BAB II
KAJIAN TEORI
A. Konsep Teoritis
1. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk
mengetahui seberapa seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan.
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang
membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil (product)
menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau
proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Hasil
produksi adalah perolehan yang didapatkan karna adanya kegiatan
mengubah bahan (raw materials) menjadi barang jadi (finished goods).
Hal yang sama berlaku untuk memberi batasan bagi istilah hasil panen,
hasil penjualan, hasil pembangunan, termasuk hasil belajar. Belajar
dilakukan untuk mengusahakan akan adanya perubahan perilaku pada
individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang
menjadi hasil belajar. Hasil belajar adalah perubahan yang
mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.1
Sedangkan menurut Hamzah B. Uno hasil belajar adalah
perubahan perubahan perilaku yang relatif menetap dalam diri seseorang
sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya. Hasil
1
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm. 45.
19
10
belajar memiliki beberapa ranah atau kategori dan secara umum merujuk
kepada aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan.2 Hasil belajar yang
nampak dari kemampuan yang diperoleh siswa menurut Gagne dapat
dilihat dari lima kategori, yaitu keterampilan intelektual (intelectual
skills), informasi verbal (verbal information), strategi kognitif (cognitive
strategies), keterampilan motorik (motor skills), dan sikap (attitudes).3
Ahmad Susanto menyebutkan bahwa:
“Hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada
diri siswa baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan
psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Sedangkan yang
dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang
diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu
sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha
untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif
menetap”.4
b. Macam-Macam Hasil Belajar
Menurut Ahmad Susanto, hasil belajar meliputi, pemahaman
konsep (aspek kognitif), keterampilan proses (aspek psikomotor) dan
sikap siswa (aspek afektif). 5 Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) Pemahaman Konsep
Pemahaman diartikan sebagai kemampuan untuk menyerap
dari materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman menurut Bloom
ini adalah seberapa besar siswa mampu menerima, menyerap, dan
2
Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran;Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang
Kreatif dan Efektif, Jakarta: Bumi Aksara, 2011, hhlm. 213.
3
Ibid., hlm. 210.
4
Ahmad Susanto, Loc. Cit.
5
Ibid, hlm. 8.
11
memahami pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa atau
sejauh mana siswa dapat memahami serta mengerti apa yang ia baca,
yang dilihat, yang dialami atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian
atau observasi langsung yang ia lakukan.
2) Keterampilan Proses
Keterampilan proses merupakan keterampilan yang mengarah
kepada pembangunan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang
mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri
individu siswa.
3) Sikap
Sikap merupakan kecenderungan untuk melakukan sesuatu
dengan cara, metode, pola dan tekhnik tertentu terhadap dunia
sekitarnya baik berupa individu-individu maupun objek-objek
tertentu. Sikap merujuk pada perbuatan, perilaku, atau tindakan
seseorang.
c. Tipe Hasil Belajar
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan
menjadi tiga bidang yakni bidang kognitif (penguasaan intelektual),
bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang
psikomotor (kemampuan/ keterampilan bertindak/ berprilaku).
12
Berikut ini dikemukakan unsur-unsur yang terdapat dalam ketiga
aspek hasil belajar tersebut.
1) Tipe hasil belajar bidang kognitif
a) Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (Knowledge)
Cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pula
pengetahuan yang sifatnya faktual, di samping pengetahuan yang
mengenai hal-hal yang perlu diingat kembali seperti batasan,
peristilahan, pasal, hukum, bab, ayat, rumus, dan lain-lain.
b) Tipe hasil belajar pemahaman (Comprehention)
Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna
atau arti dari suatu konsep. Untuk itu maka diperlukan adanya
hubungan atau pertautan antara konsep dengan makna yang ada
dalam konsep tersebut.
c) Tipe hasil belajar penerapan (Aplikasi)
Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan, dan
mengabstraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi yang
baru. Misalnya, memecahkan persoalan dengan menggunakan
rumus tertentu.
d) Tipe hasil belajar analisis
Analisis adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu
integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-
bagian yang mempunyai arti, atau mempunyai tingkatan. Analisis
merupakan tipe hasil belajar yang kompleks, yang memanfaatkan
13
unsur tipe hasil belajar yang lainnya, yakni pengetahuan,
pemahaman, dan aplikasi.
e) Tipe hasil belajar sintesis
Sintesis adalah lawan analisis. Bila pada analisis tekanan
pada kesanggupan menguraikan suatu integritas menjadi bagian
yang bermakna, pada sintesis adalah kesanggupan menyatukan
unsur atau bagian menjadi satu integritas.
f) Tipe hasil belajar evaluasi
Dalam tipe hasil belajar evaluasi, tekanan pada
pertimbangan sesuatu nilai, mengenai baik tidaknya, tepat tidaknya,
dengan menggunakan kriteria tertentu.
2) Tipe hasil belajar bidang afektif
Bidang afekif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil
belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti
atensi (perhatian) terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar,
menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan lain-lain.
3) Tipe hasil belajar bidang psikomotor
Hasil belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk
keterampilan-keterampilan (skill), kemampuan bertindak individu
(seseorang).
Ada 6 tingkatan keterampilan yakni:
a) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar).
b) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar.
c) Kemampuan perseptual termasuk di dalamnya membedakan visual,
membedakan auditif motorik dan lain-lain.
14
d) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan
ketepatan.
e) Gerakan-gerakan skil, mulai dari keterampilan sederhana sampai
pada keterampilan yang kompleks.
f) Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi
seperti gerakan ekspresif, interpretatif.6
d. Prinsip-Prinsip Hasil belajar
William Burton dalam Oemar Hamalik menyimpulkan uraian
tentang prinsip-prinsip hasil belajar antara lain:
1) Hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain, tetapi dapat
didiskusikan secara terpisah.
2) Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-
pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas dan keterampilan.
3) Hasil belajar diterima oleh siswa apabila kepuasan pada kebutuhannya
dan berguna serta bermakna baginya.
4) Hasil belajar dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman-
pengalaman yang dapat dipersamakan dan dengan pertimbangan yang
baik.
5) Hasil belajar itu lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan
kecepatan yang berbeda-beda.
6) Hasil belajar yang telah dicapai adalah bersifat kompleks dan dapat
berubah-ubah. Jadi tidak sederhana dan statis.7
e. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Secara umum hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal,
yaitu faktor-faktor yang ada dalam diri siswa dan faktor-faktor eksternal,
yaitu faktor-faktor yang berada di luar diri siswa. Faktor yang datang dari
diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan
siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai.
Seperti dikemukakan oleh Clark dalam kutipan Nana Sudjana bahwa
hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa
6
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2010, hlm. 50.
7
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2007, hlm. 31.
15
dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. 8 Untuk lebih jelasnya akan
diuraikan dibawah ini.
Yang tergolong faktor internal ialah:
1) Faktor lingkungan
a) Lingkugan alami
Lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal anak
didik, hidup dan berusaha di dalamnya. Pencemaran lingkungan
hidup merupakan malapetaka bagi anak didik yang hidup di
dalamnya. Udara yang tercemar merupakan polusi yang dapat
mengganggu pernapasan. Lingkungan sekolah yang baik adalah
lingkungan sekolah yang didalamnya dihiasi dengan
tanaman/pepohonan yang dipelihara dengan baik. Kesejukan
lingkungan membuat anak didik betah tinggal berlama-lama di
dalamnya.
b) Lingkungan sosial budaya
Lingkunga sosial budaya di luar sekolah ternyata sisi
kehidupan yang mendatangkan problem tersendiri bagi kehidupan
anak didik di sekolah. Pembangunan gedung sekolah yang tak jauh
dari hiruk pikuk lalu lintas menimbulkan kegaduhan suasana kelas.
Pabrik-pabrik yang didirikan di sekitar sekolah dapat menimbulkan
kebisingan di dalam kelas. Keramaian sayup-sayup terdengar oleh
anak didik di dalam kelas. Bagaimana anak didik dapat
8
Nana Sudjana, Op. Cit., hlm. 39.
16
berkonsentrasi dengan baik bila berbagai gangguan itu selalu
terjadi disekitar anak didik.
2) Faktor instrumental
a) Kurikulum
Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan
unsure substansial dalam pendidikan. 9 Tanpa kurikulum kegiatan
belajar mengajar tidak dapat berlangsung, sebab materi apa yang
harus guru sampaikan dalam suatu pertemuan kelas , belum guru
programkan sebelumnya. Itulah sebabnya, untuk semua mata
pelajaran setiap guru memilki kurukulum untuk mata pelajaran
yang dipegang dan diajarkan kepada anak didik. Setiap guru harus
mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum ke dalam program
yang lebih rinci dan jelas sasarannya. Sehingga dapat diketahui dan
diukur dengan pasti tingkat keberhasilan belajar mengajar yang
telah dilaksanakan.
b) Program
Program bimbingan dan penyuluhan mempunyai andil yang
besar dalam keberhasilan belajar anak didik di skolah. Tidak semua
anak didik sepi dari masalah kesulitan belajar. Bervariasinya nilai
kuantitatif di dalam buku rapor sebagai bukti bahwa tingkat
penguasaan bahan pelajaran oleh anak didik yang bermacam-
9
Syaiful bahri Djamarah, Psikologi belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, hlm. 180.
17
macam. Bantuan mutlak diberikan kepada anak didik yang
bermasalah agar mereka tenang dan bergairah dalam belajar.
c) Sarana dan fasilitas
Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung
sekolah misalnya sebagagai tempat yang strategis bagi
berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Suatu
sekolah yang kekurangan ruang kelas, sementara jumlah anak didik
yang dimilki dalam jumlah yang banyak melebihi daya tampung
kelas akan banyak menemukan masalah.
d) Guru
Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan.
Kehadiran guru mutlak diperlukan di dalamnya. Kalau hanya ada
anak didik tetapi guru tidak ada maka tidak akan terjadi kegiatan
belajar mengajar di sekolah. Jangankan ketiadaan guru kekurangan
guru saja sudah merupakan masalah.
Di sekolah kompetensi personal akan menentukan simpatik
tidaknya, akrab tidaknya guru dalam pandangan anak didik.
Kerawanan hubungan guru dengan anak didik sangat ditentukan
sejauh mana tingkat kualitas kompetensi personal yang dimiliki
oleh guru. Sering guru tak diacuhkan oleh anak didik, disebabkan
guru sendiri mengambil jarak dengan anak didik.
18
3) Kondisi fisiologis
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap
kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar
jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan
kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan
belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi; mereka
lekas lelah, mudah mengantuk, dan sukar menerima pelajaran.
4) Kondisi psikologis
a) Minat
Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi
yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan
prestasi yang rendah. Dalam konteks itulah diyakini bahwa minat
mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik.
b) Kecerdasan
Menurut Dalyono dalam kutipan Syaiful Bahri Djamarah
secara tegas mengatakan bahwa seseorang yang memiliki
intelegensi baik (IQ nya tinggi) umumnya mudah belajar dan
hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya, orang yang
intelegensinya rendah, maka cenderung mengalami kesukaran
dalam belajar, sehingga prestasi belajarnya pun rendah.10
10
Ibid., hlm. 194.
19
c) Bakat
Bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap
proses dan hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada yang
membantah, bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat
memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu.
d) Motivasi
Menurut Slameto yang dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah
menyatakan bahwa seringkali anak didik yang tergolong cerdas
tampak bodoh karena tidak memiliki motivasi untuk mencapai
11
prestasi sebaik mungkin. Kuat lemahnya motivasi belajar
seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Karna itu,
motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari
dalam diri (motivasi intrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan
masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk
mencapai cita-cita.
5) Kemampuan kognitif
Ranah kognitif merupakan kemampuan yang selalu dituntut
kepada anak didik untuk dikuasai. Karena penguasaan kemampuan
pada tingkatan ini menjadi dasar bagi penguasaan ilmu pengetahuan.
Karna kemampuan kognitif ini, orang dapat menghadirkan realitas
dunia di dalam dirinya sendiri dari hal-hal yang bersifat material dan
berperaga seperti perabot rumah tangga, kendaraan, bangunan dan
orang, sampai hal yang tidak bersifat material dan berperaga seperti
11
Ibid., hlm. 201
20
ide “keadilan, kejujuan”, dan lain sebagainya. Jelaslah kiranya bahwa
semakin banyak pikiran dan gagasan dimiliki seseorang, semakin kaya
dan luaslah alam pikiran kognitif orang itu. Kemampuan kognitif ini
harus dikembangkan melalui belajar.12
2. Pemberian Tugas
a. Pengertian Pemberian Tugas
Menurut Syaiful Sagala metode pemberian tugas adalah cara
penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu
agar murid melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan oleh
guru dapat memperdalam bahan pelajaran, dan dapat pula mengecek
bahan yang telah dipelajari.13
Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu
banyak sementara waktu sedikit. Artinya banyaknya bahan yang
tersedia dengan waktu kurang seimbang. Tugas dan resitasi
merangsang anak untuk aktif belajar, baik secara individual maupun
secara kelompok.Karna itu, tugas dapatdiberikan secara individual atau
dapat pula secara kelompok.
Jadi pemberian tugas adalah suatu metode yang digunakan
guru dengan memberikan tugas tertulis atau lisan yang harus
diselesaikan siswa dengan tidak bergantung pada tempat yang bisa
dikerjakan di sekolah, rumah atau ditempat lain asal tugas tersebut
selesai tepat waktu.
12
Ibid., hlm.202.
13
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2010, hlm. 219.
21
Pemberian tugas dapat dilakukan dalam beberapa hal yaitu:
1) Murid diberi tugas mempelajari bagian dari suatu buku teks, baik
secara kelompok atau secara perseorangan, diberi waktu tertentu
untuk mengerjakannya kemudian murid yang bersangkutan
mempertanggungjawabkan
2) Murid diberi tugas untuk melaksanakan sesuatu yang tujuannya
melatih mereka dalam hal yang bersifat kecakapan mental dan
motorik.
3) Murid diberi tugas untuk melaksanakan eksperimen.
4) Murid diberi tugas untuk mengatasi masalah tertentu/problem
solving dengan cara mencoba memecahkannya.
5) Murid diberi tugas melaksanakan proyek, dengan tujuan agar
murid-murid membiasakan diri bertanggung jawab terhadap
penyelesaian suatu masalah yang telah disediakan dan bagaimana
mengolah selanjutnya.14
b. Syarat- Syarat Pemberian Tugas
Dalam metode pemberian tugas guru (pendidik) harus
mengetahui beberapa syarat dan syarat-syarat tersebut harus pula
diketahui oleh murid yang akan diberi tugas, yaitu:
1) Tugas yang diberikan harus berkaitan dengan pelajaran yang telah
mereka pelajari, sehingga murid di samping sanggup
14
Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara,
2011, Hal. 299
22
mengerjakannya juga sanggup menghubungkannya dengan
pelajaran tertentu.
2) Guru harus dapat mengukur dan memperkirakan bahwa tugas yang
diberikan kepada murid akan dapat dilaksanakannya karena sesuai
dengan kesanggupan dan kecerdasan yang dimilikinya.
3) Guru harus menanamkan kepada murid bahwa tugas yang
diberikan kepada mereka akan dikerjakan atas kesadaran sendiri
yang timbul dari hati sanubarinya.
4) Jenis tugas yang diberikan kepada murid harus dimengerti benar-
benar, sehingga murid tidak ada keraguan dalam
melaksanakannya.15
c. Kewajaran pemberian tugas
1) Pemberian tugas wajar apabila:
a) Apabila jelas tujuan yang hendak dicapai oleh peserta didik
b) Apabila tugas yang diberikan dapat mendorong peserta didik
untuk memupuk inisiatifnya
c) Tugas yang diberikan hendaknya dapat mengisi waktu luang
bagi peserta didik.
d) Apabila pendidik mengharapkan agar semua pengetahuan
yang telah diterima peserta didik lebih mantap.
e) Kegiatan-kegiatan yang dilakukan hendaknya dapat
menambah pengalaman peserta didik
f) Segala tugas yang diberikan oleh pendidik harus jelas oleh
peserta didik.
g) Pendidik memberikan beberapa petunjuk dalam usaha
menyelesaikannya.
2) Belajar wajar manakala:
a) Apabila waktu cukup disediakan oleh pendidik.
15
Ibid, hlm. 300
23
b) Sedapat mungkin adakan pengontrolan terhadap tugas yang
diberikan kepada peserta didik.
c) Peserta didik yang pemalas supaya didorong selalu.16
d. Langkah- Langkah yang Harus Diikuti dalam Pemberian Tugas,
yaitu:
1) Fase pemberian tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya
mempertimbangkan:
a) Tujuan yang akan dicapai.
b) Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa
yang ditugaskan tersebut.
c) Sesuai dengan kemampuan anak.
d) Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
e) Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
2) Langkah pelaksanaan tugas
a) Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru.
b) Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.
c) Diusahan/dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang
lain.
d) Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh
dengan baik dan sistematik.
3) Fase Mempertanggung Jawabkan Tugas
16
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2012, hlm..
365.
24
Hal yang harus dikerjakan pada fase ini :
a) Laporan siswa baik lisan/ tertulis dari apa yang telah
dikerjakannya.
b) Ada Tanya jawab/diskusi kelas.
c) Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes
atau cara lainnya.17
e. Kelebihan dan kelemahan pemberian tugas
1) Kelebihan pemberian tugas
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, adalah
sebagai berikut:
a) Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar
individual ataupun kelompok.
b) Dapat megembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan
guru.
c) Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
d) Dapat mengembangkan kreativitas siswa.18
Sedangkan menurut Syaiful Sagala, kelebihan pemberian
tugas adalah sebagai berikut:
a) Pengetahuan yang diperoleh murid dari hasil belajar, hasil
percobaan atau hasil penyelidikan yang banyak berhubungan
dengan minat atau bakat yang berguna untuk hidup mereka
akan lebih meresap, tahan lama dan lebih otentik
17
Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Sain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka
Cipta, 2010, hlm. 86.
18
Ibid., hlm. 87.
25
b) Mereka berkesempatan memupuk perkembangan dan
keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri
sendiri.
c) Tugas dapat lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari
guru, lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas
wawasan tentang apa yang dipelajari.
d) Tugas dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari dan
mengolah sendiri informasi dan komunikasi, hal ini diperlukan
sehubungan dengan abad informasi dan komunikasi yang maju
demikian pesat dan cepat, dan
e) Metode ini dapat membuat siswa bergairah dalam belajar
dilaukan dengan berbagai variasi sehingga tidak
membosankan19.
2) Kekurangan pemberian tugas
a) Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia yang mengerjakan tugas
ataukah orang lain.
b) Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif
mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu
saja, sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan
baik.
c) Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan
individu siswa.
d) Sering memberikan tugas yang monoton (tidak bervariasi)
dapat menimbulkan kebosanan siswa.20
3) Cara mengatasi kelemahan/kekurangan pemberian tugas
Ada beberapa cara untuk mengatasi kelemahan-kelemahan
dari metode pemberian tugas ini antara lain:
19
Syaiful Sagala, Op.Cit., hlm. 219.
20
Saiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op. Cit., hlm. 87.
26
a) Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya jelas, sehingga
mereka mengerti apa yang harus dikerjakan.
b) Tugas yang diberikan kepada siswa dengan memeperlihatkan
perbedaan individu masing-masing.
c) Waktu untuk menyelesaikan tugas harus cukup.
d) Adalah kontrol atau pengawasan yang sistematis atau tugas
yang diberikan sehingga mendorong siswa untuk belajar
dengan sungguh-sungguh, dan
e) Tugas yang diberikan hendaklah mempertimbangkan
1) Menarik minat dan perhatian siswa.
2) Mendorong siswa untuk mencari, mengalami dan
menyampaikan.
3) Diusahakan tugas itu bersifat praktis dan ilmiah, dan bahan
pengajaran yang ditugaskan agar diambilkan dari hal-hal
yang dikenal siswa.21
3. Pemberian Sugesti
a. Pengertian Sugesti
Menurut Baharuddin, sugesti adalah pengaruh yang diterima oleh
jiwa sehingga perbuatannya tidak lagi berdasarkan atas pertimbangan-
pertimbangan cipta, rasa dan karsanya. 22 Menurut Kartini Kartono,
sugesti adalah pengaruh yang berlangsung terhadap kehidupan psikis dan
21
Syaiful Sagala. Op. Cit., hlm. 220.
22
Baharuddin,Psikologi Pendidikan, Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2010, hlm 187.
27
segenap perbuatan kita, dengan mana perasaan, pikiran dan kemauan kita
sedikit atau banyak dibatasi oleh karenanya.23
Sedangkan menurut Abu Ahmadi, sugesti adalah pengaruh atas
jiwa atau perbuatan seseorang sehingga pikiran, perasaan dan
kemauannya terpengaruh dan dengan begitu orang mengakui atau
meyakini apa yang dikehendaki daripadanya. 24 Karna adanya pengaruh
itu, perasaan dan kemauan sendiri sedikit banyak dikesampingkan,
pikiran sendiri tidak digunakan. Inti dari sugesti ialah didesakkannya
sesuatu keyakinan kepada seseorang, yang olehnya diterima mentah-
mentah tanpa pertimbangan yang di dalam.
Berdasarkan pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa
sugesti adalah pemberian pengaruh yang dilakukan sesorang kepada
orang lain agar orang yang disugesti mendengarkan dan segera
melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Di sekolah di dalam
proses pembelajaran orang yang mempengaruhi biasanya guru dan orang
yang dipengaruhi adalah siswa dengan tujuan siswa memperhatikan apa
yang diterangkan oleh guru.
Pada keterangan di atas menunjukkan bahwa sugesti adalah
pengaruh yang dikenakan pada pihak lain, yakni yang disugesti.
Sebenarnya pengaruh sugesti tidak terbatas pada orang lain. Pengaruh
23
Kartini Kartono, Psikologi Umum, Bandung: Mandar Maju, Bandung, 1996, hlm. 116.
24
Abu Ahmadi, Psikologi Umum, Jakarta:Rineka Cipta, 2009, hlm. 157.
28
sugesti tidak selalu berlaku untuk pihak lain, tetapi juga pada diri sendiri.
Sugesti terhadap diri sendiri disebut otosugesti.25
Menurut W.J. Pitt dan J.A. Goldberg yang dikutip oleh
Baharuddin dalam bukuPsikologi pendidikan, ada dua macam metode
dalam pelaksanaan sugesti, yaitu:
1. Sugesti langsung (direct suggestion), ialah sugesti yang
tujuannya memberi dorongan kepada individu untuk
mengambil langkah khusus dan segera, seperti membeli
barang jenis/merek tertentu.
2. Sugesti tidak langsung (indirect suggestion), yaitu suatu
proses mental yang melibatkan pembentukan asosiasi yang
bertujuan menghindari hubungan langsung.26
b. Cara-Cara Menyugesti
Karena pentingnya menyugesti maka perlu diketahui cara-cara
menyugesti yaitu:
1) Dengan membujuk atau memuji, misalnya kepada anak yang bodoh
tidak perlu dikatakan kepadanya bahwa ia bodoh. Guru selalu
berusaha agar anak itu maju yaitu dengan jalan membujuk agar ia
lebih rajin, dikatakan bahwa iapun sama dengan teman-temannya.
2) Dengan menakut-nakuti orang yang akan disugesti, misalnya pada
malam hari kepada anak yang sering dikatakan akan adanya momok
yang suka anak nakal, anak malas, dan sebagainya dengan maksud
agar anak itu menurut apa yang ia perintah atau suruhkan kepadanya.
3) Dengan menunjukkan kelemahan-kelemahan orang yang disugesti.27
25
Ibid.
26
Baharuddin, Op.Cit., hlm.189
27
Agus Sujanto, Psikologi Umum, Jakarta: Bumi Aksara, 2009, hlm. 95
29
c. Alat-Alat untuk Menyugesti
Sehubungan dengan cara-cara menyugesti kita juga mengenal alat
untuk menyugesti antara lain:
1) Pandangan mata, misalnya dengan pandangan mata yang nyata atau
redup orang dapat mencapai apa yang menyala atau redup orang dapat
mencapai apa yang dikehendaki meskipun orang yang dipandang itu
merasa terpikat atau terpaksa.
2) Dengan suara (kata-kata), misalnya dengan kata-kata merayu atau
kata-kata kasar seseorang dapat pula menurut kehendaknya.
3) Dengan air muka, orang dapat seakan memaksa seseorang menurut
kehendaknya bila ia mempergunakan air mukanya. Misalnya air muka
yang berseri, senyum, merah padam, kecut, sinis dan sebagainya.
4) Dengan suri tauladan, sesungguhnya orang tidak perlu memerintah
sesuatu dengan kasar, keras bahkan dengan ancaman, jika ia sendiri
menjalankan apa yang ia perintahkan.
5) Dengan gambar, ini biasanya dipergunakan dengan tekhnik reklame,
misalnya orang lekas terpengaruh gambar bintang film.
6) Dengan semboyan, misalnya yang dipergunakan di dalam
memperhebat usaha yang besar, misalnya dalam usaha merebut
kemerdekaan kita bersemboyan merdeka atau mati. 28
d. Peranan Sugesti
Sugesti memiliki peranan penting, baik dalam kehidupan pada
umumnya maupun di sekolah. Berpengaruhnya sugesti di dalam
lingkungan sekolah, akan memberi kemungkinan:
1) Anak-anak hormat kepada pimpinan/ gurunya.
2) Anak-anak memperhatikan pelajaran yang diberikan.
3) Anak-anak sungguh-sungguh melaksanakan perintah-perintah,
suruhan-suruhan yang diberikan oleh guru.
4) Nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk guru akan diturut oleh
anak-anak.29
28
Ibid., hlm.96.
29
Abu Ahmadi, Op. Cit., hlm. 160
30
e. Syarat-syarat terjadinya sugesti
Secara garis besar terdapat beberapa keadaan tertentu yang
memudahkan sugesti terjadi, yaitu:
1) Sugesti karena hambatan berfikir
Dalam proses sugesti terjadi gejala bahwa orang yang
dikenainya mengambil alih pandangan-pandangan dari orang lain
tanpa memberinya pertimbangan-pertimbangan kritik terlebih dahulu.
Orang yang terkena sugesti itu menelan apa saja yang dianjurkan
orang lain. Hal ini tertentu lebih mudah terjadi apabila ia apabila
terkena sugesti berada dalam keadaan ketika cara-cara berfikir itu
sudah agak terkendala.
2) Sugesti karena pikiran terpecah-pecah (disosiasi)
Selain dari keadaan ketika pikiran kita dihambat karena
kelelahan atau karena rangsangan emosional, sugesti itupun mudah
terjadi pada diri orang apabila ia mengalami disosiasi dalam
pikirannya, yaitu apabila pemikiran orang itu mengalami keadaan
terpecah-pecah. Hal ini dapat terjadi misalnya apabila orang yang
bersangkutan menjadi bingung karena ia dihadapkan pada kesulitan-
kesulitan hidup yang terlalu kompleks bagi daya penampungannya.
Apabila orang karena sesuatu hal menjadi bingung, maka ia lebih
mudah terkena sugesti orang lain yang mengetahui jalan keluar dari
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu.
31
3) Sugesti karena otoritas atau prestise
Dalam hal ini, orang cenderung menerima pandangan-
pandangan atau sikap-sikap tertentu apabila pandangan atau sikap
tersebut dimiliki oleh para ahli di bidangnya sehingga dianggap
otoritas pada bidang tersebut atau memilki prestise sosial yang tinggi.
4) Sugesti karena mayoritas
Dalam hal ini, orang lebih cenderung akan menerima suatu
pandangan atau ucapan apabila ucapan itu didukung oleh
mayoritas, oleh sebagian besar dari golongannya, kelompoknya,
atau masyarakatnya. Mereka cenderung untuk menerima
pandangan itu tanpa pertimbangan lebih lanjut karena jika
sebagian besar berpendapat demikian ia pun rela ikut berpendapat
demikian.
5) Sugesti karena “will to believe”
Dalam hal ini, isi dari sugesti akan diterima tanpa
pertimbangan lebih lanjut karena ada pribadi orang yang bersangkutan
sudah terdapat suatu kesediaan untuk lebih sadar dan yakin akan hal-
hal disugesti itu yang sebenarnya sudah terdapat padanya. Jenis
sugesti semacam ini dapat pula disebut sugesti karena will to believe
atau sugesti karena keyakinan untuk meyakini dirinya.30
30
Gerungan, Psikologi Sosial, Bandung: Refika Aditama, 2010, hlm. 70.
32
f. Faedah sugesti dalam pendidikan
1) Dengan sugesti anak yang malas yang menderita rasa harga diri
kurang dan anak yang hamper putus asa dapat menjadi sehat dengan
sugesti yang positif.
2) Terutama dengan autosugesti (menyugesti diri sendiri), anak dapat
mengalami sesuatu semangat yang baru baginya.
3) Dengan sugesti pelajaran-pelajaran yang sukar menjadi agar mudah
dirasakannya.
4) Dengan suri tauladan di dalam menyugesti guru akan lebih mudah
mencapai maksudnya daripada dengan tindakan yang kasar dan keras.
5) Dengan suara yang lemah lembut, sinar mata yang jernih, roman muka
yang berseri, dan bujukan yang manis, guru bias lebih berhasil
mencapai maksudnya.
6) Pergunakanlah semboyan-semboyan yang bernilai bagi pelaksanaan
pelajaran misalnya mens sano in corpora sano.31
g. Bahaya sugesti
Selain memiliki manfaat, sugesti juga memilki bahaya yang harus
dihindari, yaitu:
1) Sugesti yang negatif, orang yang memberi sugesti semacam ini berarti
pula ia membunuh orang yang disugesti.
31
Agus Sujanto, Op.Cit., hlm. 99.
33
2) Sugesti yang tidak tepat, misalnya seorang guru yang memerintahkan
sesuatu kepada muridnya dengan segala kekerasan. Sedang ia sendiri
tidak melakukan seperti apa yang ia perintahkan.
3) Autosugesti yang berlebihan, dalam autosugesti kadang orang lupa
kepada kesanggupan sebenarnya yang ada padanya. Kemudian karena
ternyata ia tidak berhasil ia mudah sekali masuk ke lembah putus asa.
4) Massa sugesti yang berlebih-lebihan, misalnya para demonstrasi.
5) Sekolah harus berusaha agar anak-anaknya dapat dengan baik
mengendalikan diri supaya tidak mudah terlibat dalam massa
sugesti.32
4. Keterkaitan Pemberian Tugas dengan Hasil Belajar
Kegiatan interaksi belajar mengajar harus selalu ditingkatkan
efektifitas dan efisiensinya. Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di
sekolah, dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran maka
sangat menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar
tersebut. Untuk mengatasi keadaan tersebut guru perlu memberikan tugas-
tugas di luar jam pelajaran. Disebabkan bila hanya menggunakan seluruh
jam pelajaran yang ada untuk tiap mata pelajaran hal itu tidak mencukupi
tuntutan luasnya pelajaran yang di haruskan seperti yang tercantum di dalam
kurikulum. Dengan demikian perlu diberikan tugas-tugas sebagai selingan
untuk variasi tekhnik penyajian ataupun dapat berupa pkerjaan rumah.
Tugas semacam ini dapat dikerjakan di luar jam pelajaran, di rumah maupun
sebelum pulang sehingga dapat dikerjakan bersama temannya.
32
Ibid.,hlm. 100.
34
Menurut Roestiyah, NK. tekhnik pemberian tugas atau resitasi
biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang
lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan
tugas; sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih
terintegrasi33. Dengan kegiatan melaksanakan tugas siswa aktif belajar, dan
merasa terangsang untuk meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk
inisiatif dan berani bertanggung jawab sendiri. Banyak tugas yang harus
dikerjakan siswa, hal itu diharapkan mampu menyadarkan siswa untuk
selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang menunjang
belajarnya dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang berguna. Menurut Yusna
Melianti dalam jurnal Kewarganegaraan yang berjudul Pengaruh Metode
Pemberian Tugas terhadap Hasil Belajar Mahasiswa disebutkan bahwa
pemberian tugas merupakan salah satu metode yang dapat berperan
meningkatkan hasil belajar mahasiswa, hal ini disebabkan karna melalui
pemberian tugas mahasiswa akan terbantu dalam memecahkan masalah dan
dan memahami materi yang dipelajari.34
Di samping itu, Abdul Majid menyebutkan bahwa:
“Pemberian tugas (resitasi) dilakukan dalam rangka untuk
untuk merangsang siswa agar lebih aktif belajar, baik secara
perseorangan maupun kelompok, menumbuhkan kebiasaan untuk
belajar mencari dan menemukan, mengembangkan keberanian dan
tanggung jawab terhadap diri sendiri dan memungkinkan untuk
memperoleh hasil yang permanen”.35
Dengan pernyataan demikian maka secara tidak langsung
pemberian tugas dapat mempengaruhi hasil belajar.
33
Roestiyah. NK, Loc. Cit.
34
Yusna Melianti, Pengaruh Metode Pemberian Tugas terhadap Hasil Belajar
Mahasiswa, Jurnal Kewarganegaraan, Vol. 12, No.01, Juni 2009, PP 01-21, hlm.9.
35
Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013, hlm
209.
35
5. Keterkaitan Pemberian Sugesti dengan Hasil Belajar
Dalam pembelajaran diperlukan adanya peran guru karena guru
merupakan salah satu faktor dalam keberhasilan siswa di sekolah. Selain
cara guru mengajar hubungan antara guru dan murid juga berdampak besar
pada hasil belajar siswa. Oleh karena itu diperlukan interaksi antara
keduanya, salah satunya adalah dengan adanya sugesti.
Sugesti dapat digunakan dalam pendidikan agar siswa dapat
mengikuti proses pembelajaran dengan baik sebagaimana menurut Kartini
Kartono bahwa sugesti bisa diterapkan sebagai alat pembangkit tenaga dan
kegairahan psikis yang sangat diperlukan pada proses belajar dan bekerja di
sekolah-sekolah, pabrik-pabrik, kantor, perusahaan dan lain-lain.36 Menurut
Baharuddin sugesti membawa pengaruh yang sangat besar dalam dunia
pendidikan dan pengajaran,: untuk membesarkan minat dan perhatian siwa
pada pelajaran yang di ajarkan. Sugesti dapat menghidupkan suasana belajar
yang sebaik-baiknya, sehingga para siswa dapat melaksanakan tugas-tugas
pelajaran dengan perasaan gembira, cerah, ceria, dan menyelesaikan tugas-
tugas yang diberikan oleh guru kepadanya.37 Dengan demikian secara tidak
langsung akan mempengaruhi hasil belajar. Hal ini telah dibuktikan oleh
Dwi Antika Auges Tiraini dalam tulisan yang berjudul Pengaruh Sugesti
Relaksasi terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa Matematika dikemukakan
36
Abu Ahmadi, Op. Cit., hlm. 158.
37
Baharuddin, Op. Cit., hal 189.
36
bahwa pemberian sugesti memiliki pengaruh yang positif terhadap hasil
belajar.38
Di samping hal tersebut, Abu Ahmadi menegaskan pentingnya
sugesti dalam pendidikan dimana salah manfaat dari sugesti dapat
mempengaruhi hasil belajar dimana disebutkan dalam hal-hal di bawah ini.
Kegunaan sugesti dalam bidang pendidikan, sebagai berikut:
a. Dengan sugesti yang positif anak yang malas jadi rajin.
b. Mendorong diri sendiri (auto sugesti).
c. Mengurangi kesukaran dalam pelajaran.
d. Dengan keteladanan sugesti menjadi lebih kuat.
e. Dengan cara roman muka, suara yang baik akan lebih berhasil.
f. Menggunakan semboyan-semboyan yang tepat dapat mempengaruhi
hasil belajar di sekolah.39
B. Penelitian Relevan
Peneliti mendapatkan penelitian yang relevan dengan mencatumkan
penelitian terdahulu:
1. Yanti Sari (2011) dalam penelitiannya tentang korelasi pemberian tugas
dengan minat belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Al Islam Rumbio
Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar. Dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian berarti ada hubungan
yang signifikan antara pemberian tugas dengan minat belajar siswa di
38
Dwi Antika Auges Tiraini, Pengaruh Pemberian Sugesti Relaksasi terhadap Minat dan
Hasil Belajar Siswa Matematika.
39
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono,Loc. Cit.
37
Madrasah Tsanawiyah Al Islam Rumbio Kecamatan Kampar Kabupaten
Kampar.
2. Muhammad Tarmizi (2009) dalam penelitiannya tentang korelasi pemberian
sugesti terhadap aktivitas belajar agama islam kelas II MTs Diniyah Puteri
Pekanbaru memnunjukkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan
demikian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
pemberian sugesti dengan aktivitas belajar agama islam kelas II Madrasah
Tsanawiyah Diniyah Puteri Pekanbaru.
Berdasarkan penelitian yang dikemukakan di atas pada dasarnya
memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang penulis lakukan.
Penelitian yang dilakukan Yanti Sari memiliki persamaan yaitu sama-sama
meneliti tentang pemberian tugas. Sedangkan persamaan penelitian yang
dilakukan Muhammad tarmizi dengan penulis adalah sama-sama meneliti
pemberian sugesti. Namun yang menjadi perbedaan yaitu penelitian Yanti
Sari menitikberatkan penelitiannya pada korelasi pemberian tugas dengan
minat belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Al Islam Rumbio Kecamatan
Kampar Kabupaten Kampar dan Muhammad tarmizi menitikberatkan pada
korelasi pemberian sugesti terhadap aktivitas belajar agama islam kelas II
MTs Diniyah Puteri Pekanbaru sedangkan penulis menitikberatkan pada
pengaruh pemberian tugas dan sugesti terhadap hasil belajar siswa pada
mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 3 Tapung Kecamatan Tapung
Kabupaten Kampar.
38
C. Konsep Operasional
Konsep operasional merupakan penjabaran dalam bentuk konkret dari
konsep teoretis, agar mudah dipahami dan dapat diterapkan dilapangan sebagai
acuan dalam penelitian, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami
maksud penelitian ini. Berdasarkan kajian di atas, maka dapat dirumuskan
konsep operasional pada penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas yaitu
pemberian tugas (variabel X1), dan sugesti (Variabel X2), dan variabel terikat
hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (Y) dengan indikator-
indikator sebagai berikut:
1. Pemberian tugas
Adapun indikator dari Variabel X1 adalah sebagai berikut:
a. Guru menjelaskan tujuan dari pemberian tugas sebelum tugas
diberikan.
b. Guru memberikan tugas dengan jelas sehingga dapat dipahami.
c. Guru memberikan tugas sesuai dengan kemampuan siswa.
d. Guru memberikan petunjuk yang dapat membantu siswa dalam
menyelesaikan tugas.
e. Guru memberikan siswa waktu yang cukup dalam menyelesaikan
tugas.
f. Guru membimbing/mengawasi siswa dalam mengerjakan tugas.
g. Guru memberikan dorongan (motivasi) agar siswa mengerjakan tugas.
h. Guru menyuruh siswa agar mengerjakan tugas individualnya masing-
masing tanpa mencontek tugas temannya.
39
i. Guru menganjurkan agar siswa mencatat hasil tugas yang ia peroleh
dengan baik.
j. Guru ekonomi menyuruh siswa mengumpulkan tugas yang telah
diberikan.
k. Guru dan siswa melakukan tanya jawab setelah tugas selesai
dikerjakan.
l. Guru memberikan penilaian kepada siswa atas tugas yang telah
dikerjakan.
2. Pemberian Sugesti
Adapun indikator dari Variabel X2 adalah sebagai berikut:
a. Guru menyuruh siswa untuk rajin belajar.
b. Guru menyuruh siswa agar meningkatkan hasil belajarnya.
c. Guru memberikan pujian kepada siswa yang mendapat nilai tinggi.
d. Guru memuji siswa yang selalu mengumpulkan tugasnya tepat waktu.
e. Guru menakuti siswa dengan mengatakan akan memberikan nilai
rendah apabila siswa tidak mengerjakan tugasnya.
f. Guru memandang siswa yang main-main dalam proses pembelajaran
dengan pandangan tajam.
g. Guru meninggikan suaranya saat siswa ribut dalam kelas.
h. Guru menakuti siswa dengan mengatakan akan memanggil orang tua
mereka jika nilainya tetap buruk
i. Guru memanggil siswa malas dengan sebutan pemalas dan sebagainya.
j. Guru membandingkan kemampuan siswa.
40
k. Guru selalu menanyai siswa yang pintar saat ada kuis.
l. Guru mengatakan bahwa percuma sekolah jika nilai yang didapatkan
tetap buruk.
3. Hasil belajar
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan yang
dicapai oleh siswa dalam mengikuti program belajar yang telah ditetapkan.
Adapun indikator hasil belajar siswa adalah nilai ulangan harian mata
pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 3 Tapung
Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar yang diambil dari dokumentasi.
D. Asumsi dan Hipotesis
1. Asumsi
a. Pemberian tugas dan sugesti mempengaruhi hasil belajar.
b. Hasil belajar siswa berbeda-beda sesuai tingkat kemampuannya dilihat
dari kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor siswa itu sendiri.
2. Hipotesa
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini terdiri dari tiga
hipotesis yang dirumuskan menjadi hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis
nihil (Ho) sebagai berikut:
a. Ha : Ada pengaruhyang signifikan antara pemberian tugas terhadap
hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA
Negeri 3 Tapung Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar.
Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara pemberian tugas
terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di
41
SMA Negeri 3 Tapung Kecamatan Tapung Kabupaten
Kampar.
b. Ha : Ada pengaruh yang signifikan antara pemberian sugesti
terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di
SMA Negeri 3 Tapung Kecamatan Tapung Kabupaten
Kampar.
Ho :Tidak ada pengaruh yang signifikan antara pemberian sugesti
terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di
SMA Negeri 3 Tapung Kecamatan Tapung Kabupaten
Kampar.
c. Ha : Ada pengaruh yang signifikan antara pemberian tugas dan
sugesti terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran
ekonomi di SMA Negeri 3 Tapung Kecamatan Tapung
Kabupaten Kampar.
Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara pemberian tugas
dan sugesti terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran
ekonomi di SMA Negeri 3 Tapung Kecamatan Tapung
Kabupaten Kampar.