Laporan Kasus TM 1 - Rita
Laporan Kasus TM 1 - Rita
STAGE
ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN
i
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kasus yang berjudul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Fisiologis Pada
Ny. N Usia 31 Tahun G2p1a0..Usia Hamil 11+1 Minggu Di Puskesmas Tegalrejo”.
telah diperiksa dan disahkan pada :
Hari : …………………………
Tanggal : …………………………
Dalam Rangka Praktik Klinik Kebidanan Stage Kehamilan yang telah diperiksa dan
disetujui oleh Pembimbing Klinik dan Pembimbing Institusi Program Studi
Pendidikan Profesi Bidan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan Semarang Tahun 2024
Mengetahui
Pembimbing Institusi
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masa Kehamilan merupakan masa yang dimulai dari konsepsi sampai
lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9
bulan 7 hari). Kehamilan ini dibagi atas 3 semester yaitu; kehamilan trimester
pertama mulai 0-14 minggu, kehamilan trimester kedua mulai mulai 14-28
minggu, dan kehamilan trimester ketiga mulai 28-42 minggu (Prawirohardjo,
2014).
Selama kehamilan, beberapa wanita dihadapkan dengan beberapa
masalah yang menyumbang Angka Kematian Ibu (AKI). Angka Kematian Ibu
(AKI) merupakan tolak ukur keberhasilan kesehatan ibu di suatu wilayah.
AKI di Indonesia menujukkan penurunan menjadi 189 kematian ibu per
100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus
(SUPAS) 2020 (Statistik, 2023). Berdasarkan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia tahun 2012 sampai dengan 2017 yaitu sebesar 390 per
100.000 kelahiran hidup. Namun, tahun 2021, angka kematian ibu masih
tinggi sebesar 359 per 100.000kelahiran hidup, angka ini sedikit
menurun walaupun tidak signifikan. AKI kembali menurun pada tahun
2022 menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup. Dengan AKI yang masih
tinggi pemerintah melakukan program SDGs (Sustaainable Development
Goals) yaitu program kelanjutan dari MDGs (Millenium Development
Goals) yang di mulai dari tahun 2017 sampai dengan 2030. Salah satu
targetnya yaitu mengurangi angka kematian ibu hingga di bawah 70 per
100.000 kelahiran hidup pda tahun 2030 (Kemenkes, 2022)
Walaupun AKI sudah mengalami penurunan, namun masih jauh dari
target MDGs tahun 2015 artinya bahwa target MDGs tahun 2015 tidak
tercapai. Sehingga masih memerlukan kerja keras dari semua komponen
untuk mencapai target tersebut. Salah satu provinsi penyumbang AKI di
Indonesia yaitu Provinsi Jawa Tengah. Angka kematian ibu di Provinsi
Jawa Tengah juga mengalami penurunan dari 111,16 per 100.000
kelahiran hidup menjadi 109, 65 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun
2022. Sedangkan di Jawa Tengah penyebab kematian ibu adalah
perdarahan(21,14%), hipertensi (26,34%), dan lain-lain (40,49%). Penyebab
AKI lainnya meliputi terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil
keputusan,terlambat mencapai fasilitas kesehatan, terlambat mendapatkan
pelayanan kesehatan (Jateng, 2021).
1
Upaya Pemerintah Jawa tengah dalam menurunkan AKI yaitu
denganprogram “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG)” yang
memiliki 4 fase yaitu Fase PraHamil (stop jika usia diatas 35 tahun dan
tunda jika usia dibawah 20 tahun), Fase Kehamilan (di deteksi, di data,
di laporkan), Fase Persalinan (ibu hamil yang akan melahirkan normal di
fasilitass Kesehatan dasar standard an ibu hamil dengn resiko tinggi dirujuk
ke Rumah Sakitdengan rujukan melalui system SIJARI EMAS) dan Fase
Nifas (mencatat dan monitoring ibu nifas dan bayi oleh dokter, bidan,
maupun perawat dan dipantau oleh PKK dan masyarakat) (Jateng, 2021).
Pada tahun 2021 upaya masyarakat di Indonesia khususnya kesehatan ibu dan
anak dapat dilihat dari data nasional bahwa cakupan K4 sebesar 85,06% dan
cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan
kesehatan sebesar 80,48 % (Kemenkes, 2022). Sementara itu cakupan K4 di
Provinsi Jawa Tengah sebesar 93,27% dan cakupan pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan sebesar 98% (Jateng, 2021).
Namun ternyata beberapa upaya tersebut belum mampu membuat
Indonesia berhasil mencapai target MDGs 2015, maka para tenaga kesehatan
khususnya bidan perlu melakukan tindakan untuk lebih menekan AKI dan
AKB. Bidan harus memiliki kualifikasi yang diilhami oleh filosofi asuhan
kebidanan yang menekankan asuhannya terhadap perempuan (Women Center
Care), salah satu upaya untuk meningkatkan kualifikasi bidan tersebut adalah
dengan cara melakukan asuhan kebidanan kehamilan dengan pendekatan
holistik. Dalam asuhan kebidanan dengan pendekatan holistik, bidan
memberikan dukungan emosional dalam bentuk dorongan, pujian, kepastian,
mendengarkan keluhan ibu dan menyertai ibu sebagai kunci asuhan. Bidan
dalam melakukan pendekatan ini memberikan pelayanan yang sama terhadap
perempuan di semua kategori dan berdasarkan evidence based. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menerima pelayanan secara holistik
merasa dianggap sebagai “teman” sehingga ada kepuasan tersendiri bagi ibu
serta berkontribusi terhadap kelanjutan pelayanan kebidanan dan bermanfaat
untuk ibu dan bayi baru lahir (Ningsih, 2017).
Menurut Ningsih, 2017 dalam jurnalnya menunjukkan bahwa sebagian
besar bidan memberikan asuhan secara terpisah. Bidan yang melakukan
kunjungan rumah hanya melakukan satu atau dua kali kunjungan. Kondisi ini
sering kali menjadi penyebab kurang terbinanya hubungan yang berkualitas
antara bidan dan ibu dan keterlambatan deteksi komplikasi kegawatdaruratan.
Peningkatan peran dan kompetensi bidan harus dilakukan sebagai
salah satu cara menurunkan angka kematian ibu. Asuhan antenatal care pada
2
trimester I merupakan dasar yang menentukkan seorang ibu dapat menunjang
masa kehamilannya sehingga ibu dapat bersalin dengan cara normal tanpa ada
suatu komplikasi. Upaya–upaya yang dilakukan untuk mengendalikan angka
kematian ibu dan bayi dilaksanakan seperti usaha pemeliharaan dan
pengawasan antenatal sedini mungkin, serta persalinan yang aman dan
perawatan masa nifas yang baik. Didalam kehamilan diperlukan pengawasan
atau pemeriksaan secara teratur atau dikenal dengan antenatal care (ANC).
Dengan memeriksakan secara teratur diharapkan dapat mendeteksi lebih dini
keadaan-keadaan yang mengandung resiko kehamilan dan atau persalinan,
baik bagi ibu maupun janin (Prawirohardjo, 2014).
Ketika melakukan antenatal care (ANC) pada Trimester I, bidan akan
menemui berbagai keluhan yang dialami oleh ibu hamil, salah satunya yaitu
mual muntah. Pada trimester pertama merupakan saat perubahan besar dalam
tubuh seorang wanita, dan akan mengalami perubahan dengan cara yang unik,
perubahan tersebut akan menimbulkan beberapa ketidaknyamanan, salah
satunya yaitu mual muntah. Sekitar 50 - 60% dari 360 wanita hamil
mengalami mual dan muntah. Mual muntah di pagi hari sekitar 2% dan sekitar
80% mual dan muntah sepanjang hari, kondisi ini biasanya bertahan dan
mencapai puncak pada usia kehamilan 9 minggu. Namun demikian, sekitar
18% kasus mual dan muntah akan berlanjut sampai kelahiran
Pemeriksaan kehamilan mempunyai dampak positif terhadap
penurunan angka kematian ibu dan bayi. Adapun pemeriksaan kehamilan
mencakup jumlah pemeriksaan dan mutu pemeriksaan. Dengan adanya
pemeriksaan kehamilan diharapkan wanita hamil mengungkapkan keluhan
yang dialami sehingga petugas kesehatan memberi informasi yang akurat.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka seorang bidan harus
memberikan asuhan secara holistik kepada ibu selama masa hamil untuk
mencegah terjadinya komplikasi-komplikasi atau penyulit sehingga mampu
berkontribusi dalam upaya penurunan AKI dan AKB. Dengan asuhan
kebidanan ini diharapkan ibu dapat selalu terpantau keadaannya sehingga
dapat dilakukan pencegahan dan penanganan apabila ada keluhan atau
masalah. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan Asuhan
Kebidanan pada Ny. N usia 31 tahun di Puskesmas Tegalrejo Kabupaten
Temanggung dengan harapan dapat melakukan asuhan kebidanan pada
kehamilan pada Trimester I.
3
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan kebidanan kepada ibu
hamil normal TM I secara komprehensif.
2. Tujuan Khusus
Memenuhi tugas target praktik fisiologis Program Studi Pendidikan
Profesi Kebidanan Magelang, Poltekkes Kemenkes Semarang dan agar
mahasiswa mampu:
a. Melakukan pengkajian kepada ibu hamil
b. Melakukan interpretasi data
c. Merumuskan diagnosa kebidanan sesuai hasil pengkajian
d. Mengidentifikasi identifikasi dan antisipasi diagnosa potensial
e. Mengidentifikasi tindakan segera
f. Menyusun perencanaan sesuai diagnosa yang dirumuskan
g. Melaksanakan tindakan sesuai rencana yang sudah disusun
h. Melakukan evaluasi tindakan
i. Melakukan pendokumentasian
j. Melakukan pemantauan ibu dan janin dengan menggunakan buku
KIA
3. Manfaat
a. Bagi Penulis
Dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh serta mendapatkan
pengalaman dalam melaksanakan asuhan kebidanan secara langsung
pada ibu sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan setiap asuhan kebidanan pada ibu hamil TM I
b. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai tambahan sumber kepustakaan pada asuhan
kebidanan pada ibu hamil fisiologis.
c. Bagi Klien dan Keluarga
Agar klien mengetahui dan memahami perubahan fisiologis yang
terjadi pada kehamilan secara fisiologis maupun psikologis serta
masalah pada kehamilan sehingga timbul kesadaran bagi klien untuk
memperhatikan kehamilannya.
d. Bagi lahan Praktik
Memberikan masukan terhadap tenaga kesehatan untuk lebih
meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dan selalu
menjaga mutu pelayanan.
4
BAB II
TINJAUAN TEORI
5
c. Genitalia dan anus sudah terbentuk
d. Menggerakkan anggota badan, mengedipkan mata, mengerutkan dahi,
dan mulut membuka
e. BB 15-30 gram. (Sulistyawati, 2013a)
C. Perubahan–perubahan maternal
1. Uterus
Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan
melindungi hasil konsepsi ( janin,plasenta, amnion). Pembesaran uterus
meliputi peregangan dan penebalan sel-sel [Link] awal kehamilan
penebalan uterus distimulasi terutama oleh hormone estrogen dan sedikit
progesterone (Prawirohardjo, 2014)
2. Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel
baru juga [Link] satu korpus luteum yang dapat ditemukan
didalam [Link] ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu
awal kehamilan dan setelah itu akan berperan sebagai penghasil
progesteron dalam jumlah yang relatif minimal. (Prawirohardjo, 2014)
3. Serviks
Pada trimester pertama kehamilan,berkas kolagen menjadi kurang kuat
[Link] ini terjadi akibat penurunan konsentrasi kolagen secara
[Link] sel-sel otot polos dan jaringan elastis,serabut
kolagen bersatu dengan arah paralel terhadap sesamanya sehingga serviks
menjadi lunakdibanding kondisi tidak hamil,tetapi tetap mampu
mempertahankan kehamilan. (Prawirohardjo, 2014)
4. Vagina & vulva
Peningkatan vaskularisasi menimbulkan warna ungu kebiruan pada
mukosa vagina dan servik,disebut tanda [Link]
(eksfoliasi) sel-sel vagina yang kaya glikogen terjadi akibat stimulasi
estrogen,sel-sel yang tanggal ini membentuk leukorhea(rabas vagina yang
kental dan berwarna keputihan,berbau tak enak tidak gatal/mengandung
darah).Selama kehamilan pH vagina menjadi basa dari 4 menjadi 6,[Link]
ini membuat ibu hamil lebih rentan terhadap infeksi vagina. (Marmi,
2011)
5. Payudara
Rasa penuh,peningkatan sensitivitas,rasa geli,dan rasa berat dipayudara
muncul sejak minggu ke 6 gestasi,sensitivitas bervariasi,dari geli ringan
sampai nyeri yang tajam,puting susu dan aerola menjadi lebih
6
berpigmen,warna merah muda sekunder pada aerola,dan puting susu
menjadi lebih erektil(Marmi, 2011)
6. Sistem pencernaan
Pada trimester I sering terjadi penurunan nafsu makan akibat nausea dan
atau vomitus yang merupakan akibat perubahan saluran cerna dan
peningkatan kadar hcg dalam darah. Aktivitas peristaltik
menurun,akibatnya bising usus menghilang dan konstipasi,mual,serta
muntah umum terjadi (Marmi, 2011)
7. Sistem perkemihan
Pada awal kehamilan laju filtrasi glomerulus dan aliran plasma ginjal
meningkat. Sejak minggu ke 10 gestasi,pelvis ginjal dan urter berdilatasi
karena ureter terkompresi antara uterus dan PAP. (Marmi, 2011)
8. Sistem integumen
Perubahan integumen selama hamil disebabkan oleh perubahan
keseimbangan hormon dan peregangan mekanis (Marmi, 2011)
7
berukuran kecil jika dibandingkan dengan banyaknya air ketuban,
maka kalau rahim didorong atau digoyangkan, maka anak melenting
di dalam rahim.
2. Tanda tidak pasti kehamilan
Tanda tidak pasti adalah perubahan-perubahan yang dirasakan oleh ibu
secara subyektif yang timbul selama kehamilan (Wulandari, 2021).
Berikut adalah tanda tidak pasti kehamilan atau dugaan hamil menurut
(Nelly Nugrawati & Amriani, 2021) meliputi :
a. Amenore
Terlambat menstruasi adalah tanda awal kehamilan yang paling
umum dan jelas. Jika selalu mengalami menstruasi secara teratur,
terlambat haid lebih dari satu minggu harus diperiksa dengan
menggunakan tes uji kehamilan.
Akan tetapi, bagi ibu yang selalu mengalami pola menstruasi yang
tidak teratur bisa jadi keterlambatan ini disebabka karena stress, pola
makan yang tidak teratur atau terlalu lelah. Tetapi tidak ada salahnya
untuk melakukan tes kehamilan jika ibu terambat haid untu mencegah
ha – hal yang tidak diinginkan.
Untuk mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir (HT),
menentukan taksiran tanggal pesalinan (TTP) menurut rumus Naegle
TTP = HT + 7, bulan HT – 3 dan tahun + 1.
b. Morning sickness
Rasa mual biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan dan
akan menghilang sejalan dengan pertambahan usia kehamilan.
Meskipun ini dinamakan morning sickness, pada kenyataan nya mual
dan muntah dapat terjadi pada siang dan malam hari. Hal ini
disebabkan oleh pengarus hormone estrogen dan progesterone terjadi
pegeluaran asam lambung yang berlebihan dan menimbulkan mual
dan muntah.
Hal ini masih fisiologis, tetapi bila terampau sering dapat
menyebabkan gangguan kesehatan yang disebut hyperemesis
gravidarum.
c. Kram perut dan bercak merah muda
Antara minggu ke 3 dan ke 4 kehamilan, akan mengalami flek yang
diakbatkan oleh tertanamnya sel telur yang telah dibuahi didalam
rahim (implantasi). Darah dilepas saat sel telur yang dibuahi
melekatkan diri ke dinding rahim. Flek ini juga diiringi oleh kram
perut sehingga kadang salah dimengerti sebagai menstruasi
8
d. Mengidam
Ngidam sering terjadi pada bulan pertama kehamilan dan akan
menghilang seiring bertambahnya usia kehamilan. Beberapa ibu
hamil bisa mengidam makanan tertentu dan tidak tahan terhadap
makanan yang biasanya disukai pada saat tidak hamil dan hal ini jga
berhubungan dengan perubahan hormone.
e. Mudah Lelah
Wanita hamil mudah merasa lelah, hal ini disebabkan karena
meningkatnya kadar hormone progesterone dalam tubuh. Hormone
progesterone adalah depresan alami bagi sistem saraf pusat yang
menyebabkan ibu mudah merasa mengantuk. Selain itu pada
trimester ini tubuh akan bekerja lebih keras memompa hormone dam
memproduksi lebih banyak darah agar nutrisi janin terpenuhi.
Mudah lelah terjadi pada trimester pertama karena, disebabkan karena
penurunan kecepatan metabolisme pada kehamilan yang akan
meningkat seiring pertambahan usia kehamilan akibat aktivitas
metabolisme hasil konsepsi.
f. Sering buang air kecil
Saat hamil, terjadi perubahan hormone dalam darah yang
menyebabkan sirkulasi darah dalam tubuh meningkat. Hal ini
menyebabkan ginjal bekeja lebih keras sehingga memproduksi air
seni lebih banyak.
Semakin besar kehamila, semakin besar pula ukuran janin sehingga
menekan organ-organ didalam tubuh, termasuk kandung kemih.
Akibatnya kapasitas kandung kemih menjadi lebih sempit sehingga
lebih cepat penuh dam membuat lebih sering ingin buang air kecil.
Akan tetapi, sering buang air kecil bukanlah sesuatu yang
membahayakan, jadi tidak perlu khawatir dan tetap tidak mengurangi
konsumsi air agar tidak dehidrasi.
g. Hipersaliva
Hipersaliva adalah kondisi saat air liur diproduksi secara berlebihan.
Hal ini terjadi pada siapa saja, namun ibu hamil adalah paling rentan
mengalaminya sebab perubahan hormone yang drastic. Pada ibu hamil,
hipersaliva juga disebut pytalism gravidarum
h. Mamae membesar dan menjadi tegang
Payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri karena pengarus
hormone estrogen dan progesterone. Perubahan paling nyata saat
hamil adalah perubahan fisik. Salah satu tanda awal kehamilan yang
9
paling umum adalah perubahan pada payudara. Selain ukurannya
yang menjadi lebih besar, payudara terasa lebih sakit, berat bila
dipegang, selain itu, areola atau daerah kecoklatan disekitar putting
payudara akan makin menghitam dan melebar. Perubahan ini akibat
meningkatnya produki hormone estrogen dan proesteron, juga
sebagai persiapan untuk memproduksi ASI untuk si bayi nanti.
i. Pigmentasi kulit
Pigmentasi kulit karena pengaruh hormone kortikosteoid plasenta,
Chloasma Gravidarum, areola mammae yang melebar dan
menghitam, pada leher terdapat hiperpigmetasi dan dinding perut
(Linea Nigra/Griea).
j. Konstipasi dan obstipasi
Selama hamil, tingginya hormone progesterone bisa menyebabkan
sembelit, progesterone menyebabkan makanan menjadi lebih lambat
ketika melalui usus. Untuk mengatasi masalah ini cukup minum air
putih yang banyak, olahraga dan makan makanan yang mengandung
tinggi serat.
3. Tanda Kemungkinan Hamil
Tanda kemungkinan hamil adalah perubahan–perubahan yang
diobservasi oleh pemeriksa (bersifat objektif), namun berupa dugaan
kehamilan saja. Semakin banyak tanda-tanda yang didapatkan, semakin
besar pula kemungkinan kehamilan. Tanda kemungkinan hamil menurut
(Wulandari, 2021) adalah:
a. Rahim membesar
Pada keadaan ini, terjadi perubahan bentuk, besar, dan konsistensi
rahim. Pada pemeriksaan dalam, dapat diraba bahwa uterus membesar
dan semakin lama semakin bundar bentuknya
b. Tanda hegar
Konsistensi rahim dalam kehamilan berubah menajdi lunak, terutama
daerah ismus. Pada minggu-minggu pertama, isthmus uteri
mengalami hipertrofi seperti korpus uteri. Hipertrofi isthmus pada
triwulan pertama mengakibatkan isthmus menjadi panjang dan lebih
lunak sehingga kalau diletakkan dua jari dalam fornix posterior dan
tangan satunya pada dinding perut di atas simpisis maka isthmus ini
tidak teraba seolah-olah korpus uteri sama sekali terpisah dari uterus.
10
Gambar 1 Pemeriksaan Tanda Hegar
c. Tanda chadwick
Hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih
merah dan kebiru-biruan (livide). Warna porsio tampak livide. Hal ini
disebabkan oleh pengaruh hormon esterogen.
d. Tanda piscaseck
Uterus mengalami pembesaran, kadang-kadang pembesaran tidak rata
tetapi di daerah telur bernidasi lebih cepat tumbuhnya. Hal ini
menyebabkan uterus membesar ke salah satu jurusan pembesaran
tersebut.
e. Tanda braxton hicks
Bila uterus dirangsang, akan mudah berkontraksi. Waktu palpasi atau
pemeriksaan dalam uterus yang awalnya lunak akan menjadi
keras karena berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam masa
kehamilan.
f. Tanda goodell
Di luar kehamilan konsistensi serviks keras, kerasnya seperti
merasakan ujung hidung, dalam kehamilan serviks menjadi lunak
pada perabaan selunak vivir atau ujung bawah daun telinga.
11
E. Adaptasi Fisiologi dan Anatomi Maternal
1. Perubahan Sistem Endokrin
Perubahan fisiologis dalam kehamilan salah satunya dipengaruhi oleh
perubahan sekresi hormonal. Adanya HCG yang diproduksi oleh sel-
sel trofoblas menyebabkan peningkatan produksi “ovarian steroid
hormon”. Pada saat kehamilan, fungsi endokrin dari plasenta menjadi
lebih luas untuk menghasilkan hormon maupun “realising
factor”.Efek dari produk yang dihasilkan plasenta ini tidak hanya
berpengaruh pada sirkulasi maternal, namun juga berperan dalam
sirkulasi [Link] ini merupakan bentuk penyesuaian tubuh
maternal akibat dari perubahan fisiologis oleh adanya kehamilan dan
persiapan pertumbuhan janin (Irianti et al., 2014).
2. Perubahan pada Sistem Reproduksi
Selama kehamilan uterus merupakan organ yang sangat jelas
mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi pada badan uterus
meliputi bagian desidua, miometrium dan [Link] dan
pingkatan vaskularitas lapisan uterus atau desidua dipengaruhi oleh
hormon progesteron dan estrogen, terutama didaerah fundus dan
badan uterus.
Pada awal kehamilan, estrogen mempengaruhi myometrium sehingga
mengalami peningkatan jumlah sel akibat penebalan dan peningkatan
ukuran. Perimetrium yang merupakan lapisan tipis peritoneum yang
melindungi uterus, memiliki ligament gilig yang dapat menopang
bagian anterior karena pembesaran uterus selama kehamilan.
Pembesaran uterus akan menyebabkan pembesaran abdomen, pada
minggu ke-12 kehamilan uterus akan berukuran kira – kira seukuran
buah jeruk besar dan telah menonjol keluar dari pelvis. Dengan
bertambahnya usia kehamilan dan adanya konsepsi, uterus akan
mengalami penyesuaian, pada usia kehamilan 16 minggu uterus
akan terlihat lebih bulat, ismus dan serviks menjadi tipis denga
sedikit pembuluh darah (Irianti et al., 2014).
3. Perubahan pada Sistem Kardiovaskuler
Selama kehamilan dan masa nifas, jantung dan sirkulasi mengalami
adaptasi fisiologis, perubahan pada fungsi jantung mulai tampak
selama 8 minggu pertama kehamilan. Curah jantung meningkat
bahkan seak minggu kelima atau mencerminkan berkurangnya
resistensi vascular sistemik dan meningkatnya kecepatan jantung.
Kecepatan nadi istirahat meningkat sekitar 10 denyut/menit selama
12
kehamilan (Irianti et al., 2014).
a) Jantung
Seiring dengan semakin terangkatnya diafragma, jantung juga
tergeser ke kiri dan ke atas agak memutar mengelilingi sumbu
[Link] jantung merupakan hasil dari peningkatan
frekuensi denyut jantung dan volume sekuncup, pada awal
kehamilan dan tetap meningkat sepanjang masa hamil. Selama
kehamilan normal, tekanan arteri rerata dan resistensi vascular
menurun, sementara volume darah dan laju metabolik basal
meningkat. Akibatnya, pada awal kehamilan curah jantung saat
istirahat, jika diukur dalam berbaring lateral, meningkat secara
bermakna.
b) Pembuluh Darah
Pada awal kehamilan terjadi penurunan tahanan tekanan vaskuler
perifer, sehingga pada usia kehamilan 24 minggu tekanan darah
sistolik menurun rata-rata 5-10 mmHg, namun akan naik pada
kehamilan cukup bulan.
c) Sistem Darah
Peningkatan volume darah ibu hamil dimulai sejak
[Link] plasma darah meningkat sekitar 15% pada
kehamilan 12 minggu dibandingkan dengan keadaan sebelum
hamil. Peningkatan volume darah ibu hamil terjadi karena
peningkatan plasma dan eritrosit.
4. Perubahan Sistem Pernapasan
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa konsumsi oksigen meningkat
sekitar 30% sampai 40% selama kehamilan, kenaikan progresif
terutama disebabkan kebutuhan metabolisme janin, uterus, dan
plasenta dan yang kedua meningkatkan kerja jantung dan pernapasan.
5. Perubahan pada Payudara
Kehamilan akan memberikan efek membesarnya payudara yang
disebabkan oleh peningkatan suplai darah, stimulasi oleh sekresi
estrogen dan progesteron dari kedua korpus luteum dan plasenta
terbentuknya duktus asini yang baru selama kehamilan. Pada awal
kehamilan, ibu akan merasakan perasaan panas dan nyeri merasakan
perasaan panas dan nyeri pada payudara, kemudian seiring
bertambahnya usia kehamilan, payudara akan membesar dan akan
tampak venavena halus dibawah kulit. Sirkulasi vaskuler meningkat,
puting membesar dan terjadi hiperpegmentasi aereola.
13
6. Perubahan Sistem Perkemihan
Perubahan terjadi secara signifikan pada sistem perkemihan selama
kehamilan, selain mengelola zat-zat sisa dan kelebihan yang
dihasilakan akibat peningkatan volume darah dan curah jantung organ
perkemihan juga mengelola produk sisa metabolisme dan menjadi
organ utama yang mengeksresi produk sisa dari janin.
7. Perubahan Sistem Pencernaan
Perubahan sistem pencernaan pada ibu terjadi pada traktus
gastrointestinal maupun pada organ asesoris lainnya (kelenjar saliva,
pankreas, liver dan kantong empedu). Dalam aktivitasnya, fungsi
traktus gastrointestinal salah satunya diatur beberapa jenis peptida,
termasuk hormone estrogen dan progesterone.
Dalam keadaan hamil estrogen menyebabkan peningkatan aliran darah
ke mulut sehingga gusi menjadi rapuh dan dapat menimbulkan
gingivitis. Kerja progesterone pada otot – otot polos menyebabkan
lambung hipotonus yang disertai penurunan motilitas dan waktu
pengosongan yang memanjang dan mempengaruhi seluruh saluran
usus halus. Akibat pengaruh progesterone usus halus harus
memperpanjang lama absorpsi nutrient, mineral dan obat-obatan.
Terjadi peningkatan absorpsi air dari kolon disebabkan oleh transit
makanan yang lebih lambat melalui usus halus, hal ini menyebabkan
peningkatan terjadinya konstipasi (Irianti et al., 2014).
8. Perubahan Metabolisme
Pada metabolisme mineral yang terjadi adalah sebagai berikut:
Kalsium. Dibutuhkan rata-rata 1,5 gram sehari, sedangkan untuk
pembentukan tulang terutama di trimester akhir dibutuhkan 30-40
gram. Fosfor. Dibutuhkan rata-rata 2 gr/[Link]. Wanita hamil
cenderung mengalami retensi air (Indriyani, 2021)
9. Perubahan Muskuloskeletal Esterogen dan Progesteron
Memberi efek maksimal pada relaksasi otot dan ligamen pelvis pada
akhir kehamilan. Relaksasi ini digunakan oleh pelvis untuk
meningkatkan kemampuannya menguatkan posisi janin pada akhir
kehamilan dan pada saat kelahiran. Ligamen pada simfisis pubis dan
sakroiliaka akan menghilang karena berelaksasi sebagai efek dari
esterogen. Simfisis pubis melebar sampai 4 mm pada usia kehamilan
32 minggu dan sakrooksigeus tidak teraba, diikuti terabanya koksigis
sebagai pengganti bagian belakang (Indriyani, 2021).
14
F. Perubahan Psikologi Kehamilan Trimester 1
Perubahan Psikologis Trimester I (Periode Penyesuaian) :
1. Ibu merasa tidak sehat dan kadang merasa benci dengan
kehamilannya.
2. Kadang muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan, dan
kesedihan. Bahkan kadang ibu berharap agar dirinya tidak hamil
saja.
3. Ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah iya benar-benar hamil.
Hal ini dilakukan sekadar untuk meyakinkan dirinya.
4. Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat
perhatian yang saksama.
5. Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia
seorang ibu yang mungkin akan diberitahukannya kepada orang
lain atau malah mungkin dirahasiakannya.
6. Hasrat untuk melakukan hubungan seks berbeda-beda pada tiap
wanita, tetapi kebanyakan akan mengalami penurunan.
(Sulistyawati, 2013a)
15
darah padatrimester pertama, peregangan pada otot uterus, fluktuasi
tekanandarah terutama pada saat tekanan darah menurun, relaksasi
relatifpada otot saluran pencernaan (yang menyebabkan
pencernaankurang efisien) dan peningkatan asam lambung yang
disebabkanlambung kosong atau makan makanan yang salah.
Faktor emosi berperan penting pada kejadian morningsickness.
Morning sickness jarang dialami oleh wanita hamildengan
latar balakang sosial rendah dimana gaya hidup
lebihsederhana, lebih rileks, dan sedikit tuntutan. Pada kehamilan
yangtidak diharapkan kejadian morning sickness lebih tinggi
dibandingpada kehamilan yang diharapkan. Adapun beberapa
cara untuk mengatasi morning sickness, yaitu:
a) Minum teh hangat dan gula saat bangun tidur sebelum berjalan.
b) Makanan porsi kecil sering, yang bergizi.
c) Hindari makanan yang berlemak.
d) Hindari bau atau faktor penyebab
e) Duduk tegak setiap kali selesai makan.
f) Makan makanan kering dengan minum diantara waktu making
g) Minum minuman berkarbonath
h) Bangun secara berlahan dan hindari melakukan gerakan tiba-tiba
i) Hindari menggosok gigi segera setelah makan
j) Istirahat sesuai kebutuhan dengan posisi kaki ditinggikan saat
berbaring.
k) Hindari tempat tertutup dan cari tempat dengan udara sejuk
Selain cara diatas dapat menggunakan Aroma terapi Lemon
dalam mengurangi gejala mual mutah pada ibu hami. Berdasarkan
penelitian penelitian oleh (Rofi’ah et al., 2019) bahwa adanya
perbedaan derajat emesis gravidarum terhadap ibu hamil setelah
diberikan intervensi aromaterapi lemon dengan tingkat emesis
gravidarum, rentang skor sebelum diberikan aromaterapi lemon yaitu 3
– 10 dan rentang skor sesudah diberikan aromaterapi lemon yaitu 0 –
19. Penelitian ini juga membandingkan penggunaan aromaterapi
menggunakan berbagai dosis yaitu 0,1 ml; 0,2 ml; dan 0,3 ml. menurut
hasil penelitian ini, tidak ada perbedaan antara ini, tidak ada perbedaan
efektivitas 3 dosis tersebut dalam mengatasi mual dan muntah, namun
jika dianalisa masing-masing kelompok, didapatkan hasil bahwa
aromaterapi lemon 0,2 dan 0,3 efektif dalam mengatasi muntah pada
kehamilan
16
Pada penelitian (Vitrianingsih & Khadijah, 2019) dengan judul
"Efektivitas Aromaterapi Lemon untuk Mengatasi Emesis
Gravidarum. Jurnal Keperawatan juga dijelaskan menggunakan
metode studi quasy-experimen, dengan bentuk one group pre-post test
design. Menyimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian aromaterapi
lemon dengan pengurangan mual muntah pada ibu hamil dengan nilai
p value=0.017 bahwa pemberian aromaterapi lemon efektif untuk
mengurangi emesis gravidarum pada ibu hamil trimester pertama.
Pemberian rebusan jahe ternyata juga efektiv dalam mengatasi
ketidaknyaman ibu hamil trimester I dengan hyperemesis gravidarus.
Hal ini sejalan dengan penelitian (Novelia et al., 2023) yang
dilakukan di Puskesmas Tanara Kabupaten Serang Tahun 2018. Jenis
penelitian adalah quasi eksperiment dengan rancangan pre-test and
post test control group. Sampel penelitian adalah 20 ibu hamil yang
mengalami hiperemesis gravidarum yang berada di wilayah kerja
Puskesmas Tanara Kabupaten Serang diambil secara accidental. Data
dianalsis dengan Analisa univariat dan bicariat menggunakan uji beda
t test. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan mual muntah
setelah intervensi terhadap kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol dengan rata-rata mual muntah 5 kali pada kelompok
eksperimen dan 11 kali pada kelompok kontrol. Ada pengaruh
pemberian air rebusan jahe terhadap frekuensi mual muntah pada ibu
hamil HEG (p value= 0,000, t=-22.031).
2. Sering kencing
Terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan. Ibu hamil akanmengalami
sering buang air kecil baik siang/malam. Hal ini karenarahim
membesar menekan kandung kemih atau adanya perubahanhormonal.
Pada trimester III timbul lagi karena kepala janin mulaiturun ke bawah
PAP, sehingga kandung kencing tertekan kembali.
a) Hidroreter dekstra dan pielitis dekstra :
Dalam kehamilan ureter kanan dan kiri membesarkarena
pengaruh progesteron. Akan tetapi ureter kanan lebihmembesar
karena lebih banyak mengalami tekanandibandingkan ureter
kiri. Hal ini disebabkan oleh karena uteruslebih sering memutar
kearah kanan.
b) Poliuria
Karena peningkatan sirkulasi darah diginjal saatkehamilan,
sehingga filtrasi di glomerolus juga meningkat lebih,lebih banyak
17
dikeluarkan urea, asam urine, glukosa, asam amino,asam folik
dalam [Link] beberapa cara untuk mengatasi masalah
seringkencing yang dialami ibu hamil, yaitu:
1) Berkemihlah segera setiap ada keinginan untuk berkemih.
2) Tingkatkan asupan cairan siang hari dan kurangi asupancairan
malam hari, hindari cafein.
3) Tingkatkan kebersihan genetalia
3. Chloasma Gravidarum
Berupa bintik-bintik hitam atau bercak hiperpigmentasi kecoklatan
pada kulit di daerah tonjolan maksila dan dahi. Chloasma di alami
50% - 70% wanita hamil, dimulai minggu ke-16 dan
meningkat secara bertahap sampai bayi lahir. Hal ini
disebabkan karena pengaruh hormon MSH (Melanophore
Stimulating Hormone) yang dikeluarkan juga didorong oleh sinar
matahari yang mengenai kulit.
Beberapa cara untuk mengatasi cloasma gravidarum yang
dapat dilakukan ibu, yaitu:
a) Melengkapi Kebutuhan Asam Folat
b) Makanan yang mengandung asam folat sangat baik untuk ibu
hamil, selain dapat mendukung pekembangan janin. Menurut
penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan folat dapat
dikaitkan dengan hiperpigmentasi. Pilihan yang baik
mengandung asam folat termasuk sayuran berdaun hijau, jeruk,
roti gandum, dan sereal gandum.
c) Melindungi kulit dengan menggunakan tabir surya
d) Ginseng
Campurkan sedikit teh ginseng dengan jumlah yang
sama bubuk pegagan dan bubuk akar ginseng untuk membuat
salep. Terapkan langsung ke tempat melasma dua kali sehari
selama 10 sampai 15 menit, lalu bilas. Hanya 1/8 sendok teh
setiap bubuk membuat cukup untuk satu aplikasi
4. Konstipasi
Disebabkan karena reaksi otot halus diusus besar dengan adanya
jumlah progesteron yang meningkat reabsorbsi air di usus besar
meningkat. Progesteron dan penekanan terhadap perut oleh gerak
kinerja yang menurun dalam saluran pencernaan. Selain itu
obstipasi juga disebabkan oleh hipoperistaltik (perlambatan usus).
18
Pilihan makanan yang tidak lazim, kurang cairan, disertai abdomen
akibat kehamilan dan pergeseran usus akibat kompresi. Beberapa cara
untuk meringankan kejadian konstipasi yaitu :
a) Menambah asupan serat makanan dan minum cairan yang
cukup
b) Olah raga teratur
c) Kurangi asupan suplemen fe jika kondisinya parah, bila tetap
ingin mengkonsumsinya konsultasikan dengan tenaga medis
yang kompeten
d) Membiasakan BAB teratur dan BAB segera setelah ada
dorongan untuk BAB
Menurut (Sulistyawati, 2013a) masalah ketidaknyamanan yang
terjadi pada kehamilan trimester I adalah sebagai berikut :
KETIDAKNYAMANAN DASAR FISIOLOGI MENGATASINYA
Ketidaknyamanan pada Stimulasi hormonal a. Gunakan bra yang
payudara: yang menyebabkan: menyangga besar dan
hiperpigmentasi, nyeri, pigmentasi, hipertrofi, berat mammae
kesemutan, rasa peningkatan ketebalan b. Pakai nipple pad yang
penuh/tegang, lemak, peningkatan dapat menyerap
pengeluaran kolostrum vaskularisasi. kolostrum jika sudah
terjadi. Ganti segera
jika kotor
c. Bersihkan dengan air
hangat dan jaga agar
tetap kering
Peningkatan frekuensi Berkurangnya a. Kosongkan kandung
urinasi, pengeluaran kapasitas kandung kencing secara teratur
kencing yang tak dapat kencing karena b. Lakukan Kegel’s
ditahan saat bersin, batuk, penekanan oleh exercises
tertawa uterus. Stress c. Batasi munum pada
incontinence karena malam hari
pengaruh hormonal d. Pakai pembalut wanita,
sehingga terjadi ganti segera setelah
relaksasi spinkter basah
kandung kencing e. Segera laporkan jika
mengalami nyeri/rasa
panas saat BAK
Rasa lemah, mudah Lelah Tidak jelas. Dapat a. Meyakinkan ibu
19
berhubungan dengan tentang kenormalan
peningkatan rasa letih tersebut serta
estrogen/progesteron, akan berkurang pada
telxin dan hCG, atau trimester kedua
peningkatan b. Istirahat sesuai
metabolisme kebutuhan
c. Konsumsi menu
seimbang untuk
mencegah anemia yang
akan memperparah
keluhan mudah lelah
d. Senam ringan dan
konsumsi makanan
yang bergizi
Nausea dan vomitus Tidak jelas. a. Hindari perut kosong
Kemungkinan akibat atau terlalu penuh
peningkatan hCG, b. Pertahankan postur
respon emosional tubuh yang baik
terhadap kehamilan c. Hindari merokok atau
asap rokok
d. Makan makanan ringan
yang tinggi karbohidrat
saat bangun tidur
e. Minuman jahe atau
dalam bentuk permen
jahe terbukti dapat
mengurangi rasa mual
f. Istirahat di bed hingga
gejala mereda.
20
Kehamilan muda:
1. Perdarahan per Vagina
a. Abortus
1) Abortus imminens
Sering juga disebut dengan keguguran membakat dan akan
terjadi jika ditemukan perdarahan pada kehamilan muda,
namun pada tes kehamilan masih menunjukan hasil positif
(Sulistyawati, 2013a)
2) Abortus insipiens (keguguran sedang berlangsung
Abortus insipiens terjadi apabila ditemukan adanya
perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan
membukanya ostium uteri dan terabanya selaput ketuban.
(Sulistyawati, 2013a)
3) Abortus habitualis (keguguran berulang)
Pasien termasuk dalam abortus tipe ini jika telah mengalami
keguguran berturut-turut selama lebih dari tiga kali
(Sulistyawati, 2013a)
4) Abortus inkomplitus
Tanda pasien dalam abortus tipe ini adalah jika terjdi
perdarahan per vagina disertai pengeluaran janin tanpa
pengeluaran desidua atau [Link] yang menyertai
adalah amenorea, sakit perut karena kontraksi perdarahan
yang keluar bisa banyak atau sedikit (Sulistyawati, 2013a)
5) Abortus komplitus
Pada abortus jenis ini akan ditemukan pasien dengan
perdarahan per vagina disertai dengan pengeluaran seluruh
hasil konsepsi (janin dan desidua) sehinggga rahim dalam
keadaan kosong (Sulistyawati, 2013a)
b. Kehamilan Mola
Disebut kehamilan anggur, yaitu adanya joinjot korion (chorionic
villi) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil
yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai anggur
atau mata ikan (Sulistyawati, 2013a)
c. Kehamilan Ektopik
Dinamika kehamilan ektopik jika kehamilan dengan hasil
konsepsi tidak berada di dalam endometrium uterus
(Sulistyawati, 2013a)
21
d. Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis gravidarum memiliki gejala hiperemesis
gravidarum berdasarkan tingkat keparahannya (Sulistyawati,
2013a)
I. Kebutuhan Ibu Hamil pada Trimester I
1. Oksigen (O2)
Konsumsi keseluruhan O2 meningkat sekitar 15% sampai 20%
dalam kehamilan sekitar setengah dari peningkatan ini
disebabkan oleh rahim dan isinya. Sisanya disebabkan terutama
oleh peningkatan kerja ginjal dan jantung ibu. Penambahan yang
lebih kecil adalah akibat kerja otot pernafasan dan
payudara (Esensial Obstetric dan Ginecologi edisi 2)
2. Nutrisi
Kebutuhan nutrisi ibu hamil trimester pertama:
a) Minggu 1 sampai 4, ibu harus mengonsumsi berbagai jenis
makanan berkalori tinggi untuk mencukupi kebutuhan kalori
yang bertambah 170 kalori. Tujuannya agar tubuh
menghasilkan cukup energi, yang diperlukan janin yang tengah
terbentuk pesat. Konsumsi minumal 2000 kilo kalori per hari.
b) Minggu ke-5. Agar asupan kalori terpenuhi, meski dilanda
mual dan muntah, makan dalam porsi kecil tapi sering.
Konsumsi makanan selagi segar atau panas.
c) Minggu ke-7. Konsumsi aneka jenis makanan sumber kalsium
untuk menunjang pembentukan tulang kerangka tubuh janain
yang berlangsung saat ini. Kebutuhan kalsium 1000 mg/hari.
d) Minggu ke-9. Jangan lupa penuhi kebutuhan asam folat 0,6
mg/hari, diperoleh dari hati, kacang kering, telur, brokoli,
aneka produk whole grain, jeruk, dan jus jeruk.
e) Minggu ke-10. Saatnya makan banyak protein untuk
memperoleh asam amino bagi pembentukan otak janin,
ditambah kolin dan DHA untuk mem entuk sel otak baru.
f) Minggu ke-12. Sejumlah vitamin yang harus dipenuhi
kebutuhannya adalah vitamin A, B1, B2, B3, dan B6,
semuanya untuk membantu proses tumbuh kembang.
(Retnaningtyas, 2021a)
22
Untuk mengkondisikan perubahan yang terjadi selama
kehamilan, banyak nutrient yang digunakan dalam jumlah besardari
pada jumlah yang dibutuhkan orang dewasa normal.
Recomendasi untuk meningkatkan asupan nutrisi tertentu selama
kehamilan telah diatur oleh national Research Concil
(1989) dalam bentuk RDA. Nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan antara
lain:
a) Energi
Sumber utama energi adalah karbohidrat.
b) Cairan
Jumlah cairan sehari sekitar 6-8 gelas (1500 - 2000 ml).
c) Vitamin
Terdapat peningkatan kebutuhan vitamin A, D, E, K selama
hamil serta B6 dan B12.
d) Zat Besi
Kebutuhan wanita hamil akan Fe meningkat (untuk
pembentukan plasenta dan sel darah merah) sebesar
200-300%. Perkiraan besaran zat besi yang perlu ditimbun
selama hamil adalah 1040 mg.
e) Kalsium
Asupan kalsium yang dianjurkan untuk ibu hamil
yang berusia 18 tahun ke bawah membutuhkan kalsium
sebanyakM 1400 mg per hari, ibu hamil yang berusia
19-29 tahun membutuhkan kalsium sebanyak 1300 mg per
hari, dan ibu hamil yang berusia 30-49 tahun
membutuhkan kalsium sebanyak 1200 mg per hari (Sandra et
al., 2017).
f) Asam folat
Merupakan satu-satunya vitamin yang kebutuhannya selama
hamil berlipat dua kali.
g) Seng
Jumlah seng yang direcomendasikan selama hamil ialah 15 mg
sehari. Dapat diperoleh dari daging, kerang, roti, gandum utuh
dan sereal.
h) Natrium
Selama hamil konsumsi natrium di bawah 35 gr/hari
23
3. Personal Hygiene
a) Kebersihan tubuh
Memberikan rasa nyaman dan memberikan ketenangan
karena tubuh yang dirawat akan menghindari dari infeksi
penyakit
b) Mulut (gusi dan gigi)
Memeriksa gigi dengan teratur dan merawat dengan baik
pada masa hamil sangat penting karena perubahan
hormonal selama kehamilan dapat menyebabkan masalah
gigi dan gusi seperti gusi mudah berdarah.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aini AN,Susanto HS,
dan Yuliawati S yang berjudul Gambaran SkorKaries menurut
Status Kehamilan di Puskesmas Bayat Kabupaten Klaten
menunjukan bahwa lebih banyak ibu hamil yang memiliki
karies yaitu sebanyak 20% dibandingkan dengan wanita
yang tidak hamil. Kemungkinan penyebab karies selama
kehamilan adalah karena perubahan saliva pada rongga mulut,
perubahan oral flora (bakteri mulut), kebersihan gigi dan
mulut yang terabaikan, perubahan pola makan pada masa
kehamilan seperti lebih sering mengonsumsi makana yang
banyak mengandung gula.
Biasanya wanita hamil mengonsumsi makanan manis
untukmencegah terjadinya mual muntah sehingga hal
tersebut dapat menyebabkan penurunan Ph saliva yang
akan menyebabkan karies gigi.
c) Payudara
Menjaga puting susu selama hamil sangat penting untuk
persiapan pada saat laktasi.
d) Mandi : Mandi minimal 2x sehari
e) Vulva
Merupakan pintu gerbang bagi kelahiran anak. Kebersihan
vulva harus dijaga betul-betul dengan lebih serius
membersihkannya.
4) Kebutuhan istirahat.
Kebutuhan istirahat pada ibu hamil trimester I meningkat
dikarenakan pada kehamilan trimester I banyak ketidaknyamanan
yang menyebabkan kebutuhan istirahat bertambah. Untuk
24
memenuhi kebutuhan istirahat maka istirahat pada siang hari juga
ditingkatkan.
J. Pemeriksaan Kehamilan
Pemeriksaan kehamilan terbaru sesuai dengan standar pelayanan
dalam Buku KIA terbaru revisi [Link] 6 kali pemeriksaan selama
kehamilan, dan minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester I
dan II, 2 kali pada trimester pertama (kehamilan hingga 12 minggu, 1
kali pada trimester kedua (kehamilan diatas 12 minggu sampai 24
minggu), 3 kali pada trimester ketiga (kehamilan diatas 24 minggu
sampai 40 minggu) (Kementerian Kesehatan RI, 2020)
Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa
mengancam jiwanya. Oleh karena itu, wanita hamil trimester pertama
sebelum 14 minggu memerlukan antenatal untuk mendapatkan
informasi yang penting, sebagai berikut
Kunjungan Waktu Alasan
Trimester Sebelum a. Mendeteksi masalah yang dapat ditangani
Pertama minggu ke 14 sebelum membahayakan jiwa
b. Mencegah masalah, missal tetanus neonatal,
anemia, kebiasaan tradisional yang
berbahaya
c. Membangun hubungan saling percaya
d. Memulai persiapan kelahiran dan kesiapan
untuk menghadapi komplikasi.
e. Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi,
kebersihan, olahraga, istiraha, seks, dan
sebagainya)
Trimester II 14-28 minggu Sama dengan TM I ditambah : kewaspadaan
khusus terhadap hipertensi kehamilan
Trimester III 28-36 minggu Sama, ditambah deteksi kehamilan ganda
Setelah 36 Sama, ditambah deteksi kelainan letak atau
minggu kondisi yang memerlukan persalinan di RS
25
1. Sapa ibu beserta keluarganya dan membuatnya merasa nyaman
2. Mendapatkan riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan
teliti apa yang diceritakan ibu
3. Melakukan pemeriksaan fisik
4. Melakukan pemeriksaan laboratorium
5. Melakukan anamnesis, pemeriksaan laboratorium untuk menilai
apakah kehamilannya normal
6. Membantu ibu dan keluarganya untuk mempersiapkan kelahiran
dan kemungkinan keadaan darurat :
a. Bekerja sama dengan ibu, keluarganya, serta masyarakat untuk
mempersiapkan rencana kelahiran termasuk mengidentifikasi
penolong dan tempat persalinan, serta perencanaan tabungan
untuk mempersiapkan biaya persalinan.
b. Bekerja sama dengan ibu, keluarganya, serta masyarakat untuk
mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi, termasuk :
1) Mengidentifikasi ke mana harus pergi dan transportasi untuk
mencapai tempat tersebut.
2) Mempersiapkan donor darah
3) Mengadakan persiapan finansial
4) Mengidentifikasi pembuatan keputusan kedua jika pembuat
keputusan pertama tidak ada ditempat.
7. Memberikan konseling :
a. Gizi, peningkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori perhari,
mengonsumsi makanan yng mengandung protein, zat besi,
minum cukup cairan (menu seimbang)
b. Latihan, normal tidak berlebih, istirahat jika lelah
c. Perubahan fisiologis, tambah berat badan, perubahan pada
payudara, tingkat tenaga yang bisa menurun, mual selama
triwulan pertama, rasa panas, dan atau varises, hubungan suami
isteri boleh dilanjutkan selama hamil (dianjurkan memakai
kondom)
d. Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia
mendapati tanda-tanda bahaya berikut :
1) Perdarahan pervaginam
2) Sakit kepala lebih dari biasa
3) Gangguan penglihatan
4) Pembengkakan pada wajah atau tangan
5) Nyeri abdomen (epigastrik)
26
6) Janin tidak bergerak sebanyak biasanya
e. Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah
buah dada dan genetalia) dengan cara dibersihkan dan
dikeringkan)
f. Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang
mempunyai susu rata atau puting masuk ke dalam. Dilakukan 2
kali sehari selama 5 menit.
8. Memberikan zat besi 90 hari .
9. Menjadwalkan kunjungan berikutnya
10. Mendokumentasikan pemeriksaan saat kunjungan.
27
janin.
5. Tentukan presentasi janin dan hitung DJJ
Presentasi janin merupakan bagian terendah janin yang terdapat
dibagian terbawah uterus, pemeriksaan dilakukan pada sejak trimester2
kehamilan dilanjutkan setiap kali kunjungan. Pemeriksaan DJJ adalah
salah satu teknik untuk menilai kesejahteraan janin. DJJ normal pada
bayi adalah 120-160 kali permenit.
6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi TT Pemberian
imunisasi TT dilakukan untuk memberikan kekebalan terhadap
tetanus baik ibu maupun bayi. Dengan pemberian TT pada ibu, bayi
akan mendapat kekebalan pasif yang didapat dari ibu. Tetanus dapat
menyebabkan kematian pada ibu dan bayi.
7. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
Pemberian tablet darah merupakan asuhan rutin yang harus
diberikan. Suplementasi ini berisi senyawa zat besi yang setara
dengan 60 mg zat besi elemental (Etabion dengan kandungan ferro
fumarat, vitamin C, vitamin B12, asam folat, Cu sulfat, Mn sulfat)
dan 400 mcg asam folat.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Vernissa, dkk (2017)
didapatkan hasil bahwa kepatuhan minum obat zat besi dan makan
makanan yang mengandung protein setiap hari dapat meningkatkan
kadar Hb ibu hamil dengan anemia secara bermakna (P < 0,05). Ibu
hamil dengan anemia yang patuh minum obat kadar Hb nya meningkat
3,24 kali dibandingkan ibu yang tidak patuh minum obat. Ibu hamil
dengan anemia yang makan makanan setiap hari kadar Hb nya
meningkat 2,31 kali dibandingkan ibu yang tidak makan makanan
setiap hari.
8. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah dan
pemeriksaan hemoglobin. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan
protein urine, pemeriksaan gula darah, HIV, BTA, sifilis dan malaria
dilakukan sesuai indikasi.
9. Tata laksana atau penanganan kasus
Setiap kelainan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan harus
ditatalaksana sesuai dengan standar dan kewenangan bidan.
28
10. Temu wicara atau konseling
Setiap kunjungan antenatal bidan harus memberikan temu wicara atau
konseling sesuai dengan diagnosis dan masalah yang ditemui (Gustina,
2021).
Hal ini sejalan dengan penelitian (Rakhmah et al., 2021)
didapatkan bahwa standar pelayanan ANC 10 T sebagian besar
dilakukan secara lengkap sesuai standar 10 T yaitu 43 ibu hamil (78,2
%). Kepuasan ibu hamil pada waktu melakukan pemeriksaan ANC
sebagian besar ibu hamil merasa puas dengan pelayanan yang
diberikan oleh bidan yaitu 44 ibu hamil (80%). Ada hubungan standar
pelayanan ANC 10 T terhadap kepuasan ibu hamil. Kesimpulannya
mayoritas pelayanan dilakukan sesuai standar dan ibu merasa puas.
29
4) KEK dengan Lingkar Lengan Atas < 23,5 cm atau
penambahan berat badan < 9 kg selama masa kehamilan
5) Anemia dengan Haemoglobin < 11 g/dl
6) Tinggi badan < 145 cm atau dengan kelainan bentuk panggul
dan tulang belakang
7) Sedang atau pernah menderita penyakit kronis, antara lain :
tuberkulosis, kelainan jantung, ginjal, hati, psikosis,
kelaianan endokrin (diabetes militus, sistemik lupus,
eritematosus, dll), tumor dan keganansan
8) Riwayat kehamilan buruk seperti keguguran berulang,
kehamilan ektopik terganggu, mola hidatidosa, ketuban pecah
dini, partus prematur dan bayi dengan cacat kongenital
9) Kelainan jumlah janin seperti kehamilan ganda dan janin
dempet
10) Kelainan besar janin seperti pertumbuhan janin terhambat,
janin besar (Wiwin, 2019).
30
Gambar 3
Skor Poedji Rochjati
31
iii. Perdarahan ante partum dan post partum
Perdarahan antepartum merupakan perdarahan yang
terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih
banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan
kehamilan sebelum 28 minggu.18,24 Perdarahan
postpartum merupakan perdarahan lebih dari 500-6000
ml dalam waktu 24 jam setelah bayi lahir.
Menurut waktu terjadinya perdarahan postpartum
dibedakan menjadi dua, yaitu:
i) Perdarahan postpartum primer (early postpartum
hemorrhage) terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir.
ii) Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum
hemorrhage) terjadi setelah 24 jam kelahiran, antara
hari ke 5 sampai hari ke 25 postpartum.
iv. IUFD
IUFD (Intra Uterine Fetal Death) merupakan kematian
janin dalam rahim sebelum terjadi proses persalinan, usia
kehamilan 28 minggu keatas atau berat janin 1000 gram
dapat juga mengakibatkan kelahiran mati. Ibu yang
mengalami kehamilan berisiko menyebabkan
meningkatnya faktor risiko terjadinya IUFD. Bila janin
dalam kandungan tidak segera dikeluarkan selama lebih
dari 4 minggu dapat menyebabkan terjadinya kelainan
darah (hipofibrinogemia) yang lebih besar.
v. Keracunan dalam kehamilan (Pre eklamsia) & kejang
(Eklamsia)
Preeklamsia adalah keracunan pada kehamilan yang
biasanya terjadi pada trimester ketiga kehamilan atau bisa
juga muncul pada trimester kedua. Preeklamsia serta
gangguan tekanan darah lainnya merupakan kasus yang
menimpa setidaknya lima hingga delapan persen dari
seluruh kehamilan. Dua penyakit ini pun tercatat sebagai
penyebab utama kematian serta penyakit pada bayi dan
ibu hamil di seluruh dunia. Dan di Indonesia 3
kematian ibu terbesar salah satunya
disebabkan oleh preeklamsia/ eklampsia.
b) Dampak psikologis
i. Kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan
32
Wanita hamil akan memiliki pikiran yang
mengganggu sebagai pengembangan reaksi
kecemasan terhadap cerita yang diperolehnya.
Kecemasan yang dirasakan umumnya berkisar pada
takut perdarahan, takut bayinya cacat, takut terjadi
komplikasi kehamilan, takut sakit saat melahirkan
dan takut bila dijahit serta terjadi komplikasi pada
saat persalinan, yang dapat menimbulkan kematian,
hingga kekhawatiran jika kelak tidak bisa merawat
dan membesarkan anak dengan baik.
ii. Sikap ambivalen
Sikap ambivalen menggambarkan suatu konflik
perasaan yang bersifat simultan, seperti cinta dan
benci terhadap seseorang, sesuatu atau kondisi.
Meskipun sikap ambivalen sebagai respon individu
yang normal, tetapi ketika memasuki fase pasca
melahirkan bisa membuat masalah baru. Penyebab
ambivalensi pada ibu hamil yaitu perubahan kondisi
fisik, pengalaman hamil yang buruk, wanita karier,
tanggung jawab baru, rasa cemas atas
kemampuannya menjadi ibu, keuangan dan sikap
penerimaan keluarga terdekatnya.
iii. Stress
Kemungkinan stres yang terjadi pada masa
kehamilan trimester pertama bisa berdampak negatif
dan positif, dimana kedua stres ini dapat
mempengaruhi perilaku ibu. Terkadang stres tersebut
bersifat instrinsik dan ekstrinsik. Stres ekstrinsik
timbul karena faktor eksternal seperti sakit,
kehilangan, kesendirian dan masa reproduksi.
c) Dampak Kehamilan Berisiko bagi Janin
Menurut Prawiroharjo, dampak kehamilan berisiko bagi
janin adalah sebagai berikut:
i. Bayi lahir belum cukup bulan
Bayi lahir belum cukup bulan dapat disebut bayi
preterm maupun bayi prematur. Bayi Preterm
merupakan bayi yang lahir pada usia kehamilan
kurang dari 37 minggu, tanpa memperhatikan berat
33
badan lahir. Hal ini dapat disebabakan oleh faktor
maternal seperti toksemia, hipertensi, malnutrisi
maupun penyakit penyerta lainnya (Sofiyana, 2018).
ii. Bayi lahir dengan BBLR Bayi berat lahir rendah
(BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat
lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu)
jam setelah lahir. Penyebab paling besar lahirnya
bayi BBLR adalah
masalah selama kehamilan pada ibu, dapat berupa
penyakit penyerta pada ibu, kurang nutrisi, maupun
usia ibu (Sofiyana & Himawan, 2018)
M. PATHWAY
34
Pelayanan Kesehatan pada Ibu Hamil
TM I
Apotik
37
II. TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN
1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah cara berpikir sistematis secara logis dalam
memberikan asuhan kebidanan yang menguntungkan kedua belah pihak. Baik
pelanggan maupun pemberi asuhan. Dengan demikian, manajemen bidan
adalah cara berpikir bidan yang memberikan kebijakan/kerangka untuk
mengatasi masalah yang menjadi tanggung jawabnya (Sukini & Rofi’ah, 2016).
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan
untuk merancang ide dan proses berdasarkan ide ilmiah, hasil, dan pengambilan
keputusan berbasis pada klien (Sukini & Rofi’ah, 2016).
2. Tahapan dalam Manajemen Kebidanan
Pada tahun 1997, Helen Varney memperbarui proses manajemen 5 langkah
menjadi proses 7 langkah. Langkah-langkah ini merumuskan kerangka kerja
komprehensif yang berlaku di semua kasus, tetapi masing-masing dapat dibagi
menjadi tugas-tugas tertentu dan semuanya berbeda tergantung pada kondisi
klien menurut (Sukini & Rofi’ah, 2016) sebagai berikut:
a. Langkah 1: Tahap Pengumpulan Data Dasar
Pada tahap ini, semua informasi yang akurat dan lengkap dikumpulkan
dari semua pihak yang relevan dengan situasi klien. Untuk mendapatkan
datanya dilakukan dengan cara:
1) Anamnesis. Dilakukan untuk mendapatkan biodata, riwayat menstruasi,
riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, bio psiko-
sosial-spiritual, serta pengetahuan klien.
2) Diperlukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tanda-tanda vital,
meliputi:
a) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi)
b) Pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi/USG, dan cacatan
sebelumnya serta catatan terbaru). Fase ini merupakan langkah awal
yang menentukan langkah selanjutnya, sehingga kelengkapan data
sesuai dengan kasus tertentu, yang menentukan benar tidaknya proses
interpretasi yang akan terjadi pada langkah selanjutnya. Oleh karena
itu, pendekatan ini harus komprehensif, termasuk data subjektif,
objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan
kondisi pasien yang sebenarnya dan valid. Kaji ulang data yang
sudah dikumpulkan apakah sudah tepat dan lengkap.
36
b. Langkah 2: Interpretasi Data Dasar
Pada tahap ini, evaluasi atau interpretasi dari data yang dikumpulkan
mengidentifikasi masalah. Data dasar yang dikumpulkan diinterpretasikan
sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menganalisis isu-isu dan
isu-isu tertentu. Diagnosis dan masalah keduanya diperparah, karena
masalah tidak dapat digambarkan sebagai diagnosis, tetapi memerlukan
pengobatan. Masalah tersebut seringkali berkaitan dengan masalah yang
dihadapi perempuan, seperti yang dilaporkan dalam tinjauan bidan.
Masalah sering menyertai diagnosis
37
yang memerlukan tindakan segera, dan situasi lainnya tidak merupakan
kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Demikian pula, dokter kandungan harus berkonsultasi atau bekerja sama
jika tanda-tanda pertama preeklamsia, gangguan panggul, penyakit jantung,
diabetes atau kondisi medis serius lainnya muncul. Dalam beberapa kasus,
wanita mungkin memerlukan saran dan dukungan dari dokter atau tim
perawatan kesehatan lainnya, seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau dokter
neonatus. Dalam hal ini, otoritas yang kompeten harus dapat menilai situasi
setiap klien dan menentukan siapa yang memiliki saran dan dukungan yang
paling tepat. Dalam manajemen asuhan kebidanan. Pertimbangkan apakah
keadaan darurat ini benar-benar diperlukan.
g. Langkah 7: Mengevaluasi
Pada langkah ketujuh ini, evaluasi keefektifan perawatan yang diberikan,
termasukpemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar benar telah
terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnosa
dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar
efektif dalam pelaksanaannya.
Beberapa dari rencana ini dilaksanakan sementara yang lain tidak. Karena
manajemen pemeliharaan berlanjut, penting untuk mengelola dan
mengulangi pemeliharaan yang tidak efektif sejak awal.
Langkah-langkah proses manajemen umumnya merupakan peng kajian yang
memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta
berorientasi pada proses klinis, karena proses manajemen tersebut ber
langsung di dalam situasi klinik dan dua langkah terakhir tergantung pada
klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen ini dievalu
asi dalam tulisan saja.
39
Perencanaan dibuat saat ini dan yang akan datang. Rencana asuhan akan
disusun berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data yang bertujuan untuk
mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan
mempertahankan kesejahteraan pasien
A. PENGKAJIAN
a. Pengkajian
Tanggal .............. Jam ............
b. Identitas
1) Nama Isteri/Suami
Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk memperlancar komunikasi
dalam auhan sehingga tidak terlihat kaku dan lebih akrab. (Dewi, 2017)
2) Umur
Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam kehamilan yang
berisiko atau tidak. Usia di bawah 16 tahun dan di atas 35 tahun merupakan
umur-umur yang berisiko tinggi untuk hamil. Umur yang baik untuk
kehamilan maupun persalinan adalah 19-35 tahun. (Dewi, 2017)
Pada penelitian (Prihandini et al., 2016) dari data bulan Januari-Desember
tahun 2013 di RST dr. Soedjono Magelang terdapat 135 ibu hamil dengan
103 diantaranya merupakan kasus abortus. Kejadian abortus di RST dr.
Soedjono Magelang terdiri dari abortus pada usia <20 tahun sebanyak 35
kasus (32,71%), abortus pada usia >35 tahun sebanyak 36 kasus (33,64%),
abortus pada ibu hamil yang jarak kehamilan <2 tahun sebanyak 62 kasus
(57,94%), abortus karena riwayat abortus sebanyak 12 kasus (11,21%), dan
abortus karena grandemulti sebanyak 2 kasus (1,87%). Dari 107 kasus
abortus 19 orang mengalami kejadian perdarahan setelah mengalami
kejadian abortus.
3) Agama
Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait agama yang harus
diobservasi. Informasi ini dapat menuntun ke suatu diskusi tentang
pentingnya agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam
kehamilan dan kelahiran, perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan,
dan pada beberapa kasus, penggunaan produk darah. (Dewi, 2017)
4) Pendidikan
40
Tanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan juga minat, hobi, dan
tujuan jangka panjang. Informasi ini membantu klinisi memahami klien
sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca-tulisnya(Dewi,
2017)
5) Pekerjaan
Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien
berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi kelahiran, prematur
dan pajanan terhadap bahaya lingkungan kerja, yang dapat merusak janin.
(Dewi, 2017)
6) Suku bangsa
Ras, etnis, dan keturunann harus diidentifikasi dalam rangka memberikan
perawatan yang peka budaya kepada klien dan mengidentifikasi wanita atau
keluarga yang memiliki kondisi resesif otosom dengan insiden yang tinggi
pada populasi tertentu. Jika kondisi yang demikian diidentifikasi, wanita
tersebut diwajibkan menjalani skrining genetik. (Dewi, 2017)
7) Alamat
Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih memudahkan saat
pertolongan persalinan dan untuk mengetahui jarak rumah dengan tempat
rujukan. (Dewi, 2017)
B. DATA SUBYEKTIF
1. Anamnesa umum:
a. Alasan Datang
Hal-hal yang mendasari kedatangan ibu hamil sesuai dengan ungkapan ibu.
Jika alasannya jelas maka asuhan yang diberikan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan klien. (Dewi, 2017)
b. Keluhan Utama
Keluhan utama adalah alasan kenapa klien datang ke tempat bidan. Hal ini
disebut tanda atau gejala. Dituliskan sesuai dengan yang diungkapkan oleh
klien serta tanyakan juga sejak kapan hal tersebut dikeluhkan oleh klien.
(Marmi, 2011)
Masalah/kekhawatiran utama yang dikeluhkan ibu biasanya mengenai
ketidaknyamanan yang dialami akibat kehamilan. Pada TM I merasa mual,
muntah, mudah lelah, merasakan kontraksi ringan pada perut bawah, sering
kencing dan sebagainya. Keluhan utama kemudian diuraikan pada riwayat
kehamilan sekarang (Dewi, 2017)
41
c. Riwayat Kesehatan
Tanyakan kepada klien penyakit apa yang pernah diderita. Apabila klien
pernah menderita penyakit keturunan, maka ada kemungkinan janin yang
ada dalam kandungannya tersebut berisiko menderita penyakit yang sama.
Tanyakan kepada klien penyakit apa yang sedang diderita sekarang, apakah
pernah dirawat, berapa lama dirawat, dan dengan penyakit apa dirawat.
(Dewi, 2017)
1) Sistem kardiovaskuler
a) Penyakit Jantung
Penyakit jantung merupakan penyebab kematian maternal ketiga dan
penyebab utama kematian dalam penyebab kematian maternal
nonobstetrik. Penyakit jantung terjadi pada I - 4 % dari kehamilan
pada perempuan-perempuan yang tanpa geiala kelainan janrung
sebelumnya. Keadaan-keadaan tersebut membuat dokter harus
waspada akan kesulitan-kesulitan yang dapat timbul ketika mereka
hamil. Beberapa penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti emboli
paru, aritmia, preeklampsia, dan kardiomiopati peripartal terjadi
sebagai komplikasi keharnilan pada perempuan yang sehat sebelum
hamil.
Di negara yang sedang berkembang, penyakit jantung rematik masih
endemik, sehingga kejadian penyakit jantung katup masih banyak
dijumpai dan merupakan masalah. Penyakit jantung rematik
merupakan penyebab utama dari penyakit jantung katup selain
penyebab bawaan. Bila memungkinkan, perempuan dengan kelainan
jantung sebelum merencanakan kehamilan perlu melakukan konsultasi
tentang risiko dalam kehamilan. (Sarwono Prawirohardjo, n.d.)
b) Hipertensi
Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapat aliran darah dari
cabang-cabang arteri uterina dan arteria ovarika. Kedua pembuluh
darah tersebut menembus miometrium berupa arteri arkuarta dan arteri
arkuarta memberi cabang arteria radialis. Arteria radialis menembus
endometrium menjadi arteri basalis dan arteri basalis memberi cabang
arteria spiralis. (Prawirohardjo, 2014)
Pada hamil normal, dengan sebab yang belum jelas, terjadi invasi
rrofoblas ke dalam Iapisan otot arteria spiralis, yang menimbulkan
degenerasi lapisan otot tersebur sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis.
Invasi trofoblas juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis,
sehingga jaringan matriks menjadi gembur dan memudahkan iumen
42
arteri spiralis mengalami distensi dan dilatasi. Distensi dan
vasodilatasi lumen arteri spiralis ini memberi dampak penunrnan
tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran
darah pada daerah utero plasenta. Akibatnya, aliran darah ke janin
cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat
menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini dinamakan
"remodeling arteri spiralis".
Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas
pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya.
Lapisan otot arreri spiralis menjadi tetap kaku dan keras sehingga
lumen arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan
vasodilatasi. Akibatnya, arteri spiralis relatif mengalami
vasokonstriksi, dan terjadi kegagalan "remodeling arteri spiralis",
sehingga aliran darah uteroplasenta menunrn, dan terjadilah hipoksia
dan iskemia plasenta. Dampak iskemia plasenta akan menimbulkan
perubahan-perubahan yang dapar. menjelaskan patogenesis HDK
selanjutnya.
Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan.
Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami semua lapisan ibu hamil.
(Prawirohardjo, 2014)
c) Anemia
Anemia yang disebabkan oleh kondisi apapun (termasuk thalasemia,
sickle cell, maupun defisiensi) mengakibatkan penurunan kapasitas
pengikatan oksigen oleh darah sehingga jantung berusaha
mengkompensasinya dengan meningkatkan COP yang mengakibatkan
meningkatnya beban kerja jantung. Jika keadaan ini disertai dengan
kondisi seperti pre eklamsia, maka dapat berakibat gagal jantung.
Pengaruh anemia berat pada kehamilan antara lain dapat IUFD, lahir
prematur, IUGR, ibu mudah terinfeksi serta berisiko dekompensasi
jantung. (Dewi, 2017)
2) Sistem Pernafasan
a) Asma
Wanita yang memiliki riwayat asma berat sebelum hamil terbukti akan
terus mengalaminya dan menjadi semakin buruk selama masa hamil.
asma dihubungkan dengan peningkatan angka kematian perinatal,
hipertensi gravidarum, pelahiran preterm, hipertensi kronis,
preeklamsia, bayi berat lahir rendah, dan perdarahan pervaginam
(Prawirohardjo, 2014)
43
b) TBC
Pada kehamilan pada infeksi TBC resiko prematuritas, IUGR dan
berat badan lahir rendah meningkat, serta resiko kematian perinatal
meeningkat 6x lipaat. Keadaan ini terjadi akibat diagnosa yang
terlambat, pengobatan yaang tidak teratur dan derajat keparahan lesi di
paru. Infeksi TBC dapat menginfeksi janin yang dapat menyebabkan
tuberculosis conginetal. (Prawirohardjo, 2014)
3) Sistem Endokrin
a) Diabetes Melitus
Ibu hamil penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan
baik akan meningkatkan risiko terjadinya keguguran atau bayi lahir
mati. Bila diagnosis diabetes meliitus sudah dapat ditegakkan sebelum
kehamilan, tetapi tidak terkontrol dengan baik, maka janin berisiko
mempunyai kelainan kongenital.
Kadar glukosa yang meningkat pada ibu han-ril sering menimbulkan
dampak yang kurang baik terhadap bayi yang dikandungnya. Bayi
yang lahir dari ibu dengan DM biasanya lebih besar, dan bisa terjadi
juga pembesaran dari organ-organnya (hepar, kelenjar adrenal,
jantung). Segera setelah lahir, bayi dapat mengalami hipoglikemia
karena produksi insulin janin yang meningkat, sebagai reaksi terhadap
kadar glukosa ibu yang tinggi . (Prawirohardjo, 2014)
b) Hipotiroid
Keadaan hipotiroid dihubungkan dengan meningkatnya kejadian
keguguran. (Prawirohardjo, 2014)
c) Hepatitis B
Kehamilan tidak akan memperberat infeksi virus hepatitis, akan tetapi
jika terjadi infeksi akut pada kehamilan bisa menimbulkan mortalitas
tinggi pada ibu dan bayi. Pada ibu dapat menimbulkan abortus
(Prawirohardjo, 2014)
d. Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan kepada klien apakah mempunyai keluarga yang saat ini sedang
menderita penyakit menular. Apabila klien mempunyai keluarga yang
sedang menderita penyakit menular, sebaiknya bidan menyarankan kepada
kliennya untuk menghindari secara langsung atau tidak langsung
bersentuhan fisik atau mendekati keluarga tersebut untuk sementara waktu
agar tidak menular pada ibu hamil dan janinnya. Berikan pengertian terhadap
keluarga yang sedang sakit tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Tanyakan kepada klien apakah mempunyai penyakit keturunan. Hal ini
44
diperlukan untuk mendiagnosa apakah si janin berkemungkinan akan
menderita penyakit tersebut atau tidak. (Dewi, 2017)
e. Riwayat haid
1. Menarche (usia pertama datang haid)
Usia wanita pertama haid bervariasi, antara 12-16 tahun. Hai ini
dipengaruhi oleh keturunan, keadaan gizi, bangsa, lingkungan, iklim dan
keadaan umum.
2. Siklus
Siklus haid terhitung mulai hari pertama haid hingga hari pertama haid
berikutnya, siklus haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah klien
mempunyai kelainan siklus haid atau tidak. Siklus normal haid biasanya
adalah 28 hari.
3. Lamanya
Lamanya haid yang normal adalah +-7 hari. Apabila sudah mencapai 15
hari berarti sudah abnormal dan kemungkinan adanya gangguan ataupun
penyakit yang mempengaruhinya.
4. Banyaknya
Normalnya yaitu 2 kali ganti pembalut dalam sehari. Apabila darahnya
terlalu berlebih, itu berarti telah menunjukkan gejala kelainan banyaknya
darah haid.
5. Dismenorhoe (nyeri haid)
Nyeri haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah klien menderitanya
atau tidak di tuap haidnya. Nyeri haid juga menjadi tanda bahwa
kontraksi uterus klien begitu hebat sehingga menumbilkan nyeri haid.
(Dewi, 2017)
f. Riwayat kehamilan sekarang
1. HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)
Bida ingin mengetahui tanggal hari pertama dari menstruasi terakhir klien
untuk memperkirakan kapam kira-kira sang bayi akan dilahirkan.
2. TP (Taksiran Persalinan)
Gambaran riwayat menstruasi klien yang akurat biasanya membantu
penetapan tanggal perkiraan kelahiran yang disebut taksiran partus di
beberapa tempat. EDD ditentukan dengan perhitungan internasional
menurut hukum Naegele. Perhitungan dilakukan dengan menambahkan 9
bulan dan 7 hari pada hari pertama haid terakhir (HPHT) atau dengan
mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan 7 hari dan 1 tahun.
3. Kehamilan yang ke-
45
Jumlah kehamilan ibu perlu ditanyakan karena terdapatnya perbedaan
perawatan antara ibu yang baru pertama hamil dengan ibu yang sudah
beberapa kali hamil, apabila ibu tersebut baru pertama kali hamil otomatis
perlu perhatian ekstra pada kehamilannya. (Dewi, 2017)
C. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum: Keadaan umum dikatakan baik jika pasien memperlihatkan
respons yang adekuat terhadap stimulasi lilngkungan dan orang lain, serta
secara fisik pasien tidak mengalami kelemahan. Klien dimasukkan dalam
kriteria lemah ini jika ia kurang atau tidak memberikan respons yang baik
terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi
untuk berjalan sendiri. (Dewi, 2017)
b. Kesadaran: Composmentis yaitu kesadaran nornal, sadar sepenuhnya, dapat
menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya
c. Tanda vital:
1) Tekanan darah
Penentuan tekanan darah sangat penting pada masa hamil karena
peningkatan TD dapat membahayakan kehidupan ibu dan bayi. Kondisi
ini menetap sepanjang trimester kedua dan kemudian kembali ke TD
sebelum hamil. (Marmi, 2011)
49
2) Nadi
Denyut nadi maternal sedikit meningkat selama hamil,tetapi jarang
melebihi 100 denyut permenit (dpm). Curigai hipotiroidisme jika denyut
nadi lebih dari 100 dpm. Periksa adanya eksoflatmia dan hiperrefleksia
yang menyerai. (Marmi, 2011)
3) Suhu
Peningkatan suhu menunjukkan proses infeksi atau dehidrasi.(Dewi,
2017)
4) Respirasi
Wanita hamil bernapas lebih cepat dan lebih dalam karena memerlukan
lebih banyak oksigen untuk janin dan untuk dirinya. (Dewi, 2017)
d. Tinggi badan.
Ibu hamil dengan tinggi badannya kurang dari 145 cm terlebih pada
kehamilan pertama, tergolong risiko tinggi karena kemungkinan besar
memiliki panggul yang sempit.
e. Berat badan sebelum hamil dan sekarang.
Berat badan ditimbang pada kunjungan awal, dapat digunakan untuk
menghitung indeks massa tubuh mengingat belum terjadi peningkatan BB
yang berarti pada saat ini. Namun jika ibu mengetahui persis BBnya sebelum
hamil maka digunakan BB yang telah diketahui tersebut.
f. Indeks massa tubuh. Cara yang dipakai untuk menentukan kesesuaian berat
badan berdasarkan tinggi badan adalah dengan menggunakan indeks massa
tubuh dengan rumus BB (dalam kg) dibagi TB kuadrat (dalam meter).
g. LILA = Standar minimal untuk ukuran Lingkar Lengan Atas pada wanita
dewasa atau usia reproduksi adalah 23,5 cm. jika ukuran LILA kurang dari
23,5 cm maka tergolong risiko terhadap kurang energi kronis (KEK).
2. Pemeriksaan Fisik
a. Status present (Dewi, 2017)
Kepala : Mesocephal, kulit kepala tidak menunjukkan
adanya kelainan kulit, rambut yang tidak mudah
rontok
Muka : Simetris, tidak pucat, tidak edema
Kelopak mata : Kelopak mata tidak cekung, tidak edema
Konjungtiva : Merah muda, dengan sklera putih
Hidung : Tidak ada massa, edema mukosa, sekeresi
(lendir/darah) tidak ditemukan gerak cuping
50
hidung pada pernafasan
Mulut : Bibir simetris, lidah dan mukosa mulut tidak ada
sianosis
Telinga : Simetris, tidak ada sekresi, tidak gangguan
pendengaran maupun tanda infeksi
Leher : Tidak nyeri pada pergerakan, pembengkakan
kelenjar tiroid, pembesaran kelenjar llimfe
Dada : Simetris, tidak ada retraksi otot interkostal, batuk.
Axilla : Tidak ada nyeri, pembesaran kelenjar limfe
Payudara : Teraba tegang, tidak ditemukan nyeri tekan, massa
abnormal
Abdomen : Tidak ada kembung, bekas luka operasi mungkin
ditemukan atau tidak, massa abnormal, nyeri tekan
Kulit : Turgor/elastisitas kulit baik
Punggung : Tidak ada nyeri pergerakan, skoliosis, lordosis,
kifosis, nyeri costo vertebral
Vesika urin : Mungkin penuh/kosong, tidak ada nyeri tekan
Genitalia : Tidak ada lecet/memar, lesi lain, edema vulva,
abses, varises mungkin ditemukan atau tidak, tidak
ada pengeluaran pervaginam (PPV)
Anus : Hemoroid mungkin ada atau tidak. Kehamilan
menyebabkan vasodilatasi karena efek hoemonal
sehingga mungkin saja ditemukan hemoroid pada
wanita yang semula tidak ada hemoroid
Ekstremitas : Atas : simetris, berfungsi normal, tidak ada bekas
tusukan jarum, tidak ada edema, sianosis
bawah kuku, capillary refill <2 detik
Bawah: simetris, berfungsi normal, tidak ada
edema sianosis, capollary refill <2 detik,
normalnya bervariasi dari 1+/1+ hingga
2+/2+
b. Status Obstetrik (Dewi, 2017)
a) Inspeksi (periksa pandang)
1) Muka : pada sebagian wanita hamil, chloasma gravidarum +
2) Mammae : hiperpigmentasi areola, kelenjar montgomery lebih menonjol,
papila mungkin menonjol/datar/masuk, kolostrum bisa+/-
51
3) Abdomen: pembesaran abdomen bawah mungkin sudah terlihat, linea
nigra +, striae mungkin terlihat atau tidak tergantung pada elastisitas
jaringan kolagen di bawah kulit.
4) Vulva: mengetahui ada atau tidaknya tanda infeksi, pengeluaran per
vagina
b) Palpasi
Palpasi abdomen pada kehamilan trimester pertama hanya menggunakan
palpasi leopold pertama yaitu meraba bagian fundus uteri dan mengukur
tinggi fundus uteri. Pada kehamilan 12 minggu teraba 2-3 jari di atas
simpisis pubis. (Rukiyah, 2013: 33)
1) Leopold 1 : dilakukan (TFU belum teraba/teraba tegang)
2) Leopold 2 : belum dilakukan
3) Leopold 3 : belum dilakukan
4) Leopold 4 : belum dilakukan
c) Pengukuran panggul.
Menurut (Romauli, 2011) cara mengukur panggul sebagai berikut :
d) Auskultasi
DJJ belum terdengar pada kehamilan TM I.
52
d. Pemeriksaan penunjang
1. Kadar hemoglobin:
Pada kunjungan pertama dan pada usia di atas 28 minggu. Nilai normalnya
dalam kehamilan adalah 11 g/dL. Pada trimester II nilai 10,5 g/dL masih
dianggap fisiologis karena proses hemodilusi sedang di ambang puncaknya.
2. Golongan darah:
Pemeriksaan golongan darah untuk mengetahui jenis golongon darah ibu
dalam rangka mempersiapkan calon pendonor jika diperlukan pada saat
situasi gawat darurat
3. Pemeriksaan urine untuk protein atas indikasi untuk menegakkan diagnosa
pre eklamsia.
4. Pemeriksaan glukosa urine atas indikasi untuk mendeteksi faktor risiko
diabetes dalam kehamilan.
5. Sifilis: Pemeriksaan tes sifilis yang dilakukan sedini mungkin di daerah yang
memiliki resiko tinggi serta di tujukan pada ibu hamil yang di duga terkena
resiko.
D. ANALISA
1. Diagnosis Kebidanan
Diagnosis Kebidanan adalah kesimpulan hasil analisis data yang diperoleh dari
pengkajian secara akurat dan logis yang dapat diselesaikan dengan asuhan
kebidanan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan. (Marmi, 2011)
Ny….(inisial nama untuk menjaga privasi) usia (20-35 tahun) G ≤ 4 P ≤ 3 A 0
suspect hamil (1-12 minggu)
2. Masalah
Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang
ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai diagnosis. Serta
berdasarkan keluhan yang menyertai setelah diperiksa.
3. Diagnosa Potensial
Pada langkah ini, kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis
potensial berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasikan.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan. Bidan diharapkan waspada dan bersiap-siap mencegah
diagnosis/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
53
4. Kebutuhan Tindakan Segera
Hal ini dilakukan bidan setelah bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan
segera, melakukan konsultasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain
berdasarkan kondisi klien.
E. PENATALAKSANAAN
1. Memberikan informasi hasil pemeriksaan pada ibu saat ANC, kontak ibu hamil
dengan pemberi perawatan atau asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan
kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi
informasi bagi ibu dan petugas kesehatan.
2. Penatalaksanaan keluhan pada ibu sesuai dengan keluhan utama.
3. Memberikan suplemen Fe atau terapi lainnya sesuai dengan kebutuhan ibu atau
keluhan ibu saat ANC, misal diberi Fe untuk meningkatkan Hb ibu.
4. Menganjurkan kunjungan ulang 1 bulan lagi/jika ada keluhan untuk memantau
perkembangan kesehatan ibu dan kehamilannya.
5. Mendokumentasikan data serta hasil pemeriksaan ibu hamil pada buku KIA dan
buku register ibu hamil.
Terdapat beberapa keterampilan yang harus dimiliki bidan dalam praktik asuhan
kebidanan kehamilan menurut (Permenkes No. 320, 2020), yaitu:
1. Pemeriksaan tanda–tanda kehamilan
2. Tes Kehamilan
3. Pemeriksaan fisik terfokus pada ibu hamil
4. Inspeksi abdomen
5. Penilaian pembesaran uterus normal selama kehamilan
6. Melakukan Palpasi Abdomen dalam pemeriksaan kehamilan
7. Mengidentifikasi masalah pada payudara pada masa hamil
8. Perawatan payudara
9. Pemeriksaan denyut jantung janin stetoskop dan doppler
10. Pemeriksaan perkusi pada ekstremitas
11. Penghitungan usia kehamilan
12. Periksa dalam saat hamil
13. Identifikasi status TT
14. Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid sesuai program
15. Penghitungan tafsiran berat janin
16. Mengisi buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
17. Pemberian suplemen vitamin dan mineral
18. Identifikasi masalah gizi pada ibu hamil
19. enentuan status gizi ibu hamil
54
20. Edukasi nutrisi pada ibu hamil
21. Memfasilitasi senam hamil
22. Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK)
23. Konseling adaptasi kehamilan
24. Konseling Perencanaan Persalinan Dan Pencegahan Komplikasi
25. Konseling Keluarga Berencana
26. Pemberian pendidikan kesehatan pada perempuan, keluarga dan masyarakat
tentang perkembangan kehamilan, gejala dan tanda bahaya serta tindakan yang
dilakukan ketika terdapat tanda bahaya
27. Pemberian pendidikan kesehatan pada Ibu dan keluarga untuk persiapan
persalinan dan kelahiran.
28. Penggunaan Cardiotocography (CTG)
29. Interprestasi hasil Cardiotocography (CTG)
30. Amniosintesis
31. Edukasi hasil pemeriksaan penunjang pada masa hamil
32. Skrining kehamilan risiko tinggi
33. Konseling pada ibu hamil yang berisiko
34. KIE Tanda Bahaya Kehamilan
35. KIE Kehamilan Remaja
36. Identifikasi kehamilan dengan kelainan
37. Tatalaksana awal pada ibu hamil dengan penyakit sistemik
38. Tatalaksana pada ibu hamil dengan penyakit infeksi
39. Tatalaksana pada kehamilan dengan penyulit obstetrik (hiperemesis
gravidarum, hipertensi, infeksi)
40. Tatalaksana awal kasus kegawatdaruratan pada kehamilan (Kehamilan
Ektopik Terganggu,Mola Hidatidosa, Abortus Imminen, Solutio Placenta,
Placenta Previa, preeklamsi, kejang, henti nafas, penurunan kesadaran, syok,
henti jantung).
41. Skrining gangguan psikologis ibu hamil
42. Tatalaksana gangguan psikologis pada ibu hamil
43. Pemberian suplemen vitamin dan mineral
44. Tatalaksana awal kelainan letak, presentasi dan kehamilan ganda
45. Tatalaksana tokolisis
46. Fasilitasi Kelas Ibu Hamil
47. Tata Laksana dengan korban kekerasan fisik dan seksual
55
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL FISIOLOGIS
PADA NY. N USIA 31 TAHUN G2P1A0..USIA HAMIL 11+1 MINGGU
DI PUSKESMAS TEGALREJO
A. PENGKAJIAN
B. IDENTITAS PASIEN
Nama Ibu : Ny. N Nama Suami : Tn. S
Umur : 31 tahun Umur : 34 tahun
Pekerjaan : Karyawan Pekerjaan : Swasta
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Suku bangsa : Jawa Suku bangsa : Jawa
Alamat : Gendol Alamat : Gendol
C. DATA SUBYEKTIF
1. Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya dan mual mutah .
2. Keluhan Utama
Telat haid dari tanggal 15 Desember 2023, hasil PP test dirumah positif, mual
mutah sehari lebih dari 3 kali dan sering terjadi di pagi hari dan jika mencium
bau masakan.
3. Riwayat Kesehatan
56
a. Penyakit/kondisi yang pernah atau sedang diderita :
4. Riwayat Obstetri
a. Riwayat Haid
57
Siklus : 28 hari Banyaknya : Hari pertama ganti pembalut 3-4
kali/ hari penuh
Kondisi
Thn Kehamilan Persalinan Nifas
anak
2) Minum
59
a. Jumlah total 5-6 gelas perhari;
60
c. Susu : - gelas perhari;
b. Eliminasi
1) Sebelum hamil
61
2) Perubahan selama hamil ini :
Ibu mengatakan BAK lebih sering 3-6 kali sehari dengan warna bening
c. Personal Hygiene
d. Hubungan Seksual
1) Sebelum hamil
62
(c) Keluhan lain : tidak ada
e. Istirahat Tidur
1) Sebelum hamil :
63
f. Aktivitas Fisik dan Olah raga
1) Sebelum hamil :
64
g. Kebiasaan yang merugikan kesehatan :
a. Riwayat Perkawinan
65
c. Mekanisme koping (cara pemecahan masalah) :
Ibu mengatakan saat ada masalah, ibu bercerita dan memusyawarah kan
kepada suami.
Ibu mengatakan orang terdekat saat ini ialah suami dan keluarga
Yang menemani ibu untuk kunjungan ANC:
Ibu mengatakan saat periksa sendiri tidak diantar oleh suaminya karena
suami bekerja.
66
Ibu mengatakan tidak ada adat istiadat yang berkaitan dengan
kehamialnnya
67
k. Tingkat pengetahuan ibu
D. DATA OBYEKTIF:
1. PEMERIKSAAN FISIK:
a. Pemeriksaan Umum:
1) Keadaan umum : baik
2) Kesadaran : compos mentis
3) Tekanan Darah : 100/70 mmHg
4) Suhu /T : 36,1 ⁰C
5) Nadi : 82 kali/menit
6) RR : 20 kali/menit
7) BB sebelum/sesudah : 60/ 59 Kg
8) TB : 156 Cm
9) LILA : 25,5 Cm
10) IMT : 18
b. Status Present
68
: Simetris, tidak ada folip, tidak ada secret, tidak ada
cuping hidung.
Hidung
Ketiak
Perut
Lipat Paha
Vulva
69
Ekstremitas : Atas : tidak ada oedem, dapat berderak aktif, jumlah
jari lengkap, kapiler refil kurang dari 2 detik, dan
bawah : tidak ada oedem, dapat berderak aktif,
jumlah jari lengkap, tidak ada varises, kapiler refil
kurang dari 2 detik.
Punggung
Reflek Patela
b. Status Obstetrik
1) Inspeksi
70
: Tidak ada cairan abnormal, tidak ada tanda-
tanda infeksi, dan tidak ada benjolan.
(d) Vulva
2) Palpasi
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG :
71
Cek lab :
← Hb : 12,5 gr/dl
← GDS : 115 gr/dl
← HbSAg : negatif
← HIV : negatif
← Sifilis : negatif
← Protein urin : negative
← Golda :O
F. ANALISA
Diagnosa kebidanan : Ny. N usia 31 tahun G2P1A0 usia kehamialan 11+1
minggu dengan hyperemesis gravidarum
Masalah : Dehidrasi akibat mutah yang berlebihan
Kebutuhan segera : Kolaborasi dengan dokter untuk penanganan
hyperemesis gravidarum
G. PENATALAKSANAAN
Tangga: 5 Maret 2024 Jam : 09.00 WIB
72
2. Meminta ibu untuk melakukan cek lab di ruang laborat terlebih dahulu
untuk mengetahui kadar Hb, kadar GDS, skrining HbSAg Sifilis HIV,
protein urine, dan golongan darah
3. Menjelaskan hasil lab kepada ibu dan hasilnya normal dimana kadar Hb :
12,5 gr/dl, Kadar GDS : 115 gr/dl, skrining HbSAg, sifilis, HIV : non
reaktif, protein urine : non reaktif, dan golongan darah : O
Hasil : Ibu senang mendengar penjelasan bidan bahwa hasil lab ibu normal
semua
4. Memberi tahu ibu bahwa mual dan muntah yang dialami ibu adalah hal
yang normal apabila dalam keadaan tersebut ibu masih mau minum dan
makan serta tidak mengganggu aktifitas sehari-hari dan frekuansi mual
muntah tidak lebih dari 10 x/hari. Mual dan muntah yang dialami ibu
karena terjadi peningkatan kadar HCG (human chorionic gonadotrophin)
yang meningkat saat hamil. Jadi ibu dan suami tidak perlu khawatir.
Hasil : ibu mengerti hal yang telah disampaikan
5. Memberikan KIE cara untuk mengatasi mual muntah yaitu dengan cara
pagi sebelum bangun tidur untuk makan biskuit, hindari makanan pedas
dan berbau tajam, makan sedikit tapi sering, makan atau minum manis saat
bangun tidur, hindari gorengan atau makanan berminyak, saat bangun tidur
lakukan gerakan perlahan saat bangun dan hindari gerakan mendadak.
Hasil : ibu mengerti KIE yang telah diberikan untuk mengurangi mual dan
muntah
6. Menyarankan kepada ibu cara mengurangi frekuensi mual muntah yang
dialami sekarang dapat diatasi dengan menggunakan lemon sebagai
aromaterphi atau dengan meminum seduhan jahe hangat.
73
Hasil : ibu mengerti dan akan mencoba dengan meminum seduhan jahe
karena jahe mudah didapatkan
7. Menyarankan ibu utuk USG di awal kehamilan dimana tujuan USG pada
awal kehamilan untuk menentukan tanda pasti kehamilan serta untuk
mengetahui apakah bayi berkembang dengan baik, untuk mengetahui
kehamilan diluar atau didalam kandungan dan untuk menentukan HPL.
Hasil : ibu mengerti dan bersedia untuk USG pada awal kehamilan
8. Memberikan multivitamin B6, dan Kalk serta menganjurkan ibu meminum
multivitamin secara teratur yaitu minum vitamin B6 1 tablet pada pagi hari
untuk mengurangi mual mutah, minum kalsium laktat pada pagi hari 1
tablet setiap hari untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Serta menyarankan
suami untuk mejadi pendamping minum multivitamin.
Hasil : ibu mengerti dan bersedia meminum multivitamin secara rutin dan
sesuai petunjuk yang diberikan. Suami bersedia untuk mendampingi dan
mengingatkan ibu dalam minum multivitamin.
9. Memberitahun dan menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 4 minggu
atau jika ada keluhan
Hasil: ibu bersedia kunjungan ulang
10. Mendokumentasikan tindakan
Hasil: sudah disokumentasikan
74
BAB IV
PEMBAHASAN
76
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asuhan kehamilan fisiologis trimester 1 pada Ny. N hamil 11+1 minggu
sudah dilakukan sesuai dengan teori. Pengkajian data subyektif sudah dikaji
sesuai dengan keluhan utama. Pengkajian data obyektif sudah semua dilakukan
namun pemeriksaan head to toe kurang lengkap. Lalu analisa telah disimpulkan
sesuai dengan masalah yang timbul dan sesuai kebutuhan Ny. N.
B. Saran
1. Bagi Pasien
Ny. N dianjurkan untuk kooperatif dan aktif di dalam pemeriksaan
kehamilan. Agar ibu benar- benar paham bagaimana kehamilannya. Ibu juga
dianjurkan untuk kontrol rutin dan melanjutkan terapi yang diberikan oleh
bidan seperti meminum FE, Vitamin C dan Kalk. Ny. I dianjurkan untuk
mengikuti saran bidan yang telah diberikan.
2. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai petugas yang terlatih, dalam memberikan asuhan kebidanan pada
ibu hamil harus memberikan konseling serta informasi selengkap mungkin
tentang kehamilan mulai dari nutrisi, istirahat, aktivitas, tanda bahaya, dan
sebagainya sehingga kemungkinan terjadinya komplikasi akan semakin kecil,
dan kematian bayi serta ibu bisa dicegah dan diminimalkan. Selain itu, bidan
juga harus melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh agar data dan
diagnosa yang dibuat menjadi akurat.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Institusi dapat menjadikan laporan ini sebagai bahan referensi bagi
mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil fisiologis
secara holistic.
77
DAFTAR PUSTAKA
Asih, Y., & Risneni. (2016). Buku Ajar Dokumentasi Kebidanan (Pertama). Trans
Info Media.
Dewi, S. W. and C. H. T. (2017). Praktik Terbaik Asuhan Kehamilan (1st ed.).
Transmedika - Yogyakarta.
Haslan, H. (2020). ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN TERINTEGRITAS. Insan
Cendekia Mandiri.
Indriyani, R. (2021). No TitleAsuhan Kebidanan Kehamilan dengan Hiperemesis
Gravidarum Tingkat 1 di Tempat Praktik Mandiri Bidan Labuhan Maringgai
Lampung Timur. POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG.
Irianti, B., Halida, E. M., Duhita, F., Prabandari, F., Yulita, N., Yulianti, N.,
Hartiningtiyaswati, S., & Anggraini, Y. (2014). Asuhan kehamilan berbasis
bukti. In Farid Husin (Ed.), Jakarta: Sagung Seto (1st ed.). Jakarta Sagung Seto.
Jateng, D. (2021). Profil Kesehatan Jawa Tengah Tahun 2021.
Kemenkes, R. I. (2022). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2020). BUKU KIA.
Mariza, A., & Ayuningtias, L. (2019). Penerapan akupresur pada titik P6 terhadap
emesis gravidarum pada ibu hamil trimester 1. Holistik Jurnal Kesehatan, 13(3),
218–224. [Link]
Marmi. (2011). asuhan kebidanan pada masa antenatal. pustaka pelajar.
Nelly Nugrawati, S. S. T. M. K., & Amriani, S. S. T. S. K. M. M. K. M. K. (2021).
Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan (Abdul (ed.); 1st ed.). Penerbit Adab.
[Link]
Ningsih, D. A. (2017). Continuity of Care Kebidanan. OKSITOSIN: Jurnal Ilmiah
Kebidanan, 4(2), 67–77.
Novelia, S., Wowor, T. J. F., & Amelia, A. (2023). Pengaruh Air Rebusan Jahe
terhadap Hiperemesis Gravidarum pada Ibu Hamil. Jurnal Penelitian Perawat
Profesional, 5(3), 991–996.
Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kandungan. In Paper Knowledge . Toward a Media
History of Documents. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Prihandini, S. R., Pujiastuti, W., & Hastuti, T. P. (2016). Usia Reproduksi Tidak
Sehat Dan Jarak Kehamilan Yang Terlalu Dekat Meningkatkan Kejadian
Abortus Di Rumah Sakit Tentara Dokter Soedjono Magelang. Jurnal
Kebidanan, 5(10), 47–57.
Rakhmah, K., Rosyidah, H., & Wulandari, R. C. L. (2021). Hubungan Standar
Pelayanan Antenatal Care (Anc) 10 T Dengan Kepuasan Ibu Hamil Di Wilayah
Kerja Puskesmas Tlogosari Kulon Kota Semarang. Link, 17(1), 43–50.
Retnaningtyas, E. (2021a). Kehamilan dan Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil (pp.
78
1–216). Strada Press.
Retnaningtyas, E. (2021b). Kehamilan dan Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil.
Strada Press.
Rofi’ah, S., Widatiningsih, S., & Sukini, T. (2019). Efektivitas aromaterapi lemon
untuk mengatasi emesis gravidarum. Jurnal Kebidanan, 9(1), 9–16.
Romauli, S. (2011). No TitleKehamilan, Buku ajar asuhan kebidanan 1 : Konsep
dasar asuhan (1st ed.). Nuha medika.
Sandra, F., Syafiq, A., & Veratamala, A. (2017). Gizi Anak dan Remaja. In Raja
Grafindo Persada (a). Jakarta : Rajawali Press,.
Sarwono Prawirohardjo. (n.d.). Ilmu Kebidanan.
Sofiyana, A., & Himawan, A. B. (2018). Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap,
Dan Perilaku Suami Terhadap Deteksi Dini Kehamilan Risiko Tinggi Di
Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara 2017 [Faculty of Medicine].
[Link]
Statistik, B. P. (2023). Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020.
[Link]
L_LFSP2020_versi_Indonesia_20.[Link]
Sukini, T., & Rofi’ah, S. (2016). Fundamental Kebidanan. Trans Medika.
Sulistyawati, A. (2013a). Asuhan Kebidanan pada Masa Kehamilan. Salemba
Medika.
Sulistyawati, A. (2013b). Pelayanan Keluarga Berencana. Salemba medika.
Vitrianingsih, V., & Khadijah, S. (2019). Efektivitas aroma terapi lemon untuk
menangani emesis gravidarum. Jurnal Keperawatan, 11(4), 277–284.
Wulandari, N. (2021). PENANGANAN EMESIS GRAVIDARUM DENGAN
MENGGUNAKAN AROMATERAPI LEMON: STUDY LITERATURE REVIEW.
Yulizawati, B. (2017). Buku Ajar Asuhan Kehamilan Pada Kehamilan.
79