0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan13 halaman

Proposal A

Dokumen tersebut membahas pengaruh model pembelajaran PBL dan inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kedua model tersebut terhadap kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa, serta manfaat hasil penelitian bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan peneliti lain. Ruang ling

Diunggah oleh

AHLAN SUADI
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan13 halaman

Proposal A

Dokumen tersebut membahas pengaruh model pembelajaran PBL dan inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kedua model tersebut terhadap kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa, serta manfaat hasil penelitian bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan peneliti lain. Ruang ling

Diunggah oleh

AHLAN SUADI
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PBL DAN MODEL PEMBELAJARAN

INQUIRI DITINJAU DARI KEMANDIRIAN BELAJAR MATEMATIKA TERHADAP


KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
A. Latar belakang

Perkembangan pendidikan Indonesia di era globalisasi membutuhkan sumber


daya manusia (SDM) yang baik dan mendukung untuk menghadapi persaingan
pendidikan yang semakin global. Pendidikan menjadi sarana yang paling penting dan
efektif untuk membekali siswa dalam menghadapi masa depan. Oleh karena itu,
proses pembelajaran yang bermakna sangat menentukan terwujudnya pendidikan
yang berkualitas, sehingga terbentuk siswa aktif yang mampu mengembangkan
potensi dirinya dan memiliki kekuatan spiritual, kecerdasan, kepribadian, akhlak
mulia serta keterampilan yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan Negara.
Dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia hal yang
harus diperhatikan dan diutamakan adalah kualitas pelaksanaan proses pembelajaran
di sekolah. Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah,
para pendidik atau guru dituntut untuk selalu meningkatkan diri baik dalam
pengetahuan maupun pengelolaan proses pembelajaran termasuk pembelajaran
matematika.
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
teknologi modern, mempunyai peran dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan
daya pikir manusia. Mata pelajaran matematika perlu diberikan pada semua peserta
didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta
kemampuan pemecahan masalah. Belajar matematika pada hakikatnya tidak hanya
sekedar belajar menghitung, sebab melibatkan proses berpikir matematik tingkat
tinggi termasuk berpikir kritis matematika yang perlu dilatih dengan baik.
Pembelajaran matematika yang dilaksanakan guru di sekolah semestinya dapat
menciptakan kondisi dimana siswa dapat melatih kemampuan berpikir matematik
tingkat tingginya, dalam hal ini termasuk kemampuan berpikir kritis.1
Kemampuan berpikir kritis pada matematika sangat penting bagi siswa karena
dengan kemampuan ini siswa mampu bersikap rasional dan memilih alternatif pilihan
yang terbaik bagi dirinya. Selain itu menanamkan kebiasaan berpikir kritis bagi siswa

1
Wa Nurial dkk, “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Matematika Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa SMK”, Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika, Vol.38,
No. 2, Agustus 2018: 54.
juga perlu dilakukan agar mereka dapat mencermati berbagai persoalan yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari.2
Berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016, salah satu kemampuan
yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam pembelajaran matematika adalah
kemampuan berfikir kritis. Selain itu berfikir kritis juga membantu peserta didik agar
dapat mengambil keputusan yang tepat dan benar dalam menyelesaikan sebuah
masalah.
Kurangnya kemampuan berpikir kritis siswa salah satunya disebabkan oleh
model pembelajaran yang digunakan oleh kebanyakan guru di Indonesia.
Pembelajaran selama ini menyebabkan aktivitas siswa sehari-hari umumnya hanya
menonton gurunya menyelesaikan soal-soal di papan tulis kemudian meminta siswa
bekerja sendiri dalam buku teks atau lembar kerja siswa (LKS) yang disediakan.
Sumarmo menyatakan untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir
kritis matematika dalam pembelajaran, guru juga perlu mendorong siswa untuk
terlibat aktif dalam diskusi, bertanya serta menjawab pertanyaan, berpikir secara
kritis, menjelaskan setiap jawaban yang diberikan, serta mengajukan alasan untuk
setiap jawaban yang diajukan.3
Agar siswa memiliki kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis maka pola
pembelajaran dari pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) perlu diubah
menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Pembelajaran yang
berpusat pada siswa ini (student centered) dianggap lebih sesuai dengan kondisi eksternal
saat ini yang menjadi tantangan bagi siswa untuk dapat mengambil keputusan secara efektif
terhadap problematika yang dihadapinya. Melalui student centered learning siswa dituntut
berpartisipasi secara aktif, ditantang untuk memiliki daya kritis, mampu menganalisis dan
dapat memecahkan masalah-masalahnya sendiri.4
Salah satu upaya yang mungkin perlu dilakukan oleh seorang guru Agar siswa
memiliki kemandirian belajar dan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, yaitu
dengan menggunakan metode yang tepat. Dalam hal ini model pembelajaran Pembelajaran
PBL Dan Model Pembelajaran Inquiri dirasa cocok digunakan dalam peningkatan
2
T. Jumaisyaroh, E. E. Napitupulu, dan Hasratuddin, “peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis dan
kemandirian belajar siswa SMP melalui pembelajaran berbasis masalah”, Kreano, Vol. 5, No. 2, Desember
2014, hlm. 158
3
Sumarmo, Utari. 2011. Pendidikan Karakter serta pengembangan berpikir dan disposisi Matematika dalam
Pembelajaran Matematika. Makalah disajikan pada Seminar Pendidikan Matematika di NTT tanggal 25
Februari 2011
4
Nandang Kosasih dan Dede Sumarna, Pembelajaran Quantum dan optimalisasi kecerdasan, (Bandung:
Alfabeta, 2013), hlm 51
kemampuan berpikir kritis siswa karena problem based learning juga termasuk dalam pola
pembelajaran student centered yang menekankan siswa untuk berperan aktif dengan
diberikan suatu permasalahan pada awal pembelajarannya yang bertujuan untuk Menyusun
pengetahuan siswa, melatih kemandirian dan percaya diri, juga mengembangkan
keterampilan berpikir siswa dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan obsrvasi awal yang dilakukan di

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan
berpikir kritis ?
2. Bagaimana pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap terhadap
kemandirian belajar siswa ?
3. Bagaimana pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap keterampilan berpikir kritis ?
4. Bagaimana pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap kemandirian belajar ?
5. Bagaimana pengaruh model problem based learning dengan model pembelajaran
inkuiri terhadap keterampilan berpikir kritis ?
6. Bagaimana pengaruh antara model problem based learning dengan model inkuiri
terhadap kemandirian belajar siswa.?

C. Tujuan dan manfaat penelitian


1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengtahui pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap
keterampilan berpikir kritis
b. Untuk mengetahui pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap
terhadap kemandirian belajar siswa
c. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap keterampilan
berpikir kritis
d. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap kemandirian
belajar
e. Untuk mengetahui pengaruh model problem based learning dengan model
pembelajaran inkuiri terhadap keterampilan berpikir kritis
f. Untuk mengetahui pengaruh antara model problem based learning dengan
model inkuiri terhadap kemandirian belajar siswa
2. Manfaat penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk kepala sekolah, penelitian ini dapat di jadikan rujukan dalam rangka
perbaikan proses pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan.
b. Untuk guru, hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan kepada
guru dalam menentukan strategi mengajar yang sesuai dengan materi ajar,
sebagai alternatif untuk memberikan variasi dalam pembelajaran dan dapat
meningkatkan kegiatan belajar, mengoptimalkan kemampuan berfikir,
kerja sama, dan aktifitas peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
c. Untuk peserta didik, dapat meningkatkan kreatifitas,keaktifan, dan
kerjasama kelompokan dalam belajar, serta dapat meningkatkan
kemampuan berfikir kritis matematis dan disposisi matematis peserta didik
d. Untuk peneliti, dapat menambah pengetahuan peneliti tentang alternatif
dalam pemilihan model pembelajaran sebagai calon guru di masa yang
akan datang dan bekal menuju guru profesional serta berguna untuk
melengkapi salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana pendidikan.
e. Untuk peneliti lain, sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian
selanjutnya.

D. Ruang lingkup dan setting penelitian


1. Ruang lingkup penelitian
Untuk menghndari pembahasan yang keluar dari focus penelitian, maka cakupan
dan pembahasan dalam penelitian ini hanya akan membahasa hal-hal yang terkait
dengan focus penelitian yang sudah dikemukakan sebelumnya yaitu focus pada
Yang dimana subjek penelitiannya adalah
2. Setting penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
E. Telaah Pustaka
F. Kerangka teori
a. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan inqiri
1. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan penggunaan
berbagai macam kecerdasan yang di perlukan untuk melakukan konfrontasi
terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu
yang baru dan kompleksitas yang ada.5
PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi
kepada peserta didik dengan masalah-masalah praktis atau pembelajaran yang
dimulai dengan pemberian masalah dan memiliki konteks dengan dunia nyata.
Duch yang di kutip oleh Yatim Riyanto juga menyatakan bahwa
pembelajaran PBL adalah suatu model pembelajaran yang menghadapkan peserta
didik pada tantangan. Duch menyatakan bahwa model ini dimaksud untuk
mengembangkan peserta didik berfikir krits, analisis, dan untuk menemukan serta
menggunakan sumber daya yang sesuai untuk belajar6
PBL dikembangkan untuk membantu peserta didik mengembangkan
kemampuan-kemampuan yang dimilikinya, yaitu kemampuan berfikir dengan
melibatkan peserta didik langsung dalam suatu keadaan guna memberi kesempatan
kepada peserta didik untuk memecahkan suatu permasalahan.
PBL memiliki ciri yang khas yang membedakannya dengan model
pembelajaran yang lainnya karena selalu dimulai dan dipusatkan pada suatu
permasalahan. Pada proses pembelajarannya menggunakan masalah dunia nyata
sebagai konteks belajar bagi siswa tentang cara berpikir kritis dan keterampilan
pemecahan masalah yang bermaksud memberikan ruang gerak berpikir yang bebas
kepada siswa untuk mencari konsep dan penyelesaian masalah yang terkait dengan
materi yang diajarkan oleh guru di sekolah.7
5
Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, 2012, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, hlm. 229-230
6
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2010, hlm. 285
7
Asria Hirda Yanti, “penerapan problem based learning terhadap kemampuan komunikasi dan kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa sekolah menengah pertama lubuklinggau”, Jurnal Pendidikan
Matematika Raflesia, Vol. 2, Nomor 2, 2017, hlm. 119.
Pembelajaran berbasis masalah dilaksanakan atas lima tahap. Pada tahap 1
yaitu orientasi siswa pada masalah siswa dimana siswa diberikan LAS yang berisi
permasalahan yang telah dirancang untuk diselesaikan. Pada tahap ini, siswa dilatih
untuk berpikir dan bekerja secara mandiri terlebih dahulu dalam menyelesaikan
permasalahan yang diberikan oleh guru. Hal tersebut berbanding terbalik dengan
pembelajaran langsung dimana guru memberikan permasalahan setelah materi
diajarkan oleh guru. Selain itu, siswa tidak diberikan LAS. Siswa hanya diberikan soal
rutin yang terdapat di buku pelajaran.
Selanjutnya pada tahap kedua yaitu pengorganisasian siswa dalam
kelompok belajar dimana guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
heterogen baik dari segi kemampuan awal (berdasarkan nilai KAM), jenis kelamin
maupun suku yang mana setiap kelompok terdiri atas 5 orang. Siswa tampak
berusaha dengan maksimal menggunakan kemampuan berpikir yang dimilikinya
untuk menemukan konsep dari masalah. Sedangkan pada pembelajaran langsung
guru hampir tidak pernah membuat sistem kelompok dalam pembelajaran. Guru
hanya menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa.
Pada tahap ketiga yaitu membimbing penyelidikan kelompok. Guru
mendorong siswa untuk berpartisipasi dan berinteraksi dengan temannya dalam
diskusi kelompok. Guru mengalami kendala manakala terdapat beberapa kelompok
mengalami kesulitan dalam menyelesaiakn masalah yang terdapat pada LAS.
Adapun upaya yang dilakukan oleh guru adalah memberdayakan siswa dalam
bekerjasama dalam kelompok secara maksimal dengan memanfaatkan buku
referensi yang ada. Guru hanya memberikan bantuan atau scaffolding secara tidak
langsung berupa peitunjuk, pertanyaan atau informasi yang dapat membantu siswa
yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Sedangkan pada pembelajaran
langsung, guru memberikan bantuan secara langsung kepada siswa yang mengalami
kesulitan.
Pada tahap ke empat yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya
dimana guru meminta salah satu kelompok untuk mempersentasikan hasil diskusi
mereka di depan kelas.
Pada tahap kelima yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan
masalah dimana kelompok lain bisa memberikan tanggapan kepada kelompok yang
persentasi.8
2. Karakteristik model pembelajaran PBL
Pembelajaran dengan menggunakan PBL memiliki beberapa karakteristik sebagai
berikut:
1) Pembelajaran yang diawali dengan suatu masalah
2) Mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar disiplin
ilmu
3) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk
dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri
4) Menggunakan kelompok kecil
5) Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari
dalam bentuk suatu produk atau kinerja.9

8
T. Jumaisyaroh, E.E. Napitupulu, dan Hasratuddin .(2014). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
dan Kemandirian Belajar Siswa SMP melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Volume 5 Nomor 2, JURNAL
KREANO
Model pembelajaran Problem based learning dapat melatih siswa untuk
meningkatkan dan mengembangkan keterampilan berpikir dan kemampuan dalam
pemecahan masalah serta menjadi pelajar yang mandiri. Dalam hal ini PBL
membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam pikirannya dan
menyusun pengetahuan mereka sendiri
3. Kelebiahan Problem Based Learning (PBL)
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Retnaning Tyas beberapa kelebihan PBL
adalah sebagai berikut:

1) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif


siswa dalam bekerja, memotivasi siswa untuk belajar, dan mampu
mengembangkan hubungan antara anggota kelompok
2) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran yang memiliki makna artinya siswa
belajar memecahkan suatu masalah maka siswa tersebut mampu
menerapkannya atau dapat berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan
untuk menyelesaikan masalah tersebut
3) Menjadikan siswa agar belajar mandiri dan bebas
4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan baru dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka
lakukan juga dapat mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri baik
terhadap hasil belajar maupun proses belajar.10
4. Kekurangan Problem Based Learning (PBL)
1) Ketika siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan dan siswa beranggapan
bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan
merasa enggan untuk mencoba.
2) Keberhasilan pembelajaran ini membutuhkan cukup waktu dalam persiapan.
3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang mereka pelajari, mereka tidak akan belajar apa yang ingin mereka
pelajari.11
b. Pengertian model pembelajaran inquiri
1. Pengertian model pembelajaran inquiri
Kata inkuiri berasal dari bahasa inggris “Inquiry” berarti pertanyaan, pemeriksaan,
atau penyelidikan. Dalam bidang sains, Inkuiry berarti seni /ilmu bertanya tentang alam
dan menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Menurut Hebrank, Inquiry
memerlukan eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan terhadap kekuatan dan
kelemahan metode yang digunakan. Pendapat senada dikemukakan oleh Budnitz, yang
mengatakan bahwa inkuiry berarti mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab melalui
justifikasi dan verifikasi. pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam
merumuskan pertanyaan yang mengarahkan untuk melakukan investigasi dalam upaya
membangun pengetahuan dan makna baru.12

9
Muhammad Fathurrohman, Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm.
115
10
Retnaning Tyas, “Kesulitan penerapan problem based learning dalam pembelajaran matematika”,
Tecnoscienza, Vol. 2, No. 1, Oktober 2017, hlm. 46.
11
Hamruni, Strstegi Pembelajaran, (Yogyakarta: Insan Madani, 2012), hlm. 115.
12
Ade Khairullah dan Said Hasan, Model & Pendekatan Pembelajaran Inovatif (Bantul, Yogyakarta: CV Listas
Nalar, 2017). 208.
Sedangkan menurut Hanafiah, inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan pembelajaran
yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan
sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan prilaku.
Sehingga pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki
sesuatu (benda, manusia atau pristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga
mereka dapat merumuskan penemuannya dengan penuh percaya diri.13
Ngalimun mengatakan bahwa “Model Pembelajaran Inkuiri adalah suatu strategi
yang membutuhkan peserta didik menemukan sesuatu dan mengetahui bagaimana cara
memecahkan masalah dalam suatu penelitian ilmiah. Tujuan utamanya adalah
mengembangkan sikap dan kemampuan berpikir kritis peserta didik yang memungkinkan
mereka menjadi pemecah masalah yang mandiri.14
Kunandar menambahkan bahwa pembelajaran inkuiri adalah kegiatan pembelajaran
dimana peserta didik didorong untuk belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri
dengan konsep-konsep dan prinsipprinsip untuk diri mereka sendiri. Inkuiri dapat
dilakukan secara individual, kelompok, atau klasikal, baik di dalam maupun di luar kelas.
Menurut Hamalik pengajaran berdasarkan inkuiri adalah pengajaran yang berpusat pada
peserta didik di mana kelomopk perta didik inkuiri mencari jawaban-jawaban terhadap
isi pertanyaan melalui prosedur yang digariskan secara jelas dan structural kelompok.
Menurut piaget bahwa model pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang
mempersiapkan Peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara
luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-
pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang
satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang
ditemukan peserta didik lain.15
Dapat disimpulakan bahwa Model pembelajaran inkuiri merupakan suatu proses
pembelajaran yang diawali dengan kegiatan merumuskan masalah, mengembangkan
hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji hipotesis, menarik kesimpulan sementara, dan
menguji kesimpulan sementara tersebut sampai pada kesimpulan yang diyakini
kebenarannya. Model pembelajaran inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
Siswa berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Guru
berperan membimbing dan bertindak membawa perubahan, fasilitator, motivator bagi
siswanya. Khususnya di lingkungan sekolah dasar, Melalui pembelajaran inkuiri guru
memberi bimbingan dan arahan kepada siswa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan
penyelidikan. Kegiatan ini menuntut siswa untuk memiliki keaktifan yang sangat tinggi
dalam pembelajaran.
2. Karaktristikmodel pembelajaran inquiri
Karakteristik model pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut :
1) Pembelajaran inkuiri menekankan pada aktivitas peserta didik secara
maksimal untuk mencari dan menemukan. Dalam suatu rproses
pembelajaran, peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima materi

13
Nurdiansyah dan Eni Fariyatul Fahyuni, Inovasi Model Pembelajaran (Sidoarjo: Nizamiya Learning Center,
2019). 137.
14
Delimatua Sigalingging and others, ‘Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada
Kelas Iv Di Sd’, JURNAL PAJAR (Pendidikan Dan Pengajaran), 6.3 (2022), 749
15
Masfaratna, Model Pembelajaran Inkuiri Berbantuan Media Simulasi PHET Meningkatkan Hasil Belajar (NTB:
Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia, 2022). 6.
tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran
itu.
2) Seluruh aktivitas peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan
jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan, sehingga dala hal ini
diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik.
3) Tujuan dari pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan
berfikir sistemats, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan
intelektual sebagai bagian dari proses mental.16
Jacobsen, et al., memasukkan pembelajaran inkuiri (penelitian) ke
dalam kelompok pembelajaran berbasis masalah, karena di dalam
pembelajaran yang diutamakan adalah keterlibatan aktif peserta didik dalam
mencoba menyelesaikan beberapa masalah atau menjawab beberapa
pertanyaan
3. Keunggulan Model Pembelajaran Inkuiri
Tanggapan dari Hamruni, menyatakan bahwa ada beberapa keunggulan
model pembeajaran inkuiri, antara lain:
1) Pembelajaran menekankan pada kognitif, afektif, dan psikomotor secara
seimbang, sehinga pembelajaran dianggap jauh lebih bermakna.
2) Melalui pertumbuhan intelektal belajar masa kini yang dijadikan belajar
merupakan cara perbedaan perilaku melalui pengetahuan.
3) Memperoleh peluang untuk peserta didik agar belajar tepat pada keyakinan
belajarnya dan peserta didik bisa percaya diri atas kemampuannya.
4) Mempertegas untuk menumbuhkan aspek keaktifan, kehadiran dan
keterampilan yang sama oleh peserta didik.17
4. Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri
1) Pembelajaran dengan inkuiri memerlukan kecerdasan peserta didik yang
tinggi, bila peserta didik kurang cerdas hasil pembelajaran kurang efektif
2) Memerlukan perubahan kebiasaan cara belajar peserta didik yang menerima
informasi dari pendidik apa adanya
3) Pendidik dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai
pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing peserta
didik dalam belajar.
4) Karena dilakukan secara kelompok, kemungkinan ada anggota yang kurang
aktif.18
5. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri
Pengembangan model pembelajaran Inkuiri ini membantu peserta didik dalam
mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan yang diperlukan dengan memberi
pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.19Secara
umum proses pembelajaran dengan model Inkuiri dapat Langkah-langkah yaitu :

1) Orientasi
16
Arwin yahya eko nopiyanto, Septian raibowo, Pembelajaran Atlentik (Bengkulu: ELMARKAZI, 2020),34.
17
Irfan Sugianto, Savitri Suryandari,Larasati Diyas Age. EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI
TERHADAP KEMANDIRIAN Belajar Siswa di Rumah. Jurnal Inovasi Penelitian. Vol.1 No.3 Agustus 2020, 162
18
F Shoufika Hilyana Fina Fakhriyah, Siti Masfuah, TPACK Dalam Pembelajaran IPA (Jawa Tengah: PT. Nasya
Expanding Management, 2022). 108.
19
iis Daniayati Fatimah, Model-Model Pembelajaran (Sumatera Barat: Yayasan Pendidikan Cendika Muslim,
2022), 122-123.
Orientasi pada langkah ini adalah langkah untuk membina suasana
atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada tahap ini pendidik
mengondisikan atau mengontrol supaya peserta didik sudah siap untuk
belajar. Pada langkah ini adalah langkah yang sangat penting pada suatu
proses pembelajaran dengan menggunkan model pembelajaran Inkuiri,
karena keberhasilan model inkuiri tergantung pada kemauan peserta didik
untuk melakukan aktivitasnya menggunakan kemampuannya dalam
memecahkan masalah.
2) Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah yang membawa peserta
didik kepada suatu permasalahan yang mengandung teka-teki.
Permasalahan yang diberikan adalah permasalahan yang menantang peserta
didik untuk berfikir agar dapat memecahkan masalahmasalah yang dihadapi.
Permasalahan tersebut memiliki jawaban dan peserta didik didorong supaya
dapat menemukan jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban tersebutlah
yang menjadi langkah terpenting dalam pembelajaran dengan menggunakan
model inkuiri.
3) Mengajukan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang
sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu dibuktikan
kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pendidik untuk
mengembangkan kemampuan pada setiap peserta didik adalah dengan
mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong peserta didik
untuk dapat merumuskan jawaban sementara.20
4) Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data merupakan langkah kegiatan untuk
mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang
diajukan. Langkah ini sangat penting, karena dalam proses pengumpulan
data bukan hanya membutuhkan motivasi tetapi juga memerlukansemangat
dan ketekunan dalam belajar.
5) Menguji Hipotesis
Menguji Hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang
dianggap paling sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan datadata yang dikumpulkan.
6) Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan merupakan proses menjelaskan temuan
yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.21

c. Kemandirian belajar
Yuliasari (dalam Maya, dkk, ) mengemukakan pendapatnya bahwa kemandirian
belajar merupakan sebuah niat yang dimiliki tiap pribadi siswa untuk mampu bersaing
dan maju dalam mengembangkan dirinya serta mampu menetap suatu perbuatan dan
kreatif dalam memecahkan masalah yang didapat.22

20
Sherin Ricu Sidiq, Najuah, Pristi Suherndro Lukitoyo, Strategi Pembelajaran Mengajar Sejarah: Menjadi Guru
Sukses (Medan: Yayasan Kita Menulis, 2019), 65-66.
21
Basuki Wibawa Uswatun hasanah, Mohammad atwi suparman, Model Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Anak Usia Dini Menggunkana Big Book (Jakarta: kencana Prenadamedia group, 2022), 22.
Kemandirian merupakan sikap yang memungkinkan seseorang melakukan sesuatu
atas dorongan sendiri, kemampuan mengatur diri sendiri untuk menyelesaikan masalah
dan dapat bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil. Siswa dikatakan telah
mampu belajar secara mandiri apabila telah mampu melakukan tugas belajar tanpa
ketergantungan dengan orang lain serta memahami isi pelajaran yang dibaca atau
dilihatnya melalui media pandang dan dengar. Kemandirian belajar dapat dilihat dari
tingkah laku dan kemampuan kognitif siswa.
Menurut Irawan (dalam Murti, dkk. 2019) mengungkapkan bahwa ciri utama belajar
mandiri adalah adanya pengembangan kemampuan siswa untuk melakukan proses
belajar yang tidak tergantung pada factor guru, teman, kelas dan lain-lain.
Sejalan dengan pendapat sebelumnya, Sumarno dalam Hendriana, dkk menyatakan
indikator kemandirian belajar meliputi:
1) inisiatif dan motivasi belajar intrinsic
2) kebiasaan mendiagnosa kebutuhan belajar
3) menetapkan tujuan/target belajar
4) memonitor, mengatur, dan mengontrol belajar
5) memandang kesulitan sebagai tantangan
6) memanfaatkan dan mencari sumber yang relevan
7) memilih, menerapkan strategi belajar
8) mengevaluasi proses dan hasil belajar.23

d. Berfikir kritis
1. Pengertian berfikir kritis
Menurut Siti Nurkholifah dkk mengatakan bahwa berpikir kritis merupakan proses
penggunaan kemampuan berpikir secara rasional yang bertujuan untuk mengambil
keputusan tentang apa yang diyakini atau apa yang dilakukan. Termasuk juga
kemampuan siswa dalam menganalisis dan mengevaluasi informasi untuk diputuskan
apakah informasi tersebut dapat dipercaya sehingga mampu digunakan untuk menarik
kesimpulan yang valid.24
Dalam penelitiannya Syutaridho menjelaskan bahwa berpikir kritis adalah berpikir
yang akurat, relevan, wajar dan teliti dalam menganalisis berbagai masalah, mensintesis,
menerapkan konsep, menafsirkan, mengevaluasi, memecahkan masalah dan membuat
keputusan.25
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah
kemampuan untuk berpikir secara mendalam tentang sesuatu agar dapat di analisis dan
di evaluasi untuk diterapkan dalam memecahkan masalah sehingga mendapatkan
keputusan dan kesimpulan yang tepat.
2. Tujuan berfikir keritis
Kemampuan berpikir kritis mengajak siswa untuk:
1) Mampu menggunakan penalaran secara matematik

22
Yuliasari, Evi. Eksperimentasi Model PBL dan Model GDL Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Ditinjau dari Kemandirian Belajar. JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika 2020), 6(1)
23
Hendriana, H., Rohaeti, E. E., & Sumarmo, U. (2018). Hard Skills dan Soft Skills Matematik Siswa. Bandung.
Refika Aditama.
24
Siti Nurkholifah, Toheri, Widodo Winarso, “Hubungan antara self confidence dengan kemampuan berpikir
kritis siswa dalam pembelajaran matematika”, Edumatica, Vol. 8, No. 1, April 2018, hlm. 58.
25
Syutaridho, “mengontrol aktivitas berpikir kritis siswa dengan memunculkan soal berpikir kritis”, jurnal
pendidikan matematika JPM RAFA, Vol. 2, No. 1, hlm. 34.
2) Teliti dalam menganalisis masalah
3) Berpikir secara akurat
4) Memberikan motivasi untuk memperoleh pengetahuan yang banyak
5) Memberikan kebebasan berpikir untuk memberikan kesimpulan yang didasari
dengan tanggung jawab.

Kesimpulan ini menjadi dasar pemikiran bahwa salah satu cara untuk
menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna bagi siswa adalah dengan
menghadirkan soal berpikir kritis pada siswa.

3. Instrument berfikir kritis


Kemampuan berpikir kritis seseorang dapat diketahui dengan beberapa
pengukuran. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur
kemampuan berpikir kritis antara lain dengan tes pilihan ganda atau tes esai.
Menurut Panner, dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis sama
halnya dengan mengembangkan kemampuan motorik siswa, keduanya memerlukan
latihan-latihan. Pengukuran konstruk berpikir kritis di Indonesia cukup beragam
terutama terkait dengan konteks pengukurannya. Selama ini pengukuran berpikir
kritis di Indonesia lebih sering menggunakan tes. Selain itu pengembangan
pengukuran berpikir kritis di Indonesia lebih banyak dilakukan pada seting
pendidikan matematika dan fisika.26
4. Indikator berfikir kritis
Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang tidak timbul dari
lahir melainkan kemampuan yang timbul akibat dilatih pada proses pembelajaran.
Terdapat beberapa indikator yang harus dimiliki seseorang sehingga dapat
dikategorikan memiliki kemampuan berpikir kritis.
1) Menganalisis dan mengklarifikasi suatu pertanyaan
2) Mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang ada
3) Menyusun klarifikasi dengan pertimbangan yang bernilai
4) Memberikan penjelasan
5) Memberikan simpulan dan argumen
G. Metode penelitian

26
Fajrianthi, Wiwin Hendriani, dan Berlian Gressy Septarini, “pengembangkan tes berpikir kritis dengan
pendekatan item response theory”, Jurnal penelitian dan evaluasi pendidika, Vol. 20, No. 1, Juni 2016, hlm. 47.

Anda mungkin juga menyukai