Kewarganegaraan Digital dan Good Governance
Kewarganegaraan Digital dan Good Governance
DISUSUN OLEH :
NAMA : RAPHITARIA
NIM : 050554235
FAKULTAS KEARSIPAN
UNIVERSITAS TERBUKA
TAHUN 2023
PEMBAHASAN
Istilah good dan clean governance merupakan wacana baru dalam kosakata ilmu politik. Muncul
di awal tahun [Link] ini memiliki pengertian segala hal yang terkait dengan tindakan
atau tingkah laku yang bersifat mengarahkan, mengendalikan, atau mempengaruhi urusan publik
yang bersifat baik (good) dan bersih (clean). Dalam konteks ini, pengertian good governance
tidak sebatas pengelolaan lembaga pemerintahan semata, tetapi menyangkut semua lembaga baik
pemerintah maupun non pemerintah (lembaga swadaya masyarakat).
Istilah governance sendiri sudah cukup lama dikenal dalam literature administrasi dan ilmu
politik, sejak masa Woodrow Wilson, sekitar 125 tahun yang lalu. Sedang definisi baru
governance, muncul sekitar 15 tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya gerakan
pembiayaan internasional untuk negara-negara berkembang, dengan masyarakat “good
governance”; penyelenggaraan pemerintahan yang amanah, tata pemerintahan yang baik,
pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab danada juga yang mengartikan
secara simple sebagai pemerintahan yang bersih (clean governance).
Secara bahasa, pengertian good berarti baik, dalam istilah kepemerintahan mengandung dua
pemahaman. Pemahaman pertama, nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan dan kehendak
rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan
nasional, kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial. Kedua, aspek-aspek
fungsional dan pemerintahan yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk
mencapai tujuan tersebut. Sedang Government secara istilah adalah proses pengambilan
keputusan dan proses bagaimana sebuah keputusan diimplementasikan. Good Governance
diartikan sebagai governance yang baik. Governance dapat digunakan dalam berbagai konteks
diantaranya Coorporate Governance, Government Governance, international governance,
nasional governance dan local governance.
Good governance sebagai suatu kondisi yang menjamin tentang adanya proses kesejajaran,
kesamaan, dan keseimbangan peran serta saling mengontrol yang dilakukan oleh komponen-
komponen seperti pemerintahan (government), rakyat (citizen), dan usahawan (business). Ketiga
komponen itu mempunyai tata hubungan yang sama dan sederajat. Jika kesamaan ini tidak
sebanding, dipastikan terjadi pembiasan dari konsep Good Governance tersebut.
Secara umum good governance merupakan interaksi seimbang antara lembaga pemerintahan
dengan masyarakat dan kalangan swasta, di mana lembaga pemerintahan memberlakukan
kebijakan yang seimbang untuk perkembangan masyarakat dan sektor swasta. Selain good
governance juga sebagai administrasi yang sehat, politik yang demokratis, sekaligus serangkaian
keutamaan yang non-ekonomis, seperti kesamaan, keseimbangan gender, menghormati hukum,
toleransi sosial, kultural, dan individual. Sementara dalam UN-ESCAP dinyatakan bahwa good
governance merupakan proses pengambilan keputusan dan proses dalam mengimplementasikan
atau tidak mengimplementasikan suatu keputusan. John Healey dan Mark Robinson mengatakan
bahwa good governance adalah kegiatan organisasi negara yang berimplikasi pada perumusan
kebijakan yang berefek pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Pengertian Good Governance dapat berlainan antara satu pakar dengan pakar yang lain. Ada
sebagaian kalangan yang mengartikan good governance sebagai kinerja suatu lembaga, misalnya
kinerja pemerintahan suatu negara, perusahaan, atau organisasi masyarakat yang memenuhi
persyaratan-persyaratan tertentu, sebagian kalangan yang lain juga mengartikan good
government sebagai penerjemahan konkret demokrasi dengan meniscayakan adanya civic culture
sebagai penopang keberlanjutan demokrasi itu sendiri.
Dari pengertian di atas tampak bahwa pengertian good governance diartikan sebagai pengelolaan
pemerintah yang baik. Baik dalam arti mengikuti kaidah-kaidah tertentu sebagai prinsip-prinsip
dasar good governance. Good Governance juga merupakankonsep yang kolektif, yang
melibatkan seluruh tindakan atau tingkah laku yang bersifat mengarahkan, mengendalikan, atau
mempengaruhi urusan public untuk mewujudkan nilai-nilai good dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ini, pengertian good governance tidak sebatas pengelolaan lembaga, baik
pemerintah maupun non-pemerintah (lembaga swadaya masyarakat) dengan istilah good
corporate.
Good governance juga berimplikasi pada prinsip-prinsip organisasi yang akuntabel, transparan,
partisipatif, keterbukaan, dan berbasis pada penguatan serta penegakan hukum. Prinsip-prinsip
good governance dapat pula diterapkan dalam pengelolaan lembaga sosial dan kemasyarakatan
dari yang paling sederhana hingga yang berskala besar, seperti arisan, pengajian, perkumpulan
olah raga di tingkat rukun tetangga (RT), organisasi kelas, hingga organisasi di atasnya.
Dalam workshop “Best Practices Reformasi Birokrasi” di Surakarta, Bupati Jembrana I Gede
Winasa mengungkapkan dalam konsep governance pada hakikatnya didukung oleh tiga kaki
yakni :
Tetapi yang menjadi permasalahan adalah kesenjangan pada ketiga komponen itu sangat tinggi.
Maka tidak ada pilihan, pemerintah harus melakukan upaya dalam pemberdayaan menuju
kemandirian melalui suatu sistem pelayanan yang optimal.
Menurut United Nation Development Programme (UNDP), ada beberapa karakteristik dari good
governance adalah :
b. Rule of law(berbasis hukum); kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang
bulu, terutama hukum untuk hak asasi manusia. Sehubungan dengan hal tersebut, realisasi wujud
good and clean governance, harus diimbangi dengan komitmen pemerintah untuk menegakkan
hukum yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
- Supremasi hukum (supremacy of law), yakni penegakan hokum pada setiap tindakan
unsur-unsur kekuasaan negara. Peluang partisipasi masyarakat dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara didasarkan pada hukum dan aturan yang jelas dan tegas, dan
dijamin pelaksanaannya secara benar serta independen. Supremasi hukum akan menjamin
tidak terjadinya tindakan pemerintah atas dasar diskresi (tindakan sepihak berdasarkan
pada kewenangan yang dimilikinya).
- Kepastian hukum (legal certainty), bahwa setiap kehidupan berbangsa dan bernegara
diatur oleh hukum yang jelas dan pasti, tidak duplikatif dan tidak bertentangan antara satu
dengan yang lainnya.
- Hukum yang responsif, yakni aturan-aturan hukum disusun berdasarkan aspirasi
masyarakat luas, dan mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan publik secara adil.
- Penegakan hukum yang konsisten dan tidak diskriminatif, yakni penegakan hukum
berlaku untuk semua orang tanpa pandang bulu. Untuk itu, diperlukan penegakan hukum
yang memiliki integritas moral dan bertanggung jawab terhadap kebenaran hukum.
- Independensi peradilan, yakni peradilan yang independen bebas dari pengaruh penguasa
atau kekuatan lainnya.
c. Transparancy (terbuka); transparansi yang dibangun atas dasar kebebasan arus informasi.
Hal ini mutlak dilakukan dalam rangka menghilangkan budaya korupsi di kalangan pelaksana
pemerintahan, baik pusat maupun di bawahnya. Dalam pengelolaan negara terdapat delapan
unsur yang harus dilakukan secara transparan, yaitu :
h. Accountability (akuntabel); para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan
masyarakat (civil society), bertanggung jawab kepada publik dan lembaga-lembaga stakeholders.
Itu sebabnya menjadi penting diberlakukan Standard Operating Procedure (SOP) dalam
penyelenggaraan urusan pemerintahan atau dalam penyelenggaraan kewenangan/pelaksanaan
kebijakan. Untuk menunjang akuntabilitas, pengawasan menjadi kunci utama evaluasi dan
kontrol dari pelaksanaan SOP yang sudah ditetapkan.
Diluar dari delapan prinsip di atas, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
menambahkan beberapa prinsip dalam pelaksanaan good and clean governance, seperti:
Dari prinsip-prinsip di atas menurut penulis paling tidak terdapat limaprinsip dasar yang perlu
dikembangkan dalam rangka menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih. Pertama,
transparansi (transparency), yang kedua, pertanggungjawaban yang jelas (accountability), dan
ketiga, partisipasi dalam proses demokrasi, keempat, kemampuan merumuskan dan
mengimplementasikan kebijakan-kebijakan publik, serta kelima, komitmen dalam segala bidang
yang dihadapi. Berangkat dari sini, patut dipertanyakan, apakah pemerintahan sekarang telah
meingimplementasikan ketiga pola dasar tersebut? Apakah setiap instansi pemerintah
memberikan hak bagi masyarakat untuk mengetahui atau mengakses segala keputusan serta
kebijakan instansinya yang berkaitan dengan hak-hak publik? Sejauhmanakah keterlibatan
publik yang notabene adalah pemilik interest sesungguhnya atas setiap hasil pembangunan yang
mereka amanatkan kepada pemerintah tersebut? Telah tegakkah perlindungan atas publik yang
terang-terang menemukan delik penyelewengan kekuasaan yang dilakukan oleh aparatur
pemerintah? Tentu sampai saat ini dapat dikatakan bahwa pemerintahan sekarang masih belum
mampu sepenuhnya mengimplementasikan harapanharapan ini. Sebagai bukti bahwa masih
banyak lembaga kekuasaan negara yang mudah menghasilkan uang, seperti lembaga pengumpul
pajak, penentu belanja negara, pemberi hak menjual barang dan jasa, pemberian hak pengelolaan
hutan (HPH), pemberian hak monopoli atas barang dan jasa tertentu, penjualan asset sektor
publik, penjualan BUMN, pemberian hak monopoli ekspor-impor produk tertentu dan
sebagainya, telah berubah dari lembaga yang menyelenggarakan hal ihwal kemaslahatan publik
menjadi lembaga transaksi kekuasaan dan memonopoli pembuatan keputusan.
3. Relasi Negara dan Masyarakat dalam Konteks Penciptaan Good and Clean Government
Governance secara umum dapat diartikan sebagai kualitas hubungan antara pemerintah (negara)
dan masyarakat yang dilayani dan dilindunginya, termasuk dalam hal ini private sectors (sektor
swasta/dunia usaha). Oleh sebab itu, good governance sektor publik diartikan sebagai suatu
proses tata kelola pemerintahan yang baik, dengan melibatkan semua komponen (stakeholders)
dalam berbagai kegiatan baik bidang perekonomian, sosial politik dan pemanfaatan berbagai
sumber daya seperti sumber daya alam, keuangan dan manusia bagi kepentingan rakyat yang
dilaksanakan dengan menganut asas keadilan, pemerataan, persamaan, efisiensi, transparansi,
dan akuntabilitas.
Pada saat yang sama, sebagai komponen di luar birokrasi negara, sektor swasta (corporate
sectors) harus pula bertanggung jawab dalam proses pengelolaan sumber daya alam dan
perumusan kebijakan publik dengan menjadikan masyarakat sebagai mitra strategis. Dalam hal
ini, sebagai bagian dari pelaksanaan good and clean governance, dunia usaha berkewajiban untuk
memiliki tanggungjawab sosial (corporate social responsibility/CSR), yakni dalam bentuk
kebijakan sosial perusahaan yang bertanggung jawab langsung dengan peningkatan
kesejahteraan masyarakat di mana suatu perusahaan beroperasi. Bentuk tanggung jawab sosial
(CSR) ini dapat diwujudkan dalam program-program pengembangan (community
empowerment) dan pelestarian lingkungan hidup.
I Wibowo dalam bukunya Negara Centeng; Negara dan Saudagar di Era Globalisasi
menyebutkan ide tentang good governance dapat berimplikasi pada ide tentang meminggirkan
negara. Karena syarat bagi berkembangnya pasar bebas diantaranya adanya administrasi yang
sehat, politik yang demokratis dan serangkaian keutamaan non-ekonomis, seperti penghormatan
terhadap hukum,kesamaan, keseimbangan gender, toleransi sosial, kultural dan individual,
sehingga diharapkan dapat menghasilkan politik yang demokratis serta birokrasi yang ramping,
efisien dan akuntabel. Dengan demikian, tugas pemimpin Negara menjadi sederhana, tetapi
sekaligus vulgar, yakni menjaga kepentingan pengusaha. Negara, pada akhirnya semata-mata
dipakai untuk memberi servis kepada pengusaha dan mengeliminasi masyarakat lokal yang ada
di negara berkembang.
Asumsi tentang dominasi sektor swasta ini kemudian dikembangkan ke dalam prinsip-prinsip
good governance Indonesia oleh Bappenas. Dalam konteks Indonesia, Koesnadi Hardjasoemantri
menyatakan good governance hanya bermakna bila keberadaannya ditopang oleh lembaga yang
melibatkan kepentingan publik. Jenis lembaga tersebut adalah sebagai berikut :
1) Negara, dalam hal ini bertugas:Menciptakan kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang
stabil, Membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan, menyediakan public service
yang efektif dan accountable, menegakkan HAM, melindungi lingkungan hidup, dan
Mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan publik.
2) Sektor swasta memiliki kewajiban:Menjalankan industri, Menciptakan lapangan kerja,
Menyedikan insentif bagi karyawan, Meningkatkan standar hidup masyarakat,
Memelihara lingkungan hidup, Menepati aturan yang berlaku, Melakukan transfer ilmu
pengetahuan dan teknologi pada masyarakat, dan Menyediakan kredit bagi
pengembangan UKM.
3) Masyarakat sipil harus: menjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi, mempengaruhi
kebijakan, Berfungsi sebagai sarana check and balance pemerintah, Mengawasi
penyalahgunaan kewenangan sosial pemerintah, Mengembangkan SDM, dan berfungsi
sebagai sarana berkomunikasi antar-anggota masyarakat.
Di Indonesia, substansi good governance dapat dipadankan dengan istilah pemerintahan yang
baik, bersih, dan berwibawa. Pemerintahan yang baik adalah sikap di mana kekuasaan dilakukan
oleh masyarakat yang diatur oleh berbagai tingkatan pemerintah negara yang berkaitan dengan
sumber-sumber sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Dalam praktiknya, pemerintahan yang
bersih (clean government) adalah model pemerintahan yang efektif, efisien, jujur, transparan,
dan bertanggung jawab.
Ditinjau dari sisi kebahasaan governance berarti tata kepemerintahan dan good governance
yangbermakna tata kepemerintahan yang baik. Bank Dunia mendefinisikan kalimat ini dengan:
“Government: the manner in which power is exercised in the management of cauntry’s economic
and social resources for development. Good Government: is synonymous with sound
development management.”21 Artinya bahwa penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat
diartikan sebagai suatu mekanisme pengelolaan sumber daya dengan substansi dan implementasi
yang diarahkan untuk mencapai pembangunan yang efisien dan efektif secara adil. Oleh karena
itu, good governance akan tercipta manakala di antara unsur-unsur negara dan institusi
kemasyarakatan seperti ormas, LSM, pers, lembaga profesi, lembaga usaha swasta, dan lain-lain,
memiliki keseimbangan dalam proses checks and balances dan tidak boleh satupun di antara
mereka yang memiliki kontrol absolut.
Sejalan dengan prinsip di atas, pemerintahan yang baik berarti baik dalam proses maupun hasil-
hasilnya. Semua unsur dalam pemerintahan bisa bergerak secara sinergis, tidak saling
berbenturan, dan memperoleh dukungan dari rakyat. Pemerintahan juga bisa dikatakan baik jika
pembangunan dapat dilakukan dengan biaya yang sangat minimal namun dengan hasil yang
maksimal. Faktor lain yang tak kalah penting, suatu pemerintahan dapat dikatakan baik jika
produktivitas bersinergi dengan peningkatan indikator kemampuan ekonomi rakyat, baik dalam
aspek produktivitas, daya beli, maupun kesejahteraan spiritualitasnya.
dituntut untuk mengubah pola pelayanan publik dari prespektif birokrasi elitis menjadi birokrasi
populis. Birokrasi populis adalah tata kelola pemerintahan yang berorientasi melayani dan
berpihak kepada kepentingan masyarakat. Sistem pemerintahan negara yang bersih (clean
government) adalah kunci penting dalam pelaksanaan good governance.
Dalam konteks birokrasi Indonesia Clean Government adalah pemerintahan yang bersih dan
berwibawa. Kepemerintahan yang mampu menciptakan keadaan yang memberi rasa nyaman dan
menyenangkan bagi para pihak dalam suasana kepemimpinan yang demokratis menuju
masyarakat yang adil dan berkesejahteraan berdasarkan Pancasila. Para pihak yang dimaksud
dalam kepemerintahan ini adalah kelembagaan yang ada di dalam eksekutif, legislatif, dan
yudikatif. Ketiga pihak ini harus saling bekerja sama, berkoordinasi, bersinergi dalam
menjalankan pemerintahan dan pembangunan.
Kenyataan yang terjadi saat ini adalah adanya hal yang tidak dapat dipungkiri akan tumbuh
suburnya virus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di dalam birokrasi Indonesia. Penyebabnya
karena lembaga yang mudah menghasilkan uang ini tidak diselenggarakan secara transparan dan
accountable karena sistemnya yang otoriter dan tidak demokratis. Sehingga ia tidak dapat
diawasi oleh lembaga negara itu sendiri maupun oleh masyarakat. Untuk membenahi hal
tersebut, maka diperlukan perpaduan dua semangat atau kesadaran yang saling terkait yaitu
semangat struktural yang diejawantahkan melalui proses regulasiregulasi dan aplikasinya ke arah
penciptaan sebuah pemerintahan yang bermoral, baik dan bersih, selain semangat budaya yang
disertai integritas moral rakyat untuk berpartisipasi aktif menopang suatu pemerintahan yang
baik dan bersih.
Sejalan dengan prinsip demokrasi, partisipasi masyarakat merupakan salah satu tujuan dari
implementasi good and clean governance. Keterlibatan masyarakat dalam proses pengelolaan
lembaga pemerintahan pada akhirnya akan melahirkan kontrol masyarakat terhadap jalannya
pengelolaan lembaga pemerintahan. Kontrol masyarakat akan berdampak pada tata pemerintahan
yang baik, efektif, dan bebas dari KKN. Untuk mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih
berdasarkan prinsipprinsip pokok good and clean governance setidaknya dapat dilakukan melalui
pelaksanaan prioritas program, yakni:
a) Penguatan fungsi dan peran lembaga perwakilan. Penguatan peran lembaga perwakilan
rakyat (MPR, DPR, DPD, dan DPRD) mutlak dilakukan dalam rangka peningkatan
fungsi mereka sebagai pengontrol jalannya pemerintahan. Selain melakukan check and
balance, lembaga legislatif harus pula mampu menyerap dan mengartikulasi aspirasi
masyarakat dalam bentuk usulan pembangunan yang berorientasi pada kepentingan
masyarakat kepada lembaga eksekutif.
b) Kemandirian lembaga peradilan. Untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan
berwibawa berdasarkan prinsip good and clean governance peningkatan profesionalitas
aparat penegak hukum dan kemandirian lembaga peradilan mutlak dilakukan.
Akuntabilitas aparat penegak hukum dan lembaga yudikatif merupakan pilar yang
menentukan dalam penegakan hukum dan keadilan.
c) Profesionalitas dan integritas aparatur pemerintah. Perubahan paradigma aparatur negara
dari birokrasi elitis menjadi birokrasi populis (pelayan publik) harus dibarengi dengan
peningkatan profesionalitas dan integritas moral birokrasi pemerintah.
d) Penguatan partisipasi masyrakat sipil (civil society). Peningkatan partisipasi masyarakat
adalah unsur penting lainnya dalam merealisasikan pemerintahan yang bersih dan
berwibawa. Partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan publik mutlak dilakukan dan
difasilitasi oleh negara (pemerintah). Peran aktif masyarakat dalam proses kebijakan
publik pada dasarnya dijamin oleh prinsipprinsip HAM. Masyarakat mempunyai hakatas
informasi, hak untuk menyampaikan usulan, dan hak untuk melakukan kritik terhadap
berbagai kebijakan pemerintah. Kritik dapat dilakukan melalui lembagalembaga
perwakilan, pers maupun dilakukan secara langsung lewat dialog-dialog terbuka dengan
jajaran birokrasi bersama LSM, partai politik, maupun organisasi sosial lainnya.
e) Peningkatan kesejahteraan rakyat dalam kerangka otonomi daerah. Untuk merealisasikan
prinsip-prinsip clean and good governance, kebijakan otonomi daerah dapat dijadikan
sebagai media transformasi perwujudan model pemerintahan yang menopang tumbuhnya
kultur demokrasi di Indonesia. Lahirnya berbagai undang-undang yang memberikan
peluangpemerintah daerah untuk melakukan pembangunan daerahnya dengan konsep
otonomi daerah, maka artinya telah memberikan kewenangan kepada daerah untuk
melakukan pengelolaan dan memajukan masyarakat dalam politik, ekonomi, sosial, dan
budaya dalam kerangka menjaga keutuhan NKRI. Dengan pelaksanaan otonomi daerah
tersebut, pencapaian tingkat kesejahteraan dapat diwujudkan secara lebih cepat yang pada
akhirnya akan mendorong kemandirian masyarakat.
DAFTAR PUSTAK
Martini,Dwi, Good Governance Dalam Pelayanan Publik, dalam buku yang berjudul Konsep,
Strategi dan Implementasi Good Governance Dalam Pemerintahan, Jakarta: Irjen Depag RI,
2007
[Link]