KEJANG DEMAM
No. Dokumen : /PKM-BTG/SPO/I/2022
No. Revisi : 01
UPT PUSKESMAS BATANG SPO
Tanggal Terbit : 15 Januari 2022
Andi Ismainar Bahtiar, [Link], Ns
Halaman : 1/1 Nip. 19780128 199303 2 005
1. Pengetian Kejang Demam (KD) adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal > 38o C) akibat dari suatu proses ekstra kranial.
Kejang berhubungan dengan demam, tetapi tidak disebabkan infeksi
intrakranial atau penyebab lain seperti trauma kepala, gangguan
kesimbangan elektrolit, hipoksia atau hipoglikemia.
2. Tujuan Sebagai pedoman bagi petugas dalam memberikan penanganan pada
pasien yang di diagnosis kejang demam
3. Kebijakan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK 01.07 /
Menkes / 1186 /2022 Tentang panduan praktik klinis bagi dokter di
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama
4. Referensi Buku Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer
5. Bahan/Alat Tabung oksigen dan kelengkapannya, infus set, diazepam
rektal/intravena, lorazepam, fenitoin IV, fenobarbital IV, NaCl 0,9%.
6. Prosedur/ Langkah- 1. Anamnesa
langkah Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan
kejang klonik atau tonik klonik bilateral. Bentuk kejang yang lain dapat
juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan dan
kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan,
atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
Penting untuk ditanyakana riwayat kejang sebelumnya, kondisi
medis yang berhubungan, obat-obatan, trauma, gejala infeksi, keluhn
neurologis, nyeri atau cedera akibat kejang.
Faktor risiko
a. Demam
1) Demam yang berperan pada KD, akibat :
a) Infeksi saluran pernafasan
b) Infeksi saluran pencenaan
c) Infeksi saluran air seni
d) Roseala infantum
e) Paska imunisasi
2) Derajat demam :
a) 75% dari anak dengan demam ≥ 39°C
b) 25% dari anak dengan demam ≥ 40°C
b. Usia
1) Umumnya terjadi pada usia 6 bulan – 6 tahun
2) Puncak tertinggi pada usia 17 – 23 bulan
3) Kejang demam sebelum 5 – 6 bulan mungkin disebabkan oleh
infeksi SSP
4) Kejang demam diatas umur 6 tahun, perlu dipertimbangkan
febrile seizure plus (FS+)
c. Gen
1) Resiko meningkat 2-3x bila saudara kejang demam
2) Risiko meningkat 5% bila orang tua menderita kejang demam
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dimulai dengan tanda-tanda vital,mencari tanda-
tanda trauma akut kepala, dan adanya kelainan sisemik, terpapar zat
toksik, infeksi atau adanya kelainan neurologis fokal. Bila terjadi
penurunan kesadaran diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari
faktor penyebab.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorum darah, seperti : kadar gula darah, elektrolit, dan hitung
jenis. Dianjurkan pada pasien yang pertama kali kejang.
b. Pemerksaan urin direkomendasikan pada pasien yang tidak
memiliki kecurigaan fokus infeksi
c. Hanya dapat dilakukan di Rumah sakit : pemeriksaan cairan
cerebrospinal untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis.
4. Diagnosis klinis
Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik
Klasifikasi kejang demam terbagi menjadi 2, yaitu :
a. Kejang demam sederhana
1) Kejang generalisata
2) Durasi < 15 menit
3) Kejang tidak disebabkan oleh adanya meningitis, encephalitis,
atau penyakit yang berhubungan dengan gangguan di otak
4) Kejang tidak berulang dalam 24 jam
b. Kejang dmam kompleks
1) Kejang fokal
2) Durasi > 15 menit
3) Dapat terjadi kejang beulang dalam 24 jam
5. Penatalaksanaan
a. Keluarga pasien diberikan informasi selengkapnya mengenai
kejang demam dan prognosisnya
b. Pemberian farmakoterapi untuk mengatasi kejangnya adalah
dengan :
1) Diazepam per rektal (0,5 mg/kg) atau lorazepam (0,1 mg/kg)
harus segera diberikan jika akses intravena tidak dapat
dibangun dengan mudah.
2) Buccal midazolam (0,5 mg/kg, dosis maksimal = 10 mg) lebih
efektif daripada diazepam per rektal untuk anak
3) Lorazepam intravena, setara efektivitasnya dengan diazepam
intravena dengan efek samping yang lebih minimal (termasuk
depresi pernafasan) dalam pengobatan kejang tonik klonik
akut.
6. Kriteria rujukan
Apabila kejang tidak membak setelah diberikan obat
antikonvulsi
Apabila kejang demam sering berulang disarankan EEG
7. Dokumentasi dalam rekam medik
7. Diagram Alir
Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis
Fisik Penunjang
Penegakan
Kriteria Penatalaksanaan Diagnosis utama
Rujukan dan diagnosis
banding
Dokumentasi
dalam RM
8. Hal-hal yang perlu Konseling dan edukasi dilakukan untuk membantu pihak keluarga
diperhatikan mengatasi pengalaman menegangkan akibat kejang demam dengan
memberikan informasi mengenai:
1. Prognosis dari kejang demam.
2. Tidak ada peningkatan risiko keterlambatan sekolah atau kesulitan
intelektual akibat kejang demam.
3. Kejang demam kurang dari 30 menit tidak mengakibatkan kerusakan
otak.
4. Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa depan.
5. Rendahnya risiko terkena epilepsi dan tidak adanya manfaat
menggunakan terapi obat antiepilepsi dalam mengubah risiko itu.
9. Unit terkait 1. UGD
2. Apotek
10. Dokumen Terkait Rekam Medik (family Folder)
11 Rekaman Historis
Tanggal Mulai
No Yang dirubah Isi Perubahan
diberlakukan