MAKALAH
Hukum Perdata
Domisili dan Catatan Sipil
Disusun Oleh:
Vergiono
Nim:
(A1011221275)
Kelas: C
(Reguler A)
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2023
ABSTRAK
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmatnya sehingga saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu tugas yang diembankan
sebagai syarat penilaian Mata kuliah Hukum Perdata.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga dapat bermanfaat bagi para pembaca dalam memahami apa itu Domisili dan
Catatan Sipil dalam Hukum Perdata. .
Makalah ini Saya akui masih banyak kekurangan karena sumber pengetahuan yang masih
terbatas. Oleh karena itu Saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Domisili adalah tempat dimana seseorang berada dalam kaitan dengan pelaksanaan hak dan
penentuan kewajiban (dianggap oleh hukum selalu hadir) Jadi yang dimaksud domisili adalah
tempat dimana seseorang oleh hukum dianggap selalu hadir,
Domisili diperlukan demi kepastian hukum.
Pencatatan sipil adalah pencatatan terhadap peristiwa penting yang dialami oleh seseorang dalam
suatu buku register pencatatan sipil yang dilakukan oleh Negara. Peristiwa penting yang perlu
dicatat adalah peristiwa yang dialami oleh penduduk yang membawa akibat terjadinya perubahan
hak-hak keperdataan. maupun lahirnya hak keperdataan atau hapusnya hak keperdataan. Jadi
yang dicatat adalah setiap peristiwa perdata yang dialami seseorang dengan tujuan agar peristiwa
itu dapat diketahui dengan jelas.
Jadi istilah pencatatan sipil bukanlah dimaksud sebagai suatu catatan dari orang-orang sipil atau
golongan sipil sebagai lawan dari kata golongan militer. akan tetapi catatan sipil itu merupakan
suatu catatan yang menyangkut kedudukan hukum seseorang. (Viktor M. Situmorang., 1991,
10).
M. Jafar, S.H., [Link].. adalah Dosen Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala
Banda Aceh.
Pencatatan sipil berbeda dengan sensus, karena pencatatan sipil harus dilakukan melalui proses
yang berkelanjutan, dan mengandung sistem yang tetap dan berkelanjutan. Hal ini untuk
menjamin perlindungan hukum bagi kepentingan individu seseorang sebagai warga Negara.
Pencatatan sipil dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan yang merupakan ciri utama
pencatatan sipil.
sehingga data yang dihasilkan pencatatan bersifat akurat. Jadi pencatatan sipil adalah suatu
pencatatan yang dilakukan oleh instansi pemerintah yang sifatnya permanen dan berkelanjutan,
wajib sifatnya dan menyeluruh atas kejadian yang dialami penduduk sesuai dengan aturan
hukum aturan hukum yang berlaku disuatu Negara. Dalam hal ini harus dilakukan sesuai dengan
aturan hukum yang berlaku dengan mempertimbangkan lingkungan sosial yang berlaku serta
budaya khas bagi suatu masyarakat.
Pencatatan sipil pada dasarnya juga berbeda dengan pendaftaran penduduk. Dalam konvensi hak
sipil dan hak politik yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia ke dalam
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 sangat jelas disebutkan bahwa hak sipil adalah hak-hak
yang melekat pada diri seseorang yang berkaitan dengan masalah keperdataannya. Hak-hak
keperdataan sescorang sebagai warga Negara harus dicatat agar mendapat perlindungan hukum.
Pada dasarnya pencatatan sipil itu dilakukan untuk mencatatkan peristiwa perdata yang dialami
penduduk karena adanya perubahan terhadap status sipil dari sebelumnya belum ada didunia,
tetapi karena adanya kelahiran, maka ia menpunyai status dan berhak atas hak-hak sipilnya
sebagai seorang anak, demikian pula dengan pencatatan perkawinan maupun perceraian.
Pencatatan perkawinan itu dilakukan karena status sipilnya dari lajang menjadi status kawin yang
mempunyai hak membentuk keluarga yang bahagia seperti yang diatur undang-undang nomor 1
Tahun 1974. Begitu juga dengan pencatatan perceraian yang membawa perubahan terhadap
status sipilnya kawin menjadi status janda alau duda yang membawa akibat ditinaju dari sudut
hukum perdata.
Walaupun masalah pencatatan sipil mempunyai arti yang sangat penting terutama berkaitan
dengan status pribadi seseorang, namun dalam pelaksanaannya belum berjalan dengan baik.
Sementara berkaitan dengan partisipasi masyarakat
dalam mengurus akta catatan sipil, masyarakat belum mengerti benar tentang manfaat akta
catatan sipil dalam kehidupannya. Dalam hal ini peran pemerintah
perlu ditingkatkan untuk mensosialisasi tentang manfaat catatan sipil sendiri. Dilihat dari sudut
administrasi kependudukan, maka pencatatan sipil adalah suatu hak yang tidak dapat dipisahkan.
Hal inilah yang menyebabkan masalah catatan sipil diatur dalam Undang-undang Nomor 23
Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan. Hal ini disebabkan karena jika masalah
pencatatan sipil sudah berjalan sesuai dengan sistem yang berlaku. dapat membawa akibat
tercapainya tertib administrasi kependudukan itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Macam-macam domisili:
1) Domisili sesungguhnya
→Sukarela Pasal 17, 18, 19
→ Wajib pasal 20, 21, 22
2) Domisii yang dipilih
Ditentukan oleh UU: pasal 11 (1b) UUHT
→ Dipilih secara bebas
3) Pencatatan sipil di Indonesia
4) Pentingnya pencatatan sipil ditinjau dari sudut hukum perdata.
BAB ll
PEMBAHASAN
2.1 Domisili sesungguhnya:
Domisili dimana seseorang atau badan hukum melakukan kewenangan perdata pada umumnya
(menunjuk
pada tindakan hukum dalam bidang perdata pada umumnya)
a) Sukarela Bergantung pada kehendak yang bersangkutan sendiri dan tidak ditentukan oleh
hubungan dengan orang lain → Diatur pada pasal 17 ayat (1) jo Pasal 18 dan 29 KUHPerdata
b) Wajib Domisili yang bersangkutan di tentukan berdasarkan hubungan seseorang dengan orang
lain. Yang termasuk adalah jabatan-jabatan negara→ Diatur dalam Pasal 20 KUHPerdata.
Contoh: Wanita bersuami (Pasal 21 KUHPer) domisili wajibnya adalah tempat kediaman suami.
2.2 Domisili yang dipilih:
Domisili yang dipilih oleh orang yang bersangkutan dalam melakukan perbuatan hukum tertentu.
a) Dipilih berdasarkan ketentuan Undang-Undang Mis. Pada pasal 11 ayat (1b) UU No. 4 Th
1996 tentang Hak Tanggungan dimana UU mensyaratkan bagi merekayang tinggal di luar negeri
ubtuk mencantumkan domisili pilihannya di Indonesia.
b) Dipilih secara bebas: Dipilih secara bebas dalam melakukan perbuatan hukum misalnya
memilih kantor pengacara dalam pemberian surat kuasa khusus.
2.3 Pencatatan sipil di indonesia:
Lembaga pencatatan sipil yang ada sekarang adalah berkelanjutan dari negeri Belanda yang
dinamakan Burgerlyke Stand. Burgerlyke Stand adalah sebuah lembaga yang diadakan oleh
pemerintah Belanda yang bermaksud membukukan selengkap mungkin dan memberikan
kepastian hukum tentang semua peristiwa penting seperti kelahiran, perkawinan, perceraian,
pengakuan anak dan kematian.
Lembaga pencatatan sipil di negeri Belanda berasal dari Perancis. Lembaga ini telah ada sejak
Revolusi Perancis. Catatan sipil di Perancis pada waktu itu diselenggarakan oleh pendeta yang
dalam hal ini pendeta di Perancis sebelum abad ke 18 telah menyediakan daftar untuk
perkawinan, kelahiran, kematian, dan lainnya (Viktor M. Situmorang. 1991: 15).
Pencatatan sipil di Perancis kemudian diambil alih oleh pemerintah yang kemudian di
berlakukan di negeri Belanda dan wilayah penjajahan Belanda termasuk Hindia Belanda. Di
Batavia (Jakarta sekarang) catatan sipil telah ada sejak tahun 1820, meskipun secara de jure
tahun 1850 yang disesuaikan dengan kedudukan kota Jakarta itu sendiri. Namun dalam
pelaksanaannya hanya diperuntukkan kepada beberapa golongan penduduk saja (H. Soekarno,
1985: 19). Pemberlakuan catatan sipil oleh pemerintah Belanda tersebut sesuai dengan politik
hukum pemerintah dan penggolongan penduduk di Hindia Belanda sesuai
dengan Pasal 131 junto Pasal 163 Indische Staats Regeling. Menurut ketentuan tersebut
penduduk di Hindia Belanda dibagi kedalam tiga golongan penduduk dengan pemberlakuan
aturan hukum yang berbeda kepada masing-masing golongan itu.
Sebagai akibat dari politik pemerintah Hindia Belanda, maka aturan pencatatan sipil di Indonesia
yang berlaku bagi penduduk tidak seragam aturan hukumnya, yaitu:
1. Reglemen Catatan Sipil Stb.1849-25 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi
warga negara Indonesia keturunan Eropah.
2. Reglemen Catatan Sipil Stb.1917-130 [Link].1919-81 tentang Pencatatan Perkawinandan
Perceraian bagi warga Negara Indonesia keturunan Cina.
3. Reglemen Catatan Sipil Stb.1933-75 jo. Stb. 1936-607 tentang Pencatatan Perkawinan dan
Perceraian bagi warga Negara Indonesia yang beragama Kristen di Jawa, Madura, Minahasa,
Ambon, dan sebagainya.
4. Reglemen Catatan Sipil Stb.1904-279 tentang Pencatatan Perkawinan dan Perceraian bagi
warga Negara Indonesia perkawinan campuran. 5. Reglemen Catatan Sipil Stb.1920-751 jo. Stb.
1927-564 tentang Pencatatan Kelahiran dan Kematian bagi warga Negara Indonesia asli di Jawa
dan Madura..
Berdasarkan ketentuan tersebut diatas bahwa pemerintah Hinda Belanda belum memperhatikan
secara serius mengenai pencatatan sipil bagi orang-orang yang beragama Islam. Ketentuan
pencatatan sipil bagi orang- orang yang beragama Islam baru diberlakukan setelah Indonesia
merdeka yaitu melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang pencatatan nikah. talak
dan rujuk bagi warga Indonesia yang beragama Islam.
Sesuai dengan ketentuan tersebut diatas, pencatatan sipil di Indonesia masih bersifat pluralisme
hukum. Hal ini membawa akibat terjadi kesimpangsiuran pemahaman dan pelaksanaan
pencatatan sipil itu sendiri, Untuk keseragaman pencatatan sipil, maka Presiden Republik
Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 1983 Tentang Penataan Dan
Peningkatan Pembinaan Penyelenggaraan Catatan Sipil, Mengintruksikan Agar Penyelenggara
Pencatatan Sipil Diseragamkan Dalam Pelaksanaannya. Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun
1983 ditindak lanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 1983
Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Pencatatan Sipil Kabupaten/Kota Di Indonesia.
Dalam pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri Dalam Negeri tersebut diterapkan 3 tipe organisasi
kantor pencatatan sipil yaitu:
1. Organisasi Kantor Catatan Sipil Tipe A
2. Organisasi Kantor Catatan Sipil Tipe B
3. Organisasi Kantor Catatan Sipil Tipe C
Mengenai pencatatan sipil juga diatur dalam Pasal 2 ayat (2) Undang- Undang Nomor 1 Tahun
1947 Tentang Perkawinan. Dalam pasal tersebut dikatakan bahwa setiap perkawinan harus
dicatat menurut perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan perkawinan bagi orang yang
beragama Islam dilakukan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan. Sedangkan bagi penduduk
yang bukan beragama Islam dilakukan oleh kantor pencatatan sipil.
Walaupun sudah ada aturan perundang-undangan yang mengatur pencatatan sipil di Indonesia,
namun dalam pelaksanaannya masih menyisakan berbagai masalah. Hal ini dapat dilihat belum
seragamnya pelaksanaan pencatatan sipil itu sendiri maupun nomenklatur kantor pencatatan sipil
yang belum seragam di tiap kabupaten/kota di Indonesia. Tiap pemerintah kabupaten/kota
mencantumkan nomenklatur pencatatan sipil yang bergabung dengan nomenklatur lainnya. Hal
ini membawa akibat terhadap akta yang dikeluarkan oleh kantor atau dinas yang mengeluarkan
akta catatan sipil ditinjau dari sudut hukum.
Selanjutnya dalam rangka keseragaman pencatatan sipil di Indonesia. pemerintah mengeluarkan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan. Dalam hal ini
pemerintah menganggap bahwa masalah pencatatan sipil merupakan bagian dari tertib
administrasi kependudukan. sehingga diatur bersama-sama dengan permasalahan yang
menyangkut pendaftaran penduduk. Untuk melaksanakan undang-undang tersebut pemerintah
juga telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007
Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006
Tentang Administrasi Kependudukan, serta Peraturan Presiden Republik Indonesia.
2.4 Pentingnya pencatatan sipil ditinjau dari sudut hukum perdata:
Menurut undang-undang nomor 23 tahun 2006 pencatatan sipil adalah pencatatan terhadap
peristiwa penting yang dialami oleh seseorang dalam register pencatatan sipil pada instansi
pelaksana. Peristiwa penting yang harus dicatat adalah kelahiran, kematian, lahir mati,
perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengangkatan anak, pengesahan anak dan perubahan
kewrganegaraan.
H. F. A Vollmar (1952: 37) menyebutkan bahwa catatan sipil adalah suatu lembaga yang
diadakan oleh penguasa/pemerintah untuk membukukan selengkapnya dan karena itu
memberikan kepastian sebesar-besarnya tentang semua peristiwa yang penting bagi status
keperdataan seseorang seperti perkawinan, kelahiran, pengakuan anak, perceraian, dan kematian.
Jadi pencatatan sipil bertujuan untuk memastikan status perdata seseorang agar lebih jelas dari
sudut hukum. Kepastian hukum tentang status perdata seseorang yang mengalami peristiwa itu
harus dicatat.
Kepastian hukum mengenai kelahiran menentukan status perdata mengenal dewasa atau belum
dewasa seseorang. Kepastian hukum mengenai perkawinan menentukan status perdata mengenai
boleh atau tidaknya melangsungkan perkawinan dengan orang lain lagi. Kepastian hukum
mengenai perceraian menelukan status perdata untuk bebas mencari pasangan lain. Kepastian
hukum mengenai kematian menentukan status perdata sebagai ahli waris dan keterbukaan waris
(Abdulkadir Muhammad, 2000: 48).
Pentingnya pencatatan sipil tidak hanya ditinjau dari sudut hukum perdata tetapi juga ditinjau
dari sudut hukum Islam. Hal ini dapat dilihat adanya perintah pencatatan perkawinan bagi orang
beragama Islam yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 1954 dan Kompilasi
Hukum Islam. Oleh karena kuatnya kepentingan publik dalam pencatatan sipil serta akibat yang
ditimbulkan maka jika tidak dilaksanakan akan mendatangkan mudharat bagi dirinya dan
masyarakat. Secara maslahat kedudukan pencatatan sipil dalam hukum Islam menjadi penting
dan masuk dalam maslahat yang sifatnya dharuriyah. Dalam hal ini menjalankan sistem
pencatatan sipil menurut hukum Islam, maka sejatinya dia telah menjalankan perintah agama
(Tahir azhary, 2006: 10).
Ditinjau dari sudut hukum perdata, maka pencatatan sipil mempunyi fungsi yang sangat luas,
terutama jika dikaitkan dengan akta yang diterbitkan dari hasil pencatatan sipil. Dokumen (akta)
pencatatan sipil bersifat universalitas, artinya akta pencatatan sipil itu berlaku di mana-mana. Hal
ini berbeda dengan dokumen pendaftaran penduduk yang sifatnya nasionalitas. Dokumen
pendaftaran penduduk di Indonesia (Kartu Tanda Penduduk) hanya berlaku dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Akta pencatatan sipil adalah akta autentik karena dikeluarkan dan ditanda tangani pejabat yang
berwenang. Akta ini dapat digunakan untuk menjelaskan telah terjadinya suatu peristiwa hukum
secara benar. Misalnya, akta kelahiran dapat digunakan untuk membuktikan telah terjadinya
peristiwa kelahiran pada hari, tanggal dan tahun yang disebutkan dalam akta kelahiran. Peristiwa
ini harus dianggap benar secara hukum dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang yaitu
kantor/dinas pencatatan sipil yang ditunjuk oleh aturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurut pasal 1867 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) pembuktian dengan
tulisan dilakukan dengan akta, baik akta autentik maupun akta dibawah tangan. Mengenai akta
autentik diatur kembali dalam pasal 165 HIR maupun dalam pasal 285 Rbg yang menyebutkan
bahwa akta autentik adalah suatu akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang diberi
wewenang untuk itu. Di samping itu juga pengertian akta autentik disebutkan pula di dalam pasal
1868 KUH Perdata yang berbunyi akta autentik adalah suatu akta yang dalam bentuk yang
ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang berkuasa untuk itu
ditempat di mana akta dibuat. Pejabat umum adalah pejabat yang diber wewenang berdasarkan
undang-undang dalam batas wewenang yang telah ditentukan secara tegas, seperti notaris,
panitera, jurusita, hakim, pegawai catatan sipil, kepala daerah dan lain-lain. Suatu akta adalah
autentik, bukan karena penetapan undang-undang, tetapi karena dibuat oleh atau dihadapan
seorang pejabat umum (Lumban Tobing, 1980:42).
Berdasarkan ketentuan tersebut dapat dilihat bahwa akta autentik itu adalah:
1. Akta yang dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat umum
2. Pejabat umum itu harus mempunyai kewenangan untuk membuat akta itu.
3. Dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang. Menurut Sudikno Mertokusumo
(1979:106) akta adalah surat yang diberi tanda tangan yang memuat peristiwa-peristiwa yang
menjadi dasar dari pada suatu hak atau perikatan yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk
pembuktian.
Dengan demikian ditinjau dari sudut hukum perdata bahwa akta catatan sipil telah memenuhi
kriteria sebagai akta autentik. Akta catatan sipil ditanda tangani pejabat berwenang yang ditunjuk
undang-undang yang mempunyai kekuatan bukti sempurna tentang telah terjadi suatu peristiwa
hukum yang oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 di istilahkan dengan peristiwa penting
yang wajib dicatatkan dalam register catatan sipil pada kantor/dinas yang menangani masalah
catatan sipil. Hal ini sesuai dengan pasal I angka 15 dan 18 Qanun Aceh nomor 6 tahun 2008
tentang penyelenggaraan administrasi penduduk.
Jadi akta catatan sipil adalah suatu surat atau catatan resmi yang dikeluarkan oleh pejabat Negara
yaitu pejabat pencatatan sipil mengenai peristiwa perdata yang terjadi pada diri seseorang.
Supaya peristiwa perdata itu mempunyai bukti autentik atau kekuatan bukti sempurna perlu
dibukukan dalam daftar atau register yang disediakan oleh Negara yaitu kantor pencatatan sipil
dan dipelihara dengan baik. Peristiwa perdata itu sangat penting karena menyangkut dengan hak
dan kewajiban yang harus dipenuhi sehingga menimbulkan kepastian hukum.
Di samping itu akta catatan sipil mempunyai kegunaan atau menfaat dari sudut hukum perdata,
yaitu:
1. Memberikan kepastian hukum tentang kejadian yang berkaitan dengan peristiwa perdata
sseperti kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian dan lainnya.
2. Sebagai alat bukti autentik yang menentukan status perdata seseorang.
3. Dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan publik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah membaca dan memahami pengertian dan macam2 domisili dalam Hukum perdata maka
dapat disimpulkan bahwa domisili adalah tempat dimana seseorang berada dalam kaitan dengan
pelaksanaan hak dan penentuan kewajiban (dianggap oleh hukum selalu hadir) Jadi yang
dimaksud domisili adalah tempat dimana seseorang oleh hukum dianggap selalu hadir, Domisili
diperlukan demi kepastian hukum.
Oleh karena pentingnya akta catatan sipil dalam mendukung kehidupan pribadi seseorang, maka
fungsi dan pemahaman masyarakat terhadap catatan sipil harus ditingkatkan. Masyarakat harus
digerakkan atau di motivasi untuk memperoleh akta catatan sipil. Di samping itu juga data yang
dihasilkan dari aktifitas pencatatan sipil bersifat akurat (valid) dan dapat digunakan untuk
pelayanan publik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Citra Aditya. Bandung, 2000.
G.H.S Lumban Tobing, SH, Peraturan Jabatan Notaris. Erlangga, Jakarta, 1980. H.F.A.
Vollmar, Pengantar Studi Hukum Perdata, Rajawali. Jakarta, 1952. H. Soekarno. Mengenal
Administrasi dan Prosedur Catatan Sipil, Coriena.
Jakarta, 1985. Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Di Indonesia. Liberty.
Yogyakarta, 1979.
Viktor M. Situmorang, Cormentyna Sitanggang, Aspek Hukum Akta Catalan Sipil di
Indonesia. Sinar Grafika. Jakarta, 1991.
Tahir Azhari. Analisis Pencatatan Sipil, Makalah, 2010.
Undang-undang No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.
Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Administrasi
Kependudukan.