021. Prosedur Resusitasi Pada Neonatus Dengan Asfiksia. IMJ
(Indonesian Midwifery Journal), 4(2).