PROPOSAL
PROPOSAL
3
Sumarmo, Utari. 2011. Pendidikan Karakter serta pengembangan berpikir dan disposisi Matematika
dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disajikan pada Seminar Pendidikan Matematika di NTT tanggal 25
Februari 2011
4
Nandang Kosasih dan Dede Sumarna, Pembelajaran Quantum dan optimalisasi kecerdasan, (Bandung:
Alfabeta, 2013), hlm 51
berperan aktif dengan diberikan suatu permasalahan pada awal pembelajarannya yang
bertujuan untuk Menyusun pengetahuan siswa, melatih kemandirian dan percaya diri,
juga mengembangkan keterampilan berpikir siswa dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan obsrvasi awal yang dilakukan di
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan
berpikir kritis ?
2. Bagaimana pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap terhadap
kemandirian belajar siswa ?
3. Bagaimana pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap keterampilan berpikir kritis ?
4. Bagaimana pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap kemandirian belajar ?
5. Bagaimana pengaruh model problem based learning dengan model pembelajaran
inkuiri terhadap keterampilan berpikir kritis ?
6. Bagaimana pengaruh antara model problem based learning dengan model inkuiri
terhadap kemandirian belajar siswa.?
5
Edy Waluyo, “Penerapan Stem Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Melalui Lesson Study”. Jurnal Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif Volume 6, No. 3, Mei 2023
lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi keterlaksaan pembelajaran dan
tes esay terkait kemampuan berpikir kritis pada materi integral. Data berupa
aktivitas siswa dan tes hasil belajar pada materi integral dianalisis menggunakan
statistik deskriptif. Skor aktivitas berpikir kritis siswa selama proses pembelajaran
dari open class pertama, kedua dan ketiga sebesar 74,93%, 74,8% dan 87,87 %
terdapat peningkatan rata rata aktivitas sebesar 6,47%. Data skor kemampuan
berpikir kritis siswa pada materi integral pada open class pertama sebesar 76,47%
open class kedua sebesar 88,24% dan open class ketiga sebesar 94,12%, terjadi
rata rata peningkatan sebesar 8,83%.
Hasil dari penelitian Edy Waluyo adalah penerapan bertujuan meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa dengan menerapkan STEM Problem Based
Learning melalui lesson study dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan
berpikir kritis.
Persamaan kedua penelitian ini terletak pada penerapan metode pembelajaran
problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada
siswa, Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan sekarang ini yakni
peneliti terdahulu meneliti Penerapan Stem Problem Based Learning Untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Lesson Study sedangkan
dalam penelitian ini mengetahui bagaimana pengaruh model pembelajaran
Problem Based Learning dan model pembelajaran inquiri ditinjau dari
kemandirian belajar matematika terhadap kemampuan kritis.
2. Penelitian jurnal:” Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis”6
Penelitian yang diteliti oleh Ni Wayan Wartini Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji implementasi model pembelajaran Inkuiri tebimbing untuk
meningkatkan maotivasi belajar dan kemampuan berpikir kritis. Jenis penelitian
ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI. yang berjumlah 30 orang terdiri dari 5
siswa perempuan dan 25 orang siswa laki-laki. Data dikumpulkan dengan angket
dan tes kemampuan berpikir kritis tipe esay. Data yang dikumpulkan kemudian
dianalisis secara deskriptif.
6
Ni Wayan Wartini,” implementasi model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk meningkatkan motivasi
belajar dan kemampuan berpikir kritis”. journal of education action research volume 5, number 1 2021
“
Hasil penelitian menunjukkan 1) penerapan model pembelajaran inkuri
terbimbing mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Rata-rata skor motivasi
belajar siswa berada pada kategori tinggi dengan rata-rata skor 103,73 pada siklus
I dan 109,27 pada siklus II dengan kategori tinggi. 2) Penerapan model
pembelajaran inkuiri terbimbing mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis
siswa. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa berada pada kategori baik
dengan ketuntasan klasikal sebesar 87,1% pada siklus I dan ketuntasan klasikal
sebesar 90,6% pada siklus II dengan kategori baik. Jadi, dengan penerapan model
pembelajaran inquiri terbimbing dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan
kemampuan berpikir kritis siswa.
Persamaan penelitian ini terletak pada bagaimana penerapan Pembelajaran
Inkuiri untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan sekarang ini yakni peneliti
terdahulu meneliti tentang Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis.
Sedangkan dalam penelitian ini mengetahui bagaimana pengaruh model
pembelajaran Problem Based Learning dan model pembelajaran inquiri ditinjau
dari kemandirian belajar matematika terhadap kemampuan kritis.
3. Penelitian jurnal :” Pengaruh Model Pbl Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif
Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa”7
Penelitian yang diteliti oleh Revalusiana Trijaya ini dilatar belakangi oleh
kemampuan berpikir kreatif siswa yang masih belum optimal, yang dikarenakan
kurangnya penggunaan model pembelajaran, dan kurangnya pengalaman siswa
dalam memecahkan masalah sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode studi
literatur dengan mengumpulkan beberapa jurnal yang terkait.
Hasil dari penelitian Revalusina Trijaya bahwa model PBL merupakan suatu
model yang mengharuskan siswa untuk belajar dengan cara memecahkan masalah
yang ada di kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat lebih terampil dan lebih
bisa berpikir kreatif untuk memecahkan suatu masalah dan menemukan jawaban
yang lebih mudah. Adapun terdapat pengaruh yang cukup baik dalam
7
Revalusiana Trijaya “Pengaruh Model Pbl Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Ditinjau Dari
Kemandirian Belajar Siswa” Jurnal Pendidikan Dasar Prosiding Seminar dan Diskusi Nasional Pendidikan Dasar
2020
penggunaan model PBL terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa yang ditinjau
dari kemandirian belajar siswa itu sendiri.
Persamaan kedua penelitian ini terletak pada bagaimana pengaruh metode
pembelajaran problem based learning ditinjau dari kemandirian belajar siswa.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan sekarang ini yakni peneliti
terdahulu meneliti tentang Pengaruh Model Pbl Terhadap Kemampuan Berpikir
Kreatif Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa, Sedangkan dalam penelitian ini
mengetahui bagaimana pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning
dan model pembelajaran inquiri ditinjau dari kemandirian belajar matematika
terhadap kemampuan kritis.
4. Penelitian jurnal:” Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Matematika Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa
SMK”8
Penelitian yang diteliti oleh Wa Nuriali Dkk untuk mengetahui Kemampuan
berpikir kritis matematika siswa yang ternyata masih rendah yang disebabkan
siswa kurang aktif dalam pembelajaran, kurang mandiri, lemah dalam
memecahkan soal keterampilan berpikir, dan butuh banyak bimbingan, Model
inkuiri terbimbing dipandang dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis
siswa. Penelitian Quasi Experiment ini menggunakan pretest-posttest control
group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 1
Raha. Sampel penelitian diambil dua kelas dengan teknik purposive sampling dan
random sampling. Siswa kelas eksperimen diajar dengan model pembelajaran
inkuiri terbimbing. Siswa kelas kontrol diajar dengan model pembelajaran
langsung. Instrumen penelitian ini adalah pretest dan posttest kemampuan berpikir
kritis matematika, skala kemandirian belajar, dan lembar observasi. Data dianalisis
dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial melalui uji t dan ANAVA RAK
pada ᾳ = 0,05
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematik
siswa kelas inkuiri terbimbing lebih tinggi daripada kemampuan berpikir krtis
matematika siswa kelas pembelajaran langsung ditinjau dari kemandirian belajar.
8
1Wa Nuriali Dkk” Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berpikir
Kritis Matematika Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa SMK”. Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika,
Vol.38, No. 2, Agustus 2018
Persamaan kedua penelitian ini terletak pada bagaimana pengaruh metode
pembelajaran inquiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematika Ditinjau
Dari Kemandirian Belajar Siswa. Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu
dengan sekarang ini yakni peneliti terdahulu meneliti tentang Pengaruh Model
Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Matematika Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa SMK, Sedangkan dalam
penelitian ini mengetahui bagaimana pengaruh model pembelajaran Problem
Based Learning dan model pembelajaran inquiri ditinjau dari kemandirian belajar
matematika terhadap kemampuan kritis.
5. Penelitian jurnal:” Penerapan Metode Pembelajaran Inkuiri Dalam Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMK”9
Penelitian yang diteliti oleh Nur Siti Komariah dkk bertujuan untuk untuk
mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis dengan
menggunakan metode pembelajaran inkuiri pada siswa SMK kelas X. Metode
penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen, dengan populasi seluruh
siswa kelas X di SMK Texmaco Purwasari di Kecamatan Purwasari. Dipilih dua
kelas sebagai sampel penelitian yaitu kelas X TKJ dijadikan sebagai kelas
eksperimen yang proses pembelajarannya menggunakan model pembelajaran
inkuiri dan kelas TPMI dijadikan sebagai kelas kontrol yang proses
pembelajarannya menggunakan model pembelajaran konvensional. Masing-
masing kelas terdiri dari 32 siswa. Pada awal pertemuan kedua kelas diberikan
pretes awal kemampuan berpikir kritis dengan soal yang sama, dan diakhir
pertemuan kedua kelas tersebut diberikan posttest kemampuan awal berpikir kritis
dengan soal yang sama pula. Analisis data kuantitatif diperoleh dari
hasil pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis matematis selanjutnya untuk
pengolahan data menggunakan bantuan IBM SPSS Statistics 22, secara deskriptif
dan inferensia.
Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis
siswa dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri lebih baik daripada siswa
yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
Persamaan kedua penelitian ini terletak pada penerapan metode pembelajaran
inquiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis pada siswa. Sedangkan perbedaan
9
Nur Siti Komariah dkk “penerapan metode pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan kemampuan
berpikir kritis matematis siswa SMK”. Jurnal ilmiah pro guru Vol 5, No 4 (2019)
penelitian terdahulu dengan sekarang ini yakni peneliti terdahulu meneliti tentang
Penerapan Metode Pembelajaran Inkuiri Dalam Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis Matematis Siswa SMK, Sedangkan dalam penelitian ini
mengetahui bagaimana pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning
dan model pembelajaran inquiri ditinjau dari kemandirian belajar matematika
terhadap kemampuan kritis.
F. Kerangka Teori
a. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Inqiri
1. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan penggunaan
berbagai macam kecerdasan yang di perlukan untuk melakukan konfrontasi
terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu
yang baru dan kompleksitas yang ada.10
PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat
konfrontasi kepada peserta didik dengan masalah-masalah praktis atau
pembelajaran yang dimulai dengan pemberian masalah dan memiliki konteks
dengan dunia nyata.
Duch yang di kutip oleh Yatim Riyanto juga menyatakan bahwa
pembelajaran PBL adalah suatu model pembelajaran yang menghadapkan
peserta didik pada tantangan. Duch menyatakan bahwa model ini dimaksud
untuk mengembangkan peserta didik berfikir krits, analisis, dan untuk
menemukan serta menggunakan sumber daya yang sesuai untuk belajar11
PBL dikembangkan untuk membantu peserta didik mengembangkan
kemampuan-kemampuan yang dimilikinya, yaitu kemampuan berfikir dengan
melibatkan peserta didik langsung dalam suatu keadaan guna memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk memecahkan suatu permasalahan.
PBL memiliki ciri yang khas yang membedakannya dengan model
pembelajaran yang lainnya karena selalu dimulai dan dipusatkan pada suatu
permasalahan. Pada proses pembelajarannya menggunakan masalah dunia
nyata sebagai konteks belajar bagi siswa tentang cara berpikir kritis dan
keterampilan pemecahan masalah yang bermaksud memberikan ruang gerak
10
Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, 2012, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, hlm. 229-230
11
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2010, hlm. 285
berpikir yang bebas kepada siswa untuk mencari konsep dan penyelesaian
masalah yang terkait dengan materi yang diajarkan oleh guru di sekolah.12
Pembelajaran berbasis masalah dilaksanakan atas lima tahap. Pada
tahap 1 yaitu orientasi siswa pada masalah siswa dimana siswa diberikan LAS
yang berisi permasalahan yang telah dirancang untuk diselesaikan. Pada tahap
ini, siswa dilatih untuk berpikir dan bekerja secara mandiri terlebih dahulu
dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Hal tersebut
berbanding terbalik dengan pembelajaran langsung dimana guru memberikan
permasalahan setelah materi diajarkan oleh guru. Selain itu, siswa tidak
diberikan LAS. Siswa hanya diberikan soal rutin yang terdapat di buku
pelajaran.
Selanjutnya pada tahap kedua yaitu pengorganisasian siswa dalam
kelompok belajar dimana guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
heterogen baik dari segi kemampuan awal (berdasarkan nilai KAM), jenis
kelamin maupun suku yang mana setiap kelompok terdiri atas 5 orang. Siswa
tampak berusaha dengan maksimal menggunakan kemampuan berpikir yang
dimilikinya untuk menemukan konsep dari masalah. Sedangkan pada
pembelajaran langsung guru hampir tidak pernah membuat sistem kelompok
dalam pembelajaran. Guru hanya menyampaikan materi pembelajaran kepada
siswa.
Pada tahap ketiga yaitu membimbing penyelidikan kelompok. Guru
mendorong siswa untuk berpartisipasi dan berinteraksi dengan temannya
dalam diskusi kelompok. Guru mengalami kendala manakala terdapat
beberapa kelompok mengalami kesulitan dalam menyelesaiakn masalah yang
terdapat pada LAS. Adapun upaya yang dilakukan oleh guru adalah
memberdayakan siswa dalam bekerjasama dalam kelompok secara maksimal
dengan memanfaatkan buku referensi yang ada. Guru hanya memberikan
bantuan atau scaffolding secara tidak langsung berupa peitunjuk, pertanyaan
atau informasi yang dapat membantu siswa yang berkaitan dengan materi
pembelajaran. Sedangkan pada pembelajaran langsung, guru memberikan
bantuan secara langsung kepada siswa yang mengalami kesulitan.
12
Asria Hirda Yanti, “penerapan problem based learning terhadap kemampuan komunikasi dan
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah menengah pertama lubuklinggau”, Jurnal
Pendidikan Matematika Raflesia, Vol. 2, Nomor 2, 2017, hlm. 119.
Pada tahap ke empat yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil
karya dimana guru meminta salah satu kelompok untuk mempersentasikan
hasil diskusi mereka di depan kelas.
Pada tahap kelima yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah dimana kelompok lain bisa memberikan tanggapan
kepada kelompok yang persentasi.13
2. Karakteristik model pembelajaran PBL
Pembelajaran dengan menggunakan PBL memiliki beberapa karakteristik
sebagai berikut:
1) Pembelajaran yang diawali dengan suatu masalah
2) Mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar
disiplin ilmu
3) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam
membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka
sendiri
4) Menggunakan kelompok kecil
5) Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka
pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.14
Model pembelajaran Problem based learning dapat melatih siswa untuk
meningkatkan dan mengembangkan keterampilan berpikir dan kemampuan
dalam pemecahan masalah serta menjadi pelajar yang mandiri. Dalam hal ini
PBL membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam
pikirannya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri
3. Kelebiahan Problem Based Learning (PBL)
13
T. Jumaisyaroh, E.E. Napitupulu, dan Hasratuddin .(2014). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis
Matematis dan Kemandirian Belajar Siswa SMP melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Volume 5 Nomor 2,
JURNAL KREANO
14
Muhammad Fathurrohman, Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017),
hlm. 115
2) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran yang memiliki makna artinya
siswa belajar memecahkan suatu masalah maka siswa tersebut mampu
menerapkannya atau dapat berusaha mengetahui pengetahuan yang
diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut
3) Menjadikan siswa agar belajar mandiri dan bebas
4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan baru dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang
mereka lakukan juga dapat mendorong siswa untuk melakukan evaluasi
sendiri baik terhadap hasil belajar maupun proses belajar.15
4. Kekurangan Problem Based Learning (PBL)
1) Ketika siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan dan siswa
beranggapan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka
mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2) Keberhasilan pembelajaran ini membutuhkan cukup waktu dalam
persiapan.
3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang mereka pelajari, mereka tidak akan belajar apa yang ingin
mereka pelajari.16
b. Pengertian model pembelajaran inquiri
1. Pengertian model pembelajaran inquiri
Kata inkuiri berasal dari bahasa inggris “Inquiry” berarti pertanyaan,
pemeriksaan, atau penyelidikan. Dalam bidang sains, Inkuiry berarti seni /ilmu
bertanya tentang alam dan menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Menurut
Hebrank, Inquiry memerlukan eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan terhadap
kekuatan dan kelemahan metode yang digunakan. Pendapat senada dikemukakan
oleh Budnitz, yang mengatakan bahwa inkuiry berarti mengajukan pertanyaan
yang dapat dijawab melalui justifikasi dan verifikasi. pembelajaran yang
melibatkan peserta didik dalam merumuskan pertanyaan yang mengarahkan untuk
melakukan investigasi dalam upaya membangun pengetahuan dan makna baru.17
15
Retnaning Tyas, “Kesulitan penerapan problem based learning dalam pembelajaran matematika”,
Tecnoscienza, Vol. 2, No. 1, Oktober 2017, hlm. 46.
16
Hamruni, Strstegi Pembelajaran, (Yogyakarta: Insan Madani, 2012), hlm. 115.
17
Ade Khairullah dan Said Hasan, Model & Pendekatan Pembelajaran Inovatif (Bantul, Yogyakarta: CV
Listas Nalar, 2017). 208.
Sedangkan menurut Hanafiah, inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan
pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik
untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka
dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud
adanya perubahan prilaku. Sehingga pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan
pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik
untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau pristiwa) secara
sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan penemuannya
dengan penuh percaya diri.18
Ngalimun mengatakan bahwa “Model Pembelajaran Inkuiri adalah suatu
strategi yang membutuhkan peserta didik menemukan sesuatu dan mengetahui
bagaimana cara memecahkan masalah dalam suatu penelitian ilmiah. Tujuan
utamanya adalah mengembangkan sikap dan kemampuan berpikir kritis peserta
didik yang memungkinkan mereka menjadi pemecah masalah yang mandiri.19
Kunandar menambahkan bahwa pembelajaran inkuiri adalah kegiatan
pembelajaran dimana peserta didik didorong untuk belajar melalui keterlibatan
aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsipprinsip untuk diri mereka
sendiri. Inkuiri dapat dilakukan secara individual, kelompok, atau klasikal, baik di
dalam maupun di luar kelas. Menurut Hamalik pengajaran berdasarkan inkuiri
adalah pengajaran yang berpusat pada peserta didik di mana kelomopk perta didik
inkuiri mencari jawaban-jawaban terhadap isi pertanyaan melalui prosedur yang
digariskan secara jelas dan structural kelompok. Menurut piaget bahwa model
pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang mempersiapkan Peserta
didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat
apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu
dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan
yang ditemukan peserta didik lain.20
Dapat disimpulakan bahwa Model pembelajaran inkuiri merupakan suatu
proses pembelajaran yang diawali dengan kegiatan merumuskan masalah,
18
Nurdiansyah dan Eni Fariyatul Fahyuni, Inovasi Model Pembelajaran (Sidoarjo: Nizamiya Learning
Center, 2019). 137.
19
Delimatua Sigalingging and others, ‘Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Siswa
Pada Kelas Iv Di Sd’, JURNAL PAJAR (Pendidikan Dan Pengajaran), 6.3 (2022), 749
20
Masfaratna, Model Pembelajaran Inkuiri Berbantuan Media Simulasi PHET Meningkatkan Hasil Belajar
(NTB: Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia, 2022). 6.
mengembangkan hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji hipotesis, menarik
kesimpulan sementara, dan menguji kesimpulan sementara tersebut sampai pada
kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Model pembelajaran inkuiri
menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Siswa berperan untuk menemukan
sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Guru berperan membimbing dan
bertindak membawa perubahan, fasilitator, motivator bagi siswanya. Khususnya di
lingkungan sekolah dasar, Melalui pembelajaran inkuiri guru memberi bimbingan
dan arahan kepada siswa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan penyelidikan.
Kegiatan ini menuntut siswa untuk memiliki keaktifan yang sangat tinggi dalam
pembelajaran.
2. Karaktristikmodel pembelajaran inquiri
Karakteristik model pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut :
1) Pembelajaran inkuiri menekankan pada aktivitas peserta didik secara
maksimal untuk mencari dan menemukan. Dalam suatu rproses
pembelajaran, peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima
materi tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu.
2) Seluruh aktivitas peserta didik diarahkan untuk mencari dan
menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan, sehingga
dala hal ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta
didik.
3) Tujuan dari pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan
berfikir sistemats, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan
intelektual sebagai bagian dari proses mental.21
Jacobsen, et al., memasukkan pembelajaran inkuiri (penelitian)
ke dalam kelompok pembelajaran berbasis masalah, karena di dalam
pembelajaran yang diutamakan adalah keterlibatan aktif peserta didik
dalam mencoba menyelesaikan beberapa masalah atau menjawab
beberapa pertanyaan
21
Arwin yahya eko nopiyanto, Septian raibowo, Pembelajaran Atlentik (Bengkulu: ELMARKAZI, 2020),34.
Tanggapan dari Hamruni, menyatakan bahwa ada beberapa
keunggulan model pembeajaran inkuiri, antara lain:
1) Pembelajaran menekankan pada kognitif, afektif, dan psikomotor secara
seimbang, sehinga pembelajaran dianggap jauh lebih bermakna.
2) Melalui pertumbuhan intelektal belajar masa kini yang dijadikan belajar
merupakan cara perbedaan perilaku melalui pengetahuan.
3) Memperoleh peluang untuk peserta didik agar belajar tepat pada
keyakinan belajarnya dan peserta didik bisa percaya diri atas
kemampuannya.
4) Mempertegas untuk menumbuhkan aspek keaktifan, kehadiran dan
keterampilan yang sama oleh peserta didik.22
4. Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri
1) Pembelajaran dengan inkuiri memerlukan kecerdasan peserta didik
yang tinggi, bila peserta didik kurang cerdas hasil pembelajaran kurang
efektif
2) Memerlukan perubahan kebiasaan cara belajar peserta didik yang
menerima informasi dari pendidik apa adanya
3) Pendidik dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya
sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan
pembimbing peserta didik dalam belajar.
4) Karena dilakukan secara kelompok, kemungkinan ada anggota yang
kurang aktif.23
5. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri
1) Orientasi
22
Irfan Sugianto, Savitri Suryandari,Larasati Diyas Age. Efektivitas Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap
Kemandirian Belajar Siswa di Rumah. Jurnal Inovasi Penelitian. Vol.1 No.3 Agustus 2020, 162
23
F Shoufika Hilyana Fina Fakhriyah, Siti Masfuah, TPACK Dalam Pembelajaran IPA (Jawa Tengah: PT.
Nasya Expanding Management, 2022). 108.
24
iis Daniayati Fatimah, Model-Model Pembelajaran (Sumatera Barat: Yayasan Pendidikan Cendika
Muslim, 2022), 122-123.
Orientasi pada langkah ini adalah langkah untuk membina
suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada tahap ini
pendidik mengondisikan atau mengontrol supaya peserta didik sudah
siap untuk belajar. Pada langkah ini adalah langkah yang sangat
penting pada suatu proses pembelajaran dengan menggunkan model
pembelajaran Inkuiri, karena keberhasilan model inkuiri tergantung
pada kemauan peserta didik untuk melakukan aktivitasnya
menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah.
2) Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah yang membawa
peserta didik kepada suatu permasalahan yang mengandung teka-teki.
Permasalahan yang diberikan adalah permasalahan yang menantang
peserta didik untuk berfikir agar dapat memecahkan masalahmasalah
yang dihadapi. Permasalahan tersebut memiliki jawaban dan peserta
didik didorong supaya dapat menemukan jawaban yang tepat. Proses
mencari jawaban tersebutlah yang menjadi langkah terpenting dalam
pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri.
3) Mengajukan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan
yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu
dibuktikan kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh
pendidik untuk mengembangkan kemampuan pada setiap peserta didik
adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat
mendorong peserta didik untuk dapat merumuskan jawaban
sementara.25
4) Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data merupakan langkah kegiatan untuk
mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis
yang diajukan. Langkah ini sangat penting, karena dalam proses
pengumpulan data bukan hanya membutuhkan motivasi tetapi juga
memerlukansemangat dan ketekunan dalam belajar.
5) Menguji Hipotesis
25
Sherin Ricu Sidiq, Najuah, Pristi Suherndro Lukitoyo, Strategi Pembelajaran Mengajar Sejarah: Menjadi
Guru Sukses (Medan: Yayasan Kita Menulis, 2019), 65-66.
Menguji Hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang
dianggap paling sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan datadata yang dikumpulkan.
6) Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan merupakan proses menjelaskan
temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.26
c. Kemandirian belajar
Maya, dkk yang dikutip oleh Yuliasari mengemukakan pendapatnya bahwa
kemandirian belajar merupakan sebuah niat yang dimiliki tiap pribadi siswa untuk
mampu bersaing dan maju dalam mengembangkan dirinya serta mampu menetap
suatu perbuatan dan kreatif dalam memecahkan masalah yang didapat.27
Kemandirian merupakan sikap yang memungkinkan seseorang melakukan
sesuatu atas dorongan sendiri, kemampuan mengatur diri sendiri untuk
menyelesaikan masalah dan dapat bertanggung jawab terhadap keputusan yang
diambil. Siswa dikatakan telah mampu belajar secara mandiri apabila telah
mampu melakukan tugas belajar tanpa ketergantungan dengan orang lain serta
memahami isi pelajaran yang dibaca atau dilihatnya melalui media pandang dan
dengar. Kemandirian belajar dapat dilihat dari tingkah laku dan kemampuan
kognitif siswa.
Menurut Irawan (dalam Murti, dkk. 2019) mengungkapkan bahwa ciri utama
belajar mandiri adalah adanya pengembangan kemampuan siswa untuk melakukan
proses belajar yang tidak tergantung pada factor guru, teman, kelas dan lain-lain.
Sejalan dengan pendapat sebelumnya, Sumarno dalam Hendriana, dkk
menyatakan indikator kemandirian belajar meliputi:
1) inisiatif dan motivasi belajar intrinsic
2) kebiasaan mendiagnosa kebutuhan belajar
3) menetapkan tujuan/target belajar
4) memonitor, mengatur, dan mengontrol belajar
5) memandang kesulitan sebagai tantangan
6) memanfaatkan dan mencari sumber yang relevan
7) memilih, menerapkan strategi belajar
26
Basuki Wibawa Uswatun hasanah, Mohammad atwi suparman, Model Pembelajaran Keterampilan
Berbicara Anak Usia Dini Menggunkana Big Book (Jakarta: kencana Prenadamedia group, 2022), 22.
27
Yuliasari, Evi. Eksperimentasi Model PBL dan Model GDL Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Ditinjau dari Kemandirian Belajar. JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika 2020), 6(1)
8) mengevaluasi proses dan hasil belajar.28
d. Berfikir kritis
1. Pengertian berfikir kritis
Menurut Siti Nurkholifah dkk mengatakan bahwa berpikir kritis merupakan
proses penggunaan kemampuan berpikir secara rasional yang bertujuan untuk
mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau apa yang dilakukan.
Termasuk juga kemampuan siswa dalam menganalisis dan mengevaluasi
informasi untuk diputuskan apakah informasi tersebut dapat dipercaya sehingga
mampu digunakan untuk menarik kesimpulan yang valid.29
Dalam penelitiannya Syutaridho menjelaskan bahwa berpikir kritis adalah
berpikir yang akurat, relevan, wajar dan teliti dalam menganalisis berbagai
masalah, mensintesis, menerapkan konsep, menafsirkan, mengevaluasi,
memecahkan masalah dan membuat keputusan.30
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis
adalah kemampuan untuk berpikir secara mendalam tentang sesuatu agar dapat di
analisis dan di evaluasi untuk diterapkan dalam memecahkan masalah sehingga
mendapatkan keputusan dan kesimpulan yang tepat.
2. Tujuan berfikir keritis
Kemampuan berpikir kritis mengajak siswa untuk:
1) Mampu menggunakan penalaran secara matematik
2) Teliti dalam menganalisis masalah
3) Berpikir secara akurat
4) Memberikan motivasi untuk memperoleh pengetahuan yang banyak
5) Memberikan kebebasan berpikir untuk memberikan kesimpulan yang
didasari dengan tanggung jawab.
Kesimpulan ini menjadi dasar pemikiran bahwa salah satu cara untuk
menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna bagi siswa adalah
dengan menghadirkan soal berpikir kritis pada siswa.
28
Hendriana, H., Rohaeti, E. E., & Sumarmo, U. Hard Skills dan Soft Skills Matematik Siswa. Bandung.
Refika Aditama 2018
29
Siti Nurkholifah, Toheri, Widodo Winarso, “Hubungan antara self confidence dengan kemampuan
berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika”, Edumatica, Vol. 8, No. 1, April 2018, hlm. 58.
30
Syutaridho, “mengontrol aktivitas berpikir kritis siswa dengan memunculkan soal berpikir kritis”, jurnal
pendidikan matematika JPM RAFA, Vol. 2, No. 1, hlm. 34.
3. Instrument berfikir kritis
Kemampuan berpikir kritis seseorang dapat diketahui dengan beberapa
pengukuran. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk
mengukur kemampuan berpikir kritis antara lain dengan tes pilihan ganda atau
tes esai.
Menurut Panner, dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis
sama halnya dengan mengembangkan kemampuan motorik siswa, keduanya
memerlukan latihan-latihan. Pengukuran konstruk berpikir kritis di Indonesia
cukup beragam terutama terkait dengan konteks pengukurannya. Selama ini
pengukuran berpikir kritis di Indonesia lebih sering menggunakan tes. Selain
itu pengembangan pengukuran berpikir kritis di Indonesia lebih banyak
dilakukan pada seting pendidikan matematika dan fisika.31
4. Indikator berfikir kritis
Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang tidak timbul
dari lahir melainkan kemampuan yang timbul akibat dilatih pada proses
pembelajaran. Terdapat beberapa indikator yang harus dimiliki seseorang
sehingga dapat dikategorikan memiliki kemampuan berpikir kritis.
1) Menganalisis dan mengklarifikasi suatu pertanyaan
2) Mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang ada
3) Menyusun klarifikasi dengan pertimbangan yang bernilai
4) Memberikan penjelasan
5) Memberikan simpulan dan argumen
G. Metode penelitian
a. Jenis dan pendekatan peneitian
Jenis dan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif
karena berdasarkan rumusan masalah penelitian bahwa peneliti ingin melihat
pengaruh dari suatu model pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kritis
siswa dan hasil penelitiannya dianalisis berdasarkan data-data numerik. Metode
penelitian kuantitatif dalam pengumpulan data dan analisis datanya menggunakan
skor angka untuk menghilangkan subjektivitas dalam hasil penelitian. Bilangan
yang digunakan merupakan bahasa artifisial yang objektif dan tanpa emosi
31
Fajrianthi, Wiwin Hendriani, dan Berlian Gressy Septarini, “pengembangkan tes berpikir kritis dengan
pendekatan item response theory”, Jurnal penelitian dan evaluasi pendidika, Vol. 20, No. 1, Juni 2016, hlm. 47.
sehingga dipandang tepat untuk mewakili komunikasi penelitian yang menjunjung
objektivitas dan netralitas.
b. Populasi dan sempel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi
penelitian ini adalah
2. Sempel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut.32 Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan
c. Waktu dan tempat penelitian
d. Desain penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
e. Instrument penelitian
Instrumen merupakan alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan atau memperoleh data dengan cara melakukan pengukuran pada
objek yang akan diteliti.33 Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah
f. Tekhnik pengumpulan data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan
maka diperlukan sebuah alat yang digunakan untuk mendapatkan data tersebut
yaitu dengan menggunakan instrument tes dalam bentuk uraian.
Adapun petugas yang ikut terlibat dalam penelitian ini adalah guru mata
pelajaran matematika yang akan memberikan informasi selama penelitian
berlangsung, siswa yang menjadi objek penelitian, dan juga peneliti itu sendiri
yang akan melihat dan mengatur jalannya penelitian. Waktu dalam pelaksanaan
pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan pada
32
Sugiyono, metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2020), cetakan ke-2,
hlm. 81
33
Purwanto, Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan, (Yogyakarta: Puataka
Pelajar, 2012), cet. Ke- 4, hlm. 183.
g. Tekhnik analisis data
Sebelum melakukan analisis data peneliti terlebih dahulu melakukan uji
normalitas dan uji homogenitas data sebagai prasyarat dilakukannya analisis data
dengan uji t.
DAFTAR PUSTAKA
Khairullah Ade, Said Hasan, [Link] & Pendekatan Pembelajaran Inovatif (Bantul,
Yogyakarta: CV Listas Nalar
Yahya Arwin,raibo septian 2020. Pembelajaran Atlentik (Bengkulu: ELMARKAZI, )
Asria Hirda Yanti, 2017.“Penerapan Problem Based Learning Terhadap Kemampuan
Komunikasi Dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah
Menengah Pertama Lubuklinggau”, Jurnal Pendidikan Matematika Raflesia, Vol. 2,
Nomor 2
Basuki Wibawa dkk. [Link] Pembelajaran Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini
Menggunkana Big Book (Jakarta: kencana Prenadamedia group).
Delimatua Sigalingging and others, 2022. ‘Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap
Hasil Belajar Siswa Pada Kelas IvVDi SD’, JURNAL PAJAR (Pendidikan Dan
Pengajaran), 6.3
Edy Waluyo, 2023 “Penerapan Stem Problem Based Learning Untuk Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Lesson Study”. Jurnal Jurnal Pembelajaran
Matematika Inovatif Volume 6, No. 3
F Shoufika Hilyana dkk, 2022. TPACK Dalam Pembelajaran IPA (Jawa Tengah: PT. Nasya
Expanding Management,)
Fajrianthi, dkk.2016, “pengembangkan tes berpikir kritis dengan pendekatan item response
theory”, Jurnal penelitian dan evaluasi pendidika, Vol. 20, No. 1
Hamruni, [Link] Pembelajaran, Yogyakarta: Insan Madani
Hendriana, H., Rohaeti, E. E., & Sumarmo, U. 2018 Hard Skills dan Soft Skills Matematik
Siswa. Bandung. Refika Aditama
Iis Daniayati Fatimah, 2022. “Model-Model Pembelajaran” (Sumatera Barat: Yayasan
Pendidikan Cendika Muslim,)
Irfan Sugianto, dkk 2020. Efektivitas Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Kemandirian
Belajar Siswa Di Rumah. Jurnal Inovasi Penelitian. Vol.1 No.3
Masfaratna, 2022. “Model Pembelajaran Inkuiri Berbantuan Media Simulasi PHET
Meningkatkan Hasil Belajar” (NTB: Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian
Indonesia)
Muhammad Fathurrohman, 2017.”Model-Model Pembelajaran Inovatif”, (Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media,)
Nandang Kosasih dan Dede Sumarna,2013 “Pembelajaran Quantum dan optimalisasi
kecerdasa”, (Bandung: Alfabeta)
Ni Wayan Wartini,2021” Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Dan Kemampuan Berpikir Kritis”. journal of education
action research volume 5
Nur Siti Komariah dkk. 2019 “Penerapan Metode Pembelajaran Inkuiri Dalam
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMK”. Jurnal ilmiah pro
guru Vol 5, No 4
Nurdiansyah dan Eni Fariyatul Fahyuni,2019. “Inovasi Model Pembelajaran” (Sidoarjo:
Nizamiya Learning Center)
Retnaning Tyas, 2017 “Kesulitan penerapan problem based learning dalam pembelajaran
matematika”, Tecnoscienza, Vol. 2, No. 1
Revalusiana Trijaya , 2020 “Pengaruh Model Pbl Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif
Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa” Jurnal Pendidikan Dasar Prosiding Seminar
dan Diskusi Nasional Pendidikan Dasar
Rusman, 2012 .”Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru”
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Sherin Ricu Sidiq dkk,2019.” Strategi Pembelajaran Mengajar Sejarah: Menjadi Guru
Sukses” (Medan: Yayasan Kita Menulis)
Siti Nurkholifah, Toheri, Widodo Winarso, 2018.“Hubungan antara self confidence dengan
kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika”, Edumatica, Vol. 8,
No. 1
Sugiyono, 2020. “ Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D”, (Bandung:
Alfabeta, 2020), cetakan ke-2
Sumarmo, Utari. 2011. Pendidikan Karakter serta pengembangan berpikir dan disposisi
Matematika dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disajikan pada Seminar
Pendidikan Matematika di NTT
Syutaridho, 2016.“Mengontrol Aktivitas Berpikir Kritis Siswa Dengan Memunculkan Soal
Berpikir Kritis”, Jurnal Pendidikan Matematika JPM RAFA, Vol. 2, No. 1
T. Jumaisyaroh, [Link] 2014., “Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Dan
Kemandirian Belajar Siswa SMP Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah”, Kreano,
Vol. 5, No. 2
T. Jumaisyaroh, E.E. Napitupulu, dan Hasratuddin .(2014). “Peningkatan Kemampuan
Berpikir Kritis Matematis dan Kemandirian Belajar Siswa SMP melalui Pembelajaran
Berbasis Masalah”. Volume 5 Nomor 2, JURNAL KREANO
Wa Nurial dkk, 2018.“Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Matematika Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa
SMK”, Jurnal Pembelajaran Berpikir Matematika”, Vol.38, No. 2
Yatim Riyanto, 2018. “Paradigma Baru Pembelajaran”, Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Yuliasari, Evi. 2020. “Eksperimentasi Model PBL dan Model GDL Terhadap Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematis Ditinjau dari Kemandirian Belajar”. JIPM (Jurnal
Ilmiah Pendidikan Matematika.