JAWABAN TUGAS 3
Nama: Tania
N I M: 041256396
1. Menurut Saudara bagaimana kaitan asas-asas etis dalam pemerintahan dengan
kasus perjalanan dinas di Kabupaten Tanggamus tahun 2021 yang melibatkan
hampir seluruh anggota DPRD.
Jawab:
Asas-asas etis dalam pemerintahan dapat mencakup integritas, transparansi,
akuntabilitas, dan partisipasi. Dalam kasus perjalanan dinas di Kabupaten
Tanggamus tahun 2021 yang melibatkan hampir seluruh anggota DPRD,
terdapat indikasi ketidakpatutan transparansi, akuntabilitas dan partisipasi serta
kemungkinan adanya pelanggaran etika dalam pemerintahan.
Menurut Pasal 17A UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, pejabat
yang menggunakan anggaran negara harus melaporkan penggunaannya secara
tertulis. Dalam kasus ini, tidak terdapat laporan yang transparan mengenai
penggunaan anggaran terkait perjalanan dinas yang dilakukan oleh anggota
DPRD.
Partisipasi publik dalam pengambilan keputusan dan pelaporan penggunaan
anggaran negara juga merupakan aspek penting dalam pengelolaan keuangan
negara yang baik. Asas partisipasi ini seharusnya mengatur bahwa publik dapat
mengevaluasi kinerja pemerintah dan menyumbang pandangan untuk
pengambilan keputusan lebih baik. Namun, pada kasus ini, tidak ada informasi
yang terdokumentasikan maupun disampaikan kepada publik terkait perjalanan
dinas yang dilakukan oleh anggota DPRD di Tanggamus.
Sanksi hukum seperti diancamkan dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memberi
petunjuk bahwa korupsi sangat merusak kehormatan, harga diri dan martabat
manusia. Oleh itu, anggota DPRD yang terbukti melanggar asas integritas,
transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi dapat diproses secara pidana dan
dikenakan sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku.
2. Mungkin Saudara pernah mendengar pejabat negara dilarang menerima parcel
lebaran baik dari anak buah maupun dari mitra ataupun pengusaha. Setujukah
Anda dengan pernyataan tersebut? Berikan alasannya.
Jawab:
Saya berpendapat bahwa pejabat negara seyogyanya tidak boleh menerima
parcel lebaran dari anak buah maupun dari mitra ataupun pengusaha. Hal ini
penting untuk memastikan bahwa pejabat negara tidak memihak atau memiliki
kepentingan yang bertentangan dengan tugas dan tanggung jawab publik.
Banyak negara telah menerapkan aturan yang melarang pejabat negara
menerima hadiah termasuk parcel lebaran dari pihak lain yang melakukan
hubungan bisnis dengan pemerintah. Hal ini dilakukan untuk memastikan
bahwa pejabat negara tidak hanya bekerja untuk kepentingan personal atau
kelompok, tetapi juga bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Selain itu, penerimaan parcel lebaran juga seharusnya tidak menggunakan
anggaran negara untuk membiayainya. Penerimaan parcel lebaran dari pihak
luar yang memiliki kepentingan dengan pejabat negara dapat menimbulkan
konflik kepentingan dan diyakini dapat berpengaruh terhadap kinerja pejabat
negara.
3. Menurut pendapat Saudara, siapa yang paling bertanggungjawab menegakkan
etika jabatan dalam pemerintahan.
Jawab:
Menurut pendapat saya, semua pihak yang terlibat dalam pemerintahan
memiliki tanggung jawab untuk menegakkan etika jabatan, baik itu pejabat
publik maupun pihak masyarakat yang terlibat dalam proses pemerintahan.
Tugas utama memang seharusnya dilakukan oleh pejabat publik itu sendiri,
khususnya dalam hal menjaga integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam
menjalankan tugas-tugas mereka. Namun, para pejabat publik tentu saja tidak
bisa melakukannya sendiri tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat.
Keterbukaan informasi, pelaporan melalui pengaduan publik, dan partisipasi
masyarakat dianggap penting untuk mendukung pengawasan dan pelaksanaan
etika jabatan di pemerintahan.
Jurnal Studi Pemerintahan melaporkan bahwa dalam mengimplementasikan
prinsip-prinsip etika jabatan di pemerintahan, diperlukan kolaborasi erat antara
pejabat publik dan masyarakat, sehingga manajemen etika jabatan menjadi
lebih efektif dan dampak buruk korupsi dapat diminimalkan.
Karena itu, tanggung jawab untuk menegakkan etika jabatan di pemerintahan
harus menjadi tanggung jawab bersama antara pejabat publik, masyarakat,
serta seluruh pihak yang terkait dalam proses pemerintahan. Hal ini dilakukan
sebagai upaya untuk mendorong kesadaran kolektif terhadap pentingnya etika
jabatan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab serta pelayanan publik
secara maksimal dan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Referensi:
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
Kurniawan, A., & Hartono, B. (2021). DPRD Tanggamus Dituduh Gelar
Rombongan Perjalanan Dinas Fiktif. Kompas, 24 Maret 2021.
UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang bersih, bebas dari
korupsi dan tindak pidana kolusi serta berintegritas.
Surat Edaran Menpan No. B/1533/M.PAN/7/2007 tentang Pelarangan
Penerimaan Hadiah untuk Pejabat Negara.
Johns, R. (2016). Ethics and Public Administration. Routledge.
Agustiningsih, Y., & Priyono, E. (2019). The influence of citizen participation
and supervisory role on the implementation of public service ethics in
Indonesia. Jurnal Studi Pemerintahan, 10(2), 103-118.
Rahardjo, M. (2019). Etika Pemerintahan dan Pengendalian Korupsi.
Universitas Indonesia Press.