0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
193 tayangan3 halaman

BPC

Dokumen tersebut membahas tentang breakpoint chlorination dalam pengolahan air minum. Breakpoint chlorination adalah titik di mana klor yang ditambahkan habis teroksidasi zat organik dan mengubah amoniak menjadi gas N2 serta membunuh mikroorganisma. Dokumen ini menjelaskan reaksi kimia yang terjadi selama proses breakpoint chlorination beserta cara menganalisisnya secara eksperimen.
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
193 tayangan3 halaman

BPC

Dokumen tersebut membahas tentang breakpoint chlorination dalam pengolahan air minum. Breakpoint chlorination adalah titik di mana klor yang ditambahkan habis teroksidasi zat organik dan mengubah amoniak menjadi gas N2 serta membunuh mikroorganisma. Dokumen ini menjelaskan reaksi kimia yang terjadi selama proses breakpoint chlorination beserta cara menganalisisnya secara eksperimen.
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS MATA KULIAH TEKNIK ANALISA PENCEMARAN LINGKUNGAN

BREAKPOINT CHLORINATION
Oleh: Endah Septyani Hari Saputri (3310100100)

Klor merupakan senyawa yang sering digunakan dalam pengolahan air minum dan air buangan sebagai oksidator maupun desinfektan. Desinfeksi pada pengolahan air minum maupun air buangan sangat diperlukan karena bertujuan untuk membunuh mikroorganisme patogen di samping mampu menghilangkan bau dan rasa pada pengolahan air (fungsi klor sebagai oksidator). Beberapa alasan yang menyebabkan klorin sering digunakan sebagai desinfektan adalah: 1. Dapat dikemas dalam bentuk gas, larutan, dan bubuk, 2. Relatif murah, 3. Memiliki daya larut yang tinggi serta dapat larut pada kadar yang tinggi (7000mg/l), 4. Residu klorin dalam bentuk larutan tidak berbahaya bagi manusia, jika terdapat dalam kadar yang tidak berlebihan, 5. Bersifat sangat toksik bagi mikroorganisme karena menghambat metabolisme mikroorganisme tersebut. Klorinasi adalah suatu cara mendesinfeksi air dengan menggunakan klor sebagai desinfektan. Senyawa klor yang umum digunakan, ialah: Gas klor (Cl2), Kalsium hipoklorit (Ca(OCl)2), Sodium hipoklorit (NaOCl), Klor dioksida (ClO2). Bentuk desinfektan yang ditambahkan akan mempengaruhi kualitas air yang didesinfeksi. Penambahan klorin dalam bentuk gas akan menyebabkan turunnya pH air karena terjadi pembentukan asam kuat. Akan tetapi penambahan klorin dalam bentuk kalsium hipoklorit akan menaikkan pH dan kesadahan total air yang didesinfeksi, bahkan dapat bersifat korosif apabila digunakan dalam kadar yang tinggi. Sedangkan sodium hipoklorit akan menaikkan alkalinitas air sehingga pH akan menjadi lebih besar. Breakpoint chlorination (klorinasi titik retak) adalah jumlah konsentrasi klor aktif yang dibutuhkan untuk: mengoksidasi semua zat organik yang dapat dioksidasi, mengubah amoniak menjadi gas N2, membunuh mikroorganisme bila masih terdapat konsentrasi sisa klor aktif yang terlarut. Dengan kata lain, jumlah klor yang dibutuhkan sebagai desinfektan adalah jumlah sisa klor aktif setelah terjadi BPC.

Saat klor sebagai gas Cl2 dilarutkan dalam air, maka reaksi hidrolisa yang cepat pun terjadi dan menghasilkan asam hipoklorit (HOCl) seperti reaksi berikut ini: Cl2 + H2O HOCl + H+ + ClKemudian asam hipoklorit akan pecah sesuai reaksi berikut: HOCl H+ + OClIon Cl- bersifat tidak aktif, sedangkan Cl2, HOCl, dan OCl- dianggap sebagai bahan yang aktif. Senyawa HOCl yang tidak terpecah merupakan zat pembasmi paling efisien bagi bakteri. Dosis klor adalah jumlah klor yang ditambahkan pada air untuk menghasilkan residu spesifik pada akhir waktu kontak. Sedangkan hasil sisa (residu) adalah dosis dikurangi kebutuhan klor yang digunakan oleh komponen dan materi organik yang ada dalam air. Oleh karena itu dalam
menentukan dosis klor, perlu diketahui beberapa reaksi yang terjadi sebagai berikut:

NH3+ HOCl NH2Cl (monokloramin) + H2O NH2Cl + HOCl NHCl2(dikloramin) + H2O NHCl2+ HOCl NCl3(nitrogen triklorida) + H2O

pH 7 4 pH 6 pH < 3

Jumlah HOCl dan OCl- yang ada dalam air disebut klor tersedia bebas. Sedangkan semua klor yang tersedia di dalam air sebagai kloramin disebut klor tersedia terikat, sehingga dapat disimpulkan bila jumlah klor aktif dalam larutan (jumlah klor tersedia) merupakan penjumlahan konsentrasi antara klor tersedia bebas dengan klor tersedia terikat. Sumbu-Y menunjukkan konsentrasi klor aktif yang dianjurkan oleh sumber literatur untuk membasmi bakteri, sedangkan sumbu-X menunjukkan konsentrasi klor yang ditambahkan. Garis tebal pada absis (daerah B dan C) lebih baik dihindarkan karena adanya kloramin yang dapat menyebabkan rasa farmase pada air dan kurang efisien sebagai desinfektan. Namun, garis tebal pada absis (daerah F) merupakan jumlah klor yang perlu dibubuhkan, sedangkan daerah A merupakan daerah konsumsi klor untuk beberapa zat reduktor; dan pada daerah B dan C merupakan daerah di mana kloramin yang terbentuk dianggap sebagai klor aktif sebagian. Di daerah C, monokloramin diubah menjadi gas N2. Dan titik D merupakan titik breakpoint yang tercapai setelah dilakukannya pembubuhan sejumlah klor. Pada daerah E, hanya klor tersedia bebas yang terbentuk karena semua zat amoniak telah diubah menjadi gas N2 yang keluar dari larutan sebagai gelembung meskipun sedikit kloramin tetap tertinggal. Singkatnya, grafik di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: A. Oksidasi zat-zat pereduksi B. Kloramin terbentuk C. Gas N2 terbentuk

D. Breakpoint E. Klor aktif terbentuk F. Dosis klor untuk pembasmian kuman Untuk menganalisa Breakpoint Chlorination melalui suatu percobaan, dapat disiapkan bahan dan alat sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Larutan kaporit 10gr/l, Asam asetik glacial pekat, Kristal Kalium Iodida (KI), Larutan standard Natrium Tiosulfat 0,0125 N, Larutan indikator amilum, Erlenmeyer 100 ml atau 250 ml sebanyak 6 buah, Pipet ukur 5 ml; 25 ml; 10 ml, Buret 25 ml atau 50 ml (lebih baik memakai mikro buret).

Prosedur percobaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut: 1. Sebanyak 25 ml sampel air masing-masing dituangkan ke dalam 6 buah labu erlenmeyer. 2. Ditambahkan larutan kaporit ke dalam masing-masing erlenmeyer sebanyak misal: 0,5 ml; 0,8 ml; 1 ml; 1,4 ml; 1,6 ml; 2 ml. Volume larutan kaporit yang ditambahkan tergantung dari jenis sampel air yang dipakai. Kemudian erlenmeyer ditutup dan dikocok homogen. 3. Semua larutan didiamkan selama 30 menit di tempat gelap. 4. Ditambahkan 2,5 ml larutan asam asetik glacial ke dalam masing-masing larutan. 5. Ditambahkan pula 1 gr kristal KI. 6. Lalu ditambahkan 3 tetes indikator amilum. 7. Masing-masing larutan dititrasi menggunakan titran larutan standard Natrium Tiosulfat 0,0125 N hingga warna biru pada larutan hilang. 8. Dihitung konsentrasi Cl2 yang dibubuhkan dan konsentrasi Cl2 yang tersisa menggunakan rumus: Cl2 (mg/l) yang dibubuhkan : N1 : V1 = N2 : V2 Cl2 (mg/l) yang tersisa = (1000 x Vt x N x 35,45)/ Vs dengan Vt Volume titran Vs Volume sampel air N Normalitas Tiosulfat

Anda mungkin juga menyukai